Anda di halaman 1dari 4

Nama Pasien : An.

MA
WOC TUBERKULOSIS PARU Usia : 11 Th
DEFINISI Jenis Kelamin : Laki-laki
Oleh : Louis Destama, S.Kep
Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit Diagnosa : TB Paru
menular yang disebabkan oleh basil (04064881618012)
Mikrobacterium tuberkolusis yang Program Profesi Ners PSIK FK Unsri
merupakan salah satu penyakit saluran
pernafasan bagian bawah yang sebagian ETIOLOGI
besar basil tuberkolusis masuk ke dalam Tuberkulosis paru adalah penyakit menular MANIFESTASI KLINIS
jaringan paru melalui airbone infection. Gejala respiratorik, meliputi:
yang disebabkan oleh basil mikrobakterium Batuk
tuberkulosis tipe humanus, sejenis kuman yang Batuk darah
berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/mm Sesak napas
Nyeri dada
dan tebal 0,3-0,6/mm. Sebagian besar kuman terdiri Gejala sistemik, meliputi:
atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang membuat Demam
keringat malam
kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan anoreksia
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium terhadap gangguan kimia dan fisik. penurunan berat badan
Anemia, terutama bila penyakit berjalan Sifat kuman ini adalah aerob. Sifat ini
menahun
Leukositosis ringan dengan predominasi menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi
limfosit jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam
Laju Endap Darah (LED) meningkat terutama
pada fase akut, tetapi pada umumnya nilai- hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi
nilai
tersebut normal pada tahap penyembuhan dari pada bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini
Pemeriksaan radiologi merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.
Bayangan lesi radiologik yang terletak di PENATALAKSANAAN
lapangan atas paru Pada prinsipnya penatalaksanaan TB
Bayangan yang berawan atau berbecak paru adalah sebabai berikut :
Adanya kavitas tunggal atau gandaAdanya Perlunya diagnosis yang cepat dan
kalsifikasi tepat
Kelainan bilateral, terutama bila terdapat di Pemakaian paduan obat yang tepat
lapangan atas paru
Adanya penyakit penyerta lainnya
Bayangan yang menetap atau relatif setelah
beberapa minggu yang mendapat terapi
Pemeriksaan bakteriologik (sputum) immunosupressi dapat
Ditemukan kuman mikobakterium mempengaruhi dan menghambat
tuberkulosis dari dahak penderita, TB paru.
memastikan diagnosis TB paru Evaluasi pengobatan lebih ditujukan
pada pemeriksaan dahak. terhadap konversi sputum,
Uji tuberkulin walaupun kemajuan klinis dan
Sangat penting bagi diagnosis tersebut pada Tuberkulosis Paru
radiologis tetap diperhatikan.
anak. Hal positif pada orang dewasa kurang
bernilai. Pemberian diet TKTP
Usaha preventif terhadap TB
hendaknya ditingkatkan seperti
penyuluhan kesehatan pada klien
tentang permasalahan dalam
Pengeluaran zat pirogen Terjadi perubahan suhu
Mycobacterium Masuk lewat jalan nafas meningkat
tuberkulosa
tu
Mempengaruhi hipotalamus
Menempel pada paru Tuberkulosis Paru
Droplet infection MK: Hipertemi

Mempengaruhi sel point


Menetap di jaringan paru Terjadi proses peradangan
NOC
Dibersihkan oleh - Suhu tubuh dalam rentang
makrofag normal
- Nadi dan RR dalam rentang
Tumbuh & berkembang di sitoplasma makrofag
normal
Keluar dari tracheobionchial - Tidak ada perubahan warna kulit
dan tidak ada pusing, merasa
bersama sekret
Focus ghon nyaman
NIC
Sembuh tanpa pengobatan - Monitor suhu sesering mungkin
- Berikan anti piretik
Komplek primer Limfangitis lokal Limfadinitis regional - Selimuti pasien
- Berikan cairan intravena
- Kompres pasien pada lipat paha
dan aksila
Menyebar ke organ lain (paru Sembuh tanpa pengobatan Sembuh dg bekas fibrosis
lain, sal. Pencernaan, tulang
mll media (bronchogen
percontuinitum, hematogen Radang tahunan di bronkus Pertahanan primer tidak Pembentukan tuberkel Kerusakan
limfogen) adekuat membrane alveolar

Berkembang menghancurkan jaringan ikat


sekitar Pembentukan sputum berlebih Menurunnya permukaan
Bagian tengah nekrosis
efek paru
MK: ketidak efektifan bersihan jalan nafas MK: gg pertukaran gas

Membentuk jar. keju Alveoli mengalami


NOC konsilidasi dan eksudasi
NOC
- ventilasi tidak terganggu - keadekuatan aliran darah melewati vaskular paru
- status pernapasan: kepatenan jalan napas - Maksimalnya pertukaran O2 dan CO2 di alveoli
NIC NIC
Secret keluar saat - Kaji keefektifan pemberian oksigen dan terapi lain - kaji suara napas, frekuensi kedalaman dan usaha napas
batuk, batuk keluar - jelaskan penggunaan yang benar peralatan pendukung - pantau status pernapasan dan oksigenasi sesuai
terus menerus - atur posisi pasien yang memungkinkan untuk kebutuhan
pengembangan maksimal rongga dada - ajarkan tentang batuk efektif
- Lakukan pengisapan endotrakea atau nasotrakea jika perlu - berikan terapi nebulasi, jika perlu
Droplet infecton Batuk berat Distensi abdomen

Terhirup org sehat Mual & muntah Intake nutrisi kurang

MK: resiko penyebaran infeksi MK: Ketidak seimbangan nutrisi


kurang dari kebutuhan tubuh

NOC
- Immune Status
- Knowledge : Infection control NOC
- Risk control - Selera makan bertambah
NIC - tingkat ketersediaan zat gizi untuk memenuhi kegiatan
- Pertahankan teknik isolasi metabolic
- Batasi pengunjung bila perlu - keadekuatan pola asupan zat gizi yang biasanya
- Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci NIC
tangan - Tentukan motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan
- Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah makan
tindakan keperawtan - Ajarkan metode untuk perencanaan makan
- Berikan terapi antibiotik bila perlu - Ajarkan pasien dan keluarga tentang makanan yang berizi
dan tidak mahal
- berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi
- Diskusikan dengan ahli gizi dalam menentukan kebutuhan
protein pasien
DAFTAR PUSTAKA

Black, J.M, et al, Luckman and Sorensens Medikal Nursing : A Nursing Process Approach, 4 th Edition, W.B.
Saunder Company, 1995.

Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed.6, EGC, Jakarta

Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta

Johnson, Marion& Maas, Meidean. 2000. Nursing Outcome Classification. New York : Mosby.

Mccloskey, Joanne& Bulechek, Gloria. 1996. Nursing Intervention Clasification. New York: Mosby.

Mosby, NANDA, 2005, Panduan Diagnosa Keperawatan, Jakarta, Prima Medika

Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta

Smelzer,Suzanne.C,2001.buku ajar keperawatan medikal bedah brunner dan suddarth.Ed 8.Jakarta : EGC.

Soedarsono (2000), Tuberkulosis Paru-Aspek Klinis, Diagnosis dan Terapi, Lab. Ilmu Penyakit Paru FK
Unair/RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, BP FKUI, Jakarta.