Anda di halaman 1dari 6

Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah eritrosit ( sel darah

merah) atau kadar Hb dalam darah kurang dari normal. Penyebabnya dapat bermacam-
macam, seperti perdaharan hebat, kurangnya kadar zat besi dalam tubuh, kekurangan asam
folat, kekurangan vitamin B12, cacingan leukemia ( kanker darah putih), penyakit kronis, dan
sebagainya (Adriani, 2012)
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin dan eritrosit lebih
rendah daripada normal. Pada pria kadar hemoglobin normal adalah 14-18 gr% dan

eritrosit 4,5-5,5 jt/ . Sedangkan pada wanita , hemoglobin normal adalah 12-16 gr%,

dengan eritrosit 3,5-4,5 jt/ . Fungsi hemoglobin dalam darah adalah mengikat

oksigen di paru-paru dan melepaskannya di seluruh jaringan tubuh yang membutuhkan,


kemudian mengikat CO2 dari jaringan tubuh dan melepaskannya di paru-paru. Disamping
kekurangan zat besi, nilai hemoglobin yang rendah dapat disebabkan oleh kekurangan protein
atau vitamin B6 ( ). Yang harus diingat adalah nilai hemoglobin kurang peka terhadap
tahap awal kekurangan zat besi, akan tetapi berguna untuk mengetahui berat ringannya
anemia.
Pada orang sehat, butir-butir darah merah mengandung hemoglobin, yaitu sel darah
merah bertugas untuk membawa oksigen serta zat gizi lain seperti vitamin dan mineral ke
otak dank e jaringan tubuh lain. Amenia terjadi bila jumlah sel darah merah secara
keseluruhan atau jumlah Hb dalam darah merah berkurang. Dengan berkurangnya Hb atau
ataupun darah merah, tentunya kemampuan sel darah untuk membawa oksigen keseluruh
tubuh berkurang. Akibatnya tubuh juga kurang mendapat pasokan, yang menyebabkan tubuh
lemas dan cepat lelah.

2.2.2 Etiologi
Pada umumnya anemia lebih sering terjadi pada wanita dan remaja putri
dibandingkan dengan pria. Yang sangat disayangkan adalah kebanyakan penderita tidak tahu
atau tidak menyadarinya. Bahkan ketika tahupun masih menganggap anemia sebagai masalah
sepele. Remaja putri mudah terserang anemia karena:
a. Pada umumnya masyarakat Indonesia (termasuk remaja putri) lebih banyak mengkonsumsi
makanan nabati yang kandungan zat besinya sedikit., dibandingkan dengan makanan hewani,
sehingga kebutuhan tubuh akan zat besi tidak terpenuhi.
b. Remaja putri biasanya ingin tampil langsing sehingga membatasi asupan makanan.
c. Setiap hari manusia kehilangan zat besi 0,6 mg yang di eksresi, khususnya melalui feses.
d. Remaja putri mengalami haid setiap bulan, dimana kehilangan zat besi 1,3 mg/ hari,
sehingga kebutuhan zat besi lebih banyak daripada pria.
Jenis anemia yang paling sering timbul adalah kekurangan zat besi, yang terjadi
bila kita kehilangan banyak darah dari tubuh (baik karena perdarahan luka ataupun
menstrusi), atupun makanan yang kita konsumsi kurang mengandung zat besi. Infeksi cacing
tambang, malaria ataupun disentri juga bisa menyebabkan kekurangan darah yang parah. Ada
beberapa tahap sampai tubuh kita kekurangan zat besi. Mula-mula, simpanan zat besi dalam
tubuh menurun. Dengan menurunnya zat besi, produksi hemoglobin dan sel darah merah
berkurang (Adriani, 2012).
Selain zat besi masih ada dua jenis lagi anemia yang sering timbul pada anak-
anak dan remaja Apalstic anemia terjadi bila sel yang memproduksi butir darah merah
tidak dapat menjelaskan tugasnya. Hal ini dapat terjadi karena infeksi virus, radiasi,
kemoterapi atau obat tertentu. Adapun jenis berikutnya adalah haemolityc anemia, yang
terjadi karena sel darah merah hancur secara dini, lebih cepat dari kemampuan tubuh untuk
memperbaruinya. Penyebab anemia jenis ini bermacam-macam, bisa bawaan sepert talasemia
atau sickle cell anemia. Pada kasus lain misalnya reaksi atau infeksi atau obat-obatan tertentu,
sel darah merah dirusak sendiri oleh antibody di dalam tubuh.
Penyebab anemia gizi besi adalah kurangnya asupan zat besi, berkurangnya sediaan
zat besi dalam makanan, meningkatnya kebutuhan zat besi, kehilangan darah yang kronis,
penyakit malaria, cacing tambang, infeksi-infeksi lain, serta pengetahuan yang kurang
tentang anemia zat besi.

2.2.3 Tanda dan gejala


Penderita dengan anemia dapat terganggu kegiatan sehari-hari. Adapun gejala
yang sering muncul yang sering timbul antar lain pusing, lemah, letih, lelah, dan lesu
(Guntoro Utamadi, PKBI). Guntoro juga menambahkan, kadang kala anemia tidak
menimbulkan gejala yang jelas seperti mudah lelah bila berolahraga, sulit konsentrasi,
dan mudah lupa. Pada umumnya seseorang mulai curiga akan adanya anemia bila
keadaan sudah makin parah, sehingga gejalanya kelihatan lebih jelas, seperti kulit
pucat, jantung berdebar-debar, pusing, mudah kehabisan napas ketika naik tangga,
atau olahraga ( karena jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa oksigen ke
seluruh tubuh).
Anemia pada remaja dapat berdampak pada penurunannya produktivitas kerja
ataupun kemampuan akademis sekolah, karena tidak adanya gairah belajar dan konsentrasi.
Anemia juga dapat mengganggu pertumbuhan di mana tinggi dan berat badan menjadi tidak
sempurna. Selain itu, daya tahan tubuh akan menurun sehingga mudah terserang penyakit.
Anemia juga dapat menyebabkan menurunnya produksi energy dan akumulasi laktat dalamm
otot (Moore, 1997).

2.2.4 Dampak anemia


Anemia pada remaja dapat berdampak pada menurunnya produktivitas kerja
ataupun kemampuan akademis disekolah, karena tidak adanya gairah belajar dan
konsentrasi. Anemia juga dapat mengganggu pertumbuhan dimana tinggi dan berat
badan menjadi tidak sempurna. Selain itu, daya tahan tubuh akan menurun sehingga
mudah terserang penyakit. Anemia juga dapat menyebabkan menurunnya produksi
energy dan akumulasi laktat dalam otot (Adriani, 2012)
Mencegah anemia bagi remaja putri menjadi sangat penting, karena nantinya wanita
yang menderita anemia dan hamil akan menghadapi banyak risiko, yaitu:
a. Abortus
b. Melahirkan bayi dengan berat lahir rendah
c. Mengalami penyulit lahirnya bayi karena rahim tidak mampu berkontraksi dengan baik
ataupun karena tidak mampu meneran.
d. Perdarahan setelah persalinan yang sering berakibat kematian.
Anemia (kurang darah:Hb <12 gr%) sangat terkait erat dengan masalah kesehatan
reproduksi (terutama pada perempuan). Jika perempuan mengalami anemia, maka akan
menjadi sangat berbahaya pada waktu dia hamil dan melahirkan. Perempuan yang menderita
anemia berpotensi melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (kurang dari 2,5 kg).
Disamping itu, anemia dapat menyebabkan kemaatian baik ibu maupun bayi pada proses
persalinan.

2.2.5 Komplikasi
Komplikasi dari anemiapun beraneka ragam, misalnya;gagal jantung kongesif
(karena otot jantung yang kekurangan oksigen tidak dapat menyesuaikan diri dengan
beban kerja jantung meningkat), parestasia, konfusi kanker, penyakit ginjal, gondok,
gangguan pembentukan heme (pigmen pembentuk warna merah pada darah yang
mengandung zat besi), penyakit infeksi kuman, thalasemia (kurang cepatnya pembuatan satu
rantai/unsure pembentuk hemoglobin), kelainan jantung, rematoid, kecelakaan hebat,
meningitis, gangguan system imun, dan sebagainya (Reksodiputro,2004). Pada anemia yang
berat dapat juga timbul gejala saluran cerna yang umumnya berhubungan dengan keadaan
defesiensi zat besi seperti anoreksia, nausea, konstipasi atau diare, dan stomatitis/sariawan di
lidah dan di mulut ( Price, 1995).

2.2.6 Upaya pencegahan


a. Makan-makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan hewani (daging, ikan,
ayam, hati dan telur); dan dari bahan nabati (sayuran yang berwarna hijau tua,
kacang-kacangan, dan tempe). Perlu kta perhatikan bahwa zat besi yang terdapat pada
daging lebih mudah diserap daripada yang terdapat pada sayuran atau makanan olahan seperti
sereal yang diperkuat dengan zat besi.
b. Banyak makan makanan sumber vitamin C yang bermanfaat untuk meningkatkan
penyerapan zat besi, misalnya; jambu, jeruk tomat, dan nanas.
c. Minum 1 tablet penambah darah setiap hari, khususnya saat mengalami haid.
d. Bila merasakan adanya tanda dan gejala anemia, segera konsultasi ke dokter untuk dicari
penyebabnya dan diberikan pengobatan.
Menurut DeMaeyer (1995), pencegahan adanya anemia defesiensi zat besi dapat dilakukaan
dengan empat pendekatan dasar yaitu sebagai berikut :
a. Memperkaya makanan pokok dengan zat besi, seperti: hati, sayuran, berwarna hijau, dan
kacang-kacangan. Zat besi dapat membantu pembentukan hemoglobin (sel darah merah)
yang baru.
b. Pemberian suplemen tablet zat besi. Pada saat ini pemerintah mempunyai Program
Penanggulangan Anemia Gizi Besi (PPAGB) pada remaja putri, untuk mencegah dan
menanggulangi masalah anemia gizi besi melalui suplementasi zat besi.
Memberikan pendidikan kesehatan tentang pola makan sehat. Kehadiran makanan siap saji
(fast food) dapat mempengaruhi pola makann remaja (Khomsan,2003). Makanan siap saji
umumnya rendah zat besi, kalsium, riboflavin, vitamin A, dan asam folat. Makanan siap saji
mengandung lemak jenuh, kolesterol, daan natrium yang tinggi
Inilah Dampak dan Bahaya Jika Remaja
Sering Telat Makan
11/11/2016

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com Telat makan adalah salah satu problema yang kerap kali dihadapi para
remaja, segudang aktivitas membuat mereka kadang mengesampingkan urusan makan karena
tidak memiliki cukup waktu untuk itu atau karena alasan lainnya. Jika sudah begini tidak
jarang makan dilakukan secara tidak teratur atau makan hanya pada saat sudah merasakan
lapar saja.

Jika dianalogikan tubuh bisa dikatakan sebagai kendaraan, jika ingin bergerak tentu setiap
kendaraan butuh bahan bakar. Dalam kasus ini bahan bakar untuk tubuh adalah makanan.
Setiap makan manusia dituntut untuk memenuhi kadar nutrisi yang seimbang agar menjadi
bahan bakar yang baik untuk setiap organ yang akan bekerja untuk menggerakan tubuh.
Secara umum organ di dalam tubuh mulai dari jantung, otak, ginjal dan organ lain akan terus
bergerak selama 24 jam, sebuah kendaraan yang terus bergerak selama itu tentu akan
membutuhkan bahan bakar yang banyak. Sedangkan tidak mungkin seseorang dapat makan
sembari tidur untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar tersebut. keuntungannya adalah tubuh
manusia sudah didesain sedemikian rupa sehingga dapat menyimpan energi dari makanan
tersebut dan dapat digunakan pada waktu yang tepat. Maka dari itu penting bagi seseorang
untuk memaksimalkan waktu saat ia terbangun untuk makan secara teratur.

Sudah diketahui bahwa makan dapat membantu organ tubuh untuk bergerak telat makan jusru
tidak akan membawa kebaikan apalagi Anda mempunyai banyak kegiatan, secara umum telat
makan dapat membuat tubuh Anda bekerja lebih keras untuk menghasilkan energi yang
dibutuhkan untuk menggerakan tubuh, berikut adalah beberapa dampak dan bahaya jika Anda
telat makan:

Lelah dan murung. Salah satu zat yang dibutuhkan tubuh untuk membantu kerja
otak adalah glukosa, menurut penulis buku Eating on the Run, Evelyn Tribole, 4-6
jam setelah makan, kadar glukosa pada otak akan menurun sehingga akan menganggu
produktifitas otak sehingga membuat orang tersebut terlihat mudah lelah dan murung.

Lambatnya metabolisme. Apakah pada saat telat makan Anda sering merasakan
lemas? Jika iya, ini dikarenakan tubuh memerlukan kalori untuk dijadikan energi, jika
Anda telat makan maka tidak ada kalori yang akan dibakar untuk dijadikan energi.
Hal inilah yang dapat membuat tubuh Anda menjadi lemas.

Irritable Bowel Syndrome. Kegiatan makan tentu erat kaitannya dengan sistem
pencernaan manusia. Jika telat makan tentu akan ada efeknya bagi pencernaan,
Irritable Bowel Syndrome sendiri adalah kumpulan gejala distress lambung, seperti
kram perut dan nyeri, dan sembelit karena terjadinya iritasi di usus.

Radang lambung. Anda merasakan nyeri hingga ke ulu hati setelah makan? Bisa jadi
ini adalah salah satu akibat dari Anda yang sering telat makan, ini adalah salah satu
ciri Anda mengalami radang lambung, hal ini disebabkan karena adanya iritasi yan
diakibatkan oleh cairan lambung yang ada pada mukosa lambung.

Salah satu tanda stress. Selain dapat merusak kesehatan, telat makan juga dapat
menjadi ciri bagi kondisi keadaan buruk lainnya, salah satunya adalah stress.
Umumnya orang yang mengalami stress tidak nafsu makan sehingga membuat dirinya
sering telat makan.

Itulah beberapa dampak dan bahaya yang dapat terjadi jika sering telat makan, maka dari itu
mulai sekarang makanlah dengan teratur agar tubuh mendapatkan bahan bakar yang bagus
untuk menunjang aktivitas. (RNJ)