Anda di halaman 1dari 4

Telaahan Isu Strategis

PERANGI SAMPAH !
JADIKAN KONSEP 3 R (Reduce,Reuse ,Recycling)SEBAGAI KAMPANYE NASIONAL

Disadari atau tidak, kita sebagai manusia (anak-anak hingga dewasa) tentunya memiliki aktifitas, baik itu
di rumah, sekolah maupun di tempat kerja.
Akibat aktifitas tersebut seringkali kitak tidak menyadari bahwa setiap hari kita menghasilkan sampah.
Dan dari penelitian terbukti bahwa manusia yang tinggal diperkotaan menghasilkan sampah lebih banyak
daripada manusia yang tinggal di perdesaan.
Hal ini diperkuat dengan adanya fakta bahwa saat ini hampir semua Pemerintah kota besar di Indonesia
sedang mengalami kesulitan dalam pengelolaan sampah yang dihasilkan oleh warga kotanya.

Sebagai contoh dapat dibayangkan produksi sampah yang dihasilkan oleh dua kota besar di Indonesia
yaitu Jakarta dan Bandung. Setiap hari Jakartamenghasilkan sampah (rumah tangga dan industri)
sebanyak 25.687 m.Apabila diasumsikan tinggi timbulan sampah setinggi 4 - 5 m maka jumlah tersebut
ekuivalen dengan kebutuhan luasan lahan 5.000 m2 hingga 6.500 m2 untuk menampungnya.
Sedangkan kota Bandung, memproduksi sampahsebanyak 7.500 m,sehingga dibutuhan luasan lahan
1.500 m2 hingga 1.900 m2 untuk menampungnya. Dengan gambaran ini maka patutlah kita bertanya
kepada diri kita masing-masing : relakah kita menjadikan lahan terbuka yang semakin langka di sekitar
lingkungan tinggal kita, hanya untuk menimbun sampah? Lalu dimana anak cucu kita nanti akan
bermain?

Masalah sampah ini jelas memusingkan para pejabat yang bertanggung jawab untukmengatasi dan
mengelolanya. Pemerintah Jakarta telah membangun berbagai fasilitas untuk mengurangi beban
tekanan yang timbul akibat pengelolaan masalah sampah, misalnya dengan membangun Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) di Bantar Gebang, Pengolahan antara di Cakung sampai membangun fasilitas
pengolahan yang modern di Bojong yang semuanya akhirnya bermasalah. Sedangkan Pemerintah kota
Bandung juga mengalami hal yang serupa dengan fasilitas TPA nya yaitu di Leuwigajah, Cimahi yang
ditutup karena longsor; di Pasir Impun; Jelekong dan Cicabe yang tidak dapat dipakai lagi karena warga
menolak perpanjangan kontraknya. Akibatnya bisa diduga, kota Bandung menjadi lautan sampah.
Masyarakatpun menjerit sambil menutup hidung. Namun sebagai warga kota, bijakkah kita bila
menimpakan tanggung jawab pengelolaan sampah ini hanya kepundak Pemerintah? Tentu saja tidak.
Karena itu mari kita lihat upaya-upaya yang dapat dilakukan bersama antara masyarakat dan
Pemerintah.

Sampai saat ini paradigma yang dipakai oleh Pemerintah dalam hal pengelolaan sampah, umumnya
masih sangat konvensional/kuno yaitu : kumpul; angkut dan buang. Paradigma ini dapat
terimplementasikan dalam teknologikonvensional dalam pengendalian sampah, yang dikenal
denganSanitary Landfill. Teknis sanitary landfill yaitu digali lubang luas sedalam kurang lebih 15-20
meter, dan kemudian dilapisi geoplastic agar sampah tidak merembes kedalam tanah dan
menyebar kebagian lain, serta dibagian bawahnya diberi saluran air agar cairan yang timbul dari
sampah bisa dikendalikan. Sampah kemudian dimasukan kedalam lubang setinggi 1,5-2 meter
kemudian dilapisi tanah dengan ketinggian yang sama. Demikian seterusnya berlapis dan selang
seling antara tanah dan sampah hingga mencapai ketinggian tertentu. Selanjutnya jika ketinggian
telah mencapai tinggi yang optimum (sekitar 15 meter) maka daerah tersebut dibiarkan selama
beberapa tahun hingga mencapai suatu waktu yang aman sehingga permukaan lahan tersebut
dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain. Dalam kasus kota Jakarta dan Bandung, TPA yang dikelola
Pemerintah tidak menggunakan system ini, namun timbulan sampah dibiarkan terbuka, sehingga
menimbulkan berbagai masalah bagi masyarakat yang tinggal disekitar TPA tersebut.

Metode landfill maupun TPA membawa konsekuensi akan kebutuhan lahan penampungan yang makin
meluas, yang tidak mungkin diakomodasikan oleh lahan perkotaan yang makin sempit dan mahal. Oleh
karena itu Pengelolaan sampah dengan metode : kumpul, angkut dan buang seperti ini perlu diimbangi
dengan metode lain yang terpadu, efektif dan berdaya guna agar daya dukung pemanfaatan lahan
diperkotaan dapat meningkat kembali baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Dalam hal pengelolaan sampah maka Departemen Pekerjaan Umum sebagai lembaga instansi teknis,
dengan tanggung jawab utamanya sebagai penyedia prasana dan sarana umum di perkotaan dan
perdesaan telah melihat adanya kebutuhan metode-metode baru untuk mencari solusi atas masalah
pengelolaan sampah ini. Karena itu sudah sejak bertahun tahun yang lalu departemen ini telah
memprakarsaisebuah gagasan pengelolaan sampah yang dikenal dengan KONSEP 3 R, yaitu REDUCE
(mengurangi volume), REUSE (menggunakan kembali) dan RECYCLE (mendaur ulang). Konsep 3 R ini
tidak dimaksudkan untuk merubah secara total metode konvensional yang telah dilakukan oleh
Pemerintah, namun bersifat melengkapi atau menyempurnakannya sehingga diperoleh hasil yang
optimal. Dengan kombinasi konsep 3 R ini maka paradigma pengelolaan sampah dapat berkembang
menjadi : 1) minimalkan; 2)kumpulkan; 3) pilah-pilah; 4) olah; 5) angkut dan buang sisanya. Langkah
1),3) dan4) merupakan implementasi dari konsep 3 R , sedangkan langkah 2) dan 5)merupakan
implementasi darikonsep lama.

Secara ringkas ke 5 langkah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Langkah 1) minimalkan (reduce).
Pada tahap inilah peran serta masyarakatperlu ditingkatkan karena dari sinilah produksi sampah dimulai.
Masyarakat perlu dimotivasi untuk meminimalkan sampah dengan cara mengkonsumsi produk-produk
yang ramah lingkungan, kemasan isi ulang atau pemakaian perabot yang bukan sekali buang,
membawa tas belanjaan dari rumah dan tindakan-tindakan kecil lain namun dalam jangka panjang dapat
memberi manfaat nyata. Sedangkan pihak penjual/pengusaha pasar swalayan atau mall dapat
dimotivasi untuk membuat kemasan belanja dari bahan organic atau daur ulang, dan sebagai insentif
pemerintah dapat memberikan potongan pajak.Langkah 2) kumpulkan dan dibarengi dengan langkah 3)
pilah-pilah. Masyarakat perlu diberi penyuluhan untuk tertib dalam mewadahi sampahnya dalam dua
wadah yang berbeda antara sampah organic dan non organic. Pemerintah bisa memfasilitasinya dengan
penjualan wadah-wadah sampah murah yang kualitas konstruksinya memenuhi standar. Selanjutnya
masyarakat dapat mengumpulkan sampah dirumahnya sendiri atau dikumpulkan ke TPS kecil terdekat
untuk diolah lebih lanjut.

Langkah 4) Olah (Reuse dan Recycling). Pemerintah dalam tindakan ini harus memberi penyuluhan
tentang beberapa jenis cara pengolahan sampah tepat guna, yaitu mudah dan murah. Pengolahan
sampah organic menjadi kompos dengan skala kecil hingga menengah dapat diperkenalkan melalui
perkumpulan PKK maupun arisan yang umumnya ada di tiap lingkungan permukiman. Untuk sampah
non organic seperti plastic, gelas, kartun, kertas, kaleng, dapat dikumpulkan kemudian didaur ulang
menjadi benda-benda lain yang bermanfaat oleh penduduk setempat atau dikirim ke pabrik pengolahan
atau ke pabrik asal/produsen untuk digunakan kembali. Pemerintah perlu memfasilitasi terbentuknya
organisasi atau perorangan yang bertindak sebagai pengumpul (asosiasi pemulung, misalnya) disertai
dengan fasilitas penunjangnya.

Sebagai contoh kasus, di negara-negara maju seperti di Amerika Serikat kampanye untuk menyadarkan
masyarakat agar terlibat secara aktif dalam pengelolaan sampah, dilakukan secara kontinyu melalui
berbagai media, yaitu sekolahan, televisi dan koran-koran. Dengan langkah ini maka tidak
mengherankan jika masalah pengelolaan sampah telah menjadi bagian kesadaran yang wajib dimiliki
setiap warga negaranya. Tindakan kampanye tersebut ditindak lanjuti oleh Pemerintah setempat dengan
langkah kongkrit yaitu menempatkan unit-unit mobil pengumpulan sampah recycling diberbagai
permukiman dan pusat-pusat perbelanjaan seperti supermarket dan mall.
Unit-unit mobil pengumpulan sampah recycling tersebut dilengkapi dengan alat pemroses sampah
kemasan kaleng dansampah kemasan plastik, sedangkan wadah-wadah atau kemasan yang dapat
dipakai ulang akan dikumpulkan sesuai dengan merk-nya masing masing. Selanjutnya sampah ini
kemudian dikirimkan ke pabrik asalnya untuk digunakan kembali (re-use).

Dan untuk menjamin agar system ini dapat berkelanjutan maka pemerintah menerapkan system insentif
kepada dua pihak. Pihak pertama yaitu setiap orang yang menyerahkan sampah ke unit mobil tersebut
diberi imbalan (walaupun nilainya kecil sekedar pengganti transport atau 1 cup es krim) sesuai dengan
jumlah sampahnya. Biasanya orang tua sering menugaskan anaknya untuk melakukan tugas ini
sehingga mereka mendapatkan tambahan uang jajan. Pihak kedua yaitu perseorangan yang mau
menjadi pengelola diberikan kemudahan berupa kredit lunak untuk pembelian unit-unit mobil tersebut,
bahkan pada beberapa tempat pemerintah lokal memberikannya secara cuma-cuma.

Implementasi dari langkah pengolahan (Reuse dan Recycling) berbasis masyarakat ini terbukti efektif
seperti contoh yang telah dilakukan dibeberapa tempat di Jakarta, Tangerang, dan Surabaya. Di Jakarta,
contoh sukses ada di Banjarsari, kelurahan Cilandak, Jakarta Selatan yang sudah meraih penghargaan
dari UNDP. Berdekatan dengan Jakarta, kota Tangerang juga memiliki kawasan percontohan yaitu di
Kompleks Perumahan Mustika Tiga Raksa sedangkan untuk kota Surabaya ada di kelurahan
Jambangan . Hasil nyata yang diperlihatkan 3 tempat percontohan tersebut cukup berarti, yaitu sampah
yang mampu diolah sekitar 60% , sehingga sisa yang dibuang ke TPA tinggal 40 % saja. Dengan
demikian usia daya tampung TPA dapat diperpanjang.

Langkah 5) Angkut dan buang sisanya. Dalam keseluruhan proses pengelolaan sampah, meskipun 4
langkah sebelumnya telah ditempuh, namun tetap tidak dapat dihindarkan adanya sisa-sisa
sampah yaitu sekitar 40 % yang harus ditampung di TPA. Pada tahap akhir inilah, tanggung jawab
pengolahan sampah ada pada pemerintah sepenuhnya karena pada tahap ini diperlukan teknologi
canggih.

Sebagai contoh Negara yang berhasil dalam pengolahan sampah dengan teknologi canggih adalah
Rusia. Russia dinilai sebagai salah satu negara yang berhasil mengelola sampah untuk diproses
menjadi berbagai keperluan. Teknologinya merupakan kombinasi dari teknologi mekanis, kimia
dan teknologi radio-isotop. Russia berhasil mengolah sampah menjadi bahan-bahan yang
bermanfaat hingga mencapai angka diatas 95% dari sampah yang masuk ke mesin pengolah,
tentunya ini merupakan prestasi yang luar biasa.

Hingga saat ini di Indonesia beban tanggung-jawab pengelolaan sampah masih harus dipikul oleh
Pemerintah Daerah sendiri, dan masyarakat belum terlibat secara langsung dalam siklus pengendalian
sampah. Oleh karena itu kombinasi antara penggunaan teknologi modern dan meningkatkan kesadaran
masyarakat adalah kunci keberhasilan pengendalian sampah di Indonesia khususnya di kota-kota besar
seperti kota Jakarta dan Bandung yang kepadatan penduduknya sudah mencapai titik yang
mengkhawatirkan.

Dengan ulasan tentang konsep 3 R dan contoh-contoh kegagalan serta keberhasilan yang telah
dipaparkan diatas, dalam rangka untuk menjadikan kota-kota besar di Indonesia sebagai kota yang tetap
layak huni pada masa akan datang maka menjadikan KONSEP 3 R ( REDUCE, REUSE,
RECYCLING)sebagai kampanye Nasional mutlak diperlukan.

Departemen PU. sebagai penggagas awal dari KONSEP 3 R ini tentu saja tidak dapat bertindak
sendirian namun dapat bertindak sebagai koordinator untuk mensinergikan sektor-sektor lain dalam
rangka mensukseskan kampanye ini. Berikut ini adalah indikasi rencana tindak yang dapat dilaksanakan
dengan melibatkan sektor lain.

Merancang materi/substansi kampanye konsep 3 R, berbasis multi media (audio & visual)
bekerja sama dengan Meneg-kominfo maupun Meneg-KLH.
Mensosialisasikan dan mendistribusikan materi/substansi konsep 3 R bekerja sama dengan
Meneg-kominfo dan Meneg-Pemberdayaan Perempuan.
Melaksanakan penyuluhan ke titik-titik penghasil sampah, baik rumah tangga maupun industri
serta pasar dan pertokoan. Kegiatan ini dapat bekerjasama dengan Meneg-kominfo dan Meneg-
Pemberdayaan Perempuan.
Melaksanakan penyuluhan ke sekolah-sekolah bekerjasama dengan Meneg-kominfo dan
Dep.Pendidikan Nasional.
Memberikan bantuan fisik berupa fasilitas pewadahan dan tempat pengolahan skala kecil/ rumah
tangga sebagai percontohan.
Menerbitkan dan menyebarluaskan NSPM tentang teknologi pengolahan sampah tepat guna
untuk masyarakat. Kegiatan ini dapat bekerjasama dengan Meneg-KLH dan Meneg-Riset dan
teknologi.
Menerbitkan NSPM tentang teknologi pengolahan sampah teknologi tinggi untuk kalangan
industri maupun Pemerintah Daerah. Kegiatan ini dapat bekerjasama dengan Meneg-KLH dan
Meneg-Riset dan teknologi.
Membuat rancangan pola-pola insentif, seperti pengurangan kewajiban pajak bagi pihak-pihak
industri yang berhasil mengolah sampahnya secara mandiri. Kegiatan ini dapat bekerjasama
dengan Meneg-KLH; Meneg-Riset dan teknologi serta Dep.Keuangan cq. Dinas pajak.
Membuat rancangan pola-pola disinsentif, yang dapat berupa denda atau penyegelan tempat
usaha bagi pihak yang melanggar ketentuan persampahan. Kegiatan ini dapat bekerjasama
dengan Meneg-KLH.
Memfasilitasi terbentuknya badan-badan kerjasama antar daerah dalam bidang pengelolaan
sampah.
Memfasilitasi terbentuknya forum-forum dialog masalah persampahan.
Dengan adanya rencana tindak konkrit yang dapat dilaksanakan secara bertahap ini, maka diharapkan
terjadi peningkatan signifikan atas kualitas pengelolaan sampah di kawasan perkotaan di Seluruh
Indonesia pada masa yang akan datang.( Pustra, KK, 040706)