Anda di halaman 1dari 12

Panduan Membuat Diagram Pareto di Langkah 1

Diagram Pareto merupakan salah satu alat pengontrol kualitas yang melakukan pengurutan proporsi maslah dari
yang terbesar sampai yang terkecil

Nama Pareto berasal dari nama Vilfredo Pareto ( 1848-1923) seorang sosiolog dan ekonom Italia yang
mengamati dimana 80% kepemilikan tanah berada pada 20% populasi.

Diagram Pareto menggunakan konsep 80-20 (80/20 Rule) yang mengasumsikan bahwa pada umumnya 80%
permasalahan yang ada disebabkan oleh 20% penyebab.

Diagram ini membantu kita untuk memfokuskan usaha kepada 20% penyebab tersebut dari pada mengerjakan
80% penyebab lainnya yang memiliki kontribusi kecil terhaap permasalahan.

Kegunaan Diagram Pareto :

1. Mengidentifikasi secara grafis


2. Mengurutkan suatu permasalahan berdasarkan kepentingan dan frekwensinya
3. Memprioritaskan penyelesaian masalah hingga menjadi efektif dan efisien
4. Menganalisa masalah atau penyebab masalah dari berbagai kelompok data yang berbeda
5. Menganalisa kondisi sebelum dan setelah dilakukan penanganan masalah

Pembuatan Diagram Pareto :

1. Tentukan masalahnya
2. Tentukan data yang akan diambil
3. Tentukan cara pengambilan data
4. Ambil data
5. Urutkan dari besar ke kecil dan jumlahkan komulatif
6. Bikin diagram Pareto

PANDUAN MEMBUAT DIAGRAM DENGAN 2 AXIS PADA MICROSOFT OFFICE 2007


1. Buka program Microsoft Office Excel 2007.
2. Buatlah tabel,diurutkan dari masalah terbesar paling atas lalu masalah yang lebih kecil di
bawahnya.
3. Setelah tabel jadi,maka klik Insert lalu klik Column chart dan pilih 2D Column lalu klik Cluster
Column.

4. Arahkan cursor pada chart area lalu klik kanan pilih Select data dan setelah muncul Select data source lalu
Klik Chart data range kemudian tekan key Ctrl dan blok value Masalah,Variance dan % Komulatif pada
tabel
lalu klik OK.

5. Setelah chart muncul maka klik kanan kolom/batang Series 2 dan pilih Change series chart type pada Chart
type pilih
Line with markers lalu klik OK.
6. Klik Line Series 2 kemudian klik Layout kemudian klik Format Selection setelah muncul Select data
series,pilih
Series option dan klik Secondary axis lalu klik Close

7. Setelah diagram dengan 2 axis muncul maka tinggal kita edit vertical (value) axis dan secondary vertical
(value) axis
dengan mengklik kanan vertical (value) axis lalu pilih Format axis lalu edit valuenya pada Axis
Option kemudian
klik Close,begitu juga pada secondary vertical (value) axis.
Pengertian Diagram Pareto dan Cara Membuatnya
September 29, 2016 Budi Kho Manajemen Kualitas 0

Pengertian Diagram Pareto dan Cara Membuatnya Diagram Pareto


merupakan salah satu tools (alat) dari QC 7 Tools yang sering digunakan
dalam hal pengendalian Mutu. Pada dasarnya, Diagram Pareto adalah
grafik batang yang menunjukkan masalah berdasarkan urutan banyaknya
jumlah kejadian. Urutannya mulai dari jumlah permasalahan yang paling
banyak terjadi sampai yang paling sedikit terjadi. Dalam Grafik,
ditunjukkan dengan batang grafik tertinggi (paling kiri) hingga grafik
terendah (paling kanan).
Dalam aplikasinya, Diagram Pareto atau sering disebut juga dengan
Pareto Chart ini sangat bermanfaat dalam menentukan dan
mengidentifikasikan prioritas permasalahan yang akan diselesaikan.
Permasalahan yang paling banyak dan sering terjadi adalah prioritas
utama kita untuk melakukan tindakan.

Sebelum membuat sebuah Diagram Pareto, data yang berhubungan


dengan masalah atau kejadian yang ingin kita analisis harus dikumpulkan
terlebih dahulu. Pada umumnya, alat yang sering digunakan untuk
pengumpulan data adalah dengan menggunakan Check Sheet atau
Lembaran Periksa.

Cara Membuat Diagram Pareto


Langkah-langkah dalam membuat Diagram Pareto adalah sebagai
berikut :

1. Mengidentifikasikan permasalahan yang akan diteliti dan penyebab-


penyebab kejadian.
(Contoh Permasalahan : Tingginya tingkat Cacat di Produksi Perakitan
PCB, Penyebabnya : Solder Short, No Solder, Missing, Solder Ball dan
Solder Crack)
2. Menentukan Periode waktu yang diperlukan untuk analisis (misalnya per
Bulanan, Mingguan atau per harian)
3. Membuat catatan frekuensi kejadian pada lembaran periksa (check sheet)
4. Membuat daftar masalah sesuai dengan urutan frekuensi kejadian (dari
tertinggi sampai terendah).
5. Menghitung Frekuensi kumulatif dan Persentase kumulatif
6. Gambarkan Frekuensi dalam bentuk grafik batang
7. Gambarkan kumulatif Persentase dalam bentuk grafik garis
8. Intepretasikan (terjemahkan) Pareto Chart tersebut
9. Mengambil tindakan berdasarkan prioritas kejadian / permasalahan
10.Ulangi lagi langkah-langkah diatas meng-implementasikan tindakan
improvement (tindakan peningkatan) untuk melakukan perbandingan
hasil.

Diagram Pareto juga merupakan salah satu alat yang dipakai


oleh Metodologi Six Sigma dalam tahap Definisi (Definition Phase).

Pengertian Check Sheet (Lembar Periksa) dan Cara Membuatnya


August 30, 2016 Budi Kho Manajemen Kualitas 0
Pengertian Check Sheet (Lembar Periksa) dan Cara Membuatnya Check
Sheet merupakan salah satu tools di QC 7 tools (7 alat pengendalian kualitas) yang
paling sederhana dan sering digunakan sebagai tools pertama dalam pengumpulan
dalam sebelum digunakan untuk disajikan dalam bentuk grafik. Dengan
menggunakan Check Sheet atau Lembar Periksa yang terstruktur dan standarisasi
dengan baik maka kita dapat meminimalisasi perbedaan cara pengambilan data
berdasarkan masing-masing orang.
Check Sheet merupakan tools yang sering dipakai dalam Industri Manufakturing
untuk pengambilan data di proses produksi yang kemudian diolah menjadi informasi
dan hasil yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan.

Kapan kita akan gunakan Check Sheet ?


1. Saat kita ingin meneliti (observasi) suatu proses secara berulang-ulang pada
orang yang sama atau tempat yang sama.
2. Saat kita ingin mengumpulkan data pada Proses tertentu di Produksi.
3. Saat kita ingin mengetahui seberapa sering (frekwensi) suatu kejadian
(events), permasalahan (problem), cacat (defect), penyebab permasalahan
(causes), lokasi cacat (defect location) terjadi di proses produksi.
Prosedur Check Sheet :
1. Menentukan kejadian atau permasalahan apa yang akan diteliti.
2. Menentukan kapan data tersebut akan diambil dan berapa lama
pengambilannya.
3. Merancangkan formatnya
4. Mencoba atau menguji Check Sheet tersebut dalam bentuk draft (naskah
konsep) untuk memastikan check sheet tersebut mudah dipakai dan
mencakup semua data yang kita butuhkan.
5. Lakukan perubahan jika diperlukan.
6. Isikan data setiap kali kejadian atau permasalahan yang kita teliti tersebut
terjadi.
Elemen dalam Check Sheet :
1. Judul Check Sheet atau Gambaran (description) mengenai proses yang ingin
diteliti.
2. Label atau Item permasalahan yang akan diambil.
3. Daerah untuk menuliskan data.
4. Keterangan data (jika diperlukan).
5. Informasi lainnya di Check Sheet seperti Bulan dan Tahun, nama proses, nama
perusahaan atau departemen (tambahkan informasi lain jika diperlukan).
Hal yang perlu diperhatikan :
1. Formulir atau format harus dibuat sesederhana mungkin dan mudah
dimengerti.
2. Hanya menuliskan informasi yang kita butuhkan.
3. Test atau coba dulu Check Sheet tersebut sebelum kita pakai dalam skala
besar, lakukan perbaikkan jika diperlukan
4. Menyediakan ruang ekstra untuk catatan penting yang mungkin tidak di
antisipasi saat kita membuat Check Sheet
5. Pastikan label dan data dapat dimengerti oleh orang yang
mempergunakannya
6. Check Sheet merupakan penyajian data yang ter-organisasi dan masih
berbentuk data mentah (Raw Data). Masih memerlukan tools lain agar lebih
baik dalam menterjemahkan hasil yang kita perlukan.
Contoh Check Sheet (Lembar Periksa)
Berikut ini adalah contoh Check Sheet dalam meneliti data cacat dalam suatu proses
produksi:
Membuat Bagan Pareto dengan
Microsoft Excel
By Eris Kusnadi

Beberapa teman di tempat kerja pernah datang ke saya untuk menanyakan cara membuat bagan
Pareto (Pareto chart). Kebetulan di tempat kerja saya, software yang tersedia dan mungkinkan
untuk membuat bagan tersebut hanya Microsoft Excel. Secara visual, bagan Pareto berisikan
diagram batang (bars graph) dan diagram garis (line graph); diagram batang memperlihatkan
klasifikasi dan nilai data, sedangkan diagram garis mewakili total data kumulatif. Klasifikasi data
diurutkan dari kiri ke kanan menurut urutan ranking tertinggi hingga terendah. Ranking
tertinggi merupakan masalah prioritas atau masalah yang terpenting untuk segera diselesaikan,
sedangkan ranking terendah merupakan masalah yang tidak harus segera diselesaikan.
Prinsipnya mengidentifikasi 20% penyebab masalah vital untuk mewujudkan
80% improvement secara keseluruhan.

1 Buatlah daftar penyebab masalah dalam satu kolom dan di kolom


. disampingnya diisi dengan frekuensi kejadian, berikut dengan kolom
frekuensi kejadian dalam bentuk persentas, untuk setiap penyebab masalah.
Kemudian, urutkan data frekuensi kejadian dari nilai terbesar hingga nilai
terkecil, atau urutan data menurun (descending order).

2 Selanjutnya, buat lagi kolom disampingnya untuk menghitung nilai kumulatif


. dari data frekuensi kejadian yang bersatuan persen, perhatikan Tabel 1 di
bawah ini.
Tabel 1
Data Defect Proses Produksi Sepatu

Cumulative freq. (in


Causes Frequency Frequency (in %)
%)

A. Broken stitching 42 23 23

B. Wrinkle 30 17 40

C. Stitch per inch 24 13 53

D. Others 22 12 65

E. Off center 18 10 75

F. Inconsistent margin 15 8 83

G. Dirty 12 7 90

H. Long thread 10 6 96

I. Padding shape 8 4 100

TOTAL 181 100

3 Terakhir, buatlah diagram batang yang mem-plot-kan persentase frekuensi


. sepanjang sumbu Y dan penyebab masalah sepanjang sumbu X. Ubah
frekuensi kumulatif menjadi diagram garis dan gunakan Secondary Axis (klik
kanan pada diagram garis > Format Data Series > Series Options >
pilih Secondary Axis). Bagan yang dihasilkan akan memperlihatkan secara
jelas apa kunci penyebab masalah yang mengakibatkan 80% permasalahan,
lihat Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Pareto Chart

Cara Membuat Diagram Pareto


June 10, 2014 by Khedi 0 460

Diagram pareto berfungsi untuk mengetahui trend suatu data dan prioritas
terhadap suatu data yang paling dominan.Pada tutorial kali ini saya
menggunakan Microsoft Office Excel 2010 .

Langkah dibawah ini adalah langkah


yang biasa saya lakukan. Tidak ada paksaan untuk mengikuti cara tersebut
hahah. Artinya jika memang ada cara lain yang lebih baik anggap saja ini
sebagai tambahan saja. Langsung simak cara membuat diagram pareto dibawah
ini;

1. Buka Microsoft Office excel yang kamu miliki. Secara garis besar cara ini bisa
dilakukan di office seri manapun bisa office 2003, 2007. atau 2013.

2. Buatlah tabelnya terlebih dahulu ,karena grafik adalah gambaran dari sebuah
tabel. Dibawa ini adalah contoh tabel yang menyebutkan sebuah daftar defek
suatu produksi dengan presentase dan comulatif presentase. Presentase dihitung
dari jumlah setiap defek dibagi total defek dikali 100 dan comulatif defek adalah
total dari presentase defek sebelumnya. Rumus yang digunakan pada tabel
contoh adalah;

Total defek (=sum(D5:D9)) ,

Presentase (=(D5/$D$10)*100) ,

total presentase (=SUM(E5:E9)) ,

com.presentase (=F5+E6) dimulai dari data baris ke-2.

Rumus diatas disesuaikan dengan posisi kamu membuat tabel, jadi nama dari
kolom bisa berbeda
3. Blok pada ketiga kolom yaitu defek, jumlah dan com.presentase tidak

sampai total

4. Klik insert dan pilih tab grafik clustered 2-D

5. Setelah muncul grafik , klik pada grafik warna merah dan pilih Format Data
Series dan rubah Primary Axis menjadi Secondary Axis.
6. Klik kanan pada grafik warna merah, pilih Change Series Chart Type dan pilih

grafik Line With Markers.

Lanjut aktifkan pada total defek (angka 45) Klik kanan dan pilih Format Axis.
Pada Axis Option, set nilai maximum dengan nilai Total defect dan Minimum :
0.Aktifkan presentase (angka 120) Klik kanan pada angka 120, pilih Format
Axis. Di Axis Option, set nilai maximum : 100,dan minimum : 0. Jika berhasil,
maka secara default hasilnya akan seperti gambar dibawah.

Selesai , kamu bisa memodifikasi sesuai

kebutuhan contoh :