Anda di halaman 1dari 32

TUGAS MAKALAH BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN

TEKNIS BUDIDAYA TANAMAN KOPI

Disusun oleh:

KELOMPOK IX

Anggota :

1. Wahyu Aziz Nugroho (13604)


2. Dina Aulia (13607)
3. Mulia Hady (13608)
4. Diah Oktaviani (13614)
5. Supami (13626)
6. Sheila Ava (13658)
7. Lusty Sarumaha (13659)
8. Asterius Waoma (13661)

DEPARTEMEN BUDIDAYA TANAMAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
a.1. Latar belakang
Kopi merupakan salah satu hasil komoditi perkebunan yang memiliki
nilai ekonomis yang cukup tinggi di antara tanaman perkebunan
lainnya dan berperan penting sebagai sumber devisa negara. Kopi
tidak hanya berperan penting sebagai sumber devisa melainkan juga
merupakan sumber penghasilan bagi tidak kurang dari satu setengah
juta jiwa petani kopi di Indonesia (Rahardjo, 2012). Keberhasilan
agribisnis kopi membutuhkan dukungan dari berbagai pihak didalam
produksi, pemasaran dan pengelolaan.
Teknologi budidaya dan pengolahan kopi meliputi pemilihan bahan
tanam kopi unggul, pemeliharaan, pemangkasan tanaman dan
pemberian penaung, pengendalian hama dan gulma, pemupukan yang
seimbang, pemanenan, serta pengolahan kopi pasca panen.
Pengolahan kopi sangat berperan penting dalam menentukan kualitas
dan cita rasa kopi (Rahardjo, 2012). Di Indonesia sudah lama dikenal
ada beberapa jenis kopi, diantaranya adalah:
1. Kopi arabika, penyebaran tumbuhan kopi ke Indonesia dibawa
seorang berkebangsaan Belanda pada abad ke-17 sekitar tahun
1646 yang mendapatkan biji arabika mocca dari Arabia. Jenis kopi
ini oleh Gubernur Jenderal Belanda di Malabar dikirim juga ke
Batavia pada tahun 1696. Karena tanaman ini kemudian mati oleh
banjir, pada tahun 1699 didatangkan lagi bibit-bibit baru, yang
kemudian berkembang di sekitar Jakarta dan Jawa Barat, akhirnya
menyebar ke berbagai bagian di kepulauan Indonesia (Gandul,
2010). Hampir dua abad kopi arabika menjadi satu-satunya jenis
kopi komersial yang ditanam di Indonesia. Budidaya kopi arabika ini
mengalami kemunduran karena serangan penyakit karat daun
(Hemileia vastatrix), yang masuk ke Indonesia sejak tahun 1876.
Kopi arabika hanya bisa bertahan di daerah-daerah tinggi (1000 m
ke atas), di mana serangan penyakit ini tidak begitu hebat.
2. Kopi Canephora (Robusta), kopi Canephora juga disebut kopi
Robusta. Nama Robusta dipergunakan untuk tujuan perdagangan,
sedangkan Canephora adalah nama botanis. Jenis kopi ini berasal
dari Afrika, dari pantai barat sampai Uganda. Kopi robusta memiliki
kelebihan dari segi produksi yang lebih tinggi di bandingkan jenis
kopi Arabika (Aak,1980). Kopi ini ternyata tahan penyakit karat
daun, dan memerlukan syarat tumbuh dan pemeliharaan yang
ringan, sedang produksinya jauh lebih tinggi. Oleh karena itu kopi ini
cepat berkembang, dan mendesak kopi-kopi lainnya. Saat ini lebih
dari 90% dari areal pertanaman kopi Indonesia terdiri atas kopi
Robusta.
a.2. Tujuan
a. Untuk mengetahui cara teknik budidaya pada tanaman kopi
b. Untuk mengetahui jenis-jenis kopi yang tersebar di Indonesia
c. Untuk mengetahui jenis hama dan penyakit apa saja yang
menyerang tanaman kopi
BAB II
TEKNIK BUDIDAYA
2.1. Syarat tumbuh tanaman kopi
Tanaman kopi adalah pohon kecil yang bernama perpugenus coffea
dari famili rubiceae yang umumnya berasal dari benua Afrika.
Diseluruh dunia kini terdapat sekitar 4.500 jenis kopi yang dapat dibagi
dalam empat kelompok besar yaitu;
Cofffe canefora, salah satu jenis varietasnya yang menghasilkan
kopi dagang robusta.
Coffea arabica, yang menghasilkan kopi dagang arabica.
Coffea exelca yang menghasilkan kopi dagang exelca.
Coffea liberica yang menghasilkan kopi dagang liberica.
Dari segi produksi yang paling menonjol dalam kualitas dan kuantitas
adalah jenis arabica, yang memberikan kontribusi pada pasokan kopi
dunia sekitar 70%, kemudian jenis kopi robusta yang mutunya berada
dibawah kopi arabica, hanya memberikan kontribusi sekitar 24%
produksi kopi dunia (Spillane, 1990).
Salah satu kunci keberhasilan budidaya kopi yaitu digunakannya
bahan tanam unggul sesuai dengan kondisi agroklimat tempat
penanaman. Kondisi lingkungan perkebunan kopi di Indonesia sangat
beragam dan setiap lingkungan tersebut memerlukan adaptabilitas
spesifik dari bahan tanam yang dianjurkan. Pada tanaman kopi, iklim
dan tanah sangat berpengaruh terhadap perubahan morfologi,
pertumbuhan dan daya hasil.
Kopi hanya dapat menghasilkan dengan baik apabila ditanam pada
tanah yang sesuai, yaitu tanah dengan kedalaman efektif yang cukup
dalam (> 100 cm), gembur, berdrainase baik, serta cukup tersedia air,
unsur hara terutama kalium (K), harus cukup tersedia bahan organik (>
3 %). Derajat kemasaman (pH) yang ideal untuk pertumbuhan
tanaman kopi berkisar antara 5,3 6,5. Tanaman kopi tumbuh dengan
baik pada daerah-daerah yang terletak di antara 20 LU dan 20 LS.
Berdasarkan data yang ada, Indonesia terletak di antara 5 LU dan 10
LS. Hal ini berarti sangat ideal dan potensial bagi pengembangan
tanaman kopi (Spillane, 1990).
Selama ini tanaman kopi lazim diusahakan di Indonesia ada dua
jenis, yaitu kopi Arabika dan kopi Robusta. Kedua jenis kopi tersebut
secara fisiologis menghendaki persyaratan kondisi iklim yang berbeda.
Kopi Arabika menghendaki lahan dataran lebih tinggi daripada kopi
Robusta, sebab apabila ditanam pada lahan dataran rendah selain
pertumbuhan dan produktivitasnya menurun juga akan lebih rentan
penyakit karat daun.
Tanaman kopi memerlukan tinggi tempat dari permukaan laut dan
temperatur yang berbeda-beda. Jenis Arabika tumbuh optimal pada
1000- 1700 m diatas permukaan laut dengan suhu 16 -20C. Jenis
Robusta mengendaki ketinggian tempat pada 500-1000 m di atas
permukaan laut tetapi yang baik sekitar 800 m di atas permukaan laut
dengan suhu udara 20C. Curah hujan yang dibutuhkan tanaman kopi
minimal dalam 1 tahun 1000- 2000 mm, optimal 2000-3000 mm.
Kopi arabika berasal dari Etiopia dan Abessinia, kopi arabika dapat
tumbuh pada ketinggian 700 - 1700 meter diatas permukaan laut
dengan temperatur 10-16 oC, dan berbuah setahun sekali (Ridwansyah,
2003). Ciri-ciri dari tanaman kopi arabika yaitu, tinggi pohon mencapai
3 meter, cabang primernya rata-rata mencapai 123 cm, sedangkan
ruas cabangnya pendek. Batangnya tegak, bulat, percabangan
monopodial, permukaan batang kasar, warna batangnya kuning keabu-
abuan. Kopi arabika juga memiliki kelemahan yaitu, rentan terhadap
penyakit karat daun oleh jamur HV (Hemiliea Vastatrix), oleh karena itu
sejak muncul kopi robusta yang tahan terhadap penyakit HV, dominasi
kopi arabika mulai tergantikan (Prastowo, 2010). Kopi arabika
menguasai pasar kopi di dunia hingga 70%. Kopi arabika cenderung
menimbulkan aroma fruity karena adanya senyawa aldehid,
asetaldehida, dan propanal (Wang, 2012). Kadar kafein biji mentah kopi
arabika lebih rendah dibandingkan biji mentah kopi robusta,
kandungan kafein kopi Arabika sekitar 1,2% (Spillane, 1990).
Kopi robusta menghendaki musim kemarau 3-4 bulan, tetapi pada
waktu kemarau harus masih ada hujan. Musim kering dikehendaki
maksimal 1,5 bulan sebelum masa berbunga lebat, sedangkan masa
kering sesudah berbunga lebat sedapat mungkin tidak melebihi dua
minggu. Pohon kopi tidak tahan terhadap angin yang kencang, lebih-
lebih dimusim kemarau, karena angin ini akan mempertinggi
penguapan air di permukaan tanah dan juga dapat mematahkan pohon
pelindung. Untuk mengurangi hal-hal tersebut di tepi-tepi kebun
ditanam pohon penahan angin (Najiyati dan Darnati, 1997).
Kopi robusta berasal dari Kongo dan tumbuh baik di dataran rendah
sampai ketinggian sekitar 1.000 m di atas permukaan laut, dengan
suhu sekitar 20 oC (Ridwansyah, 2003). Menurut Prastowo (2010), kopi
robusta resisten terhadap penyakit karat daun yang disebabkan oleh
jamur HV (Hemiliea Vastatrix) dan memerlukan syarat tumbuh dan
pemeliharaan yang ringan, sedangkan produksinya lebih tinggi. Kopi
robusta juga sudah banyak tersebar di wilayah Indonesia dan Filipina.
Ciri-ciri dari tanaman kopi robusta yaitu tinggi pohon mencapai 5
meter, sedangkan ruas cabangnya pendek. Batangnya berkayu, keras,
tegak, putih ke abuabuan. Seduhan kopi robusta memiliki rasa seperti
cokelat dan aroma yang khas, warna bervariasi sesuai dengan cara
pengolahan. Kopi bubuk robusta memiliki tekstur lebih kasar dari kopi
arabika. Kadar kafein biji mentah kopi robusta lebih tinggi
dibandingkan biji mentah kopi arabika, kandungan kafein kopi robusta
sekitar 2,2% (Spillane, 1990).
2.2. Aspek Budidaya
a. Bahan Tanam
Tanaman kopi dapat diperbanyak dengan cara vegetatif yaitu
menggunakan bagian dari tanaman dan generatif yaitu
menggunakan benih atau biji. Perbanyakan secara generatif lebih
umum digunakan karena mudah dalam pelaksanaanya, lebih
singkat untuk menghasilkan bibit siap tanam dibandingkan dengan
perbanyakan bibit secara vegetatif (klonal). Beberapa kelebihan
yang dimiliki perbanyakan kopi secara vegetatif adalah sebagai
berikut:
Mempunyai sifat yang sama dengan tanaman tetuanya.
Mutu hasil seragam
Memanfaatkan dua sifat unggul batang atas dan batang bawah
Memiliki umur mulai berbuah (prekositas) lebih awal
Sambungan dan stek merupakan perbanyakan tanaman kopi
secara vegetatif yang umum dilakukan. Tujuan penyambungan bibit
kopi adalah untuk memanfaatkan dua sifat unggul dari bibit batang
bawah tahan terhadap hama nematoda parasit akar, dan sifat
unggul dari batang atas yaitu mempunyai produksi yang tinggi serta
mutu biji baik. Sedangkan perbanyakan tanaman kopi dengan stek
hanya memanfaatkan salah satu sifat keunggulan dari sumber
bahan tanaman, yang mana merupakan proses perbanyakan kopi
untuk menumbuhkan akar entres kopi dengan menggunakan media
tumbuh dan lingkungan. Media tumbuh yang digunakan untuk
penyetekan kopi terdiri dari campuran pasir, pupuk kandang atau
humus dengan perbandingan 3:1. Hal ini dimaksudkan agar mampu
menahan lengas tanah cukup lama tetapi aerasi dan drainasinya
baik. Untuk bagian paling bawah media tumbuh diberi pecahan batu
dan kerikil setebal 30 cm. Kondisi lingkungan untuk penyetekan
kopi, disusun dalam bedengan yang dibuat memanjang dengan
ukuran lebar 1,25 m dengan panjang 5-10 meter atau dapat
menyesuaikan dengan keadaan tempat yang tersedia, kemudian di
buat tutup bedengan atau sungkup plastik dengan tinggi 60 cm.
Bedengan setek di beri naungan yang cukup terbuat dari anyaman
daun kelapa, disarankan penyetekan dilakukan di bawah pohon
pelindung lamtoro atau jenis pepohonan lainnya yang dapat
meneruskan cahaya.
Penyambungan kopi adalah penggabungan batang atas atau
disebut entres pada bibit kopi dewasa yang digunakan sebagai
batang bawah. Pelaksanaan penyambungan dilakukan di
pembibitan menggunakan bibit kopi batang bawah umur 5-6 bulan,
dari saat benih disemaikan. Selain itu teknologi rehabilitasi kopi
robusta menjadi kopi arabika dapat dilakukan tanpa harus
membongkar tanaman kopi robusta yang tua, yaitu dengan cara
klonalisasi. Teknik klonalisasi ini sangat diminati oleh petani.
Umumnya ketertarikan para petani dikarenakan teknologi klonalisasi
ini cukup mudah dilakukan dan produksi kopi robusta masih dapat
dipanen hasilnya (Rubiyo et al., 2005). Klonalisasi kopi robusta
menjadi kopi arabika dilakukan dengan teknik sambung pucuk
melalui tunas air. Salah satu kelemahan yang dirasakan waktu
penyambungan adalah pada saat musim kering, karena kondisi
tanaman kopi robusta kambiumnya tidak aktif sehingga persentase
sambungan hidupnya sangat kecil. Oleh karena itu disarankan
kepada para petani sebaiknya penyambungan dilakukan pada saat
kondisi tanaman kopi tumbuh sehat, dan dilakukan pada musim
hujan.
b. Persiapan Lahan
Pembukaan lahan
a) Pembongkaran pohon-pohon, tunggul beserta perakarannya.
b) Pembongkaran tanaman perdu dan pembersihan gulma.
c) Pembukaan lahan tanpa pembakaran dan penggunaan herbisida
secara bijaksana.
d) Sebagian tanaman kayu-kayuan yang diameternya < 30 cm
dapat ditinggalkan sebagai penaung tetap dengan populasi 200-
500 pohon/ha diusahakan dalam arah Utara-Selatan.
e) Pembersihan lahan, kayu-kayu ditumpuk di satu tempat di
pinggir kebun.
f) Pembuatan jalan-jalan produksi (jalan setapak) dan saluran
drainase.
g) Pembuatan teras-teras pada lahan yang memiliki kemiringan
lebih dari 30%.
Pembuatan Jarak tanam dan lubang tanam
a) Mengajir dan menanam tanaman penaung sementara dan
penaung tetap.
b) Pada lahan miring, penanaman mengikuti teras, sedangkan pada
lahan datar-berombak (lereng kurang dari 30%) barisan tanaman
mengikuti arah Utara-Selatan.
c) Ajir lubang tanam disesuaikan dengan jarak tanam.
d) Jarak tanam kopi Arabika tipe katai (misalnya Kartika 1 dan
Kartika 2) 2,0 m x 1,5 m, tipe agak katai (AS 1, AS 2K, Sigarar
Utang) 2,5 m x 2,0 m, dan tipe jangkung (S 795, Gayo 1 dan
Gayo 2) 2,5 m x 2,5 m atau 3,0 m x 2,0 m. Jarak tanam kopi
Robusta 2,5 m x 2,5 m atau 3,0 m x 2,0 m. Jarak tanam kopi
Liberika 3,0 m x 3,0 m atau 4,0 m x 2,5 m.
e) Pembuatan lubang tanam. Ukuran lubang tergantung tekstur
tanah, makin berat tanah ukuran lubang makin besar. Ukuran
lubang yang baik yaitu 60 cm x 60 cm pada permukaan dan 40
cm x 40 cm pada bagian dasar dengan kedalaman 60 cm.
f) Lubang sebaiknya dibuat 6 bulan sebelum tanam.
g) Untuk tanah yang kurang subur dan kadar bahan organiknya
rendah ditambahkan pupuk hijau dan pupuk kandang.
h) Menutup lubang tanam sebaiknya 3 bulan sebelum tanam kopi.
Menjaga agar batu-batu, padas, dan sisa-sisa akar tidak masuk
ke dalam lubang tanam.
i) Selama persiapan lahan tersebut areal kosong dapat ditanami
beberapa jenis tanaman semusim sebagai pre-cropping,
misalnya: keladi, ubi jalar, jagung, kacang-kacangan.
Pembuatan Rorak
a) Rorak dibuat dalam rangka konservasi air dan kesuburan tanah.
Dibuat setelah benih ditanam di kebun, dan pada tanaman
produktif dibuat secara rutin setiap tahun. Ukuran rorak 120 cm x
40 cm x 40 cm. Rorak dibuat dengan jarak 40 60 cm dari
batang pokok, disesuaikan dengan pertumbuhan tanaman.
b) Pada lahan miring, rorak dibuat memotong lereng atau searah
dengan terasan (sejajar garis kontur).
c) Rorak diisikan bahan organik (seresah, hasil pangkasan ranting
kopi dan penaung, hasil penyiangan gulma, kompos, dan pupuk
kandang). Dalam kurun waktu 1 tahun rorak biasanya sudah
penuh dengan sendirinya (rata dengan pemukaan tanah).
c. Penanaman bibit kopi
Pada proses cara menanam kopi usahakan pohon peneduh
sudah siap. Kemudian siapkan lubang tanam pada lahan.
Pembuatan lubang tanam berukuran 60x60x60 cm, dan pembuatan
lubang tanam ini di lakukan 3 6 bulan sebelum bibit di tanam.
Kemudian jarak tanam atau lubang tanam berkisar 2,5 cm x 2,75
cm, tergantung dari jenis kopi yang akan anda tanam. Untuk jarak
tanam dapat divariasikan dengan ketinggian lahan tanam kopi.
Semakin tinggi lahan tanam maka semakin jarang atau jauh
jaraknya dan semakin rendah lahan tanam maka semakin rapat
jarak tanamnya. Berikut proses cara menanam kopi :
Buat lubang yang sudah di tentukan diatas tadi
Saat penggalian pisahkan tanah galian bagaian atas dan tanah
galian bagian bawah
Selanjutnya biarkan lubang tanam tersebut sampai 3 bulan
hingga bibit siap ditanam dengan keadaan terbuka
2 bulan sebelum bibit di tanam campurkan belerang sebanyak
200 gram/lubang dan kapur sebanyak 200 gram/lubang dengan
bekas tanah galian bagian bawah
Kisaran 1 bulan sebelum tanam campurkan 20 kg pupuk kompos
dengan bekas tanah galian bagian atas.
Sebulan kemudian bibit kopi siap untuk ditanam.
Sebelum ditanam papas terlebih dahulu daun bibit kopi hingga
tersisa 1/3 bagian, cara ini bertujuan untuk mengurangi penguapan.
Selanjutnya keluarkan bibit kopi di dari polybag, kemudian gali
lubang yang sudah di persiapkan tadi sedikit saja. Untuk kedalam,
usahakan di sesuaikan dengan panjang akar bibit tanaman. Untuk
bibit yang memiliki akar tunjang usahakan agar akar bibit tegak
lurus, setelah itu tutup kembali lubang tanam. Agar bibit yang baru
ditanam tegak lurus kami sarankan untuk membuat ajir agar
tanaman kokoh dan untuk menopang tanaman agar tidak roboh.
d. Pemeliharaan
Langkah yang diperlukan untuk pemeliharaan budidaya kopi adalah
penyulaman, pemupukan pemangkasan dan penyiangan. Berikut
penjelasannya:
Peyulaman
Setelah bibi ditanam di areal kebun, periksa pertumbuhan
bibit tersebut setidaknya seminggu dua kali. Setelah bibit
berumur 1-6 bulan periksa sedikitnya satu bulan sekali. Selama
periode pemeriksaan tersebut, bila ada kematian pada pohon
kopi segera lakukan penyulaman. Penyulaman dilakukan dengan
bibit yang sama. Lakukan perawatan yang lebih instensif agar
tanaman penyulam bisa menyamai pertumbuhan pohon lainnya.
Pemupukan
Pemberian pupuk untuk budidaya kopi bisa menggunakan
pupuk organik atau pupuk buatan. Pupuk organik bisa didapatkan
dari bahan-bahan sekitar kebun seperti sisa-sisa hijauan dari
pohon pelindung atau kulit buah kopi sisa pengupasan kemudian
dibuat menjadi kompos. Kebutuhan pupuk untuk setiap tanaman
sekitar 20 kg dan diberikan sekitar 1-2 tahun sekali. Cara
memberikan pupuk dengan membuat lubang pupuk yang
mengitari tanaman. Kemudian masukkan kompos kedalam
lubang pupuk tersebut. Bisa juga dicampurkan pupuk buatan
kedalam kompos. Untuk tanah yang asam dengan pH dibawah
4,5 pemberian pupuk dicampur dengan setengah kilogram kapur.
Pemerian kapur dilakukan 2-4 tahun sekali. Untuk memperkaya
bahan organik areal perkebunan bisa ditanami dengan tanaman
penutup tanah. Tanaman yang biasa dijadikan penutup tanah
dalam budidaya kopi diantaranya bunguk (Mucuna munanease)
dan kakacangan (Arachis pintol). Tanaman penutup tanah
berfungsi sebagai pelindung dan penyubur tanah, selain itu
hijauannya bisa dijadikan sumber pupuk organik.
Pemangkasan pohon
Terdapat dua tipe pemangkasan dalam budidaya kopi, yaitu
pemangkasan berbatang tunggal dan pemangkasan berbatang
ganda. Pemangkasan berbatang tunggal lebih cocok untuk jenis
tanaman kopi yang mempunyai banyak cabang sekunder semisal
arabika. Pemangkasan ganda lebih banyak diaplikasikan
diperkebunan rakyat yang menanam robusta. Pemangkasan ini
lebih sesuai pada perkebunan di daerah dataran rendah dan
basah. Berdasarkan tujuannya, pemangkasan dalam budidaya
kopi dibagi menjadi tiga macam yaitu:
1. Pemengkasan pembentukan, bertujuan membentuk kerangka
tanaman seperti bentuk tajuk, tinggi tanaman dan tipe
percabangan.
2. Pemangkasan produksi, bertujuan memangkas cabang-cabang
yang tidak produktif atau cabang tua. Hal ini dilakukan agar
tanaman lebih fokus menumbuhkan cabang yang produktif.
Selain itu, pemangkasan ini juga untuk membuang cabang-
cabang yang terkena penyakit atau hama.
3. Pemangkasan peremajaan, dilakukan pada tanaman yang
telah mengalami penurunan produksi, hasil kuranng dari 400
kg/ha/tahun atau bentuk tajuk yang sudah tak beraturan.
Pemangkasan dilakukan setelah pemupukan untuk menjaga
ketersediaan nutrisi.
Penyiangan gulma
Tanaman kopi harus selalu bersih dari gulma, terutama saat
tanaman masih muda. Lakukan penyiangan setiap dua minggu,
dan bersihkan gulma yang ada dibawah tajuk pohon kopi. Apabila
tanaman sudah cukup besar, pengendalian gulma yang ada
diluar tajuk tanaman kopi bisa memanfaatkan tanaman penutup
tanah. Penyiangan gulma pada tanaman dewasa dilakukan
apabila diperlukan saja.
Pengendalian hama dan penyakit tanaman kopi, dan hama dan
penyakit penting pada kopi adalah
1. Nematoda parasit diantaranya adalah Pratylenchus coffeae
dan Radopholus similis
2. Penggerek buah kopi (PBKo)
3. Penyakit karat daun yang disebabkan oleh Hemileia vastatrix
e. Pemanenan
Pemanenan buah kopi yang umum dilakukan dengan cara
memetik buah yang telah masak pada tanaman kopi adalah berusia
mulai sekitar 2,5 3 tahun. Buah matang ditandai oleh perubahan
warna kulit buah. Kulit buah berwarna hijau tua adalah buah masih
muda, berwarna kuning adalah setengah masak dan jika berwarna
merah maka buah kopi sudah masak penuh dan menjadi kehitam-
hitaman setelah masak penuh terlampaui (over ripe) (Starfarm,
2010). Tanaman kopi tidak berbunga serentak dalam setahun,
karena itu ada beberapa cara pemetikan (Ermawati et al., 2008):
1 Pemetikan pilih/selektif (petik merah) dilakukan terhadap buah
masak.
2 Pemetikan setengah selektif dilakukan terhadap dompolan buah
masak.
3 Pemetikan lelesan dilakukan terhadap buah kopi yang gugur
karena terlambat pemetikan.
4 Pemetikan racutan/rampasan merupakan pemetikan terhadap
semua buah kopi yang masih hijau, biasanya pada pemanenan
akhir.

Untuk mendapatkan hasil yang bermutu tinggi, buah kopi harus


dipetik dalam keadaan masak penuh. Kopi robusta memerlukan
waktu 811 bulan sejak dari kuncup sampai matang, sedangkan
kopi arabika 6 sampai 8 bulan. Beberapa jenis kopi seperti kopi
liberika dan kopi yang ditanam di daerah basah akan menghasilkan
buah sepanjang tahun sehingga pemanenan bisa dilakukan
sepanjang tahun. Kopi jenis robusta dan kopi yang ditanam di
daerah kering biasanya menghasilkan buah pada musim tertentu
sehingga pemanenan juga dilakukan secara musiman. Musim panen
ini biasanya terjadi mulai bulan Mei/Juni dan berakhir pada bulan
Agustus/September (Ridwansyah, 2003).
Kadangkala ada petani yang memperkirakan waktu panennya
sendiri dan kemudian memetik buah yang telah matang maupun
yang belum matang dari pohonnya secara serentak. Dahan-dahan
digoyang-goyang dengan mengguna-kan tangan sehingga buah-
buah jatuh ke dalam sebuah keranjang atau pada kain terpal yang
dibentangkan di bawah pohon. Metode ini memang lebih cepat,
namun menghasilkan kualitas biji kopi yang lebih rendah (Starfarm,
2010).
Terdapat pemanenan secara alami yaitu seperti yang terjadi
pada kopi luwak. Luwak atau lengkapnya musang luwak, senang
sekali mencari buah-buahan yang cukup baik dan masak (termasuk
buah kopi) sebagai makanannya. Luwak akan memilih buah kopi
yang betul-betul masak sebagai makanannya. Dalam proses
pencernaannya, biji kopi yang dilindungi kulit keras tidak tercerna
dan akan keluar bersama kotoran luwak. Biji kopi seperti ini, pada
masa lalu sering diburu para petani kopi, karena diyakini berasal
dari biji kopi terbaik dan telah difermentasikan secara alami dalam
perut luwak, dan oleh karenanya disebut kopi luwak. "Kopi Luwak"
sekarang telah menjadi merek dagang dari sebuah perusahaan kopi.
f. Pasca Panen
Pengolahan biji merah dilakukan dengan metoda pengolahan
basah atau semi-basah, agar diperoleh biji kopi kering dengan
tampilan yang bagus, sedangkan buah campuran hijau, kuning,
merah diolah dengan cara pengolahan kering. Hal yang harus
dihindari adalah menyimpan buah kopi di dalam karung plastik atau
sak selama lebih dari 12 jam, karena akan menyebabkan pra-
fermentasi sehingga aroma dan citarasa biji kopi menjadi kurang
baik dan berbau busuk (fermented). Biji kopi dapat diolah dengan
beberapa cara yaitu: pengolahan cara kering, pengolahan basah,
dan pengolahan semi basah.
Pengolahan Cara kering
Metoda pengolahan cara kering banyak dilakukan di tingkat
petani karena mudah
dilakukan, peralatan sederhana dan dapat dilakukan di rumah
petani.
Tahap-tahap pengolahan kopi cara kering (Ermawati et al., 2008):
1 Pengeringan
a Kopi yang sudah dipetik dan disortasi (dipilih) harus
sesegera mungkin dikeringkan agar tidak mengalami
proses kimia yang bisa menurunkan mutu. Kopi dikatakan
kering apabila waktu diaduk terdengar bunyi gemerisik.
b Beberapa petani mempunyai kebiasaan merebus kopi
gelondong lalu dikupas kulitnya, kemudian dikeringkan.
Kebiasaan merebus kopi gelondong lalu dikupas kulit harus
dihindari karena dapat merusak kandungan zat kimia
dalam biji kopi sehingga menurunkan mutu.
c Apabila udara tidak cerah pengeringan dapat
menggunakan alat pengering mekanis.
d Tuntaskan pengeringan sampai kadar air mencapai
maksimal 12,5%
e Pengeringan memerlukan waktu 2-3 minggu dengan cara
dijemur
f Pengeringan dengan mesin pengering tidak diharuskan
karena membutuhkan biaya mahal.

Pengeringan biji kopi dilakukan dengan suhu antara 45 500


sampai tercapai kadar air biji maksimal sekitar 12,5%. Suhu
pengeringan yang terlalu tinggi dapat merusak citarasa,
terutama pada kopi arabika. Pengeringan kopi robusta bisa
diawali suhu yang agak tinggi (sekitar 900 ) dalam waktu
singkat (sekitar 20-24 jam). Pengeringan dapat juga dilakukan
dua tahap, dengan pengeringan awal melalui penjemuran
sampai kadar air sekitar 20 % dan selanjutnya dilakukan
pengeringan mekanis sampai kadar air 12,5 % (Prastowo et
al., 2010).
Proses pengeringan bertujuan untuk mengurangi
kandungan air dalam biji kopi HS yang semula 60-65% sampai
menjadi 12%. Pada kadar air ini, biji kopi HS relative aman
untuk dikemas dalam karung dan disimpan di gudang pada
kondisi lingkungan tropis. Proses pengeringan dapat dilakukan
dengan cara penjemuran, mekanis dan kombinasi keduanya.
Buah kopi arabika mutu rendah (inferior) hasil sortasi di kebun
sebaiknya diolah secara kering. Cara ini juga banyak
dipraktekkan petani untuk mengolah kopi jenis robusta.
Tahapan proses ini relatif pendek dibanding proses semi basah
(Prastowo et al., 2010).. Jika cuaca memungkinkan dan
fasilitas memenuhi syarat, penjemuran merupakan cara
pengeringan kopi yang sangat menguntungkan, baik secara
teknis, ekonomis maupun mutu hasil. Namun, di beberapa
sentra penghasil kopi kondisi yang demikian sering tidak
dapat dipenuhi. Oleh karena itu, proses pengeringan bisa
dilakukan dengan dua tahap, yaitu penjemuran untuk
menurunkan kadar air biji kopi sampai 20-25 % dan kemudian
dilanjutkan dengan pengering mekanis. Kontinuitas sumber
panas untuk proses pengeringan dapat lebih dijamin (siang
dan malam) sehingga buah atau biji kopi dapat langsung
dikeringkan dari kadar air awal 60-65% sampai kadar air 12%
dalam waktu yang lebih terkontrol. Proses pengeringan
mekanis sebaiknya dilakukan secara berkelompok karena
proses ini membutuhkan peralatan mekanis yang relatif rumit,
proses investasi yang relatif cukup besar dan tenaga
pelaksana yang terlatih. Kapasitas pengeringan mekanis
dipilih antara 1,50 sampai 4 ton biji HS basah tergantung pada
kondisi kelompok tani (Prastowo, 2009).

Pengeringan dengan cara kombinasi merupakan salah


satu alternatif yang tepat untuk memperbaiki mutu dan
sekaligus menekan biaya produksi. Proses pengeringan
dilakukan dalam dua tahap. Pertama, pengeringan awal
(predrying) biji basah di lantai semen sampai kadar airnya
mencapai 20-22% dan kedua pengeringan akhir (final drying)
biji kopi di dalam pengering mekanis pada suhu 50- 60C
selama 8-12 jam sampai kadar airnya 12%. Alternatif lain
adalah dengan pemanfaatan teknologi perangkap panas
matahari (solar colector). Saat ini telah dikembangkan model
pengering biji kopi dengan tenaga surya yang mempunyai
kapasitas pengolahan 5 ton biji kopi HS basah. Sebagai
sumber panas utama adalah kolektor tenaga surya yang di
pasang sekaligus sebagai atap gedung sehingga biaya
investasi gedung dan biaya energy menjadi lebih murah
(Prastowo et al., 2010).
2 Pengupasan kulit (Hulling)
a Hulling pada pengolahan kering bertujuan untuk
memisahkan biji kopi dari kulit buah, kulit tanduk dan kulit
arinya.
b Hulling dilakukan dengan menggunakan mesin pengupas
(huller). Tidak dianjurkan untuk mengupas kulit dengan cara
menumbuk karena mengakibatkan banyak biji yang pecah.
Beberapa tipe huller sederhana yang sering digunakan
adalah huller putar tangan (manual), huller dengan
penggerak motor, dan hummermill (Ernawati et al., 2008).

Pengupasan kulit kopi. Sebelum dikupas, biji kopi


sebaiknya dipisahkan berdasarkan ukuran biji agar
menghasilkan pengupasan yang baik jika dilakukan dengan
mesin pengupas. Mesin pengupas kopi saat ini sudah tersedia
dan mudah diperoleh dipasaran. Proses pengolahan basah atau
semi-basah diawali dengan pengupasan kulit buah dengan
mesin pengupas (pulper) tipe silinder untuk kemudian
menghasilkan kopi HS, yaitu biji kopi yang masih terbungkus
kulit tanduk. Pengupasan kulit buah berlangsung di antara
permukaan silinder yamg berputar (rotor) dan permukaan
pisau yang diam (stator). Silinder mempunyai profil permukaan
bertonjolan atau sering disebut buble plate dan terbuat dari
bahan logam lunak jenis tembaga. Silinder digerakkan oleh
sebuah motor bakar atau sebuah motor diesel, mesin
pengupas tipe kecil dengan kapasitas 200-300 kg buah kopi
per jam digerakkan dengan motor bensin 5 PK. Alat ini juga
bisa dioperasikan secara manual (tanpa bantuan mesin),
namun kapasitasnya turun menjadi hanya 80-100 kg buah kopi
per jam. Mesin ini dapat digunakan oleh petani secara individu
atau kelompok petani yang beranggota 5-10 anggota. Sedang
untuk kelompok tani yang agak besar dengan anggota lebih
dari 25 orang sebaiknya menggunakan mesin pengupas
dengan kapasitas 1000 kg per jam, yang bisa digerakkan
dengan enjin 8-9 PK (Prastowo et al., 2010).
Pengupasan buah kopi umumnya dilakukan dengan
penyemprotan air ke dalam silinder bersama dengan buah
yang akan di kupas. Penggunaan air sebaiknya diatur sehemat
mungkin, disuaikan dengan ketersediaan air dan mutu hasil.
Jika mengikuti proses pengolahan basah secara penuh,
konsumsi air bisa mencapai 7-9 m per ton buah kopi yang
diolah. Untuk proses semi-basah, konsumsi air sebaiknya tidak
lebih dari 3 m per ton buah. Lapisan air juga berfungsi untuk
mengurangi tekanan geseran silinder terhadap buah kopi
sehingga kulit tanduknya tidak pecah (Prastowo et al., 2010).
Pengolahan Cara Basah (Fully Washed)
Tahap-tahap pengolahan cara basah terdiri dari :
1) Pengupasan Kulit Buah
2) Fermentasi
3) Pencucian
4) Pengeringan
5) Pengupasan kulit kopi
Pengolahan Cara Semi Basah (Semi Washed Process)
Pengolahan secara semi basah saat ini banyak diterapkan
oleh petani kopi arabika di Nanggroe Aceh Darussalam,
Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Cara pengolahan
tersebut menghasilkan kopi dengan citarasa yang sangat
khas, dan berbeda dengan kopi yang diolah secara basah
penuh. Ciri khas kopi yang diolah secara semi-basah ini adalah
berwarna gelap dengan fisik kopi agak melengkung. Kopi
Arabika cara semi-basah biasanya memiliki tingkat keasaman
lebih rendah dengan body lebih kuat dibanding dengan kopi
olah basah penuh. Proses cara semi-basah juga dapat
diterapkan untuk kopi Robusta. Secara umum kopi yang diolah
secara semibasah mutunya sangat baik. Proses pengolahan
secara semibasah lebih singkat dibandingkan dengan
pengolahan secara basah penuh. Tahap-tahap pengolahan biji
kopi semi basah:
1 Pengupasan kulit buah
2 Pemeraman (fermentasi) dan Pencucian
3 Pengeringan awal
4 Pengupasan kulit tanduk/cangkang
5 Pengeringan biji kopi.

Tahapan pengolahan yang diusulkan adalah pengolahan semi-


basah, karena kebutuhan air untuk pengolahan ini lebih
sedikit dari pengolahan basah secara penuh. Untuk buah kopi
petik merah dan pengolahan kering untuk buah campuran
kuning-merah, maka proses pengolahan dapat dilakukan
mengikuti alur seperti gambar di bawah ini (Prastowo et al.,
2010) :
Panen buah masak Panen buah masak

Sortasi buah Sortasi buah

Fermentasi
kering Pengupasan Pengeringan
mekanis Penjemuran

Pencucian
Sortasi

Penjemuran
pengupasan

Sortasi

penggudangan

penggudangan

Gambar 1. Tahapan pengolahan kopi secara semi-basah (kiri) dan kering (kanan)
3 Sortasi kopi.
Sortasi atau pemilihan biji kopi dimaksudkan untuk
memisahkan biji yang masak dan bernas serta seragam dari buah
yang cacat/pecah, kurang seragam dan terserang hama serta
penyakit. Sortasi juga dimaksudkan untuk pembersihan dari
ranting, daun atau kerikil dan lainnya. Buah kopi masak hasil
panen disortasi secara teliti untuk memisahkan buah superior
(masak, bernas dan seragam) dari buah inferior (cacat, hitam,
pecah, berlubang, dan terserang hama penyakit). Kotoran seperti
daun, ranting, tanah dan kerikil harus dibuang karena benda-
benda tersebut dapat merusak mesin pengupas. Buah merah
terpilih (superior) diolah dengan metode pengolahan secara
basah atau semi basah supaya diperoleh biji kopi HS (Haulk
Snauk) kering dengan tampilan yang bagus, sedang buah
campuran hijau-kuning-merah diolah dengan cara pengolahan
kering (Prastowo et al., 2010).
Saat ini sudah tersedia alat atau mesin untuk sortasi yang
dapat dimanfaatkan untuk pekerjaan ini. Selain itu, kopi merah
yang dapat disebut kopi superior dipisahkan, dan biasanya diolah
secara basah atau semi-basah untuk nantinya mendapatkan kopi
HS kering dengan tampilan yang bagus.
4 Fermentasi biji kopi
Fermentasi diperlukan untuk menyingkirkan lapisan lendir
pada kulit tanduk kopi. Fermentasi dilakukan biasanya pada
pengolahan kopi arabika, untuk mengurangi rasa pahit dan
mempertahankan citarasa kopi. Fermentasi dapat dilakukan
dengan cara perendaman biji ke dalam air atau secara kering
dengan memasukkan biji kopi ke dalam kantong plastik dan
menyimpannya secara tertutup selama 12 sampai 36 jam
(Starfarm, 2010). Setelah tahapan ini dapat dilakukan pencucian
dengan air untuk menghilangkan sisa lender setelah fermentasi.
Proses fermentasi umumnya hanya dilakukan untuk pengolahan
kopi arabika, dan tidak banyak dipraktekkan untuk pengolahan
kopi robusta, terutama untuk kebun rakyat. Tujuan proses ini
adalah untuk menghilangkan lapisan lendir yang tersisa di lapisan
kulit tanduk pada biji kopi setelah proses pengupasan. Pada kopi
arabika, fermentasi juga bertujuan untuk mengurangi rasa pahit
dan mendorong terbentuknya kesan mild pada citarasa
seduhannya. Prinsip fermentasi adalah alami dan dibantu oleh
oksigen dari udara. Proses fermentasi dapat dilakukan secara
basah (merendam biji dalam genangan air) dan secara kering
(tanpa rendaman air).
5 Pencucian
Pencucian bertujuan untuk menghilangkan sisa lendir hasil
fermentasi yang masih menempel pada kulit tanduk. Untuk
kapasitas kecil, pencucian dapat dikerjakan secara manual di
dalam bak atau ember, sedang kapasitas besar perlu di bantu
dengan mesin. Mesin pencuci tipe batch mempunyai wadah
pencucian berbentuk silinder horisontal segi enam yang diputar.
Mesin ini dirancang untuk kapasitas kecil dan konsumsi air yang
terbatas. Biji kopi HS sebanyak 50-70 kg dimasukkan ke dalam
silinder berbentuk corong dan kemudian direndam dengan
sejumlah air. Silinder di tutup rapat dan diputar dengan motor
bakar (5 PK) selama 2-3 menit. Motor dimatikan, tutup silinder
dibuka dan air yang telah kotor dibuang. Proses ini diulang 2
sampai 3 kali tergantung pada kebutuhan atau mutu biji kopi
yang diinginkan. Kebutuhan air pencuci berkisar antara 2-3 m
per ton biji.
Mesin pencuci kontinyu mempunyai kapasitas yang lebih
besar, yaitu 1.000 kg biji kopi HS per jam. Kebutuhan air pencuci
berkisar antara 5-6 m per ton biji kopi HS. Mesin pencuci ini
terdiri atas silinder berlubang horizontal dan sirip pencuci
berputar pada poros silinder. Biji kopi dimasukkan ke dalam
corong silinder secara kontinyu disertai dengan semprotan aliran
air ke dalam silinder. Sirip pencuci yang diputar dengan motor
bakar mengangkat massa biji kopi ke permukaan silinder. Sambil
bergerak, sisa-sisa lendir pada permukaan kulit tanduk akan
terlepas dan tercuci oleh aliran air. Kotoran-kotoran akan
menerobos lewat lubang-lubang yang tersedia pada dinding
silinder, sedang massa biji kopi yang sudah bersih terdorong oleh
sirip pencuci ke arah ujung pengeluaran silinder.
6 Pengukuran kadar biji
Penentuan kadar biji kopi merupakan salah satu tolak ukur
proses pengeringan agar diperoleh mutu hasil yang baik dan
biaya pengeringan yang murah. Akhir dari proses pengeringan
harus ditentukan secara akurat. Pengembangan yang berlebihan
(menghasilkan biji kopi dengan kadar air jauh di bawah 12%)
merupakan pemborosan bahan bakar dan merugikan karena
terjadi kehilangan berat. Sebaliknya jika terlalu singkat, maka
kadar air kopi belum mencapai titik keseimbangan (12%)
sehingga biji kopi menjadi rentan terhadap serangan jamur pada
saat disimpan atau diangkut ke tempat konsumen.
7 Penggilingan kopi
Biji kopi kering atau kopi HS kering digiling dengan mesin
huller untuk mendapatkan biji kopi pasar atau kopi beras
(Puslitkoka, 2006). Penggilingan kopi diperlukan untuk
memperoleh kopi bubuk dan meningkatkan luas permukaan kopi.
Pada kondisi ini citarasa kopi akan lebih mudah larut pada saat
dimasak dan disajikan, dengan demikian seluruh citarasa kopi
terlarut ke dalam air seduan kopi yang akan dihidangkan
(Starfarm,2010).
8 Pengemasan dan Penggudangan
1 Kemaslah biji kopi dengan menggunakan karung yang bersih
dan baik, serta diberi label sesuaidengan ketentuan Standar
Nasional Indonesia (SNI 01-2907-1999). Simpan tumpukan kopi
dalam gudang yang bersih, bebas dari bau asing dan
kontaminasi lainnya
2 Karung diberi label yang menunjukkan jenis mutu dan identitas
produsen. Cat untuk label menggunakan pelarut non minyak.
3 Gunakan karung yang bersih dan jauhkan dari bau-bau asing
4 Atur tumpukan karung kopi diatas landasan kayu dan beri
batas dengan dinding
5 Monitor kondisi biji selama disimpan terhadap kondisi kadar
airnya, keamanan terhadap organisme gangguan (tikus,
serangga, jamur, dll) dan faktor-faktor lain yang dapat merusak
kopi
6 Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penggudangan
adalah: kadar air, kelembaban relatif dan kebersihan gudang.
7 Kelembaban ruangan gudang sebaiknya 70%.
9 Standardisasi
Standar mutu diperlukan sebagai petunjuk dalam
pengawasan mutu dan merupakan perangkat pemasaran dalam
menghadapi klaim/ketidakpuasan dari konsumen dan dalam
memberikan saran-saran ke bagian pabrik dan bagian kebun.
Standardisasi meliputi definisi, klasifikasi, syarat mutu, cara
pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan, cara
pengemasan. Standar Nasional Indonesia Biji kopi menurut SNI
No.01-2907-1999 seperti pada Tabel 1 dan 2 (Ermawati et al.,
2008).
Pada prinsipnya penanganan pasca panen kopi harus
memperhatikan keamanan pangan. Oleh karena itu harus
dihindari terjadinya kontaminasi dari beberapa hal yaitu
(Ermawati et al., 2008):
1 Fisik (tercampur dengan benda asing selain kopi, misalnya:
rambut, kotoran, dll)
2 Kimia (tercampur bahan-bahan kimia)
3 Biologi (tercampur jasad renik yang bisa berasal dari pekerja
yang sakit, kotoran/sampah di sekitar yang membusuk)
Tabel 1. Spesifikasi persyaratan mutu kopi

No Jenis Uji Satuan Persyaratan


.
1. Kadar air, (b/b) % Masksimum 12
2. Kadar kotoran berupa ranting, batu, % Maksimum 0,5
tanah dan benda-benda asing lainnya
3 Serangga hidup - Bebas
4 Biji berbau busuk dan berbau kapang - Bebas
5 Biji ukuran besar, tidak lolos ayakan % Maksimum lolos
lubang bulat ukuran diameter 7,5 mm 2,5
(b/b)
6 Biji ukuran sedang lolos lubang ayakan % Maksimum lolos
ukuran diameter 7,5 mm, tidak lolos 2,5
ayakan lubang ukuran diameter 6,5 mm
(b/b)
7 Biji ukuran kecil, lolos ayakan lubang % Maksimum lolos
bulat ukuran diameter 6.5 mm, tidak 2,5
lolos ayakan lubang bulat ukuran
diameter 5,5 mm (b/b)

Tabel 2. Jenis mutu kopi

Mutu Syarat Mutu


Mutu 1 Jumlah nilai cacat maksimum 11
Mutu 2 Jumlah nilai cacat 12 sampai dengan 25
Mutu 3 Jumlah nilai cacat 26 sampai dengan 44
Mutu 4-A Jumlah nilai cacat 45 sampai dengan 60
Mutu 4-B Jumlah nilai cacat 61 sampai dengan 80
Mutu 5 Jumlah nilai cacat 81 sampai dengan 150
Mutu 6 Jumlah nilai cacat 151 sampai dengan 225

Usaha penanganan pasca panen kopi hendaknya melakukan


pencatatan data yang terurut sewaktu-waktu dibutuhkan. Data
yang perlu dicatat adalah (Ermawati et al., 2008):

1 Data bahan baku


2 Jenis produksi
3 Kapasitas produksi
4 Pemasalahan yang timbul

BAB III
ANALISIS USAHATANI DAN SWOT KOPI

3.1 Analisis Usahatani Kopi


Analisis biaya usaha tani perkebunan menjadi hal yang perlu
dipertimbangkan dalam kegiatan bisnis komoditas perkebunan.
Tanaman perkebunan apabila kita optimalkan potensinya dapat sangat
potensial sebagai unit kegiatan bisnis. Oleh karena itu diperlukan
perhitungan dan analisis yang matang dalam perencanaan dan
pelaksanaan usaha perkebunan kopi. Analisis usaha tani menjadi hal
yang amat esensial, karena setiap usaha perkebunan, tak hanya
komoditas kopi, umumnya mencari keuntungan. Berikut ini adalah hasil
analisis usaha tani kopi dengan luasan satu hektar yang diambil dari
BPTP di Kabupaten Bangli (Rubiyo, et. al, 2005)

Tabel 1. Analisis usahatani kopi arabika dan kopi robusta per hektar di
Desa Kembangsari, Kabupaten Bangli Tahun 20014

Uraian Kopi Arabika Kopi Robusta


Biaya Tenaga
Kerja
Pemupukan 478.276,05 396.138,60
Pemangkasan 162.181,05 184.080,60
Panen 688.843,95 549.390,60
Pengolahan 48.630,00 50.430,60
Penjemuran 182.362,50 141.134,40
Total Biaya
1.560.293,55 1.321.174,80
Tenaga Kerja
Biaya Sarana
Produksi
Pembelian
1.431.882,79 831.600,00
pupuk
Swinih 3.242,00 2.771,60
Karung 9.186,21 8.316,00
Lain-lain
Penyusutan alat 63.084,46 36.481,10
Pajak tanah 46.712,36 47.232,50
Iuran subak 9.726,00 8.316,00
Total Biaya
1.563.833,81 934.717,21
Sarana Produksi
Total Biaya
3.124.127,36 2.255.892,01
Usahatani
Total
9.120.826,67 4.506.480,00
Penerimaan
Total
5.996.699,31 2.250.587,98
Pendapatan
B/C Ratio 1,92 1,00
Sumber : diolah dari data primer, 2004.

Dari hasil analisis terkait penggunaan tenaga kerja di perkebunan kopi,


menunjukkan bahwa perkebunan kopi merupakan jenis usaha yang
padat karya. Hal yang menarik adalah penggunaan biaya tenaga kerja
manusia pada kebun kopi arabika lebih banyak daripada kopi robusta.
Hal ini dimungkingkan karena kopi arabika memerlukan perawatan
yang lebih intensif. Tenaga kerja pada usahatani kopi arabika dalam
luasan satu hektar mencapai 104,02 HOK dengan biaya Rp.
1560.293,55 sedangkan usahatani kopi robusta 88,08 HOK atau biaya
sebesar Rp. 1.321.174,80. Adanya perbedaan itu karena pemangkasan
tanaman kopi robusta tidak terlalu diperhatikan dan panen kopi robusta
hanya dilakukan satu kali, sedangkan pada kopi arabika sampai empat
kali panen. Perawatan yang berbeda pada 2 jenis kopi yang berbeda
berdampak pada Total Cost kopi arabika yang lebih besar, yaitu
sebesar Rp 3.124.127,36 sedangkan pada kopi robusta sebesar Rp
2.255.892,01. Kopi arabika yang dapat dipanen hingga empat kali
memberikan revenue yang lebih besar, yaitu Rp 9.120.826,67 jauh
dibandingkan kopi robusta yang sebesar Rp 4.506.480,00. Dari hasil
bertani kopi petani mendapat keuntungan bersih yang bias dibilang
cukup, yaitu sebesar Rp 5.996.699,31 untuk kopi arabika sedangkan
untuk kopi robusta sebesar Rp 2.250.587,98. Apabila kita hitung B/C
Rationya ternyata bertanam kopi arabika lebihmenguntungkan 0,92
point lebih tinggi daripada bertanam kopi Robusta dengan nilai B/C
Ratio berturut-turut 1,92 dan 1,00

3.2 Analisis SWOT usahatani tanaman Kopi


Analisis SWOT merupakan kegiatan mengidentifikasi kekuatan dan
kelemahan internal suatu kegiatan, mengidentifikasi kesempatan dan
ancaman eksternal suatu kegiatan yang ini berkaitan dengan budidaya
tanaman Kopi. Analisis ini berguna untuk menentukan strategi kegiatan
budidaya dengan memaksimalkan kekuatan dan kesempatan untuk
mengatasi kelemahan dan ancaman. Berikut ini adalah analisis SWOT
usahatani tanaman Kopi :

Kekuatan (Strengths)
1. Tersedianya berbagai paket teknologi dari mulai pra-panen, panen dan pasca panen yang telah
dikembangkan ke masyarakat petani pekebun.
2. Tersedianya keragaman produk kopi baik dalam bentuk regular coffee atau specialty coffee.
3. Masih terbukanya Peluang pengembangan Product development dalam bentuk kopi setengah jadi
(roasted coffee) maupun kopi jadi (soluble dan instant coffee).
4. Ketersedian lahan dan agroklimat yang sesuai, khususnya pengembangan kopi Arabika.
5. Biaya produksi relatif lebih rendah.
Di Indonesia memiliki sedikitnya tujuh macam kopi spesialiti yang telah dikenal dunia seperti sebagai
berikut:
1. Gayo Mountain Coffee dari dataran tinggi Takengon, Aceh Tengah,
2. Mandheling dan Lintong Coffee dari Sumatera Utara,
3. Java Coffee dari dataran tinggi Ijen, Jawa Timur,
4. Toraja atau Kalosi Coffee dari dataran tinggi Tana Toraja, Sulawesi Selatan,
5. Bali Coffee dari dataran tinggi Kintamani, Bali,
6. Flores Coffee dari dataran tinggi Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dan
7. Balliem Highland Coffee dari dataran tinggi Jaya Wijaya, Irian Jaya.
Kelemahan (Weaknesses)
1. Rendahnya Produktivitas kopi di Indonesia, baik kopi Robusta maupun Arabika.
2. Belum proporsionalnya komposisi kopi Arabika dan Robusta. Pertanaman kopi Robusta
mendominasi dibandingkan dengan kopi arabika, sedangkan permintaan kopi dunia hingga saat ini
masih didominasi oleh Arabika dengan pangsa pasar >70%.
3. Terbatasnya ketersediaan lahan yang memadai.
4. Terbatasnya panen kopi dan rendahnya kualitas atau mutu kopi Indonesia.
5. Kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung industri kopi, khususnya untuk kopi Arabika
yang menuntut lingkungan dengan suhu rendah, yang hanya terdapat pada dataran tinggi di
pegunungan.
6. Kurang informasi pasar dalam mengefisienkan sistem tataniaga.
7. Pemilikan lahan yang rata-rata masih sempit yaitu seluas 0,69 ha per KK.
8. Terbatas atau lemahnya kelembagaan petani dalam posisi rebut pasar (bargaining position).
9. Ditinjau dari aspek hukum belum banyak produk kopi yang tergolong dalam produk specilaty secara
legal memiliki hak paten.
10. Penerapan teknologi (agronomi, pasca panen dan pengolahan) yang masih sangat terbatas.
Peluang (Opportunities)
Peluang pasar kopi Indonesia khususnya dimasa mendatang masih cukup cerah, dengan beberapa
indicator yaitu sebagai berikut:
1. Distribusi supply dan demand kopi dunia. Diasumsikan bahwa, meskipun produksi dunia
mengalami sedikit peningkatan, namun lebih diakibatkan adanya kecenderungan meningkatnya
produksi kopi Robusta di wilayah Asia pasifik. Sedangkan kopi Arabika dirasakan beberapa tahun
terakhir mengalami fluktuasi dan cenderung mengalami penurunan.
2. Perkembangan harga kopi dunia. Menurut ICO, perkembangan harga rata-rata kopiArabika selalu
lebih tinggi dibandingkan harga kopi Robusta, maka dapat diasumsikan bahwa pengembangan
agribisnis kopi Arabika memiliki kecenderungan yang lebih prospektif dibandingkan dengan
Robusta.
3. Perkembangan konsumsi kopi dunia (terutama negara importir) cukup baik sehingga pasar dan
permintaan baru akan terbuka.
Ancaman (Treaths)
1. Adanya ancaman dari minuman lain. Dewasa ini kecenderungan budaya minum kopi khususnya
di pasar tradisional mengalami perubahan yaitu dari hot beverages ke cold
beverages yaitu peralihan minuman ke soft drink.
2. Penyimpangan Iklim, yaitu perubahan iklim yang akhir-akhir ini sulit diperkirakan akan berdampak
terhadap penyimpangan tipe iklim di suatu wilayah. Sementara tanaman kopi dalam stadia-stadia
tertentu sangat rentan terhadap pengaruh kekurangan dan kelebihan air yang akan berakibat pada
penurunan produksi.
3. Kelangkaan tenaga kerja. Angkatan kerja di pedesaan kurang berminat bekerja diperkebunan, hal ini
dikarenakan tingkat upah yang diterima masih dirasakan relatif rendah.
4. Perkembangan produksi yang besar di negara lain (Vietnam) sangat tinggi menyebabkan persaingan
pasar sangat tinggi.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Teknik budidaya pada tanaman kopi adalah mmperhatikan syarat
tumbuh tanaman kopi, persiapan bahan tanam, persiapan lahan,
penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan pasca panen.
2. Jenis-jenis kopi yang tersebar di Indonesia diantaranya:
Cofffe canefora, salah satu jenis varietasnya yang menghasilkan
kopi dagang robusta.
Coffea arabica, yang menghasilkan kopi dagang arabica.
Coffea exelca yang menghasilkan kopi dagang exelca.
Coffea liberica yang menghasilkan kopi dagang liberica.
3. jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman kopi adalah
jenis Nematoda parasit diantaranya Pratylenchus coffeae dan
Radopholus similis, Penggerek buah kopi (PBKo) dan Penyakit karat
daun yang disebabkan oleh Hemileia vastatrix

4.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan adalah makalah ini dibuat penulis
dari berbagai sumber yang pada pelaksanaan di lapangan bisa jadi
tidak 100% sama dengan teori yang ada, sehingga faktor lain yang
mempengaruhi budidaya tanaman kopi perlu diperhatikan.
DAFTAR PUSTAKA

Aak.1980. Budidaya Tanaman Kopi. Yayasan Kanisius, Yogyakarta.


Anonim. <http://del.icio.us/tag/Analisa_SWOT_Usaha_Budidaya_Tanaman_Kopi>. Diakses pada 3 Maret
2017
Budidaya dan Pasca Panen Kopi. 2010. Nitro PDF Professional. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.
Ernawati, R., R. W. Arief, dan Slameto. 2008. Teknologi Budidaya Kopi
Poliklonal. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi
Pertanian. BP3 Lampung. Bandar Lampung.
Gandul, 2010. Sejarah Kopi. http://sekilap.blog.com/ 2010/01/05/sejarah-
kopi/diunduh 26 Februari 2017. Posted by ajhiin Jan 05, 2010.
Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan. 2014. Pedoman
Teknis Budidaya Kopi Yang Baik (Good Agriculture Practices/ Gap
On Coffee).
Najiyati, S., dan Danarti, 1997. Budidaya Kopi dan Pengolahan Pasca
Panen. Penebar Swadaya, Jakarta.
Prastowo, B. 2009. Reorientasi rancangbangun alat dan mesin pertanian
menuju efisiensi dan pengembangan bahan bakar nabati. Orasi
Pengukuhan Profesor Riset. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
dan Badan Litbang Pertanian. Bogor.
Prastowo, B., E. Karmawati, Rubijo, Siswanto, C. Indrawanto,dan S. J.
Munarso. 2010. Budidaya dan Pasca Panen. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perkebunan, Bogor.
Prastowo, Bambang.,dkk. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Kopi. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Jakarta.
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. 2006. Pengolah Produk Primer
dan Sekunder Kopi, Jember
Rahardjo, Pudji. 2012. Panduan Budidaya dan Pengolahan Kopi Arabika
dan Robusta. Penebar Swadaya. Jakarta.
Ridwansyah, 2003. Pengolahan Kopi. Jurusan Teknologi Pertanian. Fakultas
Pertanian, Universitas Sumatra Utara. USU digital library, Sumatra
Utara.
Ridwansyah. 2003. Pengolahan Kopi. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas
Sumatera Utara.
http://www.library.usu.ac.id/tekper.ridwansyah4.pdf. Diakses pada
tanggal 26 Februari 2017.
Rubiyo, Jemmy Rinaldi dan Suharyanto. 2005. Kajian Rehabilitasi Tanaman
Kopi Robusta Menjadi Kopi Arabika Dengan Teknik Sambung di
Kabupaten Bangli. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali, Bali.
Spillane, James J. 1990. Komoditi Kopi Peranannya Dalam Perekonomian
Indonesia. Kanisius. Yogyakarta.
Starfarm. 2010. Pengolahan Pasca Panen Kopi.
<http://www.starfarmagris.co.cc/2009/06/pengolahan-pasca-
panen-kopi>. Diakses tanggal 25 Februari 2017.
Wang, Niya. 2012. Psycochemical changes of coffee beans during
roasting. University of Guelph. Canada