Anda di halaman 1dari 3

BAB V

PEMBAHASAN

Kegiatan Ekskursi Geologi Regional (EGR) 2016 yang telah dilakukan di


daerah Bolaang Mongondow dan Bolaang Mongondow Utara sangat menarik
karena kami menemukan banyak variasi litologi dari kelompok batuan yang
berbeda pada peta geologi lembar Kotamobagu 1 : 250000 sehingga dapat
memahami kondisi geologi secara regional khususnya pada bagian utara dari peta
geologi lembar Kotamobagu 1 : 250000.

Berdasarkan data-data lapangan yang telah diambil dan dilakukan suatu


analisa geologi dari data tersebut, maka ditemukannya 8 jenis batuan yang ada
serta mempunyai karakteristik dan hubungan yang berbeda antar batuan. Pada
stasiun satu terdapat singkapan perselingan batulempung dan serpih yang
mempunyai kontak sesar geser menganan dengan singkapan breksi piroklastik.
Dari ciri-ciri litologinya paling sesuai, perselingan batulempung dan serpih dapat
disebandingkan dengan formasi Tinombo fasies sedimen yang berumur Eosen
sampai Oligosen Awal diendapkan pada lingkungan laut dalam sedangkan breksi
piroklastik dapat disebandingkan dengan formasi batuan gunungapi Bilungala
yang berumur Miosen Awal sampai Miosen Akhir (Apandi dan Bachri, 1997).

Litologi yang ada pada stasiun dua yaitu batulempung dan lava basalt,
hubungan antar kedua batuan ini belum diketahui secara jelas di lapangan namun
adanya struktur geologi yang kompleks mengindikasikan bahwa hubungan kedua
batuan berada pada kondisi tektonik. Batulempung ini dapat disebandingkan
dengan formasi Tinombo fasies sedimen yang berumur Eosen sampai Oligosen
Awal diendapkan pada lingkungan laut dalam dan lava basalt dapat
disebandingkan dengan formasi Tinombo fasies gunungapi yang berumur Eosen,
serta mempunyai hubungan menjemari dengan formasi Tinombo fasies sedimen.
Pada stasiun tiga dapat ditemui litologi di lapangan basalt berupa sill yang
menerobos batuan sedimen perselingan batupasir dan batulempung, diduga batuan
ini berasal dari formasi Tinombo fasies sedimen yang berumur Eosen sampai

1
Oligosen Awal diendapkan pada lingkungan yang sama dengan batuan sedimen
pada stasiun sebelumnya (Apandi dan Bachri, 1997).

Pada stasiun empat terdapat lava bantal andesit yang memperlihatkan


struktur berhubungan dengan aliran yang diakibatkan oleh pergerakan lava akibat
interaksi dengan lingkungan air, di mana bagian atas terlihat cembung dan bagian
bawah cekung sehingga keadaan singkapan ini belum terdeformasi (terbalik),
terlihat juga pada singkapan kekar radial yang merupakan karakteristik kekar
akibat pendinginan yang cepat pada lava bantal. Bentuknya seperti bantal tidak
hanya cukup kontak dengan air saja akan tetapi membutuhkan tekanan yang tinggi
sehingga lava yang keluar berbentuk seperti bantal. Pada umumnya lava bantal
terbentuk pada jalur rekahan lantai samudra atau MOR (Mid Oceanic Ridge). Hal
ini dapat dijadikan salah satu data bahwa dahulunya lingkungan tersebut
merupakan lingkungan laut dalam yang berasosiasi dengan batuan sedimen laut
dalam pada stasiun sebelumnya, batuan ini dengan disebandingkan dengan
formasi Tinombo fasies gunungapi yang berumur Eosen (Apandi dan Bachri,
1997).

Selain itu juga terdapat batupasir wacke di stasiun lima dengan struktur
sedimen yang terlihat berupa berupa parlam dan konvolut sehingga ketika
batupasir ini diendapkan dipengaruhi oleh slope dan gaya gravitasi dan
diinterpretasikan batuan ini diendapkan dengan mekanisme arus turbidit pada
suatu cekungan lau dalam. Batuan ini dapat disebandingkan dengan formasi
Tapadaka berumur Miosen Awal sampai Miosen Akhir (Apandi dan Bachri, 1997).
Stasiun terakhir terdapat batupasir kuarsa yang berdasarkan karakteristiknya,
diendapkan pada lingkungan pantai atau lingkungan kerak yang relatif stabil
sehingga batupasir kuarsa ini dapat disebandingkan dengan formasi Tinombo
fasies sedimen yang berumur Eosen sampai Oligosen Awal (Apandi dan Bachri,
1997).

Mekanisme pembentukan struktur geologi berupa lipatan-lipatan kecil, sesar


dan rekahan pada batuan di hampir setiap stasiun dipengaruhi oleh gaya berasal

2
dari arah Timur-Barat yang berkaitan dengan terjadinya tunjaman Sangihe di Laut
Maluku yang sekaligus merubah orientasi sistem tegasan di Bagian Tengah
Lengan Utara Sulawesi pada Pleistosen (Bachri, 2011). Selain itu, dapat
diinterpretasikan juga bahwa sesar yang dapat diamati di lapangan terbentuk
bersamaan atau sesudah terjadinya deformasi yang menyebabkan kemiringan
lapisan batuan yang sudah tidak horisontal.