Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan
makalah dengan judul SARBANESOXLEY ACT menurut kami dibuat dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk
maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca
untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.

Jambi, 18 April 2017

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Munculnya Sarbanes Oxley Act

Keandalan dan ketepatan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan


perusahaan, termasuk disklosurnya merupakan hal yang penting untuk mendapatk
an kepercayaan dari investor di pasar modal.

Beberapa peristiwa negatif baik di Indonesia dan di Negara maju menunjukk


an bahwa tingkat keandalan dan ketepatan laporan keuangan masih belum seperti
yang diharapkan.Kongres Amerika bereaksi dengan mengeluarkan suatu undang
undang(Act) yang disebut SarbanesOxley Act.

Act ini diharapkan akan meningkatkan ketepatan (accuracy) dan keandalan


(reliability) dari laporan keuangan.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut :


1. Apakah SarbanesOxley Act?
2. Apa saja isi pokok SarbanesOxley Act?
3. Penerapan UndangUndang semacam SarbanesOxley Act di Indonesia ?
4. Apa saja kendala SarbanesOxley Act ?
1.3 TUJUAN PENULISAN
Dari uraian yang dikemukakan sebelumnya dan mengingat begitu
pentingnya SarbanesOxley Act didalam dirumuskan tujuan penulisan makalah
ini, yaitu :
1. Menemukan tentang SarbanesOxley Act ?
2. Mengetahui bagaimana apa saja isi pokok SarbanesOxley Act ?
3. Mengetahui Bagaimana penerapannya di Indonesia ?
4. Menegetahui apasaja kendalanya ?

BAB II

PEMBAHASAN
2.1. SARBANESOXLEY ACT

Perekonomian suatu negara yang menganut sistem pasar, terutama yang memil
iki pasar modal untuk menggalang dana masyarakat bagi kebutuhan investasi peru
sahan emiten, sangat dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan masyarakat terhadap p
asar modal tersebut.Suatu pasar modal yang dikelola dengan baik (well managed)
akan dapat memberikan ketenangan bagi investor bahwa dana investasi mereka a
kan aman dan dipergunakan oleh emiten secara bijak untuk meningkatkan kemak
muran pemegangsaham dan stakeholders lainnya.

Kepercayaan pemegang saham terhadap manajemen suatu perusahaan dapat


meningkat apabilainformasi finansial dan informasi penting lainnya dapat mereka
peroleh (transparan) dan ketepatan serta kebenarannya diatestasi oleh kanor akunt
an publik yang kompeten,efektif dan independen.Beberapa peristiwa yang meny
angkut masalah pelaporan laporan keuangan emiten, seperti kasus Kimia Farma d
an Bank Lippo, yang terjadi di pasar modal Indonesia, membuat investor tidak da
pat sepenuhnya mempercayai begitu saja laporan yang dibuat oleh emiten.

Kenyataan bahwa laporan keuangan tersebut sudah melalui proses audit yang
dilakukan oleh kantor akuntan public (KAP) membuat masyarakat bertanyatanya
mengenai kemampuan dan keandalan dari kantorkantor akuntan yang terlibat. Ba
hkan, seluruh industri auditpun menjadi sorotan. Keadaan di Indonesia ini ternyata
tidak berbeda dengan yang terjadi di negara maju.

Profesi akuntan,terutama akuntan publik,telah menjadi sorotan masyarakat AS


selama tigapuluh tahun lebih. Masalah utama yang menjadisorotan adalah masala
h independensi dari kantor akuntan dan auditor yang melakanakan audit. Peristiwa
Enron, Worldcom dan lainnya seakan mengukuhkan kecurigaan terhadap kesangg
upan auditor untuk menjalankan tugasnya secara efektif dan independen.

Masyarakat tidak dapat percaya bahwa tindakan tidak terpuji bahkan


ilegal yang dilakukan oleh manajemen perusahaanperusahaan tersebut dalam
jangka waktu yang cukup lama tidak dapat dideteksi dan ditemukan
oleh auditorauditor yang melakukan pemeriksaan atas laporan keuangan dan bukt
ibukti transaksinya. Kecurigaan dan prasangka sinispun bertambah besar. Kecuri
gaan ini bahkan berubah menjadi kemarahan, terutama dikalangan pemegang
saham yang menyaksikan nilai investasinya menurun akibat merosotnya kinerja
pasar modal di AS.

2.2 Isi Pokok dari SarbanesOxley act

Halhal pokok yang ada dalam act tersebut adalah sebagai berikut :

1. Membentuk suatu Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB


) yang anggotanya independen dan ditunjuk oleh Securities Exchange Co
mmission (SEC).
2. Melarang KAP yang sedang melakukan audit melaksanakan juga jasa pel
ayanan nonaudit pada klien yang sama.
3. Adanya kewajiban rotasi bagi KAP maupun partner incharge dari KAP (
dibatasi lima tahun) dalam melakukan audit bagi klien yang sama
4. Auditors harus melapor kepada komite audit (KA) dan tidak saja
kepada manajemen.
5. Kantor Akuntan harus terdiri dari anggota independen.
6. KA bertanggung jawab untuk penunjukan dan penyupervisian auditor.
7. Pengungkapan secara lengkap halhal lepas neraca (off balance sheet) yg
material. Dan ini harus dinyatakan secara eksplisit dalam diskusi dan ana
lisis manajemen.
8. Laporan keuangan tahunan harus menyertakan pernyataan mengenai tang
gung jawab manajemen atas Internal control (IC) dan asesmen manajemen
terhadap kondisi IC yang ada di perusahaan

Apabila kita simak secara lebih mendalam halhal penting diatas,inti pokok

dari SarbaneOxley act menyangkut :

1. Peningkatan transparansi dari pengelolaan manajemen sebagai agen


yang diserahi wewenang oleh pemegang saham. Transparansi yang dituntu
t tidak saja meliputi laporan keuangan formal tetapi juga informasi lepas n
eraca yang seringkali dijadikan tempat persembunyian kejanggalan ataupu
n kecurangan.
2. Peningkatan tanggung jawab manajemen sebagai pemilik dari sistem IC un
tuk mengupayakan perbaikan terus menerus terhadap IC yang ada di perus
ahaan dengan memaksa direksi membuat pernyataan atas kondisi IC
pada saat menyerahkan laporan keuangan.
3. Penurunan resiko kecurangan yang dilakukan oleh direksi karena
apabila mereka melakukan kecurangan, yang berarti telah terjadi kondisi I
C yang tidak optimal, padahal mereka memberikan pernyataan bahwa
kondisi IC di perusahaan tetap baik, mereka, paling tidak, dapat dituntut se
cara pidana atas kebohongan teresebut.
4. Memaksa auditor untuk melakukan atestasi atas pernyataan kondisi IC ya
ng dibuat oleh direksi, dan dengan demikian mendorong auditor agar lebih
serius dan cermat dalam melihat sistem IC yang diterapkan di perusahaan
dan lebih serius lagi memeriksa ada tidaknya kecurangan yang dilakukan
manajemen.
5. Menjaga independensi auditor dan KAP. Hal ini dilakukan
dengan menempatkan KA di antara manajemen dan KAP sehingga
ada pihak independen yang menengahi hubungan KAP dengan manajeme.
Pelarangan pemberian jasa nonaudit (yang biasanya memberikan fee lebi
h besar) yang dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan saat audit ju
ga mengurangi dependensi auditor pada klien yang selanjutnya
mencegah terjadinya keengganan auditor untuk melaporkan temuan
temuan negatif mengenai klien.
6. Dibentuknya suatu Oversight board yang independen dari pengaruh Ikata
n Profesi Akuntan. Public Company Accounting Oversight Board akan te
rdiri dari lima orang dengan tidak lebih dari dua anggota yang Certified Pu
blic Accountant (CPA). Anggarannyapun akan diperoleh dari emiten dan b
ukannya dari KAP. Peran utamanya adalah untuk menetapkan standar
pemeriksaan (auditing standards) dan standar etika dan quality review. De
ngan melakuikan ini, penetapan standar pemeriksaan dicabut dari Ikatan Pr
ofesi Akuntan (AICPA) dan diberikan kepada lembaga yang relatif indepe
nden. Penetapan standar akuntansi tetap berada di pihak AICPA.

2.3 Penerapan UndangUndang semacam SarbanesOxley Act di Indonesia

Walaupun pasar modal di Indonesia belum semaju atau sebesar pasar modal di
AS, prinsipprinsip dasar dari SarbanesOxley act sebenarnya relevan untuk ditera
pakan di Indonesia. Peningkatan transparansi, peningkatan tanggung jawab untuk
secara terus menerus menyempurnakan sistem IC, dan peningkatan efektifitas dan
independensi auditor eksternal merupakan halhal yang sangat dibutuhkan di Indo
nesia.

Dan seperti halnya di AS, pasar modal yang sehat akan sangat menunjang pert
umbuhan dan penguatan perekonomian. Oleh karena itu, sepantasnya, badan legisl
atif maupun badanbadan pembentuk kebijakan di Indonesia mulai merancang un
dangundang serupa. Undangundang mengenai pasar modal dan juga undang
undang akuntan seharusnya dirancang dengan memperhatikan halhal pokok yang
telah dibahas di atas.

Tentunya diperlukan penyesuaianpenyesuaian yang dipandang perlu untuk m


enghadapi kondisi di Indonesia, namun hendaknya senatiasa dijaga agar tujuan po
kok dari undangundang tersebut tetap tercapai.

2.4 Kendala Penerapan Undangundang SarbanesOxley Act di Indonesia.

Disadari bahwa penerapan aturanaturan pokok yang ada dalam Sarbanes


Oxley di Indonesia tidak mudah.Cukup banyak kendala akan dihadapi,Pengalama
n penerapan di AS memberikan indikas kepada kita mengenai beberapa kendala y
ang kemungkinan besar muncul dalam penerapannya.

1. Pengaturan mengenai pernyataan direksi mengenai tanggung jawab


direksi terhadap IC dan kondisi IC di perusahaan,Untuk dapat memberikan
pernyataan mengenai kondisi IC di perusahaan,direksi perusahaan tersebut
harus melakukan asesmen terhadap kondisi IC tersebut pada saat
laporan keuangan akan dilaporkan.

Tentunya direksi akan berusaha untuk membuat kondisi IC di perusahaan cuku


p baik, bahkan sangat baik sebelum dilaporkan. Apabila kita melihat apa yang terj
adi di AS ketika ketentuan mengenai pernyataan kondisi IC ini diberlakukan, tern
yata banyak perusahaan, termasuk yang sudah gopublic dan berukuran besar yan
g kondisi ICnya masih kurang memadai. Ini menunjukkan bahwa selama ini, sebel
um peraturan tersebut diberlakukan, banyak manajemen perusahaan yang tidak ser
ius dalam menegembangkan sistem IC di perusahaan mereka.
Banyak diantara perusahaanperusahaan semacam ini harus melakukan perbai
kan terhadap sistem,dan bahkan membutuhkan bantuan dari pihak luar perusahaan
untuk melaksanakan hal tersebut karena pengetahuan dan keahlian di dalam perus
ahaan ternyata tidak ada. Gejala lain yang terlihat adalah bahwa untuk
memperbaiki sistem IC di perusahaanperushaan tersebut diperlukan juga perbaik
an dan penyempurnaan dari sistem informasi yang dimiliki. Kenyataan inilah
yang membuat proses perbaikan sistem IC menjadi sesuatu yang cukup mahal.

Dapat diperkirakan bahwa hal yang sama akan terjadi di


Indonesia. Gejala kekurang seriusan manajemen untuk mengembangkan secara ter
us menerus sistem IC yang baik di perusahaan kemungkinan besar juga terjadi di i
ndonesia.Oleh karena itu, sebenarnya, pengadaan peraturan bagi direksi untuk me
mbuat pernyataan atas kondisi IC perusahaan akan merupakan suatu insentif
yang berdampak positif agar manajemen lebih serius dalam memelihara
sistem IC mereka. Biaya yang terpaksa harus dikeluarkan oleh perusahaan
perusahaan semacam ini harus dilihat sebagai investasi bagi kemajuan
perusahaan, pasar modal dan perekonomian Indonesia.

2. Kesulitan kedua berkaitan dengan pernyataan kepatuhan (compliance) terh


adap undangundang dan peraturan. Salah satu tujuan utama dari sutu siste
m IC adalah untuk menjaga agar perusahaan, didalam menjalankan
operasinya, mematuhi semua peraturan relevan yang berlaku. Oleh
karena itu, pernyataan mengenai kondisi IC menyangkut juga pernyataan b
ahwa perusahaan telah mematuhi aturanaturan yang relevan bagi perusah
aan. Manajemen benarbenar dituntut untuk secara jeli memantau bahwa p
erusahaan benarbenar berjalan sesuai aturan. Tidak ada alas an untuk men
gatakan bahwa suatu aturan tidak ditaati karena manajemen tidak menyada
ri adanya suatu aturan ataupun tidak memahami bahwa apa yang dilakukan
oleh perusahaan melanggar suatu peraturan tertentu.
Hal ini tentunya tidak murah dan tidak mudah untuk dilakukan. Di
AS, ketakutan manajemen akan noncompliance terhadap suatu peraturan
mendorong manajer untuk mengurangi resiko mereka dengan membeli
polis asuransi Directors & Officers (D & O insurance)
3. Kendala ketiga yang mungkin dihadapi adalah kemampuan dan kesanggup
an KAP untuk melakukan atestasi atas pernyatan direksi mengenai IC dan
kepatuhan.
Ada kemungkinan bahwa KAP menyatakan tidak sanggup untuk m
elaksanakan atestasi atas pernyatan direksi mengenai kondisi IC dan kepat
uhan.Ketidak sanggupan tersebut mungkin disebabkan bahwa untuk benar
benar yakin akan kondisi IC dan kepatuhan, perkerjaan detil yang harus d
i lakukan cukup banyak.
4. Masalah keempat yang akan dihadapi adalah yang berkaitan dengan aturan
yang melarang KAP yang sedang melakukan audit di klien tertentu untuk
melaksanakan juga jasa konsultasi dan nonaudit lainnya pada saat yang sa
ma kepada klien yang sama.
Aturan ini dikeluarkan untuk lebih menjamin agar KAP dan auditorny
a untuk bersikap independen kepada klien auditnya.Di masa lampau, KAP
menyatakan bahwa merka tetap independen ketika melaksanakan audit dan
konsultasi secara berbarengan terhadap klien yang sama karena yang mela
kukan konsultasi adalah divisi lain yang terpisah dari divisi audit.
Setelah aturan di atas dikeluarkan, alasan ini tidak dapat dipakai
lagi. Seringkali, jasa konsultasi dan jasajasa nonaudit lainnya justeru mer
upakan jasa yang imbalannya lebih besar dari jasa audit. Dari sudut panda
n KAP kehilangan kesempatan untuk memberikan jasajasa ini kepada klie
n beratrti kehilangan sebagian besar kue pendapatan yang dinikmati oleh
KAP dari suatu klien.
Namun, dari sudut pembuat kebijakan, hubungan khusus antara KAP
dengan klien audit yang timbul karena adanya jasajasa nonaudit yang m
emberikan imbalan jasa besar justeru berpotensi untuk membuat KAP tida
k independen dalam melakukan audit (karena takut kehilangan klien).
5. Masalah kelima adalah sesuatu yang sifatnya sangat mendasar yaitu
masalah reward and punishment.
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Manfaat dari undangundang semacam SarbanesOxley dalam jangka panjang


tidak dapat disangkal. Peningkatan transparansi dan pengaturan industri audit yan
g mendorong efektifitas dan independensi auiditor diperlukan untuk mempertaha
nkan dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal.

Kendalakendala, terutama dalam jangka pendek pasti akan ada dan


perubahan cara untuk mempertemukan permintaan dan penawaran jasa audit
pasti akan membutuhkan pengorbanan baik dari sisi klien maupun
auditor. Namun, demi manfaat jangka panjang dan menguatnya pasar modal
dan perekonomian Indonesia, penerapan undangundang semacam Sarbanes
Oxley tersebut sangat patut untuk dipertimbangkan.

Komponenkomponen pokok dari undangundang tersebut secara integratif ha


rus ada dalam semua undangundang dan peraturanperaturan yang relevan seperti
undangundang akuntan, undangundang pasar modal, peraturan Bapepam.
Kajian mengenai penyesuaian yang perlu dilakukan agar undangundang
tersebut sesuai dengan kondisi Indonesia harus dilakukan dengan
tetap menjaga agar tujuantujuan pokok dari undangundang tersebut dapat
tercapai.

Dengan melihat kepada pengalaman di AS, kita menyadari bahwa


penyusunan Undangundang dan perturanperaturan tersebut dan pengimplementa
siannya adalah pekerjaan yang tidak mudah dan berat namun kita juga sadar bahw
a ini harus segera dipikirkan dan ditangani secara serius.

3.2 SARAN

Untuk mengatasi kejahatan bisnis atau ekonomi yang terjadi seiring


dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang telah melahirkan revolusi industry
perdagangan, perbankan dan khusunya korporasi, dalam skala global, sebaiknya
semua Negara memperkuat komitmen politiknya untuk lebih memartabatkan
kegiatan ekonomi dan bisnis.

Dengan begitu, kemakmuran dan kesejahteraan dapat terwujud. Selain itu


perlu juga diperkuat komitmen moralnya untuk tetap konsisten menjalankan
sebuah misi penting, yaitu mewujudkan keadilan, kebenaran, kejujuran, penegak
hokum, penegak etika dan peningkatan ras kompetensi secara fair rasional dan
berkemanusiaan.