Anda di halaman 1dari 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
INFEKSI SALURAN NAPAS ATAS

2.1. Definisi ISPA

Infeksi akut yang menyerang salah satu bagian/lebih dari


saluran napas mulai hidung sampai alveoli termasuk adneksanya
(sinus, rongga telinga tengah, pleura). Infeksi Saluran Pernapasan Akut
(ISPA) adalah penyakit saluran pernafasan atas atau bawah, biasanya
menular, yang dapat menimbulkan berbagai spektrum penyakit yang
berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit
yang parah dan mematikan, tergantung pada patogen penyebabnya,
faktor lingkungan dan faktor pejamu. ISPA juga didefinisikan sebagai
penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh agen infeksius
yang ditularkan dari manusia ke manusia. Timbulnya gejala biasanya
cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam sampai beberapa hari, gejalanya
meliputi demam, batuk dan sering juga nyeri tenggorok, coryza (pilek),
sesak napas, mengi,atau kesulitan bernapas.

(Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal. Pengendalian Penyakit dan


Penyehatan Lingkungan Pedoman pengendalian infeksi saluran
pernapasan akut, Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2011)

2.2. Penyebab Penyakit ISPA

ISPA disebabkan oleh bakteri atau virus yang masuk kesaluran


nafas. Salah satu penyebab ISPA yang lain adalah asap pembakaran
bahan bakar kayu yang biasanya digunakan untuk memasak. Asap
bahan bakarkayu ini banyak menyerang lingkungan masyarakat, karena
masyarakat terutama ibu-ibu rumah tangga selalu melakukan aktifitas
memasak tiap hari menggunakan bahan bakar kayu, gas maupun
minyak. Timbulnya asap tersebut tanpa disadarinya telah mereka hirup
sehari-hari, sehingga banyak masyarakat mengeluh batuk, sesak nafas
dan sulit untuk bernafas. Polusi dari bahan bakar kayu tersebut
mengandung zat-zat seperti Dry basis, Ash, Carbon, Hidrogen, Sulfur,
Nitrogen dan Oxygen yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Etiologi
ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri
penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptokokus,
Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofillus, Bordetelia dan
Korinebakterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan
Miksovirus, Adnovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma,
Herpesvirus dan lain-lain. Salah satu yang didapatkan pada studi orang
Belanda peneliti mendapatkan 30 % patogen pada kontrol. Hal ini
menunjukkan hasil virologi asimptomatik positif pada 12% anak-anak
dan 4% dewasa untuk rhinovirus dan enterovirus. Studi terakhir
menunjukkan hanya 4% dari asimptomatik pada umur 60 tahun positif
rhinovirus atau coronavirus.

(Clinical Infectious Diseases. Etiologies of Acute Respiratory Tract Infections


Infectious Diseases Society of America : 41:5036 2005. Available from :
https://oup.silverchair-cdn.com )

2.3. Faktor Resiko ISPA

Beberapa wilayah di Indonesia mempunyai potensi kebakaran


hutan dan telah mengalami beberapa kali kebakaran hutan terutama
pada musim kemarau. Asap dari kebakaran hutan dapat menimbulkan
penyakit ISPA dan memperberat kondisi seseorang yang sudah
menderita pneumonia khususnya Balita. Disamping itu asap rumah
tangga yang masih menggunakan kayu bakar juga menjadi salah satu
faktor risiko pneumonia. Hal ini dapat diperburuk apabila ventilasi
rumah kurang baik dan dapur menyatu dengan ruang keluarga atau
kamar. Indonesia juga merupakan negara rawan bencana seperti banjir,
gempa, gunung meletus, tsunami, dll. Kondisi bencana tersebut
menyebabkan kondisi lingkungan menjadi buruk, sarana dan prasarana
umum dan kesehatan terbatas. Penularan kasus ISPA akan lebih cepat
apabila terjadi pengumpulan massa (penampungan pengungsi). Pada
situasi bencana jumlah kasus ISPA sangat besar dan menduduki
peringkat teratas. Penyakit campak merupakan salah satu penyakit
yang sangat infeksius dan 90% mengenai Balita. Dikhawatirkan
apabila anak Balita menderita penyakit campak dengan komplikasi
pneumonia dapat menyebabkan kematian. Status gizi seseorang dapat
mempengaruhi kerentanan terhadap infeksi. Penanggulangan faktor
risiko di atas dilaksanakan oleh unit lain yang terkait baik pusat
maupun daerah sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Namun
disadari bahwa data mengenai hubungan antara faktor risiko dengan
kejadian kasus pneumonia belum tersedia, sehingga pengendalian ISPA
belum dilaksanakan lebih komprehensif.

(Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal. Pengendalian Penyakit dan


Penyehatan Lingkungan Pedoman pengendalian infeksi saluran
pernapasan akut, Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2011)

2.4. Diagnosis
Tanda dan gejala : ISPA merupakan proses inflamasi yang terjadi
pada setiap bagian saluran pernafasan atas maupun bawah, yang
meliputi infiltrat peradangan dan edema mukosa, kongestif
vaskuler, bertambahnya sekresi mukus serta perubahan struktur
fungsi siliar. Tanda dan gejala ISPA banyak bervariasi antara lain
demam, pusing, malaise (lemas), anoreksia (tidak nafsu makan),
vomitus (muntah), photophobia (takut cahaya), gelisah, batuk,
keluar sekret, stridor (suara 17 nafas), dyspnea (kesakitan
bernafas), retraksi suprasternal (adanya tarikan dada), hipoksia
(kurang oksigen), dan dapat berlanjut pada gagal nafas apabila
tidak mendapat pertolongan dan mengakibatkan kematian.
Gambaran dari infeksi saluran pernapasan sangat bergantung pada
struktur dimana peradangan terjadi dan kelainan fungsi
pernapasan. Seperti, infeksi nasofaring akan menyebabkan
keluarnya sekret dari nasal, bronkitis pada batuk dan produksi
sputum, dan pneumonia pada batuk dan dahak, serta terjadi
peningkatan laju pernafasan dan perubahan radiografi dada jika
telah menjalar menjadi infeksi saluran pernapasan bagian bawah.
Laboratorium dan radiologi : Sebagian besar infeksi saluran
pernafasan bagian atas disebabkan oleh virus dan dapat sembuh
sendiri. Diagnosis etiologi spesifik tidak akan mengubah
pengobatan dan akan mahal jika dilakukan. Peran dokter terbatas
untuk meyakinkan pasien dan mengenali infeksi bakteri yang lebih
serius yang memerlukan antimikroba tertentu atau pengobatan
suportif yang lebih luas. Spesimen diagnostik dapat diperoleh dari
saluran pernapasan, namun hasilnya akan bias karena sering
terkontaminasi oleh flora asli rongga mulut. Untuk mencegah
kontaminasi spesimen saluran pernapasan bagian bawah, saluran
pernapasan bagian atas harus dilewati. Sinar-X dada adalah bagian
mendasar dari evaluasi infeksi saluran pernapasan bagian bawah
dan memberikan bukti distribusi dan tingkat penyakit yang lebih
unggul daripada tanda yang ditimbulkan oleh auskultasi. Posisi
anterior postero paling sering digunakan, namun posisi lateral
dapat memberikan informasi tambahan yang berharga. Analisis gas
darah harus dilakukan jika ada kecurigaan gagal pernafasan.
Indikator utama tingkat keparahan penyakit pada pneumonia
adalah kenaikan laju pernafasan (> 30 denyut / menit), hipoksia,
hiperkapnia, gagal ginjal dan penurunan kesadaran.

(Medical Microbiology. Infections of the respiratory tract, Chapter 7. 2011. Available


from:
http://www.uib.cat/depart/dba/microbiologia/ADSenfcomI/material_archivos/infeccio
n%20respiratoria)

2.5. Penatalaksanaan Penyakit ISPA