Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ekuitas adalah hak residual atas aset entitas setelah dikurangi liabilitas.
Dengan kata lain, ekuitas merupakan aset bersih entitas atau selisih antara total
aset dan total liabilitas. Atau instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang
menambah nilai aset keuangan entitas dan liabilitas keuangan atau instrumen
ekuitas entitas lain. Ekuitas sebagai bagian hak pemilik dalam entitas harus
dilaporkan sedemikian rupa sehingga memberikan informasi mengenai sumbernya
secara jelas dan disajikan sesuai dengan peraturan perundangan dan akta pendirian
yang berlaku. Ekuitas entitas terkait dengan bentuk hukum entitas, yaitu entitas
perorangan (proprietorships), persekutuan (partnerships), dan korporasi atau
perseroan (corporations). Dalam kasus entitas perorangan, ekuitas pemilik pada
aset disajikan pada sebuah akun modal tunggal. Saldo akun ini adalah hasil
akumulasi dari investasi pemilik, penarikan oleh pemilik, dan laba atau rugi
periode lalu. Di dalam persekutuan, akun modal dibentuk untuk masing-masing
mitra/sekutu (partner). Saldo akun modal mengikhtisarkan jumlah investasi,
penarikan, dan bagian dari laba atau rugi periode lalu untuk masing-masing
sekutu dan akun ini mengukur modal masing-masing sekutu dalam aset entitas.
Dalam sebuah perseroan (Perseroan Terbatas PT), selisih antara aset dan
liabilitas disebut sebagai ekuitas pemegang saham
(stockholders atau shareholders equity) atau ekuitas pemilik (owners equity),
atau modal korporasi (corporate capital).

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah atas makalah ini adalah :
1. Apa saja yang menjadi komponen ekuitas?
2. Bagaimana pengakuan dan pengukuran ekuitas?
3. Bagaimana penyajian dan pengungkapan ekuitas?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan atas penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui komponen ekuitas
2. Mengetahui mengenai pengakuan dan pengukuran ekuitas
3. Mengetahui mengenai penyajian dan pengungkapan ekuitas.

1.4. Manfaat Penelitian


Manfaat dari penulisan ini adalah :
1. Penelitian ini diharapkan dapat memperdalam pengetahuan penulis
mengenai ekuitas.
2. Sebagai pelengkap perbendaharaan perpustakaan untuk bahan bacaan dan
perbandingan bagi mahasiswa yang memerlukan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Komponen Ekuitas: Saldo Laba, Dividen, Saham Treasuri, dan
Penghasilan Komprehensif Lain
Ekuitas adalah sisa kepemilikan atas aktiva dari suatu entitas setelah
dikurangi kewajiban. Berikut adalah komponen dari ekuitas.

A. Saldo Laba
Saldo laba adalah laba bersih yang tidak didistribusikan kepada pemegang
saham sebagai dividen dan tetap diinvestasikan dalam perusahan. Saldo laba
hanya dipengaruhi oleh laba/rugi bersih dan dividen. Saldo laba akan bertambah
apabila perusahaan membukukan laba bersih dan berkurang apabila rugi bersih.
Saldo laba akan berkurang apabila perusahaan menetapkan pembagian dividen
kepada pemegang saham.
Perusahaan dapat melakukan pembatasan atau restriksi atau
mengalokasikan atas penggunaan sebagian dari saldo laba untuk tersebut.
Ketika perusahaan melakukan restriksi atas sebagian dari saldo laba, maka
perusahaan tidak dapat menggunakan keseluruhan saldo laba untuk pengembagan
usahanya, karena saldo laba yang telah di restriksi harus digunakan untuk tujuan
khususnya. Untuk menginformasikan stakeholder maka perusahaan membagi
saldo laba menjadi Saldo Laba dan Saldo Laba yang Direstriksikan.

B. Dividen
Dividen adalah bagian laba perusahaan yang telah ditentukan
presentasenya untuk didistribusikan kepada pemegang saham. Perusahaan
mengeluarkan dividen berdasarkan keputusan yang diambil dalam Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS).
Bentuk dividen yang paling umum adalah dividen kas, yaitu perusahan
mendistribusikan kas kepada pemegang saham sebesar proporsi tertentu, mengacu
pada rasio pembagian dividen, dari laba bersih.

C. Saham Treasuri
Saham treasuri merupakan saham perusahaan yang telah dikeluarkan oleh
perusahaan dan kemudian dibeli kembali. Beberapa alasan perusahaan melakukan
hal tersebut adalah sebagai berikut.
1. Untuk memperkecil pajak
2. Untuk meningkatkan laba per saham dan pengembalian atas ekuitas
3. Mengurangi jumlah pemegang saham
4. Membentuk pasar bagi saham
5. Saham akan dijual kembali kepada karyawan perusahaan atau saham akan
dibagikan sebagai dividen
6. Saham akan dikeluarkan dengan surat-surat erharga perusahaan lain

D. Penghasilan Komprehensif Lain


Penghasilan Komprehensif Lain merupakan komponen ekuitas yang
direprentasikan dalam Laporan Penghasilan Komprehensif yang mencerminkan
total penghasilan dikurang beban yang tidak diakui dalam laba rugi sebagaimana
yang disyaratkan dalam SAK lainnya.

2.2 Pengakuan Dan Pengukuran Ekuitas: Saldo Laba, Dividen, Dan Saham
Treasuri
A. Pengakuan Dan Pengukuran Saldo Laba
Saldo laba merupakan akumulasi laba perusahaan yang tidak
didistribusikan sebagai dividen dan ditahan oleh perusahaan untuk
direinvestasikan dalam bisnis perusahaan atau dapat pula digunakan untuk
pembayaran utang. Cara menghitung saldo laba adalah sebagai berikut.
Saldo Laba = Saldo Laba Awal + Laba (Rugi) Bersih Dividen

B. Pengakuan Dan Pengukuran Dividen


Dividen Kas, ketika perusahaan mendistribusikan labanya dalam bentuk
Dividen Kas maka terdapat dua pencatatan jurnal yaitu pada tanggal pengumuman
dividen ketika perusahaan mengakui adanya utang dividen dan pendebitan saldo
laba, dan pada tanggal pembayaran ketika perusahaan melakukan pencatatan atau
pembayaran dari dividen dan pendebitan utang dividen yang telah diakui
sebelumnya.
Dividen Saham, ini adalah alternatif yang paling sering dilakukan
perusahaan untuk membagikan dividen bila perusahaan kekurangan likuiditas
(kas), dan hal ini biasanya diberikan secara merata bagi semua pemegang saham.
Pembagian dividen saham sesungguhnya tidak menyebabkan kekayaan
perusahaan berkurang. Nilai aset bersih perusahaan tetap seperti sebelum
pembagian dilakukan. Begitu juga dengan komposisi kepemilikan. Transaksi yang
dilakukan dengan cara mengapitalisasi saldo laba sebagian atau seluruhnya yang
artinya saldo laba dipindahkan ke akun modal sehingga modal yang disetor
bertambah, sedangkan saldo laba berkurang atau habis.
Dividen Properti, merupakan pembagian dividen dalam bentuk aset
perusahaan. Apabila perusahaan hendak membagikan dividen dengan tipe ini,
maka perusahaan harus melakukan penilaian atas nilai wajar dari aset tersebut,
dan mengakui adaya keuntungan atau kerugian sebagai selisih dari nilai wajar aset
dengan nilai buku aset pada tanggal deklarasi.
Dividen Scrip, merupakan keadaan ketika perusahaan memiliki akumulasi
saldo laba yang sesungguhnya sudah memungkinkan untuk dibagian dividen bagi
para pemegang sahamnya, akan tetapi jumlah uang tunaina tidak mencukupi.
Alternatif yang bisa diambil jika ingin membagi dividen adalah dengan
menerbitkan promes atau janji membayar di kemudian hari (notes payable).
Dividen semacam ini disebut dengan Scrip Dividend.
Dividen Likuidasi, apabila perusahaan mengeluarkan dividen dari saldo laba
tidak dapat mencukupi jumlah dividen tersebut, maka jumlah dividen tersebut
diambil dari modal saham. Oleh karena itu, dividen likuidasi akan mengurangi
jumlah modal saham perusahaan.

C. Pengakuan Dan Pengukuran Saham Treasuri


Terdapat dua metode pengakuan transaksi untuk Saham Treasuri, yaitu
metode biaya dan metode nilai nominal, yakni sebagai berikut.
1. Metode Biaya
Berdasarkan metode biaya, pada saat akuisisi saham treasuri maka akun
saham treasuri didebit sebesar biaya perolehan dan melaporkan akun saham
treasuri sebagai pengurang dari ekuitas pada laporan posisi keuangan. Pada saat
penjualan kembali saham treasuri dijual kembali, maka jumlah sama dengan nilai
pembelian yang akan di kreditkan. Apabila saham treasuri diperoleh dalam waktu
yang berbeda-beda, maka perusahaan dapat memilih harga perolehan yang
digunakan ketika menjual kembali saham treasuri tersebut berdasarkan alternatif
metode persediaan yaitu identifikasi khusus, biaya rata-rata, atau FIFO.
Jika saham treasuri dijual kembali dengan harga di atas harga perolehan,
maka kelebihan tersebut dikreditkan pada akun Agio Saham-saham Treasuri dan
selisih tersebut tidak diakui sebagai keuntungan.
Jika saham treasuri dijual kembali dengan harga di bawah harga perolehan,
maka selisih tersebut didebitkan pada akun Agio Saham-saham Treasuri. Apabila
selisih harga di bawah harga perolehan melebihi saldo kredit pada akun Agui
Saham-saham Treasuri, maka saldo laba didebit untuk kekurangan tersebut.

2. Metode Nilai Nominal


Berdasarkan metode nilai nominal, pada saat akusisi saham treasuri maka
pencatatan semua transaksi dalam saham treasuri pada nominalnya dan
melaporkan saham treasuri hanya sebgai pengurang dari modal saham.
Pada saat pembelian saham treasuri, maka saham treasuri didebit sebesar
nilai nominal saham dan didebit agui saham biasa sebesar selisih antara nilai
nominal dengan harga pengeluaran saham biasa.
Apabila harga pembelian saham treasuri lebih tinggi dari harga
pengeluaran saham biasa, maka Saldo Laba akan didebit, dan sebaliknya apabila
harga pembelian saham treasuri lebih rendah dari harga pengeluaran saham biasa,
maka akan dikredit Agio Saham-saham Treasuri.
Jika saham treasuri dijual dengan harga di atas nilai nominal dan harga
saham pada saat pengeluaran, maka saham treasuri dikredit sebesar nilai nominal,
dan selisih antara harga perolehan dengan harga penjualan kembali diakui dengan
mendebit akun Agio Saham Biasa. Sedangkan jika saham treasuri dijual dengan
harga di bawah nilai nominal maka saham treasuri dikredit sebesar nilai nominal
saham dan Agio Saham-saham Treasuri didebit sebesar selisih antara nilai
nominal dengan harga penjualan.

2.3 Penyajian dan Pengungkapan Ekuitas: Saldo Laba, Dividen, Dan Saham
Treasuri
A. Penyajian dan Pengungkapan Saldo Laba
Saldo laba menunjukkan akumulasi hasil usaha periodik setelah
memperhitungkan pembagian dividen dan koreksi laba rugi periode lalu. Akun ini
harus dinyatakan terpisah dari akun modal saham. Seluruh saldo laba dianggap
bebas untuk dibagikan sebagai dividen, kecuali jika terdapat indikasi pembatasan
terhadap saldo laba, misalnya untuk perluasan pabrik. Saldo laba yang tidak
dibagikan sebagai dividen karena pembatasan tersebut, dilaporkan dalam akun
tersendiri yang menggambarkan tujuan pencadangan tersebut, dan harus
diungkapkan dalam laporan keuangan.saldo laba tidak boleh dibebani atau
dikredit dengan pos-pos yang seharusnya diperhitungkan pada laporan laba rugi
tahun berjalan.
Pengungkapan saldo laba meliputi:
1) Pengungkapan penjatahan (apropriasi) dan pemisahan saldo laba
2) Peraturan, perikatan, batasan, dan jumlah batasan di sekitar saldo laba
3) Perubahan saldo laba karena penggabungan usaha dengan metode penyatuan
kepentingan
4) Koreksi masa lalu, baik bruto maupun neto setelah pajak
5) Pengungkapan jumlah dividend an dividen per lembar saham
6) Tunggakan dividen
7) Pengungkapan deklarasi dividen setelah tanggal neraca
8) Pengungkapan dividen saham dan pecah saham.

Informasi tiap jenis saham harus diungkap terpisah dalam catatan atas
laporan keuangan, meliputi:
1) Modal dasar
2) Modal ditempatkan atau dipesan sebelum disetor
3) Harga pari, harga nominal belum disetor
4) Perubahan lembar saham tiap jenis saham
5) Hak istimewa atau hak mendahului
6) Batasan khusus
7) Penjelasan bila dapat konversi
Apabila perseroan menderita kerugian sebesar lima puluh persen dari modalnya,
kewajban untuk diumumkan dalam register kepaniteraan Pengadilan Negeri dan
dalam Berita Negara, diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Apabila
perseroan mencapai akumulasi kerugian sebesar 75% dari modal, penjelasan
bahwa demi hukum PT tersebut bubar, diungkapkan dalam catatan atas laporan
keuangan.

B. Pengungkapan Dividen
Pengungkapan dividen, meliputi: jumlah dividen, dividen per lembar
saham, bentuk dividen, batasan saldo laba minimum dalam kaitan dengan
ketersediaan dividen, hutang dividen, hutang dividen per lembar saham,
pengumuman pembagian dividen setelah tanggal neraca sebelum tanggal pendapat
akuntan independen, jumlah kapitalisasi dividen saham dan pecah saham, laba per
saham perlu disaji ulang berdasarkan jumlah saham yang setara setelah pecah
saham agar dapat diperbandingkan.

C. Pengungkapan Saham Treasuri


Pengungkapan saham beredar yang diperoleh kembali (saham treasuri),
meliputi saham beredar yang diperoleh kembali, metode cost, disajikan sebagai
pengurang jumlah modal; dan saham beredar yang diperoleh kembali, metode
nilai pari (par value) sebagai pengurang saham beredar. Pengungkapan bagian lain
ekuitas (seperti saldo laba, agio, selisih penilaian kembali aktiva tetap, dan
cadangan) harus dilakukan secara terpisah, meliputi: perubahan selama periode
akuntansi dan batasan distribusi.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Ekuitas merupakan bagian hak pemilik dalam perusahaan yaitu selisih
antara aktiva dan kewajiban yang ada, dan dengan demikian tidak merupakan
ukuran nilai jual perusahaan tersebut, pada dasarnya ekuitas berasal dari investasi
pemilik dan hasil usaha perusahaan. Maka dari itu, ekuitas harus dilaporkan
sedemikian rupa sehingga memberikan informasi mengenai sumbernya secara
jelas dan disajikan sesuai dengan peraturan perundangan dan akta pendirian yang
berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

IAI, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan

Kieso, Donald E., et all. 2008. Akuntansi Intermediate Jilid 1. Jakarta: Penerbit
Erlangga

http://hayyalan.blogspot.co.id/2016/04/perseroan-terbatas-deviden-saldo-
laba.html
file:///C:/Users/OWNER%20ACER/Downloads/307389053-Ekuitas-Saldo-Laba-
Dividen-Saham-Treasuri-Dan-Penghasilan-Komprehensif-Lain.pdf
http://rezwan-rizki.blogspot.co.id/2013/05/ekuitas.html
https://www.academia.edu/23733321/ekuitas
http://akuntan-si.blogspot.co.id/2012/06/psak-21-akuntansi-ekuitas.html
https://slidepajak.wordpress.com/2010/04/07/psak-21-akuntansi-ekuitas-
accounting-for-ecquity/