Anda di halaman 1dari 15

Catatan Blisa

Sistem Adhesif dan Bonding

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem adhesif dalam kedokteran gigi telah dipakai selama 30 tahun terakhir. Perkembangan
bahan adhesif telah menyebabkan restorasi resin komposit lebih dapat diandalkan dan bertahan
lebih lama. Sistem adhesif yang lebih baru menghasilkan kekuatan perlekatan yang tinggi pada
dentin yang lembab dan kering, dengan pembuangan smear layer secara keseluruhan ataupun
sebagian. Akan tetapi, kekuatan perlekatan dapat bervariasi tergantung pada kelembaban intrinsik
dentin, daerah yang dietsa, dan bahan adhesifnya. Resin sintetik berkembang sebagai bahan
tambala atau restorasi karena sifatnya yang tidak mudah larut, tidak mahal dan relative mudah
untuk dimanipulasi. Karakteristik tertentu seperti warnanya yang sama dengan warna gigi, tidak
larut dalam cairan mulut, polimerisasi yang tinggi serta tingginya koefisien ekspansi termal yang
tinggi.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sistem Adesif
Kata adhesif berasal dari bahasa latin adhaerere yang berarti melekatkan. Secara terminologi,
adhesi adalah suatu proses interaksi zat padat maupun cair dari suatu bahan
(adhesive atauadherent) dengan bahan yang lain (adherend) pada sebuah interface. Dental
adhesion biasanya disebut juga dengan dental bonding. Kebanyakan keadaan yang berhubungan
dengan dental adhesion akan melibatkan adhesive joint. Adhesive joint adalah hasil interaksi
lapisan bahanintermediet (adhesive atau adherent) dengan dua permukaan (adherend)
menghasilkan dua buahadhesive interface. Enamel bonding agent yang melekat di antara enamel
yang dietsa dan bahan resin komposit, merupakan dental adhesive joint yang klasik.1

B. Sifat Interphase Bonding


Kekuatan perlekatan yang maksimal didapat dengna mempersiapkan permukaan interface dengan
baik. Adapun syarat interface adalah pertama memiliki aderen yang baik (Good Adherend).Aderen
yang baik memiliki energy permukaan yang tinggi atau besar. Hal ini didapat dari bersihnya
permukaan yang akan dilekati dari debris ataupun kontaminasi. Yang kedua haruslah memiliki
pembasahan yang maksimal (Maximal Wetting). Pembasahan yang maksimal didapat jika bahan
adhesive (bonding) memiliki sudut kontak yang rendah dan menyebar rata di permukaan aderen.
Seterusnya perlekatan mesti membutuhkan adaptasi yang intim (Intimate Adaptation). Adaptasi
aderen dengan bahan adesif yang intim terjadi tanpa adanya intervensi dari udara yang terjebak
(porus) ataupun kontaminasi yang lainnya. Perlekatan (Bonding ) juga penting untuk perlekatan
yang maksimal baik secara mekanis, fisik dan kemis antara substrat. Dan yang terakhir ialah
memiliki curing yang maksimal (Maximal Curing). Jika polimerisasi bahan adesif maksimal, maka
ikatan yang terjadi juga akan maksimal.3
C. Sifat Wettability Bahan Bonding
Jelaskan sifat wettability bahan bonding yang penting untuk keberhasilan bonding dinilai dari Sudut
Kontak atau dikenali sebagai Persamaan Young. Persamaan Young adalah dasar dari uraian
kuantitatif fenomena wetting. Jika satu tetes liquid ditempatkan di permukaan solid, akan ada 2
kemungkinan (1) liquid spreads diatas permukaan secara sempurna (sudut kontak Q = 0 o) atau (2)
terbentuk sudut kontak tertentu, pada kasus ini terbentuk garis kontak 3 fase disebut juga wetting
line. Pada garis kontak ini, ada 3 fase yang saling berkontak, solid, liquid dan uap. Persamaan
Young menghubungkan sudut kontak dengan tegangan permukaan g S, gL dan gSL. Jika tegangan
interface permukaan solid lebih tinggi dari interface solid-liquid (g S > gSL) sisi kanan persamaan
Young positif. Sehingga cos Q haruslah positif dan sudut kontak kecil dari 90 o, liquid membasahi
solid secara parsial. Jika interface solid-liquid energetically less favorable dibanding permukaan
solid ((gS < gSL) sudut kontak akan melebihi 90o karena cos Q akan bernilai negatif.4
Line Tension juga mempengaruhi sifat wettability bahan bonding. Spreading biasanya disertai
perubahan panjang dari wetting line. Misalnya: jika satu tetes dengan area kontak bundar spread,
panjang garis kontak 3 fase meningkat sebesar 2pa da. Seperti halnya pembentukan luas
permukaan baru, pembentukan wetting line baru juga membutuhkan energi. Energi per unit
panjang disebut line tension k.

D. Ikatan bonding yang terbentuk


Ikatan yang terbentuk antara struktur gigi dengan bahan bonding adalah ikatan mikromekanikal.
Ikatan yang terbentuk antara bahan bonding dengan resin komposit adalah ikatan kimia.

E. BondingEnamel
Bahan bonding enamel yang berkomposit resin lebih kental. Kekentalan bahan ini berasal dari
bahan matriks resin yang dilarutkan dalam monomer lain untuk menurunkan kekentalan dan
meningkatkan kemungkinan membasahi. Bahan ini tidak mempunyai potensi perlekatan tetapi
cenderung meningkatkan ikatan mekanis dengan membentuk resin tag yang optimum pada
enamel. 2

F. Bonding Dentin
Perlekatan yang kuat bahan tumpatan pada dentin sulit didapatkan bila dibandingkan ke
permukaan enamel meskipun telah dilakukan pengetsaan asam. Hal ini disebabkan adanya
komponen tertentu yang dimiliki dentin seperti struktur tubulus dentin, kelembaban intrinsik dentin
dan bersifat lebih hidrofilik dibanding enamel. Beberapa faktor yang memberikan pengaruh pada
perlekatan dentin antara lain komposisi dari dentin (dentin mengandung air lebih banyak 12%,
kolagen 18% dan hidroksiapatit 70%), adanya cairan di dalam tubulus dentin,
prosesusodontoblast yang terdapat pada tubulus dentin, jumlah dan lokasi dari tubulus dentin,
serta keberadaan smear layer. Smear layer tersebut dapat menutup tubulus
dentin dan berperan sebagai barrier difusi sehingga mengurangi permeabilitas dentin.
Idealnya, adesif dentin harus bersifat hidrofilik untuk menggeser cairan dentin dan juga
membasahi permukaan, memungkinkannya berpenetrasi menembusi pori di dalam matriks resin di
dalam dentin dan akhirnya bereaksi dengan komponen organik atau anorganik. Karena kebanyakan
matriks resin komposit bersifat hidrofobik, bahan bonding harus mengandung lebih bahan
hidrofilik. Bagian hidrofilik harus dirancang untuk berinteraksi dengan permukaan dentin yang
lembap, sedangkan bagian hidrofobik harus berikatan dengan restorasi resin. 2

G. Sistem Bonding Generasi Ke-V


Awal tahun 1990-an, perkembangan generasi ini berupa pengetsaan untuk mendapatkan lapisan
hybrid pada dentin, bahan yang bersifat hidrofilik untuk enamel dan dentin serta bonding terhadap
struktur gigi yang lembap.

Generasi ke-5 juga dikenal juga dengan sistem bonding total-etch single bottle. Sistem ini masih
memerlukan pengetsaan dengan asam fosfor dan pencucian setelahnya pada tahapan kerjanya.
Kandungan utama etsa adalah asam fosfor. Sementara kandungan utama primer-adesif dapat
berupa PENTA atau methacrylated phosponates. Pelarut dapat berupa aseton, etanol dalam air
ataupun bebas pelarut.

Pada sistem bonding ini juga diperlukan pengontorolan yang adekuat pada pengetsaan struktur
gigi, kebasahan permukaan dan perlekatan resinnnya. Formula yang tersedia dapat berupa light
cured ataupun dual-cured dengan katalis (self-cured). Dapat digunakan pada restorasi langsung. 3

H. Klasifikasi Dental Resin Komposit


Ukuran Partikel

a) Komposit Tradisional

Juga disebut komposit konvesional atau komposit pengisi makro karena ukuran partikel bahan
pengisi yang relative besar. Karena bahan yang digunakan bukanlah bahan bias yang digunakan
lagi, istilah konvesional harus diganti dengan tradisional. Ukuran rata-rata Quartz adalah 8-12 m,
partikel sebesar 50 mungkin juga ada. Banyakya bahan pengisi umumnya 70-80% volume.

b) Komposit Berbahan Pengisi Mikro

Menggunakan partikel Silika koloidal sebagai bahan pengisi anorganik. Partikel individu berukuran
0,04 m jadi partikel lebih kecil 200-300 kali dibandingkan dengan rata-rata partikel Quartz dalam
komposit tradisional.

c) Komposit Berbahan Pengisi Partikel Kecil

Bahan pengisi anorganik ditumbuk lebih kecil dibandingkan dengan yang biasa digunakan dalam
komposit tradisional. Rata-rata ukuran bahan berkisar antara 1-5 m. Distribusi ukuran partikel
yang luas ini memungkinkan tingginya muatan bahan pengisi, dan komposit bahan pengisi partikel
kecil umumnya mengandung bahan pengisi anorganik yang lebih banyak, 80% berat dan 60-65%
volume dibandingkan dengan komposit tradisional. 2

Viskositas

a) Flowable
Resin komposit ini memiliki ukuran filler yang berkisar antara 0.04-1 m dan persentase komposisi
atau muatan fillernya berkurang hingga 44-54%.1 Resin komposit flowable memiliki modulus
elastisitas yang rendah, sehingga dapat digunakan pada bagian servikal. Oleh karena
kandungan filler yang rendah, resin komposit ini menunjukkan tingginya pengerutan selama
polimerisasi, daya tahan
pemakaian yang rendah, dan viskositas yang rendah.2,5,7,8 Kelebihannya yaitu mudah
diadaptasikan, lebih fleksibel, radiopak, dan tersedia dalam warna yang berbeda.5,6 Resin
komposit flowable dengan kandungan filler yang lebih rendah dapat digunakan untuk pit dan
fisursealant atau restorasi anterior yang kecil, sedangkan resin komposit flowable dengan
kandunganfiller yang lebih tinggi dapat digunakan untuk restorasi klas I, II, III, IV, dan V

b) Packagable

Pada akhir tahun 1996 diperkenalkan resin komposit packable atau resin komposit condensable.4
Resin komposit packable memiliki ukuran partikel filler yang tinggi,5,6 berkisar antara 0.7-2 m
dan persentase komposisi atau muatan fillernya berkisar antara 48-65% volume.1
Komposisi filleryang tinggi dapat menyebabkan kekentalan atau viskositas bahan menjadi
meningkat sehingga sulit untuk mengisi celah kavitas yang kecil. Tetapi dengan semakin besarnya
komposisi filler juga menyebabkan bahan ini dapat mengurangi pengerutan selama polimerisasi,
memiliki koefisien thermal yang hampir sama dengan struktur gigi, dan adanya perbaikan sifat fisik
terhadap adaptasi marginal. Resin komposit ini juga diharapkan dapat menunjukkan sifat-sifat fisik
dan mekanis yang baik karena memiliki kandungan filler yang tinggi.4 Kelebihan dari resin
komposit packableyaitu mudah dirapikan, mudah mendapatkan kontak yang bagus, dan mudah
membentuk anatomi oklusal, sedangkan kekurangannya yaitu sulit beradaptasi antara satu lapisan
dengan lapisan lainnya, sulitnya penanganan, dan estetis yang kurang.5,6 Resin komposit ini
diindikasikan untuk restorasi klas I, klas II dengan luas kavitas yang kecil, klas V, dan MOD.2,4,7

I. Bahan dan Alat Finishing dan Pemolesan Resin Komposit


Bahan dan alat finishing

1. Diamond atau green stone


2. Quatrz atau aluminium oxide disk atau rubber wheel
3. Carbide burs
Alat pemolesan

1. Dapat berupa bubuk ataupun pasta yang mengandung perlite


2. Diamond
3. Quartz atau Aluminium Oxide 3

J. Gambaran Radiologi Dental


Untuk memastikan estetik dari restorasi komposit, ketransparanan bahan pengisi harus serupa
dengan struktur gigi. Untuk memastikan translusen yang baik, indeks refraksi bahan pengisi harus
serupa dengan resin. Untuk bis-GMA dan TEGDMA, indeks refraksi adalah sekitar 1,55 sampai 1,46
sementara campuran 2 komponen dengan proporsi yang sama per berat, memberikan indeks
refraksi sekitar 1,5 yang cukup untuk mendapatkan translusensi yang baik.
Radiopak bahan pengisi disebabkan oleh sejumlah kaca dan perselen yang mengandung logam
berat seperti Barium (Ba), Strontium (Sr) dan Zirconium (Zr). Partikel kaca tersebut memiliki indeks
refraksi sebesar 1,5 untuk menyamai resin. Kaca pengisi yang paling sering dipakai adalah kaca
barium. Meskipun bahan pengisi ini memberikan warna radiopak, bahan ini tidak selembam bahan
quartz pada medium berair. Perbedaan komposisi media penyimpanan mempengaruhi mudah
tidaknya tepi bahan tambal terkelupas, sehingga sulit memperkirakan efek klinis dari pemaparan
saliva.2

Iklan

bonding generasi 1 - 7
Kamis, 10 Maret 2016

bonding generasi 1 - 7
1. Generasi ke-1 dari sistem adhesif diperkenalkan oleh Buonocoreet
al. (1956) dengan menggunakan asam gliserofosforik
dimetakrilat(mengandung resin) yang dilekatkan ke dentin yang telah di
etsa dengan asam hidroklorik. Perlekatan ini disebabkan interaksi antara
molekul resin dengan ion kalsium dari hidroksiapatit, tetapi kekuatan
daya lekatnya akan berkurang apabila terkena air.

2. Generasi ke-2 menggunakan ester fosfat yang merupakan derivat metakrilat.


Sistem ini menggunakan interaksi ion antara grup fosfat yang bermuatan negatif
dengan kalsium yang bermuatan positif. Oleh karena dentin tidak di etsa, maka
bahan bonding akan melekat ke smear layer dan bukan permukaan dentin.
Beberapa contoh sistem bonding generasi ke-2 yaitu Bondlite (Kerr
Corporation) dan Prisma Universal Bond (Dentsply).
3. Generasi ke-3 lebih difokuskan pada pembuangan atau modifikasi smear
layer dengan pengetsaan pada permukaan dentin oleh asam fosforik yang
memungkinkan penetrasi bahan adhesif tipe ester fosfat ke tubulus dentin. Akan
tetapi, sistem ini tidak begitu berhasil karena monomer resin tidak berpenetrasi
melewati smear layer. Misalnya XR Bond. Universitas Sumatera Utara.
4. Perlekatan pada dentin yang dapat diandalkan dimulai dari generasi ke- 4.
Yang mengandung 3 unsur utama, yaitu bahan etsa, primer, dan adhesif.
Nakabayshi et al. (1982) mengemukakan bahwa kunci dari perlekatan bahan
adhesif ke dentin adalah terbentuknya lapisan hibrid (hybrid layeratau hybrid
zone). Sistem adhesif total-etch merupakan karakter utamanya dengan
menggunakan asam fosfor selama 15-20 detik. Pengetsaan dentin
(menyingkirkan seluruh smear layer, membuka semua tubulus dentin dan
kolagen terekspos), kemudian diikuti oleh aplikasi primer dan bahan adhesif
yang akan berpenetrasi ke dalam tubulus dentin kemudian berpolimerasi
membentuk resin tag. Beberapa contoh sistem bonding generasi ke-4 yaituAll-
Bond 2 (Bisco), OptiBond FL (Kerr Corporation), dan Scocthbond Multi
Purpose (3M ESPE).
5. Sistem adhesif generasi ke-5 dikembangkan untuk menyederhanakan
langkah prosedur klinis sistem adhesif dan mencegah kolapsnya kolagen pada
dentin yang termineralisasi. Generasi ke-5 ini terdiri dari dua sistem yang
berbeda yaitu One-bottle system merupakan kombinasi dari primer dan resin
adhesif dalam satu botol yang diaplikasikan setelah pengetsaan email dan dentin
secara simultan dengan asam phospor 35-37 % selama 15-20 detik. 16 19
Misalnya Gluma Coomfort Bond, OptiBond Solo, EasyBond, Prime & Bond NT
(Dentsply), Single Bond (3M Dental Product).
6. Sistem adhesif generasi ke-6 adalah Sel-etching primer atau two-step self-
etch adhesive merupakan kombinasi antara etsa dan primer dalam satu botol
diikuti dengan resin adhesif. Kombinasi ini dapat mengurangi waktu kerja,
mengurangi sensitifitas dan untuk mencegah kolapsnya kolagen, Beberapa
contoh bahan adhesif Universitas Sumatera Utara Self-etching primer antara
lain Clearfil Liner Bond 2V, Clearfil Liner Bond II, Unfil Bond (GC Product),
Adper SE Plus (3M ESPE).
7. Sistem adhesif generasi ke-7 merupakan perkembangan dari sistem
adhesif self-etch yang menggabungkan bahan etsa, primer, dan adhesif dalam
satu botol, tanpa adanya tahap-tahap aplikasi ataupun pencampuran bahan
primer dan bahan adhesif, sistem ini dikenal dengan one-step self-etch
system atau single solution. Contohnya Prompt L-Pop (3M Dental Product),
iBond 16 TM, dengan semakin berkembangnya sistem adhesifself-etch Bond
Force (Tokuyama) yang dapat melepaskan flour dan menghasilkan
lapisan hybrid yang dalam, dapat digunakan pada daerah yang lembab dan juga
mengurangi sensitifitas pada gigi.
A. smear layer yang melekat pada permukaan dentin
B. Aplikasi bahan primer (biru) dan akan berpenetrasi kedalam smear layer dan smear plug
C. Aplikasi bahan adhesif

Berdasarkan jumlah tahapan dalam aplikasi klinisnya, sistem


adhesif self-etch dibagi atas dua kategori yaitu:
a. Two-step self-etch adhesive
Merupakan kombinasi bahan etsa dan primer digabung dalam
satu botol, sehingga tediri dari dua tahap yaitu aplikasi self-etch
primer dan aplikasi bahan adhesif. Kombinasi ini dapat mengurangi
waktu kerja, mengurangi sensitifitas dan untuk mencegah kolapsnya
kolagen.

b. One-step self-etch adhesive (all in one)


Semua unsur bahan bonding dikombinasikan dalam satu botol, sehingga
hanya terdiri dari satu tahap aplikasi (single application).

Conversation with Dr. Michael Miller | Previous Article


Next Article | Enhancing Referrals From Specialists

Six principles of adhesion


by Mark A. Latt, DMD, MS
Modern esthetic dentistry has been catalyzed by the so-called bonding
revolution. The ability to use tooth-colored direct and indirect resins and
ceramic-based materials was fully realized as dentin and enamel
adhesives were developed and their clinical performance enhanced. At
their foundation, direct anterior and posterior resin composites,
endodontic posts, resin cores, and laboratory processed resin and ceramic
veneers, inlays, onlays, and crowns all have bonding agents that function
as the bridge between the restorative material or luting cement and tooth
structure.
On the surface, modern adhesive systems seem simple - merely a film to
be painted on the tooth. In reality, they are often sophisticated and
complicated chemical systems that have the steep challenge of
interacting with the diverse molecular structures of dentin and enamel as
well as with the overlying resin materials. As the key foundation for often
large, tooth-colored restorations, careful attention to appropriate use and
good clinical technique is essential for getting the best performance out of
the bonding system and, ultimately, the restoration. Below are six key tips
for getting the most out of modern bonding systems.
1) Know your bonding system
The fundamental mechanism for all modern adhesive systems is the
same. Using acid or acid-resin monomers, mineral is removed from both
enamel and dentin. In the spaces created by the demineralization process,
resin monomers are introduced and polymerized. In both enamel and
dentin, sealing, bonding, and retention is facilitated by micromechanical
retention into the microporosities created during the bonding process.
SPONSORED CONTENT ?

Efficient posterior restorations with selective etching, universal


adhesive, and bulk-fill composite
Presenting a case involving multiple failing side-by-side amalgam
posterior restorations, Michael R. Sesemann, DDS, FAACD, explains how
selective etching, universal adhesive, and bulk-fill composite can be
combined for efficient and predictable posterior quadrant restorations.
Read More...

Brought To You By

nism of modern bonding


Click here to enlarge image

In dentin, the region of the tooth where dentin is partially demineralized


and resin monomers have been infiltrated around the exposed collagen is
called the hybrid layer. The successful creation of this interface, especially
in dentin, is critical for a long-lasting restoration without postoperative
sensitivity.
However, the large number of products and their specific differences (and
often conflicting commercial claims) can make the adhesive landscape
confusing for practitioners. For marketing simplicity, companies have used
the term generations to describe new adhesive systems as they are
developed and commercialized. The implication is that the higher the
generation number, the more advanced - and supposedly better
performing - the adhesive system will be. This, however, is not always the
case. A better and more useful classification system uses the specific
clinical technique to categorize the bonding system so practitioners can
understand the system they use based on the materials and steps
required to get the adhesive system to work as it was intended. This
system is illustrated on page 54.
In this classification system, when phosphoric acid is used to condition
enamel and dentin and then rinsed, these systems are termed etch-and-
rinse. Following this, the three-step systems will place, in separate steps,
a primer and adhesive from separate bottles. Examples of adhesive
systems like this are Scotchbond Multipurpose (3M ESPE), OptiBond FL
(Kerr), and All-Bond (BISCO).
Etch-and-rinse systems that combine the primer and adhesive into one
bottle still have two steps: the acid conditioning and rinsing, and the
application of the adhesive resin. Examples of bonding agents in this
category include Prime & Bond NT and XP Bond (DENTSPLY), Single Bond
(3M ESPE), OptiBond Solo (Kerr), Bond-1 (Pentron Clinical Technologies),
and PermaQuik-1 (Ultradent).

ng systems categorized by their specific techniques.


Click here to enlarge image
Several more recently developed adhesive systems have been called
self-etching because the adhesive system contains acid monomers that
simultaneously demineralize and infiltrate the dentin and enamel. One
reported advantage of these materials is the elimination of the rinsing and
drying step inherent when using phosphoric acid in etch-and-rinse
systems. Some of these systems use separate primer and adhesive, such
as Clearfil SE Bond (J. Morita) and AdheSE (Ivoclar Vivadent), and some
are one-component systems such as Prompt L-Pop (3M ESPE) and Xeno III
(DENTSPLY), in which two liquids are mixed and applied to the tooth. Most
recently, single-component no-mix systems have been introduced, such
as Xeno IV (DENTSPLY), iBond (Heraeus Kulzer), G-Bond (GC America), and
OptiBond All-in-One (Kerr).
2) Follow the product instructions carefully
Even though the fundamental mechanism for bonding is generally the
same regardless of the classification of the adhesive, careful attention to
the specific details of the product instructions is critical for clinical
success. The critical steps needed for each system are different
depending on the category of the adhesive, the number of application
steps, the solvent systems, and the specific chemistry of the material to
be used.
Etching time is critical with total-etch systems. When enamel and dentin
are conditioned, enamel requires enough demineralization for micro-
mechanical retention, and dentin should not be conditioned too long (may
lead to voids under the adhesive system). For most systems, the etch time
is 15 seconds. In addition, most etch-and-rinse adhesives contain solvents
that must be volatilized off the tooth surface before the adhesive can be
cured properly.
Self-etching systems do not require rinsing, but they may have critical
steps to follow. Generally, enamel bond strength values are lower
compared to etch-and-rinse systems. These systems bond better to
freshly cut enamel, and bonding to uncut enamel is contraindicated for
many of these materials. Some of these materials are more effective if
they are applied to the surface with agitation or scrubbing. Also it is
critical that self-etching systems be dried after the application step to
remove the solvent and any remaining water in the adhesive film.
3) Create clinical environmental control
Creating the optimal environment for adhesive dentistry is absolutely
essential for success regardless of the clinical procedure. Managing the
tooth surface is even more important in bonding than in making
impressions for crown and bridge restorations. Modern agents can create
bonds that lead to long-lasting restorations only to surfaces free of debris,
saliva, and blood.
While rubber dams are frequently used for assuring the proper isolation of
a tooth to be restored, they cannot be used in some situations. The
clinician should think in terms of environmental control before bonding,
and use strategies to maintain the tooth surface so that contamination
does not occur. This is especially important in the gingival box area of
Class II restorations where inadequate bonding can lead to early
restoration failure.
4) Dont mix components from one system to another
Manufacturers expend tremendous effort and significant resources to
receive federal approval on the safety and efficacy of dental adhesives.
Mixing the primer of one system with the adhesive of another, or using a
phosphoric acid conditioning step with rinsing followed by a self-etching
system, are contraindicated. Dental adhesives are classified as medical
devices by the Food and Drug Administration, and such mixing and
matching is considered off label usage. This could lead to failure of the
adhesive to work properly, as well as early restoration failure or even loss
of the tooth.
5) Dont mix adhesives from one manufacturer with dual-
cured resins from another
There is general compatibility with all light-cured dental bonding agents
and light-cured restorative materials regardless of the brand. However,
when using a self-cured or dual-cured material, it is essential that the
adhesive system designed for that material is used to avoid serious
product failures. Self- and dual-cured resin cements, liners, and core
materials contain acid-base chemistries that are sensitive to the chemistry
of the adhesive systems. Acid adhesives can actually prevent the
chemical-curing chemistry from allowing the cement or core material to
polymerize. Some adhesive systems mix a so-called dual activator with
the bonding agent to assure compatibility with the adhesive system.
Some cements have specially designed self-etching adhesives that can
only be reliably used with that cement system. The only sure way to
prevent interference from the adhesive system when using a resin cement
is to carefully follow the manufacturers instructions.
Care must also be exercised when using the recently introduced self-
adhesive luting cements. While these materials are generally very good
for cementing metal-supported or high-strength ceramic restorations, they
exhibit significantly lower adhesion values, especially to enamel. The
temptation to employ bonding systems with these systems should be
resisted because while higher adhesion values may be achieved, the
working properties of the cement may be altered by the interaction with
the adhesive film.
6) Follow sound principles of cavity design
Because both direct and indirect bonded restorations take advantage of
micromechanical retention for retention and sealing, some modifications
to traditional preparation design can be made. However, careful
application of fundamental cavity design parameters is still necessary for
the best restoration success.
For direct composite restorations, regardless of cavity class,
macromechanical retention, as originally conceived for amalgam, is not
appropriate. Sharp vertical walls and line angles are not needed, and
rounded internal line angles are actually preferred because it is easier to
adapt resin restoratives without voids to rounded surfaces. Cavity design
should be dictated by access to achieve complete removal of diseased
hard tissue and access to place the adhesive system and assure proper
adaptation of the restorative material to the cavity wall.
While minimally invasive cavity preparations can be used, care must be
taken to gain enough visibility to determine if caries is completely
removed. It is also important that all unsupported enamel be removed to
prevent marginal fractures from the polymerization shrinkage inherent in
the composite-curing process. Proper preparation of enamel margins,
especially with self-etching adhesive systems, will maximize bond
strength and improve marginal integrity.
For indirect restorations where a resin luting cement and bonding agent
will be used, preparation design will be dictated more by the selection of
the restorative material. Nevertheless, it is important to understand that
the use of adhesive cementation does not preclude the need for proper
resistance and retention form, especially for full crowns.
Conclusion
Modern dental and enamel bonding agents have allowed the promise of
beautiful and long-lasting restorations to be realized. While adhesives may
appear simple in their superficial appearance, creating a sound interface
between the restorative material and the tooth requires careful attention
to detail regardless of system type. Following sound principles of clinical
technique and meticulously adhering to the specific materials written
directions are essential for successful bonding.

Mark A. Latta, DMD, MS, is Associate Dean for Research and Professor of
General Dentistry at Creighton University School of Dentistry. He is a
graduate of the University of Pennsylvania School of Dental Medicine and
the University of Maryland Baltimore College of Dental Surgery. He has
been awarded numerous research grants for evaluating the laboratory
and clinical performance of modern dental materials. He has lectured
extensively about new dental materials and techniques, and has
published more than 40 manuscripts and 150 abstracts. Reach him at
(402) 280-5044, or mlatta@creighton.edu.

0 comments
Sign in

+ Follow

Post comment as...

Newest | Oldest

More DE Articles
Past DE Issues
RELATED ARTICLES

Pearls for your Practice


Joshua Austin, DDS, FAGDWed, Oct 26, 2016
Creamy or stiff composite handling?
Jason H. Goodchild, DMDWed, Oct 26, 2016
Choosing which composite material to purchase requires critical evaluation.
Treatment Options for the Edentulous Patient: Case Scenarios, Part II
Thu, Sep 22, 2016
Pearls for Your Practice
Joshua Austin, DDS, FAGDThu, Sep 22, 2016
Joshua Austin, DDS, FAGD, reviews the Attachment Removal Kit for Clear Aligners from Shofu Denta
interim dental splint from...

Did You Like this Article? Get All the Dental Industry News
Delivered to Your Inbox
Subscribe to an email newsletter today at no cost and receive the latest
news and information.
Sistem adhesive

Definisi : Adhesi Ketertarikan atom/molekul antara dua permukaan


yang berhubungan karena ada gaya permukaan dari dua materi yang
berbeda.

Prinsip utama adhesi : menghasilkan perlekatan kuat antara substansi gigi


dengan materi yang direkatkan tanpa terlepas. Ketika dua materi
berkontak, terdapat :

1. Adhesif : Substansi yang menyebabkan adhesi

2. Adheren : Materi yang dilekati atau dilekatkan

Restorasi kelas 1, II, III, IV, V, VI karna karies atau trauma


Perubahan bentuk dan warna pada gigi anterior ( full atau partial
resin veneers)
Perbaikan retensi PFM atau metal crown
Restorasi all ceramic bond
Seal pit fissure
Perekat/ pengikat orthodontic bracket
Perekat/ pengikat periodontal splinting dan ....
Perbaikan restorasi yang ada ( komposit, amalgam, keramik atau
ceramometal )
Dasar untuk mahkota
Desensitisasi permukaan akar yg terbuka
Pengikat restorasi amalgam pada struktur gigi
Menyatukan patahan gigi anterior
Pengikat fiber/metal post dan cast post
Memperkuat akar yang rentan setelah dirawat endodontik secara
internal
Perkembangan sistem adhesive : 1. Generasi2nya
Bonding : generasi2nya
Syarat :