Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kanker serviks merupakan kanker tersering kedua di dunia pada
perempuan namun merupakan kanker yang sifatnya tersering terjadi di daerah
berkembang. Pada tahun 2002 prevalensi kasus kanker serviks di dunia
mencapai 1,4 juta dengan 193/1000 kasus baru dan 273.000 kasus kematian.
Dari data tersebut lebih dari 80% penderita berasal dari Asia Selatan, Sub-
saharan Afrika, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Dari data WHO
menyatakan bahwa setiap tahunnya 230.000 perempuan meninggal akibat
kanker serviks dan 190.000 penderita berasal dari negara berkembang (WHO,
2000).
Insiden kanker serviks bervariasi dari 10:10.000 dinegara barat sampai
40:100.000 di negara berkembang. Tingginya angka penderita kanker serviks
di negara berkembang disebabkan oleh kurangnya program skrining dan
fasilitas kesehatan yang berkualita, serta tingginya prevalensi infeksi Human
Papilloma Virus yang onkogenik.
Kanker serviks merupakan kanker tersering di Indonesia dengan
perkiraan insidens 25-40: 100.000. Menurut data tahun 2000. Kanker serviks
merupakan 28% dari seluruh kanker yang diderita oleh perempuan dan 18%
dari sleuruh kanker yang terjadi di Indonesia dengan jumlah kasus baru sekitar
3256 kasus. Data tersebut diperkirakan bukan angka yang sebenarnya
dikarenakan masih banyak penderita yang tidak mau datang ke pelayanan
kesehatan untuk mengontrol penyakitnya.
Kanker serviks terjadi mulai dari dekade ke-2 kehidupan. Insidens
puncak pada usia 45 tahun untuk kanker invasif dan 30 tahun untuk lesi
prekanker. Di negara berkembang seperti di negara Indonesia, puncak insidens
kanker serviks terdapat pada usia 35-45 tahun. Penurunan puncak insidens
kanker serviks diperkirakan akibat adanya program skrinning aktif yang
bertujuan mendeteksi lesi prekanker sedini mungkin dari faktor risiko lain
sepertui perilaku seksual dan paritas.
Kanker serviks di Indonesia menjadi masalah besar dalam pelayanan
kesehatan karena kebanyakn pasien datang dalam stadiun yang lanjut. Hal itu
diperkirakan akibat program skrining yang sifatnya masih kurang. Schwartz et
al menyatakan bahwa setengah dari perempuan yang menderita kanker serviks
belum pernah menjalani pap smear dan pasien dengan kanker stadium lanjut
baru mencari pertolongan medis setelah mengeluarkan sekret, pendarahan
pervagina atau nyeri yang sudah tidak tertahankan lagi oleh si penderita.
Symonds et al juga mengatakan bahwa progresi kanker serviks lebih
dipengaruhi oleh sifat biologis dari tumor tersebut daripada oleh
keterlambatan diagnosis. Kanker pda stadium lanjut mempunyai tingkat
proliferasi yang lebih cepat dan waktu pembelahan yang lebih singkat. Kanker
serviks yang progesif terutama terjadi pada perempuan yang berusia lebih tua.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi rahim ?
2. Apa definisi dari Ca. Serviks?
3. Apa etiologi dari Ca. Serviks ?
4. Bagaimana patofisiologi dari Ca. Serviks ?
5. Bagaimana manifestasi klinis dari Ca. Serviks ?
6. Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari Ca. Serviks ?
7. Bagaimana penatalaksanaan dari Ca. Serviks ?
8. Bagaimana komplikasi dari Ca. Serviks ?
9. Bagimana prognosis dari Ca. Serviks ?
10. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien Ca. Serviks ?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan dan mengidentifikasi
gangguan dalam sistem reproduksi yaitu, kanker Serviks.

2. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi bagaimana anatomi dan fisiologi
rahim.

2. Mahasiswa dapat mengidentifikasiapa definisi dari Ca. Serviks.

3. Mahasiswa dapat mengidentifikasiapa etiologi dari Ca. Serviks.

4. Mahasiswa dapat mengidentifikasibagaimana patofisiologi dari Ca.


Serviks.

5. Mahasiswa dapat mengidentifikasi bagaimana manifestasi klinis dari


Ca. Serviks.

6. Mahasiswa dapat mengidentifikasibagaimana pemeriksaan diagnostik


dari Ca. Serviks.

7. Mahasiswa dapat mengidentifikasibagaimana penatalaksanaan dari Ca.


Serviks.

8. Mahasiswa dapat mengidentifikasi bagaimana komplikasi dari Ca.


Serviks.

9. Mahasiswa dapat mengidentifikasi bagaimana prognosis dari Ca.


Serviks.

10. Mahasiswa dapat mengidentifikasibagaimana asuhan keperawatan


pada klien Ca. Serviks.

D. Manfaat

Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan tentang patofisiologi


gangguan pada sistem reproduksi : Ca. Serviks dalam tubuh manusia sehingga
dapat bermanfaat bagi para mahasiswa keperawatan dalam melakukan
pemeriksaan dan tindakan keperawatan
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi Rahim


1. Anatomi Rahim

Uterus adalah organ yang tebal, berotot, berbentuk buah pear, terletak

dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan anus, ototnya
disebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi bagian dalamnya disebut
endometrium. Peritonium menutupi sebagian besar permukaan luar uterus,
letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak
memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing.
Bagian bawah bersambung dengan vagina dan bagian atasnya tuba uterin
masuk ke dalamnya. Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapisan
peritoneum, di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba uterina. Panjang
uterus 5 8 cm dengan berat 30 60 gram (Verrals, Silvia, 2003).
Uterus terbagi atas 3 bagian yaitu :
1. Fundus : bagian lambung di atas muara tuba uterina
2. Badan uterus : melebar dari fundus ke serviks
3. Isthmus : terletak antara badan dan serviks
Bagian bawah yang sempit pada uterus disebut serviks. Rongga serviks
bersambung dengan rongga badan uterus melalui os.interna (mulut interna)
dan bersambung dengan rongga vagina melalui os.eksterna.
Ligamentum teres uteri : ada dua buah kiri dan kanan. Berjalan melalui
annulus inguinalis, profundus ke kanalis iguinalis. Setiap ligamen panjangnya
10 12,5 cm, terdiri atas jaringan ikat dan otot, berisi pembuluh darah dan
ditutupi peritoneum. Peritoneum di antara kedua uterus dan kandung kencing
di depannya, membentuk kantong utero-vesikuler. Di bagian belakang,
peritoneum membungkus badan dan serviks uteri dan melebar ke bawah
sampai fornix posterior vagina, selanjutnya melipat ke depan rectum dan
membentuk ruang retri-vaginal.
Ligamentum latum uteri : Peritoneum yang menutupi uterus, di garis
tengh badan uterus melebar ke lateral membentuk ligamentum lebar, di
dalamnya terdapat tuba uterin, ovarium diikat pada bagian posterior
ligamentum latum yang berisi darah dan saluran limfe untuk uterus maupun
ovarium.
Fungsi dari uterus adalah:
1. Setiap bulan, berfungsi dalam pengeluaran darah haid dengan ditandai
adanya perubahan dan pelepasan dari endometirum.
2. Selama kehamilan sebagai tempat implantasi retensi dan nutrisi konseptus.
3. Saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan
serviks uterus, isi konsepsi dikeluarkan. Ukuran uterus berbeda-beda
tergantung pada usia, pernah melahirkan atau belum. Ukuran uterus
pada anak- anak 2-3 cm, nuli para 6-8 cm dan multi para 8-9 cm.

Uterus terdiri atas dua bagian utama yaitu serviks dan korpus uteri.

1. Serviks uteri
Serviks uteri merupakan bagian terbawah uterus, yang terdiri dari pars
vaginalis dan pars supravaginalis. Komponen utama dalam serviks uteri
adalah otot polos, jalianan jaringan ikat kolagen dan glikosamin) dan
elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu portio cervicis uteri
dengan lubang ostium uteri externum, yang dilapisi epitel skuamokolumnar
mukosa serviks, danostium uteri internum.

2. Korpus uteri
Korpus uteri terdiri dari: paling luar lapisan serosa/peritoneum yang
melekat pada ligamentum latum uteri di intra abdomen, tengah lapisan
muskular/miometrium berupa otot polos tiga lapis (dari luar ke dalam arah
serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam lapisan
endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh
sesuai siklus haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium. Posisi corpus
intra abdomen mendatar dengan fleksi ke anterior, fundus uteri berada di
atas vesica urinaria. Hubungan antara kavum uteri dan kanalis servikalis ke
dalam vagina disebut ostium uteri eksternum. Isthmus adalah
bagian uterus antar korpus dan serviks uteri, yang diliputi oleh
peritoneum viserale. Isthmus, akan melebar selama kehamilan dan disebut
segmen bawah rahim.
Organ yang berbatasan dengan uterus adalah sebagai berikut:
1. Sebelah atas: rongga rahim berhubungan dengan tuba falopi
2. Sebelah bawah: berbatasan dengan saluran leher rahim (kanalis
servikalis)
Dinding rahim terdiri atas tiga lapisan, yaitu:
1. Lapisan serosa (perimetrium) terletak paling luar
2. Lapisan otot (miometrium) terletak di tengah
3. Lapisan mukosa (endometrium) terletak paling dalam
Sikap dan letak uterus dalam rongga pang gul terfiksasi dengan baik karena
disokong dan dipertahankan oleh:
1. Tonus rahim sendiri
2. Tekanan intra abdominal
3. Otot-otot dasar panggul
4. Ligamentum-ligamentum
Fisiologi
Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan
sebutir ovum, sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke
uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu
hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu, uterus bertambah
besar, tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar
sampai keluar pelvis, masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus.
Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang
sempurna. Tetapi dalm kenyataannya tidak selalu demikian. Sering kali
perkembangan kehamilan mendapat gangguan. Demikian pula dengan
penyakit trofoblast, pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi. Di
sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna, melainkan
berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu
pertama kehamilan, berupa degenerasi hidrifik dari jonjot karion, sehingga
menyerupai gelembung yang disebut mola hidatidosa. Pada ummnya
penderita mola hidatidosa akan menjadi baik kembali, tetapi ada diantaranya
yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma
(Wiknjosastro, Hanifa, 2002).

B. Definisi Ca. Serviks (Kanker Leher Rahim)

Kanker leher rahim adalah kanker primer yang terjadi pada jaringan
leher rahim atau serviks. Sementara lesi prakanker, adalah kelainan pada epitel
serviks akibat terjadinya perubahan sel-sel epitel, namun kelainannya belum
menembus lapisan basal.( Andrijono, 2007)
Kanker serviks adalah tumor ganas yang tumor ganas yang tumbuh
didalam leher rahim atau cerviks (bagian terendah dari rahim yang menempel
pada puncak vagina). Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-
55 tahun (Nanda.2007)
Karsinoma insitu pada serviks adalah keadaan di mana sel-sel neoplastik
terdapat pada seluruh lapisan epitel. Perubahan prakanker lain yang tidak
sampai melibatka seluruh lapisan epitel serviks disebut dysplasia.
Kanker serviks adalah perubahan sel-sel serviks dengan karakteristik
histology. Proses perubahan pertama menjadi tumor ini mulai terjadi pada sel-
sel squamoculummar junction. Kanker serviks ini terjadi paling sering pada
usia 30 sampai 45 tahun, tetapi dapat terjadi pada usia dini ,yaitu 18
tahun( Mitayani.2009)

C. Etiologi

Penyebab primer kanker leher rahim adalah infeksi kronik leher rahim
oleh satu atau lebih virus HPV (Human Papiloma Virus) tipe onkogenik yang
beresiko tinggi menyebabkan kanker leher rahim yang ditularkan melalui
hubungan seksual (sexually transmitted disease). Perempuan biasanya
terinfeksi virus ini saat usia belasan tahun, sampai tiga puluhan, walaupun
kankernya sendiri baru akan muncul 10-20 tahun sesudahnya. Infeksi virus
HPV yang berisiko tinggi menjadi kanker adalah tipe 16, 18, 45, 56 dimana
HPV tipe 16 dan 18 ditemukan pada sekitar 70% kasus. Infeksi HPV tipe ini
dapat mengakibatkan perubahan sel-sel leher rahim menjadi lesi intra-epitel
derajat tinggi (high-grade intraepithelial lesion/ LISDT) yang merupakan lesi.
( FKUI.2008)

Faktor lain yang berhubungan dengan kanker serviks adalah aktivitas


seksual terlalu muda (<16 tahun), jumlah pasangan seksual yang tinggi (>4
orang), adanya riwayat infeksi berpapil (warts). Karena hubungannya erat
dengan infeksi HPV, wanita yang mendapat atau menggunakan penekan
kekebalan (immunosuppressive) dan penderita HIV beresiko menderita kanker
serviks. Bahan karsinogenik spesifik dari temabakau dijumpai dalam lender
serviks wanita perokok. Bahan ini dapat merusak DNA sel epitel skuamosa
dan bersama dengan infeksi HPV mencetuskan transformasi maligna.
(M.Farid.2006)
D. Patofisiologi

Virus herpes simplex


Virus HPV Faktor-faktor resiko
Sito megalo virus

Penekanan sel Ca pada saraf


Ca Serviks

Nyeri

Psikologis Pendarahan Bau busuk Pengobatan

Kurang pengetahuan
Hipovolemi Ggn. Bodi image
Ggn. Pola SeksualEksternal radiasi
Anemia
Cemas/Takut
Resti Infeksi
Kulit merah, kering
Depresi sumsum
Mulut kering stomatitis
tulang
Intoleransi aktifitas

Resti Hb
kerusakan
integritas
Anemia
kulit

Sel-sel kurang O2

Gastrointestin kurang O2

Resti
Mual, muntah
kekurangan
volume
cairan Nutrisi kurang

Kelemahan/kelelahan

Daya tahan tubuh berkurang


Resiko injury

Resiko tinggi infeksi


Pada perempuan saat remaja dan kehamilan pertama, terjadi metaplasia
sel skuamosa serviks. Bila pada saat ini terjadi infeksi HPV, maka akan
terbentuk sel baru hasil transformasi dengan partikel HPV tergabung dalam
DNA sel. Bila hal ini berlanjut maka terbentuklah lesi prekanker dan lebih
lanjut menjadi kanker. Sebagian besar kasus displasia sel servix sembuh
dengan sendirinya, sementara hanya sekitar 10% yang berubah menjadi
displasia sedang dan berat.50% kasus displasia berat berubah menjadi
karsinoma. Biasanya waktu yang dibutuhkan suatu lesi displasia menjadi
keganasan adalah 10-20 tahun. Kanker leher rahim invasif berawal dari lesi
displasia sel-sel leher rahim yang kemudian berkembang menjadi displasia
tingkat lanjut, karsinoma in-situ dan akhirnya kanker invasif. Penelitian
terakhir menunjukkan bahwa prekursor kanker adalah lesi displasia tingkat
lanjut (high-grade dysplasia) yang sebagian kecilnya akan berubah menjadi
kanker invasif dalam 10-15 tahun, sementara displasia tingkat rendah (low-
grade dysplasia) mengalami regresi spontan.(FKUI.2008)
Kanker insitu pada serviks adalah keadan dimana sel-sel neoplastik
terjadi pada seluruh lapisan epitel disebut dysplasia. Dysplasia serviks
intraeptielal (CNI) terbagi menjadi tiga tingkat, yaitu tingkat satu ringan,
tingkat dua sedang, tingkat tiga berat.Tidak ada gejala spesifik pada kanker
serviks, perdarahan merupakan gejala satu-satunya yang nyata, tetapi gejala
ini ditemukan pada tahap akhir, bukan pada tahap awal. Karsinoma serviks
timbul dibatasi antar yang melapisi ektoserviks (portio) dan endoserviks
kanalis serviks yang disebut skuamo kolumnar junction (SCJ).
Tumor dapat tumbuh : (Mitayani,2009)
a. Eksofilik
Mulai dari arah SCJ ke arah lumen vagina sebagai massa proliferative yang
mengalami infeksi skunder dan nekrosis.
b. Endofilik
Mulai dari SCJ tumbuah kedalam stroma serviks dan cenderung infiltrative
membentuk ulkus
c. Ulseratif
Mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan pelvis dengan
melibatkan fornices vagina untuk menjadi ulkus yang luas. Serviks normal
secara alami akan mengalami metaplasi atau erosi akibat saling desak
kedua jenis epitel yang melapisinya. Dengan masuknya mutagen, portio
yang erusif (metaplasia skuamos) yang semula faali berubah menjadi
patologik (diplatik-diskarotik) melalui tinggkatan NIS-I,II,III dan KIS
untuk akhirnya menjadi karsinoma invansive. Sekali menjadi
mikroinvansive, proses keganasan akan terus berjalan.
Tahap invansive ini akan terus berlanjut:
1. Tahap I
Kanker hanya terbatas pada serviks saja tapi telah mengalami invasi ke
stroma serviks. Akibat invasi pada stoma serviks, yang dapat
mengakibatkan kerusakan pada struktur serviks. Kerusakan tersebut
menyebabkan ulserasi yang disertai dengan perdarahan spontan setelah
coitus serta tejadi anemia. Selain itu, ulserasi juga menyebabkan sekresi
serviks yang berlebihan, sehingga timbul keputihan yang berbau khas.
2. Tahap II
Sudah ada perluasan kanker kearah bawah serviks tapi tidak
melibatkan dinding panggul dan telah mengenai daerah vagina dan akan
terjadi nekrosis pada vagina dan juga akan adanya pengeluaran cairan
vagina yang berbau busuk dan juga disertai pendarahan.
Tahapan III
Penyebaran ke vagina yang lebih luas dan juga mengalami penyebaran
pada dinding panggul.Pada tahap ini kanker meluas ke sistem perkemihan,
pencernaan, pernapasan, dan otak. Metastasis pada sistem perkemihan
dapat menyebabkan penyumbatan ureter atau penuhnya kandung kemih
yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan eliminasi urine. Metastasis
pada bagian pencernaan dapat menyebabkan terbentuknya ulkus dan
terjadinya perdarahan. Selain itu, juga dapat terjadi peningkatan asam
lambung yang merangsang mual dan muntah. Metastasis pada sistem
pernapasan menyebabkan gangguan pengembangan paru sehingga terjadi
gangguan pertukaran gas. Dan metastasis pada bagian otak menyebabkan
terjadinya kerusakan sistem saraf sehingga terjadi stoke dan kematian.
CNI biasanaya terjadi disambungan epitel skuamosa dengan epitel
kolumnar dan mukosa endoserviks, keadaan ini tidak dapat diketahui dengan
cara panggul rutin, pap smear dilaksanakan untuk mendeteksi perebuahan.
Neoplastik hasil apusan abnormal dilanjutkan dengan biyopsi kolposkop
fungsinya mengarahkan tindakan biyopsy dengan mengambil sample, biopsy
kerucut harus dilakukan.
Stadium dini CNI dapat diangkat seluruhnya dengan biopsy kerucut atau
dibersihkan dengan laser kanker atau bedah beku, atau biasa juga disebut
histerektomi bila klien merencanakan untuk tidak punya anak.Kanker invasive
dapat meluas sampai jaringan ikat, pembuluh limfe dan vena.Vagina
ligamentum kardinale. Endomentrum penanganan yang dapat dilaksanakan
yaitu radioterapi atau histerektomi radikal dengan mengangkat uterus atau
ovarium jika terkena kelenjar limfe aorta diperlukan kemoterapi.(Price, Sylvia
A. 2006).
Kanker cervik merupakan kanker ginekologi yang pada tahap permulaan
menyerang pada bagian lining atau permukaan cervix.Kanker jenis ini tidak
dengan segera terbentuk menjadi sel yang bersifat ganas melainkan secara
bertahap berubah hingga akhirnya menjadi sel kanker.Tahap perkembangan ini
yang kemudian disebut sebagai tahap pre-kanker (pre-cancerous yaitu
displasia, neoplasia intraepitel cervik atau CIN, dan lesi squamosa intraepitel
atau SIL) kanker cervik diawali dengan terbentuknya tumor yang bersifat
bulky (benjolan) yang berada pada vagina bagian atas kemudian tumor ini
berubah menjadi bersifat invasif serta membesar hingga memenuhi bagian
bawah dari pelvis.Jika invasinya kurang dari 5 mm maka dikategorikan
sebagai karsinoma dengan invasi mikro (microinvasif) dan jika lebih dari 5
mm atau melebar hingga lebih dari 7 mm maka disebut sebagai tahap
invasif.Pada tahap ini disebut juga tahap kanker dan membutuhkan evaluasi
tahap perkembangan kanker atau stage.Akhirnya, tumor tersebut berubah
menjadi bersifat destruktif dengan manifestasi ulcerasi hingga terjadi infeksi
serta nekrosis jaringan.Infeksi HPV yang berjenis oncogenik merupakan factor
utama penyebab kanker cervik.HPV merupakan virus tumor yang ber-DNA
rantai ganda yang menyerang lapisan epitel basal pada daerah transformasi
cervik dimana sel-selnya sangat rapuh.HPV menginfeksi cervik ketika trauma
mikro terjadi atau erosi pada lapisan tersebut. Virus ini mampu menghindari
deteksi system imun dengan cara membatasi ekspresi gen dan replikasinyanya
hanya pada lapisan supra basal dan dapat tetap berada pada lokasi tersebut
untuk jangka waktu yang lama. (Sharma et al, 2007).
Pada umumnya screening awal (pap smear) mampu mengidentifikasi
abnormalitas namun pemeriksaan sebaiknya dilanjutkan melalui colposcopy,
CT scan, atau MRI untuk mendapatkan hasil yang definitive. Federation of
Gynecology and Obstetrics memberikan batasan mengenai tahapan-tahapan
pada kanker cervik yang selanjutnya tahapan-tahapan ini menjadi tahapan
penting guna menentukan terapi yang cocok untuk penderita.

E. Manifestasi Klinis

Kebanyakan sering asimtomatik. Saat terdapat rabas atau perdarahan yang


tidak teratur (Boughman.2000)
1. Rabas meningkat jumlahnya dan menjadi cair. Rabas ini berwarna gelap
dan berbau busuk karena nekrosis dan infeksi dari tumor
2. Perdarahan terjadi pada interval yang tidak teratur antara periode atau
setelah menopasu, cukup besar dibandingkan hanya bercak yang terdapat
pada pakaian dalam, dan biasanya terlihat setelah trauma ringan
(hubungan seksual, douching, atu defekasi)
3. Dengan berjalanya penyakit, perdarahan mungkin persisten dan
meningkat.
4. Sejalan dengan berkembangnya kanker, jaringan disebelah luar serviks
terserang, termasuk kelenjar limfe anterior ke sacrum saraf yang terkena
mengakibatkan nyeri yang sangat pada pungung tungkai.

F. Gejala
Kanker serviks pada stadium dini sering tidak menunjukkan gejala atau tanda-
tanda yang khas, bahkan kadang-kadang tidak ada gejala sama sekali. Gejala
yang mungkin timbul antara lain sebagai berkut:
1. Nyeri pada waktu senggama dan pendarahan sesudah senggama.
2. Keluar keputihan atau cairan encer dari vagina.
3. Pendarahan sesudah mati menstruasi.
4. Pada tahap lanjut dapat kaluar cairan kekuningan, berbau, dan dapat
bercampur dengan darah.
Apabila gejala tersebut sudah muncul, biasanya kanker sudah dalam stadium
lanjut. Untuk itu perlu segera diperiksakan ke dokter karena semakin dini
penyakit didiagnosis dan diobati, makin besar kemungkinan untuk
disembuhkan.

G. Faktor Resiko
Beberapa factor resiko dan predisposisi yang menyebabkan perempuan
terpapar HPV (sebagai etiologi dari kanker serviks) diantaranya adalah
sebagai berikut:
1. Menikah atau memulai aktivitas seksual pada usia muda. Penelitian
menunjukkan bahwa semakin muda perempuan melakukan hubungan
seksual semakin besar mendapat kanker serviks.
2. Jumlah kehamilan dan partus. Kanker serviks terbanyak dijumpai pada
perempuan yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar
kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
3. Perilaku seksual. Berdasarkan penelitian, resiko kanker serviks meningkat
lebih dari 10kali bila berhubungan dengan 6 atau lebih mitra seks, atau
bila hubungan seks pertama dibawah 15 tahun. Resiko juga meningkat bila
berhubungan seks dengan lak-laki beresiko tinggi (laki-laki yang
berhubungan seks dengan banyak perempuan), atau laki-laki yang
mengidap penyakit jegger ayam (kondiloma akuminatum) di zakarnya
(penis).
4. Riwayat infeksi di daerah kelamin dan radang panggul. Infeksi menular
seksual (IMS) dapat menjadi peluang meningkatnya resiko terkena kanker
serviks.
5. Social ekonomi. Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan social
ekonomi rendah, mungkin factor social ekonomi erat kaitannya dengan
gizi, imunitas, dan kebersihan perseorangan. Pada golongan social
ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang, hal ini
memengaruhi imunitas tubuh.
6. Hygiene dan sirkumsisi. Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya
kanker serviks pada perempuan yang pasangannya belum disirkumsisi.
Hal ini karena pada pria nonsirkumsisi, hygiene penis tidak terawatt
sehingga banyak terdapat kumpulan smegma.
7. Merokok dan AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim). Terkandung
nikotin dan zat lainnya yang terdapat di dalam rokok. Zat-zat tersebut
dapat menurunkan daya tahan serviks dan menyebabkan kerusakan DNA
epitel serviks sehingga timbul kanker serviks. Sedangkan pemakaian
AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi
di serviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus-
menerus.
8. Defisiensi zat gizi. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa defisiensi
asam folat dapat meningkatkan resiko terjadinya NIS 1 dan NIS 2, serta
mungkin juga meningkatkan resiko terkena kanker serviks pada wanita
yang rendah konsumsi beta karoten dan vitamin (A, C, dan E).
(Sumber: Kumalasari, Intan. Iwan Adhyantoro. 2014. Kesehatan Reproduksi.
Jakarta:Salemba Medika)

H. Stadium Ca. Serviks

Stadium Kanker Serviks menurut FIGO 2000


Stadium 0 Karsinoma insitu, karsinoma intra epineal

Stadium I Karsinoma masih terbatas pada servks (penyebaran ke


korpus uteri)

Stadium Ia Invansi kanker ke stroma hanya dapat dikenali secara


mikroskopik, lesi yang dapat dilihat secara langsung
walau dengan invansi yang sangat superficial
dikelompokan sevagai stadium Ib. kedalaman invansi ke
stroma tidak lebih dari 5 mm dan lebarnya lesi tidak
lebih dari 7 mm.
Stadium Ia1 Invansi ke stroma dengan kedalaman tidak lebih dari 3
mm dan lebar tidak lebih dari 7 mm

Stadium Ia2 Invansi ke stroma dengan kedalaman lebih dari 3 mm


tapi kurang dari 5 mm dan lebar tidak lebih dari 7 mm

Stadium Ib Lesi terbatas di serviks atau secara mikroskopik lebih


dari Ia

Stadium Ib1 Besar lesi secara klinis tidak lebih dari 4 cm

Stadium Ib2 Besar lesi secara klinis lebih dari 4 cm

Stadium II Telah melibatkan vagina, tetapi belum sampai sepertiga


bawah atau infiltrasi ke parametrium belum mencapai
dinding panggul.

Stadium IIa Telah melibatkan vagina tapi belum melibatkan


parametrium

Stadium IIb Infiltrasi ke parametrium, tetapi belum mencapai


dinding panggul

Stadium III Telah melibatkan sepertiga bawah vagina atau adanya


perluasaan sampai dinding panggul. Kasus dengan
hidroneprosis atau ganguan fungsi ginjal dimasukan
dalam stadium ini, kecuali kelainan ginjal dapat
dibuktikan oleh sebab lain

Stadium IIIa Keterlibatan sepertiga bawah vagina dan infiltrasi


parametrium belum mencapai dinding panggul

Stadium IIIb Perluasan sampai dinding panggul atau adanya


hidroneprosis atau ganguan fungsi ginjal

Stadium IV Perluasan ke luar organ reproduktif

Stadium Iva Keterlibatan mukosa kandung kemih atau mukosa


rectum

Stadium IVb Metastase jauh atau telah keluar dari rongga panggul

I. Pemeriksaan Diagnostik

Ada beberapa cara memeriksakan kanker serviks, diantaranya:

1. Mendeteksi kanker serviks dengan Pap Smear


Pemeriksaan Pap Smear adalah satu cara pemeriksaan sel serviks yang
dapat mengetahui perubahan perkembangan sel rahim, sampai mengarah
pada pertumbuhan sel kanker tubuh lagi pada bagian atas vagina setelah
dilakukan operasi pengangkatan rahim (histerektomi).
Wanita yang dianjurkan untuk melakukan tes pap smear biasanya
mereka yang tinggi aktivitas seksualnya. Namun tidak menjadi
kemungkinan juga wanita yang tidak mengalami aktivitas seksualnya
memeriksakan diri.
2. Biopsi
Bila pemeriksaan kolposkopi terlihat ada kelainan epitel atau kelainan
pembuluh darah maka harus dibuktikan dengan pemeriksaan patologi yaitu
dengan melakuakan biopsi (dengan biops target atau dengan loop electrical
excision of the transformation zone (LETZ) mengambil sedikit sayatan
jaringan menggunakan alat loop tenaga listrik.
3. Konisasi
Bila pemeriksaan kolposkopi tidak akurat tetapi pada pemeriksaan pap
smear terdapat lesi prekanker maka diagnosis sebaiknya ditetapkan dengan
pemeriksaan konisasi. Konisasi adalah mengambil jaringan servikal dengan
pembedahan kecil, serviks diambil dengan bentuk irisan seperti
kerucut.Irisan dapat dilakukan dengan pisau, kawat listrik/kauter, atau
dengan laser.Kadang memerlukan anestesi lokal.
4. IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)
Merupakan cara sederhana untuk mendeteksi kanker serviks sedini
mungkin dengan mengoles serviks atau leher Rahim menggunakan lidi
wotten yang telah dicelupkan kedalam asam asetat 3-5% dengan mata
telanjang. Daerah yang tidak normal akan berubah warna menjadi putih
(acetowhite) dengan batas yang tegas, dan mengindiksikan bahwa seviks
mungkin memiliki lesi prakanker. Jika tidak ada perubahan warna, maka
dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks.
Pemeriksaan IVA dianjurkan untuk fasilitas dengan sumber yang daya
rendah bila dibandingkan dengan jenis skrining yang lain, karena:
a. Mudah dilakukan, aman, dan tidak mahal.
b. Akurasinya sama dengan tes-tes yang lain.
c. Dapat dipelajari dan dilakukan oleh hamper semua tenaga kesehatan
yang sudah terlatih.
d. Dapat dilakukan di semua jenjang pelayanan kesehatan (rumahsakit,
puskesmas, pustu, polindes, dan klinik dokter spesialis, dokter umum
dan bidan)
e. Langsung ada hasilnya sehingga dapat segera dilakukan pengobatan
dengan krioterapi, yaitu pembekuan serviks berupa penerapan
pendinginan secara terus-meners selama 3 menit untuk membekukan
(freeze) dan diikuti dengan pencairan selama 5 menit, kemudian diikuti
dengan pembekuan lagi selama 3 menit dengan menggunakan CO2
atau NO2 sebagai pendingin.
f. Sebagian besar peralatan dan bahan untuk pelayanan mudah didapat.
g. Tidak bersifat invasive dan dapat mengidentifikasi lesi prakanker
secara efektif.

5. Mendiagnosis serviks dengan kolposkop


Koloskopi merupakan suatu pemeriksaan untuk melihat permukaan
serviks dengan memasukkan teropong bernama koloskop ke dalam liang
vagina. Pemeriksaan ini menggunakan mikroskop berkekuatan rendah
yang memperbesar permukaan serviks yang perbesarannya dari 10-40 kali
dari ukuran normal. Ini dapat membantu mengidentifikasi area permukaan
serviks yang menunjukkan ketidaknormalan.
Pemeriksaan koloskopi dilakukan di atas meja pemeriksaan
ginekologs. Pada koloskopi, serviks dioles dengan larutan kimia(asam
asetat) untuk menyingkirkan lendir yang meliputi permukaan serviks.
Setelah area abnormal terlihat, koloskop diposisikan pada mulut vagina
dan seluruh permukaannya diperiksa. Gambar permukaan serviks bisa
didokumentasikan dengan kamera kecil tersebut. Jika ditemukan area yang
abnormal, sampel jaringan akann diambil dengann menggunakan alat
biopsy kecil. Beberapa sampel dapat diambil sesuai ukuran area yang
mengalami abnormalitas.
Hasil koloskopi adalah sebagai berikut:
a. Normal: bila permukaan serviks yang rata dan berwarna merah muda
b. Abnormal: dapat berupa kutil pada daerah serviks (human
papilloma virus), perubahan jaringan prakanker, dysplasia serviks,
keganasan dalam serviks, dan keganasan invasive.
Koloskopi dapat digunakan untuk melakukan pemantauan
terhadap kelainan prakanker dan melihat perkembangan terapi. Koloskopi
dapat melihat pola abnormal pembuluh darah, bercak-bercak putih pada
serviks, peradangan, erosi atau pengerutan jaringan serviks. Semua ini
menunjukkan penyebab abnornalitas dari pap smear, dianjurkan untuk
melakukan pengambilan jaringan yang lebih luas.
6. Vagina inflammation self test card
Vagina inflammation self test card adalah alat pendeteksian yang
dapat menjadi warning sign. Yang ditest dengan alat ini adalah tingkat
keasaman (pH), test ini cukup akurat, sebab pada umumnya apabila
seorang wanita terkena infeksi, mioma, kista bahkan kanker serviks, kadar
pHnya tinggi. Dengan begitu maka melalui tets ini paling tidak wanita
dapat mengetahui kondisi vagina mereka secara kasar.
7. Schillentest
Cara kerja pemeriksaan ini adalah:
1. Serviks diolesi dengan larutan yodium
2. Sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat. Sedangkan sel
yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning. Jika terkena
karsinoma tidak berwarna.
8. Kolpomikroskopi
Kolpomikroskopi adalah pemeriksaan yang bergabung dengan pap smear.
Kolpomikroskopi dapat melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan
pembesaran sampai 200 kali.
9. Gineskopi
Gineskopi adalah teropong monocular, ringan, pembesaran 2.5 x (lebih
sederhana dari kolposkopi)

J. Penatalaksanaan

Terapi local

Terapi local dilakukan pada penyakit prainvasif, yang meliputi biopsy,


cauterasi, terapi laser, konisasi, dan bedah buku.

Histerektomi

Histerektomi mungkin juga dilakukan tergantung pada usia wanita, status


anak, dan atau keinginan untuk sterilisasi. Histerektomi radikal adalah
pengangkatan uterus, pelvis dan nodus limfa para aurtik.

Pembedahan dan terapi radiasia.

Pembedahan dilakukan untuk pengangkatan sel kanker. Pembedahan ini dilakukan


pada kanker serviks invasive. Pada terapi batang eksternalbertujuan mengatahui
luas dan lokasi tumor serta mengecilkan tumor.

Radioterapi batang eksternala.

Terapi ini dilakukan jika nodus limfe positif terkena dan bila batas-batas
pembedahan itu tegas.Untuk terapi radiasi ini biasanya para wanita dipasang
kateter urine sehingga tetap berada di tempat tidur, makan makanan dengan diet
ketat dan memakan obat untuk mencegah defekasi, karena pada terapi ini
biasanya terpasang tampon (aplikator)
Eksenterasi pelvica.

Penatalaksanaan ini dilakukan jika terjadi kanker setempat yang berulang.


Penatalaksanaan ini dapat dilakukan pada bagian anterior, posterior, atau total
tergantung organ yang diangkat ditambah dengan uterus dan nodus limfa
disekitarnya.

Terapi biologi

Yaitu dengan memperkuat system kekebalan tubuh (system imun)

Kemoterapi

Dengan menggunakan obat-obatan sitostastik.

Terapi lain adalah terapi penunjang:

Terapi nutrisi

Asupan makanan, jenis makanan, makanan tambahan/suplementene, (beta-


caro, selenium, vitamin C, vitamin E, eicosap-entaenoic acid)

Manajemen penyakit (dukungan obat, penyembuhan tanpa obat melainkan


dengan aktivitas tertentu, radiasi, operasi bedah, perawatan tradisional dan
konsultasi psikologis)

Tindakan bergantung pada usia, paritas, tua kehamilan, dan stadium kanker :

1. Wanita relatif muda dan hamil tua dengan kanker stadium dini, dapat
melahirkan janin secara spontan

2. Dalam trimester I dijumpai kanker serviks, dilakukan abortus buatan,


kemudian diberikan pengobatan radiasi

3. Dalam trimester II kehamilan: segera lakukan histerektomi untuk


mengeluarkan hasil konsepsi, kemudian diberikan dosis penyinaran

4. Wanita yang masi relatif muda dan mendambakan anak dengan kanker
serviks dilakukan konisasi atau amputasi porsio kemudian dikontrol
dengan baik. Bila anak cukup maka dikerjakan histerektomi.

2.10. Komplikasi
Pada lesi prakanker, mungkin akan menyebabkan kegagalan fungsi
reproduksi karena komplikasi pengobatan lesi prakanker. Pada kanker serviks
stadium awal akan dapat menyebabkan kegagalan fungsi reproduksi khususnya
pada penderita usia muda karena pengobatan pembedahan ataupun radiasi.

Kanker serviks stadium lanjut ataupun kanker serviks yang tumbuh lagi
setelah pengobatan dapat menyebabkan kematian pada penderitanya karena
kegagalan pengobatan.Pada stadium lanjut, kanker dapat menyebar (metastase) ke
berbagai organ lainnya sehingga dapat menyebabkan gangguan fungsi berbagai
organ, seperti ginjal, paru-paru, hati dan organ lainnya. (Hartati Nurwijaya, dkk,
2010)

Sedangkan menurut Wan Desen, 2011, komplikasi kanker serviks uteri


adalah sebagai berikut:

a) Retensi uri

Pada waktu histerektomi total radikal mudah terjadi rudapaksa pleksus saraf dan
pembuluh darah kecil intrapelvis, hingga timbul gangguan sirkulasi darah, disuria,
retensi uri. Biasanya pasca operasi dipertahankan saluran urin lancer 5 7 hari,
secara berkala dibuka 3 4 hari, fungsi buli-buli biasanya dapat pulih.Pada retensi
uri sekitar 80% dalam 3 minggu fungsi buli-bulinya.

b) Kista limfatik pelvis

Pasca pembersihan kelenjar limfe pelvis, drainase limfe tidak lancar, dapat
terbentuk kista limfatik retroperitoneal, umumnya pasien asimtomatik dan
mengalami absorpsi spontan, bila kista terlalu besar timbul rasa tak enak perut
bawah, nyeri tungkai bawah, akumulasi cairan kista dikeluarkan, gejala akan
mereda.

c) Sistitis radiasi dan rektitis radiasi

Pasca radiasi pelvis, pasien umumnya mengalami sistitis radiasi ataupun rektitis
radiasi yang bervariasi derajatnya.Gejala berupa rasa tak enak abdomen bawah,
polakisura, disuria atau hematuria, tenesmus, mukokezia, hematokezia.Bagi
pasien dengan derajat ringan tak perlu ditangani, bila derajat sedang ke atas
umumnya diobati dengan anti radang, hemostatik, antispasmodic, dll.Penting
diketahui bahwa penyakit kanker bukanlah otomatis berakhir pada
kematian.Timbulnya ketakutan pada penderita kanker dan kanker serviks
khususnya, karena selama ini kanker belum ada obatnya.Namun sejalan dengan
waktu dan penemuan baru di bidang penelitian kanker, baik penemuan jenis
perawatan dan bagaimana caranya sel-sel kanker berkembang sudah
diketahui.Kini banyak pasien kanker yang dapat bertahan hidup dan bahkan bisa
sembuh.
2.11.Prognosis

Faktor yang mempengaruhi prognosis banyak, seperti stadium klinis,


tipe patologi, metastasis kelenjar limfe, manipulasi operasi, dll.Semuanya dapat
mempengaruhi hasil terapi.Maka dalam terapi pasien kanker serviks uteri harus
berpikir komprehensif, melakukan pemeriksaan cermat, analisis terpadu barulah
menetapkan rejimen terapi.Setelah terapi masih harus periksa ulang berkala. (Wan
Desen, 2011)

Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan


respons terhadap pengobatan, maka 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun
setelah timbul gejala. Pasien yang menjalani histerektomi (operasi pengangkatan
rahim) dan memiliki rasio tinggi terjadinya kekambuhan harus terus diawasi
karena walaupun setelah histerektomi total masih dapat terjadi kekambuhan dalam
2 tahun sebesar 80%. Sehingga prognosis penyakit ini tergantung dari stadium
penyakit dan pengobatan yang dilakukan sedini mungkin. Khusus kanker serviks,
data rumah sakit di Indonesia mendapatkan bahwa lebih dari 70% penderita
kanker serviks datang berobat pada stadium tinggi atau lanjut sehingga angka
kegagalan atau tidak memuaskan pengobatan tinggi sehingga angka kematian
tinggi. Jika tidak terdeteksi lebih dini, maka kanker serviks akan berakibat fatal.
Banyak kematian akibat kanker serviks yang terjadi di seluruh dunia karena pada
saat dilakukan skrining ditemukan penderita sudah pada tahap stadium tinggi.

2.12. Pencegahan

Screening

Screening untuk memeriksa perubahan-perubahan leher rahim sebelum


adanya gejala-gejala adalah sangat penting.Screening dapat membantu dokter
mencari sel-sel abnormal sebelum kanker berkembang.Mencari dan merawat sel-
sel abnormal dapat mencegah kebanyakan kanker serviks. Screening juga dapat
membantu mendeteksi kanker secara dini, sehingga perawatan akan menjadi lebih
efektif.

Untuk beberapa dekade yang lalu, jumlah wanita-wanita yang didiagnosis setiap
tahun dengan kanker serviks sudah menurun.Dokter-dokter percaya bahwa ini
terutama disebabkan oleh sukses dari screening.

1) IVA

IVA yaitu singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam asetat. Metode
pemeriksaan dengan mengoles serviks atau leher rahim dengan asam
asetat. Kemudian diamati apakah ada kelainan seperti area berwarna putih.Jika
tidak ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks.
Anda dapat melakukan di Puskesmas dengan harga relatif murah. Ini dapat
dilakukan hanya untuk deteksi dini. Jika terlihat tanda yang mencurigakan, maka
metode deteksi lainnya yang lebih lanjut harus dilakukan.

2) Pap smear

Metode tes Pap smear yang umum yaitu dokter menggunakan pengerik atau sikat
untuk mengambil sedikit sampel sel-sel serviks atau leher rahim. Kemudian sel-sel
tersebut akan dianalisa di laboratorium. Tes itu dapat memberi jawaban apakah ada infeksi, radang,
atau sel-sel abnormal. Menurut laporan sedunia, dengan secara teratur melakukan tes Pap smear telah
mengurangi jumlah kematian akibat kanker servix.

3) Thin prep

Metode Thin prep lebih akurat dibanding Pap smear. Jika Pap smear hanya mengambil sebagian dari sel-
sel di serviks atau leher rahim, maka Thin prep akan memeriksa seluruh bagian serviks atau leher
rahim. Tentu hasilnya akan jauh lebih akurat dan tepat.

Kolposkopi

Jika semua hasil tes pada metode sebelumnya menunjukkan adanya infeksi atau
kejanggalan, prosedur kolposkopi akan dilakukan dengan menggunakan alat yang dilengkapi lensa
pembesar untuk mengamati bagian yang terinfeksi. Tujuannya untuk menentukan apakah ada lesi atau
jaringan yang tidak normal pada serviks atau leher rahim. Jika ada yang tidak normal, biopsi
pengambilan sejumlah kecil jaringan dari tubuh dilakukan dan pengobatan untuk kanker serviks segera
dimulai .

http://zakiah-fkp11.web.unair.ac.id/artikel_detail-115212-Kep.
%20Reproduksi-Asuhan%20Keperawatan%20Ca%20Serviks.html