Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)


Setelah selesai mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan mampu menegakan
diagnosis penyakit akibat kerja (PAK), menagani kasus penyakit akibat kerja (PAK), mampu
mengembangkan program pencegahan penyakit akibat kerja (PAK) serta mengembangkan
program pengendalian faktor resiko di tempat kerja.

1.2 TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)


Setelah selesai mempelajari modul dan membaca skenario ini mahasiswa diharapkan mampu
menetapkan dan melakukan :
1. Biodata pasien.
2. Melakukan Anamnesa :
Riwayat penyakit (sekarang, terdahulu, dalam keluarga) serta riwayat
pekerjaan.
Perjalanan penyakit
Uraian tugas, pelaksanaan pekerjaan, alat pelindung diri yang dikenakan.
Faktor risiko atau potensi bahaya, serta menyangkut gangguan kesehatan
yang mungkin timbul.
3. Pemeriksaan :
Pemeriksaan fisik terkait gangguan kesehatan.
Pemeriksaan Lab rutin yang diperlukan
Pemeriksaan Lab khusus yang diperlukan
Pemeriksaan penunjang Non-Lab.
4. Menegakkan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja :
Berdasarkan 7 langkah penetapan.
Diagnosa berdasarkan ICD-10.
Menetapkan Prognosis penyakit.
5. Rencana penatalaksanaan :
Kelayakan bekerja (fitnes status)
1 | Page
Alat pelindung diri yang diperlukan.
Pemeriksaan Kesehatan Kerja sesuai faktor risiko yang dihadapi dan
kemungkinan gangguan kesehatan yang mungkin timbul, serta Bio
Monitoring bagi kemungkinan pajanan bahan kimia bila diperlukan (lihat :
Surveilans)
Promosi kesehatan (edukasi) terhadap pasien maupun terhadap manajemen.
Penatalaksanaan lingkungan (ruang) tempat kerja.

SKENARIO
Kasus : Anemia akibat intoksikasi Pb.
Tn. R, laki-laki, 28 thn., Islam, SLTP, belum menikah, Pekerjaan : Bagian penimbangan timah
hitam pada PT. N. K.U : Sering pusing-pusing. Sudah 2 hari menderita batuk. RPS : Keluhan
pusing sering berulang, dirasakan sejak 6 (enam) bulan ini. Bila pekerjaan dihentikan, rasa
pusing tetap terasa.Merokok hanya kadang-kadang, namun sehari menghabiskan beberapa
batang.
RPD :

Penyakit Ya/tidak/kadang-kadang
o Pusing-pusing Kadang-kadang
o Mual Kadang-kadang
o Hipertensi Tidak
o Kencing manis Tidak
o Batuk-batuk lama Tidak
o Sakit kuning Tidak
o Asma Tidak
o TBC Tidak
o Sakit jantung Tidak
o Sakit ginjal Tidak
o Gangguan pendengaran Tidak
o Gangguan penglihatan Tidak
o Sakit sendi / otot Kadang-kadang
o Allergi Tidak

RPK : Tidak ada yang sakit serius didalam keluarga.

KATA SULIT :
(-)

2 | Page
KATA/KALIMAT KUNCI:
Identitas :
Nama : Tn. R
Umur : 28 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SLTP
Pekerjaan : bagian penimbangan timah hitam pada PT. N

K.U : Sering pusing-pusing. Sudah 2 hari menderita batuk.

RPS : Keluhan pusing sering berulang, dirasakan sejak 6 (enam) bulan ini. Bila pekerjaan
dihentikan, rasa pusing tetap terasa.

R.Psikososial : Merokok hanya kadang-kadang, namun sehari menghabiskan beberapa batang.

RPD :

Penyakit Ya/tidak/kadang-kadang
o Pusing-pusing Kadang-kadang
o Mual Kadang-kadang
o Hipertensi Tidak
o Kencing manis Tidak
o Batuk-batuk lama Tidak
o Sakit kuning Tidak
o Asma Tidak
o TBC Tidak
o Sakit jantung Tidak
o Sakit ginjal Tidak
o Gangguan pendengaran Tidak
o Gangguan penglihatan Tidak
o Sakit sendi / otot Kadang-kadang
o Allergi Tidak

Alat pelindung diri yang digunakan :


o Masker : Ya, hanya kain biasa.
o Google : Tidak
o Earplug/muff : Tidak.
o Pakaian kerja : Tidak
o Sepatu kerja : Ya.
o Sarung tangan : Ya.

3 | Page
Pemeriksaan :
KU : kesadaran baik, mampu berkomunikasi. TD : 110/70 mmHg, Nadi :80 / menit, Respirasi :
normal, Suhu :37,0 OC, Anemia (+), Hb = 10 mg%, BB : 55 kg, TB : 160 cm. Sklera : agak
anemik. Lain-lain : Normal.

MIND MAP :

Pencegahan PAK.

-----------------------------

a. Kategori Kesehatan.
b. Program Pencegahan dan
penanganan kasus. (pence-
gahan primer, sekunder
maupun tertier).
c. Isolasi dari pajanan.
d. Surveilans kesehatan kerja,
(pemeriksaan kesehatan pra-
kerja, berkala dan khusus)
e. Biological Monitoring
f. Kelayakan bekerja (fitness-to-
work) dan program kembali
bekerja (return-to-work).
g. Promosi Kesehatan Kerja
h. Prosedur Kerja Aman
Diagnosis & Penanganan
PAK.

-----------------------------
Kegiatan Penunjang dalam
a. Anamnesis Pencegahan PAK.
b. Pemeriksaan fisik.
c. Laboratorium rutin. -----------------------------
d. Laboratorium khusus.
a. Pencatatan dan pelaporan.
e. Pem. penunjang (non-Lab).
b. Peraturan perundangan.
f. Menegakkan Diagnosa PAK.
g. Menentukan prognosa.
h. Pengobatan. Pengendalian Faktor Risiko
Potensial

-----------------------------

a. Health Risk Assessment,


b. Pengukuran Lingk. Kerja
c. Program kontrol (teknik
maupun administratif).
d. Alat pelindung diri.
4 | Page e. Prosedur kerja yang aman.
f. Nilai Ambang Batas (NAB).
PERTANYAAN
1. Apakah ada hubungan pekerjaan dengan penyakit yang diderita pada skenario dan
jelaskan !
2. Apakah bahaya potensial yang dapat terjadi pada kasus skenario !
3. Jelaskan riwayat merokok dan hubungannya dengan Kasus !
4. Jelaskan efek PB terhadap kesehatan !
5. Jelaskan tentang Bio-monitoring, sampel yang diperiksa beserta nilai ambang !
6. Jelaskan diagnosis kerja !
7. Jelaskan rencana penatalaksanaan pada skenario !
8. Sebutkan dan jelaskan APD yang harus digunakan pada kasus skenario !
9. Jelaskan kategori kesehatan (Fitness to Work ) !
10. Jelaskan diagnosis okupasi !
11. Jelaskan prognosis pada skenario !

BAB II

5 | Page
PEMBAHASAN

1. Apakah ada hubungan pekerjaan dengan penyakit yang diderita pada scenario dan
jelaskan!
Jawab :
Produksi eritrosit dirangsang oleh hormone glikoprotein, eritropoietin, yang diketahui terutama
berasal dari ginjal, dengan 10% berasal dari hapatosit hati. Produksi eritropoietin dirangsang oleh
hipoksia jaringan ginjal yang disebabkan oleh perubahan-perubahan tekanan O2 atmosfer,
penurunan kandungan O2 arteri, dan penurunan konsentrasi hemoglobin. Eritropoietin
merangsang sel-sel induk untuk memulai proliferasi dan maturasi sel-sel darah merah. Maturasi
bergantung pada jumlah zat-zat makanan yang adekuat dan penggunaannya yang sesuai, seperti
vitamin B12, asam folat, protein, zat besi, dan tembaga. Semua langkah sintesis hemoglobin
terjadi di dalam sumsum tulang. Langkah-langkah akhir berlanjut setelah SDM immature dilepas
ke dalam sirkulasi sebagai retikulosit. Seiring dengan SDM yang semakin tua, sel tersebut
menjadi kaku dan fragil, akhirnya pecah. Hemoglobin terutama difagosit di dalam limpa, hati,
dan sumsum tulang serta direduksi menjadi globin dan heme. Globin masuk kembali ke dalam
kumpulan asam amino. Besi dibebaskan dari heme, dan bagian yang lebih besar diangkut protein
plasma transferrin ke sumsum tulang untuk produksi SDM.

Pada scenario disebutkan bahwa Tn. R adalah seorang pekerja di PT.N penimbangan timah hitam
selama 7 tahun, sebelum nya Tn. R pernah bekerja mekanik selama 2 tahun. Salah satu logam
berat yang perlu diwaspadai adalah timbal (Pb), karena logam tersebut menimbulkan efek
negative terhadap kesehatan manusia, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Pada kadar
tertentu, akibat pemaparan kronis, Pb dapat menyebabkan efek negatif terhadap kesehatan
manusia terutama terhadap sistim hemopoitik, saraf, ginjal, dan reproduksi. Manusia senantiasa
dapat terpapar logam berat di lingkungan kehidupannya seharihari dari berbagai sumber seperti
6 | Page
lingkungan umum atau lingkungan kerja. Di lingkungan ambien kadar logam berat seperti Pb
dapat berkisar cukup tinggi dan kontaminasi dapat terjadi pada makanan, air, udara, tanah dan
makanan, maka Pb disebut Multi Media Polutan.
Industri pembakaran timah ini sangat potensial mencemari lingkungan kerja dan lingkungan
disekitarnya terutama pencemaran udara saat proses peleburan berlangsung dengan tersebarnya
pertikel debu berupa Pb dan uap sulfur dioksida (SO2).
Paparan timah hitam pada pekerja melalui saluran pernafasan berasal dari debu yang ada diudara.
Logam timah hitam yang terhirup masuk kedalam paru-paru dan akan berikatan dengan darah
paru-paru serta di edarkan ke seluruh jaringan tubuh. Kira-kira 90 % logam timah hitam yang
terserap dalam darah dan akan berikatan dengan hemoglobin dalam sel darah merah (eritrosit),
sehingga hemoglobin tidak dapat berikatan dengan besi (Fero+). Dengan demikian bila
seseorang mengabsorbsi timah hitam di udara, kandungan timah hitam dalam darah akan
meningkat dan kadar hemoglobin akan menurun. Demikian pula timah hitam akan masuk
kedalam sumsum tulang dan menghambat proses hematopoiesis (pembentukan sel darah),
sehingga sel-sel muda banyak dikeluarkan dan mudah terjadi hemolysis.
Efek pertama pada keracunan timbal kronis sebelum mencapai target organ adalah adanya
gangguan dalam biosintesis hem dan apabila gangguan ini tidak segera teratasi akan dapat
mengakibatkan gangguan terhadap berbagai sistim organ tubuh seperti sistim saraf, ginjal, sistim
reproduksi, saluran cerna dan anemia.

2. Apakah bahaya potensial yang dapat terjadi pada kasus skenario !

Jawab :

7 | Page
1. Potensi bahaya fisik, yaitu potensi bahaya yang dapat menyebabkan gangguan-
gangguan kesehatan terhadap tenaga kerja yang terpapar, misalnya: terpapar kebisingan
intensitas tinggi, suhu ekstrim (panas & dingin), intensitas penerangan kurang memadai,
getaran, radiasi.
2. Potensi bahaya kimia, yaitu potesni bahaya yang berasal dari bahan-bahan kimia yang
digunakan dalam proses produksi. Potensi bahaya ini dapat memasuki atau
mempengaruhi tubuh tenga kerja melalui : inhalation (melalui pernafasan), ingestion
(melalui mulut ke saluran pencernaan), skin contact (melalui kulit). Terjadinya pengaruh
potensi kimia terhadap tubuh tenaga kerja sangat tergantung dari jenis bahan kimia atau
kontaminan, bentuk potensi bahaya debu, gas, uap. asap; daya acun bahan (toksisitas);
cara masuk ke dalam tubuh.
3. Potensi bahaya biologis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau ditimbulkan oleh
kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara yang berasal dari atau bersumber pada
tenaga kerja yang menderita penyakit-penyakit tertentu, misalnya : TBC, Hepatitis A/B,
Aids,dll maupun yang berasal dari bahan-bahan yang digunakan dalam proses produksi.
4. Potensi bahaya fisiologis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau yang disebabkan oleh
penerapan ergonomi yang tidak baik atau tidak sesuai dengan norma-norma ergonomi
yang berlaku, dalam melakukan pekerjaan serta peralatan kerja, termasuk : sikap dan cara
kerja yang tidak sesuai, pengaturan kerja yang tidak tepat, beban kerja yang tidak sesuai
dengan kemampuan pekerja ataupun ketidakserasian antara manusia dan mesin.
5. Potensi bahaya Psiko-sosial, yaitu potensi bahaya yang berasal atau ditimbulkan oleh
kondisi aspek-aspek psikologis keenagakerjaan yang kurang baik atau kurang
mendapatkan perhatian seperti : penempatan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan bakat,
minat, kepribadian, motivasi, temperamen atau pendidikannya, sistem seleksi dan
klasifikasi tenaga kerja yang tidak sesuai, kurangnya keterampilan tenaga kerja dalam
melakukan pekerjaannya sebagai akibat kurangnya latihan kerja yang diperoleh, serta
hubungan antara individu yang tidak harmoni dan tidak serasi dalam organisasi kerja.
Kesemuanya tersebut akan menyebabkan terjadinya stress akibat kerja.
6. Potensi bahaya dari proses produksi, yaitu potensi bahaya yang berasal atau
ditimbulkan oleh bebarapa kegiatan yang dilakukan dalam proses produksi, yang sangat

8 | Page
bergantung dari: bahan dan peralatan yang dipakai, kegiatan serta jenis kegiatan yang
dilakukan.

3. Jelaskan riwayat merokok dan hubungannya dengan Kasus !


Jawab :
Riwayat Merokok dan Hubungannya dengan Kasus

9 | Page
Karbon monoksida adalah sejenis gas yang tidak berwarna dan tidak berbau yang merupakan
hasil daripada pembakaran bahan yang mengandung karbon seperti arang, gas dan kayu. Ia
terdiri dari satu atom karbon yang secara kovalen berikatan dengan satu atom oksigen. Dalam
ikatan ini, terdapat dua ikatan kovalen dan satu ikatan kovalen koordinasi antara atom karbon
dan oksigen.
Apabila gas karbon dioksida memasuki sirkulasi darah, ia akan berikatan dengan hemoglobin
sama seperti oksigen. Tetapi, ikatan karbon monoksida terhadap hemoglobin adalah 250 kali
lebih kuat berbanding pengikatan oksigen terhadap hemoglobin. Maka, pada konsentrasi sekecil
0.1% sahaja pun (PCO= 0.5 mmHg), Karbon monoksida akan berikatan dengan separuh daripada
total hemolgobin di dalam darah dan mengurangkan kapasitas membawa oksigen darah sebesar
50%.
Apabila hal ini berlanjutan, tubuh akan menjalankan mekanisme kompensasi berupa peningkatan
proses erythropoiesis sebagai usaha untuk meningkatkan kadar penghantaran oksigen ke
jaringan. Maka, kadar hemoglobin akan meningkat dan menjadi lebih tinggi berbanding pada
kondisi normal. Salah satu penyebab terjadinya hipoksia akibat peningkatan kadar karbon
monoksida adalah merokok.
Dalam penelitiannya, Nodenberg (1990) menyatakan kadar hemoglobin darah ratarata pada
perokok adalah 1560.4 g/L dan pada bukan perokok adalah 1530.5 g/L. Maka, dia mengambil
kesimpulan penelitiannya bahwa merokok menyebabkan terjadinya peningkatan kadar
hemoglobin darah. Hasil penelitian ini disokong lagi dengan maklumat yang dinyatakan oleh
Adamson (2005) yang menyatakan terjadinya peningkatan kadar hemoglobin darah pada
perokok berat. Peningkatan ini terjadi karena reflek dari mekanisme kompensasi tubuh terhadap
rendahnya kadar oksigen yang berikatan dengan hemoglobin akibat digeser oleh karbon
monoksida yang mempunyai afinitas terhadap hemoglobin yang lebih kuat. Maka, tubuh akan
meningkatkan proses hematopoiesis lalu meningkatkan produksi hemoglobin, akibat dari
rendahnya tekanan parsial oksigen, PO2 di dalam tubuh.
Bjork (2000) mendapatkan hal yang sebaliknya di dalam penelitiannya. Studi epidemiologi yang
dilakukan menunjukkan bahawa merokok adalah faktor resiko kepada terjadinya sindroma
myelodisplastik dan anemia refraktori. Penelitian ini menunjukkan terjadi peningkatan resiko

10 | P a g e
relatif terhadap anemia refraktori. Maka, dapat dikatakan bahawa merokok bisa menyebabkan
terjadinya penurunan kadar hemoglobin darah.

4. Jelaskan efek kesehatan dari Pb (Plumbum)?


Jawab :

Sistem saraf pusat


11 | P a g e
Sistem saraf adalah target yang paling sensitif dari paparan timbal. Pada orang dewasa dapat
terjadi efek neurologis akibat terpajan timbal. Dengan pajanan sekitar 40-120 mikrogram / dl
dpata terjadi :
o Penurunan libido
o Depresi atau perubahan mood
o Sakit kepala
o Berkurangnya fungsi kognitif
o Berkurangnya fungsi fisual dan motoric
o Pusing
o Vatigue
o Pelupa
o Kehilangan konsenterasi
o Impoten
o Letargi
o Malaise
o Dan parestesia

Konduksi lambat dari syaraf dan lemahnya ekstensor dari lengan merupakan tanda akhir dari
pajanan timbal , biasanya terjadi pada pekerja dengan paparan timbal yang tinggi.

Hematopoetik
Timbal dapat menghambat kemampuan tubuh untuk membentuk hemoglobin dengan cara
melakukan intervasi pada beberapa enzim dalam pembentukan heme.
1. Timbal menurunkan biosintesis dari heme dengan cara menghambat pembentukan d-
aminolevulinic acid dhydratase (ALED) dan Ferrochelatase activity.
2. Ferrochelatase merupakan senyawa yang sensitive tentang timbal
3. Terjadinya penigkatan erytrosit protoporphyrins

Paparan dengan ukuran 50 mikrogram/dl dapat terjadinya penurunan hemoglobin yang dapat
terjadinya anemia.
12 | P a g e
Reproductive system
LAKI-LAKI:
Dengan paparan sebesar 40 mikrogram / dl dapat terjadi penurunan dari konsentrasi sperma,
jumlah sperma, dan motilitas sperma.

PEREMPUAN:
Dengan paparan sebesar 5-9 mikrogram / dl dapat terjadinya peningkatan dari aborsi spontan dan
keguguran.

Renal / Kidney
Dengan paparan lebih dari 60 mikrogram / dl dapat terjadi kerusakan pada ginjal dengan adanya
peningkatan serum kreatinin dan kreatinin clearance sebagai indicator. Lalu dapat juga terjadi
nefropati yang dapat reversible.

5. Jelaskan Tentang Biomonitoring, Sampel yang Diperiksa, Beserta Nilai Ambang !


Jawab :

13 | P a g e
BIOMONITORING

PENGERTIAN
Biomonitoring adalah cara ilmiah untuk mengukur paparan manusia dengan alam maupun
bahan kimia berdasarkan sampling dan analisis terhadap jaringan individu dan cairan. Bahan
sampling: darah, urine, ASI, udara nafas, rambut, kuku, lemak, tulang, dan jaringan lain.
Tekhnik ini berdasarkan ilmu bahwa zat kimia yang memasuki tubuh manusia meninggalkan
tanda yang menunjukkan paparan ini. Tanda tersebut bisa berupa:
Bahan kimia itu sendiri. Hasil metabolisme zat kimia atau perubahan lain pada tubuh yang
merupakan hasil dari reaksi kimia dalam individu.

APA YANG DIUKUR


Zat kimia alami maupun buatan, yang telah ada dilingkungan, contoh zat kimia alami: timah dan
arsen. Bagian dari makanan yang kita makan, air yang kita minum dan udara yang kita hirup.
Bagian dari sejumlah hewan dan tumbuhan dan yang memiliki aktivitas Biologi, pestisida alami,
karsinogen dan zat kimia hormon aktif.
Bahan kimia sintetis dan buatan banyak ada disekitar kita untuk berbagai keperluan: obat,
pengawet, pewarna, pertanian
Sehingga bahan2 ini banyak kita temukan di air, tanah, udara makanan dan cairan dan jaringan
tubuh kita sendiri

CARA MASUK TUBUH


Makanan yang kita makan
Air yang kita minum
Udara yang kita hirup
Kontak lingkungan yang berhubungan dengan kulit kita

TINGKATAN PENGUKURAN
Baik zat kimia alami maupun buatan, tingkatan tubuh yang diukur dengan biomonitoring
biasanya
Satu bagian per satu juta (ppm)
Satu bagian per satu milyard (ppb)
14 | P a g e
Satu bagian per satu triliun (ppt)

Jika satu ppm digunakan untuk mengumpamakan waktu dibandingkan konsentrasi, akan bernilai
1 ppm sama dengan satu detik dalam 11,5 hari
1 ppb sama dengan satu detik dalam 31,7 tahun
1 ppt akan sama dengan satu detik dalam 32.000 tahun.

APA ITU BODY BURDEN


Tingkat zat kimia sintetis dan alami yang di deteksi melalui biomonitoring terkadang disebut
juga body burden.
Ini adalah istilah yang menyesatkan yang menyarankan penemuan atau pendeteksian suatu zat
selalu berarti, itu memberikan efek yang merugikan
Biomonitoring hanya mengukur paparan, tidak menyediakan informasi mengenai racun maupun
resiko.
Tentu saja, banyak zat kimia alami seperti logam mangan, ditemukan di jaringan dan cairan
penting untuk fungsi yang tepat dalam tubuh manusia.

TAHAP BIOMONITORING
Proses dari biomonitoring meliputi tiga tahap:
memilih siapa yang akan dimonitor, termasuk kapan dan dimana.
mengumpulkan contoh jaringan.
memutuskan zat kimia mana yang akan dipelajari dan dianalisa diantara zat kimia dalam contoh
yang dikumpulkan.
Ini adalah proses yang rumit dan mahal, terutama, jika tujuan untuk mendapatkan hasil yang
menunjukkan tingkatan variasi tubuh berdasarkan umur, jenis kelamin, suku, letak geografis dan
keadaan kesehatan individu
Biomonitoring juga bergantung pada kemampuan analisa ahli kimia untuk mendeteksi zat kimia
dalam jumlah sedikit, kemampuan yang telah meningkat selama dekade terakhir
The U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) telah memulai program yang
ambisius tentang monitoring.
Analisa yang aktual berdasarkan cara kerja laboratorium yang diterima secara umum.

15 | P a g e
Membutuhkan teknik dan instrumen analisis yang berpengalaman, karena metode tes sangat
sensitif untuk mendeteksi jumlah yang sangat sedikit yang ditemukan di manusia.
Tes khusus ini tidak bisa dilakukan oleh ahli laboratorium umum yang secara rutin hanya
mengecek darah dan urine yang disuruh oleh dokter.

MENGAPA DATA BIOMONITORING PENTING


Mungkin kekuatan yang paling penting dari biomonitoring adalah bahwa satu-satunya teknik
yang bisa menyediakan pengukuran langsung mengenai paparan individu manusia dan populasi.
Biomonitoring membutuhkan sejumlah besar sumber, hanya sejumlah kecil individu dan
senyawa yang bisa dimonitor.

Dengan tidak adanya biomonitoring, penilaian paparan dilakukan secara tidak langsung
berdasarkan kombinasi
pengukuran konsentrasi zat kimia di lingkungan, seperti tanah, air, dan makanan,
memperkirakan perilaku manusia, seperti konsumsi makanan dan waktu yang dihabiskan pada
aktivitas tertentu.

Pendekatan tidak langsung memiliki beberapa kekurangan.


Pertama analisa mengenai lingkungan dibatasi oleh ruang dan waktu, konsentrasi yang diketahui
hanya untuk sejumlah tempat pada suatu waktu,
Kedua perilaku manusia cukup berubah-ubah, dan ini menambah ketidakpastian dalam
perhitungan secara signifikan.
Berdasarkan keterbatasan ini, susah untuk mengetahui seberapa efektif penilaian secara tidak
langsung yang menunjukkan paparan manusia.
Disamping menjadi pengukuran langsung, biomonitoring memiliki beberapa kelebihan yaitu
Mengintegrasikan atau menambah bersama-sama paparan dari berbagai sumber seperti udara, air,
dan makanan untuk menyediakan gambaran dari paparan seluruhnya.
Jadi ini mengukur paparan seluruhnya dari seluruh jalan dan dari semua sumber.

MANFAAT BIOMONITORING
Biomonitoring menyediakan informasi yang bisa digunakan dalam berbagai cara.

16 | P a g e
Data ini membantu memahami zat mana yang ada di lingkungan dan tingkatan relatif masing-
masing, bagaimana tingkatan ini berubah seiring dengan waktu dan sektor mana pada populasi
yang memiliki paparan tinggi yang tidak biasa terhadap senyawa tertentu.
Sebagai hasil dari pemahaman ini, mungkin bisa:
Menaksir keefektifan tahap yang diambil untuk mengurangi paparan,
Mengidentifikasi penelitian baru yang dibutuhkan dan
Membantu dokter mendiagnosa dan mengobati pasien yang mungkin memiliki paparan tinggi
yang tidak biasa terhadap suatu zat tertentu.

RISIKO PAPARAN
Apakah suatu zat kimia yang ditemukan dalam tubuh mengandung resiko tergantung dari 2
faktor :
Besarnya, rangkaian waktu, dan rute (proses pencernaan,pernapasan atau kontak kulit) dari
paparan.
Tingkat racunnya, jika efek buruk dihubungkan dengan jenis paparan.

Resiko bisa terjadi jika seseorang:


Sangat tidak terlindungi dalam waktu singkat
Kurang terlindungi untuk waktu yang lama
Tidak terlindungi dari tingkat yang lebih rendah dari suatu senyawa dengan tingkat keberacunan
yang tinggi.
Jadi, pengetahuan tentang baik tingkat keberacunan dan ciri-ciri paparan penting untuk mengira-
ngira resiko yang mungkin terjadi
Biomonitoring hanya menyediakan satu bagian dari data yang dibutuhkan untuk mengira-ngira
resiko, tidak bisa digunakan sebagai pengganti dari resiko.
Sayangnya jika individu tidak mengerti batasan biomonitoring dalam menyediakan informasi
mengenai resiko, mereka mungkin mengambil langkah untuk mengurangi paparan.
Namun sebenarnya bukannya mengurangi resiko tapi malah menambah resiko totalnya.
Contohnya ibu yang sedang menahan diri untuk memberikan ASI ketika mengetahui sebuah zat
kimia tertentu telah ditemukan pada air susu mereka.
Hampir pada semua kasus keuntungan dari pemberian ASI lebih banyak daripada resiko yang

17 | P a g e
mungkin terjadi dari zat kimia ini

TUJUAN BIOMONITORING
Pada tahap awal tujuannya ialah untuk mengira-ngira tingkatan mengenai zat kimia sintetis dan
buatan pada jaringan manusia dan cairan saat ini dan
Menyediakan data yang digunakan untuk pengambilan keputusan mengenai kebutuhan penelitian
yang akan datang.

Informasi yang dikumpulkan digunakan yang utama untuk :


menetapkan garis dasar dan tingkat referensi mengenai zat kimia lingkungan.
mengidentifikasi zat kimia yang cocok mengenai kekurangan data mengenai lingkungan dan
ilmu tentang racun
memperbaiki usaha biomonitoring di masa depan.

NILAI AMBANG BATAS (NAB) ZAT KIMIADI UDARA TEMPAT KERJA

A-2 : Zat kimia yang diperkirakan karsinogen untuk manusia (suspected human carcinogen)
A-3 : Zat kimia yang terbukti bersifat karsinogen terhadap binatang percobaan
A-4 : Zat kimia yang belum cukup bukti untuk diklasifikasikan karsinogen terhadap manusia
ataupun binatang
A-5 : Tidak diperkirakan karsinogen terhadap manusia
bds : Bagian dalam sejuta
CAS : Chemical Abstract Services
ktd : Kadar tertinggi yang diperkenankan
mg/m3 : Miligram per meter kubik
NAB : Nilai Ambang Batas
psd : Paparan singkat yang diperkenankan
: Identitas zat-zat kimia yang memerlukan Indeks Pemaparan Biologis (BEI =
Biological Exposure Indices)
g : Zat kimia yang berdasarkan sumber-sumber lain dikatagorikan karsinogen

18 | P a g e
No Zat Kimia (CAS) NAB Keterangan
mg/m3 bds
1 Kadmium, logam (7440-43- 0,01(i); A20,
9) dan persenyawaannya sebagai
Cd 002(j) ; A2
2 Kromit proses tambang (kromat), 0,05 ; A1
sebagai Cr
3 Kobalt, (7440-48-4) logam 0,02 ; A3
dan
persenyawaan anorganik sebagai
Co
4 Tembaga (7440-50-8)

- Fume (uap) 0,2


- Debu dan mist sebagai Cu
1
5 Mangan, (7439-96-5) logam dan 0.2
persenyawaan anorganik sebagai
Mn
6 Air raksa (sebagai Hg) (7439-97-
6)
0.025; A4
- Air raksa senyawa anorganik,
termasuk logam 0.01

- Air raksa senyawa alkil 0.1


- Air raksa senyawa aril
7 Arsen, logam dan 0,01 ; A1
persenyawaan
anorganik sebagai As (7440-38-2)
8 Tetra etil timah hitam (78-00-2) 0,1(o) ; A4 kulit
sebagai Pb
9 Tetrametil timah hitam (75-74-1) 0,15(o) Kulit
10 Timah hitam, (7439-92-1) 0,05 ; A3

19 | P a g e
logam dan
persenyawaan anorganik sebagai
Pb
11 Timah hitam arsenat (7784-40- 0.15
9)
sebagai Pb3(AsO4)2
12 Timah hitam kromat (7758-97-
6)
0,05 ; A2 -
- sebagai Pb
0,012 ; A2
- sebagai Cr

(c) : Zat kimia yang bersifat asfiksian

(d) : NOC = not otherwise classified (tidak diklasifikasikan)

(e) : Nilai untuk partikel yang inhalabel (total), tidak mengandung asbes dan kandungan kristal silika
lebih kecil dari 1%

(f) : Serat lebih panjang dari 5m dan dengan rasio sama atau lebih besar dari 3 dibanding 1.

(g) : Nilai untuk partikel yang mengandung kristal silika lebih kecil dari 5%.

(i) : Partikel inhalabel

(j) : NAB untuk fraksi respirabel dari partikel.

(k) : Pengambilan contoh dengan metoda dimana tidak terambil bentuk uapnya.

(l) : Tidak termasuk stearat-stearat yang berbentuk persenyawaan logam beracun

(m) : Berdasarkan pengambilan contoh dengan High Volume Sampler

(n) : Partikel respirabel tidak boleh melampaui 2 mg/m3

(o) : Tenaga kerja yang terpapar dengan faktor kimia ini, disarankan dilakukan monitoring spesimen
biologi.

(p) : Kecuali minyak kastor (castor oil), minyak biji kacang mede (cashew nut), atau minyak-minyak

20 | P a g e
iritan yang sejenis

(q) : Partikel bebas serat, diukur dengan vertical elutriator cotton-dust sampler.

6.Jelaskan diagnosis kerja !


Jawab :

Diagnosis penyakit: Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan besi untuk
eritropoesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron store) yang pada akhirnya
mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang (Bakta, 2006).

Defisiensi besi dan keracunan timbal menyebabkan anemia. Telah banyak penelitian dilakukan
untuk membuktikan interaksi antara keracunan timbal dan defisiensi besi, dan ditemukan bahwa
pada orang yang keracunan timbal kondisi anemia defisiensi besinya semakin berat.

Hubungan:
Divalent metal transporter 1 (DMT 1) yang berfungsi mentransfer besi melewati membran apikal
enterosit duodenum tidak hanya spesifi k terhadap besi. DMT 1 juga dapat mentranspor ion
metal divalen lainnya, termasuk mangan, kobalt, tembaga, seng, kadmium dan timbal.

Oleh karena itu kondisi defisiensi besi meningkatkan kecepatan penyerapan logam divalen
21 | P a g e
lainnya, terutama timbal sehingga kondisi defisiensi besi meningkatkan kejadian keracunan
timbal. Sebaliknya kehadiran besi dapat menurunkan keracunan timbal, melalui kompetisi secara
langsung pada tempat ikatan. Hubungan antara keracunan timbal dan anemia defisiensi besi pada
anak telah banyak diteliti, terutama pada populasi risiko tinggi, seperti anak-anak yang tinggal di
area peleburan timbal.

Beberapa studi lainnya menunjukkan peningkatan bermakna proporsi antara BLL 100 sampai
199 g/dL dan >200 g/dL dengan anemia defisiensi besi. Peningkatan kadar timbal darah dapat
mengganggu eritropoiesis dengan menginhibisi sintesis protoprofirin, dan mengganggu absorpsi
besi yang meningkatkan risiko anemia. Pada kondisi keracunan timbal, efek yang paling terlihat
adalah pada jalur pembentukan heme. Timbal menghambat enzim asam -aminolevulinat
dehidrase dan ferrokelatase, sehingga enzim asam -aminolevulinat dehidrase tidak dapat
mengubah porfobilinogen, akibatnya besi tidak dapat memasuki siklus protoprofirin. Perkursor
heme, protoprofirin eritrosit yang diganti menjadi protoporfirin zinc, menjadi meningkat dan
pembentukan heme menurun, menyebabkan anemia berat

7. Jelaskan Penatalaksanaan pada scenario !


Jawab :

Terapi Terhadap Anemia Difesiensi Besi

a. Terapi kausal: tergantung penyebab. Misalnya pengobatan cacing tambang, pengobatan


hemoroid, pengobatan menoragia. Terapi kausal harus dilakukan, kalau tidak maka
anemia akan kambuh kembali.

b. Pemberian preparat besi untuk mengganti kekurangan besi dalam tubuh

1) Besi per oral merupakan obat pilihan pertama karena efektif, murah, dan aman.
preparat yang tersedia, yaitu:
i. Ferrous sulphat (sulfas ferosus): preparat pilihan pertama (murah dan efektif).
Dosis: 3 x 200 mg.
ii. Ferrous gluconate, ferrous fumarat, ferrous lactate, dan ferrous succinate, harga
lebih mahal, tetepi efektivitas dan efek samping hampir sama.

22 | P a g e
2) Besi parenteral
Efek samping lebih berbahaya, serta harganya lebih mahal. Indikasi, yaitu :
a) Intoleransi oral berat
b) Kepatuhan berobat kurang
c) Kolitis ulserativa
d) Perlu peningkatan Hb secara cepat (misal preoperasi, hamil trimester akhir).

c. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan

1) Mengatasi penyebab perdarahan kronik, misalnya pada ankilostomiasis diberikan


antelmintik yang sesuai.
2) Pemberian preparat Fe : Pemberian preparat besi (ferosulfat/ ferofumarat/
feroglukonat) dosis 4-6 mg besi elemental/kg BB/hari dibagi dalam 3 dosis, diberikan
di antara waktu makan. Preparat besi ini diberikan sampai 2-3 bulan setelah kadar
hemoglobin normal.
3) Bedah : Untuk penyebab yang memerlukan intervensi bedah seperti perdarahan
karena diverticulum Meckel.
4) Suportif : Makanan gizi seimbang terutama yang megandung kadar besi tinggi yang
bersumber dari hewani (limfa, hati, daging) dan nabati (bayam, kacang-kacangan).

Screening diperlukan untuk mengidentifikasi kelompok wanita yang harus diobati dalam
mengurangi mordibitas anemia. CDC menyarankan agar remaja putri dan wanita dewasa
yang tidak hamil harus di-screening tiap 5-10 tahun melalui uji kesehatan, meskipun tidak
ada faktor risiko anemia seperti perdarahan, rendahnya intake Fe, dan sebagainya.
Tetapi apabila disertai adanya faktor risiko anemia, maka screening harus dilakukan secara
tahunan.
Penderita anemia harus mengkonsumsi 60-120 mg Fe per hari dan meningkatkan asupan
makanan sumber Fe. Satu bulan kemudian harus dilakukan screening ulang. Bila hasilnya
menunjukkan peningkatan konsentrasi Hb minimal 1 g/dl atau hematokrit minimal 3%,
pengobatan harus diteruskan sampai tiga bulan.

Penanganan Kasus Dan Tindakan Pencegahan

Pengobatan keracunan Pb akibat kerja adalah menghentikan penambahan timah hitam yang
memasuki tubuh penderita yang pada umumnya melewati jalan pernafasan atau pencernaan, serta
mengobatinya dengan ethylendiaminetetraacetic (EDTA) intravenous.
Ethylendiaminetetraacetic akan mengikat kation Pb dalam tulang dan jaringan lunak. Ekskresi
lebih dari 600 g Pb dalam spesimen urin 24 jam menandakan adanya pajanan secara signifikan
(Palar, 1994). Selain menggunakan EDTA, dapat pula digunakan 2,3 dimercapto propanol

23 | P a g e
(British antilewisite atau BAL). Dua macam obat ini dapat mengikat Pb yang ada pada jaringan
seperti eritrosit, otot, liver, ginjal dan tulang trabekular. Namun pada pasien dengan pajanan yang
lama, sebagian besar Pb disimpan pada tulang padat dan otak.

Keberhasilan terapi ini tergantung pada beberapa factor antara lain : beratnya gejala klinik,
derajat disfungsi organ terminal, kadar Pb dalam darah dan sifat pajanan akut atau kronik.
Biasanya terapi ini diindikasikan untuk pasien dengan kadar Pb dalam darah lebih dari 80
g/dL.

Tindakan pengendalian yang dapat diambil guna mencegah intoksikasi Pb dapat berupa :

(a) Pengawasan ketat terhadap sumber debu atau uap Pb


(b) peningkatan higiene industri dan hygiene perorangan seperti pakaian khusus dengan aliran
udara tekanan positf bagi pekerja yang membersihkan tangki-tangki penyimpanan TEL,
tidak boleh makan, minum dan merokok di tempat kerja,
(c) pemeriksaan sebelum penempatan meliputi riwayat medis dan pemeriksaan fisik dengan
perhatian khusus pada sistim hematopoetik dan kadar Hb darah,
(d) pemeriksaan berkala setiap tahun untuk mencari tanda dan gejala pajanan Pb dan uji
laboratorium untuk mengukur absorbsi Pb yang berlebihan serta pemeriksaan untuk
memastikan efek toksik Pb,
(e) uji saring dengan frekuensi uji saring tergantung terhadap tingkat pajanan potensial dan
hasil pemeriksaan kesehatan dan hasil uji saring sebelumnya, dan
(f) pendidikan cara mengenal bau uap TEL atau gasoline dan cara pencegahan keracunan.

Tindakan pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah dengan dilakukannya program medical
surveillance. Program ini harus dilakukan pada pekerjaan dengan resiko tinggi dimana pekerja
mungkin terpajan Pb di udara lebih dari 30 g/m3 atau lebih dari 30 hari per tiap tahun. Para
pekerja harus dilakukan tes Pb darah dan FEP pada waktu-waktu tertentu. Intervensi yang dapat
dilakukan terhadap hasil medical surveillance dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Pb Darah Orang Dewasa dan Intervensinya Berdasarkan
Standar Pb Menurut OSHA

Kadar Pb darah Intervensi


> 60 g/dL atu jika rata- Terapi secara medis,
rata
pemeriksaan Pb darah
tiga sample darah atau tiap
semua

24 | P a g e
sample darah selama 6 bulan
bulan
> 50 g/dL -
> 40 g/dL tapi < kadar Pemeriksaan Pb darah
Pb tiap
yang harus diterapi medis 2 bulan
< 40 g/dL Pemeriksaan Pb darah
tiap
6 bulan, pekerja yang
telah diterapi secara
medis boleh kembali
bekerja

8. Sebutkan dan jelaskan APD (Alat pelindung diri ) pada pasien di scenario !
Jawab :

Pada skenario disebutkan bahwa pekerjaan pasien adalah penimbang timah, namun kami tidak
dapat memastikan ,pasien menimbang timah dan bekerja hanya dengan mesin saja atau pasien
kontak langsung dengan timbal yang ditimbang, tempat bekerja bising ,atau keadaan sirkulasi
udaara ditempat kerja seperti apa, berikut APD yang bisa pasien gunakan sebagai penimbang

1.Masker
masker yang digunakan bukan terbuat dari kain biasa namun terbuat dari material yang
akan tahan dari bahaya timbal

2. Baju pelindung
Baju pelindung digunakan untuk melindungi seluruh tubuh
bahan kimia, dll. Jenis baju pelindung terbuat dari material yang akan tahan dari timbal,
dan tidak panas. (apabila pekerjaan ada kontak langsung dengan timbal)

3.Sarung tangan
sarung tangan yang digunakan bukan terbuat dari kain biasa namun terbuat dari material
yang akan tahan dari bahaya timbal (apabila pekerjaan ada kontak langsung dengan
timbal)

4. penutup telinga
pwnutup telinga di gunakan apabila keadaan tempat kerja yang bising dengan kebisingan
lebih dari 80 desibel (dB).

25 | P a g e
5. Sepatu
sepatu yang digunakan terbuat dari material yang akan tahan dari bahaya timbal.

9. Jelaskan kategori kesehatan (Fitness to Work) !


Jawab :
TUJUAN :
Memastikan bahwa seorang individu dapat melakukan tugas dalam pekerjaannya secara efektif
tanpa menimbulkan risiko bagi dirinya sendiri maupun pekerja lainnya.

KATEGORI KESEHATAN
1. Fit for Job (Cakap untuk bekerja)
2. Fit with restriction (Cakap dengan keterbatasan)
3. Temporary unfit (Tidak cakap untuk sementara)
4. Unfit for spesific occupation (Tidak cocok untuk pekerjaan tertentu)
5. Unfit to work (Tidak cakap)

Pada skenario berdasarkan pemeriksaan sebagai berikut :


Ku : kesadaran baik, mampu berkomunikasi, TD : 110/70 mmHg, Nadi : 80/menit, Respirasi :
o
normal, Suhu : 37,0 c, Anemia (+), Hb : 10 mg %, BB : 55 kg, TB : 160 cm, Sclera : agak
anemic.

26 | P a g e
Maka kategori kesehatan pada skenario tersebut adalah : Unfit for spesific occupation

10. Jelaskan diagnosis okupasi pada skenario!

Jawab :

Untuk dapat mendiagnosis Penyakit Akibat Kerja pada individu perlu dilakukan suatu
pendekatan sistematis untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan menginterpretasinya
secara tepat.

Pendekatan tersebut dapat disusun menjadi 7 langkah yang dapat digunakan sebagai pedoman
untuk menentukan diagnosa penyakit akibat kerja
Langkah 1 : Tetapkan Diagnosis Klinis.

Diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu, dengan memanfaatkan fasilitas-
fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya dilakukan untuk mendiagnosis suatu
penyakit. Setelah diagnosis klinik ditegakkan baru dapat dipikirkan lebih lanjut apakah
penyakit tersebut berhubungan dengan pekerjaan atau tidak.
Pada skenario yang kelompok kami dapat, didiagnosis bahwa pasien mengalami Anemia
akibat intoksikasi Pb.

Langkah 2 : Identifikasi Paparan Potensi Risiko Bahaya

Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja adalah esensial
untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan pekerjaannya. Untuk ini perlu
dilakukan anamnesis mengenai riwayat pekerjaannya secara cermat dan teliti, yang
mencakup:
27 | P a g e
a. Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh penderita secara
kronologis

Saat ini pasien bekerja di bagian penimbangan timah pada PT. N. dengan lama
bekerja selama 8 jam perhari.
Sebelum bekerja di pekerjaannya yang sekarang, pasien pernah bekerja sebagai
mekanik

b. Lamanya melakukan masing-masing pekerjaan

Pada skenario pasien melakukan pekerjaan ini selama 8 jam perhari, dan sudah
bekerja selama 7 tahun.
Sebelumnya pasien bekerja sebagai mekanik selama 2 tahun.

c. Bahan yang diproduksi

Pada skenario, bahan yang diproduksi adalah Pb (timah hitam) untuk pembuatan aki.

d. Materi (bahan baku) yang digunakan

Bahan baku yang dipakai tidak dipaparkan dengan jelas, hanya disebutkan Pb (timah
hitam) saja.

e. Jumlah pajanannya

Jumlah pajanan tidak disebutkan pada skenario

f. Pemakaian alat perlindungan diri

APD yang dipakai pada skenario antara lain, masker yang terbuat dari kain biasa,
sepatu kerja dan sarung tangan.

g. Pola waktu terjadinya gejala

Pasien mengeluh sering pusing yang berulang baik saat bekerja ataupun saat istirahat
sudah sejak 6 bulan yang lalu. Pasien juga mengeluh menderita batuk sejak 2 hari
yang lalu. Terkadang pasien juga merasakan mual dan sakit senid / otot.

h. Informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang mengalami gejala serupa).
28 | P a g e
Pada skenario tidak disebutkan.

i. Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang digunakan (MSDS, label,
dan sebagainya).pada skenario tidak disebutkan.

Langkah 3 : Cari hubungan langkah 2 dengan gangguan kesehatan yang timbul

Apakah terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang mendukung pendapat bahwa
pajanan yang dialami menyebabkan penyakit yang diderita. Jika dalam kepustakaan tidak
ditemukan adanya dasar ilmiah yang menyatakan hal tersebut di atas, maka tidak dapat
ditegakkan diagnosa penyakit akibat kerja. Jika dalam kepustakaan ada yang mendukung,
perlu dipelajari lebih lanjut secara khusus mengenai pajanan sehingga dapat
menyebabkan penyakit yang diderita (konsentrasi, jumlah, lama, dan sebagainya).
Pada skenario disebutkan pasien bekerja di bagian penimbangan Pb (timah hitam),
dimana Pb ini adalah salah satu logam berat yang perlu diwaspadai karena dapat
menimbulkan efek negatif jika pajanannya melebihi ambang batas yang diperbolehkan
untuk kesehatan manusia. Paparan timah hitam pada pekerja melalui saluran pernafasan
berasal dari debu yang ada di udara. Logam timah hitam yang terhirup masuk kedalam
paru-paru dan akan berikatan dengan darah paru-paru serta di edarkan ke seluruh jaringan
tubuh. Kira-kira 90 % logam timah hitam yang terserap dalam darah dan akan berikatan
dengan hemoglobin dalam sel darah merah (eritrosit), sehingga hemoglobin tidak dapat
berikatan dengan besi (Fero+). Dengan demikian bila seseorang mengabsorbsi timah
hitam di udara, kandungan timah hitam dalam darah akan meningkat dan kadar
hemoglobin akan menurun. Demikian pula timah hitam akan masuk kedalam sumsum
tulang dan menghambat proses hematopoiesis (pembentukan sel darah), sehingga sel-sel
muda banyak dikeluarkan dan mudah terjadi hemolysis.

Langkah 4 : Evaluasi dosis pajanan

Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan pajanan tertentu, maka
pajanan yang dialami pasien di tempat kerja menjadi penting untuk diteliti lebih lanjut
dan membandingkannya dengan kepustakaan yang ada untuk dapat menentukan
diagnosis penyakit akibat kerja.
Pada skenario tidak disebutkan beraja jumlah pasien terpapar pajanan timah hitam ini,
tetapi untuk substansi tunggal didalam udara berdasarkan efek yang ditimbulkan berupa
penyakit, bau, dan gangguan lainnya untuk zat pencemar Pb yaitu 0,5 1,0 g/m 3 dengan
durasi pemaparan selama 1 tahun.

Langkah 5 : Cari peranan faktor individu/kerja dalam timbulnya PAK


29 | P a g e
Apakah ada keterangan dari riwayat penyakit maupun riwayat pekerjaannya, yang dapat
mengubah keadaan pajanannya, misalnya penggunaan APD, riwayat adanya pajanan
serupa sebelumnya sehingga risikonya meningkat. Apakah pasien mempunyai riwayat
kesehatan (riwayat keluarga) atau riwayat kebiasaan yang dapat mengakibatkan penderita
lebih rentan/lebih sensitif terhadap pajanan yang dialami.
Pada skenario diketahui pasien merokok dan dapat menghabiskan beberapa batang rokok
perharinya. Rokok berisi lebih dari 4000 bahan kimia termasuk diantaranya
karbonmonoksida, nikotin, tar, ammonia, arsenik, sianida dan timbal. Pada saat rokok
dihisap komposisi rokok ada yang dipecah menjadi komponen lainnya, misalnya
komponen yang cepat menguap akan menjadi asap bersama-sama dengan komponen
lainnya yang terkondensasi. Dengan demikian, komponen asap rokok yang dihisap oleh
perokok terdiri dari bagian gas (85%) dan bagian partikel.

Efek utama yang menyebabkan terjadinya penyakit pada perokok yaitu efek dari nikotin
yang dapat mempengaruhi susunan saraf simpatis dan desaturasi hemoglobin oleh
karbonmonoksida (CO). Karbonmonoksida bereaksi dengan hemoglobin membentuk
karbonmonoksihemoglobin (karboksi hemoglobin). Afinitas hemoglobin untuk O2 jauh
lebih rendah daripada afinitasnya terhadap karbonmonoksida, sehingga CO
menggantikan O2 pada hemoglobin dan menurunkan kapasitas darah sebagai pengangkut
oksigen.

Langkah 6 : Cari peranan faktor diluar kerja (non-occupational factors)

Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit? Apakah penderita
mengalami pajanan lain yang diketahui dapat merupakan penyebab penyakit. Meskipun
demikian, adanya penyebab lain tidak selalu dapat digunakan untuk menyingkirkan
penyebab di tempat kerja.
Pada skenario tidak dijelaskan adanya faktor atau peranan dari luar yang dapat
mempengaruhi.

Langkah 7 : Tetapkan diagnosis PAK

Sesudah menerapkan ke enam langkah di atas perlu dibuat suatu keputusan berdasarkan
informasi yang telah didapat yang memiliki dasar ilmiah. Seperti telah disebutkan
sebelumnya, tidak selalu pekerjaan merupakan penyebab langsung suatu penyakit,
kadang-kadang pekerjaan hanya memperberat suatu kondisi yang telah ada sebelumnya.
Hal ini perlu dibedakan pada waktu menegakkan diagnosis.
Berdasarkan gejala pada skenario diagnosis kerjanya adalah anemia karena defisiensi besi

Diagnosis okupasi:

30 | P a g e
D50.0 : Iron deficiency anaemia secondary to blood loss (chronic)

11. Jelaskan prognosis pada skenario!


Jawab :

31 | P a g e
A. Unfit for spesific occupation
Pada kasus ini karyawan tersebut tidak sehat untuk melakukan pekerjaan tertentu.
B. Unfit for job
Pada permasalahan ini karyawan tidak sehat untuk bekerja.
Jadi, prognosis tergantung dari durasi serta jumlah pajanan. Jika pajanan tingkat tinggi gejala
pasien bertambah menjadi coma dan kejang walaupun kematian jarang terjadi jika penanganan
medis tepat (dubis at bonam). Apabila pajanan tingkat rendah atau sedang kronis dapat
berkembang menjadi nefropathy kronis, mungkin membutuhkan terapi transplantasi ginjal.

BAB III

KESIMPULAN

32 | P a g e
Berdasarkan hasil diskusi dari kelompok kami, kami mendiagnosis pasien diskenario
menderita Anemia akibat intoksikasi Pb yang dikarenakan pekerjaannya dan harus ditatalaksana
secara medis dan dari segi manajemen APD yang baik

DAFTAR PUSTAKA

Guyton. 2011. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi Keduabelas. Jakarta: Sanders Elsevier.
33 | P a g e
http://apps.who.int/classifications/icd10/browse/2016/en#/D50.0

http://www2.pom.go.id/public/siker/desc/produk/Timbal.pdf

http://repository.uinjkt.ac.id/

34 | P a g e