Anda di halaman 1dari 55

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perilaku Merokok


Rokok menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah gulungan tembakau
kira-kira sebesar kelingking yang dibungkus daun nipah atau kertas (Afiati, 2015).
Perilaku merokok didefinisikan sebagai keadaan menghisap gulungan tembakau
yang dibakar yang mengandung zat tertentu berupa nikotin sebagai tindakan untuk
memperoleh kenikmatan. Asap yang dihisap melalui mulut disebut asap utama,
sedangkan asap yang terbentuk pada ujung rokok yang terbakar dan asap yang
dihembuskan ke udara oleh perokok disebut asap sampingan. Menurut British
Medical Journal yang dikutip dalam Winurini (2012), perokok adalah seseorang yang
menghisap rokok sedikitnya satu batang perhari selama sekurang-kurangnya 6 bulan.
Menurut Afiati (2015), pada umumnya tipe perokok dibagi menjadi 2 jenis, antara
lain:
1. Perokok aktif
Perokok aktif adalah individu yang memiliki kebiasaan merokok. Para
perokok ini akan berupaya untuk mendapatkan rokok.
2. Perokok pasif
Perokok pasif adalah individu yang tidak merokok, tetapi terpapar dan
menghirup asap rokok yang dikeluarkan dari orang disekitarnya.

Perilaku merokok merupakan perilaku yang sukar dihentikan karena rokok


mengandung zat adiktif yang dapat memicu rasa ketergantungan bagi penggunanya.
Perilaku merokok merupakan perilaku yang beresiko menimbulkan berbagai macam
gangguan kesehatan karena di dalam rokok terdapat kurang lebih 4000 zat kimia
seperti nikotin, tar, dan karbonmonoksida (Winurini, 2012).
Menurut Leventhal & Cleary dalam Susanto (2013), terdapat 4 tahap perilaku
merokok pada seseorang dari awal merokok hingga menjadi seseorang yang
ketergantungan rokok, meliputi:

6
7

1. Tahap preparatory
2. Pada tahap ini, seseorang mendapat gambaran mengenai rokok, baik dari
mendengar, melihat, atau membaca. Hal-hal ini menimbulkan minat untuk
merokok.
3. Tahap initiation
Tahap initiation merupakan tahap dimana seseorang akan meneruskan
ataukah tidak perilaku merokoknya.
4. Tahap becoming a smoker
5. Tahap ini merupakan tahap seseorang telah mengkonsumsi rokok sebanyak 4
batang setiap harinya.
6. Tahap maintenance of smoking
Pada tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara pengaturan
diri self regulating. Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis
yang menyenangkan.

Menurut Novicka (2012), perilaku merokok dapat dikategorikan menurut


intensitas merokok dan jumlah rokok yang dihisap setiap harinya menjadi:
a. Perokok sangat berat.
Perokok yang merokok dalam selang waktu merokok lima menit setelah
bangun tidur pagi hari dan lebih dari 31 batang rokok setiap harinya.
b. Perokok berat
Perokok yang merokok dalam selang waktu merokok sekitar 6-30 menit
setelah bangun tidur pagi hari dan menghabiskan 21-30 batang rokok setiap
hari.
c. Perokok sedang
Perokok yang merokok dalam selang waktu merokok sekitar 31-60 menit
setelah bangun tidur pada pagi hari dan mengonsumsi rokok sekitar 11-20
batang rokok setiap hari.
d. Perokok ringan
Perokok yang merokok dalam selang waktu 60 menit dari bangun tidur
pada pagi hari dan mengonsumsi rokok sekitar 10 batang per hari.
Pada umumnya, perilaku merokok seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain:
a. Pengaruh orang tua
Penelitian menujukkan perilaku merokok dipengaruhi oleh pengaruh orang
tua. Keluarga konservatif yang menekankan nilai-nilai sosial dan agama
8

dengan baik dengan tujuan dalam jangka panjang lebih sulit untuk telibat
dalam urusan rokok atau obat-obatan. Orang tua yang menjadi contoh
sebagai perokok berat memiliki kemungkinan besar anaknya akan menjadi
perokok (Susanto, 2013).
b. Pengaruh teman
Semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-
temannya ikut merokok juga. Diantara para perokok, terdapat 87% perokok
yang mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat perokok.
Perilaku merokok dipelajari seseorang melalui observasi dan peniruan.
Perilaku merokok dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka bergaul.
Seseorang umumnya tertarik merokok demi mengikuti agar sama dengan
kelompoknya dan ingin mencoba sesuatu yang dianggap menyenangkan.
Selain itu, perilaku merokok juga dipengaruhi faktor individu. Seseorang
mencoba untuk merokok karena ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari
rasa sakit dan kebosanan. Meskipun penyuluhan mengenai informasi dan
pengetahuan tentang bahaya merokok merokok baik bagi perokok maupun
bagi orang sekitarnya telah sering dilakukan, namun perilaku merokok ini
tetap saja dilakukan. Keputusan seseorang untuk menentukan merokok atau
tidak merokok sangat tergantung pada pengetahuan ilmiah tentang merokok
dan kaidah moral dari merokok yang dimiliki setiap orang (Susanto, 2013).
c. Faktor kepribadian
d. Perilaku merokok juga terjadi karena rasa ingin tahu atau ingin melepaskan
diri dari rasa sakit fisik, jiwa, ataupun membebaskan diri dari kebosanan.
Orang yang frustasi dan mengalami peristiwa yang menimbulkan stress,
akan mengalami keterbangkitan emosional yang tidak menyenangkan.
Pengalaman tidak menyenangkan menimbulkan gangguan emosi yang
cenderung meningkatkan perilaku merokok (Susanto, 2013).
e. Pengaruh iklan
f. Melihat iklan dimedia masa maupun elektronik yang menampilkan
gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan membuat remaja
sering kali terpicu untuk mengikuti perilaku merokok seperti yang ada dalam
iklan tersebut (Susanto, 2013).
9

Menurut Tsalits (2013), keberhasilan seseorang dalam upaya berhenti merokok


atau mengurangi kebiasaan merokok dipengaruhi oleh besarnya niat (intensi) untuk
berhenti atau mengurangi kebiasaan merokok. Tanpa adanya intensi yang cukup,
sebesar apapun usaha yang dilakukan untuk berhenti merokok akan sia-sia. Intensi
merupakan suatu perjuangan yang dilakukan guna mencapai satu tujuan, sehingga
dapat dikatakan bahwa intensi merupakan dasar untuk membentuk aktivitas tertentu
dan menentukan keadaan selanjutnya. Dasar dalam hal ini adalah dorongan, maksud
atau tujuan untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Intensi dapat menjadi suatu
prediktor terbaik untuk menilai suatu perilaku.
Hampir setiap perilaku manusia dipengaruhi oleh intensi. Intensi merupakan
pendahulu dari sebuah perilaku yang dimunculkan seseorang, sehingga sebelum
perilaku muncul terlebih dahulu terbentuk intensi atau niat untuk memunculkan
perilaku tersebut. Intensi dikatakan kuat dan berpotensi untuk diwujudkan jika orang
tersebut merasa bahwa perilaku itu baik untuk dilakukan dan merasa mampu untuk
mewujudkan perilaku itu. Intensi untuk berperilaku sangat signifikan dalam
memunculkan perilaku tertentu, khususnya jika sasaran, tindakan, konteks dan
waktunya tepat. Berdasarkan definisi di atas, intensi berhenti merokok merupakan
keinginan yang kuat dari seseorang untuk menghentikan kebiasaan merokoknya
dalam jangka panjang dan dilakukan secara sadar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya suatu intensi, meliputi:
a. Komponen personal, menunjukkan pada sikap seseorang terhadap suatu
perilaku yang berorientasi pada diri orang itu sendiri dan berkembang atas
keyakinan dan pertimbangan terhadap apa yang diyakininya (Tsalits, 2013).
b. Komponen sosial, mempunyai gabungan antara persepsi kelompok terhadap
perilaku seseorang yang akan diwujudkan dengan motivasi seseorang untuk
mematuhi harapan sosialnya (Tsalits, 2013).
Dukungan sosial diartikan sebagai rasa kenyamanan, perhatian, penghargaan,
atau bantuan yang dirasakan individu dari orang-orang atau kelompok lain.
Dukungan sosial merupakan bentuk pemberian informasi sehingga seseorang merasa
diperhatikan, terhormat dan dihargai. Dukungan sosial merupakan bagian dari proses
komunikasi bagi orangtua, kekasih, kerabat, teman dan jaringan lingkungan sosial
10

serta dalam lingkungan masyarakat (Tsalits, 2013). Dukungan sosial dapat berupa
nasihat, informasi verbal atau nonverbal, bantuan yang nyata atau terlihat, ataupun
tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang sekitar di dalam sebuah lingkungan
sosial dimana dukungan sosial dapat memberikan keuntungan emosional dan dapat
berpengaruh pada tingkah laku penerimanya. Dukungan sosial dipercaya memiliki
hubungan positif, yaitu dapat mempengaruhi kesehatan individu (Mariyati dan
Habibah, 2015).
Menurut Tsalits (2013), peranan kelompok teman sebaya merupakan salah satu
contoh dukungan sosial yang penting. Teman sebaya didefinisikan sebagai suatu
kelompok kecil yang anggotanya berusia relatif sama dan terjalin keakraban di
dalamnya. Teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama dimana seseorang
belajar untuk hidup bersama orang lain yang bukan anggota keluargannya. Adanya
interaksi di dalam lingkungan sosial akan memberikan dampak positif maupun
negatif. Faktor teman sebaya telah menjadi fokus penelitian beberapa peneliti
Indonesia. Salah satu penelitian mengenai faktor-faktor penyebab remaja SMU
merokok di Yogyakarta menunjukkan bahwa faktor teman sebaya berpengaruh
sebesar 38,4 persen dalam menimbulkan intensi merokok remaja. Apabila seorang
remaja berniat berhenti merokok dan mendapat dukungan dari teman sebaya yang
positif, maka sangat dimungkinkan remaja tersebut memiliki intensi berhenti
merokok yang kuat. Sebaliknya seorang remaja kurang mendapat dukungan dari
teman sebaya untuk berhenti merokok, maka sangat dimungkinkan remaja tersebut
kurang memiliki intensi untuk berhenti merokok atau intensi berhenti merokoknya
menjadi lemah.
Menurut Susanto (2013), selain dukungan sosial, dukungan keluarga juga
berpengaruh terhadap intensi seseorang untuk merokok. Dukungan keluarga yang
paling penting ialah ukungan orangtua. Dukungan orang tua merupakan sistem
dukungan sosial yang terpenting di masa remaja. Dukungan orangtua berperan
terhadap kesuksesan akademis, gambaran diri yang positif, harga diri, percaya diri,
motivasi dan kesehatan mental. Dukungan orang tua dapat dibagi menjadi dua hal,
yaitu dukungan yang bersifat positif dan dukungan yang bersifat negatif. Dukungan
positif adalah perilaku positif yang ditunjukkan oleh orangtua. Sedangkan dukungan
11

yang bersifat negatif adalah perilaku yang dinilai negatif yang dapat mempengaruhi
munculnya perilaku negatif pada anak. Dukungan keluarga bersifat optimal ketika
dukungan tersebut sesuai dengan kaidah yang berlaku. Bentuk-bentuk dukungan
keluarga, terutama orang tua, antara lain:
Dukungan Moral
Dukungan moral dari keluarga meliputi kasih sayang, keteladanan, bimbingan
dan pengarahan, dorongan, menanamkan rasa percaya diri (Susanto, 2013).
Dukungan Material
Dukungan material berupa pemenuhan kebutuhan fisik yaitu biaya pendidikan,
fasilitas belajar, alat dan keperluan belajar, dan biaya hidup yang dibutuhkan oleh
seseorang. Potensi seseorang dapat terlaksana dengan baik jika orang tua mampu
memberikan dukungan material yang mampu menopang kegiatannya (Susanto,
2013).
12

2.2. Bahaya Rokok dan Pengetahuan Masyarakat Tentang Rokok

Rokok membunuh setidaknya setengah dari jumlah penggunanya. Sekitar 6


juta orang meninggal setiap tahunnya akibat rokok, dan ironisnya sekitar 600.000
diantaranya merupakan mereka yang tergolong perokok pasif. Epidemik rokok
merupakan suatu ancaman kesehatan komunitas yang tengah dialami dunia.
Sekitar 80% dari 1 milyar perokok atau bahkan lebih di dunia ini berasal dari
negara miskin dan negara berkembang, dimana negara-negara tersebut
menanggung beban penyakit terkait rokok dan kematian akibat rokok terberat.
Data-data hasil riset menunjukkan bahwa jumlah penggunaan rokok semakin
meningkat, padahal sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa merokok
menjadi faktor risiko terjangkitnya penyakit kronis, seperti kanker, penyakit paru-
paru dan penyakit kardiovaskuler (WHO, 2016). Hasil penelitian menunjukkan
proporsi orang yang pernah merokok setiap hari memiliki risiko mengalami
hipertensi sebesar 1,11 kali dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok.
Risiko ini terjadi akibat zat kimia beracun, misalnya nikotin dan karbon
monoksida yang dihisap melalui rokok kemudian masuk ke dalam aliran darah.
Merokok juga meningkatkan denyut jantung dan kebutuhan oksigen otot
jantung sehingga terbukti merupakan salah satu faktor risiko yang terbesar
untuk kematian mendadak melalui penyakit jantung koroner (PJK) (Kemenkes
RI, 2014).
Rokok terus membunuh hampir 6 juta orang setiap tahun. Jika
kecenderungan ini terus berlanjut, pada tahun 2030 diperkirakan rokok akan
membunuh lebih dari 8 juta orang di seluruh dunia setiap tahun hingga
setengah dari 1 miliar perokok di dunia pada akhirnya akan mati karena
penyakit terkait dengan rokok (WHO, 2016). Asap rokok mengandung banyak
racun yang berbahaya bagi kesehatan, yaitu lebih dari 4.000 macam racun yang
69 di antaranya bersifat karsinogenik yaitu zat yang menyebabkan kanker bagi
manusia. Rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun yang berdampak
buruk pada kesehatan, di antaranya tar, nikotin, timah hitam, dan karbon
monoksida. Kandungan zat berbahaya dalam rokok tersebut dapat
13

memengaruhi trombosit. Rokok dapat menyebabkan berkurangnya glutation


pada trombosit perokok sehingga terjadi penurunan isoprostan pada trombosit.
Aktivitas isoprostan secara langsung berinteraksi dengan thromboxane-A2
receptor (TPR) pada trombosit menunjukkan peningkatan risiko terjadi
penyakit vaskular (Laffan dan Manning, 2012).
Pada beberapa penelitian telah dibuktikan bahwa risiko kanker paru 7,8
kali lebih besar pada perokok dibandingkan dengan bukan peroko. Disamping
itu, angka fertilitas dan impotensi dapat terjadi baik pada wanita yang
merupakan perokok aktif maupun perokok pasif. Kedua golongan tersebut,
baik wanita perokok aktif ataupun pasif memiliki risiko yang tinggi mengalami
penurunan kemampuan untuk menjadi hamil atau bereproduksi. Untuk laki-
laki, merokok juga meningkatkan risiko impotensi sampai dengan 50%. Data-
data ini membuktikan bahwa akibat penggunaan rokok akan mempengaruhi
derajat kesehatan reproduksi sehingga akan mempengaruhi kualitas genrasi
yang akan datang (Kemenkes RI, 2014).

2.2.1. Proses Berhenti Merokok

Berhenti merokok bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, terutama


jika seseorang tersebut sudah sangat kecanduan nikotin. Banyak keuntungan
yang diperoleh dari keberhasilan mengehentikan kebiasaan merokok. Selain
menggunakan cara terapi dengan bantuan kalangan profesional, ada pula yang
berhenti merokok secara mandiri. Pasti ada alasan tertentu yang membuat
mereka memilih untuk menghentikan kebiasaan merokoknya secara mandiri
dan proses yang ditempuh masing-masing individu dalam mengehentikan
kebiasaaan merokok pun pasti berbeda-beda. Untuk mencapai hal tersebut
memang dibutuhkan niat, tekad, dan komitmen yang kuat serta dukungan dari
lingkungan sekitarnya. Namun hasil yang didapatkan akan jauh lebih
memuaskan dari perjuangan yang dilakukan.
Seseorang yang memiliki kebiasaan merokok membutuhkan proses
agar dapat berhenti merokok sebab berhenti merokok bukan hal yang mudah
14

yang dapat dilakukan. Sebagian perokok yang memiliki pengetahuan tentang


bahaya merokok berusaha untuk berhenti merokok. Akan tetapi keinginan saja
tidak cukup karena butuh perjuangan yang kuat agar dapat benar- benar
berhenti merokok. Adiatama (dalam Barus, 2012) menggambarkan proses
berhenti merokok seperti berikut ini: perokok memutuskan untuk berhenti
merokok kemudian perokok mencoba untuk berhenti merokok. Akan tetapi
perokok yang mencoba berhenti merokok tersebut kembali merokok lagi dan
kemudian mencoba berhenti lagi hingga akhirnya benar-benar berhenti
merokok. Usaha berhenti merokok bukanlah hal yang mudah sehingga
seringkali perokok mengalami kegagalan dalam proses berhenti merokok.
Ada dua faktor yang berperan dalam menyebabkan sulitnya perokok
berhenti merokok (Adiatama dalam Barus, 2012). Faktor pertama adalah akibat
ketergantungan terhadap rokok yang disebabkan oleh nikotin yang terdapat
pada rokok. Perokok yang telah merokok selama bertahun-tahun akan memiliki
kadar nikotin yang tinggi dalam darahnya. Ketika perokok tersebut mulai
berhenti merokok maka kadar nikotin dalam darahnya akan menurun. Hal ini
akan menyebabkan manifestasi berbagai gejala putus merokok (withdrawal
syndrome) pada perokok tersebut. Adapun gejala yang timbul yaitu sakit
kepala, lesu, kurang konsentrasi, insomnia, gangguan pencernaan, dan lain-
lain. Faktor kedua adalah psikologis. Perokok yang telah merokok selama
bertahun-tahun akan mengalami rasa kehilangan sesuatu ketika dirinya berhenti
merokok. oleh sebab itu, jika perokok tidak mampu berkomitmen untuk tidak
merokok lagi maka kemungkinan besar usahanya akan gagal.
Menurut Jeckcen (dalam Firzawati, 2015) terdapat tiga intervensi yang
efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok, yaitu metode yang
mengandalkan perubahan perilaku, metode dengan menggunakan obat-obatan
atau terapi farmakologis, dan metode kombinasi dari dua cara yang ada.
Metode kombinasi adalah metode yang melibatkan dukungan tenaga kesehatan
dan keluarga. Metode kombinasi merupakan metode yang sangat efektif untuk
menghentikan kebiasaan merokok. Tenaga kesehatan diharapkan dapat
menggunakan strategi ini untuk menghentikan perilaku merokok pada perokok.
15

Pengguanaan berbagai metode atau upaya berhenti meroko lebih efektif


dibandingkan hanya menggunakan satu metode berhenti merokok. Tabel 1
menjelaskan mengenai persentasi angka keberhasilan pasien untuk berhenti
merokok dengan berbagai metode terapi yang ada dan intensitas
penggunaannya (Firzawati, 2015).

Tabel 2.1 Angka Keberhasilan Metode Berhenti Merokok


Metode Berhenti Merokok Angka Keberhasilan

Tanpa metode 10,8%

Upaya diri sendiri 12,3%

Telpon Konseling 13,1%

Konseling grup 13,9%

Konseling individual 16,8%

Menggunakan 2 metode 18,5%

Menggunakan lebih dari 2 metode 23,2%

Menggunakan 1 sesi konseling 21,8%

Menggunakan 2 sampai 3 kali sesi konseling 28,0%

Menggunakan 4 sampai 8 kali sesi konseling 26,9%

Menggunakan diatas 8 kali sesi konseling 32,5%

Konseling tanpa obat 14,6%

Konseling dengan obat 22,1%

Sumber : Charlote dan Mitchel (2009) dalam Firzawati (2015)

Merokok merupakan kebiasaan yang sulit dihentikan. Berhenti merokok


merupakan proses yang dinamis yang meliputi sebuah rangkaian dari keinginan, rencana
berhenti mencoba berhenti, kegagalan berhenti, kambuh, mencoba berhenti lagi hingga
kemudian berhenti total (Charlotte,2009). Dua pertiga perokok menyatakan mereka akan
berhenti merokok, dan hanya sepertiga dari perokok yang mencoba untuk berhenti dan
hanya beberapa diantara mereka yang berhasil berhenti merokok (Rigoutti, 2002).
16

Saat ini perilaku merokok merupakan suatu gejala yang dapat kita lihat setiap
hari di segala tempat seperti di jalanan, tempat keramaian, bus kota, rumah sakit, sekolah
dan lain sebagainya. Meski semua orang tahu akan bahaya yang dapat ditimbulkan
akibat merokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya merupakan
perilaku yang masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Hal yang memprihatinkan adalah
usia mulai merokok yang setiap tahun semakin muda. Bila dahulu orang mulai berani
merokok biasanya ketika usia SMP maka sekarang dapat dijumpai anak-anak SD kelas 5
yang sudah mulai berani merokok secara diam-diam.
Menurut Silvan dan Tomkins (dalam Ratna,2009), ada empat tipe perilaku
merokok berdasarkan management of affect theory, keempat tipe tersebut adalah:
1. Tipe perokok yang dipengaruhi perasaan positif.
a. Pleasure relaxation, perilaku merokok hanya untuk menambah atau
meningkatkan kenikmatan yang sudah didapat, misalnya merokok
setelah minum kopi atau makan.
b. Simulation to pick them up, perilaku merokok hanya dilakukan
sekedarnya untuk menyenangkan perasaan.
c. Pleasure of handling the cigarette, kenikmatan yang diperoleh dari
memegang rokok.
2. Tipe perokok yang dipengaruhi perasaan negative. Banyak orang yang merokok
untuk mengurangi perasaan negative dalam dirinya. Misalnya merokok bila
marah, cemas, gelisah, rokok dianggap sebagai penyelamat. Mereka
menggunakan rokok bila perasaan tidak enak terjadi, sehingga terhindar dari
perasaan yang lebih tidak enak.
3. Tipe perokok yang adiktif. Merokok yang sudah adiksi, akan menambah dosis
rokok yang digunakan setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya
berkurang.
4. Tipe kebiasaan merokok (ritual). Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan
karena untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi karena sudah menjadi
perilaku.
Kesulitan utama yang dihadapi para perokok adalah ketergantungan akan
nikotin, dimana secara cepat akan mencapai otak pada saat seseorang merokok. Setelah
menghirup asap rokok, kadar nikotin dalam arteri meningkat tajam dalam waktu 15
detik. Nikotin menstimulasi produksi dopamine secara berlebihan dan membuat tubuh
menjadi relaks serta menyebabkan toleransi dan ketergantungan fisik, ketika penggunaan
17

tembakau dihentikan, atau yang disebut sindrom withdrawal. Sindrom ini ditandai
dengan kemarahan, ketidaksabaran, kegelisahan, kesulitan berkonsentrasi, insomnia,
peningkatan nafsu makan, kecemasan dan perasaan depresi (Bhattacharyya,dkk,2008).
Lebih dari 80% perokok akan mengalami sindrom withdrawal ketika menghentikan
kebiasaannya (Sadikin&Louisa,2008).
Menurut Leventhal & Clearly dalam (Helmi, 2009), ada 4 tahap hingga
seseorang memiliki perilaku ketergantungan terhadap rokok (pecandu rokok) yakni : 1)
Tahap pengenalan terhadap rokok (preparatory), tahap ini adalah tahap dimana
seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan terhadap rokok. Seseorang dapat
melihat, mendengar atau mungkin membacanya dari sebuah majalah misalnya. Tahap
ini, adalah tahap pemunculan penilaian posisi terhadap rokok. Penilaian positif ini
mungkin didapat karena melihat atau membandingkan orang yang merokok dengan yang
tidak merokok. Merokok lebih macho, maskulin dan lebih mengggambarkan kelelakian
misalnya. Tahap ini akan memunculkan minat merokok, 2) Tahap perintasan/pemutusan
(initiation), tahap ini, dimana seseorang mencoba merokok, dan memberikan penilaian.
Dia akan meneruskannya jika merokok itu dianggapnya adalah hal yang baik bagi
dirinya. Tahap ini adalah tahap pengambilan keputusan apakah dia akan terus
merokok atau tidak, 3) Tahap tahap menjadi seorang perokok (become a smoker),
tahap ini adalah tahap dimana seseorang menjadi seorang perokok. Jika seseorang
secara rutin menghabiskan rokok sebanyak 4 batang sehari, maka bisa dikatakan dia
adalah seorang perokok dan kecenderungan untuk meneruskan kebiasaan merokok,
dan 4) tahap tahap ketergantungan (Maintenance of smoking), tahap ini, seseorang
menjadikan rokok sebagian bagian dari kehidupannya (kepribadiaanya). Dia sudah
masuk dalam pengaturan diri (self regulation). Merokok sudah menjadi
ketergantungan karena mempunyai efek fisiologis yang menyenangkan.
Kondisi yang dilematis tersebut diperparah dengan perilaku menghisap rokok
atau merokok yang sudah menjadi kebiasaan. Merokok merupakan cara untuk bisa
diterima secara sosial. Jadi, sebagian dari mereka yang merokok disebabkan tekanan
teman-teman sebayanya. Walaupun ada juga yang merokok disebabkan melihat
orang tuanya yang merokok. Pada dasarnya, perokok pemula biasanya diawali
dengan rasa mual, batuk, dan perasaan tidak enak lainnya, tetapi tetap saja mereka
merokok meskipun sebenarnya mereka cukup memahami terhadap bahaya merokok
18

(Triratnawati, 2005). Perilaku merokok pada remaja cenderung meniru perilaku


orang lain di sekitarnya. Perilaku ini didukung dengan sifat remaja yang suka meniru
perilaku yang baru. Perilaku ketergantungan merokok pada remaja dapat terjadi
karena kurangnya pengetahuan remaja tentang bahaya merokok dan sikap remaja
yang kurang. Peran dukungan sosial terutama keluarga juga dapat menjadi faktor
yang dapat mempengaruhi perilaku ketergantungan merokok pada remaja.
Kegiatan merokok ini dipengaruhi oeh berbagai faktor. Berdasarkan Hansen
(dalam Firzawati, 2015) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kebiasaan
merokok adalah sebagai berikut:
1. Faktor biologis; banyak penelitian menunjukkan bahwa nikotin yang terdapat
dalam rokok merupakan salah satu bahan kimia yang berperan penting dalam
memnyebabkan efek ketergantungan merokok. Pendapat ini sesuai dengan
yang dikemukakan oleh Aditama tahun 1997 bahwa nikotin dalam darah
perokok menyebabkan seseorang memiliki kecenderungan untuk terus
menerus merokok.
2. Faktor psikologis; salah satu efek positif dari nikotin adalah dapat
meningkatkan konsentrasi, mengurangi rasa kantuk, mengakrabkan suasana,
bahkan dapat menimbulkan kesan modern dan berwibawa sehingga membuat
rokok meupakan perilaku kunci dalam bergaul dengan orang lain.
3. Faktor lingkungan social; lingkungan social akan mempengaruhi sikap,
kepercayaan dan perhatian individu kepada perokok, jika lingkungan
sosialnya tidak bermasalah dengan perilaku merokok, maka akan
mempengaruhi individu tersebut untuk terus merokok.
4. Faktor demografi; faktor ini meliputi karakteristik dasar individu yang
mendukung individu untuk merokok seperti, umur, jenis kelamin, pendidikan,
dan lainnya.
5. Faktor sosial budaya, kebiasaan budaya, etnik tertentu, tingkat pendidikan,
agama serta pekerjaan seseorang mempengaruhi perilaku merokok.
6. Faktor sosial politik; kebijakan dan upaya baik berupa peningkatan harga
rokok, pelarangan iklan hingga kampanye dari individu maupun institusi
untyk mencegah seseorang dari merokok akan mempengaruhi seseorang
untuk merokok atau tidak.
19

Berbagai upaya telah dilakukan diberbagai negara untuk menurunkan jumlah


perokok di dunia. Pada tahun 2008 WHO dalam rangka Framework Convention on
Tobacco Control telah menyusun strategi yang digunakan oleh Negara-negara
anggota dalam melakukan pengendalian epidemic tembakau. Strategi MPOWER ini
berisi langkah-langkah yang harus dilakukan oleh sebuah Negara untuk
mengendalikan epidemic tembakau dinegaranya.
MPOWER ini meliputi M untuk Monitor tobacco use yakni memantau
penggunaan tembakau dan upaya pencegahan, P untuk Protect people from tobacco
smoke yakni perlindungan masyarakat dari paparan asaprokok, O untuk Offer help to
quit tobacco use yakni membantu perokok untuk berhenti merokok, W untuk Warn
about dangers of tobacco yakni mewaspadakan masyarakat terhadap bahaya
tembakau, E untuk Enforce bans on tobacco advertising, promotion, and
sponsorship, yakni melarang iklan dan sponsorship mengenai tembakau dan R untuk
Raise taxes on tobacco yakni peningkatan cukai rokok (WHO,2008). Gerakan ini
sudah diterapkan kepada lebih dari 2,3 miliar penduduk pada 92 negara atau dngan
kata lain sekitar 1/3 dari jumlah penduduk dunia telah terlindungi minimal oleh satu
jenis intervensi dari MPOWER.
Salah satu upaya yang dilakuka pemerintah Indonesia dalam menurunkan
jumlah perokok adalah dengan mendirikan Klinik Berhenti Merokok (KBM) di
fasilitas pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan. Klinik ini berupaya membantu
para perokok aktif untyk berhenti merokok berdasarkan tahapdemi tahap yang
disertai dengan konseling dari tenaga kesehatan terlatih (Susanti D, 2015). Namun
sejak tahun 2010, hampir keseluruhan klini berhenti merokok yang ada, sepi dari
pengunjung.
Terdapat faktor-faktor yang melatarbelakangi individu untuk berhenti
merokok yaitu faktor internal, yakni faktor yang berasal dari dalam dirinya, dan
faktor eksternal yang berasal dari luar dirinya, yang dapat berupa dorongan atau
kondisi dramatis seperti permintaan anak dan keluarga, peringatan keras dari dokter,
menyaksikan kematian yang disebabkan penyakit akibat merokok, atau rasa bersalah
telah mencemari lingkungan (Rothman, 2000).
20

Dalam berhenti merokok, niat atau keinginan merupakan suatu hal yang
penting. Menurut Theory of Planned Behavior, seseorang dapat bertindak
berdasarkan intensi atau niatnya hanya jika iaa memiliki control terhadap
perilakunya. Teori ini tidak hanya menekankan pada rasionalitas dari tingkah laku
manusia, tetapi juga pada keyakinan bahwa target tingkah laku berada dibawah
control kesadaran individu tersebut atau suatu tingkah laku tidak hanya bergantung
pada intensi seseorang, melainkan juga pada factor lain yang tidak ada dibawah
control dari individu, misalnya ketersediaan sumber dan kesempatan untuk
menampilkan tingkah laku tersebut.peranan dari tingkah laku tesebut dikenal sebagai
Perceived Behavioral Control. Berdasarkan Theory of Planned Behavior, intensi
merupakan fungsi dari tiga determinan, pertama bersifat personal, kedua
merefleksikan pengaruh sosial, dan ketiga berhubungan dengan masalah control.
Berikut ini adalah penjabaran dari variabel utama dari Theory of Planned Behavior
yang terdiri dari intensi, attitude toward behavior, subjective norms, dan perceived
behavioral control.

Gambar 2.1. Theory of Planned Behavior


Sumber: Ajzen, I.2005.The Theory of Planned Behavior. Organizational Behavior
and Human Decision Processes, Hal:179-211.

Dalam melakukan identifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan upaya


berhenti merokok. Prohasca telah mengkategorikan perokok dalam beberapa kategori
21

yakni perokok yang tidak ingin berhenti (unwilling to quit ), perokok yang ingin
berhenti (willing to quit), perokok yang siap berhenti (ready to quit), perokok yang
telah mencoba untuk berhenti merokok (attempt to quit) (Prochaska &Clemente,
1984).

Gambar 2.2. Siklus kesiapan berhenti merokok berdasarkan waktu


Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi individu dalam berhenti
merokok adalah dukungan sosial dan keluarga. Dukungan keluarga merupakan suatu
bentuk perhatian, dorongan yang didapatkan individu dari orang lain melalui
hubungan interpersonal yang meliputi perhatian, emosional dan penilaian. Keluarga
dipandang sebagai suatu sistem, jika terjadi gangguan pada salah satu anggota
keluarga dapat mempengaruhi seluruh sistem. Sebaliknya disfungsi keluarga dapat
pula menjadi salah satu penyebab terjadinya gangguan pada anggota keluarga
(Friedman, 1998). Perilaku merokok pada remaja dapat timbul karena lingkungan
keluarga yang juga memiliki perilaku tersebut. Jika keluarga tidak ada yang
merokok, maka sikap orang tua yang berlaku permisif merupakan pengukuh
timbulnya perilaku merokok pada remaja (Helmi, 2008).
Dukungan sosial adalah suatu bentuk tingkah laku yang menumbuhkan
perasaan nyaman dan membuat individu percaya bahwa individu dihormati, dihargai,
dicintai dan bahwa orang lain bersedia memberikan perhatian dan keamanan.
Dukungan sosial mencakup dukungan informasi berupa saran, nasehat, dukungan
perhatian atau emosi berupa kehangatan, kepedulian dan empati, dukungan instrumental
berupa bantuan materi atau finansial dan penilaian berupa penghargaan positif terhadap
gagasan atau perasaan orang lain.
22

Dukungan sosial dapat diperoleh seseorang dari berbagai sumber dalam suatu
jaringan sosial yang dimiliki oleh individu yang bersangkutan. Kaplan (1993)
mengatakan dukungan sosial dapat diperoleh melalui individu-individu yang
diketahui dapat diandalkan, menghargai, memperhatikan serta mencintai kita dalam
suatu jaringan sosial.
Berdasarkan pendapat-pendapat di muka dapat dikatakan bahwa dukungan
sosial tidak hanya berasal dari orang-orang terdekat yang selama ini telah dikenal
oleh penderita seperti keluarga, teman, dan kerabat lainnya. Tetapi dukungan sosial
juga dapat berasal dari orang lain seperti pekerja sosial yang berada di LSM, pendeta
atau ulama, dan anggota komunitas tertentu yang selama ini tidak pernah dikenal
oleh penderita.
Ada lima bentuk dasar dari dukungan sosial yang dapat diberikan dan
diterima oleh individu (Orford, 1992; Sarafino, 2006; Sheridan, 1992), yaitu:
a. Emotional support
Melibatkan ekspresi empati, perhatian, pemberian semangat, kehangatan
pribadi, cinta, atau bantuan emosional.
b. Esteem support
Dukungan ini terjadi melalui ekspresi penghargaan yang positif, dorongan
yang semangat, atau persetujuan dengan ide atau perasaan yang dikemukakan
individu serta perbandingan yang positif antara individu dengan orang lain.
c. Instrumental support
Pemberian dukungan yang melibatkan bantuan secara langsung, seperti
bantuan finansial ataupun mengerjakan tugas rumah sehari-hari.
d. Informational support
Dukungan diberikan dalam bentuk saran, penghargaan dan umpan-balik
mengenai cara menghadapi atau memecahkan masalah yang ada.
e. Companionship support
Dukungan diberikan dalam bentuk kebersamaan sehingga individu merasa
sebagai bagian dari kelompok.
23

Dukungan sosial dapat memberikan kenyamanan fisik dan psikologis kepada


individu, hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana dukungan sosial mempengaruhi
kejadian dan efek dari keadaan stres.
Stres yang tinggi dan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang atau
lama dapat memperburuk kondisi kesehatan dan menyebabkan penyakit. Tetapi
dengan adanya dukungan sosial yang diterima oleh individu yang sedang mengalami
atau menghadapi stres maka hal ini akan dapat mempertahankan daya tahan tubuh
dan meningkatkan kesehatan individu (Baron & Byrne, 2000). Kondisi ini dijelaskan
oleh Sarafino (2006) bahwa berinteraksi dengan orang lain dapat memodifikasi atau
mengubah persepsi individu mengenai kejadian tersebut, dan ini akan mengurangi
potensi munculnya stres baru atau stres yang berkepanjangan.
Weiss (dalam Cutrona dkk, 1994) mengemukakan dukungan sosial ke dalam
enam bagian aspek yang berasal dari hubungan dengan individu lain. Berikut
merupakan enam komponen dukungan sosial :

1.Reliable alliance (Ketergantungan yang dapat diandalkan)


Pengetahuan yang dimiliki individu bahwa ia dapat mengandalkan bantuan
yang nyata ketika membutuhkan. Individu yang menerima bantuan ini akan merasa
tenang karena ia menyadari ada orang yang dapat diandalkan untuk menolongnya
dalam menghadapi masalah.
2. Guidance (Bimbingan)
Dukungan sosial berupa nasehat dan informasi dari sumber yang dapat
dipercaya.Dukungan ini dapat berupa pemberian umpan balik atau suatu yang telah
dilakukan individu.
3. Reassurance of Worth (Pengakuan positif)
Dukungan sosial ini berbentuk pengakuan atau penghargaan terhadap
kemampuan dan kualitas individu (Cutrona dkk, 1984).Dukungan ini membuat
individu merasa dirinya diterima dan dihargai.
4. Attachment(Kerekatan)
Pengekspresian dari kasih sayang dan cinta yang diterima individu yang
dapat memberikan rasa aman kepada individu yang menerima.
24

5. Social Integration (Integrasi Sosial)


Dukungan ini berbentuk kesamaan minat dan perhatian serta rasa memiliki
dalam suatu kelompok.
6. Opportunity to Provide Nurturance (Kesempatan untuk mengasuh)
Dinyatakan bahwa dukungan ini berupa perasaan individu bahwa ia
dibutuhkan oleh orang lain.
Pada sebuah penelitian observasional didapatkan hasil bahwa dukungan
sosial baik dari keluarga, pasangan, maupun teman secara umum mempengaruhi
keberhasilan dalam berhenti merokok, ataupun kebiasaan adiktif lainnya. Namun,
manfaat dari dukungan sosial ini tergantung pada waktu, dan bagaiman persepsi
perokok terhadap cara pemberian dukungan yang bisa bersifat positif, ataupun
negatif. Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa dukungan sosial yang bersifat
positif meningkatkan hasil berhenti merokok dan pemberian dukungan sosial yang
bersifat negatif, seperti omelan ataupun aturan dapat mengurangi keinginan berhenti
merokok. Tentu saja, pengaruh orang terdekat yang juga merokok memberikan
dukungan sosial yang lebih bersifat negatif dibandingkan orang terdekat yang tidak
merokok.
25

Gambar 2.3. Potential Pathways mediating influence of social support on smoking

Dukungan sosial ini dapat memberikan perubahan secara langsung,


memberikan keinginan untuk mengubah perilaku, ataupun secara tidak langsung
mempengaruhi berhentinya perilaku merokok dengan mengubah berbagai faktor,
seperti menciptakan suasana yang tenang, mengurangi perkelahian sehari-hari,
26

mengurangi emosi negatif/stress, dan menyelesaikan masalah secara kepala dingin/


selalu berpikiran positif. Gambar 2.3 menggambarkan bagaimana dukungan sosial
mempengaruhi perubahan perilaku berhenti merokok.

2.3. Usaha keluarga dan Lingkungan Sosial dalam Menghentikan


Perilaku Merokok
2.3.1. Definisi Dukungan Keluarga (Family Support)

Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena
hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam
satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing
menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (Friedman, 2010).
Dukungan keluarga menurut Friedman (2010) adalah sikap, tindakan
penerimaan keluarga terhadap anggota keluarganya, berupa dukungan informasional,
dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan emosional. Jadi dukungan
keluarga adalah suatu bentuk hubungan interpersonal yang meliputi sikap, tindakan
dan penerimaan terhadap anggota keluarga, sehingga anggota keluarga merasa ada
yang memperhatikan.
Menurut House dan Kahn (1985) dalam Friedman dkk (2010), terdapat empat
tipe dukungan keluarga yaitu dukungan emosional, dukungan penghargaan,
dukungan instrumental, dan dukungan informasional.

a. Dukungan emosional
Keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat
dan pemulihan serta membantu penguasaaan emosional. Bentuk dukungan ini
membuat individu memiliki perasaan nyaman, yakin, diterima oleh anggota
keluarga berupa ungkapan empati, kepedulian, perhatian, cinta, kepercayaan,
rasa aman dan selalu mendampingi pasien dalam perawatan. Dukungan ini
sangat penting dalam menghadapi keadaan yang dianggap tidak terkontrol.
27

b. Dukungan penghargaan
Keluarga bertindak sebagai bimbingan umpan balik, membimbing dan
menengahi pemecahan dan validator identitas anggota keluarga. Dimensi ini
terjadi melalui ekspresi berupa sambutan yang positif dengan orang-orang
disekitarnya, dorongan atau pernyataan setuju terhadap ide-ide atau perasaan
individu. Dukungan ini membuat seseorang merasa berharga, kompeten dan
dihargai. Dukungan penghargaan juga merupakan bentuk fungsi afektif
keluarga yang dapat meningkatkan status psikososial pada keluarga yang sakit.
Melalui dukungan ini, individu akan mendapat pengakuan atas kemampuan
dan keahlian yang dimilikinya.

c. Dukungan instrumental
Dukungan instrumental (peralatan atau fasilitas) yang dapat diterima oleh
anggota keluarga yang sakit melibatkan penyediaan sarana untuk
mempermudah perilaku membantu pasien yang mencakup bantuan langsung
biasanya berupa bentuk-bentuk kongkrit yaitu berupa uang, peluang, waktu,
dan lain-lain. Bentuk dukungan ini dapat mengurangi stres karena individu
dapat langsung memecahkan masalahnya yang berhubungan dengan materi.

d. Dukungan informasional
Dukungan informasional merupakan bentuk dukungan yang meliputi
pemberian informasi, sarana atau umpan balik tentang situasi dan kondisi
individu. Dukungan ini berupa pemberian nasehat dengan mengingatkan
individu untuk menjalankan pengobatan atau perawatan yang telah
direkomendasikan oleh petugas kesehatan (tentang pola makan sehari-hari,
aktivitas fisik atau latihan jasmani, minum obat, dan kontrol), mengingatkan
tentang prilaku yang memperburuk penyakit individu serta memberikan
penjelasan mengenai hal pemeriksaan dan pengobatan dari dokter yang
merawat ataupun menjelaskan hal-hal yang tidak jelas tentang penyakit yang
diderita individu.
28

2.3.2. Definisi Dukungan Sosial (Social Support)

Dukungan sosial merupakan interaksi interpersonal seperti pemberian


perhatian emosi, pemberian bantuan instrumental, penyediaan informasi,
ataupun pertolongan dalam bentuk lainnya. hal seperti ini diyakini dapat
memberikan kekuatan bagi individu dalam menghadapi efek stres serta
memungkinkan untuk meningkatkan kesehatan fisik juga (Taylor, Peplau, dan O.
Sears, 2009). Dengan dukungan sosial, individu merasa memperoleh
kenyamanan fisik maupun psikologis yang didapat lewat pengetahuan bahwa
individu tersebut dicintai, diperhatikan, dihargai oleh orang lain dan ia juga
merupakan anggota dalam suatu kelompok yang berdasarkan kepentingan
bersama.
Dukungan sosial merupakan pertukaran hubungan antar pribadi yang bersifat
timbal balik dimana seseorang memberi bantuan kepada orang lain. Dukungan
sosial sangat dibutuhkan oleh siapa saja dalam berhubungan dengan orang lain
demi berlangsungnya hidup di tengah-tengah masyarakat karena manusia
diciptakan sebagai makhluk sosial. Istilah dukungan sosial secara umum
digunakan untuk mengacu pada penerimaan rasa aman, peduli, penghargaan,
atau bantuan yang diterima dari orang lain atau kelompok.
Menurut Sarafina (dalam Kumalasari dan Lathifa, 2012) dukungan sosial
terdiri dari 4 dimensi, yaitu:
a. Dukungan emosional
Dukungan ini melibatkan ekspresi rasa empati dan perhatian terhadap
individu, sehingga individu tersebut merasa nyaman, dicintai, dan diperhatikan.
Dukungan ini meliputi perilaku seperti memberikan perhatian dan afeksi serta
bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain.

b. Dukungan perhargaan
Dukungan ini melibatkan ekspresi yang berupa pernyataan setuju dan
penilaian positif terhadap ide-ide, perasaan, dan performa orang lain.
29

c. Dukungan instrumental
Dukungan ini melibatkan bantuan langsung, misalnya yang berupa
bantuan finansial atau bantuan dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu.

d. Dukungan informasi
Dukungan yang bersifat informasi ini dapat berupa saran, pengarahan,
dan umpan balik tentang bagaimana cara memecahkan persoalan. Dukungan
sosial bisa efektif dalam mengatasi tekanan stres dalam masa-masa yang sulit
dan menekan. Misalnya, dukungan sosial membantu seseorang mengatasi
berbagai pemicu stres (stressor) dalam kehidupannya. Dukungan sosial juga
meembantu emmprekuat fungsi kekebalan tubuh, mengurangi respons fisologis
terhadap stres, dan memperkuat fungsi untuk merespons penyakit kronis
(Taylor, Peplau, dan O. Sears, 2009).
Hubungan sosial dapat membantu hubungan psikologis, memperkuat
praktik hidup sehat, dan membantu pemulihan dari sakit hanya ketika
hubungan itu bersifat sportif. Dukungan sosial mungkin paling efektif apabila
dukungan tersebut "tidak terlihat". Ketika kita mengetahui bahwa ada orang
lain yang akan membantu kita, kita merasa ada beban emosional, yang
mengurangi efektivitas dukungan sosial yang kita terima. tetapi ketika
dukungan tersebut diberikan secara diam-diam, dukungan tersebut akan dapat
secara langsung mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan kita (Taylor,
Peplau, dan O. Sears, 2009).

2.4. Pengaruh Dukungan Keluarga dan Dukungan Sosial dalam Usaha Stop
Merokok Perokok Aktif dalam Keluarga
30

Menurut Robert West (2008) dalam memahami mengenai perilaku adiksi


(kecanduan) membutuhkan pemahaman tentang sistem motivasi manusia. Hal ini
berkaitan dengan sistem proses di dalam otak yang memberikan energi dan
mengarahkan tingkah laku kita; yang membentuk aliran perilaku dari waktu ke
waktu.
Berhenti merokok merupakan upaya berhenti merokok yang dilakukan dengan
merubah perilaku adiktif merokok menjadi berhenti merokok. Banyak pecandu rokok
yang menginginkan untuk menghentikan kebiasaan merokoknya, beberapa di
antaranya masih mengalami kesulitan dalam memulai proses berhenti merokok
tersebut. Banyak orang yang mencoba berhenti merokok tetapi tidak berhasil, dan
yang banyak terjadi adalah saat mereka mampu berhenti merokok, mereka sulit
untuk mempertahankannya sehingga kembali merokok.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2014) sebagian besar
remaja laki-laki dan perempuan (80%) yang memiliki kebiasaan merokok mencoba
untuk berhenti dalam 12 bulan terakhir. Di Indonesia sendiri terdapat 70 juta orang
yang mencoba berhenti setiap tahunnya, 90% gagal dalam kurun waktu satu tahun.
Perilaku berhenti merokok dikatakan sebagai perilaku yang sangat sulit dilakukan
karena beberapa faktor, diantaranya adalah banyak perokok yang menikmati dan
mendapatkan kepuasan dari merokok itu sendiri. Selain itu adanya kebutuhan yang
besar saat merokok membuat mereka menjadi ketagihan akan nikotin yang
terkandung dalam rokok, serta adanya keyakinan positif tentang merokok dan
rutinitas mereka dalam merokok (Robert West, 2008).
Dalam menjelaskan proses untuk berhenti merokok dapat menggunakan prime
theory yang telah dikonsepkan oleh Robert West (2008). Prime theory menjelaskan
mengenai motivasi individu dalam merubah perilaku sesuai dengan keinginan dan
kebutuhan yang ada pada dirinya. Terdapat aspek dalam motivasi yang bergerak
sebagai sistem dalam menentukan perubahan perilaku, dalam hal ini perilaku
berhenti merokok.
Menurut Robert West (2008), sistem yang saling berhubungan dalam
menentukan perubahan perilaku diantaranya adalah plan, evaluation, motives,
impuls, dan responses. Plan merupakan tindakan mental yang melibatkan intensi atau
31

niat di dalamnya. Intensi atau niat yang besar akan memberikan kontribusi yang
besar dalam perubahan perilaku seeorang. Evaluation berhubungan langsung dengan
plan dan motives. Di dalamnya terdapat keyakinan (belief) yang dipengaruhi oleh
lingkungan internal, seperti drive, persepsi, dan kerangka pikir mengenai apa yang
diamatinya. Semakin individu memiliki keyakinan akan perubahan perilakunya,
semakin besar kemungkinan perilaku tersebut akan dilakukan. Motives merupakan
suatu hal yang melatar belakangi individu dalam bertingkah laku. Motives didasari
atas adanya keinginan dan kebutuhan dari individu itu sendiri. Impuls merupakan
dorongan dalam diri yang menentukan individu dalam bertingkah laku. Dorongan
tersebut didasari oleh adanya motif dan ketegangan-ketegangan di dalam diri akan
kebutuhan dan keinginan yang sudah direncanakan. Responses adalah tanggapan
dalam bentuk perilaku yang sudah berhasil dilakukan sebagai hasil dari hubungan
antara sistem-sistem penggerak motivasi yaitu plan, evaluation, motives, dan impuls.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2014) perokok di
Indonesia didominasi oleh kalangan remaja atau dewasa muda. Dari seluruh populasi
remaja atau dewasa muda yang merokok sekitar 90% nya mengaku bisa berhenti
merokok ketika mereka menghendaki berhenti merokok, akan tetapi untuk
mempertahankan perilaku berhentu merokok tersebut diakui kebanyakan mereka
sangat sulit. Dalam kehidupan sehari-hari mereka yang berhasil mempertahankan
perilaku berhenti merokok selalu berada dalam lingkungan yang memberikan
pengaruh negatif. Diantaranya adalah lingkungan keluarga yang memberikan
kebebasan untuk merokok dan anggota keluarga yang selalu merokok di hadapan
mereka. Selain itu lingkungan remaja yang tidak terlepas dari dukungan teman
sebaya untuk selalu merokok, serta lingkungan kampus yang memberikan kebebasan
untuk merokok tanpa adanya larangan dan aturan yang jelas.
Dalam hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa dukungan keluarga dan
dukungan sosial sangat berpengaruh dalam proses berhenti merokok. Perlu diketahui
sebelumnya bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi motivasi manusia, faktor
internal dan faktor eksternal. Dukungan keluarga dan dukungan sosial termasuk
dalam faktor eksternal yang mempengaruhi motivasi manusia dalam hal ini motivasi
untuk berhenti merokok. Dukungan keluarga dalam proses berhenti merokok salah
32

satu anggota keluarganya dapat diimplementasikan dengan cara menciptakan


lingkungan keluarga yang membatasi kebebasan merokok. Selain itu dukungan sosial
selain dari keluarga, terutama dari orang-orang terdekat sepeti teman sebaya,
lingkungan kampus, lingkungan kerja yang juga ikut membatasi kebebasan merokok
diantaranya dengan adanya larangan atau peraturan yang jelas dan tegas untuk tidak
merokok akan sangat membantu proses berhenti merokok orang tersebut (Kotz,
Brown dan West, 2013).
Aspek-aspek yang terdapat dalam sistem motivasi bergerak sebagai suatu
subsistem yang saling berkaitan sehingga menghasilkan perubahan perilaku yang
diharapkan. Subsistem plans yang ditunjukkan oleh seseorang yang ingin berhenti
merokok adalah berupa niat dan rencana untuk berhenti merokok secara matang.
Terdapat aturan yang mereka buat sendiri untuk tidak melanggar rencana berhenti
merokok yang sudah dibuat. Aspek plans yang merupakan level teringgi dalam
sistem motivasi, aspek ini memberikan kontribusi besar pada seseorang untuk
memikirkan rencana mengenai masa depannya saat mereka berhasil berhenti
merokok. Orang tersebut akan secara sadar menyusun rencana yang menjadi prioritas
dalam kehidupannya yaitu untuk berhenti merokok dan hidup sehat serta terhindar
dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh rokok. Saat orang tersebut sudah
membuat plans dengan matang, maka akan mempengaruhi gaya hidup dari
mahasiswa itu sendiri. Rencana yang sudah terbentuk itu dapat menghasilkan motif
untuk berhenti merokok melalui pandangan bahwa merokok dapat merusak
kesehatan diri sendiri maupun orang lain (commitment). Dalam aspek plans ini peran
dukungan keluarga serta dukungan sosial menjadi sangat penting ketika seseorang
belum secara sadar ingin berhenti untuk merokok, dimana keluarga dan orang-orang
terdekat prokok aktif tersebut dalam memberikan dukungan informasi mengenai
bahaya merokok dan efeknya terhadap kesehatan. Selain itu, dukungan sosial, yang
dapat berasal darimanapun seperti dari tokoh masyarakat sekitar yang mempunyai
andil besar untuk membuat seseorang sadar bahwa rokok berbahaya adalah dengan
menjadi role atau panutan seseorang yang tidak atau berhenti merokok sehingga
perokok aktif disekitar akan melihat atau menyaksikan dan menjadi sadar bahwa
mereka perlu untuk berubah.
33

Subsistem evaluation, dalam diri seseorang ditunjukkan dengan adanya


keyakinan yang kuat akan hidup sehat saat tidak merokok, meyakini bahaya rokok,
dan dalam upaya berhenti merokok tersebut, seseorang itu siap dalam menerima
feedback dari lingkungan. Evaluasi memiliki dimensi positif, dimana orang tersebut
menilai bahwa merokok merupakan perilaku yang kurang baik dan mempengaruhi
kondisi emosional yang nantinya secara tidak langsung akan mempengaruhi motif.
Dalam subsistem motives, seseorang menunjukkan keinginan yang besar untuk
terhindar dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh rokok, oleh karena keinginan
yang besar itu mereka menginginkan untuk hidup sehat tanpa rokok. Motif dapat
dianggap sebagai tujuan perilaku. Keinginan seseorang untuk berhenti meroko
dipengaruhi oleh dorongan (drive) untuk hidup sehat dan keadaan emosional
mahasiswa yang berasal dari stimulus akan kesehatan yang diperoleh saat tidak
mengkonsumsi rokok ataupun label non-perokok mempengaruhi sistem motif yang
dimiliki mahasiswa. Selain dari dorongan dan keadaaan emosional, sistem motif
sendiri dipengaruhi langsung oleh evaluasi, dimana terdapat pandangan bahwa
merokok hanya akan merusak kesehatan diri sendiri dan orang lain secara terus
menerus.
Perilaku seseorang yang ditunjukkan dari ketiga aspek tersebut menjadikan
dorongan yang kuat bagi orang tersebut untuk hidup sehat atau untuk berhenti
merokok. Hal tersebut merupakan salah satu subsistem dari motivasi, yaitu impuls.
Dorongan tersebut berasal dari stimulus eksternal yang memperkuat, menarik
perhatian, atau menekan kebutuhan psikologis dari mahasiswa. Saat stimulus
eksternal yang berada pada tingkatan paling bawah bertindak sebagai pemicu
(trigger), maka mahasiswa akan menunjukkan dan menggambarkan perhatian yang
begitu besar pada stimulus tersebut.
Menurut teori Robert West, stimulus eksternal menjadi faktor dominan dalam
menciptakan suatu kondisi dorongan. Saat kebutuhan psikologis sebagai stimulus
eksternal, ketidaknyamanan akan perilaku merokok sebagai suatu keadaan
emosional, dan dorongan untuk hidup sehat bersatu akan menghasilkan respon untuk
menghentikan perilaku merokok menjadi berhenti dan mempertahankan perilaku
berhenti merokok.
34

Pada aspek kelima yaitu subsistem responses, seseorang sudah menunjukkan


adanya perubahan perilaku. Mereka menghentikan perilaku adiktif merokok menjadi
berhenti merokok dan berhasil mempertahankan perilaku berhenti merokok dalam
jangka waktu yang cenderung lama, yaitu 1-3 tahun.
Berhenti merokok merupakan keinginan kuat mereka untuk menghentikan
kebiasaan merokok dan dilakukan secara sadar. Adanya rencana untuk berhenti
merokok, evaluasi atas rencana tersebut, dan motif dibalik tingkah laku berhenti
merokok, serta dorongan dalam diri yang begitu kuat merupakan prediktor penting
untuk merubah tingkah laku menjadi berhenti merokok.
Kwon dkk. (2014) melakukan sebuah penelitian mengenai pengaruh dukungan
istri dalam usaha pengurangan atau pengehentian perilaku merokok para suami
mereka yang merupakan perokok aktif. Kebanyakan dari suami yang berhasil
menghentikan perilaku merokoknya mengungkapkan bahwa salah satu kunci penting
keberhasilan seorang perokok aktif untuk berhenti merokok adalah perokok aktif
tersebut bisa memilih atau memutuskan untuk berhenti merokok tanpa ada paksaan
atau ancaman dari pihak manapun. Kebanyakan para perokok aktif yang berhasil
berhenti merokok memiliki istri yang bersifat "suportif", dimana sang istri
memberikan hak sepenuhnya kepada suami mereka yang merupakan perokok aktif
untuk menentukan kapan dan bagaimana cara mereka untuk berhenti merokok.
Tindakan sang istri yang memberikan previlage kepada pasangannya dalam hal
berhenti merokok ini akan menumbuhkan jiwa maskulinitas seorang suami dimana ia
ingin menepati janji atau komitmen untuk berhenti merokok yang telah dibuatnya
bersama istri dan menjadi contoh yang baik dalam keluarganya.
Selain itu, upaya untuk berhenti merokok sebaiknya tidak selalu dipandang
sebagai sesuatu yang membebani, dimana salah satu subjek penelitian yang
dilakukan oleh Kwon dkk. (2014) yang bernama Joe mengemukakan bahwa salah
satu alasan beliau berhasil berhenti merokok adalah karena istrinya yang sangat
mendukung keinginananya untuk berhenti merokok. Istri Joe membuat upaya
berhenti merokok Joe menjadi sebuah kompetisi bagi diri Joe dan juga istrinya.
Terlebih Joe mengaku bahwa ia adalah orang yang sangat kompetitif sehingga
memacu dirinya untuk menang dari istrinya dan berhenti merokok untuk selamanya.
35

2.5. Usaha Pengendalian Rokok di Indonesia

2.5.1. Program Pengendalian Tembakau di Indonesia

Hampir 80% perokok mulai merokok ketika umurnya belum


mencapai 19 tahun. Pada umur yang rawan ini, remaja berhadapan
dengan gencarnya iklan dan citra yang dijual oleh industri
tembakau, sementara kemampuan untuk menilai dan mengambil
keputusan dengan benar belum dimiliki. Umumnya orang mulai
merokok sejak muda dan tidak tahu resiko mengenai bahaya adiktif
rokok. Keputusan konsumen untuk membeli rokok tidak didasarkan
pada informasi yang cukup tentang risiko produk yang dibeli namun
efek ketagihan dan dampak pembelian yang dibebankan pada
orang lain baik yang membeli maupun yang tidak membeli produk
tersebut.
Berdasarkan UU no. 40 tahun 1999 tentang Pers dan UU no.
32 tahun 2002 tentang penyiaran yang didalamnya mengatur
mengenai larangan iklan, promosi dan sponsorship rokok walaupun
tidak secara menyeluruh (total ban) namun hanya melarang iklan
di media elektronik mulai pukul 05.00 - 21.30 WIB diluar waktu
tersebut bebas atau pada media cetak dan visual dilarang
memeragakan wujud rokok atau penggunaan rokok. Undang
undang ini dianggap paling lemah dalam upaya melindungi
generasi muda untuk mengkonsumsi tembaka. Undang- undang ini
dapat secara komprehensif menjelaskan mengenai bahaya dan
dampak tembakau bagi masyarakat yang melihat tayangan iklan
rokok baik di media TV maupun cetak.
Dalam UU Kesehatan no. 36 tahun 2009 telah mengatur lebih
jauh lagi mengenai produksi, peredaran dan penggunaan, produk
yang mengandung tembakau baik padat, cair dan gas yang bersifat
adiktif. Bahkan dalam Undang-undang ini telah menyebutkan
36

beberapa ruang publik yang dijadikan sebagai KTR (Kawasan Tanpa


Rokok) yakni fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses ajar
mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum,
tempat kerja dan tempat tempat umum yang telah di tetapkan.
Sebagai turunan dari UU kesehatan No. 36 tahun 2009
tersebut diterbitkanlah PP no. 109 tahun 2012 yang berisi regulasi
produksi dan peredaran produk tembakau. Peraturan pemerintah
ini bertujuan untuk meningkatkan perlindungan terhadap
masyarakat mengenai produk atau bahan yang mengandung zat
adiktif berupa tembakau bagi kesehatan. Hal hal yang diatur dalam
PP tersebut antara lain dalam produksi tembakau, setiap produsen
berkewajiban melakukan pengujian kadar nikotin dan tar kecuali
untuk produk klobot, klembak, menyan, cerutu dan tembakau iris
selama teknologi belum memungkinkan. Dilarang menggunakan
bahan tambahan lain kecuali yang telah dapat dibuktikan tidak
berbahaya bagi kesehatan serta terdapat pembatasan jumlah
minimal batang per bungkus yakni paling sedikit 20 batang bagi
rokok putih mesin, diluar jenis itu terdapat ketentuan yang
berbeda.

Beberapa informasi yang wajib dicantumkan dalam bungkus rokok


bilamana produk tersebut akan diedarkan antara lain:
a) Kadar tar dan nikotin
b) Pernyataan bahwa tidak ada batas aman dalam merokok
c) Mengandung lebih dari 4000 zat kimia berbaaya serta lebih
dari 43 zat penyebab kanker
d) Dilarang menjual atau memberi rokok kepada anak berumur
dibawah 18 tahun dan perempuan hamil
e) Kode produksi, tanggal-bulan-tahun, nama dan alamat
produsen
37

Dalam PP ini juga melarang menjual rokok dengan mesin


layan diri (vending machine) dan mencantumkan kata Light,
Ultra Light Mild Low Tar dan kata-kata lain yang
mengindikasikan kualitas, superioritas, rasa aman, pencitraan dan
lain sebagainya. Selain itu, dalam setiap peredaran produk
tembakau berkewajiban mencantumkan peringatan kesehatan
berbentuk gambar dan tulisan seluas 40% pada kemasan depan
dan belakang. Ketentuan ini tidak berlaku bagi rokok klobot,
klembak menyan, dan cerutu batangan.
Upaya pemerintah untuk dapat melindungi anak dan remaja
dari upaya agresif adalah dengan membuat kebijakan terhadap
industri tembakau. Salah satu upaya pengendalian tembakau
dalam media iklan berdasarkan PP no. 102 tahun 2012 adalah
sebagai berikut:
1. Iklan dalam media cetak tidak boleh di sampul/halaman depan,
berdekatan dengan iklan makanan/minuman, tidak se-halaman
penuh, tidak pada media cetak bagi anak, remaja dan
perempuan.
2. Iklan di media penyiaran iklan di TV maupun radio hanya boleh
ditayangkan pukul 21.30 s/d 05.00, yang merupakan waktu
istirahat bagi anak-anak dan remaja.
3. Iklan di media teknologi informasi harus menerapkan verifikasi
umur 18+ untuk membatasi akses, contohnya iklan pada laman-
laman internet.
4. Iklan di media luar ruang tidak di KTR, tidak di jalan utama atau
protokol, harus sejajar 35 dengan bahu jalan, maksimal 72 m2 .

Mengenai informasi kesehatan dalam bungkus rokok,


pemerintah dalam hal ini kementerian kesehatan telah
mengeluarkan Permenkes no. 28 tahun 2013 yang mengatur
mengenai mekanisme dan persyaratan dalam pencantuman
38

peringatan kesehatan dan infomasi kesehatan dalam produk


tembakau, dimana didalamnya terdapat gambar yang akan
dicantumkan dalam kemasan produk tembakau.
Hal lainnya yang telah dilakukan Indonesia dalam upaya
pengendalian tembakau adalah dengan diterbitkannya Peraturan
Bersama Menteri Dalam Negeri No. 188/MENKES/PB/E2011 Tentang
Pedoman Pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Peraturan
bersama ini sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 dibuat dengan
tujuan untuk memberikan acuan bagi pemerintah daerah dalam
menetapkan KTR, memberikan perlindungan yang efektif dari
bahaya asap rokok, memberikan ruang dan lingkungan yang bersih
dan sehat bagi masyarakat, dan melindungi kesehatan secara
umum dari dampak buruk merokok baik secara langsung maupun
tidak langsung. Adapun ruang lingkup KTR yang ditetapkan dalam
peraturan bersama ini sesuai dengan yang diatur oleh UU No. 36
Tahun 2009 antara lain fasilitas pelayanan kesehatan, tempat
belajar mengajar, tempat ibadah, tempat bermain anak, angkutan
umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang
ditetapkan.
Terhitung sejak terbit UU no. 36 tahun 2009 tentang
kesehatan beberapa daerah secara inisiatif sudah membuat
peraturan mengenai KTR dalam bentuk perda, peraturan gubenur,
peraturan bupati maupun peraturan walikota yakni 3 provinsi yang
memiliki perda tentang KTR yakni DKI Jakarta, Bali dan Sumatra
Barat, 58 Kabupaten kota yang memiliki perda, peraturan bupati
maupun peraturan walikota tentang KTR serta 15 kabupaten/kota
yang sudah memiliki kebijakan dalam bentuk SK/instruksi maupun
surat edaran. Dengan terbitnya Peraturan Bersama Menteri Dalam
Negeri No. 188/MENKES/PB/E2011 Tentang Pedoman Pelaksanaan
Kawasan Tanpa Rokok (KTR) akan mendorong semua kabupaten
39

kota untuk menerbit kebijakan turunannya baik perda, perbu


maupun perwali yang terkait dengan pelaksanaan KTR di
kabupaten kota.

Dalam keadaan tertentu, pengelola gedung yang termasuk


dalam ruang lingkup KTR dapat menyediakan tempat khusus untuk
merokok sebagaimana diatur dalam pasal 5 asalkan memenuhi
syarat sebagai berikut:
1. Merupakan ruang terbuka atau ruang yang berhubungan
langsung dengan udara luar sehingga udara dapat bersirkulasi
dengan baik;
2. Terpisah dari gedung/tempat/ruang utama dan ruang lain yang
digunakan untuk berakti vitas;
3. Jauh dari pintu masuk dan keluar; dan
4. Jauh dari tempat orang berlalu-lalang

Berdasarkan UU no. 39 tahun 2007 tentang cukai, besaran


cukai rokok ditetapkan adalah sebesar 57 persen dari harga jual
eceran. Jika dibandingkan dengan praktek penerapan cukai di
negara-negara di ASEAN, cukai rokok di Indonesia memang lebih
rendah dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, Thailand, dan
lain lain. Murahnya harga rokok di Indonesia menjadi faktor utama
meningkatkan jumlah perokok baru terutama generasi muda.
Perbandingan harga rokok merek internasional di ASEAN terdapat
pada tabel dibawah ini.

Tabel 2.2. Perbandingan Harga Rokok Merek Internasional di


ASEAN
N Harga Rokok (USD per
Negara
o. bungkus)
40

1. Singapura 8,3

2. Brunei Darussalam 5,9

3. Malaysia 3,32

4. Thailand 2,36

5. Laos 1,46

6. Indonesia 1,24

7. Kamboja 1,19

8. Vietnam 0,74

9. Filipina 0,63
Sumber: Atlas Tembakau Indonesia Ed. 2013 http://tcscindonesia.org/wpcontent/
uploads/2014/02/Atlas.pdf

Kementrian kesehatan telah menerbitkan sebuah Roadmap


pengendalian tembakau di Indonesia melalui Permenkes RI No. 40
tahun 2013 Tentang Peta Jalan Pengendalian Dampak Konsumsi
Rokok Bagi Kesehatan. Peta jalan pengendalian dampak konsumsi
rokok bagi kesehatan digunakan sebagai acuan bagi pemerintah,
pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengambilan kebijakan
dan strategi berbagai program pengendalian dampak konsumsi
rokok di Indonesia.

Peta jalan ini juga bertujuan untuk mewujudkan


penyelenggaraan upaya pengendalian dampak konsumsi rokok
yang terintegrasi, efektif, dan eftsien. Capaian peta jalan
pengendalian tembakau ini diukur kedalam tiga tahap yaitu tahun
2009-2014, 2015-2019, dan 2020-2024. Adapun capaian yang
diharapkan pada setiap tahapan tersebut antara lain dijabarkan
pada tabel 2.
41

Tabel 2.3. Roadmap Pengendalian dampak konsumsi rokok bagi


kesehatan
2009 2014 2015 2019 2020 2024

1. Ditetapkannya 1. Penurunan 1. Penurunan


kebijakan yang prevalensi rokok prevalensi perokok
melindungi sebesar 1% 10% pada tahun
masyarakat dari pertahun 2024 dibanding
ancaman bahaya prevalensi perokok
2. Penurunan
rokok pada tahun 2013
perokok pemula
2. Indonesia menjadi sebesar 1% 2. Perubahan normal
anggota conference of pertahun sosial kebiasaan
partles FCTC anak merokok

3. Pelaksanaan proses 3. Penurunan


legislasi prevalensi
Perda/kebijakan KTR di mortalitas 10%, 4
seluruh wilayah Penyakit Tidak
Menular terbesar

Sumber: Permenkes No. 40 tahun 2013

2.5.2. Dampak Positif Pengendalian Tembakau


Pemerintah mempunyai kewajiban dan wewenang untuk
melindungi masyarakat melalui:
1. Peningkatan cukai
Salah satu upaya pengendalian tembakau yang dapat
meningkatan pemasukan negara, serta efektif meningkatan
pencegahan individu dari merokok terutama pada perokok dari
remaja dan perokok yang berasal dari keluarga miskin. Peningkatan
cukai sebesar 100% meningkatkan output perekonomian sebesar
Rp. 335 milyar, pendapatan masyarakat sebesar Rp. 492 milyar
42

dan lapangan pekerjaan sebanyak 281.135 pekerjaan barn (Ahsan


& Wiyono, 2007). Sementara setiap kenaikan cukai sebesar 10%
hanya akan mengurangi konsumsi sebesar 4% di negara maju dan
8% di negara berkembang.

2. Larangan iklan secara menyeluruh


Larangan iklan secara menyeluruh merupakan upaya
menghindari masyarakat dari informasi yang menyesatkan.
Pelarangan ini mecakup iklan, promosi, dan sponsorship dari
industri tembakau baik di masyarakat maupun untuk remaja.
Hingga saat ini industri rokok telah menjadikan anak-anak dan
remaja merupakan sasaran target investasi untuk keberlangsungan
industri rokok. Untuk itu kebijakan larangan iklan rokok secara
menyeluruh tersebut meliputi pelarangan (1) iklan, baik langsung
maupun tidak langsung di semua media massa; (2) promosi dalam
berbagai bentuk, misalnya potongan harga, hadiah, peningkatan
citra perusahaan dengan menggunakan nama merek atau
perusahaan dan (3) sponsorship dalam bentuk pemberian
beasiswa, pemberian bantuan untuk bidang pendidikan,
kebudayaan, olah raga, lingkungan hidup, dll.

3. Penerapan kawasan tanpa rokok


Penerapan kawasan tanpa rokok melindungi hak individu
yang berada di sekitar perokok untuk menghirup udara yang bersih
dan sehat, bebas dari asap rokok. Larangan merokok perlu
diterapkan di tempat-tempat umum, tempat kerja dan transportasi
umum bahkan di dalam rumah sekalipun. Selain itu penerapan
kawasan tanpa asap rokok ini sebenarnya ingin menginisiasi
perokok untuk dapat menahan menunda kebiasaan merokoknya
dan sebagai langkah awal perokok untuk berhenti merokok
43

4. Peringatan kesehatan berbentuk gambar


Peringatan kesehatan berbentuk gambar pada bungkus rokok
adalah sarana informasi dan edukasi yang murah dan efektif. Untuk
melaksanakan kebijakan ini pemerintah tidak perlu mengeluarkan
anggaran khusus untuk mendidik masyarakat akan bahaya
merokok, khususnya masyarakat yang buta huruf. Gambar yang
ditampilkan mengenai komplikasi penyakit akibat merokok
harapannya dapat menangkal iklan rokok yang cenderung
menyesatkan.

Implementasi FCTC
FCTC {Framework Convention on Tobacco Control)
adalah sebuah kerangka konvensi pengendalian tembakau atau
treaty adalah traktat dunia untuk mengendalikan tembakau yang
dirancang oleh WHO yang memiliki kekuatan mengikat secara
hukum. Naskah ini dirancang tahun 1995 dalam pertemuan yang
diselenggarakan oleh Inter governmental Negotiating Body
(INB) di Geneva dilatar belakangi oleh bukti bukti bahwa tembakau
merupakan zat adiktif dan kandungannya baik yang terkandung
dalam tembakau maupun asapnya menyebabkan gangguan
kesehatan bahkan kematian prematur. Naskah ini mendapat
masukan dari negara-negara di dunia, dan secara resmi dibuka
ratifikasi dan tanda tangan pada juni 2003 dan juni 2004.
Konvensi FCTC ini baru ditandatangani oleh 169 negara. Ketentuan
menurut World Health Assembly traktat akan berlaku secara
otomatis di semua negara dalam 5 tahun apabila sudah
ditandatangani oleh 40 negara dan sejak 27 Februari 2005 traktat
ini sudah mulai berlaku menjadi Hukum Internasional. Indonesia
44

walaupun ikut terlibat aktif dalam menyusun rancangan FCTC baik


dalam pertemuan-pertemuan internasional maupun pertemuan
regional antara negara anggota WHO di kawasan Asia Tenggara.
Namun Indonesia satu-satunya negara di Asia Pasifik yang belum
atau tidak meratifikasi dan menandatangani traktat ini.
Berdasarkan ketentuan tetap saja Indonesia harus melaksanakan
traktat pada tahun 2010. Padahal seluruh masyarakat global
sepakat bahwa butir-butir dalam FCTC merupakan upaya
perlindungan kesehatan masyarakat yang merupakan hak azasi
manusia yang bersifat universal.

Tujuan dari FCTC adalah melindungi generasi saat ini dan


yang akan datang dari perusakan kesehatan, sosial, lingkungan dan
ekonomi yang diakibatkan oleh konsumsi tembakau atau rokok dan
paparan asap rokok, yang diterapkan pada semua
institusi/bagian/negara pada tingkat nasional regional dan
internasional untuk terns menerus dan substansial mengurangi
prevalensi penggunaan tembakau dan prevalensi paparan asap
rokok, FCTC ini terdiri dari 21 bagian dengan 38 pasal ditambah 2
lampiran, dimana didalamnya tercantum pokok-pokok kebijakan
serta protokol pengendalian tembakau yang mencakup:
1. Menaikan harga dan pajak rokok (pasal 6)
2. Perlindungan terhadap paparan asap rokok (pasal 8)
3. Pembungkusan dan label produk rokok (pasal 11)
4. Edukasi, komunikasi dan pelatihan untuk kesadaran publik
(pasal 12)
5. Pelarangan iklan, promosi dan sponsor rokok (pasal 13)
6. Tindakan pengurangan terhadap ketergantungan rokok dan
pengobatan ketergantungan rokok (pasal 14)
7. Tindakan untuk mengurangi suplai rokok atau tembakau (pasal
15 - 17), termasuk pelarangan penjualan oleh dan kepada anak
45

anak.
8. Perlindungan terhadap lingkungan dan kesehatan manusia
(pasal 18)

Strategi MPOWER dan Penerapannya di Indonesia


Guna memperluas perlawanan terhadap epidemi tembakau,
World Health Organization menyarankan 6 langkah
pengendalian tembakau dan kematian yang disebut dengan
strategi MPOWER.
1. Monitor penggunaan tembakau dan pencegahannya
Monitor penggunaan tembakau dan dampak yang
ditimbulkan harus diperkuat untuk kepentingan perumusan
kebijakan. Saat ini 2/3 negara berkembang di seluruh dunia tidak
memiliki data dasar penggunaan tembakau pada anak muda dan
orang dewasa. Hampir 2/3 perokok tinggal di 10 negara dan
Indonesia menduduki posisi ketiga (WHOf, 2008). Saat ini
Indonesia telah memiliki data dasar penggunaan tembakau
untuk remaja dan dewasa secara berkala dalam beberapa survei
berbasis masyarakat (SKRT, RISKESDAS, GATS, GYTS, GSPS, dan
GSHP) sejak tahun 1995. Survei nasional ini mengalami
peningkatan metodologi sehingga bisa dibandingkan secara
nasional maupun intemasional

2. Perlindungan terhadap asap tembakau


Asap rokok tidak hanya berbahaya bagi orang yang
menghisap rokok tetapi juga orang di sekitamya (perokok pasif).
Lebih dari separuh negara di dunia, dengan populasi mendekati
2/3 penduduk dunia, masih membolehkan merokok di kantor
pemerintah, tempat kerja dan di dalam gedung. Perlindungan
46

terhadap asap tembakau hanya efektif apabila diterapkan


Kawasan Tanpa Rokok 100%.

Sampai saat ini, sudah ada tiga provinsi dan 12 kabupaten


atau kota yang memiliki Peraturan Daerah tentang Kawasan
Tanpa Rokok. Pelaksanaan lebih menekankan pada penegakan
hukum (law enforcement). Sebanyak 15 kabupaten/kota sudah
memiliki Peraturan Walikota/Bupati dan Peraturan Gubernur.
Kabupaten dan Kota pada tahap ini masih perlu
memperjuangkan Peraturan Daerah melalui DPRD setempat.

3. Optimalkan dukungan untuk berhenti merokok


Tiga dari 4 perokok di seluruh dunia menyatakan ingin
berhenti merokok namun bantuan komprehensif yang tersedia
baru dapat menjangkau 5% nya. Bantuan yang dapat diberikan
adalah: 1) Pelayanan konsultasi bantuan berhenti merokok yang
terintegrasi di pelayanan kesehatan primer; 2) Quitline: Telepon
layanan bantuan berhenti merokok yang mudah diakses dan
cuma-cuma; 3) Terapi obat yang murah dengan pengawasan
dokter. Pada tahun 2012, ada tiga Provinsi yang sedang dalam uji
coba untuk pelayanan konseling berhenti merokok di tingkat
Puskesmas, yaitu DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Sejak tahun
2007, pada tingkat pelayanan sekunder dan tersier (BP4 dan RS),
sudah dilakukan inisiasi pelayanan berhenti merokok di Klinik
Quitline FK UGM DI Yogyakarta, BP4 DI Yogyakarta, Klinik
Berhenti Merokok FK UNDIP Semarang, RS Persahabatan Jakarta,
RS Sahid Suherman Jakarta, dan beberapa klinik yang tersebar di
kabupaten/ kota di Indonesia

4. Waspadakan masyarakat akan bahaya tembakau


47

Walaupun sebagian besar perokok tahu bahwa rokok


berbahaya bagi kesehatan, namun kebanyakan dari mereka tidak
tahu apa bahayanya. Karena itulah, pesan kesehatan wajib
dicantumkan dalam bentuk gambar. Sebagian besar perokok
tahu bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, namun
kebanyakan dari mereka tidak tahu apa bahayanya. Karena
itulah, pesan kesehatan wajib dicantumkan dalam bentuk
gambar. Sesuai Amanat UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 Pasal
115 sudah terdapat Peraturan Pemerintah (PP) no. 102 tahun
2012 yang mengatur peringatan kesehatan bergambar pada
bungkus rokok.

5. Eliminasi iklan, promosi dan sponsor terkait tembakau


Pemasaran tembakau memiliki peranan besar dalam
meningkatkan gangguan kesehatan dan kematian karena
tembakau. Larangan terhadap promosi produk tembakau adalah
senjata yang ampuh untuk memerangi tembakau. Sepuluh tahun
sejak inisiasi larangan iklan rokok dijalankan, konsumsi rokok di
negara dengan larangan iklan turun 9 kali lipat dibandingkan
dengan negara tanpa larangan iklan (Saffer, 2000).

6. Raih kenaikan cukai tembakau


Dengan menaikkan cukai tembakau, harga rokok menjadi
lebih mahal. Hal ini merupakan cara yang paling efektif dalam
menurunkan pemakaian tembakau dan mendorong perokok
untuk berhenti. Strategi MPOWER harus dilaksanakan secara
keseluruhan untuk mencapai hasil yang efektif. Dengan
menaikkan cukai tembakau, harga rokok menjadi lebih mahal.
Hal ini merupakan cara yang paling efektif dalam menurunkan
pemakaian tembakau dan mendorong perokok untuk berhenti.
Sejak tahun 2007, Indonesia secara bertahap sudah
48

meningkatkan cukai rokok, dari 42% harga eceran menjadi 51%


pada tahun 2012. Diharapkan peningkatan cukai tetap
berlangsung sehingga dapat menurunkan konsumsi rokok.

Upaya Berhenti Merokok


Faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit
dibatasi karena perilaku merupakan resultan dari berbagai faktor,
baik internal maupun eksternal (lingkungan). Secara garis besar
perilaku manusia dapat dilihat dari 3 aspek yakni aspek fisik, psikis
dan sosial. Perilaku manusia merupakan refleksi dari berbagai
gejala kejiwaan seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, minat,
intensi, persepsi, sikap dan sebagainya.

Pada tahun 1980 Lawrence Green mencoba menganalisis


perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau
masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok yakni faktor perilaku
(behaviour causes) dan faktor diluar perilaku (non behaviour
causes). Selanjutnya perilaku sendiri ditentukan atau terbentuk dari
tiga faktor yakni:
1. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor) yang terwujud
dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai nilai
dan lain yang memudahkan atau menghambat intensi pribadi
untuk berubah
2. Faktor-faktor pemungkin (enabling factor) yang terwujud
dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-
fasilitas atau sarana-sarana kesehatan misalnya puskesmas,
obat obatan, alat alat kontrasepsi, jamban keterbatasan
fasilitas, tidak mencukupinya kemampuan, tidak ada asuransi
kesehatan, ketergantungan, dan rendahnya pendapatan, serta
adanya regulasi atau undang-undang yang membatasi.
49

3. Faktor-faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud


dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan dan petugas
lainnya yang merupakan kelompok referensi dari perilaku
masyarakat yang hasilnya dapat mendorong atau melemahkan
perubahan perilaku

Pendidikan kesehatan mempunyai peranan penting dalam


megubah dan menguatkan ketiga faktor tersebut agar searah
dengan tujuan kesehatan sehingga menimbulkan perilaku yang
positif dari masyarakat terhadap kesehatannya. Terdapat beberapa
modifikasi terhadap teori Green, diantara kerangka fikir PRECEDE -
PROCEED, dimana:
1. PRECEDE adalah Predisposing, Enabling, Reinforcing,
Cause in Educational, Diagnosis, and Evaluation, yang
merupakan arahan dalam menganalisis dan mendiagnosis
perilaku untuk promosi kesehatan atau dengan kata lain
merupakan fase diagnosis masalah.
2. PROCEED adalah Policy, Regulatory, Organizational,
Constact in Educational and Environment Development,
yang merupakan arahan dalam perencanaan, implementasi,
dan evaluasi pendidikan kesehatan.

Berbagai alasan perokok ingin berhenti merokok, walaupun


itu merupakan proses yang sulit. Dalam pelayanan kedokteran
telah dibuat standar program berhenti merokok yang dilakukan
oleh dokter di layanan primer atau dokter keluarga (Whiney, 1997
dalam Mallin, 2002).
Program ini idealnya merupakan bagian terpadu dari upaya
pelayanan kesehatan dan sebaiknya didukung oleh kebijakan
kesehatan lainnya antara lain pelarangan iklan rokok,
50

mencantumkan peringatan pada kemasan rokok, meningkatkan


cukai rokok dan melarang penjualan rokok pada anak-anak, ruang
umum, kewajiban membayarkan kompensasi akibat rokok, class
action sampai ke pemberlakuan undang-undang anti rokok
(Tjandra, 2004). Terdapat 70% perokok di USA ingin berhenti
merokok selama mereka merokok. 41% diantara sudah mencoba
berhenti merokok dalam 12 bulan terakhir, namun hanya 7 % dapat
berhenti merokok pada satu tahun kedepan (Britton, 2004).
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan berhenti
merokok antara lain jenis kelamin umumnya laki-laki, umur dewasa,
ekonomi menengah ke atas, rendahnya konsumsi alkohol,
sedikitnya jumlah rokok per hari, waktu pertama kali merokok di
pagi hari di atas satu jam setelah bangun tidur, penggunaan waktu
premium, umur pertama kali setelah umur 20 tahun, riwayat
merokok masa lalu, keinginan yang kuat untuk berhenti merokok
dan tidak ada perokok lain dalam rumah tangga (Chandolla, Head,
& Barthley, 2004)
Senada dengan yang disampaikan Chandolla, terdapat
beberapa faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan berhenti
merokok seperti terlambat umur mulai merokok, pernah mencoba
mencoba berhenti merokok dalam jangka waktu yang lama, tidak
cemas dan depresi, rendahnya ketergantungan nikotin, tidak
mengkonsumsi alkohol, menikah, dan atau tidak mempunyai
anggota keluarga yang merokok di rumah atau di tempat kerja.
(Caponetto & Ricardo , 2008). Fazwani & Triratnawati (2005)
menambahkan alasan utama perokok berhenti merokok adalah
faktor organisasi keagamaan dan keluarga.
Dari keseluruhan faktor-faktor diatas yang paling
berpengaruh adalah kebiasaan merokok setiap hari dan waktu
pertama kali merokok di pagi hari (Hymowitz, Cummings, Hyland,
51

Lynn, & Pechacek, 1997). Pernyataan ini didukung oleh penelitian


yang dilakukan oleh Caponetto & Ricardo (2008) determinan yang
mempengaruhi individu untuk berhenti merokok yang ditemukan
pada saat konseling berhenti merokok dikelompokkan dalam 3
kelompok yakni faktor karakteristik individu dan keluarga, faktor
psikologis dan kognitif.

1. Karakteristik individu dan keluarga


a. Gender
Pada penelitian yang dilakukan oleh (Fiore, 2000), laki-laki
memiliki peluang untuk berhenti merokok yang lebih besar
dibandingkan perempuan. Dalam kehidupan sehari hari sebenamya
tidak ada perbedaan gender dalam berhenti merokok, namun pada
perempuan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi yakni
berat badan, penggunaan obat, dukungan sosial, memiliki
kepekaaan terhadap lingkungan yang cenderung lebih tinggi
dibandingkan laki-laki.

b. Umur
Proporsi remaja yang mulai merokok masih sangat tinggi
selama 20 tahun terakhir. Perokok di umur muda cukup
memperhatikan kesehatannya serta banyak diantara mereka yang
mau berhenti merokok. Akan tetapi, mereka memiliki kesulitan
untuk mengubah kebiasaannya meskipun jumlah rokok yang
mereka hisap tidak terlalu banyak. Hal ini disebabkan perokok
muda tersebut sudah mengalami ketergantungan nikotin dan
merasa berhenti merokok merupakan hal yang sulit.Banyak
diantara mereka juga mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan
terlarang. Cara mencegah remaja untuk berhenti merokok belum
ditemukan, satu hal yang bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan
yaitu memberikan konsultasi dan kampanya anti rokok. Hal
52

tersebut dikarenakan penggunaan obat-obatan tidak dianjurkan


bagi remaja.

c. Umur pertama kali merokok


Umur merokok pertama kali sangat penting dalam
menentukan keberhasilan berhenti merokok. Semakin muda umur
pertama kali merokok akan semakin tinggi tingkat ketergantungan
nikotin dan kekambuhan. Oleh karena perlu dilakukan strategi
berhenti merokok yang komprehensif agar program berhenti
merokoknya berhasil. Umur yang paling banyak manfaat kesehatan
untuk berhenti yakni 35 hingga 44 tahun akan tetapi berhenti
diumur 45 hingga 54 masih memiliki manfaat (Jah & Chaloupka ,
2000).

d. Pernah mencoba berhenti merokok


Individu yang pernah mencoba berhenti merokok memiliki
kemungkinan yang lebih besar untuk berhasil berhenti merokok di
masa depan dan perokok yang telah mencoba berhenti merokok
lebih dari 5 hari akan lebih berhasil berhenti merokok kedepannya.
Tenaga kesehatan sebaiknya memberikan penguatan untuk
perokok yang telah mencoba berhenti merokok untuk
memperpanjang waktu berhenti merokoknya pada rencana
berhenti merokok selanjutnya. Dalam proses ini perlu diidentifikasi
faktor faktor yang menyebabkan kekambuhan keinginan merokok
sebelumnya, agar dapat melakukan pencegahan kekambuhan di
masa yang akan datang.

e. Menikah atau memiliki pasangan


Menikah atau memiliki pasangan merupakan salah satu
dukungan yag berasal dari luar diri yang merupakan bagian dari
program berhenti merokok (OR 1,43, 95% Cl 1,25-1,65.) Perokok
53

cenderung lebih bisa berhenti merokok jika mempertimbangakan


orang-orang yang ada di lingkungan sekitamya. Hal tersebut
dikarenakan rokok tidak bisa diterima di lingkungan sosial.
Penelitian terakhir yang dilakukan di Inggris bahwa faktor sosial
demografi yang sangat kuat dalam prediksi berhenti pekerja adalah
pergaulan sosial dipekeijaan, dukungan sosial, dukungan dari
masyarakat dan adanya perokok lain dalam keluarga, khususnya
status menikah dan tingkat dukungan dari anggota keluarga
menjadi faktor penting dalam keberhasilan berhenti merokok
(Chandolla, Head, & Barthley, 2004). Perokok yang memiliki partner
biasanya lebih banyak untuk berhenti merokok dan bilamana
partnernya tersebut perokok juga akan mengajak pasangannya
untuk berhenti merokok pada saat yang sama. Oleh karena itu,
dukungan dari pasangan menjadi variabel yang sangat penting
untuk mendukung kesuksesan berhasil berhenti merokok

f. Sosial ekonomi
Pada beberapa negara maju prevalensi merokok sudah
menurun dalam 30 tahun terakhir namun pada masyarakat tidak
mampu masih belum terjadi penurunan yang signifikan bahkan
cenderung meningkat. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan
umur harapan hidup antar kelompok masyarakat yang mampu
dengan yang tidak mampu. Kelompok masyarakat tidak mampu
umumnya memiliki intensi yang rendah untuk berhenti merokok
sehingga banyak diantara mereka yang gagal dalam mencoba
berbagai metode untuk berhenti merokok. Sementara itu,
ketergantungan nikotin teijadi lebih besar pada kelompok
masyarakat yang tidak mampu

2. Faktor Psikologis
54

a. Depresi
Pada saat konsultasi hendaknya didapatkan mengenai
riwayat depresi rokok. Perokok yang mengalami depresi merokok
cenderung mengalami masalah putus nikotin yang berat selama
tidak merokok. Peggunaan obat sebagai terapi depresi putus nikotin
sangat penting, namun harus mendapatkan saran terapi dari
tenaga spesialis terlebih dahulu. Perokok yang menggunakan terapi
anti depresan memiliki hubungan yang kuat dengan tingkat depresi
dan kesuksesan berhenti merokok (OR 1.35 Cl 95% 1.00 - 1,81)

b. Kecemasan
Selama konsultasi perokok mendapatkan saran yang pasti
mengenai tingkat kecemasan menggunakan kuesioner sederhana
dan tervalidasi seperti Hamilton Anxiety Scale. Tingkat
kecemasan perlu mendapat perhatian dalam strategi berhenti
merokok karena merupakan salah satu gejala putus nikotin (OR
pada laki-laki 2,2 dan OR untuk perempuan 2,6) serta perokok
mendapatkan masukan mengenai tingkat kecemasannya dan
kemungkinan peningkatnnya dalam minggu pertama setelah
berhenti merokok. Dalam kondisi seperti ini akan lebih bermanfaat
jika diintervensi dengan obat-obatan. Untuk penggunaan ansietas
harus dipertimbangkan keperluan per individu.

c. Tingkat ketergantungan nikotin


Nikotin merupakan zat kimia utama dalam rokok yang
menyebabkan orang menderita ketergantungan. Karena nikotin
merupakan suatu zat psiaktif yang mencetuskan euforia saat
digunakan dan dapat mengakibatkan withdrawl bila tidak
digunakan serta mempengaruhi mood dan penampilan (Sherina,
55

2003) (Hughes 2000). Mekanisme kerja nikotin dalam tubuh adalah


sebagai berikut: setelah menghisap rokok kadar nikotin dalam
darah meningkat tajam dalam 15 detik, bolus nikotin mengaktifkan
suatu si stem yang disebut brain reward system dengan cara
meningkatkan pelepasan dopamin. Nikotin mempengaruhi banyak
nentransmitter dan merangsang reseptor asetilkolin pada neuron
yang berisi dopamin. Stimulasi reseptor asetilkolin inilah yang
menyebabkan timbunan dopamin dipusat brain reward system.
(Pots & Garwood, 2007)(Petter & Morgan, 2002).

Aktivasi brain reward system ini menimbulkan perasaan


senang seperti yang ditimbulkan oleh aktivitas seksual dan makan
(Petter & Morgan, 2002). Kadar puncak nikotin diikuti dengan
turunnya kadar nikotin secara bertahap sampai pada satu titik
withdrawl yang hanya dapat dihilangkan dengan menghisap
rokok. Selanjutnya ketergantungan nikotin timbul dari hubungan
temporal antara ritual menghisap rokok dan input sensorik dengan
stimulasi berkurang dan hilangnya withdrawl (Petter & Morgan,
2002) (Benowitz, 1996). Oleh karena itu, salah satu hambatan
seorang perokok untuk berhenting merokok adalah terjadinya
withdrawl symptomps atau gejala putus nikotin .

Faktor faktor yang mempengaruhi adiksi nikotin :


1.Faktor biologi/genetik, pada sebuah penelitian dikatakan bahwa
faktor genetik lebih berpengaruh terhadap ketergantungan
nikotin dibandingkan dengan faktor lingkungan (72%
berbanding 28%). Lingkungan sendiri berpengaruh terhadap
onset umur seorang individu mulai menggunakan nikotin namun
genetik lebih berpengaruh terhadap waktu antara pertama kali
merokok dengan penggunaan yang rutin dan berkelanjutan.
56

2. Individu yang mempunyai alel Taq 1-A dan Taq 1-B pada reseptor
dopamin D2 cenderung menggunakan rokok pada onset umur
lebih dini, menggunakan rokok lebih banyak dan sulit untuk
berhenti.
3. Faktor psikodinamis, individu yang kecanduan terhadap rokok
memiliki defek pada ego sehingga individu tidak dapat
melakukan koping atau penyesuaian terhadap rasa sakit (rasa
bersalah, kemarahan, dan kecemasan).
4. Dinamika keluarga sering kali seorang anak melakukan
identifikasi dan imitasi terhadap perilaku orang tua atau saudara
yang lebih tua.
5. Kepribadian ada beberapa jenis yang dikatakan berkaitan
dengan ketergantungan nikotin, sebagai contoh kepribadian
dependen dan antisosial seringkali dikaitkan ketergantungan
nikotin.
6. Komorbiditas dengan gangguan mental, 80% penderita
schizofrenia cenderung menjadi perokok berat karena
berkaitan dengan kebutuhan dopamin D dan self medication
untuk menghilangkan gejala negatif ataupun untuk
menghilangkan efek samping ekstra piramidal.

Ketergantungan nikotin mengakibatkan gejala putus obat bila


seseorang mencoba berhenti merokok. Gejala ini teijadinya selama
2 sampai 3 hari dan akan berkurang setelah 14 hari. Keinginan
untuk kembali merokok pada orang yang merokok biasanya dapat
bertahan sebulan bahkan lebih. Dibawah ini terdapat tabel 3 yang
menjelaskan gejala putus nikotin, sebab, durasi dan cara
penanganannya.
57

Tabel 2.4. Gejala Putus Nikotin, Sebab, Durasi dan Cara


Penanganannya
Gejala Sebab Durasi Cara Penanganan

Gangguan tidur Fungsi gelombang otak 2 4 Latihan relaksasi da


(cth Insomnia) kembali normal minggu menghindari kafein

Keinginan Ketagihan nikotin akibat >10 Hindari situasi yan


merokok penurunan kadar miinggu memicu keingina
dopamin merokok

Batuk Terdapat sekresi mukus Beberapa Minum air, maka


yang berlebihan hari permen

Emosi yang Ketagihan nikotin 2 4 Berjalan-jalan,


tidak stabil minggu menghindari kafein

Susah Hilangnya stimulasi dari Beberapa Menghindari stre


berkonsentrasi nikotin minggu tambahan

Nafsu makan Indera pengecap Beberapa Minum air, maka


yang meningkat kembali berfungsi minggu cemilan rendah kalor

Sumber: http://quit-smoking-stop.com/nicotine-addiction.html

Terdapat metode yang dapat di gunakan untuk menilai


tingkat ketergantungan nikotin yakni dengan menggunakan skor
Fagestrom Test Nikotin Dependence (FTND). Secara umum
perokok yang memiliki nilai Fagestrom Test Nikotin
Dependence (FTND) lebih besar daripada tujuh, memiliki
kecenderungan gejala putus nikotin yang lebih sering. Terdapat
indikator utama dalam Fagestrom Test yang berhubungan
terhadap kegagalan perokok untuk berhenti merokok yaitu merokok
30 menit sebelum bangun tidur (OR 0,40 Cl 95% = 0,25-0,62).
Perokok dalam kategori seperti ini akan bermanfaat jika diberikan
intervensi obat-obatan pada minggu pertama berhenti merokok.
58

Tabel 2.5. Scoring Fagerstrom Test for Nicotine


Point
Questions Answers s
1. How soon after you wake up do you smoke your
Within 5 min 3
first
cigarette? 6-30 min 2
2. Do you find it difficult to retain from smoking in Yes 1
where it is forbidden, e.g,, in church, at the No
places
0
library, in cinema, etc.?
3. Which cigarette would you hate most to give The first one in the
1
up? Ail others
morning 0
4. How many cigarette s/d ay do you smoke? 10 or less 0
11-20 1
21-30 2
31 or more 3
5. Do you smoke more frequently during the first
Yes 1
after waking than during the rest of the day?
hours No 0
6. Do you smoke if you are so ill that you are in Yes 1
bedofmost
the day? No 0
Sumber : Charlotte & Mitchel, 2009

Perokok yang sudah kecanduan akan sulit menghentikan


kebiasaannya sehingga diperlukan strategi dan program
pengendalian tembakau yang sistematis dalam rangka
mengendalikan tembakau di masyarakat (Wismanto & Sarwo,
2007)

d. Ketergantungan alkohol
Semua perokok seharusnya mendapatkan nasehat untuk berhenti
merokok dari dokter namun jika ada riwayat pengguna alkohol,
maka penting untuk melakukan rujukan kepada spesialis karena
perokok dalam kategori ini sulit untuk berhenti merokok. Tingkat
ketergantungan yang ringan dan sedang selama proses berhenti
merokok dapat menurunkan kesuksesan pengobatan sebanyak (OR
4,1 Cl 95%
1. 2.92,7) jika dibandingkan perokok yang tidak memiliki
masalah ketergantungan merokok
59

3. Kognitif
Kognitif yang terlibat dalam berhenti merokok antara lain
pengetahuan individu, opini, keyakinan terhadap lingkungan, diri
sendiri dan perilaku sehari-hari. Setiap orang memiliki konsistensi
antara yang mereka lakukan dengan pemikiran yang baik dalam
diri mereka atau yang disebut teori disonansi kognitif yang
dikemukan oleh Fertinger. Terdapat beberapa strategi untuk
menyeimbangan pemikiran. Langkah pertama terdiri dari
mengubah perilaku inkonsistensi menjadi berhenti merokok. Hal ini
harus didasari dengan kekuatan emosi untuk mendapatkan
manfaat dari melakukan perubahan.

Cumming at al. mengusulkan beberapa informasi yang


digunakan untuk membuat perokok akan menghentikan kebiasaan
merokoknya antara lain;
2. Informasi mengenai dampak kesehatan dan sosial dari
merokok.
3. Strategi spesifik dan berlatih untuk mencapai kesuksesan
berhenti merokok.
4. Strategi spesifik dan berlatih untuk memelihara keberhasilan
tidak merkok serta upaya mengatasi relaps dengan koping
strategi.
Terdapat beberapa kelompok perokok yang cara penyampaian
informasi untuk berhenti merokok ini membutuhkan cara
penyampaian yang khusus antara lain untuk kelompok perokok
dengan ganguan mental atau adanya ketergantungan lain seperti
narkoba atau alkohol, perokok yang berumur diatas 65 tahun,
perokok yang berasal dari suku dan etnik yang berbeda. Perokok
60

wanita yang hamil, perokok yang memperhatikan kenaikan berat


berat ketika merokok. (Kinzie, d'Avernas , & Naylor, 2004)
Untuk memprediksi keberhasilan individu dalam berhenti
selain dari faktor-faktor diatas juga perlu didukung oleh pendidikan
individu, komunitas, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak
di bidang kesehatan, kebijakan yang berdampak kepada lingkungan
sosial di sekitar untuk dapat berhasil berhenti merokok (Lewis,
2013).