Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Energi adalah salah satu komponen penting dalam kehidupan manusia.
Hampir setiap kegiatan manusia membutuhkan energi, terutama untuk kegiatan
transportasi, mekanisasi, industri, dan lainnya. Namun, keberadaan energi fosil di
dunia sudah semakin berkurang seiring dengan menipisnya cadangan minyak
bumi karena sifatnya yang tidak dapat diperbaharui. Menurut Badan Pusat
Statistik pada tahun 2013, produksi minyak di Indonesia cenderung mengalami
penurunan. Hal ini justru bertolak belakang dengan jumlah kebutuhan masyarakat
terhadap minyak yang mengalami peningkatan setiap tahunnya. Oleh karena itu,
diperlukan energi alternatif seperti biofuel yang bersifat lebih ekonomis dan
ramah lingkungan.

Grafik 1.1. Grafik Produksi dan Konsumsi Minyak di Indonesia dari Tahun 1965-
2012
(Sumber: Badan Pusat Statisik, 2013)

Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam menghadapi permasalahan


tersebut adalah dengan melakukan pengembangan
1 sumber energi alternatif baru
dan terbarukan sebagai energi alternatif pengganti energi fosil, salah satunya
adalah bioetanol. Produksi bioetanol kebanyakan memanfaatkan bahan baku
2

pangan seperti umbi-umbian dan buah-buahan. Namun, penggunaan bahan


pangan sebagai bahan baku bioetanol dapat menyebabkan adanya permasalahan
baru terhadap ketahanan pangan dalam kehidupan manusia (Kullander, 2010).
Oleh karena itu, pemilihan bahan non-pangan dalam pembuatan bioetanol
menjadi yang paling diutamakan. Salah satu bahan baku non-pangan yang
potensial adalah eceng gondok (Eichornia crassipes).
Kementerian Negara Lingkungan Hidup (2009) menyatakan bahwa tanaman
eceng gondok yang terdapat di perairan dapat memberikan pengaruh negatif
terhadap perairan lingkungan sekitarnya, di antaranya adalah menghambat
lancarnya arus perairan, mempercepat proses pendangkalan, dan memperbesar
potensi terbentuknya sarang dari vektor penyakit, seperti nyamuk. Oleh karena
itu, dampak negatif yang ditimbulkan oleh eceng gondok memerlukan
penanganan yang serius. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan
mengangkat dan mengurangi pertumbuhan eceng gondok dari permukaan air.
Eceng gondok tersebut dapat berpotensi untuk dimanfaatkan kembali sebagai
bahan baku bioetanol karena kandungan lignoselulosa-nya yang tinggi dan dinilai
efektif untuk mengatasi solusi penggunaan bahan pangan sebagai bahan baku
bioetanol.

1.2. Rumusan Masalah


1) Bagaimana proses pembuatan bioetanol dari eceng gondok?
2) Apa saja faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembuatan
bioetanol dari eceng gondok?

1.3. Tujuan
1) Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi asam sulfat terhadap proses
pembuatan bioetanol dari eceng gondok.
2) Untuk mengetahui pengaruh waktu hidrolisis terhadap proses pembuatan
bioetanol dari eceng gondok.

1.4. Hipotesa
1) Konsentrasi asam sulfat dapat berpengaruh terhadap kadar bioetanol yang
dihasilkan.
3

2) Lamanya waktu hidrolisis dapat berpengaruh terhadap kadar bioetanol


yang dihasilkan.

1.5. Batasan Masalah


1) Variasi konsentrasi asam adalah 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5%.
2) Variasi waktu hidrolisis adalah 1, 1,5, dan 2 jam.

1.6. Manfaat
1) Sebagai wadah informasi dan ilmu pengetahuan bagi kalangan pelajar
mengenai bahan bakar alternatif.
2) Sebagai referensi bagi para peneliti untuk melakukan penelitan lebih
lanjut terhadap proses pembuatan bioetanol dari eceng gondok.