Anda di halaman 1dari 13

TUGAS AKIDAH AKHLAK

NABI IBRAHIM A.S.

DISUSUN OLEH :

AGUNG ABEL IBRAHIM


JARIYAH WIDIA NINGSI
NABHAAN SHOBIR
RD. M. HAJRI

KELAS : X PIS 4

MADRASAH ALIYAH NEGERI 1


OLAK KEMANG KOTA JAMBI
TAHUN PELAJARAN
2016 / 2017
NABI IBRAHIM A.S.

A. Biografi Singkat Keteladanan Nabi Ibrahim Alaihis Salam


Nabi Ibrahim alaihis salam (Bahasa Arab ( ) sekitar 1997-
1822 SM) merupakan nabi yang diutus untuk kaum di negeri yang kini
disebut sebagai Iraq. Nabi Ibrahim adalah putera Aaazar {Tarih} bin Tahur
bin Saruj bin Rau' bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam
bin Nuh a.s. Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama "Faddam A'ram"
dalam kerajaan "Babylon" yang pada waktu itu diperintah oleh seorang
raja bernama "Namrud bin Kan'aan." Kemudian ia memiliki 2 orang putra
yang dikemudian hari menjadi seorang nabi pula, yaitu Ismail dan Ishaq,
sedangkan Yaqub adalah cucu dari Ibrahim.
Nabi Ibrahim 'alaihis salam hidup pada zaman kerajaan Babylon yang
pada masa itu termasuk kerajaan yang makmur namun hidup dalam
suasana jahiliah. Mereka menyembah benda-benda sebagai tuhannya, di
masa Nabi Ibrahim manusia terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok
pertama menyembah patung- patung yang terbuat dari kayu dan batu.
Kelompok kedua menyembah bintang dan bulan dan kelompok ketiga
menyembah raja-raja atau penguasa.
Dalam suasana yang demikianlah Nabi Ibrahim dilahirkan dari
keluarga yang mempunyai keahlian membuat patung atau berhala.
Semasa remajanya Ibrahim sering diperintah ayahnya keliling kota
menjajakan patung-patung buatannya, namun karena iman dan tauhid
yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya ia tidak bersemangat untuk
menjajakan barang-barang itu.

Mencari Tuhan yang sebenarnya


Sewaktu kecil Ibrahim sering melihat ayahnya membuat patung-patung
tersebut, lalu dia berusaha mencari kebenaran agama yang dianuti oleh
keluarganya itu. Seperti yang tercantum dalam Al qur'an berikut ini:
"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar:
'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?
Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang
nyata.' Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda- tanda
keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan Kami
(memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.
Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia
berkata: 'Inilah Tuhanku,' tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia
berkata: 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam.'" (QS. al-An'am: 74-76)

"Kemudian tatkala dia melihat sebuah bulan terbit dia berkata: 'Inilah
Tuhanku.' Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: 'Sesungguhnya
jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk
orang-orang yang sesat.'" (QS. al-An'am: 77)
"Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: 'Inilah
Tuhanku. Inilah yang lebih besar.' Maka tatkala matahari itu terbenam, dia
berkata: 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang
kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada
Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada
agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan.'" (QS. al-An'am: 78-79)

Berdakwah kepada kaumnya dan ayahnya


Ibrahim mulai memberikan pengarahan kepada kaumnya bahawa ada
Pencipta langit dan bumi. Argumentasi Ibrahim mampu memunculkan
kebenaran, tetapi mereka menentang Nabi Ibrahim dan mulai
mendebatnya dan bahkan mengancamnya. Allah SWT berfirman:
"Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak
membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi
petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari)
sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali jika
Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan
Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat
mengambil pelajaran (daripadanya) ? Bagaimana aku takut kepada
sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah) padahal
kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan
yang Allah sendiri tidak menurunkan hujah kepadamu untuk
mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang
lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu
mengetahui)?'" (QS. al-An'am: 80-81)

Nabi Ibrahim terus melanjutkan penentangan pada penyembahan


berhala. Tentu saat ini pergelutan dan pertentangan antara beliau dan
kaumnya semakin tajam dan semakin meluas. Beban yang paling berat
adalah saat beliau harus berhadapan dengan ayahnya. Nabi Ibrahim
keluar untuk berdakwah kepada kaumnya dengan berkata:
"Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?
Mereka menjawab: 'Kami mendapati bapak-bapak Kami menyembahnya."
Ibrahim berkata: 'Sesungguhnya kamu dan bapak- bapakmu berada
dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab: 'Apakah kamu datang
kepada kami sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang yang
bermain-main?' Ibrahim berkata: 'Sebenarnya tuhan kamu adalah Tuhan
yang telah menciptakan langit dan bumi ; dan aku termasuk orang-orang
yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.'" (QS. al-Anbiya':
52-56)
Kemudian ayah berkata kepada anaknya: "Sungguh besar ujianku
kepadamu wahai Ibrahim. Engkau telah berkhianat kepadaku dan bersikap
tidak terpuji kepadaku."
Ibrahim menjawab: "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah
sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat
menolong kamu sedikit pun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang
kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu,
maka ikutilah aku, nescaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang
lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan,
sesungguhnya syaitan itu derhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahawa kamu akan ditimpa
azab dan Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi
syaitan.'" (QS. Maryam: 42-45)
Sang ayah berkata kepada Ibrahim: "Bencikah kamu kepada tuhan-
tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan
aku rejam, dan tinggalanlah aku buat waktu yang lama." (QS. Maryam:
46)
Mendengar itu nabi Ibrahim 'alaihis salam berkata dengan lembut:
"Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun
bagimu kepada Tuhanku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan
aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu sembah selain
Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak
akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.'" (QS. Maryam: 47-48)

Menghancurkan berhala-berhala
Nabi Ibrahim pun keluar dari rumah ayahnya. Beliau mengetahui
akan ada suatu perayaan, dan menunggu sampai perayaan itu datang
dan kota menjadi sunyi karena ditinggalkan penghuninya. Dengan hati-
hati, Ibrahim memasuki tempat penyembahan dengan membawa kapak
yang tajam. Ia melihat mmakanan dan patung-patung dan berkata,
"Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka;
lalu ia berkata" Mengapa kalian tidak makan?" (QS. ash- Shaffat: 91)
Ibrahim mengejek patung-patung itu. Ibrahim mengetahui bahawa
patung itu memang tidak dapat memakannya. Ibrahim bertanya kepada
patung-patung itu: "Mengapa kamu tidak menjawab?" (QS. ash-Shaffat:
92)
Ibrahim pun langsung mengangkat kapak yang ada di tangannya
menghancurkan seluruh patung, dan hanya menyisakan satu patung yang
paling besar, lalu beliau menggantungkan kapak itu dilehernya. Akhirnya,
setelah pesta perayaan selesai dan manusia kembali ke tempat mereka
masing-masing. Mereka mendapati tuhan-tuhannya telah hancur dan
yang tersisa hanya satu. Kisah ini terdapat dalam Al Qur'an berikut ini:
"Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap
berhala- berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.' Maka Ibrahim
membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang
terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali
(untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: 'Siapakah yang melakukan
perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk
orang-orang yang zalim.' Mereka berkata: 'Kami mendengar ada seorang
pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.'
Mereka berkata: '(Kalau demikian) Bawalah dia dengan cara yang dapat
dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikannya.' Mereka bertanya:
'Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan
kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab: 'Sebenarnya patung yang besar
itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika
mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali kepada kesedaran
mereka dan lalu berkata: 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-
orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi
tertunduk (lalu berkata): Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah
mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim
berkata:, maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang
tidak dapat memberi manfaat sedikit pun tidak dapat pula memberi
mudarat kepada kamu?' Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah
selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahaminya? Mereka berkata:
'Bakarlah dia dan bantulah tuhan- tuhan kami jika kamu benar-benar
hendak bertindak.'" (QS. al- Anbiya': 57-68)

Nabi Ibrahim mampu menundukkan mereka dengan argumentasi dan


logik berfikir yang sehat. Tetapi mereka membalasnya dengan
menetapkan akan menggantungnya di dalam api. Suatu mahkamah yang
mengerikan digelar di mana si tertuduh akan dihukum dengan
pembakaran.

Dibakar Hidup-hidup
Kejadian di atas tersebar ke seluruh negeri. Manusia-manusia
berdatangan dari berbagai tempat untuk menyaksikan eksekusi terhadap
Nabi Ibrahim as.a. Mereka menggali lubang besar yang dipenuhi kayu-
kayu, batu-batu, dan pohon-pohon lalu mereka menyalakan api di
dalamnya. Kemudian mereka mendatangkan manjaniq, yaitu suatu alat
yang dapat digunakan untuk melempar Nabi Ibrahim ke dalam api
sehingga ia jatuh ke dalam lubang api. Mereka meletakkan Nabi Ibrahim
setelah mereka mengikat kedua tangannya dan kakinya pada manjaniq
itu. Api pun mulai menyala dan asapnya mulai membumbung ke langit.
Lalu, seorang tokoh dukun memerintahkan agar Ibrahim dilepaskan ke
dalam api. Nabi Ibrahim pun dilepaskan lalu dimasukkan ke dalam
kubangan api. Nabi Ibrahim terjatuh dalam api. Api pun mulai
mengelilinginya, lalu Allah SWT menurunkan perintah kepada api, Allah
SWT berkata:
"Kami berfirman: Wahai api jadilah engkau dingin dan membawa
keselamatan kepada Ibrahim." (QS. al-Anbiya': 69)
Api pun tunduk kepada perintah Allah SWT sehingga ia menjadi dingin dan
membawa keselamatan bagi Nabi Ibrahim. Api hanya membakar tali- tali
yang mengikat Nabi Ibrahim.

Hijrah
Nabi Ibrahim keluar meninggalkan negerinya dan memulai
petualangannya dalam hijrah. Nabi Ibrahim pergi ke kota yang bernama
Aur dan ke kota yang lain bernama Haran, kemudian beliau pergi ke
Palestina bersama isterinya, satu-satunya wanita yang beriman
kepadanya. Beliau juga disertai Luth, satu-satunya lelaki yang beriman
kepadanya. Allah SWT berfirman:
"Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim:
'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan)
Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.'" (QS. al-Ankabut: 26)

Setelah ke Palestin, Nabi Ibrahim pergi ke Mesir. Selama perjalanan


ini Nabi Ibrahim mengajak manusia untuk menyembah Allah SWT, bahkan
beliau berjuang dalam hal itu denqan gigih. Beliau mengabdi dan
membantu orang-orang yang tidak mampu dan orang-orang yang lemah.
Beliau menegakkan keadilan di tengah-tengah manusia dan menunjukkan
kepada mereka jalan yang benar.
Isteri Nabi Ibrahim, Sarah, tidak melahirkan, lalu raja Mesir
memberikan seorang pembantu dari Mesir yang dapat membantunya.
Nabi Ibrahim telah menjadi tua, saat itu beliau menggunakan usianya
hanya untuk berdakwah di jalan Allah SWT. Sarah berfikir bahwa ia dan
Nabi Ibrahim tidak akan mempunyai anak, lalu ia berfikir bagaimana
seandainya wanita yang membatunya itu dapat menjadi isteri kedua dari
suaminya. Wanita Mesir itu bernama Hajar. Akhirnya, Sarah menikah-kan
Nabi Ibrahim dengan Hajar, kemudian Hajar melahirkan anaknya yang
pertama yang dinamakan oleh ayahnya dengan nama Ismail. Nabi Ibrahim
saat itu menginjak usia yang sangat tua ketika Hajar melahirkan anak
pertamanya, Ismail
Setelah Ismail dewasa, ia membantu ayahnya untuk membangun
Baitullah (Kabah) sebagai pusat penyembahan kepada Allah swt. Kabah
itu akhirnya menjadi kiblat orang-orang beriman setelahnya termasuk
kaum muslimin sekarang. Di dalam ibadah haji, seorang muslim pun
diperintahkan untuk tawaf mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali. Di
dalam alquran, Allah terangkan dalam surah al-Baqarah ayat 127-129.

B. Keteladanan Nabi Ibrahim Alaihis Salam


Dalam lintasan sejarah kenabian, nama Nabi Ibrahim Alaihissalam ,
merupakan nama yang sudah tidak asing lagi bagi umat Islam. Selain
dikenal sebagai salah seorang rasul ulul azmi (yang memiliki keteguhan),
beliau juga sering disebut sebagai Khalilullah (kekasih Allah), dan Abul
Anbiya (bapaknya para nabi). Tulisan singkat ini memberikan sedikit
gambaran tentang perilaku kehidupan beliau untuk kemudian nantinya
bisa kita teladani. Namun karena terbatas, kami sampaikan pokok-
pokoknya saja.

Kritis terhadap lingkungan


Nabi Ibrahim Alaihissalam di lahirkan diling-kungan penyembah
berhala, termasuk bapaknya sendiri, Azar, namun ternyata lingkungan
tidak memberi pengaruh terhadap dirinya. Hal ini dikarenakan sikap kritis
yang beliau miliki. Suatu ketika beliau bertanya kepada bapaknya tentang
penyembahan berhala ini. Sebagaimana dalam firman Allah: Dan
(ingatlah) di waktu Ibrahim ber-kata kepada bapaknya Aazar: Pantaskah
kamu menjadikan berhala-berhala sebagai ilah-ilah. Sesungguhnya aku
melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. (Al-Anam: 74)
Demikianlah kesesatan tetaplah beliau katakan sebagai kesesatan
meskipun itu dihadapan ayahnya sendiri, sehingga dalam riwayat lain
beliau akhirnya diusir oleh sang ayah. Sikap Nabi Ibrahim tidaklah
berhenti disini, namun dilanjutkan dengan mencari siapakah sesembahan
(Ilah) yang sebenarnya. Tatakla ia melihat bintang ia katakan Inilah
Tuhanku, namun ketika bintang itu tenggelam ia berkata: Saya tidak
suka yang tenggelam, demikian juga ketika melihat bulan dan matahari
sama seperti itu. Akhirnya karena merasa bahwa benda-benda di alam ini
tak ada yang pantas untuk disembah maka ia berkata, sebagaimana
dalam firman Allah, yang artinya: Sesungguhnya aku menghadapkan
diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan
cenderung kepada agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-
orang yang mempersekutukan Tuhan.
Kisah ini membuktikan bahwa hanya dengan mengikuti akal sehat
dan hati nurani saja (fitrah) ternyata beliau mampu menjadi muslim yang
muwahid (lurus tauhidnya) meski lingkungan yang ada tidak mendukung.
Dan ini menunjukan bahwa fitrah manusia pada dasarnya adalah
bertauhid. Lalu bagaimana dengan kita umat Islam sekarang ini,
bukankah selain memiliki akal dan hati nurani kita juga mempunyai
pembimbing berupa Al-Quran dan As-Sunnah. Masihkah kita akan
menutupi kemusyrikan , kebidahan dan kemungkaran-kemungkaran yang
kita lakukan dengan alasan lingkungan? atau sudah tradisi?

Cerdas, diplomatis dan pemberani


Hal ini dibuktikan ketika beliau berhadapan dengan penguasa
musyrik saat itu yang bernama Namrudz, raja Babilonia. Firman Allah,
artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat
Ibrahim tentang Rabbnya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada
orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan:
Rabbku ialah yang menghidupkan dan mematikan. Orang itu berkata:
Saya dapat menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata:
Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah
dia dari barat, lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah: 258)
Dalam tafsir di sebutkan bahwa yang di maksud orang yang diberi
kekuasaan adalah Namrudz, kemudian arti ucapannya: Saya dapat
menghidupkan dan mematikan ialah membiarkan hidup seseorang dan
membunuh yang lainya. Sadar menghadapi orang yang punya kekuasaan
yang bisa bertindak apa saja semaunya maka Nabi Ibrahim lalu
menyampaikan hujjah yang sekiranya membuatnya diam, yakni disuruh ia
menerbitkan matahari dari barat, jika memang bisa dan punya kekuasaan.
Kecerdasan Nabi Ibrahim juga tertuang dalam kisah lainya yakni
tatkala ia menghancurkan berhala-berhala para musyrikin ia sisakan satu
berhala yang terbesar. Hal ini tentunya bukan dengan tanpa tujuan. Ketika
dalam persidangan iapun ditanya tentang siapa yang menghancurkan
berhala-berhala itu. Nabi Ibrahim menjawab: Tanyakan saja kepada
berhala yang paling besar yang belum rusak! Sebenarnya jika para
musyrikin itu mau menggunakan otaknya mereka sudah tahu dengan
maksud perkataan Nabi Ibrahim tersebut. Namun karena kebodohan
mereka merekapun balik mengumpat: Bagaimana kami bertanya
kepadanya, bukankah dia itu hanyalah patung benda mati? Maka dijawab
lagi oleh Nabi Ibrahim dengan yang lebih tegas: Jika sudah tahu itu
benda mati mengapa kalian sembah?
Inilah bukti kecerdasan dan kehebatan beliau dalam berdiplomasi.
Memang banyak orang cerdas pemikirannya, namun jika sudah
berhadapan dengan penguasa, maka terkadang tidak begitu terlihat
kehebatannya bahkan justru yang dilakukan adalah minta petunjuk.

Memiliki ketaatan luar biasa


Sengaja disini kami tulis dengan luar biasa karena memang tidak
dimiliki dan tidak bisa dimiliki oleh manusia-manusia biasa seperti kita.
Mari kita renungkan arti firman Allah berikut ini yang mengisah-kan
tentang perintah penyembelihan Nabi Ismail: Maka tatkala anak itu
sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelih-mu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai
bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah
kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (Ash-Shaffat:
102) Perintah menyembelih anak bukan-lah perintah sembarangan,
namun demikian Nabi Ibrahim tetap saja mengerjakannya, walaupun
akhirnya diganti oleh Allah dengan seekor domba. Jika bukan karena
ketaatan yang luar biasa maka tentu Nabi Ibrahim tak sanggup untuk
mengerjakannya, demikian pula dengan Nabi Ismail yang akan
disembelih, beliau pun persis seperti ayahnya, pasrah (Islam) terha-dap
apa yang diwahyukan Allah.
Dimuka telah kami sampaikan bahwa beliau adalah seorang yang
kritis, cerdas dan diplomatis serta pemberani. Namun itu semua sama
sekali tidak berlaku di hadapan Allah. Mestinya dengan sikap kritis dan
kecerdasannya ia bisa menolak perintah itu dengan mengatakan bahwa
perintah itu tidak masuk akal dan diluar kebiasaan atau kemampuan. Jika
tidak, sebagai seorang yang diplomatis ia bisa menyampikan alasan-
alasan tertentu untuk berkelit dari printah itu atau minimal minta diganti
perintah lain yang lebih ringan, bukankah ia seorang nabi yang jika
meminta sesuatu pasti dikabulkan? Akan tetapi kaum muslimin, beliau
bukanlah tipe manusia seperti kita yang ketaatanya hanya setebal kulit
ari, dan sangat mudah terhampas oleh tiupan badai. Jika bukan karena
rahmat Allah kita tak punya kekuatan apa-apa untuk
mempertahankannya. Rupanya yang ada dalam diri Nabi Ibrahim ketika
berhadapan dengan perintah Allah adalah Samina wa athana ya dan ya.
Tak pernah ada kata tidak, nanti saja atau perlu analisa dulu, dengan
tujuan supaya bebas darinya. Demikianlah ciri-ciri muslim dan mukmin
sejati.
Hal ini sesuai dengan firman Alllah:Dan tidakkah patut bagi laki-laki
yang mumin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mumin, apabila Allah
dan Rasul-Nya telah menetappkan suatu ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang siapa
mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat
yang nyata. (Al-Ahzab: 36) Memang begitulah idealnya seorang di sebut
sebagai mukmin. Jika Al Quran atau Sunnah mengatakan salah dan
haram maka seperti itu pula yang ia katakan. Jika memerintahkan sesuatu
maka itulah yang ia kerjakan dan jika melarang sesuatu pantangan
jangankan dia mengerjakan, mendekati saja tidak akan mau. Sungguh
Allah Maha Tahu bahwa seorang hamba tak akan sanggup untuk
menyembelih anaknya dan seandainya pun yang diperintahkan Allah
hanya ini saja dan tidak ada perintah-perintah lain maka tetap saja dan
kita tak akan mampu melakukannya. Dan tiadalah suatu larangan Allah
kecuali di situ terdapat sesuatu yang merugikan dan membawa petaka,
oleh karenanya wajib untuk di jauhi.
Dan masih banyak sebenarnya teladan yang bisa diambil dari sirah
Nabi Ibrahim ini. Namun karena keterbatasan tempat maka tidak bisa
untuk disampaikan semuanya, diantaranya yang terpenting adalah
ketegasan beliau terhadap kemusyrikan dan kekafiran. Seperti yang
tersebut dalam Al-Quran Surat Az-Zurkhruf 26-27.

Cara Meneladani Nabi Ibrahim alaihis salam


a. Seseorang tidak boleh melakukan kesyirikan/ kebidahan hanya dengan
alasan lingkungan, karena telah ada Al Quran dan As Sunnah sebagai
petunjuk.
b. Seseorang dai dituntut memiliki sifat yang cerdas, kritis, peka
terhadap lingkungan, bisa bertukar pendapat dengan baik dan
pemberani.
c. Kecerdasan dan intelektualitas bukan penghalang bagi seseorang
untuk berlaku taat kepada Allah. Bahkan akal harus tunduk terhadap
wahyu.
d. Hikmah dari perintah penyembelihan nabi Ismail adalah disyariatkanya
ibadah kurban.
e. Tegas terhadap kemusyrikan dan kekafiran adalah sikap yang harus
dimiliki setiap muslim.
Oleh karenanya wahai kaum muslimin, akankah lingkungan terus
menerus kita kambinghitamkan untuk mempertahankan sebuah
kesalahan atau tradisi yang menyimpang, ataukah dengan kecerdasan
dan intelektual yang kita miliki kita akan mencoba membelokkan makna
ayat-ayat Allah atau menafsiri semaunya dan dikatakan sudah tidak
relevan lagi. Ingat! Nabi Ibrahim adalah orang yang sangat cerdas ,
namun ia berubah menjadi orang yang sangat bodoh (karena taat) ketika
berhadapan dengan wahyu, sehingga ketika disuruh menyembelih
putranya ia pun bersedia melakukannya tanpa banyak berpikir panjang.
Dimanakah muslim yang berjiwa seperti nabi Ibrahim ini? memang
kita tak akan bisa seperti beliau namun setidaknya kita harus berusaha
menjadi muslim yang taat dan tidak banyak membantah walau belum
mampu untuk melakukannya. Wallahu Alam bishawab.

C. Mukjizat Nabi Ibrahim Alaihis salam


Keberanian Ibrahim menghancurkan berhala-berhala sesembahan
kaumnya ini sehingga membuat Raja Namrudz murka. Karena itu, ia
memerintahkan para pengawalnya untuk menangkap Ibrahim dan
memasukkannya ke dalam api. Namun, atas izin Allah SWT, api tak
sanggup membakarnya. Inilah kemukjizatan yang dimiliki Ibrahim.
Peristiwa heroik ini diabadikan Allah dalam Alquran, di antaranya pada
surah Al-An'am ayat 74-83, Al-Anbiya ayat 51-70, Albaqarah ayat 124 dan
258, Alsyuara ayat 69-89, Ibrahim ayat 35-41, dan Hud ayat 69-76.
Setelah gagal dibakar, Ibrahim melakukan perjalanan ke Carrhae
(Harran atau Haaraan), sebelah utara tanah semenanjung. Kemudian,
bertolak menuju Palestina bersama istrinya Sarah dan anak saudaranya
Luth. Luth juga membawa istrinya. Karena terjadi kekeringan, dia pindah
ke Mesir pada masa Raja Ru'at (Hyksos).
Kemudian, dia kembali lagi bersama Luth menuju ke sebelah selatan
Palestina. Lalu, keduanya berpisah dalam upaya menjaga hubungan kasih
sayang agar mereka memperoleh rumput dan air bagi binatang
gembalanya. Ibrahim lantas tinggal di sumur as-Saba', sementara Luth
tinggal di sebelah selatan Laut Mati, yaitu sebuah tempat yang dikenal
dengan sebutan Buhairah Luth.
Selanjutnya, Ibrahim melakukan perjalanan bersama istri keduanya
Hajar dan anaknya Ismail menuju Makkah. Keduanya kemudian ditinggal
di sana, ''Yaitu, di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman.'' Dan,
setelah terpancar sumber air zamzam, Jurhum (kabilah) datang melalui
jalan kuda. Ibrahim dimakamkan di Kota Khalil (Hebron) di Palestina.

D. Pengorbanan Semasa Hidup

Nabi Ibrahim AS. adalah salah seorang Nabi yang termasuk ke


dalam ulul azmi, yaitu golongan Nabi yang salah satu cirinya memiliki
kesabaran lebih dibanding manusia biasa. Beliau juga dikenal
sebagai abul adyan (baca: bapak agama). Beliau adalah pengembara
spiritual (pencari Tuhan) sebagaimana dikisahkan dalam surah al-Anam
ayat 75-76.
Kesabaran beliau dapat kita ketahui melalui penulusuran kisah
hidupnya. Salah satu kisah yang menggambarkan kesabaran beliau
adalah kesabaran beliau dalam penantian yang lama menunggu kelahiran
seorang anak setelah menikah dengan Siti Sarah (isteri pertamanya). Dan
kesabaran beliau dalam melaksanakan perintah Allah Swt. setelah
memiliki anak.
Kala itu Nabi Ibrahim As. dengan sabar menunggu karunia Allah Swt..
Sampai tibalah suatu waktu, dengan kerelaan istri pertamanya ia menikah
dengan Siti Hajar (istri kedua). Dari pernikahannya yang kedua inilah, ia
dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Ismail.
Namun kebahagiaan sebagai seorang yang dirasakan Nabi Ibrahim
bersama Siti Hajar kembali diuji oleh Allah Swt.. Ia diperintahkan untuk
mengasingkan Siti Hajar serta Ismail yang masih bayi ke bukit Shafa yang
gersang nan tandus. Tempat yang jauh dari pemukiman penduduk. Tidak
mustahil banyak terdapat binatang buas di tempat tersebut. Tetapi
dengan penuh ketaatan dan kesabaran berangkatlah Ibrahim
mengantarkan istri dan putranya ke tempat tersebut. Kemudian
meninggalkan mereka di bukit gersang nan tandus tersebut.
Selang beberapa waktu Siti Hajar dan Ismail ditinggalkan Nabi
Ibrahim, ujian menyapa mereka. Ismail merasakan kehausan. Sedangkan
persediaan minuman serta makanan telah habis. Ditambah lagi air susu
sang ibu tidak dapat disusukan karena telah banyak keluar tenaga dan
asupan tidak ada. Namun, Ismail yang belum cukup faham dengan
keadaan ibunya tetap menangis.
Siti Hajar pun diliputi kebingungan. Wajar saja, secara logika di bukit
gersang nan tandus akan sangat sulit mendapatkan air. Tapi agungnya
pengorbanan seorang ibu tidak terhalang oleh hal demikian. Dengan gigih
Siti Hajar berlari-lari kecil (sai) menuju bukit Marwah. Dalam
pandangannya, ia melihat genangan air di bukit tersebut. Namun, setelah
didatangi ternyata yang ia dapati hanya fatamorgana. Lantas ia pun
kembali lagi ke bukit Shafa karena setelah tiba di bukit Marwah ia melihat
genangan air berada di bukit Shafa. Tapi yang ia dapati fatamorgana jua.
Alhasil, ia hilir mudik antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.
Berlari-lari kecil (baca: sai) ini menjadi syariat umat Nabi Muhammad
saw., sebagai salahsatu rukun ibadah haji.
Setelah cukup lelah hilir mudik sebanyak tujuh kali antara Shafa dan
Marwah, tiba-tiba ia melihat pancaran air dari tanah bawah. Tepat pada
bekas jejak kaki Ismail yang selonjor. Air tersebut terus memancar keluar
dari permukaan tanah. Sehingga menjadi genangan. Melihat genangan air
yang semakin besar itu, Siti Hajar bersyukur atas anugerah Allah tersebut
dan berkata pada air itu, zam zam ya al mau (kumpul, kumpul wahai
air). Air tersebut membentuk genangan yang semakin lama semakin
besar semacam sumur. Alhasil, ronta dan tangis kehausan Ismail pun
dapat terobati dengan air yang penuh berkah. Bahkan sampai saat ini, air
tersebut masih tetap memacarkan berkah bagi semua peminumnya dan
tiada pernah kering walau sudah miliyaran orang mereguknya selama
berabad-abad.
Beberapa tahun kemudian Nabi Ibrahim mendapat ilham dari Allah
melalui mimpi untuk menyembelih putranya Ismail. Tepat ketika Ismail
telah tumbuh menjadi anak remaja yang ceria dan mulai terampil
membantu sang ayah bekerja. Namun dengan kesabarannya, Ibrahim
menyampaikan perintah Allah tersebut (ilham) yang didapat melalui
mimpinya kepada Ismail dengan diliputi perasaan gundah, Hai anakku
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka fikirkanlah apa pendapatmu!. Ismail menjawab: Hai bapakku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah bapak akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (Q.S. Ash
Shaaffaat:102).
Tatkala keduanya telah bersepakat melaksanakan titah Yang
Mahakuasa, mereka pun pergi mencari tempat untuk melaksanakan
penyembelihan. Tetapi kemudian godaan datang darisyaitan, mereka
(Ibrahim dan Ismail) dipengaruhi supaya tidak jadi melaksanakannya.
Tetapi dengan komitmen yang kuat mereka berdua tetap akan
melaksanakan perintah Allah tersebut. Sampai Ibrahim melempar batu
mengusir syaitan di beberapa tempat. Inilah asal mula disyariatkannya
lempar jumrah pada saat ibadah haji.
Setelah tiada lagi yang mengganggu, Ibrahim membaringkan
anaknya. Dengan penuh kesabaran dan ketaatan, Ibrahim pun
menempelkan sebilah senjata tajam (sejenis golok) ke leher Ismail.
Puncak penyerahan diri yang optimal kepada Allah. Namun yang terjadi di
luar dugaan mereka. Ketika senjata tajam digesekan ke leher Ismail, Allah
menggantinya dengan seekor gibas (sejenis domba) yang besar. Demikian
ini menjadi sunnah ibadah qurban yang kita laksanakan pada hari Idul
Adha dan tiga hari berikutnya.
Demikian kisah yang dialami keluarga teladan dalam mencapai
ketaatan pada Yang Maha berhak ditaati. Pengalaman sang ibu yang
diasingkan, ayah yang mendapat perintah untuk menyembelih buah
hatinya yang telah lama didambakan serta sang anak yang merelakan diri
untuk disembelih.
Mudah-mudahan kita dapat meneladani kesabaran, ketaatan serta
pengorbanan di jalan kebaikan yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim
As. dan keluarganya.