Anda di halaman 1dari 27

TUGAS PENGELOLAHAN MINYAK BUMI

Review ASTM D6446 01


Heat of Combustion

Disusun Oleh:
KELOMPOK 1

Agasta Prio Prasetyo 1306415926


Agum Gumelar Soinandi 1206201914
Danar Aditya 1206263401
Rahmatika Alfia Amiliana 1306370562

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2016
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii


DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iii
DAFTAR TABEL .................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1. Pengertian Minyak Bumi.......................................................................... 1
1.2. Sifat Minyak Bumi ................................................................................... 3
1.3. Bahan Bakar Pesawat ............................................................................... 5
BAB II TINJAUAN UMUM .................................................................................. 7
2.1. Terminologi .............................................................................................. 7
2.1.1. Panas Pembakaran Kotor .................................................................. 7
2.1.2. Panas Pembakaran Bersih ................................................................. 7
2.2. Gambaran Umum ASTM D6446-01 ........................................................ 8
2.2.1. Ruang Lingkup .................................................................................. 8
2.2.2. Signifikansi dan Kegunaan ............................................................... 8
BAB III PROSEDUR ............................................................................................ 10
3. 1. Menentukan Kandungan Hidrogen ..................................................... 10
3.1.1. Peralatan .......................................................................................... 10
3.1.2. Bahan............................................................................................... 11
3.1.3. Persiapan Alat ................................................................................. 11
3.1.4. Persiapan Sampel dan Standar ........................................................ 11
3.1.5. Prosedur .......................................................................................... 11
3.1.6. Perhitungan ..................................................................................... 12
3. 2. Menentukan Densitas Sampel ............................................................. 12
3.2.1. Peralatan .......................................................................................... 12
3.2.2. Reagen dan Bahan ........................................................................... 14
3.2.3. Persiapan Alat ................................................................................. 15
3.2.4. Prosedur .......................................................................................... 15
3.2.5. Perhitungan ..................................................................................... 15
3. 3. Menentukan Kandugan Sulfur ............................................................ 16
3.3.1. Alat dan Bahan ................................................................................ 16
3.3.2. Reagen ............................................................................................. 16
3.3.3. Prosedur .......................................................................................... 17
3.3.4. Perhitungan ..................................................................................... 18
BAB IV METODE PERHITUNGAN .................................................................. 19
4.1. Perhitungan ............................................................................................. 19
4. 1. 1 Hasil ................................................................................................ 19
4.2. Presisi dan Bias ...................................................................................... 19
4. 2. 1 Presisi .............................................................................................. 19
4. 2. 2 Bias.................................................................................................. 20
BAB V KELEBIHAN DAN KEKURANGAN .................................................... 21
6.1. Kelebihan ................................................................................................ 21
6.2. Kekurangan ............................................................................................ 21
BAB VI KESIMPULAN ...................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 24

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Proses Distilasi Minyak Mentah menjadi Beberapa Fraksi Minyak ... 2
Gambar 2. Spesifikasi bahan bakar uji ASTM D 6446 ......................................... 8
Gambar 3. Blok dari Alloy Aluminium dan Penyumbat PTFE ............................ 10
Gambar 4. Piknometer Tipe Bingham 25 ml ........................................................ 13
Gambar 5. Aksesoris dari Piknometer Tipe Bingham .......................................... 13
Gambar 6. Pembersih Piknometer Tipe Bingham ................................................ 14
Gambar 7. Pembersih Piknometer Tipe Bingham dengan Asam Kromik Panas .. 14

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Ukuran Tekanan saat Penambahan Oksigen ........................................... 17


Tabel 2. Perbandingan Tingkat Repeatability dan Reproducibility ...................... 22

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Pengertian Minyak Bumi


Minyak bumi merupakan zat paling penting diantara semua hidrokarbon
ataupun diantara semua bitumina. Susunan kimia minyak bumi tertera dalam tabel
1. Jelas kelihatan disini bahwa minyak bumi terdiri dari 80 hingga 85% Karbon
dan selebihnya Hidrogen. Kadar Belerang dapat meningkat sampai 2% misalnya
pada minyak bumi Timur tengah, tetapi khususnya di Indonesia terkenal dengan
kadar Belerang rendah. Kadar zat Oksigen dan Nitrogennya sangat rendah dan
hanya merupakan jejak saja. Walaupun minyak bumi terutama hanya terdiri dari
dua unsur yaitu karbon dan hidrogen, namun kedua unsur ini dapat membentuk
berbagai macam senyawa molekuler dengan rantai panjang dan struktur lingkaran.
Malah rantai yang terdiri dari pada C dan H tersebut dapat bercabang-cabang ke
berbagai arah dan dapat membentuk berbagai macam struktur tiga dimensi.
Dengan demikian C dan H ini dapat membentuk molekul yang sangat besar dan
jumlah karbon C dalam setiap molekul dapat berjumlah puluhan bahkan secara
teotitis bisa mencapai ratusan bahkan ribuan.
Sifat dari pada hidrokarbon untuk membentuk molekul yang berlainan
dengan susunan atau dengan rumus kimia yang sama disebut sifat membentuk
isomer. Walaupun hidrokarbon dapat membuat isomer secara tidak terhingga,
namun ada aturan tertentu dalam cara pembuatan rantai panjang. Selain dapat
membuat rantai panjang dan struktur isomer, hidrokarbon juga dapat bersifat
jenuh dan tak jenuh. Yang dinamakan jenuh adalah jika salah satu valensinya
tidak diikat oleh atom hidrogen tetapi terdapat ikatan rangkap antara dua atau tiga
atom karbon. Contoh suatu hidrokarbon tidak jenuh adalah alken, yang
merupakan suatu ikatan valensi alkan. Misalnya etan dengan rumus C2H4, karena
dua valensi atom karbon diikat rangkap. Ada beberapa aturan dalam susunan
minyak bumi yang memudahkan kita mempelajarinya, antara lain:
1. Pada umumnya minyak bumi hanya memperlihatkan susunan hidrokarbon
yang bersifat jenuh.

1
2. Hidrokarbon yang terdapat didalam bumi merupakan berbagai macam seri
homolog. Yang dimaksud dengan homolog adalah suatu seri susunan
hidrokarbon berdasarkan penambahan atom C membentuk suatu susunan yang
hampir sama akan tetapi rantainya menjadi lebih panjang ataupun
lingkarannya menjadi ruwet.
3. Dalam seri homolog biasanya terdapat beberapa keluarga homolog yang
disebut golongan isomer. Golongan ini biasanya terdiri dari rantai yang yang
menerus dari pada senyawa berbagai macam jenis minyak bumi. Anggota
pertama dari seri homolog selalu terdapat secara lebih banyak
terkonsentrasikan didalam minyak bumi dari pada anggota yang lebih besar
berat molekulnya. Malah pada beberapa minyak bumi anggota yang lebih
besar ini bisa hilang atau tidak ada sama sekali.

Gambar 1. Proses Distilasi Minyak Mentah menjadi Beberapa Fraksi Minyak


Sumber: Wikipedia.com
4. pada umumnya seri homolog dalam minyak bumi dapat dibagi menjadi dua
golongan besar, yakni:

2
a. Golongan asiklis atau alifat, juga disebut alkan atau parafin yang dibagi
menjadi 2 kelompok yakni seri parafin normal dan seri iso-parafin
b. Golongan siklis yang dibagi menjadi 3 kelompok yakni seri naften atau
siklo-parafin, seri aromat dan seri aromat-sikloparafin-polisiklis
(termaksud kompleks aspal).
Sebagaimana cairan lainnya, kuantitas minyak bumi diukur berdasarkan
volumnya. Khusus di Indonesia, ukuran yang dipergunakan adalah meter kubik
atau sering juga ton. sedangkan di dunia perdagangan digunakan satuan barrel
yang setara dengan 159 liter.

1.2. Sifat Minyak Bumi


a. Berat Jenis atau Gravitasi Jenis
Salah satu sifat minyak bumi yang penting dan mempunyai nilai dalam
perdagangan adalah berat jenis atau gravitasi jenis. Berat jenis minyak bumi
atau dalam istilah dunia perdagangan dikenal dengan API Gravity minyak
bumi,semakin kecil berat jenisnya atau makin tinggi derajat API Gravitymya,
minyak bumi itu semakin berharga karena lebih banyak mengandung bensin.
Sebaliknya makin rendah derajat APInya atau makin berat berat jenisnya ,
mutu minyak bumi itu kurang baik karena lebih banyak mengandung lilin atau
residu aspal.
b. Viskositas
Sifat penting lain dari pada minyak bumi adalah viskositasnya.
Viskositas merupakan daya hambatan yang dilakukan oleh cairan jika suatu
benda berputar pada cairan tersebut. Satuan viskositas adalah centipoise. Pada
umumnya makin tinggi derajat API, makin ringan minyak bumi tersebut maka
makin kecil viskositasnya dan sebaliknya.
c. Titik Didih dan Titik Nyala
Titik didih minyak bumi berbeda-beda sesuai dengan gravitas API-
nya. Kalau gravitasi API rendah, maka titik didihnya tinggi sedangkan kalau
gravitasi APInya tinggi maka titik didihnya rendah. Hal ini disebabkan karena
minyak bumi berderajat API rendah mengandung banyak fraksi berat (berat
jenis tinggi) dan dengan demikian titik didihnya tinggi sedangkan jika derajat

3
APInya tinggi maka lebih banyak mengandung fraksi ringan seperti bensin
degan demikian titik didihnya rendah.
Titik nyala adalah suatu titik temperatur dimana minyak bumi dapat
terbakar karena suatu percikan api. Makin tinggi gravitasi APInya titik
didihnya makin rendah, maka jelaslah flash-point juga makin rendah dan
mudah dapat terbakar karena percikan api.
d. Warna
Minyak bumi tidak selalu memperlihatkan warna hitam adakalanya
malah tidak berwarna sama sekali. Pada umumnya warna berhubungan dengan
berat jenisnya. Kalau berat jenisnya tinggi, warna jadi hijau kehitam-hitaman
sedangkan kalau berat jenisnya rendah warna jadi cokelat kehitam-hitaman.
Warna ini disebabkan karena berbagai pengotoran misalnya oksidasi senyawa
hidrokarbon karena senyawa hidrokarbon sendiri tidak memperlihatkan warna
tertentu.
e. Flurosensi
Minyak bumi memiliki sifat flurosensi yaitu jika terkena sinar ultra-
violet akan memperlihatkan warna yang lain dari warna biasa. Warna
flurosensi minyak bumi adalah kuning sampai kuning keemas-emasan dan
kelihatan sangat hidup. Sifat flurosensi ini sangat penting karena sedikit saja
minyak bumi terdapat dalam kepingan batuan atau dalam lumpur pemboran
memperluhatkan flurosensi secara kuat sehingga mudah dideteksi dengan
mempergunakan lampu ultra-violet.
f. Indeks refraksi
Minyak bumi memperlihatkan berbagai macam indeks refraksi dari 1.4
sampai 1.6. Perbedaan indeks refraksi tergantung dari derajat APInya atau
berat jenisnya. Makin tinggi berat jenis atau makin rendah derajat APInya
akan tinggi pula refraksinya dan sebalknya.
g. Aktivitas Optik
Kebanyakan minyak bumi memperlihatkan aktivitas optik, yaitu suatu
daya memutar bidang polarisasi cahaya yang terpolarisasi. Kisaran rata-rata
adalah dari 0 sampai 0.2.

4
h. Bau
Minyak bumi ada yang berbau sedap dan ada pula yang tidak, yang
biasa disebabkan oleh pengaruh molekul aromat. Umumnya minyak bumi
yang berasal dari Indonesia tidak berbau sedap oleh karena senyawa nitrogen
ataupun belerang.
i. Nilai Kalori
Nilai kalori minyak bumi adalah jumlah panas yang ditimbulkan oleh
satu gram minyak bumi yaitu dengan meningkatkan temperatur satu gram air
dari 3.5 derajat celcius dan satuannya adalah kalori.

1.3. Bahan Bakar Pesawat


Avtur (Aviation Turbine Fuel) atau disebut juga dengan Jet-A1 merupakan
bahan bakar untuk pesawat terbang dengan tipe mesin turbin gas. Bahan bakar ini
dibuat dari fraksi Kerosin (minyak tanah) sehingga sifat kedua produk ini sangat
mirip, misalnya saja memiliki rentang rantai karbon serta senyawa hidrokarbon
yang sama (parafinik dan naftenik). Keunggulan Avtur dibandingkan dengan
bahan bakar lainnya yaitu memiliki volalitas yang kecil, sehingga dapat
meminimalisir kemungkinan kehilangan bahan bakar dalam jumlah yang besar
karena penguapan pada ketinggian saat penerbangan.
Selain itu, keuggulan lainnya yang dimiliki oleh avtur ialah memiliki
kandungan energi per volumenya lebih tinggi sehingga dapat memberikan energi
bagi pesawat untuk penerbangan dengan jarak yang lebih jauh. Performa atau
mutu dari bahan bakar avtur dinilai dari karakteristik kemurnian bahan bakar,
model pembakaran turbin dan performanya pada temperatur yang rendah.
Berdasarkan karakteristik tersebut, maka avtur harus memenuhi persyaratan yang
telah ditentukan yaitu memiliki freeze point (titik beku) maksimum -47C dan
flash point (titik nyala) minimum 38C.
Avgas (Aviation Gasoline) adalah bahan bakar minyak yang dibuat khusus
untuk pesawat terbang dengan mesin yang memiliki ruang pembakaran internal
dan mesin piston (piston engine) serta digunakan juga sebagai pembakaran pada
mobil balap. Avgas merupakan fraksi gasoline (bensin) yang diolah dan
disempurnakan lagi baik itu dari segi freeze point, voalality dan flash pointnya.

5
Performa avgas ditentukan oleh karakteristik antiknock yang ditujukan
oleh bilangan oktan untuk nilai dibawah 100 dan juga pencapaian performa di atas
100 sehingga grade avgas ditentukan oleh nilai oktan yang mengidikasikan tingkat
kinerja bahan bakar. Bahan bakar ini memiliki sifat yang sangat muda menguap
serta mudah terbakar pada pemperatur normal. Sehingga, dalam menangani
produk ini segala prosedur dan peralatan harus mendapatkan perhatian serius, titik
beku dari avgas maksimum -58C. Avgas mengandung tetraetil timbal (TEL)
yaitu zat beracun (polusi), tetapi zat ini digunakan untuk mencegah mesin
mengalami ledakan (knocking).

6
BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1. Terminologi

2.1.1. Panas Pembakaran Kotor


Dinyatakan dalam megajoule per kilogram. Pada volume konstan dari
bahan bakar cair atau padat yang mengandung hanya unsur-unsur karbon,
hidrogen, oksigen, nitrogen, dan sulfur adalah jumlah panas yang dibebaskan
ketika satuan massa bahan bakar yang dibakar dalam oksigen dalam wadah,
produk pembakaran menjadi gas karbon dioksida, nitrogen, sulfur dioksida,
dan air cair, dengan suhu awal bahan bakar dan oksigen dan suhu akhir dari
produk pada 25 C. Direpresentasikan dalam symbol .

2.1.2. Panas Pembakaran Bersih


Dinyatakan dalam satuan megajoule per kilogram. Pada tekanan
konstan dari bahan bakar cair atau padat yang mengandung hanya unsur-unsur
karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan sulfur adalah jumlah panas yang
dibebaskan ketika satuan massa bahan bakar yang dibakar dalam oksigen pada
tekanan konstan dari 0.101 MPa (1 atm), produk pembakaran menjadi karbon
dioksida, nitrogen, sulfur dioksida, dan air, semua dalam bentuk gas, dengan
suhu awal bahan bakar dan oksigen dan suhu akhir dari produk pembakaran di
25C. Direpresentasikan dalam symbol . Berhubungan dengan panas
pembakaran kotor dengan persamaan berikut ini:
( ) ( )
Dimana:
( ) = panas pembakaran bersih pada tekanan tetap, MJ/kg
( ) = panas pembakaran kotor pada volume konstan, MJ/kg
= %massa dari hydrogen pada sampel

7
2.2. Gambaran Umum ASTM D6446-01

2.2.1. Ruang Lingkup


Standar ini melingkupi estimasi dari panas pembakaran (Specific Heat)
pada kondisi tekanan konstan dalam satuan SI, megajoules per kilogram, dari
densitas bahan bakar, kandungan sulfur, dan kandungan hidrogen. Metode ini
merupakan metode empiris dan hanya dapat diaplikasikan hanya untuk bahan
bakar hidrokarbon cair yang diturunkan proses refinery dari minyak mentah
yang cocok dengan spesifikasi minyak bahan bakar aviasi dari segi boiling
point dan komposisi.
Estimasi dari panas pembakarannya sendiri dari analisis bahan bakar
hidrokarbon cair dari segi densitas, dan sulfur yang sangat tergantung dari
ketika bahan bakar secara baik diturunkan dari kuantitas komposisi yang
sudah diuji secara pasti terlebih dahulu. Meskipun terkadang dalam
pengujiannya pun, terdapat beberapa kesalahan yang harus diuji lebih lanjut.
Berikut terdapat beberapa spesifikasi dari bahan bakar yang dapat diuji di
antaranya seperti yang ditampilkan pada Gambar 2.1.

Gambar 2. Spesifikasi bahan bakar uji ASTM D 6446


Sumber: ASTM International D6446-01

2.2.2. Signifikansi dan Kegunaan


Metode ini digunakan untuk menjadi panduan dalam suatu eksperimen
dalam mendeterminasi panas pembakaran yang sudah tidak ada lagi dan tidak
dapat dibuat secara konvensional, dan menghasilkan estimasi standar yang
cukup baik.

8
Panas pembakaran merupakan salah satu faktor dalam spesifikasi dari
bahan bakar aviasi. Dari pembuangan mesin pesawat yang mengandung uap
air, energi yang dilepaskan oleh bahan bakar dalam kondisi uap tidak dapat
didapat kembali dan harus dikurangi kadarnya dari panas pembakaran. Untuk
performa tinggi pesawat, panas pembakaran per satuan massan dan massa dari
bahan bakar itu sendiri menentukan kisaran total keamanan. Operasi dari
mesin pesawat pun juga membutuhkan net energy minimum dari pembakaran
per satuan volume dari bahan bakar yang dipakai.

9
BAB III
PROSEDUR

3. 1. Menentukan Kandungan Hidrogen


Menentukan kandungan hidrogen pada sampel hingga 0.01% massa sesuai
dengan metode tes ASTM D 3701, D 4808, atau D 5291.

3.1.1. Peralatan
Nuclear Magnetic Resonance Spectrometer Digunakan untuk
menghitung resonansi magnetik dari atom hidrogen, alat tersebut
dilengkapi dengan Excitaction dan Detection Coil, Electronic Unit untuk
memonitor magnet dan coil, Circuit untuk mengontrol dan mengatur
frekuensi, dan Integrating Counter.
Blok Pembungkus Blok yang terbuat dari alloy alumunium dan
dilubangi dengan cukup untuk mengakomodasi sampel dan sel tes.
Sel Tes Pipa tipe Nessler dengan kapasitas 100 ml, diameter luar 34 mm,
dan diameter dalam 31 mm dan ketebalan tidak boleh melebihi 0.5 mm.
Penyumbat Sel Tes dari Polytetrafluoroetilen (PTFE) Penyumbat terbuat
dari PTFE murni. Gambar rangkaian alat dapat dilihat di gambar 3.

Gambar 3. Blok dari Alloy Alumunium dan Penyumbat PTFE


Sumber: ASTM International D3701-01

10
3.1.2. Bahan
Standar Referensi Dodecane, dengan kemurnian minimum 99%.

3.1.3. Persiapan Alat


1) Mengatur instrument dengan kondisi sebagai berikut : Level Frekuensi
Radio sebesar 20 mikron ampere ; Audio Frequency Gain sebesar 500
on dial ; dan waktu integrasi sebesar 128 detik.
2) Nyalakan power supply spectrometer dan biarkan hingga panas kurang
lebih 1 jam.
3) Letakkan sel tes yang mengandung sampel ke dalam coil dan atur
hingga terdapat dua kurva resonansi.
4) Pindahkan sel tes dari coil dan amati sinyal yang terbaca.

3.1.4. Persiapan Sampel dan Standar


1) Gunakan sel tes yang kering dan bersih juga penyumbat PTFE dan
timbang bersama-sama hingga mendekati 0.01 g dan catat massanya.
Tambahkan 30 ml standar referensi ke dalam pipa.
2) Gunakan batang logam untuk mendorong penyumbat PTFE hingga
mencapai permukaan cairan.
3) Cabut batang logam secara perlahan agar tidak mengganggu
penyumbat tersebut. Jarak di antara penyumbat dan sel tes tidak boleh
melebihi 51 mm.
4) Letakkan standar referensi di dalam blok pembungkus sampel
5) Ulangi prosedur 1.4.1-1.4.4 dengan menggunakan material yang akan
diuji.

3.1.5. Prosedur
1) Tinggalkan sampel dan standar referensi di dalam blok pembungkus
selama kurang lebih 30 menit untuk memastikan bahwa suhu seragam
dengan suhu ruangan.
2) Ambil standar referensi dan letakkan pada coil secara hati-hati.

11
3) Pastikan bahwa puncak osiloskop bertepatan, jika tidak atur kembali
hingga didapat kondisi tersebut
4) Saat standar referensi sudah berada dalam magnet selama 3 detik,
tekan tombol reset.
5) Setelah hitungan 128 detik, tampilan digital akan berhenti di nilai
akhir. Catat jumlah integrator dan tekan tombol reset lalu catat jumlah
integrator yang kedua.
6) Timbang sel dan isinya lalu catat total massanya.
7) Ganti referensi standar dalam blok penyimpanan dan buat pembacaan
yang mirip pada sampel yang akan diuji.

3.1.6. Perhitungan
Untuk setiap sampel dan standar referensi, kurangi jumlah massa di sel
tes dan penyumbat PTFE dengan total massa dari tes cel pada poin 1.5.6.

Dengan:
ST = rata-rata jumlah integrator sampel,
SR = rata-rata jumlah integrator standar referensi,
MR = massa sampel standar referensi, dan
MT = massa sampel yang diuji

3. 2. Menentukan Densitas Sampel


Menentukan densitas sampel pada suhu 15 C minimum 0.5 kg/m3 sesuai
dengan metode tes ASTM D 1217, D 1298, atau D 4052.

3.2.1. Peralatan
Piknometer tipe Bingham - Sesuai dengan Gambar 2, terbuat dari kaca
borosilika, dan memiliki beban maksimum 30 g.
Constant Temperatur Bath Dilengkapi dengan klip penahan piknometer
untuk menjaga temperature hingga 0.01 C.

12
Termometer Bath Dengan tingkat ketelitian 0.1 C dan distandardisasi
hingga dapat menhitung 0.01 C.
Syringe Hypodermic Kapasitas 30 mL, tahan bahan-bahan kimia,
dilengkapi dengan jarum stainless stell berukuran 152 mm sesuai dengan
Gambar 4.

Gambar 4. Piknometer Tipe Bingham 25 mL


Sumber: ASTM International D1217-93
Draw-Off Needle Terbuat dari stainless steel sesuai dengan Gambar 5.

Gambar 5. Aksesoris dari Piknometer Tipe Bingham


Sumber: ASTM International D1217-93

13
Pembersih Solven -Sesuai dengan Gambar 6.
Alat pembersih asam kromik, sesuai dengan Gambar 7.
Penyeimbang dapat menyeimbangkan hingga perbedaan berat 0.1 g.
Pemberat dengan nilai 0.05 mg atau lebih.

Gambar 6. Pembersih Piknometer Tipe Bingham


Sumber: ASTM International D1217-93

Gambar 7. Pembersih Piknometer Tipe Bingham dengan Asam Kromik Panas


Sumber: ASTM International D1217-93

3.2.2. Reagen dan Bahan


Aseton
Isopentane
Asam Kromik

14
3.2.3. Persiapan Alat
1) Bersihkan alat piknometer dengan asam kromik panas dan biarkan
hingga mencapai suhu 50-60 C. Lalu buang asam dari piknometer dan
keringkan piknometer tersebut.
2) Pindahkan piknometer ke tempat yang lebih bersih sesuai dengan
Gambar 4. Letakkan piknometer di pembersih dengan jarum
hipodermik mengarah keatas kedalam piknometer. Lalu masukkan 20-
25 mL solven melewati piknometer. Setelah itu lewatkan udara
didalam piknometer hingga kering. Bersihkan syringe dengan alat
yang sama.

3.2.4. Prosedur
1) Gunakan piknometer 25 mL sebagai tare, timbang piknometer yang
kering dan bersih hingga 0.1 mg dan catat beratnya.
2) Dinginkan sampel agar bersuhu 5 hingga 10 C dibawah temperature
uji, dan isi kedalam syring 30 mL. Pindakan sampel ke dalam
piknometer melewati jarum isi (hindari terbentuknya gelembung
udara).
3) Tutup piknometer dengan kaca penutup. Jangan biarkan cairan
mengembang hingga melebih 10 mm dari kalibrasi untuk
meminimalisasi error. Biarkan dalam keadaan setimbang selama 10 m
dan turunkan ketinggian dari larutan hingga titik kalibrasi.
4) Ganti kaca penutup, pindahkan piknometer dari wadah, dan cuci
bagian luarnya menggunakan aseton.
5) Catat temperature, tekanan baromatik, dan kelembaban relatifnya.

3.2.5. Perhitungan
Menghitung densitas sampel menggunakan persamaan berikut:

15
Dimana:
Ws = Berat sampel di udara yang terkandung dalam piknometer pada suhu
tes
Ww = Berat air di udara yang terkandung dalam piknometer pada suhu
kalibrasi
dw = Densitas air pada suhu kalibrasi
da = Densitas air pada penyeimbang
dwt = densitas dari pemberat yang digunakan
ds = perkiraan densitas sampel atau

3. 3. Menentukan Kandugan Sulfur


Menentukan kandungan sulfur pada sampel minimum 0.02% massa sesuai
dengan metode tes ASTM D 129, D 1266, D 1552, atau D 5453.

3.3.1. Alat dan Bahan


Bom memiliki kapasitas tidak lebih dari 300 mL, konstruksi tidak bocor
saat tes sedang dijalankan dan material bom tidak bereaksi agar tidak
mengotori kandungan sulfur cairan di dalam bom.
Mangkuk Sampel terbuat dari platinum dengan diameter luar 24 mm dan
diameter dalam 27 mm, tinggi 12 mm dan berat 10 hingga 11 g.
Kawat pemicu terbuat dari platinum No. 26 B&S gage, 0.41mm.
Sirkuit pembakar dapat mensuplai arus agar melelehkan kawat pemicu.

3.3.2. Reagen
Air
Barium Klorida (0.85 g/L)
Air Bromine
Asam Klorida
Oksigen
Larutan Sodium Karbonat

16
Paraffin Cair

3.3.3. Prosedur
1) Persiapan Bom dan Sampel Potong kawat pemicu dengan panjang
100 mm. Lingkari di bagian tengah kurang lebih 20 mm. Atur
lingkaran agar satu bagian menghadap ke mangkuk sampel. Letakkan
larutan Na2CO3 sebanyak 5 mL ke dalam bom dan putar bom tersebut
agar terlapisi secara merata oleh larutan tersebut.
2) Penambahan Oksigen Tambahkan oksigen secara perlahan hingga
sesuai dengan tabel 1.
Tabel 1. Ukuran Tekanan saat Penambahan Oksigen

Sumber: ASTM International D129-00


3) Pembakaran Benamkan bom dalam wadah yang berisi air dingin.
Lalu nyalakan sirkuis untuk membakar sampel. Jangan dekati bom 20
detik setelah pembakaran dimulai. Setelah itu pindahkan bom dari
wadah dan biarkan kurang lebih 10 menit. Turunkan tekanannya dan
buka bom lalu amati isinya.
4) Recovery Larutan Sulfur peroleh isi bom tersebut dengan beaker
glass 600 mL dan memiliki tanda pada 75 mL. Tambahkan 10 mL air
bromine ke dalam beaker. Letakkan mangkuk sampel ke dalam beaker
berukuran 50 mL. Tambahkan 5 mL air bromine, 2 mL HCL, dan air
yang cukup untuk menutupi mangkuk tersebut. Panaskan isi beaker
dibawah titik didih selama 3 hingga 4 menit.
5) Penentuan sulfur Uapkan larutan tersebut ke dalam plat panas 200
mL dengan menggunakan sumber panas yang lain. Atur panas agar
pendidihan terjadi secara perlahan dan tambahkan 10 mL larutan
BaCL2. Setelah pembakaran berakhir, dinginkan di suhu ruang, dan
timbang beratnya.

17
3.3.4. Perhitungan
Perhitungan kandungan sulfur dalam sampel adalah sebagai berikut:
Sulfur (%-wt) = (P-B) 13.73/W
Dimana:
P = gram BaSO4 sampel
B = gram BaSO4 yang didapatkan dari Blank
W = gram sampel yang diuji

18
BAB IV
METODE PERHITUNGAN

4.1. Perhitungan
Menghitung panas bersih dari pembakaran bahan bakar pada tekanan
konstan dengan memasukkan nilai kandungan hidrogen, densitas, dan kandungan
sulfur pada persamaan berikut.

Dimana :
Qp = Panas bersih pembakaran, MJ/Kg
H = kandungan hidrogen, % b
S = kandungan sulfur, % b
D = densitas pada 15oC, kg.m3
Menghitung panas bersih pembakaran pada basis volumetrik

Dimana
Qv = panas bersih pembakaran, MJ/m3.

4. 1. 1 Hasil
Hasil perhitungan panas pembakaran Qp adalah mendekati 0.01 MJ/kg.
Hasil dari panas pembakaran volumetrik, Qv, mendekati 10 MJ/m3.

4.2. Presisi dan Bias

4. 2. 1 Presisi
Kriteria yang ada dapat digunakan untuk menilai hasil panas
pembakaran yang terestimasi ketika data yang digunakan seperti kandungan
hidrogen, kansungan sulfur, dan densitas ditentukan melalui metode D 3701,
D 1298 dan D 129.
a. Repeatability
Perbedaan antara dua pengujian yang dihasilkan oleh operator yang
sama dengan apparatus yang sama pada kondisi konstan untuk jangka
panjang pada metode test yang normal dan pengoperasian yang tepat
menghasilkan nilai hanya sekali dalam dua puluh data
Repeatability 0.05 MJ/kg

19
b. Reproducibility
Perbedaan antara dua hasil tunggal yang indpenden yang diperoleh
dari kondisi operasi yang berbeda di laboratorium yang berbeda dengan
material pengujian yang sama, dlaam jangka panjang, pada operasi yang
normal dan benar, menghasilkan nilai hanya sekali dalam dua puluh data
Reproducibility 0.06 MJ/kg

4. 2. 2 Bias
Tidak ada pernyataan umum mengenai bias karena data yang
digunakan untuk hubungannya tidak dapat dibandingkan dengan referensi
yang diterima.

20
BAB V
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

6.1. Kelebihan
Metode tes estimasi panas pembakaran bersih ini memiliki beberapa
keunggulan, diantaranya yaitu dapat mengestimasikan energi spesifik panas
pembakaran bersih dari bahan bakar pesawat turbin pada temperatur konstan
dalam satuan SI, megajoule energi per kg bahan bakar. Estimasi menggunakan
metode ini juga hanya memerlukan data massa jenis, kandungan hidrogen, dan
kandungan sulfur pada bahan bakar yang diuji.
Metode ini dapat mengestimasikan panas pembakaran bersih dari bahan
bakar yang panas pembakarannya tidak bisa ditentukan melalui eksperimen.
Hasilnya cukup memuaskan dan mendekati pola yang ada dari hasil eksperimen.
Metode estimasi panas pembakaran bersih yang hanya menggunakan data massa
jenis, kandungan hydrogen, dan kandungan sulfurnya ini juga lebih mudah
dilakukan dan memiliki rumus perhitungan yang lebih mudah dibandingkan
metode perhitungan panas pembakaran bersih lainnya (ASTM D1405, D3338,
D4529).

6.2. Kekurangan
Kekurangan dari metode ini adalah hanya dapat diaplikasikan untuk bahan
bakar hidrokarbon cair pesawat turbin (avtur) dari hasil pengilangan minyak
normal di rentang titik didih dan komposisi yang terbatas. Metode ini bahkan
tidak bisa digunakan untuk penentukan panas pembakaran bersih dari bahan bakar
pesawat gasoline (avgas) seperti pada meetode ASTM lainnya.
Estimasi panas pembakaran bersih berdasarkan kandungan hidrogen,
sulfur, dan massa jenisnya ini hanya dapat dibenarkan ketika jumlah kandungan
bahan bakar tersebut telah diturunkan dari hasil pengukuran peercobaan yang
akurat dengan sampel yang mempresentasikan kelas bahan bakar tersrebut.
Metode ini juga hanya dilakukan jika data hasil eksperimen penentuan panas
pembakaran tidak tersedia atau tidak dapat dilakukan dengan mudah.

21
Metode estimasi panas pembakaran bersih pada ASTM 6446 juga
memiliki tingkat presisi yang lebih rendah dibandingkan dengan metode estimasi
panas pembakaran bersih lainnya. Hal ini dapat terlihat dari besarnya nilai
pengulangan (repeatability) dan reproduktifitas (reproducibility) seperti yang
diperlihatkan pada tabel 2.
Tabel 2. Perbandingan Tingkat Repeatability dan Reproducibility
ASTM Repeatability Reproducibility
D 6446 - 01 0.05 MJ/kg 0.06 MJ/kg
D 1405 - 01 0.012 MJ/kg 0.035 MJ/kg
D 3338 - 00 0.021 MJ/kg 0.046 MJ/kg
D 4529 - 01 0.012 MJ/kg 0.035 MJ/kg

22
BAB VI
KESIMPULAN

ASTM D6446-01 membahas tentang estimasi perhitungan panas


pembakaran bersih (energi spesifik) dari bahan bakar pesawat. Bahan bakar
pesawat yang bisa menggunakan perhitungan metode ini hanya bahan bakar
pesawat turbin (avtur) dengan spesifikasi tertentu. Metode ini digunakan untuk
menjadi panduan dalam suatu eksperimen dalam mengestimasi panas pembakaran
yang sudah tidak bisa lagi ditentukan lewat percobaan konvensional.
Metode perhitungan yang digunakan untuk mengestimasi panas
pembakaran bersih yaitu melalui kandungan hidrogen, kandungan sulfur, dan
massa jenis dari bahan bakar yang diuji. Prosedur perhitungan kandungan
hidorgen, kandungan sulfur, dan massa jenis bahan bakar dilakukan berdasarkan
cara yang tertera pada ASTM lainnya yang berhubungan. Ketiga hal tersebut
kemudian nilainya dimasukan dalam suatu persamaan yang akan menghasilkan
nilai estimasi dari panas pembakaran bersih.
Metode estimasi panas pembakaran bersih pada ASTM 6446-01 INI
memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan utamanya adalah rumus
perhitungannya yang sederhana dan prosedur pengambilan data yang cenderung
mudah dilakukan. Namun kekurangannya antara lain pengaplikasian metode ini
yang hanya bisa dilakukan untuk beberapa jenis bahan bakar dan rendahnya
presisi hasil perhitungan bila dibandingkan dengan metode lainnya.

23
DAFTAR PUSTAKA

Jazz, Rev. 2014. Hasil Olahan Minyak Bumi. (Online):


http://www.prosesindustri.com/2014/12/hasil-olahan-minyak-bumi.html.
Diakses 6 Maret 2016.
American National Standard. 2000. Designation: D 129-00. Standard Test
Method for Density and Relative Density (Specific Gravity) of Liquids bt
Bingham Pycnometer. West Conshohocken: ASTM International.
American National Standard. 1993. Designation: D 1217-93. Standard Test
Method Sulfur in Petroleum Products (General Bomb Method). West
Conshohocken: ASTM International.
American National Standard. 2001. Designation: D 1405-01, Standard Test
Method for Estimation of Net Heat of Combustion of Aviation Fuels. West
Conshohocken: ASTM International.
American National Standard. 2000. Designation: D 3338-00, Standard Test
Method for Estimation of Net Heat of Combustion of Aviation Fuels. West
Conshohocken: ASTM International.
American National Standard. 2001. Designation: D 3701-01. Standard Test
Method for Hydrogen Content of Aviation Turbine Fuels by Low
Resolution Nuclear Magnetic Resonance Spectrometry. West
Conshohocken: ASTM International.
American National Standard. 2001. Designation: D 4529-01, Standard Test
Method for Estimation of Net Heat of Combustion of Aviation Fuels. West
Conshohocken: ASTM International.
American National Standard. 2000. Designation: D 4809-00, Standard Test
Method for Heat of Combustion of Liquid Hydrocarbon Fuels by Bomb
Calorimeter (Precision Method). West Conshohocken: ASTM
International.
American National Standard. 2001. Designation: D 6446-01, Standard Test
Method for Estimation of Net Heat of Combustion (Specific Energy) of
Aviation Fuels. West Conshohocken: ASTM International.

24