Anda di halaman 1dari 34

PENYAIR ANGKATAN 70

A. Sejarah Lahirnya Angkatan 70


Munculnya periode 70-an karena adanya pergeseran sikap berpikir dan bertindak dalam
menghasilkan wawasan estetik dalam menghasilkan karya sastra bercorak baru baik di bidang
puisi, prosa maupun drama. Pergeseran ini mulai kelihatan setelah gagalnya kudeta G 30
S/PKI. Abdul Hadi W.M. dan damai Toda menamai sastra Indonesia modern pada tahun
1970-an dengan sastra periode 70-an. Korrie Layuan Rampan cenderung menamai Sastra
Indonesia sesudah angkatan 45 dengan nama angkatan 80. Perbedaan esensial antara kedua
versi tersebut hanyalah pemberian nama saja, karena keduanya memiliki persamaan, yaitu:
a. Keduanya tidak mengakui adanya angkatan 66 yang dicetuskan oleh HB. Jassin.
b. Keduanya meyakini adanya pergeseran wawasan estetik sesudah angkatan 45.
c. Keduanya memiliki persamaan pandangan tentang tokoh-tokoh pembaruan Sastra
Indonesia Modern sesudah angkatan 45.
Dalam periode 70-an pengarang berusaha melakukan eksperimen untuk mencoba batas-batas
beberapa kemungkinan bentuk, baik prosa, puisi, maupun drama semakin tidak jelas.
Misalnya, prosa dalam bentuk cerpen, pengarang sudah berani membuat cerpen dengan
panjang 1-2 kalimat saja sehingga terlihat seperti bentuk sajak. Dalam bidang drama mereka
mulia menulis dan mempertunjukkan drama yang absurd atau tidak masuk akal. Sedangkan
dalam bidang puisi mulai ada puisi kontemporer atau puisi selindro.
Periode 70-an telah memperlihatkan pembaharuan dalam berbagai bidang, antara lain :
wawasan estetik, pandangan, sikap hidup, dan orientasi budaya. Para sastrawan tidak
mengabaikan sesuatu yang bersifat tradisional bahkan berusahan untuk menjadikannya
sebagai titik tolak dalam menghasilkan karya sastra modern.
Konsepsi improvisasi dalam karya sastra dipahami oleh Putu Wijaya. Ia mengatakan bahwa
sebuah novel hanyalah cerita pendek yang disambung, sehingga yang muncul di dalam
penulisan suatu karya sastra adalah faktor ketiba-tibaan. Sebuah novel, drama, atau cerita
pendek ditulis dengan tiba-tiba karena pada saat menulis berbagai ide yang datang
dimasukkan ke dalam ide pokok. Unsur tiba-tiba seperti ini yang disebut dengan uncur
improvisasi.
Perkembangan sastra Indonesia periode 70-an maju pesat, karena banyak penerbitan yang
muncul dan bebas menampilkan hasil karyanya dalam berbagai bentuk. Sutardji
menampilkan corak baru dalam kesusastraan Indonesia di bidang puisi. Alasan tersebut
menyebabkaan Sutardji dianggap salah satu tokoh periode 70-an dalam sastra Indonesia. Pada
tahun 1979 Sutardji menerima hadiah sastra dari ASEAN.
Sutardji Calzoum Bachri dalam puisinya cenderung membebaskan kata dalam
membangkitkan kembali wawasan estetik mantra, yakni wawasan estetik yang sangat
menekankan pada magic kata-kata, serta melahirkannya dalam wujud improvisasi. Hal itu
nyata bila diperhatikan sikap puisinya berjudul Kredo Puisi yang ditulis di Bandung tanggal
30 Maret 1973 dan dimuat di majalah Horison bulan Desember 1974.
Angkatan 40 istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Dami N. Toda dalam kertas kerjanya
Peta-Peta Perpuisian Indonesia 1970-an Dalam Sketsa yang diajukan dalam diskusi sastra
memperingati ulang tahun ke-5 Majalah Tifa Sastra di Fakultas Sastra UI (25 Mei 1977).
Kertas kerja ini kemudian dimuat dalam Majalah Budaya Jaya (September 1977) dan dalam
Satyagraha Hoerip (ed) Semua Masalah Sastra (1982).
Menurut Dami, angkatan 70 dimulai dengan novel-novel Iwan Simatupang, yang jelas punya
wawasan estetika novel tersendiri; lalu teaternya Rendra serta puisinya Khotbah dan
Nyayian Angsa, juga semakin nyata dalam wawasan estetika perpuisian Sutarji Calzoum
Bachri, dan cerpen-cerpen dari Danarto, seperti Godlob, Rintik, dan sebagainya.
B. Pengarang dan karya-karya sastranya
Sastrawan tahun 1970-an atau angkatan 70-an. Berdasarkan karya-karya yang dihasilkannya
dapat dibagi menjadi 3 kelompok, antara lain:

1. Kelompok pertama yaitu mereka yang termasuk angkatan 66 atau yang telah berkarya
pada tahun 1960-an, telah mulai makin matanng pada tahun 1970-an, yang termasuk
sastrawan dari kelompok ini anntara lain:

1) Abdul Hadi W.M

Karangannya :
a. Laut belum pasang ( kumpulan sajak, 1971)
b. Cermin (kumpulan sajak, a975)
c. Potret panjang seorang pengunjung pantai sanur (1975)
d. Meditasi (kumpulan sajak 1975)

2) Supardi Djoko Damono

Karangannnya:
a. Dukamu abadi (kumpulan sajak 1969)
b. Mata pisau (kumpulan sajak 1974)
c. Akuarium (kumpulan sajak 1974)
d. Sosiologi, sastra (1978)
e. Novel Indonesia Sebelum Perang (1979
3) Goenawan Muhamad
Karangannya:
a. Lautan bernyanyi (drama, 1967)
b. Bila Malam Bertambah Malam (Novel, 1971)
c. Dadaku Adalah Perisaiku (kumpulan sajak 1974)
d. Anu (drama, 1975)
e. Aduh(drama, 1975)
f. Pabrik (novel, 1976)
g. Dag Dig Dug ( 1977)
h. Stasiun ( novel, 1977)
i. Ms (novel, 1977)
j. Tak Cukup Sedih ( novel, 1977)

3) Umar Kagam

Karangannya:
a. Seribu kunang dan kunang di mahatta (kumpulan cerpen, 1972)
b. Sri Sumarak dan Buluk ( kumpulan Cerpen, 1975)
c. Totok dan Toni (cerita anak-anak, 1975)
d. Seni, tradisi, masyarakat( kumpulan esei, 1981)

4) Leon Agusta
Karangannya:
a. Catatan Putih (kumpulan sajak, 1975)
b. Di bawah bayang-bayang sang kekasih (novel, 1978)
c. Hukla (kumpulan sajak,1979)

PENYAIR ANGKATAN 2000


Latar Belakang Lahirnya Angkatan 2000
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi mucul, namun tidak berhasil
dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara. Korrie Layun Rampan pada tahun 2002
melempar wacana tentang lahirnya satrawan Angkatan 2000. Sebuah buku tebal diterbitkan
oleh Gramedia Jakarta tahun 2000, seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, esai dan kritikus
sastra dimasukkan Korrie kedalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai
menulis sejak tahun 1980-an, seperti Afrisal Malna, Abmadumadun Yossi Herfanda dan Seno
Gumira Ajidarma. Serta yang muncul pada akhir tahun 1990-an seperti Ayu Utami dan
Dorothea Rosa Herliany. Menurut Korrie, Afrisal Malna melansir estetik baru yang digali dari
sifat missal benda-benda dan manusia yang dihubungkan dengan peristiwa tertentu dari
interaksi missal. Setelah terjadi informasi, ruang gerak masyarakat pada awalnya mereka
selalu di bekap dan terganjal oleh gaya pemerintahan Orde Baru yang refresif tiba-tiba
memperoleh saluran kebebasan yang leluasa.
Kesusastraan seperti dalam sebuah pentas terbuka dan luas. Para pemainnya boleh berbuat
dan melakukan apa saja namun ada suasana tertentu yang mematangkannya. Angkatan 2000
adalah nama yang diberikan oleh Korrie Layun Rampan. Ada sejumlah pengarang yang
melahirkan wawasan estetik harus pada tahun 1990-an dan tokoh-tokoh Angkatan ini adalah
Afrisal Malna, Seno Gumira Ajidarma dan Ayu Utami.

B. Ciri-Ciri Karya Sastra Angkatan 2000


Menurut Kelas A.4.4 (2014:141142) ciri-ciri karya sastra angkatan 2000 sebagai berikut.
1. Tema sosial-politik, romantik, masih mewarnai tema karya sastra.
2. Pilihan kata diambil dari bahasa sehari-hari yang disebut nahasa kerakyatjelataan.
3. Revolusi tipografi atau tata wajah yang bebas aturan dan cenderung ke puisi konkret.
4. Penggunaan estetika baru yang disebut antromofisme(gaya bahasa berupa penggantian
tokoh manusia sebagai aku lirik dengan benda-benda).
5. Karya-karyanya profetik (keagamaan/religius) dengan kecenderungan menciptakan
penggambaran yang lebih konkret melalui alarm.
6. Kritik sosial juga muncul lebih keras
7. Banyak muncul kaum perempuan.
8. Disebut angkatan modern.
9. Karya sastra lebih marak lagi, termasuk adanya sastra koran, contohnya dalam H.U.
pikiran Rakyat.
10. Adanya satra bertema gender, perkelaminan, seks, feminisme.
11. Banyak muncul karya populer atau gampang dicerna, dipahami, pembaca.
12. Muncul cyber sastra diinternet.

C. Kekurangan dan Kelebihan Sastra Angkatan 2000


Menurut Kelas A.4.4 (2014:142143), kelebihan dan kelemahan karya sastra tahun 2000
sebagai berikut:
Kelebihan karya sastra tahun 2000 yaitu:
1. Pencerminan sebagai karya reformasi dimana terjadi revolusi
2. Penggunaan tema yang beragam
3. Kekuatan narasi yang lencer dan mengalir
4. Banyaknya muncul karya sastra pembangun jiwa
5. Kejadian menarik yang inspiratif banyak digunakan penggarang dalam menuliskan
kayanya.
Sedangkan kekurangan karya sastra tahun 2000 yaitu:
1. Banyak munculnya sastra perkelaminan yang cenderung merusak moral bangsa.
2. Adanya lapisan sastrawan muda dengan ekspresinya yang menggebu-gebu berkata secara
terbuka, bebas dan tidak terlalu memperhatikan nilai moral yang berkembang di masyarakat.
3. Beberapa sastrawan cenderung sekulerdan feminis dalam menuliskan karyanya.

D. Penyair dan Karya-Karyanya Periode 2000


1. Afrizal Malna

Afrizal Malna lahir di Jakarta, 7 juni 1957. Sejak menamatkan SLA pada tahun 1976, afrizal
Malna tidak melanjutkan sekolah. Pada tahu n 1981, ia belajar di Sekolah Tinggi Filsafat
Driyarkara, Jakarta, sebagai mahasiswa khusu hingga pertengahan dikeluarkan pada tahun
1983. Pada usia 27 tahun, Afrizal Malna menikah. Selama kurang lebih sepuluh tahun ia
pernah bekerja di perusahaan kontraktor bangunan, ekspedisi muatan kapal laut, dan asuransi
jiwa. Sekarang lebih banyak berkiprah di bidang seni, sebagai sutradara pertujukan seni,
kurator seni unstalansi, penyair dan penulis.
Bukunya antara lain: Abad Yang Berlari (1984), Perdebatan Sastra Kontekstual (1986), Ynag
berdiam Dalam Mikropon (1990), Arsitektur Hujan (1995), Biography of Reading (1995),
Kalung Dari Teman (1998), Sesuatu Indonesia, Esei-eseivdari pembaca yang tak bersih
(2000), Seperti Novel yang Malas Mengisahkan Manusia, Kumpulan prosa(2003), Dalam
Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2003), Novel Yang Malas Menceritakan Manusia (2004),
Lubang dari Separuh Langit (2005).
Penghargaan yang pernah diterima: kincir perunggu untuk naskah monolog dari Radio
Nederland Wereldromroep (1981), Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika,
harianRepublika (1994), Esei majalah Sastra Horison (1997), Dewan Kesenian Jakarta
(1984).
Selain menulis buku dan esai Afrizal juga menulis beberapa puisi sebagai berikut:
Menggoda Tujuh Kupu-Kupu
Aku tidak berjalan dengan mata melek. Kau pergi
dengan mata
tidur. Orang disini membawa beban berat. Bukan
soal melihat
dalam beban itu isinya sampah. Bukan pergi dan
tidak tidur. Kita
sibuk mencari tempat membuang sampah itu untuk
mengisinya
kembali dengan sampah. Kau pergi dengan mata
tidur. Aku tidak
berjalan dengan mata melek dan tidak mengukur
yang terlihat.
Kau latihan yoga dan menjadi tujuh kupu-kupu.
Aku melihat kau
Terbang dan tidak bisa ikut masuk kedalam kupu-kupumu.
Keadaan seperti gas padat dalam lemari es. Tetapi
Tidak ada ledakan.
Aku tidak mendengar suara ledakan dalam puis
ini. Disini hidup
Menjadi mudah, karena memang hidup sudah tidak
ada. Menjadi
Benar oleh kebohongan-kebohongannya. Menjadi
indah oleh
Kerusakan-kerusakannya. Aku di dalam pelukanmu
Dan diluar
Terbangmu. Membayangkan tujuh kupu-kupu mulai
menanamkan
Sayapnya dan menanamkan terbangnya. Mengganti
Bumi pertama
Dengan rute sungai Marne yang membelah mimpi-mimpimu.

2. Seno Gumira Anjidarma

Seno Gumira Ajidarma lahir di Boston, 19 Juni 1958. Ia adalah penulis dari generasi baru
sastra indonesia. Seno muda adalah sosok pembangkang, pemikirannya bertolak belakang
dengan ayahnya, Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, guru besar Fakultas MIPA Universitas
Gadjah Mada. Imajinasinya liar, terpengaruh cerita karya Karl May yang mengakara kuat
dibenaknya, setamat SMP ia memuuskan untuk mengembara mencari pengalaman selama 3
bulan, hingga akhirnya ia kehabisan uang dan ibunya mengiriminya tiket pulang. Ia sengaja
memilih SMA yang boleh tidak memakai seragam, agar ia dapat bertindak bebas. Ia sempat
ikut dalam Teater Alam pimpinan Azwar A.N., disanalah ia mengenal Rendra yang
menurutnya memiliki dunia yang menyenangkan. Keinginannya untuk menjadi seniman
seperti Rendra menjadikannya produktif karena menurutnya seniman harus punya karya.
Maka ia pun berkarya.
Awal keterkaitannya pada dunia sastra dipengaruhi oleh puisi-puisi mbeling-nya Remy
Sylado di majalah Aktuil Bandung. Seno pun mulai mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat.
Banyak yang menganggapnya penyair kontemporer, namun ia tidak peduli dan mulai
tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison. Pada saat usianya masih 17
tahun, puisi-puisinya sudah masuk di majalah sastra Horison. Sejak saat itu ia sudah merasa
sebagai seorang penyai. Ia pun mulai menulis esai dan cerpen.
Cerpennya Pelajran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas(1993). Pada tahun
1997, ia memperoleh S.E.A Write Award (Southeast Asian) Writes Award dan berkat
cerpennya Saksi Mata, ia memperoleh Dinny OHearn Prize For Literary (1997). Karyanya
Negeri Senja dan Kitab Omong Kosong memenangi khatulistiwa Literary berturut-turut pada
tahun 2004 dan 2005. Pada usia 19 tahun, ia memutuskan untuk menikah, kuliah di
Sinematografi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sekaligus menjadi wartawan untuk menghidupi
keluarganya. Semua djalaninya dengan ringan. Hingga ia lulus Megister Ilmu Filsafat,
Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2000 dan meraih gelar Doktor dari program
Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indoesia (UI) dengan disertai
mengenai komik Panji Tengkorak pada tahun 2005.
Sealain aktif menulis cerpen, Seno juga menulis eberapa puisi sebagai berikut:
Hari Ini Seperti Juga Kemarin
Hari ini seperti juga hari kemarin
Tak lagi terbandingkan, antara nasib antara sepi
Kemudian rawan, jatuh di bumi
Lantas seperti kemarin-kemarin : matahari pagi
yogya 1976

Sajak Malam
Setelah usai,
Dentang jam dinding dua belas kali
Yogya 1976

Dua Gadis Cilik


Dua gadis cilik
Mati terlindas di dekat pasar
Sedikit darah terciprat
Pada celana kuli yang tk punya anak
Yogya 1976

3. Ayu Utami
Justina Ayu Utami atau hanya Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968)
adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di
Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra,
Forum Keadilan, dan D7R. Tak lama setelah itu penutupan tempo, Editor dan Detik pada
masa orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes
pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya
yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap
memberikan warna baru dalam Sastra Indonesia.

4. Djenar Maesa Ayu

Djenar Maesa Ayu (lahir di Jakarta, 14 Januari 1973) adalah seoarang penulis Indonesia
Cerpen-cerpennya telah tesebar diberbagai media massa Indonesia seperti Kompas, Majalah
Cosmopolitan, Lampung Post, dan Majalah Djakarta. Karyanya tergambar sebagai propokatif
dan mengerikan, unik dan berani. Karena keberaniannya dalam menulis topik buku yang
ditulisnya, djenar dianggap sebagai salah satu sastra wangi (mengangkat seksualitas).
Djenar mulai menulis saat masih sekolah dasar. Setelah lulus kuliah, dia bekerja sebagai
presenter televisi untuk jangka waktu pendek sebelum memulai dunia menulis. Ia adalah putri
dari pasangan sutradara film legendaris Syuman Djaya dan pemeran wanita Tutie Kirana
Djenar memiliki dua orang anak yaitu Banyu Bening dan Btari Maharani.
Penyutradaraan film perdananya, Mereka Bilang, Saya Monyet! Menghadiahkan Piala Citra
untuk Sutradara Terbaik.
Karya-karyanya:
a. Buku pertama Djenar yang berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet! Berisi kumpulan 11
cerita pendek ditulis pada tahun 2001 dan diterbitkan tahun berikutnya, telah cetak ulang
sebanyak 8 kali dan masuk dalam nominasi 10 besar buku terbaik Khatulistiwa Literary
Award 2003. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Michael N Garcia dari
Coernell University. Saat ini cerepen dengan judul yang sama sedang dalam proses
pembuatan kelayar lebar. Cerpen Waktu Nayla menyambet predikat Cerpen Terbaik
Kompas 2003, yang dibukukan bersama cerpen Asmono dalam antologi cerpen pilihan
Kompas itu. Sementara cerpen Menyusu Ayah menjadi cerpen terbaik 2003 versi Jurnal
Perempuan dan diterjemahkan oleh RicardOh kedalam bahasa inggris dengan judul Suckling
Father untuk dimuat kembali dalam Jurnal Perenmpuan versi bahasa Ingrris, edisi kolaborasi
karya terbaik Jurnal Perempuan.
b. Buku keduanya, Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) juga meraih sukses dan cetak
ulang kedua hanya dua hari setelah dua hari setelah buku itu diluncurkan pada bulan Februari
2005. Kumpulan cerpen berhasil ini meraih penghargaan 5 besar Khatulistiwa Literary Award
2004. Nayla adalah novel pertaama Djenar yang juga diterbitkan oleh Gramedia Pustaka
Utama.

TUGAS BAHASA INDONESIA

Disusun Oleh :
Rahayu

Kelas : XII IPA 3

SMAN 1 PAGADEN

TUGAS BAHASA INDONESIA

Disusun Oleh :
Tina Oktaviani

Kelas : XII IPA 3

SMAN 1 PAGADEN

TUGAS BAHASA INDONESIA

Disusun Oleh :
Imas Rohimah

Kelas : XII IPA 3

SMAN 1 PAGADEN

BALAI PUSTAKA ANGKATAN 20

1. ANGKATAN 20-an (BALAI PUSTAKA)


Angkatan 20 disebut juga angkatan Balai Pustaka. Balai Pustaka merupakan nama badan
yang didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1908. Badan tersebut sebagai penjelmaan
dari Commissie voor De Volkslectuur atau Komisi Bacaan Rakyat.Commissie voor De
Volkslectuur dibentuk pada tanggal 14 April 1903. Komisi ini bertugas menyediakan bahan-
bahan bacaan bagi rakyat Indonesia pada saat itu.
Lahirnya Balai Pustaka sangat menguntungkan kehidupan dan perkembangan sastra di tanah
air baik bidang prosa, puisi, dan drama. Peristiwa- peristiwa sosial, kehidupan adat-istiadat,
kehidupan agama, ataupun peristiwa kehidupan masyarakat lainnya banyak yang direkam
dalam buku-buku sastra yang terbit pada masa itu.
1.1 ciri-ciri Sastra angkatan 20 ( Balai Pustaka ) :
1. Menggambarkan pertentangan paham antara kaum muda dan kaum tua.
2. Menggambarkan persoalan adat dan kawin paksa termasuk permaduan.
3. Adanya kebangsaan yang belum maju masih bersifat kedaerahan.
4. Banyak menggunakan bahasa percakapan dan mengakibatkan bahasa tidak terpelihara
kebakuannya.
5. Adanya kontra pertentangan antara kebangsawanan pikiran dengan kebangsawanan
daerah.
6. Cerita bermain pada zamannya.
7. Corak lukisannya adalah romantis sentimentil. Angkatan 20 melukiskan segala sesuatu
yang diperjungkan secara berlebih-lebihan.
8. Puisinya masih banyak berbentuk syair dan pantun.
9. Puisi bersifat dikdaktis.

1.2 Analisis Sastra Pada Angkatan 20-an


R O M A N
Kehadiran dan keberadaan roman sebenarnya lebih tua daripada novel. Roman (romance)
bersal dari jenis sastra epik dan romansa abad pertengahan. Jenis sastra ini banyak berkisah
tentang hal-hal romantik, penuh dengan angan-angan biasanya bertemakan kepahlawanan dan
percintaan.
1) Dalam karya ini isinya bercorak romantik sentimental

Penggalan Roman : Siti Nurbaya karya Marah Rusli


Setelah berhasil bertemu dengan ayahnya, Samsulbahripun menunggal dunia. namun,
sebelum meninggal dia minta kepada orang tuanya agar dikuburkan di Gunung Padang dekat
dengan kekasihnya Siti Nurbaya. Permintaan itu dikabulkan oleh ayahnya, dia dikuburkan di
Gunung Padang paling dekat dengan keksihnya Siti Nurbaya. Dan di situlah kedua kekasih
ini bertemu terakhir dan bersama untuk selama-lamanya.
Jelas dalam kutipan roman Siti Nurbaya ini sangat bercorak romantik sentimental, yang
melukiskan perjuangan cinta Samsulbahri kepada Siti Nurbaya berlebihan, yakni sampai
meninggalpun ia meminta agar dikuburkan dekat dengan kekasihnya Siti Nurbaya.
(2). Menggambarkan persoalan kawin paksa.
Di tengah-tengah musibah tersebut, Datuk Maringgih menagih huk Maringgih.utang
kepadanya. Jelas baginda Sulaiman tidak mampu membayarnya. Dengan alasan hutang tersi
Datebut, Datuk Maringgih langsung menawarkan bagaimana kalau Siti Nurbaya, putri
baginda Sulaiman dijadikan istri Datuk Maringgih. Kalau tawaran ininditerima maka
hutangnya lunas. Dengan terpaksa dan berat hati, akhirnya Siti Nurbaya diserahkan untuk
menjadi istri.
Jelas dalam kutipan roman Siti Nurbaya sangat menggambarkan kawin paksa, dimana Siti
Nurbaya diserahkan dengan terpaksa dan berat hati untuk diperistri boleh Datuk Maringgih
hanya demi kelunasan seluruh hutang ayahnya.
Pada roman Siti Nurbaya tidak hanya melukiskan percintaan saja, juga mempersoalkan
poligami, membangga-banggakan kebangsawanan, adat yang sudah tidak sesuai dengan
zamannya, persamaan hak antara wanita dan pria dalam menentukan jodohnya, anggapan
bahwa asal ada uang segala maksud tentu tercapai. Persoalan-persoalan itulah yang ada di
masyarakat.
PUISI
Sebagian besar angkatan 20 menyukai bentuk puisi lama (syair dan pantun), tetapi golongan
muda sudah tidak menyukai lagi. Golongan muda lebih menginginkan puisi yang merupakan
pancaran jiwanya sehingga mereka mulai menyindirkan nyanyian sukma dan jeritan jiwa
melalui majalah Timbul, majalah PBI, majalah Jong Soematra.
1). Masih banyak berbentuk syair dan pantun.

Contoh kutipan sajak puisi Bukan Beta Bijak Berperi oleh Rustam Effendi
BUKAN BETA BIJAK BERPERI
Bukan beta bijak berperi,
pandai menggubah madahan syair,
Bukan beta budak Negeri,
musti menurut undangan mair,
Sarat-saraf saya mungkiri,
Untai rangkaian seloka lama,
beta buang beta singkiri,
Sebab laguku menurut sukma.
Dilihat bentuknya seperti pantun, tetapi dilihat hubungan barisnya berupa syair. Ia
meniadakan tradisi sampiran dalam pantun sehingga sajak itu disebut pantun modern.

TUGAS BAHASA INDONESIA


Disusun Oleh :

Tia Listiawati

Kelas : XII IPA 3

SMAN 1 PAGADEN

TUGAS BAHASA INDONESIA


Disusun Oleh :

Ryandita D. Rompis

Kelas : XII IPA 3

SMAN 1 PAGADEN

TUGAS BAHASA INDONESIA


Disusun Oleh :

Satria C.K.T

Kelas : XII IPA 3

SMAN 1 PAGADEN

PENYAIR ANGKATAN 66
Taufiq Ismail, dilahirkan di Bukittinggi, 25 Juni 1937, lulusan Fakultas Kedokteran Hewan
UI, redaktur senior Horison. Penerima Anugerah Seni dari pemerintah RI tahun 1970 dan
Sastra ASEAN tahun 1994 ini telah berjasa besar dalam memasyarakatkan, mengembangkan
dan memajukan sastra Indonesia bersama tokoh-tokoh lain seperti Sutarji Calzoum Bachri,
Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, Abdul Hamid Jabbar (almarhum) melalui program SBSB
(Sastrawan Buicara Siswa Bertanya) di sekolah-sekolah (SMA/MAN/SMK) di seluruh
Indonesia tahun 2000 2004. Karena jasa-jasanya dan prestasinya, Universitas Negeri
Yogyakarta (UNY) memberinya gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang sastra.

Penyair ini terkenal dengan kumpulan sanjak Tirani dan Benteng, tertbit tahun 1966. Sanjak
berjudul Seorang Tukang Rambutan dan Istrinya, Karangan Bunga, Sebuah Jaket Berlumur
Darah, Kami adalah Pemilik Sah Republik Ini, Yang Kami Minta Hanyalahbisa dijumpai
dalam buku-buku tersebut. Kumpulan sanjaknya yang lain, Sajak Ladang Jagung (1973)
terbit setelah ia pulang dari Amerika. Dalam buku tersebut, kita bisa membaca Kembalikan
Indonesia Padaku, Beri Daku Sumba, Bagaimana Kalau .. Sejak puluhan tahun yang lalu
(1974) Taufiq bekerja sama dengan Bimbo Group dalam penulisan lirik lagu. Kita bisa
dengar nikmati lagu dan lirik Aisyah Adinda Kita, Sajadah Panjang, Balada Nabi-nabi,
Bermata tapi Tak Melihat, Ibunda Swarga Kita, dan lain-lain dari dirinya. Taufiq Ismail juga
menulis Sajak-sajak Si Toni, Balai-balai, Membaca Tanda-tanda, Abad ke-15 Hijriah, Rasa
Santun yang Tidur, Puisi-puisi Langit.

Pada awal tahun 1994 diluncurkan buku antologi puisi berjudul Tirani dan Benteng cetak
ulang dua kumpulan puisinya yang terkenal itu. Buku tersebut diberi pengantar oleh sang
penyair secara cukup panjang dan mendalam. Di antara kata pengantar dan dua kumpulan
sanjak tersebut disertakan pula dalam buku ini Sajak-sajak Menjelang Tirani dan Benteng.
Pada tahun-tahun seputar Reformasi ditulisnya puisi berjudul Takut 98 dan antologi puisi
Malu Aku Jadi Orang Indonesia (MAJOI) terbit tahun 1998. Bersama DS Mulyanto, rekan
sastrawan Angkatan 66, Taufiq Ismail mengeditori buku tebal berjudul Prahara Budaya
(antologi esai, 1995), bersama LK Ara dan Hasyim Ks menyusun buku tebal juga berjudul
Seulaweh Antologi Sastra Aceh (1995).
Bur Rasuanto, dilahirkan di Palembang, 6 April 1937, adalah pengarang, penyair, wartawan.
Ia menulis kumpulan cerpen Bumi yang Berpeluh (1963) dan Mereka Akan Bangkit (1963).
Bur Rasuanto juga menulis roman Sang Ayah (1969); Manusia Tanah Air (1969) dan novel
Tuyet (1978).

Goenawan Mohamad, dilahirkan di Batang, 29 Juni 1941. Penyair, esais, wartawan, yang
sampai sekarang menjadi pimpinan umum majalah Tempo ini termasuk penanda tangan
Manifes Kebudayaan. GM adalah juga penerima Anugerah Seni pemerintah RI, penerima
Hadiah A. Teeuw tahun 1992 dan Hadiah Sastra ASEAN tahun 1981.Di samping prestasi-
prestasi di atas, GM pernah menjadi wartawan Harian KAMMI, anggota DKJ, pimred
Express, pimred majalah Zaman, redaktur Horison, anggota Badan Sensor Film.

Ia menulis kumpulan sanjak Interlude, Parikesit (1971);kumpulan esai Seorang Penyair Muda
Sebagai Si Malinkundang (1972); Catatan Pinggir I (1982), Catatan Pinggir 2 (1989), Catatan
Pinggir 3 yang dihimpun dari majalah Tempo. Karyanya yang lain: Asmaradahana
(kumpulan puisi, 1992); Seks, Sastra, Kita (kumpulan esai); Revolusi Belum Selesai
(kumpulan esai); Misalkan Kita di Serayewo (antologi puisi, 1998).
Subagio Sastrawardoyo, dilahirkan di Madiun, 1 Febuari 1924, meninggal di Jakarta, 18
Juli 1995. Penyair, pengarang, esais ini, pernah menjadi redaktur Balai Pustaka, dosen bahasa
Indonesia di Adelaide, dosen FS UGM, SESKOAD Bandung, Universitas Flinders, Australia
Selatan. I menulis kumpulan sanjak Simphoni (1957); Daerah Perbatasan, Kroncong
Motenggo (1975). Kumpulan esainya berjudul Bakat Alam dan Intelektualisme (1972);
ManusiaTerasing di Balik Simbolisme Sitor, Sosok Pribadi dalam Sajak (1980); antologi
puisi Hari dan Hara; kumcerpen Kejantanan di Sumbing (1965). Cerpennya Kejantanan di
Sumbing dan puisinya Dan Kematian Makin Akrab meraih penghargaan majalah Kisah dan
Horison.
Sapardi Joko Damono, dilahirkan di Solo, 20 maret 1940, adalah penyair, esais, dosen dan
Guru Besar FSUI. Ia menulis Duka-Mu Abadi (1969); Akwarium (1974); Mata Pisau (1974);
Perahu Kertas (1983); Suddenly the Night (1988);Hujan Bulan Ini (1994). Semuanya
kumpulan puisi. Ia juga penerjemah yang mengalihbahasakan The Old Man and The Sea nya
Ernest Hermingway menjadi Lelaki Tua dan Laut (1973). Karya terjemahannya yang lain
Lirik Persi Klasik (1977); Puisi Klasik Cina (1976); Puisi Brazilia Modern. Kumpulan
esainya Novel Indonesia Sebelum Perang (1979); Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar
Ringkas (1978); Kesusastraan Indonesia Modern, Beberapa Catatan (1983); Sihir Rendra:
Permainan Makna (1999); Politik Iodeologi dan sastra Hibrida (1999). Merefleksikan saat-
saat Reformasi yang diterpa kerusuhan, penjarahan dan pembakaran gedung-gedung dan
supermarket, sampai ada ratusan jiwa yang tewas terpanggang, Sapardi mengabadikan tragedi
tersebut lewat antologi puisi Ayat-ayat Api (2000).
BALAI PUSTAKA ANGKATAN 20

1. ANGKATAN 20-an (BALAI PUSTAKA)


Angkatan 20 disebut juga angkatan Balai Pustaka. Balai Pustaka merupakan nama badan
yang didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1908. Badan tersebut sebagai penjelmaan
dari Commissie voor De Volkslectuur atau Komisi Bacaan Rakyat.Commissie voor De
Volkslectuur dibentuk pada tanggal 14 April 1903. Komisi ini bertugas menyediakan bahan-
bahan bacaan bagi rakyat Indonesia pada saat itu.
Lahirnya Balai Pustaka sangat menguntungkan kehidupan dan perkembangan sastra di tanah
air baik bidang prosa, puisi, dan drama. Peristiwa- peristiwa sosial, kehidupan adat-istiadat,
kehidupan agama, ataupun peristiwa kehidupan masyarakat lainnya banyak yang direkam
dalam buku-buku sastra yang terbit pada masa itu.
1.1 ciri-ciri Sastra angkatan 20 ( Balai Pustaka ) :
1. Menggambarkan pertentangan paham antara kaum muda dan kaum tua.
2. Menggambarkan persoalan adat dan kawin paksa termasuk permaduan.
3. Adanya kebangsaan yang belum maju masih bersifat kedaerahan.
4. Banyak menggunakan bahasa percakapan dan mengakibatkan bahasa tidak terpelihara
kebakuannya.
5. Adanya kontra pertentangan antara kebangsawanan pikiran dengan kebangsawanan
daerah.
6. Cerita bermain pada zamannya.
7. Corak lukisannya adalah romantis sentimentil. Angkatan 20 melukiskan segala sesuatu
yang diperjungkan secara berlebih-lebihan.
8. Puisinya masih banyak berbentuk syair dan pantun.
9. Puisi bersifat dikdaktis.
1.2 Analisis Sastra Pada Angkatan 20-an
R O M A N
Kehadiran dan keberadaan roman sebenarnya lebih tua daripada novel. Roman (romance)
bersal dari jenis sastra epik dan romansa abad pertengahan. Jenis sastra ini banyak berkisah
tentang hal-hal romantik, penuh dengan angan-angan biasanya bertemakan kepahlawanan dan
percintaan.
1) Dalam karya ini isinya bercorak romantik sentimental

Penggalan Roman : Siti Nurbaya karya Marah Rusli


Setelah berhasil bertemu dengan ayahnya, Samsulbahripun menunggal dunia. namun,
sebelum meninggal dia minta kepada orang tuanya agar dikuburkan di Gunung Padang dekat
dengan kekasihnya Siti Nurbaya. Permintaan itu dikabulkan oleh ayahnya, dia dikuburkan di
Gunung Padang paling dekat dengan keksihnya Siti Nurbaya. Dan di situlah kedua kekasih
ini bertemu terakhir dan bersama untuk selama-lamanya.
Jelas dalam kutipan roman Siti Nurbaya ini sangat bercorak romantik sentimental, yang
melukiskan perjuangan cinta Samsulbahri kepada Siti Nurbaya berlebihan, yakni sampai
meninggalpun ia meminta agar dikuburkan dekat dengan kekasihnya Siti Nurbaya.
(2). Menggambarkan persoalan kawin paksa.
Di tengah-tengah musibah tersebut, Datuk Maringgih menagih huk Maringgih.utang
kepadanya. Jelas baginda Sulaiman tidak mampu membayarnya. Dengan alasan hutang tersi
Datebut, Datuk Maringgih langsung menawarkan bagaimana kalau Siti Nurbaya, putri
baginda Sulaiman dijadikan istri Datuk Maringgih. Kalau tawaran ininditerima maka
hutangnya lunas. Dengan terpaksa dan berat hati, akhirnya Siti Nurbaya diserahkan untuk
menjadi istri.
Jelas dalam kutipan roman Siti Nurbaya sangat menggambarkan kawin paksa, dimana Siti
Nurbaya diserahkan dengan terpaksa dan berat hati untuk diperistri boleh Datuk Maringgih
hanya demi kelunasan seluruh hutang ayahnya.
Pada roman Siti Nurbaya tidak hanya melukiskan percintaan saja, juga mempersoalkan
poligami, membangga-banggakan kebangsawanan, adat yang sudah tidak sesuai dengan
zamannya, persamaan hak antara wanita dan pria dalam menentukan jodohnya, anggapan
bahwa asal ada uang segala maksud tentu tercapai. Persoalan-persoalan itulah yang ada di
masyarakat.
PUISI
Sebagian besar angkatan 20 menyukai bentuk puisi lama (syair dan pantun), tetapi golongan
muda sudah tidak menyukai lagi. Golongan muda lebih menginginkan puisi yang merupakan
pancaran jiwanya sehingga mereka mulai menyindirkan nyanyian sukma dan jeritan jiwa
melalui majalah Timbul, majalah PBI, majalah Jong Soematra.
1). Masih banyak berbentuk syair dan pantun.

Contoh kutipan sajak puisi Bukan Beta Bijak Berperi oleh Rustam Effendi
BUKAN BETA BIJAK BERPERI
Bukan beta bijak berperi,
pandai menggubah madahan syair,
Bukan beta budak Negeri,
musti menurut undangan mair,
Sarat-saraf saya mungkiri,
Untai rangkaian seloka lama,
beta buang beta singkiri,
Sebab laguku menurut sukma.
Dilihat bentuknya seperti pantun, tetapi dilihat hubungan barisnya berupa syair. Ia
meniadakan tradisi sampiran dalam pantun sehingga sajak itu disebut pantun modern.

PUJANGGA BARU ( ANGKATAN 33 )

ANGKATAN 33 (PUJANGGA BARU)


Nama angkatan Pujangga Baru diambil dari sebuah nama majalah sastra yang terbit tahun
1933. Majalah itu bernama Pujangga Baroe. Karya-karya sastra yang lahir dalam angkatan ini
mulai memancarkan jiwa yang dinamis, individualistis, dan tidak terikat dengan tradisi, serta
seni harus berorientasi pada kepentingan masyarakat. Di samping itu, kebudayaan yang
dianut masyarakat adalah kebudayaan dinamis. Kebudayaan tersebut merupakan gabungan
antara kebudayaan barat dan kebudayaan timur sehingga sifat kebudayaan Indonesia menjadi
universal.

. Ciri-ciri Angkatan 33 ( Pujangga Baru)


1. Bersifat Dinamis
2. Beraliran Romantis Idialis.
3. Menggunakan bahasa individual, Sudah lebih banyak mempergunakan bahasa yang
sesuai dengan pergaulan modern.
4. Mengutamakan psikologi.
5. Masalah individu manusia.
6. Bentuk puisinya lebih bebas, lebih mengenal variasi.
7. Bahasa kiasan utama puisi ialah perbandingan
8. Puisinya mengekspresikan perasaan, pelukisan alam yang indah, dan tentram.

Analisis Karya Sastra Pada Angkatan 33 (Pujangga Baru)


ROMAN

Roman Layar Terkembang Karya: Sutan Takdir Alisyahbana


Roman Layar Terkambang Karya S.T Alisyahbana Dalam roman ini diceritakan tentang kaum
wanita yang mulai bangkit untuk memperjuangkan hak-haknya yang mempunyai wawasan
luas dan bercita-cita tinggi. Hal tersebut sesuai dengan zaman pembuatan novel ini yang kala
itu gelora Sumpah Pemuda masih bergema. Baik kaum pria maupun wanita aktif dalam
berbagai organisasi kepemudaan.

1. Beraliran Romantis Idialis.


Kutipan : Roman Layar Terkembang
Pada suatu hari keluarga Raden Wiraatmadja dikejutkan oleh hasil diagnosa dokter yang
menyatakan bahwa Maria mengidap penyakit TBC. Semakin hari kesehatan gadis itu
semakin melemah sekalipun ia telah menjalani perawatan itensif. Hal ini membuat Yusuf
merasa sedih. Pemuda itu mendampingi kekasihnya dengan setia. Namun, penyakit TBC
yang diderita Maria semakin hari semakin parah sehingga tak lama kemudian Maria pun
meninggal dunia.
Dalam kutipan roman layar terkembang ini sangat jelas menggambarkan aliran romantis
idealis, dimana ada hal-hal yang tidak memuaskan dan keadaan yang tidak menggembirakan,
karena adanya kepincangan dalam roman ini yaitu Yusuf harus menerima kenyataan bahwa ia
tidak bisa bersatu dengan kekasihnya Maria karena penyakit yang dideritanya sangat parah
yang pada akhirnya pergi meninggalkan Yusuf untuk selama-lamanya.
2. Masalah individu manusia.
Dalam roman ini menceritakan masalah-masalah individu manusia, dimana Tuti seorang
wanita yang mulai bangkit untuk memperjuangkan hak-haknya yang mempunyai wawasan
luas dan bercita-cita tinggi, Maria harus berjuang menghadapi penyakit TBC yang
dialaminya, dan Yusuf kekasih Maria harus menghadapi kenyataan pahit ditinggal oleh Maria
untuk selama-lamanya.
3. Mengutamakan psikologi.
Dalam ciri ini, dalam mengarang penulis lebih mengutamakan pemikiran-pemikiran, dimana
setiap manusia harus mejalani kehidupannya sendiri sesuai keinginannya. Hal ini dapat
dilihat dari kutipan roman Layar Terkembang sebagai berikut.
Tuti yang mengatakan bahwa tiap-tiap manusia harus menjalankan penghidupannya sendiri,
sesuai dengan deburan jantungnya, bahwa perempuanpun harus mencari bahagianya dengan
jalan menghidupkan sukmanya

4. Menggunakan bahasa individual, Sudah lebih banyak mempergunakan bahasa yang


sesuai dengan pergaulan modern.
Kutipan : Layar Terkembang Karya :S.T. Alisyahbana
Kalau saya akan memegang agama, maka agama itu ialah yang sesuia dengan akal saya, yang
terasa oleh hati saya. Agama yang lain dari itu, saya anggap seperti bedak tipissaja, yang
luntur kena keringat .
Dari kutipan diatas, sangat jelas dalam mengarang penulis menggunakan bahasa-
bahasa indivudu, bahasa yang sesuai dengan pergaulan modern sehingga mudah dimengerti,
seperti kata bedak tipis, dimana ia menggambarkan agama yang tidak sesuai dengan akalnya
seperti bedak tipis yang luntur kena keringat.
PUISI

1. Bentuk puisinya lebih bebas, lebih mengenal variasi.


Penggalan puisi : Padamu Jua Karya : Amir Hamzah
PADAMU JUA
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali pulang aku padamu
Seperti dahulu
2. Puisinya mengekspresikan perasaan, pelukisan alam yang indah, dan tentram.
BERDIRI AKU PUISI NYANYI SUNYI
Karya: Amir Hamzah

Berdiri aku di senja senyap


Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
Angin pulang menyeduk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas.
Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
dimabuk wama berarak-arak.
Dalam rupa maha sempuma
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju

Pada puisi ini penyair mengekspresi kesedihan yang ditampilkan dengan suasana sunyi.
Perasaan sedih yang sangat mendalam digambarkan penyair dengan suasana sunyi pantai di
sore hari. Dengan demikian penyair hanya mampu melihat keindahan alam sekitar karena
kebahagiaannya dan harapan telah hilang.
Kesedihan yang mendalam ini juga wujud perasaan galau penyair yang digambarkan dengan
perasaannya yang dipermainkan ombak dan angin. Sehingga hanya merenungi hiduplah yang
mampu dilakukannya.
Sebagai orang yang memiliki agama yang kuat dalam setiap akhirnya dia hanya bisa
menyerahkan semua yang dia alami ini kepada Tuhan
3. Bahasa kiasan utama adalah perbandingan
Seperti halnya puisi lama pemilihan bahasa kiasan memang sangat diperlukan untuk
memperindah kata-katanya sehingga makna yang diberikan bisa lebih kaya dan mendalam.
Dalam puisi Berdiri Akuyang menojol adalah adanya personifikasi seperti:

Melayah bakau mengurai puncak


....................................................angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas
............................................Naik marak menyerak corak
..........................................
Dalam puisi tersebut Amir Hamzah menghidupkan ombak dan angin yang bertujuan ingin
menambah rasa kesunyian dan kesendirian penyair. Seperti halnya dengan mengagumi
ombak yang menerpa pohon-pohon bakau serta desir angin yang mengempakkan semuanya
terlihat kalau penyair benar-benar merasa sepi dan hanya mampu melihat pemandangan
sekitarnya saja.
Selain personifikasi yang dominan ada juga gaya metafora yang terlihat dari kalimat benang
raja mencelup ujung dan dalam rupa maha sempurna. Penyair membandingkan apa yang
dilihat dan dialami dengan kata benang raja dan maha sempurna.
ANGKATAN 45
ANGKATAN 45

Angkatan 45 lahir dalam suasana lingkungan yang sangat prihatin dan serba keras, yaitu
lingkungan fasisme jepang dan dilanjutkan peperangan mempertahankan kemerdekaan
Indonesia. Ankatan 45 disebut juga sebagai Angkatan Chairil Anwar karena perjuangan
Chairil Anwar dalam melahirkan angkatan 45 ini. Pujangga baru yang semula memiliki
gagasan yang berartisasi sastra Indonesia, nyatanya hanya mentok pada Belandanisasi.
Dengan kata lain, tokoh-tokoh atau karya seni dan sastra yang diambil sebagai acuan dan
sumber inspirasi hanya berasal dari negeri Belanda saja bukan dari penjuru barat. Untuk
meluruskan persepsi tersebut muncullah angkatan 45 sebagai penggantinya.

Ciri-Ciri Sastra Angkatan 1945


1. Cenderung bersifat realistis, sinis, dan ironi.
2. Karya sastranya lebih banyak mengemukakan masalah kemanusiaan yang universal.
3. Mengemukakan masalah kemasyarakatan sehari-hari terutama dengan latar perang
kemerdekaan.
4. Bercorak bebas, tidak terikat pembagian bait, baris, atau rima.
5. Lebih bergaya naturalisme, ekspresionisme dan beraliran realisme, sinisme dan
sarkasme.
6. Bahasanya menggunakan bahasa sehari-hari, lebih mementingkan isi daripada bentuk.
7. Berisi tentang individualisme.

Analisis Karya Sastra Angkatan 1945


PUISI
Kutipan: Puisi Aku Karya: Chairil Anwar
AKU

Kalau sampai waktuku


Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

1. Bercorak bebas, tidak terikat pembagian bait, baris, atau rima.


Jelas dalam puisi tersebut sudah bebas, jumlah bait dan baris tidak ditentukan lagi, iramanya
pun bebas tidak sepeti puisi lama yang berirama a-b, a-b.
2. Sinisme dan Sarkasme
Dalam puisi diatas juga sangat jelas menggambarkan sindiran yang lebih kasar, seperti
kutipan kalimat, Aku ini binatang jalang, Dari kumpulannya terbuang, penulis melukiskan
dirinya seperti binatang jalang.
3. Bahasanya menggunakan bahasa sehari-hari, lebih mementingkan isi daripada bentuk.
Dalam puisi ini juga sangat jelas menggambarkan bahasa yang digunakan adalah bahasa
sehari-hari, tidak mementingkan bentuk keindahan puisinya melainkan lebih mementigkan
pada isi dan makna puisinya.
4. Berisi tentang individualisme
Dalam puisi ini juga pengarang lebih menggambarkan keindividuan atau seorang diri.
Apabila suatu keyakinan telah terhujam dalam dirinya, ia tidak akan ambil pusing dengan
orang lain, ia akan hidup seribu tahun lagi dengan keyakinannya itu. Hal ini dapat dilihat
dalam kutipan berikut.

Aku tetap meradang menerjang


Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
ROMAN

1. Mengemukakan masalah kemasyarakatan sehari-hari terutama dengan latar perang


kemerdekaan. Hal ini dapat dilihat dari kutipan roman berikut.

Kutipan: Jalan Tak Ada Ujung Karya: Mochtar Lubis


... setiap saat ia merasa was-was ketika mendengar serdadu Inggris menyerbu.
Mereka kemudian bertugas untuk mengambil senjata dan bom tangan yang disimpan di
daerah Asam Reges, setelah iti disimpan di Manggarai, kemudian diselundupkan ke
Karawang.
....
Serdadu Inggris kemudian pergi meninggalkan Indonesia setelah adanya perjanjian Linggar
Jati.
Dari kutipan roman diatas pengarang jelas menulis dengan menggunakan tema dengan latar
perang, dimana meski dengan rasa takut guru Isa tetap menjalankan tugas untuk mengambil
dan menyelundupkan senjata untuk melawan musuh.
2. Karya sastranya lebih banyak mengemukakan masalah kemanusiaan yang universal. Hal
ini dapat dilihat dari kutipan roman berikut
....
Keadaan ekonomi keluarganya sangat kekurangan.
....
Istrinya kemudian selingkuh dengan teman guri Isa sendiri.
Dari kutipan diatas pengarang jelas menggambarkan karangannya dengan masalah universal,
dimana keadaan ekonomi guru Isa yang sangat kekurangan, ditambah dengan perselingkuhan
yang dilakukan oleh istrinya dengan teman guru Isa sendiri.