Anda di halaman 1dari 9

PAPER

PENGELOLAAN TANAH GARAMAN

Disusun Oleh :
Nama : Prastyo Budi W.
NIM : H0715002

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

Pembukaan lahan baru sangat diperlukan bagi peningkatan produksi


komoditas pertanian di Indonesia. Pembukaan lahan baru biasanya dihadapkan
dengan permasalahan kondisi fisik dan kimia tanah yang tidak mengun-tungkan
bagi tanaman. Kondisi kurang menguntungkan tersebut diantaranya adalah tanah
yang berkadar garam tinggi atau salin. Luas tanah salin belum diketahui secara
pasti, namun indonesia adalah negara kepulauan yang mempunyai garis pantai
yang luas. Tanah salin merupakan tanah dengan konsentrasi mineral garam yang
tinggi.
Faktor yang sangat menentukan keberhasilan tumbuh tanaman adalah
kondisi tanah atau lahan yang digunakan. Semakin baik kondisi tanah atau
subur, maka pertumbuhan tanaman akan meningkat. Salah satu masalah yang
banyak ditemukan pada lahan-lahan pertanian adalah salinitas tanah.
Permasalahan salinitas ini semakin meningkat dengan adanya teknik budidaya
pertanian yang tidak memperhitungkan dampak dari salinitas yang akan terjadi
di dalam tanah. Saat ini salinitas merupakan faktor pembatas kedua yang
terbesar di dunia setelah kekeringan terhadap peningkatan produktivitas di
berbagai negara. Kondisi salinitas tinggi di dalam tanah tidak diimbangi dengan
pemilihan tanaman yang toleran ataupun tahan dengan lingkungan salin.
Modifikasi lahan pun dilakukan dengan kurang memperhitungkan kondisi hara
yang berada di dalam tanah salin, sehingga sering terjadi keracunan hara akibat
penanganan tanah salin yang kurang tepat. Tanah salin dapat ditanggulangi
dengan mengetahui ciri-ciri dari tanah tersebut, sehingga faktor pembatas
utama dari unsur yang terkandung dalam tanah salin dapat diketahui. Dengan
mengetahui faktor pembatas utama pada tanah salin tersebut, dapat dicari
metode yang tepat untuk dapat memanfaatkan secara optimal tanah salin
tersebut untuk lahan pertanian
BAB II
ISI

Tanah garaman disebut juga tanah salin yaitu tanah yang mempunyai
kadar garam netral larut dalam air sedemikian sehingga dapat mengganggu
pertumbuhan kebanyakan tanaman. Proses penimbunan garam mudah larut
dalam tanah sehingga membentuk tanah garaman atau tanah salin disebut
salinisasi. Jumlah H2O yang berasal presipitasi tidak cukup untuk menetralkan
jumlah H2O yang hilang oleh evaporasi dan evapotranspirasi. Sewaktu air
diuapkan ke atmosfer, garam-garam tertinggal dalam tanah. Garam-garam
tersebut terutama adalah NaCl, Na2SO4, CaCO3 dan / atau MgCO3
(Candrabarata, 2011). Tanah salin dapat ditemukan di dua daerah yang berbeda,
yaitu daerah pantai yakni salinitas yang disebabkan oleh genangan atau intrusi
air laut dan daerah arid dan semi arid yakni salinitas yang disebabkan oleh
evaporasi air tanah atau air permukaan.
Tanah salin dicirikan oleh daya hantar listrik (DHL) > 4 mmho/cm pada
o
25 C, dan presentase natrium dapat ditukar (PNT) <pnt =" 15%"> 4 mmho/cm
o +
pada 25 C, dan PNT > 15%. Jenis tanah ini mempunyai garam bebas dan Na
yang dipertukarkan. Selama garam ada dalam jumlah berlebih, tanah-tanah
tersebut akan terflokulasi dan pH nya biasanya 8,5. Jika tanah ini dilindi,
kadar garam bebas menurun dan reaksi tanah dapat menjadi sangat alkalin (pH
+
> 8,5) akibat berhidrolisis Na yang dapat dipertukarkan. Kamphorst dan Bolt
(1976) menunjukkan bahwa DHL sebesar 4 mmho/cm bersesuaian dengan
suatu tekanan osmotik pada kapasitas lapang sebesar 5 bar (Candrabarata,
2011). Tanah salin memiliki nilai pH tanah berkisar 8,5 hingga 10. Nilai pH
yang tinggi pada banyak di antara tanah-tanah tersebut juga menurunkan
ketersediaan sejumlah hara mikro. Jenis tanah ini sering kahat dalam Fe, Cu,
Zn, dan/atau Mn. Selain itu, dengan pH lebih dari 7,5 kandungan kalsium yang
tinggi dapat mengikat fosfat sehingga ketersediannya menurun (Karyanto, et
all, 2012).
Kandungan NaCl yang tinggi pada tanah salin menyebabkan rusaknya struktur
tanah, sehingga aerasi dan permeabilitas tanah tersebut menjadi sangat
rendah.Banyaknya ion Na di dalam tanah menyebabkan berkurangnya ion-ion Ca, Mg,
dan K yang dapat ditukar, yang berarti menurunnya ketersediaan unsur tersebut bagi
tanaman. Pengaruh salinitas terhadap tanaman mencakup tiga hal yaitu tekanan
osmosis, keseimbangan hara dan pengaruh racun. Bertambahnya konsentrasi garam
didalam suatu larutan tanah, meningkatkan potensial osmotik larutan tanah tersebut.
Oleh sebab itu salinitas dapat menyebabkan tanaman sulit menyerap air hingga terjadi
kekeringan fisiologis
Peningkatan konsentrasi garam terlarut di dalam tanah akan
meningkatkan tekanan osmotik sehingga menghambat penyerapan air dan
unsur-unsur hara yang berlangsung melalui proses osmosis. Jumlah air yang
masuk ke dalam akar akan berkurang sehingga mengakibatkan menipisnya
jumlah persediaan air dalam tanaman. (Follet et al., 1981). Dalam proses
fisiologi tanaman, dan Cl diduga mempengaruhi pengikatan air oleh tanaman
sehingga menyebabkan tanaman tahan terhadap kekeringan. Sedangkan Cl
diperlukan pada reaksi fotosintetik yang berkaitan dengan produksi oksigen.
Sementara penyerapan oleh partikel-partikel tanah akan
mengakibatkan pembengkakan dan penutupan pori-pori tanah yang
memperburuk pertukaran gas, serta dispersi material koloid tanah.
Kandungan NaCl yang tinggi pada tanah salin menyebabkan
rusaknya struktur tanah, sehingga aerasi dan permeabilitas tanah tersebut
menjadi sangat rendah. Penyerapan oleh partikel-partikel tanah akan
mengakibatkan pembengkakan dan penutupan pori-pori tanah yang
memperburuk pertukaran gas, serta dispersi material koloid tanah
(Candrabarata, 2011). Akibat yang ditimbulkan dari keadaan tersebut yaitu
mikrobia dalam tanah salin berjumlah sedikit. Hal tersebut dikarenakan aerasi
pada tanah salin sangat rendah, sehingga mikrobia tanah tidak dapat bernafas
karena pertukaran gas terhambat.
Pada tanah salin tidak semua tanaman dapat tumbuh dan
berproduktivitas dengan baik. Tanaman yang rentan terhadap salinitas
digolongkan pada tanaman glikofit. Gejala yang ditimbulkan yaitu tanaman
mengalami kekeringan fisiologis dan akhirnya mati. Hal tersebut dapat
mengakibatkan penurunan hasil panen yang akan didapatkan petani di daerah
tersebut. Selain itu, kadar garam yang tinggi pada tanah salin menyebabkan
tanah salin kekurangan beberapa unsur hara yang diperlukan bagi tanaman.
Kendala tanah garaman yaitu mempengaruhi / menghambat
perkecambahan, larutan hipertonik terhadap sel meyebabkan plasmolisis,
tegangan lengas naik sehingga menurunkan ketersediaan air tanaman,
Keracunan Na & Cl, Mempengaruhi keseimbangan unsur yg lain, Sifat fisik
tanah rusak yaitu struktur & permeabilitas. anajemen terpenting dalam
mengelola lahan salin adalah : 1). menyediakan media tanam yang
memfasilitasi drainase dan kapilaritas air dan larutan garam dalam kolom
tanah, 2) pemilihan amelioran/amandemen yang mampu mengendapkan garam
terlarut sehingga tidak meracuni tanaman, melonggarkan pertikel padat agar
ruang pori meningkat sehingga mengkontribusi pergerakan air dan hara, 3).
pemilihan bahan /pupuk yang tidak menambah konsentrasi garam dan pH
Tanah. Contohnya menghindari penggunaan NaCl, CaCO3, dan dolomit.
Disarankan menggunakan ZA dibaning Urea sebagai sumber N karena ZA
lebih masam disbanding Urea, sehingga mengkontribusi penurunan pH Tanah.
4). Kontrol EC air irigasi merupakan hal penting agar tidak menambah
konsentrasi garam dalam larutan Tanah.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengaruh buruk dari
tanah salin adalah melakukan perbaikan tanah salin melalui cara kimia dan
biologi. Perbaikan tanah salin banyak dilakukan secara kimia dengan
penambahan bahan pembenah tanah seperti gipsum atau CaSO4 (Makoi dan
Verplancke, 2010), Reklamasi secara biologi dapat dilakukan dengan
penambahan bahan organik/pupuk organik seperti pupuk kandang (Kusmiyati
et al., 2002); penanaman tanaman halofita pada tanah salin seperti rumput
Leptochloa fusca (Ahmad dan Chang, 2002) atau legum Glycyrrhiza glabra
(Khusiev et al., 2005) atau Portulaca oleracea (Zuccarini, 2008). Penambahan
kalium juga dapat memperbaiki pengaruh buruk dari tanah salin (Karimi et al.,
2009; Paksoy et al., 2010).
Untuk menangani masalah tanah garaman tersebut dapat
ditempuh pengelolaan tanah dengan cara-cara sebagai berikut:
1. Penanaman tanaman yang toleran terhadap tanah salin yang tinggi
(asparagus, bayam, kapas, barley), salin sedang (tomat, kubis,
jagung, padi), dan salin rendah (wortel, seledri, kacang hijau, dan
lain-lain). Penggunaan varietas yang tahan salin, misal varietas padi
yang toleran terhadap garam antara lain : Johns 349, Kalarata,
PoY~ali, Nonabokra, dan Benisail.
1. Perbaikan tanah dengan pengairan air irigasi (air irigasi yang
digunakan memiliki DHLT ekstrak jenuh kurang dari 0,75
mmhos/cm karena pada air seperti ini kandungan natrium dan boron
yang rendah) sehingga garam di daerah perakaran tercuci keluar.
2. Pemakaian mulsa organik. Mulsa organik (misal jerami) yang
ditambahkan ke tanah mengurangi bahaya yang dialami tanaman di
tanah salin, yang kemungkinan disebabkan terjerapnya garam dan
oleh penurunan evaporasi sehingga mengurangi pergerakan air ke
permukaan.
3. Peng-inokulasian jamur mikoriza (Glomus sp) pada tanaman yang
akan ditanam untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa fungi mikoriza dapat meningkatkan
pertumbuhan tanaman yang ditanam pada habitat salin. Tanaman
bawang merah yang diinokulasikan dengan fungi mikoriza dari
spesies Glomus ternyata memiliki berat bulbus dan bobot kering
bawang serta total serapan hara yang lebih tinggi pada tanah salin.
4. Pengelolaan tanah dapat dilaksanakan dengan mencegah terjadinya
akumulasi garam (salt) pada daerah perakaran, yaitu dengan
mengatur gundukan barisan tanaman. Salah satu cara dengan double
row bed pada tanah yang tingkat salintasnya tidak terlalu tinggi.
Dengan cara single row bed maka akan terjadi akumulasi garam di
daerah perakaran. Penggunaan irigasi sprinkler pada saat pre-
emergen dapat mencegah akumulasi garam atau dengan spesial
furrow (Rhodes dan Loveday, 1996).
5. Penggunaan bahan-bahan kimia, seperti kapur dapat memperbaiki
perkembangan bibit tanaman, memperbaiki kualitas air yang masuk
dan disimpan, dan meningkatkan pencucian garam-garam terlarut.
6. Penggunaan pupuk organik, baik berupa pupuk kandang, pupuk
hijau, maupun kompos dari bahan sisa-sisa tanaman dan gulma. Hal
ini memiliki tujuan untuk menyeimbangkan hara terutama terhadap
ratio antara Na, Ca dan Mg.
BAB III
KESIMPULAN

Tanah salin merupakan tanah yang mengandung garam


mudah larut yang jumlahnya cukup besar bagi pertumbuhan
kebanyakan tanaman seperti NaCl. Tanah salin dicirikan oleh daya
o
hantar listrik (DHL) > 4 mmho/cm pada 25 C, dan presentase
o
natrium dapat ditukar (PNT) <pnt =" 15%"> 4 mmho/cm pada 25 C,
+
dan PNT > 15%. Jenis tanah ini mempunyai garam bebas dan Na
yang dipertukarkan. Kandungan NaCl yang berlebih dapat
menghambat pertumbuhan tanaman, sehingga ada beberapa
tanaman yang tidak dapat tumbuh dengan baik pada tanah salin.
Selain itu, salinitas pada tanah dapat menyebabkan berkurangnya
unsur hara dalam tanah. Oleh karena itu diperlukan beberapa cara
untuk mengatasinya baik dalam hal pengolahan tanah, pengairan
maupun pemilihan tanaman yang akan dibudidayakan pada tanah
salin. konsentrasi garam dalam larutan Tanah.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengaruh buruk dari
tanah salin adalah melakukan perbaikan tanah salin melalui cara kimia dan
biologi. Perbaikan tanah salin banyak dilakukan secara kimia dengan
penambahan bahan pembenah tanah seperti gipsum atau CaSO4, Reklamasi
secara biologi dapat dilakukan dengan penambahan bahan organik/pupuk
organik seperti pupuk kandang , penanaman tanaman halofita pada tanah salin
seperti rumput Leptochloa fusca atau legum Glycyrrhiza glabra atau Portulaca
oleracea. Penambahan kalium juga dapat memperbaiki pengaruh buruk dari
tanah salin
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, R. and M.H. Chang. 2002. Salinity control and environmental protection
through halopythes. J. Drainage and Water Manag. 6 : 17 25.

Candrabarata. 2011. Konservasi dan Reklamasi Tanah Garam. Kalimantan


Tengah. Universitas Pelangka Raya.

Follet, R.H., L.S. Murphy and R.L. Donahue. 1981. Fertilizer and soil
amandements. Prentice Hall Inc. Englewood. New Jersey.

Karimi, E., A. Abdolzadeh and H.R.Sadeghipour. 2009. Increasing salt tolerance


in Olive, Olea europaea L. plants by supplemental potassium nutrition
involves changes in ion accumulation and anatomical attributes. Int. J.
of Plant Product. 3 (4) : 49 60.

Karyanto. 2009. Bunga Rampai Publikasi Dexa Medica, Konsistensi Membangun


Daya Saing. Jakarta: Corporate Communication Dexa Medica

Kushiev, H., A.D. Noble, I. Abdullaev and U. Toshbekov. 2005. Remediation of


abandoned saline soils using Glycyrrhiza glabra : A study from the
hungry steppes of Central Asia. Int. J. Agric. Sustain. 3 : 102 113.

Kusmiyati, F., R. T. Mulatsih dan A. Darmawati. 2002. Pengaruh pengguludan dan


pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan produksi hijauan rumput
pakan pada tanah salin. J. LitBang Propinsi Jawa Tengah 1 : 46-52.

Makoi, J.H.J.R., and H. Verplancke. 2010. Effect of gypsum placement on the


physical chemical properties of saline sandy loam soil. Aust. J. Of Crop
Sci. 4 (7) : 556 563.

Paksoy, M., O. Turkmen and A. Dursun. 2010. Effects of potassium and humic
acid on emergence, growth and nutrient contents of okra (Abelmoschus
esculentus L.) seedling under saline soil conditions. African J. Of
Biotechnol. 9 (33) : 5343 5346.

Zuccarini, P. 2008. Ion uptake by halophytic plants to mitigate saline stress in


Solanum lycopersicon L., and different effect of soil and water salinity.
Soil & Water Res. 3 : 62 73.