Anda di halaman 1dari 13

A.

Latar Belakang
Lahirnya agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, pada abad
ke-7 M, menimbulkan suatu tenaga penggerak yang luar biasa, yang pernah
dialami oleh umat manusia. Islam merupakan gerakan raksasa yang telah
berjalan sepanjang zaman dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Masuk
danberkembangnya Islam ke Indonesia dipandang dari segi historis dan
sosiologissangat kompleks dan terdapat banyak masalah, terutama tentang
sejarahperkembangan awal Islam. Ada perbedaan antara pendapat lama dan
pendapat baru.Pendapat lama sepakat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad
ke-13 M dan pendapat baru menyatakan bahwa Islam masuk pertama kali ke
Indonesia pada abad ke-7 M.
Namun yang pasti, hampir semua ahli sejarah menyatakan bahwa
daerah Indonesia yang mula-mula dimasuki Islam adalah daerah Aceh.
Datangnya Islam ke Indonesia dilakukan secara damai, dapat dilihat
melaluijalur perdagangan, dakwah, perkawinan, ajaran tasawuf dan tarekat,
serta jalurkesenian dan pendidikan, yang semuanya mendukung proses
cepatnya Islam masukdan berkembang di Indonesia. Kegiatan pendidikan
Islam di Aceh lahir, tumbuh dan berkembang bersamaan dengan
berkembangnya Islam di Aceh. Konversi massal masyarakat kepada Islam
pada masa perdagangan disebabkan olehIslam merupakan agama yang siap
pakai, asosiasi Islam dengan kejayaan, kejayaan militer Islam, mengajarkan
tulisan dan hapalan, kepandaian dalam penyembuhandan pengajaran tentang
moral
Konversi massal masyarakat kepada Islam pada masa kerajaan Islam
di Aceh tidak lepas dari pengaruh penguasa kerajaan serta peran ulama dan
pujangga. Aceh menjadi pusat pengkajian Islam sejak zaman Sultan Malik
Az-Zahir berkuasa, dengan adanya sistem pendidikan informal berupa
halaqoh. Yang pada kelanjutannya menjadi sistem pendidikan formal. Dalam
konteks inilah, pemakalah akan membahas tentang pusat pengkajian Islam
pada masa Kerajaan Islam dengan membatasi wilayah bahasan didaerah
Aceh, dengan batasan masalah, pengertian pendidikan Islam, masuk
danberkembangnya Islam di Aceh, dan pusat pengkajian Islam pada masa tiga

1
kerajaanbesar Islam di Aceh. Islam merupakan salah satua gama besar di
dunia saatini. Agama ini lahir dan berkembang di Tanah Arab. Pendirinya
adalah Nabi Muhammad SAW. Agama ini lahir salah satunyasebagai reaksi
atas rendahnya moral manusia pada saat itu. Manusia pada saatitu hidup
dalam keadaan moral yang rendah dan kebodohan (jahiliah). Merekasudah
tidak lagi mengindahkan ajaran-ajaran nabi-nabi sebelumnya. Hal
itumenyebabkan manusia berada pada titik terendah. Penyembahan
berhala,pembunuhan, perzinahan, dan tindakan rendah lainnya merajalela.
Islam mulai disiarkan sekitartahun 612 di Mekkah. Karena penyebaran agama
baru ini mendapat tantangan darilingkungannya, Muhammad kemudian
pindah (hijrah) ke Madinah pada tahun 622.Dari sinilah Islam berkembang ke
seluruh dunia.

B. Pembahasan
1 Sejarah masuknya islam ke tanah melayu
Sejarah masuknya Islam di tanah Melayu (khususnya di Indonesia),
selama ini masih banyak yang mengikuti alur teori Snouck Hugronje.
Pelajaran sejarah kita di SD, SMP, SMA atau PT menyatakan bahwa
Islam masuk ke Indonesia abad ke-13 dan dibawa oleh para pedagang
Gujarat. Karena telah berlangsung puluhan tahun pengajaran sejarah
seperti itu, maka seolah-olah teori sejarah itu menjadi kebenaran. Padahal,
teori masuknya Islam ke Indonesia abad ke-13 dan dibawa oleh para
pedagang Gujarat, telah dibantah oleh para cendekiawan Muslim yang
konsen terhadap sejarah. Mereka sepakat menyatakan bahwa Islam masuk
ke tanah Melayu-Indonesia pertama kali abad ke-7 dan dibawa langsung
oleh para ulama (dan wirausahawan) dari jazirah Arab. Termasuk dalam
deretan cendekiawan ini di antaranya adalah: Prof Dr Buya Hamka, Prof
Dr Naquib al Attas, KH Abdullah bin Nuh, dan Prof Ahmad Mansur
Suryanegara. Buya Hamka membantah bahwa Islam masuk ke Indonesia
abad ke-13 dengan ditandai berdirinya kerajaan Samudera Pasai (1275).1

1 Hoeve, I. B. van. 1984. Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: Ichtiar Baru Van


Hoeve.

2
Menurut Hamka, apakah mungkin tiba-tiba berdiri sebuah kerajaan tanpa
Islam menyebar terlebih dahulu di daerah itu di masa-masa sebelumnya?
Hamka menunjukkan bukti bahwa Islam telah berkembang ke Pulau
Sumatera di abad ke-7. Yaitu dengan ditemukannya komunitas Islam di
Palembang pada abad itu.
Prof Ahmad Mansur dalam bukunya Api Sejarah dan Menemukan
Sejarah, menyatakan bahwa pada masa Khalifah Muawiyah (661-750M),
Islam menyebar di tanah Melayu. Besar kemungkinannya bahwa Islam
dibawa oleh para wirausahawan Arab ke Asia Tenggara pada abad
pertama dari tarikh Hijriyah atau abad ke-7 M. Hal ini menjadi lebih kuat,
menurut TW Arnold dalam The Preaching of Islam Sejarah Dawah
Islam pada abad ke-2 H perdagangan dengan Sailan atau Srilangka sudah
seluruhnya di tangan Bangsa Arab, terang Mansur. Prof Mansur
menambahkan, JC Van Leur dalam bukunya Indonesian: Trade and
Society, menyatakan bahwa pada 674 (M) di pantai Barat Sumatra telah
terdapat perkampungan (koloni) Arab Islam. Dengan pertimbangan
Bangsa Arab telah mendirikan perkampungan perdagangannya di Kanton
pada abad ke-4. Perkampungan perdagangan ini mulai dibicarakan lagi
pada 618 dan 626. Tahun-tahun berikutnya perkembangan perdagangan
ini mulai mempraktikkan ajaran agama Islam. Hal ini memengaruhi pula
perkampungan Arab yang terdapat di sepanjang jalan perdagangan di Asia
Tenggara. Ulama dan Wirausahawan Mansur mengkritik keras adanya
upaya sebagian sejarawan yang menyatakan bahwa Islam baru masuk ke
Indonesia setelah runtuhnya kerajaan Hindu Majapahit (1478) dan
ditandai berdirinya Kerajaan Demak. Sering didongengkan, keruntuhan
Kerajaan Hindoe Madjapahit akibat serangan dari Kerajaan Islam Demak.
Padahal realitas sejarahnya yang benar Keradjaan Hindoe Madjapahit
runtuh akibat serangan Raja Girindrawardhana dari Kerajaan Hindoe
Kediri pada tahun 1478 M, tulis Ahmad Mansur Suryanegara dalam
Api Sejarah.
Para cendekiawan Muslim juga menyatakan bahwa pembawa
ajaran Islam ke tanah Nusantara (Melayu) adalah para ulama Islam dan

3
wirausahawan Islam dari jazirah Arab. Menurut Buya Hamka, hal itu
ditandai dengan berkembangnya mazhab Imam Syafii yang berkembang
di Tanah Air. Sedangkan Gujarat, menurut Prof Mansur, banyak
bermazhab Syiah. Prof Al-Attas menyorot tajam ulah kebanyakan para
sarjana Barat terhadap sejarah Islam di tanah Melayu. Menurut Attas,
sarjana-sarjana Barat yang melangsungkan penilitian ilmiah terhadap
sejarah dan kebudayaan Kepulauan Melayu-Indonesia telah lama
menyebarkan faham yang tidak berdasarkan hujah tulen. Meski Van Leur
sepakat dengan para cendekiawan Islam tentang awal masuk Islam ke
Nusantara abad ke-7, tapi menurut al Attas, Van Leur menyesatkan
peranan penting Islam di tanah Melayu. Van Leur mengatakan, Islam
tiada membawa perubahan asasi dan tiada pula membawa suatu tamaddun
yang lebih luhur daripada apa yang sudah ada. Bawaan pemikiran
sarjana-sarjana Belanda dari dahulu memang sudah mengisyaratkan
kecenderungan ke arah mengecilkan Islam dan peranannya dalam sejarah
Kepulauan ini. Kecenderungan itu juga tercermin misalnya dalam tulisan-
tulisan Snouck Hugronje pada akhir abad yang lalu, tulis Prof Attas.2
Lantas, apa yang dibawa Islam di tanah Melayu ini? Al Attas
menguraikan, para penyebar agama Islam, selain mendakwahkan
kepercayaan ketuhanan, juga membawa peradaban tinggi, intelektualisme
dan ketinggian budi insan di tanah Melayu. Prof Attas menunjukkan
bukti bahwa dari tangan ulama-ulama Islam lahirlah budaya sastra,
tulisan, falsafah, budaya buku dan lain-lain, yang tidak dibawa peradaban
sebelumnya. Sebaliknya, Islam memang tidak meninggalkan kebudayaan
patung (candi) sebagaimana kebudayaan pra Islam. Kembali mengutip al-
Attas: Melayu sebagai bahasa pengantar, bukan saja digunakan dalam
kesusasteraan epik dan roman, akan tetapi lebih penting juga dipakai
dalam pembicaraan falsafah. Penggunaan Bahasa Melayu sebagai bahasa
kesusasteraan dan falsafah Islam di kepulauan Melayu-Indonesia

2 Kerajaan Siak. 1901. Babul Qawaid. Siak Sri Indrapura: Percetakan Kerajaan Siak Sri
Indrapura.

4
menambah dan meninggikan perbendaharaan katanya dan istilah-istilah
khususnya dan merupakan salah satu faktor terutama yang
menjunjungnya ke peringkat bahasa sastera yang bersifat rasional, yang
akhirnya berdaya serta sanggup menggulingkan kedaulatan bahasa Jawa
sebagai bahasa sastera Melayu-Indonesia, tulis Attas. Prof al Attas, lebih
jauh menyorot tentang adanya upaya-upaya ahli sejarah yang selalu
mengkait-kaitkan perkembangan Islam di tanah Melayu dengan budaya
India (Hindu). Memang diakui al-Attas bahwa budaya India memengaruhi
budaya Jawa, di antaranya bukti adanya tulisan Jawa Kuno yang
modelnya mirip dengan tulisan India. Karena itu, menurutnya,
merupakan keputusan yang mendalam ketika para ulama mengembangkan
Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar-pemersatu tanah Melayu (juga
pemersatu di Indonesia).
2 Adab dan tradisi dalam kebudayaan melayu riau berkenaan dengan syariat
islam
Adat yang berlaku dalam masyarakat Melayu di Riau bersumber
dari Malaka dan Johor, karena dahulu Malaka, Johor, dan Riau merupakan
Kerajaan Melayu dan adatnya berpunca dari istana, Adat Melayu di Riau
dapat dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu adat sebenar adat, adat yang
diadatkan, dan adat yang teradat.
a. Adat Sebenar Adat : Yang dimaksud dengan adat sebenar adat
adalah prinsip adat Melayu yang tidak dapat diubah-ubah.
b. Adat yang Diadatkan : Adat yang diadatkan adalah adat yang dibuat
oleh penguasa pada suatu kurun waktu dan adat itu terus berlaku
selama tidak diubah oleh penguasa berikutnya. Adat ini dapat
berubah-ubah sesuai dengan situasi dan perkembangan zaman,
sehingga dapat disamakan dengan peraturan pelaksanaan dari suatu
ketentuan adat.
c. Adat yang Teradat : Adat ini merupakan konsensus bersama yang
dirasakan baik, sebagai pedoman dalam menentuhan sikap dan
tindakan dalam menghadapi setiap peristiwa dan masalah-masalah
yang dihadapi oleh masyarakat. Konsensus itu dijadikan pegangan
bersama, sehingga merupakan kebiasaan turun-temurun. Oleh karena

5
itu, adat yang teradat ini pun dapat berubah sesuai dengan nilai-nilai
baru yang berkembang.3
Adat-Istiadat Dalam Pergaulan Orang Melayu Di Riau
a. Tutur-Kata : Dalam bertutur dan berkata, banyak dijumpai nasihat,
karena kata sangat berpengaruh bagi keselarasan pergaulan, Bahasa
menunjukkan bangsa. Pengertian bangsa yang dimaksud di sini
adalah orang baik-baik atau orang berderajat yang juga disebut
orang berbangsa. Orang baik-baik tentu mengeluarkan kata-kata
yang baik dan tekanan suaranya akan menimbulkan simpati orang.
Orang yang menggunakan kata-kata kasar dan tidak senonoh, dia
tentu orang yang tidak berbangsa atau derajatnya rendah.
b. Sopan-Santun Berpakaian : Dari pepatah Biar salah kain asal jangan
salah cakap juga tercermin bahwa salah kain juga merupakan aib.
Dalam masyarakat Melayu, kesempurnaan berpakaian menjadi ukuran
bagi tinggi rendahnya budaya seseorang. Makin tinggi
kebudayaannya, akan semakin sempurna pakaiannya. Selain itu,
sopan-santun berpakaian menurut Islam telah menyatu dengan adat.
c. Adab dalam Pergaulan : Kerangka acuan adab dan sopan-santun
dalam pergaulan adalah norma Islam yang sudah melembaga menjadi
adat. Di dalamnya terdapat berbagai pantangan, larangan, dan hal-hal
yang dianggap sumbang. Pelanggaran dalam hal ini menimbulkan
aib besar dan si pelanggar dianggap tidak beradab.
d. Tradisi : dari berasaskan mitos dan tujuan kepada tradisi sebagai
sarana sosialisasi nilai-nilai dan solidaritas. Akulturasi Islam dan
budaya Melayu Pelalawan berlangsung melalui proses gradual:
Tergesernya mantera dan tawar oleh doa dalam sistem perobatan
Melayu, sehingga menyadarkan orang Melayu Pelalawan untuk
berkepercayaan tauhid kepada Allah SWT dan Tergesernya posisi
pemimpin tradisional (pemangku adat, dukun, bomo, dan pawang)

3 Prins, J. 1954. Adat en Islamietische Plichtenleer In Indonesia. Bandung: W. Van Hoeve


sGravenhage.

6
oleh ulama dalam struktur sosial orang Melayu Pelalawan sehingga
institusi ulama berada pada posisi dominan.
3 Nilai Nilai Adab Melayu Riau Dalam Kebudayaan Melayu Riau
Nilai-nilai Islam akan mendominasi dan mengakar kuat dalam sistem
budaya suatu masyarakat apabila nilai-nilai Islam berakulturasi ke dalam
budaya masyarakat melalui proses yang intensif, gradual, akomodatif,
empatif, dan berkelanjutan, bukan frontal dan konfrontatif Dari sisi
sosiologi, akulturasi Islam ke dalam suatu masyarakat dapat menjadikan
Islam sebagai suatu identitas dan pengikat solidaritas suatu komunitas
(spirit de corps), karena itu identitas dan solidaritas suatu komunitas tidak
mutlak berdasarkan kesatuan etnis. Ia juga dapat juga terbentuk atas
kesatuan aqidah. Kesatuan sosial inilah yang disebut dengan ummat.
Dakwah islamiyah yang dilaksanakan dengan pendekatan cultural,
akomodatif empatik, menghasilkan respon yang positif-simpatik, dapat
menekan intensitas konflik karena perbedaan sistem dan orientasi nilai,
mengembangkan toleransi, saling menghormati, dan menerima
kemajemukan keberagaman umat sebagai realitas historis dan manusiawi.
Secara empiris, akulturasi Islam ke dalam budaya Melayu Palalawan,
telah menjadikan Islam sebagai identitas kemelayuan orang Pelalawan,
sehingga identitas kemelayuan tidak selamanya didasarkan pada faktor
genetis, tapi juga dapat terbentuk atas dasar aqidah. Dengan demikian,
Melayu adalah konsep terbuka yang dapat dimasuki siapa saja melalui
koridor Islam. Sebaliknya kemelayuan orang Melayu akan hilang apabila
tidak berbajukan Islam. Secara praktis operasional, penelitian ini memberi
kontribusi bahwa orang-orang Melayu akan mencapai kemajuan apabila
pandangan hidup mereka yang dogmatis-mistis ditransformasikan kepada
pandangan hidup yang rasional empiris melalui transformasi pemikiran
dan pemahaman mereka atas Islam dan nilai-nilai budayanya sendiri,
sehingga keberagamaan dan keberbudayaan orang-orang Melayu menjadi
lebih rasional.
4 Sistem kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau

7
Jika pada mulanya suatu kampung di Riau didiami oleh mereka
yang sesuku, maka pada perkembangn kemudian telah banyak penduduk
baru yang bukan sesuku merupakan penduduk pendatang yang ikut
berdiam di kampung tersebut. Datangnya penduduk baru mungkin
disebabkan perkawinan dan ada pula disebabkan adanya mata
pencaharian ditempat tersebut. Dengan demikian, masyarakat kampung
tadi tidak terikat oleh karena kesatuan suku, tetapi dengan perkembangan
baru itu, ikatan tersebut tidak lagi bersifat kesukuan, tetapi terikat karena
kesatuan tempat tinggal dan kampung halaman.
Kampung-kampung tersebut dipimpin oleh seorang kepala
kampung yang disebut Penghulu dan sekarang merupakan pamong desa
yang dipilih berdasar peraturan pemerintah. Disamping penghulu ini
terdapat pula pimpinan bidang agama, yaitu imam. Imam inilah yang
mengurus segala persoalan yang menyangkut keagamaan, seperti menjadi
imam mesjid, pengajian dan pelajaran agama, nikah/cerai/rujuk,
pembagian warisan, pengumpulan zakat dan lainnya. Dengan demikian
penghulu dengan didampingi oleh imam merupakan pimpinan kampung.
5 Tugas dan fungsi dari struktur kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu
riau
Beberapa tugas dan fungsi struktur kemasyarakatan masyarakat
melayu di beberapa daerah riau diantaranya adalah sebagai berikut.
Kampar Dikabupaten kampar yang kita kenal sekarang, memiliki bentuk
struktur kemasyarakatan yang beragam, sehingga mewarnai tugas dan
fungsinya. Dikenal dengan istilah kenegrian, bentuk struktur
kemasyrakatannya merupakan gabungan dari persukuan. Tetapi
sebaliknya ada juga yang dikenal dengan hanya suku saja. Menurut
Hendrik anak Abdulrahman (bahan-bahan untuk menyusun kitap khatam
kaji doktoral, 2012), sebagai sebuah kumpulan dari persukuan, maka yang
duduk dalam kenegerian tersebut adalah ketua-ketua suku. Sebagai contoh
dalam masyrakat kecamatan kampar alias kenegerian kampar, dapat
diterangkan sebagai berikut: Pucuk tertinggi kenegrian kampar: - Suku
Domo ( domo tua ) bergelar datuk temenggung. Tugasnya menggurus

8
keluar dan kedalam persukuan. Bertanggung jawap penuh terhadap
kesukuan (pucuk tertinggi) - Suku Pitopang bergelar Dtuk Manjo Bosau.
Tugasnya kedalam persukuan (dalam sistem pemerintahan sekarang, sama
dengan sekda) Mereka dibantu oleh: - Suku Domo (mudo) bergelar Datuk
Bijanso - Suku Melayu (tua) bergelar Datuk Baduku Tua - Suku Melayu
(muda) bergelar Datuk Marajo Bosau - Suku Piliang bergelar Datuk
Tiawan - Suku Kampai bergelar Datuk Paduko - Suku Bendang bergelar
Datuk Somak Dirajo Catatan : struktur adat dalam setiap kenegrian
berbeda-beda, sesuai dengan suku yang ada dalam negri tersebut suku:
setiap suku memiliki struktur, yakini: - Penghulu : pucuk tertinggi dalam
suku - Tungkek : wakil penghulu - Tuo Kampung : yang mengurus sosial
masyarakat - Malin kebesaran : yang mengurus masalah agama -
Dubalang : keamanan - Siompu : yang mengurus masalah perempuan.4
Kuantan dan sengingi: Kawasan kuantan dan sengingi yang kini masuk
dalam admistrasi pemerintahan kabupaten kuantan sengingi semula
merupakan kawasan kerajaan-kerajaan kandis yang bentuk struktur sistem
kemasyarakatannya sekaligus berkaitan dengan fungsi maupun tugasnya,
diperkirakan menggunakan sistem kerajaan pada abad ke-8. Pada
gilirannya sistem ini menurut susunan suku dan koto-koto. Negri ini
kemudian dikenal sebagai Negori Puluh Kurang Osu atau negeri terdiri
atas 19 koto yang dipimpin oleh 19 Datuk dengan berkedudukan di koto-
koto. Menurut Prof Suwardi MS (2010), koto-koto dikuantan dibagi
menurut aliran Batang Kuantan (Sungai Indragiri) dan kawasan daratan
sebagai beikut: - Empat koto yang berkedudukan di Lubuk Ambacang.
Pemimpinya di sebut Datuk Patih; - Limo koto di tongah berkedudukan di
kari dengan pemimpin yang disebut Datuk Lelo Budi; - Empat koto dihilir
berkedudukan di inuman dipimpin oleh Datuk Temenggung; - Empat koto
digunung dipimpin oleh Datuk Bendaro; - Satu koto di Lubuk Ramo,
dipimpin oleh Datuk Timbang Tali; - Satu koto di Logas Tanah Darek

4 Sujiman, P. H. M. 1983. Adat Raja-raja Melayu. Jakarta: Universitas


Indonesia Press.

9
berkedudukan dilogas Tanah Darat yang dipimpin oleh Datuk Rajo
Ruhum, dan - Satu koto di Pangean berkedudukan di Desa Koto Tinggi
Pengean yang dipimpin oleh Penghulu nan Barompek. Koto-koto itu
kemudian membentuk federasi yang masing-masing dipimpin oleh Urang
Godang ( orang besar ). Orang godang ini dipimpin salah seorang
diantaranya, disbut Datuk Bisai, berkedudukan di Teluk Kuantan. Lain
lagi di Sengingi. Di kawasan ini dua datuk dibedakan atas Raja Adat dari
Pagaruyung dan Rajo Ibadat dari semanjung Melayu ( Malaysia
sekarang ). Mereka disebut Datuk Nan Beduo, di sebut juga Urang
Godang Antau. Mereka bertugas dan berfungsi sebagai pelaksana
pemerintahan, mengatur kehidupan masyarakat sebagai pihak terkelola.
Pekerjaan mereka untuk urusan adat dibantu oleh tujuh datuk. Jadi,
jumlah datuk yang menjalankan tugas maupun fungsi pemerintahan dan
adat berjumlah sembilan oarang, sehingga disebut Datuk yang Sembilan.
Tujuh datuk berkedudukan dikoto-koto Tanjung Pauh (utara) dan logas
(selatan), yaitu: - Datuk Bendaro Kali - Datuk Mangkuto Sinaro - Datuk
Sinaro Nan Putiah - Datuk Besar - Datuk Maharajo Garang - Datuk Nyato
- Datuk Jalelo Siak sri indrapura Kerajaan siak sri indrapura memiliki
kawasan lebih luas di banding kerajaan-kerajaan yag pernah ada di
kawasan melayu Riau. Secara harfiah dapat bermakna pusat kota raja
yang taaat beragama, siak dalam anggapan melayu sangat bertali erat
dengan agama islam. orang siak adalah orang-orang yang ahli agama
islam. dalam bahasa sansekerta, sri berarti''bercahaya'' dan indera
bermakna ''raja''. sedangkan pura berarti ''kota atau kerajaan''.
Membandingkan dengan catatan Tome pires (1513-1515) belum
mnyebutkan adanya nama siak antara kawasan arcat dan indragiri yang
disebutnya sebagai kawasan pelabuhan raja minangkabau serta juga
menyebutkan dari tiga raja minangkabau itu hanya satu raja yang telah
masuk islam sehingga jika dikaitkan dengan pepatah minangkabau yang
terkenal'' adat menurun syara' mendaki dapat bermakna masuknya islam
ke dataran tinggi pedalaman minangkabau dari siak sehingga orang-orang

10
yang ahli dalam agama sejak dahulu sampai sekarang masih tetap di sebut
dengan orang siak. nama siak dapat merujuk pada sebuah klan dikawasan
antara pakistan dan india, sihag atau asiag yang bermakna pedang.
masyarakat ini di kaitkan dengan bangsa asli, masyarakat nomanden yang
disebut oleh masyarakat romawi dan diidentifikasikan sebagai sakai oleh
strabo seorang penulis geografi yunani. berkaitan dengan ini pada
sehiliran sungai siak sampai hari ini masih dijumpai masyarakat asing
yang dinamakan sebagai orang sakai. kerajaan siak sri indrapura Pernah
menguasai daerah-daerah disumatra utara dan kalimanatan barat samapi
pertengahan abad ke-19, kerajaan ini meninggalkan pengaruh yang amat
besar pada wilayah provinsi riau sekarang seperti kota pekanbaru, kota
dumai, kabupaten bengkalis, kabupaten meranti, kabupaten rokan hilir
dan kabupaten siak sendiri. Sebagian palalawan dan kampar, pernah
berada dalam kawasan kerajaan siak. Tidak diherankan apabila bentuk
struktur dengan tugas dan fungsi sistem kemasyarakatan didaerah-daerah
tersebut mengacu pada apa yang terjadi secara umum dalam kerajaan siak.
awalnya kerajaan ini di dirikan di Buantan oleh raja kecik dari
Pagaruyung yang bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723,setelah
sebelumnya tersingkir atas tahta kesultanan johor.5 Disisi lain, harus
diakaui sistem kemasyarakatan dikawasan ini tidak terjadi secara otomatis
begitu saja saat raja kecik membangun kekuatan baru di buantan setelah
tersingkir dari johor awal abad ke-18. Sebab sebelumnya juga, dikawasan
tersebut telah hidup suatu kerajaan yang cukup berpengaruh yakini gasip.
C. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari makalah ini adalah sejauh mana pengetahuan
seseorang terhadap kebudayaannya sendiri dipengaruhi oleh berberapa hal
dan salah satunya adalah dirinya sendiri. Besar atau kecilnya nya rasa cinta
dan bangga terhadap kebudayaannya itulah yang nantinya mencerminkan
bahwa sejauh mana seseorang mengenali budayanya sendiri. Jika semakin
kecil rasa kecintaannya maka jelaslah seseorang tersebut belum terlalu dekat
dengan budaya sukunya sendiri, begitu juga sebaliknya. Mengenali budaya
5 Yayasan Kanisius. 1973. Ensiklopedi Umum. Yogyakarta: Kanisius.

11
sendiri khususnya melayu merupakan sebuah keharusan baginya yang
mengaku melayu. Sedikit banyaknya pengetahuan kita mengenai segala
sesuatu yang berkaitan dengan budaya melayu menjadikan kita secara tidak
langsung mempelajari budaya itu sendiri. Seperti yang dikatakan para pakar
bahwa seseorang yang mengaku melayu jikalau ia: 1. Berbahasa melayu, 2.
Beradat-istiadat Melayu dan 3. Beragama Islam. Maka dari itu, ketiga hal
inilah menjadi patokan ataupun barometer sejauh mana kita sudah menjadi
bagian dari budaya itu sendiri khususnya budaya melayu.

DAFTAR PUSTAKA

Hoeve, I. B. van. 1984. Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.

Kerajaan Siak. 1901. Babul Qawaid. Siak Sri Indrapura: Percetakan Kerajaan
Siak Sri Indrapura.

12
Prins, J. 1954. Adat en Islamietische Plichtenleer In Indonesia. Bandung: W. Van
Hoeve sGravenhage.

Sujiman, P. H. M. 1983. Adat Raja-raja Melayu. Jakarta: Universitas Indonesia


Press.

Yayasan Kanisius. 1973. Ensiklopedi Umum. Yogyakarta: Kanisius.

13