Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Advoksai secara harfiah berarti pembelaan,sokongan atau bantuan terhadap
seseorang yang mempunyai permasalahan.Istilah advokasi mula-mula digunakan
di bidang hukum atau pengadilan. Menurut Johns Hopkins (1990) advokasi adalah
usaha untuk mempengaruhi kebijakan publik melalui bermacam-macam bentuk
komunikasi persuasif..
Meyakinkan para pejabat terhadap pentingnya program tidaklah mudah, tetapi
memerlukan argumentasi-argumentasi yang kuat. Dengan perkataan lain, berhasil
atau tidaknya advokasi dipengaruhi oleh kuat atau tidaknya kita menyiapkan
argumentasi. Untuk memperkuat argumen, maka perlu melakukan beberapa hal
dalam pelaksanaannya, antara lain adalaha creadiable, layak, relevan, penting, dan
prioritas tinggi. Dalam mengemukakan argument dalam advokasi juga dibutuhkan
metode-metode argumentasi. Metode ini meliputi definisi, sebab-akibat,
sirkumtansi, perbandingan, pertentangan, dan kesaksian atau otoritas. Metode
tersebut penting untuk memperkuat argument dan menyakinkan agar argument
yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Untuk itu dialkuakn pemabahsan
mengenai metode argumentasi advokasi
1.2 Tujuan
1. Dapat memahami definisi argumentasi
2. Dapat mengetahui ciri-ciri argumentasi
3. Dapat mengetahui dasar dan sasaran dalam argumentasi
4. Dapat memahami argumentasi dalam advokasi
5. Dapat mengetahui metode-metode argumentasi
6. Dapat memahami metode argumentasi sebab-akibat
7. Dapat memahami metode argumentasi sirkumtansi
8. Dapat mengetahui contoh metode argumentasi sebab-akibat dan
sirkumtansi dalam kasus advokasi
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Argumentasi


Argumentasi merupakan karangan yang membuktikan kebenaran atau
ketidakbenaran dari sebuah pernyataan (statement). Dalam teks argumen, penulis
menggunakan berbagai strategi atau piranti retorika untuk meyakinkan pembaca
ihwal kebenaran atau ketidakbenaran pernayataan tersebut. Argumentasi adalah
karangan yang berusaha memberikan alasan untuk memperkuat atau menolak
suatu pendapat, pendirian, atau gagasan. Karangan argumentasi pasti memuat
argumen, yaitu bukti dan alasan yang dapat meyakinkan orang lain bahwa
pendapat yang disampaikan benar.(Alwasilah, 2005)
Argumentasi merupakan suatu bentuk retorika yang berusaha untuk
mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka percaya dan akhirnya
bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan penulis. Melalui argumentasi penulis
mampu merangkaikan fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga ia mampu
menunjukkan apakah suatu pendapat atau suatu hal tertentu itu benar atau
tidak(Kerav, 2004)

2.2 Ciri-Ciri Argumentasi


Indriati (2001: 79) menyatakan bahwa argumentasi yang kuat harus
mengandung lima ciri-ciri. Lima ciri-ciri tersebut antara lain:
1) klaim (claim),
2) bukti afirmatif (setuju) dan bukti kontradiktif (bantahan),
3) garansi/justifikasi (warrant),
4) kompromi (concessions),
5) sumber aset(reservations).
Dari uraian lima cirri-ciri tersebut, dapat disimpulkan bahwa argumentasi
memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Pertama, terdapat pernyataan atas suatu
pendapat. Kedua, menyertakan alasan untuk meyakinkan orang lain mengenai
pendapat yang disampaikan. Ketiga,mengandung bukti kebenaran berupa data dan
fakta pendukung yang relevan. Keempat, analisis yang dilakukan berdasarkan data
dan fakta yang disampaikan

2.3 Dasar dan Sasaran


2.3.1 Dasar Argumentasi
Argumentasi atau tulisan argumentatif yang ingin mengubah sikap
danpendapat orang lain bertolak dari dasar-dasar tertentu, menuju sasaran yang
hendak dicapainya.
Dasar yang harus diperhatikan sebagai titik tolak argumentasi adalah:
1. Pembicara atau pengarang harus mengetahui serba sedikit tentang
subyek yang akan dikemukakannya, sekurang-kurangnya mengenai
prinsip-prisip ilmiahnya.
2. Pengarang harus bersedia mempertimbangkan pandangan-pandangan
atau pendapat-pendapat yang bertentangan dengan pendapatnya sendiri.
Di samping kedua prinsip di atas, penulis atau pembicara harus
memperhatikan pula ketiga prinsip tambahan berikut:
3. Pembicara atau penulis argumentasi harus berusaha untuk
mengemukakan pokok persoalannya dengan jelas; ia harus menjelaskan
mengapa ia harus memilih topic tersebut.
4. Pembicara atau penulis harus menyelidiki persyaratan mana yang masih
diperlukan bagi tujuan-tujuan lain yang tercakup dalam persoalan yang
dibahas itu, dan sampai di mana kebenaran dari pernyataan yang telah
dirumuskannya itu.
5. Dari semua maksud dan tujuan yang terkandung dalam persoalan itu,
maksdu yang mana yang lebih memuaskan pembicara atau penulis untuk
menyanpaikan masalah.
2.3.2 Sasaran Argumentasi
Di samping prinsip-prinsip yang harus diperhatikan, penulis selalu berusaha
pula untuk membatasi persoalannya, dan menetapkan di mana terletak titik atau
sasaran ketidaksesuaian pendapat antara pengarang dan pembaca. Dengan
demikian ia dapat mengubah keyakinan atau menpengaruhi sikap dan tindakan
pembaca atau hadirinnya.
Untuk membatasi persoalan dan menetapkan titik ketidaksesuaian , maka
sasaran yang harus ditetapkan untuk diamankan oleh setiap pengarang
argumentasi adalah:
1. Argumentasi itu harus mengandung kebenaran untuk mengubah sikap
dan keyakinan orang mengenai topik yang akan diargumentasikan.
Harus menyusun fakta-fakta menuju suatu kesimpulan yang dapat
diterima, atau ia harus menyusun proposisi-proposisi yang benar.
Dengan demikian, lawannya tidak bisa mengajukan fakta atau proposisi
dan kesimpulan yang bertentangan dengan fakta dan kesimpulan itu.
2. Pengarang harus berusaha untuk menghindari setiap istilah yang dapat
menimbulkan prasangka tertentu. Bila pengarang merumuskan proposisi
tadi dengan mengungkapkanya dalam bentuk pertanyaan, maka
pengarang sebenarnya meragukan atau menyangsikan sesuatu yang ingin
diargumentasikannya.
3. Pembatasan pengertian atau definisi sebuah istilah merupakan proses
pembentukan makna untuk meletakkan dasar-dasar persamaan
pengertian bagi istilah yang akan digunakan, tetapi hal itu sangat penting
supaya tujuan utama tidak diabaikan atau terganggu hanya karena timbul
ketidaksepakatan baru mengenai istilah itu.
4. Pengarang harus menetapkan secara tepat titik ketidaksepakatan yang
akan diargumentasikan. Langkah ini merupakan langkah yang sangat
penting.

2.4 Argumentasi Advokasi


Secara sederhana, advokasi adalah kegiatan untuk meyakinkan para
penentukebijakan atau, para pembuat keputusan sedemikian rupa sehingga mereka
memberikan dukungan baik kebijakan, fasilitas dan dana terhadap program yang
ditawakan.
Meyakinkan para pejabat terhadap pentingnya program kesehatan tidaklah
mudah, memerlukan argumentasi argumentasi yang kuat. Dengan kata lain,
berhasil tidaknya advokasi bergantung pada kuat atau tidaknya kita menyiapkan
argumentasi. Dibawah ini ada beberapa hal yang dapat memperkuat argumen
dalam melakukan kegiatan advokasi, antara lain:
a. Kredibilitas (Creadible)
Kredibilitas (Creadible) adalah suatu sifat pada seseorang atau institusi
yang menyebabkan orang atau pihak lain mempercayainya atau meyakininya.
Orang yang akan melalukan advokasi (petugas kesehatan) harus Creadible.
b. Layak (Feasible)
Artinya program yang diajukan tersebut baik secara tehnik, politik,
maupun ekonomi dimungkinkan atau layak. Secara tehnik layak (feasible) artinya
program tersebut dapat dilaksanakan. Artinya dari segi petugas yang akan
melaksanakan program tersebut, mempunyai kemampuan yang baik atau cukup.
c. Relevan (Relevant)
Relevan memiliki arti bahwa program yang yang diajukan tersebut tidak
mencakup 2 kriteria, yakni : memenuhi kebutuhan masyarakat dan benar-benar
memecahkan masalah yang dirasakan masyarakat.
d. Penting dan Mendesak (Urgent)
Penting dan mendesak program yang diajukan harus mempunyai urgensi
yang tinggi: harus segera dilaksanakan dan kalau tidak segera dilaksanakan akan
menimbulkan masalah.
e. Prioritas Tinggi
Prioritas tinggi memiliki arti bahwa program yang diajukan tersebut harus
mempunyai prioritas yang tinggi.

2.5 MetodeArgumentasi
Pengembangan argumentasi di lakukan dengan kalimat-kalimat yang
berisisesuatu yang bersifat alasan-alasan agar pembaca percaya dan menerima apa
yang di kemukakan penulis. Kalimat-kalimat itu berisi argumentatif yang di
kembang kan melalui beberapa metode. Metode yang dapat digunakan untuk
membuat atau memperkuat argumentasi, antara lain sebaga iberikut :
a. Genus dandefinisi
b. Sebab-akibat
c. Sirkumtansi atau keadaan
d. Perbandingan
e. Pertentangan
f. Kesaksian atau otoritas

2.6 Metode Argumentasi Sebab-akibat


Argumentasi dengan metode sebab akibat adalah argumen yang
dikembangkan dengan selalu menggunakan proses berpikir yang bercorak khusus
yaitu bercorak kausal. Proses berpikir ini menyatakan bahwa suatu sebab tertentu
akan mencakup sebuah sebab yang sebanding.Oleh karena itu, bila terdapat
sebuah sebab yang hebat, akan lahir pula sebuah akibat yang dahsyat, dan jika kita
menghadapi suatu situasi yang sangaat parah, maka harus kembali pada sebuah
sebab yang hebat.Pengembangan argumentasi dengan cara sebab adalah dengan
menempatkan sebab sebagai inti dan akibat sebagai penjelasannya. Sebaliknya,
dengan menempatkan akibat sebagai inti untuk memahami bahwa akibat tersebut
ditimbulkan olehsejumlah penyebab sebagai penjelasnya.
Topik atau isi argumen yang di dasarkan pada sebab-akibat selalu
mempergunakan proses berpikir yang bercorak kausal. Proses berpikir ini
menyatakan, bahwa suatu sebab tertentu akan mencakup sebuah akibat yang
sebanding, atau sebuah akibat tertentu akan mencakup pula sebab yang sebanding.
Oleh karena itu, bila terdapat sebuah sebab yang hebat, akan lahir pula sebuah
akibat yang dahsyat, dan jika kita menghadapi suatu situasi yang sangaat parah,
maka harus kembali pada sebuah sebab yang hebat.

2.7 Metode Argumentasi Sirkumtansi atau Keadaan


Keadaan merupakan suatu proses yang digolongkan dalam proses sebab
akibat. Seseorang sering menghadapi suatu persoalan, maka akan mengatakan
bahwa terpaksa melakukan hal itu atau tidak ada jalan keluar lain selain itu.
Tindakan yang dilakukan seseorang tidak semua dapat dibenarkan melalui
prinsip-prinsip logis. Seseorang terpaksa melakukan tindakan karena fakta-fakta
yang tidak memungkinkan untuk berbuat hal lain maka pembuktiannya dilakukan
melalui suatu pembuktian. Argumentator menyodorkan situasi yang terpaksa
tersebut dengan membenarkan tindakannya. Apabila penyajian keadaan tersebut
tidak meyakinkan sebagai keadaan terpaksa, maka argumennya akan ditolak.
Suasana terpaksa tidak boleh menghasilkan alternatif-alternatif. Sirkumstansi atau
keadaan tergolong dalam relasi kausal. Tetapi sejauh tidak ada alternatif lain,
maka keadaan itulah yang dijadikan suatu argumen.

2.8 Contoh Kasus Advokasi dengan Metode Argumentasi Sebab-akibat dan


Sirkumtansi
2.8.1 Contoh Kasus dengan Metode Sebab-akibat
Ny. Dewi merupakan salah satu warga Desa Sarah Asri yang baru saja
melahirkan putra pertamanya. Sebulan setelah kelahiran putra pertamanya, Ny.
Dewi memeriksakan diri dengan membawa putranya ke bidan Sinta, yang
merupakan salah satu bidan di Desa Sarah Asri. Betapa terkejutnya bidan Sinta
ketika melihat Ny. Dewi yang sedang asyiknya memberikan susu formula pada
dot si bayi. Ternyata kedatangan Ny. Dewi ingin mengeluh masalah kegagalannya
dalam memberikan ASI Eksklusif pada bayinya. Ny Dewi beranggapan bahwa
ASInya tidak mencukupi untuk kebutuhan sang bayi ditambah dengan masalah
putting susunya lecet sehingga Ny. Dewi langsung memutuskan untuk
memberikan susu formula karena tidak tega melihat sang bayi nangis terus.
Tindakan Ny. Dewi tersebut ternyata didukung oleh suami dan keluarganya.
Karena ternyata pengetahuan Ny. Dewi khususnya dan keluarga kurang tentang
pentingnya dan manfaat ASI Eksklusif dan teknik menyusui dengan benar.
Advokasi Kebidanan
Advokasi dalam konteks kebidanan merupakan pendampingan masyarakat
untuk berdaya dibidang kesehatan dan bersama-sama melakukan upaya-upaya
untuk perubahan perilaku di bidang kesehatan (kebidanan). Pemberian advokasi
kebidanan untuk kasus diatas dilaksanakan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Realistis
Dalam kasus ini bidan Sinta membuat rencana memberikan pendidikan
kesehatan kepada Ny. Dewi dan suami atau keluarganya mengenai manfaat ASI
Eksklusif, meskipun selama hamil sudah diberikan Penkes tenang ASI Eksklusif.
Namun sekarang lebih ditekankan terhadap permasalahan yang dialami oleh Ny.
Dewi teknik menyusui yang benar, serta apa saja yang dapat menghambat dan
membantu memberikan dukungan baik fisik maupun psikis, karena berhasil
tidaknya ASI Eksklusif juga sangat dipengaruhi oleh orang0orang di sekitarnya
terutama suami dan keluarga.
2. Sistematis
Dalam pemberian advokasi kebidanan kepada Ny. Dewi, bidan Sinta sudah
menyiapkan leaflet dan gambar perbedaan bayi yang diberikan susu formula
dengan bayi yang diberikan ASI Eksklusif, tentang teknik menyusui yang benar
dan juga perawatan payudara, agar pendidikan kesehatan yang diberikan kepada
Ny. Dewi lebih mudah dimengerti dan sebagai bahan bacaan Ny. Dewi dirumah.
3. Taktis
Bidan Sinta bekerja sama dengan keluarga klien dan kader-kader kesehatan
untuk melakukan pengawasan serta memberikan dukungan untuk tetap
memberikan ASI Eksklusif kepada klien.
4. Strategis
Advokasi mengenai ASI Eksklusif yang diberikan bidan Sinta meliputi :
a. Member tahu Ny. Dewi mengenai komponen kelebihan yang ada di dalam
ASI dibandingkan dengan susu formula yaitu ASI mengandung lebih
banyak protein dan lactose dibandingkan dengan susu formula. Dimana
kedua zat ini sangat membantu dalam proses pencernaan dan dapat
mengurangi reaksi alergi sekaligus carbohydrate sangan dibutuhkan untuk
menyediakan energy pada bayi.
b. Menjelaskan manfaat ASI Eksklusif baik untuk ibu maupun bayi yaitu
dengan hisapan dari rangsangan bayi ketika menyusu dapat menghasilkan
hormone oksitosin dimana fungsi dari hormone oksitosin itu adalah dapat
meningkatkan kontraksi uterus sehingga rahim ibu juga cepat kembali ke
bentuk semula, selain itu dengan menyusui kelebihan lemak yang terdapat
oleh ibu akan digunakan selama proses menyusui sehingga membantu ibu
untuk mengembalikan bentuk tubuh seperti semula. Untuk jangka panjang
dengan menyusui dapat mengurangi kehilangan darah yang terlalu banyak
disaat menstruasi, mengurangi resiko terkena kanker ovarium dan
mengurangi resiko terkena infeksi yang parah untuk jangka panjang dan
yang terpenting memberikan ikatan/bounding antara ibu dan bayi sehingga
kasih saying antara keduanya lebih kuat dan ibu merasa sukses untuk
menjadi seorang ibu dan masih banyak lagi keuntungan yang didapatkan
oleh ibu.
Keuntungan yang didapatkan oleh bayi : kandungan protein yang
tinggi di dalam ASI, bayi memiliki IQ ESQ lebih tinggi, mengurangi
resiko obesitas pada bayi, daya imun bayi lebih tinggi, reaksi alergi yang
didapatkan oleh bayi sangat jarang jika bayi mendapatkan ASI Eksklusif,
membantu sistem pencernaan pada bayi, dan masih banyak lagi
keuntungan yang didapatkan oleh bayi karena ASI Eksklusif.
c. Menjelaskan kepada NY. Dewi bahwa ibu menyusui perlu istirahat yang
cukup, menghindari stress dan makan-makanan yang bergizi yang
dibutuhkan oleh bayi sehingga produksi ASI tetap banyak dan berkualitas.
d. Menjalaskan teknik menyusui dengan benar dan juga breastcare
(perawatan payudara). Karena ini juga sangat mempengaruhi dalam
keberhasilan ASI Eksklusif.
Selain itu, bidan Sinta juga member tahu Ny. Dewi dan menekankan
bajwa tidak ada yang bisa menggantikan ASI dari susu formula yang mahal
sekalipun. Selain itu ASI lebih hemat, murah dan praktis.
5. Berani
Advokasi yang diberikan bidan Sinta terencana dan tersusun dengan rapi,
serta mudah dipahami oleh klien, mampu membuat klien untuk mematuhi dan
bisa merubah perilaku untuk mencoba kembali dan menelateni memberikan ASI
kepada bayinya, jetika klien yakin akan ASInya cukup untuk sang bayi maka klien
akan membergentujan memberikan susu formula lagi kepada bayinya hingga bayi
berusia 2 tahun, karena setelah bayi berumur 6 bulan keatas mulai diperkenalkan
makanan pendamping ASI, namun sebisa mungkin ASI terus diberikan sampai
anak berusia 2 tahun dan berusaha untuk mencoba melakukan yang benar
terutama untuk teknik menyusui. Ibu juga sudah paham bahwa ibu menyusui
sangan membutuhkan istirahat yang cukup, tidak stress dan nutrisi yang tepat.
Sehingga jika semua dilakukan dengan benar tidak ada lagi istilah ibu merasa
ASInya tidak cukup untuk memenuhi nutrisi bayi dan masalah putting susu ibu
yang lecet. Sehingga ibu merasakan nyaman dan percaya diri ketika memberikan
ASI Eksklusif kepada bayinya karena benar-benar merasakan bounding. Hal
inilah yang dapat meningkatkan baik jumlah maupun kualitas ASI, sehingga
bayipun puas, tidurnya nyenyak, dan mengalami pertumbuhan dan perkembangan
yang baik.

2.8.2 Contoh Kasus dengan Metode Sirkumtansi atau Keadaan


Peristiwa kekerasan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Pabrik Gula
Cinta Manis di Ogan Ilir, merupakan salah satu contoh dari beragam peristiwa
kekerasan yang melibatkan PTPN dengan masyarakat sekitar perkebunan.
Sebelumnya, peristiwa kekerasan yang melibatkan aparat juga terjadi di Sumatera
Utara melibatkan PTPN II, di Sulawesi Selatan melibatkan PT PN XIV, di Jawa
Barat melibatkan PTPN VIII.
Terkait dengan PTPN VII, berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan,
dari hasil tim investigasi dan advokasi Serikat Petani Indonesia (SPI). Pada Jumat
(4/12), telah terjadi penembakan dan perusakan pondokan petani di Kecamatan
Payaraman Kabupaten Ogan Ilir Sumatra Selatan. Kejadian tersebut terkait
dengan sengketa lahan antara warga dengan PTPN VII Pabrik Gula Cinta Manis
seluas 1.529 Ha. Di luar lahan tersebut masih ada sekitar 40 Ha lahan masyarakat
tani yang sudah incracht melalui putusan MA tahun 1996 dan dinyatakan sah
milik petani, namun hingga saat ini belum dieksekusi.
Hal tersebut mendasari SPI, Lingkar Studi untuk Aksi Demokrasi Indonesia
(LS-ADI), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Palembang, bersama elemen
masyarakat lainnya mengadakan pertemuan di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan
Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta (8/12) untuk membicarakan masalah
penembakan yang dilakukan aparat Brimob setempat kepada petani Ogan Ilir
Sumatra Selatan. Pada pertemuan tersebut mereka mendesak evaluasi nasional
terhadap PTPN dan segera menyelidiki pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)
berat yang melibatkan PTPN dan aparat kepolisian setempat.
Menurut Patra M. Zen dari YLBHI mengatakan Tindakan yang dilakukan
aparat kepolisian setempat melanggar Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 1 Tahun
2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian. Perkap sudah
diundangkan dalam Lembaran Negara dan disahkan oleh Menteri Hukum dan per
Undang-Undangan (Menkumdang). Seharusnya dengan dikeluarkannya Perkap
tersebut pihak kepolisian melaksanakan tugasnya berhati-hati dalam bertindak
menggunakan kekuatannya. Tidak menggunakan senjatanya untuk menembaki
petani yang mempertahankan hak atas tanah mereka, ungkap Patra.
Lebih lanjut Ety Gustina dari LBH Palembang memberikan informasi
pendampingan kasus yang mereka lakukan, antara lain, tim advokasi petani
melakukan protes keras kepada Polda Sumsel yang membuat Berita Acara Pidana
(BAP) secara paksa terhadap korban yang masih dirawat di RS. MH Palembang
dan atas desakan tersebut akhirnya BAP dihentikan. Selain hal tersebut tim
advokasi menuntut peluru yang dikeluarkan dari tubuh korban harus dilakukan
pemeriksaan secara objektif dan transparansi.
Untuk membantu petani korban penembakan aparat kepolisian mengadukan
masalahnya ke DPR, Mabes Polri, Kompolnas, serta Komnas HAM, sore ini,
Rabu (9/12). Achmad Yakub, Ketua tim investgasi dan advokasi SPI kasus
penembakan petani di Ogan Ilir Sumsel bersama rekan-rekan dari LS-ADI
menemui 20 petani korban penembakan di YLBHI, Jakarta.
Achmad Yakub mendesak kepada Presiden Republik Indonesia agar
mengevaluasi secara menyeluruh sengketa lahan PTPN dengan masyarakat sekitar
perkebunan. Selain itu mendesak Kapolri mendesak Kapolri segera
memerintahkan bawahannya untuk memproses hukum pihak perusahaan dan
Satgas PTPN VII untuk mempertanggungjawabkan tindakan pembongkaran dan
kekerasan terhadap petani dan Kapolri segera memberikan ganti kerugian
termasuk biaya pengobatan kepada korban dan keluarga korban. Serta meminta
Komnas HAM secara jernih melakukan penyelidikan dugaan pelanggaran HAM
berat yaitu kejahatan kemanusiaan berkaitan dengan peristiwa kekerasan yang
melibatkan PTPN dan aparat kepolisian di seluruh Indonesia.
BAB III
PENUTUP

1. Argumentasi advokasi mencakup kredibilitas, layal, relevan, penting dan


mendesak serta prioritas tinggi.
2. Metode argumentasi advokasi mencakup Genus dan definisi Sebab-akibat,
Sirkumtansi atau keadaan, Perbandingan, Pertentangan Kesaksian atau
otoritas
3. Argumentasi dengan metode sebab akibat adalah suatu proses berfikir
yang menyatakan bahwa suatu sebab yang hebat akan melahirkan sebuah
akibat yang dahsyat
4. Sirkumstansi atau keadaan tergolong dalam situasi relasi kausal. Tetapi
sejauh tidak alternatif lain, maka keadaan itulah dijadikan suatu argumen.

DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah. 2005. Pokoknya Menulis (Cara Baru Menulis Dengan Metode
Kolaborasi). Bandung: Kiblat
Gorys Keraf. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia
PustakaUtama.
Kerap, Guys. 1982. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia
Ali, Lukman, ed. 1967.Bahasa dan Kesustraan Indonesia Sebagai Tjermin
Manusia Indonesia Baru. Jakarta: Gunung Agung