Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II

HIDROSEFALUS POST VP SHUNT

Oleh :

DEDI IRAWAN

1401100021

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

JURUSAN KEPERAWATAN

PRODI D-III KEPERAWATAN MALANG

TAHUN 2016
LEMBAR PENGESAHAN

Tanggal :

Nama mahasiswa :

NIM :

Mengetahui :

Pembimbing Institusi Pembimbing Lahan

( ) ( )
NIP. NIP.
A. Pengertian

Hidrosefalus adalah akumulasi cairan serebro spinal dalam ventrikelserebral, ruang


subarachnoid atau ruang subdural (Suriadi dan Yuliani, 2001).
Hidrosefalus merupakan keadaan patologis otak yang mengakibatkan bertmbahnya cairan
serebro spinalis tanpa atau pernah dengan tekanan intracranial yang meninggi sehingga
terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya cairan serebro spinal (Ngastiyah,2007).
Hidrosefalus merupakan sindroma klinis yang dicirikan dengan dilatasi yang progresif
pada system ventrikuler cerebral dan kompresi gabungan dari jaringan jaringan serebral
selama produksi CSF berlangsung yang meningkatkan kecepatan absorbsi oleh vili
arachnoid. Akibat berlebihannya cairan serebrospinalis dan meningkatnya tekanan
intrakranial menyebabkan terjadinya peleburan ruang ruang tempat mengalirnya liquor
(Mualim, 2010)
Jenis Hidrosefalus dapat diklasifikasikan menurut:
1. Waktu Pembentukan
a. Hidrosefalus Congenital, yaitu Hidrosefalus yang dialami sejak dalamkandungan
dan berlanjut setelah dilahirkan
b. Hidrosefalus Akuisita, yaitu Hidrosefalus yang terjadi setelah bayidilahirkan atau
terjadi karena faktor lain setelah bayi dilahirkan (Harsono,2006).
2. Proses Terbentuknya Hidrosefalus
a. Hidrosefalus Akut, yaitu Hidrosefalus yang tejadi secara mendadak yang
diakibatkan oleh gangguan absorbsi CSS (Cairan Serebrospinal)
b. Hidrosefalus Kronik, yaitu Hidrosefalus yang terjadi setelah cairanCSS
mengalami obstruksi beberapa minggu (Anonim,2007)
3. Sirkulasi Cairan Serebrospinal
a. Communicating, yaitu kondisi Hidrosefalus dimana CSS masih biaskeluar dari ventrikel
namun alirannya tersumbat setelah itu.
b. Non Communicating, yaitu kondis Hidrosefalus dimana sumbatanaliran CSS yang terjadi
disalah satu atau lebih jalur sempit yangmenghubungkan ventrikel-ventrikel otak
(Anonim, 2003).

4. Proses Penyakit
a. Acquired, yaitu Hidrosefalus yang disebabkan oleh infeksi yangmengenai otak
dan jaringan sekitarnya termasuk selaput pembungkusotak (meninges).
b. Ex-Vacuo, yaitu kerusakan otak yang disebabkan oleh stroke atau
cederatraumatis yang mungkin menyebabkan penyempitan jaringan otak
atauathrophy (Anonim, 2003).

B. Etiologi
Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS pada salah satu tempat antara
tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang
subarackhnoid. akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya.
1. Kelainan kongenital.
a. Stenosis akuaduktus sylvii.
b. Anomali pembuluh darah.
c. Spino bifida dan kranium bifidi.
d. Sindrom Dandy-walker.
2. Infeksi.
Infeksi mengakibatkan perlekatan meningen (selaput otak) sehingga terjadi
obliterasi ruang subarakhnoid, misalnya meningitis. Infeksi lain yang menyebabkan
hidrosefalus yaitu: TORCH, Kista-kista parasit, Lues kongenital.
3. Trauma.
Seperti pada pembedahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak dapat
menyebabkan fibrosis epto meningen pada daerah basal otak, disamping organisasi
darah itu sendiri yang mengakibatkan terjadinya sumbatan yang mengganggu aliran
CSS.
4. Neoplasma.
Terjadinya hidrosefalus disini oleh karena obstruksi mekanis yang dapat terjadi di
setiap aliran CSS. Neoplasma tersebut antara lain: Tumor ventrikel III, Tumor fossa
posterior, Pailloma pleksus khoroideus, Leukemia, limfoma.
5. Degeneratif.
Histositosis X, inkontinentia pigmenti dan penyakit krabbe.
6. Gangguan vaskuler:
a. Dilatasi sinus dural.
b. Trombosis sinus venosus.
c. Malformasi V. Galeni.
d. Ekstaksi A. Basilaris
e. Arterio venosus malformasi.

Sedangkan hidrosefalus pada dewasa, dapat disebabkan oleh karena perdarahan


subaraknoid (selaput yang paling dalam), trauma kepala, infeksi (toxoplasmosis,
citomegalovirus, staphylococcus aureus, stapphylococcus epidermidis), tumor, pembedahan
bagian belakang dari tengkorak atau otak kecil, idiopatik (tak diketahui sebabnya), dan
kongenital. sumbatan gangguan penumpukan cairan otak yang disebabkan oleh riwayat
perdarahan di bawah selaput otak (subaraknoid). Setelah perdarahan, terjadi perlengketan di
selaput otak. Hal itu yang menyebabkan gangguan penyerapan cairan otak. Selain itu
penyebab tersering lainnya adalah tumor otak dan infeksi (Eko Prasetyo, 2004).

C. Manifestasi klinis
1. Pembesaran kepala.
2. Tekanan intra kranial meningkat dengan gejala: muntah, nyeri kepala, oedema papil.
3. Bola mata terdorong ke bawah oleh tekana dan penipisan tulang supraorbital.
4. Gangguan keasadaran, kejang.
5. Gangguan sensorik.
6. Penurunan dan hilangnya kemampuan akrivitas.
7. Perubahan pupil dilatasi.
8. Gangguan penglihatan (diplobia, kabur, visus menurun).
9. Perubahan tanda-tanda vital (nafas dalam, nadi lambat, hipertermi,/ hipotermi).
10. Penurunan kemampuan berpikir.
Hidrosefalus pada dewasa gejalanya antara lain sakit kepala, kesadaran menurun, kejang,
kelemahan saraf, inkontinensia urin (sulit menahan buang air kecil), mencong mulut, nyeri
kepala diikuti gejala muntah, dan gangguan penglihatan. Bahkan bila hidrosefalus dewasa
tidak segera diatasi bisa sampai menyebabkan kebutaan. Bila pasien hidrosefalus sudah buta
tidak bisa mengembalikan penglihatannya lagi dan bila kesadaran penderita hidrosefalus
menurun bisa meninggal (Eko Prasetyo, 2004).

D. Pathway
E. Komplikasi
1. Peningkatan tekanan intrakranial
2. Kerusakan otak
3. Infeksi:septikemia,endokarditis,infeksiluka,nefritis,meningitis,ventrikulitis,abses
otak.
4. Shunt tidak berfungsi dengan baik akibat obstruksi mekanik.
5. Hematomi subdural, peritonitis,adses abdomen, perporasi organ dalam rongga
abdomen,fistula,hernia, dan ileus.
6. Kematian

F. Pemeriksaan penunjang
1. Aloamnanesis/ amnanesis.
Amnanesis perlu dilakukan untuk menentukan hidrosefalus kongenital atau akuisita.
Bayi yang lahir prematur atau posterm dan merupakan kelahiran anak yang keberapa
adalah penting sebagai faktor resiko. Adanya riwayat cedera kepala sehingga menimbulkan
hematom, subdural atau perdarahan subarakhnoid yang dapat mengakibatkan terjadinya
hidrosefalus.
Demikian juga riwayat peradangan otak sebelumnya. Riwayat keluarga perlu dilacak,
riwayat gangguan perkembangan, aktivitas, perkembangan mental, kecerdasan serta
riwayat nyeri kepala, muntah-muntah, gangguan visus dan adanya bangkitan kejang.
2. Pemeriksaan fisik.
Kesan umum penderita terutama bayi dan anak, proporsi kepala terhadap badan,
anggota gerak secara keseluruhan tidak seimbang. Anak biasanya dalam keadaan tidak
tenang, gelisah, iritable, gangguan kesadaran, rewel, sukar makan atau muntah-muntah.
Pada hidrosefalus kongenital kepala sangat besar, fontanela tidak menutup, sutura
melebar, kepala tampak transluse, dengan tulang kepala yang tipis, adanya tanda mac
ewens cracked pot, tanda berupa sunset sign dengan dahi yang lebar. Pada pemeriksan
auskultasi kemungkinan akan terdengarnya bising daerah posterior oleh karena malformasi
V. Galeni. Pertumbuhan kepala yang cepat mengakibatkan muka terlihat lebih kecil dan
tampak kurus.

3. Pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan terhadap komposisi cairan serebrospinal dapat sebagai petunjuk penyebab
hidrosefalus, seperti peningkatan kadar protein yang amat sangat terdapat pada papiloma
pleksus khoroideuis, setelah infeksi susunan saraf pusat, atau perdarahan susunan saraf
pusat atau perdarahan saraf sentral. Penurunan kadar glukosa dalam cairan serebrospinal
terdapat pada invasi meninggal oleh tumor, seperti leukemia, medula blastama dan dengan
pemeriksaan sitologis cairan serebrospinal dapat diketahui adanya sel-sel tumor.
Meningkatnya kadar hidroksi doleaseti kasid pada cairan serebrospinal didapat pada
obstruksi hidrosefalus. Pemeriksaan serologis darah dalam upaya menemukan adanya
infeksi yang disebabkan oleh TORCH.
4. Pemeriksaan radiologis.
Pemeriksaan foto polos kepala, pelebaran fontanela, serta pelebaran sutura.
Kemungkinan ditemukannya pula keadaan-keadaan lain seperti adanya kalsifikasi
periventrikuler sebagai tanda adanya infeksi cytomegalo inclusion dioase, kalsifikasi
bilateral menunjukkan adanya infeksi tokso plasmosis. Pemeriksaan ultrasonografi, dapat
memberikan gambaran adanya pelebaran sistem ventrikel yang lebih jelas lagi pada bayi,
dan untuk diagnosis kelainan selama masih dalam kandungan.
Pemeriksaan CT-Scan menunjukkan adanya pelebaran ventrikel. Disamping itu juga
dapat untuk mempelajari sirkulasi cairan serebrospinal yaitu dengan menyuntikkan kontras
radio opak ke dalam sisterna magna kemudian perjalan kontras diikuti dengan CT-Scan
sehingga akan jelas adanya obstruksi terhdap cairan serebrospinal.
Pemeriksaan pneumoensefalografi, berguna untuk memantau dilatasi ventrikel dan
ruang subarakhnoid. Apabila sudut korpus kolosum kurang dari 120 menunjukkan
hidrosefalus komunikan, bila lebih dari 120 mungkin hidrosefalus obstruksi.

G. Penatalaksanaan
1. Pencegahan
Untuk mencegah timbulnya kelainan genetic perlu dilakukan penyuluhan genetic,
penerangan keluarga berencana serta menghindari perkawinan antar keluarga dekat.
Proses persalinan/kelahirandiusahakan dalam batas-batas fisiologik untuk menghindari
trauma kepala bayi. Tindakan pembedahan Caesar suatu saat lebih dipilih dari pada
menanggung resiko cedera kepala bayi sewaktu lahir.
2. Terapi Medikamentosa
Hidrosefalus dewngan progresivitas rendah dan tanpa obstruksi pada umumnya tidak
memerlukan tindakan operasi. Dapat diberi asetazolamid dengan dosis 25 50 mg/kg BB.
Pada keadaan akut dapat diberikan menitol. Diuretika dan kortikosteroid dapat diberikan
meskipun hasilnya kurang memuaskan. Pembarian diamox atau furocemide juga dapat
diberikan. Tanpa pengobatan pada kasus didapat dapat sembuh spontan 40 50 %
kasus.
3. Pembedahan :
Tujuannya untuk memperbaiki tempat produksi LCS dengan tempat absorbsi.
Misalnya Cysternostomy pada stenosis aquadustus. Dengan pembedahan juga dapat
mengeluarkan LCS kedalam rongga cranial yang disebut :
a. Ventrikulo Peritorial Shunt
b. Ventrikulo Adrial Shunt
Untuk pemasangan shunt yang penting adalajh memberikan pengertian pada keluarga
mengenai penyakit dan alat-alat yang harus disiapkan (misalnya : kateter shunt obat-
obatan darah) yang biasanya membutuhkan biaya besar.
Pemasangan pintasan dilakukan untuk mengalirkan cairan serebrospinal dari ventrikel
otak ke atrium kanan atau ke rongga peritoneum yaitu pi8ntasan ventrikuloatrial atau
ventrikuloperitonial.
Pintasan terbuat dari bahan bahansilikon khusus, yang tidak menimbulkan raksi radang
atau penolakan, sehingga dapat ditinggalkan di dalam yubuh untuk selamanya. Penyulit
terjadi pada 40-50%, terutama berupa infeksi, obstruksi, atau dislokasi.
4. Terapi
Pada dasarnya ada 3 prinsip dalam pengobatan hidrosefalus, yaitu :
a) mengurangi produksi CSS
b) Mempengaruhi hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat absorbsi
c) Pengeluaran likuor ( CSS ) kedalam organ ekstrakranial.
Penanganan hidrosefalus juga dapat dibagi menjadi :
1. Penanganan sementara
Terapi konservatif medikamentosa ditujukan untuk membatasi evolusi hidrosefalus
melalui upaya mengurangi sekresi cairan dari pleksus khoroid atau upaya
meningkatkan resorbsinya.
2. Penanganan alternatif ( selain shunting )
Misalnya : pengontrolan kasus yang mengalami intoksikasi vitamin A, reseksi radikal
lesi massa yang mengganggu aliran likuor atau perbaikan suatu malformasi. saat ini
cara terbaik untuk malakukan perforasi dasar ventrikel dasar ventrikel III adalah dengan
teknik bedah endoskopik.
3. Operasi pemasangan pintas ( shunting )
Operasi pintas bertujuan mambuat saluran baru antara aliran likuor dengan kavitas
drainase. pada anak-anak lokasi drainase yang terpilih adalah rongga peritoneum.
baisanya cairan ceebrospinalis didrainase dari ventrikel, namun kadang ada
hidrosefalus komunikans ada yang didrain rongga subarakhnoid lumbar. Ada 2 hal yang
perlu diperhatikan pada periode pasca operasi, yaitu pemeliharaan luka kulit terhadap
kontaminasi infeksi dan pemantauan. kelancaran dan fungsi alat shunt yang dipasang.
infeksi pada shunt meningkatkan resiko akan kerusakan intelektual, lokulasi ventrikel
dan bahkan kematian.
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Riwayat penyakit / keluhan utama
Muntah, gelisah nyeri kepala, lethargi, lelah apatis, penglihatan ganda, perubahan pupil,
kontriksi penglihatan perifer.
b. Riwayat Perkembangan
Kelahiran : prematur. Lahir dengan pertolongan, pada waktu lahir menangis keras atau
tidak.
Kekejangan : Mulut dan perubahan tingkah laku.
Apakah pernah terjatuh dengan kepala terbentur.
Keluhan sakit perut.

Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi :
o Anak dapat melihat keatas atau tidak.
o Pembesaran kepala.
o Dahi menonjol dan mengkilat. Sertas pembuluh dara terlihat jelas.
b. Palpasi
o Ukur lingkar kepala : Kepala semakin membesar.
o Fontanela : Keterlamabatan penutupan fontanela anterior sehingga fontanela
tegang, keras dan sedikit tinggi dari permukaan tengkorak.
c. Pemeriksaan Mata
o Akomodasi.
o Gerakan bola mata.
o Luas lapang pandang
o Konvergensi.
o Didapatkan hasil : alis mata dan bulu mata keatas, tidak bisa melihat keatas.
o Stabismus, nystaqmus, atropi optic.
Observasi Tanda-Tanda Vital
Didapatkan data data sebagai berikut :
o Peningkatan sistole tekanan darah.
o Penurunan nadi / Bradicardia.
o Peningkatan frekwensi pernapasan.

Diagnosa Klinis
Transimulasi kepala bayi yang akan menunjukkan tahap dan lokalisasi dari pengumpulan
cairan banormal. ( Transsimulasi terang )
o Perkusi tengkorak kepala bayi akan menghasilkan bunyi Crakedpot
(Mercewens Sign
o Opthalmoscopy : Edema Pupil.
o CT Scan Memperlihatkan (non invasive) type hidrocephalus dengan nalisisi
komputer.-
o Radiologi : Ditemukan Pelebaran sutura, erosi tulang intra cranial.

B. Diagnosa
1. Perfusi jaringan tidak efektif: serebral b.d peningkatan tekanan intrakranial,
hipervolemia.
2. Gangguan persepsi sensori b.d gangguan pusat persepsi sensori.
3. Kerusakan intregritas kulit b.d penurunan mobilitas fisik, defisiensi sirkulasi.
4. Resiko defisit volume cairan b.d mual, muntah, anoreksia.
5. Perubahan proses keluarga b.d perubahan status kesehatan anggota keluarga.
6. Kurang pengetahuan orang tua tentang penyakit, perawatan, komplikasi b.d kurang
informasi.
C. Rencana Keperawatan

DIAGNOSA RENCANA KEPERAWATAN


N
KEPERAWATAN/
O
MASALAH NOC NIC
.
KOLABORASI
1. Perfusi jaringan tidak Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji status neurologis yang
efektif: serebral b.d keperawatan selama 3 x 24 berhubungan dengan tanda-
peningkatan tekanan jam diharapkan perfusi tanda peningkatan tekana
intrakranial, jaringan serebral efektif intrakranial, terutama GCS.
hipervolemia. dengan kriteria hasil: 2. Monitor tanda-tanda
1. Terpeliharanya status vital:TD, nadi, respirasi,
neurologis. suhu, minimal tiap 15 menit
2. Tanda vital stabil. sampai keadaan pasien
stabil.
3. Monitor tingkat kesadaran,
sikap reflek, fungsi motorik,
sensorik tiap 1-2 jam.
4. Naikkan kepala dengan
sudut 15-450, tanpa bantal
(tidak hiperekstensi atau
fleksi) dan posisi netral
(posisi kepala sampai
lumbal ada dalam garis
lurus).
5. Anjurkan anak dan orang
tua untuk mengurangi
aktivitas yang dapat
menaikkan tekanan
intrakranial atau
intraabdominal, misal:
mengejan saat BAB,
menarik nafas,
membalikkan badan, batuk.
6. Monitor tanda kenaikan
tekanan intrakranial,
misalnya: iritabilitas, tangis,
sakit kepala, mual muntah.
7. Monitor intake output cairan
setiap hari.
2. Gangguan persepsi Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji tingkat kesadaran dan
sensori b.d gangguan keperawatan selama 3x 24 respon.
pusat persepsi sensori. jam, diharapkan persepsi 2. Ukur vital sign, status
sensori meningkat, dengan neurologis.
kriteria hasil: 3. Monitor tanda-tanda
1. Tanda vital normal. kenaikan tekanan
2. Orientasi baik. intrakranial seperti
3. GCS lebih dari 13. iritabilitas, tangis
4. Tekanan intrakranial melengking, sakit kepala,
<10 mmHg. mual muntah.
5. Refleks fisiologis (+). 4. Ukur lingkar kepala dengan
6. Refleks patologis (-). meteran/ midline.
5. Lakukan terapi auditori dan
stimuli taktil.

3. Kerusakan intregritas Setelah dilakukan tindakan Pressure Management


kulit b.d penurunan keperawatan selama 3x 24 1. Monitor kondisi fontanella
mobilitas fisik, defisiensi jam, diharapkan kerusakan mayor tiap 4 jam.
sirkulasi. intregitas kulit dapat teratasi, 2. Ubah posisi tiap 2 jam,
dengan kriteria hasil: pertimbangkan perubahan
1. Integritas kulit yang posisi kepala tiap 1 jam.
baik bisa 3. Gunakan lotion atau minyak
dipertahankan dan lindungi posisi daerah
(sensasi, elastisitas, kepala dari penekanan.
4. Letakkan kepala pada bantal
temperatur, hidrasi,
karet atau gunakan water
pigmentasi)
2. Tidak ada luka/lesi bed jika perlu.
5. Gunakan penggantian alat
pada kulit
3. Perfusi jaringan baik tenun dari bahan yang
4. Menunjukkan lembut.
pemahaman dalam 6. Stimuli daerah kepala setiap
proses perbaikan kulit perubahan posisi.
7. Pertahankan nutrisi sesuai
dan mencegah
program terapi.
terjadinya sedera
8. Memandikan pasien dengan
berulang
sabun dan air hangat
5. Mampu melindungi
kulit dan
mempertahankan
kelembaban kulit dan
perawatan alami

4. Resiko defisit volume Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor intake output


cairan b.d mual, muntah, keperawatan selama 3x 24 makanan dan cairan.
anoreksia. jam, diharapkan tidak terjadi 2. Ukur dan observasi tanda
deficit volume cairan, vital.
dengan kriteria hasil: 3. Catat jumlah, frekuensi dan
1. Hidrasi adekuat. karakter muntah.
2. Turgor kulit baik. 4. Timbang BB tiap hari.
3. Membran mukosa 5. Kaji tanda-tanda dehidrasi.
lembab.
4. Tanda vital normal.
5. Urin output 0,5-1 cc/
kgBB/ jam.

5. Perubahan proses Setelah dilakukan tindakan 1. Beri kesempatan pada


keluarga b.d perubahan keperawatan selama 3x 24 keluarga atau orang tua
status kesehatan anggota jam, diharapkan perubahan untuk mendiskusikan
keluarga. proses keluarga dapat efektif, masalah.
dengan kriteria hasil: 2. Beri dorongan sikap
1. Keluarga partisipasi penerimaan terhadap anak
dalam perawatan dan (misal dipeluk, berbicara
pengobatan. dan menyenangkan anak).
2. Keluarga memberikan 3. Bantu orang tua untuk ikut
sentuhan, perasaan merawat anaknya, libatkan
senang dan bicara orang tua sebanyak
pada anaknya. mungkin.
3. Keluarga mampu 4. Jelaskan setiap prosedur
mengidentifikasi perawatan dan pengobatan.
perilaku negatif dan 5. Dorong sikap positif dari
cara mengatasinya. orang tua, beri penjelasan
tentang sifat negatif.
6. Diskusikan sikap yang
mengindikasikan frustasi,
ajarkan cara menyelesaikan
masalah dengan strategi
koping yang baru.
7. Hubungi konsultan jika
perlu.

6. Kurang pengetahuan Setelah dilakukan tindakan 1. Jelaskan semua prosedur dan


orang tua tentang keperawatan selama 3x 24 pengobatan, kehadiran
penyakit, perawatan, jam, diharapkan pengetahuan perawat diperlukan bila ada
komplikasi b.d kurang keluarga tentang penyakit informasi oleh team
informasi. efektif, dengan kriteria hasil: kesehatan lain untuk
1. Ungkapkan pengertian memperkuat penjelasan.
rencana perawatan. 2. Beri dorongan pada orang
Menerima kenyataan tua untuk mengekspresikan
terhadap anaknya. perasaan dan harapan dan
2. Demonstrasikan partisipasi dalam perawatan
perawatan yang anaknya dengan perasaan
diperlukan. yang menyenangkan.
3. Mengetahui tanda 3. Bantu orang tua untuk dapat
infeksi dan menerima kenyataan tentang
peningkatan tekanan perubahan dan
intrakranial. perkembangan anaknya.
4. Menjelaskan 4. Yakinkan orang tua bahwa
pengobatan yang anak membutuhkan kasih
diberikan, minum obat sayang dan keamanan.
sesuai rencana dan 5. Demonstrasikan perawatan
mengerti efek yang diperlukan (bagaimana
samping. mengecek fungsi shunt,
posisi anak), berikan
kesempatan untuk
mengulang.
6. Beri penjelasan tentang
pengobatan.
7. Berikan dafatar nomor
telepon team kesehatan
untuk dapat digunakan bila
muncul masalah.
DAFTAR PUSTAKA

Hartatik, S. 2014. Laporan Pendahuluan Hidrosepalus, (online),


(http://lpkeperawatan.blogspot.co.id/2014/01/laporan-pendahuluan-
hidrosefalus.html#.V8K_dzUlmqk), di akses pada minggu 28 agustus 2016

Mualim. 2010. Askep Hidrosefalus, (online), (http://mualimrezki.blogspot.com/2010/12/askep-


hydrocephalus.html), di akses pada tanggal 28 Agustus 20126
Nanda. 2015. Asuhan keperawatan berdasarkan diagnosis medis & NANDA. Jogjakarta:
Mediaction
Price,Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi;Konsep klinis proses-proses penyakit,Jakarta;EGC.
Saharso. 2008. Hydrocephalus, (online), (http://www.pediatrik.com/isi03.php?
page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=061214-sykj201.htm), di
akses pada tanggal 28 Agustus 20126

Anda mungkin juga menyukai