Anda di halaman 1dari 14

A.

Pendahuluan
Manusia telah diberi anugrah oleh Tuhan berupa akal dan nafsu, akal
dan nafsu inilah yang mendorong manusia untuk menciptakan sesuatu yang
dapat mewujudkan cita-cita atau penghargaannya. Dalam mewujudkan cita-
cita tersebut manusia telah menciptakan sains, teknologi dan seni sebagai
salah satu sarana sehingga sejak saat itu kehidupan manusia mulai berubah.
Selain itu sains, teknologi, dan seni juga telah mempengaruhi peradapan
manusia dalam kehidupannya terutama dalam bidang budaya.
Seiring dengan perkembangan teknologi dan seni diharapkan dapat
memberikan pengaruh yang positif terhadap bidang-bidang lain, khususnya
budaya yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Pemanfaatan kemajuan
teknologi, dan seni secara baik haruslah diterapkan, sehingga dapat menjaga
kelestarian budaya bangsa.
Manusia tidak dapat lepas dari kebudayaan, disebabkan kebudayaan
merupakan cara beradaptasi manusia dengan lingkungannya yang merupakan
warisan sosial. Dan kebudayaan itu sendiri bagi manusia berguna untuk
mengatur hubungan antar manusia dan sebagai wadah masyarakat menuju
taraf hidup tertentu yang lebih baik, manusiawi, dan berperi kemanusiaan.
B. Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Budaya
1. Hakikat Manusia
Istilh manusia berasal dari bahasa Sanskerta yaitu manu dan
bahasa Latin yaitu mens yan artinya berpikir, berakal budi atau makhluk
yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Secara istilah
manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan
atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu. Dalam
hubungannya dengan lingkungan, manusia merupakan suatu oganisme
hidup (living organism). Terbentuknya pribadi seseorang dipengaruhi oleh
lingkungan bahkan secara ekstrim dapat dikatakan, setiap orang berasal
dari satu lingkungan, baik lingkungan vertikal (genetika, tradisi),
horizontal (geografik, fisik, sosial), maupun kesejarahan. Tatkala seoang
bayi lahir, ia merasakan perbedaan suhu dan kehilangan energi, dan oleh
karena itu ia menangis, menuntut agar perbedaan itu berkurang dan

1
kehilangan itu tergantikan. Dari sana timbul anggapan dasar bahwa setiap
manusia dianugerahi kepekaan (sense) untuk membedakan (sense of
discrimination) dan keinginan untuk hidup. Untuk dapat hidup, ia
membutuhkan sesuatu. Alat untuk memenuhi kebutuhan itu bersumber
dari lingkungan.
2. Hakikat Budaya
Budaya berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai
hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa
Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere,
yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah
tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai
"kultur" dalam bahasa Indonesia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki
bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke
generasi. Budaya terbentuk dari berbagai unsur,
diantaranya sistem agama dan politik, adat istiadat dan bahasa,
perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Budaya adalah suatu pola
hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak
aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-
budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-
anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan
menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-
anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan
pertalian dengan hidup mereka. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk
mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya
meramalkan perilaku orang lain. Selain itu terdapat tiga wujud kebudayaan
yaitu :
a. Wujud pikiran, gagasan, ide-ide, norma-norma, peraturan,dan
sebagainya. Wujud pertama dari kebudayaan ini bersifat abstrak,

2
berada dalam pikiran masing-masing anggota masyarakat di tempat
kebudayaan itu hidup.
b. Aktifitas kelakuan berpola manusia dalam masyarakat. Sistem sosial
terdiri atas aktifitas-aktifitas manusia yang saling berinteraksi,
berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain setiap saat dan selalu
mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat kelakuan. Sistem sosial
ini bersifat nyata atau konkret.
c. Wujud fisik, merupakan seluruh total hasil fisik dari aktifitas
perbuatan dan karya manusia dalam masyarakat.
C. Apresiasi Kemanusiaan dan Kebudayaan
1. Perwujudan Kebudayaan
Kebudayaan merupakan sistem pengetahuan yang meliputi sistem
ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia. Atas dasar itu,
dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan bersifat abstrak. Sedangkan
perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang di ciptakan oleh
manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-
benda yang bersifat nyata. J.J. Hoeningman membagi wujud kebudayaan
menjadi tiga yaitu :
a. Gagasan (wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk
kumpulan ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainya yang
sifatnya abstrak tidak dapat di raba atau di sentuh.
b. Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan
berpola dari manusia dalam masyarakat itu.
c. Afertak (karya)
Wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas,
perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-
benda atau hal-hal yang dapat di raba, di lihat dan di dokumentasikan.
Wujud budaya berdasarkan penggolongan di atas dapat
mengelompokkan budaya menjadi dua, yaitu: Budaya yang bersifat
abstrak dan budaya yang bersifat konkret.
a. Budaya yang Bersifat Abstrak
Budaya yang bersifat abstrak ini letaknya ada di dalam alam
pikiran manusia, misalnya terwujud dalam ide, gagasan, nilai-nilai,
norma-norma, peraturan-peraturan, dan cita-cita. Jadi budaya yang

3
bersifat abstrak adalah wujud ideal dari kebudayaan. Ideal artinya
sesuatu yang menjadi cita-cita atau harapan bagi manusia sesuai dengan
ukuran yang telah menjadi kesepakatan.
b. Budaya yang Bersifat konkret
Wujud budaya yang bersifat konkret berpola dari tindakan atau
peraturan dan aktivitas manusia di dalam masyarakat yang dapat diraba,
dilihat, diamati, disimpan atau diphoto.
Koencaraningrat menyebutkan sifat budaya dengan sistem sosial
dan fisik, yang terdiri atas: perilaku, bahasa dan materi.
a. Perilaku
Perilaku adalah cara bertindak atau bertingkah laku dalam
situasi tertentu. Setiap perilaku manusia dalam masyarakat harus
mengikuti pola-pola perilaku (pattern of behavior) masyarakatnya.
b. Bahasa
Bahasa adalah sebuah sistem simbol-simbol yang dibunyikan
dengan suara (vokal) dan ditangkap dengan telinga (auditory). Ralp
Linton mengatakan salah satu sebab paling penting dalam
memperlambangkan budaya sampai mencapai ke tingkat seperti
sekarang ini adalah pemakaian bahasa. Bahasa berfungsi sebagai alat
berpikir dan berkomunikasi. Tanpa kemampuan berpikir dan
berkomunikasi budaya tidak akan ada.

c. Materi
Budaya materi adalah hasil dari aktivitas atau perbuatan
manusia. Bentuk materi misalnya pakaian, perumahan, kesenian, alat-
alat rumah tangga, senjata, alat produksi, dan alat transportasi.
Unsur-unsur materi dalam budaya dapat diklasifikasikan dari yang
kecil hingga ke yang besar adalah sebagai berikut:
a. Items, adalah unsur yang paling kecil dalam budaya.
b. Trait, merupakan gabungan dari beberapa unsur terkecil
c. Kompleks budaya, gabungan dari beberapa items dan trait
d. Aktivitas budaya, merupakan gabungan dari beberapa kompleks
budaya.
2. Substansi Utama Budaya

4
Substansi utama budaya adalah sistem pengetahuan, pandangan
hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos kebudayaan. Tiga unsur yang
terpenting adalah sistem pengetahuan, nilai, dan pandangan hidup.
a. Sistem Pengetahuan
Para ahli menyadari bahwa masing-masing suku bangsa di
dunia memiliki sistem pengetahuan tentang: Alam sekitar, Alam flora
dan fauna, Zat-zat manusia, Sifat-sifat dan tingkah laku sesama
manusia, Ruang dan waktu. Unsur-usur dalam pengetahuan inilah yang
sebenarnya menjadi materi pokok dalam dunia pendidikan di seluruh
dunia.
b. Nilai
Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia untuk
menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk dijadikan
pertimbangan dalam mengambil keputusan. Keputusan nilai dapat
menentukan sesuatu berguna atau tidak berguna, benar atau salah, baik
atau buruk, religius atau sekuler, sehubungan dengan cipta, rasa dan
karsa manusia.
Sesuatu dikatakan mempunyai nilai apabila berguna dan
berharga (nilai kebenaran), indah (nilai estetis), baik (nilai moral atau
etis), religius (nilai agama). Notonagoro membagi nilai menjadi tiga
bagian yaitu:
1) Nilai material, yaitu segala sesuatu (materi) yang berguna bagi
manusia.
2) Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk
dapat mengadakan kegiatan dan aktivitas.
3) Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang bisa berguna bagi
rohani manusia.
c. Pandangan Hidup
Pandangan hidup adalah suatu nilai-nilai yang dianut oleh suatu
masyarakat dan dipilih secara selektif oleh individu, kelompok atau
suatu bangsa. Pandangan hidup suatu bangsa adalah kristalisasi nilai-
nilai yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri, yang diyakini
kebenarannya, dan menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk
mewujudkannya.
D. Etika dan Estetika Budaya

5
Faktor terpenting untuk membangun pemahaman suatu ilmu secara
utuh adalah dengan mencari asal-usul, alasan, dan segala hal terkait dengan
perkembangan ilmu tersebut. Begitu juga dengan istilah-istilah yang muncul
berkaitan dengan definisi suatu cabang keilmuan tertentu yang harus ada
kesimpulan yang membawa alasan mengapa istilah itu dimunculkan. Dengan
mengetahui perkembangan istilah tersebut setiap orang mampu memahami
hal yang dimaksudkan istilah tersebut secara menyeluruh,bukan hanya
mengartikannya secara sembarang atau berpendapat menggunakan istilah
tersebut semaunya sendiri. Meskipun istilah tersebut mengalami perubahan
makna harus diterangkan bagaimana proses perubahan istilah tersebut terjadi
dikaitkan dengan berbagai aspek terutama tentang etika dan estetika.
Etika berasal dari kata Yunani yaitu Ethos. Secara etimologis etika
adalah ajaran tentang baik buruk. Etika sama artinya dengan moral (mores
dalam bahasa latin) yang berbicara tentang peredikat nilai susila,atau tidak
susila,baik dan buruk. Bertens menyebutkan ada tiga jenis makna etika yaitu :
1. Etika dalam nilai-nilai atau norma untuk pegangan seseorang atau
kelompok orang dalam mengatur tingkah laku.
2. Etika dalam kumpulan asas atau moral (dalam arti lain kode etik)
3. Etika dalam arti ilmu atau ajaran tentang baik dan buruk artinya daalam
filsafat moral.
Estetika dapat diartikan sebagai teori tentang keindahan. Keindahan
dapat diartikan beberapa hal yaitu :
1. Secaara luas yaitu mengandung ide yang baik yang meliputi watak
indah,hukum yang indah,ilmu yang indah,dan lain sebagainya.
2. Secara sempit yaitu indahn yang terbatas pada lingkup persepsi
penglihatan (bentuk dan warna).
3. Secara estetik murni yaitu menyangkut pengalaman yang berhubungan
dengan penglihatan,pendengaran dan etika
Etika (kesusilaaan) lahir karena kesadaraan akan adannya naluri-
solidaritas sejenis pada makhluk hidup untuk melestarikan
kehidupannya,kemudian pada manusia etika ini menjadi kesadaran sosial
,memberi rasa tanggungjawab dan bila terpenuhi akan menjelma menjadi rasa
bahagia. Pada manusia yang bermasyarakat etika ini berfungsi untuk
mempertahankan kehidupan kelompok dan individu. Pada awalnya Etika

6
dikenal pada sekelompok manusia yang sudah memiliki peradaban lebih
tinggi. Terdapat proses indrawi yang diperoleh secara visual dan
akustik(instrumental). Kedua proses tersebut mengambil peran tambahan
melakukan fungsi-fungsi yang jauh lebih tinggi,bukan hanya melakukan
fungsi vital , tetapi telah melibatkan proses-proses yang terjadi dalam budi
dan intelektualitas dan lebih bertujuan untuk memberi pengetahuan dan
kebahagiaan jasmani dan ruhani. Etika pada pada perkembangannya terbagi
atas usaha untuk melakukan perbuatan baik dan usaha untuk keindahan
sehingga menimbulkan rasa senang terhadap suatu kebaikan.Sedangkan
Estetika sendiri merupakan pemisahan dari pengertian Etika yang
mengkhususkan pada usaha untuk keindahan saja.
Istilah Estetika dipopulerkan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten
(1714 - 1762) melalui beberapa uraian yang berkembang menjadi ilmu
tentang keindahan. Baumgarten menggunakan istilah estetika untuk
membedakan antara pengetahuan intelektual dan pengetahuan
indrawi. Dengan melihat bahwa istilah estetika baru muncul pada abad 18,
maka pemahaman tentang keindahan sendiri harus dibedakan dengan
pengertian estetik. Jika sebuah bentuk mencapai nilai yang betul, maka
bentuk tersebut dapat dinilai estetis, sedangkan pada bentuk yang melebihi
nilai betul, hingga mencapai nilai baik penuh arti, maka bentuk tersebut
dinilai sebagai indah. Dalam pengertian tersebut, maka sesuatu yang estetis
belum tentu (indah) dalam arti sesungguhnya, sedangkan sesuatu yang indah
pasti estetis.
Puncak awal perkembangan estetika sebagai salah satu bidang
falsafah yang penting tampak pada pemikiran Immanuel Kant (1724-1784)
Semenjak Kant, pengetahuan tentang keindahan atau pengalaman estetika
tidak dapat ditempatkan di bawah payung logika atau etika, namun istilah
estetika tetap dipertahankan. Namun hal yang perlu ditinjau adalah sebelum
Estetika didefinisikan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten (1714 - 1762) dan
dipopulerkan Immanuel Kant (1724-1784) pada kebudayaan Yunani telah
mengenal paham-paham keindahan melalui pemikiran Plato (427-347 SM).

7
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa ada beberapa sudut pandang
dan sikap manusia terhadap keindahan. Pada masa Yunani, kemudian pada
abad pertengahan, keindahan ditetapkan sebagai bagian dari teologi. Pada
abad pertengahan di Barat, tekanan diletakan pada subjek, proses yang terjadi
ketika seseorang mendapatkan pengalaman keindahan. Pada jaman modern,
tekanan justru diletakkan pada obyek, sehingga tampak bahwa estetika
dipertimbangkan sebagai dari cabang dari sains, khususnya filsafat dan
psikologi. Perkembangan sudut pandang dan sikap manusia terhadap
keindahan pada jaman modern inilah yang sekarang melanda budaya bangsa
Indonesia. Hal-hal apapun yang berkaitan dengan keindahan atau estetika
selalu dikaitkan dengan kebebasan berekspresi dan hak setiap individu.
E. Konsep-Konsep Dasar Manusia
1. Manusia sebagai Makhluk Biologis
Fase- fase tumbuh kembang manusia sejak janin hingga lahir
hingga proyeksi perkembangan setelah kelahiran. Fase- fase tersebut
mencakup pembuahan, zygot, dan janin. Pada saat janin terbentuk, maka
pada saat yang sama Allah memberikan Ruh ke dalam jasad biologis
tersebut yang ketika telah bersatu timbulah potensi fsikologis manusia
(nafs/insan) serta proyeksi kehidupan pascanatalis.
2. Manusia sebagai Makhluk Berbudaya
Manusia adalah mahluk budaya. Ini artinya manusia adalah
mahluk yang berkemampuan menciptakan kebaikan, kebenaran, keadilan
dan bertanggung jawab. Sebagai mahluk berbudaya, manusia
mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan baik bagi
dirinya maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan hidupnya. Sebagai
catatan bahwa dengan pikirannya manusia mendapatkan ilmu
pengetahuan. Dengan kehendaknya manusia mengarahkan perilakunya
dan dengan perasaannya manusia dapat mencapai kebahagiaan.
Tujuan dari pemahaman bahwa manusia sebagai mahluk budaya,
agar dapat dijadikan dasar pengetahuan dalam mempertimbangkan dan
mensikapi berbagai problematika budaya yang berkembang di masyarakat
sehingga manusia tidak semata-mata merupakan mahluk biologis saja
namun juga sebagai mahluk social, ekonomi, politik dan mahluk budaya.

8
3. Manusia dan cinta kasih
Cinta adalah rasa sangat suka atau sayang (kepada) ataupun rasa
sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih, artinya
perasaan sayang atau cinta (kepada) atau sangat menaruh belas kasihan.
Dengan demikian cinta kasih dapat diatikan sebagai perasaan suka
(sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas
kasihan.Terdapat perbedaan antara cinta dan kasih, cinta lebih
mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam sedangkan kasih
merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, mengarah kepada
yang dicintai. Setiap manusia pasti memiliki rasa cinta, karena manusia
diciptakan sempurna bisa berfikir, memiliki akal budi, dan saling
membutuhkan. Manusia yang lahir dilengkapi dengan rasa cinta. Entah itu
cinta pada diri sendiri, benda atau pun orang lain.
4. Manusia dan keadilan
Keadilan adalah pengakuan yang seimbang antara hak dan
kewajiban. Pengakuan atas hak hidup individu harus diimbangi melalui
kerja keras tanpa merugikan pihak lain, karena orang lain punya hak
hidup seperti. Jadi harus memberi kesempatan pada orang lain untuk
mempertahankan hidupnya. Prinsipnya keadilan terletak pada
keseimbangan atau keharmonisan antara menuntut hak dan menjalankan
kewajiban. Tindakan-tindakan yang menuntut hak dan lupa pada
kewajiban merupakan pemerasan. Sedangkan tindakan yang hanya
menjalankan kewajiban tanpa menuntut hak berakibat pada mudah
diperbudak atau dipengaruhi orang lain.
Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu
adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan
kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan
menjalankan kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan
bila seseorang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang
memperoleh bagisn yang sama dari kekayaan bersama.
5. Manusia dan pandangan hidup
Setiap manusia pasti mempunyai pandangan hidup walau
bagaimanapun bentuknya. Bagaiman memperlakukan pandangan hidup

9
itu tergantung pada orang yang bersangkutan. Ada yang memperlakukan
pandangan hidup itu sebagai sarana mencapai tujuan dan ada pula yang
memperlakukan ebagai penimbul kesejahteraan, ketentraman dan
sebagainya.
6. Manusia dan keindahan
Keindahan adalah suatu susunan keserasian yang dapat
menciptakan kesenangan bagi penglihatan dan pendengaran. Kehalusan
merupakan sikap yang lembut dalam menghadapi orang lain. Lembut
dalam mengucapkan kata-kata, lembut dalam sikap anggota badan. Sikap
halus dan lembut merupakan cermin hati yang tulus serta cinta kasih
terhadap sesama.
F. Problematika Kebudayaan
Kebudayaan yang diciptakan manusia dalam kelompok dan wilayah
yang berbeda-beda menghasilkan keragaman kebudayaan. Tiap persekutuan
hidup manusia (masyarakat, suku, atau bangsa) memiliki kebudayaannya
sendiri yang berbeda dengan kebudayaan kelompok lain. Kebudayaan yang
dimiliki sekelompok manusia membentuk ciri dan menjadi pembeda dengan
kelompok lain. Dengan demikian, kebudayaan merupakan identitas dari
persekutuan hidup manusia.
Dalam rangka pemenuhan hidupnya manusia akan berinteraksi dengan
manusia lain, masyarakat berhubungan dengan masyarakat lain, demikian
pula terjadi hubungan antar persekutuan hidup manusia dari waktu ke waktu
dan terus berlangsung sepanjang kehidupan manusia. Kebudayaan yang ada
ikut pula mengalami dinamika seiring dengan dinamika pergaulan hidup
manusia sebagai pemilik kebudayaan. Berkaitan dengan hal tersebut manusia
mengenal adanya pewarisan kebudayaan, perubahan kebudayaan, dan
penyebaran kebudayaan.
1. Pewarisan Kebudayaan
Pewarisan kebudayaan adalah proses pemindahan, penerus,
pemilikan, dan pemakaian kebudayaan dari generasi ke generasi secara
kesinambungan .Pewarisan budaya bersifat vertikal artinya budaya

10
diwariskan dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya untuk
digunakan,dan selanjutnya diteruskan kepada generasi yang akan datang.
Pewarisan kebudayaan dapat dilakukan melalui enkulturasi dan
sosialisasi. Enkulturasi atau pembudayaan adalah proses mempelajari dan
menyesuaikan pikiran dan sikap individu dengan sistem norma, adat dan
peraturan hidup dalam kebudayaannya. Proses enkulturasi dimulai sejak
dini,yaitu masa kanak-kanak, bermula dari lingkungan keluarga,teman-
teman sepermainan, dan masyarakat luas.sosialisasi atau proses
pemasyarakatan adalah individu menyesuaikan diri dengan individu lain
dalam masyarakat.
2. Perubahan Kebudayaan
Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi sebagai
akibat adanya ketidaksesuaian diantara unsur-unsur budaya yang saling
berbeda sehingga terjadi keadaan yang fungsinya tidak serasi bagi
kehidupan.Perubahan kebudayaan mencakup banyak aspek, baik bentuk,
sifat perubahan, dampak perubahan, dan mekanisme yang
dilaluinya.Perubahan kebudayaan didalamnya mencakup perkembangan
kebudayaan.
Perubahan kebudayaan yang terjadi bisa memunculkan masalah,
antara lain perubahan akan merugikan manusia jika perubahan itu
bersifat regress (kemunduran) bukan progress (kemajuan), perubahan
bisa berdampak buruk atau menjadi bencana jika dilakukan melalui
revolusi, berlangsung cepat, dan diluar kendali manusia.
3. Penyebaran kebudayaan
Penyebaran kebudayaan atau difusi adalah proses menyebarnya
unsur-unsur kebudayaan dari suatu kelompok ke kelompok lain atau
suatu masyarakat ke masyarakat lain. Kebudayaan kelompok masyarakat
di suatu wilayah bisa menyebar ke masyarakat lain, Misalnya,
kebudayaan dari masyarakat Barat (Negara-negara Eropa) masuk dan
memengaruhi kebudayaan Timur (bangsa Asia dan Afrika). Globalisasi
budaya bisa dikatakan pula sebagai penyebaran suatu kebudayaan secara
meluas.

11
Arnold J. Toynbee merumuskan beberapa pandangannya tentang
radiasi budaya sebagai berikut. Pertama, aspek atau unsur budaya selalu
masuk tidak secara keseluruhan, melainkan individual.Kebudayaan Barat
yang masuk ke dunia Timur pada abad ke-19 tidak masuk secara
keseluruhan. Dunia Timur tidak mengambil budaya Barat secara
keseluruhan, tetapi unsur tertentu yaitu teknologi. Teknologi merupakan
unsur yang paling mudah diserap.Industrialisasi di Negara-negara Timur
merupakan pengaruh dari kebudayaan Barat. Kedua, kekuatan menembus
suatu budaya berbanding terbalik dengan nilainya. Makin tinggi dan
dalam aspek budayanya, makin sulit untuk diterima. Ketiga, jika satu
unsur budaya masuk maka akan menarik unsur yang lain. Unsur
teknologi asing yang diadopsi akan membawa masuk pula nilai budaya
asing melalui orang-orang asing yang bekerja di industri teknologi
tersebut. Keempat, aspek atau unsur budaya yang di tanah asalnya tidak
berbahaya, bisa menjadi berbahaya bagi masyarakat yang didatangi.
Dalam hal ini, Toynee memberikan contoh nasionalisme. Nasionalisme
sebagai hasil evolusi sosial budaya dan menjadi sebab tumbuhnya
negara-negara nasional di Eropa abad ke-19 justru memecah belah sistem
kenegaraan di dunia Timur seperti kesultanan dan kekhalifaan di Timur
Tengah.
Penyebaran kebudayaan (difusi) bisa menimbulkan masalah.
Masyarakat penerima akan kehilangan nilai-nilai budaya lokal sebagai
akibat kuatnya budaya asing yang masuk. Contoh globalisasi budaya
yang bersumber dari kebudayaan Barat pada era sekarang ini adalah
masuknya nilai-nilai budaya global yang dapat memberi dampak negatif
bagi perilaku sebagian masyarakat Indonesia.Misalnya, pola hidup
konsumtif, hedonisme, pragmatis, dan individualistik. Akibatnya, nilai
budaya bangsa seperti rasa kebersamaan dan kekeluargaan lambat laun
bisa hilang dari masyarakat Indonesia. Pada dasarnya, difusi merupakan
bentuk kontak antarkebudayaan. Selain difusi, kontak kebudayaan dapat
pula berupa akulturasi dan asimilasi.Akulturasi berarti pertemuan antara

12
dua kebudayaan atau lebih yang berbeda. Akulturasi merupakan kontak
antar kebudayaan, namun masing-masing masih memperlihatkan unsur-
unsur budayanya. Asimilasi berarti peleburan antar kebudayaan yang
bertemu. Asimilasi terjadi karena proses yang berlangsung lama dan
intensif antara mereka yang berlainan latar belakang ras, suku, bangsa,
dan kebudayaan. Pada umumnya, asimilasi menghasilkan kebudayaan
baru.
G. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa manusia
dan budaya merupakan dua dimensi yang saling terkait antara satu sama lain.
Pada tataran ini dapat dikatakan setiap kelompok manusia memiliki
kebudayaanya. Oleh manusia, kebudayaan seringkali dijadikan standar etika
dan estetika yang berlaku dalam masyarakatnya. Selain itu, dalam kehidupan
manusia terdapat begitu banyak problematika terkait dengan kebudayaan.
Namun pada dasarnya problematika tersebut akan dapat diminimalisir jika
pemahaman masyarakat tentang multikulturlisme dan etika sosial telah
mapan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Herimanto dkk, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008)

Rosita, Manusia sebagai Mahluk Budaya dalam Dimensi sosial, (Bandung:


Remaja Rosdakarta, 2011)

http://azenismail.wordpress.com/2010/05/14/hakekat-manusia-sebagai-mahluk-
budaya

http://ardymadrid.blogspot.com/2012/03/hakekat-manusia-sebagai-makhluk-
budaya.html

http://nadeujusume.blogspot.com/2012/05/urgensi-pemahaman-etika-dan-
estetika.html

http://maysjida-noerdin.blogspot.com/2012/06/makalah-isbd-apresiasi-
kemanusiaan-dan.html

14