Anda di halaman 1dari 4

Daendles, Raffles dan Kolonialisme

Oleh Peter Kasenda

Dalam tulisan Nasionalisme, Islamisme dam Marxisme (1926/1927) di


Indonesia Muda, Soekarno menegaskan yang pertama-tama perlu disadari adalah
alasan utama para kolonialis Eropa datang dan menjajah bangsa Asia selama
berabad-abad bukan untuk menjalankan kewajiban luhur tertentu, tapi karena alasan
ekonomi. Dalam pidato pembelaan Indonesia Menggugat, Soekarno menegaskan
bahwa kolonialisme menyebar ke seluruh muka bumi yang mungkin membawa
pengetahuan, perkembangan dan peradaban kepada bangsa-bangsa yang
tertinggal. Tetapi bukan itu tujuan dari kolonialisme. Tujuan dasarnya adalah
keuntungan. Tahun 1800, VOC dibubarkan dan klaim wilayah di Nusantara
diserahkan kepada pemerintah Belanda yang secara bertahap mampu
menganeksasi wilayah jajahannya selama hampir 200 tahun, tapi gagal
mendominasi seluruh kerajaan yang ada di Nusantara ini. Di saat yang sama, Raja
Belanda melarikan diri ke Inggris untuk menghindari pasukan Napoleon tahun 1795.
Tahun 1808, pemerintahan Napoleon di Belanda mengirim HW Daendles menjadi
Gubernur Jenderal di Jawa (1808 1811). Tindakan ini mengawali intensifikasi
bangsa Eropa yang berujung pada kekuasaan kolonial yang sebenarnya. Sebelum
kedatangan Daendles, para penguasa Jawa di Surakarta dan Yogyakarta
menganggap VOC di Batavia sebagai Sekutu. Tetapi Daendles menyatakan bahwa
monarki-monarki Jawa ini akan diperlakukan sebagai vasal kekuatan kolonial Eropa.

Daendles adalah pewaris intelektual Revolusi Perancis yang menentang


tatanan feodal ancien regime. Menurutnya, para penguasa Surakarta dan
Yogyakarta adalah monarki feodal penindas yang kekuasaannya harus dikekang.
Para aristokrat Jawa senior lainnya bupati harus berperan sebagai mesin dalam
rezim birokrasi yang diperintah Eropa, bukan menjadi penguasa feodal terhadap
rakyatnya. Ini adalah serangan radikal terhadap harga diri monarki feodal Jawa yang
merasa dirinya adalah penguasa kraton yang independen dan bermartabat. Konflik
ini menyulut perlawanan terhadap rezim Eropa tahun 1810 yang dipimpin para
bupati senior di wilayah kraton. Pemberontakan berhasil dipadamkan, Daendles pun

1
bergerak menuju Yogyakarta untuk menghukum Sultan Hamengkubuwono II yang
dianggap bertanggung jawab di balik peristiwa ini. Sultan Hamengkubuwono II
dipaksa turun tahta dan digantikan dengan putranya Sultan Hamengkubuwono III
(1810 1811, 1812 1814).

Peperangan di negara-negara Eropa juga melebar ke Jawa. Bulan Agustus


1811, Inggris berhasil menguasai Pulau Jawa. Dalam kemelut yang meliputi
pengambilalihan kekuasaan oleh Inggris, Sultan Hamengkubuwono II mengambil
alih tahta dari puteranya dan memerintahkan pembunuhan terhadap patih yang telah
bekerja sama dengan Belanda. Raja Yogyakarta berharap lebih pada Inggris
daripada Daendles. Tetapi raja Yogyakarta ini salah perhitungan. Orang yang
diangkat sebagai Letnan Gubernur tidak ada jabatan Gubernur Jenderal di bawah
pemerintahan Inggris adalah Thomas Stamford Raffles. Meskipun keras terhadap
Perancis, Raffles juga anak ideologis dari Revolusi Perancis. Seperti Daendles,
Raffles juga ingin mengakhiri ancien regime monarki feodal seperti Yogyakarta.
Karena pemerintahan Inggris jauh lebih kuat secara militer daripada pemerintahan
Belanda atau pemerintahan Napoleon, para penguasa lokal merasa jauh lebih
terancam daripada sebelumnya. Tahun 1812, Inggris menganeksasi Yogyakarta
dengan menyerang dan menjarah kraton serta menurunkan rajanya dari tampuk
kekuasaan. Yogyakarta menjadi satu-satunya kraton Jawa yang berhasil jatuh ke
tangan pasukan Eropa. Ini merupakan penghinaan luar biasa bagi jajaran aristokrat
Jawa. Kraton dijarah, isi perpustakaan dan arsipnya dicuri dan uang dalam jumlah
besar disita. Sultan Hemengkubuwono II kembali diturunkan dari tahta dan
diasingkan ke koloni Inggris di Penang. Puteranya kembali menggantikannya
bertahta sebagai Sultan Hamengkubuwono III.

Ketegangan pun mencuat ketika Inggris semakin intensif mencampuri


kehidupan orang Jawa, bahkan lebih parah daripada yang pernah dilakukan
Belanda. Seperti Daendles, Raffles menganeksasi wilayah Yogyakarta yang sangat
luas. Di daerah-daerah yang dikontrol secara langsung oleh rezim kolonial, pajak
dipungut dengan cara yang memberatkan masyarakat lokal. Raffles juga
memperkenalkan pajak tanah yang didasarkan pada asumi rezim kolonial Eropa
berhak atas tanah dan pajaknya secara keseluruhan dari siapa pun yang
menggunakannya. Semua ini mengarah para revolusi kolonial radikal yang dari

2
sudut pandang Batavia bertujuan menyelamatkan orang Jawa dari bangsawan lokal.
Tahun 1814 1815, Susuhunan Pakubuwono IV merencanakan pemberontakan
dengan bekerja sama dengan para prajurit Sepoy India yang dibawa Inggris ke
Jawa. Tetapi rencana ini bocor, para pemimpin pemberontakan Sepoy dieksekusi
atau dipenjara. Nasib Raja Surakarta ini lebih beruntung tidak diturunkan dari
tahtanya.

Dalam penulisan sejarah penjajahan, Raffles tercantum sebagai seorang


pembaharu yang hebat dengan menunjukkan perhatiannya terhadap kesejahteraan
masyarakat lokal sebagai tanggung jawab pemerintah. Tindakannya memasukkan
sistem pajak tanah meletakkan dasar bagi pembangunan perekonomian selanjutnya.
Perhatiannya pada desa sebagai unit administrasi penjajahan yang utama dan
melanjutkan prinsip Daendles untuk memperlakukan para pejabat Jawa sebagai
bagian dari mesin birokrasi pemerintah. Tetapi kesejahteraan rakyat yang menjadi
perhatian utama pemerintah kolonial hanya sekedar teori di zaman Raffles dan
jarang sekali dilaksanakan sampai akhir abad XIX. Daendles dan Raffles merupakan
tokoh penting dalam sejarah Nusantara sebagai pencetus revolusi penjajahan yang
menuntut pelaksanaan kedaulatan dan kekuasaan administrasi di seluruh Jawa.
Tahun 1816, Jawa dan pos-pos Nusantara lainnya dikembalikan kepada Belanda
sebagai bagian dari penyusunan kembali secara menyeluruh urusan dengan Eropa
pasca perang Napoleon. Untuk membangun reputasinya, Raffles bekerja keras
seumur hidupnya dan lewat tulisan-tulisannya menghasilkan legenda historis
mengenai administrasinya di Jawa dan keberhasilan terbesarnya mendirikan
Singapura. Raffles dinilai lebih berdasarkan kata-katanya daripada perbuatannya.

Dekade terakhir abad XVIII, sentimen antikolonial yang kuat mendapat


tempat di antara para intelektual Eropa Barat. Ekspansi Eropa di negeri-negeri jauh
telah ditolak baik berdasarkan prinsip kemanusiaan maupun ekonomi. Penilaian
Raffles atas kebijakan-kebijakan para pendahulunya orang Belanda dan catatannya
atas perilaku serakah bangsa Eropa sejalan dengan kecaman pemikiran progresif
yang berkembang di Inggris dan Perancis. Sebagai administrator, Raffles terbukti
gagal. Tetapi kekuasaan Inggris dalam sejarah Jawa telah membersihkan sebagian
besar debu yang sudah lama melekat sejak zaman VOC. Zaman berikutnya lebih
mengenal Raffles sebagai penulis History of Java daripada sebagai Letnan

3
Gubernur yang memperkenalkan sistem sewa tanah. Tidak ada kenangan populer
mengenai masa pemerintahan peralihan Inggris di Jawa abad XX. Masyarakat yang
berwisata ke Candi Borobudur bisa jadi hanya mengingat Raffles yang menemukan
obyek wisata monumental itu. Tetapi tidak mengetahui apa yang dilakukan Raffles di
Jawa. Ada kepedihan yang mendalam ketika saya membaca ulang kolonialisme
Inggris di Jawa.

Peter Kasenda Dosen Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Bibliografi

Hannigan, Tim. 2015. Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa. Jakarta: KPG
(Kepustakaan Populer Gramedia ).

Ricklefs, MC. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.

___________, Bruce Lackhart, Albert Lau, Portia Reyes dan Maitu Aung-Thwin.
2013. Sejarah Asia Tenggara. Dari Masa Prasejarah sampai Kontemporer.
Jakarta: Komunitas Bambu.

Rocher, Jean dan Iwan Santosa. 2013. Sejarah Kecil Indonesia Prancis 1800
1900. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Vlekke, Bernard HM. 2008. Nusantara. Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG


(Kepustakaan Populer Gramedia).