Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN


PLASENTA PREVIA

Disusun Oleh:
PUTU EPRILIANI
P07120214010
DIV KEPERAWATAN TINGKAT 3
SEMESTER VI

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2017
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PLASENTA PREVIA

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. Definisi

Plasenta Previa adalah plasenta yang berimplantasi rendah sehingga menutupi


sebagian /seluruh ostium uteri internum (implantasi plasenta yang normal adalah
pada dinding depan, dinding belakang rahim atau di daerah fundus uteri).(Yuni
Kusmiyati dkk, 2009, Perawatan Ibu Hamil, hal. 158-159.
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah
rahim demikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostrium uteri
interernum.
Sejalan dengan bertambah membesarnya rahim dan meluasnya segmen
bawah rahim ke arah proksimal memumngkinkan plasenta yang berimplamentasi
pada segmen bawah rahim ikut berpindah mengikuti perluasan segmen bawah
rahim seolah plasenta tersebut bermigrasi. Ostium uteri yang secara dinamik
mendatar dan meluas dalam persalinan kala satu bisa menubah luas permukaan
serviks yang tertutup oleh plasenta. Fenomena ini berpengaruh pada derajat atau
klasifikasi dari plasenta previa ketika pemeriksaan dilakukan baik dalam massa
antenatal maupun dalam massa intranatal, baik dengan ultrasonografi maupun
pemeriksaan digital. Oleh karena itu, pemeriksaan ultrasonografi perlu diulang
secara berkala dalam asuhan antenatal ataupun intranatal ( ilmu kebidanan hal ; 495
)

2. Penyebab/faktor predisposisi
Sumber perdarahannya adalah sinus uterus yang terobek karena
terlepasnya plasenta dari dinding uterus, atau robekan sinus marginalis dari
plasenta. Perdarahannya tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut
otot segmen bawah uteus untuk berkontraksi menghentikan prdarahan itu tidak
sebagaimana serabut otot uterus menghentikan perdarahan pada kala III dengan
plasenta yang letaknya normal. Makin rendah letak plasenta , makin dini
perdarahan terjadi, oleh karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan
terjadi lebih dini dari pada plasenta letak rendah yang mungkin baru berdarah
setelah persalinan dimulai. (Sarwono,2005).
Penyebab blastokista berimplementasi pada segmen bawah rahim
belumlah diketahui dengan pasti. Mungkin secara kebetulan saja blastokista
menimpa desidua di daerah segmen bawah rahim tanpa latar belakang lain yang
mungkin. Teori lain mengemukakakan sebagai salah satu penyebabnya adalah
vaskularisasi desidua yang tidak menandai, mungkin sebagai akibat dari proses
radang atau atrofi. Paritas tinggi, usia lanjut, cacat rahim misalnya bekas bedah
sesar, kerokan, miomektomi, dan sebagainnya berperen dalam proses peradangan
dan kejadian atrofi di endometrium yang semuanya dapat dipandang sebagai
faktor resiko bagi terjadinya plasenta previa. Cacat bekas bedah sesar berperan
menaikan insiden dua sampai tiga kali. Hipoksemia akibat karbon mono oksida
hasil pembakaran rokok menyebabkan plasenta menjadi hipertrofi sebagai upaya
kompensasi. Plasenta yang terlalu besar seperti pada kehamilan ganda dan
eritroblastosis fetalis bisa menyebabkan pertumbuhan plasenta melebar ke segmen
bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum.
( ilmu kebidanan hal ; 496 )

3. Patofisiologi
Pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya pada trisemester ke 3 dan
mungkin juga lebih awal, oleh karena telah mulai terbentuknya segmen bawah
rahim, tampak plasenta akan mengalami pelepasan. Sebagaimana diketahui tampak
plasenta terbentuk dari jaringan maternal yaitu bagian desidua blasis yang
bertumbuh menjadi bagian dari uri. Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi
segmen bawah rahim, maka plasenta yang berimplementasi di situ sedikit banyak
akan mengalami laserasi akibat pelepasan pada desidua sebagai tapak plasenta.
Demikian pula pada waktu serviks mendatar ( effacement ) dan membuka (
dilatation ) ada bagian tampak plasenta yang terlepas. Pada tempat laserasi ini akan
terjadi perdarahan yang berasal darisirkulasi maternal yaitu dari ruangan intervillus
dari plasenta. Oleh karena fenomena pembentukan segmen bawah rahim itu
perdarahn pada plasenta previa betapun pasti akan terjadi ( unavoidable bleeding ).
Perdarahan di tempat itu relatif dipermudah dan diperbanyak oleh karena segmen
bawah rahim dan serviks tidak mampu berkontraksi dengan kuat karena elemen
otot yang dimilikinya sangat minimal, dengan akibat pembuluh darah pada tempat
itu tidak akan tertutup dengan sempurna. Perdarahan akan berhentikarena terjadi
pembekuan kecuali jika ada laserasi mengenai sinus yang besar dari plaasenta pada
mana pendarahan akan berlangsung lebih lama. Oleh karena pembentukan segmen
bawah rahim itu akan berlangsung progresif dan bertahap, maka laserasi baru akan
mengulang kejadian perdarahan. Demikianlah perdarahan akan berulang tanpa
sesuatu sebab lain ( causeess ). Darah yang keluar berwarna merah segar tanpa rasa
nyeri ( painless ). Pada plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum
perdarahan terjadi pada bagian terbawah yaitu pada ostium uteri internum.
Sebaliknya, pada plasenta previa parsialis atau letak rendah, perdarahan baru terjadi
pada waktu mendekati atau pendarahan berikutnya. Untuk berjaga jaga mencegah
syok hal tersebut perlu dipertimbangkan. Perdarahan pertama sudah bisa terjadi
pada kehamilan di bawah 30 minggu tatapi lebih separuh kejadiannya pada umur
kehamilan 34 minggu ke atras. Berhubungan tempat pendarahan terletak dekat
dengan ostium uteri internum, maka perdarahan lebih mudah mengalir ke luar
rahim dan tidak membentuk hematoma retroplsenta yang mampu merusak jaringan
lebih luas dan melepaskan tromboplastin ke dalam sirkulasi maternal. Dengan
demikian, sangat jarang terjadi kogulopati pada plasenta previa.
Hal ini yang perlu diperhatikan adalah dinding segmen bawah rahim yang tipis
mudah diinvasi oleh pertumbuhan vili dari trofoblas, akibatnya plasenta melekat
lebih kuat pada dinding uterus. Lebih sering terjadi plasenta akreta dan inkreta lebih
sering terjadi pada uterus yang sebelumnya bedah sesar, segmen bawah rahim dan
serviks yang rapuh mudah robek oleh sebab kurangnya elemen otot yang terdapat
disana. Kedua kondisi ini berpotensi meningkatkan kejadian perdarahan
pascapersalinan pada plasenta previa, misalnya dalam kala tiga karena plasenta
sukar melepas dengan sempurna ( retentio placentae ), atau setelah uri lepas karena
segmen bawah rahim tidak mampu berkontraksi dengan baik ( ilmu kebidanan hal ;
496 497 )

Pathway
Placenta previa

Seksio Cesarea

Post Operasi sc

Post Ansestasi Spinal Luka Post Operasi Nifas

Penurunan Penurunan Jaringan Jaringan Uterus Laktasi Psikologis


saraf saraf otonom terputus terbuka (Taking in, taking
ekstermitas hold, taking go)
Kontraksi Progesteron dan
Kelumpuhan Merangsa Proteksi uterus esterogen
ng area kurang Perubahan
menurun
Cemas sensorik psikologis
motorik Prolaktin
Invasi Adekuat Tidak meningkat
Nyeri bakteri Adekuat Penambah
Pertumbuhan an anggota
Pengelupas Atonia kelenjar susu baru
Resti an desidua uretri terangsang
infeksi Kebutuhan
meningkat
Perdarahan Isapan bayi
Lochea

Hipovolemi Anemi Oksitosin


k meningkat

Kekurang HbO2 Ejeksi ASI


an volume menurun
cairan
Adekuat Tidak
Metabolisme adekuat
anaerob
ASI keluar ASI tidak keluar
Asam laktat
meningkat Efektif Inefektif laktasi
laktasi
Suplai O2 ke jaringan menurun Kelelahan
23
Nekrose
4. Klasifikasi
Placenta previa dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu :
1. Marginal placenta previa
Plasenta tertanam pada satu tepi segmen rahim bawah dekat dengan
tulang.
2. Incomplete / Parsial placenta previa
Menyiratkan penutupan tak sempurna
3. Total / Complete placenta previa
Seluruhnya tulang dalam tertutup oleh placenta, saat cervik sepenuhnya
berdilatasi
4. Implantasi rendah / low-lying implantasi
Digunakan saat placenta diposisikan pada segmen bawah rahim yang
lebih rendah tapi jauh dari tulang

Gambar 2. Kalsifikasi Placenta previa

5. Gejala Klinis

Ciri yang menonjol pada plasenta previa adalah perdarahan uterus


keluar melalui vagina tanpa rasa nyeri. Perdarahan biasanya baru terjadi
pada akhir trismester kedua keatas. Perdarahan pertama berlangsung tidak
banyak dan berhenti sendiri. Perdarahan kembali terjadi tanpa sesuatu
sebab yang jelas setelah beberapa waktu kemudian, jadi berulang. Pada
tiap pengulangan terjadi perdarahan yang lebih banyak bahkan seperti
mengalir. Pada plasenta letak rendah perdarahan baru terjadi pada waktu
mulai persalinan; perdarahan bisa sedikit sampai banyak mirip pada
solusio plasenta. Perdarahan diperhebat berhubung segmen bawah rahim
tidak mampu berkontraksi sekuat segmen atas rahim. Dengan demikian,
perdarahan bisa berlangsung sampai pascapersalinan. Perdarahan bisa juga
bertambah disebabkan serviks dan segmen bawah rahim pada plasenta
previa lebih rapuh dan mudah mengalami robekan. Robekan lebih mudah
terjadi pada upaya pengeluaran plasenta dengan tangan misalnya pada
retensio plasenta sebagai komplikasi plasenta akreta.
Berhubung plasenta terletak pada bagian bawah, maka pada palpasi
abdomen sering ditemui bagian terbawah janin masih tinggi diatas simfisis
dengan letak janin tidak dalam letak memanjang. Palpasi abdomen tidak
membuat ibu hamil merasa nyeri dan perut tidak tegang.

6. Pemeriksaan Diagnostik/penunjang
a. Ultrasonografi
Penentuan lokasi plasenta secara ultrasonografi sangat tepat dan tidak
menimbulkan bahaya radiasi terhadap janin.
b. Pemeriksaan Dalam
Penentuan lokasi plasenta secara ultrasonografi sangat tepat dan tidak
menimbulkan bahaya radiasi terhadap janin.
c. Pemeriksaan Darah
Yaitu golongan darah, hemoglobin , hematokrit serta darah lengkap dan
kimia darah untuk menunjang persiapan operasi
d. Sinar X
Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-
bagian tubuh janin.
e. Vaginal
Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya
ditunda jika memungkinkan hingga kelangsungan hidup tercapai (lebih
baik sesuadah 34 minggu). Pemeriksaan ini disebut pula prosedur
susunan ganda (double setup procedure). Double setup adalah
pemeriksaan steril pada vagina yang dilakukan di ruang operasi
dengan kesiapan staf dan alat untuk efek kelahiran secara cesar.
7. Penatalaksanaan Medis
1) Terapi ekspektatif

Tujuan terapi ekspektatif adalah supaya janin tidak terlahir prematur,


pasien dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melaui kanalis
servisis. Upaya diagnosis dilakukan secara non invasif. Pemantauan
klinis dilaksanakan secara ketat dan baik.
Syarat pemberian terapi ekspektatif :
a. Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian
berhenti.
b. Belum ada tanda-tanda in partu.
c. Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas
normal)
d. Janin masih hidup.
Rawat inap, tirah baring, dan berikan antibiotik profilaksis.
Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi placenta,
usia kehamilan, profil biofisik, letak, dan presentasi janin.
Berikan tokolitik bila ada kontriksi :
- MgSO4 4 gr IV dosis awal dilanjutkan 4 gr tiap 6 jam
- Nifedipin 3 x 20 mg/hari
- Betamethason 24 mg IV dosis tunggal untuk pematangan paru
janin
Uji pematangan paru janin dengan Tes Kocok (Bubble Test) dari test
amniosentesis.
Bila setelah usia kehamilan di atas 34 minggu placenta masih berada di
sekitar ostinum uteri internum, maka dugaan plasenta previa menjadi
jelas sehingga perlu dilakukan observasi dan konseling untuk
menghadapi kemungkinan keadaan gawat darurat.
Bila perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 mingu masih
lama, pasien dapat dipulangkan untuk rawat jalan (kecuali apabila
rumah pasien di luar kota dan jarak untuk mencapai RS lebih dari 2
jam) dengan pesan segera kembali ke RS apabila terjadi perdarahan
ulang.
2) Terapi aktif (tindakan segera)
Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam
yang aktif dan banyak harus segera ditatalaksana secara aktif
tanpa memandang maturitas janin.
Untuk diagnosis placenta previa dan menentukan cara
menyelesaikan persalinan, setelah semua persyaratan dipenuhi,
lakukan PDOM jika :

- Infus / tranfusi telah


terpasang, kamar dan tim operasi telah siap
- Kehamilan 37 minggu (BB
2500 gram) dan in partu
- Janin telah meninggal atau
terdapat anomali kongenital mayor (misal :
anensefali)
- Perdarahan dengan bagian
terbawah jsnin telah jauh melewati PAP (2/5 atau 3/5
pada palpasi luar)
Cara menyelesaikan persalinan dengan placenta previa adalah :
1. Seksio Cesaria (SC)
Prinsip utama dalam melakukan SC adalah untuk menyelamatkan ibu,
sehingga walaupun janin meninggal atau tak punya harapan hidup
tindakan ini tetap dilakukan.
Tujuan SC antara lain :
- Melahirkan janin dengan segera sehingga uterus dapat segera
berkontraksi dan menghentikan perdarahan
- Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada cervik uteri,
jika janin dilahirkan pervaginam
Tempat implantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularisasi
sehingga cervik uteri dan segmen bawah rahim menjadi tipis dan
mudah robek. Selain itu, bekas tempat implantasi placenta sering
menjadi sumber perdarahan karena adanya perbedaan vaskularisasi dan
susunan serabut otot dengan korpus uteri.
Siapkan darah pengganti untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu
Lakukan perawatan lanjut pascabedah termasuk pemantauan
perdarahan, infeksi, dan keseimbangan cairan dan elektrolit.
2. Melahirkan pervaginam
Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada placenta. Penekanan
tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
Amniotomi dan akselerasi
Umumnya dilakukan pada placenta previa lateralis / marginalis dengan
pembukaan > 3cm serta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban,
placent akan mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan oleh kepala
janin. Jika kontraksi uterus belum ada atau masih lemah akselerasi
dengan infus oksitosin.
Versi Braxton Hicks
Tujuan melakukan versi Braxton Hicks adalah mengadakan tamponade
placenta dengan bokong (dan kaki) janin. Versi Braxton Hicks tidak
dilakukan pada janin yang masih hidup.
Traksi dengan Cunam Willet
Kulit kepala janin dijepit dengan Cunam Willet, kemudian diberi
beban secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang
efektif untuk menekan placentadan seringkali menyebabkan
perdarahan pada kulit kepala. Tindakan ini biasanya dikerjakan pada
janin yang telah meninggal dan perdarahan yang tidak aktif.

8. Komplikasi
Ada beberapa komplikasi utama yang bisa terjadi pada ibu hamil
yang menderita plasenta previa, diantaranya ada yang bisa menimbulkan
perdarahan yang cukup banyak dan fatal.
1. Oleh karena pembentukan segmen rahim terjadi secara ritmik,
maka pelepasan plasenta dari tempat meletaknya di uterus dapat
berulang dan semakin banyak, dan perdarahan yang terjadi itu
tidak dapat dicegah sehingga penderita menjadi anemia bahkan
syok.
2. Oleh karena plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah
rahim dan sifat segmen ini yang tipis mudahlah jaringan trofoblas
dengan kemampuan invasinya menerobos ke dalam miometrium
bahkan sampai ke perimetrium dan menjadi sebab dari terjadi
plasenta inkreta dan bahkan plasenta perkreta. Paling ringan
adalah plasenta akreta yang perlekatannya lebih kuat tetapi
vilinya masih belum masuk ke dalam miomertium. Walaupun
biasanya tidak seluruh permukaan maternal plasenta mengalami
akreta atau inkreta akan tetapi dengan demikian terjadi retensio
plasenta dan pada bagian plasenta yang sudah terlepas timbullah
perdarahan dalam kala tiga. Komplikasi ini sering terjadi pada
uterus yang pernah seksio sesarea. Dilaporkan plasenta aktera
terjadi 10% sampai 35% pada pasien yang pernah seksio sesarea
satu kali, naik menjadi 60% sampai 65% bila telah seksio sesarea
tiga kali.
3. Serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh dan kaya pembuluh
darah sangat potensial untuk robek disertai oleh perdarahan yang
banyak. Oleh karena itu, harus sangat berhati hati pada semua
tindakan manual di tempat ini misalnya pada waktu mengeluarkan
anak melalui insisi pada segmen bawah rahim ataupun pada
waktu mengeluarkan plasenta dengan tangan pada retensio
plasenta. Apabila oleh salah satu sebab terjadi perdarahan banyak
yang tidak terkendali dengan cara cara yang lebih sederhana
seperti penjahitan segmen bawah rahim, ligasi arteria uterina,
ligasi arteria ovarika, pemasanngan tampon, atau ligasi arteria
hipogastrika, maka pada keadaan yang sangat gawat seperti ini
jalan keluarnya adalah melakukan histerektomi total.
4. Kelainan letak anak pada plasenta previa lebih sering terjadi. Hal
ini memaksa lebih sering diambil tindakan operasi dengan segala
konsekuensinya.
5. Kelahiran prematur dan gawat janin sering tidak terhindarkan
sebagian oleh karena tindakan terminasi kehamilan yang terpaksa
dilakukan dalam kehamilan belum aterm. Pada kehamilan < 37
minggu dapat dilakukan amniosentesias untuk mengetahui
kematangan paru janin dan pemberian kortikosteroid untuk
mempercepat pematangan paru janin sebagai upaya antisipasi.
6. Komplokasi lain dari plasenta previa yang dilaporkan dalam
kepustakaan selain masa rawatan yang lebih lama, adalah
beresiko tinggi untuk solusio plasenta (Risiko Relatif 13,8),
seksio sesarea (RR 3,9), kelainan letak janin (RR 2,8), perdarahan
pascapersalinan (RR 1,7), kematian maternal akibat perdarahan
(50%), dan disseminated intravaskuler coagulation (DIC) 15,9%.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian Keperawatan

a. Pengumpulan data
1) Anamnesa
a) Identitas klien: Data diri klien meliputi : nama, umur,

pekerjaan, pendidikan, alamat, medicalrecord dll.


b) Keluhan utama : Gejala pertama; perdarahan pada

kehamilan setelah 28 minggu/trimester III.


- Sifat perdarahan; tanpa sebab, tanpa nyeri,

berulang
- Sebab perdarahan; placenta dan pembuluh darah

yang robek; terbentuknya SBR, terbukanya osteum/

manspulasi intravaginal/rectal.
- Sedikit banyaknya perdarahan; tergantung besar

atau kecilnya robekan pembuluh darah

dan placenta.
c) Inspeksi
- Dapat dilihat perdarahan pervaginam banyak atau

sedikit.
- Jika perdarahan lebih banyak; ibu tampak anemia.
d) Palpasi abdomen
- Janin sering belum cukup bulan; TFU masih rendah.
- Sering dijumpai kesalahan letak
- Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak

kepala biasanya kepala masih goyang/floating


2) Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Obstetri

Memberikan imformasi yang penting mengenai

kehamilan sebelumnyaagar perawat dapat

menentukan kemungkinan masalah pada

kehamilansekarang. Riwayat obstetri meliputi:

- Gravida, para abortus, dan anak hidup (GPAH)


- Berat badan bayi waktu lahir dan usia gestasi
- Pengalaman persalinan, jenis persalinan, tempat

persalinan, dan penolong persalinan


- Jenis anetesi dan kesulitan persalinan
- Komplikasi maternal seperti diabetes, hipertensi,

infeksi, dan perdarahan.


- Komplikasi pada bayi
- Rencana menyusui bayi
b) Riwayat mensturasi

Riwayat yang lengkap di perlukan untuk menetukan

taksiran persalinan(TP). TP ditentukan berdasarkan hari

pertama haid terakhir (HPHT). Untuk menentukan TP

berdasarkan HPHt dapat digunakan rumus naegle,

yaitu hari ditambah tujuh, bulan dikurangi tiga, tahun

disesuaikan.

c) Riwayat Kontrasepsi

Beberapa bentuk kontrasepsi dapat berakibat buruk pada

janin, ibu, a t a u keduanya. Riwayat kontrasepsi yang

lengkap harus didapatkan pada saat kunjungan pertama.

Penggunaan kontrasepsi oral sebelum kelahiran dan

berlanjut pada kehamilan yang tidak diketahui dapat

berakibat buruk pada pembentukan organ seksual pada

janin.

d) Riwayat penyakit dan operasi:

Kondisi kronis seperti dibetes melitus, hipertensi,

dan penyakit ginjal bisa berefek buruk pada kehamilan.

Oleh karena itu, adanya riwayat infeksi, prosedur operasi,

dan trauma pada persalinan sebelumnya harus di

dokumentasikan
3) Pemeriksaan fisik
a) Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada

ibu hamil:
(1) Rambut dan kulit
- Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola,

putting susu dan linea nigra.


- Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah

abdomen dan paha.


- Laju pertumbuhan rambut berkurang.Wajah
(2) Mata : pucat, anemis
(3) Hidung
(4) Gigi dan mulut
(5) Leher
(6) Buah dada / payudara
- Peningkatan pigmentasi areola putting susu
- Bertambahnya ukuran dan noduler
(7) Jantung dan paru
- Volume darah meningkat
- Peningkatan frekuensi nadi
- Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik

dan pembulu darah pulmonal.


- Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
- Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi

jalan nafas.
- Diafragma meningga.
- Perubahan pernapasan abdomen menjadi

pernapasan dada.
(8) Abdomen
- Menentukan letak janin
- Menentukan tinggi fundus uteri
(9) Vagina
- Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna

kebiruan ( tanda Chandwick)


- Hipertropi epithelium
(10) System musculoskeletal
- Persendian tulang pinggul yang mengendur
- Gaya berjalan yang canggung
- Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis

dinamakan dengan diastasis rectal


b) Khusus
(1) Tinggi fundus uteri
(2) Posisi dan persentasi janin
(3) Panggul dan janin lahir

2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


a) Nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan
b) Kekurangan volume cairan b.d syok hipovolemik
c) Resiko infeksi b.d insisi luka operasi
d) Ansietas b.d kurangnya pengetahuan terhadap tindakan yang akan
dilakukan

3. Rencana Asuhan Keperawatan

DIANGOSA
NO TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN
1. Nyeri NOC : NIC :
Pain Level,
Pain control, Pain Management
Definisi :
Comfort level
Sensori yang tidak
Lakukan peng
menyenangkan dan Kriteria Hasil :
nyeri
pengalaman emosional Mampu mengontrol komprehensif
yang muncul secara aktual nyeri (tahu penyebab termasuk
atau potensial kerusakan nyeri, mampu karakteristik,
jaringan atau menggunakan tehnik frekuensi, kualit
menggambarkan adanya nonfarmakologi untuk faktor presipitas
kerusakan (Asosiasi Studi mengurangi nyeri, Observasi
Nyeri Internasional): mencari bantuan) nonverbal
serangan mendadak atau Melaporkan bahwa ketidaknyamana
pelan intensitasnya dari nyeri berkurang dengan Gunakan
ringan sampai berat yang menggunakan komunikasi tera
dapat diantisipasi dengan manajemen nyeri untuk meng
Mampu mengenali
akhir yang dapat pengalaman
diprediksi dan dengan nyeri (skala, intensitas, pasien
frekuensi dan tanda Kaji kultur
durasi kurang dari 6
bulan. nyeri) mempengaruhi
Menyatakan rasa nyeri
nyaman setelah nyeri Evaluasi penga
Batasan karakteristik :
berkurang nyeri masa lamp
o Laporan secara Tanda vital dalam Evaluasi be
verbal atau non rentang normal pasien dan
verbal kesehatan lain t
o Fakta dari
ketidakefektifan
observasi
o Posisi antalgic kontrol nyeri

untuk menghindari lampau


Bantu pasien
nyeri
o Gerakan keluarga

melindungi mencari
o Tingkah laku menemukan duk
berhati-hati Kontrol lingk
o Muka topeng yang
o Gangguan tidur
mempengaruhi
(mata sayu,
seperti suhu ru
tampak capek, sulit
pencahayaan
atau gerakan
kebisingan
kacau, Kurangi
menyeringai) presipitasi nyeri
o Terfokus pada diri Pilih dan la
sendiri penanganan
o Fokus menyempit
(farmakologi,
(penurunan
farmakologi dan
persepsi waktu,
personal)
kerusakan proses Kaji tipe dan s
berpikir, nyeri
penurunan menentukan inte
Ajarkan t
interaksi dengan
orang dan teknik

lingkungan) farmakologi
o Tingkah laku Berikan an

distraksi, contoh : untuk meng

jalan-jalan, nyeri
Evaluasi keefe
menemui orang
kontrol nyeri
lain dan/atau Tingkatkan istira
aktivitas, aktivitas Kolaborasikan d
berulang-ulang) dokter jika
o Respon autonom
keluhan dan tin
(seperti
nyeri tidak berha
diaphoresis, Monitor pener
perubahan tekanan pasien t
darah, perubahan manajemen nyer
nafas, nadi dan Analgesic

dilatasi pupil) Administration


o Perubahan Tentukan
autonomic dalam karakteristik, ku
tonus otot dan derajat
(mungkin dalam sebelum pem
rentang dari lemah obat
Cek instruksi
ke kaku)
o Tingkah laku tentang jenis
ekspresif (contoh : dosis, dan frekue
Cek riwayat aler
gelisah, merintih,
Pilih analgesik
menangis,
diperlukan
waspada, iritabel,
kombinasi
nafas
analgesik
panjang/berkeluh
pemberian lebi
kesah)
o Perubahan dalam satu
Tentukan p
nafsu makan dan
minum analgesik terg
o Faktor yang
tipe dan be
berhubungan : nyeri
o Agen injuri
Tentukan ana
(biologi, kimia,
pilihan,
fisik, psikologis
pemberian, dan
optimal
Pilih rute pem
secara IV, IM
pengobatan
secara teratur
Monitor vital
sebelum dan se
pemberian ana
pertama kali
Berikan ana
tepat waktu ter
saat nyeri
Evaluasi efek
analgesik, tand
gejala (efek sam

2. Defisit Volume Cairan


Definisi : Penurunan
cairan intravaskuler, NOC: NIC :
interstisial, dan/atau Fluid balance Fluid management
intrasellular. Ini mengarah Hydration Timbang popok/pe
Nutritional Status : Food and
ke dehidrasi, kehilangan jika diperlukan
Fluid Intake Pertahankan
cairan dengan pengeluaran
sodium Kriteria Hasil : intake dan output

Mempertahankan urine output akurat


Monitor status
Batasan Karakteristik : sesuai dengan usia dan BB,
( kelembaban me
- Kelemahan BJ urine normal, HT normal
- Haus Tekanan darah, nadi, suhu mukosa, nadi ad
- Penurunan tekanan
turgor tubuh dalam batas normal ortostatik ),
Tidak ada tanda tanda
kulit/lidah diperlukan
- Membran dehidrasi, Elastisitas turgor Monitor hasil lAb
mukosa/kulit kulit baik, membran sesuai dengan
kering mukosa lembab, tidak ada cairan (BUN , H
- Peningkatan
rasa haus yang berlebihan osmolalitas urin )
denyut nadi, Monitor vital sign
penurunan Monitor m
tekanan darah, makanan / caira
penurunan hitung intake
volume/tekanan harian
Kolaborasi pem
nadi
- Pengisian vena cairan IV
menurun Monitor status nutr
- Perubahan Berikan cairan
Berikan diuretik
status mental
- Konsentrasi interuksi
Berikan cairan IV
urine meningkat
- Temperatur suhu ruangan
tubuh Dorong masukan o
Berikan pengg
meningkat
- Hematokrit nesogatrik sesuai o
Dorong keluarga
meninggi
- Kehilangan membantu pasien m
Tawarkan snack
berat badan
seketika buah, buah segar )
Kolaborasi dokte
(kecuali pada
tanda cairan b
third spacing)
- Faktor-faktor muncul meburuk
Atur kemun
yang
tranfusi
berhubungan:
Persiapan untuk tra
- Kehilangan
volume cairan
secara aktif
- Kegagalan
mekanisme
pengaturan

3. Resiko infeksi NOC : NIC :


Definisi : Peningkatan Immune Status Infection Control (K
resiko masuknya Knowledge : Infection infeksi)

organisme patogen control Bersihkan lingk


Risk control
setelah dipakai
Faktor-faktor resiko : Kriteria Hasil : lain
- Prosedur Infasif Pertahankan
Klien bebas dari tanda dan
- Ketidakcukupan isolasi
gejala infeksi
pengetahuan Batasi pengu
Mendeskripsikan proses
untuk bila perlu
penularan penyakit, factor
Instruksikan
menghindari
yang mempengaruhi
pengunjung
paparan patogen
penularan serta
- Trauma mencuci tangan
- Kerusakan penatalaksanaannya,
berkunjung
Menunjukkan kemampuan
jaringan dan
setelah berku
peningkatan untuk mencegah timbulnya
meninggalkan p
infeksi
paparan Gunakan
Jumlah leukosit dalam batas
lingkungan antimikrobia
- Ruptur normal
Menunjukkan perilaku cuci tangan
membran Cuci tangan
hidup sehat
amnion sebelum dan se
- Agen farmasi
tindakan kperaw
(imunosupresan Gunakan baju,
) tangan sebaga
- Malnutrisi
- Peningkatan pelindung
Pertahankan
paparan
lingkungan lingkungan a

patogen selama pemas


- Imonusupresi alat
- Ketidakadekuat Ganti letak IV
an imum buatan dan line centra
- Tidak adekuat
dressing
pertahanan dengan pe
sekunder umum
Gunakan
(penurunan Hb,
Leukopenia, intermiten

penekanan menurunkan

respon kandung kencing


Tingktkan
inflamasi)
- Tidak adekuat nutrisi
Berikan
pertahanan
antibiotik bila pe
tubuh primer
Infection Pro
(kulit tidak
(proteksi te
utuh, trauma
infeksi)
jaringan, Monitor tanda
penurunan kerja gejala infeksi si
silia, cairan dan lokal
tubuh statis, Monitor

perubahan granulosit, WBC


Monitor kere
sekresi pH,
terhadap infeksi
perubahan
Batasi pengunju
peristaltik) Saring pengu
- Penyakit kronik
terhadap pe
menular
Partahankan
aspesis pada
yang beresiko
Pertahankan
isolasi k/p
Berikan pera
kuliat pada
epidema
Inspeksi kulit
membran m
terhadap keme
panas, drainase
Ispeksi kondisi
insisi bedah
Dorong mas
nutrisi yang cuk
Dorong ma
cairan
Dorong istirahat
Instruksikan
untuk m
antibiotik sesuai
Ajarkan pasien
keluarga tanda
gejala infeksi
Ajarkan
menghindari inf
Laporkan kecu
infeksi
Laporkan
positif
4. Ansietas NOC : NIC :
Definisi : Anxiety control Anxiety Red
Perasaan gelisah yang tak Coping (penurunan kecemasan)
jelas dari Gunakan pend
Kriteria Hasil :
ketidaknyamanan atau yang menenangk
Klien mampu
ketakutan yang disertai Nyatakan denga
mengidentifikasi dan
respon autonom (sumner harapan te
mengungkapkan gejala
tidak spesifik atau tidak pelaku pasien
cemas Jelaskan
diketahui oleh individu); Mengidentifikasi,
prosedur dan ap
perasaan keprihatinan mengungkapkan dan
dirasakan s
disebabkan dari antisipasi menunjukkan tehnik untuk
prosedur
terhadap bahaya. Sinyal mengontol cemas Temani pasien
ini merupakan peringatan Vital sign dalam batas
memberikan
adanya ancaman yang normal
keamanan
Postur tubuh, ekspresi
akan datang dan
memungkinkan individu wajah, bahasa tubuh dan mengurangi taku
Berikan inf
untuk mengambil langkah tingkat aktivitas
untuk menyetujui terhadap menunjukkan berkurangnya faktual me

tindakan kecemasan diagnosis, tin

Ditandai dengan prognosis


Dorong ke
Gelisah
untuk meneman
Insomnia
Lakukan back
Resah
Ketakutan rub
Sedih Dengarkan d
Fokus pada diri penuh perhatian
Kekhawatiran Identifikasi t
Cemas
kecemasan
Bantu
mengenal situas
menimbulkan
kecemasan
Dorong pasien
mengungkapkan
perasaan, keta
persepsi
Instruksikan
menggunakan
relaksasi
Berikan obat
mengurangi
kecemasan
DAFTAR PUSTAKA
Dochterman, Joanne McCloskey.et al. 2008. Nursing Intervention
Classification Fifth Edition. Missouri : Mosby. Elsevier
Herdman, T. Heather. 2012. Nursing Diagnoses Definition and
Classification 2012-2014. Oxford: Wiley-Blackwell
Mansjoer, A. 2002. Asuhan Keperawatn Maternitas. Jakarta : Salemba
Medika
Muchtar. 2005. Obstetri patologi, Cetakan I. Jakarta : EGC
Moorhead, Sue.et al. 2004. Nursing Outcome Classification (NOC) Fourth
Edition. Missouri : Mosby. Elsevier
Nurarif, A H dan Kusuma H. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC NOC. Jil 2. Ed.
Revisi. Media Action Publishing. Yogyakarta.
Sarwono Prawiroharjo. 2009. Ilmu Kebidanan, Edisi 4 Cetakan II.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-
2006. Jakarta: Prima Medika
Caraspot. 2010. Proses Keperawatan NANDA, NOC &NIC. Yogyakarta :
mocaMedia

LEMBAR PENGESAHAN
Denpasar, Maret 2017

Mengetahui,
Pembimbing CI Mahasiswa

(......................................................) (Putu Epriliani)


NIP. NIM. P07120214010

Mengetahui,
Pembimbing CT

(..................................................................................)
NIP.