Anda di halaman 1dari 19

Skenario 2

MENJAGA PENAMPILAN

Ibu istiana 41 tahun datang ke praktik dokter gigi ingin dilakukan perawatan gigi
tiruan tetap untuk menggantikan gigi depannya yang hilang. Berdasarkan hasil
pemeriksaan intraoral, diketahui gigi 12 dan 22 hilang dan gigi 11,13,21, dan 23
dapat diindikasi sebagai gigi penyangga. Konstruksi retainer gigi 11,13,21 dan 23
adalah tipe extracoronal retainer dengan menggunakan porcelain fused to metal.
Pontic pada gigi 12 dan 22 menggunakan ridge lap pontic dengan desain porcelain
fused to metal. Perawatan dimulai dengan melakukan pencetakan diagnostic dan
dilanjutkan preparasi pada gigi 11,13,21, dan 23 dengan akhiran preparasi
berbentuk chamfer. Setelah pencetakan fungsional pada gigi penyangga akan
dilakukan pemasangan temporary bridge. Selanjutnya dilakukan penyesuaian
warna gigi dan pasien diharapkan control kembali untuk dilakukan pemasangan
pencobaan gigi tiruan. Pada akhirnya, dilakukan insersi gigi tiruan tetap.

STEP 1

1. Extracoronal retainer: bagian dari gigi tiruan yang menghubungkan pontic


dengan abutment. Retainer yang retensinya di luar mahkota gigi.
2. Ridge lap pontic: pontic yang pada bagian labial berkontak dengan
alveolar ridge sedangkan bagian palatal menjauhi dari alveolar ridge.
Desain ini bertujuan agar gigi tiruan mudah untuk dibersihkan.
3. Temporary bridge: mahkota sementara yang dipasang saat menunggu
mahkota sebenarnya dibuat secara laboratoris. Biasanya bahan temporary
bridge adalah akrilik
4. Chamfer: akhiran pada daerah sevikal gigi berfungsi untuk menahan beban
oklusal juga sebagai retensi dari GTC. Bentuknya tipis dan landai,
biasanya digunakan pada ektrakoronal retainer.
5. Pontic: bagian dari GTC yang menggantikan gigi yang telah hilang.
Biasanya bahan pontic dari metal, porcelen fused to metal.

STEP 2

1
1. Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan GTC?
2. Bagaimana desain GTC untuk gigi tiruan cekat?
3. Apa macam macam retainer dan pertimbangannya?
4. Apa kelebihan dan kekurangan chamfer? Dan bentukan akhiran lainnya?
5. Apakah yang dimaksud dengan temporary bridge, berbentuk jembatan
atau hanya pada abuntment saja?
6. Bagaimana prosedur perawatan yang dilakukan oleh dokter gigi?

STEP 3

1. Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan GTJ:


Keadaan periodontal dari pasien apakah mencukupi untuk
menopang gigi abuntment
Umur pasien akan mempengaruhi dari prognosis perawatan GTJ
Pemilihan warna dari GTJ, karena setiap pasien memiliki warna
gigi yang berbeda-beda.
Estetik, sebaiknya model dari GTJ sesuai dengan anatomi dari gigi
asli
2. Desain dari gigi tiruan cekat:
Retainer: menggunakan tipe retainer ekstrakoronal
Pontik: menggunakan type porcelen fused to metal
Konektor: rigid
Abuntment: pada gigi 11, 13, 21, dan 23
3. Untuk macam dari pontik sendiri ada bermacam macam. Ridge lap pontik
memiliki desain dengan bagian labial berkontak dengan alveolar
sedangkan palatal/ lingual tidak, desain ini bertujuan agar gigi tiruan cekat
mudah dibersihkan oleh pasien. Juga ada pontik sanitary, memiliki disain
dengan permukaan tidak menempel pada linger alveolar ( dengan jarak 1-3
mm dari lingir alveolar) dengan tujuan menghindari tekanan pada tulang
alveolar.
Retainer:

Ekstrakoronal retainer Intrakoronal retainer

2
- Tidak mudah terserang - Preparasi giginya sedikit
- Diindikasikan untuk onlay
karies
- Bentuknya dapat diubah dan onlay
- Mudah terserang karies
ubah
- Tidak mudah lepas sekunder
- Mudah insersinya - Jika penyemenan buruk
maka retensi buruk pula.

4. chamfer diindikasikan untuk mahkota logam maupun porselen fused to


metal dengan prinsip memberikan ketebalan agar retensi dari GTC bagus.
Model chamfer ini mudah dibentuk dan memiliki kelandaian 130 derajat.
Knife edge: pengambilan jaringannya sedikit sehingga sulit untuk
dievaluasi, membutuhkan ketelitian dari operator.
Shoulder: memiliki bentuk sudut tegak lurus. Diindikasikan untuk
mahkota dengan bahan akrilik.

5. Bentuknya bisa sama dengan jembatan maupun gigi abuntment saja yang
diberi gigi tiruan sementara. Untuk waktu penggunaan sebaiknya segera
digantikan dengan gigi tiruan jembatan sebenarnya setelah hasil
laboratorisnya jadi. Biasanya tidak dilakukan penyemenan pada gigi tiruan
sementara.
6. Prosedur perawatan:
1) Melakukan pemeriksaan pada pasien
2) Preparasi gigi yang akan dijadikan abuntment dimulai dari
pembuatan guratan sedalam 1-1,5 mm. dilanjutkan pengasahan
sedalam guratan dengan menggunakan bur fissure tapered. Setelah
itu preparasi proximal dengan menggunakan safe side konvergen
3-5 derajat, dilanjutkan insisal sedalam 2 mm dan bagian lingual.
3) Pencetakan pada gigi yang dipreparasi.
4) Pemasangan temporary bridge
5) Setelah pembuatan lab selesai, temporary bridge dilepaskan dan
dilakukan try in
6) Lakukan penyemenan dengan menggunakan SIK
7) Cek oklusi dengan menggunakan articulating paper.

3
STEP IV

Kehilangan gigi 12 dan 22

Pemeriksaan
subyektif, obyektif dan
penunjang

Gigi tiruan Jembatan

komponen Jenis- jenis Prosedur pembuatan

4
STEP V

Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan:

1. Pencetakan diagnostic (definisi, tujuan, cara, bahan)


2. Preparasi abuntment
3. Pencetakan fungsional ( definisi, tujuan, cara , bahan)
4. Pembuatan temporary bridge
5. Penyesuaian warna
6. Insersi
7. Kontrol

STEP VII

1. Pencetakan diagnostic
a) Definisi
Pencetakan diagnostik adalah pencetakan yang dilakukan dengan
menggunakan suatu bahan cetak yang kemudian di cor dengan
menggunakan dental stone yang menghasilkan suatu model diagnostik
yang merupakan hasil tiruan yang akurat dari gigi dan batas jaringan.
b) Tujuan
Membantu dalam mendiagnosa dan rencana perawatan
Untuk gambaran gigi tiruan ya g akan dibutuhkan
Sebagai tambahan pemeriksaan oral
Mengethui lengkung rahang yang terdapat kehilangan gigi
(ruang kehilangan gigi)
Untuk mengetahui perluasan daerah pendukung gigi tiruan
c) Cara:
Teknik mukokompresi : jaringan lunak mulut dibawah penekanan.
Pencetakan dilakukan dengan menggunakan bahan yang
mempunyai viskositas tinggi, sehingga tekanan lebih dibutuhkan ke
arah mukosa dibawahnya
Teknik mukostatis : jaringan lunak mulut berada dalam keadaan
istirahat. Pencetakan dilakukan dengan menggunakan bahan yang
mempunyai viskositas yang sangat rendah dimana hanya sejumlah
kecil tekanan yang dibutuhkan, sehingga pada keadaan ini sedikit
atau tidak ada sama sekali terjadi pergerakan mukosa.
d) Bahan:
Bahan cetak yang dapat digunakan :
1. Irreversible hidrokolloid.

5
Bahan ini tidak dapat dipakai lebih dari satu kali setelah dipakai.
Digunakan untuk model
diagnostik. Contoh : Alginate.
2. Reversible hidrokolloid.
Bahan cetak ini dapat dipakai berulang-ulang. Hasil cetakan yang
diperoleh lebih akurat.
Contoh : Agar, Stent.
Perbedaan antar reversible hidrokolloid dengan irreversible
hidrokolloid adalah :
1 Reversible hidrokolloid berubah dari bentuk gel (liat) ke sol
(padat), mempunyai dimensi yang lebih stabil setelah dikeluarkan
dari mulut.
2 Irreversible hidrokolloid menjadi gel melalui reaksi kimia dari hasil
pencampuran antara bubuk dan air.

2. Preparasi Abuntment
a. preparasi bagian labial menggunakan round end tapered fissure
diamond bur dengan kedalaman 1 mm.
b. Preparasi bagian aproksimal masih menggunakan round end tapered
fissure diamond bur dengan pengurangan sebanyak 1 mm - 1,5 mm
dan membentuk sudut 6 ke arah incisal.
c. Preparasi bagian palatal di bawah cingulum menggunakan round edge
wheel diamond bur
d. kemudian daerah cingulum ke arah servikal (permukaan palatal aksial)
menggunakan round end tapered fissure bur,
e. bentuk akhiran servikal berupa chamfer.
f. Seluruh bagian yang tajam, runcing, tidak rata dan undercut-undercut
dihilangkan.
g. Preparasi diakhiri dengan finishing bur

Ada beberapa macam bentukan akhiran atau tei servikal, antara lain:
a. Tepi pisau (knife edge)
Tipe ini memerlukan pengurangan gigi yang paling sedikit.
Terkadang digunakan pada gigi yang berbentuk bell-shaped, karena
pembutannya yang lebih sulit, sehingga dapat menyebabkan
pengurangan gigi yang berlebihan.

6
b. Tepi bahu liku (chamfer)
Tipe ini sering dipilih sebagai akhiran tepi untuk restorasi
ekstrakoronal, mudah dibentuk, dan memberikan ruang untuk
ketebalan yang memadai pada restorasi emas tanpa menyebabkan
kontur yang berlebihan dari restorasi. Menghasilkan konsentrasi
tekanan yang lebih rendah, dan dengan mudah dapat masuk ke celah
gingiva. Desain ini memberi tempat yang terbatas untuk restorasi
metal keramik sehingga menghasilkan distorsi margin yang besar dan
estetis yang kurang baik. Selain itu, ketahanan desain ini terhadap
tekanan vertikal kurang baik.
c. Tepi bahu (shoulder)
Tipe ini dipilih terutama pada situasi dimana bagian terbesar
material diperlukan untuk memperkuat restorasi pada daerah tepi gigi,
seperti untuk restorasi all-porcelain atau restorasi metal keramik.
Desain ini sulit dipreparasi, undercut minimum, dan tahan terhadap
distorsi margin. Selain itu, shoulder akan menghasilkan tekanan yang
paling sedikit di daerah servikal dan memberikan tempat maksimum
untuk porselen dan metal, sehingga porselen dapat dibakar pada tepi
metal dan menghasilkan estetis yang baik.

Preparasi cavosurface margin berbentuk : A. Shoulder; B. Chamfer

3. Cetakan fungsional
a. Definisi

7
Cetakan fungsional adalah pencetakan dengan bahan elastomer yang
berfungsi untuk mencetak jaringan lunak rongga mulut terutama batas
antara gingiva dengan mukosa rongga mulut
b. Tujuan
Mendapatkan cetakan yang akurat sehingga proses pembuatan gigi
tiruan jembatan memiliki hasil yang akurat pula
c. Bahan: elastomer
d. Cara:
Cara yang dilakukan yaitu terdiri dari bahan cetak putty yang terdiri
dari base (kuning) dan katalis (biru) dengan perbandingan 1:1 diaduk
dengan tangan kemudian setelah mencapai konsistensi tertentu, bahan
cetak diletakkan dalam sendok cetak. Bahan cetak exaflex injection
yang terdiri dari base (kuning) dan katalis (merah) dengan
perbandingan 1:1 diaduk diatas glass plate. Setelah mencapai
konsistensi tertentu, bahan cetak exaflex diletakkan dalam sendok cetak
yang telah diberi bahan cetak putty sebelumnya serta dipaskan dalam
mulut pasien kemudian ditekan pada daerah gigi yang dipreparasi.
Setelah bahan cetak setting sendok cetak dikeluarkan dari mulut
pasien. Hasil cetakan diisi dua kali dengan glass stone. Selanjutnya
model kerja dikirim ke laboratorium untuk pemrosesan gigi tiruan
cekat. Cetakan model kerja yang satunya digunakan untuk membuat
mahkota sementara.
4. Pembuatan Temporary Bridge
Pembuatannya bisa secara direct atau indirect. Jika secara direct, maka saat
sebelum dipreparasi, jika gigi mengalami karies/fraktur, ditutupi dengan malam
membentuk kontur anatomis normal, kemudian dilakukan pencetakan. Setelah
dipreparasi, cetakan negatif (alginat) pada gigi itu diisi dengan resin akrilik
kemudian dipasangkan di gigi hasil preparasi yang sudah diberi vaselin agar
tidak menempel di gigi. Setelah mengeras sedikit, resin akrilik dirapikan
seperlunya (dipotong bagian yang berlebih) dan setelah full setting cetakan
dilepas dan MTS dipoles. Jika secara indirect, maka tahap-tahap tersebut
dilakukan pada model gigi dan kemudian setelah jadi MTS dicobakan di gigi
pasien.
Cara diatas merupakan pembuatan mahkota sementara secara fabricated. Cara
lain adalah dengan menggunakan mahkota sementara prefabricated. Berbeda

8
dengan cara fabricated, ada beberapa macam bahan mahkota sementara
digunakan, seperti aluminium, akrilik, dan seluloid. Prosedur pemakaiannya:
Pemilihan mahkota sementara, untuk gigi depan harus diperhatikan warna,
bentuk dan besar yang sesuai. o Adaptasi bagian servikal dan bagian dalam
mahkota. Bagian servikal setiap mahkota sementara tidak boleh menekan
bagian gingival untuk mencegah resesi.
Pontik Sementara
Pembuatan pontik sementara dilakukan sebelum pencetakan untuk pembuatan
GTJS pada retainernya. Disini pontik dibuat dengan menggunakan wax
(biasanya inlay wax) dan kemudian baru dilakukan pencetakan untuk
pembuatan MTS di gigi abutment.

Bahan Mahkota Sementara :


- Bahan polymethyl methacrylate (PMMA) digunakan pada sebagian besar
restorasi sementara indirek. Merupakan jenis akrilik tertua di bidang
kedokteran gigi. Dulu juga digunakan sebagai bahan restorasi tetap, baik
bahan itu sendiri maupun dikombinasikan dengan metal. Kelebihan bahan
ini adalah baik secara mekanik, seperti flexural strength tinggi, tahan
terhadap fraktur dan memiliki estetik yang baik. Kelemahannya adalah
memiliki exothermic setting yang tinggi sehingga tidak diperbolehkan
digunakan di dalam mulut saat pengerasannya. Sisa monomer dapat
menyebabkan iritasi pulpa dan memicu terjadinya shrinkage saat
polimerisasi sehingga integritas tepi terganggu.
- Polyvynil ethilmethacrylate (PVEMA) memiliki reaksi eksotermik yang
lebih kecil, sehingga merupakan akrilik yang paling ideal untuk digunakan
di dalam mulut. Efek toksisitas dari monomer ethyl methacrylate lebih
kecil daripada PMMA. Namun dapat terjadi porus yang berdampak pada
kekuatan dan estetik. Selain itu permukaan restorasi sementara dapat
berubah warna dan terbentuk stain. Bahan ini rentan fraktur, karena
memiliki ketahanan terhadap fraktur yang rendah.
- Bis-acryl resin composite paling popular dan banyak digunakan untuk
mahkota tiruan sementara di dalam mulut. Sebagai contoh bahan ini
adalah Protemp (3M-ESPE, USA). Saat manipulasi, bahan ini tidak perlu
diaduk, karena tersedia cartridge, tersedia banyak pilihan warna dan
berbagai jenis setting (chemical-, dual-, dan light- cured). Kelebihan bahan

9
ini memiliki microhardness yang tinggi dan tidak mengiritasi pulpa.
Kekurangannya adalah sulit untuk reline daerah margin, sulit dipoles dan
estetik tidak terlalu baik.
Resin Urethane dimethacrylate (UDMA) merupakan matriks resin yang
digunakan pada bahan tumpatan komposit kontemporer. Sebagai contoh adalah
Triad (Dentsply, Germany). Kelebihannya ketahanan terhadap fraktur tinggi
dan reaksi eksotermik rendah. Iritasi pulpa pun hampir tidak ada.
Kekurangannya adalah integritas tepi yang buruk dan sulit dipoles sehingga
kurang fit dan kurang estetik.

5. Pemilihan warna
Sistem warna Munsell merupakan suatu sistem untuk menyesuaikan warna gigi
tiruan dengan warna asli dalam kedokteran gigi. Untuk menetapkan suatu
warana tanpa kesalahan perlu digunakan tiga parameter yaitu hue, chroma, dan
value yang menjadi standard untuk menggambarkan warna gigi.

vita ceramic shade guide

A : red-yellow

B : yellow

C : grey

D : red-yellow-grey

a. Hue
Hue berhubungan terhadap karakteristik warna yang memberikan suatu
identifikasi dan perbedaan dari suatu warna terhadap warna yang lainnya.
Munsell menggunakan symbol untuk mendesain 10 sektor hue yaitu R,

10
YR, Y, GY, G, BG, B, PB, P, dan PR. R untuk merah, YR untuk merah-
kuning, Y untuk kuning, GY untuk kuning-ungu, G untuk hijau, BG untuk
hijau-biru, B untuk biru, PB untuk biru-ungu dan P untuk ungu.
a. Chroma
Chroma adalah suatu kualitas yang membedakan warna yang kuat dari
satu warna yang lemah. Chroma merupakan intensitas warna yang
memisahkan hue dari value. Chroma menunjukkan sejumlah warna dalam
hue, dihubungkan sebagai lingkaran dari pusat seperti jari-jri dalam
kumparan. Jika warna memiliki konsentrasi yang kuat pada pigmen hue,
maka warnanya kuat. Skala chrome dari /0 untuk abu-abu - netral ke /10, /
12, /14 dan seterusnya.

b. Value.
Value adalah kualitas warna yang digambarkan dengan istilah gelap dan
terang yang berhubungan dengan pencahayaan. Hal ini merupakan tingkat
kecerahan. Value merupakan parameter fotometrik yang diasosiasikan
dengan pemantulan total yaitu kecerahan atau kegelapan warna. Value
menunjukkan tingkat kecerahan atau kegelapan warna yang dihubungkan
dengan skala abu-abu normal yang meluas dari hitam absolute ke putih
absolute. Symbol 0 untuk hitam absolute, symbol 10 untuk putih absolute,
symbol 5 untuk abu-abu sedang dan semua warna chromatic antara hitam
absolute dan putih absolute.
Prosedur:
Teknik ini menggunakan beberapa shade guide yang disusun berdasarkan hue,
chrome, value cincin tabung enamel dan dentine yang merupakan standard
satuan shade guide yang berasal dari pabrik. Pemilihan warna dengan system
Munsell dimulai denagn langkah hue, value, dan chroma.
1 Langkah Hue
Langkah dalam memilih hue adalah
a Hal penting pertama kali dalam memilih warna gigi adalah ketika
pasien duduk pertama kali dikursi unit, pilih sumber cahaya dari
berbagai cahaya yang berada disekeliling pasien.

11
b Perhatikan sekeliling mulut secara misalnya mahkota gigi, akhiran
servikal dan tepi insisal. Buat taksiran umum hue, gigi umumnya
coklat, kuning, atau abu-abu.
c Gunakan shade guide yang disusun berdasarkan hue yaitu shade
guide yang memiliki 4 warna dasar yaitu A, B, C, dan D. A
menunjukkan warna kecoklatan, B warna kekuningan, C warna
keabu-abuan dan D warna semu merah jambu. Lampu dihidupkan
pada jarak 20 cm dari lengkung gigi dan shade guide disusun
dengan 4 warna dasar, masing-masing 2 diseberang dan 2
diseberangnya.
d. Mata operator kemudian diistirahatkan dengan melihat kea rah
latar belakang warna biru. Kuning yang umumnya warna gigi dapat
diimbangi dengan warna biru sebagai warna komplementer.
Melihat kea rah latar belakang biru kira-kira 1 menit meningkatkan
kesensitifan mata terhadap warna kuning.
e. Jika hue telah ditetapkan, misalkan pilihan adalah A, dan ketiga
warna dasar lainnya diletakkan di samping. Menentukan hue
dilakukan dengan mengobservasi bagian servik gigi. Melihat ke
bagian servik dapat meningkatkan penerimaan chroma sementara
melihat ke insisal dapat menurunkan penerimaan chroma, sehingga
lebih sulit mendapatkan hue. Bila kaninus ada, itulah gigi yang
paling baik untuk memilih hue karena memiliki chroma yang
paling tinggi
2 Langkah Chroma
Langkah dalam memilih chroma adalah:
a. Pilih chroma berdasarkan hue yang telah ditetapkan. Chroma dari
hue dipilih dengan membandingkan shade guide dengan bagian
tengah gigi, bila tidak sesuai warna dasar diturunkan. Hal ini lebih
mudah karena yang ada hanya chroma yang berbeda pada hue
yang sama.
b. Gunakan shade guide yang disusun berdasarkan hue, dibagi lagi
atas chroma, misalnya A terbagi atas A1, A2, A3 dan A4 yan
memiliki hue yang sama tetapi berbeda chroma. Hal yang sama
juga untuk B, C, dan D. misalnya chroma yang dipilih adalah A2.

12
c. Mata istirahatkan lagi dengan melihat kea rah latar belakang
warna biru sebagai warna komplementer. Perbedaan chroma
warna dasar yang sama sangat dekat satu sama lain pada shade
guide buatan pabrik, dapat membingunkan dalam menyesuaikan
warna.
d. Jika chroma telah ditetapkan, pilih warna dentin dan enamel
dengan cincin warna dentin dan enamel. Sesuaikan waran dentin
dengan cincin warna dentin. Kadang-kadang perlu dilakukan
perbaikan, nomor chroma dentin yang dipilih dicatat. Gunakan
latar belakang biru lagi untuk mengistirahatkan mata.
e. Sesuaikan warna enamel dengan cincin warna enamel. Observasi
harus dilakukan pada bagian insisal gigi yang enamelnya lebih
tebal dan nomor enamel dicatat.
3 Langkah value
Langkah dalam memilih value adalah:
a Pilih value dengan memicingkan mata. Memicinkan mata
menyebabkan rods pada mata lebih sensitive dari pada cones
terhadap warna, rods bertanggung jawab membantu menentukan
value. Hindari pertimbangan terhadap hue dan chroma.
b Gunakan shade guide yang disusun berdasarkan value yang
merupakan buatan pabrik.
c Value yang telah dipilih digunakan untuk memilih porselen yang
inti. Ini adalah tahap kritis untuk memilih value yang lebih penting
daripada pilihan hue. Bila value ini salah, efeknya akan kurang
baik untuk warna bagian servik gigi. Teknik ini dapat dibantu
dengan penggambaran peta corak gigi (dental shape tab).

Gambar . Dental Shape Tab


Panduan selama prosedur seleksi warna:

13
Shade dilakukan sebelum operator lelah. Kelelahan mental dapat
menonjolkan warna sensitivitas kuning, sehingga dokter gigi melihat objek
biru ketika mengistirahatkan mata.
Pastikan lingkungan warna gigi netral dan tidak ada noda pada gigi.
Hilangkan lipstick dan minta pasien tidak mengenakan pakaian atau benda
yang dapat mengganggu perhatian pada gigi.
Observasi dilakukan dengan cepat (5 detik) untuk menghindari keletihan
konus mata karena jika lebih dari 5 detik, mata tidak dapat membedakan
dank onus menjadi lebih sensitif untuk melengkapi warna yang
diobservasi.
Premolar memiliki warna lebih terang dari gigi kaninus,
Ketika gigi anterior rahang atas hilang, gunakan shade pada gigi rahang
bawah.
Dalam kasus gigi non-vital, bungkus gigi tersebut dan pilih shade pada
gigi di sampingnya.

6. Insersi
Saat insersi perlu diperhatikan:

a. Pemeriksaan retensi
Bila pada waktu pemasangan terdapat under cut, biasanya akan
menggangu penempatan gigi tiruan pada posisi yang benar. Untuk
mengetahui besarnya under cut dapat digunakan Pressure Indicating Paste
( PIP ) dengan viskositas rendah, yang dioleskan pada gigi tiruan di daerah
under cut, lalu dipasang di dalam mulut dan kemudian dikeluarkan. Bila
ada hambatan terlihat dengan terhapusnya pasta, daerah ini perlu
dikurangi. Prosedur ini perlu diulangi sampai gigi tiruan mencapai posisi
yang benar dan selanjutnya baru dilakukan pemeriksaan berikutnya

b. Pemeriksaan estetika
o Terdapat keharmonisan antara ukuran, bentuk, kontur, warna serta
susunan gigi tiruan dengan wajah pasien.
o Tidak ada elemen gigi tiruan yang berubah posisi.

14
o Susunan gigi tiruan tidak terlalu ke anterior, palatal, atau lingual
tetapi tersusun pada daerah neutral zone.

c. Pemeriksaan kestabilan gigi tiruan, yang menyangkut hubungan rahang,


oklusi dan artikulasi
Ketidakseimbangan oklusi dan artikulasi akan mempengaruhi
kestabilan gigi tiruan, karena gigi tiruan akan terasa longgar, dan bergeser
pada ridge setelah kontak oklusi. Akibatnya pasien hanya dapat memakai
gigi tiruan dengan nyaman pada waktu tidak makan, tetapi akan terasa
longgar dan menimbulkan nyeri pada saat makan. Keseimbangan oklusi
harus diperiksa pada tahap mencoba gigi tiruan malam, tetapi artikulasi
baru bisa dibuat lebih sempurna setelah melakukan pengasahan secara
selektif pada permukaan gigi tiruan. Pengasahan secara selektif
maksudnya adalah memodifikasi permukaan gigi-geligi dengan mengasah
pada tempat-tempat tertentu, setelah ditentukan tempatnya dengan
menggunakan kertas artikulasi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan
oklusi dan artikulasi yang seimbang.

Bahan semen yang umum digunakan antara lain GIC, Semen Resin, Zinc-
Polikarbonat, dan Zinc-Fosfat:
Glass-Ionomer Cement
Merupakan bahan semen yang paling banyak dipakai karena kemampuan
biokompatibilitas ke jaringan dan restorasi yang baik melalui ikatan kimia.
Terdiri atas bubuk dan liquid yang mengandung fluor sebagai proteksi dari
karies. Saat pemasangan pastikan gigi tidak terkontaminasi oleh saliva karena
sifat semen yang water-based. Apabila material yang digunakan adalah
logam logam tersebut dilapisi dengan opaquer terlebih dahulu. Sayangnya
karena daya larut yang rendah risiko kebocoran tepi servikal tinggi.
Resin Cement (Zinc Siloco Phosphate Cement)
Semen ini sudah tidak banyak dipakai karena sifatnya yang asam sehingga
restorasi tidak tahan lama dan mengiritasi jaringan. Namun semen ini karena
memiliki komposisi resin maka sifat translusensinya sangat baik. Biasanya

15
semen ini digunakan pada retainer yang menggunakan material akrilik atau
porselen serta gigi penyangga yang non-vital (dowell crown).
Zinc Poly-Carboxylate Cement
Merupakan bahan semen jenis akrilik dengan paduan antara bubuk dan
liquidnya akan menurunkan pH serta meningkatkan bond strength karena
reaksi dengan kalsium gigi dan kandungan fluornya. Sifat adhesif ke logam
tinggi sehingga banyak dipakai untuk sementasi Pasak-Inti. Kekurangannya
adalah setting time yang cepat sehingga tidak cocok untuk GTJ dengan span
panjang atau multiple abutment bridge. Tingkat kekerasannya juga masih
dibawah semen zinc-fosfat.
Zinc Phosphate Cement
Merupakan bahan semen yang paling pertama dikeluarkan tetapi masih
menjadi pilihan utama karena memiliki tingkat kekerasan, film thickness dan
setting time yang memadai. Semen ini juga punya pilihan warna sehingga
tidak terlalu mencolok. Sayngnya pH semen ini rendah sehingga berisiko
mengiritasi pulpa saat belum mengeras. Oleh karena itu biasanya diberikan
pelaps untuk proteksi pulpa dengan cavity varnish.
Prosedur sementasi adalah sebagai berikut:

a. Pembersihan bagian dalam retainer dari debris atau lemak dengan alkohol
lalu keringkan dengan air spray. Lakukan hal yang sama pada gigi
penyanggan namun menggunakan larutan antiseptik (jika alkohol dapat
dehidrasi jaringan). Jika semen yang digunakan bersifat asam, gig
penyangga dapat terlebih dahulu dilapisi dengan cavity varnish di daerah
dekat pulpa atau diaplikasikan kalsium hidroksida.
b. Blokir semua daerah insersi dengan gulungan kapas untuk mencegah
terjadinya kontaminasi oleh saliva serta gunakan saliva ejector. Berikan
separator oil di dasar pontik dan interdental untuk memudahkan
pengambilan sisa semen yang berlebih.
c. Lakukan manipulasi semen sesuai petunjuk pabrik lalu oleskan semen di
bagian dalam retainer dan di gigi penyangga, lalu pasang sesuai dengan
arah dan posisi yang benar. Tekan secara bertahap masing-masing retainer

16
untuk membuat semen mengalir dengan baik dan mencegah adanya
jebakan udara.

Lihat kondisi oklusi sentris dan fitnessnya, jika masih salah lepas segera
dan ulangi lagi. Jika sudah baik, GTJ ditekan dengan jari secara merata atau
pasien dapat diminta untuk menggigit dengan alat khusus sampai semen
mencapai setting time. Buang sisa kelebihan semen dengan sonde atau
eksavator kecil dan menggunakan benang gigi di bagian interdental.

7. KONTROL
Pemeriksaan pertama dijadwalkan 1 sampai 3 hari pasca pemasangan
gigitiruan dan pemeriksaan kedua dijadwalkan satu minggu setelah
pemeriksaan pertama. Dokter gigi harus menanyakan keluhan pasien terhadap
gigitiruan meliputi fungsi bicara, mastikasi, estetik maupun kenyamanan
pemakaian gigitiruan. Setelah itu dilakukan pemeriksaan terhadap oklusi
gigitiruan dan mukosa di dalam rongga mulut. Seluruh rongga mulut diperiksa
secara visual dan palpasi sehingga dapat ditentukan lokasi apabila terdapat
iritasi jaringan lunak. Perawatan yang dilakukan meliputi :
1 Pengobatan terhadap iritasi pada jaringan lunak.
2 Koreksi terhadap ketidaksesuaian oklusal.
Kontrol berkala bagi pasien pemakai gigitiruan sebaiknya dilakukan dalam
interval waktu 12 bulan, sedangkan bagi pasien dengan problem kesehatan
tertentu, dianjurkan untuk melakukan kontrol berkala dengan interval waktu 3-
4 bulan.

17
DAFTAR PUSTAKA

Saputra, D.C & Nugraheni, T.,2015. Restorasi Mahkota Jaket Porselin Fusi Metal
dan Crown Lenghtening pada Gigi 11 dan 21 Pasca Trauma.MKGK; 1(2):140-
146

Hendry,2012. Akurasi Dimensi Hasil Cetakan Polyvinyl Siloxane dengan Teknik


Modifikasi putty/Wash 2 Tahap. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas
Indonesia.

R.A. Lesmana. Restorasi Cekat Sementara yang Diperkuat untuk Pemakaian


Jangka Panjang. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.. JKGUI 1999;
6(2): 7-12 Penerbit;FK UI
Parnaadji, Rahardyan. Rehabilitasi Estetik Dan Fungsi Kunyah Dengan Perawatan
Complex Bridge. Jurnal Stomatognatic, Kedokteran Gigi Unej. 2012; 9
(3):168-174
Desyanti Anggia, Gita Farisza. 2008. Pencapaian Estetika Optimal Pada
Gigitiruan Jembatan Imidiat Anterior Atas Dengan Modifikasi Ovate Pontik.
Prostodonsia FKG UI .
Rosenstiel S.F., Land M.F., Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics.
Mosby Inc. St. Louis, 2006

Prajitno, H.R. Ilmu Geligi Tiruan Jembatan: pengetahuan dasar dan rancangan
pembuatan ;editor, Lilian Yuwono. Jakarta: EGC, 1991.

Smith B.G.N. 1998. Planning and Making Crown and Bridges. Mosby. St. Louis.
3rd ed.

Susaniawaty, Y., Utama., M.D. 2015. Kegagalan Estetik pada Gigi Tiruan Cekat
(Esthetic Failure in Fixed Denture. Makassar Dent J 4 (6).

Machmud, Edy. 2011. Teknik Sederhana Pembuatan Gigitiruan Jembatan Tiga


Unit dari Komposit. Dentofasial. Vol 10 (1): 23-25

18
19