Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sesuatu hal dapat terjadi pada setiap orang, baik hal yang buruk ataupun
baik, seperti kondisi stress atau peningkatan kesehatan. Pemahamantentang
stress dan akibatnya sangatlah penting bagi upaya pengobatan dan pencegahan
stress itu sendiri. Setiap orang mengalami sesuatu yang disebutstress sepanjang
kehidupannya. Masalah stress sering dihubungkan dengankehidupan modern
dan sepertinya kehidupan modern merupakan sumber bermacam gangguan
stress. Para ahli telah banyak meneliti masalah stress,terutama yang bertalian
dengan situasi dan kondisi hidup.
Stres dapat memberikan stimulus terhadap perkembang dan pertumbuhan,
dan dalam hal ini stress adalah hal positif dan diperlukan.Namun demikian,
terlalu banyak stress dapat menimbulkan gangguan-gangguan seperti,
penyesuaian yang buruk, penyakit fisik danketidakmampuan untuk mengatasi
atau koping terhadap masalah. Sejumlah penelitian yang telah dilakukan
menunjukan adanya suatu hubungan antara peristiwa kehidupan yang
menegangkan atau penuh stress dengan berbagaikelainan fisikdan psikiatrik
(Yatkin & Labban, 1992).
Claude Bernand, tahun 1867, adalah satu dari ahli fisiologi pertamayang
mengenali konsekuensi stress. Ia menyatakan perubahan dalamlingkungan
internal dan eksternal dapat mengganggu fungsi suatu organnismedan hal ini
penting bagi organisme untuk mengadaptasi stressor sehinggaorganisme
tersebut dapat bertahan. Walter Cannon, tahun 1920, menyelidikirespons
fisiologis terhadap rangsangan emosional dan penekanan fungsi adaptif dari
reaksi melawan atau lari (fight or flight). Cannon jugamenunjukan bahwa
respon ini adalah hasil dari pengaruh emosional padatubuh dan bahwa respon
selanjutnya adalah adaptif dan fisiologis (Robinson,1990)

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep stres ?
2. Bagaimana konsep stressor?
3. Bagaimana konsep mekanisme koping ?

C. Tujuan
Tujuan Umum
Untuk mengetahui konsep stres dan mekanisme koping
Tujuan Khusus
1. Untuk memahami konsep dari stres
2. Untuk memahami konsep dari stressor
3. Untuk memahami konsep dari mekanisme koping

D. Metode Penilitian
Dalam penyususnan makalah ini, metode yang kami gunakan yaitu
tinjauan pustaka dan media internet. Kami mencari sumber dari berbagai media
tersebut sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Stress dan
Mekanisme Koping.

BAB II
PEMBAHASAN

KONSEP STRESS
A. DEFINISI
Stress menurut Hans Selye 1976 merupakan respon tubuh yang bersifat tidak
spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya. Berdasarkan pengertian
tersebut dapat dikatakan stress apabila seseorang mengalami beban atau tugas
yang berat tetapi orang tersebut tidak dapat mengatasi tugas yangdibebankan itu,
maka tubuh akan berespon dengan tidak mampu terhadap tugastersebut, sehingga
orang tersebut dapat mengalami stress. Respons atau tindakanini termasuk respons
fisiologis dan psikologis. Stress dapat menyebabkan perasaan negative atau yang
berlawanandengan apa yang diinginkan atau mengancam kesejahteraan
emosional. Stress dapat menggangu cara seseorang dalam menyerap realitas,
menyelesaikan masalah, berfikir secara umum dan hubungan seseorang dan rasa
memiliki. Terjadinya stress dapat disebabkan oleh sesuatu yang dinamakan
stressor,stressor ialah stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan.
Stressor secara umum dapat diklasifikasikan sebagai stressor internal atau
eksternal.Stressor internal berasal dari dalam diri seseorang (mis. Kondisi
sakit,menopause, dll ). Stressor eksternal berasal dari luar diri seseorang atau
lingkuangan (mis. Kematian anggota keluarga, masalah di tempat kerja, dll ).
Pengertian stress akan berbeda satu dengan lainnya, hal ini bergantung dengan
cara pandang seseorang dalam mendefinisikannya. Ada beberapa pengertian yang
perlu diketahui mahasiswa yaitu,
a. Hans Selye,1976
Stress adalah rspon tubuh yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap
tuntutan beban atasnya.
b. Emanuelsen & Rosenlicht, 1986
Stress didefinisikan sebagai respon fisik dan emosionalterhadap tuntutan
yang dialami individu yang diiterpretasikansebagai sesuatu yang
mengancam keseimbangan.
c. Soeharto Heerdjan, 1987
Stres adalah suatu kekuatan yang mendesak ataumencekam, yang
menimbulkan suatu ketegangan dalam diri seseorang.
d. Maramis, 1999
Secara umum, yang dimaksud Stres adalah reaksi tubuhterhadap situasi
yang menimbulkan tekanan, perubahan,ketegangan emosi, dan lain-lain.
Stres adalah segala masalahatau tuntutan penyesuaian diri, dan karena itu,
sesuatu yangmengganggu keseimbangan kita
e. Vincent Cornelli, sebagai mana dikutip oleh Grant Brecht(2000)
Stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yangdisebabkan oleh
perubahan dan tuntutan kehidupan, yangdipengaruhi baik oleh lingkungan
maupun penampilan individudi dalam lingkungan tersebut.
f. Keliat, B.A. , 1999
Stress adalah realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapatdihindari.
Stres disebabkan oleh perubahan yang memerlukan penyesuaian.
g. Lazarus & Folkman , 1984
Stres merupakan hubungan antara individu denganlingkungan yang oleh
individu dinilai membebani atau melebihikekuatannya dan mengancam
kesehatannya.
h. Spilberger (Handoyo, 2001)
Stress adalah tuntutan eksternal yang mengenai seseorang,misalnya objek-
objek dalam lingkungan atau seatu stimulus yangsecara objektif adalah
berbahaya.

B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRES


Kondisi-kondisi yang cenderung menyebabkan stress disebut stressors.
Meskipun stress dapat diakibatkan oleh hanya satu stressors, biasanya
karyawan mengalami stress karena kombinasi stressors. Menurut Robbins
(2001:565-567) ada tiga sumber utama yang dapat menyebabkan timbulnya
stress yaitu :
1. Faktor Lingkungan
Keadaan lingkungan yang tidak menentu akan dapat menyebabkan
pengaruh pembentukan struktur organisasi yang tidak sehat terhadap
karyawan. Dalam faktor lingkungan terdapat tiga hal yang dapat
menimbulkan stress bagi karyawan yaitu ekonomi, politik dan teknologi.
Perubahan yang sangat cepat karena adanya penyesuaian terhadap ketiga
hal tersebut membuat seseorang mengalami ancaman terkena stress.Hal ini
dapat terjadi, misalnya perubahan teknologi yang begitu cepat. Perubahan
yang baru terhadap teknologi akan membuat keahlian seseorang dan
pengalamannya tidak terpakai karena hampir semua pekerjaan dapat
terselesaikan dengan cepat dan dalam waktu yang singkat dengan adanya
teknologi yang digunakannya.
2. Faktor Organisasi
Didalam organisasi terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan
stress yaitu role demands, interpersonal demands, organizational structure
dan organizational leadership.Pengertian dari masing-masing faktor
organisasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Role Demands
Peraturan dan tuntutan dalam pekerjaan yang tidak jelas dalam suatu
organisasi akan mempengaruhi peranan seorang karyawan untuk
memberikan hasil akhir yang ingin dicapai bersama dalam suatu organisasi
tersebut.
b. Interpersonal Demands
Mendefinisikan tekanan yang diciptakan oleh karyawan lainnya dalam
organisasi. Hubungan komunikasi yang tidak jelas antara karyawan satu
dengan karyawan lainnya akan dapat menyeba bkan komunikasi yang
tidak sehat. Sehingga pemenuhan kebutuhan dalam organisasi terutama
yang berkaitan dengan kehidupan sosial akan menghambat perkembangan
sikap dan pemikiran antara karyawan yang satu dengan karyawan lainnya.
c. Organizational Structure
Mendefinisikan tingkat perbedaan dalam organisasi dimana keputusan
tersebut dibuat dan jika terjadi ketidak jelasan dalam struktur pembuat
keputusan atau peraturan maka akan dapat mempengaruhi kinerja seorang
karyawan dalam organisasi.
d. Organizational Leadership
Berkaitan dengan peran yang akan dilakukan oleh seorang pimpinan dalam
suatu organisasi. Karakteristik pemimpin menurut The Michigan group
(Robbins, 2001:316) dibagi dua yaitu karakteristik pemimpin yang lebih
mengutamakan atau menekankan pada hubungan yang secara langsung
antara pemimpin dengan karyawannya serta karakteristik pemimpin yang
hanya mengutamakan atau menekankan pada hal pekerjaan saja. Empat
faktor organisasi di atas juga akan menjadi batasan dalam mengukur
tingginya tingkat stress. Pengertian dari tingkat stress itu sendiri adalah
muncul dari adanya kondisi-kondisi suatu pekerjaan atau masalah yang
timbul yang tidak diinginkan oleh individu dalam mencapai suatu
kesempatan, batasan-batasan, atau permintaan-permintaan dimana
semuanya itu berhubungan dengan keinginannya dan dimana hasilnya
diterima sebagai sesuatu yang tidak pasti tapi penting (Robbins,
2001:563).
3. Faktor Individu
Pada dasarnya, faktor yang terkait dalam hal ini muncul dari dalam
keluarga, masalah ekonomi pribadi dan karakteristik pribadi dari
keturunan. Hubungan pribadi antara keluarga yang kurang baik akan
menimbulkan akibat pada pekerjaan yang akan dilakukan karena akibat
tersebut dapat terbawa dalam pekerjaan seseorang. Sedangkan masalah
ekonomi tergantung dari bagaimana seseorang tersebut dapat
menghasilkan penghasilan yang cukup bagi kebutuhan keluarga serta
dapat menjalankan keuangan tersebut dengan seperlunya. Karakteristik
pribadi dari keturunan bagi tiap individu yang dapat menimbulkan stress
terletak pada watak dasar alami yang dimiliki oleh seseorang tersebut.
Sehingga untuk itu, gejala stress yang timbul pada tiap-tiap pekerjaan
harus diatur dengan benar dalam kepribadian seseorang.

C. JENIS-JENIS STRES
Quick dan Quick (1984) mengkategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu:
1. Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif,
dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk
kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan
pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance
yang tinggi.
2. Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat,
negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk
konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular
dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan
dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian.

D. GEJALA STRES
Stres sifatnya universiality, yaitu umum semua orang sama dapat
merasakannya, tetapi cara pengungkapannya yang berbeda atau diversity.
Sesuai dengan karakteristik individu, maka responnya berbeda- beda untuk
setiap orang. Seseorang yang mengalami stres dapat mengalami perubahan-
perubahan yang terjadi,
1. Cary Cooper dan Alison Straw mengemukakan gejala stres dapat berupa
tanda-tanda berikut ini :
a. Fisik, yaitu nafas memburu, mulut dan tenggorokan kering, tangan
lembab, merasa panas, otot-otot tegang, pencernaanterganggu, sembelit,
letih yang tidak beralasan, sakit kepala, salah urat dan gelisah.
b. Perilaku, yaitu perasaan bingung, cemas, sedih, jengkel, salah paham,
tidak berdaya, gelisah, gagal, tidak menarik, kehilangan semangat,
susah konsentrasi, dan sebagainya.
c. Watak dan kepribadian, yaitu sikap hati-hati yang berlebihan, menjadi
lekas panik, kurang percaya diri, penjengkel.
2. Menurut Braham, gejala stres dapat berupa tanda-tanda,sebagai berikut :
a. Fisik, yaitu sulit tidur atau tidak dapat tidur teratur, sakit kepala, sulit
buang air besar, adanya gangguan pencernaan, radang usus, kulit gatal-
gatal.
b. Emosional, yaitu marah-marah, mudah tersinggung, terlalu
sensitif,gelisah dan cemas, suasana hati mudah berubah-ubah, sedih,
mudah menangis.
c. Intelektual, yaitu mudah lupa, kacau pikirannya, daya ingat menurun,
sulit berkonsentrasi, suka melamun, pikiran hanya dipenuhi satu pikiran
saja
d. Interpersonal, yaitu acuh, kurang percaya kepada orang lain, sering
mengingkari janji, suka mencari kesalahan orang lain, menutup diri,
mudah menyalahkan orang lain.

E. TAHAP-TAHAP STRES DAN TINGKATANNYA


Suatu stimulus(stressor) yang datang tidak akan langsung membuat
individu tersebut mengalami stress, tentunya setiap individu dibekali cara,
teman atau tempat untuk menhgilangkan stress sejenak atau untuk selamanya.
Tahapan-tahapan tersebut oleh Dr. Robert J. Van amberg (1979) dibagi menjadi
enam tahapan, yaitu :
1. Stres Tahap I
Tahapan ini merupakan tahapan stres paling ringan, dan biasanya disertai
dengan perasaan-perasaan seperti :
a. Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting)
b. Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya.
c. Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya; Namun
tanpa disadari cadangan energi dihabiskan (all out) disertai rasa gugup
yang berlebihan pula.
d. Merasa senang dengan pekerjaannya itu dan semakin bertambah
semangat, Namun tanpa disadari cadangan energi semakin menipis.

2. Stres Tahap II

Dalam tahapan ini dampak stres yang semula menyenangkan


sebagaimana diuraikan pada tahap I mulai menghilang, dan timbul
keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi tidak lagi cukup
sepanjang hari karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Istirahat yang
dimaksud seperti tidur yang cukup bermanfaat untuk mengisi atau
memulihkan cadangan energi yang mengalami pengurangan. Analoginya
seperti handphone (HP) yang sudah lemah harus kembali diisi ulang (di-
charge) agar dapat digunakan lagi dengan baik.

Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang


berada pada stres tahap II adalah sebagai berikut :

a. Merasa letih sewaktu bangun pagi, yang seharusnya merasa segar.

b. Merasa mudah lelah sesudah makan siang.

c. Lekas merasa capai menjelang sore hari.

d. Sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman (bowel


discomfort).

e. Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar)

f. Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang.

g. Tidak bisa santai.

3. Stres tahap III

Bila seseorang itu tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa


menghiraukan keluhan-keluhan sebagaimana diuraikan pada stres tahap II,
maka yang bersangkutan akan menunjukkan keluhan-keluhan yang
semakin nyata dan mengganggu, yaitu :

a. Gangguan lambung dan usus semakin nyata; misalnya keluhan maag


(gastritis), buang air besar tidak teratur (diare)

b. Ketegangan otot semakin terasa.

c. Perasaan ketidak-tenangan dan ketegangan emosional semakin


meningkat.
d. Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk
tidur (early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar
kembali tidur (middle insomnia), atau bangun terlalu pagi/ dini hari
dan tidak dapat kembali tidur (late insomnia).

e. Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa oyong dan serasa mau


pingsan). Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada
dokter untuk memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya
dikurangi dan tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna
menambah suplai energi yang mengalami deficit

4. Stres Tahap IV

Tidak jarang seseorang pada waktu memeriksakan diri karena


keluhan-keluhan stres tahap III , oleh dokter individu tersebut dinyatakan
tidak sakit karena tidak ditemukan kelainan-kelainan fisik pada organ
tubuhnya. Bila hal ini terjadi dan yang bersangkutan terus memaksakan
diri untuk bekerja tanpa mengenal istirahat, maka gejala stres tahap IV
akan muncul :

a. Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit.

b. Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah


diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit.

c. Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan


kemampuan untuk merespon secara memadai (adequate)

d. Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari.

e. Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang


menegangkan.

f. Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan


kegairahan.

g. Daya konsentrasi dan daya ingat menurun.

h. Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat


dijelaskan apa penyebabnya

5. Stres Tahap V

Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres
tahap V yang ditandai dengan hal-hal berikut :

a. Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical and


psychological exhaustion)

b. Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang


ringan dan sederhana.

c. Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastro-intestinal


disorder).

d. Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang semakin meningkat,


mudah bingung dan panik

6. Stres Tahap VI

Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami


serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati.Tidak jarang orang
yang mengalami stres tahap VI ini berulang-kali dibawa ke Unit Gawat
Darurat bahkan ke ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena
tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap VI ini
adalah sebagai berikut :

a. Debaran jantung teramat keras

b. Susah bernafas (sesak dan mengap-mengap)

c. Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran

d. Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan

e. Pingsan atau kolaps (collapse)

Bila dikaji maka keluhan atau gejala-gejala sebagaimana digambarkan


di atas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh
gangguan faal (fungsional) organ tubuh sebagai akibat stresor psikososial
yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.

Ada pula Stuart dan Sundeen (1998) yang mengklasifikasikan tingkat


stress menjadi 3 tahapan, yaitu:

a. Stres Ringan

Pada tingkat stres ini sering terjadi pada kehidupan sehari-hari dan
kondisi ini dapat membantu individu menjadi waspada dan bagaimana
mencegah berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

b. Stres Sedang

Pada stres tingkat ini individu lebih memfokuskan hal penting saat ini
dan mengesampingkan yang lain sehingga mempersempit lahan
persepsinya.

c. Stres Berat

Pada tingkat ini lahan persepsi individu sangat menurun dan


cenderung memusatkan perhatian pada hal-hal lain, semua perilaku
ditujukan untuk mengurangi stres, individu tersebut mencoba
memusatkan perhatian pada lahan lain dan memerlukan banyak
pengarahan.

KONSEP STRESSOR

A. DEFINISI

Menurut Emanualsen& Rosenlicht, stressor merupakan faktor internal


maupun eksternal yang dapat mengubah individu dan berakibat pada terjadinya
fenomena stress.

B. FAKTOR STRESSOR

Seperti yang telah diungkapkan di atas, stress dipicu oleh stressor.


Tentunya stressor tersebut berasal dari berbagai sumber, yaitu :

1. Lingkungan

Yang termasuk dalam stressor lingkungan di sini yaitu :

Sikap lingkungan, seperti yang kita ketahui bahwa lingkungan itu


memiliki nilai negatif dan positif terhadap prilaku masing-masing
individu sesuai pemahaman kelompok dalam masyarakat
tersebut.Tuntutan inilah yang dapat membuat individu tersebut harus
selalu berlaku positif sesuai dengan pandangan masyarakat di
lingkungan tersebut.

Tuntutan dan sikap keluarga, contohnya seperti tuntutan yang


sesuai dengan keinginan orang tua untuk memilih jurusan saat akan
kuliah, perjodohan dan lain-lain yang bertolak belakang dengan
keinginannya dan menimbulkan tekanan pada individu tersebut.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), tuntutan


untuk selalu update terhadap perkembangan zaman membuat sebagian
individu berlomba untuk menjadi yang pertama tahu tentang hal-hal
yang baru, tuntutan tersebut juga terjadi karena rasa malu yang tinggi
jika disebut gaptek.

2. Diri sendiri, terdiri dari

Kebutuhan psikologis yaitu tuntutan terhadap keinginan yang ingin


dicapai.Proses internalisasi diri adalah tuntutan individu untuk terus-
menerus menyerap sesuatu yang diinginkan sesuai dengan
perkembangan.

3. Pikiran

Berkaitan dengan penilaian individu terhadap lingkungan dan


pengaruhnya pada diri dan persepsinya terhadap lingkungan.Berkaitan
dengan cara penilaian diri tentang cara penyesuaian yang biasa
dilakukan oleh individu yang bersangkutan.
C. DAMPAK STRESSOR TERHADAP STRES

Dampak stressor dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu:

1. Sifat stressor . Pengetahuan individu tentang bagaimana cara


mengatasi dan darimana sumber stressor tersebut serta besarnya
pengaruh stressor pada individu tersebut, membuat dampak stress yang
terjadi pada setiap individu berbeda-beda.

2. Jumlah stressor yaitu banyaknya stressor yang diterima individu dalam


waktu bersamaan. Jika individu tersebut tidak siap menerima akan
menimbulkan perilaku yang tidak baik. Misalnya marah pada hal-hal
yang kecil.

3. Lama stressor, maksudnya seberapa sering individu menerima stressor


yang sama. Semakin sering individu mengalami hal yang sama maka
akan timbul kelelahan dalam mengatasi masalah tersebut.

4. Pengalaman masa lalu, yaitu pengalaman individu yang terdahulu


mempengaruhi cara individu menghadapi masalahnya.

5. Tingkat perkembangan, artimya tiap individu memiliki tingkat


perkembangan yang berbeda.

KONSEP MEKANISME KOPING


A. DEFINISI

Individu dari semua umur mengalami stress dan mencoba untuk


mengatasinya. Karena ketegangan fisik dan emosional yang menyertai stress
menimbulkan ketidaknyamanan, seseorang menjadi termotivasi untuk
melakukan sesuatu untuk mengurangi stress.

Mekanisme koping merupakan tiap upaya yang di tujukan untuk


penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan
mekanisme pertahanan ego yang di gunakan untuk melindungi diri (Gail. W.
Stuart, 2006)

Mekanisme koping merupakan skumpulan strategi mental baik disadari


maupun tidak disadari yg digunakan untuk menstabilkan situasi yang
berpotensi mengancam dan membuat kembali ke dalam keseimbangan
(Emanuelsen & Rosenlicht, 1986).

Koping adalah cara yang dilakukan individu, dalam menyelesaikan


masalah, menyesuaikan diri dengan keinginan yang akan dicapai, dan respons
terhadap situasi yang menjadi ancaman bagi diri individu.

Koping itu sendiri dimaknai sebagai sebagai apa yang dilakukan oleh
individu untuk menguasai situasi yang dinilai sebagai suatu tantangan atau luka
atau kehilangan atau ancaman. Jadi koping lebih mengarah pada yang orang
lakukan untuk mengatasi tuntutan tuntutan yang penuh dengan tekanan atau
yang membangkitkan emosi. Atau dengan kat lain koping adalah bagaimana
reaksi orang ketika mengahadapi stress atau tekanan.(siswanto, 2007)

Koping adalah semua aktivitas kognitif dan motorik yang di lakukan ole
orang sakit untuk mempertahankan integritas tubuh dan psikisnya, memulihkan
fungsi tubuh yang rusak dan membatasi kerusakan yang tidak bisa di pulihkan.(
Z.J.Lpowski. 2011)

Koping adalah perubahan kognitif perilaku secara konstan dalam upaya


mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal khusus yang melelahkan atau
melebihi sumber individu. (Lazarus, 1976 dikutip siswanto)
Mekanisme koping merupakan cara yang dilakukan oleh individu dalam
menyelesaiakan masalah, menyesuaikan diri terhadap perubahan, respon
terhadap situasi yang mengancam. Upaya individu ini dapat berupa kognitif ,
perubahan perilaku dan perubahan lingkungan yang bertujuan untuk
menyelesaikan stress yang dihadapi. Kemampuan koping diperlukan manusia
untuk mampu bertahan hidup di lingkungannya yang selalu berubah dengan
cepat. Koping merupakan pemecahan masalah dimana seseorang
menggunakannya untuk mengelola kondisi stress. Dengan adanya penyebab
stress / stressor maka orang akan sadar dan tidak sadar untuk bereaksi untuk
mengatasi masalah tersebut. Dalam keperawatan konsep koping sangat perlu
karena semua pasien mengalami stress, sehingga sangat perlu kemampuan
untuk mengatasinya dan kemampuan koping untuk adaptasi terhadap stress
yang merupakan faktor penentu yang terpenting dalam kesejahteraan manusia (
Keliat, 2007)

Setiap individu mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam


menahan stres. Hal tersebut bergantung pada :

a. Sifat dan hakikat stres, yaitu intensitas, lamanya, lokal, dan umum
(general).

b. Sifat individu yang terkait dengan proses adaptasi.

Strategi koping klien merupakan upaya untuk menimbulkan stabilitas


emosional, menguasai lingkungan, mendefinisikan kembali tugas/tujuan hidup,
dan memecahkan masalah yang ditimbulkan oleh karena sakit/penyakit.
Beberapa contoh perilaku koping adalah humor, distraksi, bertanya untuk suatu
informasiberbicara dengan yang lain tentang keluhan/perasaan-perasaannya,
mendefinisikan kembali masalah kedalam istilah yang lebih disukai,
menghadapi masalah dengan dengan melakukan beberapa tindakan, negosiasi
kemungkinan pilihan/alternatif, menurunkan ketegangan dengan minum,
makan atau menggunakan obat, menarik diri, menyalahkan seseorang atau
sesuatu, menyalahkan diri sendirimenghindar dan berkonsultasi dengan ahli
agama.
B. MACAM-MACAM KOPING

Koping dapat diidentifikasi melalui respon manifestasi ( tanda dan


gejala) koping dapat dikaji melalui beberapa aspek yaitu fisiologis dan
psikologis (Kelliat, 2007) koping yang efektif menghasilkan adaptif sedangkan
yang tidak efektif menyebabkan maladaptif.

1. Fisiologis

Manifestasi stress pada aspek fisik bergantung pada:

a. Persepsi/ penerimaan individu pada stress

b. Keefektifan pada strategi koping

2. Psikologis
Dalam aspek ini di bagi menjadi dua yaitu cara penyesuaian yang
berorientasi pada tugas dan berorientasi pada pembelaan ego.

a. Cara penyesuaian yang berorientasi pada tugas


Cara penyesuaian ini bertujuan menghadapi tuntutan secara sadar, realistic,
obyektif, rasional.
Cara ini mungkin terbuka atupun mungkin terselubung dan dapat berupa:
1) Serangan atau menghadapi tuntutan secara frontal
2) Penarikan diri atau tidak tahu akan hal itu
3) Kompromi

Umpamanya bila seseorang gagal dalam suatu usaha, maka mungkin ia akan
bekerja lebih keras(serangan) atau menghadapinya secara terang terangan
ataupun menarik diri dan tidak mau berusaha lagi(penarikan diri) atau
mengurangi keinginannya lalu memilih jalan tengah (kompromi)

b.Cara penyesuaian yang berorientasi pada pembelaan ego atau pembelaan


diri. Sering disebut mekanisme pertahanan mental. Reaksi ini berguna untuk
melindung diri yang merupakan garis pertahanan jiwa pertama.

3. Jenis-jenis koping
Lazarus membagi koping menjadi dua jenis, yaitu:
1) Tindakan langsung (Direct Action) koping jenis ini adalah setiap usaha
tingkah laku yang dijalankan oleh individu untuk mengatasi kesakitan
dan luka. Ancaman atau tantangan dengan cara mengubah hubungan
yang bermasalah dengan lingkungan. Individu menjalankan koping jenis
direct action atau tindakan langsung bila dia melakukan perubahan posisi
terhadap masalah yang di alami.

Ada empat macam koping jenis tindakan langsung:


a. Mempersiapkan diri untuk menghadapi luka
Individu melakukan langkah aktif dan antisipatif (beraksi) untuk
menghilangkan atau mengurangi bahaya dengan cara menempatkan
diri secara langsung pada keadaan yang mengancam dan melakukan
aksi yang sesuai dengan bahaya tersebut.
b. Agresi
Agresi adalah tindakan yang dilakukan oleh individu dengan
menyerang agen yang dinilai mengancam atau akan melukai. Agresi
dilakukan bila individu merasa atau menilai dirinya lebih kuat atau
berkuasa terhadap agen yang mengancam tersebut.
c. Penghidaran (Avoidance)
Tindakan ini terjadi bila agen yang mengancam dinilai lebih berkuasa
dan berbahaya sehingga individu memilh cara menghindari atau
melarikan diri dari situasi yang mengancam tersebut
d. Apati
Jenis koping ini merupakan pola orang yang putus asa. Apati dilakukan
dengan cara individu yang bersangkutan tidak bergerak dan menerima
begitu saja agen yang melukai dan tidak ada usaha apa-apa untuk
melawan ataupun melarikan diri dari situasi yang mengancam tersebut.

2) Peredaan atau Peringanan (pallitation) koping jenis ini mengacu


pada mengurangi atau menghilangkan atau mentoleransi tekanan-
tekanan kebeutuhan atau fisik, motorik atau gambaran afeksi dari
tekanan emosi yang dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah.
Atau bisa di artikan bahwa bila individu menggunakan koping jenis
ini, posisinya dengan masalah relatif tidak berubah, yang berubah
adalah diri individu, yaitu dengan cara merubah persepsi atau reaksi
emosinya.
Ada 2 macam koping jenis peredaan atau pallitation:
a. Diarahkan pada gejala (Symptom Directed Modes)
Macam koping ini digunakan bila gejala-gejala gangguan muncul dari diri
individu, kemudian individu melakukan tindakan dengan cara mengurangi
gangguan yang berhubungan dengan emosi-emosi yang disebabkan oleh
tekanan atau ancaman tersebut.
b. Cara Intrapsikis ( Intrapsykis Modes)
Koping jenis ini peredaan dengan cara intra psikis adalah cara-cara yang
menggunakan perlengkapan-perlengkapan psikologis kita, yang biasa
dikenal dengan istilah defense mechanism ( mekanisme pertahanan diri)

Macam-macam mekanisme pertahanan diri (defense mechanism atau pembelaan


ego)
1. Fantasi: Memuaskan keinginan yang terhalang dengan prestasi dan
khayalan.
2. Penyangkalan: Melindungi diri sendiri terhadap kenyataan yang tak
menyenangkan, dengan menolak menghadapi hal itu, sering dengan
melarikan diri seperti menjadi sakit atau kesibukan dengan hal-hal lain.
3. Rasionalisasi: Berusaha membuktikan bahwa perilakunya itu masuk akal
dan dapat dibenarkan sehingga dapat di setujui oleh diri sendiri dan
masyarakat.
4. Identifikasi: Menambah rasa harga diri, dengan menyamakan dirinya
dengan orang atau institusi yang mempunyai nama
5. Introyeksi: Menyatukan nilai dan norma luar dengan sturktur egonya
sehingga individu tidak tergantung pada belas kasihan, hal-hal itu yang
dirasakn sebagai ancaman luar.
6. Represi: Mencegah pikiran yang menyakitkan atau berbahaya masuk ke
alam sadar.
7. Regresi : Mundur ke tingkat perkembangan yang lebih rendah, dengan
respon yang kurang matang dan biasanya dengan aspirasi yang kurang.
8. Proyeksi: menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau
keinginannya yang tidak baik.
9. Penyusunan reaksi: Mencegah keinginan yang berbahaya, bila di
ekspresikan dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan
dan menggunakannya sebagai rintangan.
10. Sublimasi: Mencari pemuasan atau menghilangkan keinginan sexual
dalam kegiatan non sexual
11. Kompensasi: Menutupi kelemahan, dengan menonjolkan sifat yang
dinginkan atau pemuasan secara berlebihan dalam suatu bidang karena
mengalami frustasi dalam bidang lain.
12. Salah pindah: Melepaskan perasaan yang terkekang, biasanya permusuhan,
pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya
membangkitkan emosi itu.
13. Pelepasan: Menebus dan dengan demikian meniadakan keinginan atau
tindakan yang tak bermoral.
14. Penyekatan emosional: Mengurangi keterlibatan ego dan menarik diri
menjadi pasif untuk melindungi diri sendiri dari kesakitan.
15. Isolasi: memutuskan pelepasan afektif karena keadaan yang menyakitkan
atau memisahkan sikap-sikap yang bertentangan, dengan tembok-tembok
yang tahan logika.
16. Simpatisme: berusaha memperoleh simpati dari orang lain dan demikian
menyokong rasa harga diri, meskipu gagal.
17. Pemeranan: Menurangi kecemasan yang dibangkitkan oleh keinginan yang
terlarang, dengan membiarkan ekspresinya. (W.F.Maramis, 2005)

Pada dasarnya mekanisme pertahanan diri terjadi tanpa disadari dan bersifat
membohongi diri sendiri terhadap realita yang ada, baik realita yang ada diluar
(fakta atau kebenaran) maupun realita yang ada di dalam ( dorongan atau impuls
atau nafsu). Mekanisme pertahanan bersifat menyaring realita yang ada sehingga
individu bersangkutan tidak bisa memahami hakekat dari keseluruhan realita yang
ada. Ini membuat sebagian besar ahli menyatakan koping jenis mekanisme
pertahanan diri merupakan yang tidak sehat kecuali sublimasi.
Mekanisme pertahanan tidak dapat disadari, akan dapat disadari melalui
refleksi diri yang terus menerus. Dengan cara begitu individu bisa mengetahui
jenis meekanisme pertahanan diri yang biasa dilakukan dan kemudian
menggantikannya dengan koping yang lebih konstruktif.
4. Jenis-jenis koping yang konstruktif atau yang sehat
Harber & Runyon (1984) yang di kutip dalam siswanto menyebutkan jenis-
jenis koping yang di anggap konstruktif, yaitu:
1. Penalaran (Reasioning)
Yaitu pengguanaan kemampuan kognitif untuk mengeksplorasi berbagai
macam alternatif pemecahan masalah dan kemudian memilh salah satu
alternative yang di anggap paling menguntungkan. Individu secara sadar
mengumpulkan berbagai informasi yang relevanberkaitan dengan persoalan
yang di hadapi, kemudian membuat alternatif-alternatif pemecahannya,
kemudian memilh alternatif yang paling menguntungkan dimana resiko
kerugiannya paling kecil dan keuntungan yang di peroleh paling besar.
2. Objektifitas
Yaitu kemampuan untuk membedakan antara-antara komponen emosional
dal logis dalam pemikiran, penalaran, maupun tingkah laku. Kemampuan
untuk melakukan koping jenis ini masyarakat individu yang bersangkutan
memiliki kemampuan untuk mengelola emosinya sehingga individu
mampu memilah dan membuat keputusan yang tidak semata di dasari oleh
pengaruh emosi.
3. Konsentrasi
Yaitu kemampuan untuk memusatkan perhatian secara penuh pada pesoalan
yang sedang di hadapi.
4. Humor
Yaitu kemampuan untuk melihat segi yang lucu dari persoalan yang sedang
dihadapi, sehingga perspektif persoalan tersebut menjadi lebih luas, terang
dan tidak terasa sebagai menekan lagi ketika dihadapi dengan humor.
Humor memungkinkan individu yang bersangkutan untuk memandang
persoalan dari sudut manusiawinya, sehingga persoalan di artikan secara
baru, yaitu sebagai persoalan yang biasa, wajar dan dialami oleh orang lain
juga.
5. Supresi
Yaitu kemampuan untuk menekan reaksi yang mendadak terhadap situasi
yang ada sehingga memberikan cukup waktu untuk lebih menyadari dan
memberikan reaksi yang lebih konstruktif. Koping supresi juga
mengandaikan individu memililki kemampuan untuk mengelola emosi
sehingga pada saat tekanan muncul , pikiran sadarnya tetap bisa melakukan
control secara baik
6. Ambiguitas
Yaitu kemampuan untuk memahami bahwa banyak hal dalam kehidupan
yang bersifat tidak jelas dan oleh karenanya perlu memberikan ruang bagi
ketidakjealasan tersebut. Kemampuan melakukan toleransi mengandaikan
individu sudah memiliki perspektif hidup yang matang, luas dan memeiliki
rasa aman yang cukup.
7. Empati
Yaitu kemampuan untuk melihat sesuatau dari pandangan orang lain.
Kemampuan empati ini memungkinkan individu mampu memperluas
dirinya dan mengahayati perspektif pengalaman orang lain sehingga
individu yang bersangkutan menjadi semakin kaya dalam kehidupan
batinnya.

APA (1994) yang menerbitkan DSM-IV juga menyebutkan sejumlah koping


yang sehat merupakan bentuk penyesuaian diri yang paling tinggi dan paling baik
dibandingkan dengan jenis koping lainnya. Maka jenis koping yang sehat lainnya
adalah:
1. Antisipasi
Antisipasi merupakan berkaitan dengan kesiapan mental individu untuk
menerima suatu perangsang. Ketika individu berhadap dengan konflik
konflik emosional atau pemicu stress baik dari dalam maupun dari luar, dia
mampu mengantisipasi akibat dari konflik atau stress tersebut dengan cara
menyediakan alternatif respon atau solusi yang paling sesuai.
2. Afiliasi
Afiliasi berhubungan dengan kebutuhan untuk berhubungan atau bersatu
dengan orang lain dan bersahabat dengan mereka. Dia mampu mencari
sumber-sumber dari orang lain dan mendapatkan dukungan dan
pertolongan.
3. Altruisme
Merupakan salah satu bentuk koping dengan cara mementingkan
kepentingan orang lain.
4. Penegasan diri (self assertion)
Individu berhadapan dengan konflik emosional yang menjadi pemicu
stress dengan cara mengekspresikan perasaan dan pikiran secara langsung
tetapi dengan cara yang tidak memaksa atau memanipulasi orang lain.
5. Pengamatan diri( self observation)
Pengamatan diri sejajar dengan introspeksi, yaitu individu melakukan
pengujian secara objektif peroses peroses kesadaran sendiri atau
mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku, motif, ciri, sifat sendiri,
dan setrusnya untuk mendapatkan pemahaman mengenai diri sendiri yang
semakin dalam.

5. Sumber koping
Menurut Wiscar dan Sandra Sumber koping terdiri menjadi 2 faktor. Faktor
dari dalam (internal) dan faktor dari luar (eksternal).
1. Faktor dari dalam meliputi : umur dimana semakin tinggi umur koping
individu semakin baik, kesehatan dan energi , system kepercayaan
termasuk kepercayan ekstensial (iman, kepercayaan, agama) komitmen
atau tujuan hidup, pengalaman masa lalu, tingkat pengetahuan atau
pendidikan semakin tinggi individu mudah untuk mencari informasi, jenis
kelamin perempuan lebih sensitive dari laki-laki, perasaan seseorang
seperti harga diri, control dan kemahiran, keterampilan, pemecahan
masalah. Teknik pertahanan, motivasi
2. Faktor dari luar meliputi: dukungan sosial, sumber material atau pekerjaan,
pengaruh dari orang lain, media massa. Dukungan sosial sebagai rasa
memiliki informasi terhadap seseorang atu lebih dengan tiga ktegori yaitu
dukungan emosi dimana seseorang merasa dicintai, dukungan harga diri
dimana mendapat pengakuan dari orang lain akan kemampuan yang
dimiliki, perasaan memiliki dalam sebuah kelompok.

6. Penggolongan mekanisme koping


Mekanisme koping berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi 2 (dua)
(Stuart dan Sundeen, 1995), yaitu:
a. Mekanisme Koping Adaptif
Mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar
dan mencapai tujuan.
b.Mekanisme Koping Maladaptif
Mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah
pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai
lingkungan.Menurut Stuart & Sudden rentang mekanime koping
digambarkan sebagai berikut:
Sekema Mekanisme Koping
Jadi karakteristik mekanisme koping adalah sebagai berikut:
a. Adaptif, jika memenuhi keriteria sebagai berikut:
1. Masih mengontrol emosi pada dirinya dengan cara berbicara pada
orang lain.
2. Melakukan aktifitas yang kontruktif
3. Memiliki persepsi yang luas
4. Dapat menerima dukungan dari orang lain
5. Dapat memecahkan masalah secara efektif
b. Maladaptif
1. Perilaku cenderung merusak
2. Melakukan aktifitas yang kurang sehat seperti obat-obatan dan
alkohol.
3. Tidak mampu berfikir apa-apa atudisorientasi.
4. Perilaku cenderung menghindar atau menarik diri
5. Tidak mampu menyelesaikan masalah. (Stuart & Sudden, 2008)
7.Strategi koping
Para ahli menggolongkan dua strategi koping yang biasanya di gunakan oleh
individu:
1. Problem-solving focused coping
Dimana individu secara aktif mencari penyelesaian masalah untuk
menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stress.
2. Emotion-focused coping
Dimana individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam
rangaka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan di timbulkan suatu
kondisi dari suatu tekanan.

8.Faktor yang mempengaruhi koping


Cara individu menangani situasi yang mengandung tekanan ditentukan oleh
sumber daya individu, yaitu:
1. Kesehatan fisik
Merupakan hal yang penting karena dalam hal mengatasi stress individu
dituntut menggunakan energy yang lebih besar.
2. Keyakinan atau pandangan positif
Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting yang
akan mengarahkan individu pada ketidak berdayaan yang akan
menurunkan kemampuan strategi koping.
3. Keterampilan memecahkan masalah
Ketrampilan ini meliputi kemampuan untuk mencari informasi,
menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah, dengan tujuan untuk
alternative tindakan.
4. Keterampilan sosial
Keterampilan ini meliputi kemampuan berkomunikasi dan bertingkah laku
sesuai norma sosial di masyarakat
5. Dukungan sosial
Dukungan ini meliputi pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional
serta pengaruh dari orang lain( teman, keluarga, guru, petugas kesehatan,
dll)
6. Materi atau Pekerjaan
Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan sesorang memperoleh
pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak
langsung.
7. Umur
Umur mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin
bertambah umur akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola
pikirnya sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin membaik
8. Jenis kelamin
Bahwa jenis kelamin adalah faktor penting dalam perkembangan koping
seseorang.
9. Pendidikan
Bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain
menuju kearah cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat
dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan.
Pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah
menerima informasi.(ahyarwahyudi,2010)

9. Metode koping
Ada dua metode koping yang digunakan oleh individu dalam
mengatasi masalah psikologis seperti yang dikemukakan oleh Bell, 1977 yang
di kutip Rasmun, dua metode tersebu antara lain:
1. Metode koping jangka panjang, cara ini adalah konstruktif dan merupakan
cara efektif dan realistis dalam menangani masalah psikologis dalam kurun
waktu yang lama.

Contohnya adalah:
1. Berbicara dengan orang laincurhat (curah pendapat dari hati ke
hati) dengan teman, keluarga, atau profesi tentang masalah yang di
hadapi.
2. Mencoba mencari informasi lebih banyak tentang masalah yang di
hadapi.
3. Menghubungkan situasi atau masalah yang sedang dihadapi dengan
kekuatan supranatural.
4. Melakukan latihan fisik untuk mengurangi ketegangan atau masalah.
5. Membuat berbagai alternatif tindakan atau untuk mengurangi situasi
6. Mengambil pelajaran dan peristiwa atau pengalaman masa lalu.

2. Metode jangka pendek, cara ini digunakan untuk mengurangi stress atau
ketegangan psikologis dan cukup efektif untuk waktu sementara, tetapi tidak
efektif untuk di gunakan dalam jangka panjang.

Contohnya adalah:
1. Menggunakan alcohol atau obat
2. Melamun atau fantasi
3. Mencoba melihat asoek humor dari situasi yang tidak menyenangkan
4. Tidak ragu, dan merasa yakin bahwa semua akan kembali stabil
5. Banyak tidur
6. Banyak merokok
7. Menangis
8. Beralih pada aktifitas lain agar dapat melupakan masalah.
(Rasmun,2004)

10. Tipe Skala Pengukuran Koping


Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai
acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat
ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan
menghasilkan data kuantitatif (Sugiyono, 2010).
Berbagai skala koping yang dapat digunakan untuk penelitian
Administrasi, pendidikan dan sosial antara lain adalah:
1. Skala likert
Skala likert di gunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam
penelitian, fenomena sosial ini telah di tetapkan secara spesifik oleh
peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian. Dengan skal
likert, maka variabel yang akan di ukur di jabarkan menjadi indicator
variabel. Kemudian indicator tersebut di jadikan sebagai titik tolak untuk
menyusun item-item instrument yang dapat berupa pernyataan atau
pertanyaan.
Jawaban setiap instrument yang menggunakan skala likert mempunyai
gradasi dari sangat positif samapai sangat negative, yang dapat berupa
kata-kata antara lain:

a.Sangat setuju a. Selalu


b.Setuju b. Sering
c.Ragu- ragu c. Kadang-kadang
d.Tidak setuju d. Tidak pernah
e.Sangat tidak setuju

a.Sangat positif a. Sangat baik


b.Positif b. Baik
c.Negatif c. Tidak baik
d.Sangat negative d. Sangat tidak baik

Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat di beri skor,
misalnya:
1.Setuju/ Selalu/ Sangat positif diberi skor 5
2.Setuju / Sering / positif diberi skor 4
3.Ragu-ragu/ Kadang-kadang/ Netral di beri skor 3
4.Tidak setuju/ Hampir tidak pernah/ Negatif di beri skor 2
5.Sangat tidak setuju/ Tidak pernah di beri skor 1

Pernyataan negatif
1.Setuju / Selalu / Sangat positif diberi skor 1
2.Setuju / Sering / Positif di beri skor 2
3.Ragu-ragu / Kadang-kadang / Netral di beri skor 3
4.Tidak setuju/ Hampir tidak pernah/ negative di beri skor 4
5.Sangat tidak setuju/ Tidak pernah di beri skor 5
Tingkatan koping dinilai dari hasil jawaban kuesioner dengan Model Skala
Likert yang dikategorikan menjadi koping positif atau adaptif dan negatif
atau maladaptif. Agar perbandingan itu mempunyai arti, haruslah
dinyatakan dalam satuan deviasi standar kelompok itu sendiri yang berarti
harus mengubah skor individual menjadi skor standar. Salah satu skor
standar yang biasanya digunakan dalam skala model likert adalah skor T,
yaitu :

Keterangan :
Skor responden pada skala koping yang hendak diubah menjadi skor T
= Mean skor kelompok
s = Deviasi standar skor kelompok
Untuk mengetahui koping responden relatif lebih positif atau adaptif bila
nilai T > mean T sedangkan pada koping relatif negatif atau maladaptif
bila T mean T, yaitu kopinf adaptif jika T skor > 50, koping maladaptif
jika T skor 50 (Azwar, 2011).

7. CARA MEKANISME KOPING

1. Individu

a. Kenal diri sendiri

Merupakan tahap awal yang harus dilakukan. Karena individu yang


sudah kenal akan dirinya, akan siap untuk menghadapi stressor yang
ada. Cara yang dapat dilakukan adalah:

1) Identifikasi siapa diri anda

2) Tanyakan pada orang lain siapa anda

3) Mintalah umpan balik jika anda sudah kena diri anda

b. Turunkan kecemasan

1) Identifikasi penyebab cemas anda

2) Cari tindakan yang menurut anda dapat menurunkan kecemasan

3) Lakukan teknik relaksasi


c. Tingkatkan harga diri

1) Identifikasi aspek positif yang anda miliki

2) Mulai gali kemampuan positif yang anda miliki

3) Pertahankan aspek positif yang anda miliki

d. Persiapan diri

1) Tingkatkan kemampuan kognitif atau pengetahuan anda (belajar)

2) Berdoa

3) Mencari informasi

4) Diskusi dengan orang yang sudah punya pengalaman bekerja

5) Identifikasi kebutuhan yang perlu dipersiapkan

e. Pertahankan dan tingkatkan cara yang sudah baik

2. Dukungan sosial (keluarga, teman dan masyarakat)

a. Pemberian dukungan terhadap peningkatan kemampuan kognitif

b. Ciptakan lingkungan keluarga yang sehat, misalnya waktu berdikusi


dengan anggota keluarganya

c. Berikan bimbingan mental dan spiritual untuk individu tersebut dari


keluarga

d. Berikan bimbingan khusus untuk individu, misalnya konseling

Metode koping menurut Folkman & Lazarus (Folkman & Lazarus,


1988; Folkman et al., 1986), skill dan strategi coping diuraikan sebagai
berikut :

a. Planful problem-solving

b. Confrontive coping

c. Seeking social support

d. Distancing (emotion-focused)
e. Escape-avoidance

f. Self-control

g. Accepting responsibility

h. Positive reappraisa

BAB III
KESIMPULAN

Stress menurut Hans Selye 1976 merupakan respon tubuh yang bersifat
tidak spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya.Faktor yang
mempengaruhi stress yaitu, faktor lingkungan, faktor organisasi, dan faktor
individu.
Koping merupakan cara-cara yang digunakan oleh indifidu unyuk
menghadapi situasi yang menekan.Oleh karena itu meskipun koping menjadi
bagian dari penyesuaian diri,namun koping merupakan istilah yang khusus
digunakan untuk menunjukkan reaksi individu ketika menghadapi tekanan/stress.
Ada berbagai macam koping.Pendapat berbagai tokoh pun beragam.Ada
yang menyebutkan istilah koping hanya untuk cara-cara mengatasi persoalan yang
sifatnya positif.Namun ada juga yang melihat koping sebagai istilah yang netral.
Koping yang negatif menimbulkan berbagai persoalan baru di kemudian
hari,bahkan sangat mungkin memunculkan berbagai gangguan pada diri individu
yang bersangkutan.Sebaliknya koping yang positif menjadikan individu semakin
matang,dewasa dan bahagia dalam menjalani kehidupannya.
DAFTAR PUSTAKA

Buku Kesehatan Mental Konsep,Cakupan dan Perkembangan.


OlehSiswanto,S.Psi.,M.Si.. 2007. Yogyakarta.

10. Tipe Skala Pengukuran Koping


Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk
menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat
ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data
kuantitatif (Sugiyono, 2010).

Berbagai skala koping yang dapat digunakan untuk penelitian Administrasi,


pendidikan dan sosial antara lain adalah:

1.Skala likert
Skala likert di gunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang
atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena
sosial ini telah di tetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut
sebagai variabel penelitian. Dengan skal likert, maka variabel yang akan di ukur
di jabarkan menjadi indicator variabel. Kemudian indicator tersebut di jadikan
sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa
pernyataan atau pertanyaan.

Jawaban setiap instrument yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi


dari sangat positif samapai sangat negative, yang dapat berupa kata-kata antara
lain:
a.Sangat setuju a. Selalu
b.Setuju b. Sering
c.Ragu- ragu c. Kadang-kadang
d.Tidak setuju d. Tidak pernah
e.Sangat tidak setuju

a.Sangat positif a. Sangat baik


b.Positif b. Baik
c.Negatif c. Tidak baik
d.Sangat negative d. Sangat tidak baik
Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat di beri skor,
misalnya:
1.Setuju/ Selalu/ Sangat positif diberi skor 5
2.Setuju / Sering / positif diberi skor 4
3.Ragu-ragu/ Kadang-kadang/ Netral di beri skor 3
4.Tidak setuju/ Hampir tidak pernah/ Negatif di beri skor 2
5.Sangat tidak setuju/ Tidak pernah di beri skor 1

Pernyataan negatif
1.Setuju / Selalu / Sangat positif diberi skor 1
2.Setuju / Sering / Positif di beri skor 2
3.Ragu-ragu / Kadang-kadang / Netral di beri skor 3
4.Tidak setuju/ Hampir tidak pernah/ negative di beri skor 4
5.Sangat tidak setuju/ Tidak pernah di beri skor 5

Tingkatan koping dinilai dari hasil jawaban kuesioner dengan Model Skala Likert
yang dikategorikan menjadi koping positif atau adaptif dan negatif atau
maladaptif. Agar perbandingan itu mempunyai arti, haruslah dinyatakan dalam
satuan deviasi standar kelompok itu sendiri yang berarti harus mengubah skor
individual menjadi skor standar. Salah satu skor standar yang biasanya digunakan
dalam skala model likert adalah skor T, yaitu :

Keterangan :
Skor responden pada skala koping yang hendak diubah menjadi skor T
= Mean skor kelompok
s = Deviasi standar skor kelompok
Untuk mengetahui koping responden relatif lebih positif atau adaptif bila nilai T
> mean T sedangkan pada koping relatif negatif atau maladaptif bila T mean T,
yaitu kopinf adaptif jika T skor > 50, koping maladaptif jika T skor 50 (Azwar,
2011).

DAFTAR PUSTAKA

1. Ahyarwahyudi.2010. Konsep Diri dan Mekanisme Koping dalam Proses


Keperawatan.Wordpress.com(Online)(diaksespadatang11 februari2010)
2. Alimul, H. aziz. 2007. Riset Keperawatan & Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta :
Salemba Medika.
3. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
4. Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitain Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
5. Depkes RI. 2007. Buku Pedoman Nasional Pengendalian Penyakit Kusta. Jakarta:
Bhakti Husada.
6. Djuanda, Adhi. 2008 (Ed. 5. Cet. 3). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta:
Penerbit FK Universitas Indonesia
7. Gail W. Stuart. 2006. (Ed. 5.Cet 1). Buku Saku Keperawatan jiwa. Jakarta : EGC
8. Harahap, Marwali. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Penerbit Hipokrates
9. Jajeli, Rois. 2012. Jatim Peringkat Pertama Jumlah Penderita Kusta di Indonesia,
(Online), http://surabaya.detik.com (diakses: tanggal 6 April 2012)
10. Notoadmojo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.
11. Nursalam. 2008. (Edisi 2). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
12. Nursalam. 2011. (Edisi 2). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
13. Potter, Patricia A.; Perry, Anne Griffin. 2005. Buku Ajar Fundamental
Keperawatan: konsep, proses, dan praktik. Jakarta: Penerbit EGC
14. Rasmun, 2004. Stres, Koping dan Adaptasi, Sagung Seto, Jakarta.
15. Siswanto.2004 Kesehatan Mental, konsep, cakupan dan perkembangannya. CV.
Andi Offeset, Yogyakarta
16. Sugiono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif. dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
17. Syahrial. 2010. Chapter I, (Online), http://repository.usu.ac.idf (diakses: 29 April
2012)
18. W.F.Maramis. 2005. Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press: Surabaya
19. Zulkifli. 2003. Penyakit Kusta dan Masalah yang Ditimbulkannya. Sumatra Utara:
Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara, (Online)
http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-zulkifli2.pdf (diakses : tanggal 10 April
2012)