Anda di halaman 1dari 3

Praksis Peran Individu dan Organisasi dalam Mempromosikan Etika

Faktor-faktor locus of control, gender dan pengalaman kerja mempunyai pengaruh pada
keberterimaan perilaku etis dan tidak etis di tempat kerja (Reiss & Mitra). Terdapat juga
konsepsual bahwa keberagamaan merupakan motivasi bertindak etis dan menemukan adanya
perbedaan signifikan dalam pertimbangan etis di antara responden yang terkategori bermotif
keberagamaan dan yang tidak (Clark & Dawson).
Pelaporan berbuat salah yang dilakukan oleh rekan secara tak langsung dipengaruhi oleh
keberagamaan seseorang, dimana dalam hal ini keterpengaruhan terjadi melalui ideologi etis
individu (Barnett dkk). Sedangkan Singhapakdhi & Vitell menyimpulkan pertimbangan etis
marketers dapat secara parsial dijelaskan oleh nilai-nilai personal dan profesional individu
bersangkutan.
Organisasi tempat bekerja sangat mempengaruhi etika individu. Maryani & Ludigdo menemukan
bahwa aspek organisasional termasuk sebagai faktor penting yang mempengaruhi sikap dan
perilaku akuntan.
Kode Etik: Mainstream Model Pengembangan Etika dalam Organisasi
Kode etik adalah dokumen formal tertulis dan membedakan yang terdiri dari standar
moral untuk membantu mengarahkan perilaku karyawan dan organisasi (Scwhartz, 2002).
Fungsinya untuk mencapai standar etis yang tinggi dalam bisnis (kavali dkk, 2001). Standar
moral universal menurut Scwhartz:
Trustworthiness
Respect
Responsibility
Fairness
Caring
Citizenship
Sedangkan menurut Adams dkk, alasan mengapa perusahaan membuat kode etik adalah:
Kode etik merupakan upaya untuk memperbaiki iklim organisasional sehingga individu
berperilaku etis.
Kontrol etis diperlukan karena sistem legal dan pasar tidak cukup mampu mengarahkan
perilaku organisasi untuk mempertimbangkan dampak moral dalam setiap keputusan
bisnis.
Untuk menentukan status bisnis sebagai sebuah profesi, dimana kode etik menjadi
penandanya.
Sebagai upaya menginstitusionalisasikan moral dan nilai-nilai pendiri perusahaan.
Kode etik merupakan pesan.
Comprehensiveness dalam Pengembangan Praktik Etika di Organisasi
Menurut Lam & White, terdapat komponen-komponen untuk menuju suatu sistem
organisasi. Faktor-faktor means, motivation, opportunity mendorong perilaku tidak etis dalam
organisasi karena:
1. Organisasi tidak memberikan means untuk mencegah perilaku tidak etis.
2. Individu memiliki personal motivation personal motivation yang didapat dari perilaku
tidak etis.
3. Posisi kerja memberikan opportunity untuk mendorong praktik tidak etis.
Etika sebagai Basis Profesionalisme Akuntan
Brooks memberi pedoman atas isi yang seharusnya terdapat dalam suatu kode etik
akuntan, yaitu:
Spesifikasi alasan aturan-aturan umum yang berhubungan dengan:
Kompetensi teknis
Kehati-hatian
Obyektivitas
Integritas
Memberikan pedoman:
Untuk berperilaku memenuhi kepentingan berbagai kelompok dalam masyarakat.
Untuk memecahkan konflik antar berbagai pihak yang berkepentingan dan antara pihak
yang berkepentingan dan akuntan.
1. Memberi dukungan atau perlindungan bagi akuntan yang akan melakukan sesuatu
dengan benar.
2. Menspesifikasikan sanksi secara jelas sehingga konsekuensi dari kesalahan akan
dipahami.
Di bagian pendahuluan kode etik harus disebutkan empat kebutuhan dasar yang harus dipenuhi
akuntan dalam menjalani profesinya (IAI, 1998: 301):
Kredibilitas
Profesionalisme
Kualitas jasa
Kepercayaan
Sedangkan pada Prinsip Etika Akuntan meliputi delapan butir pernyataan mengenai (IAI, 1998:
302-306):
1. Tanggung jawab profesi
2. Kepentingan publik
3. Integritas
4. Obyektivitas
5. Kompetensi dan kehati-hatian profesional
6. Kerahasiaan
7. Perilaku profesional
8. Standar teknis

Daftar Pustaka

IAI. 1998. Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia. Lampiran 3 dalam Prosiding Kongres IAI VIII.
Panitia Kongres IAI VIII. Jakarta; 301-306.
IFAC Ethics Committee, 2005. IFAC Code of Ethics for Professional Accountants. International
Federation of Accountants.
Ludigdo, U. 2007. Paradoks Etika Akuntan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.