Anda di halaman 1dari 91

PERANCANGAN TRAY TOWER

PERANCANGAN ALAT PROSES

Asep Muhamad Samsudin


Ruang Lingkup
1. Pemilihan Tipe Kolom
2. Penentuan Kondisi operasi
3. Perancangan Tray Tower
4. Perancangan Packed Tower
Penentuan Kondisi Operasi Kolom
Ditentukan oleh pasangan suhu dan tekanan yang membentuk
kesetimbangan pada suatu tray, di sepanjang Kolom.
Penentuan Kondisi Operasi Puncak Kolom
Kondisi puncak kolom ditentukan oleh pasangan suhu T1, dan tekanan P1
yang membentuk keseimbangan pada tray puncak (tray ke1) baik
menggunakan kondensor total maupun parsial.

Kondensor Total Kondensor Parsial


Penentuan Kondisi Operasi Puncak Kolom
Pada suhu T1dan tekanan P1, arus L1 dengan komposisi x1 seimbang dengan arus
V1 dengan komposisi y1. Dengan demikian dipenuhi kriteria berikut :
1. Suatu komponen pada suhu T1 dan Tekanan P1 di setiap fasa, baik fasa L1
maupun V1 terdapat distribusi suhu, tekanan dan konsentrasi yang serba
sama.
2. Fasa L1 dan fasa V2keduanya jenuh.
3. Netto propertiesnya sama dengan nol, artinya
a. Suhu L1 sama dengan suhu V1 T1
b. Tekanan L1 sama dengan tekanan V1 P1

4. Korelasi komposisi V1 yang seimbang dengan L1 memenuhi persamaan


1 = K1 1
K1 adalah Konstanta Keseimbangan komponen pada suhu T1 dan P1
Penentuan Kondisi Operasi Puncak Kolom
Jika kondensor yang digunakan KONDENSOR TOTAL
1. Hasil puncak diambil berupa cairan D dengan komposisi xD
2. Komposisi y1 = XD =Xo

Jika kondensor yang digunakan KONDENSOR PARSIAL


1. Hasil puncak diambil berupa uap Dv dengan komposisi yD
2. Komposisi y1yDXo
3. Komposisi y1,merupakan komposisi rata-rata dengan Dvdan Lo
0 +
1 =
0 +
Penentuan Kondisi Operasi Puncak Kolom
4. Arus Dv boleh jadi seimbang dengan arus Lo sehingga
a. Kondensor parsial setara dengan satu tray / plate ideal yang letaknya di
luar kolom
b. Korelasi komposisi Antara hasil puncak yD dengan cairan refluk X0
memenuhi persamaan :
c. = K0
d. K adalah Konstanta Keseimbangan thermodinamis suatu komponen pada
suhu T dan Tekanan P kondensor
5. Kondisi puncak kolom ditentukan setelah suhu dan tekanan yang membentuk
keseimbangan pada kondensor parsial ditentukan terlebih dahulu
Penentuan Kondisi Operasi Dasar Kolom
Ditentukan oleh pasangan suhu Tn dan tekanan Pn yang membentuk
keseimbangan pada Tray ke n atau tray dasar, baik menggunkan reboiler total
maupun reboiler parsial.

Reboiler Total Reboiler Parsial


Penentuan Kondisi Operasi Dasar Kolom
Pada suhu Tn dan tekanan Pn, arus Vn dengan komposisi yn seimbang dengan arus
Ln dengan komposisi Xn. Dengan demikian dipenuhi kriteria berikut :
1. Di setiap fasa, baik fasa Vn maupun Ln terdapat distribusi suhu, tekanan dan
konsentrasi yang serbasama.
2. Fasa Ln dan fasa Vn keduanya jenuh.
3. Netto propertiesnya sama dengan nol, artinya
a. Suhu Ln sama dengan suhu Vn Tn
b. Tekanan Vn sama dengan tekanan Ln Pn

4. Korelasi komposisi Vn yang seimbang dengan Ln memenuhi persamaan


= K
Kn adalah Konstanta Keseimbangan suatu komponen pada suhu Tndan
Tekanan Pn
Penentuan Kondisi Operasi Dasar Kolom
Jika reboiler yang digunakan REBOILER TOTAL
Komposisi Xn = Xw =yn+1

Jika reboiler yang digunakan REBOILER PARSIAL


1. Komposisi XnXw yn+1
2. Komposisi Xn,merupakan komposisi rata-rata antara arus W dan Vn+1

+ +1 +1
=
+ +1
Penentuan Kondisi Operasi Puncak Kolom
4. Arus Vn+1 boleh jadi seimbang dengan arus W sehingga
a. Reboiler parsial setara dengan satu tray / plate ideal yang letaknya di luar
kolom
b. Korelasi komposisi antara hasil dasar xw dengan uap refluk yn+1 memenuhi
persamaan :
+1 = K
K adalah Konstanta Keseimbangan thermodinamis suatu komponen pada
suhu T dan Tekanan P Reboiler
5. Kondisi dasar kolom ditentukan setelah suhu dan tekanan yang membentuk
keseimbangan pada reboiler parsial ditentukan terlebih dahulu
Penting untuk diperhatikan
1. Jika dimungkinkan, operasikan kolom pada tekanan 1 (satu) atmosfer
2. Suhu dan tekanan puncak kolom, harus di bawah suhu dan tekanan kritis
masing-masing komponen yang terdapat pada hasil puncak
3. Suhu dan tekanan puncak kolom, lebih rendah dari suhu dan tekanan dasar
kolom
4. Kondisi operasi kolom, ditentukan dengan mempertimbangkan utilitas yang
ada serta beda suhu yang diizinkan.
5. Pada kondensor parsial, kondisi puncak kolom ditentukan setelah kondisi
keseimbangan pada kondensor ditentukan lebih dahulu.
6. Pada reboiler parsial, kondisi dasar kolom ditentukan setelah suhu dan
tekanan reboiler parsial dihitung lebih dulu.
Algoritma Penentuan Kondisi Operasi Puncak Kolom
1. Tentukan komposisi hasil puncak xD atay yD dan komposisi hasil
dasar xW, sesuai dengan spesifikasi yang direncanakan.
2. Tentukan komposisi uap yi,1
3. Tentukan suhu operasi T1 dengan pertimbangan :
a. Suhu T1 harus di bawah suhu kritis Tc masing-masing komponen yang
terdapat dalam hasil puncak.
b. Utilitas yang ada, misalnya air dapat digunakan sebagai pendingin
dengan T yang diizinkan antara 6 20oC

4. Hitung atau tentukan tekanan operasi P1 dengan pertimbangan :


a. Tekanan P1 harus di bawah tekanan kritis Pc masing-masing komponen
yang terdapat pada hasil puncak
b. Jika dimungkinkan, coba P1 = 1 atm.
Algoritma Penentuan Kondisi Operasi Puncak Kolom
5. Cek korelasi komposisi uap yi,1 yang seimbang dengan komposisi
cairan xi,1 dari hub : yi,1 = Ki,1Xi,1
Harga konstanta keseimbangan Ki dibaca pada Nomogram pada suhu
dan Tekanan T1 dan P1
a. Jika Xi,1 = 1, maka benar bahwa T1 dan P1 merupakan kondisi
operasi puncak kolom.
b. Jika Xi,1 1, maka T1 dan/atau P1 harus diralat dengan
pertimbangan bahwa jika dimungkinkan, pertahankan air
sebagai pendingin dan hindari penggunaan tekanan vacuum
atau tekanan tinggi
Algoritma Penentuan Kondisi Operasi Dasar Kolom
1. Tentukan komposisi hasil puncak xD dan hasil dasar xW, sesuai
dengan spesifikasi yang direncanakan.
2. Tentukan komposisi cairan xi,n
3. Tentukan suhu operasi Tn dengan pertimbangan :
a. Suhu Tn lebih tinggi dari T1
b. Utilitas yang ada, misalnya air (steam) dapat digunakan sebagai
pemanas dengan T yang diizinkan antara 10 60oC

4. Hitung atau tentukan tekanan operasi Pn dengan pertimbangan :


a. Tekanan Pn harus lebih tinggi dari P1
b. Steam jenuh padatekanan rendah sampai medium dapat digunakan
Algoritma Penentuan Kondisi Operasi Dasar Kolom
5. Cek korelasi komposisi uap xi,n yang seimbang dengan komposisi uap
yi,n dari hub : yi,n = Ki,nxi,n
Harga konstanta keseimbangan Ki dibaca pada Nomogram pada suhu
dan Tekanan Tn dan Pn
a. Jika yi,n = 1, maka benar bahwa T1 dan P1 merupakan kondisi
operasi dasar kolom.
b. Jika yi,n 1, maka T1 dan/atau P1 harus diralat.
Contoh Soal 1
Menara fraksinasi dirancang untuk memisahkan campuran hidrokarbon
yang terdiri dari 50% mol C3H8, 30% mole C3H6 dan 20% mole n-C4H10.
Diharapkan hasil puncak dan dasar masing-masing mengandung
minimal 98 % mole C3 dan maksimal 1 % mole C3. Hitunglah kondisi
operasi puncak dan dasar menara.
Komponen (atm)
C3H8 17.40
C3H6 20.24
n-C4H10 5.00

Komponen Tc (oC) Pc (oC)


C3H8 91.4 45.4
C3H6 96.8 42.0
Tugas 1
Menara Fraksionasi yang bekerja kontinyu pada tekanan 1 atm direncanakan
untuk memisahkan 550 lbmol/jam campuran hidrokarbon yang terdiri dari
Komponen BM % mol
A 32 30 1.75
B 46 20 1.00
C 60 15 0.50
D 74 35 0.20
Diharapkan hasil puncak mengandung minimal 95% mol A dan sisanya B
sedangkan hasil bawah maksimal mengandung 5% mol A. Jika diketahui tekanan
uap murni B pada berbagai macam suhu. Tentukan kondisi operasi (suhu)
puncak dan dasar kolom jika digunakan kondensor dan reboiler total.
T (oC) 60 70 80 90 100
PoB (mmHg) 340 540 810 1180 1680
Perhitungan Jumlah Tray / Plate Ideal
Perhitungan Jumlah Tray / Plate Ideal
Untuk memperoleh produk hasil pemisahan sesuai dengan spesifikasi
yang diinginkan. Jumlah tray / plate ideal yang dibutuhkan dapat
dihitung dengan :
1. Cara Grafis (Ponchon-Savarit, Mc Cabe Thiele)
2. Cara Short-Cut
3. Cara Analitis
Dibandingkan dengan cara "short cut", perhitungan jumlah stage
ideal menurut cara analitis lebih membertkan ketelitian yang tinggl.
Distribusi suhu, tekanan, dan komposisi di setiap Tray di setiap seksi
di sepanjang kolom dapat diketahui
Cara Short-Cut
Menggunakan bantuan Grafik korelasi Underwood, Fenske, Girriland
Pada suatu nilai absis (R-Rmin) / (R+1), jumlah tray / plate ideal yang
dibutuhkan (N) dapat dihitung dari nilai ordinat (N-Nmin) / (N + 1).
Rmin, R dan Nmin ditentukan terlebih dahulu.
Perbandingan Refluk Minimal (Rmin)

Dimana :
Xi = fraksi mol kompenen I yang terdapat dalam distilat
i = komponen a, b,.. N
= Sifat penguapan relatif komponen I terhadap referensi
= Konstanta Underwood
Konstanta Underwood ()

Dimana :
q = Sejumlah panas yang dibutuhkan untuk menguapkan satu mol
umpan dibagi dengan panas laten
Menghitung q

Nilai q tergantung pada kondisi thermal umpan


Menghitung q
Jika umpan masuk kolom berupa cairan pada titik didihnya, harga
konstanta Underwood
Perbandingan Refluk (R)
Ditentukan berdasarkan jenis pendingin yang digunakan
Jumlah Stage Minimal (Nmin)

Dalam hubungan ini,


XLK; XHK = Fraksi mol komponen kunci ringan; berat
LK HK = Sifat pernguapan relative komponen kunci ringan terhadap
kunci berat pada suhu rata-rata kolom.
Penentuan Komponen Kunci
Komponen Kunci adalah Komponen yang terdistribusi baik pada hasil
puncak maupun hasil dasar.
Komponen Kunci Ringan (LK) adalah komponen kunci yang
mempunyai titik didih rendah atau mempunyai tekanan uap murni
tinggi, tetapi dia ada dalam hasil dasar W.
Komponen Kunci Berat (HK) adalah komponen kunci yang mempunyai
titik didih tinggi atau tekanan uap murni rendah, tetapi dia terdapat
dalam hasil puncak D.
Penentuan Komponen Kunci
Komponen Umpan Distilat Residu
A xA xA
B xB xB
C, LK xC xC xC
D, HK xD xD xD
E xE xE
F xF xF
Contoh Soal 2
Menara fraksinasi dirancang untuk memisahkan campuran hidrokarbon
yang terdiri dari 50% mol C3H8, 30% mole C3H6 dan 20% mole n-C4H10.
Diharapkan hasil puncak dan dasar masing-masing mengandung
minimal 98 % mole C3 dan maksimal 1 % mole C3. Hitunglah jumlah
plate ideal yang dibutuhkan.
Tugas 2
Menara fraksinasi dirancang untuk memisahkan campuran hidrokarbon
yang terdiri dari 45% mol C2H6, 30% mole C2H4 dan 25% mole n-C4H10.
Diharapkan hasil puncak dan dasar masing-masing mengandung
minimal 95 % mole C2 dan maksimal 2 % mole C2. Hitunglah jumlah
plate ideal yang dibutuhkan.
Cara Analitis
Cara Analitis
Menurut cara analitis, Jumlah tray / plate ideal dapat dihitung dengan
bantuan :
1. Persamaan hubungan Neraca bahan
2. Persamaan hubungan Neraca panas
3. Persamaan hubungan Keseimbangan
Perhitungan dilakukan dari plate satu ke plate yang lain di setiap seksi
di Sepanjang kolom
Disebut PLATE TO PLATE CALCULATION
Neraca pada Plate
Neraca Bahan Total
Ln1 + Vn+1 = Ln + Vn (1)

Neraca Komponen Pers (1)


Ln1 1 + Vn+1 +1 = Ln + Vn (2)

Neraca Panas Pers (1)


Ln1 HLn1 + Vn+1 HVn+1 = Ln HLn + Vn HVn (3)
Neraca pada Plate
Hubungan Keseimbangan
a. Korelasi komposisi dalam kedua fasa seimbang

= ( ) atau = (4)
1+(1)

b. Korelasi Enthalpi komposisi dalam kedua fasa


seimbang
HLn = xn CPA ( ) + 1 CPB ( ) (5)
HVn = yn A + 1 B + HLn (6)
Neraca pada Plate Umpan
Neraca Bahan Total
F + Lf1 + Vf+1 = Lf + Vf (7)

Neraca Komponen Pers. (7)


F + Lf1 1 + Vf+1 +1 = Lf + Vf (8)

Neraca Panas Pers. (7)


FHf + Lf1 HLf1 + Vf+1 HVf+1 = Lf HLf + Vf HVf (9)

Lf Lf1
= dan = (10)
F
Neraca pada Kondensor
Pada Kondensor Total

V1 = Lo + D (11)
y1 = Xo = XD (11)
V1 HV1 = Lo HL0 + DHD + (qc ) (13)
L0
R= (14)
D
Neraca pada Reboiler
Pada Reboiler Parsial

Ln = VN+1 + W (15)
VN+1 yN+1 +Wxw
xn = (16)
VN+1 +W

L1 HLN + = VN+1 HVN+1 + WHW (17)


+1 = ( ) atau +1 = (18)
1+(1)
Neraca di Sekitar Kolom
Neraca Bahan Total
F= D + W (19)

Neraca Komponen Pers. (19)


Fxf = DxD + WxW (20)

Neraca Panas pers.(19)


FHf + qr = DHD + qc + WHw (21)
ALGORITMA
1. Hitung L0
L0 = R + D
2. Hitung V1
V1 = D(R + 1)
3. Tentukan y1
Pada kondensor total y1 = Xo = XD
4. Gunakan hubungan keseimbangan untuk menentukan x1

= ( ) atau = atau y1 = Kx1
1+(1)
ALGORITMA
5. Tentukan entalpi HL0, HV1, HL1
6. Hitung L1, V2, HV2
7. Asumsikan HV2=HV1
8. Gunakan asumsi (7) untuk menghitung V2 dan L1
9. Hitung y2. Gunakan neraca komponen pada plate ke 1 (satu)
10. Hitung HV2 dari hubungan Entalpi-komposisi pada suatu nilai y=y2
11. Ulangi langkah 7-10 hingga diperoleh HV2 asumsi (7) = HV2 hasil
perhitungan (10)
12. Lanjutkan perhitungan untuk stage ke 2 (dua) dan seterusnya hingga
plate ke (f)
13. Lanjutkan perhitungan dari plate ke plate lain secara berturutan hingga
diperoleh komposisi cairan sama dengan komposisi hasil dasar
Penyederhanaan Perhitungan
Jika suatu sistem kesimbangan memenuhi kriteria yang disyaratkan
oleh Mc. Cabe Thiele
Neraca panas dapat diabaikan.
Jumlah plate ideal yang dibutuhkan dapat dihitung hanya dengan
bantuan
1. Persamaan hubungan Neraca Bahan, yang dikenal sebagai Persamaan
Garis Operasi
2. Persamaan Hubungan Keseimbangan.
Persamaan Garis Operasi
Korelasi antar arus di sekitar Feed Plate
Persamaan Hubungan Keseimbangan
Di setiap tray di setiap seksi di sepanjang kolom pada suhu dan tekanan tertentu
memenuhi persamaan :

Dimana :
Xi,n = fraksi mol komponen i dalam fasa cair yang keluar dari tray/plate ke n
Yi,n = fraksi mol komponen i dalam fase uap yang keluar dari tray / plate ke n
Pn Tn = Pasangan tekanan dan suhu yang membentuk keseimbangan pada tray ke n
Ki,n = Konstanta keseimbangan komponen i pada suhu dan tekanan Tn dan Pn
Algoritma
1. Tentukan komposisi hasil puncak xD dan komposisi hasil dasar xW sesuai
spesifikasi yang direncanakan
2. Hitung L, V, L dan V
3. Tentukan persamaan garis operasi atas dan persaman garis operasi
bawah
4. Tentukan komposisi uap y1
5. Tentukan suhu dan tekanan yang membentuk keseimbangan pada Tray
1 misalnya T1 dan P1
6. Hitung x1dengan bantuan persamaan y1 = K1x1
7. Hitung y2 dengan bantuan persamaan garis operasi atas

2 = 1 + +1
Algoritma
8. Tentukan suhu dan tekanan T2 dan P2 yang membentuk keseimbangan
pada Tray 2
9. Hitung x2 dengan persamaan y2 = K2x2

10. Hitung 3 = 2 +
+1
11. Tentukan suhu dan tekanan T3 dan P3 yang membentuk keseimbangan
pada Tray 2
12. Hitung x3 dengan persamaan y3= K3x3
13. Ulangi langkah 10 12 untuk Tray ke 4, 5 dan seterusnya hingga
diperoleh komposisi sama dengan komposisi umpan.
14. Ulangi langkah 10 12 untukTray ke (f+1); (f+2) dan seterusnya sampai
dengan tray ke N hingga diperoleh komposisi xN = xW dengan
menggunakan persamaan garis operasi bawah
Contoh 3
Menara fraksionasi yang bekerja pada 1 atm direncanakan untuk
memisahkan campuran hidrokarbon yang terdiri 50% mole pentana (A),
30% mole heksana (B) dan 20% mol heptane. Hasil puncak diharapkan
maksimal mengandung 0.5 % mole heksana dan hasil dasar
mengandung 1% mol pentane. Umpan pada titik didihnya dimasukan
menara tepat pada plate yang mempunyai suhu yang sama. Jika dalam
operasi tersebut digunakan perbandingan refluk sama dengan 4. Hitung
jumlah plate idealnya.
Perhitungan Efisiensi Kolom
Perhitungan Efisiensi Kolom
Pada keadaan seimbang komposisi ringan dalam fasa uap maksimal dan komposisi
ringan dalam fasa cairan minimal.
Kenyataannya sulit dicapai oleh alat kontak antar fasa jenis apapun
Komposisi uap sesungguhnya relatif lebih rendah dibandingkan komposisi idealnya jika
keseimbangan benar-benar terwujud. Juga sebaliknya untuk komposisi cairannya.
Jika x* dan y* adalah komposisi cairan dan uap idealnya ketika keseimbangan benar-
benar terwujud kemudian x dan y merupakan komposisi cairan dan uap aktual yang
dapat dicapai, maka

y <y*dan x > x*


=

Efisiensi Murphree
Jika efisien setiap tray di sepanjang kolom tidak sama, Murphree
mendefinisakan efisiensi tray sebagai berikut :

Tinjauan fase uap


+1
=
+1

Tinjauan fase cair


1
=
1
Tinjauan fase uap Tinjauan fase cair


= =

Contoh Soal 4
Menara Distilasi direncanakan untuk memisahkan 100 kmol/jam
campuran A dan B dengan komposisi 50% A hingga diperoleh hasil
puncak dan dasar masing-masing dengan kemurnian 90% dan 10%A,
sedangkan efisiensi Murphree pada berbagai komposisi ditunjukan pada
tabel. Jika sifat penguapan relatif A terhadap B adalah 4 dan pada
operasi ini digunakan perbandingan refluk = 2 dan umpan dimasukan
pada titik didihnya, hitung jumlah plate aktual yang dibutuhkan.

Xa 0,05 0,20 0,40 0,60 0,80 0,90


EMV 0,67 0,67 0,67 0,50 0,50 0,50
Contoh Soal 5
Menara fraksionasi direncanakan untuk memisahkan campuran a dan b
hingga diperoleh hasil puncak dan dasar seperti yang ditunjukan pada
tabel 1, sedangkan efisiensi Murphree pada berbagai komposisi
ditunjukan pada tabel 2.
Jika sifat penguapan relatif a terhadap b adalah 4 dan pada operasi ini
digunakan perbandingan refluk = 1,5; hitung jumlah plate aktual yang
dibutuhkan.
Arus bahan Jumlah Komposisi Kondisi
Umpan I 50 lbmol/jam 0,5 Cair jenuh
Umpan II 100 lbmol/jam 0,35 Uap jenuh
Distilat 0,90 Cair jenuh
Residu 0,05 Cair jenuh

Xa 0,05 0,20 0,40 0,60 0,80 0,90


EMV 0,67 0,67 0,67 0,50 0,50 0,50
Penyelesaian
1. Gambar diagram x-y
. 4
0 = 1+(1) = 1+3

2. Melukis garis q
F1 = cair jenuh
HF1 = HL
1
= =1

1 1
= 1 = 11 = 0 = ~

Garis q untuk F1 dapat dilukis dari titik y = x = 0,5 dengan arah tegak luruh
ke atas,
Penyelesaian
F2 = uap jenuh
HF1 = HV
1
= =0

0
= = =0
1 01

garis q untuk F2 dapat dilukis dari titik y = x = 0,35 dengan arah


mendatar ke kiri.
Penyelesaian
3. Melukis persamaan garis operasi
Persamaan garis operasi atas
=+
Neraca komponen
= +
Pada plate ke n

+1 = +

Penyelesaian
Persamaan garis operasi tengah
+ 1 = +
+ 1 1 = +
Pada plate ke m
1 1
+1 = +
Persamaan garis operasi bawah
=+
= +
Plate N

=
Penyelesaian
4. Menghitung parameter neraca bahan
Neraca bahan total
1 + 2 = +
50 + 100 = +
150 = + (1)
Neraca komponen a
1 1 + 2 2 = +
50 0,5 + 100 0,35 = 0,9 + 0,05
60 = 0,9 + 0,05 (2)
Eliminasi (1) dan (2) didapat
D = 61,75 lbmol/jam W = 88,25 lbmol/jam
Penyelesaian
L = R. D = 1,5x61,75 = 92,625 lbmol/jam
V = L + D = 92,625 + 61,75 = 154,375 lbmol/jam
LL
=q=1
F1

L = F1 + L = 50 + 92,625 = 142,625 lbmol/jam


V = V = 154,375 lbmol/jam

F2 + V + L = V + L
LL
=q=0
F2

lbmol
L = L = 142,625
jam

V = V F2 = 54,375 lbmol/jam
Penyelesaian
5. Melukis garis operasi :
1. Garis operasi atas dapat dilukis dari titik y=x=0,9 dengan :
a. Slope = L/V = 92,625/154,375 = 0,6 atau
b. Intersep = = 61,75 154,375 0,9 = 0,36

2. Garis operasi tengah dapat dilukis dari titik potong antara garis operasi
atas dengan garis qF1 dengan :
a. Slope = L V = 142,625 154,375 = 0,923 atau
b. Titik potong garis operasi bawah dengan garis qFII
DxD F1 XF1 61,75 0,9 50 0,05
c. Intersep = V
= 154,375
= 0,20

3. Garis operasi bawah dapat dilukis dari titik y=x=0,05 dengan


L 142,625
a. Slope = V = 154,375 = 2,63
Wxw 88,25
b. Intersep = V
= 54,375
0,05 = 0,081
Penyelesaian
6. Melukis kurva aktual
+1
=
+1

Untuk xn = 0,05 EMV = 0,67


Dari titik 0,05 dibuat garis lurus keatas kemudian cari titik potongnya
dengan garis operasi dan kurva seimbang, misalkan pada titik A dan C. A
(0,05; 0,05) dan C (0,05;0,18).
0,05
0,67 =
0,180,05

= 0,14

Xa 0,05 0,20 0,40 0,60 0,80 0,90


EMV 0,67 0,67 0,67 0,50 0,50 0,50
0,14 0,46 0,68 0,79 0,89 0,935
Korelasi Empiris
Efisiensi plate dapat dinyatakan sebagai fungsi dari viskositas dan
sifat penguapan relatif suatu komponen.
Korelasi ini hanya menggunakan (1) atau (2) perubah saja sehinggah
tidak dapat digunakan untuk sistem yang kompleks.
Terbagi menjadi
1. Korelasi Drickamer dan Bradfort
2. Korelasi OConnel
1. Korelasi Drickamer dan Bradfort
Pengaruh viskositas terhadap efisiensi kolom telah diteliti oleh
Drickamer Bradfort dan korelasinya dinyatakan oleh persamaan:

= .

Dimana
Eo = Efisiensi kolom, %
avg = viskositas umpan rata rata, Cp.
1. Korelasi Drickamer dan Bradfort
Dalam bentuk grafik, hubungan antara avg dengan Eo
2. Korelasi O'Connel
O'Connel mempelajari pengaruh viskositas dan sifat penguapan relatif komponen kunci ringan
terhadap komponen kunci berat kaitannya dengan efisiensi kolom.

= . . + . ( ) + . ( + )

Dimana :

Sm = Static Submergence, ft

= Tinggi slot, ft

= Laju alir cairan. Ibmole/jam

= Laju alir uap, Ibmole/jam

= Sifat penguapan relatif Lk Hk

Favg = viskositas umpan pada suhu rata rata kolom.


2. Korelasi O'Connel

Efisiensi kolom dari korelasi OConnel untuk Distilasi dengan Bubble Cap Tray
Contoh Soal 5
Menara fraksinasi dirancang untuk memisahkan campuran hidrokarbon
yang terdiri dari 50% mol C3H8, 30% mole C3H6 dan 20% mole n-C4H10.
Diharapkan hasil puncak dan dasar masing-masing mengandung
minimal 98 % mole C3 dan maksimal 1 % mole C3. Hitunglah efisiensi
kolom dan Jumlah plate aktual
Komponen (atm)
C3H8 17.40
C3H6 20.24
n-C4H10 5.00

Komponen Tc (oC) Pc (oC)


C3H8 91.4 45.4
C3H6 96.8 42.0
Penyelesaian
Dari penyelesaian contoh soal 2 diperoleh
1. Distribusi komposisi seimbang pada puncak menara (T=122oF)
Komponen y K x = y/K
C3H6 0,98 1,0 0,98
C3H8 0,02 0,9 0,018

2. Distribusi komposisi seimbang pada puncak menara (T=160oF)


Komponen y K x = y/K
C3H6 0,01 1,30 0,0130
C3H8 0,70 1,20 0,8400
n-C4H8 0,29 0,45 0,1305
Penyelesaian
3. Menghitung avg
1,0
= C3H6 = 0,9 = 1,11
C3H8
1,3
= C3H6 = 1,2 = 1,0833
C3H8
= 1,0965

4. Menghitung viscositas pada Tavg Komponen , Cp


122+160 C3H6 0,07
= = 141 F
2 C3H8 0,08
n-C4H8 0,14
Penyelesaian
Komponen xf
C3H6 0,30
C3H8 0,50
n-C4H8 0,20

avg = 0,30 0,07 + 0,50 0,08 + 0,20 0,14 = 0,089 Cp


avg avg = 1,0965 x 0,089 = 0,0976
Nideal = 108 buah (dari contoh 2)
Penyelesaian
Dengan metode Drickamer dan Bradfort

avg = 0,089 Cp

Dengan menggunakan Tabel korelasi Drickamer dan Bradfort E0 = 0,8


Nideal 108
Naktual = = = 135 buah
E0 0,8

Dengan metode OConnel

avg avg = 1,0965 x 0,089 = 0,0976

Dengan menggunakan Tabel korelasi OConnel didapat E0 = 0,9

Nideal 108
Naktual = = = 120 buah
E0 0,9
0,8
0,9
Penentuan Diameter Kolom
Penentuan Diameter Kolom
Diameter Tray Tower, ditentukan berdasarkan kecepatan linier uap V
dibawah kecepatan linier uap maksimal VF dimana banjir atau
"flooding" tepat terjadi.
Banjir atau "Flooding" adalah peristiwa tergenangnya tray oleh cairan
yang boleh jadi disebabkan
1. Naiknya kecepatan uap, sementara kecepatan cairannya tetap.
2. Naiknya kecepatan cairan, sementara kecepatan uapnya tetap.
Flooding, harus dihindari. Sebab tergenangnya tray oleh cairan akan
menurunkan efisiensi pemisahaan.
Penentuan Diameter Kolom
Dalam perancangan, digunakan kecepatan linier uap sebagai berikut :
1. Jika campuran yang akan dipisahkan cenderung mudah membentuk buih, v = 0,75 VF
2. Jika campuran yang akan dipisahkan tidak mudah membentuk buih, v = 0,85 VF
Kecepatan linier uap VF dimana banjir tepat terjadi dihitung dengan persamaan:


= ( )

Dimana :
VF = Kecepatan linier uap dimana banjir terjadi, ft/dt
CF = Konstanta yang harganya tergantung pada jenis tray
= density cairan Ib/cuft
= density gas lb/cuft
Penentuan Diameter Kolom
Konstanta CF dapat dihitung dengan bantuan persamaan :
1. Bubble Cap Tray
1 0.2
= log 0.5 +
20

2. Perforated / Sieve Tray


1 0.2 5
= log 0.5 + + 0.5
20

Penentuan Diameter Kolom
Dimana
L, V = Kecepatan massa cairan ; gas, lb/jam, ft2
= Tegangan permukaan cairan, lb/ft
a;b = Konstanta yang harganya tergantung pada jenis tray dan
rentang batas harga 0.5

Ah = Luas lobang per tray


Aa = Luasan aktif
Penentuan Diameter Kolom
Penentuan Diameter Kolom
Diameter kolom, ft Tray Spacing, in
Kurang dari 4 ft 18 - 20
4 - 10 24
10 - 12 30
12 - 24 36
Penentuan Diameter Kolom
Secara grafis, kecepatan linier uap maksimal dimana banjir tepat terjadi dapat
diperkirakan dengan menggunakan korelasi Fair's
Korelasi ini, penggunaannya terbatas pada suatu sistem
1. Tegangan permukaannya 20 Dyne/cm
Untuk sistem dengan tegangan permukaan lain, maka harga parameter Csb,
perlu dikoreksi dengan :
Csb / (Csb)=20 = (/20)0,2
2. Perbandingan luas lobang tiap luasan aktif = 0,10.
Untuk harga luas lobang tiap luasan aktif 0,08 dan 0,06 maka harga Csb perlu
dikalikan dengan 0,90 dan 0,80.
3. Tidak atau hanya sedikit menimbulkan buih.
Penentuan Diameter Kolom

korelasi Fair's
Penentuan Diameter Kolom
Pada suatu nilai absis (L/V) (v/L)0.5 tertentu, maka harga ordinat Csb dapat
dibaca pada berbagai tray spacing , t. Dari harga Csb, maka kecepatan linier
uap dimana-flooding terjadi dapat dihitung.

=
( )0.5
Diameter kolom D dapat dihitung dengan persamaan
4
= =

Dimana
Q = Kecepatan volume uap, ft3/dt
V = Kecepatan linier uap, tergantung pada sifat campuran, ft/dt
Contoh Soal 6
Tray Tower yang bekerja pada tekanan 1 atm direncanakan untuk memisahkan
campuran 60% mol benzene dan 40% mol Toluene. Diharapkan hasil puncak dan
dasar masing-masing mengandung 95% dan 5% mol benzene. Jika umpan
dimasukkan pada titik didihnya dengan kecepatan 13.100 lb/jam. Hitunglah
diameter jika tray yang dipakai adalah jenis sieve tray dimana luas downcomer
adalah 12% dari luas penampang menara.
Data :
Densitas cairan rata-rata = 43,3 lb/ft3
Densitas uap pada puncak dan dasar menara : 0,168 dan 0, 182 lb/ft3
Viskositas cairan rata-rata = 0,32 cp
Perbandingan refluk = 4
Tegangan permukaan = 20 Dyne/cm
0,43
0,425