Anda di halaman 1dari 37

Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan

Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

BAB Tanggapan
A Terhadap KAK

A.1 PEMAHAMAN TERHADAP KERANGKA ACUAN KERJA

A.1.1 Latar Belakang

Sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2014 tentang


Pelaksanaan Undang-undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian
sEbagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 29 Tahun 2009, bahwa
Kawasan transmigrasi terdiri dan Wilayah Pengembangan Transmigrasi (WPT) yang
mendukung pusat pertumbuhan baru dan Lokasi Permukiman Transmigrasi (LPT) yang
mendukung pertumbuhan yang sudah ada. Secara hirarkhi kewilayahan WPT atau LPT
terdiri dan SKP-SKP (Satuan Kawasan Pengembangan) dan SKP terdiri dan SP-SP
(Satuan Permukiman). Sesuai hirakhi kewilayahan tersebut perencanaan permukiman
dibagi dalam 3 tahap yaitu :

a. Tahap I : Rencana Kawasan Transmigrasi (RKT) Skala 1: 50.000;


b. Tahap II : Rencana Kerangka Satuan Kawasan Pengembangan RKSKP, Skala 1:
25.000;
c. Tahap III : Rencana Tehnik Unit Permukiman Transmigrasi dan Rencana Tehnik Jalan
(RTJ), Skala 1: 10.000

Untuk mewujudkan permukiman transmigrasi yang layak idealnya tahapan


perencanaannya mengikuti tahapan tersebut diatas agar dapat memacu pusatpusat
pertumbuhan yang sudah ada dan mewujudkan pusat-pusat pertumbuhan baru sesuai
dengan hirarkinya. Kerangka Acuan Kerja (KAK) berikut ini disusun untuk Penyusunan
RTSP dan RTJ dengan pola usaha Tambak. Penerapan UU No. 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah telah menyebabkan berbagai perubahan pada struktur organisasi
pelaksanaan pembangunan di daerah, dimana Pusat berfungsi sebagai steering, yaitu
memberikan fasilitasi dalam mekanisme pembangunan di daerah, dengan harapan
kegiatan pembangunan dapat terkendali, baik ditingkat Propinsi maupun Kabupaten
sebagai pelaksana pembangunan.

USULAN TEKNIS
A- 1
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

Berdasarkan latar belakang sebagaimana diatas maka Kawasan Transmigrasi adalah


kawasan budidaya yang memiliki fungsi sebagai permukiman dan tempat usaha
masyarakat dalam satu sistem pengembangan berupa wilayah pengembangan
transmigrasi atau lokasi permukiman transmigrasi. Secara geografis, wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai satu kesatuan wadah kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara mencakup ruang darat, ruang laut, dan ruang
udara yang memiliki nilai strategis karena 2 (dua) hal. Pertama, ruang terbesar wilayah
NKRI yang merupakan ruang perairan menjadi perekat pulau-pulau besar dan kecil dari
Sabang sampai Merauke membentuk wilayah negara kepulauan. Kedua, konstelasi
geografis sebagai negara kepulauan dengan posisi di antara benua Asia dan Australia
serta di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, menempatkan Indonesia menjadi
daerah kepentingan bagi negara-negara dari berbagai kawasan. Posisi ini menyebabkan
kondisi politik, ekonomi, dan keamanan di tingkat regional dan global menjadi faktor yang
berpengaruh terhadap kondisi Indonesia.

Selain itu, wilayah Indonesia juga merupakan daerah pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik
besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasifik yang potensial
menimbulkan bencana karena di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi
tabrakan terkumpul sampai suatu titik di mana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan
tumpukan energi yang lepas berupa gempa bumi. Indonesia juga memiliki keberagaman
antarwilayah yang tinggi seperti keberagaman sumber daya alam, keberagaman kondisi
geografi dan demografi, keberagaman agama, serta keberagaman kehidupan sosial,
ekonomi, dan budaya. Demikian strategis dan besarnya potensi bencana wilayah NKRI,
maka Pasal 33 ayat (3) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
menegaskan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Memahami kondisi wilayah NKRI tersebut, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 menegaskan bahwa
aspek spasial haruslah diintegrasikan ke dalam kerangka perencanaan pembangunan.
Sedangkan, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
mengamanatkan pentingnya integrasi dan keterpaduan antara rencana pembangunan
dengan rencana tata ruang di semua tingkatan pemerintahan. Kebijakan tersebut
menunjukkan bahwa pembangunan nasional Indonesia dilaksanakan berdasarkan dimensi
kewilayahan dalam rangka mengoptimalkan pengelolaan potensi sumber daya wilayah
untuk mendorong peningkatan daya saing daerah dalam kerangka peningkatan daya saing

USULAN TEKNIS
A- 2
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

bangsa. Penyelenggaraan Transmigrasi sebagai bagian integral dari pembangunan


nasional telah disempurnakan melalui Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian.
Perubahan tersebut menegaskan bahwa pembangunan Transmigrasi dilaksanakan
berbasis kawasan yang memiliki keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan dengan
pusat pertumbuhan dalam satu kesatuan sistem pengembangan ekonomi wilayah.
Konsekuensi dari perubahan tersebut, maka pembangunan Transmigrasi di tingkat daerah
adalah sub sistem dari sistem pembangunan daerah yang secara spesifik merupakan
upaya pembangunan Kawasan Perdesaan terintegrasi dengan pembangunan Kawasan
Perkotaan dan pengembangan ekonomi lokal dalam rangka meningkatkan daya saing
daerah.

A.1.2 TUJUAN

Penyusunan Rencana Teknis Satuan Pemukiman (RTSP) Transmigrasi Nelayan di Desa


Baturube Kecamatan Bungku utara Kabupaten Morowali Utara bertujuan untuk :

1) Menyusun Tata Ruang Satuan Permukiman yang memenuhi kriteria 2 C (Clear and
Clean) dan 4 L (Layak Huni, Layak Usaha, Layak Berkembang dan Layak
Lingkungan);
2) Menyusun Rencana Satuan Permukiman Transmigrasi yang terintegrasi dengan
wilayah dan masyarakat sekitar yang ada;
3) Menganalisis kesesuaian permukiman dan kesesuaian kegiatan pokok yang dapat
dikembangkan di lokasi;
4) Menetapkan kebutuhan dasar secara normatif, jenis dan volume sarana dan
prasarana permukiman transmigrasi;
5) Memberikan rekomendasi kegiatan pembangunan permukiman, penempatan dan
pembinaan transmigrasi Nelayan serta pengembangan usaha transmigrasi.

A.1.3 SASARAN
Sasaran yang hendak dicapai dalam penyusunan Rencana Teknis Satuan Pemukiman
(RTSP) Transmigrasi Nelayan di Desa Baturube Kecamatan Bungku utara Kabupaten
Morowali Utara adalah sebagai berikut :

1) Terwujudnya Dokumen Laporan RTSP yang informatif serta dapat digunakan


sebagai pedoman pelaksanaan pembangunan fisik satuan permukiman transmigrasi
Nelayan.

USULAN TEKNIS
A- 3
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

2) Tersedianya rencana penempatan dan pembinaan transmigrasi serta pengembangan


usaha transmigrasi Nelayan;
3) Terbentuknyasatuan permukiman transmigrasi yang layak huni, layak usaha, layak
berkembang dan layak lingkungan;
4) Tersusunya rencana teknis satuan permukiman tranmigrasi dengan pola dan struktur
ruang yang didasarkan pada pertimbangan aspek fisik lahan, aspek sosial budaya,
aspek ekonomi dan aspek politik serta kebijakan secara berkeadilan antara
masyarakat setempat dan dan pendatang;
5) Tersusunya desain tata ruang dan kebutuhan sarana serta prasarana pembangunan
satuan permukiman transmigrasi yang efektif dan efisien;
6) Tersusunya desain kegiatan usaha pokok dan pertanian dalam arti luas.

A.1.4 LINGKUNGAN KEGIATAN

Untuk mencapai tujuan dan sasaran sebagaimana diatas maka dalam penyusunan
Rencana Teknis Satuan Pemukiman (RTSP) Transmigrasi Nelayan di Desa Baturube
Kecamatan Bungku utara Kabupaten Morowali Utara perlu dilaksanakan berbagai
kegiatan yang secara garis besar meliputi :

1) Klarifikasi penyediaan areal permukiman transmigrasi Nelayan (clean and clear);


2) Pemetaan Topografi dan Lereng;
a. Survai pengikatan dan jalur rintisan utama (Base line);
b. Survei pada jalur rintisan 500 m;
c. Survai jalur rintisan per 250 m pada Lahan Pekarangan (LP) dan Fasilitas Umum
(FU);
d. Perhitungan dan penggambaran peta topografi skala 1: 5.000 di areal calon LP
dan FU;
e. Pembuatan peta kemiringan lahan skala 1 : 5.000 untuk LP dan FU dan 1:10.000
untuk seluruh areal survai.
3) Penelitian Tanah :
a. Penelitian tanah;
b. Analisis laboratorium contoh tanah;
c. Pembuatan peta Tanah skala 1:50.000 dan 1: 10.000.
4) Evaluasi kesesuaian lahan :
a. Penilaian akhir kesesuaian lahan;
b. Pembuatan peta kesesuaian lahan skala 1:5.000 di LP dan 1 : 10.000 di seluruh
areal survey.
5) Survai Penggunaan Lahan dan Sumber Daya Hutan :
a. Wawancara dengan penduduk setempat, Pemerintah Daerah;
b. Analisis potensi tegakan kayu dan data-data sekunder dan hasil inventarisasi
hutan;
c. Pembuatan peta penggunaan lahan dan tegakan kayu skala 1: 10.000.

USULAN TEKNIS
A- 4
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

6) Penelitian iklim dan hidrologi :


a. Penelitian hidrologi pada aliran sungai dan sepanjang rintisan;
b. Analisa daerah bahaya banjir;
c. Inventarisasi dan Analisa data-data iklim;
d. Penelitian sumber air minum;
e. Pembuatan peta hidrologi skala 1: 10.000.
7) Analisis Tata Ruang :
a. Hasil super impose kesesuain lahan, tata guna lahan dan hidrologi;
b. Rekomendasi penggunaan lahan skala 1: 10.000.
c. Penyusunan Usulan Pengembangan Tambak
d. Penelitian aspek sosial dan ekonomi perikanan;
e. Penelitian aspek perikanan tambak;
f. Rekomendasi pengembangan perikanan tambak;
g. Analisis ekonomi dan keuangan.
8) Penyusunan RTSP :
a. Analisis daya tampung;
b. Penggambaran Peta RTSP skala 1: 5.000 untuk LP dan dan FU, Skala 1:10.000
untuk areal survai;
c. Penggambaran detail kapling Pusat Desa skala 1: 2.000;
d. Staking Out dan penggambaran batas pembukaan lahan skala 1: 5.000.
e. Penggambaran Peta Alignement jalan penghubung poros skala 1 :5.000
9) Telaahan Lingkungan :
a. Identifikasi dampak potensial dan RTSP.
b. Penanggulangan dampak negatif.
10) Perkiraan Biaya :
a. Perkiraan biaya untuk penyiapan lahan dan bangunan;
b. Pengerahan Transmigran;
c. Pengembangan perikanan tambak;
d. Rekapitulasi biaya pengembangan

A.1.5 JANGKA WAKTU PENYELESAIAN PEKERJAAN

Jangka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan ini adalah selama 180
(seratus delapan puluh) hari kalender.

A.1.6 PENYUSUNAN LAPORAN

Dalam Rangka penyusunan Rencana Teknis Satuan Pemukiman (RTSP) Transmigrasi


Nelayan di Desa Baturube Kecamatan Bungku utara Kabupaten Morowali Utara harus
disusun dokumen laporan yang terdiri dari :

a. Buku Laporan Pendahuluan; sebagai wujud kemajuan awal pekerjaan, isinya secara
sistimatis merupakan hasil elaborasi dari kerangka acuan kerja yang berisikan antara
lain; pemahaman latar belakang, tujuan dan sasaran pekerjaan, pemahaman
terhadap lingkup pekerjaan yang diwujudkan dalam bentuk metodologi pelaksanaan

USULAN TEKNIS
A- 5
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

pekerjaan pada tiap-tiap lingkup pekerjaan dan keluaran yang akan dihasilkan
dikaitkan dengan penyediaan tenaga ahli serta peralatan yang dibutuhkan, jadwal
pelaksanaan pekerjaan dan jadwal pelibatan tenaga ahli. Pada Laporan pendahuluan
ini sudah harus tergambarkan juga informasi umum kawasan yang berkaitan dengan
letak administrasi, penduduk, kemudahan jangkauan (aksebilitas kawasan) dsb.,
yakni sebagai gambaran pengenalan awal konsultan pada kawasan yang hendak
direncanakan. Draft Laporan pendahuluan ini perlu di diskusikan dengan SKPD
terkait guna memperoleh masukan-masukan korektif sebelum di serahkan sebagai
Dokumen Laporan Pendahuluan. Jumlah Buku Laporan Pendahuluan yang wajib
diserahkan sebanyak 10 Buku, ukuran kertas A4, sampul warna hardcover dengan
desain yang menarik. Apabila ada lampiran peta ukuran kertas yang lebih besar (A3
atau A1 atau lainnya) dapat jilid menyatu dengan buku laporan dengan melipat sesuai
ukuran buku. Buku Laporan Pendahuluan diserahkan paling lambat 1 bulan setelah
kontrak.
b. Buku Laporan Antara; merupakan wujud kemajuan pertengahan pelaksanaan
pekerjaan. Buku Laporan antara ini berisikan data hasil survey sesuai dengan
metodologi pelaksanaan pekerjaan yang telah dikemukakan pada laporan
pendahuluan. Data-data tersebut perlu disistimatiskan agar supaya mudah di analisis.
Dalam buku laporan antara ini sudah harus ada hasil analisis masing-masing item
kegiatan sebagaimana lingkup kegiatan sehingga memudahkan dalam tahap
penyusunan rencana teknis satuan permukiman nantinya serta rekomendasinya.
Draft Buku Laporan antara ini perlu di diskusikan dengan SKPD terkait guna
memperoleh masukanmasukan korektif sebelum di serahkan sebagai Dokumen
Laporan Antara.
Jumlah Buku laporan antara yang wajib diserahkan kepada PPK sebanyak 10
buku,ukuran kertas A4, sampul warna hardcover dengan desain yang menarik.
Apabila ada lampiran peta ukuran kertas yang lebih besar (A3 atau A1 atau lainnya)
dapat jilid menyatu dengan buku laporan dengan melipat sesuai ukuran buku. Buku
Laporan Antara diserahkan paling lambat 2 bulan setelah kontrak.
c. Buku Laporan Akhir: merupakan wujud penyelesaian pelaksanaan pekerjaan secara
keseluruhan. Buku Laporan Akhir berisikan antara lain; data yang telah disistmatiskan
serta analisisnya, rencana teknis satuan permukiman transmigrasi antara lain berupa
rencana tata ruang, rencana teknis jalan, kajian lingkungan serta simpulan dan
rekomendasi pengembangan satuan permukiman transmigrasi yang direncanakan.
Draft Buku Laporan Akhir ini perlu di diskusikan dengan SKPD terkait guna

USULAN TEKNIS
A- 6
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

memperoleh masukan-masukan korektif sebelum di serahkan sebagai Dokumen


Laporan Akhir. Jumlah Buku laporan Akhir yang wajib diserahkan kepada PPK
sebanyak 10 buku, ukuran kertas A4, sampul warna hardcover dengan desain yang
menarik.Adapun sistimatika penyajian buku laporan akhir ini mengikuti outline laporan
sebagai berikut ini :

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR PETA
DAFTAR LAMPIRAN

PENDAHULUAN
Latar Belakang dan Tujuan
Metode Pendekatan Studi
Susunan Tim

LINGKUNGAN FISIK DAN SOSIAL


Daerah Studi
Letak Administrasi
Letak Geografis
Aksesibilitas (Termasuk Informasi kondisi jalan yang
ada dan usulan penanganan, letak trase terhadap
jaringan jalan dan lain-lain)
Topografi
Kerangka Dasar Pengukuran
Kemiringan lahan
Hidrolog
Iklim
Keadaan Umum dan Klasifikasi Iklim
Curah Hujan
Sub Wilayah Aliran Sungai (Debit, Tinggi Muka Air,
Kualitas)
Sumber Daya Air (Debit dan Kualitas)
Air Tanah
Air Tanah Dangkal
Air Tanah Dalam
Detail Topografi
Sumber Air Minum
Kemungkinan Pengairan/Irigasi
Resiko Banjir
Vegetasi
Jumlah dan Potensi Tegakan
Status Hutan
Penggunaan Lahan
Flora dan Fauna

USULAN TEKNIS
A- 7
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

Sumber Daya Lahan


Diskripsi dan Klasifikasi Tanah Bahan Induk,
Geomorfologi, Geologi, Macam Tanah)
Satuan Peta Lahan
Kesuburan Tanah
Penilaian Kesesuaian Lahan
Kondisi Tanah Dasar dan Sumber Material
Kondisi Tanah Dasar
Sumber Material (Termasuk Untuk Gorong-Gorong
dan Jembatan)
Kegiatan Perikanan, Sosial Ekonomi dan Budaya
Kondisi Perikanan (Termasuk musim penangkapan)
Penduduk dan Adat Istiadat
Ketersediaan dan Penggunaan Tenaga Kerja
Perkiraan Produksi perikanan
Kesehatan Lingkungan Masyarakat
Mata Pencaharian Penduduk
Pendapatan dan Pengeluaran Penduduk
Fasilitas Sosial dan Prasarana Ekonomi
Tanggapan Masyarakat Terhadap Transmigrasi
Perkiraan Jumlah Penduduk Yang Terkena Proyek
dan Jumlah Calon TPS Yang ingin Bermukim di
Lahan Masing-masing/ Desa/Dusun
Potensi TPS dan Komposisi TPS : TPA serta Daerah
Asal TPA Yang Diinginkan
Kebijakan Pengembangan Daerah

RENCANA TEKNIS UNIT PERMUKIMAN


TRANSMIGRASI (RTSP)
Penilaian Kesesuaian Permukiman
Penilaian Aksesibilitas Lokasi
Penilaian Fisik Lahan
Penilaian Status lahan
Penilaian Ketersediaan Air dan Resiko Banjir
Kesesuian permukiman
Rencana Tata Ruang
Dasar-dasar Perencanaan
Peruntukan Lahan dan Daya Tampung
Penilaian Terhadap Tata Ruang yang Terjadi
Usulan Pengembangan Kawasan
Fungsi SP dalam Hirarki Pusat Kawasan
Usulan Pembentukan LJPT
Rencana Teknis Jalan
Alinemen Jalan dan Desain Geometrik
Kontruksi
Volume Pembangunan Jalan
Biaya Pembangunan
Pembukaan Jalan
Batas Pembukaan Lahan (Termasuk Panjang Jalan)

USULAN TEKNIS
A- 8
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

Metde Pembukaan Lahan


Potensi Erosi Tanah
Persyaratan Teknis Penyiapan lahan tambak
Biaya Pembukaan Lahan tambak (Mengikuti Standar)
Penyiapan Bangunan
Jenis, Jumlah dan Type Bangunan
Sumber Material dan Ketersediaan Kayu
Sumber Air Bersih (Termasuk Penyediaan KTA/
Bendali/Gentong Plastik)
Biaya Penyiapan Bangunan Analisa RAB
Pembangunan mengacu Standar Dit. Pemukiman
Usulan Pengembangan Perikanan tambak
Bentuk Usaha Tani tambak
Pola dan Jadwal Tanam/tebar tambak
Alokasi Tenaga Kerja
Masukan sarana Produksi Perikanan (Bukan berupa
paket standar tetapi harus mengacu pada kondisi
setempat dan jenis usaha perikanan)
Perkiraan Produksi
Prasarana Pengolahan dan Pemasaran
Biaya Pengembangan Perikanan tambak
Kelayakan Usaha Transmigran
Perkiraan Pendapatan Bersih
Kelayakan Usaha Transmigrasi
Perkiraan Biaya Pengembangan
Biaya Penyiapan Lahan
Biaya Penyiapan Bangunan
Biaya Pembangunan jalan
Biaya Pengerahan Transmigrasi
Biaya Pengadaan Paket Suplai
Biaya Pembangunan Test Farm
Biaya Pengembangan Perikanan
Biaya Pengadaan Dukungan Pemerintah
Rekapitulasi Biaya Pengembangan Pelayanan
Kelayakan Usaha Transmigran
Pendapatan Kotor Transmigran
Pengeluaran Transmigrasi
Pendapatan Bersih Transmigrasi
Telaahan Lingkungan
Dampak Lingkungan Fisik dan Biologi
Darnpak Lingkungan Sosial dan Ekonomi

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


Kesimpulan
Umum
Pola Usaha Pokok tambak
Kelayakan Calon Lokasi
Kendala Khusus
Rekomendasi

USULAN TEKNIS
A- 9
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

DAFTAR RUJUKAN LAMPI RAN-LAMPIRAN

d. Album peta; Album peta merupakan kelengkapan yang tidak terpisahkan dari
Dokumen Buku Laporan Akhir, yang wajib diserahkan bersama-sama dengan Buku
Laporan Akhir. Ukuran kertas Album Peta A1 dijilid rapi sebanyak 3 Album
dandiserahkan bersama-sama dengan Laporan Akhir. Adapun isi Album Peta serta
skala masing-masing jenis peta adalah sebagaimana berikut ini :

No Jenis Peta Skala


1 Peta Orientasi lingkup Kabupaten 1:250.000
2 Peta orientasi lingkup kecamatan 1:50.000
3 Peta kawasan pengembangan 1:1.000
4 Peta Kemiringan Lahan 1:1.000
5 Peta Penggunaan Lahan 1:1.000
6 Peta Satuan Tanah / Lahan 1:1.000
7 Peta Kesesuaian Lahan 1:1.000
8 Peta Sumber Daya Hutan 1:1.000
9 Peta Potensi Sumber Daya Air 1:5.000
10 Peta Topografi (LP) 1:5.000
11 Peta Satuan Tanah/ Lahan (LP) 1:5.000
12 Peta Kesesuaian Lahan (LP) 1:10.000
13 Peta Analisa Tata Ruang 1:10.000
14 Peta Rencana Tata Ruang 1:10.000
15 Peta Detil Tata Ruang 1:5.000
16 Peta Pusat Desa 1:2.000
17 Peta Jaringan Jalan 1:20.000-1:50.000
18 Peta Alineman Jalan 1:10.000
19 Peta Situasi dan Gambar Potongan V 1:200, H 1:2.000
Memanjang Jalan
20 Peta Penampang Melintang Jalan 1:100

A.1.7 KEBUTUHAN TENAGA AHLI

1) Team Leader : (Ahli Perencanaan Wilayah, S1 berpengalaman 8 tahun pada bidang


pekerjaan yang sejenis atau S2/S3 berpengalaman 5 tahun pada bidang pekerjaan
yang sejenis)
a. Bertanggung jawab langsung terhadap perencanaan pekerjaan.
b. Bertanggung jawab atas kerangka pelaksanaan dan penulisan laporan yang
akan diserahkan.
c. Mengarahkan dan mempersiapkan program kerja untuk masing-masing wilayah
perencanaan beserta pelaporannya.
d. Mengkoordinasikan pekerjaan masing-masing dengan staf ahli, sehingga dapat
menjaga sinkronisasi pekerjaan.

USULAN TEKNIS
A - 10
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

e. Menganalisis dan merangkum berbagai analisis perhitungan yang telah


dilakukan oleh seluruh staf ahli di masing masing wilayah perencanaan,
sehingga menghasilkan hasil penyusunan yang memenuhi standart perencanaan
seperti yang telah ditetapkan.
f. Bertanggung jawab terhaclap pekerjaan masing-masing wilayah perencanaan
yang dibebankan kepadanya.
g. Mengidentifikasikasi dan merencanakan metode penyusunan dan analisis serta
Survai di wilayahnya.
h. Selalu berkoordinasi dengan Team dalam setiap pengambilan keputusan di
wilayah yang ditanganinya.
i. Mengkoordinasikan anggota Team di wilayahnya untuk melaksanakan pekerjaan
sesuai dengan bidaang tugas masing-masing.
2) Ahli Pemetaan : (Geodesi/Geografi, SI berpengalaman 3 tahun pada bidang
pekerjaan yang sejenisatau S2/S3 berpengalaman 1 Tahun pada bidang pekerjaan
yang sejenis)
a. Bertanggung jawab terhadap pekerjaan analisis fisik kawasan melalui
pendekatan interpretasi citra satellite dan penyusunan model-model analisis
dengan bantuan GIS serta pembuatan produkproduk peta tematik di kawasan
Perencanaan yang dibebankan kepadanya.
b. Membantu masing-masing tenaga ahli dalam melakukan analisis melalui overlai
peta-peta tematik kawasan.
c. Melakukan pengendalian dan pengawasan mutu hasil dan seluruh pekerjaan
dibidang GlS.
d. Mengajukan usulan-usulan dan memberikan pertimbangan jika ada anomali
dalam kualitas GIS yang dikembangkan.
e. Selalu berkoordinasi dengan Team Leader dalam pelaksanaan pekerjaan yang
ditanganinya.
3) Ahli Sosial Budaya: S1 berpengalaman 5 tahun pada bidang pekerjaan yang sejenis
atau S2/S3 berpengalaman 3tahun pada bidang pekerjaan yang sejenis).
a. Bertanggung jawab terhadap pekerjaan analisis aspek sosial budaya.
b. Mengidentifikasikasi dan merencanakan metode penyusunan dan analisis serta
Survai sosial budaya.
c. Selalu berkoordinasi dengan Team Leader dalam setiap pengambilan keputusan
di wilayah yang ditanganinya.
4) Ahli Perikanan: S1 berpengalaman 5 tahun pada bidang pekerjaan yang sejenisatau
S2/S3 berpengalaman 3 Tahun pada bidang pekerjaan yang sejenis).
a. Bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang berkaitan dengan aspek perikanan.
b. Mengidentifikasikasi dan merencanakan metode penyusunan dan analisis serta
Survai perikanan.

USULAN TEKNIS
A - 11
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

c. Selalu berkoordinasi dengan Team Leader dalam setiap pengambilan keputusan


di wilayah yang ditanganinya
5) Ahli Teknik Sipil ( S1 berpengalaman 5 tahun pada bidang pekerjaan yang sejenis
atau S2/S3 berpengalaman 3 Tahun pada bidang pekerjaan yang sejenis)
a. Bertanggung jawab terhadap pekerjaan analisis dan desain jaringan jalan
kawasan.
b. Mengidentifikasikasi dan merencanakan metode penyusunan dan analisis serta
Survai data guna penyusunan rencana sistem jaringan jalan kawasan.
c. Selalu berkoordinasi dengan Team Leader dalam setiap pengambilan keputusan
di wilayah yang ditanganinya.
6) Operator GIS (D3/S1 Geodesi/Geografi berpengalaman 2 tahun pada bidang
pekerjaan yang sejenis).
a. Melakukan analisis terhadap kondisi data spasial yang akan ditayangkan.
b. Memberikan masukan kepada team leader dan seluruh anggota tim mengenai
kondisi data spasial yang akan ditayangkan.
c. Selalu berkoordinasi dengan Team Leader dalam setiap pengambilan keputusan
di wilayah yang ditanganinya.
7) Surveyor/ Juru Ukur, lingkup tugas juru ukur (surveyor), sebagai berikut:
a. Melakukan pekerjaan lapangan atau pengumpulan data yaitu melaksanakan
pengukuran dan mencatat data di lapangan
b. Menghitung dan pemrosesan data yaitu melaksanakan hitungan berdasarkan
data yang diperoleh.
c. Penyajian data atau pemetaan yaitu menggambarkan hasil-hasil ukuran dan
hitungan untuk menghasilkan Peta, gambar rencana, dsb.
d. Pemancangan/pematokan yaitu untuk menentukan batas-batas atau pedoman
dalam pelaksanaan pekerjaan.

A.18 TANGGAPAN TERHADAP KERANGKA ACUAN KERJA

1. Membaca KAK dan berusaha untuk mengerti keseluruhan substansinya.

2. Mengikuti Aanwijzing/ penjelasan yang diberikan oleh Panitia Pelelangan, berusaha bertanya
tentang hal-hal yang belum dimengerti atau adanya tambahan penjelasan.

3. Menyiapkan tim kerja yang bekerja secara simultan dan sinergis.

4. Studi literatur tentang peraturan Perundang-undangan yang berlaku dan terbaru, kebijakan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, serta rencana/ studi-studi terkait yang memiliki korelasi
dengan tema studi/ pekerjaan yang akan dilakukan.

USULAN TEKNIS
A - 12
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

5. Menginventarisasi dokumen-dokumen pendukung, terutama produk-produk yang telah ada,


Peraturan dan Perundang-undangan yang terkait, serta buku-buku yang terkait dengan
penyelenggaraan pasar lelang dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

6. Mendiskusikan substansi pokok dan point-point penting pada intern tim penyusun proposal/ usulan
teknis untuk mendapatkan kesamaan persepsi dan pandangan diantara sesama tim penyusun.

7. Melakukan kegiatan kajian-kajian serta pengkayaan materi-materi teknis pelaksanaan penyusunan


Rencana Teknis Permukiman (RTSP) Transmigran Nelayan dan Rencana Teknik Jalan (RTJ).

Upaya diatas adalah langkah awal yang menjadi pertimbangan konsultan dalam
melaksanakan pekerjaan. Secara keseluruhan rangkaian kegiatan dalam memahami
substansi dari KAK kegiatan Penyusunan Rencana Teknis Permukiman (RTSP)
Transmigran Nelayan dan Rencana Teknik Jalan (RTJ) dapat dilihat pada diagram alir di
bawah ini.

Gambar A.1. Diagram Proses Pemahaman KAK

Dalam menanggapi Kerangka Acuan Kerja, secara umum dapat dikemukakan sistematika
yang ada dalam Kerangka Acuan Kerja tersebut, yaitu: latar belakang, sasaran kegiatan,
penerima manfaat, strategi pencapaian keluaran, keluar (output), tenaga ahli, dan waktu
pelaksanaan.

USULAN TEKNIS
A - 13
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

Penjelasan pekerjaan Penyusunan Rencana Teknis Permukiman (RTSP)


Transmigran Nelayan dan Rencana Teknik Jalan (RTJ) dalam KAK, pihak Konsultan
telah mengerti dan memahami mengenai output dan outcomedari kegiatan ini, serta
lingkup pekerjaan yang tercantum dalam KAK tersebut. Berbagai cakupan dan tahap
proses penyusunan materi laporan juga telah dikemukaan dalam KAK.
Dalam pelaksanaan pekerjaan kegiatan Penyusunan Rencana Teknis Permukiman
(RTSP) Transmigran Nelayan dan Rencana Teknik Jalan (RTJ)sudah barang tentu
tidak dapat dilakukan secara sepihak, sehingga produk akhir pekerjaan ini bukanlah
merupakan hasil konsultan semata. Dalam hal ini konsultan harus mampu berfungsi
sebagai pengatur dan pengelola dengan sumber bahan baku dari berbagai pihak terkait
atas dasar supervisi dari pihak pemberi kerja. Kunci keberhasilan kegiatan ini tergantung
pada 4 hal, yaitu :
1. Mekanisme/ metode pelaksanaan Penyusunan Rencana Teknis Permukiman
(RTSP) Transmigran Nelayan dan Rencana Teknik Jalan (RTJ).
2. Kualitas data dan informasi yang diperoleh. Hal tersebut sering kali menjadi kendala
mengingat produk akhir harus dapat dimanfaatkan dalam skala nasional sehingga
melibatkan banyak sumber data yang memungkinkan munculnya perbedaan dalam
pemahaman data.
3. Proses pengolahan, mulai dari masukan yang berasal dari berbagai sumber, pemilihan
metoda dan model analisa guna menganalisis informasi dan akhirnya menjadi
rumusan materi kebijakan.
4. Tingkat kepakaran dan kemampuan personal yang terlibat dalam proses ini beragam,
maka diharapkan kepakaran yang tersedia dapat bersifat sinergis dan saling
melengkapi.

Dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) dinilai telah cukup memadai dalam menjelaskan
substansi pekerjaan, namun ada beberapa catatan yang perlu dikemukakan berhubung
kekhasan pekerjaan ini. Catatan ini merupakan tanggapan konsultan yang dipandang
perlu adanya penajaman dan hal-hal yang dapat dikembangkan dalam kegiatan tersebut,
sehingga pencapaian produk akhir sesuai dengan sasaran dan keluaran yang diinginkan.

USULAN TEKNIS
A - 14
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

A.3. TANGGAPAN TERHADAP LATAR BELAKANG


A.3.1. Penyusunan Rencana Teknis Permukiman (RTSP) Transmigran Nelayan
dan Rencana Teknik Jalan (RTJ)
Sebagai salah satu sub sistem pembangunan daerah, Transmigrasi dilaksanakan melalui
pembangunan dan pengembangan kawasan yang dirancang secara holistik dan
komprehensif sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dalam bentuk Wilayah
Pengembangan Transmigrasi (WPT) atau Lokasi Permukiman Transmigrasi (LPT).
Pembangunan WPT dilaksanakan melalui pengembangan Kawasan Perdesaan sebagai
sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam untuk mewujudkan pusat
pertumbuhan baru. Sedangkan pembangunan LPT dilaksanakan melalui pengembangan
Kawasan Perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya
alam untuk mendukung percepatan pengembangan wilayah dan/atau pusat pertumbuhan
wilayah yang sedang berkembang. Pusat-pusat pertumbuhan pada setiap Kawasan
Transmigrasi, baik berupa WPT atau LPT dikembangkan menjadi KPB yang merupakan
PPLT. Dengan demikian, pada setiap Kawasan Transmigrasi dilengkapi dengan jaringan
prasarana intra dan antarkawasan untuk menciptakan keterkaitan antarpermukiman dan
antarkawasan menjadi satu kesatuan sistem pengembangan ekonomi wilayah.
Pembangunan Transmigrasi adalah sistem proses pencapaian tujuan pembangunan yang
mencakup aspek penataan ruang, penataan penduduk, dan penataan sistem kehidupan
sosial, ekonomi, dan budaya yang secara operasional dilaksanakan melalui
pembangunan Kawasan Transmigrasi. Dengan demikian, pembangunan Kawasan
Transmigrasi merupakan upaya pemanfaatan bumi dan air dan kekayaan yang
terkandung di dalamnya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat sekaligus penataan
persebaran penduduk yang serasi dan seimbang sesuai dengan daya dukung alam dan
daya tampung lingkungan dengan mengakui hak orang untuk bermigrasi, mengadopsi visi
jangka panjang untuk tata ruang urban demi perencanaan penggunaan lahan yang lestari,
dan mendukung strategi urbanisasi secara terpadu.

Sebagai pendekatan pembangunan berbasis kawasan, Transmigrasi merupakan salah


satu upaya percepatan pembangunan kota-kota kecil di luar pulau Jawa, untuk
meningkatkan perannya sebagai motor penggerak pembangunan daerah dalam rangka
meningkatkan daya saing daerah. Oleh karena itu, pembangunan Transmigrasi harus
mampu mengatasi kesenjangan pembangunan antarwilayah, terutama antara Kawasan
Perdesaan-perkotaan, kawasan pedalaman-pesisir, Jawa-luar Jawa, dan antara kawasan
timur-barat, serta rendahnya keterkaitan antara pusat pertumbuhan dengan daerah

USULAN TEKNIS
A - 15
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

penyangga, termasuk antara kota dan desa. Pusat-pusat pertumbuhan pada setiap
Kawasan Transmigrasi diharapkan dapat menggerakkan aktivitas perekonomian yang
dapat membuka ruang berwirausaha. Terbukanya ruang berwirausaha tersebut
diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat yang dapat mendorong
peningkatan daya saing daerah. Oleh karena itu, upaya pengembangan Masyarakat
Transmigrasi dan Kawasan Transmigrasi diarahkan untuk mencapai tingkat swasembada
dan terbentuknya pusat pertumbuhan ekonomi dalam satu kesatuan dengan upaya-upaya
pembinaan di bidang sosial budaya, mental spiritual, kelembagaan pemerintahan, dan
pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Pembangunan Transmigrasi
merupakan proses kegiatan lintas pemerintah daerah, lintas institusi Pemerintah, lintas
disiplin ilmu, lintas budaya, dan lintas kepentingan. Dalam hubungan ini, walaupun tidak
tertutup kemungkinan Pemerintah melaksanakan Transmigrasi secara langsung, tetapi
fungsi utama Pemerintah adalah perumusan kebijakan, pengaturan, pembinaan,
koordinasi, motivasi, advokasi, mediasi, dan pengendalian berdasarkan prinsip-prinsip
penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance), sedangkan pelaksana
pembangunan Transmigrasi adalah pemerintah daerah, Badan Usaha, dan Transmigran
bersangkutan yang didukung oleh masyarakat madani seperti kalangan akademisi, tokoh
masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan.

Oleh karena Transmigrasi merupakan pendekatan pembangunan kolaboratif yang


menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, Badan Usaha,
dan masyarakat madani, maka diperlukan pengaturan dalam bentuk Peraturan
Pemerintah sebagai pedoman bersama dalam rangka mencapai sasaran
penyelenggaraan Transmigrasi secara rasional, efektif, dan efisien. Pembagian peran dan
tanggung jawab pelaksanaan Transmigrasi secara gradual tergambar dalam jenis-jenis
Transmigrasi. Pada jenis TU, peran Pemerintah dan pemerintah daerah lebih besar pada
upaya penciptaan kesempatan kerja dan peluang usaha melalui pembangunan dan
pengembangan kawasan potensial yang belum mampu dimanfaatkan oleh masyarakat
secara langsung, baik untuk budidaya maupun investasi. Pada jenis TSB, peran
Pemerintah dan pemerintah daerah diprioritaskan kepada upaya mendorong dan
memfasilitasi kalangan Badan Usaha untuk menciptakan nilai tambah pada kawasan
potensial yang belum mampu dimanfaatkan oleh masyarakat secara langsung, tetapi
cukup layak dikembangkan oleh Badan Usaha menjadi wilayah produksi yang layak
ekonomi. Sedangkan pada jenis TSM, peran Pemerintah dan pemerintah daerah
diprioritaskan pada upaya distribusi kesempatan kerja dan peluang berusaha yang

USULAN TEKNIS
A - 16
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

berhasil diciptakan melalui pembangunan dan pengembangan Kawasan Transmigrasi


terutama di KPB dan di pusat-pusat SKP.

Dalam pengembangan Kawasan Transmigrasi menuju terbentuk dan berkembangnya


KPB, Pemerintah dan pemerintah daerah harus berusaha sungguh-sungguh untuk
mendorong dan memfasilitasi Badan Usaha dan masyarakat untuk mengambil peran dan
tanggung jawab yang semakin besar, sehingga pada gilirannya peran dan tanggung
jawab Pemerintah dan pemerintah daerah akan lebih besar pada perumusan kebijakan
untuk menciptakan iklim kondusif bagi terselenggaranya aktivitas masyarakat secara
dinamis, harmonis, dan sejahtera. Dalam hal penataan persebaran penduduk dan
fasilitasi perpindahan, pelayanan informasi dan peningkatan kapasitas sumber daya
manusia yang terkait dengan upaya pendayagunaan ruang merupakan tantangan yang
sangat strategis. Oleh karena itu, Pemerintah dan pemerintah daerah berperan lebih
besar dalam pengembangan sumber daya manusia Transmigrasi, baik melalui pelatihan,
pendampingan, pemagangan, temu karya, maupun fasilitasi pengembangan usaha
produktif. Demikian pula dalam memberikan pelayanan kepada Badan Usaha dan
masyarakat, Pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban memberikan pelayanan
yang prima sehingga selain mampu menciptakan kemudahan, juga dapat menciptakan
iklim usaha yang kompetitif.

A.3.2 Prosedur dan Kriteria Penyiapan Lokasi Pemukiman Transmigrasi


Penyelenggaran transmigrasi merupakan bagian integral dari Pembangunan Nasional,
sehingga pelaksanaannya tidak terlepas dari arah tujuan, dan ruang lingkup dari
pembangunan nasional. Proses penyelenggaraan transmigrasi yang menyebar di seluruh
wilayah Nusantara merupakan bagian dari pembangunan daerah. Penyediaan dan
penyiapan calon Lokasi Permukiman Transmigrasi harus mempunyai keterkaitan langsung
atau didukung dengan Rencana Tata Ruang Wilayah/Daerah. Disamping itu kondisi lokasi
harus jelas letak, luas dan batas fisik (clear) dan sudah bebas dari tuntutan hak-hak
masyarakat atau hak-hak lainnya (clean). Pengukuhan lokasi yang sudah clear and clean
oleh Bupati/Walikota/Gubernur menjadi dasar untuk menyusun rencana dan pengembangan
Lokasi Permukiman Transmigrasi untuk disesuaikan dengan jenis transmigrasi dan pola
usaha pokok yang dikembangkan. Lokasi Permukiman Transmigrasi adalah permukiman
yang skala dan daya tampungnya antara 100 KK s/d 2.000 KK sehingga rancangan suatu
lokasi permukiman transmigrasi ada yang berdiri sendiri dengan membangun kelengkapan

USULAN TEKNIS
A - 17
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

prasarana dan sarana, namun ada pula yang menyisip atau menyatu dengan pemukiman
yang sudah ada dengan memanfaatkan prasarana dan sarana yang sudah tersedia.

Selain itu Lokasi Permukiman Transmigrasi berfungsi untuk mendukung percepatan pusat
pertumbuhan yang telah ada atau yang sedang berkembang. Pada pusat pertumbuhan
tersebut dapat dilengkapi dengan prasarana dan sarana permukiman dan saling
berhubungan dalam tatanan jaringan jalan, sehingga akan membentuk beberapa Satuan,
Kawasan Pengembangan yang menjadi wilayah pertumbuhan ekonomi. Dengan
dikembangkannya Lokasi Permukiman Transmigrasi akan tercipta kesempatan kerja,
peluang usaha, baik usaha primer, sekunder maupun tersier, sesuai dengan pola usaha
pokok yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para
transmigran dan masyarakat sekitar, sehingga akhirnya dapat membantu meningkatkan
harkat, martabat serta kualitas hidup Bangsa Indonesia.

Keragaman pengertian Lokasi Permukiman Transmigrasi akan dapat menimbulkan berbagai


pemahaman yang kurang tepat dan hal itu berakibat pada pelaksanaan tugas identifikasi
penyediaan lahan, perencanaan permukiman dan kesiapan suatu Lokasi Permukiman
Transmigrasi kurang dapat berjalan sebagaimana semestinya.

Dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian dan sejalan dengan
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka peran
Pemerintah Pusat adalah sebagai fasilitator yang meliputi antara lain advokasi, fasilitasi dan
bimbingan serta mendukung pendanaan/penganggarannya bagi Pemerintah Provinsi dan
atau Pemerintah Kabupaten/Kota. Dengan hal tersebut diharapkan penyelenggaraan
transmigrasi berjalan sesuai dengan aspirasi daerah dan terwujud pedoman bagi pemerintah
di daerah, dalam pelaksanaan pembangunan Lokasi Permukiman Transmigrasi.

Dengan mendasarkan hal tersebut di atas, maka diperlukan pengaturan mengenai Lokasi
Permukiman Transmigrasi sebagai penjabaran pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15
Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian dan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1999
tentang Penyelenggaraan Transmigrasi, yang fungsinya lebih aplikatif dan operasional sesuai
dengan tugas pokok dan fungsi ketransmigrasian. Ketentuan ini dimaksudkan untuk dijadikan
dasar, pedoman dan acuan kerja bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan atau
Kabupaten/Kota dalam penyediaan Lokasi Permukiman Transmigrasi.
Tahapan Penyiapan Lokasi Permukiman Transmigrasi ini meliputi:

USULAN TEKNIS
A - 18
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

1) Identifikasi Potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia Calon Lokasi
Permukiman Transmigrasi;
2) Legalitas Calon Lokasi Permukiman Transmigrasi;
3) Batas dan Luas Areal Lokasi Permukiman Transmigrasi;
4) Perencanaan Pembangunan Permukiman Transmigrasi;
5) Aksesibilitas;
6) Kelayakan Lokasi Pemukiman Transmigrasi.

Prosedur dan Kriteria Penyiapan Lokasi Permukiman Transmigrasi ini dimaksudkan sebagai
dasar dan acuan kerja bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota dan
Instansi terkait dalam melaksanakan tugas Penyiapan Lokasi Permukiman Transmigrasi.
Sedangkan tujuannya adalah agar dapat diperoleh kesamaan persepsi dan langkah-langkah
dalam penyediaan Lokasi Permukiman Transmigrasi yang sesuai dengan potensi Sumber
Daya Alam dan Sumber Daya Manusia di Daerah.
Sasaran yang akan dicapai dalam Keputusan Menteri tentang Prosedur dan Kriteria
Penyiapan Lokasi Permukiman Transmigrasi adalah terwujudnya lokasi permukiman
transmigrasi yang layak huni, layak usaha, layak berkembang dan layak lingkungan.
Pembangunan dan Pengembangan Lokasi Permukiman Transmigrasi (LPT) harus
mempunyai persyaratan yang tahapannya sebagai berikut:
a. Identifikasi Potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia Calon Lokasi
Permukiman Tansmigrasi (LPT)
Kegiatan Identifikasi Potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia Calon
Lokasi Permukiman Transmigrasi adalah kegiatan yang sifatnya umum dengan lingkup
melakukan analisa atas kondisi/keadaan calon Lokasi Permukiman Transmigrasi yang
meliputi:
1. Luas, batas-batas dan kesesuaian tahan dengan komoditi yang dapat dikembangkan;
2. Kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat calon lokasi permukiman transmigrasi dan
penduduk setempat;
3. Perkiraan daya tampung dan daya dukung lingkungan;
4. Kondisi dan partisipasi penduduk terhadap program transmigrasi;
5. Jenis usaha yang dapat dikembangkan dan keterampilan yang diperlukan;
6. Prasarana dan sarana yang ada dan yang akan dikembangkan;
7. Prediksi tingkat pengembangan ekonomi;
8. Rencana pembangunan.

b. Legalitas Calon Lokasi Permukiman Transmigrasi


Aspek legalitas merupakan dukungan utama yang bersifat formal dari suatu Lokasi
Permukiman Transmigrasi yang dilakukan oleh masyarakat, Instansi Pemerintah dan
pihak lain berupa :

USULAN TEKNIS
A - 19
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

1. Adanya penyerahan areal calon lokasi dari masyarakat Desa/LKMD atau Kepala
Adat yang dituangkan dalam bentuk tertulis;
2. Adanya pelepasan kawasan hutan bagi areal yang berada di kawasan hutan dari
Instansi yang berwenang;
3. Calon lokasi yang telah diserahkan, ditetapkan dengan Keputusan Pencadangan
Areal dari Bupati/ Walikota/ Gubernur;
4. Lokasi yang akan dikembangkan, dikukuhkan dalam Peraturan Daerah oleh
Pemerintah Daerah setempat;
5. Lokasi yang dikembangkan diproses menjadi Hak Pengelolaan;
6. Lokasi yang dikembangkan sesuai dengan rencana pengembangan daerah/
RTRW;
7. Lokasi yang dikembangkan tidak tumpang tindih dengan peruntukan lain.

c. Luas Areal Lokasi Permukiman Transmigrasi (LPT)


Pembangunan Lokasi Permukiman Transmigrasi harus terencana dengan letak, luas dan
batas yang jelas, agar dapat diketahui luasan yang dikembangkan dan daya tampungnya.
Bentuk/ tipologi Pembangunan dan Pengembangan Lokasi Permukiman Transmigrasi
adalah :
1. Pembangunan Satuan Kawasan Pengembangan/beberapa Satuan Permukirnan
Transmigrasi;
2. Pembangunan Satuan Permukiman Transmigrasi/Unit Permukiman Transmigrasi;
3. Pembangunan Bagian dari permukirnan yang sudah ada/bagian Unit Permukirnan
Transmigrasi.

Sehingga luasan lahan pembangunan Lokasi Permukiman Transmigrasi diklarifikasikan


dalam :
1. Untuk Satuan Kawasan Pengembangan/beberapa Satuan Permukiman Transmigrasi
luasnya antara 2.000 s/d 6.000 Ha atau setara dengan 500 KK s/d 2.000 KK;
2. Untuk Satuan Permukiman/Unit Permukiman Transmigrasi luasnya antara 500 s/d 2.000 Ha
atau setara dengan 300 s/d 500 KK;
3. Untuk Bagian Satuan Permukiman luasnya antara 100 s/d 500 Ha atau setara dengan 100
s/d 300 KK.
Luas lahan lokasi permukiman transmigrasi, harus disesuaikan dengan jenis transmigrasi
yaitu Transmigrasi Umum, Transmigrasi Swakarsa Berbantuan dan Transmigrasi
Swakarsa Mandiri dan pola usaha pokok yang dikembangkan, misalnya pola nelayan,
pola tambak, pola perkebunan, pola tanaman pangan, pola jasa industri dan pola-pola
lainnya dilengkapi dengan fasilitas umum dan fasilitas sosial.

d. Perencanaan Pembangunan dan Pengembangan Lokasi Permukiman Transmigrasi

USULAN TEKNIS
A - 20
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

Pembangunan dan Pengembangan Lokasi Permukiman Transmigrasi harus dilakukan


secara terencana yang diklarifikasikan dalam 3 (tiga) kelompok yaitu :
1. Untuk Pembangunan Satuan Kawasan Pengembangan disusun Rencana Tata Ruang
Satuan Kawasan Pengembangan (RTSKP) ;
2. Untuk Pembangunan Satuan Permukiman disusun Rencana Teknis Satuan Permukiman
(RTSP) atau Rencana Teknis Unit Permukiman Transmigrasi (RTUPT);
3. Untuk Pembangunan Bagian Satuan Permukiman yang berdaya tampung di atas 100 KK s/d
300 KK perencanaannya perlu dilakukan Rencana Teknis Unit Permukiman Transmigrasi.

Perencanaan sebagimana dimaksud butir a, b dan c sekurang-kurangnya telah dapat


menjelaskan tata ruang/letak, luas, batas, jaringan jalan dan sumber air pada Lokasi
Permukiman Transmigrasi.

e. Aksesibilitas
Pembangunan dan Pengembangan Lokasi Permukiman Transmigrasi harus mempunyai
aksesibilitas yang baik yaitu :
1. Tidak terisolir, mudah dijangkau;
2. Telah tersedia sarana dan prasarana transportasi yang menuju ke calon lokasi;
3. Jarak antara calon lokasi dengan pusat pelayanan sosial dan ekonomi 5 Km. Untuk calon
lokasi yang mempunyai potensi dan prospek ekonomi yang layak, jarak antara calon lokasi
dengan pusat pelayanan sosial dan ekonomi tidak melebihi 20 Km;
4. Kelayakan Lokasi Permukiman Transmigrasi.

Pada prinsipnya Lokasi Permukiman Transmigrasi harus memenuhi kriteria catur layak
yang terdiri layak huni, layak usaha, layak berkembang dan layak lingkungan :
a. Layak Huni

Suatu kawasan disebut layak huni apabila lokasi tersebut memenuhi persyaratan
untuk dapat ditempati serta mampu mendukung kehidupan yang sehat secara
berkesinambungan Persyaratan untuk layak huni meliputi :
1) Lahan bebas banjir, bukan merupakan daerah longsor atau bencana alam
lainnya;
2) Memenuhi persyaratan kesehatan (bebas penyakit);
3) Tersedia potensi sumber air bersih;
4) Tersedia prasarana transportasi untuk memungkinkan terjadinya hubungan
dengan daerah sekitarnya;
5) Tersedia fasilitas umum untuk memenuhi kebutuhan sosial ekonomi.

b. Layak Usaha

USULAN TEKNIS
A - 21
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

Suatu lokasi disebut layak usaha apabila pada lokasi tersebut tersedia atau dapat
dilakukan suatu kegiatan usaha yang dapat memberikan penghasilan yang
memadai untuk dapat menunjang kehidupan sepanjang tahun.
Persyaratan untuk layak usaha meliputi :
1) Tersedia lahan pertanian atau peluang usaha yang memenuhi syarat untuk
kegiatan produksi;
2) Tersedia sarana dan prasarana produksi pengelolaan yang diperlukan;
3) Tersedia prasarana jalan yang menghubungkan antar lokasi permukiman
maupun dengan pusat pemasaran (Ibukota Kecamatan/Ibukota Kabupaten).

c. Layak Berkembang
Lokasi Permukiman Transmigrasi disebut lokasi layak berkembang apabila lokasi
tersebut memenuhi persyaratan yang memungkinkan untuk berkembang menjadi
Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru.
Persyaratan untuk layak berkembang meliputi:
1) Mempunyai daya tampung besar, yang terdiri dari unit-unit permukiman
transmigrasi dan desa-desa sekitarnya;
2) Mempunyai akses antar unit-unit permukiman serta dengan pusat pemerintah
dan pusat pasar;
3) Mempunyai kontribusi terhadap pengembangan daerah;
4) Mempunyai komoditas unggulan berskala ekonomi;
5) Mempunyai keterkaitan ekonomi antar kawasan dengan pusat-pusat
pemusaran yang lebih tinggi;
6) Tersedia lembaga ekonomi masyarakat.

d. Layak Lingkungan
Suatu kawasan transmigrasi yang disebut layak lingkungan adalah kawasan
transmigrasi yang sejak tahap perencanaan, pembangunan hingga tahap
pemberdayaan difasilitasi agar sumber daya alam dan lingkungan hidup yang ada di
kawasan tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk pemenuhan
kebutuhan para transmigran dan penduduk sekitar.
Persyaratan untuk layak lingkungan meliputi :
1) Pengembangannya sesuai dengan daya dukung dan daya tampung
lingkungan;
2) Proses pembangunan kawasan senantiasa memperlihatkan kelestarian
lingkungan;
3) Adanya keseimbangan untuk menimbulkan interaksi dan integrasi sosial
budaya di lokasi baru dan sekitarnya;

USULAN TEKNIS
A - 22
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

4) Adanya tanggung jawab bersama diantara lintas sektor serta masyarakat


dalam pemeliharaan lingkungan.

A.3.3 Pengembangan Kawasan Permukiman Transmigrasi


Bertolak dari negaranegara maju, dimana pengembangan kota baru dimaksudkan
sebagai upaya untuk memecahkan permasalahan perkembangan perkotaan, maka
Indonesia sebagai negara berkembang telah mengembangkan gagasan pembangunan
kota baru. Sebagai bagian dari kebijakan pengembangan kota baru di Indonesia, maka
pada Repelita IV ditekankan bahwa Pemerintah perlu memprakarsai pembangunan yang
terencana berupa kawasan pemukiman baru, dan di tempat tempat tertentu juga merintis
pembangunan kota baru yang mandiri. Usaha ini sekaligus dapat diarahkan dalam usaha
untuk mengembangkan wilayah yang belum berkembang dengan cara memberikan
kontribusi untuk mengembangkan kesejahteraan dan mutu lingkungan kehidupan di
wilayah sekitarnya.
Dari berbagai pengalaman, baik di negara maju maupun negara berkembang dapat dilihat
bahwa pembangunan kota baru memiliki dua esensi pokok yaitu :

Pengembangan kota baru dapat membantu memecahkan masalah serta mengurangi


beban perkotaan yaitu dengan mendesentralisasikan kegiatan fungsional kota
terutama perumahan permukiman dan kegiatan kerja;
Pembangunan kota baru juga dapat meningkatkan pengembangan wilayah yang
belum berkembang, dilakukan pengembangan baru yang akan berfungsi sebagai
pusat pengembangan wilayah baru.

Berbagai persoalan di kotakota besar menyangkut perkembangan aktifitas kota dan


keterbatasan ketersediaan lahan mengakibatkan terjadinya kesenjangan antara
permintaan (demand) dan ketersediaan (supply). Melihat kondisi itu, maka banyak ahli
yang merumuskan suatu gagasan baru yang dianggap bisa mereduksi beban kota,
dengan mencoba mengembangkan kosep kota baru, antara lain :

a. Corden yang dikutip oleh Sujarto dalam Malik (2003:30) mendefinisikan kota baru
sebagai suatu komunitas dengan ukuran populasi terbatas, direncanakan di bawah
suatu pengusaha atau agen pengembang langsung sebagai satu unit besar yang
terdiri dari perumahan, pelayanan rekreasi, tempat kerja yang cukup untuk
meningkatkan kondisi sosial dan ekonomi penduduk yang beragam.
b. Golany (1987:354-356), menguraikan bahwa kota baru merupakan kota atau
kawasan permukiman yang direncanakan, dibangun, dan dikembangkan dalam skala

USULAN TEKNIS
A - 23
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

besar pada daerah yang masih kurang penduduknya, sehingga diharapkan mampu
berkembang sendiri dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Dalam
pengembangannya, kota baru biasanya berorientasi pada sektor agrobisnis dan
agroindustri.
c. Verma dalam Budihardjo; Sudjarto (1999), mendefenisikan bahwa kota baru
merupakan upaya pengembangan lahan yang luasnya mampu menyediakan
elemenelemen pendukung kota berupa perumahan dan permukiman, perdagangan
dan industri sehingga mampu memberikan :
Kesempatan untuk hidup dan bekerja dalam lingkungannya sendiri;
Beragam jenis dan harga rumah yang lengkap;
Ruang terbuka bagi kegiatan pasif dan aktif serta melindungi kawasan tempat
tinggal dari dampak kegiatan industri;
Pengendalian segi estetika yang kuat;
Pengadaan biaya/investasi yang cukup besar untuk kegiatan pembangunan awal.

d. Golany dalam Budihardjo; Sudjarto (1999), menguraikan bahwa kota baru tidak selalu
berarti bahwa kota di bangun di atas lahan yang baru, tetapi juga merupakan
pengembangan dan pembaharuan permukiman perdesaan atau kota kecil secara
total menjadi kota yang lengkap dan mandiri.

Dari berbagai pengertian tentang kota baru, dapat disimpulkan bahwa kota baru intinya :
1) Merupakan hasil perencanaan yang menyeluruh dan utuh dalam rangka membentuk
suatu komunitas baru pada lahan baru ataupun yang sudah berpenghuni;
2) Dirancang dan dibangun dalam rangka meningkatkan kemampuan dan fungsi
permukiman;
3) Dalam lingkungan kota baru, manusia dapat melakukan aktifitas karena lingkungan
tempat tinggal di kota baru telah menyediakan prasarana dan sarana yang
dibutuhkan; dan
4) Mampu berfungsi sebagai kota yang mandiri dan menyediakan lapangan pekerjaan
bagi penduduk.

Jika ditinjau dari beberapa aspek, maka karakteristik kota baru tercermin dari tabel berikut
ini :

No. Variabel Karakteristik


1 Tujuan Sebagai wadah penempatan pembangunan sarana
Pembangunan penunjang perkotaan
Menjadi pusat pembangunan wilayah baru
2 Lokasi Berada pada wilayah baru atau kota kecil
Pembangunan Berlokasi lebih dari 40 km dari kota lainnya
Dalam kondisi strategis dapat berhubungan dengan

USULAN TEKNIS
A - 24
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

kawasan industri, pelabuhan dan kota lain


3 Fungsi Sosial Memiliki fungsi kegiatan khusus (penelitian, militer, wisata
dan Ekonomi dan transmigrasi)
Mampu menunjang kehidupan sendiri
Sebagai pusat pembangunan wilayah sekitarnya
Memiliki kemampuan ekonomis sebagai daya tarik
4 Sifat Fisik Kota Secara spasial memiliki fungsi dan bentuk yang spesifik
sebagai kotabaru
Memiliki identitas fisik kota sendiri sebagai kota khusus
(penelitian, militer, wisata dan transmigrasi)

Sebagai sebuah kota, maka kota baru seyogyanya memiliki karakteristik sebuah kota
pada umumnya yang dilengkapi dengan tempat hunian (permukiman), prasarana dan
sarana, serta menjadi pusat pelayanan umum dan penyediaan lapangan kerja sehingga
masyarakatnya memiliki kesempatan untuk hidup dan bekerja dalam lingkungannya
sendiri.

Kota Baru Mandiri merupakan sebuah kota baru dengan kemampuan sendiri baik secara
fisik maupun ekonomi sehingga tidak lagi tergantung pada kota induknya. Kota baru
mandiri berkembang secara mandiri sehingga dapat memenuhi kebutuhannya sendiri
yang kecenderungan pengembangannya pada sektor pertanian, perkebunan, dan industri.
Secara fisik, keberadaannya jauh dari kota induk atau kotakota lain dalam radius lebih
dari 40 km. Kota baru yang mandiri adalah satu kesatuan lingkungan permukiman yang
tak terpisahkan antara perumahan, fasilitas, pelayanan dan ketersediaan lahan. Kota baru
mandiri yang telah dikenal di Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun terakhir sebagai Kota
Terpadu Mandiri (KTM) membutuhkan lahan yang luas. Oleh karenanya, lahan harus
dikelola dengan baik sebagai benda sosial untuk kepentingan masyarakat secara umum
sehingga lahan tidak dijadikan sebagai komoditi ekonomi yang dipertarungkan di pasar
bebas (Budiharjo, 2009 : 84-89).

Idealnya, kota baru harus dirancang sebagai kota taman yang merupakan senyawa
antara keagungan kota dan keseragaman desa dengan 2 (dua) prinsip utama yaitu
kemandirian (self-containment) dan keseimbangan (balanced development). Kemandirian
yang dimaksud adalah kota baru yang dibangun harus mandiri dengan ketersediaan
fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos), lapangan kerja, pendidikan, rekreasi,
perbelanjaan, taman, kuburan dan ruang terbuka. Keseimbangan, menyiratkan bahwa
penduduk yang bermukim di kota baru adalah perpaduan yang seimbang dan harmonis

USULAN TEKNIS
A - 25
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

baik dari sisi sosial ekonomi, kelompok umur, tingkat pendidikan maupun keahlian
(Budihardjo, 2009:89).

A.3.4 Prosedur penyiapan Lokasi Permukiman Transmigrasi


Prosedur penyiapan Lokasi Permukiman Transmigrasi adalah sebagai berikut :
1. Calon lokasi/kawasan transmigrasi merupakan usulan masyarakat yang ditujukan
kepada Bupati/Walikota secara berjenjang melalui prosedur yang ditetapkan;
2. Berdasarkan ketentuan huruf a Bupati/ Walikota mengeluarkan Surat Keputusan
Bupati/Walikota dituangkan dalam bentuk peta skala 1 : 50.000 Surat Penyiapan Lokasi
Permukiman Transmigrasi, kemudian dilakukan kegiatan Studi Identifikasi Potensi (SIP)
untuk mendapatkan areal yang potensial dengan memperhatikan :
a) Fungsi kawasan hutan;
b) Status peruntukan lahan;
c) Kondisi fisik kawasan;
d) Pengembangan daerah/ RTRW;
e) Kondisi sosial, ekonomi, dan budaya dari masyarakat di sekitar lokasi;
f) Kesediaan masyarakat menerima/ menjadi transmigran;
g) Letak pembatas Lokasi Pemukiman Transmigrasi dalam skala 1 : 25.000.
3. Mengusulkan Rencana Tata Ruang Wilayah/Pengembangan Daerah Transmigrasi
dituangkan dalam bentuk Rancangan Peraturan Daerah/Peraturan Daerah.
4. Hasil Identifikasi Potensi ditindaklanjuti dengan Rencana Tata Ruang Satuan Kawasan
Pengembangan dan atau Rencana Teknis Satuan Permukiman/Unit Pemukiman
Transmigrasi.
5. Apabila kegiatan tersebut diatas pada butir d belum dimanfaatkan setelah kurang lebih 3
(tiga) tahun maka perlu dilaksanakan redesain untuk penyesuain kondisi lapangan.

Penyampaian Usulan Lokasi Permukiman Transmigrasi dari Bupati/ Walikota kepada


Gubernur atau Menteri.
1. Setelah kegiatan prosedur penyiapan Lokasi Pemukiman Transmigrasi sebagaimana
tersebut angka 1, a,b c, d, dan e dilaksanakan, maka Bupati menyampaikan usulan
kepada :
a) Gubernur dalam rangka koordinasi;
b) Menteri untuk memperoleh persetujuan.
2. Berdasarkan usulan Bupati, Menteri melakukan penilaian/seleksi atas usulan Lokasi
Pemukiman Transmigrasi dari segi :
a) Status Lahan;
b) Rencana Permukiman;
c) Aspek sosial dan ekonomi;
d) Kebijaksanaan Departemen.

USULAN TEKNIS
A - 26
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

Pemantapan Pembangunan Calon Lokasi Transmigrasi

1. Telah ada usulan dari Bupati/ Walikota;


2. Penilaian usulan oleh Tim/ Pokja tingkat Pusat;
3. Rencana tindak lanjut hasil penilaian dapat dilakukan peninjauan lapangan;
4. Kesiapan Pembangunan Lokasi Pemukiman Transmigrasi.

Pemantapan Pembangunan Lokasi Pemukimun Transmigrasi dan Rencana Pengembangan


oleh Menteri Transmigrasi.

A.3. TANGGAPAN TERHADAP TUJUAN KEGIATAN

Kegiatan penyusunan Rencana Teknis Permukiman (RTSP) Transmigran Nelayan Nelayan dan
Rencana Teknis Jalan (RTJ), saat ini konsultan setuju, tantangan yang dihadapi Indonesia, sebagai
salah satu negara dengan jumlah penduduk yang terbesar di dunia dan negara dengan ekonomi
terbesar ke-16 di dunia, dalam pemerataan perekonomian secara berkelanjutan dan merata.
Termasuk pula mengenai pokok-pokok kebijakan transmigrasi dan strategi-strategi yang
ditetapkan.

Program Transmigrasi yang telah berlangsung lebih dari setengah abad, pada awalnya merupakan
upaya pemerintah dalam pemecahan masalah kepadatan penduduk di pulau Jawa. Program
Transmigrasi di dekati dengan konsep untuk memindahkan se-banyak-banyak-nya dan secepat-
cepat-nya penduduk dari Jawa ke daerah-daearah di luar Jawa yang masih cukup luas
menyediakan lahan bagi kegiatan pertanian Mimpi dan imajinasi saya tentang kawasan
transmigrasi adalah sebagai suatu kawasan yang dikelola dalam konsep Agro District ,
dikembangkan dengan pendekatan Arsitektur pola tata ruang Pertanian Moderen . Memasuki
abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia
sintetis dalam pertanian. Gaya hidup sehat dengan slogan Back to Nature telah menjadi trend
baru Program Transmigrasi harus didekati dengan konsep teknologi yang ramah lingkungan .
Kawasan ditata dengan model Transmigration Estate , dikembangkan sebagai kawasan
pertanian organik dalam suatu manajemen Agro District secara nasional Konsep Transmigration
Estate merupakan pilot project Nasional yang akan direncakana dan dikelola dalam bentuk
konsorsium antar Perguruan Tinggi. Diawali dari Inventarisasi Program Transmigrasi, dan didekati
dengan konsep Teknologi Agro District, Manjemen Agro Distrik, Rancangan Arsitektur tata ruang
Agro District. Selanjutnya diatur konsep legal-formal bidang pertanahan dan model pengelolaan
investasi dan pembangunan Transmigration Estate. Diharapkan dengan pengembangan model ini

USULAN TEKNIS
A - 27
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

dapat membangun suatu image baru , bahwa program transmigrasi adalah suatu kawasan
pertanian organik yang ramah lingkungan dengan perilaku moderen , dengan citra elite , yang
dikelola dalam suatu manajemen Agro District Kegiatan perekonomiannya dengan basis utama
pada sektor pertanian organik, peternakan, perikanan dan industri kecil pengolahan hasil
pertanian, perikanan dan peternakan

Program Transmigrasi yang telah berlangsung lebih dari setengah abad, pada awalnya merupakan
upaya pemerintah dalam pemecahan masalah kepadatan penduduk di pulau Jawa. Program
Transmigrasi di dekati dengan konsep untuk memindahkan se-banyak-banyak-nya dan secepat-
cepat-nya penduduk dari Jawa ke daerah-daearah di luar Jawa yang masih cukup luas
menyediakan lahan bagi kegiatan pertanian Dalam penyelenggaraan transmigrasi masih ada
kelemahan antara lain adanya kecemburuan sosial dari penduduk lokal akibat perlakuan yang
tidak adil terhadap penduduk lokal, eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan tanpa
memperhatikan kepentingan masyarakat lokal, lokasi transmigrasi yang relatif terisolir, rusaknya
sarana dan prasarana mendorong transmigran kembali kedaerah asal, pemanfaatan lahan yang
kurang effisien dan kurang memperhatikan aspek lingkungan menyebabkan terjadinya proses
degradasi lahan. Pendekatan konsep penyelenggaraan transmigrasi pradigmanya harus berubah,
sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi dunia dalam bidang teknologi sektor pertanian,
Penyelenggaraan program transmigrasi harus menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat
dunia tentang pelestarian lingkungan , kecendrungan berkembangnya budi-daya komoditas
pertanian yang ramah terhadap lingkungan. Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar
bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif
dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup
sehat dengan slogan Back to Nature telah menjadi trend baru Pangan yang sehat dan bergizi
tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik. Pertanian
organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa
menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Secara geologis, geografis maupun kultural, Indonesia
merupakan program Transmigrasi yang telah berlangsung lebih dari setengah abad, pada awalnya
merupakan upaya pemerintah dalam pemecahan masalah kepadatan penduduk di pulau Jawa.
Program Transmigrasi di dekati dengan konsep untuk memindahkan se-banyak-banyak-nya dan
secepat-cepat-nya penduduk dari Jawa ke daerah-daearah di luar Jawa yang masih cukup luas
menyediakan lahan bagi kegiatan pertanian Dalam penyelenggaraan transmigrasi masih ada
kelemahan antara lain adanya kecemburuan sosial dari penduduk lokal akibat perlakuan yang
tidak adil terhadap penduduk lokal, eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan tanpa
memperhatikan kepentingan masyarakat lokal, lokasi transmigrasi yang relatif terisolir, rusaknya

USULAN TEKNIS
A - 28
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

sarana dan prasarana mendorong transmigran kembali kedaerah asal, pemanfaatan lahan yang
kurang effisien dan kurang memperhatikan aspek lingkungan menyebabkan terjadinya proses
degradasi lahan. Pendekatan konsep penyelenggaraan transmigrasi pradigmanya harus berubah,
sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi dunia dalam bidang teknologi sektor pertanian,
Penyelenggaraan program transmigrasi harus menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat
dunia tentang pelestarian lingkungan , kecendrungan berkembangnya budi-daya komoditas
pertanian yang ramah terhadap lingkungan. Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar
bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif
dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup
sehat dengan slogan Back to Nature telah menjadi trend baru Pangan yang sehat dan bergizi
tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik. Pertanian
organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa
menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Secara geologis, geografis maupun kultural, Indonesia
merupakan program Transmigrasi yang telah berlangsung lebih dari setengah abad, pada awalnya
merupakan upaya pemerintah dalam pemecahan masalah kepadatan penduduk di pulau Jawa.
Program Transmigrasi di dekati dengan konsep untuk memindahkan se-banyak-banyak-nya dan
secepat-cepat-nya penduduk dari Jawa ke daerah-daearah di luar Jawa yang masih cukup luas
menyediakan lahan bagi kegiatan pertanian Dalam penyelenggaraan transmigrasi masih ada
kelemahan antara lain adanya kecemburuan sosial dari penduduk lokal akibat perlakuan yang
tidak adil terhadap penduduk lokal, eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan tanpa
memperhatikan kepentingan masyarakat lokal, lokasi transmigrasi yang relatif terisolir, rusaknya
sarana dan prasarana mendorong transmigran kembali kedaerah asal, pemanfaatan lahan yang
kurang effisien dan kurang memperhatikan aspek lingkungan menyebabkan terjadinya proses
degradasi lahan. Pendekatan konsep penyelenggaraan transmigrasi pradigmanya harus berubah,
sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi dunia dalam bidang teknologi sektor pertanian,
Penyelenggaraan program transmigrasi harus menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat
dunia tentang pelestarian lingkungan , kecendrungan berkembangnya budi-daya komoditas
pertanian yang ramah terhadap lingkungan. Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar
bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif
dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup
sehat dengan slogan Back to Nature telah menjadi trend baru Pangan yang sehat dan bergizi
tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.

A.4. TANGGAPAN TERHADAP SASARAN

USULAN TEKNIS
A - 29
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

Sasaran yang hendak dicapai dalam penyusunan Rencana Teknis Satuan Pemukiman (RTSP)
Transmigrasi Nelayan di Desa Baturube Kecamatan Bungku utara Kabupaten Morowali Utara
adalah sebagai berikut :

1. Terwujudnya Dokumen Laporan RTSP yang informatif serta dapat digunakan sebagai
pedoman pelaksanaan pembangunan fisik satuan permukiman transmigrasi Nelayan.
2. Tersedianya rencana penempatan dan pembinaan transmigrasi serta pengembangan usaha
transmigrasi Nelayan.
3. Terbentuknyasatuan permukiman transmigrasi yang layak huni, layak usaha, layak
berkembang dan layak lingkungan.
4. Tersusunya rencana teknis satuan permukiman tranmigrasi dengan pola dan struktur ruang
yang didasarkan pada pertimbangan aspek fisik lahan, aspek sosial budaya, aspek ekonomi
dan aspek politik serta kebijakan secara berkeadilan antara masyarakat setempat dan dan
pendatang.
5. Tersusunya desain tata ruang dan kebutuhan sarana serta prasarana pembangunan satuan
permukiman transmigrasi yang efektif dan efisien.
6. Tersusunya desain kegiatan usaha pokok dan pertanian dalam arti luas.

Menurut konsultan sudah sesuai dengan aturan dan kebutuhan manfaat dari kajian yang akan
dilakukan.

A.5 TANGGAPAN TERHADAP LINGKUP KEGIATAN

Untuk mencapai tujuan dan sasaran sebagaimana diatas maka dalam penyusunan Rencana
Teknis Satuan Pemukiman (RTSP) Transmigrasi Nelayan di Desa Baturube Kecamatan Bungku
utara Kabupaten Morowali Utara perlu dilaksanakan berbagai kegiatan yang secara garis besar
meliputi :

1) Klarifikasi penyediaan areal permukiman transmigrasi Nelayan (clean and clear);


2) Pemetaan Topografi dan Lereng;
a. Survai pengikatan dan jalur rintisan utama (Base line);
b. Survei pada jalur rintisan 500 m;
c. Survai jalur rintisan per 250 m pada Lahan Pekarangan (LP) dan Fasilitas Umum (FU);
d. Perhitungan dan penggambaran peta topografi skala 1: 5.000 di areal calon LP dan FU;
e. Pembuatan peta kemiringan lahan skala 1 : 5.000 untuk LP dan FU dan 1:10.000 untuk
seluruh areal survai.
3) Penelitian Tanah :
a. Penelitian tanah;
b. Analisis laboratorium contoh tanah;
c. Pembuatan peta Tanah skala 1:50.000 dan 1: 10.000.
4) Evaluasi kesesuaian lahan :
a. Penilaian akhir kesesuaian lahan;

USULAN TEKNIS
A - 30
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

b. Pembuatan peta kesesuaian lahan skala 1:5.000 di LP dan 1 : 10.000 di seluruh areal
survey.
5) Survai Penggunaan Lahan dan Sumber Daya Hutan :
a. Wawancara dengan penduduk setempat, Pemerintah Daerah;
b. Analisis potensi tegakan kayu dan data-data sekunder dan hasil inventarisasi hutan;
c. Pembuatan peta penggunaan lahan dan tegakan kayu skala 1: 10.000.
6) Penelitian iklim dan hidrologi :
a. Penelitian hidrologi pada aliran sungai dan sepanjang rintisan;
b. Analisa daerah bahaya banjir;
c. Inventarisasi dan Analisa data-data iklim;
d. Penelitian sumber air minum;
e. Pembuatan peta hidrologi skala 1: 10.000.
7) Analisis Tata Ruang :
a. Hasil super impose kesesuain lahan, tata guna lahan dan hidrologi;
b. Rekomendasi penggunaan lahan skala 1: 10.000.
c. Penyusunan Usulan Pengembangan Tambak
d. Penelitian aspek sosial dan ekonomi perikanan;
e. Penelitian aspek perikanan tambak;
f. Rekomendasi pengembangan perikanan tambak;
g. Analisis ekonomi dan keuangan.
8) Penyusunan RTSP :
a. Analisis daya tampung;
b. Penggambaran Peta RTSP skala 1: 5.000 untuk LP dan dan FU, Skala 1:10.000 untuk
areal survai;
c. Penggambaran detail kapling Pusat Desa skala 1: 2.000;
d. Staking Out dan penggambaran batas pembukaan lahan skala 1: 5.000.
e. Penggambaran Peta Alignement jalan penghubung poros skala 1 :5.000
9) Telaahan Lingkungan :
a. Identifikasi dampak potensial dan RTSP.
b. Penanggulangan dampak negatif.
10) Perkiraan Biaya :
a. Perkiraan biaya untuk penyiapan lahan dan bangunan;
b. Pengerahan Transmigran;
c. Pengembangan perikanan tambak;

A.6 TANGGAPAN TERHADAP JANGKA WAKTU PENYELESAIAN PEKERJAAN

Jangka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan ini adalah selama 180 (seratus
delapan puluh) hari kalender dijabarkan ke dalam tabel dibawah ini :
N Bulan ke
o Kegiatan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5 Bulan 6
1 Desk Study/
Referensi
2 Laporan
pendahuluan
3 Survey
Lapangan
4 Pengukuran

USULAN TEKNIS
A - 31
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

N Bulan ke
o Kegiatan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5 Bulan 6
Lapangan
5 Laporan Antara

6 Laporan Draft
Akhir
7 Laporan Akhir

A.7 TANGGAPAN TERHADAP PENYUSUNAN LAPORAN

Dalam Rangka penyusunan Rencana Teknis Satuan Pemukiman (RTSP) Transmigrasi Nelayan di
Desa Baturube Kecamatan Bungku utara Kabupaten Morowali Utara harus disusun dokumen
laporan yang terdiri dari :
a. Buku Laporan Pendahuluan; sebagai wujud kemajuan awal pekerjaan, isinya secara sistimatis
merupakan hasil elaborasi dari kerangka acuan kerja yang berisikan antara lain; pemahaman
latar belakang, tujuan dan sasaran pekerjaan, pemahaman terhadap lingkup pekerjaan yang
diwujudkan dalam bentuk metodologi pelaksanaan pekerjaan pada tiap-tiap lingkup pekerjaan
dan keluaran yang akan dihasilkan dikaitkan dengan penyediaan tenaga ahli serta peralatan
yang dibutuhkan, jadwal pelaksanaan pekerjaan dan jadwal pelibatan tenaga ahli. Pada
Laporan pendahuluan ini sudah harus tergambarkan juga informasi umum kawasan yang
berkaitan dengan letak administrasi, penduduk, kemudahan jangkauan (aksebilitas kawasan)
dsb., yakni sebagai gambaran pengenalan awal konsultan pada kawasan yang hendak
direncanakan. Draft Laporan pendahuluan ini perlu di diskusikan dengan SKPD terkait guna
memperoleh masukan-masukan korektif sebelum di serahkan sebagai Dokumen Laporan
Pendahuluan. Jumlah Buku Laporan Pendahuluan yang wajib diserahkan sebanyak 10 Buku,
ukuran kertas A4, sampul warna hardcover dengan desain yang menarik. Apabila ada
lampiran peta ukuran kertas yang lebih besar (A3 atau A1 atau lainnya) dapat jilid menyatu
dengan buku laporan dengan melipat sesuai ukuran buku. Buku Laporan Pendahuluan
diserahkan paling lambat 1 bulan setelah kontrak.
b. Buku Laporan Antara; merupakan wujud kemajuan pertengahan pelaksanaan pekerjaan. Buku
Laporan antara ini berisikan data hasil survey sesuai dengan metodologi pelaksanaan
pekerjaan yang telah dikemukakan pada laporan pendahuluan. Data-data tersebut perlu
disistimatiskan agar supaya mudah di analisis. Dalam buku laporan antara ini sudah harus ada
hasil analisis masing-masing item kegiatan sebagaimana lingkup kegiatan sehingga
memudahkan dalam tahap penyusunan rencana teknis satuan permukiman nantinya serta
rekomendasinya. Draft Buku Laporan antara ini perlu di diskusikan dengan SKPD terkait guna

USULAN TEKNIS
A - 32
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

memperoleh masukanmasukan korektif sebelum di serahkan sebagai Dokumen Laporan


Antara.
Jumlah Buku laporan antara yang wajib diserahkan kepada PPK sebanyak 10 buku,ukuran kertas
A4, sampul warna hardcover dengan desain yang menarik. Apabila ada lampiran peta ukuran
kertas yang lebih besar (A3 atau A1 atau lainnya) dapat jilid menyatu dengan buku laporan
dengan melipat sesuai ukuran buku. Buku Laporan Antara diserahkan paling lambat 2 bulan
setelah kontrak.
c. Buku Laporan Akhir: merupakan wujud penyelesaian pelaksanaan pekerjaan secara
keseluruhan. Buku Laporan Akhir berisikan antara lain; data yang telah disistmatiskan serta
analisisnya, rencana teknis satuan permukiman transmigrasi antara lain berupa rencana tata
ruang, rencana teknis jalan, kajian lingkungan serta simpulan dan rekomendasi
pengembangan satuan permukiman transmigrasi yang direncanakan. Draft Buku Laporan
Akhir ini perlu di diskusikan dengan SKPD terkait guna memperoleh masukan-masukan
korektif sebelum di serahkan sebagai Dokumen Laporan Akhir. Jumlah Buku laporan Akhir
yang wajib diserahkan kepada PPK sebanyak 10 buku, ukuran kertas A4, sampul warna
hardcover dengan desain yang menarik.Adapun sistimatika penyajian buku laporan akhir ini
mengikuti outline laporan sebagai berikut ini :

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR PETA
DAFTAR LAMPIRAN

PENDAHULUAN
Latar Belakang dan Tujuan
Metode Pendekatan Studi
Susunan Tim

LINGKUNGAN FISIK DAN SOSIAL


Daerah Studi
Letak Administrasi
Letak Geografis
Aksesibilitas (Termasuk Informasi kondisi jalan yang
ada dan usulan penanganan, letak trase terhadap
jaringan jalan dan lain-lain)
Topografi
Kerangka Dasar Pengukuran
Kemiringan lahan
Hidrolog
Iklim
Keadaan Umum dan Klasifikasi Iklim

USULAN TEKNIS
A - 33
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

Curah Hujan
Sub Wilayah Aliran Sungai (Debit, Tinggi Muka Air,
Kualitas)
Sumber Daya Air (Debit dan Kualitas)
Air Tanah
Air Tanah Dangkal
Air Tanah Dalam
Detail Topografi
Sumber Air Minum
Kemungkinan Pengairan/Irigasi
Resiko Banjir
Vegetasi
Jumlah dan Potensi Tegakan
Status Hutan
Penggunaan Lahan
Flora dan Fauna
Sumber Daya Lahan
Diskripsi dan Klasifikasi Tanah Bahan Induk,
Geomorfologi, Geologi, Macam Tanah)
Satuan Peta Lahan
Kesuburan Tanah
Penilaian Kesesuaian Lahan
Kondisi Tanah Dasar dan Sumber Material
Kondisi Tanah Dasar
Sumber Material (Termasuk Untuk Gorong-Gorong
dan Jembatan)
Kegiatan Perikanan, Sosial Ekonomi dan Budaya
Kondisi Perikanan (Termasuk musim penangkapan)
Penduduk dan Adat Istiadat
Ketersediaan dan Penggunaan Tenaga Kerja
Perkiraan Produksi perikanan
Kesehatan Lingkungan Masyarakat
Mata Pencaharian Penduduk
Pendapatan dan Pengeluaran Penduduk
Fasilitas Sosial dan Prasarana Ekonomi
Tanggapan Masyarakat Terhadap Transmigrasi
Perkiraan Jumlah Penduduk Yang Terkena Proyek
dan Jumlah Calon TPS Yang ingin Bermukim di
Lahan Masing-masing/ Desa/Dusun
Potensi TPS dan Komposisi TPS : TPA serta Daerah
Asal TPA Yang Diinginkan
Kebijakan Pengembangan Daerah

RENCANA TEKNIS UNIT PERMUKIMAN


TRANSMIGRASI (RTSP)
Penilaian Kesesuaian Permukiman
Penilaian Aksesibilitas Lokasi
Penilaian Fisik Lahan
Penilaian Status lahan

USULAN TEKNIS
A - 34
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

Penilaian Ketersediaan Air dan Resiko Banjir


Kesesuian permukiman
Rencana Tata Ruang
Dasar-dasar Perencanaan
Peruntukan Lahan dan Daya Tampung
Penilaian Terhadap Tata Ruang yang Terjadi
Usulan Pengembangan Kawasan
Fungsi SP dalam Hirarki Pusat Kawasan
Usulan Pembentukan LJPT
Rencana Teknis Jalan
Alinemen Jalan dan Desain Geometrik
Kontruksi
Volume Pembangunan Jalan
Biaya Pembangunan
Pembukaan Jalan
Batas Pembukaan Lahan (Termasuk Panjang Jalan)
Metde Pembukaan Lahan
Potensi Erosi Tanah
Persyaratan Teknis Penyiapan lahan tambak
Biaya Pembukaan Lahan tambak (Mengikuti Standar)
Penyiapan Bangunan
Jenis, Jumlah dan Type Bangunan
Sumber Material dan Ketersediaan Kayu
Sumber Air Bersih (Termasuk Penyediaan KTA/
Bendali/Gentong Plastik)
Biaya Penyiapan Bangunan Analisa RAB
Pembangunan mengacu Standar Dit. Pemukiman
Usulan Pengembangan Perikanan tambak
Bentuk Usaha Tani tambak
Pola dan Jadwal Tanam/tebar tambak
Alokasi Tenaga Kerja
Masukan sarana Produksi Perikanan (Bukan berupa
paket standar tetapi harus mengacu pada kondisi
setempat dan jenis usaha perikanan)
Perkiraan Produksi
Prasarana Pengolahan dan Pemasaran
Biaya Pengembangan Perikanan tambak
Kelayakan Usaha Transmigran
Perkiraan Pendapatan Bersih
Kelayakan Usaha Transmigrasi
Perkiraan Biaya Pengembangan
Biaya Penyiapan Lahan
Biaya Penyiapan Bangunan
Biaya Pembangunan jalan
Biaya Pengerahan Transmigrasi
Biaya Pengadaan Paket Suplai
Biaya Pembangunan Test Farm
Biaya Pengembangan Perikanan
Biaya Pengadaan Dukungan Pemerintah

USULAN TEKNIS
A - 35
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

Rekapitulasi Biaya Pengembangan Pelayanan


Kelayakan Usaha Transmigran
Pendapatan Kotor Transmigran
Pengeluaran Transmigrasi
Pendapatan Bersih Transmigrasi
Telaahan Lingkungan
Dampak Lingkungan Fisik dan Biologi
Darnpak Lingkungan Sosial dan Ekonomi

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


Kesimpulan
Umum
Pola Usaha Pokok tambak
Kelayakan Calon Lokasi
Kendala Khusus
Rekomendasi
DAFTAR RUJUKAN LAMPI RAN-LAMPIRAN

d. Album peta; Album peta merupakan kelengkapan yang tidak terpisahkan dari
Dokumen Buku Laporan Akhir, yang wajib diserahkan bersama-sama dengan Buku
Laporan Akhir. Ukuran kertas Album Peta A1 dijilid rapi sebanyak 3 Album
dandiserahkan bersama-sama dengan Laporan Akhir. Adapun isi Album Peta serta
skala masing-masing jenis peta adalah sebagaimana berikut ini :

No Jenis Peta Skala


1 Peta Orientasi lingkup Kabupaten 1:250.000
2 Peta orientasi lingkup kecamatan 1:50.000
3 Peta kawasan pengembangan 1:1.000
4 Peta Kemiringan Lahan 1:1.000
5 Peta Penggunaan Lahan 1:1.000
6 Peta Satuan Tanah / Lahan 1:1.000
7 Peta Kesesuaian Lahan 1:1.000
8 Peta Sumber Daya Hutan 1:1.000
9 Peta Potensi Sumber Daya Air 1:5.000
10 Peta Topografi (LP) 1:5.000
11 Peta Satuan Tanah/ Lahan (LP) 1:5.000
12 Peta Kesesuaian Lahan (LP) 1:10.000
13 Peta Analisa Tata Ruang 1:10.000
14 Peta Rencana Tata Ruang 1:10.000
15 Peta Detil Tata Ruang 1:5.000
16 Peta Pusat Desa 1:2.000
17 Peta Jaringan Jalan 1:20.000-1:50.000
18 Peta Alineman Jalan 1:10.000
19 Peta Situasi dan Gambar Potongan V 1:200, H 1:2.000
Memanjang Jalan
20 Peta Penampang Melintang Jalan 1:100

USULAN TEKNIS
A - 36
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa Kec.Mori Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017

USULAN TEKNIS
A - 37