Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Ochronosis adalah perubahan warna hitam kebiruan dari jaringan


tertentu, seperti tulang rawan dan jaringan okular dimana ochronosis dapat terjadi
dari paparan berbagai zat seperti fenol, trinitrophenol, resorsinol, merkuri, asam
pikrat, benzena dan hydroquinone.1
Ochronosis pada wajah kadang disebabkan oleh Skin whitening atau bisa
juga disebut skin bleaching yang secara komersil merupakan suatu metode
kosmetik yang digunakan dalam usaha untuk memutihkan kulit. Secara klinis
dapat juga digunakan sebagai pengobatan kelainan hiperpigmentasi seperti
melasma.1
Skin whitening agent sudah dipakai berpuluh-puluh tahun untuk
memutihkan kulit di seluruh dunia terutama di negara sub-sahara Afrika, dimulai
dari wanita berkulit hitam, da saat ini penggunaannya juga sudah menyebar pada
wanita berkulit putih untuk mencerahkan kulit mereka. Penggunakan skin
whitening agent merupakan hal yang biasa di Asia dan Afrika, karena memiliki
kulit yang putih erat kaitannya dengan kecantikan dan status sosial tinggi.
Penggunaan skin whitening agent ini merupakan hal umum baik bagi pria maupun
wanita.2
Penelitian-penelitian yang telah dilakukan banyak menunjukkan adanya
komplikasi yang luas dari penggunaan skin whitening agent mulai dari dermatitis
dan kemerahan pada kulit sampai munculnya gangguan renal dan diabetes
melitus. Skin whitening agent terdiri dari berbagai produk, banyak diantaranya
masih belum dapat diidentifikasi. Bahan yang paling sering digunakan dan
memiliki efek berbahaya yaitu hidrokuinon, merkuri dan kortikosteroid. Selain itu
bahan lain seperti asam azeleat, tretinoin dan vitamin C (asam askorbat) juga
sering digunakan dan terkadang memiliki efek samping pada kulit.1

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Ochronosis adalah perubahan warna hitam kebiruan dari jaringan tertentu,
seperti tulang rawan dan jaringan okular dimana ochronosis dapat terjadi dari
paparan berbagai zat seperti fenol, trinitrophenol, resorsinol, merkuri, asam pikrat,
benzena dan hydroquinone.3
Terdapat dua bentuk okronosis yaitu endogen dan eksogen. Okronosis
endogen diakibatkan oleh kelainan metabolisme autosomal resesif sehingga
terjadi akumulasi asam homogentisat pada jaringan kolagen, sedangkan okronosis
eksogen disebabkan oleh penggunaan hidrokuinon jangka panjang.2
Okronosis eksogen, reticulated repple-like sooty pigmentation yang
permanen pada wajah, biasanya pipi dahi daerah peri orbital adalah efek samping
kronis yang utama yang disebabkan hidrokuinon. Resolusi biasanya terjadi
perlahan setelah penghentian obat. Hidrokuinon dapat menimbulkan depigmentasi
permanen apabila lesi diobati dengan kosentrasi yang tinggi dan dalam jangka
waktu lama. Konsentrasi hidrokuinon bervariasi mulai dari 2-5%, dimana
konsentrasi lebih tinggi biasanya lebih iritatif dan memiliki risiko yang lebih besar
terhadap fototoksisitas dengan peningkatan efikasi yang lebih sedikit dan tidak
direkomendasikan, terkecuali pada kasus yang refrakter.3
B. Proses terbentuknya melanin kulit
Melanin diproduksi oleh melanosit, yang berasal dari lengkung saraf dan
selama proses perkembangan embriogenik bermigrasi dan menetap di lapisan
basal epidermis. Melanosit memiliki organel yang disebut melanosom sebagai
organel pembentuk pigmen melanin. Pigmen melanin akan dilepaskan oleh
dendrit melanosit ke keratinosit yang ada disekitarnya untuk kemudian
memberikan warna pada kulit. Jumlah sel melanosit pada kulit manusia sama,
namun jumlah, ukuran, dan pola melanosom yang didistribusikan ke keratin yang
bervariasi. Pada individu dengan warna kulit cerah, ukuran melanosom lebih kecil
dan berada di antara keratinosit dalam satu kelompok, sedangkan pada individu
yang berkulit lebih gelap, melanosom lebih besar, berwarna gelap dan tersebar

2
secara individual. Terdapat dua jenis melanin, yaitu eumelanin (warna coklat
kehitaman, berat molekul besar, tidak mudah larut) yang banyak ditemui pada ras
kulit hitam (misalnya ras Negroid) dan feomelanin (warna kuning kemerahan,
berat molekul lebih kecil, dan mudah larut) yang ditemui pada ras kulit putih.
Bertambahnya melanin di kulit menyebabkan satu keadaan yang disebut sebagai
hiperpigmentasi atau hipermelanosis. Kelainan pigmentasi berwarna kecoklatan
terjadi karena peningkatan jumlah melanin di lapisan epidermis, dan warna biru
keabuan terjadi karena peningkatan jumlah melanin di dermis. Namun demikian,
dapat juga ditemukan peningkatan jumlah melanin di epidermis dan dermis.
Kelainan kulit hiperpigmentasi yang sering dijumpai,contohnya melasma, efelid,
dan hiperpigmentasi pascainflamasi.4

C. Penyebab hyperpigmentasi
Peningkatan jumlah melanin di epidermis seperti pada lentigines
Peningkatan jumlah melanin di epidermis dan dermis bagian atas yang
tersebar seperti pada melasma dan apabila sebaran melanin ini bersama
makrofag dapat dijumpai pada hiperpigmentasi pasca inflamasi
Dijumpainya melanin di dalam melanosit dan melanofag pada dermis
bagian tengah dan bawah seperti pada blue nevi
Deposisi melanosit pada dermis yang terutama dijumpai pada kelainan
hiperpigmentasi kongenital
Peningkatan jumlah melanosit (hipermelanositosis) pada epidermis dan
dermis seperti pada nevus pigmentosus
Adanya melanin pada keratinosit bersama dengan sebaran hemosiderin
pada melanofag, misalnya pada hemokromatosis dan
Deposisi pigmen eksogen pada dermis pada tato.5

D. Etiologi :
Ochronosis biasanya disebabkan oleh penyakit alkaptonuria (penumpukan
homogentisic acid / HGA). Alkaptonuria juga berhubungan dengan efek sistemik
lainnya seperti gejala osteoarthritis dini, urin yang berwarna gelap dan warna

3
kehitaman yang tampak pada sklera dan telinga. Selain itu, ochronosis juga
banyak dapat disebabkan oleh paparan zat hidrokuinon. karena hidrokuinon
berkompetisi dengan tirosin sebagai substrat untuk tirosinase (enzim yang
berperan dalam pembentukan melanin), sehingga tirosinase mengoksidasi
hidrokuinon dan menghasilkan benzokinon yang toksik terhadap melanosit. Efek
samping yang umum terjadi setelah paparan hidrokuinon pada kulit adalah iritasi,
eritema, dan rasa terbakar. Efek ini terjadi segera setelah pemakaian hidrokuinon
konsentrasi tinggi yaitu di atas 4%. Sedangkan untuk pemakaian hidrokuinon
dibawah 2% dalam jangka waktu lama secara terus-menerus dapat terjadi
leukoderma kontak dan okronosis eksogen.7
Ochronisis eksogen akibat hidrokinon terjadi setelah pajanan terhadap
hidrokinon secara terus menerus dan dalam waktu yang panjang (kronik). Pada
beberapa kasus, pasien mengalami ochronosis setelah menggunakan hidrokinon
dalam konsentrasi rendah sekitar 2% selama 10-20 tahun. Pada kasus lain, pasien
yang menggunakan hidrokinon dengan konsentrasi tinggi sekitar 6% mulai
mengalami ochronosis setelah pemakaian beberapa tahun. Karena hidrokuinon
menyerap sinar ultraviolet, adanya sinar matahari akan memperburuk dan
mempercepat terjadinya okronosis eksogen.6

E. Patogenesis :
Alkaptonuria adalah gangguan metabolisme resesif autosomal yang
jarang terjadi yang disebabkan oleh kekurangan oksidase asam homogentisat,
satu-satunya enzim yang mampu catabolizing asam homogentisat (HGA).
Alkaptonuria memiliki kelainan dalam jalur biokimia dimana fenilalanin dan
tirosin biasanya terdegradasi ke fumarat dan asam asetoasetat. Kelainan genetik
autosomal resesif pada gen Hgo diketahui menyebabkan penyimpangan
homogentisat asam oksidase. Kekurangan ini hasil akumulasi dan deposisi HGA
di tulang rawan, menyebabkan karakteristik difus pigmentasi hitam kebiruan.
Jaringan ikat yang terkena menjadi lemah dan rapuh yang mengarah ke
peradangan kronis, degenerasi, dan osteoarthritis.8

4
Sedangkan ochronosis yang diduga disebabkan oleh hydroqinone
patogenesis yang banyak diterima saat ini bahwa hidrokuinon menghambat
aktivitas enzim asam homogentisat oksidase sehingga terjadi akumulasi asam
homogentisat, yang kemudian akan berpolimerisasi membentuk pigmen okronotik
dan terdeposit pada dermis. Okronosis tampak sebagai pigmentasi difus, berwarna
abu-kecoklatan atau biru-kehitaman pada daerah yang dioleskan hidrokuinon.

F. Tanda dan Gejala :


Okronosis adalah efek samping kronik terkait penggunaan hidrokuinon
topikal jangka panjang. Hal ini pertama kali dilaporkan oleh Findlay et al pada
wanita Afrika Selatan yang menggunakan hidrokuinon konsentrasi tinggi selama
bertahun-tahun. Secara klinis, okronosis ditandai dengan hiperpigmentasi
asimtomatik, eritema, papul, papulonodul pada bagian tubuh yang terpapar sinar
matahari seperti wajah, dada bagian atas, dan punggung atas. Terdapat laporan
mengenai perubahan warna kuku akibat penggunaan hidrokuinon secara kronik.
Perubahan warna ini terjadi akibat oksidasi dan polimerasi oleh produk dari
hidrokuinon. Perubahan warna ini disebut pseudo yellow nail syndrome karena
menyerupai yellow nail syndrome.10

Gambar 2.1 Tampak makula hitam kebiruan di bagian peri oral setelah
penggunaan hydroquinone

5
Gambar 2.2 Makula biru kehitaman pada regio lateral wajah dan dahi.

G. Pemeriksaan Penunjang :
1. Pemeriksaan laboratorium
Kebanyakan pengujian laboratorium untuk ochronosis adalah
mendeteksi perubahan dalam urin yanng diduga disebabkan oleh penyakit
alkaptonuria. Peningkatan asam homogentisat (HGA) merupakan ciri khas
dari gangguan metabolisme ini.
Peningkatan kadar HGA dalam urin, darah, dan jaringan lain dapat
ditentukan dengan tes tertentu enzimatik dan kolorimetrik, metode
spektrofotometri langsung, pengujian kromatografi dan teknik molekuler.9
2. Pemeriksaan Mikroskopi
Sampel biopsi kulit dengan hematoxylin dan pewarnaan eosin
didapatkan coklat kekuningan, berpigmen di dermis, makrofag, sel
endotel, kelenjar apokrin, dan membran epidermis bawah tanah.
Selanjutnya, pigmen ochronotic bereaksi dengan melanin. dimana dapat
dilihat pada tulang rawan dan jaringan elastis. Ochronosis eksogen terlihat
serat kolagen ochronotic yang mengarah pada pembentukan ochronotic
koloid Milium.9

6
H. Diagnosis Banding
a. Lentigo solaris (lentigo senilis)
Hipermelanosis epidermal berupa bercak kecil, berbatas tegas,
berwarna coklat sampai coklat kehitaman, didaerah kulit yang terpajan
dan diluarnya termasuk telapak kaki atau tangan. Kelainan ini didapat

7
atau diturunkan. Pigmentasi letaknya epidermal dan disebabkan
peningkatan jumlah melanosit (melanositik).8
Secara klinis ditandai oleh makula kecoklatan berbatas tegas dengan
ukuran bervariasi dari miliar hingga lentikular, pada area terpajan
matahari, contohnya wajah, leher, dan tangan. Banyak ditemukan pada
tipe kulit Fitzpatrick I-III. Mutasi genetik akibat pajanan sinar
ultraviolet terus menerus diduga menjadi salah satu pemicu munculnya
lentigo solaris. Mutasi genetik tersebut menyebabkan peningkatan
produksi melanin serta defek pada keratinosit.
Korelasi klinikopatologis: Histopatologis pada lesi hiperpigmentasi
lentigo adalah ditemukannya peningkatan jumlah melanosit epidermal
dan pada lesi yang lama dapat dijumpai rete ridges yang memanjang
menyerupai bulbus disertai peningkatan pigmen melanin. Juga dapat
ditemukan melanofag pada dermis. Serta gambaran solar elastosis.

Gambar 2.3 Bercak yang datar dengan warna keabu-abuan,


kecoklatan atau kehitaman pada kulit wajah (sun spots)

b. Melasma
Melasma merupakan kelainan hipermelanosis yang sangat sering
dijumpai, bersifat didapat, dengan distribusi simetris pada daerah yang
sering terpapar sinar matahari dan biasanya dijumpai pada wanita usia
reproduksi. Berlangsung kronis lambat dan tidak ada keluhan kecuali
estetis. Wanita lebih banyak terkena daripada pria dalam usia

8
reproduksi aktif yaitu 20-45 tahun dan terjadi di populasi negara tropis.
Melasma muncul dalam bentuk makula berwarna coklat terang sampai
gelap dengan pinggir yang iregular, biasanya melibatkan daerah dahi,
pelipis, pipi, hidung, di atas bibir, dagu, dan kadang-kadang leher.8
Melasma sering ditemui pada daerah wajah, namun juga dapat
ditemukan pada daerah leher, atau pada lengan. Pada wajah terdapat
tiga pola melasma: a). sentrofasial (63%) paling sering ditemukan.
Letak pigmentasi di pipi, dahi, bagian atas bibir, hidung dan dagu, b).
malar (21%) pigmentasi hanya di pipi dan hidung, c). mandibular
(16%) pigmen pada area mandibula.7
Korelasi klinikopatologis: Melasma dapat berwarna kecoklatan
atau keabuan. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa perbedaan warna
tersebut disebabkan oleh perbedaan letak pigmen melanin yang
berlebih. Lesi hiperpigmentasi terjadi akibat ukuran melanosit yang
membesar, lebih dendritik, dengan aktivitas melanogenesis yang
meningkat, diduga akibat ekspresi -MSH dan ACTH pada melanosit.
Sarvjot dkk. (2009) mengemukakan adanya korelasi evaluasi klinis
dan histopatologis yang baik pada lesi melasma. Pada melasma
epidermal, deposit melanin ditemukan terutama pada lapisan basal dan
suprabasal, sedangkan pada tipe dermal ditemukan melanofag pada
dermis dengan atau tanpa infiltrat sel radang serta kelainan minimal
pada epidermis. Jumlah melanosit dapat normal ataupun meningkat.
Selain itu, pada pemeriksaan histopatologis juga dapat ditemukan solar
elastosis.7

9
Gambar 2.4 Makula hiperpigmentasi yang berbatas tegas terlihat di
pipi, hidung, dan bibir bagian atas.

I. Terapi :
Meskipun tidak ada perawatan medis untuk ochronosis, kemajuan
genetik menawarkan langkah-langkah yang akan datang. Beberapa telah
menganjurkan diet rendah tirosin dan fenilalanin, sehingga mengurangi efek
samping asam homogentisat (HGA). Selain itu, diet tinggi vitamin C dapat
mencegah oksidasi asam homogentisat. perubahan pola makan telah dianjurkan
oleh beberapa penulis.6
Nitisinone juga dilaporkan terbukti efektif. The US Food and Drug
Administration (FDA) telah menyetujui obat ini untuk pengobatan tyrosinemia
jenis 1. Hal ini secara signifikan menurunkan ekskresi HGA dengan menghambat
dioksigenase 4-hydrophenylpyruvate yang akan mengurangi akumulasi HGA.
Pengujian saat ini menilai hasil keselamatan dalam jangka panjang.
Ochronosis eksogen disebabkan oleh hydroquinon topikal, laser karbon
dioksida dan dermabrasi telah dilaporkan membantu dalam penanganan
ochronosis, dimana terapi yang efektif dengan laser 755 nm alexandrite Q-
switched.5

10
J. Prognosis :
Pasien dengan ochronosis dapat mengharapkan jangka hidup yang
normal. Pasien dengan ochronosis perlu tahu bahwa mereka akan memiliki hidup
yang normal, meskipun akan terdapat perubahan pigmentasi pada area wajah
mereka.10

BAB III
KESIMPULAN

Ochronosis merupakan diskolorisasi kulit berwarna biru kehitaman yang


biasanya disebabkan penyakit alkaptonuria (penumpukan homogentisic
acid/HGA). Alkaptonuria juga berhubungan dengan efek sistemik lainnya seperti
gejala osteoarthritis dini, urin yang berwarna gelap dan warna kehitaman yang
tampak pada sklera dan telinga. Alkaptonuria adalah penyakit resesif autosomal
yang jarang terjadi dengan prevalensi 1 kasus per 1 juta penduduk. Alkaptonuria
terjadi di seluruh dunia, dengan frekuensi tertinggi terlihat di Slovakia dan
Republik Dominika, di mana prevalensi mendekati 1 kasus per 19.000 penduduk.
Efek toksik hidrokuinon terjadi karena hidrokuinon berkompetisi dengan
tirosin sebagai substrat untuk tirosinase (enzim yang berperan dalam pembentukan
melanin), sehingga tirosinase mengoksidasi hidrokuinon dan menghasilkan
benzokinon yang toksik terhadap melanosit. Efek samping yang umum terjadi
setelah paparan hidrokuinon pada kulit adalah iritasi, eritema, dan rasa terbakar.
Efek ini terjadi segera setelah pemakaian hidrokuinon konsentrasi tinggi yaitu di

11
atas 4%. Sedangkan untuk pemakaian hidrokuinon dibawah 2% dalam jangka
waktu lama secara terus-menerus dapat terjadi leukoderma kontak dan okronosis
eksogen.
Ochronisis eksogen akibat hidrokinon terjadi setelah pajanan terhadap
hidrokinon secara terus menerus dan dalam waktu yang panjang (kronik). Pada
beberapa kasus, pasien mengalami ochronosis setelah menggunakan hidrokinon
dalam konsentrasi rendah sekitar 2% selama 10-20 tahun. Pada kasus lain, pasien
yang menggunakan hidrokinon dengan konsentrasi tinggi sekitar 6% mulai
mengalami ochronosis setelah pemakaian beberapa tahun. Karena hidrokuinon
menyerap sinar ultraviolet, adanya sinar matahari akan memperburuk dan
mempercepat terjadinya okronosis eksogen.

DAFTAR PUSTAKA

1. Gillbro JM, Olsson MJ. The melanogenesis and mechanisms of skin


lightening agents existing and new approaches. International Journal
of Cosmetic Science, 2011, 33, 210221. doi:
10.1111/j.14682494.2010.00616.x
2. Derelanko, Michael. 2002. Handbook of Toxicology.United State:
CRC Press
3. Gandjar dan Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Cetakan I.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
4. Siddique, Saima, et all. 2012. Qualitative and Quantitative Estimation
of Hydroquinone in Skin Whitening Cosmetics. Journal of
Cosmetics, Dermatological Sciences and Applications,Volume 2
Nomor 1. Pakistan
5. Alghamdi KM. The Use of Topical Bleaching Agents Among Women:
a Cross-sectional Study of Knowledge, Attitude and Practices. Journal

12
compilation 2010 European Academy of Dermatology and
Venereology.
6. Deo KS, Dash KN, Sharma YK, Virmani NC, Oberai C. Kojic acid
vis-a-vis its combinations with hydroquinone and betamethasone
valerate in melasma: A randomized, single blind, comparative study of
efficacy and safety. Indian J Dermatol 2013;58:281-5.
7. Bhat YJ, Manzoor S. Qayoom S. Steroid-Induced Rosacea: A Clinical
Study of 200 Patients. Indian J Dermatol. 2011 Jan-Feb; 56(1): 3032.
doi: 10.4103/0019-5154.77547.
8. Karamagi C, Owino T, 2011, Hydroquinone Neuropathy Following
Use Of Skin Bleacihng Creams, Case Report, East African Medical
Journal, http:// eastafricanmedicaljournal.com.
9. Wolff. K., Jhonson. R.A., Saavedra. A.P. Fitzpatricks Color Atlas and
synopsis clinical dermatology. Sevent edition. Mc Graw H education.
New York. 2013

10. Goldsmith. L.A. dkk. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine.


Eight edition. Vol.2. Mc Graw H education. New York. 2012

13