Anda di halaman 1dari 23

. 1.

SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI FILIPINA

Sejarah masuknya Islam masuk ke wilayah Filipina Selatan, khususnya kepulauan Sulu dan
Mindanao pada tahun 1380 M. Seorang tabib dan ulama Arab bernama Karimul Makhdum dan
Raja Baguinda tercatat sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di kepulauan
tersebut. Menurut catatan sejarah, Raja Baguinda adalah seorang pangeran dari Minangkabau
(Sumatra Barat).Ia tiba di kepulauan Sulu sepuluh tahun setelah berhasil mendakwahkan Islam di
kepulauan Zamboanga dan Basilan. Atas hasil kerja kerasnya juga, akhirnya Kabungsuwan
Manguindanao, raja terkenal dari Manguindanao memeluk Islam.Dari sinilah awal peradaban
Islam di wilayah ini mulai dirintis.Adapula pendapat yang lain mengenai masuknya Islam datang
kekepulaun Sulu. Bahwasannya Islam datang ke Sulu pada abad ke-9 melalui perdagangan. Tapi
itu tidak menjadi faktor yang penting dalam sejarah Sulu, sampai abad ke 13 ketika orang-orang
menyebarkan Islam (dai) mulai pertama kali tinggal di Buasna (Jolo) kemudian di daerah-
daerah lain kepulauan Sulu.
Islam di asia menurut Dr. Hamid mempunyai 3 bentuk penyebaran. Pertama, penyebaran
Islam melahirkan mayoritas penduduk.Kedua, kelompok minoritas Islam.Ketiga, kelompok
negera negara Islam tertindas.
Dalam bukunya yang berjudul Islam Sebagai Kekuatan International, Dr. Hamid
mencantumkan bahwa Islam di Philipina merukan salah satu kelompok ninoritas diantara negara
negara yang lain. Dari statsitk demografi pada tahun 1977, Masyarakat Philipina berjumlah
44.300.000 jiwa.Sedangkan jumlah masyarakat Muslim 2.348.000 jiwa. Dengan prosentase 5,3%
dengan unsur dominan komunitas Mindanao dan mogondinao.
Hal itu pastinya tidak lepas dari sejarah latar belakang Islam di negeri philipina. Bahkan lebih
dari itu, bukan hanya penjajahan saja, akan tetapi konflik internal yang masih berlanjut sampai
saat ini.
Sejarah masuknya Islam masuk ke wilayah Filipina Selatan, khususnya kepulauan Sulu dan
Mindanao pada tahun 1380 M. Seorang tabib dan ulama Arab bernama Karimul Makhdum dan
Raja Baguinda tercatat sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di kepulauan
tersebut. Menurut catatan sejarah, Raja Baguinda adalah seorang pangeran dari Minangkabau
(Sumatra Barat).Ia tiba di kepulauan Sulu sepuluh tahun setelah berhasil mendakwahkan Islam di
kepulauan Zamboanga dan Basilan. Atas hasil kerja kerasnya juga, akhirnya Kabungsuwan
Manguindanao, raja terkenal dari Manguindanao memeluk Islam.Dari sinilah awal peradaban
Islam di wilayah ini mulai dirintis.Pada masa itu, sudah dikenal sistem pemerintahan dan
peraturan hukum yaitu Manguindanao Code of Law atau Luwaran yang didasarkan atas Minhaj
dan Fathu-i-Qareeb, Taqreebu-i-Intifa dan Mir-atu-Thullab.Manguindanao kemudian menjadi
seorang Datuk yang berkuasa di propinsi Davao di bagian tenggara pulau Mindanao.Setelah itu,
Islam disebarkan ke pulau Lanao dan bagian utara Zamboanga serta daerah pantai
lainnya.Sepanjang garis pantai kepulauan Filipina semuanya berada dibawah kekuasaan
pemimpin-pemimpin Islam yang bergelar Datuk atau Raja.Menurut ahli sejarah kata Manila
(ibukota Filipina sekarang) berasal dari kata Amanullah (negeri Allah yang aman).Pendapat ini
bisa jadi benar, mengingat kalimat tersebut banyak digunakan oleh masyarakat sub-kontinen.
Secara umum, gambaran Islam masuk di Philiphina melalui beberapa fase, dari penjajahan
sampai masa modern.
a. Masa Kolonial Spanyol
Sejak masuknya orang-orang Spanyol ke Filipina, pada 16 Maret 1521 M, penduduk
pribumi telah mencium adanya maksud lain dibalik ekspedisi ilmiah Ferdinand de Magellans.
Ketika kolonial Spanyol menaklukan wilayah utara dengan mudah dan tanpa perlawanan berarti,
tidak demikian halnya dengan wilayah selatan.Mereka justru menemukan penduduk wilayah
selatan melakukan perlawanan sangat gigih, berani dan pantang menyerah.Tentara kolonial
Spanyol harus bertempur mati-matian kilometer demi kilometer untuk mencapai Mindanao-Sulu
(kesultanan Sulu takluk pada tahun 1876 M).Menghabiskan lebih dari 375 tahun masa
kolonialisme dengan perang berkelanjutan melawan kaum Muslimin.walaupun demikian, kaum
Muslimin tidak pernah dapat ditundukan secara total. Selama masa kolonial, Spanyol
menerapkan politik devide and rule (pecah belah dan kuasai) serta mision-sacre (misi suci
Kristenisasi) terhadap orang-orang Islam. Bahkan orang-orang Islam di-stigmatisasi (julukan
terhadap hal-hal yang buruk) sebagai Moor (Moro).Artinya orang yang buta huruf, jahat, tidak
bertuhan dan huramentados (tukang bunuh).Sejak saat itu julukan Moro melekat pada orang-
orang Islam yang mendiami kawasan Filipina Selatan tersebut.Tahun 1578 M terjadi perang
besar yang melibatkan orang Filipina sendiri.Penduduk pribumi wilayah Utara yang telah
dikristenkan dilibatkan dalam ketentaraan kolonial Spanyol, kemudian di adu domba dan disuruh
berperang melawan orang-orang Islam di selatan.Sehingga terjadilah peperangan antar orang
Filipina sendiri dengan mengatasnamakan misi suci.Dari sinilah kemudian timbul kebencian
dan rasa curiga orang-orang Kristen Filipina terhadap Bangsa Moro yang Islam hingga
sekarang.Sejarah mencatat, orang Islam pertama yang masuk Kristen akibat politik yang
dijalankan kolonial Spanyol ini adalah istri Raja Humabon dari pulau Cebu.

b. Masa Imperialisme Amerika Serikat


Sekalipun Spanyol gagal menundukkan Mindanao dan Sulu, Spanyol tetap menganggap
kedua wilayah itu merupakan bagian dari teritorialnya.Secara tidak sah dan tak bermoral,
Spanyol kemudian menjual Filipina kepada Amerika Serikat seharga US$ 20 juta pada tahun
1898 M melalui Traktat Paris.Amerika datang ke Mindanao dengan menampilkan diri sebagai
seorang sahabat yang baik dan dapat dipercaya.Dan inilah karakter musuh-musuh Islam
sebenarnya pada abad ini.Hal ini dibuktikan dengan ditandatanganinya Traktat Bates (20 Agustus
1898 M) yang menjanjikan kebebasan beragama, kebebasan mengungkapkan pendapat,
kebebasan mendapatkan pendidikan bagi Bangsa Moro. Namun traktat tersebut hanya taktik
mengambil hati orang-orang Islam agar tidak memberontak, karena pada saat yang sama
Amerika tengah disibukkan dengan pemberontakan kaum revolusioner Filipina Utara pimpinan
Emilio Aguinaldo. Terbukti setelah kaum revolusioner kalah pada 1902 M, kebijakan AS di
Mindanao dan Sulu bergeser kepada sikap campur tangan langsung dan penjajahan terbuka.
Setahun kemudian (1903 M) Mindanao dan Sulu disatukan menjadi wilayah propinsi Moroland
dengan alasan untuk memberadabkan (civilizing) rakyat Mindanao dan Sulu.Periode berikutnya
tercatat pertempuran antara kedua belah pihak.Teofisto Guingona, Sr. mencatat antara tahun
1914-1920 rata-rata terjadi 19 kali pertempuran.Tahun 1921-1923, terjadi 21 kali
pertempuran.Patut dicatat bahwa selama periode 1898-1902, AS ternyata telah menggunakan
waktu tersebut untuk membebaskan tanah serta hutan di wilayah Moro untuk keperluan ekspansi
para kapitalis.Bahkan periode 1903-1913 dihabiskan AS untuk memerangi berbagai kelompok
perlawanan Bangsa Moro.Namun Amerika memandang peperangan tak cukup efektif meredam
perlawanan Bangsa Moro, Amerika akhirnya menerapkan strategi penjajahan melalui kebijakan
pendidikan dan bujukan.Kebijakan ini kemudian disempurnakan oleh orang-orang Amerika
sebagai ciri khas penjajahan mereka.Kebijakan pendidikan dan bujukan yang diterapkan
Amerika terbukti merupakan strategi yang sangat efektif dalam meredam perlawanan Bangsa
Moro.Sebagai hasilnya, kohesitas politik dan kesatuan diantara masyarakat Muslim mulai
berantakan dan basis budaya mulai diserang oleh norma-norma Barat.Pada dasarnya kebijakan
ini lebih disebabkan keinginan Amerika memasukkan kaum Muslimin ke dalam arus utama
masyarakat Filipina di Utara dan mengasimilasi kaum Muslim ke dalam tradisi dan kebiasaan
orang-orang Kristen.Seiring dengan berkurangnya kekuasaan politik para Sultan dan
berpindahnya kekuasaan secara bertahap ke Manila, pendekatan ini sedikit demi sedikit
mengancam tradisi kemandirian.

c. Masa Peralihan
Masa pra-kemerdekaan ditandai dengan masa peralihan kekuasaan dari penjajah Amerika
ke pemerintah Kristen Filipina di Utara.Untuk menggabungkan ekonomi Moroland ke dalam
sistem kapitalis, diberlakukanlah hukum-hukum tanah warisan jajahan AS yang sangat
kapitalistis seperti Land Registration Act No. 496 (November 1902) yang menyatakan keharusan
pendaftaran tanah dalam bentuk tertulis, ditandatangani dan di bawah sumpah.Kemudian
Philippine Commission Act No. 718 (4 April 1903) yang menyatakan hibah tanah dari para
Sultan, Datu, atau kepala Suku Non-Kristen sebagai tidak sah, jika dilakukan tanpa ada
wewenang atau izin dari pemerintah. Demikian juga Public Land Act No. 296 (7 Oktober 1903)
yang menyatakan semua tanah yang tidak didaftarkan sesuai dengan Land Registration Act No.
496 sebagai tanah negara, The Mining Law of 1905 yang menyatakan semua tanah negara di
Filipina sebagai tanah yang bebas, terbuka untuk eksplorasi, pemilikan dan pembelian oleh WN
Filipina dan AS, serta Cadastral Act of 1907 yang membolehkan penduduk setempat (Filipina)
yang berpendidikan, dan para spekulan tanah Amerika, yang lebih paham dengan urusan
birokrasi, untuk melegalisasi klaim-klaim atas tanah. Pada intinya ketentuan tentang hukum
tanah ini merupakan legalisasi penyitaan tanah-tanah kaum Muslimin (tanah adat dan ulayat)
oleh pemerintah kolonial AS dan pemerintah Filipina di Utara yang menguntungkan para
kapitalis. Pemberlakukan Quino-Recto Colonialization Act No. 4197 pada 12 Februari 1935
menandai upaya pemerintah Filipina yang lebih agresif untuk membuka tanah dan menjajah
Mindanao. Pemerintah mula-mula berkonsentrasi pada pembangunan jalan dan survei-survei
tanah negara, sebelum membangun koloni-koloni pertanian yang baru.NLSA National Land
Settlement Administration didirikan berdasarkan Act No. 441 pada 1939.Di bawah NLSA, tiga
pemukiman besar yang menampung ribuan pemukim dari Utara dibangun di propinsi Cotabato
Lama.Bahkan seorang senator Manuel L. Quezon pada 1936-1944 gigih mengkampanyekan
program pemukiman besar-besaran orang-orang Utara dengan tujuan untuk menghancurkan
keragaman (homogenity) dan keunggulan jumlah Bangsa Moro di Mindanao serta berusaha
mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat Filipina secara umum.Kepemilikan tanah yang
begitu mudah dan mendapat legalisasi dari pemerintah tersebut mendorong migrasi dan
pemukiman besar-besaran orang-orang Utara ke Mindanao.Banyak pemukim yang datang,
seperti di Kidapawan, Manguindanao, mengakui bahwa motif utama kedatangan mereka ke
Mindanao adalah untuk mendapatkan tanah. Untuk menarik banyak pemukim dari utara ke
Mindanao, pemerintah membangun koloni-koloni yang disubsidi lengkap dengan seluruh alat
bantu yang diperlukan. Konsep penjajahan melalui koloni ini diteruskan oleh pemerintah Filipina
begitu AS hengkang dari negeri tersebut.Sehingga perlahan tapi pasti orang-orang Moro menjadi
minoritas di tanah mereka.

d. Masa Pasca Kemerdekaan hingga Sekarang


Kemerdekaan yang didapatkan Filipina (1946 M) dari Amerika Serikat ternyata tidak
memiliki arti khusus bagi Bangsa Moro.Hengkangnya penjajah pertama (Amerika Serikat) dari
Filipina ternyata memunculkan penjajah lainnya (pemerintah Filipina).Namun patut dicatat, pada
masa ini perjuangan Bangsa Moro memasuki babak baru dengan dibentuknya front perlawanan
yang lebih terorganisir dan maju, seperti MIM, Anshar-el-Islam, MNLF, MILF, MNLF-
Reformis, BMIF. Namun pada saat yang sama juga sebagai masa terpecahnya kekuatan Bangsa
Moro menjadi faksi-faksi yang melemahkan perjuangan mereka secara keseluruhan. Pada awal
kemerdekaan, pemerintah Filipina disibukkan dengan pemberontakan kaum komunis
Hukbalahab dan Hukbong Bayan Laban Sa Hapon. Sehingga tekanan terhadap perlawanan
Bangsa Moro dikurangi.Gerombolan komunis Hukbalahab ini awalnya merupakan gerakan
rakyat anti penjajahan Jepang.Setelah Jepang menyerah, mereka mengarahkan perlawanannya ke
pemerintah Filipina.Pemberontakan ini baru bisa diatasi di masa Ramon Magsaysay, menteri
pertahanan pada masa pemerintahan Eipidio Qurino (1948-1953).Tekanan semakin terasa hebat
dan berat ketika Ferdinand Marcos berkuasa (1965-1986).Dibandingkan dengan masa
pemerintahan semua presiden Filipina dari Jose Rizal sampai Fidel Ramos maka masa
pemerintahan Ferdinand Marcos merupakan masa pemerintahan paling represif bagi Bangsa
Moro. Pembentukan Muslim Independent Movement (MIM) pada 1968 dan Moro Liberation
Front (MLF) pada 1971 tak bisa dilepaskan dari sikap politik Marcos yang lebih dikenal dengan
Presidential Proclamation No. 1081 itu. Perkembangan berikutnya kita semua tahu.MLF sebagai
induk perjuangan Bangsa Moro akhirnya terpecah.Pertama, Moro National Liberation Front
(MNLF) pimpinan Nurulhaj Misuari yang berideologikan nasionalis-sekuler. Kedua, Moro
Islamic Liberation Front (MILF) pimpinan Salamat Hashim, seorang ulama pejuang, yang murni
berideologikan Islam dan bercita-cita mendirikan negara Islam di Filipina Selatan. Namun dalam
perjalanannya, ternyata MNLF pimpinan Nur Misuari mengalami perpecahan kembali menjadi
kelompok MNLF-Reformis pimpinan Dimas Pundato (1981) dan kelompok Abu Sayyaf
pimpinan Abdurrazak Janjalani (1993).Tentu saja perpecahan ini memperlemah perjuangan
Bangsa Moro secara keseluruhan dan memperkuat posisi pemerintah Filipina dalam menghadapi
Bangsa Moro. Ditandatanganinya perjanjian perdamaian antara Nur Misuari (ketua MNLF)
dengan Fidel Ramos (Presiden Filipina) pada 30 Agustus 1996 di Istana Merdeka Jakarta lebih
menunjukkan ketidaksepakatan Bangsa Moro dalam menyelesaikan konflik yang telah
memasuki 2 dasawarsa itu. Disatu pihak mereka menghendaki diselesaikannya konflik dengan
cara diplomatik (diwakili oleh MNLF), sementara pihak lainnya menghendaki perjuangan
bersenjata/jihad (diwakili oleh MILF). Semua pihak memandang caranyalah yang paling tepat
dan efektif.Namun agaknya Ramos telah memilih salah satu diantara mereka walaupun dengan
penuh resiko.Semua orang harus memilih, tidak mungkin memuaskan semua pihak,
katanya.Dan jadilah bangsa Moro seperti saat ini, minoritas di negeri sendiri.

B. Faktor -faktor Islam menjadi agama minoritas di Filipina


Mayoritas penduduk Filipina beragama Katolik, walaupun katolik menjadi agama mayoritas,
tetapi di Filipina terdapat tiga ribu masjid, terutama di selatan. Penduduk Filipina sekitar
85.236.900 juta pada tahun 2006 dan setiap tahunnya pertumbuhan penduduknya 1,92% dengan
luas wilayah 300.076 km terdiri dari 7.107 pulau. Penduduknya terdiri dari beberapa suku yaitu
suku Filipino 80%, Tionghoa 10%, Indo Arya 5%, Eropa dan Amerika 2%, Arab 1%, suku lain
2%. Kota Marawi dan Jolo dapat dianggap sebagai pusat keagamaan bagi komunitas muslim.
Kitab suci alQuran telah diterjemahkan oleh dr.Ahmad Domacao Alonto kedalaam bahasa
Maranao, bahasa yang paling utama dikalangan muslim kebanyakan muslim di Moro adalah
petani dan nelayan. Dijabatan tinggi pemerintah Filipina tidak berarti. Asosiasi islam yang
paaling aktif adalah Asosiasi Muslim Filipina (Manila), Ansar al Islam(Kota Marawi),
Masyarakat Islam Mualaf (Manila) dan yayasan Islam Sulu (jolo) dan sebagainya. Tahun 1983,
Dewan Dakwah Islam Filipina telah dibentuk untuk mempersatukan organisasi-organisasi
Muslim di utara dan selatan.
Menurut Majul, ada tiga alasan yang menjadi penyebab sulitnya bangsa Moro berintegerasi
secara penuh kepada republik Filipina. Pertama, bangsa Moro sulit menghargai undang-undang
Nasional, khususnya yang mengenai hubungan pribadi daan keluarga, karena undang-undang
tersebut berasal daari Barat dan Katolik, seperti larangan bercerai dan poligami yang sangat
bertentangan dengan hukum Islam yang membolehkannya. Kedua, system sekolah yang
menetapkan kurikulum yang sama, bagi setiap anak Filipina disemua daerah, tanpa membedakan
perbedaan agama dan kultur, membuat bangsa Moro malas untuk belajar disekolah yang
didirikan pemerintah. Mereka menghendaki dalam kurikulum itu adanya perbedaan khusus bagi
bangsa Moro, karena adanya perbedaan agama dan kultur. Ketiga, bangsa Moro masih trauma
dan kebencian yang mendalam terhadap program perpindahan penduduk yang dilakukan oleh
pemerintah Filipina kewilayah mereka di Mindanao, karena program ini telah mengubah posisi
mereka dari mayoritas menjadi minoritas hamper disegala bidang kehidupan.

C. Hukum Islam Di Filipina


Bangsa Moro adalah tanah muslim yang penduduknya mengikuti madzhab Syafii. Selama
periode pra-Islam, yang Bangsa berbeda atau barangay (masyarakat) yang burik kepulauan tidak
memiliki hukum tertulis dan dipimpin oleh datus (kepala suku) dengan hak atas tanah leluhur.
Menjelang akhir abad ke-13, pulau Sulu pemukim Muslim terlindung dari Arab, Kalimantan,
Sumatera, dan Malaya yang bekerja sebagai pedagang dan misionaris, beberapa di antaranya
perempuan lokal menikah, berbagi keyakinan agama mereka, dan menjalin aliansi politik. Islam
kemudian disebarkan di Filipina selatan pra-kolonial melalui sarana ekonomi dan relasional
sebagai pengganti penaklukan, yang mengakibatkan integrasi hukum adat baru dan yang sudah
ada. Ketika datus masuk Islam, kesultanan didirikan di Magindanao dan Sulu. Ini, menurut Justin
Holbrook (2009): "berfungsi seperti" mini-negara ", dengan pemerintah memiliki kekuatan baik
dan peradilan administrasi ... Agama pengadilan Moro diterapkan hukum adat, atau adat, serta
hukum syariah ..." ini didefinisikan sifat komprehensif dari sistem hukum Islam (juga disebut
sebagai Agama Sara System) yang mencakup, sosio-politik, dan hubungan-hubungan hukum
sipil.1[1][6] Holbrook catatan lebih lanjut bahwa Muslim awal dilaksanakan "pluralisme hukum
untuk menjalin hubungan dengan orang-orang dari keyakinan yang berbeda ...", menunjukkan
bahwa mereka tinggal di ko-eksistensi damai dengan dan tidak memaksakan iman mereka
terhadap non-Muslim.
Pada masa itu, sudah dikenal sistem pemerintahan dan peraturan hukum yaitu Manguindanao
Code of Law atau Luwaran yang didasarkan atas Minhaj dan Fathu-i-Qareeb, Taqreebu-i-Intifa
dan Mir-atu-Thullab. Manguindanao kemudian menjadi seorang Datuk yang berkuasa di propinsi
Davao di bagian tenggara pulau Mindanao. Setelah itu, Islam disebarkan ke pulau Lanao dan

1
bagian utara Zamboanga serta daerah pantai lainnya. Sepanjang garis pantai kepulauan Filipina
semuanya berada dibawah kekuasaan pemimpin-pemimpin Islam yang bergelar Datuk atau Raja.
Istilah luwaran, yang dipakaai oleh orang Moro Mindanao dalam kitab hokum, berarti pilihan
ataau terpilih. Undang-undang yang terkandung didalam kitab Luwaran merupakan pilihan
dari hokum Arab lama yang kemudian diterjemaahkan dan dikompilasikan untu digunakan
sebagai pegangan serta informasi bagi para datu, hakim dan pandita di Mindanao yang tidak
mengerti bahasa Arab. Kitab luwaran dari Mindanao tidak ada taanggalnya sama sekali, tak ada
seorangpun yang mengetahui kapan kitab ini di buat. Sebagian orang berpendapat bahwa kitab
Mindanao ini disusun beberapa waktuyang lalu oleh para hakim di Mindanaao. Kitab utama yang
dirujuk oleh kitab luwaran adalah Minhaj Al TThalibin karya ahli hokum mazhab SyafiI Zakaria
yahya bin syaraf Al Nawawi.

D. Tokoh-tokoh Islam di Filipina


Tokoh-tokoh pejuang Islam di Phillipina
1. Prof.Dr.H. Nur Misuari
Nur Misuari atau Nurallaj Misuari merupakan pengasas Pergerakan Pembebasan Mindanao
yang merupakan kumpulan anti kerajaan Filipinasecara kekerasan. Nur Misuari dipenjara atas
tuduhan melakukan pemberontakan pada 2006. Nur Misuari ditahan di Pulau Jampiras, Sabah 24
November 2001 kerana memasuki Malaysia tanpa dokumen perjalanan sah. Kerajaan Filipina
mendesak Malaysia menyerahkan Nur Misuari tetapi Malaysia terus melindungi Nur Misuari.
Nur Misuari pernah berlindung di Libya awal tahun 1980-an.Nur Misuari merupakan Bekas
Gabenor Wilayah Autonomi Islam Mindanao (ARMM) . Beliau berusia 65 tahun dan menjadi
buruan Manilakerana mengetuai pemberontakan 19 November 2001 sebelum melarikan diri
2. Abu Sayaf
Kelompok Abu Sayyaf, juga dikenal sebagai Al Harakat Al Islamiyya, adalah sebuah
kelompok separatis yang terdiri dari terorisMuslim yang berbasis di sekitar kepulauan selatan
Filipina, antara lain Jolo, Basilan, dan Mindanao. Khadaffi Janjalani dinamakan sebagai
pemimpin kelompok ini oleh Angkatan Bersenjata Filipina.Dilaporkan bahwa akhir-akhir ini
mereka sedang memperluaskan jaringannya ke Malaysia dan Indonesia. Kelompok ini
bertanggung jawab terhadap aksi-aksi pemboman, pembunuhan, penculikan, dan pemerasan
dalam upaya mendirikan negara Muslim di sebelah barat Mindanao dan Kepulauan Sulu serta
menciptakan suasana yang kondusif bagi terciptanya negara besar yang Pan-Islami di
Semenanjung Melayu(Indonesia dan Malaysia) di Asia Tenggara. Nama kelompok ini adalah
bahasa Arab untuk Pemegang (Abu) Pedang (Sayyaf). Abu Sayyaf adalah salah satu kelompok
separatis terkecil dan kemungkinan paling berbahaya[rujukan?] di Mindanao. Beberapa
anggotanya pernah belajar atau bekerja di Arab Saudi dan mengembangkan hubungan dengan
mujahidin ketika bertempur dan berlatih di Afganistan dan Pakistan

TIGA JEJAK KEJAYAAN ISLAM di FILIPINA


Islam pernah berjaya di Filipina selama beberap dekade, bahkan sempat menjadi agama
mayoritas, hingga akhirnya kini hanya tersisa sekitar 5,1 juta Muslim berdasarkan sensus 2010,
atau 11 persen dari total keseluruhan populasi negara tersebut.

Islam sudah hadir di Filipina sebelum kedatangan penjajah Spanyol dan Katolik Roma. Pada
abad ke-14, pedagang Muslim di Filipina memperkenalkan Islam di bagian selatan hingga
menyebar ke utara hingga Manila. Berabad-abad kemudian, Islam tetap menjadi bagian integral
dari sejarah dan budaya negara tersebut sampai penjajah Eropa menduduki wilayah ini.

Pernah menjadi negara mayoritas Islam, Manila, Ibu Kota Filipina, memiliki beberapa
peninggalan bersejarah Islam. Saat ini, Filipina merupakan negara sekuler, dengan gaya hidup
sebagian besar masyarakatnya yang menjiplak seratus persen pada gaya hidup Amerika Serikat,
walaupun penduduk Kristen Filipina tetap menggunakan nama-nama Spanyol.

Berikut sejumlah jejak kejayaah Islam yang masih bertahan


hingga ini di Filipina:

Masjid Syekh Karim al-Makdum


Masjid yang terletak di Tubig Indangan, Simunul, ini didaulat
sebagai masjid tertua di Filipina. Masjid yang berdiri pada 1380 M
ini dibangun oleh Syekh Karim al-Makdum, saudagar Arab yang
datang dan berdakwah di daerah tersebut.
Masjid ini merupakan pusat penyebaran Islam pertama di tanah
Filipina. Beberapa tiangnya yang asli, masih tegak berdiri, berada
di dalam bangunan masjid. Pusat Arkeologi Nasional menobatkan
situs ini sebagai warisan bersejarah. Sedangkan, oleh Museum
Nasional Filipina, masjid ini dicatat sebagai kekayaan budaya berupa
benda.

Masjid Syekh Karim al-Makdum


Masjid yang terletak di Tubig Indangan, Simunul, ini didaulat sebagai masjid tertua di Filipina.
Masjid yang berdiri pada 1380 M ini dibangun oleh Syekh Karim al-Makdum, saudagar Arab
yang datang dan berdakwah di daerah tersebut.

Masjid ini merupakan pusat penyebaran Islam pertama di tanah Filipina. Beberapa tiangnya yang
asli, masih tegak berdiri, berada di dalam bangunan masjid. Pusat Arkeologi Nasional
menobatkan situs ini sebagai warisan bersejarah. Sedangkan, oleh Museum Nasional Filipina,
masjid ini dicatat sebagai kekayaan budaya berupa benda.

Intramorus Walle City


Dalam bahasa latin, intramorus berarti dinding. Dinding yang dibangun pada abad ke-16 di atas
lahan seluas 64 hektare ini merupakan cikal bakal Kota Manila. Bangunan yang semula berada di
timur Kota Manila ini difungsikan sebagai pusat pemerintahan Spanyol dan diperuntukkan
sebagai benteng pertahanan.

Di sekitar dinding raksasa ini, terdapat beberapa bangunan bersejarah, salah satunya Fort
Santiago. Bangunan yang digunakan sebagai penjara ini dibangun oleh penguasa Islam, yakni
Raja Sulaiman, pemimpin masyarakat Melayu.
Distrik Quiapo
Quiapo merupakan kota lama dan tempat permukiman Islam di Manila. Di daerah tersebut sudah
banyak berdiri gedung-gedung pencakar langit. Di sinilah tempat pusat transaksi ekonomi cara
Islam.

Konon, menurut sejumlah sumber sejarah, penamaan Kota Manila berasal dari kata fi amanillah
yang berarti di bawah lindungan Allah SWT. Kota ini menjadi salah satu pusat perdangangan
bangsa Filipina saat itu. Dan uniknya, sistem transaksi yang digunakan sejak awal adalah sistem
Islam. Sistem ini pun masih dipraktikkan oleh sebagian pedagang di kawasan tersebut sampai
sekarang.

2.SEJARAH MASUKNYA ISLAM di THAILAN


Kedudukan umat Islam di pelbagai Negara di Asia Tenggara ini bermacam-macam. Di
Indonesia, Malaysia, dan Brunei, umat Islam adalah sebagai mayoritas, sedangkan di Thailand,
Singapura, dan Filiphina, mereka berada dalam minoritas. Agama yang dipeluk oleh kebanyakan
rakyat Thailand adalah Budhisme.[1] Negara Gajah Putih inilah yang akan pemakalah bahas
dalam makalah singkat dan sederhana ini.
Pembahasan akan dimulai dari sejarah masuknya Islam ke wilayah ini serta proses
Islamisasi yang ada. Kemudian kondisi pemerintahan yang ada di Thailand, pendidikan dan
kehiduapan keberagamaan yang dihadapi oleh bangsa ini.

A. Sejarah Masuknya Islam di Thailand dan Perkembangannnya


Diperkirakan para penyebar Agama Islam yang paling banyak datang ke Nusantara
diperkirakan sekitar tahun seribu empat ratusan masehi atau secara berturut datang setelah itu
hingga keabad lima belas dan enam belasan. Dan diduga bahwa penyebar-penyebar tersebut
adalah keturunan bani Abbasyiah.[2]
Adapun pendapat lain mengatakan bahwa Islam diperkirakan datang ke negara Thailand
sekitar pada abad ke-10 atau 11 melalui jalur perdagangan. Yang mana penyebaran Islam ini
dilakukan oleh para guru sufi dan pedagang yang berasal dari wilayah Arab dan pesisir India.
Pendapat lain ada yang mengatakan Islam masum ke Thailand melalui Kerajaan Samudra Pasai
di Aceh.[3]
Salah satu bukti yang menguatkan pendapat ini adalah ditemukannya sebuah batu nisan
yang bertuliskan Arab di dekat Kampung Teluk Cik Munah, Pekan Pahang yang bertepatan pada
tahun 1028 M.[4]
Dahulu, ketika Kerajaan Samudera Pasai ditaklukkan oleh kerajaan Siam (Thailand),
banyak orang-orang Islam yang ditawan, yang mana ketika itu Raja Zainal Abidin lah salah satu
tawanan kerajaan Siam yang kemudian di bawa ke Thailand. Para tawanan itu akan dibebaskan
apabila telah membayar uang tebusan. Kemudian para tawanan yang telah bebas itu ada yang
kembali ke Indonesia dan ada pula yang menetap di Thailand dan menyebarkan agama Islam di
wilayah Thailand Selatan yangberbatasan langsung dengan Malaysia.[5]
Pada tahap pertama Islam diwarnai dawahnya dengan Tasawuf dan Mistik setidaknya
sampai pada abad ke-17. Hal ini karena dirasa paling cocok dengan latar belakang masyarakat
setempat yang dipengaruhi oleh asketisme Hindu-Budha dan sinkretisme kepercayaan local dan
tarekat cenderung lebih toleran dengan tradisi semacam itu.[6] Sehingga ditemukan bahwa
terdapat nama-nama ulama sufi terkenal sebagai penyebar Islam, diantaranya adalah Syiekh
Syafiuddin Ahmad Ad Dajjani Al-Qusyasyi, beliau adalah seorang keturunan Abbas bin Abdul
Muthalib (paman Nabi Muhammad s.a.w). diceritakan juga bahwa ada dua orang yang
sezaman/bersahabat karib yang sama-sama menjalankan aktivitas dakwah Syeikh Syafiuddin di
Pattani.[7]banyak yang menduga bahwa baliaulah yang pertama mengislamkan Pattani,
barangkali anggapan ini adalah satu kekeliruan karena Pattani memeluk Islam jauh lebih awal
dari kedatangan beliau ke Pattani, bahkan Pattani dianggap tampat yang telah lama menerima
Islam tak ubahnya seperti di Aceh juga.[8]

B. Kondisi Pemerintahan di Thailand


Pada tahun 2004 bertepatan pada bulan April, pada masa kepekimpinan Thaksin
Shinawarta, insiden berdarah telah terjadi sehingga mengakibatkan 30 pemuda muslim tewas di
masjid Kru Se. peristiwa keji terjadi yang kedua kalinya pada bulan oktober 2004 yang
mengakibatkan 175 tahanan pejuang Muslim Takbai meninggal dunia, akibat dijejalkan militer
Thailand dalam sebuah truk dengan kondisi tangan di belakang.[9] pada perkembangan Muslim
Pattani antara 2004 hingga Mei 2007. Periode ini sangat urgen tidak hanya karena banyaknya
korban dalam kurun waktu ini, setidaknya 2000 korban meninggal.[10] Sehingga di penghujung
tahun 2008, Thailand ingin memiliki Perdana Menteri baru yang diharapkan dapat membawa
angin perubahan. Dengan rezim barunya harus berjuang keras mencari alternative dalam
menangani masalah konflik Thailand Selatan.[11]
Rupanya perdamaian Aceh (Gerakan Aceh Merdeka) menjadi model upaya perdamaian
dan rekonsiliasi di Thailand Selatan. Identitas lokal di Thailand Selatan lebih dekat dengan
Kelantan dan Kedah, Malaysia. Masyarakat secara tradisional lebih memilih menggunakan
bahasa Melayu dibandingkan bahasa Thai yang digalakkan oleh pemerintah pusat sebagai bahasa
resmi negara. Keterpaksaan ini dirasakan masyarakat Melayu Muslim di Thailand Selatan selama
puluhan tahun. [12]
Penggunakan bahasa Thai diwajibkan oleh pemerintah, baik itu di kantor kerajaan,
pemerintah, sekolah dan media. Dan ternyata strategi pemerintah Thailand memang
membuahkan hasil. Dalam waktu sekitar 50 tahun, banyak generasi muda Melayu Muslim lebih
suka berbahasa Thai dibandingkan bahasa Melayu, baik di sekolah maupun dalam pergaulan
sehari-hari. Tetapi mereka dipaksa keluarga untuk berbicara dalam bahasa Melayu ketika
mereka berkumpul dilingkungan keluarga.[13]

C. Kehidupan Keberagamaan
Ummat Islam di Thailand tidak seberuntung seperti Ummat Islam di Malaysia yang mana
hampir semua sarana dawah seperti masjid-masjid disediakan oleh pemerintah Malaysia.
Demikian pula dengan Imam, Khotib, Bilal, dan pengurus-pengurus masjid digaji langsung oleh
pemerintah. Sarana media seperti TV maupun radio di Malaysia diberikan waktu tiap malam
untuk dawah Islam.[14]
kawasan Thailand bagian selatan yang merupakan basis masyarakat melayu-muslim
adalah daerah konflik agama dan persengketaan wilayah dengan latar belakang ras dan agama
yang berkepanjangan. Konflik Thailand selatan terjadi sejak diserahkannya wilayah utara
Melayu oleh pemerintah colonial Inggris kepada kerajaan Siam. Saat itu dibuatlah Traktat Anglo-
Siam yang menabut hak-hak dan martabat Muslim Pattani. Akibatnya, muncul aksi-aksi
perlawanan dan ditanggap pemerintah pusat sebagai separatisme, hingga diberlakukan darurat
militer di wilayah tersebut.[15]
Di beberapa kota pelabuhan, Islam bukanlah agama bagi komunitas perkampungan
melainkan agama para individu yang mobil yang menyatu dalam jaringan asosiasi internasional.
Dari Singapura pembaharuan Islam menyebar ke seluruh Asia Tenggara melalui perdagangan,
haji, dan melalui gerakan pelajar, guru dan sufi.[16]
Sudah pada tempatnya dunia Islam segera meyampaikan appeal kepada pemerintah
supaya elindng, menyelamatkan Ummat Islam dan memberikan persamaan hak di segala bidang
kepada mereka, termasuk hak-hak untuk beribadah dan melaksanakan ajaran-ajaran Islam, hak
yang sama dengan hak-hak yang dmiliki penduduk yang beragama Budha.[17]
D. Pendidikan di Thailand
Pendidikan yang digalakkan oleh pemerintah Kerajaan Thailand tergolong bersifat
deskriminatif terhadap Islam. Pada tahun 1923 M, beberapa Madrasah Islam yang dianggap
ekstrim ditutup, dalam sekolah-sekolah Islam harus diajarkan pendidikan kebangsaan dan
pendidikan etika bangsa yang diambil dari inti sari ajaran Budha. Pada saat-saat tertentu anak-
anak sekolah pun harus menyanyikan lagu-lagu bernafaskan Budha dan kepada guru harus
menyembah dengan sembah Budha. Kementrian pendidikan memutar balik
sejarah, dikatakannya bahwa orang Islam itulah yang jahat ingin menentang pemerintahan shah
di Siam dan menjatuhkan raja.[18]Dampak yang menonjol dari perkembangan yang berorientasi
ke dalam hal ini. Misalnya, pada tahun 1966, sekitar 60% anak-anak di Pattani tidak dapat
berbicara bahasa nasional. Hal itu berkaitan dengan banyaknya orang tua Muslim yang lebih
senang mengirimkan anak-anaknya ke sekolah agama[19]
Strategi yang perlu dibangun masyarakat muslim di Thailand Selatan pada saat ini adalah
memajukan pendidikan, mendukung pembangunan nasional, dan menjaga stabilitas local.
Namun, sampai saat inipun masyarakat muslim Pattani Thailand menghadapi diskriminasi
komplek dan teror yang berlarut-larut. Sehingga kehidupan sosial maupun politik menjadi sangat
terbatas. Akhirnya pemerintah Thailand juga belum mampu memberi pendidikan merata terhadap
kaum muslim. Tekanan berbasis keamanan selalu mengancam mereka. Kesenjangan ini
menurunkan nasionalisme mesyarakat di luar mayoritas Thai-Budha.[20]

E. Muslim Thailand Sebagai Minoritas


Perlulah kita membatasi definisi atau pengertian tentang minoritas muslim, karena
terdapat sejumlah pertimbangan dalam masalah ini, dengan pengertian bahwa Negara yang
jumlah penduduk kaum musliminnya lebih dari setengah jumlah penduduk, itu tergolong Negara
Islam. Akan tetapi apabila jumlah kaum musliminnya kurang dari setengah jumlah penduduk,
maka digolongkan (minoritas) masuk ke dalam Negara yang bukan Islam.[21]
Negara bukan Islam yang berjulukan Negara Gajah Putih, tercatat minoritas kaum
Muslim yang berjumlah sekitar 5% atau 1,5 juta jiwa dari penduduk Thailand, Mayoritas Muslim
tinggal di wilayah selatan khususnya Pattani, Yala, dan marathiwat. Mereka kerap terdiskriminasi
dalam segala sektor kehidupan. Pada saat ini mayoritas penduduk Thailand yang beragama
Budha sekitar 80%. Daerah-dareh tersebut awalnya merupakan bagian dari sebuah kerajaan
Melayu Islam Pattani Darusalam.Daerah yang sekarang disebut Thailand selatan pada masa
dahulu berupa kesultanan-kesultanan yang merdeka dan berdaulat, diantara kesultanan yang
terbesar adalah Patani. Thailand sebelumnya bernama Siam yang kemudian pada tahun 1939 M,
Nama Siam diganti dengan Muangthai.[22]
Derita yang dialami masyarakat muslim di Thailand Selatan yang sebagai minoritas ini
adalah akibat dari pembatasan ruang gerak mereka untuk memperoleh hak-haknya dalam bidang
ekonomi, politik, dan keagamaan. Juga karena problematika klasik yang telah berlangsung lama
yang menyalahi keyakinan dan nilai-nilai keislamannya.[23] Minoritas ini menuntut pemisahan
diri dan kemerdekaan seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa perdamaian Aceh
(Gerakan Aceh Merdeka) menjadi model upaya perdamaian dan rekonsiliasi di Thailand Selatan.
Dalam tatanan sosial, muslimin Thailand mendapatkan julukan yang kurang enak untuk
didengar. Yaitu Kheik atau khaek yang berarti orang luar, yang secara harfiah berarti pendatang
atau orang yang datang menumpang. Dalam bahasa Thai, istilah ini juga selama berabad-abad
sudah dikenal untuk menyebut kaum pendatang berkulit hitam dari daerah Melayu dan Asia
Selatan, orang-orang Thai-Islam menolak sebutan ini dan menyatakan bahwa kedatangan mereka
(khususnya di kawasan Thailand Selatan), jauh lebih awal daripada kedatangan orang-orang
Budha Thailand.[24] Hingga istilah Thai-Islam dibuat pada 1940-an. Akan tetapi istilah ini
menimblkan kontradiksi karena istilah Thai merupakan sinonim dari
kata Budhasedangkan Islam identik dengan kaum muslim melayu pada waktu itu. Jadi
bagaimana mungkin seseorang menjadi budha dan muslim pada satu waktu? Maka dari itu kaum
muslim melayu lebih suka dipanggil Malay-Islam. [25]

3.SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI BRUNAI


DARUSSALAM
Masuk dan Berkembangnya Islam di Brunei Darussalam - Sejarah yang akan kita pelajari
kali ini masih berkaitan dengan sejarah perkembangan Islam di dunia yaitu khususnya Islam
yang berada di negara Brunei Darussalam. Pada kesempatan ini kita akan membahas memerapa
poin dalam kaitannya dengan proses masuknya Islam ke negara tersebut dan juga mengenai
perkembangannya.

Brunei Darussalam adalah sebuah negara kecil yg sangat makmur. Di bagian utara terdapat pulau
Borneo (Kalimantan) dan berbatasan dengan Malaysia. Secara geografis Brunei adalah suatu
negara di pantai Kalimantan bagian utara, berbatasan dengan laut Cina Selatan, di sebelah utara
dan dengan Serawak di sebelah Selatan barat dan timur.

Catatan tradisi lisan diperoleh dari Syair Awang Semaun yang menyebutkan Brunei berasal dari
perkataan baru "Nah" yaitu setelah rombongan klan atau suku sakai yang dipimpin Pateh Berbei
pergi ke sungai Brunei mencari tempat untuk mendirikan negeri baru. Setelah mendapatkan
kawasan tersebut yang memiliki kedudukan yang sangat strategis yaitu diapit oleh bukit dan air
mudah untuk dikenali serta untuk transportasi dan kaya ikan sebagai sumber pangan di sungai,
maka mereka mengucapkan perkataan baru yaitu "nah" yang berarti tempay itu sangat baik,
berkenanaan dan sesuai dihatu mereka untuk mendirikan negeri yang mereka imginkan.[1]

Kemudian perkataan baru "nah" itu lama kelamaan berubah menjadi "Brunei". Diperkirakan
islam di Brunei datang pada tahun 977 M melalui jalur timur oleh pedagang-pedagang dari
negeri Cina. Catatan bersejarah membuktikan penyebaran islam di Brunei adalah batu tersilah.
Catatan pada batu ini menggunakan bahasa melayu dan huruf arab. Dengan penemuan itu
membuktikan adanya pedagang arab yang datang ke Brunei dan Selatan Borneo untuk
menyebarkan dakwah islam.

Selain itu ada juga yang menyatakan bahwa islam diperkirakan masuk pada abad ke-13 M yaitu
ketika Sultan Mahmud Shah pada tahun 1368 telah memeluk islam akan tetapi jauh sebelum itu,
sebenarnya terdapat bukti bahwa islam telah berada di Brunei Darussalam ini. Islam belum
cukup berkembang secara luas, barulah ketika Awang Khalak Betatar memeluk islam dengan
gelar Sultan Muhammad Shah. Islam mulai berkembang secara luas. Ada 3 teori yang
menyatakan munculnya kerajaan Brunei Darussalam:

Munculnya Kesultanan Melayu yaitu ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada taun
1511 M

Kesultanan Melayu Islam Brunei muncul tidak lama selepas jatuhnya Kerajaan Melaka
kira-kira pada awal abad ke-15 M

Kesultanan Melayu Islam Brunei muncul pada tahun 1371 M yaitu sebelum munculnya
kerajaan islam Melaka.[2]

Silsilah kerajaan Brunei terdapat pada Batu Tarsilah yang menuliskan silsilah raja-raja Brunei
pertama kali memeluk islam (1368) sampai kepada Sultan Muhammad Tajuddin (Sultan Brunei
ke-19 memerintah diantara 1795-1804 dan 1804-1807 M).

Agama Hindu-Budha dahulu pernah dianut oleh penduduk Brunei. Sebab telah menjadi
kebiasaan dari para musafir agama tersebut, apabila mereka sampai disuatu tempat, mereka akan
mendirikan Stupa sebagai tanda serta pemberitahuaan mengenai kedatangan mereka untuk
megembangkan agama tersebut di tempat itu. Replika batu nisan P'u Kung Chih Mu, batu nisan
rokayah binti Sultan Abdul Majid Ibni Hasan Ibni Muhammad Shah Al-Sultan, dan batu nisan
Sayid Alwi Ba Faqih (Mufaqih) pula menggambarkan mengenai kedatangan agama islam di
Brunei yang dibawa oleh musafir, pedagang-pedagang dan mubaligh-mubaligh islam sehinggga
agama islam itu berpengaryh dan mendapat tempat baik penduduk lokal maupun keluarga
kerajaan islam menjadi agam resmi negara semenjak negara Awang Alak Betatar masuk islam
(1406-1402). Awang Alak Betatar ialah raja Brunei yang pertama memeluk islam dengan gelar
Paduka Seri Sultan Muhammmad Shah. Dia terkenal sebagia pengasas kerajaan islam di Brunei
dan Borneo. Pedagang dari Cina yang pernah ke Brunei merekamkan beliau sebagai Ma-Ha-Mo-
Sha. Beliau meninggal dunia pada 1402. [3]

Awang Alak menganut islam dari Syarif Ali, dikatakan, Syarif Ali adalah keturunan Ahlul Bait
yang bersambung dengan kelurga Rasullah melalui cucu baginda, Saidina Hassan. Pendekatan
dakwah yang dilakukan Syarif Ali tidak sekedar menarik hati Awang Alak, dakwahnya
menambat hati rakyat Brunei. Dengan kebaikan dan sumbangan besarnya dalam dakwah islam di
Brunei, beliau dinikahkan dengan puteri Sultan Muhammad Shah. Setelah itu beliau dilantik
menjadi Sultan Brunei atas persetujuan pembesar dan rakyat setempat, Sejarah Masuk dan
Berkembangnya Islam Di Brunei Darussalam.

Sebagai pemimpin agama dan ulama Syarif Ali gigih mendaulatkan agama islam. Diantaranya
membina mesjid dan melaksanakan hukum islam dalam pentadbiran negara. Kegiatan membina
mesjid ini dijadikan pusat kegiatan keagamaan dan penyebaran islam. Setelah tujuh tahun
memerintah Brunei, pada 1432 Syarif Ali meninggal dunia dan dimakamkan di makam Diraja
Brunei.
Perkembangan Islam semakin maju dan setelah pusat penyebaran dan kebudayaan islam Malaka
jatuh ketangan Portugis (1511), sehingga banyak ahli agama islam pindah ke Brunei. Jatuhnya
Malaka ke tangan Portugis tersebut telah menyebabkan Sultan Brunei mencapai zaman
kegemilangannya dari abad ke-15 hingga abad ke-17 sewaktu memperluas kekuasaanya ke
seluruh pulau Borneo dan ke Filiphina di sebelah utaranya.[4]

Kemajuan dan perkembangan islam semain nyata pada masa pemerintahan Sultan ke-5 yaitu
Sultan Bokiah (1485-1524), yang wilayahnya meliputi Suluk, Selandung, seluruh pulau
Kalimantan (Borneo), kepulauan Sulu, kepulauan Balabac, pulau Banggi, pulau Belembangan,
mateni dan utara pulau pahlawan sampai ke Manila.

Pada masa Sultan ke-9 yaitu Sultan Hassan (1605-1619) dilakukan beberapa hal yang
menyangkut tata pemerintahan agama, karena agama memainkan peranan penting dalam
memandu negara Brunei kearah kesejahteraan, kedua menyusun adat istiadat yang dipakai dalam
semua upacara baik suka maupun duka.

Disamping menciptakan atribut kebesaran raja dan perhiasaan raja ketiga memuatkan Undang-
Undang Islam yaitu hukum Qanun yang mengandung 46 pasal dan 6 bagian. Aturan adat istiadat
kerajaan dan istana tersebut masih kekal hingga sekarang. Pada tahun 1658 Sultan Brunei
mengahdiakan kawasan Timur laut kalimantan kepada Sultan Sulu di Fliphina Selatan sebagai
penghargaan terhadap Sultan Sulu dalam menyelesaikan perang saudara antara Sultan Abdul
Mubin dengan Pangeran Mohidin. Persengketaan dalam kerajaan Brunei merupakan suatu faktor
yang menyebabkan kejatuhan kerajaan tersebut, yang bersumber dari pergolakan dalam
disebabkan perebutan kuasa antara ahli waris kerajaan, juga disebabkan timbulnya pengaruh
kuasa penjajah Eropa yang menggugat corak perdagangan tradisi serta memusnahkan asas
ekonomi Brunei dan Kesultanan Asia Tenggara yang lain.

Brunei Darussalam merupakan negara kerajaan dengan mayoritas penduduknya beragama islam.
Brunei adalah salah satu kerajaan tertua di Asia Tenggara. Sebelum abad ke-16 Brune
memainkan peranan penting dalam penyebaran agama islam di wilayah Fliphina. Sesudah
merdeka pada 1 Januari 1984, Brunei kembali menunjukan usaha serius dalam upaya penyebaran
syiar islam, termasuk dalam suasana politik yang baru masuk.

Diantara langkah-langkah yang diambil ialah mendirikan lembaga-lembaga modern yang selaras
dengan tuntutan islam. Sebagai negara yang menganut sistem hukum agama, Brunei Darussalam
menerapkan hukum Syariah dalam perundangan negara. Untuk mendorong dan menopang
kualitas keagamaan masyarakat didirikan sejumlah pusat kajian islam serta lembaga keuangan
islam. Sama seperti Indonesia yang mayoritas penduduknay menganut agama islam dengan
mazhab syafi'i, di Brunei jiga demikian. Konsep akidah yang dipegangnya adalah ahlulsunnah
waljamaah. Bahkan sejak memproklamasikan diri sebagai negara merdeka, Brunei telah
memastikan konsep "Melayu Islam Beraja" sebagai Falsafah negara dengan seorang Sultan
sebagai kepala negaranya. Brunei merupakan salah satu kerajaan islam tertua di Asia Tenggara
dengan latar belakang islam yang gemilang.
Kerajaan Brunei Darussalam adalah negara yang memiliki corak pemerintahan monarki
konstitusional dengan Sultan yang menjabat sebagai kepala negara kepala pemerintahan,
merangkup sebagai perdana mentri dan mentri pertahanan dengan dibantu oleh dewan penasehat
kesultanan dan beberapa mentri yang dipilih dan diketahui oleh Sultan sendiri. Sultan Hassanal
Bolkiah yang gelarnya diturunkan dalam wangsa yang sama sejak abad ke-15, ialah kepala
negara serta pemerintahan Brunei. Islam benar-benar berfungsi sebagai pandangan hidup rakyat
Brunei dan satu-satunya ideologi negara. Umtuk itu di bentuk jabatan hal Ehwal agama yang
bertugas menyebarkan paham islam.

Untuk kepentingan pemerintah agama islam, pada tanggal 16 September 1985, dilainkan pusat
dakwah yang juga bertugas bertugas melaksanakan progra tugas dakwah serta pendidikan kepada
pegawai-pegawai agama serta msyarakat luas dan pusat pemeran perkembangan dunia islam. Di
Brunei orang-orang cacat dan anak yatim menjadi tanggungan negara. Seluruh pendidikan rakyat
(dari taman pendidikan kanak-kanak sampai ke perguruan tinggi) dan pelayanan kesehatan
diberikan secara gratis.
4. SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI MALAYSIA
Sejarah Masuknya Islam ke Malaysia Banyak pendapat pendapat dari pakar sejarah yang
menyatakan tentang sejarah masuknya islam di Malaysia diantaranya Wan Hussein Azmi, dalam
kitabnya Islam di Malaysia Kedatangan dan Perkembangan ( Abad 7-20 M), berargumen bahwa
Islam datang pertama kali ke Malaysia sejak abad ke 7 M. Pendapat in berdasarkan pada sebuah
argumen bahwa pada pertengahan abad tersebut pedagang Arab sudah sampai pada gugusan
pulau-pulau Melayu, dimana Malaysia secara geografis tidak dapat dipisahkan darinya. Para
pedagang Arab yang singgah dipelabuhan dagang Indonesia pada paruh ketiga abad tersebut,
menurut Azmi tentu juga singgah di pelabuhan- pelabuhan dagang di Malaysia. Sejalan dengan
pendapat Wan Hussein Azmi, Hashim Abdullah dalam kitabnya Perspektif Islam di Malaysia,
menegaskan bahwa para pedagang Arab singgah di pelabuhan-pelabuhan sumatera untuk
mendapatkan barang-barang keperluan dan ada diantara mereka yang singgah di pelabuhan-
pelabuhan tanah melayu seperti Kedah, Trengganu dan Malaka. maka bolehlah dikatakan bahwa
islam telah masuk di tanah Melayu pada abad ke 7 M. Namun pendapat / teori ini masih sangat
meragukan karena hipotesis tersebut terlalu umum dan masih dapat diperdebatkan. Pendapat lain
dikemukakan oleh S. Q Fatimi, dalam bukunya Islam Comes To Malaysia, menjelaskan bahwa
Islam masuk ke Malaysia sekitar abad ke 8 H (14 M). Ia berpegang pada penemuan batu bersurat
di daerah Trengganu yang bertanggal 702 H (1303 M). Batu bersurat tersebut di tulis dengan
aksara Arab. Pada sebuah sisinya memuat pernyataan yang memerintahkan para penguasa dan
pemerintah untuk berpegang teguh pada keyakinan Islam dan ajaran Rasulullah Saw. Dan pada
sisi lainnya memuat 10 aturan dan mereka yang melanggarnya akan mendapat hukuman. Namun
pendapat S. Q Fatimi juga tidak dapat diterima, karena ada bukti yang lebih kuat yang
menunjukkan bahwa Islam telah sampai ke Malaysia jauh sebelum itu yakni pada ke 3 H (abad
10 M). Pendapat terakhir ini berdasarkan pada penemuan batu nisan di Tanjung Ingris, Kedah
pada tahun 1965. Pada batu nisan tersebut tertulis nama Syekh Abdu Al Qadir Ibnu Husayn syah
yang meninggal pada tahun 291 H (940 M). Menurut sejarawan, Syekh Abdu Al Qadir adalah
seorang Da'i keturunan Persia. Penemuan ini merupakan suatu bukti bahwa Islam telah datang ke
Malaysia pada sekitar abad ke 3 H (10 M). Tanjung Ingris Kedah tempat ditemukannya batu
nisan tersebut merupakan daerah yang tanahnya lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Lebih
strategis dan layak dijadikan sebagai tempat persinggahan pedagang- pedagang. Disekitar
makam tersebut juga terdapat banyak batu nisan dan ini memperlihatkan bahwa tempat tersebut
merupakan sebuah perkampungan lama bagi orang Islam dan menjelaskan bahwa Tanjung Ingris
Kedah adalah tempat persinggahan pedagang- pedagang Arab dan Persia. Menyangkut
penyebaran Islam di Malaysia, peranan Malaka sama sekali tidak dapat dikesampingkan. Karena
koversi Melayu terjadi terutama selama periode kesultanan Malaka pada abad ke 15 M, dari
sekitar tahun 1402 hingga 1511 M. Malaka dalam sejarah di nukilkan bahwasanya pembentukan
dan pertumbuhannya ada kaitannya dengan perang saudara dikerajaan Majapahit setelah
kematian Hayam Wuruk (1360-1389 M). Pada tahun 1401 M meletus perang saudara untuk
merebut tahta kerajaan antara Wira Bumi dengan raja Wikrama Wardhana. Dalam perang
tersebut Parmewara (Putra Raja Sriwijaya dari Dinasti Seilendra) turut terlibat karena ia
menikahi salah seorang putri Majapahit. Oleh karena pihak yang ia bantu mengalami kekalahan
maka parmewara dan pengikutnya melarikan diri kedaerah Temasek (singapura) yang berada di
bawah kekuasaan empair Siam pada saat itu. Temasek pada masa itu lebih merupakan sebuah
perkampungan kaum nelayan, diperintah oleh seorang wakil raja Siam yang bernama Tamagi.
Oleh karena inginkan kekuasaan akhirnya Parmewara membunuh Tamagi dan berhasil menjadi
penguasa di Temasek. Peristiwa terbunuhnya Tamagi diketahui oleh raja Siam yang kemudian
memutuskan untuk menuntut balas atas kematian Tamagi. Parmewara dan para pengikutnya
mengundurkan diri ke Muar dan akhirnya sampai ke Malaka. Malaka ketika itu merupakan
sebuah kampung kecil yang didiami oleh sebagian kecil kaum- kaum nelayan yang kerja mereka
sebagian perampok kapal-kapal dagang yang datang dari Barat ke Timur. Sesampainya di
Malaka, parmewara dilantik menjadi penguasa oleh pengikut-pengikutnya dan penduduk asli
disana, dan kemudian mendirikan kerajaan Malaka pada tahun 1402 M. Berdasarkan faktor-
faktor yang ada, Malaka tumbuh dengan pesat terutama dalam bidang perdagangan. Dengan
berkembangnya Malaka sebagai daerah pelabuhan yang bertaraf internasional, secara tidak
langsung telah mengundang orang-orang Arab dan khususnya para pedagang dari bangsa
tersebut untuk masuk ke daerah tersebut dan melakukan transaksi perdagangan. Dan puncaknya
Islam mendapatkan tempat di Malaka tak kala seorang ulama dari Jeddah yang Syeikh Abdul
Aziz berhasil mengislamkan Parmewara pada tahun 1414 M (abad ke 15). Setelah Parmewara
masuk islam, ia mengganti namanya dengan Sultan Megat Iskandar Shah. Kitab sejarah Melayu
menceritakan bahwa Raja Malaka Megat Iskandar Shah adalah orang pertama kali di kerajaan
tersebut yang memeluk agama Islam. Selanjutnya ia memerintahkan segenap warganya menjadi
muslim. Dalam proses Islamisasi berikutnya, para Sultan memberi dukungan yang besar dengan
turut meningkatkan pemahaman tentang Islam dan berpartisipasi dalam pengembangan wacana,
kajian dan pengamalan Islam. Dalam sejarah di nukilkan bahwasanya para sultan Malaka mulai
dari sultan pertama dan sultan yang berkuasa belakangan sangat berminat terhadap ajaran Islam.
Banyak di antara mereka yang berguru kepada ulama-ulama yang terkenal. Sebagai contoh sultan
Muhammad Shah berguru kepada Maulana Abdul Aziz, Sultan Mansur Syah berguru kepada
Kadi Yusuf dan Maulana Abu Bakar. Dengan adanya para Sultan tersebut belajar Islam dengan
para ulama-ulama yang ada saat itu dan telah memiliki pengetahuan agama yang luas maka para
sultan tersebut sebagaimana yang diungkapkan oleh A.C Milner dalam bukunya Islam and The
Muslim State menjelaskan, bahwasanya Sultan Malaka sebagai orang yang telah mengajarkan
pengetahuan Agama Islam kepada para raja di negeri-negeri melayu lainnya.

Respon sultan dan rakyat Malaka yang antusias terhadap kedatangan Islam telah mengangkat
posisi Malaka sebagai pusat kegiatan berdakwah. Selain rakyat Malaka menyebarkan dakwah
keluar negeri, banyak pula orang luar yang datang ke Malaka untuk menuntut ilmu. Sunan
Bonang dan Sunan Kalijaga, dua ulama terkenal di pulau Jawa ini menamatkan pengajiannya di
Malaka. Peran Malaka yang begitu penting dalam upaya Islamisasi makin berkembang setelah
sultan Muzzafar Shah yang berkuasa sekitar tahun 1450 M menyatakan Islam sebagai agama
resmi kerajaan Malaka, sultan Muzzafar shah juga telah menyusun perundang-undangan di
negerinya yang sebagian isinya diambil dari ajaran Islam, yang mana undang-undang tersebut
dikenal dengan nama Hukum kanun Malaka. Hukum kanun Malaka tersebut menjadi kitab
sumber hukum dalam menangani beberapa pekara hukum di kesultanan Malaka. Dengan
demikian, Malaka dapat dianggap sebagai kerajaan Melayu pertama yang menyusun
perundangan yang mempunyai unsur-unsur syari'ah Islam. B. Islam Masa Malaya Kolonial
Kolonialisasi tanah Melayu telah menyebabkan nilai-nilai dan tatanan Islam dalam kehidupan
masyarakat tradisional Melayu mengalami kemerosotan. Kebijakan kolonial portugis selama 130
tahun sejak 1511 M cenderung mencegah penyebaran Islam dan perkembangan usaha dagang
Muslim. Namun Portugis gagal dalam usaha ini terutama karena terus menerus mendapat
perlawanan orang Melayu. Belanda yang datang setelah mengalah Portugis pada tahun 1641 M
agak lebih toleran kepada para penguasa Melayu. Pada tahun 1795 M Belanda dapat ditaklukan
oleh kekuasaan Inggris. Di bawah kolonialisasi Inggris, perkembangan ajaran agama Islam dan
pengaruhnya pada kehidupan Melayu menjadi terbatas. Ada beberapa aspek yang dapat dicatat
mengenai intervensi kolonial sehingga ruang gerak, perkembangan, dan pelaksanaan Islam
menjadi terbatas, antara lain menyangkut hukum Islam, paradigma politik Islam serta munculnya
permasalahan terkait dengan demografi penduduk.
Pertama, berkaitan dengan perkembangan hukum Islam. Sebagaiman dijelaskan sebelumnya
hukum Islam menempati posisi dasar dikesultanan-kesultanan Melayu. Namun demikian, setelah
kekuasaan kolonial mulai kokoh melalui perjanjian pihak Inggris berhasil menekan para
penguasa Melayu untuk menerima semua usulan Inggris dalam berbagai hal, termasuk yang
berkaitan dengan hukum Islam. Pada saat yang sama, kolonial Inggris memperkenalkan dan
menerapkan sistem hukum dan admistrasi hukum sipil yang berbeda dengan sistem hukum dan
pengadilan Islam.
Kedua, dampak lain yang juga terkait dengan kolonialisasi Inggris adalah kemerosotan
paradigma politik Islam. Menurut Azyumardi Azra, kolonialisme yang kemudian disusul dengan
penyebaran gagasan-gagasan dan konsep politik modern, seperti nasionalisme merupakan salah
satu faktor yang menyebabkan kemerosotan paradigma politik islam di kawasan ini sebagaimana
direfleksikan dalam bahasa politik yang digunakan. Ketiga, aspek lain dari kebijakan Inggris ini
adalah masalah Demografi. Pada saat yang sama dengan pembatasan pelaksanaan hukum islam,
demografi mengalami perubahan. Masyarakat menjadi lebih pluralis akibat imigrasi besar-
besaran orang-orang non muslim Cina dan India yang sengaja didatangkan Inggris untuk bekerja
disektor industri, pertambangan dan perkebunan. Pluralitas masyarakat dengan multi agama dan
budayanya jelas menjadi penghambat bagi perkembangan ajaran agama Islam. Karena berbagai
aspek yang terkait dengan masyarakat yang berbeda agama dan budaya perlu menjadi
pertimbangan dalam merumuskan setiap kebijakan dan peraturan kenegaraan pada sebuah negara
yang baru tebentuk. Sehingga dampaknya setiap kebijakan dan aturan bersifat netral. Dengan
demikian, itulah salah satu sebab mengapa sistem pemerintahan, bentuk negara dan sistem
hukum yang berlaku pada negara Malaysia tidak dapat menerapkan kembali sistem pemerintahan
dan hukum yang pernah berlaku pada masa kesultanan.
Ketiga,Kebangkitan Islam di Malaysia. Pengamalan islam menjadi lebih tampak jelas terutama
setelah kebangkitan Islam di Malaysia yang terjadi pada tahun 1970-an. Dan mencapai
puncaknya pada tahun 1980 an. Kebangkitan Islam di Malaysia terlihat jelas pada upaya muslim
Malaysia untuk mengamalkan ajaran islam secara lebih serius seperti: aktif shalat berjamaah di
masjid, menghadiri wirid pengajian, banyak beramal sholeh, mengucapkan salam saat bertemu,
berhati-hati saat membeli makanan agar tidak termakan pada yang haram, memakai busana
muslim seperti jubah, jilbab atau baju kurung dan telekung bagi wanita, memakai sarung, serban
dan peci atau pakaian lainnya yang jelas jelas mencirikan ketaatan sebagai muslim. Gerakan
kebangkitan islam juga terlihat dikalangan mahasiswa di kampus-kampus Malaysia. Dikalangan
mahasiswa terdapat sekelompok-sekelompok pengajian yang dikenal dengan 'dakwah'. Mereka
secara aktif mengadakan pengajian, puasa bersama, shalat malam bersama, dan tidak jarang juga
mengadakan zikir dan renungan malam bersama. Hal yang sama juga terjadi di kalangan
mahasiswa yang belajar diluar negeri, baik yang belajar di inggris maupun di amerika. Dilatar
belakangi oleh pendekatan dan pandangan internasionalis FOSIS yang umum tentang islam,
mahasiswa asal Malaysia membutuhkan persiapan diri untuk perjuangan islam di Malaysia
kembali, diawal tahun 1975, dua organisasi islam yang baru yang lebih militan terbentuk
dikalangan mahasiswa Malaysia di London, yaitu Suara Islam dan Islam Representation Council
(IRC). Berpegang pada ajaran-ajaran al-maududi, serta terinspirasi dari jamaah islami dari Indo-
Pakistan dan Ikhwan al- muslimin dari mesir, para mahasiswa yang tergabung dalam dua
organisasi ini menjadi punya interpresentasi Islam yang radikal. Terutama Suara Islam, saat itu
berobsesi untuk melaksanakan perjuangan islam di Malaysia (revolusi islam), dengan perjuangan
ideology yang akan menyoroti konflik fundamental antara islam dan bukan islam. Berbeda
dengan suara Islam, IRC dengan mengikuti garis Ikhwanul muslimin, berupaya mendirikan sel-
sel rahasia sebagai alat terbaik untuk menyebarluaskan ajaran Islam. Strategi mereka adalah
menyelinap kedalam organisasi yang ada dan berupaya memprakarsai perubahan melalui partai
politik islam, IRC menekankan pendidikan, dengan menyebarluaskan alternatif islam sebagai
milik tunggal jalan sejati menuju cara hidup yang sempurna, melalui pembentukan dan
penyebaran sel-sel rahasia kecil di kalangan mahasiswa. Selain itu mahasiswa yang mempunyai
kesadaran islam yang begitu tinggi ini, telah kembali ke Malaysia, mengabdi kepada Negara dan
masyarakatnya. Dengan demikian, kebangkitan islam di Malaysia yang terlihat dari kesadaran
muslim Malaysia untuk mengamalkan ajaran islam yang lebih serius, juga turut menguat nuansa
islam di Malaysia.