Anda di halaman 1dari 30

9

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Peritonitis


1. Definisi
Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum (lapisan membran

serosa rongga abdomen) dan organ di dalam (Muttaqin. A dan Kumala

S, 2011). Peritonitis adalah inflamasi peritoneum yaitu lapisan

membran serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan

penyakit bahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun

kronis/kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri

lepas pada palpasi, defans muscular, tanda-tanda umum inflamasi

(Haryono, 2012).

Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneum yang disebabkan oleh

infiltrasi isi usus dari suatu kondisi seperti rupture apendiks, perforasi

atau trauma lambung dan kebocoran anastomis (Padila, 2012).

Peritonitis adalah peradangan peritoneum, suatu lapisan endothelial

tipis yang kaya akan vaskularisasi dan aliran limpa (Sugeng J, 2012).

Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa

rongga abdomen dan meliputi visera Biasanya akibat dari infeksi

bakteri (Smeltzer, 2010).

2. Etiologi
Penyebab peritonitis menurut Hughes (2012) adalah :

a. Infeksi bakteri

Beberapa infeksi bakteri yang menyebabkan peritonitis


10

seperti Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran

gastrointestinal, Appendisitis yang meradang dan perforasi, tukak

peptik (lambung/dudenum), tukak thypoid, tukak disentri amuba/

colitis, tukak pada tumor, salpingitis, divertikulitis (radang usus).

Kuman yang paling sering ialah bakteri coli, streptokokus U dan B

hemolitik, stapilokokus aurens, enterokokus dan yang paling

berbahaya adalah clostrdiumwechii.

b. Secara langsung dari luar

Penyabab peritonitis secara langsung dari luar yaitu Operasi

yang tidak steril, terkontaminasi talcum venetum, lycopodium,

sulfonamide, terjadi Peritonitis yang disertai pembentukan jaringan

granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing, disebut juga

Peritonitis granulomatosa serta merupakan Peritonitis local.

Trauma pada kecelakaan seperti ruptur limpa dan ruptur hati,

Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius

vermikularis.Terbentuk pula peritonitis granulomatos.

c. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut

seperti radang saluran pernapasan bagi atas, otitis media,

mastoiditis, glomerulonepritis.Penyebab utama adalah streptokokus

atau pnemokokus.

3. Anatomi Fisiologi
Peritoneum adalah membran serosa rangkap yang terbesar di dalam

tubuh. Peritoneum terdiri atas dua bagian utama, yaitu peritoneum


11

parietal, yang melapisi dinding rongga abdominal dan berhubungan

dengan fascia muscular, dan peritoneum visceral, yang menyelaputi

semua organ yang berada di dalm rongga itu. Peritoneum parietale

mempunyai komponen somatic dan visceral yang memungkinkan

lokalisasi yang berbahaya dan menimbulkan defans muscular dan nyeri

lepas (Sjamsuhidayat, 2011). Ruang yang bisa terdapat di antara dua

lapis ini disebut ruang peritoneal atau cavitas peritonealis. Ruang di

luarnya disebut Spatium Extraperitoneale. Di dalam cavitas

peritonealis terdapat cairan peritoneum yang berfungsi sebagai

pelumas sehingga alat-alat dapat bergerak tanpa menimbulkan gesekan

yang berarti. Cairan peritoneum yang diproduksi berlebihan pada

kelainan tertentu disebut sebagai asites (hydroperitoneum) (Schwartz

et al, 2000).

Luas peritoneum kira-kira 1,8 meter2, sama dengan luas permukaan

kulit orang dewasa. Fungsi peritoneum adalah setengah bagiannya

memiliki membran basal semipermiabel yang berguna untuk difusi air,

elektrolit, makro, maupum mikro sel. Oleh karena itu peritoneum

punya kemampuan untuk digunakan sebagai media cuci darah yaitu

peritoneal dialisis dan menyerap cairan otak pada operasi ventrikulo

peritoneal shunting dalam kasus hidrochepalus (Schrock, 2000).

Lapisan peritonium dibagi menjadi 3, yaitu:


12

1. Lembaran yang menutupi dinding usus, disebut lamina visceralis

(tunika serosa).
2. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina

parietalis.
3. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina

parietalis.
Peritoneum viscerale berhubungan dengan parietale pada dinding

abdomen melalui suatu duplikatur yang disebut mesenterium. Cavitas

peritonealis pada laki-laki tertutup seluruhnya tetapi pada perempuan

mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui tuba uterina, uterus

dan vagina. Spatium Extraperitoneale dapat dibedakan menurut

letaknya , di depan (spatium praepitoneale), di belakang (spatium

retroperitoneale) dan dibawah (spatium subperitoneale). Alat yang

terletak di dalam cavitas peritoneale disebut letak intraperitoneale,

seperti pada lambung, jejunum, ileum, dan limpa. Sedangkan yang

terletak di belakang peritoneum disebut retroperitoneale seperti pada

ginjal dan pancreas(Sjamsuhidayat,2011).

Gambar 2.1 : Struktur peritoneum (Putz R,2007)

Peritoneum parietale sensitif terhadap nyeri, temperatur, perabaan

dan tekanan dan mendapat persarafan dari saraf-saraf segmental yang

juga mempersarafi kulit dan otot yang ada si sebelah luarnya. Iritasi

pada peritoneum parietale memberikan rasa nyeri lokal, namun


13

insicipada peritoneum viscerale tidak memberikan rasa nyeri

(Sjamsuhidayat, 2011). Peritoneum viscerale sensitif terhadap

regangan dan sobekan tapi tidak sensitif untuk perabaan, tekanan

maupun temperature (Areif, 2000).


4. Patofisiologi
Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen

kedalam rongga abdomen, biasanya diakibatkan dari inflamasi, infeksi,

iskemia, trauma atau perforasi tumor (Sjamsuhidayat,2011).


Awalnya mikroorganisme masuk kedalam rongga abdomen adalah

steril tetapi dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri. Akibatnya

timbul edema jaringan dan pertambahan eksudat. Cairan dalam rongga

abdomen menjadi keruh dengan bertambahnya sejumlah protein, sel-

sel darah putih, sel-sel yang rusak dan darah. Respon yang segera dari

saluran intestinal adalah hipermotilitas, di ikuti oleh ileus paralitik

dengan penimbunan udara dan cairan didalam usus besar

(Sjamsuhidayat,2011).

Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan

membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi

secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel.

Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat

memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke

perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh

mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan

elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi

awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu


14

terjadi hypovolemia (Schwartz et al, 2000).

Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen

mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh

darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan

didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem

seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk

jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia

bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada,

serta muntah.Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus,

lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha

pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi.

Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan

peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum.

Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik

berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni

dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus,

mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria.

Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang

meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan

mengakibatkan obstruksi usus. Peritonitis adalah komplikasi

berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi. Reaksi awal

peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat

fibrinosa.Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk diantara perlekatan


15

fibrinosa yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya

sehingga membatasi infeksi (Padila, 2012).

Pathway Peritonitis
Bagan 2.1 pathway peritonitis

minasi bakteri padaInfeksi


cavumakut
peritoneum
/ perforasi traktus GI / traktus
Luka
urinarius
/ trauma
Komplikasi
penetrasi
dari proses inflamasi
Iritan
organ-or
langs

Penyebaran bakteri ke peritoneum


Kuman dari luar masuk ke cavum peritoneum

DEFISIT
PENGETAHUAN Inflamasi pada peritoneum ANSIETAS

Aktivitas peristaltic usus menurun Mengaktifkan neutrofil & makrofag


Keluarnya
Pelepasan
eksudat
berbagai
fibrosa
mediator kimi

Pelepasan zat pirogen endogen INFEKSI


Ileus paralitik
Merangsang sel-sel endotel hipotalamus MerangsangPeningkatan
saraf peras
Usus menjadi meregang
Mengeluarkan asam arakidonat Pengumpulan cairan di ronggaNyeri
peritonium

Menekan diafragma
bsorpsi air pada Memicu pengeluaran prostaglandin
colon makanan terganggu
Absorpsi
Penurunan ekspansi paru
Memacu kerja thermostat hipotalamus
Sesak napas
KONSTIPASI BB menurun
Meningkatkan titik patok suhu tubuh
POLA NAPAS
TIDAK EFEKTIF
KURANG TUBUH
Suhu tubuh meningkat
(Sumber: (NANDA, 2015)
HIPERTERMIA
17

5. Tanda dan Gejala

Tanda gejala dari penyakit Peritonitis (Haryono, R 2012). Adalah

sebagai berikut syok (neurogenik, hipofolemik, atau spesik) terjadi

pada beberapa penderita peritonitis umum; demam; distensi abdomen,

nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang local, difus, atrofi umum,

tergantung pada perluasan iritasi peritonitis; Bising usus tidak

terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh

dari lokasi peritonitisnya; nausea ; vomiting; penurunan peristaltik;

nafas dangkal, nadi kecil dan cepat; tekanan darah menurun;

berkeringat dingin.

6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menentukan adanya

peritonitis adalah (Schwartz et al, 2000) :

Pemeriksaan Laboratorium

a. Complete Blood Count (CBC), umumnya pasien dengan infeksi

intra abdomen menunjukan adanya luokositosis.

b. Cairan peritoneal

c. Urinalisis untuk mengetahui adanya penyakit pada saluran kemih

Pemeriksaan Radiologi

a. Foto polos abdomen memperlihatkan distensi disertai edema dan

pembentukan gas dalam usus

b. USG

c. Foto rontgen abdomen memperlihatkan distensi disertai edema


18

dan pembentukan gas dalam usus halus dan usus besar atau pada

kasus perforasi organ viceral.Foto tersebut menunjukan udara

bebas dibawah diafragma.

d. Foto rontgen toraks dapat memperlihatkan diafragma.

7. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis
1.
Konservatif

Prinsip umum pengobatan adalah mengistirahatkan saluran

cerna dengan (Rotstein, 1997): Memuasakan pasien,

dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau

intestinal, pengganti cairan elektrolit yang hilang yang

dilakukan secara intravena, pemberian antibiotik yang sesuai,

pembuangan fokus septik (apendiks) atau penyebab radang

lainnya

a) Pemberian oksigen

Adalah vital untuk semua pasien dengan syok.

Hipoksia dapat dimonitor oleh pulse oximetri atau BGA

(Arief, 2000).

b) Resusitasi cairan

Biasanya dengan kristaloid, volumenya berdasarkan

derajat syok dan dehidrasi. Penggantian elektrolit (biasanya

potassium) biasanya dibutuhkan. Pasien harus dikateterisasi

untuk memonitor output urine tiap jam. Monitoring tekanan

vena sentral dan penggunaan inotropik sebaiknya


19

digunakan pada pasien dengan sepsis atau pasien dengan

komorbid. Hipovolemi terjadi karena sejumlah besar cairan

dan elektrolit bergerak dari lumen usus ke dalam rongga

peritoneal dan menurunkan caran ke dalam ruang vaskuler

(Arief, 2000).

c) Analgetik

Digunakan analgetik opiat intravena dan mungkin

dibutuhkan antiemetik (Arief, 2000).

d) Antibiotik

Harus spektrum luas, yang mengenai baik aerob dan

anaerob, diberikan intravena. Cefalosporin generasi III dan

metronidazole adalah strategi primer. Bagi pasien yang

mendapatkan peritonitis di RS (misalnya oleh karena

kebocoran anastomose) atau yang sedang mendapatkan

perawatan intensif, dianjurkan terapi lini kedua diberikan

meropenem atau kombinasi dari piperacillin dan

tazobactam. Terapi antifungal juga harus dipikirkan untuk

melindungi dari kemungkinan terpapar spesies Candida

(Arief, 2000).

2. Definitif
a) Pembedahan
(1) Laparotomi
20

Biasanya dilakukan insisi upper atau lower

midline tergantung dari lokasi yang dikira.

Tujuannya untuk (Rotstein, 1997)

(a) menghilangkan kausa peritonitis


(b) mengkontrol origin sepsis dengan membuang

organ yang mengalami inflamasi atau ischemic

(atau penutupan viscus yang mengalami

perforasi).
(c) Peritoneal lavage

Mengkontrol sumber primer dari sepsis

adalah sangat penting. Re-laparotomi mempunyai

peran yang penting pada penanganan pasien dengan

peritonitis sekunder, dimana setelah laparotomi

primer ber-efek memburuk atau timbul sepsis. Re-

operasi dapat dilakukan sesuai kebutuhan.

Relaparotomi yang terencana biasanya dibuat

dengan membuka dinding abdomen dengan pisau

bedah sintetik untuk mencegah eviserasi.

Bagaimanapun juga, penelitian

menunjukkan bahwa five year survival rate di RS

dan jangka panjang, lebih tinggi pada relaparotomi

sewaktu daripada relaparotomi yang direncanakan.

Pemeriksaan ditunjang dengan CT scan. Perlu

diingat bahwa tidak semua pasien sepsis dilakukan


21

laparotomi, tetapi juga memerlukan ventilasi

mekanikal, antimikrobial, dan support organ.

Mengatasi masalah dan kontrol pada sepsis saat

operasi adalah sangat penting karena sebagian besar

operasi berakibat meningkatkan morbiditas dan

mortalitas

(2) Laparoskopi

Teori bahwa resiko keganasan pada hiperkapnea

dan syok septik dalam absorbsi karbondioksida dan

endotoksin melalui peritoneum yang mengalami

inflamasi, belum dapat dibuktikan. Tetapi,

laparoskopi efektif pada penanganan appendicitis

akut dan perforasi ulkus duodenum. Laparoskopi

dapat digunakan pada kasus perforasi kolon, tetapi

angka konversi ke laparotomi lebih besar. Syok dan

ileus adalah kontraindikasi pada laparoskopi

(Rotstein, 1997).

(3) Drain

Efektif digunakan pada tempat yang terlokalisir,

tetapi cepat melekat pada dinding sehingga

seringkali gagal untuk menjangkau rongga

peritoneum. Ada banyak kejadian yang


22

memungkinkan penggunaan drain sebagai

profilaksis setelah laparotomi.

Gambar 2.3 : pemasangan drain (Putz R,2007)

8. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi dari peritonitis adalah:

gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, sesak napas akibat

desakan distensi abdomen ke paru, pembentukan luka dan

pembentukan abses. (Haryono, 2012)


9. Tindakan Pencegahan

Cara pencegahan peritonitis utamanya adalah menghindari

semua penyebabnya, baik penyebab utama maupun penyebab

sekundernya.

a. Mengurangi minum alkohol dan obat yang dapat menyebabkan

sirosis.

Alkoholisme: konsumsi alkohol yang berlebihan adalah salah satu

faktor yang dapat menyebabkan sirosis. Karena alkohol memiliki


23

efek yang toksik terhadap organ liver dan dapat merusak sel-sel

pada liver.

Racun/obat-obatan: pemakaian jangka lama obat-obatan atau

eksposur pada racun dapat menyebabkan kerusakan pada hati dan

akhirnya sirosis.

- Contoh-contoh dari obat-obat yang dapat menyebabkan

hepatitis akut termasuk acetaminophen (Tylenol), phenytoin

(Dilantin), aspirin, isoniazid (Nydrazid, Laniazid), diclofenac

(Voltaren), dan amoxicillin/clavulanic acid (Augmentin).

- Contoh-contoh dari obat-obat yang dapat menyebabkan

hepatitis kronis termasuk minocycline

(Minocin), nitrofurantoin(Furadantin,Macrodantin), phenytoin

(Dilantin), propylthiouracil, fenofibrat(Tricor),dan methamphe

tamine ("ecstasy").

b. Menghindari appendicitis dandiverticulitis (memakan makanan

banyak serat dan makan-makanan yang bersih).


c. Menghindari salpingitis dengan cara berhubungan badan yang

sehat.
d. Menghindari peritonitis dan abses yang disebabkan pascaoperasi

dengan memakai alat-alat operasi yang bersih dan septis, tidak

meninggalkan sisa pada operasi.


B. Konsep dasar Post Op Laparatomi
1. Definisi
24

Laparatomi merupakan tindakan pembedahan yang dilakukan

untuk mengetahui organ bagian perut yang mengalami kerusakan

(Mansjoer, dalam Ayu Widiantini, 2008). Menurut Sjamsuhidayat &

Jong (2006), bedah laparatomi merupakan teknik sayatan yang

dilakukan pada daerah abdomen yang dapat dilakukan pada bedah

digestif dan kandungan dengan arah sayatan yang meliputi Medium

untuk operasi perut luas, paramedium ( kanan ) umpamnya untuk

massa apendiks, pararectal, Mc Burney untuk apendiktomy, fannenstiel

untuk operasi kandungan kemih atau uterus, transversal, Subkostal

kanan umpamanya untuk kolesistektomi.


2. Indikasi Laparatomi
a. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)

Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap

struktur yang terletak diantara diafragma dan pelvis yang

diakibatkan oleh luka tumpul atau yang menusuk (Ignativicus &

Workman, 2006). Dibedakan atas 2 jenis yaitu : Trauma tembus

(trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium) yang

disebabkan oleh : luka tusuk, luka tembak. Trauma tumpul (trauma

perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritoneum) yang dapat

disebabkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi

atau sabuk pengaman (sit-belt).

b. Peritonitis
25

Peritonitis merupakan inflamasi peritoneum lapisan

membrane serosa rongga abdomen, yang diklasifikasikan atas

primer, sekunder dan tersier. Peritonitis primer dapat disebabkan

oleh spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hepar

kronis. Peritonitis sekunder disebabkan oleh perforasi appendicitis,

perforasi gaster dan penyakit ulkus duodenale, perforasi kolon

(paling sering kolon sigmoid), sementara proses pembedahan

merupakan penyebab peritonitis tersier.

c. Sumbatan pada usus halus dan besar (obstruksi), gangguan (apapun

penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang saluran usus


d. Apendisitis mengacu pada radang apendik, Suatu tambahan seperti

kantong yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dari

sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah

obstruksi lumen oleh fases yang akhirnya merusak suplai aliran

darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi.


e. Tumor abdomen
f. Pancreatitis (inflammation of the pancreas)
g. Abscesses (a localized area of infection)
h. Adhesions (bands of scar tissue that form after trauma or surgery)
i. Diverticulitis (inflammation of sac-like structures in the walls of

the intestines)
j. Intestinal perforation
3. Jenis-Jenis Pembedahan dengan Teknik Laparatomi

Adapun tindakan bedah digestif yang seering dilakukan dengan

teknik sayatan arah laparatomi (Syamsuhidayat & Jong, 2006) adalah :

a. Hernitomi
26

Tindakan bedah pada hernia disebut herniotomi. Hernia

merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek

atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan.

b. Gastrektomi

Pembedahan pada tukak peptik akibat perforasi atau

perdarahan yang bertujuan mengurangi sekresi asam lambung yang

dapat dilakukan dengan tindakan vagotomi parsial yang akan

menurunkan produksi asam lambung.

c. Splenorafi / splenoktomi

Splenorafi adalah tindakan yang bertujuan

mempertahankan limpa yang fungsional dengan teknik bedah.

Tindakan ini dapat dilakukan pada trauma tumpul maupun trauma

tajam pada limpa. Splenoktomi dilakukan jika terdapat kerusakan

limpa yang tidak dapat diatasi dengan splenorafi.

d. Apendektomi

Tindakan pembedahan yang dilakukan pada apendiks akibat

peradangan baik bersifat akut maupun kronik. Teknik apendektomi

dengan Mc. Burney secara terbuka.

e. Kolostomi

Kolostomi merupakan kolokytaneostomi yang disebut juga

anus preternaturalis yang dibuat sementara atau menetap.

f. Hemoridektomi
27

Terapi bedah dipilih untuk penderita yang mengalami

keluhan menahun dan pada penderita hemoroid derajat III dan IV.

g. Fitulotomi atau fistulektomi

Pada fistel dilakukan fistulotomi atau fistuloktomi artinya

fistel dibuka dari lubang asalnya sampai lubang kulit. Luka

dibiarkan terbuka sehingga proses penyembuahan dimulai dari

dasar persekundan intertionem.

Tindakan bedah kandungan yang sering dilakukan dengan

teknik sayatan arah laparatomi adalah berbagai jenis operasi uterus,

operasi pada tuba fallopi dan operasi pada ovarium dan jenis

tindakan dengan teknik laparotomi yang dilakukan pada bedah

kandungan adalah

1) Histerektomi

Histerektomi adalah pembukaan uterus untuk

mengeluarkan isinya dan kemudian menutupnya lagi, yang

dapat dilakukan dengan cara:

a) Histerektomi total yaitu mengankat seluruh uterus dengan

membuka vagina.
b) Histerektomi subtotal yaitu pengangkatan bagian uterus

diatas vagian tanpa membuka vagina.


c) Histerektomi radikal yaitu untuk karsinoma serviks uterus

dengan mengangkat uterus, alat alat adneksia sebagian

dari paramtrium, bagian atas vagina dan kelenjar kelenjar

regional.
28

d) Eksterasi pelvik yaitu operasi yang lebih luas dengan

mengangkat semua jaringan di dalam rongga pelvik,

termasuk kandung kencing atau rektum.


2) Salpingo ooferektomi bilateral

Merupakan pengangkatan sebagian ovarium

diselenggarakan pada kelainan jinak. Pada tumor ganas avari

kana dan kiri diangkat dengan tuba bersama dengan uterus.

Selain dengan tindakan bedah dengan arah sayatan laparatomi

pada bedah digestif dan kandungan, teknik ini juga sering

dilakukan pada pembedahan organ lain menurut Spencer

(1994) antara lain ginjal dan kandung kemih.

4. Post Op Laparatomi

Post op atau Post operatif Laparatomi merupakan tahapan

setelah proses pembedahan pada area abdomen (laparatomi) dilakukan.

Dalam Perry dan Potter (2005) dipaparkan bahwa tindakan post

operatif dilakukan dalam 2 tahap yaitu periode pemulihan segera dan

pemulihan berkelanjutan setelah fase post operatif. Proses pemulihan

tersebut membutuhkan perawatan post laparatomi. Perawatan post

laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang di berikan

kepadaklien yang telah menjalani operasi pembedahan abdomen.

Tujuan perawatan post laparatomi, antara lain:

1. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.


2. Mempercepat penyembuhan.
29

3. Mengembalikan fungsi klien semaksimal mungkin seperti sebelum

operasi.
4. Mempertahankan konsep diri klien.
5. Mempersiapkan klien pulang.
5. Penatalaksanaan Keperawatan pada Pasien Pascaoperatif
Menurut Brunner & Suddarth (2013), penatalaksanaan

keperawatan pada pasien pascaoperatif meliputi :


a. Memastikan fungsi pernapasan tetap optimal
b. Menghilangkan ketidaknyamanan pascaoperatif
c. Menghilangkan Kegelisahan
d. Menghilangkan mual dan muntah
e. Menghilangkan distensi abdomen
f. Menghilangkan cegukan
g. Menghindari cedera
h. Mempertahankan status nutrisi yang normal
i. Meningkatkan fungsi urinarius yang normal
j. Meningkatkan eliminasi usus
k. Memulihkan mobilitas, pengaturan posisi, dan ambulansi
l. Mengurangi ansietas dan mencapai kesejahteraan
m. Kolaborasi mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat
n. Kolaborasi mempertahankan volume cairan yang adekuat
o. Kolaborasi pencegahan infeksi
C. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Klien dengan Peritonitis
1. Pengkajian

Pengkajian adalah proses sistematis berupa pengumpulan, vertifikasi dan

dan komunikasi data tentang klien.

Pengkajain pasien dengan peritonitis (Dongoes, 2000) adalah meliputi :

a Aktivitas/istrahat
Gejala : Kelemahan

Tanda : Kesulitan ambulasi

a. Sirkulasi
Tanda : Takikardi, berkeringat, pucat hipotensi (tanda syok).
edema Jaringan.
30

b. Eliminasi
Gejala : Ketidak mampuan defekasi dan flatus. Diare (kadang-
kadang)

Tanda : Ceguhan, distensi abdomen. Penurunan haluran urine,

warna gelap. Penurunan/ tidak ada bising usus kasar.

c. Makan dan cairan

Gejala : Anoreksia, mual, muntah, haus.

Tanda : Muntah proyektif, membrane mukosa kering, lidah

bengkak.

d. Nyeri/ketidak nyamanan

Gejala : Nyeri abdomen tiba-tiba, umum atau local, menyebar ke

bahu, terus menerus oleh gerakan.

Tanda : Distensi, kaku, nyeri tekan, otot tegang (abdomen) lutut

fleksi, perilaku distraksi, gelisah, focus pada diri sendiri.

e. Pernafasan

Tanda : Pernafasan dangkal, takipnea

f. Keamanan

Gejala : Riwayat adanya trauma penetrasi abdomen, contoh luka

tembak, tusuk atau trauma tumpul pada badomen ;

perforasi kandungan kemih/rupture kandungan empedu,

perforasi karsinoma gaster/ulkusduodenal, obstruksi


31

ganggrenosa usus, perforasi divertikulum, ileitis regional,

hernia strangulasi.

a) Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan Diagnose dan Laboratorium (Doengoes,

2000), Terdiri dari:

1. Pemeriksaan darah lengkap : Sel darah putih meningkat

kadang-kadang lebih dari 20.000 /mm3. Sel darah merah

meningkat menunjukan hemokosentrasi. Leokosit normal:

45000-10.000

2. Albumin serum, mungkin menurun karena perpindahan cairan.

3. Amylase serum biasanya meningkat.

4. Elektrolit serum, hipokalemia mungkin ada.

5. Gas darah arteri (GDA), alkalosis respiratori dan asidosis

metebolik mungkin ada.

6. Kultur, organism penyebab mungkin teridentifikasi dari darah,

eksudat/secret atau cairan asites .

7. Pemeriksaan foto abdominal, dapat menyebabkan distensi usus

ilium. Bila perforasi visera sebagai etiologi, udara bebas di

temukan pada abdomen.

8. Foto dada, dapat menyebabkan peninggian diafragma.

9. Parasintesis, contoh cairan peritoneal dapat mengandung darah,

pus/eksudat, amilas, empedu,dan kreatinin.

b) Data Psikologis
32

1) Dampak dari masalah fisik kepada psikologi klien (emosi,

perasaan, konsep diri, daya fikir, kreatifitas, dll)


2) Mekanisme koping dalam menghadapi masalah
c) Data Sosial Ekonomi
1) Dampak terhadap sosial : keluarga, lingkungan, masyarakat,

pekerjaan,dll
2) Data yang berkaitan dengan penghasilan
3) Sumber-sumber yang mendukung

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan yang timbul pada pasien dengan

Peritonitis (Doengoes, 2000) adalah :

a. Nyeri berhubungan dengan irirtasi kimia peritoneum perifer,

trauma jaringan , akumulasi cairan dalam rongga abdomen/distensi

abdomen.

b. Infeksi, resiko tinggi terhadap septikimia berhubungan dengan

tidak edukuat pertahan primer (kulit rusak, trauma jaringan,

gangguan peristaltic), tidak edukuat pertahanan sekunder

(penekanan imonologi.

c. Kekurangan volume cairan (kehilangan aktif) berhubungan dengan

perpindahan cairan intravaskuler ke ekstraseluler.

d. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak edukuat akibat

mual dan nafsu makan yang menurun.


33

e. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman

kematian/perubahan status kesehatan, factor fisiologi, status

hipermaetabolik.

f. Kurang pengetahuan tentang kondisi,prognosi dan kebutuhan

pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat, salah

interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi.

3. Intervensi Keperawatan
Menurut Doenges, (2000) dan Carpenito, (2000) fokus intervensi

untuk diagnosa keperawatan diatas adalah


Tabel 2.1 Perencanaan keperawatan

No Dx. Keperawatan Tujuan & Kriteria hasil Intervensi Rasion


1 Nyeri berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan 1.1 Kaji keluhan nyeri, perhatikan 1.1 Kaji
keperawatan selama 3x24 lokasi, lamanya dan intensitas inten
iritasi kimia peritoneum
jam, diharapkan nyeri (skala 0 - 10), perhatikan
perifer, trauma jaringan,
menjadi berkurang atau petunjuk verbal dan non verbal 1.2 Nye
1.2 Observasi tanda-tanda vital
akumulasi cairan dalam hilang nadi
1.3 Rela
KH:
rongga abdomen/distensi
1.3 Ajarkan tehnik relaksasi dan istra
1. Mengekpresikan
abdomen. napas dalam yang sesuai dan
penurunan nyeri/ 1.4 Mem
anjurkan pasien untuk
ketidaknyamanan grav
2. Tanda-tanda vital dalam melakukannya bila nyeri timbul
kare
1.4 Pertahanka posisi semi fowler
batas normal TD: 120/80 1.5 Mem
sesuai kebutuhan.
mmHg, N: 60-100 men
x/menit, RR: 12-20
1.5 Kolaborasi dengan dokter
X/mmenit
3. tampak rileks dalam pemberian terapi
4. mampu tidur/ istirahat
analgetika
dengan tenang.
Intervensi Keperawatan
No Dx. Keperawatan Tujuan & Kriteria hasil Intervensi Rasion
35

2 Kekurangan volume Setelah dilakukan tindakan 2.1 Pantau tanda vital, catat adanya 2.1 Mem
cairan berhubungan keperawatan selama 3x24 hipotensi, takikardia, takipnea, caira
dengan perpindahan jam, diharapkan terjadi demam. resp
2.2 Pertahankan masukan dan haluaran 2.2 Men
cairan ekstraseluler, keseimbangan cairan.
yang akurat dan hubungkan dengan
intravaskuler dan area KH: 2.3 Hipo
berat badan harian.
interstisial kedalam 1. Haluaran urin adekuat keku
2.3 Observasi kulit/membran mukosa
usus dan/atau area dengan berat jenis urin men
untuk kekeringan, turgor. Catat edema
2.4 Jarin
peritoneal. stabil.
perifer/sakral.
2. Tanda vital stabil. cend
2.4 Rubah posisi dengan sering, berikan
3. Membran mukosa
perawatan kulit dengan sering dan
lembab, turgor kulit
pertahankan tempat tidur kering dan 2.5 Mem
baik, dan pengisian
bebas lipatan. orga
kapiler meningkat, dan
2.5 Kolaborasi : Awasi pemerikasaan
berat badan dalam
laboratorium, contoh Hb/Ht, elektrolit,
rentang normal yaitu 2.6 Men
protein, albumin, BUN, kreatinin
(50,4 61,6 Kg) 2.6 Berikan plasma/darah, cairan, kese
2.7 Men
elektrolit, diuretik sesuai indikasi.
2.7 Pertahankan puasa dengan aspirasi dari
nasogastrik/intestinal.

Intervensi Keperawatan
No Dx. Keperawatan Tujuan & Kriteria hasil Intervensi Rasiona
3 Resiko tinggi perubahan Setelah dilakukan tindakan 3.1 Kaji bising usus dan adanya 3.1 Men
3.2 Jum
nutrisi kurang dari keperawatan 3 x24 jam flatus.
3.2 Monitor muntah/diare, mun
kebutuhan tubuh yang diharapkan Pemenuhan
pengeluaran cairan melalui mem
berhubungan dengan nutrisi pasien adekuat dengan
3.3 Nutr
NGT (bila digunakan).
mualk, muntah, gangguan kriteria hasil :
3.3 Jelaskan pada pasien mem
1. Berat badan dalam batas
fungsi usus, puasa.
pentingnya nutrisi bagi tubuh.
normal 3.4 Mem
3.4 Berikan nutrisi per parenteral
2. Lingkar lengan dalam
kebu
sesuai instruksi.
batas normal 3.5 Men
3.5 Timbang BB tiap hari.
3. Turgor kulit baik 3.6 Diet
3.6 Kolaborasi dengan dokter dan
4. Menunjukkan
gang
ahli gizi dalam pemberian diet
peningkatan fungsi
pasien.
36

pengecapan dari menelan


5. Tidak terjadi penurunan
berat badan berarti

Intervensi Keperawatan
No Dx. Keperawatan Tujuan & Kriteria hasil Intervensi Rasiona
4 Resiko tinggi infeksi Setelah dilakukan tindakan 4.1 Kaji tanda vital dengan sering 4.1 Tan
terhadap septikimia keperawatan 3 x24 jam catat tidak membaiknya atau me
berhubungan dengan diharapkan infeksi tidak berlanjutanya hipotensi , dar
tidak edukuat pertahanan terjadi/terkontrol dengan penurunan tekanan nadi,
primer (kulit rusak, kriteria hasil: takikardi, demam takipnea. 4.2 Me
4.2 Catat factor resiko individu
trauma jaringan, 1. Tidak ada tanda-tanda
contoh trauma abdomen,
gangguan peristaltik), infeksi seperti pus
apendisitis akut, dialysis
tidak edukuat pertahanan 2. Luka bersih tidak lembab
peritoneal 4.3 Hip
sekunder dan tidak kotor, 4.3 Catat perubahan status mental
3. tanda-tanda vital dalam me
(contoh bingung, pusing). 4.4 Ha
batas normal atau dapat di 4.4 Catat warna kulit, suhu,
din
toleransi kelembaban.
term
sian
4.5 Oli
4.5 Awasi keluaran urine
per
me
4.6 Pertahankan teknik aseptic ketat 4.6 Me

pada perawatan drein abdomen, pen

luka, insisi invasive. Bersikan sila

dengan betadin atau larutan lain


yang cepat.
4.7 Observasi drinase pada 4.7 Me
luka/drain.
4.8 Pertahankan teknik steril bila 4.8 Me
pasien dipasang kateter, dan per
berikan perawatan
37

kateter/kebersihan perinealrutin
4.9 Awasi/batasi pengunjung dan 4.9 Me
staf sesuai kebutuhan .berikan pad
perlindungan isolasi bila di yan
indikasikan.
4.10Me
4.10 Bantu dalam aspirasi peritoneal
me
bila di indikasikan.
ant
4.11 Kolaborasi pemberian anti 4.11Di
microbial, contoh gentamisin me
(garamicyn) ; amikasin tera
(amikin); klindamisin (clocin)
lavase peritoneal/IV.

Intervensi Keperawatan
No Dx. Keperawatan Tujuan & Kriteria hasil Intervensi Rasiona
5. Ansietas berhubungan Setelah dilakukan tindakan 5.1 Evaluasi tingkat ansietas, catat 5.1 Ket
dengan krisis situasi, keperawatan 3 x24 jam respoon non verbal pasien men
ancaman diharapkan Ansietas dorong ekspresi bebas akan pro
kematian/perubahan berkurang/terkontrol dengan emosi. pem
5.2 Berikan informasi tentang 5.2 Me
satatus kesehatan, factor kriteria hasil :
proses penyakit dan antisipasi men
fisisologi, status 1. Klien mampu
tindakan .
hipermetabolik. merencanakan strategi 5.3 Me
5.3 Jadwalkan istirahat edekuat dan
koping untuk, situasi- ene
periode menghentikan tidur.
situasi yang Membuat kop
stress.
2. Klien mampu
mempertahankan
penampilan peran.
3. Klien melaporkan tidak
ada manefestasi
kecemasan seara fisik,
serta tidak ada
manefestasi perilaku
akibat kecemasan.

Intervensi Keperawatan
38

No Dx. Keperawatan Tujuan & Kriteria hasil Intervensi R


6 Kurang pengetahuan Setelah dilakukan tindakan 6.1 Kaji ulang penyakit dasar dalam 6.1
tentang kondisi, prognosis keperawatan 2 x24 jam harapan untuk sembuh.
dan kebutuhan diharapkan pengetahuan
6.2
pengobatan berhubungan pasien bertambah tentang 6.2 Diskusikan program pengobatan
dengan kurang proses penyakit dan jadwal dan kemungkina efek
6.3
terpajan/mengingat, salah pengobatannya dengan samping .
6.3 Anjurkan melakukan aktifitas
interpretasi informasi, kriteria hasil :
1. Pasien mengatakan biasanya secara bertahan sesuai
tidak mengenal sumber
6.4
mengerti tentang proses toleransi, dan sediakan waktu untuk
informasi
penyakit dan pengobatan istrahat adekuat
2. Pasien mengatakan 6.4 Kaji ulang pembatasan aktivitas
6.5
mengerti tentang contoh hindari mengangkat berat,
perawatan di rumah dan konstipasi.
6.5 Lakukan penggantian balutan secara
tidak lanjutnya.
6.6
3. Pasien ikut berpartisipasi aseptic, perawataan luka.
6.6 Identifikasi tanda/gejala yang
dalam proses perawatan.
memerlukan evaluasi medis, contoh
berulanganya nyeri/distensi abdomen,
muntah, demam, menggigil, atau
adanya drinaese purulen,
benkak/eritime pada insisi beda. (bila
ada).
4. Implementasi
Implementasi merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan

dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan

keperawatan) yang telah direncanakan (Hidayat, 2009). Implementasi dari

rencana membutuhkan suatu kombinasi dari keterampilan berpikir kritis,

keterampilan psikomotor, dan keterampilan komunikasi (Vaughans, 2011).


Implimentasi yang merupakan komponen dari proses keperawatan,

adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang

diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan

keperawatan dilakukan dan diselesaikan. (Perry & Potter,2005).


42

Tindakan yang dilakukan tanpa pesanan dokter, tindakan

keperawatan mandiri dilakukan oleh perawat. Misalnya menciptakan

lingkungan yang tenang, mengajarkan cara napas dalam,melakukan

pendidikan kesehatan, tindakan keperawatan kolaboratif.


Tindakan yang dilakukan oleh perawat apabila perawat bekerja

dengan anggota perawatan kesehatan yang lain dalam membuat keputusan

bersama yang bertahan untuk mengatasi masalah klien.


5. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan dengan

cara menilai sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau

tidak (Hidayat, 2009). Evaluasi merupakan penentuan dari efektivitas

rencana asuhan terhadap seorang klien. Tujuan evaluasi adalah untuk

menentukan apakah hasil yang diharapkan tercapai dan diagnosis

keperawatan dapat ditangani (Vaughans, 2011).


Hidayat (2009) mengklasifikasikan evaluasi menjadi dua jenis

yaitu evauasi formatif dan evaluasi sumatif. Menurut Hidayat (2009)

Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada saat memberikan

intervensi dengan respons segera. Menurut Vaughans (2011) evaluasi

formatif merupakan evaluasi berkelanjutan yang dimulai jauh sebelum

memasuki fase evaluasi aktual dalam proses keperawatan. Menurut

Vaughans (2011) evaluasi sumatif merupakan evaluasi yang terjadi pada

fase evaluasi dari proses keperawatan dan dilaksanakan setelah rencana

asuhan telah diimplementasikan. Menurut Hidayat (2009) evaluasi

sumatif merupakan rekaptulasi dari hasil observasi dan analisis status


43

klien pada waktu tertentu berdasarkan tujuan yang direncanakan pada

tahap perencanaan.
Evaluasi menjadi alat ukur atas tujuan yang mempunyai kriteria

tertentu untuk membuktikan apakah tujuan tercapai, tidak tercapai atau

tercapai sebagian. Tujuan tercapai apabila klien telah menunjukkan

perubahan dan kemajuan yang sesuai dengan kriteria yang telah

ditetapkan. Tujuan tercapai sebagian apabila tujuan tidak tercapai secara

keseluruhan sehingga masih perlu dicari masalah atau penyebabnya.

Tujuan tidak tercapai apabila tidak menunjukkan adanya perubahan ke

arah kemajuan sebagaimana kriteria yang diharapkan.(Hidayat, 2009).