Anda di halaman 1dari 11

PENENTUAN KADAR IODIUM DALAM URINE

DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIMPLE MICROPLATE

I. TUJUAN

Mampu menentukan Iodine dalam urin dengan metode microplate

II. PRINSIP

1. Iodine
Iod atau iodium (I2) merupakan padatan berwarna hitam kebiruan dan menguap
pada suhu kamar menjadi gas ungu biru dengan bau yang menyengat. Iod mudah larut
dalam kloroform, karbon tetraklorida, atau karbon disulfida. Iod hanya sedikit larut
dalam air (Rachmawati,2008).

2. Urin
Urin merupakan cairan ekskresi yang berasal dari ginjal yang mengalami proses
yang disebut urinasi atau mikturisi dan dieksresikan melalui uretra. Urin merupakan
salah satu hasil dari sistem ekskresi pada manusia (Ma'rufah,2016).

3. Prinsip Penentuan iodine dalam microplate


Prinsip penentuan uji iodine adalah memanfaatkan reaksi efek katalitik dari iodine
pada reaksi antara Cerium4+ menjadi Cerium3+ dengan Arsen3+ (Khazan,2013).

III. REAKSI
Reaksi Sandell-Kolthoff

(Khazan,2013).
IV. TEORI

Iodium merupakan mineral yang dibutuhkan kelenjer gondok untuk membuat hormon
tiroksin. Keadaannya dalam tubuh mamalia hanya sebagai hormon tiroksin. Hormon-hormon ini
sangat penting selama pembentukan embrio dan untuk mengatur kecepatan metabolisme dan
produksi kalori atau energi disemua kehidupan serta membantu dalam perkembangan intelegensi
anak (Arief, 1993).

Iodium sifatnya sangat benigne atau hanya sedikit atau tidak ada pengaruh negatifnya
walaupun konsumsi 10-20 kali kebutuhan stiap hari (1-2 mg) (Linder, 1992). Iodium berfungsi
sebagai bahan dasar pembentukan hormon tiroksin, hormone ini dibuat oleh kelenjar thyroid
yang terletak di daerah leher (Arief, 1995). Hormone tiroksin juga mempengaruhi pertumbuhan
tubuh dan perkembangan dari system saraf selama kehidupan ( Carlos, 1997).

Kadar iodium dalam urin dapat diukur dalam sampel urin sesaat sebagai konsentrasi
iodium urin (g/L) atau dalam urin tamping 24 jam sebagai jumlah iodium yang diekskresikan
(g/24jam) (WHO,2003). Untuk memperkirakan masukan iodium dari urin tamping 24 jam
merupakan metode yang lebih baik, tetapi sulit untuk melakukan (Soldin, 2002). Kebutuhan
iodium bagi orang dewasa sehari-hari sekitar 0.15-0.30 mg. kebutuhan iodium lebih besar pada
pemuda dan juga pada ibu hamil (Arief, 1993).

Gangguan akibat kekurangan iodium adalah penyebab utama yang tidak tercukupnya
iodium dalam konsumsi makanan dan minuman sehari-hari. Namun, faktor lain juga ikut
berperan, salah satunya adalah zat goitrogenik yang dapat menghambat transport aktif iodium
dalam kelanjer tiroid sebagai penghasil hormone tiroksin. Hormone ini sangat diperlukan untuk
pertumbuhan normal, perkembangan mental dan fisik, baik pada manusia maupun hewan
(Widodo,2004).

Gangguan akibat kekurangan iodium merupakan salah satu dari empat masalah gizi yang
cukup menonjol di negara kita. Penduduk yang duduk di daerah kekurangan iodium akan
mengalami GAKI kronis, akibatnya gangguan terhadap kesehatan seperti gendok, hipertiroid,
kretinisme, keguguran, keterbelakangan mental dan selanjutnya tentu menjadi beban masyarakat
(Arief, 1995).

V. ALAT DAN BAHAN

ALAT

Kaset penyegelan
Kuvet

Microplate

Oven standard (ST-450 drying oven ;Shibata Scientific Technology)

Spektrofotometri- UV-vis
BAHAN

Air deionisasi
Amonium persulfate
Arsenik trioksida
Asam perklorat (700 g / L)
Asam sulfat
Dihidrat sulfat
Kalium iodat
Natrium klorida
Potasium klorat
Tetraammonium cerium (IV)
Urin

VI. METODE
a. Pembuatan Larutan
Prosedur Hasil
Melarutkan larutan HCl 3.3 mol/L Didapatkan larutan asam klorat
dengan 500 g Potassium chlorate dalam 3,3 mol/L, larutan menjadi
1000 mL air dalam erlenmeyer sambil dingin, filtrate larutan tersimpan
dipanaskan selama 60 menit , setelah itu dalam refrigator
menambahkan asam perklorat dengan
pengadukan yang konstant. Kemudian
menyimpan larutan pada 225 C dalam
freezer semalam. Menyaring suspensi
dengan kaca filter (5-10 mm mesh).
Menyimpan fltrat dalam kulkas (4 C)
sampai digunakan.
Larutan amonium persulfat (1,31 mol Didapat larutan ammonium
/ L). persulfat 1,31 mol/L
Melarutkan Ammonium persulfat (30 g) Massa ammonium persulfat
dalam air sampai volume akhir 100 mL. M=x
Membuat larutan segar ini sebelum 1,31 = x
digunakan. Massa = 2,98 gr 3 gr dilarutkan
dalam labu ukur 10 ml.
Larutan asam Arsenious (0,05 mol / L). Arsen trioksida sebagian larut
Melarutkan Arsenik trioksida (5 g) dalam NaOH (berwarna keruh)
dalam 100 mL 0,875 mol / L larutan Massa arsenic trioxide:
natrium hidroksida. Menambahkan asam M
sulfat pekat (16 mL) perlahan-lahan ke Massa = 0,494 gram 0, 5 gram
dalam larutan dalam penangas es. Setelah Dilarutkan dalam labu ukur 50
dingin, menambahkan 12,5 g natrium mL
klorida ke dalam larutan, dan Volume NaOH yang ditambahkan
mengencerkan campuran sampai 500 mL = 10 mL
dengan air dingin lalu menyaringnya. NaOH yang ditimbang :
Massa = 0,35 gram
Larutan Ceric amonium sulfat (0,019 Tetra ammonium seriuum (IV)
mol / L). larut
Melarutkan Tetraammonium cerium (IV) H2SO4 yang tersedia 96%
sulfat dihidrat (3 g) dalam 1,75 mol / L M = % x p x 10/Mr
asam sulfat dan menyesuaikan dengan = 96 x 1,84 x 10/98= 18,02 M
volume akhir 10 mL dengan larutan asam Pengenceran asam sulfat:
yang sama. V1 x M1 = V2 x M2
V1 x 18,02 = 25 x 1,75
V1 = 2,43 ml di ad aquades
sampai 25 ml
Didapat larutan ammonium seri
sulfat 0,019 mol/L
Kalibrator yodium Didapat larutam stok iodin
Melarutkan 168,6mg Kalium iodat dalam 200ppm
labu volumetrik 100 mL, untuk membuat
larutan stok 7.88 mmol /L (1000 mg / L Diencerkan hingga
iodine). Mengencerkan larutan stok 100- konsentrasinya mencapai 2000
dan 10 000 kali lipat, dan larutan kerja mcg/L; 1000 mcg/L; 500 mcg/L;
dari 0,039-4,73 mmol / L (5-600 mg / L 250 mcg/L; 125 mcg/L; 62,5
iodine) yang siap. mcg/L; 31,25 mcg/L; 15,625
mcg/L; 7,1825 mcg/L
Perhitungan (2000 mcg/L atau 2
mg/L dari larutan stok)
V1 x M1 = V2 x M2
V1 x 200 mg/L = 20 ml x 2 mg/L
V1 = 0,2 ml larutan stok diad air
sampai 20 ml dan selanjutnya
dilakukan
pengenceran bertingkat.

a. Prosedur Percobaan metode APDM


Prosedur Hasil
Memipet kalibrator dan sampel urin (50 ml masing- Didapat larutan
masing) ke dalam well polypropylene (PP) plate, campuran
menambahkan larutan 100 mL amonium persulfat kalibrator, urin dan
(konsentrasi akhir, 0,87 mol / L). menyiapkan plateammonium
PP dalam kaset. menutup kaset rapat dan persulfate dalam well
menyimpan selama 60 menit dalam oven dengan nomor D1
110 C dan D2, larutan sudah
terdigesti
Mendinginkan bagian bawah kaset sampai suhu Plat mencapai suhu
kamar dengan air keran untuk menghindari ruang
kondensasi uap dibagian atas well. membuka kaset
dan memindahkan 50 ml aliquot ke 96 well
microtiter plate
Menambahkan larutan asam arsenik 100 ml ke Larutan bercampur,
dalam well dan mencampurkan 50 ml amonium sebelum didiamkan,
ceric dengan cepat. reaksi akan berlangsung selama sampel dicek
30 menit pada 25 C, dan absorbansi diukur pada absorbansinya pada 0
405 nm menit, kemudian
didiamkan selama 30
menit dan dicek
kembali absorbansinya
absorbansi sampel urin
pada 0 menit
Sampel D1 : 0.223
Sampel D2 : 0.166

Absorbansi sampel urin


setelah 30 menit
Sampel D1 : 0.064
Sampel D2 : 0.091

VII. HASIL

Arsenic acid
Total asal = 50ml
Maunya = 25ml
N1V1=N2V2
500.25ml : 20.1ml

Tiap bahan dibahagi 20


Arsenite triosida = 5g/ 20 = 0.25g

NaOH
100ml/20 = 5ml
(MW = 40g/ml)
40g = 1mol
35g = 0.875mol
35g buat 1000ml aquades
10ml memerlukan 0.35g

NaCl
12.5g/ 20 = 0.625g
Encer aquades ke 25ml aquades

Kurva Baku

LOG PPM PPM 1ST READING 2ND READING AVERAGE

0.8928 7.8125 0.137 0.129 0.1330

1.1938 15.625 0.113 0.098 0.1055

1.4949 31.25 0.121 0.082 0.1015

1.7959 62.5 0.119 0.090 0.1045

2.0969 125 0.124 0.084 0.0996

2.3979 250 0.079 0.100 0.0885

2.6989 500 0.080 0.073 0.0780

3 1000 0.095 0.074 0.0845

3.301 2000 0.080 0.068 0.0714


KURVA BAKU
0.2
0.18
0.16
0.14
ABSORBANSI

0.12
0.1
0.08 Series1
0.06 Linear (Series1)
0.04 y = -0.1271x + -0.1271
0.02 R = 0.9512
0
0.0000 1.0000 2.0000 3.0000 4.0000
KONSENTRASI
T =30

1ST READING 2ND READING AVERAGE

0.669 0.081 0.075

0.077 0.086 0.082

0.081 0.113 0.097

0.061 0.075 0.068

0.094 0.085 0.089

0.079 0.081 0.080

PERHITUNGAN

Sampel 1
y = 0.1271X + (- 0.0153)
0.075 = +0.1271X + (- 0.0153)
X = 0.71 log kosentrasi
Konsentrasi = antilog 0.71 = 5.13

Sampel 2
y = 0.1271X + (- 0.0153)
0.082 = 0.1271X + (- 0.0153)
X = 0.76 log kosentrasi
Konsentrasi = antilog 0.76 = 5.82

Sampel 3
y = 0.1271X + (- 0.0153)
0.097 = 0.1271X + (- 0.0153)
X = 0.88 log kosentrasi
Konsentrasi = antilog0.88= 7.66

Sampel 4
Y = 0.1271X + (- 0.0153)
0.068 = 0.1271X + (- 0.0153)
X = 0.65 log kosentrasi
Konsentrasi = antilog 0.65 = 4.52
Sampel 5
y = 0.1271X + (- 0.0153)
0.089 = 0.1271X + (- 0.0153)
X = 0.82 log kosentrasi
Konsentrasi = antilog 0.82 = 6.63

Sampel 6
y = 0.1271X + (- 0.0153)
0.080= 0.1271X + (- 0.0153)
X = 0.74 log kosentrasi
Konsentrasi=antilog0.74=5.62
VIII. KESIMPULAN
Kita dapat ditentukan kadar iodine di dalam praktikan KPBI 2014 bahwa tingkat
iodium adalah pada tahap yang <20 dimana pada tahap IDD parah.

IX. DAFTAR PUSTAKA

Arief, Armin. 1993. Ilmu Gizi. Jilid I: IKIP Padang Press.

Arief, Armin. 1995. Ilmu Gizi. Jilid I: IKIP Padang Press.

Carlos Junquiera, L. 1997. Histologi Dasar. Edisi ke-8. ECG: Jakarta

Khazan, M. 2013. A Review on Iodine Determiniation Method in Salt and Biological Sample.
Scimetr. Vol 1(1).

Linder MC. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme dengan Pemakaian Secara Klinis,
Aminuddin P, penerjemah. Jakarta: UI-Press. Terjemahan dari: Nutritional Biochemistry
and Metabolism.

Ma'rufah,2016. HUBUNGAN GLUKOSA URIN DENGAN BERAT JENIS URIN. Ma'rufah


Glukosa Urin. Vol.3 No.1.

Rachmawati. 2008. Pengaruh waktu penyimpanan dalam suhu ruang (26-34 derajat celcius)
terhadap kadar iodium dalam urin. Semarang: Patologi Klinik Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro

Soldin OP. 2002. Controversies in urinary iodine determinations. Clinical


Biochemistry.35:575579.

Widodo, Untung S. 2004. Program Penanggulangan GAKI di Era Otonomi Daerah. Balai
Penelitian GAKI Jayan Borobudur: Magelang.

World Health Organization(WHO)- International Council for Control Iodine Deficiency


Disorder-Centre for Community Medicine-All India Institute of Medical Sciences. 2003.
Second inter-country training workshop on iodine monitoring, laboratory procedures
and national idde programe. New Delhi: World Health Organization-International
Council for Control Iodine Deficiency Disorder-Centre for Community Medicine-All
India Institute of Medical Sciences.