Anda di halaman 1dari 12

BAB I

KONSEP MEDIS

A. Definisi
Definisi Fraktur
Faktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.
Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak disekitar
tulang akan menentukkan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap
(Prince & Wilson, 2006).
Definisi Fraktur Femur
Fraktur Femur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang femur, yang
biasanya disertai dengan luka sekitar jaringan lunak, kerusakan otot, rupture tendon, dan
kerusakan pembuluh darah (Smeltzer et al., 2010).

B. Klasifikasi Fraktur Secara Klinis


1. Fraktur tertutup (fraktur simple), bila tidak terdapat hubungan antara fragment tulang
dengan dunia luar.
2. Fraktur terbuka (fraktur komplikata/kompleks), bila terdapat hubungan antara
fragment tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit.
3. Fraktur dengan komplikasi, seperti infeksi tulang.

C. Etiologi
1. Traumatik. Disebabkan oleh trauma yang tiba-tiba mengenai tulang dengan kekuatan
yang besar. Tulang tidak mampu menahan trauma tersebut sehingga terjadi fraktur.
2. Patologis. Disebabkan oleh kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan patologis
di dalam tulang. Fraktur patologis terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah
menjadi lemah karena tumor atau proses patologis lainnya. Tulang seringkali
menunjukkan penurunan densitas. Penyebab paling sering dari fraktur-fraktur
semacam ini adalah tumor, baik primer maupun metastasis.
3. Stress. Disebabkan oleh trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu.

D. Manifestasi Klinik
1. Nyeri.
2. Alat gerak tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya
3. Darah bisa merembes dari tulang yang patah (kadang dalam jumlah yang cukup banyak)
dan masuk ke dalam jaringan di sekitarnya atau keluar dari luka akibat cedera.
4. Edema terjadi akibat peningkatan permeabilitas kapiler.
5. Pucat disebabkan kadar oksigen jaringan menurun.
6. Otot tegang dan terjadi pembengkakan
7. Krepitus akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya.
8. Perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan
perdarahan yang mengikuti fraktur.
9. Terjadi deformitas akibat pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai.

E. Komplikasi
1. Syok
Syok terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas
kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Hal ini biasanya terjadi
pada fraktur. Pada beberapa kondisi tertentu,syok neurogenik sering terjadi pada
fraktur femur karena rasa sakit yang hebat pada pasien.
2. Kerusakan arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai oleh: tidak adanya nadi,CRT
(Capillary Revill Time) menurun, sianosis bagian distal, hematoma yang lebar, serta
dingin pada ekstremitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi pembidaiaan,
perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi dan pembedahan.
3. Sindrom Kompartemen

Program Profesi PSIK UNHAS (Keperawatan Medikal Bedah II, 2016) Bedah Ortopedi
Sindrom kompartemen adalah suatu kondisi dimana terjadi terjebaknya otot,
tulang syaraf dan pembuluh darah dalam jaringan parut akibat suatu pembengkakan
dari edema atau perdarahan yang menekan otot, syaraf dan pembuluh darah.
Kondisi sindrom kompartemen akibat komplikasi fraktur hanya terjadi pada fraktur
yang dekat dengan persendian dan jarang terjadi pada bagian tengah tulang. Tanda
khas untuk sindrom kompartemen adalah 5 P yaitu : Pain (nyeri lokal), Paralisis
(kelumpuhan otot), Parestesia (tidak ada sensasi), Pallor (pucat bagian distal),
Pulsessness (tidak ada denyut nadi, perubahan nadi, perfusi yang tidak baik dan
CRT >3 detik pada bagian distal kaki)
4. Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
ortopedik infeksi dimulai pada kulit (superfisial) dan masuk ke dalam. Hal ini
biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka.
5. Avaskuler nekrosis
Terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa
menyebabkan nekrosis tulang dan diawali Volkmans Ischemia.
6. Sindrom emboli lemak
Merupakan komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus fraktur tulang
panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan sumsum tulang kuning
masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang
ditandai dengan gangguan pernapasan, takikardi, hipertensi, takipnea dan demam.

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan rontgen: menentukan lokasi/ luasnya fraktur/ trauma, dan jenis fraktur
2. Scan tulang, tomogram, CT scan MRI: memperlihatkan tingkat keparahan fraktur,
juga dapat untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak
3. Arteriogram: dilakukan bila dicurigai adanya kerusakan vaskuler
4. Hitung darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun
(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh dan multipel trauma).
Peningkatan leukosit sebagai respon terhadap peradangan
5. Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.
6. Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multipel
atau cidera hati.

G. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan fraktur adalah untuk menempatkan ujung-ujung dari patah tulang
supaya satu sama lain saling berdekatan, selain itu menjaga agar tulang tetap menempel
sebagaimana mestinya. Proses penyembuhan memerlukan waktu minimal 4 minggu,
tetapi pada usia lanjut biasanya memerlukan waktu yang lebih lama. Setelah sembuh,
tulang biasanya kuat dan kembali berfungsi (Corwin, 2001).
1. Traksi
Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani
kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Tujuan traksi adalah untuk menangani
fraktur, dislokasi atau spasme otot dalam usaha untuk memperbaiki deformitas dan
mempercepat penyembuhan. Traksi menggunakan beban untuk menahan anggota
gerak pada tempatnya. Tapi sekarang sudah jarang digunakan. Traksi longitudinal
yang memadai diperlukan selama 24 jam untuk mengatasi spasme otot dan mencegah
pemendekan, dan fragmen harus ditopang di posterior untuk mencegah
pelengkungan. Traksi pada anak-anak dengan fraktur femur harus kurang dari 12 kg,
jika penderita yang gemuk memerlukan beban yang lebih besar.

2. Fiksasi interna
Fiksasi interna dilakukan dengan pembedahan untuk menempatkan piringan atau
batang logam pada pecahan-pecahan tulang. Fiksasi interna merupakan pengobatan
terbaik untuk patah tulang pinggul dan patah tulang disertai komplikasi.
3. Pembidaian

Program Profesi PSIK UNHAS (Keperawatan Medikal Bedah II, 2016) Bedah Ortopedi
Pembidaian adalah suatu cara pertolongan pertama pada cedera/trauma sistem
muskuloskeletal untuk mengistirahatkan (immobilisasi) bagian tubuh kita yang
mengalami cedera dengan menggunakan suatu alat yaitu benda keras yang
ditempatkan di daerah sekeliling tulang.
4. Pemasangan Gips atau Operasi Dengan Orif
Gips adalah suatu bubuk campuran yang digunakan untuk membungkus secara
keras daerah yang mengalami patah tulang. Pemasangan gips bertujuan untuk
menyatukan kedua bagian tulang yang patah agar tak bergerak sehingga dapat
menyatu dan fungsinya pulih kembali dengan cara mengimobilisasi tulang yang
patah tersebut.

BAB II
KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian Keperawatan
a. Aktivitas / istirahat
Gejala :
kelemahan, kelelahan, terdapat masalah pada mobilitas
Tanda :

Program Profesi PSIK UNHAS (Keperawatan Medikal Bedah II, 2016) Bedah Ortopedi
Keterbatasan / kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera,
fraktur itu sendiri atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan,
nyeri)
Kelemahan dari ekstremitas yang terkena
Penurunan ROM
b. Sirkulasi
Tanda :
Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respons terhadap nyeri/ansietas) atau
hipotensi (kehilangan darah)
Takhikardia (respons stress, hipovolemia)
Penurunan/tak ada nadi pada bagian distal yang cidera: pengisian kapiler lambat,
pucat pada bagian yang terkena
Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cidera
c. Neurosensori
Gejala :
Hilang gerakan/sensasi, spasme otot
Kebas/kesemutan (parastesis)
Tanda :
Deformitas lokal: angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi (bunyi
berderit), spasme otot, terlihat kelemahan/hilang fungsi
Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ansietas atau trauma lain
d. Eliminasi
Tanda :
Hematuria
Sedimen urine
Perubahan output-GGA dengan kerusakan muskuloskletal
e. Nyeri/kenyamanan
Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area
jaringan /kerusakan tulang : dapat berkurang pada imobilisasi)
Spasme/kram otot (setelah imobilisasi)
f. Keamanan
Tanda :
Laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna
Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba)

B. Diagnose Keperawatan
1. Nyeri akut b.d agen injuri fisik, spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera
jaringan lunak, pemasangan traksi.
2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d penurunan suplai darah ke jaringan.
3. Kerusakkan integritas kulit b.d pemasangan traksi (pen, kawat, sekrup).
4. Hambatan mobilitas fisik b.d kerusakkan rangka neuromuscular, nyeri, terapi
restriktif (imobilisasi).
5. Resiko infeksi.
6. Resiko trauma.

C. Rencana Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Program Profesi PSIK UNHAS (Keperawatan Medikal Bedah II, 2016) Bedah Ortopedi
Nyeri akut b.d agen injuri fisik, spasme NOC : NIC :
otot, gerakan fragmen tulang, edema, Pain Level, Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk
cedera jaringan lunak, pemasangan pain control, lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
traksi. comfort level presipitasi
Kriteria hasil: Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Mampu mengontrol nyeri (tahu Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
penyebab nyeri, mampu dukungan
menggunakan tehnik Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti
nonfarmakologi untuk mengurangi suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
nyeri, mencari bantuan) Kurangi faktor presipitasi nyeri
Melaporkan bahwa nyeri berkurang Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
dengan menggunakan manajemen Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala,
nyeri relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin
Mampu mengenali nyeri (skala, Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri: ...
intensitas, frekuensi dan tanda Tingkatkan istirahat
nyeri) Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri,
Menyatakan rasa nyaman setelah berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi
nyeri berkurang ketidaknyamanan dari prosedur
Tanda vital dalam rentang normal Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian
Tidak mengalami gangguan tidur analgesik pertama kali

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Ketidakefektifan perfusi jaringan NOC : NIC :


perifer b.d penurunan suplai darah ke Circulation Peripheral Sensation Management (Manajement
status sensasi perifer)
jaringan. Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap
Tissue
Perfusion: cerebral panas/dingin/tajam/tumpul.
Kriteria hasil: Monitor adanya pretese
Mendemonstrasikan status Instruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada isi
sirkulasi yang ditandai dengan: atau laserasi.
Tekan sistol dan diastol dalam Gunakan sarung tangan untuk proteksi.
rentang yang diharapkan. Batasi gerakkan pada kepala, leher, dan punggung.
Tidak ada ortostatik hipertensi. Monitor kemampuan BAB.
Tidak ada tanda-tanda peningkatan Kolaborasi pemberian analgetik.
tekanan intrakranial (tidak lebih dari Monitor adanya tromboplebitis.
15 mmHg) Diskusikan mengenai adanya perubahan sensasi.
Mendemonstrasikan kemampuan
kognitif yang ditandai dengan:
Berkomunikasi dengan jelas dan
sesuai dengan kemampuan .
Menunjukkan perhatian,
konsentrasi, dan orientasi.
Memproses informasi.
Membuat keputusan yang benar.
Menunjukkan fungsi sensori
motorik cranial yang utuh: tingkat
kesadaran membaik, tidak ada
gerakkan involunter.

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Kerusakan integritas kulit b.d NOC : NIC : Pressure Management


pemasangan traksi (pen, kawat, sekrup). Tissue Integrity : Skin and Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
Mucous Membranes Hindari kerutan pada tempat tidur
Wound healing: primary and Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
secondary intention. Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali
kriteria hasil: Monitor kulit akan adanya kemerahan
Integritas kulit yang baik bisa Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan
dipertahankan (sensasi, Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
elastisitas, temperatur, hidrasi, Monitor status nutrisi pasien
pigmentasi)
Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
Tidak ada luka/lesi pada kulit
Kaji lingkungan dan peralatan yang menyebabkan tekanan
Perfusi jaringan baik
Observasi luka : lokasi, dimensi, kedalaman luka,
Menunjukkan pemahaman
karakteristik,warna cairan, granulasi, jaringan nekrotik,
dalam proses perbaikan kulit
tanda-tanda infeksi lokal, formasi traktus
dan mencegah terjadinya
Ajarkan pada keluarga tentang luka dan perawatan luka
sedera berulang
Kolaburasi ahli gizi pemberian diae TKTP, vitamin
Mampu melindungi kulit dan
Cegah kontaminasi feses dan urin

Program Profesi PSIK UNHAS (Keperawatan Medikal Bedah II, 2016) Bedah Ortopedi
mempertahankan kelembaban Lakukan tehnik perawatan luka dengan steril
kulit dan perawatan alami Berikan posisi yang mengurangi tekanan pada luka
Menunjukkan terjadinya proses
penyembuhan luka

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Hambatan mobilitas fisik b.d kerusakkan NOC : NIC :


rangka neuromuscular, nyeri, terapi Joint movement: active. Exercise therapy: ambulation
restriktif (imobilisasi). Mobility level Monitoring vital sign sebelum/sesudah latihan dan lihat respon
Selft care: ADLs pasien saat latihan.
Transfer performance Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi
kriteria hasil: sesuai dengan kebutuhan.
Klien meningkat dalam aktivitas Bantu klien untuk mengangkat tongkat saat berjalan dan
fisik cegah terhadap cedera.
Mengerti tujuan dan Kaji kemampuan pasien tentang mobilisasi
peningkatan mobilisasi. Latih klien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri
Memverbalisasikan perasaan sesuai kemampuan.
dalam meningkatkan kekuatan Dampingi dan bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi
dan kemampuan berpindah. kebutuhan ADLs pasien.
Memperagakan penggunaan Berikan alat bantu jika klien memerlukan.
alat. Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan
Bantu untuk mobilisasi. bantuan jika diperlukan.

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Program Profesi PSIK UNHAS (Keperawatan Medikal Bedah II, 2016) Bedah Ortopedi
Risiko infeksi NOC : NIC :
Immune Status Infection control (control infeksi)
Knowledge : Infection control Pertahankan teknik aseptif
Risk control Batasi pengunjung bila perlu
Kriteria hasil: Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
Klien bebas dari tanda dan gejala keperawatan
infeksi Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
Menunjukkan kemampuan untuk Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan petunjuk
mencegah timbulnya infeksi umum
Jumlah leukosit dalam batas Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi
normal kandung kencing
Menunjukkan perilaku hidup Tingkatkan intake nutrisi
sehat Berikan terapi antibiotik
Status imun, gastrointestinal, Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
genitourinaria dalam batas Pertahankan teknik isolasi k/p
normal
Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
Monitor adanya luka
Dorong masukan cairan
Dorong istirahat
Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
Kaji suhu badan pada pasien neutropenia setiap 4 jam

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Risiko trauma NOC : NIC :


Knowledge : Personal Safety Environmental Management safety
Faktor-faktor risiko Safety Behavior : Fall Prevention Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien
Internal: Safety Behavior : Fall occurance Identifikasi kebutuhan keamanan pasien, sesuai dengan
Kelemahan, penglihatan menurun, kondisi fisik dan fungsi kognitif pasien dan riwayat
Safety Behavior : Physical Injury
penurunan sensasi taktil, penurunan penyakit terdahulu pasien
koordinasi otot, tangan-mata, kurangnya Tissue Integrity: Skin and Mucous
Menghindarkan lingkungan yang berbahaya (misalnya
edukasi keamanan, keterbelakangan Membran
Kriteria hasil: memindahkan perabotan)
mental Memasang side rail tempat tidur
- pasien terbebas dari trauma fisik
Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
Eksternal:
Menempatkan saklar lampu ditempat yang mudah
Lingkungan
dijangkau pasien.
Membatasi pengunjung
Memberikan penerangan yang cukup
Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien.
Mengontrol lingkungan dari kebisingan
Memindahkan barang-barang yang dapat
membahayakan
Berikan penjelasan pada pasien dan keluarga atau
pengunjung adanya perubahan status kesehatan dan
penyebab penyakit.

Program Profesi PSIK UNHAS (Keperawatan Medikal Bedah II, 2016) Bedah Ortopedi
BAB III
WOC (WEB OF COUTION)

Trauma tidak langsung


Akibat stres trauma langsung Trauma patologis

Kegagalan tulang menahan beban Resiko Trauma

FRAKTUR
(cidera pd struktur tulang & jaringan lunak)Kehilangan Integrasi Tulang
sekitar, perdarahan ( + )

MengaktivasiTindakan
respon peradangan
invasif (pelepasan mediator kimia oleh mast sel: Bradikinin, histamin

Protekti/ barier utama kulit, jaringan otot me

Pajanan lingkungan luar terhadap mikroorganisme patogen


buluh darah, aliran darah me, perub struktur pembuluh darah yg menyebabkan protein plasma
Menstimulasi & lekosit keluar
Nosiseptor

Akumulasi cairan eksudat pada jararingan


Mekanisme interstisial
nyeri (transduksi, Transmisi, modulasi, per

Oedema jaringan

Menekan nerve ending


Risiko Infeksi

efektifan perfusi jaringan perifer Nyeri Akut

Ketidaknyamanan dlm gerak/ mobilisasi

Hambatan mobilitas fisik

Tindakan pembedahan (pemasangan traksi/pen/kawa

Imobilisasi

Kerusakan integritas kulit

Program Profesi PSIK UNHAS (Keperawatan Medikal Bedah II, 2016) Bedah Ortopedi
B. RUMUSAN DIAGNOSA, NOC, NIC

Diagnosis Pengkajian NOC NIC

Pain
1 Nyeri akut Nyeri Pain Management
b.d agen Udema pada level Analgesik
injuri daerah fraktur Pain Administration
fisik, Gelisah control
spasme Wajah meringis Convort
otot, Nyeri tekan level
gerakan Adanya krepitasi
fragmen
Terpasang traksi,
tulang,
gips, ORIF
edema,
cedera
jaringan
lunak,
pemasang
an traksi.

Tidak ada denyut Peripeheral


2 Ketidakef nadi Circulati Sensation
ektifan CRT >3 detik on status Management
perfusi Kuku Tissue
jaringan pucat/sianosis perfusio
perifer b.d Dingin pada n
penurunan ekstremitas
suplai
darah ke
jaringan

3 Kerusakka Terpasang Tissue Pressure


n traksi, gips, integrity: manageme
integritas ORIF skin and nt
kulit b.d Klien mucous Insision
pemasang bedrest Membra site care
an traksi Otot Tegang nes
(pen, dan terjadi Hemody
kawat, pembengkak alis
sekrup). an akses

Program Profesi PSIK UNHAS (Keperawatan Medikal Bedah II, 2016) Bedah Ortopedi
Hematoma
pada sisi
yang cedera

Kelemahan
4 Hambatan Keterbatasan Joint Exercise therapy:
mobilitas gerak moveme ambulation
fisik b.d Terpasang nt:
kerusakka traksi/gips/ORIF active.
n rangka Mobility
neuromus level
cular, Selft
nyeri, care:
terapi ADLs
restriktif Transfer
(imobilisa performa
si). nce

5 Resiko Terpasang Immune Infection control


Infeksi traksi, gips, Status (control infeksi)
dan ORIF Knowledge :
Adanya Infection
trauma control
jaringan Risk control
Hematoma
pada sisi
yang cedera.

6. Resiko Penurunan Knowledge : Environme


Trauma koordinasi Personal ntal
otot Safety Manageme
Penurunan Safety nt safety
sensasi, Behavior :
kelemahan Fall
Prevention
Safety
Behavior :
Fall occurance
Safety
Behavior :

Program Profesi PSIK UNHAS (Keperawatan Medikal Bedah II, 2016) Bedah Ortopedi
Physical
Injury
Tissue
Integrity: Skin
and Mucous
Membran

Program Profesi PSIK UNHAS (Keperawatan Medikal Bedah II, 2016) Bedah Ortopedi
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, E. J. (2001). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Smeltzer, S. C., Bare, B. G., Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2010). Brunner & Suddarth
Textbook of Medical-Surgical Nursing-12th edition. Philadelphia: Wolters Kluwer
Health / Lippincott Williams & Wilkins.

Kowalak-Welsh-Mayer (Penyunt.). (2012). Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Marliynn, J & Lee, J 2011, seri panduan praktis keperawatan klinis, Jakarta erlangga

Nurarif A. H. & Kusuma H. 2015. Buku Aplikasi Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
dan Nanda Nic-Noc.Jogjakarta: Mediaction.
Brunner & Suddarth (2013 ).Buku ajar keperawatan Medikal- Bedah. Jakarta : EGC

Program Profesi PSIK UNHAS (Keperawatan Medikal Bedah II, 2016) Bedah Ortopedi