Anda di halaman 1dari 10

A.

Pendahuluan
Setiap manusia dilahirkan setara, meskipun dengan keragaman
identitas yang disandang. Kesetaraan merupakan hal yang inheren
yang dimiliki manusia sejak lahir. Setiap individu memiliki hak-hak
dasar yang sama yang melekat pada dirinya sejak dilahirkan atau yang
disebut dengan hak asasi manusia. Kesetaraan dalam derajat
kemanusiaan dapat terwujud dalam praktik nyata dengan adanya
pranata-pranata sosial, terutama pranata hukum, yang merupakan
mekanisme kontrol yang secara ketat dan adil mendukung dan
mendorong terwujudnya prinsip-prinsip kesetaraan dalam kehidupan
nyata.
Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh
kebudayaan Indonesia yang telah ada sebelum terbentuknya negara
Indonesia pada tahun 1945. Keberagaman menjamin kehormatan
antarmanusia di atas perbedaan, dari seluruh prinsip ilmu pengetahuan
yang berkembang di dunia, baik ilmu ekonomi, politik, hukum, dan
sosial. Pancasila yang digali dan dirumuskan para pendiri bangsa ini
adalah sebuah rasionalitas yang telah teruji. Pancasila adalah
rasionalitas sebagai sebuah bangsa yang majemuk, yang multi agama,
multi bahasa, multi budaya, dan multi ras yang bernama Indonesia.
B. Hakikat Keragaman dan Kesetaraan Manusia
Keragaman berasal dari kata ragam. Keragaman menunjukkan
adanya banyak macam, banyak jenis. Keragaman manusia
dimaksudkan bahwa setiap manusia memiliki perbedaan. Perbedaan itu
ada karena manusia adalah makhluk individu yang setiap individu
memiliki ciri-ciri khas tersendiri. Perbedaan itu terutama ditinjau dari
sifat-sifat pribadi, misalnya sikap, watak, kelakuan, temperamen, dan
hasrat.
Keragaman merupakan sebuah realitas sosial. Selain makhluk
individu, manusia juga makhluk sosial yang membentuk kelompok
persekutuan hidup. Tiap kelompok persekutuan hidup juga beragam.
Masyarakat sebagai persekutuan hidup itu berbeda dan beragam karena
ada perbedaan, misalnya dalam ras, suku, agama. Hal-hal demikian

1
dikatakan sebagai unsur-unsur yang membentuk keragaman dalam
masyarakat. Keragaman individual maupun sosial adalah implikasi
dari kedudukan manusia,baik sebagai makhluk individu dan makhluk
sosial.
Kesetaraan berasal dari kata setara atau sederajat. Kesetaraan
atau kesederajatan menunjukkan adanya tingkatan yang sama,
kedudukan yang sama, tidak lebih tinggi atau tidak lebih rendah antara
satu sama lain. Kesetaraan manusia dapat dimknai bahwa manusia
sebagai makhluk Tuhan memiliki tingkat atau kedudukan yang sama.
Semua manusia diciptakan dengan kedudukan yang sama, yaitu
sebagai makhluk mulia dan tinggi derajatnya dibanding makhluk lain.
Di hadapan Tuhan, semua manusia sama derajatnya,kedudukan atau
tingkatannya. Yang membedakan adalah tingkat ketakwaan manusia
tersebut terhadap Tuhan.
Kesetaraan atau kesederajatan tidak sekedar bermakna adanya
persamaan kedudukan manusia. Kesederajatan adalah suatu sikap
mengakui adanya persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan
kewajiban sebagai sesama manusia. Martin Buber menjelaskan pada
pendekatan saya-engkau bahwa manusia menjadi memahami
identitasnya ketika berhadapan dengan Tuhan sebagai engkau, bahwa
manusia itu lemah dihadapan tuhan. Dengan kata lain, keberadaan
manusia satu dengan yang lain menjadi setara, karena mereka adalah
sama-sama ciptaan Tuhan. Mestinya pada tataran ini hubungan
manusia dengan Tuhan yang mampu menjadi sumber dan kerangka
membangun hubungan antar manusia.
Penjelasaan diatas secara pada dasarnya menunjukkan bahwa
manusia pada hakekatnya adalah sama dan sederajat, oleh karena itu
keragaman yang ada mestinya tidak dijadikan alasan untuk terjadinya
konflik. Perbedaan secara fisik tidak dapat menjadi dasar atau
legitimasi bagi munculnya tindakan yang bertujuan meniadakan
keberadaan orang lain, sebab dengan bertindak meniadakan atau

2
menghancurkaan orang lain, sebetulnya pada saat yang sama sedang
terjadi pengingkaran terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk yang
juga berharga. Justru keragaman itu menjadi penanda bahwa
seharusnya dalam kehidupan bersama satu sama lain bisa saling
melengkapi.
C. Kemajemukan dalam Dinamika Sosial Budaya
Keragaman atau kemajemukan dalam masyarakat selalu
membawa perubahan dan perkembangan atau dinamika sehingga
masyarakat menjadi dinamis. Kemajemukan dalam masyarakat
dibedakan ke dalam dua hal yang saling berkaitan, yaitu:
1. Kemajemukan sosial
Kemajemukan sosial, berkaitan dengan relasi antar orang
atau antar kelompok dalam masyarakat. Misalnya perbedaan jenis
kelamin, asal usul keluarga atau kesukuan, perbedaan ideolog i atau
wawasan berpikir, perbedaan kepemilikan barang-barang atau
pendapatan ekonomi. Kemajemukan social dapat dibedakan dalam
tiga hal penting :
a. Perbedaan Gender dan Seksualitas
Gender merupakan kerangka social yang diciptakan
manusia untuk membedakan laki-laki dan dan perempuan.
Kerangka social ini tidak dibangun secara ilmiah tetapi
dibangun berdasarkan prasangka yang berkembang dalam
masyarakat, misalnya perempuan selalu diidentikkan dengan
manusia yang lemah dan cengeng, oleh karenanya wajar jika
perempuan tidak diperbolehkan menjadi pemimpin dalam
masyarakat. Padahal, tidak selalu setiap perempuan adalah
seperti yang dibuat dalam kerangka gender tersebut. Sementara
itu seksualitas adalah pembeda karena jenis kelamin. Karena
perbedaan seks bersifat kodrati, maka yang bisa melahirkan dan
menyusui hanyalah perempuan.
b. Perbedaan Etnisitas, Kesukuan dan Asal Usul Keluarga
Dalam masyarakat kuno nama seseorang kadang
menunjukkan derajat kebangsawanan mereka. Tetapi

3
masyarakat modern sekarang ini tidak lagi mengaitkan nama
dengan nama desa asal, tapi tergantung dari keluarga masing-
masing pemilik nama. Sekarang banyak orang mengambil nama
dari suku lain, bahkan bangsa lain yang tidak punya ikatan sama
sekali. Terlepas dari perubahan apapun yang terjadi, etnisitas,
kesukuan, dan asal-usul keluarga merupakan cirri pembeda
seseorang, kendatipun kemurniannya mulai menipis lantaran
frekuensi perkawinan campur antar antarsuku mulai meningkat.
c. Perbedaan Ekonomi
Perbedaan ini paling mudah dilihat, yang dalam
terminologi marxisme tampak sebagai perbedaan kelas so sial
(golongan kaya-miskin), yang sering menimbulkan ketegangan
dan konflik antar golongan.
2. Kemajemukan Budaya
Kemajemukan budaya, berkaitan dengan kebiasaan-
kebiasaan dalam menjalani hidup. Misalnya: cara memandang dan
menyelesaikan persoalan, cara beribadah, perbedaan dalam
menerapkan pola pengelolan keluarga; atau singkatnya dapat
disebutkan bagaimana seseorang memandang dunia, masyarakat
dan kehidupan di dalamnya.
Keragaman merupakan keniscayaan dalam kehidupan di
masyarakat. Keragaman merupakan salah satu realitas utama yang
dialami masyarakat dan kebudayaan di masa silam, kini dan di
waktu-waktu mendatang sebagai fakta, keragaman sering disikapi
secara berbeda. Di satu sisi diterima sebagai fakta yang dapat
memperkaya kehidupan bersama, tetapi di sisi lain dianggap
sebagai faktor penyulit. Kemajemukan bisa mendatangkan manfaat
yang besar, namun bisa juga menjadi pemicu konflik yang dapat
merugikan masyarakat sendiri jika tidak dikelola dengan baik.
Keragaman budaya erat kaitannya dengan kebiasaan-
kebiasaan dalam menjalani hidup semisalnya cara menjalani hidup,
cara memandang dan menyelesaikan persoalan, cara beribadah
sebagai ekspresi keyakinan kepada tuhan, cara memandang dunia,

4
masyarakat beserta kehidupan di dalamnya. Misalnya hingga sat ini
masih ada orang yang percaya dan memilih dukun untuk mengatasi
masalah kesehatan, bukannya mencari dokter. Demikian pula dalam
hal mendidik anak dalam keluarga. Ada yang menekankan bahwa
berselisih pendapat dengan orang lain itu dianggap tidak sopan
dan mengggangu ketentraman. Karena itu, ada keluarga yang
mendidik untuk tidak membantah orang lain. Keluarga ini ketika
mendapat seorang aak kecil berdepat dengan orang tuanya merasa
bahwa anak tersebut tidak sopan, kurang pendidikan, bahkan nakal
dan kuarang ajar. Hal ini menimbulkan persoalan bagi keluarga
yang tidak menekankan pendidikan bahwa anak harus penurut.
Keragaman budaya juga menjadi persoalan ketika
dihubungkan dengan perbedaan sosial. Pada tataran ini munculah
pandangan stereotip yaitu pandangan tentang sekelompok orang
yang didefinisikan karakternya kedalam grup. Pandangan tersebut
bisa bersifat positif atau negatif. Sebagai contoh, suatu bangsa
dapat distereotipkan sebagai bangsa yang ramah atau tidak ramah.
D. Keragaman dan Kesetaraan Sebagai Kekayaan Sosial Budaya
Masyarakat indonesia adalah masyarakat yang multikultur
artinya memiliki banyak budaya. Kemajemukan bangsa diantaranya
dilatarbelakangi adanya kemajemukan etnik, disebut juga suku bangsa.
Beragamnya etnik di indonesia menyebabkan banyak ragam budaya,
tradisi, kepercayaan, dan pranata kebudayaan lainnya karena setiap
etnis pada dasarnya menghasilkan kebudayaan.
Etnik atau suku merupakan identitas sosial budaya seseorang.
Artinya identifikasi seseorang dapat dikenali dari bahasa, tradisi,
budaya, kepercayaan, dan pranata yang dijalaninya yan bersumber dari
etnik dari mana asalnya. Namun dalam perkembangan berikutnya,
identitas sosial budaya seseorang tidak semata-mata ditentukan dari
etniknya. Identitas seseorang mungkin ditentukan dari golongan
ekonomi, status sosial, tingkat pendidikan, profesi yang digelutinya,

5
dan lain-lain. Identitas etnik lama-kelamaan bisa hilang, misalnya
karena adanya perkawinan campur dan mobilitas yang tinggi.
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural. Plural
artinya jamak, banyak ragam, atau majemuk. Kemajemukan
masyarakat Indonesia adalah suatu kenyataan atau fakta yang mesti
diterima sebagai kekayaan sosial budaya bangsa. Kesadaran akan
kemajemukan bangsa tersebut sesungguhnya sudah tercermin dengan
baik melalui semboyan bangsa, yaitu Bhineka Tunggal Ika. Bhineka
artinya aneka, berbeda-beda, banyak ragam. Tunggal Ika menunjukkan
semangat akan perlunya persatuan dari keanekaragaman tersebut.
Bhineka adalah kenyataan (das sein) sedangkan Ika adalah keinginan
(das sollen).
Secara yuridis maupun politis, segala warga negara memiliki
persamaan kedudukan, baik dalam bidang politik, hokum,
pemerintahan, ekonomi, dan sosial. Negara tidak boleh membeda-
bedakan kedudukan warga negara tersebut terutama dalam hal
kesempatan. Kesempatan yang sama bagi semua warga negara tersebut
dalam berbagai bidang kehidupan berlaku tanpa membedakan unsur-
unsur primodial dari warga negara itu sendiri.
Pengakuan akan prinsip kesetaraan dan kesederajatan itu secara
yuridis diakui dan dijamin oleh Negara melalui UUD 1945. Warga
Negara tanpa dilihat perbedaan ras, suku, agama dan budayanya
diperlakukan sama dan memiliki kedudukan yang sama dalam hukum
dan pemerintahan. Hal ini dinyatakan dalam Pasal 27 ayat 1 UUD
1945.
Persamaan di bidang politik misalnya memperoleh kesempatan
sama untuk warga Negara memilih dan dipilih,berkesempatan untuk
berpartisipasi dalam kehidupan politik Negara. Persamaan di depan
hukum atau equality before of law mengharuskan setiap warga Negara
diperlakukan sama dan adil. Prinsip persamaan warga negara di depan
hukum atau equality before of law adalah jaminan atas harkat dan

6
martabatnya sebagai manusia. Hukum bertujuan untuk menegakkan
keadilan dan ketertiban. Persamaan di bidang ekonomi adalah setiap
warga negara mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan
kesejahteraan ekonomi.Warga negara yang kurang mampu, negara
wajib memberikan bantuan agar bisa hidup sejahtera. Demokrasi
ekonomi mengharapakan distribusi yang adil dalam hal pendapatan
dan kekayaan. Persamaan di bidang social budaya itu meliputi bidang
agama, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, seni. Persamaan warga
negara di bidang sosial budaya berarti warga negara memiliki
kesempatan, hak dari pemerintah. Negara tidak membeda-bedakan
kelas sosial, status sosial, ras, suku, dan agama dalam memberikan
pelayanan.
E. Problematika Keragaman dan Kesetaraan
Keragaman masyarakat adalah kekayaan dari bangsa. Van De
Berghe menjelaskan bahwa masyarakat majemuk atau masyarakat yang
beragam selalu memiliki sifat-sifat dasar sebagai berikut :
1. Terjadinya segmentasi ke dalam kelompok yang sering kali
memiliki kebudayaan yang berbeda.
2. Memiliki struktur social yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-
lembaga yang bersifat non-komplementer.
3. Kurang mengembangkan consensus diantara para anggota
masyarakat tentang nilai-nilai sosial yang bersifa dasar.
4. Rawan terjadi konflik diantara kelompok yang satu dengan yang
lain.
5. Tumbuh integrasi social dan saling ketergantungan di dalam bidang
ekonomi.
6. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok
yang lain.
Keragaman budaya daerah memang memperkaya khazanah
budaya dan menjadi modal yang berharga untuk membangun Indonesia
yang multikultural. Tetapi, kondisi aneka budaya itu sangat berpotensi
memecah belah dan menjadi lahan subur bagi konflik dan
kecemburuan sosial. Konflik atau pertentangan sebenarnya terdiri atas
dua fase, yaitu fase disharmoni dan fase disintegrasi. Disharmoni

7
menunjuk pada adanya perbedaan tentang tujuan, nilai, norma, dan
tindakan antarkelompok. Disintegrasi merupakan fase dimana sudah
tidak dapat lagi disatukan pandangan, nilai, norma, dan tindakan
kelompok yang menyebabkan pertentangan antar kelompok.
Upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan pemahaman
antarbudaya dan masyarakat ini adalah sedapat mungkin dihilangkan
penyakit-penyakit budaya. Penyakit budaya tersebut adalah
etnosentrisme stereotip, prasangka, rasisme, diskriminasi, dan scape
goating. Etnosentrisme atau sikap etnosentris diartikan sebagai suatu
kecenderungan yang melihat nilai atu norma kebudayaan sendiri
sebagai suatu yang mutlak sereta menggunakannya sebagai tolok ukur
kebudayaan lain. Etnosentrisme adalah kecenderungan untuk
menetapkan semua norma dan nilai budaya orang lain dengan standar
budayanya sendiri.
Stereotip adalah pemberian tertentu terhadap seseorang
berdasarkan kategori yang bersifat subjektif. Pemberian sifat itu bisa
positif maupun negatif. Allan G Johnson menegaskan bahwa stereotip
adalah keyakinan seseorang untuk menggeneralisasikan sifat-sifat
tertentu yang cenderung negatif tentang orang lain karena dipengaruhi
oelh pengetahuan dan pengalaman tertentu. Keyakinan ini
menimbulkan penilaian yang cenderung negatif atau bahkan
merendahkan kelompok lain. Yang termasuk problematika yang perlu
diatasi adalah stereotip yang negatif atau memandang rendah
kelompok lain. Konsep stereotip ini dalam bentuk lain disebut stigma
atau cacat. Stigmatisasi oleh sekelompok orang kepada kelompok lain
cenderung negatif.
Upaya memperkecil masalah yang diakibatkan oleh pengaruh
negatif dari keragaman dapat juga dilakukan dengan :
1. Semangat religious
2. Semangat nasionalisme
3. Semangat pluralism
4. Semangat humanisme
5. Dialaog antar umat beragama

8
6. Membangun suatu pola komunikasi untuk interaksi maupun
konfigurasi hubungan antaragama, media massa, dan harmonisasi
dunia.
F. Simpulan
Sebagai individu yang menjalani hidup di tengah masyarakat,
fungsi dan peran manusia dalam membentuk identitas diri dan
masyarakatnya, yaitu responsivity dan responsibility. Melalui dua
fungsi tersebut akan terjadi pengembangan kreativitas sosial budaya
dan pembangunan keadilan sosial budaya. Keragaman disatu sisi dapat
menyebabkan dampak negatif, namun jika keragaman tersebut
ditangani dengan baik berdasarkan asas kesetaraan maka akan
melahirkan suatu tatanan kehidupan masyarakat yang dinamis dan
maju.

9
DAFTAR PUSTAKA

Elly M. Setiadi dkk, Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar, (Jakarta: Prenada Media
Group, 2005)
Giri Wiloso dkk, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, (Salatiga: Widya Sari, 2010)
Winarno, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008)
http://iqbalpersada.blogspot.com/2013/03/hakikat-keragaman-dan-kesetaraan.html
http://novitascorpiogirl.blogspot.co.id/

10