Anda di halaman 1dari 96

PENERAPAN PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE DALAM

RANGKA PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG


SAHAM DALAM BENTURAN KEPENTINGAN TRANSAKSI
TERTENTU DI PASAR MODAL

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas


Dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum

OLEH

HERIYANSYAH PUTRA
040200198

DEPARTEMEN : HUKUM EKONOMI

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
PENERAPAN PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE DALAM
RANGKA PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG
SAHAM DALAM BENTURAN KEPENTINGAN TRANSAKSI
TERTENTU DI PASAR MODAL

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas


Dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum

OLEH

HERIYANSYAH PUTRA
040200198
DEPARTEMEN : HUKUM EKONOMI

Ketua Departemen,

Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH


NIP : 131 570 455

Dosen Pembimbing I, Dosen Pembimbing II,

Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH Dr. Sunarmi, SH, M.Hum


NIP : 131 570 455 NIP : 131 835 566

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,

Puji syukur kehadirat Allah subhanahu wataala atas rahmat yang

diberikanNya, sehingga penulis dapat tiba di batas ini untuk menyelesaikan

penulisan skripsi ini.

Tulisan ini penulis turunkan adalah untuk mengakhiri tugas penulis

sebagai seorang mahasiswa guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum, jurusan Ekonomi, Universitas

Sumatera Utara Medan.

Penulis sangat menyadari bahwa kehadiran karya kecil ini tidak terlepas

dari perhatian, bimbingan, dorongan dan bantuan dari semua pihak, untuk itu

izinkanlah penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Runtung Sitepu, SH, M. Hum selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara Medan.

2. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, SH, M.Hum, selaku Pembantu Dekan I Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

3. Bapak Syafruddin, SH, MH selaku Pembantu Dekan II Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara Medan.

4. Bapak M. Husni, SH, M. Hum selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara Medan.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
5. Bapak Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH selaku Ketua Jurusan Hukum

Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan, dan juga

sekaligus sebagai Dosen Pembimbing I.

6. Ibu Dr. Sunarmi, SH, M.Hum selaku Dosen Pembimbing II yang banyak

memberikan bimbingan dan saran-saran dalam penyelesaian skripsi ini.

7. Bapak dan Ibu Dosen selaku staf pengajar dan seluruh staf administrasi

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

8. Seluruh pihak yang telah memberikan bantuannya kepada penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

Akhir kata penulis sangat menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih

sangat jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan segala

kritikan dan saran yang bersifat konstruktif guna penyempurnaan skripsi ini.

Medan, Maret 2008

Penulis,

HERIYANSYAH PUTRA

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................... i

Daftar Isi ........................................................................................................... iii

Abstrak .............................................................................................................. v

BAB I. PENDAHULUAN .. 1

A. Latar Belakang masalah... 1

B. Perumusan masalah.. 6

C. Tujuan dan Manfaat penulisan.. 6

D. Keaslian Penulisan.... 6

E. Tinjauan kepustakaan.... 7

F. Metode penulisan..10

G. Sistematika penulisan... 10

BAB II. PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE


DALAM PENGELOLAAN PERUSAHAAN. 12

A. Pengertian.... 13

B. Latar belakang pelaksanaan

Good Corporate Governance .. 15

C. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance.. 18

D. Tujuan dan Manfaat Penerapan

Good Corporate Governance.... 24

E. Penerapan Prinsip Good Corporate Governance di

Pasar Modal. 29

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
BAB III. BENTURAN KEPENTINGAN TRANSAKSI TERTENTU .. 35

A. Pengertian. 35

B. Pengaturan tentang Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu

dalam Peraturan Bapepam No. IX.E.I dan UU Pasar Modal.. 37

C. Peranan Bapepam . 50

BAB IV. PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMEGANG SAHAM


TERHADAP BENTURAN KEPENTINGAN TRANSAKSI
TERTENTU DALAM PASAR MODAL..... 58

A. Perlindungan Hukum bagi Pemegang Saham.. 58

1. Perlindungan dari Peraturan Perundang-undangan.. 58

2. Perlindungan dari Penerapan Good Corporate

Governance...................................... 63

B. Tanggung jawab Persero dan Pengurus atas Benturan Kepentingan

Transaksi Tertentu 71

C. Sanksi terhadap Pelanggaran Ketentuan Benturan Kepentingan Transaksi

Tertentu 79

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ...82

A. Kesimpulan ..82

B. Saran 84

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. ......... 86

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
PENERAPAN PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE DALAM
RANGKA PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG
SAHAM DALAM BENTURAN KEPENTINGAN TRANSAKSI
TERTENTU DI PASAR MODAL

*) Bismar Nasution
**) Sunarmi
***) Heriyansyah Putra

Abstrak

Perbedaan posisi pemegang saham dengan Direksi dan Komisaris di dalam


suatu perusahaan, tidak jarang menyebabkan terjadi suatu benturan kepentingan
antara pihak pengelola dengan para pemegang saham. Hal ini dapat terjadi dengan
dilakukannya transaksi yang mengandung benturan kepentingan. Yaitu transaksi
yang dilakukan Direksi atau Komisaris demi kepentingan pribadi dan merugikan
para pemegang saham. Oleh karena itu, UU Pasar Modal melihat hal ini sebagai
suatu permasalahan yang berpotensi untuk merugikan pemegang saham.
Penyebabnya disinyalir karena pengelolaan perusahaan dilakukan dengan tidak
benar, karena tidak diterapkannya Good Corporate Governance dengan baik,
yang disebabkan latar belakang perusahaan yang berasal dari perusahaan keluarga
belum memisahkan fungsi pengelolaan dan kepemilikan perusahaan yang
membuat para pemegang saham tidak dapat menggunakan haknya dengan benar
dan membuat potensi tindakan-tindakan yang mengandung konflik kepentingan
(conflict of interest) semakin besar. Skripsi ini mengemukakan bagaimana
penerapan Good Corporate Governance terhadap transaksi yang mengandung
benturan kepentingan dan bagaimana perlindungan bagi pemegang saham
terhadap benturan kepentingan transaksi tertentu.
Metode yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah jenis penelitian
normatif dengan pengumpulan data secara studi pustaka (library research) disertai
mengumpulkan dan membaca referensi melalui peraturan, internet kemudian data-
data yang layak diseleksi untuk mendukung penulisan.
Penerapan Good Corporate Governance terhadap transaksi yang
mengandung benturan kepentingan dimaksudkan untuk memberi perlindungan
terhadap pemegang saham melalui pengelolaan perusahaan dengan prinsip-
prinsip yang ada dalam Good Corporate Governance itu, yaitu accountability,
independency, transparency, responsibility, fairness. Dan selain itu, Bapepam
sebagai otoritas pasar modal juga memberikan perlindungan terhadap pemegang
saham dari adanya transaksi yang mengandung benturan kepentingan dengan
mengeluarkan Peraturan No. IX.E.1, dan juga ikut mengintensifkan penerapan
Good Corporate Governance dengan memasukkan klausul yang mengharuskan
pelaku usaha dalam pasar modal agar melakukan aktivitas dalam pasar modal
dengan berbasiskan Good Corporate Governance dalam peraturan perundang-
undangan dalam pasar modal.
Kesimpulan dari skripsi ini adalah bahwa penerapan Good Corporate
Governance sangat diperlukan dalam kegiatan pasar modal, khususnya mengenai

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
benturan kepentingan transaksi tertentu dan perlindungan pemegang saham
terhadap benturan kepentingan transaksi tertentu ada dalam penerapan Good
Corporate Governance dan juga ada dalam peraturan perundang-undangan di
pasar modal.

Key-note :
- Good Corporate Governance, Benturan Kepentingan.

*) Dosen Pembimbing I
**) Dosen Pembimbing II
***) Mahasiswa Semester VIII FH-USU

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejalan dengan rencana pembangunan ekonomi yang diharapkan dapat di

capai, baik langsung atau tidak langsung pasti akan membawa dampak positif bagi

pasar modal di Indonesia. Di samping itu, melihat kondisi sumber dana dari

Lembaga Keuangan yang menjadi semakin mahal, sangat besar harapan dunia

usaha akan terletak pada mekanisme dunia pasar modal. Mengingat prospek pasar

modal yang sangat berpotensi untuk memberikan harapan banyak pada berbagai

pihak, maka sudah seharusnya aspek perlindungan hukum terhadap pemegang

saham dan masyarakat mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. 1

Sebuah perusahaan publik dalam melakukan aktivitasnya melalui

pengelola atau pihak pengurusnya, pada hakekatnya harus memandang

kepentingan pihak-pihak yang diwakilinya, dan tidak melakukan suatu aktivitas

yang berpotensi untuk merugikan pihak-pihak yang ada di dalam suatu perseroan,

untuk memperoleh keuntungan pribadi pihak pengurus dalam perseroan tersebut.

Setiap perusahaan yang melakukan kegiatan di pasar modal harus selalu

mengikuti peraturan yang ada di dalam pasar modal itu sendiri. Hal ini diperlukan

demi terciptanya pasar modal yang aman untuk menarik para investor agar merasa

nyaman menginvestasikan dananya di pasar modal.

1
Sri Redjeki Hartono, Kapita Selekta Hukum Perusahaan, (Bandung : Mandar Maju, 2000).
Hal 136.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Pentingnya untuk menarik investor dalam pasar modal tidak terlepas dari

pentingnya pemegang saham dalam suatu perseroan yang melakukan aktivitas di

pasar modal itu sendiri. Karena secara tidak langsung modal pemegang sahamlah

yang diinvestasikan di pasar modal melalui saham yang ada di perusahaan

masing-masing. Karena modal yang berasal dari para pemegang saham

merupakan suatu hal yang sangat penting demi menjaga kelancaran aktivitas

perusahaan tersebut.

Ketentuan ini berlaku bagi segala aktivitas dari perusahaan yang

bersangkutan, termasuk bila perusahaan tersebut melakukan kegiatan di dalam

pasar modal. Dalam melakukan aktivitas di dalam pasar modal, perusahaan publik

atau sebuah perusahaan tercatat di dalam rencananya untuk melakukan suatu

transaksi bisnis wajib memperhatikan rambu-rambu yang diatur dalam peraturan

pasar modal yang berlaku, yaitu Undang-Undang Pasar Modal (UUPM) beserta

seluruh peraturan pelaksananya. Hal ini perlu dilakukan demi untuk mencapai

sasaran yang ingin di capai Undang-Undang Pasar Modal, yaitu; 2

a. Terciptanya kerangka hukum yang kuat di bidang pasar modal.

b. Menciptakan transparansi dan memberikan jaminan perlindungan hukum

bagi investor.

c. Meningkatkan profesionalisme para pelaku pasar modal.

d. Menciptakan sistem perdagangan yang aman, tertib, efisien, dan likuid.

e. Memberikan kesempatan berinvestasi bagi para investor kecil.

2
Nindyo Pramono, Bunga Rampai Hukum Bisnis Aktual, (Bandung : Citra Aditya Bakti,
2006). Hal 15.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Di sisi lain, dalam suatu perusahaan posisi pemegang saham berbeda

dengan pihak pengelola perusahaan. Dimana pemegang saham bukanlah sebagai

pihak yang menjalankan perusahaan. Direksi dan Komisaris adalah pihak yang

bertugas sebagai pengelola perusahaan yang memiliki kewenangan dalam

menjalankan perusahaan. Karena perbedaan posisi tersebut, tidak jarang terjadi

suatu benturan kepentingan antara pihak pengelola dengan para pemegang saham.

Hal ini dapat terjadi dengan dilakukannya transaksi yang mengandung benturan

kepentingan. Yaitu transaksi yang dilakukan Direksi atau Komisaris demi

kepentingan pribadi dan merugikan para pemegang saham. Oleh karena itu, UU

Pasar Modal melihat hal ini sebagai suatu permasalahan yang harus ada

pengaturannya agar tidak berpotensi untuk merugikan pemegang saham.

Benturan kepentingan atau sering disebut dengan istilah conflict of

interest telah menjadi suatu perdebatan di seluruh dunia dalam beberapa tahun

belakangan ini. Bahkan di Indonesia, kasus yang berbau benturan kepentingan

yang erat hubungannya dengan KKN (Korupsi Kolusi & Nepotisme) tidak hanya

terjadi dalam sektor perusahaan swasta tetapi juga di lembaga pemerintahan dan

bisa pula terjadi di organisasi lainnya. Hal tersebut terjadi karena saat ini situasi

dan sistem manajemen perusahaan telah jauh berkembang sehingga antara sektor

swasta dan publik telah terdapat suatu zona abu-abu dan berpotensi untuk

terjadinya KKN. 3

Transaksi dalam pasar modal yang mengandung benturan kepentingan

atau yang lazim disebut Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu dalam

3
http://Elnusa.wordpress.com/2007/06/18/mengelola-benturan-kepentingan, diakses tanggal
11 Februari 2008.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
prakteknya telah berlangsung sejak lama, dan berpotensi untuk merugikan

berbagai pihak, karena praktek ini rentan akan unsur kolusi dan merupakan suatu

pelanggaran terhadap unsur keterbukaan informasi. 4 Karena di dalam aktivitas

pasar modal, prinsip keterbukaan menjadi suatu persoalan yang penting dan

merupakan inti yang menjadi jiwa dari pasar modal itu sendiri. 5

Kerugian terhadap adanya benturan kepentingan transaksi tertentu ini

dirasakan terutama oleh para pemegang saham, karena transaksi tersebut

menyangkut kepentingan mereka yang dirugikan. Oleh karena itu perlu diketahui

perangkat hukum yang ada untuk melindungi kepentingan mereka sebagai

pemegang saham dalam suatu perusahaan. 6

Penyebab dari adanya Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu tersebut

yang menyebabkan kerugian bagi pihak pemegang saham disinyalir karena

pengelolaan perusahaan dilakukan dengan tidak benar, sehingga para pemegang

saham tidak dapat menggunakan haknya dengan benar dan tepat. Hal ini

disebabkan karena tidak dilaksanakannya penerapan Good Corporate Governance

dengan baik dalam menjalankan atau mengelola suatu perusahaan, karena latar

belakang perusahaan yang berasal dari perusahaan keluarga yang belum

memisahkan fungsi pengelolaan dan kepemilikan perusahaan yang membesar

menjadi konglomerasi makin membuat kemungkinan atau peluang terjadinya

tindakan-tindakan yang mengandung konflik kepentingan (conflict of interest).

4
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Aspek Hukum pasar Modal Indonesia, (Jakarta:
Prenada Media, 2004). Hal 241.
5
Bismar Nasution, Keterbukaan dalam Pasar Modal, (Jakarta : Program Pasca Sarjana
Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2001). Hal 1.
6
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op cit. Hal 245.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) sebenarnya bukan

sesuatu yang terlalu asing. Secara umum perusahaan harus dijalankan secara

amanah, akuntabel, transparan, dan fair untuk mencapai tujuan terciptanya nilai

perusahaan jangka panjang seraya terlayaninya semua kepentingan pihak yang

berkepentingan dengan jalannya perusahaan (stakeholders). Introduksi Good

Corporate Governance secara formal oleh Organisation for Economic Co-

operation and Development (OECG) dan diterbitkannya pedoman Good

Corporate Governance oleh Komite Nasional Kebijakan Good Corporate

Governance merupakan sistematisasi dari praktek-praktek yang selama ini

terbukti baik dalam mengelola perusahaan. 7

Berdasarkan hal tersebut, maka penerapan prinsip-prinsip Good Corporate

Governance dalam pengelolaan perusahaan dapat memberikan suatu rasa aman

bagi para pihak dalam perusahaan, karena dengan prinsip-prinsip tersebut

perusahaan dapat berjalan dengan baik. Sebaliknya, para pihak dalam suatu

perusahaan tidak akan mendapat kenyamanan dalam perusahaannya bila

pengelolaan perusahaan tidak dijalankan dengan prinsip-prinsip Good Corporate

Governance. Oleh karena itu, perlu diketahui bagaimana penerapan Good

Corporate Governance dalam pengelolaan perusahaan sehingga dapat melindungi

kepentingan para pihak. Khususnya kepentingan pemegang saham sebagai pihak

yang dirugikan bila terjadi transaksi yang mengandung benturan kepentingan

yang terjadi karena kesalahan dari Direksi dan Komisaris sebagai pengelola

perusahaan.

7
http://www.korantempo.com/news/2004/11/18/Opini/48, diakses tanggal 11 Februari 2008.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
B. Perumusan Masalah:

1. Bagaimanakah penerapan Good Corporate Governance terhadap benturan

kepentingan transaksi tertentu dalam pasar modal?

2. Bagaimanakah perlindungan terhadap pemegang saham terhadap

Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Tujuan pembahasan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui penerapan Good Corporate Governance dalam suatu

perusahaan terhadap adanya Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu.

2. Untuk mengetahui perlindungan terhadap pemegang saham terhadap

Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu yang ada dalam peraturan

perundang-undangan.

Manfaat penulisan yang dapat diambil dari skripsi ini antara lain yaitu

agar dapat memberi masukan dalam ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan

hukum bisnis dalam pasar modal, khususnya yang berkaitan dengan pemegang

saham.

D. Keaslian Penulisan

Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka

Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan

Transaksi Tertentu Di Pasar Modal yang diangkat menjadi judul skripsi ini

merupakan hasil karya penulis sendiri melalui pemikiran, referensi dari buku-

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
buku, internet, bantuan dari para sumber dan pihak-pihak lain. Skripsi ini bukan

jiplakan ataupun merupakan judul skripsi yang sudah pernah diangkat

sebelumnya oleh orang lain.

E. Tinjauan Kepustakaan

Penerapan Good Corporate Governance sebagai bentuk perlindungan bagi

pemegang saham terhadap adanya benturan kepentingan dalam pasar modal dapat

dilihat dengan dikeluarkannya Peraturan No. IX.E.1 tentang Benturan

Kepentingan Transaksi Tertentu. Peraturan Bapepam Nomor IX.E.1 pada

pokoknya merupakan sebuah penghormatan dan perlindungan terhadap

kepentingan pemegang saham minoritas. Ketentuan mengenai transaksi yang

mengandung benturan kepentingan tertentu ini menunjukkan bahwa peraturan

perundang-undangan di pasar modal menjunjung hak dan perlindungan pemegang

saham suatu perseroan berdasarkan asas kesetaraan.

Pengaturan ini memberikan koridor yang akan membatasi pengambilan

keputusan oleh pihak-pihak yang berkuasa seperti pemegang saham mayoritas,

Direksi, dan Komisaris perseroan untuk bersepakat mengenai transaksi tertentu

yang memberikan keuntungan kepada pihak-pihak tersebut dengan mengabaikan

hak dan kepentingan pemegang saham minoritas. Pada dasarnya ketentuan

mengenai transaksi yang mengandung benturan kepentingan bersifat preventif,

menerapkan prinsip keterbukaan sebagai suatu asas fundamental dalam pasar

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
modal dan lebih memberdayakan pemegang saham minoritas dan sekaligus

mendidik mereka agar memahami haknya. 8

Dan pemberlakukan ketentuan ini sejalan dengan prinsip Good Corporate

Governance, yaitu menghormati hak pemegang saham, memberikan perlakuan

sama diantara pemegang saham, dan melindungi kepentingan pemegang saham

minoritas. Prinsip lainnya adalah penerapan prinsip keterbukaan. 9 Karena

Corporate Governance pada intinya adalah mengenai suatu sistem, proses dan

seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang

berkepentingan (stakeholders) terutama dalam arti sempit hubungan antara

pemegang saham, Dewan Komisaris dan Dewan Direksi demi tercapainya tujuan

organisasi. Corporate Governance dimaksudkan untuk mengatur hubungan-

hubungan ini dan mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan (mistakes) signifikan

dalam strategi korporasi dan untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang

terjadi dapat diperbaiki dengan segera. 10

Pengaturan transaksi yang mengandung benturan kepentingan ditujukan

untuk mendorong akuntabilitas pengelola perseroan jika harus melakukan

transaksi yang mengandung benturan kepentingan. Di lain sisi, perusahaan

membutuhkan kecepatan dalam proses pengambilan keputusan, mengingat

peluang bisnis selalu di perebutkan. Oleh karena itu, pengambilan keputusan bisa

mendatangkan keuntungan, tetapi tidak tertutup kemungkinan kalau di kemudian

hari transaksi yang telah dilakukan perseroan malah mendatangkan kerugian.

8
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op cit. Hal 242-243.
9
Ibid. Hal 245.
10
I Nyoman Tjager, dkk, Corporate Governance ; Tantangan dan Kesempatan Bagi
Komunitas Bisnis Indonesia, (Jakarta : PT. Prenhallindo, 2003). Hal 28.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Untuk menjaga kejujuran (fairness), pengambilan keputusan untuk transaksi yang

mengandung benturan kepentingan tertentu itu harus melibatkan pemegang saham

yang tidak terkait dengan transaksi tersebut untuk dimintakan persetujuan,

sehingga risiko yang harus ditanggung perusahaan bisa dikalkulasikan secara

matang oleh pemegang saham. Perusahaan tidak akan dipersalahkan untuk

transaksi yang demikian, tetapi itu harus dibuktikan dengan risalah atau notulen

Rapat Umum Pemegang Saham.

Dengan demikian, jika terdapat pertentangan kepentingan ekonomis antara

kepentingan perseroan dengan kepentingan Direksi, Komisaris, atau pemegang

saham utama, maka kepentingan perseroanlah yang harus didahulukan. Pada

dasarnya pelanggaran ketentuan benturan kepentingan transaksi tertentu adalah

tindakan yang melampaui kekuasaan yang dimiliki oleh Direksi. Direksi yang

menyetujui pelaksanaan transaksi yang mengandung benturan kepentingan

transaksi tertentu tanpa mendapat persetujuan pemegang saham melalui RUPS

adalah perbuatan yang dikategorikan melanggar hukum, sedangkan jika seorang

anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, atau pemegang saham utama

mempengaruhi tindakan perseroan untuk melakukan transaksi yang mengandung

benturan kepentingan transaksi tertentu tanpa melalui persetujuan RUPS

merupakan contoh dari perbuatan yang melampaui wewenangnya. 11

11
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op cit. Hal 243-244.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
F. Metode Penulisan

Metode yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah jenis penelitian

normatif dengan pengumpulan data secara studi pustaka (library research) disertai

mengumpulkan dan membaca referensi melalui peraturan, internet kemudian data-

data yang layak diseleksi untuk mendukung penulisan.

G. Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini dibagi ke dalam 5 (lima) bab, dimana masingmasing

bab dibagi atas beberapa sub bab. Urutan bab tersebut tersusun secara sistematik

dan saling berkaitan antara satu sama lain. Uraian singkat atas bab bab dan sub

bab tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

BAB I: Bab ini merupakan bab pendahuluan, yang menguraikan tentang latar

belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan,

keaslian penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II: Bab ini merupakan bab yang berisi tentang penerapan Good Corporate

Governance dalam suatu perusahaan, menguraikan bagaimana

pengertian, latar belakang, prinsip-prinsip dasar, tujuan dan manfaat,

serta bagaimana penerapannya dalam pasar modal. Yang berkaitan

dengan masalah perlindungan hukum bagi pemegang saham terhadap

benturan kepentingan transaksi tertentu.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
BAB III: Bab ini merupakan bab yang berisi tentang Benturan Kepentingan

Transaksi Tertentu. Yang menguraikan bagaimana pengertian,

pengaturannya dalam Peraturan Bapepam No. IX.E.1 dan UU Pasar

Modal. Serta bagaimana peranan Bapepam dalam terjadinya Benturan

Kepentingan Transaksi Tertentu.

BAB IV: Bab ini merupakan bab yang berisi tentang Perlindungan Hukum bagi

Pemegang Saham terhadap Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu

dalam pasar modal, bab ini menguraikan tentang bagaimana

perlindungan hukum bagi pemegang saham, yang ada dalam peraturan

perundang-undangan dan dengan penerapan Good Corporate

Governance. Serta bagaimana tanggung jawab pengurus perusahaan

dan sanksi dari adanya pelanggaran ketentuan tentang Benturan

Kepentingan Transaksi Tertentu.

BAB V: Bab ini merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dari skripsi

dan saran-saran yang mungkin berguna bagi perkembangan hukum

pasar modal di Indonesia.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
BAB II

PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE DALAM PENGELOLAAN


PERUSAHAAN

Pada hakekatnya praktek benturan kepentingan transaksi tertentu dapat

terjadi disebabkan karena pada perusahaan yang bersangkutan di kelola dengan

cara yang tidak professional, disebabkan masih berbasis perusahaan keluarga yang

tidak menunjukkan pengelolaan yang transparan, independen dan akuntabel

seperti prinsip-prinsip yang ada dalam Good Corporate Governance. Karena

prinsip Good Corporate Governance bertujuan untuk menghormati hak dan

melindungi kepentingan dari pemegang saham, yang sejalan dengan pengaturan

Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu dalam peraturan perundang-undangan

dalam pasar modal. 12 Untuk itu, dalam bab ini akan dibahas tentang apakah Good

Corporate Governance itu dan bagaimana proses penerapannya. Karena

pemahaman terhadap prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam Good

Corporate Governance merupakan suatu esensi yang mendasar, karena melalui

proses pemahaman tersebut, diharapkan Good Corporate Governance dapat

terlaksana dengan baik, baik oleh pemerintah selaku pembuat kebijakan maupun

para pelaku usaha sebagai pihak yang melaksanakan ketentuan dari peraturan

tersebut. 13 Sehingga pada akhirnya dapat menjadi suatu bentuk perlindungan bagi

para pihak yang berkepentingan, khususnya para pemegang saham.

12
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya. Loc cit.
13
Johannes Ibrahim, Hukum Organisasi Perusahaan ; Pola Kemitraan Dan Badan Hukum,
(Bandung : Refika Arditama, 2006). Hal 69.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
A. Pengertian Good Corporate Governance

Secara umum istilah governance lebih ditujukan untuk sistem

pengendalian dan pengaturan perusahaan, yang lebih ditujukan pada tindakan

yang dilakukan eksekutif perusahaan agar tidak merugikan para stakeholders.

Good Corporate Governance memang menyangkut orang (moralitas), etika kerja,

dan prinsip-prinsip kerja yang baik. 14

Dalam rangka lebih memahami tentang Good Corporate Governance,

maka terlebih dahulu perlu dipahami tentang pengertiannya yang dapat dilihat dari

pendapat beberapa pakar dari dan literatur sebagai dasar pemahaman tentang

Good Corporate Governance, antara lain :

1. Ernst and Young;

Corporate Governance terdiri atas sekumpulan mekanisme yang saling

berkaitan yang terdiri dari Pemegang Saham Institusional, Dewan Direksi

dan Komisaris, para manajer yang dibayar berdasarkan kinerjanya, pasar

sebagai pengendali perseroan, struktur kepemilikan, struktur keuangan,

investor terkait, dan persaingan produk. 15

2. Task Force Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance:

Good Corporate Governance adalah suatu proses dan struktur yang

digunakan oleh organ perusahaan guna memberikan nilai tambah pada

perusahaan secara berkesinambungan dalam jangka panjang bagi

pemegang saham, dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders

14
http://Jafis.wordpress.com/2007/10/22/good-corporate-governance, diakses tanggal 11
Februari 2008.
15
Johannes Ibrahim, Op cit. Hal 69-70.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
lainnya, berdasarkan pertauran perundang-undangan dan norma yang

berlaku. 16

3. Forum For Corporate Governance In Indonesia;

Corporate Governance adalah seperangkat peraturan yang mengatur

hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak

kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan intern dan

ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak dan kewajiban mereka atau

dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan

perusahaan. 17

Selain itu, Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tentang

Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum memberikan

pengertian Good Corporate Governance sebagai berikut:

Good Corporate Governance adalah suatu tata kelola Bank yang menerapkan

prinsip-prinsip keterbukaan (transparency), akuntabilitas (accountability),

pertanggungjawaban (responsibility), independensi (independency), dan

kewajaran (fairness). 18

Dari pengertian-pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa Good

Corporate Governance adalah suatu kumpulan atau seperangkat peraturan yang

memuat ketentuan tentang bagaimana suatu perusahaan dikelola dengan baik dan

benar, dengan penuh integritas dan bagaimana membina hubungan yang baik

dengan para stakeholders, yang dapat berguna dalam mewujudkan visi dan misi

16
Nindyo Pramono, Op cit. hal 78.
17
Johannes Ibrahim, Loc cit.
18
Bank Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan
Good Corporate Governance bagi Bank Umum. Pasal 1 angka 6.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
serta tujuan dari perusahaan, baik dalam jangka panjang maupun pendek. Karena

sistem tata kelola perusahaan yang baik merupakan jalinan keterkaitan antar

stakeholders perusahaan yang digunakan untuk menetapkan dan mengawasi arah

strategis dan kinerja usaha suatu organisasi. Dan dalam pasar modal, maka

penerapan Good Corporate Governance juga dapat diartikan sebagai suatu

kewajiban bagi perusahaan dalam menjalankan kegiatannya di pasar modal untuk

senantiasa patuh terhadap berbagai peraturan dan ketentuan yang dikeluarkan oleh

badan atau bursa tempat saham perseroan terdaftar dan tercatat. Termasuk juga

bagaimana suatu perusahaan mematuhi peraturan yang dikeluarkan oleh Bapepam

sebagai otoritas pasar modal untuk menjaga agar tidak terjadi pelanggaran-

pelanggaran terhadap ketentuan pasar modal yang akhirnya bertujuan untuk

melindungi semua pihak yang melakukan aktivitas dalam pasar modal itu sendiri.

B. Latar Belakang Pelaksanaan Good Corporate Governance

Di dalam tubuh perusahaan, khususnya dalam pengelolaannya dapat

menyebabkan kerugian diakibatkan sistem pengelolaannya yang tidak benar.

Salah satunya contohnya adalah terjadinya Benturan Kepentingan Transaksi

Tertentu, sebagai akibat dari penyalahgunaan wewenang dari pihak Direksi

ataupun Komisaris, yang membuat para pihak (khususnya pemegang saham)

dalam perusahaan mengalami kerugian. Dan untuk mengurangi resiko itu, maka

dibutuhkan suatu sistem pengelolaan perusahaan yang baik dan benar, yang

menerapkan prinsip akuntabilitas dan transparansi dengan benar. Dimana prinsip-

prinsip tersebut ada dalam Good Corporate Governance.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Latar belakang penerapan Good Corporate Governance secara umum,

dapat dilihat pada era bisnis pasca perang dingin banyak para pelaku bisnis

dengan berbagai macam jenis korporasi mulai menjalankan sistem tata kelola

perusahaannya secara terbuka, sistimatis dan bertanggung jawab. Hal ini didorong

oleh kebutuhan pasar yang menuntut perusahaan publik menjalankan sistem

manajemennya secara baik, transparan dan auditabel menyusul maraknya berbagai

skandal sistem pelaporan keuangan perusahaan global pada masa itu. 19 Hal ini

terkait dengan kebutuhan akan transparansi dalam pengambilan keputusan untuk

melakukan suatu transaksi yang mengandung benturan kepentingan agar tidak

merugikan para pihak seperti pemegang saham, karena untuk menghormati posisi

para pemegang saham maka segala keputusan yang berhubungan dengan jalannya

perusahaan harus diambil dengan melibatkan pemegang saham termasuk

pemegang saham minoritas, dengan melakukan RUPS. 20

Sistem tata kelola perusahaan yang tertib dan terbuka ini, yang biasa disebut

dengan Good Corporate Governance (GCG), dipromosikan lebih lanjut oleh

berbagai instansi, seperti lembaga keuangan dunia seperti the World Bank dan

Asian Development Bank dan berbagai kalangan akademisi di dunia pendidikan.

Pada saat ini hampir sebagian besar buku baca wajib dalam bidang manajemen

umum dan strategi manajemen (strategic management) akan membahas masalah

ini dalam salah satu babnya dan menyarankan agar Good Corporate Governance

mulai untuk dijalankan oleh perusahaan-perusahaan modern di dunia. 21

19
http://Businessenvironment.wordpress.com/2006/10/18, diakses tanggal 11 Februari 2008.
20
Sentosa Sembiring, Hukum Perusahaan tentang Perseroan Terbatas, (Bandung : Nuansa
Aulia, 2006). Hal 64.
21
http://Businessenvironment.wordpress.com. Loc cit.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Latar belakang pelaksanaan prinsip-prinsip Good Corporate Governance

di Indonesia dapat dilihat dari pengaruh perkembangan perekonomian global,

dimana perekonomian modern yang telah mempengaruhi perekonomian nasional

yang menuntut adanya pemisahan manajemen perusahaan dari kepemilikan

perusahaan yang sejalan dengan agency theory yang menekankan pentingnya

pemegang saham sebagai pemilik perusahaan atau menyerahkan pengelolaan

perusahaanya tersebut kepada tenaga-tenaga independen dan profesional, yang

bertugas untuk kepentingan perusahaan dan memiliki keleluasaan dalam

menjalankan manajemen perusahaan. Dan dalam konsep ini, pemegang saham

hanya bertugas mengawasi dan memonitor jalannya perusahaan yang dikelola

oleh manajemen pengelola, serta mengembangkan sistem insentif bagi manajemen

pengelola untuk memastikan bahwa tenaga-tenaga profesional yang ditunjuk

bekerja sebaik-baiknya demi kepentingan perusahaan. Namun perlu disadari pula

bahwa pengelolaan perusahaan dengan cara seperti itu memiliki segi negatif, yaitu

keleluasaan yang dimiliki oleh manajemen pengelola perusahaan dapat

disalahgunakan sehingga mengakibatkan kondisi dimana pengelola perusahaan

memaksimalkan keuntungan bagi dirinya dengan beban dan biaya yang harus

ditanggung oleh pemegang saham. 22 Berdasarkan hal tersebut, benturan

kepentingan antara pemegang saham dengan pengelola perusahaan bisa saja

terjadi disebabkan pengelolaan perusahaan yang belum sepenuhnya dilakukan

dengan benar karena sistem pengelolaannya tidak menerapkan prinsip-prinsip

yang ada dalam Good Corporate Governance, yang mendukung perlindungan

22
Johannes Ibrahim, Op cit. Hal 71.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
terhadap pemegang saham dengan cara pengelolaan perusahaan yang transparan

dan memiliki akuntabilitas. 23

Perkembangan perekonomian secara global juga membuat perusahaan

bergantung pada modal ekstern yang berasal dari equity capital (yaitu dana yang

disediakan oleh pemilik perusahaan sebagai bukti dari kepemilikan perusahaan,

seperti saham) dan pinjaman, yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan-

kegiatan perusahaan. Untuk itu, perusahaan harus dapat memberikan kepastian

kepada para pemegang saham bahwa dana mereka digunakan secara tepat dan

efisien. Dengan manajemen perusahaan yang bertindak secara terbaik untuk

kepentingan perusahaan, bukan untuk kepentingan pribadi. Oleh karena itu,

penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance, dapat memberikan apa

yang diinginkan oleh para pemegang saham, karena dengan pengelolaan

perusahaan yang berdasarkan Good Corporate Governance, perusahaan tersebut

dapat menciptakan lingkungan kondusif terhadap pertumbuhan usahanya yang

efisien dan berkesinambungan. 24

C. Prinsip-Prinsip Dasar Good Corporate Governance

Esensi dari perlunya penerapan Good Corporate Governance dalam

pengelolaan perusahaan terletak pada ajaran dan prinsip-prinsip Good Corporate

Governance yang menerapkan bagaimana mengelola suatu perusahaan dengan

baik dan benar. Oleh sebab itu, setiap perusahaan harus memastikan bahwa asas

Good Corporate Governance diterapkan pada setiap aspek bisnis dan di semua

23
Nindyo Pramono, Op cit. Hal 88.
24
Johannes Ibrahim, Loc cit.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
jajaran perusahaan dengan benar. Secara umum prinsip-prinsip dasar Good

Corporate Governance yang diperlukan dan harus diterapkan oleh perusahaan

untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan dengan tetap memperhatikan

pemangku kepentingan, antara lain; 25

1. Transparansi (Transparency), yaitu keterbukaan dalam melaksanakan

proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan

informasi materil dan relevan mengenai perusahaan.

2. Kemandirian/Independensi (Independency), yaitu suatu keadaan dimana

perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan

pengaruh atau tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan

peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi

yang sehat.

3. Akuntabilitas (Accountability), yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan

pertanggungjawaban organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana

secara efektif.

4. Pertanggungjawaban (Responsibility), yaitu kesesuaian di dalam

pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang

berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

5. Kesetaraan/Kewajaran (fairness), yaitu keadilan dan kesetaraan didalam

memenuhi hak-hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian dan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.

25
Menteri Badan Usaha Milik Negara, Keputusan Menteri BUMN Nomor Kep-117/M-
MBU/2002 tentang Penerapan Praktek Good Corporate Governance pada BUMN, Pasal 3.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Dimana prinsip-prinsip dasar Good Corporate Governance tersebut sejalan

dengan apa yang dirumuskan oleh Organization for Economic Corporation and

Development (OECD). 26

Prinsip-prinsip tersebut juga dapat diwujudkan secara konkrit, antara lain

dengan melakukan pemisahan kekuasaan berupa tanggung jawab dan kewenangan

yang disertai dengan mekanisme kerjasama antara organ-organ perusahaan,

melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dari organ-organ tersebut

untuk menghindari adanya benturan kepentingan atau intervensi dari pihak luar,

melakukan sistem pengendalian internal dan eksternal yang kuat dan

pengungkapan informasi material mengenai perusahaan melalui media yang dapat

diakses dengan mudah oleh pihak-pihak yang berkepentingan (accessable) serta

juga menetapkan visi, misi, tujuan, dan strategi secara jelas sehingga kinerja

perusahaan maupun kontribusi masing-masing individu dapat dinilai secara

objektif. 27

Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) adalah forum

perkumpulan dari asosiasi-asosiasi bisnis dan profesi di Indonesia yang

memberikan penjabaran tentang bentuk-bentuk konkrit dari prinsip-prinsip dasar

secara internasional Good Corporate Governance yang lain, yaitu sebagai

berikut: 28

a. Hak-hak para pemegang saham, yang harus diberi informasi dengan benar

dan tepat pada waktunya mengenai perusahaan, dapat ikut berperan serta

26
I Nyoman Tjager, dkk, Op cit. Hal 53.
27
Johannes Ibrahim. Op cit. Hal 73.
28
Nindyo Pramono. Op cit. Hal 78. Lihat juga Forum for Corporate Governance in
Indonesia, dalam Johannes Ibrahim, Ibid.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
dalam pengambilan keputusan mengenai perubahan-perubahan yang

mendasar atas perusahaan, dan turut memperoleh bagian dari keuntungan

perusahaan.

b. Perlakuan sama terhadap pemegang saham, terutama kepada pemegang

saham minoritas dan pemegang saham asing, dengan keterbukaan informasi

yang penting serta melarang pembagian untuk pihak sendiri dan

perdagangan saham oleh orang dalam (insider trading).

c. Peranan pemegang saham harus diakui sebagaimana ditetapkan oleh hukum

dan kerjasama yang aktif antara perusahaan serta para pemegang saham dan

kepentingan dalam menciptakan kekayaan, lapangan kerja, dan perusahaan

yang sehat dari aspek keuangan.

d. Pengungkapan yang akurat dan tepat waktu serta transparansi mengenai

semua hal yang penting bagi kinerja perusahaan, kepemilikan serta para

pemegang kepentingan (stakeholders).

e. Tanggung jawab pengurus dalam manajemen, pengawasan manajemen dan

pertanggungjawaban kepada perusahaan dan para pemegang saham.

Prinsip-prinsip Good Corporate Governance dapat dilaksanakan dengan

adanya pedoman pokok pelaksanaan dari masing-masing prinsip tersebut, antara

lain : 29

1. Akuntabilitas (Accountability), pedoman pelaksanaannya adalah :

29
http://Kunami.wordpress.com/2007/11/09. Pelaksanaan-Good-Corporate-Governance. Hal
4-6, diakses tanggal 11 Februari 2008.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
a. Perusahaan harus menetapkan rincian tugas dan tanggung jawab masing-

masing organ perusahaan dan semua karyawan secara jelas dan selaras

dengan visi, misi, sasaran usaha dan strategi perusahaan.

b. Perusahaan harus meyakini bahwa semua organ perusahaan dan semua

karyawan mempunyai kompetensi sesuai dengan tugas, tanggung jawab,

dan perannya dalam pelaksanaan Good Corporate Governance.

c. Perusahaan harus memastikan adanya sistem pengendalian internal yang

efektif dalam pengelolaan perusahaan.

d. Perusahaan harus memiliki ukuran kinerja untuk semua jajaran perusahaan

yang konsisten dengan nilai-nilai perusahaan, sasaran utama dan strategi

perusahaan, serta memiliki sistem penghargaan dan sanksi (reward and

punishtment system).

e. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, setiap organ

perusahaan dan semua karyawan harus berpegang pada etika bisnis dan

pedoman perilaku (code of conduct) yang telah disepakati.

2. Kemandirian/Independensi (Independency), pedoman pelaksaanaannya

adalah;

a. Masing-masing organ perusahaan harus menghindari terjadinya dominasi

oleh pihak manapun, tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu, bebas

dari benturan kepentingan dan dari segala pengaruh atau tekanan, sehingga

pengambilan keputusan dapat dilakukan secara obyektif.

b. Masing-masing organ perusahaan harus melaksanakan fungsi dan tugasnya

sesuai dengan anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan, tidak

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
saling mendominasi dan atau melempar tanggung jawab antara satu

dengan yang lain sehingga terwujud sistem pengendalian internal yang

efektif.

3. Transparansi (Transparency), pedoman pelaksanaannya;

a. Perusahaan harus menyediakan informasi secara tepat waktu, memadai,

jelas, akurat dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh

pemangku kepentingan sesuai dengan haknya.

b. Informasi yang harus diungkapkan meliputi, tetapi tidak terbatas pada,

visi, misi, sasaran usaha dan strategi perusahaan, kondisi keuangan,

susunan dan kompensasi pengurus, pemegang saham pengendali,

kepemilikan saham oleh anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris

beserta anggota keluarganya dalam perusahaan dan perusahaan lainnya

yang memiliki benturan kepentingan, sistem manajemen risiko, sistem

pengawasan dan pengendalian internal, sistem dan pelaksanaan Good

Corporate Governance serta tingkat kepatuhannya, dan kejadian penting

yang dapat mempengaruhi kondisi perusahaan.

c. Prinsip keterbukaan yang dianut oleh perusahaan tidak mengurangi

kewajiban untuk memenuhi ketentuan kerahasiaan perusahaan sesuai

dengan peraturan perundang-undangan, rahasia jabatan, dan hak-hak

pribadi.

d. Kebijakan perusahaan harus tertulis dan secara proporsional

dikomunikasikan kepada pemangku kepentingan.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
4. Pertanggungjawaban (Responsibility), pedoman pelaksanaannya;

a. Organ perusahaan harus berpegang pada prinsip kehati-hatian dan

memastikan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, anggaran

dasar dan peraturan perusahaan (by-laws).

b. Perusahaan harus melaksanakan tanggung jawab sosial antara lain dengan

peduli terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar

perusahaan dengan membuat perencanaan dan pelaksanaan yang memadai.

5. Kesetaraan/Kewajaran (fairness), pedoman pelaksanaanya;

a. Perusahaan harus memberikan kesempatan kepada pemangku kepentingan

untuk memberikan masukan dan menyampaikan pendapat bagi

kepentingan perusahaan serta membuka akses terhadap informasi sesuai

dengan prinsip transparansi dalam lingkup kedudukan masing-masing.

b. Perusahaan harus memberikan perlakuan yang setara dan wajar kepada

pemangku kepentingan sesuai dengan manfaat dan kontribusi yang

diberikan kepada perusahaan.

c. Perusahaan harus memberikan kesempatan yang sama dalam penerimaan

karyawan, berkarir dan melaksanakan tugasnya secara profesional tanpa

membedakan suku, agama, ras, jender, dan kondisi fisik.

D. Tujuan dan Manfaat Penerapan Good Corporate Governance

Good Corporate Governance atau tata kelola perusahaan yang baik adalah

suatu wahana untuk mengamankan aset perseroan untuk meningkatkan nilai bagi

pemegang saham dalam jangka panjang. Menurut konsep Good Corporate

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Governance, perusahaan akan memperoleh nilai perusahaan (value of the firm)

yang maksimal apabila fungsi dan tugas masing-masing pelaku organisasi bisnis

yang modern dapat dipisahkan dengan membentuk; 30

1. Board of Directors (BOD), dengan syarat mereka bekerja full time dengan

tidak boleh merangkap pekerjaan. Dewan Direksi mengelola perusahaan

melalui berbagai keputusan strategis manajemen perusahaan.

2. Board of Commisionners (BOC), meliputi Komisaris Biasa dan Komisaris

Independen serta berbagai komite yang dibentuknya. Fungsi utama BOC

adalah mengawasi arah pengelolaan perusahaan dan jalannya perusahaan

menurut prinsip-prinsip Good Corporate Governance.

Selain itu manfaat Good Corporate Governance bagi suatu korporasi,

adalah : 31

1. Perbaikan dalam komunikasi.

2. Minimalisasi potensi benturan kepentingan.

3. Fokus pada strategi-strategi utama.

4. Peningkatan dalam produktivitas dan efisiensi.

5. Kesinambungan manfaaat.

6. Promosi citra korporasi.

7. Peningkatan kepuasan pelanggan.

8. Perolehan kepercayaan investor.

9. Lebih mudah memperoleh modal.

10. Biaya modal rendah.

30
http://Businessenvironment.wordpress.com/2006/10/18. Loc cit.
31
Nindyo Pramono, Op cit. Hal 91.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
11. Memperbaiki kinerja usaha.

12. Mempengaruhi harga saham perusahaan di bursa efek.

13. Memperbaiki kinerja ekonomi.

Penerapan Good Corporate Governance tidak bisa bila hanya dilakukan

oleh pihak perusahaan saja. Karena pada prakteknya, suatu perusahaan melakukan

aktivitas tidak secara internal saja, tapi juga di luar dari perusahaan yang

berpengaruh bagi masyarakat dan negara. Oleh karena itu, pelaksanaannya perlu

didukung oleh tiga pilar yang saling berhubungan, yaitu negara dan perangkatnya

sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaku pasar, dan masyarakat sebagai

pengguna produk dan jasa dunia usaha. Dimana hal ini diperlukan untuk

mendorong terciptanya pasar yang efisien, transparan dan konsisten dengan

peraturan perundang-undangan. Prinsip dasar yang harus dilaksanakan oleh

masing-masing pilar adalah: 32

1. Negara dan perangkatnya menciptakan peraturan perundang-undangan yang

menunjang iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan, melaksanakan

peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum secara konsisten

(consistent law enforcement).

Sebagai langkah konkrit dari pemerintah terhadap pembangunan iklim

ekonomi yang sehat adalah dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri

BUMN No. Kep-117/M-MBU/2002 tanggal 1 Agustus 2002 tentang

Penerapan Praktek Good Corporate Governance pada Badan Usaha Milik

Negara, menekankan kewajiban bagi BUMN untuk menerapkan Good

32
http://Kunami.wordpress.com. Op cit. Hal 1.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Corporate Governance secara konsisten dan atau menjadikan prinsip-prinsip

Good Corporate Governance sebagai landasan operasionalnya, yang pada

dasarnya bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan

akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam

jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders

lainnya, dan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai

etika. 33

2. Dunia usaha sebagai pelaku pasar menerapkan Good Corporate Governance

sebagai pedoman dasar pelaksanaan usaha.

3. Masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha serta pihak yang

terkena dampak dari keberadaan perusahaan, menunjukkan kepedulian dan

melakukan kontrol sosial (social control) secara obyektif dan bertanggung

jawab.

Selanjutnya, penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance

dimaksudkan untuk mencapai hal-hal sebagai berikut, yaitu;34

1. Memaksimalkan nilai perseroan dan nilai perseroan bagi pemegang

saham dengan cara meningkatkan prinsip-prinsip yang ada dalam Good

Corporate Governance, agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat,

yang mendukung investasi.

2. Mendorong pengelolaan perseroan secara profesional, transparan dan

efisien, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian

Dewan Komisaris, Direksi dan RUPS.

33
http://www.bpkp.go.id, diakses tanggal 14 Februari 2008.
34
I Nyoman Tjager, dkk, Op cit. Hal 135-136.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
3. Mendorong agar pemegang saham, anggota Dewan Komisaris dan

anggota Direksi dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan

dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan

perundang-undangan yang berlaku serta kesadaran akan adanya tanggung

jawab sosial perseroan terhadap pihak yang berkepentingan maupun

kelestarian lingkungan di sekitar perseroan.

Selain itu, menurut FCGI penerapan prinsip-prinsip dasar dari Good

Corporate Governance dapat memberikan beberapa manfaat, antara lain : 35

1. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan

keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan

serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders.

2. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah dan tidak

rigid (karena faktor kepercayaan) yang pada akhirnya akan meningkatkan

corporate value.

3. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di

Indonesia.

4. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena

sekaligus akan meningkatkan shareholders value dan deviden. Khusus bagi

BUMN akan dapat membantu penerimaan bagi Anggaran Pendapatan dan

Belanja Negara (APBN) terutama dari hasil privatisasi.

Khusus mengenai Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu, penerapan

Good Corporate Governance bertujuan dan bermanfaaat untuk memberikan

35
Forum for Corporate Governance in Indonesia, dalam Johannes Ibrahim, Loc cit.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
perlindungan terhadap kepentingan para pemegang saham sebagai pihak yang

dirugikan. Perlindungan kepentingan pemegang saham terhadap Benturan

Kepentingan Transaksi Tertentu melalui penerapan Good Corporate Governance

tersebut dapat dilakukan karena prinsip-prinisip pengelolaan perusahaan yang ada

dalam Good Corporate Governance memandang kepentingan pemegang saham

serta masyarakat luas sebagai bagian dari stakeholders, adalah suatu hal yang

harus dilindungi. Dengan demikian, bila prinsip-prinsip yang ada dalam Good

Corporate Governance tersebut dilaksanakan dengan baik dan benar, maka

Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu dapat dihindarkan. Karena pihak

pengelola berdasarkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance tersebut akan

melaksanakan pengelolaan perusahaan dengan baik dan berusaha agar Benturan

Kepentingan Transaksi Tertentu tidak terjadi, karena menyadari bahwa mereka

harus melindungi kepentingan pemegang saham yang dapat dirugikan karena

adanya transaksi tersebut.

E. Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Di Pasar Modal

Penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance pada suatu

perusahaan, selain bertujuan untuk meningkatkan nilai perusahaan (value of firm)

juga harus diterapkan dalam setiap kegiatan perusahaan itu, termasuk kegiatan di

dalam pasar modal. Dalam hal Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu yang

terjadi karena ada benturan kepentingan ekonomis antara perusahaan dengan

kepentingan pihak pengelola perusahaan, yang dapat terjadi karena

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
penyalahgunaan wewenang dari pihak pengelola (ultra vires) karena tidak

diterapkannya prinsip Good Corporate Governance dengan baik.

Dalam segala aktivitas pasar modal yang dilakukan oleh para pelaku usaha

harus berdasarkan prinsip keterbukaan. Dan prinsip keterbukaan tersebut

merupakan bentuk dari penerapan Good Corporate Governance. Dan sebaliknya

penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance diperlukan untuk

mendukung prinsip keterbukaan, karena prinsip keterbukaan di dalam pasar modal

memiliki tiga fungsi, yaitu : 36 pertama, untuk memelihara kepercayaan publik

terhadap pasar; kedua, untuk menciptakan mekanisme pasar yang efisien; dan

ketiga, untuk mencegah penipuan (fraud).

Perusahaan yang menerapkan Good Corporate Governance, akan

memisahkan fungsi pengelolaan dari kepemilikan perusahaan. Dimana fungsi

pengelolaan akan diserahkan kepada pihak di luar pemilik perusahaan yang

independen yang akan bekerja secara independen dan profesional dalam memberi

informasi yang diperlukan dalam kegiatan perusahaan dalam pasar modal dengan

sebenarnya (transparansi). Karena bersifat independen dan profesional maka tidak

akan ada maksud untuk melindungi perusahaan, atau demi kepentingan pribadi

sebagai pengelola perusahaan. Sehingga dalam pengungkapan segala informasi

yang diperlukan tidak ada informasi yang tidak benar tentang perusahaan tersebut

(omission), yang berguna demi memperlancar langkah perusahaan tersebut dan

menjaga kredibilitasnya dalam kegiatan pasar modal. Namun bila pihak pengelola

dari perusahaan tersebut berasal dari keluarga pemilik perusahaan tersebut, maka

36
Bismar Nasution , Op cit. Hal 7.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
bisa saja informasi yang diberikan adalah tidak benar karena maksud dari

pemberian informasi tersebut adalah untuk melindungi perusahaan karena

perusahaan tersebut adalah milik pribadi karena statusnya sebagai perusahaan

keluarga, walaupun hal itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan

yang berlaku.

Dan hal-hal yang berkaitan dengan penerapan Good Corporate

Governance dalam pasar modal mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari

pemerintah. Karena saat ini sedang dibahas tentang draft perubahan terhadap UU

Pasar Modal dan dimasukannya pengaturan tentang pengelolaan perusahaan yang

baik (Good Corporate Governance) dalam draft perubahan UU Pasar Modal.

Draft Pasal 84 B UU Pasar Modal tersebut menentukan bahwa pengurus emiten

dan perusahaan publik wajib memenuhi prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan

yang baik. Lebih lanjut, draft penjelasan Pasal 8 B ayat 1 UU Pasar Modal

tersebut menyatakan, bahwa prinsip-prinsip pengelolaan pengelolaan perusahaan

yang baik (Good Corporate Governance) meliputi antara lain prinsip fairness,

transparency, accountability, dan responsibility. Pengaturan ini dimaksud untuk

memberikan perlindungan kepada pemegang saham terutama pemegang saham

publik dan sebagai perwujudan tanggung jawab perusahaan kepada publik. 37

Penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dalam pasar

modal terlihat dengan keharusan perusahaan publik yang tercatat di bursa wajib

memiliki beberapa anggota Dewan Komisaris yang memenuhi kualifikasi

sebagai Komisaris Independen berdasarkan Surat Edaran Bapepam Nomor


37
Bismar Nasution, Pentingnya Keterbukaan untuk Pengelolaan Perusahaan yang Baik
dalam UUPM, http://bismarnasty.files.wordpress.com/2007/06. Hal 4, diakses tanggal 17 Maret
2008.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
SE03/PM/2000 tentang Komisaris Independen dan Peraturan Pencatatan Efek

Nomor 339/BEJ/07-2001 tanggal 21 Juli 2001. Keberadaan Komisaris Independen

ini berhubungan dengan ketentuan penyelenggaraan pengelolaan perusahaan yang

baik (Good Corporate Governance). Antara lain: 38

1. Jumlah Komisaris Independen adalah sekurang-kurangnya 30% dari

seluruh jumlah anggota Komisaris.

2. Perlunya dibentuk Komite Audit.

3. Keharusan perusahaan memiliki Sekretaris Perusahaan (corporate

secretary).

Fungsi dari seorang Komisaris adalah sebagai pengawas terhadap

pengurus perseroan yang dilakukan oleh Direksi. Dan dalam fungsi pengawasan

tersebut terkandung kewajiban Komisaris untuk memberi nasehat (advise) kepada

Direksi dalam menjalankan pengelolaan perusahaan. Persyaratan seorang

Komisaris Independen harus tetap mengacu pada UU Perseroan Terbatas tentang

syarat utama untuk menjadi seorang Komisaris suatu Perseroan Terbatas. 39

Namun bagi perusahaan tercatat 40 tentang Komisaris Independen ini mengacu

pada ketentuan peraturan Bursa Efek Jakarta No. Kep.BEJ.305/2004 (Peraturan

No.1-A Tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang

38
http://Businessenvironment.wordpress.com. Loc cit.
39
UU Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU Perseroan Terbatas), Pasal 1
angka 6 dan Pasal 108.
40
Perusahaan tercatat adalah Emiten atau Perusahaan Publik yang efeknya tercatat di bursa.
Kep.BEJ.305/2004 (Peraturan No.1-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain
Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat).

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat) yang mensyaratkan bahwa Komisaris

Independen dari perusahaan tercatat harus pula memiliki reputasi baik. 41

Keberadaan Komite Audit berlaku bagi perusahaan tercatat di papan

utama, tapi juga di papan pengembangan. 42 Pentingnya keberadaan Komite Audit

ini tidak terlepas dari tugas dan tanggung jawab serta kewenangan yang

dimilikinya. Komite Audit bertugas menjalankan pendapat profesional yang

independen kepada Dewan Komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang

disampaikan oleh Direksi kepada Dewan Komisaris, serta mengidentifikasi hal-

hal yang memerlukan perhatian Dewan Komisaris, yang mencakup; 43

1. Melakukan penelaahan atas informasi keuangan.

2. Menelaah independensi dan obyektifitas akuntan publik.

3. Melakukan penelaahan atas kecukupan pemeriksaan yang dilakukan akuntan

publik untuk memastikan semua risiko yang perlu dipertimbangkan.

4. Melakukan penelahaan atas efektifitas pengendalian internal perusahaan.

5. Menelaah tingkat kepatuhan perusahaan.

6. Melakukan pemeriksaan atas dugaan adanya kesalahan dalam keputusan

Direksi atau penyimpangan dalam hasil keputusan rapat Direksi.

Komisaris Independen wajib juga menyampaikan peristiwa atau kejadian penting

yang diketahuinya kepada Dewan Komisaris Perusahaan Tercatat. 44

Keberadaan Sekretaris Perusahaan (corporate secretary) adalah indikasi

penerapan Good Corporate Governance, seperti Komisaris Independen dan

41
Ibid, angka romawi III.1.10
42
Cornelius Simanjuntak dan Natalie Mulia, Merger Perusahaan Publik, Suatu Kajian
Hukum Korporasi, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2006) Hal 89.
43
http://Businessenvironment.wordpress.com, Loc cit.
44
Ibid.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Komite Audit. Sama seperti Komite Audit, maka Sekretaris Perusahaan berlaku di

papan utama dan dan papan pengembangan. 45 Berdasarkan Lampiran Keputusan

Ketua Bapepam Nomor Kep-63/PM/1996, tanggal 17 Januari 1996 (Peraturan

Nomor IX.I.4 tentang Pembentukan Sekretaris Perusahaan), maka pembentukan

Sekretaris Perusahaan bertujuan untuk meningkatkan pelayanan Emiten atau

Perusahaan Publik kepada masyarakat pemodal dalam rangka perkembangan

pasar modal di Indonesia. Dan Sekretaris Perusahaan memiliki tugas : 46

1. Mengikuti perkembangan pasar modal khususnya peraturan-peraturan yang

berlaku di bidang pasar modal.

2. Memberikan pelayanan kepada masyarakat atas setiap informasi yang

dibutuhkan pemodal yang berkaitan dengan kondisi Emiten atau Perusahaan

Publik.

3. Fungsi Sekretaris Perusahaan dapat dirangkap oleh Direktur Emiten atau

Perusahaan Publik.

4. Sebagai penghubung atau contact person antara Emiten atau Perusahaan

Publik dengan Bapepam dan masyarakat.

5. Memberikan masukan kepada Direksi Emiten atau Perusahaan Publik untuk

mematuhi ketentuan Undang-undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar

Modal dan peraturan pelaksananya.

45
Cornelius Simanjuntak dan Natalie Mulia. Op cit. Hal 94.
46
http://www.Bapepam.go.id/old/hukum/peraturan/emiten/IX.I.4.htm, diakses tanggal 13
Februari 2008.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
BAB III

BENTURAN KEPENTINGAN TRANSAKSI TERTENTU

A. Pengertian

Benturan kepentingan dalam artian bisnis adalah suatu kondisi atau sistem

dimana seseorang karena kedudukan atau wewenang yang dimilikinya di

perusahaan memiliki kepentingan pribadi yang dapat mempengaruhi pelaksanaan

tugas yang diamanatkan oleh perusahaan secara obyektif. Benturan kepentingan

ini dapat menimbulkan adanya pertentangan antara kepentingan ekonomis pribadi,

kelompok atau keluarga dengan kepentingan ekonomis perusahaan. 47

Namun apakah sebenarnya yang di maksud dengan Benturan Kepentingan

Transaksi Tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan, khususnya di

bidang pasar modal?

Transaksi yang mengandung benturan kepentingan (Conflict of Interest)

diatur dalam UU Pasar Modal dalam Pasal 82 Ayat (2) yang menyebutkan,

Bapepam dapat mewajibkan Emiten atau Perusahaan Publik untuk memperoleh

persetujuan mayoritas pemegang saham independen untuk secara sah dapat

melakukan transaksi yang berbenturan kepentingan, yaitu perbedaan kepentingan-

kepentingan ekonomis emiten atau perusahaan publik dengan kepentingan

ekonomis pribadi Direksi atau Komisaris atau juga Pemegang Saham Utama

Emiten atau Perusahaan Publik. UU Pasar Modal mencantumkan ketentuan

mengenai hal ini menandakan bahwa praktik demikian telah berlangsung lama

47
Sumber: SK Direksi ELNUSA No. 112/EN/KPTS/1000/2004 tentang Penerapan Prinsip
Good Corporate Governance dalam Rangka Menghindari Benturan Kepentingan.,
http://elnusa.wordpress.com. Loc cit.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
dan berpotensi merugikan para pihak, karena adanya unsur kolusi dan pelanggaran

terhadap prinsip keterbukaan informasi. 48

Pengertian tentang benturan kepentingan ini dapat ditemukan dalam

peraturan pelaksana dari UU Pasar Modal yaitu Keputusan Ketua Bapepam No.

Kep-32/PM/2000 tanggal 22 Agustus 2000 tentang Benturan Kepentingan

Transaksi Tertentu (Peraturan IX.E.1), yaitu perbedaan antara kepentingan

ekonomis perusahaan dengan kepentingan ekonomis pribadi Direktur, Komisaris,

Pemegang Saham Utama perusahaan, atau pihak terafiliasi dari Direktur,

Komisaris, atau Pemegang Saham Utama. 49

Dan sebagai perbandingan, pengertian benturan kepentingan dapat

ditemukan dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 Tentang

Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum yang memberikan

definisi tentang benturan kepentingan yaitu perbedaan antara kepentingan

ekonomis Bank dengan kepentingan ekonomis pribadi pemilik, anggota Dewan

Komisaris, anggota Direksi, Pejabat Eksekutif, dan/atau pihak terkait dengan

Bank.

Transaksi Benturan Kepentingan sendiri terdiri atas 2 (dua) unsur yaitu

Transaksi dan Benturan Kepentingan. Transaksi adalah aktivitas atau kontrak

dalam rangka memberikan dan atau mendapat pinjaman, memperoleh,

melepaskan, atau menggunakan aktiva, jasa, atau efek suatu perusahaan atau

perusahaan terkendali maupun mengadakan kontrak sehubungan dengan aktivitas

48
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op cit. Hal 241.
49
Badan Pengawas Pasar Modal, Keputusan Ketua Bapepam tentang Benturan Kepentingan
Transaksi Tertentu, Keputusan Nomor 32/PM/2000 (Peraturan Nomor IX.E.1). Angka 1 huruf d.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
50
tersebut. Dari definisi tersebut, dapat terlihat bahwa pengertian Transaksi

adalah sangat luas karena pada prinsipnya meliputi pemberian jaminan, pinjaman

hutang, jasa, akuisisi atau penjualan aktiva. Sedangkan benturan kepentingan

didefinisikan sebagai perbedaan antara kepentingan ekonomis perusahaan dengan

kepentingan ekonomis pribadi Direktur, Komisaris, pemegang saham utama

Perusahaan, atau Pihak Terafiliasi dari Direktur, Komisaris, atau Pemegang

Saham Utama. 51

B. Pengaturan Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu dalam Peraturan


Nomor IX.E.1 dan Undang-Undang Pasar Modal

Selain dalam UU Pasar Modal, pengaturan tentang benturan kepentingan

dalam pasar modal di muat dalam salah satu peraturan pelaksana dari UU Pasar

Modal, yaitu peraturan Nomor IX.E.1 yang dimuat dalam lampiran Keputusan

Ketua Bapepam No. Kep-32/PM/2000 tanggal 22 Agustus 2000. Secara historikal,

peraturan ini diterbitkan tahun 1996, tidak lama setelah dikeluarkannya UU Pasar

Modal dan dimuat dalam Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-84/PM/1996

tanggal 24 Januari 1996, yang kemudian disempurnakan dengan Keputusan Ketua

Bapepam No. Kep-12/PM/1997 tanggal 30 April 1997 sebelum akhirnya diubah

kembali dengan Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-32/PM/2000. 52

Dimana melalui peraturan ini, Bapepam mempertegas kata dapat

mewajibkan pada UU Pasar Modal Pasal 82 ayat (2) menjadi suatu keharusan.

Dimana dinyatakan bahwa jika suatu transaksi dimana seorang Komisaris,


50
Ibid. Angka 1 huruf c.
51
Ibid. Angka 1 huruf d.
52
Cornelius Simanjuntak dan Natalie Mulia, Op cit. Hal 43.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Direktur, atau Pemegang Saham Utama mempunyai benturan kepentingan, maka

transaksi yang dimaksud harus disetujui oleh para Pemegang Saham Independen

atau wakil mereka yang diberi wewenang untuk itu sebagaimana diatur dalam

Peraturan IX.E.1 ini. Persetujuan mengenai hal tersebut harus di tegaskan dalam

bentuk akta notariil. Dengan demikian peraturan pelaksana ini lebih tegas dan

secara hukum ketegasan itu lebih menguntungkan di dalam penegakan hukum. 53

Karena peraturan tersebut lebih serius untuk melindungi kepentingan Pemegang

Saham Independen. 54 Namun dalam pelaksanaannya, Peraturan IX.E.1 ini cukup

rumit dan memiliki cakupan yang luas sehingga tidak menutup kemungkinan

adanya pelanggaran-pelanggaran dalam pelaksanaannya oleh Perusahaan Publik

atau Emiten yang akan mengadakan transaksi yang berbenturan kepentingan.

Secara prinsip peraturan ini bertujuan : 55

1. Melindungi kepentingan pemegang saham independen yang umumnya

merupakan pemegang saham minoritas dari perbuatan yang melampaui

kewenangan Direksi dan Komisaris serta pemegang saham utama dalam

melakukan transaksi dalam melakukan transaksi yang mengandung benturan

kepentingan tertentu (UU Pasar Modal Pasal 82 ayat (2) jo. Peraturan

Nomor IX.E.1).

2. Mengurangi kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan oleh Direksi,

Komisaris atau pemegang saham utama untuk melakukan transaksi yang

53
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op cit. Hal 242.
54
UU Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, penjelasan Pasal 82 Ayat (2) jo. Peraturan
IX.E.1. Op cit.Angka 1 huruf e.
55
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya. Loc cit.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
mengandung benturan kepentingan tertentu (UU Pasar Modal Pasal 82 ayat

(2) jo. Peraturan Nomor IX.E.1).

3. Melaksanakan prinsip keterbukaan dan penghormatan terhadap hak-hak

pemegang saham independen berdasarkan asas kesetaraan, persetujuan

pemegang saham independen yang mewakili lebih dari 50 % saham yang

ada merupakan suatu keharusan (UU Pasar Modal Pasal 86 Ayat (1)).

Lahirnya peraturan Nomor IX.E.1 merupakan suatu respon terhadap

konflik kepentingan (conflict of interest) yang biasanya menguntungkan pihak-

pihak tertentu, karena adanya kolusi yang didasarkan pada kewenangan dan

ketidaktransparannya proses pengambilan keputusan. Latar belakang budaya

perusahaan-perusahaan di Indonesia yang berasal dari perusahaan keluarga yang

membesar menjadi konglomerasi makin membuka kemungkinan terjadinya

tindakan-tindakan yang mengandung konflik kepentingan. Prilaku kolutif di dunia

bisnis sering kali terdengar terjadi. Sebagai akibatnya, hal itu tumbuh dan

berkembang sampai sekarang, sehingga perusahaan yang ada berjalan dengan

ditopang oleh suatu sikap yang tidak benar. Dan disisi lain, pemberlakukan

ketentuan ini sejalan dengan prinsip Good Corporate Governance, yaitu

menghormati hak pemegang saham, memberikan perlakuan sama diantara

pemegang saham, dan melindungi kepentingan pemegang saham minoritas.

Prinsip lainnya adalah penerapan prinsip keterbukaan. 56

Transaksi yang mengandung benturan kepentingan terjadi karena tidak

mendapat persetujuan dari para pemegang saham, oleh karena itu, Bapepam

56
Ibid.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
sebagai otoritas pasar modal tidak mengkategorikan tindakan melakukan transaksi

yang mengandung benturan kepentingan sebagai suatu pelanggaran sepanjang

transaksi yang dilakukan tersebut telah mendapat persetujuan dari pemegang

saham sesuai dengan prosedur yang dimuat dalam ketentuan perundang-undangan

yang berlaku. 57

Transaksi yang berbenturan kepentingan adalah transaksi dimana seorang

Komisaris, Direktur, atau Pemegang Saham Utama mempunyai benturan

kepentingan, yakni perbedaan kepentingan ekonomis perusahaan dengan

kepentingan ekonomis pribadi Komisaris, Direktur, dan Pemegang Saham Utama.

Dengan demikian, suatu transaksi termasuk memiliki benturan

kepentingan jika dipenuhi unsur-unsur berikut ini : 58

1. Adanya transaksi, yaitu suatu aktivitas atau kontrak dalam rangka

memberikan dan/atau mendapat pinjaman, memperoleh, melepaskan atau

menggunakan aktiva, jasa atau efek suatu perusahaan atau perusahaan

terkendali, atau mengadakan kontrak sehubungan dengan adanya aktivitas

tersebut.

2. Adanya benturan kepentingan.

3. Benturan kepentingan tersebut adalah antara perusahaan dengan Komisaris

atau Direktur atau Pemegang Saham Utama.

4. Kepentingan yang berbenturan adalah kepentingan ekonomis.

Namun, tidak semua transaksi yang tidak mendapat persetujuan pemegang

saham dikategorikan sebagai transaksi yang mengandung benturan kepentingan.


57
Badan Pengawas Pasar Modal, (Peraturan Nomor IX.E.1), Op cit. Angka 2.
58
Munir Fuady, Pasar Modal Modern (Tinjauan Hukum), Buku Kedua, (Bandung : Citra
Aditya Bakti, 2003). Hal. 190-191.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Ada juga beberapa jenis transaksi yang dikecualikan dari keharusan untuk

mendapatkan persetujuan Pemegang Saham Independen. 59 Bapepam memasukkan

sejumlah transaksi yang dikecualikan dalam Peraturan Nomor IX.E.1. Hal ini

dilakukan demi kepentingan tugas Badan Penyehatan Perbankan Nasional

(BPPN). Tindakan BPPN tersebut dikategorikan sebagai tindakan dalam keadaan

darurat sehingga memerlukan pengecualian sebagai alas hukum yang sah. 60

Transaksi yang dikecualikan tersebut adalah : 61

1. Transaksi antara perusahaan dengan perusahaan terkendali yang saham atau

modalnya dimiliki sekurang-kurangnya 99% (sembilan puluh sembilan per

seratus) atau antara sesama perusahaan terkendali yang saham atau

modalnya dimiliki sekurang-kurangnya 99% (sembilan puluh sembilan per

seratus) oleh perusahaan dimaksud, jika laporan keuangan dari perusahaan

tersebut dikonsolidasikan.

2. Transaksi antara perusahaan dengan perusahaan terkendali yang saham atau

modalnya tidak dimiliki seluruhnya dan tidak satu pun saham atau modal

perusahaan terkendali dimiliki oleh Komisaris, Direktur, Pemegang Saham

Utama perusahaan dimaksud, atau pihak terafiliasinya. Apabila pemilikan

saham pada perusahaan terkendali tersebut melebihi 50% (lima puluh

perseratus), maka laporan keuangannya harus dikonsolidasikan.

3. Transaksi yang melibatkan perusahaan atau perusahaan terkendali dengan

pihak terafiliasi dilakukan jauh sebelum penawaran umum dan telah

diungkap dalam prospektus penawaran umum.


59
Cornelius Simanjuntak dan Natalie Mulia, Op cit. Hal 54.
60
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op cit. Hal 246.
61
Badan Pengawas Pasar Modal, (Peraturan Nomor IX.E.1) Op cit. Angka 3 huruf a-i.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
4. Transaksi yang melibatkan perusahaan atau perusahaan terkendali dengan

pihak terafiliasi yang dimulai sesudah penawaran umum, yang telah

memperoleh persetujuan pemegang saham independen yang mewakili lebih

dari 50% (lima puluh perseratus) saham yang dimiliki Pemegang Saham

Independen.

5. Transaksi antara perusahaan baik dengan karyawan, Direksi atau Komisaris

perusahaan tersebut maupun dengan karyawan, Direksi atau Komisaris

perusahaan terkendali, dan transaksi antara perusahaan terkendali baik

dengan karyawan, Direksi atau Komisaris perusahaan terkendali tersebut

maupun dengan karyawan, Direksi atau Komisaris perusahaan dengan

persyaratan yang sama, sepanjang hal tersebut diungkapkan kepada

Bapepam, para pemegang saham dan semua karyawan.

6. Penggunaan setiap fasilitas yang diberikan oleh perusahaan atau perusahaan

terkendali kepada Komisaris, Direktur, dan Pemegang Saham Utama yang

juga sebagai karyawan yang langsung berhubungan dengan tanggung jawab

mereka terhadap perusahaan tersebut dan sesuai dengan kebijaksanaan

perusahaan yang disampaikan kepada Bapepam sebagai informasi kepada

masyarakat.

7. Imbalan, termasuk gaji, iuran dana pensiun, dan atau manfaat khusus yang

diberikan kepada Komisaris, Direktur dan Pemegang Saham Utama yang

juga sebagai karyawan, jika jumlah secara keseluruhan dari imbalan tersebut

diungkapkan dalam laporan keuangan berkala.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
8. Pembelian tanah dan atau bangunan rumah tinggal dari seorang Komisaris,

Direktur, dan Pemegang Saham Utama, atau setiap pihak yang mereka

ketahui terafiliasi dengan perusahaan pada saat itu dalam jumlah tidak lebih

dari Rp.5.000.000.000,- (lima miliar rupiah) atau kurang dari 0,5% (nol

koma lima perseratus) dari nilai kekayaan bersih perusahaan, sesuai dengan

laporan keuangan terakhir yang diperiksa oleh akuntan. Pembelian dimaksud

harus sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan yang berlaku bagi semua

karyawan dan telah diungkapkan kepada Bapepam, para pemegang saham

dan karyawan. Pembelian dimana terdapat benturan kepentingan dan yang

jumlahnya lebih dari Rp.1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) wajib dinilai

oleh Penilai Independen.

9. Transaksi yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh

Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dalam rangka restrukturisasi

perusahaan dan pemulihan ekonomi nasional.

Dan terhadap transaksi yang harus mendapat persetujuan para pemegang

saham, harus dilakukan melalui RUPS yang harus diberitahukan terlebih dahulu.

Pemberitahuan tersebut harus meliputi informasi-informasi mengenai :62

1. Uraian mengenai transaksi, sekurang-kurangnya :

a. kekayaan atau jasa yang bersangkutan;

b. nilai transaksi yang bersangkutan;

c. nama pihak-pihak yang mengadakan transaksi dan hubungan mereka

dengan perusahaan yang bersangkutan; dan

62
Ibid. Angka 6.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
d. sifat dari benturan kepentingan pihak-pihak yang bersangkutan dalam

transaksi tersebut;

2. Ringkasan laporan pihak independen yang ditunjuk.

3. Tanggal, waktu, dan tempat diselenggarakannya Rapat Umum Pemegang

Saham dan rapat pemegang saham selanjutnya yang direncanakan akan

diselenggarakan jika kuorum kehadiran Pemegang Saham Independen

yang disyaratkan tidak diperoleh dalam rapat pertama, pernyataan tentang

persyaratan pemberian suara dalam rencana transaksi tersebut dan

pemberian suara setuju yang disyaratkan dalam setiap rapat sesuai dengan

peraturan ini.

4. Penjelasan pertimbangan dan alasan dilakukannya transaksi tersebut,

dibandingkan dengan apabila dilakukan Transaksi lain yang sejenis yang

tidak mengandung Benturan Kepentingan.

5. Rencana perusahaan, data perusahaan dan informasi lain yang

dipersyaratkan sebagaimana diatur dalam angka 7 Peraturan IX.E.1, yaitu

bila transaksi benturan kepentingan yang dilakukan tersebut berhubungan

dengan transaksi material, kegiatan usaha utama, atau pengambilalihan

perusahaan terbuka, maka selain mengikuti ketentuan peraturan ini, juga

harus mengikuti keterbukaan informasi sebagaimana diatur dalam

Peraturan Nomor IX.E.2 tentang Transaksi Material, Kegiatan Usaha

Utama, atau Pengambilalihan Perusahaan Terbuka.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
6. Pernyataan Komisaris dan Direktur yang menyatakan bahwa semua

informasi material telah diungkapkan dan informasi tersebut tidak

menyesatkan.

7. Ringkasan laporan tenaga ahli atau Konsultan Independen jika dianggap

perlu oleh Bapepam.

Dan pemberitahuan untuk rapat tersebut harus di umumkan dengan

ketentuan sebagai berikut: 63

1. Pengumuman mengenai pemberitahuan Rapat Umum Pemegang Saham

harus diterbitkan sekurang-kurangnya 28 (dua puluh delapan) hari sebelum

rapat dan pemberitahuan dimaksud harus memuat informasi yang

disyaratkan oleh angka 6 Peraturan IX.E.1. Panggilan Rapat Umum

Pemegang Saham sekurang-kurangnya 14 (empat belas) hari sebelum rapat

dimaksud. Panggilan harus dikirimkan dengan surat pos tercatat atau

faksimili ke alamat pemegang saham disamping panggilan yang

diterbitkan melalui surat kabar. Panggilan dimaksud harus disertai dengan

informasi yang disyaratkan dalam angka 6 Peraturan IX.E.1.

2. Untuk rapat kedua dan ketiga, masing-masing panggilan dimaksud harus

diumumkan melalui 2 (dua) surat kabar berbahasa Indonesia yang beredar

nasional selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sebelum RUPS kedua

dilakukan, dengan menyebutkan telah diselenggarakannya RUPS pertama

tetapi tidak mencapai kuorum. Panggilan kepada Pemegang Saham

Independen yang tidak hadir dalam rapat terdahulu harus dikirimkan

63
Ibid. Angka 3 jo angka 6 dan 12.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
melalui surat pos tercatat atau faksimili sekurang-kurangnya 14 (empat

belas) hari sebelum rapat.

Sejumlah modus atau cara melakukan transaksi yang dapat dikategorikan

sebagai transaksi yang mengandung benturan kepentingan menurut Peraturan

Nomor IX.E.1 adalah: 64

1. Penggabungan usaha, pembelian saham, peleburan usaha, atau

pembentukan usaha patungan.

2. Perolehan kontrak penting.

3. Pembelian, atau kerugian penjualan aktiva yang material.

4. Pengajuan tawaran untuk pembelian efek perusahaan lain.

5. Memberi pinjaman kepada perusahaan lain dimana Direktur, Komisaris,

Pemegang Saham Utama atau perusahaan terkendali dari perusahaan

publik merupakan pemegang saham atau Direktur atau Komisaris.

6. Memperoleh pinjaman dari perusahaan lain dimana Direktur, Komisaris,

Pemegang Saham Utama atau perusahaan terkendali dari perusahaan

publik merupakan pemegang saham atau Direktur atau Komisaris.

7. Melepaskan aktiva perusahaan publik kepada perusahaan lain dimana

Direktur, Komisaris, Pemegang Saham Utama atau perusahaan terkendali

dari perusahaan publik merupakan pemegang saham atau Direktur atau

Komisaris.

64
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op cit. Hal 247-248.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
8. Mengalihkan aktiva perusahaan publik kepada pihak lain yang mana turut

berperan dalam transaksi tersebut pemegang saham utama, Komisaris atau

Direksi perusahaan publik atau Emiten.

9. Memakai jasa perusahaan dimana Direktur, Komisaris, pemegang saham

utama atau perusahaan terkendali dari perusahaan publik merupakan

pemegang saham atau Direktur atau Komisaris.

10. Membeli saham perseroan lain dimana Direktur, Komisaris, Pemegang

Saham Utama atau perusahaan terkendali dari perusahaan publik

merupakan pemegang saham atau Direktur atau Komisaris.

11. Melakukan penyertaan pada perusahaan lain. Perusahaan publik

melakukan penyertaan pada perusahaan publik yang mana Direktur,

Komisaris, pemegang saham utama dari perusahaan publik merupakan

pemegang saham atau Direktur atau Komisaris dari perusahaan yang

menerima penyertaan.

12. Menggunakan fasiliitas pada perusahaan publik oleh perusahaan lain baik

afiliasi atau bukan. Perusahaan publik memberikan jasa penggunaan

fasilitas perusahaan lain yang mana Direktur, Komisaris, pemegang saham

utama perusahaan publik merupakan pemegang saham atau Direktur atau

Komisaris dari perusahaan yang mempergunakan fasilitas tersebut.

13. Perusahaan menggunakan fasilitas perusahaan lain oleh perusahaan publik.

Perusahaan publik mempergunakan fasilitas perusahaan lain yang mana

Direktur, Komisaris, Pemegang Saham Utama dari perusahaan publik

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
merupakan pemegang saham atau Direktur atau Komisaris dari pemberi

fasilitas

14. Dan transaksi lain yang berindikasikan adanya benturan kepentingan.

Tidak semua transaksi yang mengandung benturan kepentingan tidak dapat

dilakukan. Karena dalam ketentuan dalam Peraturan Nomor IX.E.1 menyatakan

bahwa transaksi benturan kepentingan tertentu tetap dapat dilakukan dan sah bila

mengikuti persyaratan yang ada dalam peraturan tersebut, yaitu harus terlebih

dahulu mendapat persetujuan Pemegang Saham Independen melalui RUPS dan

persetujuan tersebut harus dituangkan dalam akta notaril. Peraturan Nomor IX.E.1

mensyaratkan bahwa RUPS untuk transaksi yang mempunyai benturan

kepentingan dapat di lakukan sampai tiga kali. 65

Untuk sahnya suatu keputusan dari sebuah RUPS, harus tetap

memperhatikan tentang kuorum rapat. Yang dimaksud dengan kuorum adalah

jumlah minimum anggota yang harus hadir dalam rapat, agar dapat mengesahkan

suatu putusan (to make it valid). RUPS dapat dilangsungkan apabila dihadiri oleh

pemegang saham yang mewakili lebih dari setengah bagian dari jumlah seluruh

saham dengan hak suara yang sah, kecuali UU Perseroan Terbatas dan atau
66
Anggaran Dasar menentukan lain. Dan Anggaran Dasar tidak boleh

menentukan kuorum yang lebih kecil dari yang ditentukan UU Perseroan Terbatas

(Pasal 86-89).

Angka 9 dan 10 Peraturan IX.E.1 mensyaratkan bahwa RUPS yang

diadakan untuk meminta persetujuan tentang transaksi yang mengandung


65
Badan Pengawas Pasar Modal, (Peraturan Nomor IX.E.1) Op cit. Angka 9 dan 10.
66
I.G. Rai Widjaya, Hukum Perusahaan; Undang-Undang dan Peraturan Pelaksanaan di
Bidang Usaha, (Jakarta : Kesaint Blanc, 2002). Hal 262.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
benturan kepentingan dapat dilakukan sampai tiga kali dengan persyaratan dalam

setiap pelaksanaan RUPS tersebut.

RUPS pertama, ketentuan pelaksanaannya adalah :

1. Harus dihadiri oleh Pemegang Saham Independen yang mewakili lebih dari

50% (lima puluh perseratus) saham yang dimiliki oleh Pemegang Saham

Independen.

2. Harus disetujui oleh Pemegang Saham Independen yang mewakili lebih dari

50% (lima puluh perseratus) saham yang dimiliki oleh Pemegang Saham

Independen.

Apabila dalam RUPS pertama tidak tercapai kuorum, maka harus

dilaksanakan RUPS kedua, dengan ketentuan ;

1. Dihadiri oleh Pemegang Saham Independen yang mewakili lebih dari 50%

(lima puluh per seratus) saham yang dimiliki oleh Pemegang Saham

Independen.

2. Disetujui oleh Pemegang Saham Independen yang mewakili lebih dari 50%

(lima puluh perseratus) saham yang dimiliki oleh Pemegang Saham

Independen.

3. Pemberian suara dari Pemegang Saham Independen dapat dilakukan

langsung oleh Pemegang Saham Independen (atau wakil yang diberi

kuasa.) 67

Dalam hal kuorum RUPS kedua juga tidak tercapai, maka dilakukan

RUPS ketiga. Dengan persyaratan;

67
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op cit. Hal 250.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
1. Memperoleh persetujuan dari Bapepam.

2. Telah diumumkan kepada masyarakat (sesuai ketentuan angka 11 Peraturan

Nomor IX.E.1).

3. Disetujui oleh Pemegang Saham Independen yang mewakili lebih dari 50%

(limapuluh perseratus) saham yang dimiliki oleh Pemegang Saham

Independen yang hadir. 68

Jika dalam RUPS ketiga tidak juga mendapat persetujuan Pemegang

Saham Independen, maka transaksi tersebut tidak boleh diajukan kembali dalam

jangka waktu 12 bulan sejak tanggal penolakan. 69 Setiap rencana transaksi yang

mengandung benturan kepentingan harus diungkapkan terlebih dahulu, karena

informasi itu merupakan panduan penting bagi pemegang saham atau investor

untuk mengambil keputusan. Semua transaksi tersebut harus diungkapkan secepat

mungkin (paling lambat dua hari setelah dilakukannya transaksi). 70

C. Peranan Bapepam

Peranan Bapepam di dalam pasar modal dapat dilihat dari Pasal 4 Undang-

undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, yang menyatakan pembinaan,

pengaturan, dan pengawasan sehari-hari pasar modal dilakukan oleh Bapepam

yang bertujuan untuk mewujudkan kegiatan pasar modal yang teratur, wajar dan

efisien serta melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat. Dalam

melaksanakan fungsi tersebut, Bapepam mempunyai kewenangan untuk

memberikan izin, persetujuan, dan pendaftaran kepada para pelaku pasar modal,
68
Badan Pengawas Pasar Modal, (Peraturan Nomor IX.E.1) Op cit. Angka 10.
69
Ibid. Angka 11.
70
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op cit. Hal 251.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
memproses pendaftaran dalam rangka Penawaran Umum, menerbitkan peraturan

pelaksanaan dari perundang-undangan di bidang pasar modal, dan melakukan

penegakan hukum atas setiap pelanggaran terhadap peraturan perundang-

undangan di bidang pasar modal. 71

Berdasarkan Pasal 5 UU Pasar Modal, Bapepam berwenang untuk:

1. Memberi :

a. Izin usaha kepada Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan,

Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Reksa Dana, Perusahaan Efek,

Penasihat Investasi, dan Biro Administrasi Efek.

b. Izin orang perseorangan bagi wakil Penjamin Emisi Efek, Wakil

Perantara Pedagang Efek, dan wakil Manajer Investasi.

c. Persetujuan bagi Bank Kustodian.

2. Mewajibkan pendaftaran Profesi Penunjang Pasar Modal dan Wali

Amanat.

3. Menetapkan persyaratan dan tata cara pencalonan dan memberhentikan

untuk sementara waktu Komisaris dan atau Direktur serta menunjuk

manajemen sementara Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, serta

Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian sampai dengan dipilihnya

Komisaris dan atau Direktur yang baru.

4. Menetapkan persyaratan dan tata cara pernyataan pendaftaran serta

menyatakan, menunda atau membatalkan efektifnya pernyataan

pendaftaran.

71
C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil, Pokok-Pokok Hukum Pasar Modal, (Jakarta :
Pustaka Sinar Harapan, 1997). Hal 57.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
5. Mengadakan pemeriksaan dan penyidikan terhadap setiap pihak dalam hal

terjadi peristiwa yang diduga merupakan pelanggaran terhadap undang-

undang dan atau peraturan pelaksanaanya.

6. Mewajibkan setiap pihak untuk:

a. Menghentikan atau memperbaiki iklan atau promosi yang berhubungan

dengan kegiatan di pasar modal.

b. Mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi akibat

yang timbul dari iklan atau promosi dimaksud.

7. Melakukan pemeriksaan terhadap :

a. Setiap Emiten atau Perusahaan Publik yang telah atau diwajibkan

menyampaikan pernyataan pendaftaran kepada Bapepam.

b. Pihak yang dipersyaratkan memiliki izin usaha, izin orang

perseorangan, persetujuan, atau pendaftaran profesi berdasarkan

undang-undang.

8. Menunjuk pihak lain untuk melakukan pemeriksaan tertentu dalam rangka

pelaksanaan wewenang Bapepam sebagaimana dimaksud dalam huruf g.

9. Mengumumkan hasil pemeriksaan.

10. Membekukan atau membatalkan pencatatan suatu efek pada bursa efek

atau menghentikan transaksi bursa atas efek tertentu untuk jangka waktu

tertentu guna melindungi kepentingan pemodal.

11. Menghentikan kegiatan perdagangan bursa efek untuk jangka waktu

tertentu dalam hal keadaan darurat.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
12. Memeriksa keberatan yang diajukan oleh pihak yang dikenakan sanksi

oleh Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, atau Lembaga

Penyimpanan dan Penyelesaian serta memberikan keputusan

membatalkan atau menguatkan pengenaan sanksi dimaksud.

13. Menetapkan biaya perizinan, persetujuan, pendaftaran, pemeriksaan, dan

penelitian serta biaya lain dalam rangka kegiatan pasar modal.

14. Melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencegah kerugian

masyarakat sebagai akibat pelanggaran atas ketentuan di bidang pasar

modal.

15. Memberikan penjelasan lebih lanjut yang bersifat teknis atas UU Pasar

Modal atau peraturan pelaksanaannya.

16. Menetapkan instrumen lain sebagai efek selain yang telah ditentukan

dalam UU Pasar Modal Pasal 1 angka 5.

17. Melakukan hal-hal lain yang diberikan berdasarkan UU Pasar Modal.

Selanjutnya, tentang fungsi Bapepam dapat dilihat dari penjelasan dalam

Pasal 3 Kepmenkeu RI No. 503/KMK.01/1997 tentang Organisasi dan Tata Kerja

Badan Pengawas Pasar Modal, yaitu: 72

1. Penyusunan peraturan di bidang pasar modal.

2. Pengamanan teknis pelaksanaan tugas pokok Bapepam sesuai dengan

kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.

72
http://www.bapepam.go.id/old/profil/fungsi/index.htm, diakses tanggal 11 Februari 2008.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
3. Penetapan prinsip-prinsip keterbukaan perusahaan bagi Emiten dan

Perusahaan Publik.

4. Penyelesaian keberatan yang diajukan oleh pihak yang dikenakan sanksi

oleh Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, dan Lembaga

Penyimpanan dan Penyelesaian.

5. Penetapan ketentuan akuntansi di bidang pasar modal.

6. Pembinaan dan pengawasan terhadap pihak yang memperoleh izin usaha,

persetujuan, pendaftaran dari Bapepam dan pihak lain yang bergerak di

pasar modal.

Peranan Bapepam sebagai otoritas dari pasar modal dalam hal terjadinya

benturan kepentingan transaksi tertentu adalah sebagai pengawas dan sebagai

suatu badan yang berwenang untuk memberikan sanksi terhadap terjadinya

pelanggaran-pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal,

termasuk ketentuan tentang Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu.

Dalam rangka untuk memberikan perlindungan terhadap pemegang saham,

peranan Bapepam sangat penting. Karena perlindungan awal terhadap

kepentingan pemegang saham ada dalam UU Perseroan Terbatas dan Anggaran

Dasar masing-masing perusahaan yang memang dibuat dengan tujuan itu. Dan

selanjutnya, pengembanan tugas untuk melindungi kepentingan para pemegang

saham, khususnya dalam pasar modal berada di tangan Bapepam.

Langkah Bapepam untuk memberikan perlindungan terhadap kepentingan

pemegang saham terhadap Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu terlihat

dengan di keluarkannya Peraturan Nomor IX.E.1 sebagai salah satu fungsi

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Bapepam dalam mengeluarkan peraturan di pasar modal, demi terciptanya pasar

modal yang efektif dan efisien. 73

Peraturan Bapepam Nomor IX.E.1, merupakan suatu bentuk perlindungan

terhadap kepentingan pemegang saham minoritas. Pada dasarnya setiap pemegang

saham pada perseroan merupakan pemegang hak dan kewajiban sesuai dengan

ketentuan undang-undang dan Anggaran Dasar masing-masing perusahaan yang

bersangkutan. 74 Ketentuan mengenai transaksi yang mengandung benturan

kepentingan tertentu ini menunjukkan bahwa peraturan perundang-undangan di

pasar modal menjunjung hak dan perlindungan pemegang saham suatu perseroan

berdasarkan asas kesetaraan. Setiap pemegang saham secara hukum dinyatakan

berhak untuk ikut menentukan kebijakan perseroan berkaitan dengan pengambilan

keputusan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang membawa

dampak bagi kepentingan para pemegang saham. 75

Selain mengambil langkah represif dengan mengeluarkan peraturan

tersebut (Peraturan No.IX.E1), Bapepam menyadari bahwa perlindungan bagi

pemegang saham terhadap terjadinya benturan kepentingan transaksi tertentu akan

lebih baik bila dimulai dari dalam tubuh perusahaan itu sendiri. Hal ini

dimaksudkan sebagai suatu langkah preventif dalam melindungi pemegang

saham. Berdasarkan hal itu, maka Bapepam menentukan bagaimana emiten atau

perusahaan publik harus melindungi kepentingan dari pemegang sahamnya.

73
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Kepmenkeu RI No : 503/KMK.01/1997 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Pasar Modal, penjelasan Pasal 3 huruf a.
74
Sri Redjeki Hartono, Op cit. Hal 134.
75
UU Perseroan Terbatas, Op cit. Pasal 85.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Bapepam menetapkan agar emiten harus menerapkan prinsip-prinsip Good

Corporate Governance dalam pengelolaan perusahaannya. Penerapan prinsip-

prinsip Good Corporate Governance sebenarnya tidak hanya berlaku di pasar

modal saja, tapi juga di harapkan berlaku di dunia bisnis Indonesia.

Pemerintah Indonesia secara serius membangun kode prilaku pengelolaan

perusahaan yang bertanggung jawab ini, hal ini dibuktikan dengan membentuk

Komisi Nasional Good Corporate Governance dengan merumuskan Kode GCG

versi 3.1 yang memuat tentang perlindungan hak pemegang saham, perlakuan adil

terhadap seluruh pemegang saham, peranan stakeholders, keterbukaan dan

transparansi, serta peranan Direksi perusahaan. 76 Dan karena pasar modal

merupakan salah satu sektor industri jasa keuangan yang amat penting, maka

Bapepam sebagai otoritas dari pasar modal berupaya untuk mengintensifkan

penerapan Good Corporate Governance pada Perusahaan Publik dan Emiten.

Upaya Bapepam untuk menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate

Governance adalah dengan memasukkannya ke dalam pembuatan peraturan.

Salah satunya adalah dengan dimasukkannya klausul yang mewajibkan emiten

atau perusahaan publik untuk memiliki Komisaris Independen, Komite Audit dan

Sekretaris Perusahaan. Berdasarkan Annual Report Bapepam tahun 2002,

menyatakan sejak tahun 2000 Bapepam bersama dengan pihak-pihak lain yang

terkait, terlibat secara aktif dalam berbagai kegiatan yang bertujuan mendorong

penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance kepada semua pelaku

pasar di pasar modal Indonesia mengingat penerapan prinsip-prinsip Good

76
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op cit. Hal 99.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Corporate Governance yang baik merupakan salah satu faktor yang mampu

membangun dan mewujudkan pasar modal yang sehat. 77 Partisipasi secara aktif

ini diwujudkan dalam keanggotaan Ketua Bapepam dan Kepala Biro Standar

Akuntansi dan Keterbukaan dalam Komite Nasional Good Corporate

Governance. 78

77
http://www.Bapepam.go.id/ Annual Report/ GCG_2002, diakses tanggal 14 Februari
2008.
78
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op cit. Hal 100.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
BAB IV

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMEGANG SAHAM TERHADAP


BENTURAN KEPENTINGAN TRANSAKSI TERTENTU DALAM PASAR
MODAL

A. Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Saham

1. Perlindungan dari Peraturan Perundang-Undangan

Prospek pasar modal di Indonesia serta kemungkinan meningkatnya

pendapatan masyarakat karena beraktivitas dengan menanamkan modalnya di

pasar modal menunjukkan bahwa pasar modal sudah menjadi pilihan masyarakat

yang sudah meninggalkan pola konsumtif menjadi investasi. Sehingga membuat

mereka yakin untuk melakukan investasi di pasar modal melalui pembelian saham

yang ditawarkan oleh Emiten. Namun, para investor ini harus tetap

memperhatikan bagaimana kepentingan mereka akan terlindungi dalam pembelian

saham tersebut.

Secara mendasar bahwa sejak awal perusahaan akan melakukan aktivitas

di pasar modal (misalnya dengan emisi saham), sudah disiapkan seperangkat

peraturan yang maksudnya sebagai rangkaian tindakan preventif, agar emiten

adalah benar-benar emiten yang dapat mempertanggungjawabkan yang dengan

itikad baik akan membagi power dan intents-nya kepada masyarakat. Peraturan

yang mengatur tentang syarat materil maupun formal, prosedur dan pelaksanaan

emisi saham tersebut merupakan upaya perlindungan awal kepada pemegang

saham publik. 79

79
Sri Redjeki Hartono, Loc cit.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Perlindungan tahap berikutnya ada dan diantisipasi oleh peraturan-

peraturan yang dikeluarkan oleh Bapepam sebagai instansi yang berwenang untuk

mengawasi pasar modal di Indonesia. Bapepam adalah otoritas dari pasar modal

yang berwenang untuk mengawasi jalannya aktivitas di pasar modal agar tidak

terjadi pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan di pasar modal,

termasuk tentang ketentuan benturan kepentingan transaksi tertentu. Karena

seperti dijelaskan diatas bahwa kepentingan pemegang saham harus dilindungi

untuk menciptakan citra pasar modal yang baik agar dapat lebih menarik investor

untuk menanamkan modalnya di pasar modal. Dengan kata lain bahwa sebagian

dari sistem perlindungan hukum bagi pemegang saham publik berada di tangan

Bapepam. 80

Perlindungan hukum terhadap para pemegang saham dalam hal terjadinya

transaksi yang mengandung benturan kepentingan diperlukan karena posisi

mereka yang rentan untuk mengalami kerugian akibat transaksi tersebut yang

mungkin terjadi karena transaksi tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan dan

persetujuan mereka dikarenakan posisi mereka sebagai pemegang saham bukanlah

sebagai pihak pengelola perusahaan, yang mengetahui segala aktivitas perusahaan

disetiap waktu.

Pemberian persetujuan terhadap transaksi yang mengandung benturan

kepentingan merupakan hak dari pemegang saham. They have right to vote on

matters directly effect their ownership interest.Transaksi yang mengandung

benturan kepentingan dapat mempengaruhi kepentingan mereka. Karena bila saja

80
Ibid.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
transaksi itu malah menimbulkan kerugian, maka dividen mereka akan berkurang,
81
begitu juga pendapatan perusahaan.

Oleh sebab itu maka perlindungan terhadap para pemegang saham ini

dimuat dalam ketentuan perundang-undangan dalam pasar modal, seperti UU

Pasar Modal dan Peraturan Nomor IX.E.1 tentang Benturan Kepentingan

Transaksi Tertentu. Dan pemberian perlindungan terhadap pemegang saham yang

dilakukan Bapepam dapat dilihat dari UU Pasar Modal Pasal 82 ayat (2) jo.

Peraturan Nomor IX.E.1.

UU Pasar Modal Pasal 82 ayat (2) jo. Peraturan Nomor IX.E.1 merupakan

bentuk perlindungan dari dua sisi. Pertama, Bapepam mempunyai kapasitas untuk

menegakkan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal yang berkaitan

dengan transaksi benturan kepentingan tertentu. Penegakan hukum atas

pelanggaran terhadap ketentuan mengenai transaksi benturan kepentingan tertentu

merupakan tindakan represif. Artinya, pelanggaran telah terjadi dan kemungkinan

kerugian pun telah di alami. Sedangkan penerapan prinsip keterbukaan dan

pemberdayaan pemegang saham independen di dalam proses pengambilan

keputusan merupakan sarana hukum untuk mencegah terjadi transaksi benturan

kepentingan tertentu yang biasa menguntungkan pihak-pihak tertentu dan

sekaligus merugikan perseroan. 82

Penerapan prinsip keterbukaan dan pemberdayaan pemegang saham

independen merupakan sarana preventif dalam memberikan perlindungan.

Tindakan preventif jauh lebih baik. Namun, pemegang saham perlu memahami

81
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op cit. Hal 251.
82
Ibid.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
dalam menggunakan haknya untuk melindungi kepentingan mereka secara

proaktif. Seperti haknya untuk menuntut pertanggungjawaban dari Direksi dan

Komisaris bila terjadi kerugian yang terjadi akibat kelalaian ataupun kesalahan

mereka.

UU Perseroan Terbatas memang menyebutkan Direksi dan juga Komisaris

bertanggung jawab secara terbatas sepanjang tindakan tersebut berada dalam

wewenangnya (intra vires). Namun, pertanggungjawaban dapat dimintakan

kepada pengurus jika tindakan tersebut dilakukan di luar kewenangannya dalam

mengurus perseroan (ultra vires) yang bertentangan dengan ketentuan yang

berlaku, dan tindakan tersebut menimbulkan kerugian bagi perseroan. UU

Perseroan Terbatas dan UU Pasar Modal dapat digunakan oleh Pemegang Saham

Independen untuk mengambil tindakan represif dengan mengajukan tuntutan

secara perdata ke pengadilan negeri terhadap Direksi atau Komisaris yang lalai

atau melakukan tindakan yang merugikan perseroan yaitu berdasarkan UU

Perseroan Terbatas Pasal 97 ayat (3) dan (6), Pasal 114 ayat (6) jo. UU Pasar

Modal Pasal 111. UU Perseroan Terbatas menganut asas Direksi dan Komisaris

tidak bisa berlindung di balik perseroan atas suatu kerugian, jika kerugian tersebut

terjadi karena keputusan Direksi dan Komisaris.

Menurut UU Perseroan Terbatas Pasal 97 ayat (6), dalam hal terjadi

kelalaian atau kesalahan Direksi atau Komisaris atas transaksi yang mempunyai

benturan kepentingan yang menyebabkan kerugian bagi perseroan, pemegang

saham minoritas dapat mengajukan gugatan perdata atas nama perseroan kepada

Pengadilan Negeri yang ditujukan terhadap Direksi dan Komisaris. Apabila

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Direksi dan Komisaris melalaikan meminta persetujuan pemegang saham melalui

RUPS terhadap adanya transaksi yang berbenturan kepentingan, maka pemegang

saham yang mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari jumlah seluruh saham

dengan hak suara dapat mengajukan permohonan untuk mendapatkan penetapan

Pengadilan Negeri agar diberikan kewenangan untuk melakukan Rapat Umum

Pemegang Saham (RUPS) dalam rangka transaksi yang mengandung benturan

kepentingan. Yang juga disebabkan karena telah melampaui 30 (tiga puluh) hari

sejak tanggal permintaan melakukan pemanggilan RUPS. 83 Atau pemegang

saham dapat meminta Direksi dan Komisaris untuk diperiksa dan dimintakan

keterangan sehubungan dengan tindakannya yang merugikan perseroan. Atau

tindakan lain yang dapat dilakukan oleh pemegang saham adalah meminta Direksi

dan Komisaris perseroan untuk diperiksa dan dimintakan keterangan sehubungan

karena adanya perbuatan melawan hukum yang dilakukan Direksi atau Komisaris

yang merugikan pemegang saham atau pihak ketiga. 84

Berdasarkan UU Perseroan Terbatas Pasal 97 ayat (6), Pasal 114 ayat (6)

jo. UU Pasar Modal Pasal 111, jika Direksi dan Komisaris terbukti bersalah atau

lalai, pemegang saham dapat mengadakan RUPS untuk mengganti Direksi dan

Komisaris. Kalau terbukti melanggar ketentuan tentang benturan kepentingan ini,

pemegang saham dapat menuntut ganti rugi kepada Direksi dan Komisaris atas

kerugian yang diderita perseroan yang diakibatkan oleh tindakan dari Direksi dan

Komisaris.

83
UU Perseroan Terbatas, Pasal 80.
84
Ibid. Pasal 138.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
2. Perlindungan dari Penerapan Good Corporate Governance

Telah disinggung sebelumnya bahwa selain perlindungan hukum

pemegang saham terhadap Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu yang

diberikan oleh peraturan perundang-undangan, ada juga cara lain untuk

melindungi kepentingan pemegang saham yang tergolong tindakan preventif. Cara

itu dimulai dari dalam tubuh suatu perseroan yang melakukan aktivitas dalam

pasar modal dan dengan melakukan pengelolaan dengan baik dan benar. Cara

terebut adalah dengan diterapkannya prinsip-prinsip Good Corporate Governance

dalam pengelolaan perusahaan.

Penerapan Good Corporate Governance dalam pengelolaan perusahaan

dapat memberikan perlindungan terhadap pemegang saham karena dalam Good

Corporate Governance terdapat prinsip-prinsip yang dapat melindungi

kepentingan perusahaan, pemegang saham, manajemen, Board of Directors

(BOD), dan investor serta pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan. Prinsip-

prinsip tersebut adalah fairness, transparency, accountability, dan responsibility.

Ide dasar dari Good Corporate Governance ini adalah memisahkan fungsi dan

kepentingan diantara para pihak dalam suatu perusahaan, seperti pihak yang

menyediakan modal atau pemegang saham, pengawas, dan pelaksana sehari-hari

usaha perusahaan dan masyarakat luas. Dan Good Corporate Governance juga

dijadikan sebagai suatu aturan atau standar yang mengatur prilaku pemilik

perusahaan, Direksi, manajer, dengan merinci tugas dan wewenang serta bentuk

pertanggungjawaban kepada pemegang saham. 85

85
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op cit. Hal 97.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Aturan atau standar tersebut berhubungan dengan tugas Direktur sebagai

pengelola perusahaan yang menjalankan tugasnya harus selalu bertindak jujur

(honestly) dan menggunakan ketekunan yang pantas (reasonable diligence) dalam

melaksanakan tugas jabatannya. Dan tugas Direksi dapat dibagi manjadi tiga

kelompok sebagai berikut : 86

1. Tugas yang berdasarkan kepercayaan (fiduciary duties, trust and

confident).

2. Tugas yang berdasarkan kecakapan, kehati-hatian dan ketekunan (duties

of skill, care and diligence).

3. Tugas-tugas yang berdasarkan ketentuan undang-undang (statutory

duties).

Dan aturan atau standar tersebut berkaitan dengan sebuah doktrin tentang

benturan kepentingan yaitu Oportunitas Perseroan yang mengajarkan bahwa

seorang Direktur, Komisaris, atau pegawai perseroan lainnya maupun Pemegang

Saham Utama, tidak diperkenankan mengambil kesempatan untuk mencari

keuntungan pribadi manakala tindakan yang dilakukannya tersebut sebenarnya

merupakan perbuatan yang semestinya dilakukan oleh perseroan dalam

menjalankan bisnisnya itu. Dengan kata lain, manakala ada suatu kesempatan

(opportunity) bagi perseroan dalam menjalankan bisnisnya, baik itu bisnis dalam

dunia usaha umum maupun di pasar modal, Direksi sebagai pengelola perusahaan

tidak boleh mengambil kesempatan tersebut untuk digunakan demi kepentingan

dan keuntungan pribadinya. Karena sebenarnya oportunitas perusahaan adalah

86
I.G. Rai Widjaya, Op cit. Hal 220.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
suatu hak, kepemilikan, kepentingan atau suatu harapan yang menurut sendi-sendi

keadilan merupakan milik dari perseroan. 87

Dengan demikian, pengelola perusahaan dikatakan melanggar ketentuan

benturan kepentingan apabila mereka melakukan suatu transaksi untuk

kepentingan dirinya sendiri, dimana seharusnya transaksi tersebut dilakukannya

untuk perseroan. Juga bila seorang Direksi memperoleh informasi mengenai

transaksi yang bersangkutan dalam posisinya sebagai seorang Direksi dari suatu

perusahaan yang bersangkutan, ia menggunakannya untuk kepentingan

pribadinya, bukan perseroan.

Seorang Direksi tidak boleh mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri

karena sebagai seorang Direksi, ia harus dengan sebaik-baiknya memperhatikan

kepentingan perseroan dan kepentingan para pihak termasuk pemegang saham

melebihi kepentingan pribadinya, bukan justru mengambil manfaat dari

perusahaan untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, doktrin oportunitas perusahaan

ini kadang juga disebut pengambilan keuntungan perseroan (taking of a corporate

advantage). Jadi, seorang Direksi atau pegawai perseroan tidak boleh

menguntungkan dirinya sendiri dengan merugikan kepentingan perseroan yang

diwakilinya atau perseroan tempat dimana ia seharusnya bekerja dengan sebaik-

baiknya. Berdasarkan konsep fiduciary duty dari seorang Direksi, pejabat di

perseroan atau Pemegang Saham Utama pengontrol perusahaan, oleh hukum tidak

87
Munir Fuady, Doktrin-Doktrin Modern dalam Corporate Law dan Eksistensinya dalam
Hukum Indonesia, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2002). Hal 224.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
boleh merugikan maupun membahayakan ataupun berkompetisi serta mengambil

keuntungan dari perseroan yang diwakilinya. 88

Berdasarkan tugas Direksi untuk mengelola perusahaan dengan sebaik-

baiknya, maka sudah selayaknya Direksi tersebut melakukan perbuatan yang

menguntungkan perusahaan. Jadi apabila Direksi mengalihkan keuntungan yang

seharusnya milik perusahaan menjadi milik pribadi Direksi, maka kepada Direksi

yang bersangkutan dapat dimintakan pertanggungjawabannya oleh pihak yang

dirugikan.

Ketentuan ini menjadi suatu hal yang penting sebab dalam UU Pasar

Modal terdapat fakta materil 89 yang wajib diinformasikan kepada publik. Tetapi

informasi tersebut harus diinformasikan pada waktu yang tepat, karena apabila

informasi tersebut diberikan sebelum sebelum waktunya atau bukan waktu yang

tepat menurut undang-undang, maka tindakan tersebut juga dapat dikualifikasir

sebagai perbuatan yang melanggar hukum. 90

UU Pasar Modal dan Keputusan Bapepam Nomor Kep-86/PM/1996 yang

terlampir dalam Peraturan Nomor X.K.1 tentang Keterbukaan Informasi yang

Harus Diumumkan kepada Publik, telah merinci mengenai peristiwa material

yang harus dilaporkan Emiten dan perusahaan publik, yaitu :

1. Merger, konsolidasi; pembelian saham atau pembentukan usaha patungan

2. Pemecahan saham atau pembagian dividen saham.

88
Ibid.
89
UU Pasar Modal, Pasal 1 angka 7 memuat ketentuan tentang fakta materil yaitu informasi
atau fakta penting dan relevan mengenai peristiwa, kejadian atau fakta yang dapat mempengaruhi
harga pada bursa efek dan keputusan pemodal, calon pemodal serta pihak lain yang
berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut
90
Try Widiyono, Direksi Perseroan Terbatas; Keberadaan, Tugas, Wewenang dan
Tanggung Jawab, (Bogor : Ghalia Indonesia, 2005). Hal 42.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
3. Pendapatan dan dividen yang luar biasa sifatnya.

4. Perolehan atau kehilangan kontrak penting.

5. Produk atau penemuan baru yang berarti.

6. Perubahan dalam pengendalian atau perubahan penting dalam manajemen.

7. Pengumuman pembelian kembali atau pembayaran efek bersifat utang.

8. Penjualan tambahan efek kepada masyarakat atau secara terbatas yang

material jumlahnya.

9. Pembelian atau kerugian penjualan aktiva yang meterial.

10. Perselisihan tenaga kerja yang relatif penting.

11. Tuntutan hukum yang penting terhadap perusahaan dan atau Direktur dan

Komisaris perusahaan.

12. Pengajuan tawaran untuk pembelian efek perusahan lain.

13. Penggantian akuntan yang mengaudit perusahaan.

14. Penggantian wali amanat.

15. Perubahan tahun fiskal perusahaan. 91

Dalam teori hukum perseroan, dilarangnya Direksi atau pejabat

perusahaan lainnya untuk memperoleh keuntungan pribadi dengan mengambil

kesempatan yang sebenarnya tergolong ke dalam oportunitas perseroan didasari

atas berbagai doktrin hukum perseroan, antara lain :

1. Fiduciary duties dari Direksi.

2. Conflict of interest.

3. Penyalahgunaan rahasia dagang (trade secret).

91
Bismar Nasution, Diktat Hukum Pasar Modal, (Medan : Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara, 2005). Hal 4.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
4. Penyalahgunaan daftar pelanggan.

5. Ikut campur secara melawan hukum (wrongful interference) terhadap

hubungan kontraktual.

6. Kompetisi secara tidak adil.

7. Bertentangan dengan etika bisnis. 92

Dengan penerapan Good Corporate Governance yang memisahkan fungsi

dan kepentingan dari pihak-pihak dalam suatu perusahaan tersebut maka masing-

masing pihak akan melaksanakan kewajiban masing-masing dengan sebaik-

baiknya. Hal tersebut akan mengurangi resiko terjadinya transaksi yang

mengandung benturan kepentingan. Berkurangnya resiko tersebut dapat terjadi

karena pihak pengelola perusahaan yaitu Direksi dan Komisaris akan

melaksanakan pengelolaan perusahaan dengan menjunjung tinggi hak dan

kepentingan pemegang saham yang berdasarkan tujuan perusahaan. Karena Good

Corporate Governance mengandung prinsip pengelolaan perusahaan dengan

memperhatikan keseimbangan kewenangan pelaksana perusahaan dengan

kepentingan pemegang saham serta kepentingan masyarakat luas.

Dengan adanya sikap untuk menjunjung kepentingan perusahaan dan

pemegang saham, maka Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu dapat

diminimalisasi. Disebabkan karena pihak pengelola perusahaan berdasarkan

Good Corporate Governance akan memandang kepentingan pemegang saham

sebagai sesuatu yang harus dilindungi, sehingga mereka akan menghindari

92
Munir Fuady II. Op cit. Hal 226.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
terjadinya transaksi yang mengandung benturan kepentingan. Karena transaksi

tersebut pada hakekatnya akan merugikan pemegang saham.

Selain itu, penerapan Good Corporate Governance dalam suatu

perusahaan dapat menghindari Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu dengan

cara dilaksanakannya prinsip transparansi dan pertanggung jawaban dalam

pengelolaan perusahaan. Karena dalam hal-hal dimana terdapat benturan

kepentingan (conflict of interest), pihak pengelola perusahaan dapat dilarang atau

dibatasi aktivitasnya dengan melakukan pengawasan dalam menjalankan

tugasnya. Pengawasan tersebut dapat dilakukan dengan memberlakukan prinsip

keterbukaan informasi (disclosure) terhadap setiap transaksi yang mengandung

unsur benturan kepentingan. 93

Karena keterbukaan atau transparansi ini merupakan salah satu prinsip dari

Good Corporate Governance yang sangat penting, yang ada diakomodasikan

dalam peraturan perundang-undangan dalam pasar modal, salah satunya adalah

dalam Peraturan No. IX.E.1, yang mensyaratkan ketepatan waktu dan keakuratan

informasi.

Karena tujuan prinsip keterbukaan dalam pasar modal adalah untuk

menciptakan mekanisme pasar yang efisien, maka dengan diterapkannya

kewajiban keterbukaan ini akan dapat menghindarkan atau paling tidak dapat

mengurangi kejadian yang dapat menimbulkan akibat buruk bagi investor publik.

Sebab pelaksanaan atas kewajiban keterbukaan membuat para investor dapat

memperoleh akses informasi atau fakta materil. Tanpa kewajiban keterbukaan ini

93
Ibid. Hal 62.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
mustahil dapat tercipta suatu pasar yang efisien, bahkan sebaliknya kemungkinan

bisa terjadi investor tidak memperoleh informasi atau fakta materil atau tidak

meratanya informasi bagi investor disebabkan ada informasi yang tidak di-

disclose atau terdapat suatu informasi atau fakta materil yang belum tersedia

untuk publik tetapi sudah di-disclose kepada orang-orang tertentu. 94

Perseroan mempunyai kewajiban untuk mengungkapkan informasi penting

dalam laporan berkala (seperti Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan) dan

laporan peristiwa penting perseroan yang wajib diungkapkan kepada pemegang

saham dan instansi pemerintah yang terkait sesuai dengan peraturan perundang-

undangan yang berlaku secara tepat waktu, akurat, jelas dan objektif. 95

Sehingga bila perusahaan akan melakukan transaksi tertentu, maka akan

diketahui oleh semua pihak termasuk pemegang saham, sehingga bila diketahui

transaksi yang akan dilakukan memiliki potensi benturan kepentingan, transaksi

tersebut dapat dihindari demi menjaga kepentingan dan hak dari pemegang saham.

Prinsip untuk melindungi kepentingan pemegang saham yang diajarkan

dalam Good Corporate Governance ini, juga merupakan suatu usaha untuk

memberdayakan keberadaan pemegang saham minoritas. Karena keberadaan

pemegang saham minoritas ini sangat penting, khususnya di Indonesia. Karena

Indonesia adalah negara yang sedang berkembang yang mempunyai jumlah

penduduk yang besar, maka kemampuan membeli masyarakatnya masih dalam

jumlah kecil. Dengan pendapatan perkapita yang masih belum tinggi, tentunya

potensi penduduk Indonesia untuk memiliki saham juga masih rendah. Maka dari

94
Bismar Nasution III, Op cit. Hal 2.
95
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya. Op cit. Hal 236.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
itu perlindungan terhadap pemegang saham minoritas begitu penting. Dengan

adanya perlindungan tersebut dapat merasa aman untuk melakukan investasi dan

mempunyai kekuasaan untuk menghentikan perbuatan pengelola perusahaan yang

berpotensi merugikan mereka dan perusahaan. 96 Yang pada akhirnya dapat

memulihkan perekonomian nasional dengan meningkatnya jumlah investasi.

Perlu disadari bahwa ujung tombak dari penerapan Good Corporate

Governance ini terletak pada pelaku usahanya. Karena pengembangan pasar

modal Indonesia yang difokuskan pada pemulihan dan pengembangan pelaku

pasar yang dimaksudkan untuk menghasilkan pelaku pasar modal yang kuat yang

diharapkan dapat menjadi penggerak yang tangguh bagi perekonomian nasional.

Sumber daya manusia merupakan faktor yang sangat penting dalam

mewujudkan dunia usaha yang tertib, aman dan efisien. Dan dalam pasar modal,

perkembangannya tidak akan terlepas dari pembangunan kesadaran para pelaku

usahanya.

B. Tanggung Jawab Perseroan dan Pengurus atas Benturan Kepentingan


Transaksi Tertentu

Transaksi yang mengandung benturan kepentingan adalah suatu

pelanggaran dalam aktivitas di pasar modal. Karena transaksi tersebut

menyebabkan kerugian yang diderita oleh pemegang saham. Pelanggaran seperti

ini terjadi di dalam tubuh suatu perusahaan, yang pada dalam konteks pasar modal

perusahaan tersebut adalah suatu Perseroan Terbatas (Perseroan Terbuka).

96
Ibid. Hal 98.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Karena adanya kerugian yang diderita oleh pemegang saham, maka harus

ada pertanggungjawaban terhadap kerugian tersebut. Oleh karena itu harus ada

yang dimintai pertanggungjawabannya atas pelanggaran benturan kepentingan

(conflict of interest) tersebut. Jika demikian, pertanyaan selanjutnya adalah siapa

yang harus dimintai pertanggungjawabannya? Apakah karena pelanggaran

tersebut terjadi di suatu Perseroan Terbatas, maka Perseroan Terbatas-lah yang

bertangungjawab atas kerugian tersebut?

Suatu Perseroan Terbatas, jika sudah mendapat predikat sebagai suatu

badan hukum maka diakui keberadaannya sebagai subjek hukum mandiri.97 Jika

demikian, suatu Perseroan Terbatas dapat dimintai pertanggungjawabannya.

Namun yang menjadi masalah adalah Perseroan Terbatas merupakan sesuatu yang

abstrak. Jadi permasalahan sebenarnya adalah bagaimana cara untuk meminta

pertanggungjawabannya. Untuk menjawab permasalahan ini, ada salah satu teori

tentang keberadaan Perseroan Terbatas, yaitu teori organ yang menyatakan

bahwa suatu Perseroan Terbatas diwakili oleh pengurusnya. Yang berarti bahwa

yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah pengurus dari Perseroan Terbatas

tersebut. 98

Selain itu, suatu Perseroan Terbatas, operasional usahanya diserahkan

kepada pihak yang lebih profesional yang akan bertindak sebagai Direksi

perseroan. Dan sebagai badan hukum, Perseroan Terbatas termasuk dalam salah

satu subyek hukum, yang artinya adalah sebagai pendukung hak dan kewajiban,

sama seperti subyek hukum lainnya yang dapat dimintakan pertanggungjawaban

97
Sentosa Sembiring, Op cit. Hal 29.
98
Ibid. Hal 30.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
perdata (contractuele aanspra-kelijkheid) dan atau tanggung jawab pidana

(strafrechtelijke aanspraktlijkheid). Mengenai tanggung jawab pidana berupa

penjara dan kurungan terhadap perseroan, maka yang menjalaninya adalah Direksi

pereroan yang bersangkutan. Hal ini berdasarkan konsep fiduciary duty. 99

Berdasarkan hal tersebut, diketahui bahwa pelanggaran yang terjadi di

suatu perusahaan dapat dimintai pertanggungjawabannya dari pihak pengurus atau

pengelolanya. Bahkan tidak hanya dalam suatu perusahaan, bila terjadi

pelanggaran dalam suatu badan hukum yang disebabkan oleh pengurusnya, maka

dapat dimintakan pertanggungjawabannya. Seperti dalam suatu yayasan.

Pengurus yayasan bertanggung jawab penuh atas kepengurusan yayasan, baik

untuk kepentingan dan tujuan yayasan, serta mewakili yayasan baik di dalam

maupun di luar pengadilan, sesuai dengan asas persona standi in judicio. Yang

berarti bahwa pengurus mewakili yayasan dalam membuat gugatan dan digugat.

Pengurus bertanggung jawab secara pribadi bila yang bersangkutan menjalankan

tugasnya secara tidak sesuai dengan Anggaran Dasar yayasan yang

bersangkutan. 100

Dan pelanggaran tentang benturan kepentingan transaksi tertentu di pasar

modal, pertanggungjawabannya juga dimintakan kepada pengurusnya, yaitu

Direksi dan Komisaris. Karena pada dasarnya, transaksi yang mengandung

benturan kepentingan tertentu tersebut dapat terjadi karena Direksi maupun

Komisaris melakukan pengelolaan perusahaan yang tidak sesuai dengan tujuan

perushaaan tersebut dan di luar dari wewenangnya sebagaimana yang telah


99
Try Widiyono, Op cit. Hal 25.
100
Chatamarrasjid Ais, Penerobosan Cadar Perseroan dan Soal-Soal Aktual Hukum
Perusahaan, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2004). Hal 194.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
diamanatkan dalam Anggaran Dasar (ultra vires). Dan berarti pula, bahwa Direksi

dan Komisaris tidak dapat dimintai pertanggungjawabannya apabila transaksi

yang dilakukan tersebut sudah sesuai dengan tujuan perusahaan atau Anggaran

Dasarnya.

Jadi dapat dikatakan bahwa Direksi menjalankan kepengurusan perseroan

tersebut adalah berdasarkan Anggaran Dasar dari perusahaan yang diwakilinya.

Dan Anggaran Dasar tersebut wajib dibuat berdasarkan ketentuan peraturan

perundang-undangan yang berlaku. Dan karena perusahaan berbentuk Perseroan

Terbatas maka mengacu pada UU Perseroan Terbatas. Anggaran Dasar dibuat

paling tidak mempunyai beberapa fungsi antara lain : 101

1. Anggaran Dasar merupakan penjelmaan kepentingan pemegang saham,

dimana para pemegang saham dalam mendirikan dan memiliki saham

suatu perusahaan, mempunyai harapan-harapan tertentu terhadap

perusahaan yang didirikannya yang diwujudkan dalam Anggaran Dasar

tersebut.

2. Sebagai garis-garis besar haluan perseroan yang diberikan oleh

perseroan kepada Direksi, yaitu berupa tugas-tugas yang disertai

tanggung jawab yang dituangkan dalam Anggaran Dasar.

3. Sebagai suatu kontrol terhadap Direksi oleh organ perseroan lainnya,

yaitu Komisaris dan RUPS. Dimana apabila Direksi akan melakukan

perbuatan-perbuatan hukum tertentu maka wajib terlebih dahulu

mendapatkan persetujuan tertulis dari Komisaris atau RUPS. Hal ini

101
Try Widiyono, Op cit. Hal 82.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
bertujuan agar tidak merugikan pemegang saham, sehingga kewajiban

untuk meminta peretujuan dari RUPS dan Komisaris ini merupakan

pembatasan kewenangan Direksi, terutama dalam melakukan perbuatan-

perbuatan hukum yang beresiko tinggi.

4. Berfungsi sebagai pertanggungjawaban dalam mengelola perusahaan,

yaitu dalam RUPS (tahunan) sebagai suatu forum keputusan untuk

menyetujui laporan tahunan dan pengesahan perhitungan tahunan.

Dari penjabaran beberapa fungsi dari Anggaran Dasar tersebut, dapat

dilihat bahwa Direksi memiliki tanggung jawab kepada pemegang saham. Oleh

karena itu sudah sepantasnyalah direksi melakukan pengurusan perseroan dengan

tetap menjaga kepentingan pemegang saham agar tidak dirugikan.

Transaksi yang mengandung benturan kepentingan tertentu mungkin

dilakukan dan atau difasilitasi oleh Direksi berdasarkan kekuasaannya dalam

mengelola perusahaan. 102 Dengan adanya kekuasaannya tersebut, Direksi dapat

mengambil keputusan untuk melakukan transaksi, dan kadang transaksi tersebut

dilakukan demi kepentingan Direksi atau kepentingan pihak lain, bukan demi

kepentingan pihak perseroan (ultra vires).

Untuk menghindari hal itu, Bapepam mengharuskan persetujuan mayoritas

pemegang saham independen. Jika transaksi tersebut dilakukan tanpa memenuhi

persyaratan tersebut maka tindakan Direksi dan Komisaris tersebut dianggap

sebagai tindakan yang dilakukan dengan melampaui wewenangnya (ultra vires).

102
UU Perseroan Terbatas, Op cit. Pasal 92 ayat (1) dan (2).

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Dengan demikian, tindakan Direksi dan Komisaris tersebut bertentangan dengan

UU Perseroan Terbatas Pasal 97 ayat (1) dan Pasal 114.

Berdasarkan ketentuan angka 13 Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar

Modal Nomor 32/PM/2000 tentang Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu,

maka Bapepam berwenang mengenakan sanksi dan dapat meminta

pertanggungjawaban kepada Direksi dan Komisaris sebagai pihak yang

menyebabkan terjadinya transaksi tersebut. Karena merekalah yang memfasilitasi

terjadinya transaksi yang mengandung benturan kepentingan tersebut berdasarkan

kekuasaanya dalam menjalankan atau mengelola perusahaan.

Dalam suatu perusahaan, Direksi bertanggung jawab penuh atas

pengurusan untuk kepentingan dan tujuan perusahaan tersebut. Dalam

menjalankan tugas untuk kepentingan dan usaha perusahaan, maka setiap anggota

Direksi wajib menjalankannya dengan itikad baik (in good faith) dan penuh

tanggung jawab (full responsibility). Bila tidak sesuai dengan tujuan tersebut,

maka apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya

sebagaimana yang dibebankan dan diwajibkan kepadanya, maka setiap anggota

Direksi bertanggung jawab secara penuh dan pribadi terhadap kesalahan

tersebut. 103

UU Perseroan Terbatas menegaskan bahwa Direksi hanya dapat

mempertanggungjawabkan atas kerugian perseroan yang disebabkan oleh

kesalahannya atau kelalaian Direksi karena tidak menjalankan tugas dengan itikad

baik dan penuh tanggung jawab. Sedangkan bila perseroan mengalami kerugian

103
I.G. Rai Widjaya, Op cit. Hal 215.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
sedangkan Direksi sudah mengelola perseroan dengan itikad baik dan

bertanggungjawab, maka Direksi tidak dapat dipersalahkan. Karena tugas

pengurusan perseroan yang dipercayakan kepada Direksi, akan tidak wajar dan

tidak adil bila mengharapkan menjamin atau mewajibkan Direksi harus dapat

mengelola perseroan agar mendapat untung. 104

Pasal 92 ayat (2) UU Perseroan Terbatas menegaskan bahwa Direksi

berwenang menjalankan pengurusan perseroan sesuai dengan kebijakan yang

dipandangnya tepat, dalam batas yang ditentukan dalam UU Perseroan Terbatas

dan Anggaran Dasar. Kewenangan ini sama dengan duty of retain discretion

yang merupakan bagian dari duties of loyalty and good faith yang wajib

dilaksanakan oleh Board of Directors (BOD) perseroan, misalnya di Australia dan

Inggris. Sebagai ukuran untuk mengetahui apakah anggota Direksi telah

melakukan pengurusan dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab, Pasal 97

ayat (5) UU Perseroan Terbatas menetapkan 4 (empat) kriteria kumulatif sebagai

berikut :

1. Kerugian perseroan bukan karena kesalahan atau kelalaian anggota

Direksi yang bersangkutan.

2. Anggota Direksi yang bersangkutan dengan itikad baik dan kehati-hatian

telah melakukan pengurusan untuk kepentingan dan sesuai dengan

maksud dan tujuan perseroan.

104
Fred B.G. Tumbuan, Tugas dan Wewenang Organ Perseroan Terbatas menurut Undang-
Undang Perseroan Terbatas, hal 16. Makalah disampaikan pada acara Sosialisasi Undang-Undang
tentang Perseroan Terbatas, yang diselenggarakan oleh Ikatan Notaris Indonesia (INI) pada
tanggal 22 Agustus 2007 di Jakarta.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
3. Anggota Direksi yang bersangkutan tidak mempunyai benturan

kepentingan baik langsung maupun tidak langsung yang telah

mengakibatkan kerugian.

4. Anggota Direksi yang bersangkutan telah mengambil tindakan untuk

mencegah atau berlanjutnya kerugian tersebut. 105

Tindakan Bapepam meminta pertanggungjawaban kepada perusahaan atau

pengurus mengacu kepada UU Perseroan Terbatas Pasal 97 dan UU Pasar Modal

Pasal 102 ayat (1). Dengan adanya ketentuan ini maka pengurus perseroan jelas

harus bertanggung jawab atas kesalahannya dan tidak bisa mengalihkan tanggung

jawab tersebut kepada perseroan. Karena pasal-pasal dalam UU Perseroan

Terbatas dan UU Pasar Modal tersebut, memberikan kemungkinan untuk meminta

pertanggungjawaban dari pengurus perseroan atas kesalahan dan kelalaiannya

dalam menjalankan pengurusan perseroan.

Dengan dimungkinkannya Direksi dan Komisaris untuk dimintai

pertanggungjawabannya dan dikenai sanksi dalam Peraturan IX.E.1 diharapkan

kinerja dalam pengelolaan perusahaan publik semakin baik. Dengan demikian,

maka pasar modal dapat menjadi tempat yang aman dan menarik untuk

menanamkan uangnya. 106

105
Ibid. Hal 17.
106
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op cit. Hal 254.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
C. Sanksi Atas Pelanggaran Ketentuan Benturan Kepentingan Transaksi
Tertentu

Pelanggaran terhadap benturan kepentingan merupakan kesalahan dan

kelalaian dari pengelola perusahaan yang melakukan tindakan ultra vires atau

melakukan pengelolaan di luar kewenangan sebagai Direksi mapun Komisaris.

Namun, untuk meminta pertanggungjawaban kepada Direksi dan Komisaris

terhadap kerugian yang diakibatkan karena penyalahgunaan wewenang tersebut

tidaklah mudah.

Hal ini disebabkan karena kasus ultra vires tidak sesederhana teorinya.

Sebab pembuktian pelanggaran ultra vires terkadang agak sulit. Yang disebabkan

karena dalam Anggaran Dasar perseroan terdapat tugas Direksi yang sangat luas,

yakni untuk mengurus perusahaan sesuai maksud dan tujuan perusahaan.

Permasalahannya adalah sejauh mana batasan mengurus perusahaan agar sesuai

dengan tujuan dan maksud perusahaan. Karena sepanjang transaksi bisnis

dilakukan sesuai dengan maksud dan tujuan perusahaan, maka perikatan tersebut

sulit untuk dikatakan sebagai pelanggaran ultra vires. 107

Transaksi yang mengandung benturan kepentingan adalah suatu transaksi

yang tidak biasa menurut peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal

Indonesia. Maka terhadap pelanggaran tersebut, otoritas pasar modal yaitu

Bapepam dapat mengenakan sanksi kepada para pelaku yang dianggap

107
Try Widiyono, Op cit. Hal 45.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
bertanggungjawab terhadap terjadinya transaksi yang mengandung benturan

kepentingan tersebut. 108

Terhadap setiap pelanggaran transaksi yang mengandung benturan

kepentingan transaksi tertentu, Bapepam secara tegas menyatakan bahwa siapa

saja yang dianggap bertanggungjawab akan dikenakan sanksi. Jenis sanksi untuk

pelanggaran ketentuan tentang transaksi yang mengandung benturan kepentingan

transaksi tertentu adalah sanksi administratif. Sanksinya menurut UU Pasar Modal

Pasal 102 adalah;

a. Peringatan tertulis.

b. Denda yaitu kewajiban untuk membayar sejumlah uang tertentu.

c. Pembatasan kegiatan usaha.

d. Pembekuan kegiatan usaha.

e. Pencabutan izin usaha.

f. Pembatalan persetujuan.

g. Pembatalan pendaftaran.

h. Sanksi Lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Sedangkan ketentuan mengenai sanksi denda diatur dalam UU Pasar

Modal Pasal 102 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1995 Pasal 64 dan 65.

PP Nomor 45 tahun 1995 Pasal 65 memberikan landasan hukum kepada Bapepam

untuk memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang dianggap bertanggungjawab

dan terbukti bersalah atas terjadinya transaksi yang mempunyai benturan

108
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Loc cit.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
kepentingan yang melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan dalam

pasar modal.

Untuk jumlah sanksi denda terhadap transaksi yang mengandung benturan

kepentingan ada ditentukan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995

Pasal 65, yaitu denda sebesar Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) kepada orang

perorangan yang terbukti bersalah karena melanggar ketentuan mengenai

transaksi yang mempunyai benturan kepentingan tertentu. Bila pihak yang

melakukan transaksi tersebut bukanlah perorangan, dikenakan jumlah sanksi yang

lebih besar, yaitu Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah). 109

Selain sanksi, jenis hukuman lain yang dapat juga diberikan adalah

pembekuan kegiatan usaha, pencabutan izin usaha, yang dapat diberikan kepada

perusahaan efek yang merupakan perusahaan publik. Atau juga kepada pihak

perorangan profesional yang berkecimpung dalam kegiatan pasar modal. Untuk

sanksi pembatalan pendaftaran dijatuhkan kepada perseroan yang sedang

melakukan penawaran umum. Dengan pemberian sanksi denda diharapkan pelaku

yang terjun di dalam kegiatan pasar modal tidak akan mengulangi kesalahannya.

109
Ibid. Hal 255.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dari skripsi ini, dapat ditarik beberapa

kesimpulan, yaitu :

1. Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu dalam pasar modal dapat

terjadi karena dalam suatu perusahaan dikelola dengan tidak baik dan

benar. Pengelolaan tersebut dilakukan dengan tidak transparan dan tidak

jelasnya pembagian wewenang untuk pelaksanaan tugas masing-masing.

Oleh karena itu, pengelolaan perusahaan dapat dilakukan dengan lebih

baik bila diterapkannya prinsip-prinsip Good Corporate Governance.

Karena Good Corporate Governance mengandung prinsip pengelolaan

perusahaan dengan memperhatikan keseimbangan kewenangan pelaksana

perusahaan dengan kepentingan pemegang saham serta kepentingan

masyarakat luas. Dengan adanya sikap untuk menjunjung kepentingan

perusahaan dan pemegang saham, maka Benturan Kepentingan Transaksi

Tertentu dapat diminimalisasi. Disebabkan karena pihak pengelola

perusahaan berdasarkan Good Corporate Governance akan memandang

kepentingan pemegang saham sebagai sesuatu yang harus dilindungi,

sehingga mereka akan menghindari terjadinya transaksi yang

mengandung benturan kepentingan yang berpotensi untuk merugikan

pemegang saham. Dan bila prinsip Good Corporate Governance

diterapkan dalam pengelolaan perusahaan, maka potensi untuk terjadinya

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
transaksi yang mengandung benturan kepentingan akan dapat di kurangi

bahkan ditiadakan. Karena dengan pengelolaan seperti itu, perusahaan

akan selalu transparan dan bertanggung jawab dalam segala tindakannya,

sehingga para pemegang saham akan mengetahui apa saja tindakan dari

perusahaan dan oleh karenanya akan menaikkan citra perusahaan dan

dapat menarik investor lebih banyak karena adanya rasa aman yang

diberikan oleh perusahaan.

2. Setiap perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya harus selalu

menghormati kepentingan pihak yang diwakilinya, termasuk pemegang

saham. Kepentingan pemegang saham dapat dirugikan karena tindakan

pengelola perusahaan yang lebih mementingkan kepentingan pribadinya.

Oleh karena itu, kedudukan pemegang saham dan usaha untuk melindungi

kepentingannya harus diperhatikan demi menjaga kelancaran aktivitas

usaha dan penegakan hukum. Usaha untuk memberikan perlindungan

terhadap kepentingan pemegang saham sebenarnya sudah ada dalam UU

Perseroan Terbatas dan Anggaran Dasar karena sebenarnya peraturan-

peraturan tersebut memang di buat untuk itu. Peraturan tersebut

memungkinkan para pemegang saham untuk menempuh jalur hukum bila

kepentingan mereka dirugikan. Namun, pemegang saham perlu

memahami hak menggunakan hak untuk melindungi kepentingan secara

proaktif. Kemudian bentuk perlindungan terhadap kepentingan pemegang

saham terhadap benturan kepentingan transaksi tertentu ada dan diberikan

dalam UU Pasar Modal beserta peraturan pelaksananya, yaitu Peraturan

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
No.IX.E.1 tentang Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu. Dimana

Bapepam mempunyai kapasitas untuk menegakkan peraturan perundang-

undangan di bidang pasar modal yang berkaitan dengan transaksi

benturan kepentingan tertentu, yaitu dengan kewenangan Bapepam untuk

mengenakan sanksi terhadap pihak yang melakukan pelanggaran

ketentuan ini. Selanjutnya UU Pasar Modal dan Peraturan No.IX.E.1 juga

menentukan agar diterapkannya prinsip keterbukaan dan pemberdayaan

pemegang saham independen di dalam proses pengambilan keputusan

sebagai sarana hukum untuk mencegah terjadi transaksi benturan

kepentingan tertentu. Penerapan prinsip keterbukaan dan pemberdayaan

pemegang saham independen merupakan sarana preventif..

B. SARAN

Agar aspek penegakan hukum dalam pasar modal dapat ditegakkan,

khususnya ketentuan mengenai benturan kepentingan transaksi tertentu, maka

disarankan agar dilaksanakan langkah-langkah berikut :

1. Mengidentifikasikan secara lebih jelas bagaimana situasi yang dapat

disebut sebagai benturan kepentingan, sehingga dapat dihindari sedini

mungkin pelaksanaannya.

2. Meningkatkan penerapkan Good Corporate Governance dalam

pengelola perusahaan sebagai salah satu cara untuk memberdayakan

keberadaan pemegang saham dan sebagai bentuk perlindungan terhadap

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
kepentingan pemegang saham serta untuk meningkatkan nilai

perusahaan dalam masyarakat.

3. Perlunya peningkatan moral bagi pelaku usaha agar tidak melakukan

pelanggaran hukum di bidang pasar modal, karena bagaimanapun

pelanggaran hukum dapat saja terjadi bila kesadaran hukum dari

pelakunya sangat rendah.

4. Diharapkan agar pihak pengelola perusahaan menjaga hubungan yang

baik dengan stakeholders, baik dengan lembaga bisnis, lembaga

pemerintah ataupun lembaga nirlaba serta mensosialisasikan kebijakan

dan etika bisnis (code of conduct) perusahaan agar semua pihak

mengerti dan percaya apabila melakukan transaksi dengan perusahaan.

5. Perlunya ada semacam penegasan dari peraturan dalam pasar modal,

demi untuk lebih dapat mengurangi pelanggaran yang ada. Karena

selama ini banyak kasus pelanggaran yang terjadi tidak sampai ke

Pengadilan.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Ais, Chatamarrasjid, Penerobosan Cadar Perseroan dan Soal-Soal Aktual Hukum


Perusahaan, Bandung : Citra Aditya Bakti, 2004.

Fuady, Munir, Doktrin-Doktrin Modern dalam Corporate Law dan Eksistensinya


dalam Hukum Indonesia, Bandung : Citra Aditya Bakti, 2002.

________, Pasar Modal Modern (Tinjauan Hukum), Buku Kedua, Bandung: Citra
Aditya Bakti, 2003.

Hartono, Sri Redjeki, Kapita Selekta Hukum Perseroan, Bandung : Mandar Maju,
2000.

Ibrahim, Johannes, Hukum Organisasi Perusahaan ; Pola Kemitraan dan Badan


Hukum, Bandung : Refika Arditama, 2006.

Kansil, C.S.T. dan Christine S.T. Kansil, Pokok-Pokok Hukum Pasar Modal,
Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1997.

Nasarudin, M. Irsan dan Indra Surya, Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia,
Jakarta: Prenada Media, 2004.

Nasution, Bismar, Keterbukaan dalam Pasar Modal, Jakarta : Program Pasca


Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2001.

________ Diktat Hukum Pasar Modal, Medan : Fakultas Hukum Universitas


Sumatera Utara, 2005.

Pramono, Nindyo, Bunga Rampai Hukum Bisnis Aktual, Bandung : Citra Aditya
Bakti, 2006.

Sembiring, Sentosa, Hukum Perusahaan tentang Perusahaan Terbatas, Bandung:


Nuansa Aulia, 2006.

Simanjuntak, Cornelius dan Natalie Mulia, Merger Perusahaan Publik ; Suatu


Kajian Hukum Korporasi, Bandung : Citra Aditya Bakti, 2006.

Tjager, I Nyoman, dkk, Corporate Governance ; Tantangan dan Kesempatan bagi


Komunitas Bisnis Indonesia, Jakarta : PT. Prenhallindo, 2003.

Widiyono, Try, Direksi Perseroan Terbatas; Keberadaan, Tugas, Wewenang dan


Tanggung Jawab, Bogor : Ghalia Indonesia, 2005.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
Widjaya, I.G. Rai, Hukum Perusahaan; Undang-Undang dan Peraturan
Pelaksanaan di Bidang Usaha, Jakarta : Kesaint Blanc, 2002.

Makalah :

Tumbuan, Fred B.G. Tugas dan Wewenang Organ Perseroan Terbatas menurut
Undang-Undang Perseroan Terbatas. Makalah disampaikan pada acara
Sosialisasi Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas, yang
diselenggarakan oleh Ikatan Notaris Indonesia (INI) pada tanggal 22
Agustus 2007 di Jakarta.

Peraturan Perundang-undangan :

UU Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

UU Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU Perseroan Terbatas).

Keputusan Ketua Bapepam Nomor 32/PM/2000 tentang Benturan Kepentingan


Transaksi Tertentu (Peraturan Nomor IX.E.1).

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia, No : 503/KMK.01/1997


tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Pasar Modal.

Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good


Corporate Governance bagi Bank Umum.

Keputusan Menteri Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor Kep-117/M-


MBU/2002 tentang Penerapan Praktek Good Corporate Governance
pada BUMN.

Keputusan Direksi Bursa Efek Jakarta Nomor Kep.BEJ.305/2004 (Peraturan


No.1-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain
Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat).

Situs Internet :

http://Elnusa.wordpress.com/2007/06/18/mengelola-benturan-kepentingan.

http://www.korantempo.com/news/2004/11/18/Opini/48.

http://bismarnasty.files.wordpress.com/2007/06.

http://Jafis.wordpress.com/2007/10/22/good-corporate-governance.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008
http://Businessenvironment.wordpress.com/2006/10/18.

http://Kunami.wordpress.com/2007/11/09.Pelaksanaan-Good-Corporate
Governance.

http://www.bpkp.go.id,

http://www.Bapepam.go.id/old/hukum/peraturan/emiten/IX.I.4.htm.

http://www.Bapepam.go.id/old/profil/fungsi/index.htm.

http://www.Bapepam.go.id/ Annual Report/ GCG_2002.

Heriyansyah Putra : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dalam Rangka Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Saham Dalam Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Di Pasar Modal, 2008
USU Repository 2008