Anda di halaman 1dari 40

Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemajuan tekhnologi saat ini, menuntut para pemberi pelayanan kesehatan
agar memberikan pelayanan yang bermutu. Oleh karena itu, dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, peningkatan kualitas pelayanan
merupakan salah satu aspek yang sangat penting. Rumah Sakit Cibitung Medika
sebagai salah satu penyedia pelayanan kesehatan yang mempunyai fungsi rujukan
harus dapat memberikan pelayanan yang profesional dan berkualitas. Sejalan
dengan upaya tersebut, agar Rumah Sakit Cibitung Medika dapat memberikan
pelayanan prima bagi para pasiennya, diperlukan adanya suatu pedoman
pelayanan kesehatan khususnya pelayanan bedah sentral yang dapat digunakan
sebagai acuan dalam setiap tindakan yang dilakukan.
Pelayanan pembedahan di Rumah Sakit Cibitung Medika merupakan salah satu
bagian dari pelayanan kesehatan yang berkembang dengan cepat seiring dengan
peningkatan ilmu pengetahuan dan tekhnologi di bidang bedah. Oleh sebab itu,
dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan pembedahan di Rumah Sakit Cibitung
Medika, disusunlah Pedoman Pelayanan Bedah Sentral Rumah Sakit Cibitung
Medika.

B. Ruang Lingkup
Kegiatan pelayanan bedah sentral dilaksanakan secara terpadu dan
terintegrasi dengan pelayanan lainnya di rumah sakit. Pelayanan bedah sentral
dapat berupa pelayanan rawat jalan atau rawat inap.
Pelayanan instalasi bedah sentral di rumah sakit Cibitung Medika meliputi :
1. Pelayanan persiapan / premedikasi
2. Pelayanan intra operasi
3. Pelayanan pasca operasi
4. Pelayanan pulih sadar / pemulihan
Pelayanan instalasi bedah sentral utamanya terkait dengan pelayanan
kesehatan yang diselenggarakan oleh :
1. Dokter spesialis kelompok bedah ( bedah umum, bedah saraf, bedah mulut,
bedah orthopedi , bedah urologi )
2. Dokter spesialis kebidanan dan kandungan
3. Dokter spesialis THT
4. Dokter spesialis mata
5. Dokter spesialis anestesi

C. Batasan Operasional
1. Instalasi Bedah sentral
Adalah suatu instalasi khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai
tempat untuk melakukan tindakan pembedahan secara elektif maupun cito yang
membutuhkan kondisi steril dan kondisi khusus lainnya.

2. Kamar Operasi

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 1
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

Adalah suatu ruangan khusus di rumah sakit , tempat untuk melakukan


pembedahan baik elektif maupun cito, yang membutuhkan keadaan suci hama
(steril).

3. Area bebas ( Unrestricted Area )


Adalah area dimana petugas dan pasien tidak perlu menggunakan pakaian
khusus kamar operasi.
Area bebas meliputi :
a. Ruang tunggu pasien
b. Ruang ganti baju
c. Ruang konsultasi
d. Ruang administrasi
e. Ruang makan / istirahat
f. Ruang rapat

4. Area Semi Terbatas ( Semi Restricted Area )


Adalah daerah dimana petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar
operasi yang terdiri dari topi, masker, baju dan celana operasi.
Area semi terbatas meliputi :
a. Ruang persiapan / premedikasi
b. Ruang pulih sadar / RR
c. Ruang penyimpanan alat seteril
d. Ruang penyimpanan alat tidak steril
e. Ruang pencucian instrument bekas pakai
f. Ruang sterilisasi

5. Area ketat / terbatas ( Restricted Area )


Pada area ini petugas wajib menggunakan pakaian khusus kamar operasi
lengkap dan melaksanakan prosedur aseptic.
Area ketat meliputi :
a. Ruang cuci tangan
b. Ruang induksi
c. Ruang tindakan pembedahan ( kamar operasi )

6. Ruang pemulihan ( Recovery Room )


Adalah tempat pemulihan pasien dari anestesi / dampak pembedahan
yang berada dekat dengan kamar operasi dan diawasi oleh dokter dan perawat
anestesi.

7. Tekhnik aseptic antiseptic


Adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kontaminasi pada
jaringan atau bahan bahan dengan cara menghambat atau menghancurkan
tumbuhnya organism dalam jaringan.

D.Landasan Hukum
1. PERMENKES RI NOMOR 340 / MENKES / PER / III/ 2010 tentang klasifikasi rumah
sakit
2. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 2
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi sumber daya manusia


Pola ketenagaan dan kualifikasi SDM Instalasi Bedah Sentral adalah :
No. Nama Jabatan Kualifikasi Keterangan
Formal
1. Ka Instalasi Bedah Sentral Dokter Ditetapkan oleh
kelompok bedah Keputusan Direktur
2. Koordinator pelayanan D III Bersertifikat PPGD/ BLS/
bedah / kepala ruang Keperawatan BTCLS dan manajemen
kamar operasi
Pengalaman bekerja di
kamar operasi minimal 3
tahun
Ditetapkan oleh direktur
dengan keputusan
direktur
3. Koordinator CSSD D III Bersertifikat pelatihan
Keperawatan sterilisasi
3. Kepala shift D III Pengalaman bekerja di
Keperawatan kamar operasi minimal 1
tahun
5. Perawat Pelaksana Instalasi D III Bersertifikat PPGD/ BLS/
Bedah Sentral Keperawatan BTCLS
6. Asisten Perawat Instalasi SMU -
Bedah Sentral
7. Administrasi SMU -
8. Perawat pelaksana D III Bersertifikat pelatihan
endoscopy Keperawatan endoscopi
9. Perawat anestesi DIII Keperawatan Bersertifikat PPGD/ BLS/
BTCLS dan pelatihan
perawat anestesi minimal
6 bulan

10. Perawat RR D III Bersertifikat PPGD/ BLS/


Keperawatan BTCLS, mempunyai
kemampuan /
kompetensi yang sama
dgn perawat anestesi

No. Jenis Tenaga Ketersediaan

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 3
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

1. Dokter spesialis
anestesiologi +

2. Dokter PPDS
-
3. Dokter lain
-
4. Perawat anestesi /
+
perawat

B. Distribusi ketenagaan
Pola pengaturan ketenagaan Instalasi Bedah Sentral yaitu :
1. Dinas Pagi :
Petugas yang berdinas sejumlah 6 orang .
Kategori :
1 orang perawat koordinator pelayanan bedah / Karu
1 orang perawat kepala shift
1 orang perawat pelaksana bedah
1 orang perawat anestesi
1 orang asisten perawat
1 orang koordinator cssd atau administrasi

2. Dinas Sore :
Petugas yang berdinas sejumlah 9 orang
Kategori :
1 orang perawat kepala shift
4 orang perawat pelaksana bedah
2 orang perawat anestesi
1 orang asisten perawat
1 orang koordinator cssd atau administrasi

3. Dinas Malam:
Petugas yang berdinas sejumlah 3 orang .
Kategori :
1 orang perawat kepala shift
2 orang perawat pelaksana bedah
1 Orang Asisten Perawat
C. Pengaturan Jaga
1. Pengaturan Jaga Perawat IBS
Pengaturan jadwal dinas perawat IBS dibuat dan di pertanggung
jawabkan oleh Koordinator pelayanan bedah dan disetujui oleh Kepala Bidang
Keperawatan
Jadwal dinas dibuat untuk jangka waktu satu bulan dan
direalisasikan ke perawat pelaksana IBS setiap satu bulan.
Untuk tenaga perawat yang memiliki keperluan penting pada
hari tertentu, maka perawat tersebut dapat mengajukan permintaan dinas
kepada coordinator pelayanan bedah IBS. Permintaan akan disesuaikan

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 4
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

dengan kebutuhan tenaga yang ada (apa bila tenaga cukup dan berimbang
serta tidak mengganggu pelayanan, maka permintaan disetujui).
Setiap tugas jaga / shift harus ada perawat kepala shift dengan
syarat pendidikan minimal D III Keperawatan dan pengalaman di kamar
operasi minimal 1 tahun
Jadwal dinas meliputi jadwal untuk perawat pelaksana bedah,
perawat anestesi, asper, petugas cssd dan adminitrasi terbagi atas dinas pagi,
dinas sore, dinas malam, lepas malam, libur , cuti dan jadwal oncall.
Apabila ada tenaga perawat jaga karena sesuatu hal sehingga
tidak dapat jaga sesuai jadwal yang telah ditetapkan ( terencana ), maka
perawat yang bersangkutan harus memberitahu Koordinator pelayanan
bedah : 2 jam sebelum dinas pagi, 4 jam sebelum dinas sore atau dinas
malam. Sebelum memberitahu Koordinator pelayanan bedah, diharapkan
perawat yang bersangkutan sudah mencari perawat pengganti, Apabila
perawat yang bersangkutan tidak mendapatkan perawat pengganti, maka
Koordinator pelayanan bedah akan mencari tenaga perawat pengganti yaitu
perawat yang hari itu libur. Apabila perawat pengganti tidak di dapatkan,
maka perawat yang dinas pada shift sebelumnya wajib untuk menggantikan.
(Prosedur pengaturan jadwal dinas perawat IBS sesuai SOP terlampir).

2. Pengaturan Jaga Dokter Konsulen kelompok Bedah dan Anestesi


Pengaturan jadwal dokter Konsulen kelompok Bedah dan Anestesi menjadi
tanggung jawab kepala bidang pelayanan medis
Jadwal jaga dokter konsulen dibuat untuk jangka waktu 1 bulan serta sudah
diedarkan ke unit terkait dan dokter konsulen bedah dan anestesi yang
bersangkutan 1 minggu sebelum jaga di mulai.
Apabila dokter konsulen jaga karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga
sesuai dengan jadwal yang telah di tetapkan maka :
- Untuk yang terencana, dokter yang bersangkutan harus menginformasikan
ke bidang pelayanan medis atau ke petugas sekretariat paling lambat 3
hari sebelum tanggal jaga, serta dokter tersebut wajib menunjuk dokter
jaga konsulen pengganti.
- Untuk yang tidak terencana, dokter yang bersangkutan harus
menginformasikan ke bidang pelayanan medis atau ke petugas sekretariat
dan di harapkan dokter tersebut sudah menunjuk dokter jaga konsulen
pengganti, apabila dokter jaga pengganti tidak didapatkan, maka kepala
bidang Pelayanan medis wajib untuk mencarikan dokter jaga konsulen
pengganti.( Prosedur pengaturan jadwal jaga dokter konsulen sesuai SOP
terlampir).

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 5
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

BAB III
STANDAR FASILITAS
A. Denah ruang
Terlampir

B. Standar fasilitas
IBS RS Cibitung Medika berlokasi di lantai I dan lantai II, yang terdiri dari :
1. 5 ruang operasi, tiap ruang operasi mempunyai peralatan sebagai berikut :
- meja operasi / operation table ( 1 buah )
- set lampu operasi (operation lamp), terdiri dari lampu utama dan lampu
satelit ( 1 buah)
- mesin anestesi ( 1 buah)
- suction (1buah)
- meja mayo (1 buah)
- standar infuse (1 buah)
- monitor ( 1 buah)
- mesin elektro cauter (1 buah)
- meja instrument ( 1 buah )
- standard an Waskom ( 1 buah )
- film viewer (1 buah )
- kursi putar ( 1 buah)
- Tempat sampah klinis
- Tempat linen kotor
2. Ruang pendaftaran / administrasi
- papan jadwal operasi
- alat komunikasi
- kursi dan meja kerja
- computer
- papan pengumuman
3. Ruang tunggu pengantar
- kursi
- tempat sampah bertutup
4. Ruang ganti baju petugas
- lemari pakaian
- locker
- ember bertutup tempat pakaian kotor
- tempat sampah bertutup
5. Ruang istirahat
- kursi tamu / sofa
- kursi dan meja makan
- tempat sampah bertutup
- wastafel
- peralatan makan dan minum
6. Ruang persiapan pasien
- brancard / kereta dorong
- standar infuse
- thermometer
- tensimeter
- stetoscop
- pispot / urinal
- rak baju pasien
7. Ruang pemulihan
- emergency trolley
- tabung oksigen / oksigen sentral
- suction pump

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 6
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

- DC shock
- Tensimeter
- Stetoskop
- Thermometer
- Brancard / tempat tidur
- Alat komunikasi / telepon
- Formulir observasi

8. scrub station / ruang cuci tangan


- tempat cuci tangan , kran air
- tempat untuk sikat
- desinfektan
- sikat dari bahan termoplastik
- pembersih kuku

9. Peralatan dalam set Instrumen dasar


Set instrument dasar terdiri dari :
No Instrument Jumlah
1 Scapel n0 3 1
2 Scapel no.4 1
3 Pinset anatomis 2
4 Pinset cirurgis 2
5 Naild holder 2
6 Gunting jaringan 2
7 Gunting benang 2
8 Pean klem 10
9 Kocher 4
1 Langenbeg
2
0
1 Kom
2
1
1 Panser klem
4
2
1 Bengkok
2
3
1 Selang suction
1
4
1 Duk klem
6
5

10.Peralatan anestesi , meliputi :


1. Mesin anestesi yang mempunyai anti
hipoksik device dengan circle system
+
dengan O2 dan N2O, dan udara tekan (air),
dengan vaporizer untuk volatile agent
2. Set anestesia pediatrik +
3. Ventilator yang digerakkan dengan O2 +

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 7
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

tekan atau udara tekan, ventilator ini


harus dapat dihubungkan dengan mesin
anestesi
4. Nasopharingeal airway ukuran dewasa (semua
ukuran), Oropharingeal airway, Resusitasi set, +
Defribilator unit, sarana krikotirotomi
5. Laringoskop dewasa dengan daun lengkang
+
ukuran 1-4, bougie dan LMA
6. Laringoskop bayi +
7. Konektor dari pipa oro dan nasotrakeal
+
dengan mesin anesthesi
8. Pipa trakea oral/nasal dengan cuff (plain
endotraeheal tube) no. 2 , 3, 3 , 4, 4 , +
5
9. Pipa trakea spiral no. 5, 5 , 6, 6 , 7, 7 ,
+
8, 8 , 9, 9
1 Pipa orotrakea dengan cuff (cuff orotracheal
+
0. tube) no. 5 , 6, 6 , 7, 7 , 8, 8 , 9, 9
1 Pipa nasotrakea dengan cuff no. 5 , 6, 6
+
1. , 7, 7 , 8, 8 , 9
1 Magill forceps ukuran dewasa
+
2.
1 Magill forceps ukuran anak
+
3.
1 Stetoskop
+
4.
1 Tensimeter non invansif
+
5.
1 Timbangan berat badan
+
6.
1 Termometer
+
7.
1 Infusion standard
+
8.
1 Sikat pembesih pipa trakea, ukuran kecil
+
9. dan besar
2 Pulse oxymeter sederhana
+
0.
2 EKG
+
1.
2 Perlengkapan anastesia regional
+
2.
2 Suction pump
+
3.
2 Medicine Cabinet +

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 8
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

4.
2 Double bowel stand
+
5.
2 Patient troley
+
6.
2 Scrub up
+
7.
2 Medicine troley
+
8.
2 Resuctation Set
+
9.
3 Intubation Set
+
0.
3 Oxygen concentrate
+/-
1.
3 Defibrilator with monitor
+/-
2.
3 Ventilator
-
3.
3 Respirator
-
4.
3 CVP Set
-
5.
3 Monitor EKG
-
6.
3 Tabung N2O
+
7.
3 ICU Bed
-
8.
3 Examination Lamp
-
9.
4 Mobile sphygmomanometer
-
0.
4 Oxygen apparatus + flowmeter
-
1.
4 Alat Trakeatomi set
-
2.
4 Bronkoskop pipa kaku (segala ukuran)
-
3.
4 Bronkoskop serat optik fleksibel (segala
-
4. macam ukuran)
4 Unit kantong terisi sendiri katup sungkup
+
5. (segala macam ukuran)
4 Ventilator oksigen picu tangan
-
6.

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 9
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

4 Sungkup muka
+
7.
4 Sistem pemberian oksigen portable
-
8.
4 Tourniquet
+
9.
5 Celana anti segala
-
0.
5 Elektrokardioskop
-
1.
5 AC/DC Defibrilator dengan pedal dada
-
2. dewasa, anak dan bayi
5 Alat inhalasi N2O dan O2
-
3.
5 Jarum akupuntur
-
4.
5 Troli Resusitasi bayi
-
5.
5 Spirometri
-
6.
5 Alat pompa infus
+
7.
5 Mesin anestesi dengan N2O, dilengkapi
-
8. dengan ventilator
5 Sirkuit bisa untuk dewasa, anak dan bayi
-
9.
6 Alat monitoring gas anestesi
-
0.
6 O2 + gas-gas medik
+
1.
6 EKG monitor AC-DC single channel
-
2.
6 Pemantauan O2 dan CO2 (kapnograf)
-
3.
6 Alat pemantauan frekuensi napas dengan
-
4. alarm
6 Stetokosp nadi
-
5.
6 CVP perifer
-
6.
6 Ultrasonic Nebulizer
-
7.
6 Alat-alat terapi oksigen
-
8.
6 Anestesia blok syaraf -

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 10
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

9.
7 Anestesia blok intravena
-
0.
7 Anestesia subarachnoid
-
1.
7 Anestesia peridural
-
2.
7 Ultrasonografi
3.
7 Difficult Airway device seperti video
-
4. laryngoskop, lightwand, LMA C Trach
7 Alat penghangat pasien (blanket roll)
-
5.
7 Alat pantau kesadaran seperti BIS
monitor/Entropy/Index of Conciousness -
6.
7 Alat pemanas infus
+
7.
7 Syringe pump
-
8.
7 Alat Target Control Infusion
-
9.

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. ALUR PELAYANAN INSTALASI BEDAH SENTRAL

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 11
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

Alur pelayanan Instalasi BEdah Sentral meliputi pelayanan pembedahan. Pasien


yang membutuhkan pelayanan bedah di Rumah Sakit Cibitung Medika dapat
berasal dari : instalasi gawat darurat, instalasi rawat jalan dan instalasi rawat inap
termasuk ruang rawat intensif.

Pasien rencana operasi

UGD RAWAT
JALAN

CIT ELEKT

O IF
RAWAT INAP /

INTENSIF

IBS
PELAYANAN BEDAH
1. TATA LAKSANA ASSESMENT PRA BEDAH
Petugas Penanggung Jawab
- Dokter operator
Perangkat Kerja
- Status Medis ( lembar CPPT)

Tata Laksana assessment pra bedah :


1. Ucapkan salam kepada pasien dan keluarga pasien Selamat
Pagi/siang/malam)
2. Pastikan identitas pasien
3. Dokter melakukan pengkajian pra bedah terhadap pasien dengan
menggunakan form CPPT
4. Kaji riwayat subjektif pasien:
a. Asesmen berfokus pada keluhan utama
b. telusuri riwayat penyakit sekarang (onset, pemicu, kualitas,
penjalaran nyeri, derajat keparahan, durasi)
c. Telusuri riwayat penyakit dahulu seperti riwayat operasi, dll
d. Telusuri riwayat penyakit keluarga seperti riwayat alergi, riwayat
penyakit menular, riwayat penyakit keturunan (hipertensi, DM).
5. Kaji kondisi objektif pasien yang terkait penyakitnya melalui
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan.
Pemeriksaan fisik meliputi:
a. Nilai tanda vital (nadi, tekanan darah, pernafasan, suhu)
b. Pemeriksaan fisik yang spesifik mengarah ke diagnosis awal pra
bedah
6. Tegakkan diagnosa awal pra bedah
7. Buat rencana terapi dan tindakan pembedahan serta rencana
konsultasi dengan spesialisasi lain bila dibutuhkan.

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 12
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

8. Berikan informasi dan edukasi kepada pasien dan atau keluarga


pasien tentang penyakit dan rencana tindakan pembedahan
9. Dokumentasikan seluruh hasil pemeriksaan dalam formulir CPPT
10.Apabila pasien memerlukan operasi cito, dikoordinasikan dengan
instalasi bedah sentral segera.
11.Apabila pasien memerlukan perawatan / tindakan pembedahan
yang tidak dapat dilakukan di Rumah Sakit maka akan dilakukan
rujukan ke rumah sakit yang memiliki dokter yang lebih kompeten
dan peralatan medis yang lebih kompeten.

2. TATA LAKSANA INFORMED CONSENT BEDAH


Petugas Penanggung Jawab
- Dokter operator
Perangkat Kerja
- Status Medis
- Formulir persetujuan / penolakan tindakan
Tata Laksana informed consent bedah
1. Kunjungi / visite ke ruang perawatan pasien yang sudah direncanakan
operasi atau yang akan dilakukan tindakan pembedahan.
2. Mengucapkan salam. selamat pagi / siang / malam
3. Pastikan identitas pasien
4. Ciptakan suasana yang nyaman dan hindari tampak lelah
5. Jelaskan kepada pasien dan atau keluarganya mengenai diagnosis,
tindakan operasi yang akan dilakukan, tata cara tindakan, tujuan , resiko
dan komplikasi tindakan operasi yang mungkin terjadi, serta prognosis.
6. Lakukan verifikasi kepada pasien dan atau keluarga bahwa mereka telah
memahami materi yang disampaikan
7. Berikan kesempatan kepada pasien maupun keluarganya mengenai hal
yang kurang dimengerti
8. Beri kesempatan pasien dan atau keluarga untuk berunding sebelum
memberi keputusan
9. Buat pernyataan persetujuan / penolakan pasien atau keluarganya
mengenai tindakan anestesi yang akan dilakukan.
10.Tulis nama jelas dan tanda tangan pada kolom yang telah disediakan pada
formulir persetujuan/penolakan tindakan operasi meliputi : pasien /
keluarga pasien, saksi pasien / keluarga pasien, Dokter bedah / operator,
saksi dari Rumah Sakit (perawat/bidan)

3. TATA LAKSANA PENANDAAN LOKASI OPERASI


Petugas Penanggung Jawab
- Dokter operator
Perangkat Kerja
- Status Medis
- Formulir penandaan lokasi operasi
Tata Laksana penandaan lokasi Operasi
1. Ucapkan salam, Assalamualaikum, selamat pagi / siang / sore bapak /
ibu, perkenalkan diri, Saya.. (nama), jelaskan profesi / unit kerja
2. Jelaskan tugas yang akan dilakukan

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 13
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

3. Pastikan identitas pasien pada gelang pasien , tanyakan nama , dan


nomor rekam medis
4. Jelaskan materi tentang penandaan lokasi operasi pada pasien dan atau
keluarga pasien
5. Berikan tanda lokasi operasi dengan tanda yang tidak mudah luntur dan
mudah dikenali dengan melibatkan pasien saat dilakukan penandaan
lokasi operasi tersebut (menggunakan spidol marker, bentuk tanda panah
ke arah area operasi )
6. Lakukan verifikasi pada pasien dan atau keluarga bahwa mereka telah
memahami dan mengetahui lokasi yang akan dioperasi. Pasien dan atau
keluarga menandatangani pada form yang tersedia.
7. Ucapkan terima kasih dan semoga semuanya dapat berjalan dengan baik.

4. TATA LAKSANA PENJADWALAN PASIEN OPERASI


Petugas Penanggung Jawab
- Perawat IBS
- Petugas Administrasi IBS
Perangkat Kerja
- Status Medis
- Formulir permintaan pemakaian kamar operasi
Tata Laksana Penjadwalan Pasien Operasi
1. Pasien yang direncanakan untuk operasi di IBS harus sudah dilengkapi
dengan pemeriksaan pemeriksaan yang diperlukan sesuai dengan
standar SMF bersangkutan dan SMF anestesi.
2. Permintaan pemakaian kamar operasi dari instalasi rawat inap, IGD,
poliklinik atau instalasi intensif disampaikan kepada perawat atau
administrasi IBS dengan menggunakan formulir permintaan pemakaian
kamar operasi yang mencantumkan : nama pasien, umur, jenis kelamin,
no.RM, diagnosis, rencana tindakan operasi dan rencana pembiusan ,
nama dokter operator, dokter anestesi dan waktu operasi yang
diinginkan serta menuliskan elektif atau cito pada sudut kanan atas
formulir, kemudian formulir tersebut ditandatangani oleh kepala shift
ruangan asal pasien operasi.
3. Formulir permintaan tersebut harus diserahkan kepada perawat /
administrasi IBS oleh perawat ruangan asal pasien 6 jam sebelum
jadwal operasi yang diminta ( operasi elektif ) dan 1 jam sebelumnya
atau per telepon ( operasi cito). Formulir tersebut diserahkan kepada
IBS setelah semua persyaratan operasi terpenuhi, meliputi : persetujuan
operasi dari pasien / keluarga pasien, persetujuan/acc untuk tindakan
operasi dari dokter anestesi serta persetujuan operasi dari bagian
administrasi RS.
4. Berdasarkan formulir permintaan tersebut, perawat IBS memeriksa
jadwal operasi apakah waktu yang diminta tersedia atau tidak. Jadwal

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 14
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

operasi mencakup : kamar operasi, waktu pelaksanaan operasi, nama


dokter operator dan anestesi, asisten operasi, perawat instrumen,
perawat sirkuler / onloop dan perawat anestesi.
5. Bila jadwal operasi elektif tidak bisa ditentukan sesuai dengan
permintaan , maka perawat IBS menghubungi dokter operator dan
anetesi yang bersangkutan untuk menentukan jadwal operasi kembali
sesuai dengan ketersediaan kamar operasi. Untuk rencana operasi cito,
bila kamar operasi tidak tersedia, perawat IBS menghubungi operator
(dengan rencana operasi elektif) pada jadwal operasi cito yang diminta
agar dapat menggeser jadwal operasi elektifnya setelah operasi cito
dilaksanakan.
6. Berdasarkan jadwal operasi yang ditentukan, perawat / administrasi IBS
menuliskan dan menandatangani jadwal operasi yang ditentukan pada
formulir permintaan pemakaian kamar operasi serta mencatat pada
papan tulis di ruang IBS kemudian menghubungi kepala ruangan atau
kepala shift ruangan asal pasien untuk konfirmasi jadwal operasi yang
ditetapkan. Perawat / administrasi IBS mencatat waktu dan nama
perawat ruangan yang menerima konfirmasi pada kolom konfirmasi di
formulir permintaan pemakaian kamar operasi.
7. Satu jam sebelum rencana operasi : Perawat / administrasi IBS
menghubungi dokter operator dan anestesi untuk mengingatkan dan
memastikan bahwa operasi telah disiapkan sesuai dengan rencana,
Perawat IBS mengecek fasilitas dan menyiapkan kamar operasi yang
akan digunakan kemudian memanggil pasien operasi di ruangan asal
pasien melalui telepon.
8. Jika dalam waktu 30menit setelah pemanggilan pasien operasi belum
juga datang ke IBS, maka pemanggilan diulang kembali dan
menanyakan alasan keterlambatan. Bila hingga tiga kali pemanggilan
pasien belum tiba tanpa alasan yang jelas, perawat IBS atau staf
administrasi IBS melaporkan kepada supervisor yang berdinas untuk
mengecek alasan keterlambatan tersebut.

5. TATA LAKSANA PENERIMAAN PASIEN PRE OPERASI


I. Petugas Penanggung Jawab
- Perawat bedah (asisten operator)
- Perawat anestesi
II. Perangkat Kerja
- Status medis pasien
III. Tata Laksana penerimaan pasien pre operasi
Pasien pra bedah dibawa ke IBS kemudian diserahterimakan kepada
petugas IBS

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 15
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

Serah terima meliputi kelengkapan administrasi dan persiapan


pasien yang sudah dilakukan ( menggunakan lembar ceklist
persiapan operasi)
Pasien pra bedah harus sudah tiba jam sebelum operasi dengan
memakai baju pasien
Bila persyaratan operasi tidak lengkap atau dinilai tidak memenuhi
syarat oleh dokter anestesi, operasi dapat ditunda / dibatalkan
dengan persetujuan dokter operator

6. TATA LAKSANA SIGN IN


I. Petugas Penanggung Jawab
- Perawat bedah (asisten operator)
- Perawat anestesi

II. Perangkat Kerja


- Lembar ceklist dan penilaian pasien perioperatif
III. Tata laksana sign in
1. Tanyakan kembali kepada pasien : nama / identitas pasien , pastikan
identitas pasien sesuai dengan yang tertulis pada gelang identitas
pasien.
2. Cek apakah lokasi operasi sudah ditandai dengan permanen/marker
3. Tanyakan atau libatkan pasien untuk verifikasi kebenaran lokasi operasi
bila pasien dalam keadaan sadar atau memastikan lokasi operasi
berdasarkan rekam medis dan hasil pemeriksaan penunjang pasien
( misalnya hasil rontgen, ct sacn, MRI, dll).
4. Tanyakan kepada pasien (bila pasien sadar), pastikan pasien telah
diinformasikan sebelumnya dan mengerti tentang rencana tindakan
pembedahan yang akan dilakukan.
5. Pastikan bahwa pasien atau keluarganya telah menandatangani surat
persetujuan operasi / informed consent
6. Cek apakah peralatan anestesi , obat-obatan serta alkes anestesi
sudah disiapkan
7. Cek pulse oxymetri, apakah sudah terpasang pada pasien dan
berfungsi dengan baik
8. Tanyakan kepada pasien , apakah pasien memiliki riwayat alergi
9. Cek keadaan dan fungsi alat bantu pernafasan dan suction terutama
bila pasien memiliki kemungkinan terjadinya gangguan pada jalan
nafas dan aspirasi
10. Cek pemasangan akses intra vena (infuse) serta ketersediaan cairan
atau darah terutama bila pasien memiliki resiko kehilangan darah yang
banyak.
11. Tuliskan waktu dan tanda tangan pada sign in

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 16
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

7. TATA LAKSANA TIME OUT


Petugas Penanggung Jawab
- Perawat sirkuler
Perangkat Kerja
- Lembar ceklist dan penilaian pasien perioperatif
Tata laksana time out :
1. Pastikan tim operasi sudah lengkap,
2. Perawat sirkuler / coordinator ceklist meminta semua anggota tim
untuk memperkenalkan diri dan perannya masing- masing
3. Tanyakan kepada dokter operator, dokter anestesi serta perawat
anggota tim operasi untuk memastikan apakah nama pasien, rencana
tindakan yang akan dilakukan serta area / lokasi operasi sudah benar
4. Tanyakan kepada operator :
Apakah ada kemungkinan terjadi kejadian kritis / yang tidak
diharapkan
Berapa lama tindakan operasi akan berlangsung
Bagaimana persiapan untuk antisipasi kehilangan darah
Apakah ada antibiotic yang diberikan dalam 1 jam sebelum
operasi
Apakah ada hasil rontgen yang perlu ditampilkan
5. Tanyakan kepada dokter anestesi :
Apakah ada hal hal khusus yang harus diperhatikan
6. Tanyakan kepada perawat :
Apakah instrument yang akan digunakan telah benar benar
steril
Apakah alat alat bedah yang digunakan berfungsi dengan baik
Pastikan foto rontgen, ct scan /MRI telah ditayangkan dan posisi
foto tidak terbalik
7. Tuliskan waktu dan tanda tangan pada time out
8. Bila dalam proses time out belum sempurna, anggota tim operasi
dapat menghentikan prosedur itu. Semua anggota tim mempunyai
tanggung jawab untuk bicara jika mereka mempunyai informasi yang
dapat mempengaruhi keselamatan pasien. Prosedur belum dapat
dimulai bila masalah belum terpecahkan

8. TATA LAKSANA SIGN OUT


Petugas Penanggung Jawab
- Perawat sirkuler
Perangkat Kerja
- Lembar ceklist dan penilaian pasien perioperatif
Tata laksana sign out
1. Tanyakan kepada tim operasi :
Apa nama prosedur operasi yang baru saja dilaksanakan
Apakah perhitungan jumlah instrument, kassa dan jarum yang
terpakai telah sesuai
Apakah specimen / sample jaringan telah diberi label idetitas pasien

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 17
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

Apakah ada permasalahan pada peralatan yang perlu dilaporkan


2. Mintalah Dokter operator, dokter anestesi serta perawat tim operasi untuk
menjelaskan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan saat di ruang
recovery serta perawatan yang harus dilakukan selama masa pasca
bedah.
3. Tuliskan waktu dan tanda tangan pada sign out

9. TATA LAKSANA PEMBUATAN LAPORAN OPERASI


Petugas Penanggung Jawab
- Dokter operator
Perangkat Kerja
- Status medis pasien (laporan operasi )
Tata laksana pembuatan laporan operasi :
1. Dokter bedah menuliskan pada form laporan operasi pada kolom yang
tersedia, meliputi :
- Diagnosis pasca operasi
- Nama prosedur operasi yang dilakukan
- Uraian singkat tentang tindakan operasi yang dilakukan
- Catatan spesifik ada atau tidaknya komplikasi selama tindakan operasi
termasuk Jumlah kehilangan darah
- Specimen bedah untuk pemeriksaan
- Tuliskan nama dan tanda tangan
2. Asisten operasi mengisi :
- Identitas pasien operasi
- Nama operator dan asisten bedah
- Nama dokter anestesi dan perawat anestesi
- Tanggal dan waktu operasi (jam mulai, jam selesai dan lamanya operasi)

10. TATA LAKSANA PENYERAHAN PASIEN OPERASI


Petugas Penanggung Jawab
- Perawat bedah (asisten operator)
- Perawat anestesi
Perangkat Kerja
- Status medis pasien (formulir serah terima pasien post operasi )
Tata laksana penyerahan pasien post operasi
Pasien post operasi diserahterimakan oleh perawat anestesi di ruang
RR kepada perawat rawat inap / intensif setelah memenuhi syarat
medis dan mendapat persetujuan dari dokter spesialis anestesi
Serah terima meliputi status pasien dan kelengkapannya , laporan
operasi , laporan anestesi, termasuk didalamnya instruksi pasca
operasi dari dokter bedah dan dokter anestesi serta penjelasan
tentang hal hal penting / asuhan keperawatan yang perlu
diperhatikan.
Pasien pasca bedah yang masuk ke ruang perawatan intensif, harus
diantar oleh dokter anestesi atau perawat anestesi.

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 18
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

BAB V
LOGISTIK

A. Permintaan
1. Permintaan asset baru harus disertai dengan analisa kebutuhan
2. Instalasi kerja wajib menetapkan stok minimal atas barang yang bersifat
stok
3. Persetujuan pengajuan barang dan jasa diajukan oleh masing-masing
instalasi yang membutuhkan dengan persetujuan Kepala Instalasi dan
atau Kepala Bagian / Bidang.

B. Pengadaan
Pengadaan barang-barang instalasi Bedah Sentral dilakukan melalui
pengajuan ke bagian logistic (pengadaan barang) sesuai dengan
kebutuhan instalasi. Permintaan di buat dalam lembar
permintaan/pengadaan barang, yang nantinya akan diproses oleh bagian
logistik dalam jangka waktu tertentu.

C. Distribusi & Penerimaan Barang & Alat


Distribusi Barang & alat dilakukan oleh bagian logistic ke instalasi
bedah sentral setelah barang tersedia. Sebelum dilakukan serah terima,
barang atau alat di periksa terlebih dahulu oleh pihak logistic maupun
instalasi bedah sentral sebagai penerima. Jika telah sesuai, maka
dilakukan penandatanganan berkas serah terima barang atau alat yang
kemudian akan menjadi tanggung jawab instalasi bedah sentral.

D. Maintenance
Maintenance alat dilakukan secara berkala, termasuk kegiatan kalibrasi
alat IBS.

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 19
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN INSTALASI BEDAH SENTRAL

Dalam rangka upaya peningkatan keselamatan pasien di Rumah Sakit Cibitung


Medika pada umumnya dan di Instalasi Bedah Sentral pada khususnya yang lebih
efektif dan efisien maka diperlukan adanya konsep dasar upaya peningkatan
keselamatan pasien.

A. Keselamatan Pasien Instalasi Bedah Sentral


1. Pengertian Keselamatan Pasien
Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit adalah suatu sistem dimana
rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut
meliputi : assessmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan
dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari
insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan
timbulnya risiko, Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera
yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak
melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan.
2. Tujuan Keselamatan Pasien
a. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
b. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat
c. Menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di rumah sakit
d. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan kejadian tidak diharapkan.
3. Sasaran Keselamatan Pasien
a. Terdapat enam sasaran keselamatan pasien RS, yaitu :
b. Sasaran I : Ketepatan identifikasi pasien
c. Sasaran II : Peningkatan Komunikasi yang efektif
d. Sasaran III : Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (high-
alert)
e. Sasaran IV : Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi
f. Sasaran V : Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
g. Sasaran VI : Pengurangan risiko pasien jatuh

4. Standar Keselamatan Pasien Instalasi Bedah Sentral


Program keselamatan pasien di Rumah Sakit Cibitung Medika sesuai dengan 7
standar keselamatan pasien yang mengacu pada Hospital Patient Safety
Standards yang dikeluarkan oleh Joint Commision on Accreditation of Health
Organization, Illinois, USA, tahun 2002, yang disesuaikan dengan situasi dan
kondisi perumahsakitan di Indonesia.
Tujuh Standar Keselamatan Pasien tersebut, meliputi :
a. Standar I. Hak pasien
Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi
tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya
Kejadian Tidak Diharapkan.

b. Standar II. Mendidik pasien dan keluarga

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 20
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

Petugas rehabilitasi medik harus mendidik pasien dan keluarganya tentang


kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.

c. Standar III. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan


Rumah sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin
koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan.
d. Standar IV. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk
melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
Rumah sakit mendesign proses baru atau memperbaiki proses yang ada,
memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisa
secara intensif Kejadian Tidak Diharapkan, dan melakukan perubahan untuk
meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.

e. Standar V. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan


pasien
- Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan
pasien secara terintegrasi dalam organisasi melalui penerapan Tujuh
Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
- Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi
risiko keselamatan pasien dan program menekan atau mengurangi
Kejadian Tidak Diharapkan.
- Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar
unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang
keselamatan pasien.
- Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk mengukur,
mengkaji, dan meningkatkan kinerja rumah sakit serta meningkatkan
keselamatan pasien.
- Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam
meningkatkan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien.

f. Standar VI. Mendidik Staf tentang Keselamatan Pasien


Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk
setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien
secara jelas.
Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan berkelanjutan
untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta mendukung
pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien.

g. Standar VII. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai


keselamatan pasien
Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi
keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan
eksternal.
Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 21
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

5. Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien


Uraian Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit adalah
sebagai berikut :
a. Bangun Kesadaran Akan Nilai Keselamatan Pasien
Ciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil
b. Pimpin dan Dukung Staf dibawah
Bangunlah komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang Keselamatan
Pasien di seluruh jajaran RS Cibitung Medika.
c. Integrasikan Aktivitas Pengelolaan Risiko
Kembangkan sistem dan proses pengelolaan risiko, serta lakukan
identifikasi dan asesmen hal yang potensial bermasalah.
d. Kembangkan Sistem Pelaporan
Pastikan staf anda agar dengan mudah dapat melaporkan
kejadian/insiden, serta rumah sakit mengatur pelaporan kepada Komite
Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS).
e. Libatkan dan Berkomunikasi Dengan Pasien
Kembangkan cara-cara komunikasi yang terbuka dengan pasien
f. Belajar dan Berbagi Pengalaman Tentang Keselamatan Pasien
Seluruh staf harus mampu untuk melakukan analisis akar masalah untuk
belajar bagaimana dan mengapa KTD itu timbul.
g. Cegah Cedera Melalui Implementasi Sistem Keselamatan Pasien
Gunakan informasi yang ada tentang kejadian/masalah untuk melakukan
perubahan pada sistem pelayanan.

6. Peran Instalasi Bedah Sentral


Instalasi Bedah Sentral mengupayakan beberapa kegiatan untuk
mengendalikan keselamatan pasien, yaitu meliputi :
a. Perhatikan Nama Obat, rupa dan ucapan mirip
b. Pastikan identifikasi pasien
c. Komunikasi secara benar saat serah terima surat rujukan/pengoperan pasien
d. Pastikan diagnosa atau permasalahan di kamar operasi
e. Pastikan modalitas terapi yang akan diberikan tepat
f. Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar
g. Pastikan dosis toleransi pada pemberian terapi pembedahan dan anestesi
h. Evaluasi selalu proses intervensi terapi yang dilakukan
i. Tingkatkan kebersihan tangan (hand hygiene) untuk pencegahan infeksi
nosokomial.
j. Pakai alat pelindung diri jika perlu

B. Sistem Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien Instalasi Bedah Sentral


1. Definisi Insiden Keselamatan Pasien / Patient Safety
Adalah setiap kejadian yang tidak disengaja atau tidak diharapkan (KTD),
kejadian nyaris cidera (Near miss), kejadian sentinel, maupun keadaan yang
dapat mengakibatkan atau berpotensi menimbulkan cedera pada pasien.
a. Tidak Diharapkan (KTD)/Adverse Event
adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan yang mengakibatkan cedera
akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil, dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi pasien.
Cedera dapat disebabkan oleh kesalahan medis atau bukan kesalahan medis
karena tidak dapat dicegah.

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 22
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

b. Kejadian Nyaris Cedera (KNC)/Near Miss


Adalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan (comission)
atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission), yang
dapat mencederai pasien tetapi cedera serius tidak terjadi karena:
- faktor keberuntungan, misal pasien menerima suatu obat kontra indikasi
tetapi tidak Tim bul reaksi obat, atau
- pencegahan, misal suatu obat dengan lethal dose akan diberikan tetapi
staf lain mengetahui dan membatalkannya sebelum obat diberikan, atau
- peringanan, misal suatu obat dengan lethal dose telah diberikan kepada
pasien namun segera diketahui lalu diberikan antidote-nya.

c. Kejadian Sentinel/Sentinel Event


Adalah suatu KTD yang mengakibatkan cedera yang serius. Biasanya
dipakai untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat
diterima, seperti terapi pada bagian tubuh yang salah.

d. Kesalahan Medis/Medical Error


Adalah kesalahan yang terjadi dalam proses intervensi terapi rehabilitasi
medik yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada
pasien. Kesalahan termasuk gagal melaksanakan sepenuhnya suatu rencana
atau menggunakan rencana yang salah untuk mencapai tujuannya. Dapat
sebagai akibat melaksanakan suatu tindakan (comission) atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission).

e. Analisis Akar Masalah/Root Cause Analysis


Adalah suatu proses investigasi terstruktur untuk mengidentifikasi faktor
penyebab atau faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya penyimpangan
kinerja, termasuk KTD, serta untuk menentukan tindakan agar kejadian yang
sama tidak terulang kembali.

f. Manajemen Risiko/Risk Management,


Dalam hubungannya dengan operasional rumah sakit, manajemen risiko
dikaitkan dengan aktivitas perlindungan diri yang berarti mencegah ancaman
yang nyata atau berpotensi nyata terhadap kerugian keuangan akibat
kecelakaan, cedera atau malpraktik terapi rehabilitasi medik.. Manajemen
risiko dimaksudkan agar pelayanan kesehatan yang diberikan aman (health
care safer) dan hasil pelayanan memuaskan (good outcome).

2. Alur Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien


a. Apabila terjadi suatu insiden (KNC/KTD) di RS Mitra Plumbon, wajib segera
ditindak lanjuti (dicegah/ditangani) untuk mengurangi dampak/akibat yang
tidak diharapkan.

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 23
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

b. Setelah ditindaklanjuti, segera buat laporan insidennya dengan mengisi


Formulir Laporan Insiden pada akhir jam kerja/shift kepada Atasan langsung
(paling lambat 2 x 24 jam); jangan menunda laporan.
c. Setelah selesai mengisi pelaporan, segera serahkan kepada atasan langsung
pelapor.
d. Atasan langsung akan memeriksa laporan dan melakukan grading risiko
terhadap insiden yang dilaporkan.
e. Hasil grading akan menentukan bentuk investigasi dan analisa yang akan
dilakukan sebagai berikut:
f. Grade biru
Investigasi sederhana oleh atasan langsung, waktu maksimal 1 minggu.
g. Grade hijau
Investigasi sederhana oleh atasan langsung, waktu maksimal 2 minggu.
h. Grade Kuning
Investigasi komprehensif/analisis akar masalah/RCA oleh Tim KPRS RS
Cibitung Medika, waktu maksimal 45 hari.
i. Grade merah
Investigasi komprehensif/analisis akar masalah/RCA oleh Tim KPRS RS
Cibitung Medika, waktu maksimal 45 hari.
j. Setelah selesai melakukan investigasi sederhana, laporan hasil investigasi
dan laporan insiden dilaporkan ke Tim KPRS RS Cibitung Medika.
k. Tim KPRS RS Cibitung Medika akan menganilisis kembali hasil investigasi dan
laporan insiden untuk menentukan apakah perlu dilakukan investigasi
lanjutan (RCA) dengan melakukan Regrading
l. Untuk grade kuning/merah, Tim KPRS RS Cibitung Medika akan melakukan
analisis akar masalah/Root Cause Analysis (RCA).
m. Setelah melakukan RCA, Tim KPRS RS Cibitung Medika akan membuat
laporan dan rekomendasi untuk perbaikan serta pembelajaran berupa:
petunjuk/safety alert untuk mencegah kejadian yang sama terulang
kembali.
n. Hasil RCA, rekomendasi dan rencana kerja dilaporkan kepada direksi.
o. Rekomendasi untuk Perbaikan & Pembelajaran diberikan umpan balik
kepada instalasi rehabilitasi medik (unit kerja terkait).
p. Instalasi Rehabilitasi Medik membuat analisa dan trend kejadian di satuan
kerjanya masing-masing.
q. Monitoring dan evaluasi perbaikan oleh Tim KPRS RS Cibitung Medika

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 24
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

BAB VII
KESELAMATAN KARYAWAN INSTALASI BEDAH SENTRAL

A. Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Ru mah Sakit me ru pakan sal ah satu te mp at ke rj a, yan g w aji b
melaksanakan Program K3 yang bermanfaat baik bagi pekerja, pasien,
pengunjung, maupun bagi masyarakat di Iingkungan sekitar Rumah Sakit.

Pelayanan K3 harus dilaksanakan secara terpadu melibatkan berbagai


komponen yang ada di Rumah Sakit. Pelayanan K3 di Rumah Sakit
sampai saat ini dirasakan belum maksimal. Hal ini dikarenakan masih
banyak Rumah Sakit yang belum menerapkan Sistem Manajemen
Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Dalam undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, pasal 23


mengenai kesehatan kerja disebutkan bahwa upaya kesehatan kerja wajib
diselenggarakan pada setiap tempat kerja, khususnya tempat kerja yang
mempunyai resiko bahaya kesehatan yang besar bagi pekerja agar dapat
bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat
sekelilingnya, untuk memperoleh produktivitas kerja yang optimal, sejalan
dengan program perlindungan tenaga kerja.

1. Pengertian
a. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah upaya untuk
memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat
kesehatan dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat
kerja, pengendalian bahaya ditempat kerja, promosi
kesehatan,pengobatan dan rehabilitasi.

b. Kapasitas kerja adalah status kesehatan kerja dan gizi kerja yang balk
serta kemampuan fisik yang prima setiap pekerja agar dapat
melakukan pekerjaannya dengan baik. Contoh; bila seorang pekerja
kekurangan zat besi yang menyebab kan anemia, maka kapasitas kerja
akan menurun karena pengaruh kondisi Iemah dan lesu.

c. Beban kerja adalah beban fisik dan mental yang harus di tanggung
oleh pekerja dalam melaksana kan tugasnya. Contoh; pekerja yang
bekerja melebihi waktu kerja maksimum dll.
d. Lingkungan kerja adalah lingkungan terdekat dari seorang pekerja.
Contoh; seorang yang bekerja di instalasi rehabilitasi medik maka

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 25
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

lingkungan kerjanya adalah ruangan-ruangan yang berkaitan dengan


proses pekerjaannya di instalasi rehabilitasi medik.

2. Bahaya Potensial (Potential Hazards) di Instalasi Rehabilitasi Medik


Bahaya bahaya potensial di rumah sakit yang disebabkan oleh Faktor
biologis ( Virus, bakteri, jamur,dll), faktor ergonomi (cara kerja yang salah),
faktor psikososial (kerja shift, hubungan sesama pekerja/atasan) dapat
mengakibatkan penyakit dan kecelakaan akibat kerja.

Penyakit akibat kerja (PAK) umumnya berkaitan denagan faktor biologi


(kuman patogen yang berasal umumnya dari pasien), kulit, faktor ergonomi
(cara duduk yang salah, cara mengangkat pasien salah), faktor fisik (panas
pada kulit, tegangan tinggi pada sistem reproduksi, radiasi pada sistim
produksi sel darah), faktor psikologis.

Sumber bahaya yang ada dirumah sakit harus diidentifikasi dan dinilai
untuk menentukan tingkat resiko, yang merupakan tolak ukur kemungkinan
tejadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

a. Identifikasi sumber bahaya


Dapat dilakukan dengan mempertimbangkan :
- Kondisi dan kejadian yang dapat menimbulkan potensi bahaya.
- Jenis kecelakaan dan PAK yang mungkin dapat terjadi

b. Penilaian faktor risiko


Adalah proses untuk menentukan ada tidaknya risiko dengan jalan
melakukan penilaian bahaya potensial yang menimbulkan risiko kesehatan
dan keselamatan

c. Pengendalian faktor risiko


Dilaksanakan melalui 4 tingkatan pengendalian risiko yakni
menghilangkan bahaya, menggantikan sumber risiko dengan
sarana/peralatan lain yang tingkat risikonya lebih rendah/tidak ada
(engineering/rekayasa), administrasi dan alat pelindung pribadi (APP).

d. Bahaya bahaya potensial di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Cibitung


Medika yaitu antara lain :
Pekerja bedah
Bahaya
No Lokasi sentral yang paling
Potensial
berisiko
1 FISIK :

Radiasi Kamar operasi Tim operasi

2 BIOLOGIK :

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 26
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

Pekerja bedah
Bahaya
No Lokasi sentral yang paling
Potensial
berisiko
AIDS,
Tim operasi, petugas
Hepatitis B
Kamar operasi, cssd steril
dan Non A-
Non B

Tim operasi
Tuberculosis Kamar operasi

3 ERGONOMIK
Pekerjaan
yang Asisten bedah, perawat
Kamar operasi
dilakukan anestesi
secara
manual
Postur yang Kamar operasi, ruang Asisten bedah dan perawat
salah dalam penerimaan dan ruang anestesi
melakukan recovery
pekerjaan
Pekerjaan Kamar operasi , cssd Perawat bedah sentral,

yang petugas steril

berulang
PSIKOSOSIA
4
L
Sering kontak
Ruang Rawat Inap, Dokter , perawat IBS,
dengan
kamar operasi administrasi IBS
pasien,

3. Kesehatan Kerja
Pelayanan kesehatan kerja yang perlu dilaksanakan setiap rumah sakit
seperti tercantum pada pasal 23 dalam UU kesehatan No. 23 tahun 1992 dan
Peraturan Mentri Tenaga kerja & transmigrasi RI No. 03/men/1989 tentang
pelayanan kesehatan kerja meliputi :
a. Pemeriksaan kesehatan
- Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja
- Pemeriksaan kesehatan secara berkala
- Pemeriksaan kesehatan khusus

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 27
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

b. Memberikan pengobatan serta rehabilitasi bagi pekerja yang


mengalami Kecelakaan Akibat Kerja dan Penyakit Akibat Kerja
Segala ketentuan kesehatan kerja di Rumah Sakit Cibitung Medika
ditetapkan oleh Keputusan direktur No. 4913/B/RS.CM/II/2011 tentang
Ketentuan Kesehatan Kerja, Kecelakaan Akibat Kerja, dan Penyakit Akibat
kerja di Rumah Sakit Cibitung Medika.

4. Keselamatan Kerja
Pada prinsipnya pelayanan keselamatan kerja berkaitan erat dengan
sarana, prasarana dan peralatan kerja. Upaya pelayanan keselamatan kerja
yang dilakukan meliputi :
a. Penetapan tempat beresiko
dan Penggunaaan Alat
Pelindung Diri
Agar seluruh pegawai, pasien, keluarga pasien, pengunjung dapat
mengetahui tempat tempat berbahaya dilingkungan rumah sakit maka
diberikan tanda tanda atau petunjuk yang ditempatkan di tempat yang
telah ditentukan. Tempat yang dianggap beresiko diantaranya :Instalasi
Radiologi, Instalasi Labolatorium, Instalasi Farmasi, Kamar Operasi,
Genset, Kamar isolasi penyakit menular dan Tempat dengan ketinggian
lebih dari 1 Meter.
Selain penetapan tempat beresiko salah satu pemberian rasa aman
kepada pekerja, juda diberlakukan kewajiban untuk menggunakan alat
pelindung diri dalam melakukan setiap kegiatan yang beresiko tinggi
menimbulkan penyakit akibat kerja dan kecelakaan akibat kerja.
Penetapan tempat beresiko dan penggunaan alat pelindung diri ini
ditetapkan oleh keputusan direktur no. 4914/B/RS.MP/II/2011 tentang
penetapan tempat beresiko dan penggunaan alat pelindung diri di Instalasi
Rehabilitasi Medik RumahSakit Mitra Plumbon.

b. Pegawasan Keselamatan/Keamanan sarana, prasarana dan


peralatan kesehatan
Pengawasan ini bertujuan untuk menjamin berfungsinya peralatan
medik dan non medik sebagaimana mestinya sehingga tidak merugikan
pengguanaan alat tersebut.
Pengawasan atau pemantauan kelayakan alat medik dan non medik
dengan cara :
1. Melengkapi perizinan dan sertifikasi sarana, prasarana dan peralatan
kesehatan
2. Melakukan pengujian kalibrasi alat Fisioterapi yang memerlukan
kalibrasi
3. Pemeliharaan alat dilakukan secara berkala

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 28
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

B. Penyehatan Lingkungan
Lingkungan kerja rumah sakit meliputi semua ruangan dan area sekellilingnya
yang merupakan bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja yang
dikelola secara komersial, mempunyai resiko bahaya kesehatan, untuk itu
diperlukan panduan untuk memenuhi persyaratan kesehatan lingkungan sesuai
dengan Kemenkes RI No. 261/Menkes/SK/II/1998 tentang persyaratan kesehatan
lingkungan kerja.

1. Pengertian
Penyehatan lingkungan rumah sakit adalah segala upaya untuk
menyehatkan dan memelihara lingkungan rumah sakit dan pengaruhnya
terhadap manusia.

2. Persyaratan Kesehatan Lingkungan


a. Penyehatan Air
Tersedianya air bersih dengan kualitas air bersih memenuhi
syarat kesehatan yang meliputi persyaratan fi sika, kimia,
mikrobiologi dan radioaktif sesuai Permenkes No 416 tahun 1990
tentang pengawasan dan persyaratan Kualitas air.
b. Penyehatan Udara Ruangan
Suhu : 18 28 C
Kelembaban : 40 60 %
c. Limbah
- Sampah
o Setiap sampah dipisahkan sesuai dengan jenis limbahnya dan
dimasukkan kedalam bak/tong sampah yang telah dilapisi kantong
plastik yang telah disediakan untuk masing-masing jenis sampah yang
akan dibedakan.
o Pengangkutan sampah dari ruang rehabilitasi medik dilakukan oleh
petugas kebersihan dengan menggunakan alat pengangkut/gerobak
sampah, melalui jalur yang telah ditentukan.
o Limbah padat atau sampah domestik dimasukkan ke tempat
penampungan sementara container yang selanjutnya dibuang
ketempat pembuangan akhir oleh DPU.
- Limbah Cair
o Setiap ruang yang menghasilkan limbah cair (dilengkapi dengan
fasilitas sistem pembuangan limbah cair (perpipaan khusus).
o Limbah cair diolah di sentral pengolahan limbah cair sebelum dibuang
ke lingkungan
o Pemeriksaan kualitas dilalrukan setiap bulan ke laboratorium Referensi
dengan parameter sesuai Kep.Me.LH No. 58 tahun 1995 Untuk
keperluan terbatas intern pemeriksaan kualitas dilakukan oleh IPSRS .
d. Pencahayaan di ruangan
Intensitas cahaya diruangna kerja minimal 100 Lux
e. Kebisingan Ruangan

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 29
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

Tingkat kebisingan diruangna kerja maksimal 85 dBA


f. Getaran
Tingkat getaran tidak mengganggu
g. Ruangan dan Bangunan
- Bangunan kuat, terpelihara, bersih dan tidak memungkinkan
terjadinya gangguan kesehatan dan kecelakaan
- Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan
rata, tidak licin dan bersih.
- Langit langit kuat, bersih dan atap kuat dan tidak bocor.
h. Ketersediannya linen bersih setiap hari

C. Penanggulan Bencana
1. Definisi
Penanggulan bencana adalah suatu persiapan dalam menghadapi
kemungkinan bencana yang mungkin terjadi baik bencana alam atau bencana
kebakaran.
2. Pernyataan Tingkat-Tingkat Keadaan
Pernyataan tingkatan keadaan darurat dikeluarkan oleh direktur Rumah
Sakit Mitra Plumbon, yang meliputi :
2.1. Keadaan Darurat III (Rawan / kode sandi warna Hijau)
Dari keadaan normal (aman), akan dinyatakan dalam keadaan darurat
III apabila disinyalir adanya :
a. Gejala Sosial yang mungkin dapat menimbulkan kerawanan/bencana
b. Gejala alam yang mungkin dapat berubah menjadi bencana
c. Gejala lain yang dapat membahayakan, mengancam keselamatan dan
keamanan instalasi (kebakaran).

2.2. Keadaan Darurat II (Bahaya /kode sandi warna Kuning)


Keadaan Darurat II adalah merupakan peralihan keadaan darurat III
yang kodisinya menunjukkan perkembangan yang lebih rawan, dengan
tanda-tanda sebagai berikut :
Terjadinya kerusuhan atau huru-hara ditempat-tempat lain yang bersifat
explosif dan dapat meluas.
Terjadi aksi teror ditempat-tempat lain, dan adanya ancaman-ancaman
yang ditujukan kepada instalasi.
Gejala alam dan atau gejala lainnya yang menunjukkan tanda-tanda
lebih meningkat. (banjir, kebakaran, ledakan, pencemaran,dll) .
2.3. Keadaan Darurat I (Bahaya /kode sandi warna Merah)
Keadaan darurat I adalah suatu kondisi dimana bahaya langsung sudah
harus ditanggulangi (terjadi huru-hara, bencana alam, kebakaran, dan
bahaya lain di dalam instalasi).

3. Ruangan dan Area Berkumpul Terbuka


Area tempat berkumpul (titik aman berkumpul) saat terjadinya bencana
internal bagi pasien, petugas dan pengunjung/ keluarga pasien, serta tempat
untuk melaksanakan triage korban.

1. AREA BERKUMPUL TERBUKA (Parkiran Rumah Sakit)

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 30
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

2. WILAYAH SEKITAR RS (AREA TERBUKA)

4. Upaya Preventif
Agar terhindar dari bencana yang tidak diinaginkan, maka beberapa hal
yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

1.1. Bekerja sesuai prosedur


Setiap petugas rehabilitasi medik yang bekerja harus memperhatikan
rambu-rambu tanda bahaya yang ada perlakuan barang yang menjadi
objek kegiatan sesuai dengan prosedur yang ada agar tidak terjadi hal-hal
yang membahayakan dirinya atau orang lain seperti terjadi kebakaran
yang berasal hubungan pendek arus listrik pada kabel yang digunakan
pada alat, maka dari itu setiap pemakaian alat harus sesuai dengan
prosedur yang berlaku.

1.2. Pelatihan
Pelatihan merupakan sarana yang sangat baik dalam upaya
penanggulangan bencana.
a. Pelatihan kebakaran
Seluruh karyawan rehabilitasi medik harus bersedia dan aktif
mengikuti pelatihan kebakaran (yang diselenggarakan oleh Rumah
Sakit Cibitung Medika) yang bekerja sama dengan Dinas Kebakaran,
dengan adanya pelatihan ini diharapkan siap mengantisipasi dan
mencegah terjadinya kebakaran yang besar agar tidak timbul kerugian
atau korban yang lebih besar.
b. Pelatihan evakuasi
Dalam pelatihan evakuasi yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit
Cibitung Medika, karyawan rehabilitasi medik akan diberikan
pengetahuan dan praktek mengenai tehnik-tehnik evakuasi dan
prosedur evakuasi yang harus dilakukan

5. Macam Macam Bencana


Kemungkinan bencana yang terjadi di Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah
Sakit Cibitung Medika adalah : kebakaran, gempa bumi, ancaman
bom.Penanganan tiap-tiap jenis bencana adalah sebagai berikut :
5.1. Kebakaran
Pada saat kebakaran, kemungkinan jenis korban yang dapat terjadi
adalah : luka bakar, trauma, sesak nafas, histeria dan korban meninggal.
Langkah langkah yang dilakukan ketika terjadi kebakaran :
a. Pindahkah korban ke tempat yang aman (area berkumpul)
b. Hubungi petugas pos Jaga I
c. Jika memungkinkan batasi penyebaran api, dengan menggunakan
APAR
d. Padamkan api jika memungkinkan dan jangan mengambil resiko.
Bila terjadi kebakaran selalu ingat :
i. Kejadian kebakaran harus dilaporkan

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 31
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

ii. Bila bangunan betingkat, gunakan tangga dan jangan gunakan lift.
iii. Biarkan lampu selalu menyala untuk penerangan.
iv. Matikan alat alat modalitas fisioterapi.
v. Tetap tenang dan jangan panik.
vi. Tempat yang rendah memiliki udara yang lebih bersih

Agar proses penanggulangan bencana kebakaran dapat berjalan


dengan baik kita harus tahu:
a. Tempat menaruh alat pemadam kebakaran dan cara menggunakannya.
b. Nomor pemadam kebakaran
c. Rute evakuasi dan pintu-pintu darurat.
d. Ada satu orang yang bisa mengambil keputusan dan tahu bagaimana
penanggulangan bencana kebakaran.
e. koordinator yang memegang kendali / mengkoordinir bila terjadi
bencana.

5.2. Gempa Bumi


Jenis korban yang dapat timbul pada saat terjadinya gempa bumi
adalah : trauma, luka bakar, sesak nafas dan meninggal.
Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut petunjuk yang
dapat dijadikan pegangan:
a. Di dalam Ruangan
Merunduklah, lindungi kepala anda dan bertahan di tempat aman.
Beranjaklah beberapa langkah menuju tempat aman terdekat. Tetaplah
di dalam ruangan sampai goncangan berhenti dan yakin telah aman
untuk keluar, menjauhlah dari jendela. Pasien yang tidak bisa mobilisasi
lindungi kepala pasien dengan bantal

b. Di luar gedung
Cari titik aman yang jauh dari bangunan, pohon dan kabel. Rapatkan
badan ke tanah. Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari
kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari petugas atau satpam.
c. Di dalam lift
Jangan menggunakan lift saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika
anda merasakan getaran gempa bumi saat berada di dalam lift, maka
tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah, lihat
keamanannya dan mengungsilah. Jika anda terjebak dalam lift, hubungi
petugas dengan menggunakan interphone jika tersedia.
5.3. Ancaman Bom
Ancaman bom bisa tertulis dan bisa juga lisan atau lewat telepon.
Ancaman bom ada dua jenis :
a. Ancaman bom yang tidak spesifik : pengancam tidak menyebutkan
secara detail tentang ancaman bom yang disampaikan.
b. Ancaman bom spesifik : pengancam menyebutkan tempat ditaruhnya
bom, jenis bom yang digunakan, kapan bom akan meledak dan lain
lain.

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 32
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

Semua ancaman bom harus ditanggapi secara serius sampai


ditentukan oleh tim penjinak bom bahwa situasi aman.
Jika anda menerima ancaman bom :
a. Tetap tenang dan dengarkan pengancam dengan baik karena informasi
yang diterima dari pengancam sangat membantu tim penjinak bom.
b. Jangan tutup telepon sampai pengancam selesai berbicara.
c. Panggil teman lain untuk ikut mendengarkan telepon ancaman, atau
jika memungkinkan gunakan Hp anda untuk menghubungi orang lain.
d. Hubungi satpam bahwa : ada ancaman bom dan tempat/ruangan
yang menerima ancaman.
e. Ancaman bom tertulis : simpan kertas yang berisi ancaman dengan baik
dan laporkan kepada satpam.
f. Ancaman bom lewat telepon : usahakan tetap bicara dengan penelepon
dan beri kode pada teman yang terdekat dengan anda bahwa ada
ancaman bom.
g. Bila ada benda yang mencurigakan sebagai bom :
- Jangan menyentuh atau memperlakukan apapun terhadap benda
tersebut.
- Sampaikan kepada koordinator, bahwa ada benda yang
mencurigakan.
- Lakukan evakuasi diruangan tersebut dan ruangan sekitarnya segera.
- Buka pintu dan jendela segera.
- Lakukan evakuasi sesuai prosedur

6. Sarana Penanggulangan Kebakaran, Sarana Penyelamatan Diri dan


Sistem Deteksi Kebakaran
1.1. Secara manual
Dengan menggunakan Break Glass yang dipasang pada dinding koridor
setiap lantai dan di tempat-tempat tertentu di lingkungan Rumah Sakit.
1.2. Secara otomatis
a. Heat Detector (Deteksi panas)
Dipasang pada plafon disetiap ruangan yang bekerja secara otomatis
apabila mendapat rangsangan panas pada titik panas 680 C.
b. Smoke Detector (Deteksi asap)
Dipasang pada plafon di ruangan-ruangan tertentu yang bekerja
secara otomatis apabila mendapat rangsangan asap.
1.3. Control Panel
Bangunan control panel terdapat di depan lobi Rawat Inap dekat
lapangan parkir.

BAB VIII
MUTU PELAYANAN BEDAH SENTRAL

Agar upaya peningkatan mutu di Rumah Sakit Cibitung Medika pada umumnya dan
peningkatan kualitas atau mutu pelayanan di Instalasi Bedah Sentral pada khususnya

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 33
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, maka diperlukan adanya kesatuan
bahasa tentang konsep dasar upaya peningkatan mutu pelayanan.

A. Mutu Pelayanan Instalasi Bedah Sentral


1. Pengertian Mutu
Pengertian mutu beraneka ragam dan di bawah ini ada beberapa pengertian
yang secara sederhana melukiskan apa hakekat mutu.
a. Arti Strategi
Adalah segala sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan semua
pelanggan pelayanan rehabilitasi medik.
b. Mutu menurut ISO ( ISO 9000 : 2000 )
Derajat yang dicapai oleh karateristik yang inheren dalam memenuhi
persyaratan yaitu :
- Mutu mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan.
- Mutu mencakup produk, tenaga kerja, proses dan lingkungan kerja.
- Mutu merupakan kondisi yang berubah.

2. Definisi Mutu Pelayanan Rumah Sakit


Adalah derajat kesempurnaan pelayanan Rumah Sakit Cibitung Medika untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat konsumen akan pelayanan kesehatan yang
sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan dengan menggunakan
potensi sumber daya yang tersedia di Rumah Sakit Cibitung Medika secara wajar,
efisien dan efektif serta diberikan secara aman dan memuaskan sesuai dengan
norma, etika, hukum dan sosio budaya dengan memperhatikan keterbatasan dan
kemampuan Rumah Sakit dan masyarakat konsumen.

3. Pihak yang Berkepentingan dengan Mutu


Banyak pihak yang berkepentingan dengan mutu, yaitu :
a. Konsumen
b. Pembayar/perusahaan/asuransi
c. Manajemen RS Cibitung Medika
d. Karyawan RS Cibitung Medika
e. Masyarakat
f. Pemerintah
g. Ikatan profesi
Setiap kepentingan yang disebut di atas berbeda sudut pandang dan
kepentingannya terhadap mutu. Karena itu mutu adalah multi dimensional.

4. Dimensi Mutu
Dimensi atau aspeknya adalah :
a. Keprofesian
b. Efisiensi
c. Keamanan Pasien
d. Kepuasan Pasien
e. Aspek Sosial Budaya

5. Mutu Terkait dengan Input, Proses, Output


Pengukuran mutu pelayanan kesehatan dapat diukur dengan menggunakan 3
variabel, yaitu:
a. Input

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 34
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

Adalah segala sumber daya yang diperlukan untuk melakukan pelayanan


kesehatan, seperti tenaga, dana, obat, fasilitas, peralatan, bahan, teknologi,
organisasi, informasi, dan lain-lain. Pelayanan kesehatan yang bermutu
memerlukan dukungan input yang bermutu pula. Hubungan struktur dengan
mutu pelayanan kesehatan adalah dalam perencanaan dan penggerakan
pelaksanaan pelayanan kesehatan.

b. Proses
Merupakan aktivitas dalam bekerja, adalah merupakan interaksi
profesional antara pemberi pelayanan dengan konsumen
(pasien/masyarakat). Proses ini merupakan variabel penilaian mutu yang
penting.

c. Output
Adalah hasil pelayanan kesehatan, merupakan perubahan yang terjadi
pada konsumen (pasien/masyarakat), termasuk kepuasan dari konsumen
tersebut.

B. Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Instalasi Bedah Sentral


1. Definisi Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan
Adalah keseluruhan upaya dan kegiatan yang komprehensif dan integratif
yang menyangkut input, proses dan output secara objektif, sistematik dan
berlanjut memantau dan menilai mutu dan kewajaran pelayanan terhadap
pasien, dan memecahkan masalah-masalah yang terungkapkan sehingga
pelayanan yang diberikan di Rumah Sakit Cibitung Medika berdaya guna dan
berhasil guna.

2. Tujuan Upaya Peningkatan Mutu


a. Umum
Meningkatkan pelayanan kesehatan melalui upaya peningkatan mutu
pelayanan Rumah Sakit Cibitung Medika secara efektif dan efisien agar
tercapai derajat kesehatan yang optimal.
b. Khusus
Tercapainya peningkatan mutu pelayanan Instalasi Rehabilitasi Medik
Rumah Sakit Cibitung Medika melalui :
Optimasi tenaga, sarana, dan prasarana.
Pemberian pelayanan sesuai dengan standar profesi dan standar
pelayanan yang dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu sesuai
dengan kebutuhan pasien.
Pemanfaatan teknologi tepat guna, hasil penelitian dan
pengembangan pelayanan kesehatan.

3. Indikator mutu
Indikator mutu Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Cibitung Medika meliputi
indikator klinik, indikator yang berorientasi pada waktu dan indikator ratio yang

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 35
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

berdasarkan pada efektifitas (effectivenes), efisiensi (efficiency), keselamatan


(safety) dan kelayakan (appropriateness). Indikator yang dipilih :
a. Indikator lebih diutamakan untuk menilai output dari pada input dan proses
b. Bersifat umum, yaitu lebih baik indikator untuk situasi dan kelompok dari
pada untuk perorangan.
c. Dapat digunakan untuk membandingkan dengan Rumah Sakit lain, baik di
dalam maupun luar negeri.
d. Dapat mendorong intervensi sejak tahap awal pada aspek yang dipilih untuk
dimonitor
e. Didasarkan pada data yang ada.

4. Strategi
Untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan Instalasi Bedah Sentral
Rumah Sakit Umum Mitra Plumbon maka disusunlah strategi sebagai berikut :
a. Setiap petugas harus memahami dan menghayati konsep dasar dan prinsip
mutu pelayanan Rumah Sakit Cibitung Medika sehingga dapat menerapkan
langkah-langkah upaya peningkatan mutu di Instalasi Bedah sentral
b. Memberi prioritas kepada peningkatan kompetensi sumber daya manusia di
RS Cibitung Medika, serta upaya meningkatkan kesejahteraan karyawan.
c. Menciptakan budaya mutu di. Rumah Sakit Cibitung Medika termasuk di
dalamnya menyusun program mutu Rumah Sakit Cibitung Medika dengan
pendekatan PDCA cycle.

5. Pendekatan Pemecahan Masalah


Pendekatan pemecahan masalah merupakan suatu proses siklus (daur) yang
berkesinambungan. Langkah pertama dalam proses siklus ini adalah identifikasi
masalah. Identifikasi masalah merupakan bagian sangat penting dari seluruh
proses siklus (daur), karena akan menentukan kegiatan-kegiatan selanjutnya dari
pendekatan pemecahan masalah ini. Masalah akan timbul apabila :
a. Hasil yang dicapai dibandingkan dengan standar yang ada terdapat
penyimpangan
b. Merasa tidak puas akan penyimpangan tersebut.
c. Merasa bertanggung jawab atas penyimpangan tersebut.

Dengan telah jelasnya cara memecahkan masalah maka bisa dilakukan


tindakan perbaikan. Namun agar pemecahan masalah bisa tuntas, setelah
diadakan tindakan perbaikan perlu dinilai kembali apakah masih ada yang
tertinggal. Dari penilaian kembali maka akan didapatkan masalah yang telah
terpecahkan dan masalah yang masih tetap merupakan masalah sehingga
proses siklus akan berulang mulai tahap pertama.

6. Kegiatan dalam pengendalian Mutu


Merupakan kegiatan pengawasan, pemeliharaan dan audit terhadap pelayanan
rehabilitasi medik untuk menjamin mutu, mencegah kehilangan, rusak dan

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 36
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

mencegah cedera serta keamanannya sesuai dengan Kesehatan, Keselamatan Kerja


Rumah Sakit (K3 RS) yang meliputi :
a. Melaksanakan prosedur yang menjamin keselamatan kerja dan lingkungan.
b. Melaksanakan prosedur yang mendukung kerja tim Pengendalian Infeksi Rumah
Sakit .

1. Unsur-Unsur Yang Mempengaruhi Mutu Pelayanan


Unsur masukan (input) : tenaga/sumber daya manusia, sarana dan
prasarana, ketersediaan dana
Unsur proses : tindakan yang dilakukan oleh seluruh staf
Unsur lingkungan : Kebijakan-kebijakan, organisasi, manajemen
Standar standar yang digunakan
Standar yang digunakan adalah standar pelayanan farmasi minimal yang
ditetapkan oleh lembaga yang berwenang dan standar lain yang relevan
dan dikeluarkan oleh lembaga yang dapat dipertanggungjawabkan .

2. Tahapan Program Pengendalian Mutu


a. Mendefinisikan kualitas pelayanan rehabilitasi medis yang diinginkan dalam
bentuk kriteria.
b. Penilaian kulitas pelayanan rehabilitasi medis yang sedang berjalan
berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
c. Pendidikan personel dan peningkatan fasilitas pelayanan bila diperlukan.
d. Penilaian ulang kualitas pelayanan rehabilitasi medis.
e. Up date kriteria.

3. Aplikasi Program Pengendalian Mutu


Langkah langkah dalam aplikasi program pengendalian mutu :
a. Memilih subyek dari program
b. Karena banyaknya fungsi pelayanan yang dilakukan secara simultan , maka
tentukan jenis pelayanan rehabilitasi medis yang akan dipilih berdasarkan
prioritas
c. Mendefinisikan kriteria suatu pelayanan rehabilitasi medis sesuai dengan
kualitas pelayanan yang diiginkan
d. Mensosialisasikan Kriteria Pelayanan rehabilitasi medis yang dikehendaki
e. Dilakukan sebelum program dimulai dan disosialisasikan pada semua
personil serta menjalin konsensus dan komitmen bersama untuk
mencapainya
f. Melakukan evaluasi terhadap mutu pelayanan yang sedang berjalan
menggunakan kriteria
g. Bila ditemukan kekurangan memastikan penyebab dari kekurangan tersebut
h. Merencanakan formula untuk menghilangkan kekurangan
i. Mengimplementasikan formula yang telah direncanakan
j. Reevaluasi dari mutu pelayanan Pelayanan

4. Indikator dan Kriteria

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 37
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

Untuk mengukur pencapaian standar yang telah ditetapkan diperlukan


indikator, suatu alat/tolak ukur yang hasil menunjuk pada ukuran kepatuhan
terhadap standar yang telah ditetapkan.
Makin sesuai yang diukur dengan indikatornya, makin sesuai pula hasil
suatu pekerjaan dengan standarnya. Indikator dibedakan menjadi :
Indikator persyaratan minimal yaitu indikator yang digunakan untuk
mengukur terpenuhi tidaknya standar masukan, proses, dan lingkungan.
Indikator penampilan minimal yaitu indikator yang ditetapkan untuk
mengukur tercapai tidaknya standar penampilan minimal pelayanan yang
diselenggarakan.

Indikator atau kriteria yang baik sebagai berikut :


Sesuai dengan tujuan
Informasinya mudah didapat
Singkat, jelas, lengkap dan tak menimbulkan berbagai interpretasi
Rasional

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 38
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

BAB IX
PENUTUP

Pedoman pelayanan ini diharapkan dapat dijadikan acuan dalam


pengelolaan penyelenggaraan dan penyusunan standar prosedur operasional
pelayanan bedah sentral di Rumah Sakit Cibitung Medika.
Dibutuhkan dukungan dari semua pihak terutama pimpinan Rumah Sakit agar
mutu pelayanan bedah sentral dapat senantiasa ditingkatkan dan dipertahankan sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi di bidang pembedahan dan
anestesiologi.
Dengan adanya buku pedoman ini diharapkan pelayanan pembedahan lebih
optimal, tanpa mengabaikan patient safety yang merupakan prioritas utama dari
pelayanan bedah sentral. Buku pedoman pelayanan instalasi bedah sentral ini,
diharapkan dapat dijadikan acuan manajemen Rumah Sakit Cibitung Medika dalam hal
pengembangan pelayanan kesehatan di Instalasi Bedah Sentral. Demikianlah buku
pedoman pelayanan instalasi bedah sentral ini kami susun, apabila ada perubahan atau
pengembangan maka akan dilakukan revisi

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 39
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral

DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR.............................................................................................. i
DAFTAR ISI.........................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN
i. Latar belakang .................................................................................... 1
ii. Ruang lingkup..................................................................................... 1
iii. Batasan operasional ............................................................................ 2
iv. Landasan hukum ................................................................................. 3
BAB II STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi SDM ..................................................................................... 4
B. Distribusi Ketenagaan .......................................................................... 5
C. Pengaturan Ketenagaan ....................................................................... 6
BAB III STANDAR FASILITAS
A. Denah Ruang ....................................................................................... 8
B. Standar Fasilitas .................................................................................. 8
BAB IV TATALAKSANA
A. ALUR PELAYaNAN INSTALASI BEDAH SENTRAL ....................................
13
BAB V LOGISTIK
A. Permintaan barang...............................................................................
21
B. Pengadaan barang...............................................................................
21
C. Distribusi dan penerimaan barang dan alat.........................................
21
D. Maintenance.........................................................................................
21
BAB VI KESELAMATAN PASIEN
A. Keselamatan Pasien ............................................................................
22
B. Sistem Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien ....................................
25
BAB VII KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
A. Kesehatan Dan Keselamatan Kerja.......................................................
28
B. Penyehatan Lingkungan ......................................................................
32
C. Penanggulan Bencana .........................................................................
33
BAB VIII PENGENDALIAN MUTU
A. Mutu Pelayanan IBS .............................................................................
38
B. Upaya peningkatan mutu IBS ..............................................................
40
BAB IX................................................................................PENUTUP
44

[Jl. Raya H. Bosih No. 117, Cibitung 17520 Bekasi Tlp. 021-88323444, Fax. 021-88323449 Page 40

Anda mungkin juga menyukai