Anda di halaman 1dari 7

0

Laporan kasus

LAPAROSCOPY

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Dalam Menjalani Kepaniteraan Klinik Senior
Pada Bagian/SMF Obstetri Dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Daerah
dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh

Disusun Oleh:

Uzmil Arifa
Fitara Yusda
Pocut Indah Safitri

Pembimbing:

Dr. dr. Mohd, Andalas, Sp.OG(K)

BAGIAN/SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
2016
1

BAB I
PENDAHULUAN

Peran laparoskopi dalam ginekologi modern telah berkembang pesat dari


sebuah tes diagnostik awal menjadi suatu teknik terapi yang kompleks selama 25
tahun terakhir. Laparoskopi pertama dalam ginekologi adalah prosedur sterilisasi
yang dilakukan oleh Bosch pada tahun 1936, di Swiss. Dengan pengembangan
peralatan termasuk peralatan elektrik, operasi yang kompleks menjadi mungkin
dilakukan. Praktek bedah di ginekologi telah direvolusi oleh penggunaan teknik
laparoskopi dan rutin dipertimbangkan. Antara 2014 hingga 2015, lebih dari
72.000 prosedur diberi tercatat sebagai tindakan laparoskopi. Pemulihan dua kali
lebih cepat, lama rawatan yang lebih pendek dan rasa sakit setelah operasi yang
berkurang merupakan pertimbangan dilakukannya laparoskopi. Namun beberapa
faktor resiko dapat dipertimbangkan. (1,2)
2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi
Laparoskopi adalah suatu metode pembedahan pada kavitas peritonial
yang divisualisasikan dengan tidak adanya sayatan perut besar. Laparoskopi
diagnostik merupakan pilihan pembedahan minimal invasif atau evaluasi
menyeluruh dari kavitas peritonial dan oran-organ pelvik. Tindakan ini sering
dilakukan untuk mengevaluasi keluhan nyeri pelvik atau penyebab infertilitas,
penegakan diagnosa endometritis, atau untuk memastikan adanya kelainan adesif
atau kualitas dari masa pelvik. Evaluasi sistemik pada kavitas peritonial penting
dilakukan selama laparoskopi, baik diagnostik atau operasi. (1,2)
2.2 Indikasi
Indikasi tindakan laparoskopik pada ginekologi bertambah seiring peningkatan
kualitas dari peralatan medis dan pengalaman dari ahli bedah.(1)
Laparoskopi diagnostik dilakukan untuk menginvestigasi nyeri pelvik.
Jumlah laparoskopi negatif dimana tidak ditemukan suatu patologis selama
tindakan sekitar lebih dari 50%. Konsul preoperatif terhadap pasien sangat
penting. Lini pertama tatalaksana bedah pada kehamilah ektopik menggunakan
pendekatan laparoskopi, bahkan pada saat ruptir, semua pasien distabilkan
sebelum operasi. Pada kehamilah ektopik tuba, salpingektomi paling umum
dilakukan, dengan asumsi tuba yang kontralateral normal dalam tampilannya.
Salpingostomi merupakan alternatif dimana tuba kontralateral rusak. Follow up
dari serum beta hCG diperlukan.(1)
Kista ovarium sering ditatalaksana dengan tindakan laparoskopik.
Sebelum dilakukan laparoskopik, bentuk dan ukuran kista harus diperkirakan
dengan menggunakan USG transvaginal dan marker tumor. Kista ovarium dapat
terjadi pada kasus kedaruratan yang membutuhkah pembedahan cepat ,
perdarahan atau ruptur. (1)
Scara tradisional, histerektomi dilakukan menggunakan bedah terbuka atau
melalui vagina. Seiring waktu, laparoskopik histerektomi menjadi pilihan yang
sering dilakukan. Rute dari pembedahan bergantung dari kemampuan bedah,
indikasi pembedahan, kontraindikasi hingga , metode pembedahan tertentu dan
3

kodisi pasien. Total dan subtotal histerektomi dapat dilakukan dengan


laparoskopik, spesiemen yang diambil masing masing melalui port abdominal
dan vagina. (1)
Sebuah spektrum luas dari penyakit endometriosis, mulai dari temuan
insidental penyakit ringan sampai dengan penyakit yang menyebabkan sakit
parah, distrosi panggul dan masalah sekunder seperti subfertilitas. Laparoskopi
digunakan dalam diagnosis dan pengobatan endometriosis dengan tujuan
mengobati atau menghapus kelainan patologis dan pemulihan anatomis. (1)
Laparoskopi memiliki tempat dalam manajemen dari kanker ginekologi
(ovarium, endometrium dan serviks). Metode ini memberikan tampilan yang lebih
baik dari pelvik, termasuk dinding pelvik ketika dibandingkan dengan bedah
terbuka. Pemulihan yang lebih cepat dihasilkan dari laparoskopi berarti bahwa
pasien sering cocok untuk pengobatan adjuvan, jika diperlukan, jauh lebih cepat
dari pada harus menjalani bedah terbuka. Metode ini juga ideal saat melakukan
laparoskopi salpingooperektomi bilateral untuk mengurangi resiko kanker
payudara setelah operasi atau mereka dengan risiko genetik yang tinggi. (1,2)
Faktor faktor tuba terhitung 30% dari subfertilitas perempuan.
Hidrotubasi dilakukan pada laparoskopi yang memungkinkan penilaian anatomi
tuba yang buruk dan patensi. Laparoskopi salpingektomi bilateral atau tubal
kliping untuk hidrosalpinges meningkatkan keberhasilan konsepsi bantuan.
Pengambilan ovum juga daoat dilakukan dengan laparoskopi bila ovarium tidak
dapat diakses melalui vagina. (1,2)
Kegagalan ovulasi sekunder pada sindrom ovarium polikistik mungkin
sebagai respon dari pengeboran pada ovarium saat laparoskopi, biasanya
mengikuti kegagalan upaya medis untuk menginduksi ovulasi. Pengeboran ke
ovarium menghilangkan beberapa androgen yang mensekresi stroma dan theca
sehingga mengurangi prodeksi normal dari hormon steroid ovarium. (1,2)

2.3 Faktor Faktor untuk Menentukan Laparoskopi


Menurut teori, perbedaan laparoskopik dan laparotomi hanya pada cara
akses menuju lokasi operasi. Bagaimanapun, kualitas yang melekat dapat
membuat beberapa langkah operasi menjadi lebih sulit. Disini termasuk palpasi
4

tidak langsung pada jaringan, gerakan konterintuitif, port atau akses ke abdominal
denganjumlah terbatas, gerakan terbatas, dan pergantian dari pandangan video 3D
dengan 2 D. Pemilihan pasien yang tepat, pemulihan lebih cepat, nilai kosmetik,
dan sedikitnya nyeri postoperatif, pembentukan adhesi berkurang, dan yang
terakhir hasil operasi yang ekuivalen. Keputusan untuk melakukan laparoskopi
didasarkan pada beberapa parameter. Terutama adalah faktor pasien, ketersediaan
instrumen yang sesuai dan keahlian dari dokter bedah.(2)
Laparoskopi menggunakan pneumoperitonium dikontraindikasikan pada
sebagian kecil kondisi klinis, termasuk glaukoma akut, pelepasan retina,
peningkatan tekanan intra kranial dan beberapa tipe dari saluran
ventriculoperitonial. Laparoskopi sesuai pada banyak situasi, walaupun
modifikasi diperlukan pada beberapa situasi klinis. (1)
Kontraindikasi relatif pada Laparoskopi(1)
- Penurunan sistem kardiorespiratori yang signifikan
- Obesitas
- Hernia diafragma
- Adesi intra abdominal yang signifikan
- Masa pelvik yang besar
- Hemodinamik yang tidak stabil atau syok hipovolemik
- Obstruksi intestinal
- Beberapa penyakit keganasan
- Hamil

2.4 Preoperatif
Kelainan adesif menambah resiko dari kerusakan viseral dan vaskular
selama proses masuk ke abdomen dengan laparoskopi. Adesi juga dikaitkan
dengan tingkat konversi tinggi ke laparotomi karena adesiolisis panjang dan
melelahkan dapat diselesaikan oleh beberapa ahli bedah lebih cepat dengan teknik
diseksi bedah terbuka. Selama pemeriksaan fisik pra operasi, dokter bedah
mencata lokasi bekas luka bedah sebelumnya dan memperhitungkan risiko
kemungkinan penyakit adesif intraabdominal. Demikian juga, riwayat
endometriosis, penyakit inflamasi pada panggul atau pengobatan radiasi mungkin
predisposisi perlengketan. Selain itu, dinding perut yang hernia atau perbaikan
hernia dan setiap jala reparatif diidentifikasi dan dihindari selama trokar
dimasukkan. Juka ditemukan sesuatu kelainan pada abdominal selama evaluasi
5

preoperatif, perlu dipertimbangkan rencana untuk tempat masuk alternatif.


Beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebalum memilih tindakan laparoskopi,
sebagai berikut.(1,2,3)
A. Persetujuan
Selama proses persetujuan atau diagnostik laparoskopi, dokter bedah
menjelaskan prosedur tujan, termasuk diagnosis dan pengobatan dari sumber
penyakit. Antara lain, persetujuan pemisahan dari adesi, biopsi peritonial, dan
eksisi atau ablasi endometritis. Penting untuk menjelaskan kepada pasien bahwa
laparoskopi mungin tidak menimbulkan penyakit baru.(2)
Laparoskopi berkaitan dengan beberapa komplikasi, seperti kerusakan
organ disebabkan tusukan atau alat alat bedah elektrik murapakan komplikasi
tersering. Pasien juga dijelaskan mengenai tindakan tambahan untuk
menyelesaikan evaluasi diagnostik dengan laparotomi. Alasan konversi selama
laparoskopi diagnostik juga termasuk kegagalan dari akses ke abdomen,
kerusakan organ selama proses masuk, atau adesi ekstensif. Kesimpulannya,
resiko konversi dari laparotomi adalah rendah kira- kira 5%.(2)
B. Persiapan Pasien
Secara umum laparoskopi dikaitkan dengan tingkat kejadian infeksi
postoperatif dan tromboembolisme vena (VTE) dibandingkan dengan laparotomi.
Untuk mendiagnostik laparoskopi, antibiotik tidak dibutuhkan, dan profilaksis
VTE diberikan pada pasien yang memiliki faktor resiko. Sebagai tambahan, pada
sebagian besar pasien, persiapan tindakan bedah usus tidak diperlukan.
Bagaimanapun, pada kasus adesiolisis. Bagaimanapun, pada kasus adesiolisis
luas dapat dipertimbangkan untuk persiapan tindakan bedah usus, karena resiko
kerusakan usus meningkat. (2)

DAFTAR PUSTAKA
1. Powell F, Khaund A. Laparoscopy and Laparoscopic Surgery, Obstetrics,
Gynaecology and Reproductive Medicine. Elsevier; 2016..
6

2. Hiffman BL, Schorge JO, Bradshaw K. Minimal Invasive Surgery


Fundamental : William's Gynaecology USA: The Mc Graw - Hill
Company; 2016.

3. Hiffman BL, Schorge JO, Bradshaw K. Atlas of Gynaecology Surgery


Minimal Invasive Surgery : William's Gynaecology USA: The Mc Graw -
Hill Company; 2016.