Anda di halaman 1dari 2

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa awal mula dilakukannya pembacaan qunut oleh

Rasulullah s.a.w. itu adalah ketika 40 orang atau 70 orang penghafal Qur;an dibantai oleh
Bani Sulaim, Bani Ril dan Bani Dzakwan di dekat mata air Bir Maunah.

Telah menceritakan kepada kami Abu Mamar telah menceritakan kepada kami Abdul Warits
telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz dari Anas r.a., dia berkata : Nabi s.a.w. pernah
mengutus tujuhpuluh orang untuk suatu keperluan, mereka disebut sebagai qurra` (para ahli
al Quran), mereka di hadang oleh penduduk dari bani Sulaim, Ril dan Dzakwan dekat mata
air yang disebut dengan Bir Maunah, mereka berkata, Demi Allah, bukan kalian yang
kami inginkan, kami hanya ada perlu dengan Nabi s.a.w. Mereka akhirnya membunuh para
sahabat tersebut, maka Nabi s.a.w. mendoakan kecelakan kepada mereka (Sulaim, Ril dan
Dzakwan) selama sebulan pada shalat shubuh, itu adalah awal kali dilakukannya qunut,
sebelumnya kami tida pernah melakukan doa qunut. (H.R. Bukhari No. 3779)

Artinya sebenarnya awal mula doa qunut ini dilakukan karena kaum muslimin
mendapat musibah. Salah besar dan dusta yang mengatakan bahwa doa qunut
dibacakan pertama kali oleh madzhab tertentu. Kenyataannya hal ini telah
dilakukan oleh Rasulullah s.a.w.

Jelas di sini bahwa dalam kasus masalah qunut terdapat riwayat hadits yang sama-sama kuat
dan shahih bahwa Rasulullah s.a.w. pernah melaksanakan qunut pada waktu sholat witir di
bulan ramadhan (dan juga ada hadits yang tidak menyebutkan apakah itu witir pada
ramadhan atau bukan, sehingga boleh disimpulkan bahwa hal itu dilakukan pada sholat witir
secara umum), pernah juga pada waktu sholat subuh, maghrib, isya dan bahkan pada seluruh
sholat lima waktu (yaitu ketika ada musibah).

Jelas juga disebutkan bahwa qunut dibacakan ketika ada musibah dan bukan musibah. Qunut
pada saat tertimpa musibah, kesulitan atau mendoakan keburukan pada musuh disebut qunut
nazilah dan redaksi doanya berbeda dengan doa qunut ketika witir atau tidak ada musibah
atau mendoakan kebaikan umat.

Jelas terdapat dalil bahwa qunut dilaksanakan selama sebulan penuh, dan setelah itu
Rasulullah s.a.w. meninggalkannya. Sedangkan pada dalil yang meriwayatkan witir
dibacakan pada sholat subuh, maghrib dan isya tidak disebutkan apakah itu terus menerus
atau masih dalam kerangka bulan ramadhan saja atau dalam rangka ketika tertimpa musibah
saja. Maka tidak salah juga jika ada yang menyimpulkan bahwa dalil tersebut bersifat umum
(kapan saja). Demikian pula terdapat dalil bahwa qunut dibacakan sesudah ruku, namun
Imam Tirmidzi berkata sebagian ulama memilih untuk mengerjakan qunut sebelum ruku
(berarti setelah membaca alfatihah dan surah Al-Quran). Semua dalil-dalil ini sama-sama
shahih.

Maka dalam kasus ini tidak bisa kita menguatkan salah satu dalil dan meninggalkan dalil
lainnya karena semuanya sama-sama shahih. Hadits yang secara tegas mengatakan
Rasulullah melarang qunut ketika subuh hanya ada satu yaitu dari Abdullah bin Nafi dari
Bapaknya dari Ummu Salamah r.ah. Sedangkan dalil yang mengatakan qunut adalah muhdats
(perkara baru) semuanya dari riwayat Abu Malik Al Asyjai bin Thariq dari bapaknya (Thariq
bin Asyam bin Masud) selama 5 tahun hidup di Kufah Hadits ini tidak bisa menjadi patokan
karena itu hanyalah kesaksian selama 5 tahun di Kufah. (dalam riwayat Ibnu Majah dikatakan
50 tahun jelas hal ini suatu yang salah tidak mungkin Rasulullah s.a.w. 50 tahun berada di
Kufah).

- Maka sikap apakah yang mesti diambil ketika ada kontradiksi dalil? Sikap ini
berbeda-beda antara satu ulama dengan ulama lainnya. Jika salah satu hadits
dianggap shahih sementara hadits yang lainnya dianggap dlaif, maka sikap yang
diambil adalah mentarjih (menguatkan salah satu dalil) dan memilih pendapat yang
lebih kuat.

Namun jika hadits-hadits yang saling bertentangan itu sama-sama shahih maka tidak bijak
jika menguatkan salah satunya dan melemahkan yang lainnya. Maka sikap yang diambil
adalah sebagai berikut :

1. Menganggap salah satunya membatalkan / menghapuskan yang lainnya (nasikh


mansukh). Tapi hal ini baru bisa dilakukan jika ditemui riwayat yang jelas mengenai
mana yang nasikh dan mana yang mansukh berdasarkan dalil yang kuat pula. Hal ini
misalnya jika dulu dibolehkan saat ini dilarang seperti kasus nikah mutah , atau
sebaliknya dulu dilarang sekarang dibolehkan seperti kasus ziarah kubur.

2. Mencari penjelasan mengenai penyebab terjadinya perbedaan / pertentang an antara


satu hadits dengan hadits lainnya. Mungkin suatu ketika Rasulullah s.a.w. melakukan
begini karena suatu alasan atau situasi tertentu dan di saat lain Rasulullah s.a.w.
melakukan begitu karena suatu alasan atau situasi yang berbeda.

3. Menjelaskan bahwa hal ini termasuk pilihan dalam lapangan fikih, dimana masalah
teknis ibadah seringkali tersedia banyak pilihan boleh begini dan boleh begitu, karena
dahulu Rasulullah s.a.w. kadang melakukan begini dan kadang begitu sebagai
keluasan dan keluwesan Islam.

https://seteteshidayah.wordpress.com/2012/11/01/pembahasan-tuntas-masalah-
qunut-jilid-2/