Anda di halaman 1dari 14

REFERAT

Gangguan Obsesif-Kompulsif

Disusun Oleh :

Lisa Sari

11.2015.297

Pembimbing :

Dr. Elly Ingkiriwang, Sp.KJ

Kepaniteraan Klinik Kesehatan Jiwa

Periode 13 Februari 2017 s/d 18 Maret 2018

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)

Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebun Jeruk- Jakarta Barat

1
BAB I

PENDAHULUAN

Menurut Davison & Neale, gangguan obsesif kompulsif adalah gangguan cemas,
dimana pikiran seseorang dipenuhi oleh gagasan-gagasan yang menetap dan tidak terkontrol,
dan ia dipaksa untuk melakukan tindakan tertentu berulang-ulang, sehingga menimbulkan
stress dan mengganggu fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.1

Obsesi adalah pikiran-pikiran, bayangan-bayangan atau dorongan-dorongan intrusive


dan kebanyakan tidak masuk akal yang dicoba ditolak atau dieliminasi oleh individu.
Sedangkan kompulsi adalah pikiran-pikiran atau tindakan-tindakan yang digunakan untuk
menekan obsesi dan membuat individu merasa lega.2

Kondisi dimana individu tidak mampu mengontrol dari pikiran-pikirannya yang


menjadi obsesi yang sebenarnya tidak diharapkannya dan mengulang beberapa kali perbuatan
tertentu untuk dapat mengontrol pikirannya tersebut untuk menurunkan tingkat
kecemasannya.3 Penderita mengetahui bahwa perbuatan dan pikirannya itu tidak masuk akal,
tidak pada tempatnya atau tidak sesuai dengan keadaan, tetapi ia tidak dapat
menghilangkannya dan juga tidak mengerti mengapa ia mempunyai dorongan yang begitu
kuat untuk berbuat dan berpikir demikian. Bila tidak menurutinya, maka akan timbul
kecemasan yang hebat.

Menurut Skoog, suatu studi di Swedia menemukan bahwa meskipun kebanyakan pasien
OCD menunjukkan perbaikan, banyak juga yang terus berlanjut mempunyai simtom
gangguan hidup ini sepanjang hidup mereka.4 DSM IV membuat diagnosis gangguan obsesif
kompulsif bila orang terganggu oleh obsesi atau kompulsi yang berulang, atau keduanya
sedemikian rupa sehingga menyebabkan distress yang nyata, memakan waktu lebih dari satu
jam dalam sehari, atau secara signifikan mengganggu hal-hal rutin yang normal, mengganggu
fungsi kerja atau sosial. Gangguan obsesif kompulsif menduduki peringkat keempat dari
gangguan jiwa setelah fobia, gangguan penyalahgunaan zat dan gangguan depresi berat.4

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI

Pengertian obsesi menurut Kaplan, et all., adalah pikiran, ide atau sensasi yang muncul
secara berulang-ulang. Menurut Davison & Neale, hal-hal tersebut muncul tanpa dapat
dicegah, dan individu merasakannya sebagai hal yang tidak rasional dan tidak dapat
dikontrol. Sedangkan kompulsi menurut Davison & Neale adalah perilaku atau tindakan
mental yang berulang, dimana individu merasa didorong untuk menampilkannya agar
mengurangi stres.1

Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide atau bayangan mental yang mendesak ke dalam
pikiran secara berulang. Pikiran atau bayangan obsesi dapat kekhawatiran yang biasa tentang
apakah pintu sudah dikunci atau belum sampai fantasi aneh dan menakutkan tentang
bertindak kejam terhadap orang yang disayangi. Sedangkan istilah kompulsi menunjuk pada
dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan untuk melakukan sesuatu. Sering suatu
pikiran obsesif mengakibatkan suatu tindakan kompulsif. Tindakan kompulsif dapat berupa
berulang kali memeriksa pintu yang terkunci, kompor yang sudah mati atau menelepon orang
yang dicintai untuk memastikan keselamatannya.5

Dari berbagai definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa gangguan obsesif
kompulsif adalah gangguan cemas, dimana pikiran seseorang dipenuhi oleh gagasan-gagasan
yang menetap dan tidak terkontrol, dan ia dipaksa untuk melakukan tindakan tertentu
berulang-ulang, sehingga menimbulkan stress dan mengganggu fungsinya dalam kehidupan
sehari-hari.1

EPIDEMIOLOGI

Prevalensi gangguan obsesif kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2


sampai 3 persen. Beberapa peneliti memperkirakan bahwa gangguan obsesif-kompulsif
ditemukan pada sebanyak 10 persen pasien rawat jalan di klinik psikiatrik. Angka tersebut
menyebabkan gangguan obsesif-kompulsif sebagai diagnosis psikiatrik tersering keempat
setelah fobia, gangguan yang berhubungan dengan zat, dan gangguan depresif berat.6

3
Untuk orang dewasa, laki-laki dan perempuan sama mungkin terkena, tetapi untuk
remaja, laki-laki lebih sering terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan perempuan.
Usia onset rata-rata adalah kira-kira 20 tahun. Secara keseluruhan, kira-kira dua pertiga dari
pasien memiliki onset gejala sebelum usia 25 tahun, dan kurang dari 15 persen pasien
memiliki onset gejala setelah usia 35 tahun.

ETIOLOGI
1 Faktor Biologis
a Neurotransmiter
Banyak uji coba kinis yang telah dilakukan terhadap berbagai obat mendukung
hipotesis bahwa suatu disregulasi serotonin adalah terlibat di dalam
pembentukan gejala obsesi dan kompulsi dari gangguan. Data menunjukkan
bahwa obat serotonergik lebih efektif dibandingkan obat yang mempengaruhi
sistem neurotransmiter lain. Tetapi apakah serotonin terlibat di dalam
penyebab gangguan obsesif-kompulsif adalah tidak jelas pada saat ini.
Penelitian klinis telah mengukur konsentrasi metabolit serotonin sebagai
contohnya, 5-hydroxyndoleacetic acid (5-HIAA) di dalam cairan serebrospinal
dan afinitas sertai jumlah tempat ikatan trombosit pada pemberian imipramine
(yang berikatan dengan tempat ambilan kembali serotonin) dan telah
melaporkan berbagai temuan pengukuran tersebut pada pasien dengan
gangguan obsesif-kompulsif. Pada satu studi, konsentrasi 5-HIAA pada cairan
serebrospinal menurun setelah terapi dengan clomipramine, sehingga
memberikan perhatian pada sistem serotonergik.6
b Genetika
Penelitian kesesuaiaan pada anak kembar untuk gangguan obsesif-kompulsif
telah secara konsisten menemukan adanya angka kesesuaian yang lebih tinggi
secara bermakna pada kembar monozigotik dibandingkan kembar dizigotik.
Penelitian keluarga pada pasien gangguan obsesif kompulsif telah menemukan
bahwa 35 persen sanak saudara derajat pertama pasien gangguan obsesif-
kompulsif juga menderita gangguan.6

2 Faktor Perilaku
Menurut ahli teori belajar, obsesi adalah stimuli yang dibiasakan. Stimulus
yang relatif netral menjadi disertai dengan ketakutan atau kecemasan melalui proses
pembiasaan responden dengan memasangkannya dengan peristiwa yang secara alami
adalah berbahaya atau menghasilkan kecemasan. Jadi, objek dan pikiran yang

4
sebelumnya netral menjadi stimuli yang terbiasakan yang mampu menimbulkan
kecemasan atau gangguan.6
Kompulsi dicapai dalam cara yang berbeda. Seseorang menemukan bahwa
tindakan tertentu menurunkan kecemasan yang berkaitan dengan pikiran obsesional.
Jadi, strategi menghindar yang aktif dalam bentuk perilaku kompulsif atau ritualistik
dikembangkan untuk mengendalikan kecemasan. Secara bertahap, karena manfaat
perilaku tersebut dalam menurunkan dorongan sekunder yang menyakitkan
(kecemasan), strategi menghindar menjadi terfiksasi sebagai pola perilaku kompulsif
yang dipelajari.6
3 Faktor Psikososial
a Faktor kepribadian
Gangguan obsesif-kompulsif adalah berbeda dari gangguan kepribadian
obsesif-kompulsif. Sebagian besar pasien gangguan obsesif-kompulsif tidak memiliki
gejala kompulsif pramorbid. Dengan demikian, sifat kepribadian tersebut tidak
diperlukan atau tidak cukup untuk perkembangan gangguan obsesif-kompulsif. Hanya
kira-kira 15 sampai 35 persen pasien gangguan obsesif-kompulsif memiliki sifat
obsesional pramorbid.6
b Faktor psikodinamika
Sigmund Freud menjelaskan tiga mekanisme pertahanan psikologis utama
yang menentukan bentuk dan kualitas gejala dan sifat karakter obsesif-kompulsif ;
isolasi, meruntuhkan (undoing), dan pembentukan reaksi.6
Isolasi
Isolasi adalah mekanisme pertahanan yang melindungi seseorang dari afek
dan impuls yang mencetuskan kecemasan. Jika terjadi isolasi, afek dan impuls
yang didapatkan darinya adalah dipisahkan dari komponen idesional dan
dikeluarkan dari kesadaran. Jika isolasi berhasil sepenuhnya, impuls dan afek
yang terkait seluruhnya terepresi, dan pasien secara sadar hanya menyadari
gagasan yang tidak memiliki afek yang berhubungan dengannya.6
Undoing
Karena adanya ancaman terus-menerus bahwa impuls mungkin dapat lolos
dari mekanisme primer isolasi dan menjadi bebas, operasi pertahanan sekunder
diperlukan untuk melawan impuls dan menenangkan kecemasan yang
mengancam keluar ke kesadaran. Tindakan kompulsif menyumbangkan

5
manifestasi permukaan operasi defensif yang ditujukan untuk menurunkan
kecemasan dan mengendalikan impuls dasar yang belum diatasi secara memadai
oleh isolasi. Operasi pertahanan sekunder yang cukup penting adalah mekanisme
meruntuhkan (undoing). Seperti yang disebutkan sebelumnya, meruntuhkan
adalah suatu tindakan kompulsif yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah
atau meruntuhkan akibat yang secara irasional akan dialami pasien akibat pikiran
atau impuls obsesional yang menakutkan.6
Pembentukan reaksi
Pembentukan reaksi melibatkan pola perilaku yang bermanifestasi dan sikap
yang secara sadar dialami yang jelas berlawanan dengan impuls dasar. Seringkali,
pola yang terlihat oleh pengamat adalah sangat dilebih-lebihkan dan tidak sesuai.6
C. Ambivalensi
Ambivalensi adalah akibat langsung dari perubahan dalam karakteristik
kehidupan impuls. Hal ini adalah ciri yang penting pada anak normal selama fase
perkembangan anal-sadistik; yaitu anak merasakan cinta dan kebencian kepada
suatu objek. Konflik emosi yang berlawanan tersebut mungkin ditemukan pada
pola perilaku melakukan-tidak melakukan pada seorang pasien dan keragu-raguan
yang melumpuhkan dalam berhadapan dengan pilihan.6
D. Pikiran magis
Pikiran magis adalah regresi yang mengungkapkan cara pikiran awal,
ketimbang impuls; yaitu fungsi ego, dan juga fungsi id, dipengaruhi oleh regresi.
Yang melekat pada pikiran magis adalah pikiran kemahakuasaan. Orang merasa
bahwa mereka dapat menyebabkan peristiwa di dunia luar terjadi tanpa tindakan
fisik yang menyebabkannya, semata-mata hanya dengan berpikir tentang peristiwa
tersebut. Perasaan tersebut menyebabkan memiliki suatu pikiran agresif akan
menakutkan bagi pasien gangguan obsesif-kompulsif.6

GAMBARAN KLINIS
Pada umumnya obsesi dan kompulsi mempunyai gambaran tertentu seperti :3
1
Adanya ide atau impuls yang terus-menerus menekan kedalam kesadaran seseorang.
2
Perasaan cemas atau takut akan ide atau impuls yang aneh.
3
Obsesi dan kompulsi ego-alien, yaitu dialami sebagai suatu yang asing bagi
pengalaman seseorang tentang dirinya sendiri sebagai makhluk psikologis.

6
4
Pasien mengenali obsesi dan kompulsi sebagai sesuatu yang aneh dan irasional.
5
Individu yang menderita obsesi kompulsi merasa adanya keinginan kuat untuk
melawan.

Gambaran obsesi dan kompulsi adalah berbeda pada dewasa, pada anak-anak dan
remaja. Gejala pasien individual mungkin bertumpang tindih dan berubah dengan berjalannya
waktu, tetapi gangguan obsesif-kompulsif memiliki empat pola gejala yang utama.6
1 Kontaminasi
Pola yang paling sering ditemukan adalah suatu obsesi tentang kontaminasi, diikuti
oleh mencuci disertai penghindaran obsesif terhadap objek yang kemungkinan
terkontaminasi. Objek yang ditakuti seringkali sukar untuk dihindari, sebagai contoh
feses, urin, debu atau kuman. Pasien mungkin secara terus-menerus menggosok kulit
tangannya dengan mencuci tangan secara berlebihan atau mungkin tidak mampu
pergi keluar rumah karena takut akan kuman. Walaupun kecemasan adalah respon
emosional yang paling sering terhadap objek yang ditakuti, rasa malu dan rasa jijik
yang obsesif juga sering ditemukan. Pasien dengan obsesi kontaminasi biasanya
percaya bahwa kontaminasi ditularkan dari objek ke objek atau orang ke orang oleh
kontak ringan.
2 Keraguan Patologis
Pola kedua yang sering adalah obsesi keraguan, diikuti oleh pengecekan yang
kompulsi. Obsesi seringkali melibatkan suatu bahaya kekerasan, seperti lupa
mematikan kompor atau tidak mengunci pintu. Pengecekan tersebut mungkin
menyebabkan pasien pulang beberapa kali ke rumah untuk memeiksa kompor.
Pasien memiliki keragu-raguan terhadap diri sendiri yang obsesional, saat mereka
selalu merasa bersalah karena melupakan atau melakukan sesuatu.
3 Pikiran yang Mengganggu
Pola ketiga yang tersering adalah pola dengan pikiran semata-mata pikiran
obsesional yang mengganggu tanpa suatu kompulsi. Obsesi tersebut biasanya berupa
pikiran berulang akan suatu tindakan seksual atau agresif yang tercela bagi pasien.
4 Simetri
Pola keempat yang tersering adalah kebutuhan akan simetrisitas atau ketepatan, yang
dapat menyebabkan perlambatan kompulsi. Pasien secara harfiah menghabiskan
waktu berjam-jam untuk makan atau mencukur wajahnya.

7
DIAGNOSIS
Kriteria diagnostik untuk gangguan obsesif-kompulsif menurut DSM IV:
1 Salah satu obsesi atau kompulsi
Obsesi seperti yang didefinisikan sebagai berikut:
a Pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan yang pernah dialami yang rekuren dan
menetap yang intrusif dan tidak sesuai, dan menyebabkan kecemasan dan distress
yang ada selama periode gangguan.
b Pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan bukan ketakutan terhadap problem
kehidupan yang nyata.
c Individu berusaha untuk mengabaikan atau menekan pikiran, impuls, atau
bayangan-bayangan tersebut untuk mentralkannya dengan pikiran atau tindakan
lain.
d Orang menyadari bahwa pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan yang berulang
adalah keluar dari pikirannya sendiri( tidak disebabkan dari luar seperti penyisipan
pikiran).
Kompulsi seperti yang didefinisikan sebagai berikut:
a Perilaku (misalnya, mencuci tangan, mengurutkan, memeriksa) atau tindakan
mental (misalnya berdoa, menghitung, mengulangi kata-kata dalam hati) yang
berulang yang dirasakannya mendorong untuk melakukannya sebagai respon
terhadap suatu obsesi, atau menurut dengan aturan yang harus dipatuhi secara
kaku.
b Perilaku atau aktivitas mental ditujukan untuk mencegah atau menurunkan
distress atau mencegah kejadian atau situasi; walaupun perilaku atau aktivitas
mental tidak berhubungan dengan cara yang realistik untuk mencegah atau
menetralisir.
2 Pada suatu waktu selama perjalanan gangguan, orang telah menyadari bahwa obsesi
atau kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan. Catatan: ini tidak berlaku bagi
anak-anak
3 Obsesi atau kompulsi menyebabkan penderitaan yang jelas, menghabiskan waktu
(menghabiskan lebih dari satu jam sehari), atau secara bermakna mengganggu
rutinitas normal orang, fungsi pekerjaan (atau akademik), atau aktifitas atau hubungan
sosial yang biasanya.
4 Jika terdapat gangguan aksis I lainnya, isi obsesi atau kompulsi tidak terbatas padanya
(misalnya preokupasi dengan makanan jika terdapat gangguan makan, menarik

8
rambut jika terdapat trikotilomania, permasalahan pada penampilan jika terdapat
gangguan dismorfik tubuh, preokupasi dengan obat jika terdapat suatu gangguan
penggunaan zat, preokupasi dengan menderita suatu penyakit serius jika terdapat
hipokondriasis, preokupasi dengan dorongan atau fanatasi seksual jika terdapat
parafilia, atau perenungan bersalah jika terdapat gangguan depresif berat).
5 Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat (misalnya obat yang disalahgunakan,
medikasi) atau kondisi medis umum.
Kondisi khusus jika : Dengan tilikan buruk: jika selama sebagian besar waktu selama
episode terakhir, orang tidak menyadari bahwa obsesi dan kompulsi adalah berlebihan
atau tidak beralasan.

Pedoman diagnosis menurut PPDGJ III:


a Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif,
atau kedua-duanya, harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu
berturut-turut.
b Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktivitas
penderita.
c Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut:
Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri.
Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan, meskipun
ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.
Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas bukan merupakan hal yang
memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau
anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud di atas.
Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan
yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive)
d Ada kaitan erat antara gejala obsesif, terutama pikiran obsesif, dengan depresi.
penderita gangguan obsesif kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala depresif,
dan sebaliknya penderita gangguan depresi berulang dapat menunjukkan pikiran-
pikiran obsesif selama episode depresifnya.
Dalam berbagai situasi dari kedua hal tersebut, meningkat atau menurunnya gejala
depresif umumnya dibarengi secara paralel dengan perubahan gejala obsesif. Bila

9
terjadi episode akut dari gangguan tersebut, maka diagnosis diutamakan dari gejala-
gejala yang timbul lebih dahulu.
Diagnosis gangguan obsesif kompulsif ditegakkan hanya bila tidak ada gangguan
depresif pada saat gejalobsesif kompulsif tersebut timbul. Bila dari keduanya tidak
adayang menonjol, maka baik menganggap depresi sebagai diagnosis yang primer.
Pada gangguan menahun, maka prioritas diberikan pada gejala yang paling bertahan
saat gejala yang lain menghilang.
e Gejala obsesif sekunder yang terjadi pada gangguan skizofrenia, sindrom Tourette,
atau gangguan mental organk, harus dianggap sebagai bagian dari kondisi tersebut.7

TERAPI

1 Farmakoterapi
Data yang tersedia menyatakan bahwa semua obat yang digunakan untuk mengobati
gangguan depresif atau gangguan mental lain, dapat digunakan dalam rentang dosis
yang biasanya. Efek awal biasanya terlihat setelah 4 sampai 6 minggu pengobatan,
walaupun biasanya diperlukan waktu 8 sampai 16 minggu untuk mendapatkan
manfaat terapeutik yang maksimum. Walaupun pengobatan dengan obat antidepresan
masih kontroversial, sebagian pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif yang
berespon terhadap pengobatan dengan antidepresan tampaknya mengalami relaps jika
terapi obat dihentikan. Pengobatan standar adalah memulai dengan obat spesifik-
serotonin, contohnya clomipramine (Anafranil) atau SSRI (serotonin specific reuptake
inhibitor), seperti Fluoxetine (Prozac).6

Indikasi Penggunaan
1 Selama paling sedikit 2 minggu dan hampir setiap hari mengalami gejala-gejala
obsesif kompulsif yang memiliki ciri-ciri berikut:
a Diketahui/disadari sebagai pikiran, bayangan atau impuls dari diri
individu sendiri;
b Pikiran, bayangan, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan
yang tidak menyenangkan (ego-distonik);
c Melaksanakan tindakan sesuai dengan pikiran, bayangan atau impuls
tersebut diatas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau
kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau ansietas);

10
d Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang masih tidak berhasil
dilawan/dielakkan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi
dilawan/dielakkan oleh penderita;
2 Gejala-gejala tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau
menggangu aktivitas sehari-hari (disability)

Respon penderita gangguan obsesif kompulsif terhadap farmakoterapi seringkali


hanya mencapai pengurangan gejala sekitar 30%-60% dan kebanyakan masih menunjukkan
gejala secara menahun. Namun demikian, umumnya penderita sudah merasa sangat tertolong.
Untuk mendapatkan hasil pengobatan yang lebih baik, perlu disertai dengan terapi perilaku
(behavior therapy).
a
Clomipramine. Clomipramine biasanya dimulai dengan dosis 25 sampai 50 mg
sebelum tidur dan dapat ditingkatkan dengan peningkatan 25 mg sehari setiap dua
sampai tiga hari, sampai dosis maksimum 250 mg sehari atau tampak efek samping
yang membatasi dosis. Karena Clopramine adalah suatu obat trisiklik, obat ini disertai
dengan efek samping berupa sedasi, hipotensi, disfungsi seksual dan efek samping
antikolinergik, seperti mulut kering dan konstipasi.3
b
SSRI. Penelitian tentang Fluoxetine dalam gangguan obsesif-kompulsif menggunakan
dosis sampai 80 mg setiap hari untuk mencapai manfaat terapeutik. Walaupun SSRI
mempunyai efek seperti overstimulasi, kegelisahan, nyeri kepala, insomnia, mual,
ansietas dan efek samping gastrointestinal, SSRI dapat ditoleransi dengan lebih baik
daripada obat trisiklik. Dengan demikian, kadang-kadang SSRI digunakan sebagai
obat lini pertama dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif.6
Dapat diberikan fluoxeton (2x20 mg), atau sertraline (2x50 mg), atau esitalopram
(2x10 mg), atau fluvoxamine (2x50 mg).
c
Obat lain. Jika pengobatan dengan Clomipramine atau SSRI tidak berhasil, banyak
ahli terapi menambahkan lithium (Eskalith), valproat (Depakene), karbamazepin
(Tegretol). Obat lain yang dapat digunakan dalam pengobatan gangguan obsesif
kompulsif adalah inhibitor monoamin oksidase (MAOI = monoamine oxidase
inhibitor), khususnya Phenelzine (Nardil).6

2 Psikoterapi
Psikoterapi suportif jelas memiliki bagiannya, khususnya untuk pasien gangguan
obsesif-kompulsif, walaupun gejalanya memiliki berbagai derajat keparahan, adalah

11
mampu untuk bekerja dan membuat penyesuaian sosial. Dengan kontak yang kontinu
dan teratur dengan tenaga yang profesional, simpatik, dan mendorong, pasien
mungkin mampu untuk berfungsi berdasarkan bantuan tersebut, tanpa hal tersebut
gejalanya akan menyebabkan gangguan. Kadang-kadang jika ritual dan kecemasan
obsesional mencapai intensitas yang tidak dapat ditoleraansi, perlu untuk merawat
pasien di rumah sakit sampai tempat penampungan institusi dan menghilangkan stres
lingkungan eksternal menurunkan gejala sampai tingkat yang dapat ditoleransi.6
Anggota keluarga pasien seringkali menjadi putus asa karena perilaku pasien. Tiap
usaha psikoterapik harus termasuk perhatian pada anggota keluarga melalui dukungan
emosional, penentraman, penjelasan dan nasihat tentang bagaimana menangani dan
berespons terhadap pasien.6
Jenis psikoterapi yang dapat diberikan berupa psikoterapi suportif, terapi perilaku,
terapi kognitif perilaku dan psikoterapi dinamik.
3 Terapi perilaku
Walaupun beberapa perbandingan telah dilakukan, terapi perilaku sama efektifnya
dengan farmakoterapi pada gangguan obsesif-kompulsif. Dengan demikian, banyak
klinisi mempertimbangkan terapi perilaku sebagai terapi terpilih untuk gangguan
obsesif-kompulsif. Terapi perilaku dapat dilakukan pada situasi rawat inap maupun
rawat jalan. Pendekatan perilaku utama pada gangguan obsesif-kompulsif adalah
pemaparan dan pencegahan respon, desensitisasi, menghentikan pikiran, pembanjiran,
terapi implosi, dan pembiasaan tegas juga telah digunakan pada pasien gangguan
obsesif kompulsif. Dalam terapi perilaku pasien harus benar-benar menjalankannya
untuk mendapatkan perbaikan.6

PROGNOSIS
Lebih dari separuh pasien dengn OCD memiliki awitan gejala yang mendadak. Awitan
gejala sekitar 50-70% terjadi setelah peristiwa yang penuh tekanan, seperti kehamilan,
masalah seksual, atau kematian kerabat. Sekitar 20-30% pasien mengalami perbaikan gejalan
yang signifikan, 40-50% mengalami perbaikan sedang, dan 20-40% tetap sakit atau
mengalami perburukan gejala. Sekitar sepertiga hingga separuh pasien memiliki gangguan
depresif berat dan bunuh diri.6
a Prognosis buruk : menyerah pada kompulsi, awitan pada masa kanak, kompulsi yang
aneh, kebutuhan akan perawatan dirumah sakit, gangguan depresif berat yang juga

12
timbul bersamaan, adanya waham, adanya penilaian berlebihan terhadap gagasan
(yaitu, penerimaan obsesi dan kompulsi) dan adanya gangguan kepribadian.6
b Prognosis baik : adanay pemnyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik, adanya
peristiwa yang mencetuskan, dan sifat episodik gejala. 6

BAB III
KESIMPULAN

Gangguan obsesif kompulsif adalah gangguan cemas, dimana pikiran seseorang dipenuhi
oleh gagasan-gagasan yang menetap dan tidak terkontrol, dan ia dipaksa untuk melakukan
tindakan tertentu berulang-ulang, sehingga menimbulkan stress dan mengganggu fungsinya
dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala gejala obsesif atau
tindakan kompulsif, atau kedua duanya, harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya 2
minggu berturut turut. Beberapa faktor berperan dalam terbentuknya gangguan obsesif-
kompulsif diantaranya adalah faktor biologi seperti neurotransmitter dan genetika, faktor
psikologi dan faktor psikososial. Ada beberapa terapi yang bisa dilakukan untuk
penatalaksanaan gangguan obsesif kompulsif antara lain terapi farmakologi
(farmakoterapi), Exposure and Response Prevention, terapi keluarga dan terapi perilaku.

13
DAFTAR PUSTAKA

1 Fausiah, F & Widury, J. 2007. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: UI-Press
2 Durand, V. Mark dan David H. Barlow. 2006. Intisari Psikologi Abnormal. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
3 Elvira, Sylvia E. dkk. Buku Ajar Psikiatri. 2010. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran UI.
Jakarta.
4 Nevid, S. Jeffrey, Spencer, A. R & Beverly G. 2005. Psikologi Abnormal jilid 1. Jakarta:
Erlangga
5 Maramis WF, Maramis AA. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. 2rd rev. ed. Surabaya:
Universitas Airlangga.
6 Kaplan, H.l dan Saddock B.J. 2004. Buku Ajar Psikiatri Edisi.2 Cetakan 2013. USA:
Buku Kedokteran EGC. p 247-251.
7 Maslim, Rusdi. 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya.

14