Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

Memasuki abad ke-18 umat Islam dihadapkan pada berbagai persoalan yang
sungguh menyakitkan. Pada saat umat Islam kesulitan menemukna sosok yang mempunyai
kekuatan untuk bangkit kembali menemukan jati diri, maka persoalan ini semakin
mengkristal, sehingga membawanya ke lembah kemunduran. Wajar jika banyak orang
yang memandang bahwa abad ini sebagai abad kegelapan sejarah Islam. Gambaran ini
berpangkal pada banyaknya perpecahan yang terjadi dalam pemerintahan serta
kemerosotan secara umum di dunia Islam. Kondisi ini diperparah lagi dengan semakin
kuatnya kekuasaan kolonial barat pada abad ke-19 M. yang cukup melemahkan bahkan
menghilangkan kekuasaan Islam. Ketika kesadaran orang Islam mulai tergugah, secara
sistematis mereka membangun gerakan yang mampu memudarkan kendali-kendali barat
yang mengikat.
Mesir adalah salah satu kancah perjuangan tempat pejuang Islam merapatkan barisan
dalam mengejar ketertinggalan dan membendung berbagai pengaruh yang datang
menghantam. Di kawasan ini pula banyak tokoh pembaharu terlahir yang sampai saat ini
pengaruhnya masih berbekas khususnya di dunia Islam, tak terkecuali di Indonesia. Pada
saat yang sama muncul pula berbagai ide yang mencita-citakan kembalinya umat Islam
yang sebenarnya. Mesir, atas dasar ini dipandang menempati garda terdepan dalam
perkembangan politik, sosial, intelektual, dan keagamaan di dunia Arab dan dunia Islam
yang lebih luas.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Muhammad Ali Pasha


1. Biografi Muhammad Ali Pasya
Muhammad Ali atau lebih dikenal dengan Muhammad Ali Pasya dilahirkan pada
bulan Januari 1765 M, di Kawalla, sebuah kota yang terletak dibagaian utara Yunani dan
meninggal di Mesir pada tahun 1849. Negeri inti telah menjadi bagaian Negara Turki
Utsmani sejak ditaklukkannya oleh Sultan Muhammad II Al-fatih (855/1451-886/1481)
pada tahun 857/1453 dan baru dapat melepaskan diri dari kekuasaan Istanbul pada tahun
1245/1829.1 Ayah Muhammad Ali Pasyah bernama Ibrahim Agha, seorang imigran Turki,
kelahiran Yunani. Ia mempunyai 17 orang putera dan salah seorang diantaranya bernama
Muhammad Ali Pasya. Pekerjaan ayahnya disamping sebagai penjual rokok juga sebagai
kepala petugas juga (watchman) pada sebuah kota didaerahnya.
Pada awal keahadiran Muhammad Ali pasya di Mesir, hubungannya berjalan dengan
mudah menyesuaikan diri dengna masyarakatnya. Hampir setiap masalah yang muncul
dapat diselesaikan, karena ia dikenal sebagai perwira yang luwes dan mempunyai
wawasan masa depan. Tetapi ketika ia mulai menerapakan ide-idenya, maka mulailah
muncul tantangan dari penduduk Mesir terutama dari kaum ulama.2 Namun karena
kearifannya, Muhammad Ali Pasya dapat meredam setiap reaksi yang muncul sehingga
dalam waktu singkat ia dapat mewujudkan program pembaharuannya dalam berbagai
bidang antara lain bidang militer, ekonomi, pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Pertama bidang militer, seperti halnya dengan raja-raja lainnya, Muhammad Ali
Pasya pertama-tama melakukan rekontruksi terhadap kekuatan militernya, karena ia yakin
bahwa kekuasaan hanya dapat dipertahankan dan diperbesar dengan kekutan militer.3
Tetapi berlainan dengan raja-raja lain, ia mengerti bahwa dibelakang kekuatan militer itu
mesti ada kekuatan ekonomi yang sanggup membelanjai pembaharuan dalam bidang
militer dan bidang-bidang lain yang berhubungan dengan urusan militer.

1
Abd Mukti, Pembaharuan lembaga Pendidikan Di Mesir (Bandung : Citapustaka Media Perintis,
2008), h. 26
2
Nur Wahyudin, Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam, (Medan: IAIN SU, 2000), h. 10
3
Ibid, h. 11

2
Pendudukan Mesir oleh Napoleon dengan kemenangan perang yang amat cepat telah
membuka mata Muahmmad Ali Pasya tentang kelemahan umat Islam. Untuk melawan
Napoleon Bonaparte yang telah menguasai Mesir, sultan Hamid III (1789-1807)
mengumpulkan tentara. Salah seorang perwiranya ialah Muhammad Ali Pasya.
Setelah ia dewasa ia bekerja sebagai pemungut pajak, namun karena kecakapannya
dalam pekerjaan ini, ia menjadi kesayangan Gubernur Utsamani setempat. Akhirnya ia
diangkat sebagai orang yang membantu Gubernur tersebut dan mulai dari waktu itu
bintangnya terus menaik. Selanjutnya ia masuk dunia militer dan dalam lapangan ini juga
menujukkan kecakapan dan kesanggupannya, sehingga pangkatnya cepat naik menjadi
perwira. Ketika pergi ke-Mesir ia mempunyai kedudukan wakil perwira yang mengepalai
pasukan yang dikirim dari daerahnya.
Dalam pertempuran dengan tentara Perancis, Ali menujukkan keberanian yang luar
biasa. Karena itu, ia diangkat menjadi colonel. Ketika tentara Perancis meninggalkan
Mesir pada tahun 1801. Muhammad Ali betul-betul menjadi penguasa penuh Mesir. Ia
menjadi wakil resmi sultan (Kerajaan Utsmani) di Mesir. Ia menjalankan kekuasaan
sebagai dictator. Pada tahun 1805, ia memberinya gelar Pasya pada dirinya sendiri.
Muhammad Ali Pasya mengetahui bahwa kekuasaannya hanya dapat dipertahankan
dengan kekuasaan militer. Di belakang kekuatan militer itu harus harus ada kekuatan
ekonomi. Inilah dua pemikiran pokok Muhammad Ali Pasya. Muahmmad Ali Pasya turut
memainkan peranan penting dalam kekosongan kekuasaan politik yang timbul sebagai
akibat dari kepergian tentara waktu itu. Kaum Mamluk yang dahulu lari dikejar Napoleon
kembali ke Kairo untuk memegang kekuasaan mereka yang lama. Dari Istanbul datang
pula Pasya dengan tentara Utsmani. Kedua golongn ini berusaha keras untuk merbut
kekuasaan bagi pihaknya. Simpati rakyat Mesir menaruh rasa benci kepada kaum Mamluk
dapat diperolehnya. Pasukan dipimpinnya bukan terdiri dari orang-orang turki, tetapi dari
orang-orang Albania. Kedua unsur ini memperkuat kedudukannya untuk memasuki
pertarungan merebut kekuasaan.
Setelah memasuki puncak kekuasaan di Mesir Muahmmad Ali Pasya pun mulai
memusnahkan pihak-pihak yang mungkin akan menentang kekuasaannya, terutama kaum
Mamluk. Kesempatan timbul ketika yang tersebut belakangan ini berusaha untuk
membunuh Muhammad Ali, tetapi konspirasi mereka ketahuan, pimpinan-pimpinannya

3
ditangkap dan dibunuh. Muhammad Ali Pasya bersikap seolah-olah mengampuni yang
lain, dan suatu ketika mengundang mereka berpesta di Istananya di bukit Mukattam.
Setelah mereka semua masuk, pintu-pintu yang membawa ke daerah Istana dikunci
dan sebelum pesta selesai ia diberi tanda untuk menyembelih mereka semuanya. Menurut
cerita dari 470 kaum Mamluk, hanya seorang yang dapat melepaskan diri dengan
melompat dari pagar istana kejurang yang ada di bukit Makattam itu, kaum Mamluk yang
ada diluar Kairo kemudian diburu, mana yang dapat dibunuh dan sebahagian kecil dapat
melarikan diri ke Sudan. Pada akhir tahun 1811, kekuatan kaum Mamluk di Mesir telah
habis.4
Aspek lain yang menarik dari kebijakan Muhammad Ali Pasya adalah pengiriman
mahasiswa-mahasiswa Mesir ke Italia, Perancis, Inggris dan Austria untuk mempelajari
berbagai bidang kajian modern. Setelah kembali mereka diminta untuk menterjemahkan
karya-karya teknis diberbagai bidang. Muhammad Ali Pasya mendirikan penerbitan untuk
menyebarluaskan ilmu-ilmu baru ini. Meski pada mulanya ia bermaksud membatasi skop
kegiatan para mahasiswa ini hanya pada skil-skil yang akan mendukung kekuasaannya,
dalam kenyataannya tidaklah demikian. Para mahasiswa yang dikirim ke Eropa ini pada
gilirannya membawa kembali ide-ide baru, kemungkinan besar, lebih banyak dari yang
semula ia kehendaki.

2. Pembaharuan Muhammad Ali Pasya


Muhammad Ali Pasya (1765-1849) perlu deberi sedikit catatan. Meskipun
sebenarnya lebih tepat disebut sebagai tokoh sejarah politik, akan tetapi beberapa
kebijakkan yang diambilnya untuk tujuan politik pribadinya ternyata berkaitan dengan
timbulnya pembaharuan pemikiran di Timur Tengah khususnya di Mesir. Kepiawaiannya
memanfaatkan situasi membuat Muhammad Ali naik ke tampuk kekuasaan. Pada tahun
1805 ia berhasil memantapkan kedudukannya sebagai penguasa, diakui oleh sultan di
Istanbul dan diterima oleh rakyat Mesir.5
Sebagai kepala pemerintahan karir Muhammad ali pasya, sangat menonjol pada
permulaan dasawarsa kedua dari abad ke-19 ia sebagai negarawan dan politikus cukup
berpengaruh di afrika Utara dan dunia arab. Pada tahun 1228/1813 ia mengirimkan dari

4
Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran Dan Gerakan (Jakarta: Bulan
Bintang, 1975), h. 35
5
Hasan, Asari, Modernisasi Islam, (Bandung: Citapustaka Media, 2002), h. 56

4
Mesir satu ekspedisi atas permintaan Sultan Utsmani ketika itu, dan ekspedisi ini dapat
membebaskan kota Mekkah dan Madinah dalam tahun itu juga.
Muhammad Ali Pasya mengetahui bahwa kekuasaanya hanya dapat diperthankan
dengan kekuatan militer. Dibelakang militer itu harus ada kekuatan ekonomi. Inilah dua
pemikiran pokok Muhammad Ali Pasya.6 Untuk memperkuat perekonomian ia
memperbaiki irigasi lama, membuat irigasi baru, penanaman kapas, mendatangkan ahli
dari eropa dan membuka sekolah pertanian pada tahun 1863.7Tanah kaum Mamluk
dirampas pemerintah, begitu pula dengan tanah orang-orang kaya di Mesir. Muhammad
Ali Pasya menganggap bila tanah rakyat sudah dikuasi, akan terjadi pengelolaan tunggal
pertanian yang merupakan tulang punggung pertanian Mesir saat itu. Muhammad Ali
Pasya ingin memonopoli perdagangan di negerinya.
Untuk memperkuat militer, ia tidak segan-segan mendatangkan tenaga-tenaga dari
Perancis. Tak lama kemudian terbentuklah Nizam-ijedid yang merupakan model baru
angkatan bersenjata Muhammad Ali Pasya. Hal yang menghebohkan diantaranya
merampas kejayaan para penguasa Mesir dan memanfaatkan harta kaum Mamluk yang
sudah dilakukannya. Kejayaan inilah yang dijadikannya model untuk membiayaai sector
pertanian, sistem irigasipun diterapkannya, dengan begitu suplai bibit kapas dari India, dan
Sudan yang didatangkannya besar-besaran. Tenaga ahli pertanian dari luar negeri juga
didatangkan untuk memperlicin industri-industri modern di Mesir.
Kendati buta huruf, perhatiannya terhadap dunia pendidikan sungguh sangat besar,
ini terbukti dengan didirikannya kementrian pendidikan pada tahun 1815, yang
sebelumnya tidak dikenal. Beberapa sekolah modern seperti sekolah militer tahun 1815,
sekolah teknik 1816, sekolah kedokteran 1827, sekolah apoteker 1829, sekolah
pertambangan 1834, sekolah pertama 1836, sekolah penerjemahan 1836.
Kurikulum-kurikulum pendidikan dirombak dan beberapa mata pelajaran
menyesuaikan diri sesuai kebutuhan saat itu. Beberapa tambahan mata pelajaran umum
tadinya tidak dirumuskan termasuk mempelajari secara insentif bahasa Eropa menjadi
kewajiban disekolah-sekolah menengah dimaksud. Begitu juga spesialisasi keahlian
dibidang-bidang terapan mengalami penekanan yang makin penting.

6
Taufik, Abdullah, dkk, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Dinamika Masa Kini. (Jakarta: PT. Ichtiar
Baru Van Hoeve, 2002), h. 397
7
Ibid.

5
Langkah-langkah Muhammad Ali Pasya tesebut sangat baru bagi rakyat Mesir tentu
saja mereka menyambut dengan gembira. Apalagi banyak pemuda cerdik dan pandai
banyak yang dikirim ke barat dalam usaha mempelajari bahasa eropa dan metode
penerjemahan. Muhammad Ali Pasya melakukan perbaikan dan pembaharuan di bidang
militer dan ekonomi. Yang menarik adalah kesadarannya akan superioritas Eropa dibidang
teknologi militer dan yang lainnya serta kesiapannya untuk mengambil manfaat dari
Eropa. Setelah menghancurkan militer Mamluk ia membangun kembali militer modern,
mencakup angkatan darat dan laut. Dalam hal ini ia memanfaatkan tenaga-tanga militer
Perancis sebagai pelatih.8
Pada tahun 1812 tanah wakaf dijadikan milik Negara, orang-orang yang dahulunya
deberi hak untuk menguasai tanah, kini berstatus penyewa tanah-tanah Negara.
Perdagangan luar negeri dimonopoli oleh Negara. Kemudian tahun 1815 semua hasil
kapas dan bahan-bahan pakaian dikuasai oleh Negara., selanjutanya hasil biji-bijian dan
hasil tambang juga berada dibawah penguasaan Negara.9
Muhmamad Ali Pasya tampaknya berusaha untuk merebut seluruh hasil
perekonomian Negara, meskipun harus mengorbankan sistem kendali modal dari para
pemilik tanah dan kaum modalis berstatus penduduk pribumi. Kebijaksanaan yang
dijalankan Muhammad Ali Pasya dalam rangka meningkatkan perekonomian di Mesir
pada tahun-tahun pertama memang mendapat protes dari kaum pribumi, akan tetapi
Muhammad Ali juga menyadari bahwa konsekuensi logis dari kemajuan suatu bangsa
adalah adanya kesedihan rakyatnya untuk menyerahkan sebagaian hasil miliknya kepada
Negara.
Para pelajar dan sarjana yang selesai tugas belajarnya disuruh kembalai untuk
mengabdikan ilmunya. Disnilah titik awal sejarah modern secara nyata bagi rakyat Mesir.
Ilmu pengetahuan modern pun telah mempengaruhi pola intelektual dan sikap ilmiah
generasi muda Mesir, mereka selain bekerja sebagai birokrat, pendidik ada yang secara
langsung menjadi arsitek bagi modernisasi Mesir dibawah pemerintahan Muhammad Ali
Pasya.
Usaha-usaha pembaharuan perekonomian yang diterapkan oleh Muhammad Ali di
Mesir meskipun mendapat kecaman pada awalnya, bahkan sebagaian usaha perekonomian

8
Hasan, Asari, Modernisasi Islam, .h. 57
9
Nur Wahyudin, Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam, .h.13

6
dianggap tidak berhasil, namun secara umum sistem perekonomiannya memberikan
kontribusi yang besar bagi kemajuan bangsa Mesir terutama dalam masa-masa selanjutnya.
Pembaharuan yang dilkukan oleh Muhammad Ali dibidang pendidikan yang mana,
sebelumnya telah diuraikan, banyak didirikannya sekolah-sekolah bagi rakyatnya, boleh
dikatakan serupa inilah barulah kali ini didirikan didunia Islam, sekolah-sekolah yang jauh
berlainan dengan sekolah-sekolah tradisional hanya mengjaarkan agama. Ada tiga hal yang
terpenting yang dihadapi saat itu, yakni soalguru, soal mahasiswa dan soal buku.
Untuk mengatasi persoalan guru, Ali mengirimkan mahasiswa-mahasiswa keluar
Mesir, murid-murid dibujuk dengan pemberian gaji yang menarik. Mereka diberi program
pelajaran yang intensif yang jauh berlainan dari program di sekolah-sekolah tradisional
(madrasah). Buku-buku yang dipakai disekolah Eropa diterjemahkan kedalam bahasa
Arab, oleh penerjemah yang pandai dalam bahasa Asing, dan yang bekerja di Dewan
Muhammad Ali, oleh pegawai dan departemen-departemen dan oleh mahasiswa yang
sedang belajar di Eropa.
Tentunya cara yang dipakai ini membawa hasil yang kurang memuaskan karena
penerjemah-penerjemah bukanlah ahli dalam ilmu-ilmu yang terkandung dalam buku-buku
yang perlu diterjemahkan itu hasil penerjemahan tidak sempurna dankarena penerjemahan
terkadang adalah pekerjaan sambilan, penerjemahan berjalan dengan lambat. Dalam
hubungan ini ada diceritakan bahwa sekumpulan mahasiswa yang baru selesai dari
studinya dan kembali dari Eropa, semuanya dikunci dalam suatu benteng didekat Istana
Muhammad Ali, dan diberikan buku-buku untuk diterjemahkan dalam bahasa Perancis ke
dalam bahasa Arab.10
Selain itu di Paris didirikan satu rumah Mesir untuk menampung para pelajar yang
datang untuk belajar, dan para pelajar yang dikirim tersebut diarahkan untuk menekuni
ilmu-ilmu kemiliteran darat dan laut, arsitek, kedokteran, dan obata-obatan. Pada fase-fase
inilah Muhammad Ali Pasya semakin dikenal sebagai pembaharu di Mesir, orang yang
tadinya menyangsikan keberadaannya di Mesir kembali dari Eropa dan sebaliknya orang-
orang Eropa yang sengaja datang ke Mesir berangsur-angsur kembali ke Negara mereka,
kemudian diganti dengan tenaga baru sesuai dengan kebutuhan pembangunan yang
semakin pesat.

10
Hasan, Asari, Modernisasi Islam, .h. 38-39

7
Ide-ide modernisme Muhammad Ali Pasya pun mengalir deras yang diwujudkannya
dalam program-program fisik yang sangat berarti bagi Mesir. Cakrawala Negara-negara
maju Eropa juga dikenal, padahal selam ini masih asing bagi mereka. Walaupun Ali telah
meletakkan dasar-dasar pembaharuan di Mesir, namun apa yang dilakukannya tersebut
masih bersifat fisik dan belum banyak menyentuh secara vital terhadap sumber-sumber
penting dalam Islam.
Sebagai tokoh pembaharuan Muahmmad Ali pasya mengadakan pembaharuan dalam
masyarakat Mesir dengan memodernisasikan dibidang pertanian, perdagangan,
perindustrian, militer, pendidikan, dan publikasi. Dalam bidang publikasi, Muhammad Ali
menertibkan sebuah surat kabar yang bernama al-waqaI al-mishriyat ditahun 1244/1828.
Surat kabar ini baru memuat pengetahuan-pengetahuan tentang kemajuan-kemajuan barat
setelah berada dibawah pimpinan al-thahtawi.11
Dari kegiatan yang dimulai Muhammad Ali inilah lahir generasi pertama inteligensi
Mesir modern. Dan pada dekade 1830-an generasi awal ini telah mulai berperan dalam
sejarah Mesir. Berbagai disiplin ilmu dikembangkan untuk mendukung pembangunan dan
kemajuan Mesir, seperti peningkatan mutu dalam bidang kedokteran, ilmu pasti, ilmu
fisika, dan ilmu sastra. Asimilasi dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan semakin
meluas sehingga Muhammad Ali Pasyasemakin tersohor, bukan hanya di belahan dunia
juga sampai melintasi benua-benua lainnya.

B. Al-Tahtawi
1. Biografi Al-Tahtawi
Al-Tahtawi memiliki nama lengkap Rifah Badawi Rafi Al-Tahtawi, beliau lahir
pada tahun 1801 di Tahta, suatu kota yang terletak di Mesir bagian selatan, dan meninggal
di Kairo pada tahun 1873. Ketika berumur 16 tahun, ia pergi ke Kairo untuk belajar di Al-
Azhar. Selama lima tahun menurut ilmu ia selesai dari studinya di Al-Azhar pada tahun
1822.
Beliau merupakan murid kesayangan dari gurunya yaitu syaikh Hassan al-Attar
yang mempunyai hubungan dengan ahli-ahli ilmu pengetahuan prancis yang datang
dengan Napoleon ke Mesir. Syaikh Al-Attar melihat bahwa Al-Tahtawi adalah seorang
pelajar yang sungguh-sungguh dan tajam pikirannya, dan oleh karena itu ia selalu

11
Abd Mukti, Pembaharuan lembaga Pendidikan Di Mesir . h. 34-35

8
memberikan dorongan kepadanya untuk senantiasa menambah ilmu pengetahuan. Pada
tahun 1824 beliau diangkat menjadi imam tentara. Dua tahun kemudian beliau dikirim ke
prancis menjadi imam mahasiswa-mahasiswayang di kirim oleh Muhammad Ali ke
prancis. Di samping tugasnya sebagai imam ia turut pula belajar. Imam-imam lainya
kurang mempergunakan kesempatan itu untuk menambah ilmu pengetahuan mereka.12
Al-Tahtawi pun segera belajar bahasa prancis sewaktu dalam perjalanan ke paris.
Dalam waktu singkat ia menguasai bahasa itu, dan selama lima tahun beliau berada di
Paris beliau menerjemahkan 12 bukudan risala, diantara risalah tentang Alexander
Macedonia, buku megenai pertambangan, mengenai Akhlak dan adat istiadat berbagai
bangsa, buku mengenai ilmu bumi, risalah mengenai ilmu tekhnik, risalah mengenai hak-
hak manusia, risalah tentang kesehatan jasmani dan sebagainya. Buku-buku yang dibaca
Al-Tahtawi mencangkup berbgai lapangan ilmu pengetahuan.13

2. Pembaharuan Al-Tahtawi
Sekembalinya di Kairo beliau di angakt menjadi guru bahasa prancis dan penerjemah
di sekolah kedokteran. Disini beliau membimbing penerjemahan buku-bukuilmu
kedokteran. Duatahun kemudian beliau pindah ke sekolah altileri untuk mengepalai
penerjemahan buku tentang ilmu tekhnik dan kemiliteran.
Di tahun 1836 pemerintah mendirikan sekolah penerjemah yang kemudian berganti
nma menjadi sekolah bahasa asing yang dimana beliau di nobatkan sebagai pemimpin
sekolah tersebut yang mengajar kan bahasa arab, prancis, turki, persi, itali dan juga
terjemah.14
Tidak hanya itu, setelah kembali dari prancis beliau banyak memberikan pemikiran-
pemikiran baru dalam segala bidang yaitu: ekonomi, pemerintahan, pendidikan,
kesejahteraan, pemikiran, dan juga rasa cinta terhadap negara.
a. Bidang Ekonomi
Dalam bukunya manahijul-albab al-Misriyyah, fi mana hijil adab al-Asriyyah: beliau
menerangkan bahwa betapa pentingnya kemajuan ekonomi bagi kemajuan suatu negara.
Menurut pendapatnya masyarakat kesejahteraan yang dimaksud adalah kesejahteraan
seperti yang beliau lihat di Eropa. Dan menurut beliau kesejahteraan akan dicapai

12
Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan.. h. 34
13
Ibid.
14
Ibid, h. 36

9
dengan tiga cara: berpegang teguh pada agama, berbudi pekerti baik, dan kemajuan
ekonomi. Sedangkan ekonomi mesir sendiri bergantung pada pertanian, ia memuji
usaha yang di jalankan Muhammad Ali dalam lapangan ini. Dalam memajukan
ekonomi ini, kesejahteraan dunia akan tercapai. Hal ini adalah baru, karena tradisi
dalam islam tidak mementingkan hidup di dunia.15
Beliau juga mengeluarkan beberapa ide yang disebut dalam buku Takhlisul-ibriz
fi Talkhisi Bariz ada dua aspek yang harus di perhatikan:
1. Aspek pertanian: orang Mesir terdahulu terkenal kaya hanya tergantung tanah Mesir
yang baik dan subur. Oleh karen itu perlunya peningkatan perbaikan bidang
pertanian misalnya penanaman pohon kapas, Naila Anggur, zaitun, pemeliharaan
lebah, ulat sutra, dan hal-hal yang berkaitan dengan pertanian misalnya pupuk
tanaman, irigasi yang cukup, sarana pengangkutan.
2. Aspek transportasi: perbaikan jalan yang menghubungkan dari satu daerah ke daerah
lain, demikian juga jembatan dan pemasangan alat telekomunikasi untuk
memepermudah hubungan.
Kedua hala tersebut yang beliau lihat dari eropa agar ekonomi dimesir dapat
berkembang dengan baik.
b. Bidang Pemerintahan
Menurut pendapat Al-Tahtawi masyarakat suatu negara tersusun dari empat
golongan: Raja, kaum Ulama dan Ahli-ahli, Tentara dan Kaum Produsen. Dua golongan
pertama adalah golongan yang memerintah dan menjalankan kesejahteraan suatu negara
sedangkan dua golongan yang lain adalah golongan rakyat yang harus patuh dan setia
kepada pemerintahan.
Oleh sebab itu antar orang yang dan yang diperintah harus ada hubungan yang
baik. Orang-orang pemerintahan dan administrasi harus mempunyai pendidikan yang
baik dan sesuai untuk tugasnya. Seorang kepala kampung pun harus terlebih dahulu
dididik dan dilatih sebelum ia menempati kedudukannya sebagai kepala kampung.16
c. Bidang Pendidikan
Al-Tahtawi semasa hidupnya banyak waktu yang dihabiskan untuk mengejar, dan
mengatur pendidikan, dia menemukan ide-ide mengenai pendidikan dalam buku yang

15
Ibid, h. 38
16
Ibid, h. 39

10
ditulisnya. Dia menyatakan, bahwa pendidikan itu harus ada kaitanya dengan masalah-
masalah masyarakat dan lingkungan.17
Dan dalam bukunya Al-Mursyidul-Amin lil Banati wal Banin, beliau
menjelaskan bahwa, pendidikan dasar mesti bersifat universal dan sama bentuknya
untuk segala golongan. Pendidikan menengah mesti mempunyai kualitas tinggi. Anak-
anak perempuan mesti memperoleh pendidikan yang sama dengan anak laki-laki. Kaum
ibu harus mempunyai pendidikan, gar dapat menjadi istri yang baik dan dapat menjadi
teman suami dalam kehidupan intlektual dan sosial dan bukan hany a menjadi istri yang
dapat memenuhi kebutuhan jasmani keluarganya juga agar dapat bekerja seperti laki-
laki dalam batas-batas kesanggupan dan pembawa mereka, selanjutnya agar mereka
dapat melepas kekosongan waktu di rumah dan dari kebiasaan mengobrol dengn
tetangga. Menurut Al-Tahtawi orang yang mengatakan bahwa menyekolahkan anak
wanita adalah makruh, mereka lupa bahwa istri Nabi, Hafsah dan aisyah, pandai
membaca dan menulis.18
d. Patriotisme
Menurut Al-Tahtawi pendidikan bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan,
tetapi juga membentuk rasa kepribadian dan menanamkan hubb al-watan (rasa
patriotisme). Patriotisme adalah dasar yang kuat untuk mendorong orang mendirikan
suatu masyarakat yang mempunyai peradaban. Al-Tahtawi adalah orang mesir yang
pertama kali menganjurkan patriotisme. Kata-kata watan dan hubb al-watan kelihatan
selalu di pakai oleh Al-Tahtawi dalam buku kedua dan ketiga. Dalam kewajiban
seseorang terhadap tanah airnya termasuk mengadakan persatuan, tunduk kepada
undang-undang dan sedia mengorbankan harta dan diri. Diantara hak-hak yang
terpenting bagi seorang warga negara ialah kemerdekaan, karena kemerdekaanlah yang
dapat mewujudkan masyarakat yang sejati dan patriotisme yang kokoh.19
e. Ijtihad Dan Pengetahuan Modern
At-Tahtawi berpendapat bahwa kaum ulama harus mengetahui Ilmu-ilmu
moderen agar mereka dapat menyesuaikan syariat dengan kebutuhan-kebutuhan
modern. Ini mengandung arti bahwa ijtihad yang tertutup pintunya semenjak abad ke-11
M, bagi Al-Tahtawi dalah tebuka, tetapi beliau belum berani mengungkapkan secara

17
Ibid.
18
Ibid.
19
Ibid, h. 40

11
terang-terangan. Karena masyarakat islam belum bisa menerima pendapat pada masa
itu karena di anggap telalu radikal. Akan tetapi dalam bukunya Al-Qaul as-Sadid fil-
Ijtihadi Wat-Taqlid beliau hanya menerangkan syarat-syarat dan rupa-rupa ijtihad yang
ada dalam islam, ijtihad mutlak, ijtihad dalam madzhab, ijtihad dalam fatwa. Tetapi
bagaimanapun, penjelasan-penjelasan Al-Tahtawi ini menarik perhatian orang pada
ijtihad, dan akhirnya membawa pada pendapat bahwa pintu ijtihad adalah terbuka dan
bukan tertutup.20

20
Ibid.

12
BAB III
KESIMPULAN

Dalam melakukan pembaharauan Muhammad Ali Pasya, banyak melakukan


pembaharuan, diantaranya dibidang pendidikan, militer, ekonomi, pertanian, perdagangan,
dan publikasi hamper disegala aspek pemerintahan. Muhammad Ali Pasya adalah seorang
pemimpin yang mampu melakukan perbaikan-perbaikan dan pembaharuan diberbagai
bidang. Hal inilah yang membuat masyarakat Mesir mengagumi dan menyenanginya.
Muhammad Ali Pasya sebagai tokoh pembaharuan memiliki pola piker yang maju,
sehingga membawa Mesir pada tingkat perkembangan yang begitu pesat, gagasan-gagasan
modernisasinya tersebut megalir deras dan dapat diterima oleh kalangan masyarakat Mesir.
Namun, apa yang dilakukannya tersebut masih belum sepenuhnya yang selanjutnya akan
dilanjutkan oleh keturunan-keturunan Mesir lainnya.
Rifah Badawi Rafi Al-Tahtawi adalah pembawa pemikiran yang besar pengarunya
dipertengahan pertama abad ke-19 M di Mesir. Salah satu jalan untuk kesejahteraan
menurut Al-Tahtawi adalah berpegang pada agama dan budi pekerti yang baik. Tujuan
pendidikan bukan hanya mengajarkan Ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk
rasa kepribadian dan untuk menanamkan rasa patriotisme. Patriotisme adalah dasar yang
kuat untuk mendorong orang mendirikan suatu masyarakat yang mempunyai peradaban
yang lebih baik lagi. Beliau juga berpendapat bahwa pendidikan adalah suatu yang
universal. Semua kalangan harun mendapat pendidikan yang merata baik laki-laki maupun
perempuan. Selain itu beliau juga membawa pemikiran-pemikiran yang modern ke Mesir.
Dengan keinginan menjadikan mesir menjadi negeri yang labih baik lagi.

13
DAFTAR PUSTAKA

Abd Mukti, Pembaharuan lembaga Pendidikan Di Mesir Bandung : Citapustaka Media


Perintis, 2008
Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran Dan Gerakan Jakarta:
Bulan Bintang, 1975
Hasan, Asari, Modernisasi Islam, Bandung: Citapustaka Media, 2002
Nur Wahyudin, Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam, Medan: IAIN SU,
2000
Taufik, Abdullah, dkk, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Dinamika Masa Kini. Jakarta:
PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002

14