Anda di halaman 1dari 23

PENGARUH PEMBERIAN METFORMIN PADA PENDERITA DIABETES

MELLITUS TIPE 2 USIA LANJUT

TUGAS FARMASI

Disusun Oleh:
1.
2. _
3. _
4. _
5. _

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
SURABAYA
2016
2

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulisan
makalah yang berjudul Pengaruh Pemberian Metformin Pada Penderita Diabetes
Mellitus Tipe 2 Usia Lanjut dapat di selesaikan,guna memenuhi tugas Farmasi.

Penulis menyadari bahwa makalah ini tidak dapat diselesaikan tanpa


bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada
dr.Hariyanto selaku pembimbing kami dalam melaksanakan tugas ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih mengharapkan

segala masukan demi sempurnanya tulisan ini.

Akhirnya kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi pihak yang

terkait.
3

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu penyakit metabolisme yang


memiliki tingkat prevalensi sangat tinggi di dunia. Prevalensi DM di
Amerika Serikat diduga mencapai 10 juta kasus dan merupakan penyebab
kematian ketiga..(22)

Diabetes melitus (DM) merupakan masalah kesehatan global yang


insidensinya semakin meningkat. Sebanyak 346 juta orang di dunia
menderita diabetes, dan diperkirakan mencapai 380 juta jiwa pada tahun
2025.(32)
Selain itu diabetes mellitus juga merupakan penyakit kronis paling
populer yang banyak terjadi pada lanjut usia (Dellasega dan Yonushonis,
2007) yaitu prevalensinya meningkat pada usia lebih dari 60 tahun (Funk
2011). Akibat proses menua terjadi penurunan fungsi sel-sel pankreas.
Menurut penelitian, 10% lansia yang berusia diatas 60 tahun menderita
DM tipe 2 (Tjay dan Kirana, 2015). DM merupakan penyakit yang berat
dan akan menjadi penyakit seumur hidup mengingat bahwa DM tidak
dapat disembuhkan melainkan hanya bisa di kontrol kadar gula darahnya.
(16)

Prevalensi DM tipe 2 semakin meningkat yaitu 95% terjadi pada


lanjut usia, pengobatan yang diberikan mengalami banyak kesulitan
karena komplikasi yang diderita. Hiperglikemi yang terjadi pada lansia
meningkatkan resiko komplikasi mikrovaskuler, makrovaskuler dan
mengakibatkan kematian.(31)
Menurut perkiraan WHO, Indonesia menempati peringkat nomor 5
sedangkan Amerika menduduki peringkat ke-6 di dunia sebagai negara
dengan penderita DM, dengan jumlah penderita DM di Indonesia
sebanyak 8.426.000 pada tahun 2000 dan diprediksi meningkat menjadi
21.257.000 pada tahun 2030. International Diabetes Federation pada
tahun 2000 memperkirakan dari total penduduk indonesia sebesar 200 juta
yang menderita DM sekitar 5,6 juta dan pada tahun 2020 akan ada
kenaikan penderita DM sekitar 8,2 juta.(26)
DM dapat menyebabkan sejumlah komplikasi seperti:
mikroangiopati yang menyerang kapiler dan arteriola retina (retinopati
diabetik), glomerulus ginjal (nefropati diabetik), dan saraf-saraf perifer
(neuropati diabetik), otot serta kulit.(22)
Pengurangan aliran darah ke kulit dapat menyebabkan terjadinya
ulkus (borok) dan penyembuhan luka berjalan lambat. Ulkus di kaki bisa
sangat dalam dan mengalami infeksi serta masa penyembuhannya lama
sehingga sebagian tungkai harus diamputasi, sedangkan makroangiopati
menyebabkan arteriosklerosis yang berujung pada infark miokardium.(23)
Obat berperan sangat penting dalam pelayanan kesehatan. Berbagai
pilihan obat saat ini tersedia, sehingga diperlukan pertimbangan-
pertimbangan yang cermat dalam memilih obat untuk suatu penyakit.
Terlalu banyaknya jenis obat yang tersedia ternyata dapat memberikan
masalah tersendiri dalam praktik, terutama menyangkut pemilihan dan
penggunaan obat secara benar dan aman. Salah satu obat antidiabetik
yang digunakan adalah golongan biguanid. Fenformin, buformin dan
metformin merupakan golongan biguanid. Namun yang sering digunakan
adalah metformin, fenformin telah ditarik dari peredaran karena dapat
menyebabkan asidosis laktat.(23)
Metformin pada pasien lanjut usia tidak menyebabkan
hipoglekimia jika digunakan tanpa obat lain, namun harus digunakan
secara hati-hati pada pasien lanjut usia karena dapat menyebabkan
anorexia dan kehilangan berat badan. Pasien lanjut usia harus
memeriksakan kreatinin terlebih dahulu. Serum kretinin yang rendah
disebakan karena massa otot yang rendah pada orangtua. Metformin
tidak boleh diberikan bila klirens kreatinin <60mg/dl.(9)
Pemberian obat pada lanjut usia perlu mendapatkan perhatian
khusus karena pasien lansia mengalami kemunduran fungsi organ yang
5

mempengaruhi aspek farmakokinetik obat. Setelah obat diabsorpsi, obat


melewati hati dan dimetabolisme, apabila terdapat kemunduran fungsi hati
kadar obat dalam darah akan semakin meningkat. Fase distribusi
dipengaruhi oleh berat dan komposisi tubuh yaitu cairan tubuh, massa otot,
peredaran darah dan organ yang mengatur ekskresi obat. Mengecilnya
massa hati dan proses menua dapat mempengaruhi metabolisme obat.
Menurunnya fungsi ginjal pada proses menua mempengaruhi ekskresi obat
sehingga harus dilakukan penyesuaian dosis (Supartando, 2007).
Atas dasar uraian di atas maka penulis bermaksud mengkaji lebih
dalam mengenai pengaruh yang disebabkan oleh obat anti diabetik
golongan biguanide yaitu metformin terhadap pasien diabetes lanjut usia.

1.2. Rumusan Masalah


Bagaimana pengaruh pemberian metformin pada penderita DM tipe 2 usia
lanjut?

1.3. Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh pemberian metformin pada penderita DM tipe
2 usia lanjut.

1.4 Manfaat

Diharapkan makalah ini dapat dijadikan sebagai penambah wawasan


ilmu pengetahuan atau pun referensi bagi penulis maupun pembaca.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sejarah Metformin

Metformin dianggap sebagai dasar dalam pengobatan diabetes dan yang


paling sering digunakan sebagai terapi lini pertama untuk individu dengan
diabetes tipe 2. Selain itu, metformin adalah salah satu dari beberapa
antihyperglycaemic agen terkait dengan perbaikan dalam morbiditas dan
mortalitas kardiovaskular, yang merupakan penyebab kematian terbesar pada
pasien dengan diabetes tipe 2.(13)

2.2 Sifat Fisiko-kimia Obat dan Rumus Kimia Obat

Nama Kimia : N,N-Dimethylimidodicarbonimidic diamide


Rumus Molekul : C4H11N5HCl
Berat Molekul : 165,6 g/mol
Pemerian : Serbuk putih, higroskopik dan serbuk Kristal
Kelarutan : Larut 1 dalam 2 bagian air dan 1 dalam 100 bagian etanol, praktis
tidak larut dalam kloroform dan eter.(7)

Metformin merupakan derivate dimetil dari kelompok biguanida (1959)


yang berkhasiat memperbaiki sensivitas insulin, terutama menghambat
pembentukan glukosa dalam hati serta menurunkan kolesterol-LDL dan
trigliserida. Lagipula berkhasiat menekan nafsu makan dan tidak
meningkatkan berat badan. Oleh karena itu digunakan pada diabetes mellitus
7

tipe 2 sebagai monoterapi pilihan pertama bagi terutama pasien (sangat)


gemuk.(28)

2.3 Farmasi Umum

Metformin immediate release biasanya diberikan pada dosis 500 mg yang


pemberiannya dua kali sehari bersama makanan untuk meminimalkan
timbulnya efek samping pada gastrointestinal. Untuk mengurangi efek pada
lambung seperti mual dan muntah diberikan 1-2 suapan saat makan
(Ediningsih, 2006). Dosis penggunaan metformin 3 dd 500 mg atau 2 dd 850
mg d.c. Bila perlu berangsur-angsur dinaikkan dalam waktu 2 minggu sampai
maksimal 3 dd 1 g.(28)

Metformin dapat ditambah dosisnya dari 500 mg per minggu sampai dapat
dicapai kadar glukosa darah yang diinginkan atau 2000 mg/hari. Dosis harian
metformin dapat mencapai 850 mg tiga kali sehari (2550 mg/hari). Kira-kira
80% efek penurunan glikemia dapat ditunjukan pada dosis 1500 mg/ hari dan
2000 mg/hari yang dilihat dosis efektif maksimal. Pemberian dosis dua kali
sehari sampai tiga kali sehari dengan pelepasan metformin dalam tubuh yang
panjang dapat membantu meminimalkan efek samping sehingga dapat
meningkatkan kontrol gula. Bentuk sediaan oral metformin 500, 850, 1000 mg
tablet, extended-release (XR) : 500, 750, 1000 mg tablet ; 500 mg/mL
solution.(13)

2.4 Farmakologi Umum


A. Khasiat Obat
Zat ini adalah derivat dimetil dari kelompok biguanida yang

berkhasiat memperbaiki sensitivitas insulin, terutama menghambat


pembentukan glukosa dalam hati serta menurunkan kolesterol-LDL dan

trigliserida. Berkasiat menekan nafsu makan dan tidak meningkatkan berat

badan. Oleh karena itu digunakan pada Diabetes Melitus Tipe II sebagai

monoterapi pilihan pertama bagi pasien yang sangat gemuk.(28)


1 Golongan Obat
Metformin adalah 18 golongan dimetil biguanide merupakan OHO

yang dipakai untuk menurunkan kadar glukosa darah pada pasien

diabetes mellitus tipe II, penggunaannya bertujuan untuk menurunkan

resistensi insulin dengan memperbaiki sensitivitas insulin terhadap

jaringan. Dengan demikian metformin di indikasikan sebagai obat

pilihan pertama pada pasien diabetes mellitus tipe II gemuk yang mana

dasar kelainannya adalah resistensi insulin. Walaupun cara kerja

metformin berbeda dengan sulfonilurea akan tetapi efek kontrol

glikemik sama dengan golongan sulfonilurea. Metformin dikenal

bekerja sebagai anti hiperglikemia sedang sulfonilurea sebagai obat

yang bekerja sebagai hipoglikemik (Balley, CJ. 1996).

2 Sediaan dan Dosis Obat


Strategi Penggunaan Metformin
a. Penggunaan metformin dimulai dengan dosis kecil (500 mg

perhari) yang diberikan satu atau dua kali sehari pada saat

makan pagi atau malam


9

b. Setelah 5-7 hari, jika tidak ada efek samping pada

gastrointestinal, dosis dapat ditingkatkan sampai 850 atau

1.000 mg sebelum makan pagi atau makan malam.


c. Jika timbul efek samping obat pada saluran pencernaan, dosis

obat dapat diturunkan pada dosis sebelumnya.


d. Dosis efektif maksimal biasanya 850 mg, 2 kali sehari, akan

lebih baik lagi kalau dinaikan dosisnya sampai 3.000 mg

sehari.
e. Untuk mengurangi beban pembiayaan, gunakan obat generik

pada saat pertama kali.


f. Formulasi metformin dengan masa kerja panjang saat ini sudah

banyak beredar di pasaran (Raymond R, 2008).

B. Kegunaan Terapi
Metformin lebih sering digunakan sebagai terapi antidiabetik oral

karena memiliki efek samping hipoglikemi yang rendah dibandingkan

dengan golongan lain dan efektif menurunkan kadar glukosa darah

dengan mekanisme kerjanya tidak melalui perangsangan sekresi insulin

tetapi langsung terhadap organ sasaran yaitu dengan meningkatkan

transport glukosa, meningkatkan ambilan glukosa dari otot dan jaringan

lemak, menurunkan produksi glukosa hati dengan menghambat

glikogenolisis dan glukoneogenesis, memperlambat absorpsi glukosa di

saluran gastrointestinal.(15)
Namun, dalam hasil penelitian masih ditemukannya pemberian

metformin yang belum sesuai dengan kondisi klinis pasien yaitu masih

diberikannya terapi metormin pada pasien yang nilai bersihan kreatinin


sudah menurun, pasien berbadan kurus, dan pada pasien geriatri yaitu

pasien dengan kode nama P33.(15)

C. Kontra Indikasi Obat


Efek utama metformin adalah menurunkan hepatic glucose output

dan menurunkan kadar glukosa puasa. Monoterapi dengan metformin

dapat menurunkan A1C sebesar~1,5%. Pada umumnya metformin dapat

ditolerir oleh pasien. Efek yang tidak diinginkan yang paling sering

dikeluhkan adalah keluhan gastrointestinal. Monoterapi metformin

jarang disertai dengan hipoglikemia; dan metformin dapat digunakan

secara aman tanpa menyebabkan hipoglikemia pada prediabetes. Efek

nonglikemik yang penting dari metformin adalah tidak menyebabkan

penambahan berat badan atau menyebabkan panurunan berat badan

sedikit. Disfungsi ginjal merupakan kontraindikasi untuk pemakaian

metformin karena akan meningkatkan risiko asidosis laktik ; komplikasi

ini jarang terjadi tetapi fatal.(4)


Kontraindikasi pemberian metformin tidak boleh diberikan pada

penderita gangguan fungsi hepar, gangguan fungsi ginjal, penyakit

jantung kongesif dan wanita hamil. Pada keadaan gawat juga sebaiknya

tidak diberikan metformin.(28)


Efek samping pada obat ini menimbulkan gangguan saluran cerna,

seperti mual, flatulensi, dan diare. obat ini diekskresikan melalui ginjal,

dan risiko akumulasi metformin serta asidosis laktat akan meningkat jika

terdapat gangguan ginjal.(10)

2.5 Farmakodinamik
11

Farmakodinamik adalah efek fisiologi dan biokimiawi obat terhadap

jaringan tubuh.
A. Mekanisme Kerja Obat
Mekanisme kerja metformin menambah up-take (utilisasi) glukosa

diperifer dengan meningkatkan sensitifitas jaringan terhadap insulin,

menekan produksi glukosa oleh hati, menurunkan oksidasi Fatty Acid

dan meningkatkan pemakaian glukosa dalam usus melalui proses non

oksidatif. Pada pemakaian tunggal metformin dapat menurunkan kadar

glukosa darah sampai 20% (Balley, CJ. 1996).


Mekanisme kerja obat golongan biguanid atau metformin juga

menurunkan hepatic glucose output dan menurunkan kadar glukosa

darah dengan mengurangi produksi glukosa di dalam hati dan

memperbaiki pengambilan glukosa di dalam jaringan perifer.(10)


Peran metformin pada tingkat seluler di dalam sel hati dalam

menurunkan glukosa darah dapat dijelaskan berdasarkan hasil penelitian

Zhou dkk. pada tahun 2001. Zhou dkk. telah menemukan peran enzim

adenosin-monophosphateactivated-protein kinase (AMPK) pada

metabolisme karbohidrat dan lemak di dalam sel hati. Pada keadaan

normal enzim AMPK akan diaktifkan oleh adenosin monofosfat (AMP)

yang terbentuk dari proses pemecahan adenosin trifosfat (ATP) menjadi

adenosin monofosfat (AMP) pada siklus pembentukan energi di dalam

mitokondria. Aktivasi AMPK oleh metformin akan menghambat enzim

asetil-koenzime A carboxylase, yang berfungsi pada proses metabolisme

lemak. Proses ini akan menyebabkan peningkatan oksidasi asam lemak

dan menekan ekspresi enzim-enzim yang berperan pada lipogenesis.


Selain itu enzim AMPK di hati akan menurunkan expresi sterol

regulatory element-binding protein 1 (SREBP-1), suatu transcription

faktor yang berperan pada patogenesis resistensi insulin, dislipidemia,

dan steatosis hati (perlemakan). Jadi enzim AMPK ini mempunyai peran

yang dominan pada proses metabolisme glukosa dan lemak di dalam

hati, dan mungkin berperan pula pada beberapa mekanisme yang

menunjukan keuntungan dari metformin, seperti peningkatan ekspresi

dari hexokinase di dalam otot dan peningkatan glucose transporter

(GLUT) dalam sel (Raymond R, 2008).


Metformin juga menurunkan glukosa darah melalui pengaruhnya

terhadap kerja insulin pada tingkat selular dan menurunkan produksi

gula hati. Metformin juga menekan nafsu makan hingga berat badan

tidak meningkat, sehingga layak diberikan pada penderita yang

overweight (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes, 2005).

Beberapa mekanisme lain dari metformin dalam menurunkan

glukosa darah antara lain:


1 Meningkatkan translokasi dan aksi dari glucose transporter (GLUT )

dan aktivasi AMP activated protein-kinase.


2 Menurunkan ekspresi mRNA pada gen yang terlibat pada oksidasi

asam lemak gen gluconeogenesis.


3 Menghambat aktivitas rantai pernapasan di mitokondria
13

4 Menurunkan resistensi insulin dengan cara menurunkan respon

resistensi insulin
5 Meningkatkan fisiologi membran sel 6. Menurunkan free fatty acid

flux.

2.6 Farmakokinetik Obat


A. Pola ADME (Absorbsi, Distribusi, Metabolisme, Eliminasi)
Absorpsi metformin berlangsung relatif lambat dan dapat diperpanjang

sampai sekitar 6 jam. sehingga glukosa di jaringan perifer meningkat dan

menghambat glukoneogenesis dalam hati dan meningkatan penyerapan

glukosa di jaringan perifer.(28)


Obat metformin akan didistribusikan ke seluruh tubuh melalui sirkulasi

darah. Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan

oleh sifat fisikokimianya. Distribusi dibatasi oleh ikatan obat pada protein

plasma, hanya obat bebas yang dapat berdifusi dan mencapai

keseimbangan. Derajat ikatan obat dengan protein plasma ditentukan oleh

afinitas obat terhadap protein, kadar obat, dan kadar proteinnya sendiri.(1)
Metformin tak terikat protein plasma, sehingga tidak memungkinkan

terjadi penghambatan/ interaksi pada jalur distribusi obat ini. Metabolisme

obat terdiri dari 2 jalur utama dari proses biokimia yang berbeda, yaitu

metabolisme fase I dan fase II. Namun, karena metformin tidak mengalami

metabolisme hepatik/ ekskresi melalui kandung empedu maka hal ini tidak

mungkin mempengaruhi terjadinya interaksi.(2)


Metformin diekskresikan tidak berubah kedalam urin dan tidak

mengalami metabolisme hepatik/ ekskresi melalui kandung empedu

(Sukandar, 2008). Proses ekskresi bertanggung jawab atas durasi atau


lamanya obat berefek dengan cara mengusahakan agar obat dapat segera

dikeluarkan dari tubuh, temasuk ke dalam alat ekskresi seperti ginjal, hati

dan paru. Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi

dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya.

Obat atau metabolit yang polar diekskresi lebih cepat daripada obat yang

larut baik dalam lemak.(1)

B. Waktu Paruh Obat


Metformin mempunyai waktu paruh (t) 3-6 jam, tak terikat protein
plasma, tidak dimetabolisme, dan diekskresi oleh ginjal melalui sekresi
aktif pada tubulus proksimal.(25)

C. Ikatan Protein
Metformin mengaktivasi enzim Adenosin Monofosfat Protein Kinase

(AMPK) yang akan meningkatkan kadar adiponektin. Adiponektin

merupakan protein yang berasal dari jaringan adiposa dan memiliki fungsi

yang penting, yaitu 3 bermanfaat memperbaiki sensitivitas jaringan

terhadap insulin. Metformin dapat meningkatkan kadar adiponektin secara

bermakna di jaringan adiposa (Manaf et al., 2009).


Pada umumnya metformin dapat mempengaruhi fungsi ginjal dan

jantung sehingga hanya digunakan untuk penderita yang tidak menderita

penyakit ginjal dan jantung (Siswandono & Soekardjo, 2008). Efek toksik

yang paling sering pada metformin adalah pada saluran cerna (anoreksia,

mual, muntah, keluhan abdominal, diare) dan terjadi sampai sebesar 20%

pada pasien. Efek tersebut berhubungan dengan dosis, cenderung terjadi

pada awal terapi dan seringkali bersifat sementara. Namun, penggunaan


15

metformin mungkin harus dihentikan pada 3-5% pasien karena diare yang

terus menerus.(24)

D. Bioavailabilitas
Metformin tidak sempurna diserap pada saluran pencernaan dan

memiliki penyerapan 3 terbatas pada bagian atas saluran pencernaan

dengan bioavailabilitas metformin hidroklorida jika diberikan secara

peroral adalah 50 60% (Kshirsagar et al., 2009). Dosis metformin sekitar

1,5 2 g/hari.
Menurut Raju, et al. (2010), bioavailabilitas metformin dapat

ditingkatkan dengan sistem penghantaran obat secara GRDDS

(gastroretentive drug delivery systems). Pemberian obat gastroretentive

drug delivery systems (GRDDS) dapat memperpanjang waktu tinggal

dalam lambung sehingga pelepasan obat spesifik dalam saluran

pencernaan bagian atas. Adanya bentuk sediaan gastroretentif yang

dipertahankan di daerah lambung untuk waktu yang cukup lama, dapat

meningkatkan penyerapan metformin yang terbatas pada bagian atas usus

sehingga dapat meningkatkan bioavailabilitasnya. Penghantaran secara

GRDDS telah banyak dikembangkan, seperti biomucoadhesive, swelling,

dan floating (Kshirsagar et al., 2009).

2.7 Toksisitas
A. Efek samping

Efek yang tidak diinginkan yang paling sering dikeluhkan oleh pasien
DM tipe II yang diterapi metformin adalah keluhan gastrointestinal. (4)
Metformin dilaporkan dapat menyebabkan diare dan dispepsia. (3) Hampir
20% pasien DM tipe II yang diterapi dengan metformin mengalami mual,
muntah, diare serta kecap logam (metalic taste), namun dengan
menurunkan dosis keluhan ini dapat segera hilang. (8) Penggunaan
metformin pada pasien lanjut usia dibatasi oleh adanya efek samping pada
gastrointestinal. Terdapat 30% pasien lanjut usia yang mengeluh
anoreksia, mual, dan perasaan tidak nyaman pada perut. Untuk
mengurangi efek samping ini, dapat diberikan dosis awal 500 mg,
kemudian ditingkatkan 500 mg/minggu untuk dapat mencapai kadar gula
darah yang diinginkan.(17) Efek samping anoreksia dan gangguan
gastrointestinal terutama pada dosis di atas 1,5 g/hari.(28)

Monoterapi metformin jarang disertai dengan hipoglikemia. Efek


nonglikemik yang penting dari metformin adalah tidak menyebabkan
penambahan berat badan atau menyebabkan panurunan berat badan.(4)
Lain halnya dengan obat antidiabetes lainnya, seperti sulfonilurea atau
insulin yang berhubungan dengan risiko hipoglikemia dan peningkatan
berat badan.(17)

Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau sistem kardiovaskular,


pemberian metformin dapat menimbulkan peningkatan kadar asam laktat
dalam darah, sehingga hal ini dapat mengganggu kesimbangan elektrolit
dalam cairan tubuh.(8) Metformin juga dilaporkan dapat menyebabkan
asidosis laktat.(3)

Selain itu metformin dapat menyebabkan defisiensi vitamin B12. Data


dari National Health And Nutrition Examination Survey menunjukkan
bahwa kekurangan vitamin B12 terdapat di 5,8% dari mereka dengan
diabetes yang diterapi menggunakan metformin dibandingkan dengan
2,4% dari mereka yang tidak diterapi menggunakan metformin. Penelitian
di Brazil juga menyebutkan bahwa prevalensi defisiensi vitamin B12 pada
pasien dengan diabetes tipe II yang menggunakan metformin adalah 6,9%.
Oleh sebab itu, perlu adanya monitoring rutin vitamin B12 pada pasien
dengan diabetes tipe 2, khususnya pada pengguna metformin lebih dari
empat tahun dengan dosis rata-rata lebih dari 1.000 mg per hari.(30)
17

B. Toksisitas

Gejala toksisitas metformin adalah asidosis laktat. Penggunaan


metformin dalam jangka panjang dan dosis yang besar dapat menyebabkan
defisiensi vitamin B12.(30)

2.8 Pengobatan Diabetes Millitus tipe II pada Pasien Usia Lanjut


menggunakan Metformin

Umur yang dijadikan acuan sebagai lanjut usia bervasriasi. Menurut


WHO ada empat tahap batasan umur yaitu usia pertengahan (middle age)
antara 45 59 tahun, usia lanjut (elderly) antara 60 74 tahun, dan lanjut
usia (old) antara 75 90 tahun, serta usia sangat tua (very old) di atas 90
tahun. Di Indonesia, batasan lanjut usia adalah 60 tahun ke atas. Hal ini
sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan
lanjut usia pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 (Nugroho, 2008)

Berdasarkan konsensus ADA-EASD untuk terapi DM tipe 2 pada tahun


2008 ini, terapi DM tipe 2 dibagi menjadi 2 tingkatan, yaitu:

A. Tingkat 1

Terapi tingkat 1 ini terdiri dari terapi non-farmakologi berupa


modifikasi gaya hidup dan terapi farmakologi dengan menggunakan
metformin, sulfonilurea, dan insulin. Tingkat 1 merupakan terapi utama
yang telah terbukti (well validated core therapies). Selain banyak
digunakan, terapi tingkat 1 ini paling cost-effective untuk mencapai
target gula darah.
B. Tingkat 2

Terapi tingkat 2 adalah dengan menggunakan tiazolidindion


(pioglitazon) dan Glucagon Like Peptide-1/GLP-1 agonis (exenatide).
Terapi tingkat yang belum banyak dibuktikan (less well validated
therapies).

Dalam konsensus ADA-EASD (2008), metformin dianjurkan sebagai


terapi obat lini pertama untuk semua pasien Diabetes Melitus Tipe 2
kecuali pada mereka yang memiliki kontraindikasi terhadap metformin
misalnya antara lain gangguan fungsi ginjal (kreatinin serum >133
mmol/L atau 1,5 mg/dL pada pria dan >124 mmol/L atau 1,4 mg/dL pada
wanita), gangguan fungsi hati, gagal jantung kongestif, asidosis
metabolik, dehidrasi, hipoksia dan pengguna alkohol.(17) Metformin yang
termasuk dalam golongan biguanid ini tidak boleh diberikan pada
kehamilan, pasien dengan penyakit hepar berat, penyakit ginjal dengan
uremia dan penyakit paru dengan hipoksia kronik, serta pasien yang
akan diberi zat kontras IV atau yang akan dioperasi.(8) Kreatinin serum
tidak menggambarkan keadaan fungsi ginjal yang sebenarnya pada usia
sangat lanjut, maka metformin sama sekali tidak dianjurkan pada lansia
>80 tahun.(17)
19

BAB IV

PEMBAHASAN

Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang sering dijumpai

pada usia lanjut. Hampir 50% pasien diabetes tipe 2 berusia 65 tahun ke atas.

Diabetes pada usia lanjut berbeda secara metabolik dengan diabetes pada

kelompok usia lainnya, sehingga diperlukan pendekatan terapi yang berbeda

pada kelompok usia ini. Pada tahun 2008, American Diabetes Association

(ADA) dan European Association for the Study of Diabetes (EASD)


mengembangkan sebuah rekomendasi tata laksana terbaru untuk diabetes tipe

2. Algoritma dalam konsensus tersebut memberikan gambaran dan panduan

bagi dokter dalam manajemen diabetes tipe 2.(17)

Menurut konsensus ADA-EASD (2008) penggunaan metformin

dianjurkan sebagai terapi obat lini pertama untuk semua pasien DM tipe 2

kecuali pada mereka yang punya kon-traindikasi terhadap metformin

misalnya antara lain gangguan fungsi ginjal (kreatinin serum >133 mmol/L

atau 1,5 mg/dL pada pria dan >124 mmol/L atau 1,4 mg/dL pada wanita),

gangguan fungsi hati, gagal jantung kongestif, asidosis metabolik, dehidrasi,

hipoksia dan pengguna alkohol, namun karena kreatinin serum tidak

menggambarkan keadaan fungsi ginjal yang sebenarnya pada usia sangat

lanjut, maka metformin sama sekali tidak dianjurkan pada lansia >80 tahun.

Metformin bermanfaat terhadap sistem kardiovaskular dan mempunyai risiko

yang kecil terhadap kejadian hipoglikemia.(19)

Metformin lebih sering digunakan sebagai terapi antidiabetik oral

karena memiliki efek samping hipoglikemi yang rendah dibandingkan dengan

golongan lain dan efektif menurunkan kadar glukosa darah dengan

mekanisme kerjanya tidak melalui perangsangan sekresi insulin tetapi

langsung terhadap organ sasaran yaitu dengan meningkatkan transport

glukosa, meningkatkan ambilan glukosa dari otot dan jaringan lemak,

menurunkan produksi glukosa hati dengan menghambat glikogenolisis dan

glukoneogenesis, memperlambat absorpsi glukosa di saluran gastrointestinal.


(15)
21

Penggunaan metformin pada lansia dibatasi oleh adanya efek samping

gastrointestinal berupa anoreksia, mual, dan perasaan tidak nyaman pada

perut (terjadi pada 30% pasien). Untuk mengurangi kejadian efek samping

ini, dapat diberikan dosis awal 500 mg, kemudian ditingkatkan 500

mg/minggu untuk dapat mencapai kadar gula darah yang diinginkan.(19)

Efek samping samping berupa gangguan saluran cerna pada penderita

diabetes terutama pada pasien lanjut usia disebabkan karena kontrol glukosa

darah yang tidak baik, serta gangguan saraf otonom yang mengenai saluran

pencernaan. Gangguan ini dimulai dari rongga mulut yang mudah terkena

infeksi, gangguan rasa pengecapan sehingga mengurangi nafsu makan, Rasa

sebah, mual, bahkan muntah dan diare juga bisa terjadi. Ini adalah akibat dari

gangguan saraf otonom pada lambung dan usus. Keluhan gangguan saluran

pencernaan bisa juga timbul akibat pemakaian obat - obatan yang diminum.

Sehingga kondisi fisik pada usia lanjut yang semakin menurun inilah yang

juga dapat mempengaruhi adsorbsi dari terap terapi obat yang diberikan

salah satunya adalah metformin.(14)

Keluhan atau gangguan pada sistem pencernaan dapat timbul pada saat

mulai pertama kali penggunaan atau setelah lama penggunaan.Keluhan pada

saluran pencernaan yang terjadi akibat efek samping obat merupakan salah

satu kendala penggunaan metformin. Namun, efek samping pada saluran

gastrointestinal ini, akan membaik setelah dosis metformin diturunkan atau

pemberian metformin dihentikan.(11)


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Prevalensi penderita diabetes yang cenderung semakin meningkat akan

meningkatkan penggunaan obat anti diabetik. Salah satu terapi yang sering

digunakan adalah Metformin yang merupakan derivat dimetil dari kelompok

biguanida yang berkhasiat memperbaiki sensitivitas insulin, terutama

menghambat pembentukan glukosa dalam hati serta menurunkan kolesterol-

LDL dan trigliserida. Metformin juga terbukti mempunyai efek protektif


23

terhadap komplikasi kardiovaskuler. Efek samping pada saluran

gastrointestinal akibat metformin dan multifarmasi merupakan salah satu

kendala yang sering mengganggu kepatuhan pasien dalam pengobatan

terutama pada pasien usia lanjut yang mengalami penurunan fungsi organ

sehingga rentan terhadap efek samping obat - obatan.

B. Saran
1 Sebaiknya perlu komunikasi, informasi, dan edukasi pada penderita DM

tipe 2 terutam pada pasien- pasien lanjut usia mengenai efek terapi dari

pembrrian obat metforin.


2 Sebaiknya Jika timbul efek samping metformin pada saluran pencernaan,

dosis obat dapat diturunkan pada dosis sebelumnya.

SUMMARY

The prevalence of diabetics tend to increase will increase the use of anti-
diabetic drugs . One therapy that is often used is that Metformin is a biguanide
derivative dimethyl groups are nutritious improve insulin sensitivity , particularly
to inhibit the formation of glucose in the liver as well as lowering LDL-
cholesterol and triglycerides . Metformin also shown to have a protective effect
against cardiovascular complications . Adverse effects on the gastrointestinal tract
due to metformi is one of the obstacles that often interfere with patient
compliance in the treatment , especially in elderly patients who experienced a
decline in organ function and thus susceptible to the side effects of drugs.