Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ir. Soekarno merupakan sosok yang jasanya tidak bisa dilupakan begitu saja
dalam membangun negeri ini. Peranan besar yang telah dilakukan oleh beliau, terutama
dalam hal memerdekakan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan akan selalu
terpatri sebagai jasa-jasa yang tidak akan tergerus selamanya oleh masa. Memang, jika
kita amati sosok Bapak Bangsa ini merupakan pribadi yang unik satu sama lainnya.
Sebagai sosok yang memiliki label penggerak massa, Ir. Soekarno memiliki
peranan sebagai pemain depan yang dengan jelas terlihat bagaimana pola pikir dan cara
berbicaranya ketika berada di depan podium untuk berpidato. Ir. Soekarno adalah singa
podium yang berjuluk Penyambung Solidaritas Rakyat. Ia memainkan peran dalam
menyampaikan pesan persatuan kesatuan untuk terciptanya Indonesia Merdeka.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana masa kecil dan masa remaja Ir. Soekarno ?
2. Bagaimana latar pendidikan Ir. Soekarno ?
3. Bagaimana keluarga Ir. Soekarno ?
4. Bagaimana peranan Ir. Soekarno melawan penjajah ?
5. Bagaimana akhir kehidupan Ir. Soekarno ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui kehidupan masa kecil dan masa remaja Ir.Soekarno
2. Untuk mengetahui latar pendidikan Ir. Soekarno
3. Untuk mengetahui bagaimana keluarga Ir. Soekarno
4. Untuk mengetahui peranan Ir. Soekarno melawan penjajah
5. Untuk mengetahui akhir kehidupan Ir. Soekarno.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Masa Kecil dan Masa Remaja Ir. Soekarno


Ketika dilahirkan, Soekarno diberikan nama Koesno Sosrodihardjo oleh
orangtuanya. Namun karena ia sering sakit maka ketika berumur lima tahun namanya
diubah menjadi Soekarno oleh ayahnya.Nama tersebut diambil dari seorang panglima
perang dalam kisah Bharata Yudha yaitu Karna. Nama "Karna" menjadi "Karno" karena
dalam bahasa Jawa huruf "a" berubah menjadi "o" sedangkan awalan "su" memiliki arti
"baik".Di kemudian hari ketika menjadi presiden, ejaan nama Soekarno diganti olehnya
sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan
penjajah (Belanda). Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya
karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah, selain itu tidak mudah
untuk mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun. Sebutan akrab untuk Soekarno
adalah Bung Karno.
Di beberapa negara Barat, nama Soekarno kadang-kadang ditulis Achmed
Soekarno. Hal ini terjadi karena ketika Soekarno pertama kali berkunjung ke Amerika
Serikat, sejumlah wartawan bertanya-tanya, "Siapa nama kecil Soekarno?" karena
mereka tidak mengerti kebiasaan sebagian masyarakat di Indonesia yang hanya
menggunakan satu nama saja atau tidak memiliki nama keluarga.Sukarno menyebutkan
bahwa nama Achmed didapatnya ketika menunaikan badah haji. Dalam beberapa versi
lain, disebutkan pemberian nama Achmed di depan nama Sukarno, dilakukan oleh para
diplomat muslim asal Indonesia yang sedang melakukan misi luar negeri dalam upaya
untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan negara Indonesia oleh negara-negara Arab.
Dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (terjemahan Syamsu
Hadi. Ed. Rev. 2011. Yogyakarta: Media Pressindo, dan Yayasan Bung Karno, ISBN
979-911-032-7-9) halaman 32 dijelaskan bahwa namanya hanya "Sukarno" saja, karena
dalam masyarakat Indonesia bukan hal yang tidak biasa memiliki nama yang terdiri satu
kata.
Soekarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi
Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. Keduanya bertemu ketika Raden
Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di Sekolah Dasar Pribumi di

2
Singaraja, Bali. Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama
Hindu, sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam. Mereka telah memiliki
seorang putri yang bernama Sukarmini sebelum Soekarno lahir. Ketika kecil Soekarno
tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur.
Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah ke
Mojokerto, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut. [6] Di Mojokerto,
ayahnya memasukan Soekarno ke Eerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja.
Kemudian pada Juni 1911 Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS)
untuk memudahkannya diterima di Hoogere Burger School (HBS). Pada tahun 1915,
Soekarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS
di Surabaya, Jawa Timur. Ia dapat diterima di HBS atas bantuan seorang kawan
bapaknya yang bernama H.O.S. Tjokroaminoto. Tjokroaminoto bahkan memberi tempat
tinggal bagi Soekarno di pondokan kediamannya. Di Surabaya, Soekarno banyak
bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto
saat itu, seperti Alimin, Musso, Dharsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis. Soekarno
kemudian aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Dharmo yang dibentuk
sebagai organisasi dari Budi Utomo. Nama organisasi tersebut kemudian ia ganti
menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918. Selain itu, Soekarno juga aktif menulis di
harian "Oetoesan Hindia" yang dipimpin oleh Tjokroaminoto.
Tamat HBS Soerabaja bulan Juli 1921,bersama Djoko Asmo rekan satu angkatan
di HBS, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang
ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil pada tahun 1921,setelah dua
bulan dia meninggalkan kuliah, tetapi pada tahun 1922 mendaftar kembali dan tamat
pada tahun 1926. Soekarno dinyatakan lulus ujian insinyur pada tanggal 25 Mei 1926
dan pada Dies Natalis ke-6 TH Bandung tanggal 3 Juli 1926 dia diwisuda bersama
delapan belas insinyur lainnya. Prof. Jacob Clay selaku ketua fakultas pada saat itu
menyatakan "Terutama penting peristiwa itu bagi kita karena ada di antaranya 3 orang
insinyur orang Jawa". Mereka adalah Soekarno, Anwari, dan Soetedjo, selain itu ada
seorang lagi dari Minahasa yaitu Johannes Alexander Henricus Ondang.
Bung Karno adalah presiden pertama Indonesia yang juga dikenal sebagai arsitek
alumni dari Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) di Bandung dengan
mengambil jurusan teknik sipil dan tamat pada tahun 1926.
Pekerjaan dan Karya di Bidang Arsitektur

3
Ir. Soekarno pada tahun 1926 mendirikan biro insinyur bersama Ir. Anwari,
banyak mengerjakan rancang bangun bangunan. Selanjutnya bersama Ir.
Rooseno juga merancang dan membangun rumah-rumah dan jenis bangunan
lainnya.
Ketika dibuang di Bengkulu menyempatkan merancang beberapa rumah dan
merenovasi total masjid Jami' di tengah kota.

2.2 Latar Belakang Pendidikan Ir. Soekarno


Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya di Tulungagung, Jawa Timur.
Pada usia 14 tahun, seorang kawan bapaknya yang bernama Oemar Said Tjokroaminoto
mengajak Soekarno tinggal di Surabaya dan disekolahkan ke Hoogere Burger School
(H.B.S.) di sana sambil mengaji di tempat Tjokroaminoto. Di Surabaya, Soekarno
banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin
Tjokroaminoto saat itu. Soekarno kemudian bergabung dengan organisasi Jong Java
(Pemuda Jawa).
Tamat H.B.S. tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang
ITB) di Bandung, dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Soekarno berinteraksi
dengan Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan
pemimpin organisasi National Indische Partij.
Pendidikan
Pendidikan sekolah dasar di Eerste Inlandse School, Mojokerto
Pendidikan sekolah dasar di Europeesche Lagere School (ELS), Mojokerto
(1911)
Hoogere Burger School (HBS) Mojokerto (1911-1915)
Technische Hoge School, Bandung (sekarang berganti nama menjadi Institut
Teknologi Bandung) (1920).

2.3 Keluarga Ir. Soekarno


Ayah : Raden Soekemi Sosrodihardjo
Ibu : Ida Ayu Nyoman Rai
Istri : - Oetari (19211923)

4
- Inggit Garnasih (19231943)
- Fatmawati (19431956)
- Hartini (19521970)
- Kartini Manoppo (19591968)
- Ratna Sari Dewi (19621970)
- Haryati (19631966)
- Yurike Sanger (19641968)
- Heldy Djafar (19661969)
Anak : - Guntur Soekarnoputra
- Megawati Soekarnoputri
- Rachmawati Soekarnoputri
- Sukmawati Soekarnoputri
- Guruh Soekarnoputra (dari Fatmawati)
- Taufan Soekarnoputra
- Bayu Soekarnoputra (dari Hartini)
- Totok Suryawan (dari Kartini Manoppo)
- Kartika Sari Dewi Soekarno (dari Ratna Sari Dewi).
Presiden Soekarno semasa hidupnya dikenal memiliki pesona, sehingga dengan
mudah menaklukkan wanita-wanita cantik yang diinginkannya. Sejarah mencatat Bung
Karno sembilan kali menikah. Namun banyak yang tidak tahu wanita seperti apa yang
dicintai Sang Putra Fajar itu. Untuk urusan kriteria ternyata Bung Karno bukanlah sosok
pria neko-neko. Perhatian Bung Karno akan mudah tersedot jika melihat wanita
sederhana yang berpakaian sopan. Lalu, bagaimana Bung Karno memandang wanita
berpenampilan seksi? Pernah di satu kesempatan ketika sedang jalan berdua
dengan Fatmawati, Bung Karno bercerita mengenai penilaiannya terhadap wanita. Kala
itu Bung Karno benar-benar sedang jatuh hati pada Fatmawati.
Pada suatu sore ketika kami sedang berjalan-jalan berdua, Fatmawati bertanya
padaku tentang jenis perempuan yang kusukai, ujar Soekaro dalam buku Bung Karno
Masa Muda terbitan Pustaka Antar Kota. Sesaat Bung Karno memandang
sosok Fatmawati yang saat itu berpakaian sederhana dan sopan. Perasaan Bung Karno
benar-benar bergejolak, dia sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu.Aku memandang
kepada gadis desa ini yang berpakaian baju kurung merah dan berkerudung kuning
diselubungkan dengan sopan. Kukatakan padanya, aku menyukai perempuan dengan

5
keasliannya, bukan wanita modern yang pakai rok pendek, baju ketat dan gincu bibir
yang menyilaukan, kata Soekarno.
Saya lebih menyukai wanita kolot yang setia menjaga suaminya dan senatiasa
mengambilkan alas kakinya. Saya tidak menyukai wanita Amerika dari generasi baru,
yang saya dengar menyuruh suaminya mencuci piring, tambahnya. Mungkin saat itu
Fatmawati begitu terpesona mendengar jawaban Soekarno yang lugas. Sampai pada
akhirnya jodoh mempertemukan keduanya. Soekarno menikah dengan Fatmawati pada
tahun 1943, dan dikarunia 5 anak yakni Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati,
dan Guruh. Saya menyukai perempuan yang merasa bahagia dengan anak banyak.
Saya sangat mencintai anak-anak, katanya.
Menurut pengakuan Ibu Fatmawati, dia dan Bung Karno tidak pernah merayakan
ulang tahun perkawinan, Jangankan kawin perak atau kawin emas, ulang tahun
pernikahan ke-1, ke-2 atau ke-3 saja tidak pernah. Sebabnya tak lain karena keduanya
tidak pernah ingat kapan menikah. Ini bisa dimaklumi karena saat berlangsungnya
pernikahan, zaman sedang dibalut perang. Saat itu Perang Dunia II sedang berkecamuk
dan Jepang baru datang untuk menjajah Indonesia.
Kami tidak pernah merayakan kawin perak atau kawin emas. Sebab kami anggap
itu soal remeh, sedangkan kami selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan besar yang
hebat dan dahsyat,begitu cerita Ibu Fatmawati di buku Bung Karno Masa Muda,
terbitan Pustaka Antar Kota, 1978.
Kehidupan pernikahan Bung Karno dan Fatmawati memang penuh dengan gejolak
perjuangan. Dua tahun setelah keduanya menikah, Indonesia mencapai kemerdekaan.
Tetapi ini belum selesai, justru saat itu perjuangan fisik mencapai puncaknya. Bung
Karno pastinya terlibat dalam setiap momen-momen penting perjuangan bangsa.
Pasangan ini melahirkan putra pertamanya yaitu Guntur Soekarnoputra. Guntur lahir
pada saat Bung Karno sudah berusia 42 tahun. Berikutnya lahir Megawati, Rachmawati,
Sukmawati, dan Guruh. Putra-putri Bung Karno dikenal memiliki bakat kesenian tinggi.
Hal itu tak aneh mengingat Bung Karno adalah sosok pengagum karya seni,
sementara Ibu Fatmawatisangat pandai menari.
Sejak kecil, Soekarno sangat menyukai cerita wayang. Dia hapal banyak cerita
wayang sejak kecil. Saat masih bersekolah di Surabaya, Soekarno rela begadang jika
ada pertunjukan wayang semalam suntuk. Dia pun senang menggambar wayang di batu
tulisnya. Saat ditahan dalam penjara Banceuy pun kisah-kisah wayanglah yang memberi
kekuatan pada Soekarno. Terinspirasi dari Gatot Kaca, Soekarno yakin kebenaran akan

6
menang, walau harus kalah dulu berkali-kali. Dia yakin suatu saat penjajah Belanda
akan kalah oleh perjuangan rakyat Indonesia.
Pertunjukan wayang di dalam sel itu tidak hanya menyenangkan dan menghiburku.
Dia juga menenangkan perasaan dan memberi kekuatan pada diriku. Bayangan-
bayangan hitam di kepalaku menguap bagai kabut dan aku bisa tidur nyenyak dengan
penegasan atas keyakinanku. Bahwa yang baik akan menang atas yang jahat, ujar
Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams Bung Karno, Penyambung
Lidah Rakyat Indonesia yang diterbitkan Yayasan Bung Karno tahun 2007. Soekarno
tidak hanya mencintai budaya Jawa. Dia juga mengagumi tari-tarian dari seantero
negeri. Soekarno juga begitu takjub akan tarian selamat datang yang dilakukan oleh
penduduk Papua. Karena kecintaan Soekarno pada seni dan budaya, Istana Negara
penuh dengan aneka lukisan, patung dan benda-benda seni lainnya. Setiap pergi ke
daerah, Soekarno selalu mencari sesuatu yang unik dari daerah tersebut.

2.4 Peranan Ir. Soekarno


2.4.1 Masa Pergerakan Nasional
Soekarno untuk pertama kalinya menjadi terkenal ketika dia menjadi anggota
Jong Java cabang Surabaya pada tahun 1915. Bagi Soekarno sifat organisasi tersebut
yang Jawa-sentris dan hanya memikirkan kebudayaan saja merupakan tantangan
tersendiri. Dalam rapat pleno tahunan yang diadakan Jong Java cabang Surabaya
Soekarno menggemparkan sidang dengan berpidato menggunakan bahasa Jawa ngoko
(kasar). Sebulan kemudian dia mencetuskan perdebatan sengit dengan menganjurkan
agar surat kabar Jong Java diterbitkan dalam bahasa Melayu saja, dan bukan dalam
bahasa Belanda.
Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung yang
merupakan hasil inspirasi dari Indonesische Studie Club oleh Dr. Soetomo. Organisasi
ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927.
Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada tanggal 29
Desember 1929 di Yogyakarta dan esoknya dipindahkan ke Bandung, untuk dijebloskan
ke Penjara Banceuy. Pada tahun 1930 ia dipindahkan ke Sukamiskin dan pada tahun itu
ia memunculkan pledoinya yang fenomenal Indonesia Menggugat (pledoi), hingga
dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.

7
Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo),
yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus
1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh
nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya
kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan.Pada tahun 1938 hingga
tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu.Soekarno baru kembali bebas
pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

2.4.2 Masa Penjajahan Jepang


Pada awal masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah Jepang sempat
tidak memerhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama untuk "mengamankan"
keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada Gerakan 3A dengan tokohnya Shimizu
dan Mr. Syamsuddin yang kurang begitu populer.
Namun akhirnya, pemerintahan pendudukan Jepang memerhatikan dan sekaligus
memanfaatkan tokoh-tokoh Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan lain-lain
dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga lembaga untuk menarik hati penduduk
Indonesia. Disebutkan dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga
Rakyat (Putera), BPUPKI dan PPKI, tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar
Dewantara, K.H. Mas Mansyur, dan lain-lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu aktif.
Dan akhirnya tokoh-tokoh nasional bekerja sama dengan pemerintah pendudukan
Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang melakukan
gerakan bawah tanah seperti Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap
Jepang adalah fasis yang berbahaya.
Presiden Soekarno sendiri, saat pidato pembukaan menjelang pembacaan teks
proklamasi kemerdekaan, mengatakan bahwa meski sebenarnya kita bekerja sama
dengan Jepang sebenarnya kita percaya dan yakin serta mengandalkan kekuatan
sendiri.Ia aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, di antaranya adalah
merumuskan Pancasila, UUD 1945, dan dasar dasar pemerintahan Indonesia termasuk
merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke
Rengasdengklok.
Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh
Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang

8
dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito. Bahkan kaisar memberikan Bintang
kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang
itu membuat pemerintahan pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa
ketiga tokoh Indonesia itu dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri. Pada bulan Agustus
1945, ia diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia
Tenggara di Dalat Vietnam yang kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan
Indonesia adalah urusan rakyat Indonesia sendiri.
Namun keterlibatannya dalam badan-badan organisasi bentukan Jepang
membuat Soekarno dituduh oleh Belanda bekerja sama dengan Jepang, antara lain
dalam kasus romusha.

2.4.3 Masa Perang Revolusi


Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional mulai mempersiapkan diri menjelang
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, Panitia Kecil yang terdiri dari delapan
orang (resmi), Panitia Kecil yang terdiri dari sembilan orang/Panitia Sembilan (yang
menghasilkan Piagam Jakarta) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia PPKI,
Soekarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa
Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945; Soekarno dan Mohammad Hatta
dibujuk oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air
Peta Rengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain Soekarni, Wikana,
Singgih serta Chairul Saleh. Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera
memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena di Indonesia terjadi
kevakuman kekuasaan. Ini disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan
Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan
menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang. Alasan lain yang berkembang adalah
Soekarno menetapkan momen tepat untuk kemerdekaan Republik Indonesia yakni
dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan
suci kaum muslim yang diyakini merupakan bulan turunnya wahyu pertama kaum
muslimin kepada Nabi Muhammad SAW yakni Al Qur-an. Pada tanggal 18 Agustus
1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil

9
Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi
presiden dan wakil presiden dikukuhkan oleh KNIP. Pada tanggal 19 September 1945
kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah peristiwa
Lapangan Ikada tempat 200.000 rakyat Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang
yang masih bersenjata lengkap.
Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Letjen. Sir Phillip
Christison, Christison akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto setelah
mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Presiden Soekarno juga berusaha
menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat provokasi yang dilancarkan pasukan
NICA (Belanda) yang membonceng Sekutu (di bawah Inggris), meledaklah Peristiwa
10 November 1945 di Surabaya dan gugurnya Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby.
Karena banyak provokasi di Jakarta pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya
memindahkan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil
presiden dan pejabat tinggi negara lainnya.
Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden
selaku kepala pemerintahan dan kepala negara (presidensiil/single executive). Selama
revolusi kemerdekaan, sistem pemerintahan berubah menjadi semipresidensiil/double
executive. Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai Perdana
Menteri/Kepala Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya maklumat wakil presiden
No X, dan maklumat pemerintah bulan November 1945 tentang partai politik. Hal ini
ditempuh agar Republik Indonesia dianggap negara yang lebih demokratis.

2.4.4 Masa Kemerdekaan


Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai
Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik
Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS.
Jabatan Presiden Republik Indonesia diserahkan kepada Mr Assaat, yang kemudian
dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Namun karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia
yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS
kembali berubah menjadi Republik Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden
RI. Mandat Mr Assaat sebagai pemangku jabatan Presiden RI diserahkan kembali

10
kepada Ir. Soekarno. Resminya kedudukan Presiden Soekarno adalah presiden
konstitusional, tetapi pada kenyataannya kebijakan pemerintah dilakukan setelah
berkonsultasi dengannya.
Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta cukup populer dan lebih kuat di kalangan
rakyat dibandingkan terhadap kepala pemerintahan yakni perdana menteri. Jatuh
bangunnya kabinet yang terkenal sebagai "kabinet seumur jagung" membuat Presiden
Soekarno kurang memercayai sistem multipartai, bahkan menyebutnya sebagai
"penyakit kepartaian". Tak jarang, ia juga ikut turun tangan menengahi konflik-konflik
di tubuh militer yang juga berimbas pada jatuh bangunnya kabinet. Seperti peristiwa 17
Oktober 1952 dan Peristiwa di kalangan Angkatan Udara.
Presiden Soekarno juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia
Internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa Asia-Afrika, masih belum
merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri, menyebabkan
presiden Soekarno, pada tahun 1955, mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi
Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasasila Bandung. Bandung dikenal
sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Ketimpangan dan konflik akibat "bom waktu" yang
ditinggalkan negara-negara barat yang dicap masih mementingkan imperialisme dan
kolonialisme, ketimpangan dan kekhawatiran akan munculnya perang nuklir yang
mengubah peradaban, ketidakadilan badan-badan dunia internasional dalam
penyelesaian konflik juga menjadi perhatiannya. Bersama Presiden Josip Broz Tito
(Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu,
(Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang
membuahkan Gerakan Non Blok. Berkat jasanya itu, banyak negara Asia Afrika yang
memperoleh kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami
konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam pemecahan masalah,
yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa. Berkat jasa ini pula, banyak
penduduk dari kawasan Asia Afrika yang tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau
mengenal akan Indonesia.
Guna menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif dalam dunia
internasional, Presiden Soekarno mengunjungi berbagai negara dan bertemu dengan
pemimpin-pemimpin negara. Di antaranya adalah Nikita Khruschev (Uni Soviet), John
Fitzgerald Kennedy (Amerika Serikat), Fidel Castro (Kuba), Mao Tse Tung (RRC).

11
2.4.5 Masa Keterpurukan
Situasi politik Indonesia menjadi tidak menentu setelah enam jenderal dibunuh
dalam peristiwa yang dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September atau G30S pada
1965. Pelaku sesungguhnya dari peristiwa tersebut masih merupakan kontroversi
walaupun PKI dituduh terlibat di dalamnya. Kemudian massa dari KAMI (Kesatuan
Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) melakukan
aksi demonstrasi dan menyampaikan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) yang salah satu
isinya meminta agar PKI dibubarkan. Namun, Soekarno menolak untuk membubarkan
PKI karena bertentangan dengan pandangan Nasakom (Nasionalisme, Agama,
Komunisme). Sikap Soekarno yang menolak membubarkan PKI kemudian melemahkan
posisinya dalam politik.
Lima bulan kemudian, dikeluarkanlah Surat Perintah Sebelas Maret yang
ditandatangani oleh Soekarno. Isi dari surat tersebut merupakan perintah kepada Letnan
Jenderal Soeharto untuk mengambil tindakan yang perlu guna menjaga keamanan
pemerintahan dan keselamatan pribadi presiden. Surat tersebut lalu digunakan oleh
Soeharto yang telah diangkat menjadi Panglima Angkatan Darat untuk membubarkan
PKI dan menyatakannya sebagai organisasi terlarang. Kemudian MPRS pun
mengeluarkan dua Ketetapannya, yaitu TAP No. IX/1966 tentang pengukuhan
Supersemar menjadi TAP MPRS dan TAP No. XV/1966 yang memberikan jaminan
kepada Soeharto sebagai pemegang Supersemar untuk setiap saat menjadi presiden
apabila presiden berhalangan.
Soekarno kemudian membawakan pidato pertanggungjawaban mengenai
sikapnya terhadap peristiwa G30S pada Sidang Umum ke-IV MPRS. Pidato tersebut
berjudul "Nawaksara" dan dibacakan pada 22 Juni 1966. MPRS kemudian meminta
Soekarno untuk melengkapi pidato tersebut. Pidato "Pelengkap Nawaskara" pun
disampaikan oleh Soekarno pada 10 Januari 1967 namun kemudian ditolak oleh MPRS
pada 16 Februari tahun yang sama.
Hingga akhirnya pada 20 Februari 1967 Soekarno menandatangani Surat
Pernyataan Penyerahan Kekuasaan di Istana Merdeka. Dengan ditandatanganinya surat
tersebut maka Soeharto de facto menjadi kepala pemerintahan Indonesia. Setelah
melakukan Sidang Istimewa maka MPRS pun mencabut kekuasaan Presiden Soekarno,

12
mencabut gelar Pemimpin Besar Revolusi dan mengangkat Soeharto sebagai Presiden
RI hingga diselenggarakan pemilihan umum berikutnya.

2.4.6 Akhir Kehidupan Ir. Soekarno


Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto
dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh
di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan
berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.
Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan,
mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di
Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer. Malam ini desas-desus itu terbukti. Di
dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden,
Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat
mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan
mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara
semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya. Lelaki yang pernah amat jantan dan
berwibawa, dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak
ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang
dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-
mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya
yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat
memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar.
Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar
udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.
Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu. Dua hari kemudian, Megawati, anak
sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan
ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega
menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang
paling dicintainya ini. Pak, Pak, ini Ega Senyap. Ayahnya tak bergerak. Kedua
matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah
bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya
itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka

13
matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri
sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali
terkulai. Soekarno terdiam lagi.
Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari
tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya
dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung.
Mega segera dipapah keluar. Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara
terus berjaga lengkap dengan senjata. Malam harinya ketahanan tubuh seorang
Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan
bantuan seperlunya. Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan
mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri
pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil
dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak
terperi, Soekarno berkata lemah. Hatta.., kau di sini..? Yang disapa tidak bisa
menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika
dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati,
Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur. Ya,
bagaimana keadaanmu, No ? Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di
masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari
jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.
Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan
bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih
bersatu dalam Dwi Tunggal. Hoe gaat het met jou? Bagaimana keadaanmu?
Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.
Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan
kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu
mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut
menangis. Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan
seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat
dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan
tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh
manusia yang tidak punya nurani. No Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya.

14
Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus
kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang. Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat
marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip
politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali
tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus. Hatta masih memegang
lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya. Jarum jam terus
bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis. Sehari
setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot.
Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus
meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya.
Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di
rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.
Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter
kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis,
Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter
yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi. Dengan
sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa
kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan
dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat
lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno
menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk
membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya. Situasi di sekitar
ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa
berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam.
Sekaligus menyedihkan. Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh
kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya.
Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum
tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada. Dokter
Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak
lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal.
Isu di bunuh secara perlahan

15
Banyak keyakinan orang banyak bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan
mungkin bisa dilihat dari cara pengobatan proklamator RI ini yang segalanya diatur
secara ketat dan represif oleh Presiden Soeharto. Bung Karno ketika sakit ditahan di
Wisma Yasso (Yasso adalah nama saudara laki-laki Dewi Soekarno) di Jl. Gatot
Subroto. Penahanan ini membuatnya amat menderita lahir dan bathin. Anak-anaknya
pun tidak dapat bebas mengunjunginya.
Banyak resep tim dokternya, yang dipimpin Dr. Mahar Mardjono, yang tidak
dapat ditukar dengan obat. Ada tumpukan resep di sebuah sudut di tempat penahanan
Bung Karno. Resep-resep untuk mengambil obat di situ tidak pernah ditukarkan dengan
obat. Bung Karno memang dibiarkan sakit dan mungkin dengan begitu diharapkan oleh
penguasa baru tersebut agar bisa mempercepat kematiannya.
Permintaan dari tim dokter Bung Karno untuk mendatangkan alat-alat kesehatan
dari Cina pun dilarang oleh Presiden Soeharto. Bahkan untuk sekadar menebus obat
dan mengobati gigi yang sakit, harus seizin dia, demikian Rachmawati Soekarnoputeri
pernah bercerita.
Kesehatan Soekarno sudah mulai menurun sejak bulan Agustus 1965.
Sebelumnya, ia telah dinyatakan mengidap gangguan ginjal dan pernah menjalani
perawatan di Wina, Austria tahun 1961 dan 1964. Prof. Dr. K. Fellinger dari Fakultas
Kedokteran Universitas Wina menyarankan agar ginjal kiri Soekarno diangkat tetapi ia
menolaknya dan lebih memilih pengobatan tradisional. Ia masih bertahan selama 5
tahun sebelum akhirnya meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di RSPAD (Rumah
Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta dengan status sebagai tahanan
politik. Jenazah Soekarno pun dipindahkan dari RSPAD ke Wisma Yasso yang dimiliki
oleh Ratna Sari Dewi. Sebelum dinyatakan wafat, pemeriksaan rutin terhadap Soekarno
sempat dilakukan oleh Dokter Mahar Mardjono yang merupakan anggota tim dokter
kepresidenan. Tidak lama kemudian dikeluarkanlah komunike medis yang
ditandatangani oleh Ketua Prof. Dr. Mahar Mardjono beserta Wakil Ketua Mayor
Jenderal Dr. (TNI AD) Rubiono Kertopati. Komunikasi medis tersebut menyatakan hal
sebagai berikut:
1. Pada hari Sabtu tanggal 20 Juni 1970 jam 20.30 keadaan kesehatan Ir.
Soekarno semakin memburuk dan kesadaran berangsur-angsur menurun.
2. Tanggal 21 Juni 1970 jam 03.50 pagi, Ir. Soekarno dalam keadaan tidak
sadar dan kemudian pada jam 07.00 Ir. Soekarno meninggal dunia.

16
3. Tim dokter secara terus-menerus berusaha mengatasi keadaan kritis Ir.
Soekarno hingga saat meninggalnya.
Walaupun Soekarno pernah meminta agar dirinya dimakamkan di Istana Batu
Tulis, Bogor, namun pemerintahan Presiden Soeharto memilih Kota Blitar, Jawa Timur,
sebagai tempat pemakaman Soekarno. Hal tersebut ditetapkan lewat Keppres RI No. 44
tahun 1970. Jenazah Soekarno dibawa ke Blitar sehari setelah kematiannya dan
dimakamkan keesokan harinya bersebelahan dengan makam ibunya. Upacara
pemakaman Soekarno dipimpin oleh Panglima ABRI Jenderal M. Panggabean sebagai
inspektur upacara. Pemerintah kemudian menetapkan masa berkabung selama tujuh
hari.

Peninggalan
Dalam rangka memperingati 100 tahun kelahiran Soekarno pada 6 Juni 2001, maka
Kantor Filateli Jakarta menerbitkan prangko "100 Tahun Bung Karno". Prangko yang
diterbitkan merupakan empat buah prangko berlatar belakang bendera Merah Putih serta
menampilkan gambar diri Soekarno dari muda hingga ketika menjadi Presiden Republik
Indonesia. Prangko pertama memiliki nilai nominal Rp500 dan menampilkan potret
Soekarno pada saat sekolah menengah. Yang kedua bernilai Rp800 dan gambar
Soekarno ketika masih di perguruan tinggi tahun 1920-an terpampang di atasnya.
Sementara itu, prangko yang ketiga memiliki nominal Rp900 serta menunjukkan foto
Soekarno saat proklamasi kemerdekaan RI. Prangko yang terakhir memiliki gambar
Soekarno ketika menjadi Presiden dan bernominal Rp1000. Keempat prangko tersebut
dirancang oleh Heri Purnomo dan dicetak sebanyak 2,5 juta set oleh Perum Peruri.
Selain prangko, Divisi Filateli PT Pos Indonesia menerbitkan juga lima macam kemasan
prangko, album koleksi prangko, empat jenis kartu pos, dua macam poster Bung Karno
serta tiga desain kaus Bung Karno.
Prangko yang menampilkan Soekarno juga diterbitkan oleh Pemerintah Kuba
pada tanggal 19 Juni 2008. Prangko tersebut menampilkan gambar Soekarno dan
presiden Kuba Fidel Castro. Penerbitan itu bersamaan dengan ulang tahun ke-80 Fidel
Castro dan peringatan kunjungan Presiden Indonesia, Soekarno, ke Kuba.
Nama Soekarno pernah diabadikan sebagai nama sebuah gelanggang olahraga
pada tahun 1958. Bangunan tersebut, yaitu Gelanggang Olahraga Bung Karno, didirikan
sebagai sarana keperluan penyelenggaraan Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta. Pada

17
masa Orde Baru, kompleks olahraga ini diubah namanya menjadi Gelora Senayan. Tapi
sesuai keputusan Presiden Abdurrahman Wahid, Gelora Senayan kembali pada nama
awalnya yaitu Gelanggang Olahraga Bung Karno.
Setelah kematiannya, beberapa yayasan dibuat atas nama Soekarno. Dua di
antaranya adalah Yayasan Pendidikan Soekarno dan Yayasan Bung Karno. Yayasan
Pendidikan Soekarno adalah organisasi yang mencetuskan ide untuk membangun
universitas dengan pemahaman yang diajarkan Bung Karno. Yayasan ini dipimpin oleh
Rachmawati Soekarnoputri, anak ke tiga Soekarno dan Fatmawati. Pada tahun 25 Juni
1999 Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie meresmikan Universitas Bung Karno yang
secara resmi meneruskan pemikiran Bung Karno, Nation and Character Building
kepada mahasiswa-mahasiswanya.

Penghargaan
Semasa hidupnya, Soekarno mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari 26
universitas di dalam dan luar negeri. Perguruan tinggi dalam negeri yang memberikan
gelar kehormatan kepada Soekarno antara lain Universitas Gajah Mada (19 September
1951), Institut Teknologi Bandung (13 September 1962), Universitas Indonesia (2
Februari 1963), Universitas Hasanuddin (25 April 1963), Institut Agama Islam Negeri
Jakarta (2 Desember 1963), Universitas Padjadjaran (23 Desember 1964), dan
Universitas Muhammadiyah (1 Agustus 1965). Sementara itu, Universitas Columbia
(Amerika Serikat), Universitas Berlin (Jerman), Universitas Lomonosov (Rusia) dan
Universitas Al-Azhar (Mesir) merupakan beberapa universitas luar negeri yang
menganugerahi Soekarno dengan gelar Doktor Honoris Causa.
Pada bulan April 2005, Soekarno yang sudah meninggal selama 35 tahun
mendapatkan penghargaan dari Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki. Penghargaan
tersebut adalah penghargaan bintang kelas satu The Order of the Supreme Companions
of OR Tambo yang diberikan dalam bentuk medali, pin, tongkat, dan lencana yang
semuanya dilapisi emas. Soekarno mendapatkan penghargaan tersebut karena dinilai
telah mengembangkan solidaritas internasional demi melawan penindasan oleh negara
maju serta telah menjadi inspirasi bagi rakyat Afrika Selatan dalam melawan penjajahan
dan membebaskan diri dari apartheid.
Kata Kata Bijak Soekarno

18
1. Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita
tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan
syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan
bestik tetapi budak. [Pidato HUT Proklamasi, 1963]
2. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. (Pidato
Hari Pahlawan 10 Nop.1961)
3. Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan
lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.
4. Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden
sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan
rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
5. Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat
suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya
ia dengan kemajuan selangkah pun.
6. Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak
dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.
7. .Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan
persaudaraan
8. Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna.
Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai !
Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.
9. Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan
aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia
10. Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti
dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya
11. Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah
berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.

19
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Ketika dilahirkan, Soekarno diberikan nama Koesno Sosrodihardjo oleh
orangtuanya. Namun karena ia sering sakit maka ketika berumur lima tahun namanya
diubah menjadi Soekarno oleh ayahnya. Soekarno dilahirkan dengan seorang ayah yang
bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai.
Keduanya bertemu ketika Raden Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di
Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja, Bali. Ir. Soekarno mempunyai peranan yang besar
dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan. Ir. Soekarno wafat dengan
meninggalkan begitu banyak jasa untuk Indonesia sehingga beliau dikenal sebagai
bapak proklamator.

3.2 Saran

20
Kami sebagai penyusun makalah ini sangat menyadari bahwa materi yang kami buat
ini masih banyak kekurangan. Jadi untuk itu kami meminta kepada saudara saudari
semuanya untuk memberikan saran, kritikan, dan hal-hal lainnya yang bisa membangun
untuk menuju kepada yang lebih baik. agar manfaat dari makalah ini dapat diambil
penyusun dan orang yang membacanya.

21
DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno
http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-presiden-soekarno.html
http://info-biografi.blogspot.com/2010/02/ir-soekarno.html
http://contohmakalah4.blogspot.com/2013/02/biografi-soekarno.html
https://lalumakan.wordpress.com/2013/07/02/156/

22