Anda di halaman 1dari 19

TOXOPLASMOSIS

1.1 Definisi
Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi pada manusia dan hewan yang
disebabkan oleh Toxoplasma gondii. Toxsoplasma adalah parasit protozoa dengan
sifat alami dengan perjalanannya dapat akut atau menahun, juga dapat
menimbulkan gejala simtomatik maupun asimtomatik (Dinah Gould, 2003).
Toxoplasmosis merupakan infeksi serius pada orang dengan gangguan
kekebalan terutama pengidap virus HIV, terjadi reaktivasi infeksi laten yang
menimbulkan toksoplasmosis diseminata atau ensefalitis (Dinah Gould, 2003).
Ensefalitis toksoplasma merupakan penyebab tersering lesi otak fokal infeksi
oportunistik yang paling banyak terjadi pada pasien AIDS. Ensefalitis
toksoplasma muncul pada kurang lebih 10% pasien AIDS yang tidak diobati. Hal
ini disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii yang dibawa oleh kucing, burung
dan hewan lain yang dapat ditemukan pada tanah yang tercemar oleh tinja kucing
dan kadang pada daging mentah atau kurang matang (Dinah Gould, 2003).
1.2 Daur Hidup Toxoplasma gondii
Toxoplasma gondii hidup dalam 3 bentuk yaitu thachyzoite, tissue cyst (yang
mengandung bradyzoites) dan oocyst (yang mengandung sporozoites). Bentuk
akhir dari parasit diproduksi selama siklus seksual pada usus halus dari kucing.
Kucing merupakan pejamu definitif dari Toxoplasma gondii. Siklus hidup
aseksual terjadi pada pejamu perantara (termasuk manusia) Dimulai dengan
tertelannya tissue cyst atau oocyst diikuti oleh terinfeksinya sel epitel usus halus
oleh bradyzoites atau sporozoites secara berturut-turut. Setelah bertransformasi
menjadi tachyzoite, organisme ini menyebar ke seluruh tubuh lewat peredaran
darah atau limfatik (Indan Entjang, 2003).
Parasit ini berubah bentuk menjadi tissue cysts begitu mencapai jaringan
perifer. Bentuk ini dapat bertahan sepanjang hidup pejamu, dan berpredileksi
untuk menetap pada otak, myocardium, paru, otot skeletal dan retina (Richard,
1997).
Tissue cyst ada dalam daging, tapi dapat dirusak dengan pemanasan sampai
67oC, didinginkan sampai -20oC atau oleh iradiasi gamma. Siklus seksual entero-
epithelial dengan bentuk oocyst hidup pada kucing yang akan menjadi infeksius
setelah tertelan daging yang mengandung tissue cyst. Ekskresi oocysts berakhir
selama 7-20 hari dan jarang berulang. Oocyst menjadi infeksius setelah
diekskresikan dan terjadi sporulasi (pembentukan spora). Lamanya proses ini
tergantung dari kondisi lingkungan, tapi biasanya 2-3 hari setelah diekskresi.
Oocysts menjadi infeksius di lingkungan selama lebih dari 1 tahun (Indan
Entjang, 2003).
Transmisi pada manusia terutama terjadi bila makan daging babi atau domba
yang mentah yang mengandung oocyst. Bisa juga dari sayur yang terkontaminasi
atau kontak langsung dengan feces kucing. Selain itu dapat terjadi transmisi
lewat transplasental,transfusi darah, dan transplantasi organ. Infeksi akut pada
individu yang imunokompeten biasanya asimptomatik. Pada manusia dengan
imunitas tubuh yang rendah dapat terjadi reaktivasi dari infeksi laten. yang akan
mengakibatkan timbulnya infeksi oportunistik dengan predileksi di otak. Tissue
cyst menjadi ruptur dan melepaskan invasive tropozoit (tachyzoite). Tachyzoite
ini akan menghancurkan sel dan menyebabkan focus nekrosis (Indan Entjang,
2003).
Pada pasien yang terinfeksi HIV, jumlah CD 4 limfosit T dapat menjadi
prediktor kemungkinanan adanya infeksi oportunistik. Pada pasien dengan CD4
<200 sel/mL kemungkinan untuk terjadi infeksi oportunistik sangat tinggi.
Oportunistik infeksi yangmungkin terjadi pada penderita dengan CD4 <200
sel/mL adalah pneumocystis carinii, CD4 <100 sel/mL adalah toxoplasma gondii,
dan CD4 <50 adalah M. Avium Complex, sehingga diindikasikan untuk pemberian
profilaksis primer. M. tuberculosis dan candida species dapat menyebabkan
infeksi oportunistik pada CD4 >200 sel/mL (Dinah Gould, 2003).
1.3 Etiologi
Toksoplasmosis disebabkan oleh agen infeksi Toxoplasma gondii, suatu
protozoa intraseluler coccidian pada kucing, masuk dalam famili Sarcocystidae
dan kelas Sporozoa. Parasit ini terdiri dari empat bentuk yaitu Tachyzoid yang
secara cepat memperbanyak diri pada jaringan organisme, Bradyzoit yang
memperbanyak diri secara lambat pada jaringan, Pseudocyst, dan Oocyst
(Knapen, 2008).
Siklus hidup Toxoplasma gondii :
a. Fase seksual
Berlangsung pada Hospes definitif dari T. Gondii (kucing) dan jenis Feliidae.
Siklus seksual berlansung dalam epitel usus kucing yang kemudian berakhir
dengan pembentukan Oocyst yang dikeluarkan bersama tinja (10-20 hari atau
bisa lebih lama). Oocyst berbentuk oval dengan diameter 10-20 dan berisi 8
sporozoit di dalam 2 sporokista.
b. Fase aseksual
T. gondii mengalami siklus reproduksi aseksual di semua spesies. Kista
jaringan atau oocyst larut selama digesti, menghasilkan bradizoit atau
sporozoit, yang masuk ke lamina propria pada usus kecil dan mulai untuk
memperbanyak diri sebagai takizoid. Takizoid dapat menyebar pada jarinngan
eksternal dengan waktu singkat melalui limfe dan darah. Mereka dapat masuk
pada beberapa sel dan memperbanyak diri. Sel dari host akhirnya pecah dan
menghasilkan takizoid masuk ke sel yang baru. Ketika host berkembang
menjadi resisten, kira-kira 3 minggu setelah infeksi, takizoid mulai
menghilang dari dalam jaringan dan menjadi bentuk resting bradizoid dalam
kista jaringan (Knapen, 2008).
1.4 Manifestasi Klinik
Umumnya infeksi Toxoplasma gondii ditandai dengan gejala seperti infeksi
lainnya yaitu demam, malaise, nyeri sendi, pembengkakan kelenjar getah bening
(toxoplasmosis limfonodosa acuta). Gejala mirip dengan mononukleosis
infeksiosa. Infeksi yang mengenai susunan syaraf pusat menyebabkan
encephalitis (toxoplasma cerebralis acuta). Parasit yang masuk ke dalam otot
jantung menyebabkan peradangan. Lesi pada mata akan mengenai khorion dan
rentina menimbulkan irridosklitis dan khorioditis (toxoplasmosis ophithal mica
akuta). Bayi dengan toxoplamosis kongenital akan lahir sehat tetapi dapat pula
timbul gambaran eritroblastosis foetalis, hidrop foetalis (Institute for
International Cooperation in Animal Biologics, 2005).

Tanda-tanda yang terkait dengan toksoplasmosis yaitu (Medows, 2005):


a. Toxoplasma pada orang yang imunokompeten
Biasanya terdapat pembengkakan kelenjar getah bening (sering di leher).
Gejala lain bisa termasuk demam, malaise, keringat malam, nyeri otot, ruam
makulopapular dan sakit tenggorokan.
b. Toxoplasmosis pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah
Toxoplasmosis pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah misalnya,
pasien dengan AIDS dan kanker. Pada pasien ini, infeksi mungkin
melibatkan otak dan sistem syaraf, menyebabkan ensefalitis dengan gejala
termasuk demam, sakit kepala, kejang-kejang dan masalah penglihatan,
ucapan, gerakan atau pemikiran. Manifestasi lain dari penyakit ini termasuk
penyakit paru-paru, menyebabkan demam, batuk atau sesak nafas dan
miokarditis dapat menyebabkan gejala penyakit jantung, dan aritmia.
c. Toxoplasma Okular
Toksoplasmosis okular oleh uveitis, sering unilateral, dapat dilihat pada
remaja dan dewasa muda, sindrom ini sering merupakan akibat dari infeksi
kongenital tanpa gejala atau menunda hasil infeksi postnatal. Infeksi
diperoleh pada saat atau sebelum kehamilan sehingga menyebabkan bayi
toksoplasmosis bawaan. Banyak bayi yang terinfeksi tidak menunjukkan
gejala saat lahir, namun sebagian besar akan mengembangkan pembelajaran
dan cacat visual atau bahkan yang parah.
d. Toksoplasmosis pada wanita hamil
Pada kondisi tertentu, infeksi pada wanita selama kehamilan menyebabkan
abortus spontan, lahir mati, dan kelahiran prematur. Aborsi dan stillbirths
juga dapat dipertimbangkan, terutama bila infeksi terjadi pada trimester
pertama. Tanda dan gejalanya yaitu penglihatan kabur, rasa sakit, fotofobia,
dan kehilangan sebagian atau seluruh keseimbangan tubuh.
e. Toxoplasmosis congenital
Bayi yang terinfeksi selama kehamilan trimester pertama atau kedua yang
paling mungkin untuk menunjukkan gejala parah setelah lahir. Tanda-
tandanya yaitu demam, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit kuning
(menguningnya kulit dan mata), sebuah kepala yang sangat besar atau
bahkan sangat kecil, ruam, memar, pendarahan, anemia, dan pembesaran
hati atau limpa. Mereka yang terinfeksi selama trimester terakhir biasanya
tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi pada kelahiran, tetapi mungkin
menunjukkan tanda-tanda toksoplasmosis okular atau penundaan
perkembangan di kemudian hari.
1.5 Patofisiologi
Toxoplasma gondii yang tertelan melalui makanan akan menembus epitel
usus dan difagositosis oleh makrofag atau masuk ke dalam limfosit akibatnya
terjadi penyebaran limfogen. Toxoplasma gondii akan menyerang seluruh sel
berinti, membelah diri dan menimbulkan lisis, destruksi sel tersebut akan
berhenti bila tubuh telah membentuk antibodi. Pada organ tubuh, seperti susunan
saraf dan mata, antibodi tidak dapat masuk karena ada sawar (barier) sehingga
destruksi akan terus berjalan. Oocysts memiliki daya tahan yang tinggi terhadap
kondisi lingkungan dan dapat tetap infeksius selama 18 bulan pada air, cuaca
panas, dan tanah yang basah. Mereka tidak dapat bertahan dengan baik pada
tanah yang gersang dan iklim dingin. Kista jaringan dapat infeksius selama
berminggu-minggu pada darah di suhu kamar, dan pada daging selama daging
tersebut dapat dimakan dan kurang matang. Takizoid lebih rentan dan dapat
bertahan pada tubuh selama berhari-hari dan di seluruh aliran darah selama 50
hari pada suhu 400 C. Pada manusia, periode inkubasi terjadi selama 10 sampai
23 hari setelah mengkonsumsi daging yang terkontaminasi dan 5 sampai 20 hari
setelah terpapar kucing yang terinfeksi. Infeksi dapat diperoleh dari makan
makanan mentah atau kurang matang yang terinfeksi (daging babi atau
domba,dan lebih jarang pada daging sapi) yang mengandung kista jaringan, atau
ingesti dari infeksi oocysts pada makanan atau minuman yang terkontaminasi
feces kucing. Infeksi dapat terjadi pada tranfusi darah atau transplantasi organ
dari pendonor yang terinfeksi. Selama invasi akut parasit Toxoplasma
(proliferatif fase, takizoit), ada kerusakan ringan jaringan utama (Nekrosis)
(Knapen, 2008).

Sarang-sarang nekrosa dapat ditemukan di dalam paru, hati, limpa, anak


ginjal, dan sel-sel disekitar. Sarang-sarang ini mengandung toxoplasmosis yang
tergabung dalam kolonikoloni terminal (Pseudo-cysts) atau parasit-parasit itu
terletak bebas dalam jaringan-jaringan. Toxoplasma banyak dijumpai didalam
sel-sel pada tepi ulkus-ulkus usus.
Didalam otak parasit ini terlihat didalam sel-sel glia atau neuron sebagai
parasit intra selluler atau sebagai koloni-koloni terminal (pseudocysts). Protozoa
ini juga berada bebas dalam jaringan. Reaksi radang umumnya jelas terlihat,
sebagai gliosis, mikroglia, atau astrosit-astrosit. Penyerbukan limfosit-limfosit
dalam ruang virchow robin, disamping nekrosa lokal jaringan otak. Juga terjadi
proliferasi sel-sel adventisia, disamping nekrosa lokal jaringan otak. Perubahan-
perubahan itu paling banyak terdapat dalam cortex cerebralis. Parasit itu juga
bisa dijumpai pada selaput otak.
Hati memperlihatkan perdarahan local, yaitu gambaran degenerasi dan
reaksi seluler disamping sarang-sarang nekrosa tersebut di atas. Parasit dapat
ditemukan di dalam makrofag atau di dalam sel-sel hati. Di dalam limpa kadang-
kadang di jumpai sel-sel reticulum dan makrofag. Parasit-parasit terlihat di
dalam miokard yakni didalam makrofag atau didalam miofibril.

1.6 Pemeriksaan Penunjang


Uji laboratorium biasanya digunakan untuk diagnosis. Beberapa pemeriksaan
diagnostik yang biasanya dilakukan diantaranya :
a. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan antibodi spesifik
toksoplasma, yaitu IgG, IgM dan IgG affinity.
IgM adalah antibodi yang pertama kali meningkat di darah bila terjadi
infeksi toksoplasma.
IgG adalah antibodi yang muncul setelah IgM dan biasanya akan
menetap seumur hidup pada orang yang terinfeksi atau pernah terinfeksi.
IgG affinity adalah kekuatan ikatan antara antibodi IgG dengan
organisme penyebab infeksi. Manfaat IgG affinity yang dilakukan pada
wanita yang hamil atau akan hamil karena pada keadaan IgG dan IgM
positif diperlukan pemeriksaan IgG affinity untuk memperkirakan kapan
infeksi terjadi, apakah sebelum atau pada saat hamil. Infeksi yang terjadi
sebelum kehamilan tidak perlu dirisaukan, hanya infeksi primer yang
terjadi pada saat ibu hamil yang berbahaya, khususnya pada trimester I.
1) Bila IgG (-) dan IgM (+)
Kasus ini jarang terjadi, kemungkinan merupakan awal infeksi. Harus
diperiksa kembali 3 minggu kemudian dilihat apakah IgG berubah jadi
(+). Bila tidak berubah, maka IgM tidak spesifik, yang bersangkutan
tidak terinfeksi toksoplasma.
2) Bila IgG (-) dan IgM (-)
Belum pernah terinfeksi dan beresiko untuk terinfeksi. Bila sedang
hamil, perlu dipantau setiap 3 bulan pada sisa kehamilan (dokter
mengetahui kondisi dan kebutuhan pemeriksaan anda). Lakukan
tindakan pencegahan agar tidak terjadi infeksi.
3) Bila IgG (+) dan IgM (+)
Kemungkinan mengalami infeksi primer baru atau mungkin juga
infeksi lampau tapi IgM nya masih terdeteksi. Oleh sebab itu perlu
dilakukan tes IgG affinity langsung pada serum yang sama untuk
memperkirakan kapan infeksinya terjadi, apakah sebelum atau
sesudah hamil.
4) Bila IgG (+) dan IgM (-)
Pernah terinfeksi sebelumnya. Bila pemeriksaan dilakukan pada awal
kehamilan, berarti infeksinya terjadi sudah lama (sebelum hamil) dan
sekarang telah memiliki kekebalan, untuk selanjutnya tidak perlu
diperiksa lagi.
b. Pemeriksaan cairan serebrospinal
Menunjukkan adanya pleositosis ringan dari mononuklear predominan dan
elevasi protein.
c. Pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR)
Digunakan untuk mendeteksi DNA Toxoplasmosis gondii. Polymerase Chain
Reaction (PCR) untuk Toxoplasmosis gondii dapat juga positif pada cairan
bronkoalveolar dan cairan vitreus atau aquos humor dari penderita
toksoplasmosis yang terinfeksi HIV. Adanya PCR yang positif pada jaringan
otak tidak berarti terdapat infeksi aktif karena tissue cyst dapat bertahan lama
berada di otak setelah infeksi akut.
d. CT scan
Menunjukkan fokal edema dengan bercak-bercak hiperdens multiple dan
biasanya ditemukan lesi berbentuk cincin atau penyengatan homogen dan
disertai edema vasogenik pada jaringan sekitarnya. Ensefalitis toksoplasma
jarang muncul dengan lesi tunggal atau tanpa lesi.
e. Biopsi otak
Untuk diagnosis pasti ditegakkan melalui biopsi otak
1.7 Penatalaksanaan
Obat-obat yang dipakai sampai saat ini hanya membunuh bentuk takizoid T.
gondii dan tidak membasmi bentuk kistanya, sehingga obat-obat ini dapat
memberantas infeksi akut, tetapi tidak dapat menghilangkan infeksi menahun,
yang dapat menjadi aktif kembali. Obat-obatan yang biasanya dipakai :
a. Spiramisin
Antibiotik makrolida yang dihasilkan oleh Streptomyces ambofaciens yang
bekerja dengan cara menghambat sintesa protein bakteri. Spiramisin efektif
terhadap kuman Stafilokokus, Streptokokus, Pneumokokus, Bordetella
pertusis. Obat ini dapat diberikan pada wanita hamil yang mendapat infeksi
primer, sebagai obat profilaksis untuk mencegah transmisi T. gondii ke janin
dalam kandungannya. Dewasa : 500 mg, 3 x sehari selama 5 hari. Pada
infeksi berat, dosis dapat ditingkatkan sampai maksimal 3000 mg/hari. Anak-
anak : sehari 50-100 mg/kg berat badan terbagi dalam 2-3 dosis. Efek
samping yang serius dari spiramisin namun sangat jarang seperti mual,
muntah, diare, nyeri epigastrik, ruam kulit dan urtikari.
b. Kombinasi pirimetamin dan sulfadiazine
Kedua obat ini dapat melalui sawar-darah otak. Parasit Toxoplasma gondii
membutuhkan vitamin B untuk hidup. Pirimetamin menghambat pemerolehan
vitamin B oleh tokso. Sulfadiazin menghambat penggunaannya. Dosis normal
obat ini adalah 50-75mg pirimetamin dan 2-4g sulfadiazin per hari. Kedua
obat ini mengganggu ketersediaan vitamin B dan dapat mengakibatkan
anemia. Orang dengan tokso biasanya memakai kalsium folinat (semacam
vitamin B) untuk mencegah anemia.
c. Pasien yang alergi terhadap sulfa dapat diberikan kombinasi pirimetamin 50-
100 mg perhari dengan clindamicin 450-600 mg tiap 6 jam. Pemberian asam
folinic 5-10 mg perhari untuk mencegah depresi sumsum tulang.
d. Pasien alergi terhadap sulfa dan clindamicin, dapat diganti dengan
Azitromycin 1200mg/hr, atau claritromicin 1 gram tiap 12 jam, atau
atovaquone 750 mg tiap 6 jam. Terapi ini diberikan selam 4-6 minggu atau 3
minggu setelah perbaikan gejala klinis.
e. Terapi anti retro viral (ARV) diindikasikan pada penderita yang terinfeksi
HIVdengan CD4 kurang dari 200 sel/mL, dengan gejala (AIDS) atau limfosit
totalkurang dari 1200.
Pengobatan pada ibu hamil (Gnansia, 2003) :
Sebelum 30 minggu
1) jika toxoplasma tidak terdeteksi dengan cairan amniotik dan jika test
ultrasonografi normal, maka menggunakan spiramycin dengan 9 juta
UI per hari sampai persalinan.
2) jika toxoplasma terdeteksi pada cairan amniotik fluid dan jika test
ultrasound normal, maka menggunakan pyrimethamine dan
sulfonamides, bersama dengan folic acid. Pada kasus cerebral
microcalcifications atau hydrocephaly didiagnosis dengan ultrasound,
seebuah penghentian kehamilan dapat diajukan ke orangtua.
Setelah 30 minggu, resiko transmisi transplasenta tinggi, maka
pengobatan menggunakan pyrimethamine dan sulfonamides.
Ketika lahir, meskipun tidak ada bukti transmisi toxoplasma melalui
placenta, infeksi congenital tidak dapat dihilangkan. Hal tersebut
kemudian dipastikan untuk menguji kelahiran baru dengan
transfontanellar ultrasonography dan ophthalmologic surveillance. Jika
uji klinik dan serologi negatif, tidak ada pengobatan. Infeksi pada anak
harus diobati dengan pyrimethamine and sulfonamides selama 12 bulan.
Pengobatan pada bayi
Pirimetamin 2 mg/kg selama dua hari, kemudian 1 mg/kg/hari selama 2-6
bulan, di ikuti dengan 1 mg/kg/hari 3 kali seminggu, ditambah
Sulfadiazin atau trisulfa 100 mg/kg/hari yang terbagi dalam dua dosis,
ditambah lagi
Asam folinat 5 mg/dua hari, atau dengan pengobatan kombinasi
Spiramisin dosis 100 mg/kg/hari dibagi 3 dosis, selang-seling setiap bulan
dengan pirimetamin
Prednison 1 mg/kg/hari dibagi dalam 3 dosis sampai ada perbaikan korio-
retinitis. Perlu dilakukan pemeriksaan serologis ulangan untuk menentukan
apakah pengobatan masih perlu diteruskan
1.8 Pencegahan
Terdapat beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari
penyakit toksoplasmosis, antara lain (Chin, 2000):
1) Mendidik ibu hamil tentang langkah-langkah pencegahan:
Gunakan iradiasi daging atau memasak daging pada suhu 1500F (660C)
sebelum dimakan. Pembekuan daging tidak efektif untuk menghilangkan
Toxoplasma gondii.
Ibu hamil sebaiknya menghindari pembersihan sampah panci dan kontak
dengan kucing. Memakai sarung tangan saat berkebun dan mencuci
tangan setelah kerja dan sebelum makan.
2) Makanan kucing sebaiknya kering, kalengan atau rebus dan mencegah kucing
tersebut berburu (menjaga mereka sebagai hewan peliharaan dalam ruangan).
3) Menghilangkan feses kucing (sebelum sporocyst menjadi infektif). Feses
kucing dapat dibakar atau dikubur. Mencuci tangan dengan bersih setelah
memegang material yang berpotensial terdapat Toxoplasma gondii.
4) Cuci tangan sebelum makan dan setelah menangani daging mentah atau
setelah kontak dengan tanah yang mungkin terkontaminasi kotoran kucing.
5) Control kucing liar dan mencegah mereka kontak dengan pasir yan digunakan
anak-anak untuk bermain.
6) Penderita AIDS yang telah toxoplasmosis dengan gejala yang parah harus
menerima pengobatan profilaksis sepanjang hidup dengan pirimetamin,
sulfadiazine dan asam folinic.
1.9 Toxoplasmosis Sebagai Komplikasi Hiv/Aids
Infeksi oportunistik dapat terjadi akibat penurunan kekebalan tubuh pada
penderita HIV/AIDS. Infeksi tersebut dapat menyerang sistem saraf yang
membahayakan fungsi dan kesehatan sel saraf.
Setelah infeksi oral, bentuk tachyzoite atau invasif parasit dari Toxoplasma
gondii menyebar ke seluruh tubuh. Takizoit menginfeksi setiap sel berinti, di
mana mereka berkembang biak dan menyebabkan kerusakan. Permulaan
diperantarai sel imun terhadap T gondii disertai dengan transformasi parasit ke
dalam jaringan kista yang menyebabkan infeksi kronis seumur hidup.
Mekanisme bagaimana HIV menginduksi infeksi oportunistik seperti
toxoplasmosis sangat kompleks. Ini meliputi deplesi dari sel T CD4, kegagalan
produksi IL-2, IL-12, dan IFN-gamma, kegagalan aktivitas sitokin yang
dihasilkan limfosit T. Sel-sel dari pasien yang terinfeksi HIV menunjukkan
penurunan produksi IL-12 dan IFN-gamma secara in vitro dan penurunan
ekspresi dari CD 154 sebagai respon terhadap Toxoplasma gondii. Hal ini
berperan penting dalam perkembangan toxoplasmosis dihubungkan dengan
infeksi HIV. Pada pasien yang terinfeksi HIV, jumlah CD4 limfosit T dapat
menjadi prediktor untuk validasi kemungkinanan adanya infeksi oportunistik.
Pada pasien dengan CD4 < 200sel/mL kemungkinan untuk terjadi infeksi
oportunistik sangat tinggi.
1.10 Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
Dalam tahap ini akan dikumpulkan identitas klien, riwayat kesehatan,
riwayat kesehatan keluarga, riwayat psikososial, pola-pola fungsi kesehatan,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Riwayat kesehatan meliputi riwayat penyakit dahulu yang terdiri dari
riwayat masuk rumah sakit, penyakit yang diderita, riwayat alergi dan obat-
obatan yang sering digunakan. Riwayat penyakit sekarang meliputi keluhan
utama dari klien seperti sesak, batuk, demam, nyeri abdomen, berkeringat
serta sejak kapan gejala-gejala tersebut timbul.
Riwayat keluarga meliputi penyakit yang pernah diderita anggota
keluarga yang mungkin ada hubungannya dengan kondisi klien, riwayat
penyakit keturunan seperti asma, DM, penyakit jantung dan genogram
keluarga klien.
Riwayat psikososial menyatakan tingkat perasaan/ emosi klien dan
keberadaan klien dalam keluarga.
Pada pola-pola fungsi kesehatan meliputi keadaan nutrisi seperti
adanya alergi terhadap makanan, berat badan tidak sesuai dengan tinggi
badan, apakah ada muntah, mual dan nyeri abdomen. Pola eliminasi seperti
kesulitan miksi dan frekuensinya. Pola tidur yang meliputi lamanya tidur,
apakah susah tidur akibat sesak. Pola aktifitas seperti sesak waktu
beraktifitas.
Data dasar yang biasanya didapat pada klien adalah :
1. Aktivitas/istirahat
Gejala : mudah lelah, berkurangnya toleransi terhadap aktifitas,
kelelahan.
Tanda : kelemahan otot, nyeri otot, menurunnya massa otot, respon
fisiologi terhadap aktifitas.
2. Sirkulasi
Gejala : demam, proses penyembuhan luka yang lambat, perdarahan
lama bila cedera
Tanda : suhu tubuh meningkat, berkeringat, takikardia, mata cekung,
anemis, perubahan tekanan darah postural, volume nadi perifer
menurun, pengisian kapiler memanjang.
3. Integritas ego
Gejala : merasa tidak berdaya, putus asa, rasa bersalah, kehilangan
kontrol diri, dan depresi
Tanda : mengingkari, cemas, depresi, takut, menarik diri, marah,
menangis, kontak mata kurang.
4. Eliminasi
Gejala : diare, nyeri pinggul, rasa terbakar saat berkemih.
Tanda : feces encer disertai mucus atau darah, nyeri tekan abdominal,
lesi pada rectal, ikterus, perubahan dalam jumlah warna urin.
5. Makanan/cairan
Gejala : tidak ada nafsu makan, mual, muntah, sakit tenggorokan.
Tanda : penurunan BB yang cepat, bising usus yang hiperaktif, turgor
kulit jelek, lesi pada rongga mulut, adanya selaput putih/perubahan
warna mukosa mulut.
6. Hygiene
Tanda : tidak dapat menyelesaikan ADL, mempeliahtkan penampilan
yang tidak rapi.
7. Neurosensorik
Gejala : pusing, sakit kepala, photofobia.
Tanda : perubahan status mental, kerusakan mental, kerusakan
sensasi, kelemahan otot, tremor, penurunan visus, bebal, kesemutan
pada ekstrimitas.
8. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri umum atau lokal, sakit, nyeri otot, sakit tenggorokan,
sakit kepala, nyeri dada pleuritis, nyeri abdomen.
Tanda : pembengkakan pada sendi, hepatomegali, nyeri tekan,
penurunan ROM, pincang.

9. Pernapasan
Tanda : terjadi ISPA, napas pendek yang progresif, batuk
produktif/non, sesak pada dada, takipneu, bunyi napas tambahan,
sputum kuning.
10. Keamanan
Gejala : riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka lambat proses
penyembuhan.
Tanda : demam berulang.
11. Seksualitas
Tanda : riwayat perilaku seksual resiko tinggi, penurunan libido,
penggunaan kondom yang tdk konsisten, lesi pada genitalia,
keputihan.
12. Interaksi social
Tanda : isolasi, kesepian, perubahan interaksi keluarga, aktifitas yang
tidak terorganisir.
b. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri kronik berhubungan dengan adanya proses infeksi atau inflamasi.
2) Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme dan penyakit,
ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, tubuh menggigil.
3) Kekurangan volume caiaran berhubungan dengan tidak adekuat masukan
makanan dan cairan.
c. Rencana Keperawatan
d. Diagnosa keperawatan e. Rencana Keperawatan
g. Tujuan dan kriteria hasil h. Intervensi
i. Nyeri kronik berhubungan o. NOC : t. NIC :
dengan adanya proses infeksi - Comfort level 1. Pantau tanda-tanda vital
atau inflamasi - Pain control 2. Monitor kpuasan pasien terhadap manajemen nyeri
j. - Pain level 3. Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta
k. DS : p. Tujuan: keluarganya
q. Setelah dilakukan tindakan 4. Anjurkan istirahat selama fase akut
l. Melaporkan secara verbal
takut untuk injury berulang keperawatan selama 2 x 24 jam 5. Anjurkan teknik distruksi dan relaksasi
6. Tingkatkan tidur dab istirahat
m. DO : nyeri dapat berkurang, pasien dapat
7. Berikan situasi lingkungan yang kondusif
- Ganguan aktivitas tenang dan keadaan umum cukup 8. Libatkan keluarga untuk membantu pasien
- Anoreksia baik
- Perubahan pola tidur r.
- Respon simpatis (perubahan s. Kriteria Hasil:
BB, hipersensitif) - Klien mengungkapakan nyeri yang
n. dirasakan hilang dan terkontrol
- Klien tidak menyeringai kesakitan
- TTV dalam batasan normal
- Intensitas nyeri berkurang (skala nyeri
berkurang 1-10)
- Klien menunjukkan rileks, istirahat
tidur, peningkatan aktivitas dengan
cepat
u. Hipertermi berhubungan x. NOC : ag. NIC :
dengan peningkatan - Termoregulasi 1. Monitor tanda-tanda infeksi.
metabolisme dan penyakit, y. 2. Monitor tanda-tanda vital tiap 2 jam.
ditandai dengan peningkatan z. Tujuan: 3. Berikan suhu lingkungan yang nyaman bagi pasien.
suhu tubuh, tubuh menggigil aa. Setelah dilakukan tindakan Kenakan pakaian tipis pada pasien.
v. keperawatan selama 1x24 jam suhu 4. Kompres hangat, hindari penggunaan alkohol
5. Berikan cairan iv sesuai order atau anjurkan intake
w. DS/ DO: tubuh dapat dipertahankan dalam
cairan yang adekuat.
- Kenaikan suhu tubuh daiatas batas normal.
6. Berikan antipiretik, jangan berikan aspirin.
rentang normal ab. 7. Monitor komplikasi neurologis akibat demam.
- Serangan atau konvulsi (kejang) ac.
- Kulit kemerahan ad. Kriteria Hasil:
- Pertambahan RR
- Suhu antara 36o-37o c
- Takikardia
- RR dan nadi dalam batas normal
- Kulit teraba pabnas/hangat
- Membran mukosa lembab
- Kulit dingin dan bebas dari keringat
yang berlebih.
ae.
af.
ah. Kekurangan volume cairan al. NOC : ar. NIC :
berhubungan dengan tidak - Fluid balance 1. Kaji tanda-tanda dehidrasi.
adekuat masukan makanan - Hydration 2. Pantau Tanda-tanda vital, status membran mukosa dan
dan cairan - Nutritional status : food and fluid turgor kulit
ai. intake 3. Pantau tekanan darah atau denyut jantung
am. Tujuan: 4. Palpasi denyut perifer
aj. DS :
- Haus an. Setelah dilakukan tindakan5. Berikan minum per oral sesuai toleransi.
6. Atur pemberian cairan infus sesuai order.
ak. DO : keperawatan selama 1x24 jam,
7. Ukur semua cairan output (muntah, urine, diare)
- Penurunan turgor kulit asupan cairan adekuat 8. Ukur semua intake cairan.
- Membran mukosa kering ao.
- Peningkatan denyut nadi dan TD ap. Kriteria hasil:
- Konsentrasi urin dan temeratu - Memiliki keseimbangan asupan dan
tubh meningkat haluaran yang seimbang dalam 24 jam.
- Kehilangan BB secara tiba - Tanda-tanda vita, dalam batas normal
- Kelemahan - Membran mukosa lembab
- Nadi perifer teraba
- Menampilkan hidrasi yang baik
misalnya membran mukosa yang
lembab.
- Memiliki asupan cairan oral dan atau
intravena yang adekuat.
aq.
as. DAFTAR PUSTAKA
at.
au. Chin, James. 2000, Manual Pemberantasan Penyakit
Menular, 17th.ed., Infomedika, Jakarta. http://kumpulan-
askep3209.blogspot.co.id/2012/06/askep-hivaids-komplikasi-
toxoplasmosis.html
av. Entjang, Indan. 2003. Mikrobiologi Dan Parasitologi Untuk Akademi
Perawat Dan Sekolah Tenaga Kesehatan yang Sederajat. PT. CITRA
ADITIA BAKTI. Bandung
aw. Gould, Dinah dan Brooker, Christine. 2003. Mikrobiologi Terapan
untuk Perawat. Jakarta : EGC, pp. 89-90.
http://rizkyekasavitri.blogspot.co.id/2015/10/laporan-pendahuluan-hiv-
toxoplasmosis.html
ax. Nurarif, Amin Huda & Kusuma Hardhi, 2013. Aplikasi Asuhan
Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda NIC-NOC. Jilid 1.
Jogja : MediAction
ay. https://id.scribd.com/doc/154806679/HIV-infection-and-
toxoplasmosis-cerebri
az. http://dyahisahrahayu.blogspot.co.id/
ba.
bb.
bc.
bd.
be.
bf.
bg.
bh.
bi.
bj.
bk.
bl.
bm.
bn.
bo.
bp. LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
bq. PADA PASIEN DENGAN TOXOPLASMA
br. Di Ruang 23 Infeksi RS dr. Saiful Anwar Malang
bs.

bt.

bu.

bv.

bw.

bx.

by.

bz.

ca.
cb.
cc. Oleh :
cd. Devi Anggraeni
ce. 16143149011008
cf.
cg.
ch.
ci.
cj.
ck. SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARANI MALANG
cl. PROGRAM STUDI PROFESI NERS
cm. 2016
cn.
co.
cp.
cq. HALAMAN PENGESAHAN

cr. Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan

cs. Pada Pasien Dengan Toxoplasma

ct. Di Ruang 23 Infeksi RSUD dr. Saiful Anwar Malang

cu. Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners


cv.
cw. Disetujui pada :
cx. Hari :
cy. Tanggal :
cz.
da. Mahasiswa
db. Devi Anggraeni
dc. 16143149011008
dd.
Pembimbing Institusi Pembimbing Wahana Klinik
de.
df.
dg.
......................................... .........................................
dh.
di.
dj.
Mengetahui,
dk.
Kepala Ruang 23 RSUD dr. Saiful Anwar
dl.

dm.

dn.
.........................................
do.

dp.