Anda di halaman 1dari 19

Charging for Service

Keuangan Negara dan Daerah

Oleh:

Norfadilla 1410531036
Yulia Efrina 1410531041
Olivia Solina 1410531044

Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi


Universitas Andalas
Padang
2017
CHARGING FOR SERVICE

Undang-undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik menyebutkan bahwa


pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara
dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang diselenggarakan oleh
penyelenggara pelayanan publik.
Salah satu penyelenggara pelayanan publik adalah Pemerintah. Pemerintah memiliki
tugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan dibiayai oleh dua sumber
yaitu (1) pajak dan (2) pembebanan langsung kepada masyarakat sebagai konsumen jasa
publik (charging for service) (Mardiasmo, 2009). Apabila dibiayai melalui pajak, masyarakat
yang menikmati jasa publik ataupun tidak diwajibkan untuk membayarnya. Sedangkan
pembiayaan melalui pembebanan langsung, masyarakat yang menikmati jasa publik secara
langsung yang wajib membayarnya, sedangkan yang tidak menikmati tidak diwajibkan untuk
membayarnya Pada bab ini penulis akan mengupas tentang bagaimana cara penentuan harga
pelayanan publik yang memiliki prinsip efisien dan keadilan, sehingga tekanan dari
masyarakat berupa pelayanan publik yang murah dan berkualitas dapat terpenuhi.

A. Jenis-Jenis Pelayanan

Kewajiban Pemerintah adalah memberikan pelayanan publik yang menjadi hak setiap
warga negara ataupun memberikan pelayanan kepada warganegara yang memenuhi
kewajibannya terhadap negara. Kewajiban pemerintah, maupun hak setiap warga negara
pada umumnya disebutkan dalam konstitusi suatu negara. Bentuk pelayanan publik yang
diberikan kepada masyarakat dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis pelayanan, yaitu :
a. Pelayanan administratif. Yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk dokumen
resmi yang dibutuhkan oleh publik, misalnya status 17 kewarganegaraan, sertifikat
kompetensi, kepemilikan atau penguasaan terhadap suatu barang dan sebagainya.
Dokumendokumen ini antara lain Kartu Tanda Pendudukan (KTP), akte Kelahiran,
Akte Kematian, Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), Surat Ijin Mengemudi
(SIM), Surat Tanda Kendaraan Bermotor (STNK), Ijin Mendirikan Bangunan (IMB),
Paspor, Sertifikat kepemilikan atau penguasaan Tanah dan sebagainya.
b. Pelayanan barang. Yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk atau jenis
barang yang digunakan oleh publik, misalnya jaringan telepon, penyediaan tenaga
listrik, air bersih dan sebagainya.
c. Pelayanan jasa. Yaitu pelayanan yang menghasikan berbagai bentuk jasa yang
dibutuhkan oleh publik, misalnya pendidikan, pemeliharaan kesehatan,
penyelenggaraan transportasi, pos dan sebagainya.

Pola Pelayanan Publik


a. Pola Pelayanan Teknis Fungsional
Adalah pola pelayanan masyarakat yang diberikan oleh suatu instansi
pemerintah sesuai dengan bidang tugas, fungsi dan kewenangannya.
b. Pola Pelayanan Satu Pintu
Merupakan pola pelayanan masyarakat yang diberikan secara tunggal oleh
suatu unit kerja pemerintah berdasarkan pelimpahan wewenang dari unit kerja
pemerintah terkait lainnya yang bersangkutan.
c. Pola Pelayanan Satu Atap
Pola pelayanan disini dilakukan secara terpadu pada satu instansi pemerintah
yang bersangkutan sesuai kewenangan masing-masing.
d. Pola Pelayanan Terpusat
Adalah pola pelayanan masyarakat yang dilakukan oleh suatu instansi
pemerintah yang bertindak selaku koordinator terhadap pelayanan instansi
pemerintah lainnya yang terkait dengan bidang pelayanan masyarakat yang
bersangkutan.
e. Pola Pelayanan Elektronik
Adalah pola pelayanan yang menggunakan teknologi informasi dan
komunikasi yang merupakan otomasi dan otomatisasi pemberian layanan yang
bersifat on-line sehingga dapat menyesuaikan diri dengan keinginan dan kapasitas
pelanggan.

Pelayanan Dikategorikan Dalam Beberapa Klasifikasi:


1. Pelayanan yang berbasis pada orang yang dibedakan menurut kecakapannya :
a. Pelayanan Amatir
Pelayanan amatir dilakukan oleh tenaga yang belum memiliki keterampilan
tertentu atau belum terlatih (non skill). Contoh : pengetik komputer dan operator
telepon tertentu yang belum mengikuti kursus, latihan atau sudah mengikuti latihan
tetapi belum terampil.
b. Pelayanan Professional
Adalah memampuan menanggapi kebutuhan, menyelesaikan tugas, keluhan
masalah dengan kualitas excelence. Pelayanan professional seseorang atau lebih
lembaga tertentu, mendapat pengkuan dari pelanggan (masyarakat) dan legalitas
atau izin dari intansi tertentu.Contoh : Pelayanan kesehatan manusia dilayani oleh
paramedis, dokter (dokter umum, spesialis, ahli rontgen dan ahli gizi).
2. Pelayanan yang berkaitan dengan kegiatan organisasi:
a. Pelayanan bantuan administrastratif
Pelayanan ini berupa pemberian izin atau legalitas, pemberian rekomendasi,
fasilitas tertentu. Contoh : izin menanamkan indutri tambang.
b. Pelayanan bantuan operasional
Contoh ; pelayanan pengujian kelaikan teknis kendaraan bermotor, laik laut
kapal, laik udara pesawat, pelayanan operasional teknologi dan jasa.
c. Pelayanan teknis operasional
Contoh : Pelayanan informasi dan data oleh operator, pelayanan operasional
sarana kerja, seperti ahli operator telepon, komputer, alat elektronik dan teknologi
modern.
d. Pelayanan bantuan manajemen
Misal, pelayanan bantuan sumber daya manusia berupa proses seleksi
pengadaan tenaga yang tepat kualifikasi. Pelayanan bantuan manajemen keuangan
dengan ahli perencanaan anggaran, akuntansi atau auditor.
3. Pelayanan yang berkaitan dengan sarana kerja
Pelayanan yang membantu kesiapan operasional dan perpanjangan usia pakai
(kelaikan teknis, ekonomis) sarana kerja atau benda, diberikan oleh penguji teknis,
mutu, ahli pemeliharaan dan perawatan.
Pelayanan pengujian sarana serta pengujian kelaikan teknis kendaraan bermotor,
kelaikan kapal laut, pesawat udara dan timbangan.
Pelayanan operasional sarana oleh tenaga terampil bersertifikat seperti kapten
kapal, pilot, sopir.
Pelayanan instalasi air, lisitrik, pemadam kebakaran, alat-alat kantor yang
berteknologi modern, elektronik, komputer dan lain-lain.
Jenis Jasa Layanan Dapat Diklasifikasikan :
1. Jasa layanan yang ditujukan atau dibutuhkan manusia
Secara umum manusia ingin mendapat layanan bantuan dalam memenuhi
memuaskan berbagai keperluan, kebutuhannya antara lain :
Kebutuhan biologis, contoh : kemudahan mendapatkan makanan, minuman yang
layak konsumsi.
Kebutuhan keamanan, contoh : rasa aman bertempat tinggal pada suatu
lingkungan
Kebutuhan sosial, contoh : keinginan dapat bersahabat, berinteraksi dengan rekan
sekerja
Kebutuhan penghargaan, contoh : ingin dihormati
Kebutuhan aktualisasi diri, contoh : ingin menunjukkan suatu prestasi gemilang
Kebutuhan informasi, contoh keinginan memperoleh pengetahuan yang dapat
membuat cepat mandiri.
Kebutuhan hiburan, rekreasi, contoh : liburan ke bali
Kebutuhan kesehatan, contoh : pelayanan kesehatan
Kebutuhan mobilitas, contoh : angkutan yang tepat sampai ke tempat yang
ditujukan.
Kebutuhan keadilan, contoh : ingin mendapat penilaian objektif atas prestasi kerja
atau atas suatu perbuatan
Kebutuhan mendapat pekerjaan yang layak, contoh : ingin mendapat tugas,
pekerjaan yang tepat dengan keahlian.
2. Jasa layanan yang ditujukan atau dibutuhkan organisasi atau individu
Kebutuhan mendapatkan izin. Contoh : ijin mendirikan bangunan atau ijin
membuka praktek.
Bantuan manajemen, contoh : bantuan menyeleksi calon pegawai yang tepat
kualifikasi.
Bantuan sumber daya. Contoh : ingin mendapatkan modal kerja atau bantuan
biaya pembangunan yang berbunga rendah
Keamanan, contoh : contoh adanya perusahaan yang bersedia menanggung resiko
kebakaran.
Sarana angkutan, contoh : adanya jasa angkutan umum ke lokasi kantor /
perusahaan.
3. Jasa layanan yang ditujukan, dibutuhkan pada benda, hewan, dan tanaman.
Jasa angkutan / distribusi
Penyimpanan
Penjagaan keamanan
Garansi
Rancangan / model yang menarik

Pelayanan Publik yang Dapat Dijual


Dalam memberikan memberikan pelayanan public, pemerintahan dapat
dibenarkan menarik tarif untuk pelayanan tertentu baik secara langsung atau tidak
langsung melalui perusahaan milik pemerintah. Beberapa pelayanan public yang dapat
dibebankan tarif pelayanan misalnya :
1. Penyediaan air bersih.
2. Transportasi public.
3. Jasa pos dan telekomunikasi.
4. Energy dan listrik.
5. Perumahan rakyat.
6. Fasilitas rekreasi (pariwisata).
7. Pendidikan.
8. Jalan tol.
9. Irigasi.
10. Jasa pemadaman kebakaran.
11. Pelayanan kesehatan.
12. Pengolahan sampah/limbah.

Pembebanan tarif pelayanan public kepada konsumen dapat dibenarkan karena


beberapa alasan, yaitu :
1. Adanya barang privat dan barang public
2. Efisiensi ekonomi
3. Prinsip keuntungan

1. Adanya barang privat dan barang public


Terdapat 3 jenis barang yang menjadi kebutuhan masyarakat, yaitu :
1. Barang privat
Yaitu barang-barang kebutuhan masyarakat yang manfaat barang atau jasa tersebut
hanya dinikmati secara individual oleh yang membelinya, sedangkan yang tidak
mengkonsumsi tidak dapat menikmati barang/jasa tersebut.Contoh : makanan, listrik
dan telepon.
2. Barang publik
Yaitu barang-barang kebutuhan masyarakat yang manfaatnya dinikmati oleh seluruh
masyarakat secara bersama-sama.Contoh : pertahanan nasional, pengendalian
penyakit, jasa polisi.
3. Campuran antara barang privat dan publik
Dalam kenyataannya, terdapat beberapa barang dan jasa yang merupakan campuran
antara barang privat dan barang public. Karena, meskipun dikonsumsi secara
individual seringkali masyarakat secara umum juga membutuhkan barang dan jasa
tersebut. Contoh : pendidikan kuliah, pelayanan kesehatan, transportasi public, dan air
bersih. Barang barang tersebut sering disebut dengan merit good karena semua orang
membutuhkannya akan tetapi tidak semua orang bisa mendapatkan barang dan jasa
tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan barang tersebut pemerintah dapat
menyediakannya secara langsung (direct public privision), memberikan subsidi, atau
mengontrakkan ke pihak swasta. Sebagai contoh pendidikan, meskipun pemerintah
bertanggungjawab untuk menyediakan pendidikan, namun bukan berarti barang
tersebut sebagai pure public good yang harus dibiayai semuanya dengan pajak dan
dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. Dapat saja sektor swasta terlibat dalam
penyediaan pelayanan pendidikan tersebut.Karenamemilikikebutuhan yang
berbedadari setiap makawajarjikaadapembebanantarif.
Terdapat kesulitan membedakan barang public dan barang barang privat.
Beberapa sebab kesulitan membedakan barang public dengan barang privat tersebut
antara lain :
Batasan antara barang public dan barang privat sulit untuk ditentukan.
Terdapat barang dan jasa yang merupakan barang/jasa public, tapi dalam
penggunaannya (konsumsi) tidak dapat dihindari keterlibatan beberapa elemen
pembebanan langsung. Contohnya adalah biaya pelayanan medis, tariff obat-
obatan, dan air. Pembebanan terhadap pemanfaatan barang tersebut memaksa
orang untuk berhati-hati dalam mengkonsumsi sumber-sumber yang mahal
atau langka.
Terdapat kecenderungan untuk membebankan tarif pelayanan daripada
membebankan pajak karena pembebanan tarif lebih mudah pengumpulannya.
Jika digunakan pajak, maka akan terdapat kesulitan dalam menentukan besar
pajakyang pantas dan cukup. Sedangkan jika digunakan pembebanan tarif
pelayanan, orang harus membayar untuk memperoleh jasa yang
diinginkannya, dan mungkin bersedia untuk membayar lebih tinggi
dibandingkan dengan tarif pajak. Terdapat argument yang menyatakan bahwa
pembebanan pada dasarnya demokratis karena orang dapat memilih barang
apa yang ingin mereka bayar dan apa yang tidak mereka inginkan, sehingga
pola pengeluaran public dapat diarahkan menurut pilihan mereka.

2. Efisiensi Ekonomi
Ketika setiap individu bebas menentukan banyaknya barang dan jasa yangmereka
ingin konsumsi, mekanisme harga memiliki perang penting dalam mengalokasikan
sumber daya melalui:
Ditribusian permintaan, pihak yang mendapatkan manfaat paling banyak harus
membayar lebih banyak pula
Pemberian insentif untuk menghindari pemborosan
Pemberian insentif pada suplier berkaitan dengan skala produksi
Pnyediaan sumber daya pada supplier untuk mempertahankan dan meningkatkan
persediaan jasa(supply of service)
Tanpa adanya suatu mekanisme harga,permintaan dan penawaran tidak mungkin
menuju titik keseimbngn sehingga alokasi sumber daya tidak efisien, seperti : penyediaan
air dan obatan. Akan tetapi dalam kenyataannya pasar seringkali tidak sempurna. Dalam
banyak hal pemerintah mungkin menjadi supplier namun tidak boleh memanfaatkan
situasi ini sebagai peningkatan keuntungan. Untuk barang publik pemerintah lebih baik
menetapkan harga di bawah harga normalnya (full price) atau bahkan tanpa dipungut
biaya.
Mekanisme pembebanan tarif pelayanan merupakan salah satu cara untuk
menciptakan keadilan dalam distribusi pelayanan publik. Mereka yang emanfaatkan
pelayanan publik lebih banyak akan membayar lebih banyak pula. Pembebanan tarif
pelayanan akan mendorong efisiensi ekonomi karena setiap orang dihadapkan pada
masalah pilihan karena adanya kelangkaan sumber daya. Jika diberlakukan tarif,maka
setiap orang dipaksa berpikir ekonomis dan tidak boros.

3. Prinsip Keuntungan
Ketika pelayanan tidak dinikmati oleh semua orang, pembebanan langsung kepada
masyarakat yang menerima jasa tersebut dianggap wajar bila didasarkan prinsip bahwa
yang tidak menikmati manfaat tidak perlu membayar. Jadi pembebanan hanya dikenakan
kepada masyarakat atau mereka yang diuntungkan kepada pelayanan tersebut.
Pembebanan tarif pelayanan publik pada dasarnya juga menguntungkan pemerintah
karena dapat digunakan sebagai salah satu sumber penerimaan pemerintah.hanya saja
pemerintah tidak boleh melakukan maksimasi keuntungan,bahkan lebuh baik menetapkan
harga dibawah full cost,memberikan subsidi atau memberikannya secara gratis.

Charging Service
Charging atau tarif atau retribusi dengan pricing policies atau harga merupakan
suatu sistem pembayaran atau sistem tagihan biaya terhadap konsumsi suatu barang dan
jasa tertentu yang disediakan oleh pemerintah daerah.
Salah satu tugas pokok pemerintah adalah memberikan pelayanan kepada
masyarakat (public services). Pemberian pelayanan public pada dasarnya dibiayai melalui
2 sumber, yaitu:
1. Pajak. Jika pelayanan public dibiayai dengan pajak, maka setiap wajib pajak harus
membayar tanpa mempedulikan apakah dia menikmati secara langsung jasa public
tersebut atau tidak. Hal tersebut dikarenakan pajak merupakan iuran masyarakat
kepada negara yang tidak memiliki jasa timbal balik (kontraprestasi) individual yang
secara langsung dapat dinikmati oleh pembayar pajak.
2. Pembebanan langsung kepada masyarakat sebagai konsumen jasa public ( charging
for service ).Jika pelayanan public dibiayai melalui pembebanan langsung, maka yang
membayar hanyalah mereka yang memanfaatkan jasa pelayanan public tersebut,
sedangkan yang tidak menggunakan tidak diwajibkan untuk membayar.

Sebagaimana didefinisikan Pasal 1 Ayat (5) Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.
Per-02/Men/1999 Tahun 1999 Tentang Pembagian Uang Service Pada Usaha Hotel,
Restoran Dan Usaha Pariwisata Lainnya (PERMEN 02/1999), uang service adalah
tambahan dari tarif yang sudah ditetapkan sebelumnya dalam rangka jasa pelayanan pada
usaha hotel, restoran dan usaha pariwisata lainnya. Uang service merupakan milik dan
menjadi bagian pendapatan bagi pekerja yang tidak termasuk sebagai komponen upah
(Pasal 2 Ayat (1) PERMEN 02/1999).
Pasal 3 PERMEN 02/1999 mengatur pengumpulan dan pengelolaan administrasi
uang service sebelum dibagi (kepada pekerja), yang dilakukan sepenuhnya oleh
pengusaha. Setelah terkumpul, dilakukan pembagian uang service sesuai dengan
kesepakatan antara pengusaha dan pekerja yang ditetapkan sebelumnya (Lihat Pasal 6 Ayat
(1) PERMEN 02/1999). Praktiknya, kesepakatan mengenai pembagian uang service dapat
dicantumkan pada Perjanjian Kerja Bersama Perusahaan.
Sekarang kita ketahui, pembagian uang service pada dasarnya diperuntukan
sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan bagi pekerja. Hal tersebut juga
ditegaskan Surat Edaran Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Dan
Pengawasan Ketenagakerjaan Nomor Se-04/Bw/1999 Tahun 1999 Tentang Petunjuk
Pelaksanaan PERMEN 02/1999 (SE 04/1999). Sedangkan mengenai besarnya service
charge, poin pertama dari SE 04/1999 menyebutkan:
uang service sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (5) ditetapkan sebesar 10% dari
tarif adalah mengacu pada Keputusan Menteri Perekonomian No. 708 tahun 1956
Tentang Perusahaan yang Menyediakan Tempat Penginapan Termasuk Makanan, dan
Keputusan Menteri pariwisata, Pos dan Telekomunikasi No. KM.95/ HK103/ MPPT-87
tahun 1987 Tentang Ketentuan Usaha dan penggolongan Restoran.

Jadi, berdasar SE 04/1999, pengusaha dapat mengenakan maksimal 10


% service chargeatas layanannya. Namun, pada praktiknya besarnya pengenaan service
charge berbeda-beda. Ada pengusaha restoran dan tempat hiburan yang membebankan
5 % atau bahkan 10 % service charge, dan memang pengenaan service charge pada
pelanggan bukanlah suatu keharusan bagi pengusaha. Jadi, bisa saja pengusaha tidak
mengenakan uang service sama sekali.

PenetapanHargaPelayanan (Harga yang HarusDibebankan)

Jika pemerintah tidak membebankan biaya pelayanan kepada konsumennya, maka


pemerintah harus memutuskan berapa beban yang pantas dan wajar atau dengan kata lain
berapa harga pelayanan yang akan ditetapkan. Aturan yang biasa dipakai adalah bahwa
beban (Charge) dihitung sebesar total biaya untuk menyediakan pelayanan tersebut (Full
cost recovery). Akan tetapi untuk menghitung biaya total tersebut terdapat beberapa
kesulitan, karena :

1) Kita tidak tahu secara tepat berapa biaya total (full cost) untuk menyediakan suatu
pelayanan. Oleh karena itu, kita perlu memperhitungkan semua biaya sehingga dapat
mengindentifikasi biaya secara tepat untuk setiap jenis pelayanan. Namun tidak
boleh terjadi pencampuradukan biaya untuk pelayanan yang berbeda atau harus ada
prinsip different costs for different purposes.
2) Sangat sulit mengukur jumlah yang dikonsumsi. Karena jumlah biaya untuk
melayani sau orang dengan orang lain berbeda-beda, maka diperlukan pembedaan
pembebanan tarif pelayanan.
3) Pembebanan tidak memperhitungkan kemampuan masyarakat untuk membayar. Jika
orang miskintidak mampu membayar suatu pelayanan yang sebenarnya vital, maka
mereka harus disubsidi. Mungkin perlu dibuat diskriminasi harga atau diskriminasi
produk untuk menghindari subsidi.
4) Biaya apa saja yang harus diperhitungkan. Aturan umumnya adalah bahwa kita harus
memasukkan bukan saja biaya operasi dan pemeliharaan, akan tetapi juga biaya
penggantian barang modal yang sudah usang (kadaluwarsa), dan biaya penambahan
kapasitas. Prinsip tersebut disebut marginal costs pricing.

Ahli ekonomi umumnya menganjurkan untuk menggunakan marginal costs pricing,


yaitu tarif yang dipungut seharusnya sama dengan biaya untuk melayani konsumen
tambahan (costs of serving the marginal consumer). Marginal costs pricing mengacu
pada harga pasar yang paling efisien (economically efficient price), karena pada tingkat
harga tersebut (ceteris paribus) akan memaksimalkan manfaat ekonomi dan penggunaan
sumber daya yang terbaik. Masyarakat akan memperoleh peningkatan output dari barang
atau jasa sampai titik dimana marginal costs sama dengan harga.
Penetapan harga pelayanan publik dengan menggunakan marginal cost pricing,
setidaknya harus memperhitungkan :
1) Operasi biaya variabel (variable operating cost)
2) Semi variable overhead cost seperti biaya modal atas aktiva yang digunakan untuk
memberikan pelayanan.
3) Biaya penggantian atas aset modal yang digunakan dalan penyediaan pelayanan
4) Biaya penambahan aset modal yang digunakan untuk memenuhi tambahan
permintaan.

Pembebanan biaya untuk penyediaan pelayanan publik memiliki kesulitan dalam


menetapkan tariff. Pemerintah di tuntut untuk tepat dan efektif dalam menentukan tarif.
Penetapan harga didasari pada penyediaan barang dan jasa yang akan diberi, tetapi sangat
sulit untuk menentukan harga yang tepat. Maka dari itu harus ada perhitungan yang tepat
dalam menentukan harga tersebut, bisa melalui biaya produksi, biaya overhead, atau
biaya tenaga kerja langsung.
Meskipun sangat sulit mengukur jumlah tarif pelayanan yang dikonsumsi masyarakat
namun pada prinsipnya pembebanan harus merefleksikan biaya total(fullcost) untuk
menyediakan pelayanan tersebut. Sehingga tidak terlihat tindak ketidak adilan dalam
pembebanan tarif pelayanan pada masyarakat.
Dalam pembebanan penetapan harga pelayanan publik tidak memperhitungkan
mampu atau tidaknya masyarakat membayar barang atau jasa dari pelayanan tersebut.
Sehingga masyarakat yang kurang mampu,tidak bisa menggunakan pelayanan tersebut.
Oleh karena itu pemerintah seharusnya memberikan subsidi sehingga masyarakat yang
kurang mampu juga bisa merasakan pelayanan tersebut dalam pemenuhan kebutuhannya.

Gross Margin Pricing

Tergantung pada tujuannya, pemerintah mempunyai banyak pilihan berkaitan


dengan keputusan penyediaan barang atau jasanya:
1. Dapat dijual dengan harga pasar.
2. Dijual dengan tingkat harga tertentu yang berbeda dengan harga pasar.
3. Diberikan secara gratis kepada para konsumennya.
Keputusan penentuan harga oleh pemerintah ditujukan untuk memperbaiki
alokasi sumber daya ekonomi pada sektor publik. Dalam perekonomian, tingkat harga
merupakan suatu tanda tingginya nilai yang merupakan kesediaan konsumen untuk
membayar atas barang yang dihasilkan oleh produsen, sekaligus merupakan tingginya
biaya untuk menghasilkan barang tersebut oleh produsen.
Dalam mekanisme pasar barang pribadi yang bersifat persaingan sempurna,
untuk menentukan tingkat keseimbangan, berlaku hukum bahwa harga sama dengan
biaya marginal (marginal cost) dan sama dengan pendapatan marjinal (marginal
revenue) bagi produsen,
P=MC=MR

Dimana:

p = harga
MC = marginal cost / biaya marginal
MR = marginal revenue / pendapatan marginal.
Sehingga, apabila konsumen akan memaksimalkan kepuasannya, pada tingkat
equilibrium (persetujuan dalam penentuan harga barang antara produsen dengan
konsumen) , konsumen akan membeli barang-barang sampai tercapai kondisi
equilibrium tersebut.
Pada dasarnya, tugas pemerintah adalah menyediakan barang untuk
kepentingan orang banyak dengan harga murah. Dengan demikian, pemerintah akan
ditekan oleh kekuatan politik untuk tidak mengambil keuntungan dari barang atau jasa
yang dihasilkannya. Itulah sebabnya, pemerintah seringkali menetapkan harga
dibawah tingkat harga yang sebenarnya untuk memberikan perlindungan kepada
konsumen barang tersebut. Konsekuensinya, keputusan pemerintah ini menimbulkan
ketidak efisienan atau terjadi pemborosan apabila dipandang dari ilmu ekonomi,
karena konsumen menilai barang atau jasa yang disediakan oleh pemerintah terlalu
mudah diperoleh. Contoh yang dapat digunakan adalah penyediaan publik utilities
oleh pemerintah, seperti air minum dan listrik. Pemerintah tidak diharapkan untuk
memperoleh keuntungan dari penyediaan barang yang dibutuhkan oleh masyarakat
banyak itu, sehingga pemerintah dapat menetapkan harga tertinggi. Pemerintah hanya
menutup biaya totalnya yang mengakibatkan perusahaan- perusahaan pemerintah
penyedia barang public utilities akan tetap dapat berjalan tanpa mengalami kerugian.
Akan tetapi, situasi penyediaan public utilities tersebut tidak berlaku untuk
seluruh barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah. Perusahaan yang mengelola
public utilities yang harus menjual produksinya tanpa memperoleh keuntungan sama
sekali akan mengalami permasalahan dalam ekspansi atau melakukan perluasan
usaha. Maka, pemerintah akan mengarahkan perusahaan pada kondisi bahwa, selain
menghasilkan barang dan jasa sebanyak mungkin untuk mencukupi kebutuhan rakyat
banyak, perusahaan juga diijinkan memperoleh keuntungan dalam jumlah tertentu.
Pemerintah akan menetapkan jumlah keuntungan maksimum, kemudian
konsumen akan membayar jumlah diatas nilai yang ditetapkan sebelumnya pada saat
zero profit. Pada kondisi ini, konsumen tidak terlalu dibebankan tingkat harga yang
terlalu tinggi, tetapi produsen masih dapat melakukan perluasan usaha untuk
menambah investasinya.
Penggunaan marginal cost pricing memiliki beberapa permasalahan, antara
lain :
Sulit untuk memperhitungkan secara tepat marginal cost untuk jasa tertentu, dalam
praktik, kadang biaya rata-rata (average cost) digunakan sebagai pengganti walau
hal ini menyimpang dari syarat ekonomis dan efisiensi. Juga terdapat masalah
pengukuran dan pengumpulan data biaya yang membuat marginal cost sulit
diimplementasikan.
Marginal cost pricing bukan berarti full cost recovery. Historic capital cost tidak
mungkin dipulihkan, demikian juga full operating cost. Ketika sumber daya yang
terbatas, kegagalan untuk menutup biaya menimbulkan adanya penghematan yang
dikorbankan (opportunity loss) dalam pemakaian alternative sumber daya tersebut.
Kerugian tersebut harus diukur dengan efisiensi yang dikorbankan (efficiency loss)
yang berasal dari penaikan harga di atas marginal cost. Contoh kasus klasik dari
historical cost adalah seperti jembatan penyebrangan. Marginal cost pricing
menganjurkan tidak ada biaya yang ditarik atas jasa penyebrangan karena marginal
cost yang ada nol. Memungut biaya penyebrangan sehingga menimbulkan
kapasitas menganggur atas jembatan tersebut, ini akan mengurangi total economic
benefit.
Penentuan harga seharusnya didasarkan pada biaya marginal jangka pendek (short
run Marginal Cost) atau biaya marginal jangka panjang (long run Marginal
Cost).Dalam kasus penyediaan air, akan timbul suatu titik ketika marginal
consumer memerlukan pabrik baru. Tidak mungkin mengharapkan konsumen
menanggung full cost sendirian.
Konsep kewajaran digunakan untuk menunjukkan :
1. Hanya mereka yang menerima manfaat yang membayar.
2. Semua konsumen membayar sama tanpa memandang perbedaan biaya dalam

menyediakan pelayanan tersebut.


Ekternalitas konsumsi, seperti manfaat kesehatan umum dari air bersih untuk

minum dan mandi dapat secara signifikan merubah efisiensi harga yang

ditentukan oleh marginal cost.


Pertimbangan ekuitas mensyaratkan yang kaya membayar lebih, paling tidak untuk

jasa seperti air, dimana terdapat beberapa macam bentuk diskriminasi harga,

(seperti tarif progesif) yang mungkin digunakan.

Komplesitas Strategi Harga:


1. Two-part tariffs: perhitungan tarif dengan menggunakan dua perhitungan biaya, yaitu
biaya tetap dan biaya variable. Banyak kepentingan public (seperti listrik) dipungut
dengan two-part tariffs, yaitu fixed charge untuk menutupi biaya overhead atau biaya
infrastruktur dan variable charge yang didasarkan atas besarnya konsumsi.
2. Peak-load tariffs : perhitungan tarif pelayanan publik dipungut berdasarkan tarif
tertinggi. Permasalahannya adalah beban tertinggi, membutuhkan tambahan kapasitas
yang disediakan, tarif tertinggi untuk periode puncak yang harus menggambarkan
higher marginal cost (seperti telepon dan transportasi umum).
3. Diskriminasi harga. Perhitungan tarif dengan mementingkan prinsip keadilan. Hal ini
adalah salah satu cara untuk mengakomodasikan pertimbangan keadilan (equity)
melalui kebijakan penetapan harga. Jika kelompok dengan pendapatan berbeda dapat
diasumsikan memiliki pola permintaan yang berbeda, pelayanan yang diberikan kepada
kelompok dengan pendapatan tinggi. Hal tersebut tergantung dari kemampuan
mencegah orang kaya menggunakan pelayanan yang dimaksudkan untuk orang miskin.
4. Full cost recovery. Harga pelayanan (penetapan tarif) didasarkan pada biaya penuh atau
biaya total untuk menghasilkan pelayanan. Penetapan harga berdasarkan biaya penuh
atas pelayanan publik perlu mempertimbangkan keadilan (equity) dan kemampuan
publik untuk membayar.
5. Harga diatas marginal cost. Dalam beberapa kasus, sengaja ditetapkan harga diatas
marginal cost, seperti tarif parker mobil, adanya beberapa biaya perijinan atau licence
fee.

B. Retribusi
Undang-undangNomor 18 Tahun 1997 yang kemudiandigantidenganUndang-
undangNomor 34 Tahun 2000 dantelahdiubahlagidenganUndang-undangNomor 28 Tahun
2009 tentangPajak Daerah danRetribusi Daerah.
Retribusi menurut UU Nomor 28 tahun 2009 adalah pungutan daerah sebagai
pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau
diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan pribadi atau badan. Berbeda dengan
pajak pusat seperti Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai yang dikelola oleh
Direktorat Jenderal Pajak, Retribusi yang dapat di sebut sebagai Pajak Daerah dikelola
oleh Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda).

ObjekRetribusi Daerah
Menurut UU Nomor 28 tahun 2009 ObjekRetribusiadalah:
1 JasaUmum
ObjekRetribusiJasaUmumadalahpelayanan yang
disediakanataudiberikanPemerintah Daerah
untuktujuankepentingandankemanfaatanumumsertadapatdinikmatioleh orang
pribadiatauBadan.JenisRetribusiJasaUmumadalah:
a RetribusiPelayananKesehatan;
b RetribusiPelayananPersampahan/Kebersihan;
c RetribusiPenggantianBiayaCetakKartuTandaPendudukdanAktaCatatanSipil;
d RetribusiPelayananPemakamandanPengabuanMayat;
e RetribusiPelayananParkir di TepiJalanUmum;
f RetribusiPelayananPasar;
g RetribusiPengujianKendaraanBermotor;
h RetribusiPemeriksaanAlatPemadamKebakaran;
i RetribusiPenggantianBiayaCetakPeta;
j RetribusiPenyediaandan/atauPenyedotanKakus;
k RetribusiPengolahanLimbahCair;
l RetribusiPelayananTera/TeraUlang;
m RetribusiPelayananPendidikan; dan
n RetribusiPengendalianMenara Telekomunikasi.
JenisRetribusidiatasdapattidakdipungutapabilapotensipenerimaannyakecildan/ataua
taskebijakannasional/daerahuntukmemberikanpelayanantersebutsecaracuma-cuma.
2 Jasa Usaha;
ObjekRetribusiJasa Usaha adalahpelayanan yang disediakanolehPemerintah
Daerah denganmenganutprinsipkomersial yang meliputi:
a Pelayanandenganmenggunakan/memanfaatkankekayaan Daerah yang
belumdimanfaatkansecara optimal; dan/atau
b PelayananolehPemerintah Daerah
sepanjangbelumdisediakansecaramemadaiolehpihakswasta.

JenisRetribusiJasa Usaha adalah:


a RetribusiPemakaianKekayaan Daerah;
b RetribusiPasarGrosirdan/atauPertokoan;
c RetribusiTempatPelelangan;
d Retribusi Terminal;
e RetribusiTempatKhususParkir;
f RetribusiTempatPenginapan/Pesanggrahan/Villa;
g RetribusiRumahPotongHewan;
h RetribusiPelayananKepelabuhanan;
i RetribusiTempatRekreasidanOlahraga;
j RetribusiPenyeberangan di Air; dan
k RetribusiPenjualanProduksi Usaha Daerah.
3 PerizinanTertentu.
ObjekRetribusiPerizinanTertentuadalahpelayananperizinantertentuolehPemerintah
Daerah kepada orang pribadiatauBadan yang
dimaksudkanuntukpengaturandanpengawasanataskegiatanpemanfaatanruang,
penggunaansumberdayaalam, barang, prasarana, sarana,
ataufasilitastertentugunamelindungikepentinganumumdanmenjagakelestarianlingkung
an.

JenisRetribusiPerizinanTertentuadalah:
a RetribusiIzinMendirikanBangunan;
b RetribusiIzinTempatPenjualanMinumanBeralkohol;
c RetribusiIzinGangguan;
d RetribusiIzinTrayek; dan
e RetribusiIzin Usaha Perikanan.

Jenis, RincianObjek, danKriteriaRetribusi


Menurut UU Nomor 28 tahun 2009Jenis, RincianObjek, danKriteriaRetribusiadalah:
JenisRetribusiJasaUmumdanRetribusiPerizinanTertentuuntuk Daerah provinsidan
Daerah kabupaten/kotadisesuaikandengankewenangan Daerah masing-
masingsebagaimanadiaturdalamperaturanperundang-undangan.
JenisRetribusiJasa Usaha untuk Daerah provinsidan Daerah
kabupaten/kotadisesuaikandenganjasa/pelayanan yang diberikanoleh Daerah
masing-masing.
RincianjenisobjekdarisetiapRetribusisebagaimanadiaturdalamPeraturan Daerah
yang bersangkutan.

Tata Cara PerhitunganRetribusi


Menurut UU Nomor 28 tahun 2009 Tata Cara PerhitunganRetribusiadalah:
BesarnyaRetribusi yang
terutangdihitungberdasarkanperkalianantaratingkatpenggunaanjasadengan tariff
Retribusi.
Tingkat penggunaanjasaadalahjumlahpenggunaanjasa yang
dijadikandasaralokasibebanbiaya yang dipikulPemerintah Daerah
untukpenyelenggaraanjasa yang bersangkutan.
Apabilatingkatpenggunaanjasasulitdiukurmakatingkatpenggunaanjasadapatditaksir
berdasarkanrumus yang dibuatolehPemerintah Daerah.
Rumusharusmencerminkanbeban yang dipikulolehPemerintah Daerah
dalammenyelenggarakanjasatersebut.
TarifRetribusiadalahnilai rupiah ataupersentasetertentu yang
ditetapkanuntukmenghitungbesarnyaRetribusi yang terutang.
TarifRetribusidapatditentukanseragamataubervariasimenurutgolongansesuaidenganpri
nsipdansasaranpenetapan tariff Retribusi.

Umumnya hanya pemerintahan daerah kabupaten/kota yang memungut pajak


hiburan dan pajak restoran, namun pajak hiburan dan pajak restoran juga dapat dipungut
oleh pemerintah daerah setingkat daerah provinsi yang tidak terbagi dalam daerah
kabupaten/kota otonom. Contohnya adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

UU 28/2009 sendiri tidak menetapkan besarnya tarif pajak restoran dan hiburan
suatu daerah, namun UU 28/2009 menentukan batas tarif pajak tertinggi yang dapat
dipungut daerah. Sehingga, masing-masing pemerintah daerah memiliki keleluasaan
menentukan besarnya tarif pajak restoran dan pajak hiburan, sepanjang tidak melebihi
batas tarif pajak tertinggi yang ditetapkan UU 28/2009. Untuk tarif pajak restoran, Pasal
40 Ayat (1) UU 28/2009 menentukan batas tertinggi 10 %. Sedangkan sesuai pengaturan
Pasal 45 Ayat (1) UU 28/2009, tarif pajak hiburan tertinggi ditentukan sebesar 35 %.

Karena berdasar Pasal 45 Ayat (1) dan Pasal 40 Ayat (2) UU 28/2009 baik tarif
pajak hiburan maupun tarif pajak restoran harus ditetapkan Peraturan Daerah
(PERDA), maka kita dapat merujuk pada PERDA tiap-tiap daerah untuk mengetahui
besarnya tarif pajak tersebut. Sebagai contoh, khusus untuk DKI Jakarta, besarnya tarif
pajak restoran ditetapkan sebesar 10 % hal ini berdasarkan Pasal 7 PERDA DKI Jakarta
No. 11 Tahun 2011 tentang Pajak Restoran. Sedangkan untuk besarnya tarif pajak
hiburan, Pasal 7 PERDA DKI Jakarta No. 13 Tahun 2010 tentang Pajak Hiburan
menentukan seperti berikut:

Tarif pajak untuk pertunjukan film di bioskop ditetapkan sebesar 10 % (sepuluh


persen)

Tarif pajak untuk pagelaran kesenian, musik, tari dan/atau busana sebesar 10 %
(sepuluh persen)

Tarif Pajak untuk kontes kecantikan sebesar 10 % (sepuluh persen)


Tarif pajak untuk pameran sebesar 10 % (sepuluh persen)

Tarif pajak untuk diskotik, karaoke, klub malam, pub, bar, musik hidup (live music),
musik dengan Disc Jockey (DJ) dan sejenisnya sebesar 20 % (dua puluh persen)
Tarif pajak untuk sirkus, acrobat, dan sulap sebesar 10 % (sepuluh persen)

Tarif pajak untuk permainan bilyar, bowling dan seluncur es (ice skating) sebesar 10
% (sepuluh persen)

Tarif pajak untuk permainan golf (green fee) sebesar 15 % (lima belas persen) dan
untuk driving rangesebesar 10 % (sepuluh persen)

Tarif pajak untuk pacuan kuda, kendaraan bermotor, dan permainan ketangkasan
sebesar 10 % (sepuluh persen)

Tarif pajak untuk panti pijat, mandi uap dan spa sebesar 20 % (dua puluh persen)

Tarif pajak untuk refleksi dan pusat kebugaran/fitness center sebesar 10 % (sepuluh
persen)

Tarif pajak untuk pertandingan olah raga sebesar 5 % (lima persen)

Penyelenggaraan hiburan di tempat keramaian tempat wisata, taman rekreasi/rekreasi


keluarga, pasar malam, kolam pemancingan, komidi putar, kereta pesiar dan
sejenisnya sebesar 10 % (sepuluh persen)

REFERENSI
http://tentangpelayananpublik.blogspot.co.id/2011/01/jenis-dan-pola-pelayanan-publik.html

http://angkasalima.blogspot.co.id/2014/12/tax-service-charge-restauran-dan-pajak.html

http://akuntansimanajemensektorpublik.blogspot.co.id/2016/04/penentuan-harga-pelayanan-
publik.html

http://akuntansimanajemensektorpublik.blogspot.co.id/2016/04/penentuan-
harga-pelayanan-publik.html