Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kelarutan adalah jumlah zat terlarut yang membentuk suatu larutan jenuh
dengan pelarutnya pada suhu tertentu. Kelarutan zat-zat yang ada berbeda-beda antara
satu dengan lainnya dan pada konsentrasi yang sama. Pada umumnya kelarutan suatu
zat tertentu tergantung temperatur dan ion-ionnya. Dalam perindustrian ada banyak
aplikasi yang digunakan berdasarkan reaksi kesetimbangan. Misalnya pembuatan
ammonia menurut Haber-Bosch, dan pembuatan asam sulfat menurut proses
kotakindustri. Dalam proses industri tersebut kondisi reaksi diusahakan menggeser
kesetimbangan kearah produk dan meminimalkan reaksi balik.
Pentingnya percobaan ini untuk mengetahui ksp suatu garam sehingga
mempermudah pembuatan larutan jenuh suatu garam karena kelarutannya telah
diketahui. Dalam dunia industri, kesetimbangan kimia banyak digunakan khususnya
dalam pembuatan gas maupun produk-produk industri lainnya. Proses Haber,
merupakan proses pembuatan amonia dari gas nitrogen dan hidrogen. Dalam dunia
industri juga, proses kontak untuk memproduksi asam sulfat. Proses berlangsung
dalam 2 tahap reaksi, tahap pertama yaitu pembentukan gas belerang trioksida. Lalu
tahap kedua dilanjutkan dengan melarutkan gas belerang trioksida.

1.2. Tujuan Percobaan


Tujuan dari percoban ini adalah mengetahui perbedaan kelarutan garam-
garam yang sukar larut dalam air.

1.3. Manfaat Percobaan


Manfaat dari percobaan ini adalah praktikan mengetahui perbedaan kelarutan
garam-garam yang sukar larut dalam air.
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Kebanyakan senyawa ion yang dikaitkan dengan Ksp sering diistilahkan tak
larut, maksud sesungguhnya adalah yang kelarutannya amat terbatas. Keterbatasan
Ksp untuk zat yang sedikit larut. Kita telah menggunakan istilah zat yang sedikit
larut dalam perubahan hasil kali kelarutan. Larutan jenuh dari zat yang kelarutannya
terlalu pekat, sehingga aktivitasnya tak dapat dianggap sama dengan konsentrasi
molarnya. Tanpa anggapan ini konsep hasil kali kelarutan menjadi tidak jelas
maknanya. Sekalipun tidak dinyatakan sedikit larut dalam kesetimbangan
kelarutan, apabila dinyatakan nilai Ksp, maka yang dimaksud adalah senyawa ion
yang sedikit larut. Semua zat yang terlarut berada dalam larutan sebagai kation dan
anion yang terpisah. Misalnya, dalam larutan jenuh magnesium fluorida, pasangan
ion yang terdiri dari satu ion Mg2+ dan satu ion F-, atau MgF+, mungkin ditemukan.
Apabila pembentukkan pasangan ion terjadi dalam larutan, konsentrasi ion bebas
cenderung menurun. Ini berarti bahwa banyaknya zat yang harus dilarutkan untuk
mempertahankan konsentrasi ion bebas yang diperlukan untuk memenuhi rumus Ksp
meningkat: kelarutan meningkat apabila terjadi pembentukkan pasangan ion dalam
larutan (Petrucci, 1996).
Ksp senyawa dapat ditentukan dari percobaan laboratorium dengan mengukur
kelarutan (massa senyawa yang dapat larut dalam tiap liter larutan) sampai keadaan
tepat jenuh. Dalam keadaan itu, kemampuan pelarut telah maksimum untuk
melarutkan atau mengionkan zat terlarut. Kelebihan zat terlarut walaupun sedikit
akan menjadi endapan. Hasil kali kelarutan dalam keadaan sebenarnya merupakan
nilai akhir yang dicapai oleh hasil kali ion-ion ketika kesetimbangan tercapai antara
fase padat dari garam yang hanya sedikit larut dan larutan itu. Nilai Ksp berguna
untuk menentukan keadaan senyawa ion dalam larutan, apakah belum jenuh, tepat
jenuh, atau lewat jenuh, yaitu dengan membandingkan hasil kali ion dengan hasil kali
kelarutan, kriterianya adalah sebagai berikut:

1. Apabila hasil kali ion-ion yang dipangkatkan dengan koefisiennya masing-


masing kurang dari nilai Ksp maka larutan belu mjenuh dan tidak terjadi
endapan.
2. Apabila hasil kali ion-ion yang dipangkatkan koefisiennya masing-masing
sama dengan nilai Ksp maka kelarutannya tepat jenuh namun tidak terja di
endapan.
3. Apabila hasil kali ion-ion yang dipangkatkan koefisiennya lebih dari nilai
Ksp, maka larutan disebut lewat jenuh dan terbentuk endapan (Syukri, 1999).
Hasil kali konsentrasi dari ion-ion pembentuknya untuk setiap suhu tertentu
adalah konstan, dengan konsentrasi ion dipangkatkan bilangan yang sama dengan
jumlah masing-masing ion yang bersangkutan. Kelarutan merupakan jumlah zat yang
terlarut yang dapat larut dalam sejumlah pelarut sampai membentuk larutan jenuh.
Sedangkan hasil kali kelarutan merupakan hasil akhir yang dicapai oleh hasil kali ion
ketika kesetimbangan tercapai antra fase padat dari garam yang hanya sedikit larut
dalam larutan tersebut. Sistem kesetimbangan dibagi menjadi dua kelompok yaitu
sistem kesetimbangan homogen dan sistem kesetimbangan heterogen. Kesetimbangan
homogen merupakan kesetimbangan yang anggota sistemnya mempunyai kesamaaan
fase, sehingga sistem yang terbentuk itu hanya memiliki satu fase. Kesetimbangan
heterogen merupakan suatu kesetimbangan yang anggota sistemnya mempunyai lebih
dari satu fase, sehingga sistem yang terbentuk pun mempunyai lebih dari satu macam
fase (Keenan, dkk, 1984).
Kelarutan endapan-endapan yang dijumpai dalam analisis kuantitatif
meningkat dengan bertambahnya temperatur. Dengan beberapa zat pengaruh
temperatu ini kecil, tetapi dengan zat-zat lain pengaruh itu dapat sangat nyata. Jadi
kelarutan perak klorida pada 10 dan 100 oC masing-masing adalah 1,72 dan 21,1 mg
dm-3, sedangkan kelarutan barium sulfat pada kedua temperatur itu masing-masing
adalah 2,2 dan 3,9 mg dm-3. Dalam beberapa hal, efek ion sekutu mengurangi
kelarutan menjadi begitu kecil sehingga efek temperatur, yang tanpa efek ion sekutu
akan kentara, menjadi sangat kecil (Bassett, 1994).
Ksp = HKK = hasil perkalian [kation] dengan [anion] dari larutan jenuh suatu
elektrolit yang sukar larut menurut kesetimbangan heterogen. Kelarutan suatu
elektrolit ialah banyaknya mol elektrolit yang sanggup melarut dalam tiap liter
larutannya. Jika konsentrasi ion total dalam larutan meningkat, gaya tarik ion menjadi
lebih nyata dan aktivitas (konsentrasi efektif) menjadi lebih kecil dibandingkan
konsentrasi stoikiometri atau terukurnya. Untuk ion yang terlibat dalam proses
pelarutan, ini berarti bahwa konsentrasi yang lebih tinggi harus terjadi sebelum
kesetimbangan tercapai dengan kata lain kelarutan akan meningkat (Oxtoby, 2003).