Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KUNJUNGAN PERUSAHAAN TENTANG GIZI KERJA

DAN SANITASI PT. ADI SATRIA ABADI (ASA)


YOGYAKARTA

Disusun oleh :
1. dr. Rio Janner Sinulingga
2. dr. Risma Juniarni Asif
3. dr. Riz Sanfebrian Adiatma
4. dr. Ryan Aprilian Putri
5. dr. Saddam Emir Pratama
6. dr. Setia Yuda Nugraha Tanjung
7. dr. Shabrun Jamiel
8. dr. Siska Purnamasari
9. dr. Siti Nurhayati
10. dr. Sutisna Widyawati
11. dr. Suyitno
12. dr. Syandriagus Rizki
13. dr. Yuli Adiyanti
14. dr. Yusmia Fitriana

BALAI HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
NOVEMBER 2015

BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Produktivitas kerja dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya yang mempunyai
peranan sangat penting dan menentukan adalah kecukupan gizi. Faktor ini akan menentukan
prestasi kerja tenaga kerja karena adanya kecukupan dan penyebar kalori yang seimbang
selama bekerja. Seseorang yang berstatus gizi kurang tidak mungkin mampu bekerja dengan
hasil maksimal karena prestasi kerja dipengaruhi oleh derajat kesehatan seseorang. Tenaga
kerja yang sehat akan bekerja lebih giat, produktif, dan teliti sehingga dapat mencegah
kecelakaan yang mungkin terjadi dalam bekerja.

Manfaat yang diharapkan dari pemenuhun gizi kerja adalah untuk mempertahankan
dan meningkatkan ketahanan tubuh serta menyeimbangkan kebutuhan gizi dan kalori
terhadap tuntutan tugas pekerja. Gizi kerja berkaitan erat dengan tingkat kesehatan tenaga
kerja maupun produktivitas tenaga kerja yang berarti akan meningkatkan produktivitas
perusahaan serta meningkatkan produktivitas nasional.

Penyelenggaraan makanan adalah rangkaian kegiatan yang meliputi penyusunan


anggaran belanja makanan, perencanaan menu, pengadaan atau pembuatan bahan makanan,
penerimaan dan penyimpanan bahan makanan, persiapan dan pemasakan makanan, penilaian,
pengemasan, distribusi atau penyajian makanan di tempat kerja.

Sanitasi merupakan faktor penting dalam penyediaan makanan yang dilakukan


sebagai upaya pencegahan penyakit, keracunan ataupun gangguan kesehatan dengan
memperhatikan faktor makanan, orang, tempat serta perlengkapan yang digunakan dalam
mempersiapkan makanan. Selain itu sanitasi juga dapat diartikan sebagai usaha masyarakat
yang menitikberatkan pada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang
mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Sementara itu sanitasi industri adalah usaha
kesehatan masyarakat lingkungan dalam batas-batas tertentu termasuk cara-cara pencegahan
penyakit menular atau lain-lain gangguan terhadap kesehatan tenaga kerja yang tidak dapat
dipisahkan dalam proses industri.

Pengawasan terhadap pencemaran di tempat kerja khususnya terhadap faktor bahaya


lingkungan kerja harus memenuhi standar lingkungan kerja yaitu nilai ambang batas (NAB)
sesuai dengan (1) Kepmenaker No : 51 tahun 1999 tentang faktor-faktor bahaya fisik; (2)
Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor : SE.01/MEN/1997 tentang faktor bahaya bahan
kimia dan PMP No : 7 tahun 1964 tentang syarat kebersihan , penerangan dan ventilasi udara.

Dari latar belakang tersebut menjadi landasan dalam melakukan kunjungan dan
pengamatan gizi kerja dan sanitasi di perusahaan PT.Adi Satria Abadi (ASA).

2
B. TUJUAN

Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah :

1. Menambah pengetahuan mengenai sanitasi lingkungan dan gizi pekerja perusahaan.


2. Mengetahui tentang sanitasi dalam menjaga lingkungan hidup.
3. Mengetahui tentang gizi kerja perusahaan.

C. MANFAAT

Manfaat pembuatan laporan ini adalah :

1. Dapat menambah pengetahuan mengenai sanitasi lingkungan dan gizi pekerja


perusahaan terutama pada PT Adi Satria Abadi (ASA)
2. Sebagai masukan kepada PT Adi Satria Abadi (ASA) tentang pelaksanaan sanitasi dan
gizi kerja di perusahaan tersebut.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

A. GIZI KERJA
1. Pengertian dan ruang lingkup gizi kerja

Gizi berasal dari bahasa Arab gizzah yang artinya zat makanan sehat atau sari
makanan yang bermanfaat untuk kesehatan (Anonim, 1995; Irianto, 2004).

3
Ilmu Gizi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara makanan yang kita makan
dengan kesehatan tubuh (Moehji, 2002; Sediaoetama, 2004). Sedangkan Hardinsyah dan
Victor dalam WKNPG VIII tahun 2004 definisi lengkap ilmu gizi yang merupakan
modifikasi dari National Academy of Sciences (1994) oleh organisasi profesi yang berkaitan
dengan gizi pada Seminar Pengembangan Ilmu Gizi pada tahub 2000, yaitu ilmu yang
mempelajari zat-zat dari pangan yang bermanfaat bagi kesehatan dan proses yang terjadi pada
pangan sejak dikonsumsi, dicerna, diserap, sampai dimanfaatkan tubuh serta dampaknya
terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kelangsungan hidup manusia serta factor yang
mempengaruhinya (Sudiarti dan Indrawani, 2007).

Zat gizi adalah bahan dasar yang menyusun bahan makanan. Zat gizi yang dikenal ada
lima, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Ada kelompok yang
memasukkan air sebagai zat gizi dengan alas an zat tersebut digunakan dalam proses
metabolism dalam tubuh, namun pendapat tersebut belum diterima oleh semua ahli gizi.
Kelompok yang tidak setuju air dimasukkan sebagai kelompok zat gizi beralasan karena zat
tersebut mudah didapat dan merupaka zat tunggal. Sementara zat lain merupakan kelompok
ikatan yang berbesa, namun dianggap mempunyai fungsi yang sama dari pandangan sudut
Ilmu Gizi (Sudiarti dan Indrawani, 2007).

Makanan adalah bahan-bahan makanan yang dapat digolongkan menurut makanan


pokok (nasi, roti), lauk-pauk, sayur-mayur, buah-buahan, dan susu. Bahan-bahan ini
mengandung zat yang diperlukan oleh tubuh, seperti protein karbohidrat, lemak, vitamin,
mineral, dan air. Oleh karena itu makanan yang cocok adalah makanan berimbang (balance)

Diet), (Anies 2005; Sudiarti dan Indrawanni, 2007).

Gizi kerja adalah gizi yang diharapkan pada tenaga kerja atau nutrisi yang diperlukan
oleh tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhannya sesuai dengan jenis dan tempat kerja
dengan tujuan dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja yang setinggi-tingginya.
Istilah gizi kerja berarti nutrisi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan
sesuai dengan jenis pekerjaan. Sebagai suatu aspek dari ilmu gizi pada umumnya, maka gizi
kerja ditujukan kepada kesehatan dan daya kerja tenaga kerja yang setinggi-tingginya.
Kesehatan dan kerja mempunyai hubungan yang erat dengan tingkat gizi seseorang
(Sumamur. 1996; Anies, 2005; Winarni, 2000)

4
Tenaga kerja adalah setiap orang laki-laki atau wanita yang sedang dalam dan/atau
akan melakukan pekerjaan, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan
barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sedangkan pekerja adalah tenaga kerja yang bekerja di dalam hubungan kerja pada
pengusaha dengan menerima upah (Anonim, 1997). Upaya kesehatan kerja adalah upaya
penyerasian kapasitas kerja, beban kerja, dan lingkungan kerja agar setiap pekerjaan dapat
bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun lingkunga agar diperoleh
produktivitas kerja yang optimal. (Anonim, 1997)

Masalah gizi disebabkan oleh banyak faktor yang saling terkait baik secara langsung
maupun tidak langsung. Secara langsung dipengaruhi oleh penyakit infeksi dan tidak
cukupnya asupan gizi baik secara kuantitas maupun kualitas, sedangkan secara tidak
langsung dipengaruhi oleh jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan, kurang baiknya
kondisi sanitasi lingkungan serta rendahnya ketahanan pangan di tingkat rumah tanngga.
Sebagai pokok masalah di masyarakat adalah rendahnya pendidikan, pengatahuan, dan
keterampilan serta tingkat pendapatan masyarakat (Azwar,2005). Dalam kaitan dengan gizi
kerja, nutrisi atau zat makanan yang diperlukan oleh tenaga kerja tidak berbeda dengan
nutrisi yang dibutuhkan oleh orang lain (Anies,2005).

Karbohidarat, lemak, juga protein merupakan bahan bakar maka zat-zat ini dapat
dibakar oleh tubuh sebagai sumber tenaga dalam bekerja. Vitamin dan mineral berlaku
sebagai pengatur tubuh dengan jalan melancarkan proses oksidasi, memelihara fungsi normal
otot dan saraf, dan vitalitas jaringan. Bagi proses-proses tersebut diperlukan pula air dan
oksigen (Anies,2005).

Kebutuhan kalori orang dewasa dipengaruhi pleh metabolism basal, kegiatan tubuh
atau aktivitas fisik, efek makanan (Spesific Dynamic Action /SDA), dan kerja otot. Kalori
tersebut berasal dari bahan-bahan makanan protein, lemak, dan karbohitdrat (Anies, 2005;
Sumamur,1996; sudiarti dan Indrawani,2007).

Gizi kerja merupakan upaya promotif, syarat penting untuk meningkatkan derajat
kesehatan dan produktivitas kerja. Penerapan gizi kerja di perusahaan menjadi keharusan
investasi yang rasional bagi perbaikan kualitas tenaga kerja. Di samping aspek kesehatan,
dalam gizi kerja juga terkandung aspek kesejahteraan dan pengembangan sumber daya
(Anies,2005).

5
Penyelenggaraan gizi kerja di perusahaan dapat dilaksanakan oleh perusahaan sendiri,
pengusaha boga atau kafetaria yang diorganisasi oleh perusahaan. Namun menyelenggarakan
gizi kerja yang baik bukan sekedar memenuhi kewajiban memberikan makanan dengan
sumber standar tertentu kepada tenaga kerja. Tidak kurang [enting adalah fungsi pengawasan,
agar pelaksanaannya sesuai harapan (Anies,2005) .

Secara garis besar kebutuhan gizi untuk pekerja sama dengan kebutuhan setiap orang
seharinya, tetapi di rinci dengan perbedaan pada kebutuhan jenis aktivitanya dan lama
kegiatan tersebut dilakukan. Apabila aktivitas seseorang normal seperti pegawai bagian
administrasi perkantoran atau bekerja ringan sampai sedang dapat dirata-rata sesuai anjuran
kecukupan gizi rata-rata (Subur,2005).

Komposisi yang cukup memadai dari diet seimbang bagi pekerja dianjurkan terdiri
dari 50-55% karbohitrat, 25-35% lemak, 10-15% protein dan secukupnya air, vitamin serta
mineral.

Kebutuhan energi yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan :

1. Metabolism Basal : energy minimal yang diperlukan untuk melaksanakan hajat


biologi selama 24 jam
2. Energi untuk melaksanan kerja luar : jumlah energy yang diperlukan untuk melakukan
pekerjaan selama satu hari ditambah basal metabilisme.

Nilai BMR menurut kelompok umur dan jenis kelamin

Umur (Th) Laki-laki Perempuan

18-30 15,3 B + 679 14,7 B + 496

30-60 11,6 b + 879 8,7 B + 829

>60 13,5 B + 487 10,5 B + 596

Angka kecukupan energy dengan tingkat aktivitas fisik

Aktivitas Jenis Kegiatan Fak . aktivitas


Ringan
Laki-laki 75% waktu digunakan untuk 1,58
duduk/berdiri

6
Perempuan 25% waktu untuk 1,45
duduk/bergerak
Sedang :
Laki-laki 40% waktu untuk duduk/ 1,67
berdiri
Perempuan 60% waktu untuk aktif pada 1,65
pekerjaan tertentu
Berat :
Laki-laki 25% waktu digunakan untuk 1,88
duduk/berdiri
Perempuan 75% waktu untuk aktif pada 1,75
pekerjaan tertentu

Kegiatan pelaksanaan gizi di perusahaan, meliputi :

1. Penyelenggaraan kantin dan ruang makan serta melaksanakan sanitasi


penyelenggaraan makan secara menyeluruh.
2. Penyediaan preparat gizi : vitamin, mineral, oralit,dll
3. Penyuluhan gizi kerja
4. Pemberian makan di tempat kerja
- Frekuensi makan
- Perilaku makan sehat

7
Faktor yang menentukan kebutuhan gizi seseorang :

1. Ukuran
2. Usia
3. Jenis kelamin
4. Kegiatan sehari-hari
5. Kondisi tubuh tertentu
6. Lingkungan

B. SANITASI

Dua wanita harus terpisah dibedakan, terdapat petugas yang bertugas untuk
membersihkan dan menjaga kondisi fasilitas yang ada.

1. Ruang ganti perempuan jika terdapat lima


jika terdapat lima atau lebih pegawai wanita maka harus disediakan minimal
satu ruang istirahat khusus wanita dan ruang istirahat harus nyaman, dan ditempatkan
pada area yang mudah dijangkau setiap saat. Didalam ruang istirahat sebaiknya
dipisahkan antara toilet dan ruang ganti.
Jika terdapat lima sampai sepuluh pekerja wanita pada saat yang sama, maka
luas lantai istirahat tidak kurang dari square feet. Setiap penambahan satu orang atau
seouluh orang atau lebih, minimal luas lantai ditambahkan 1,5 square feet per orang.
Sebaliknya luas lantai retiring room berdasarkan jumlah maksimum pekerja wanita.
Jika didalam ruangan terdapat bangku atau ruang tidur, maka luas lantai
ruangan dikurangi 30 square feet untuk setiap bangku atau tempat tidur. Dan jika
loker pakaian dan tempat gantungan pakaian di ruangan terpisah, maka luas ruangan
istirahat dikurangi setengahnya (50%). Jika tempat cuci tangan terdapat di ruang
istirahat, maka luas lantai ditambah 5 square feet untuk setiap fasilitas. Dinding partisi
ruang istirahat harus padat dan kokoh dan tingginya minimal 7 feet.
Kondisi ruang istirahat dan terawat sehingga memberikan jaminan privasi.
Ruang istirahat harus memiliki suhu yang baik dan tidak boleh lebih dari 68 0f dan
mempunyai penerangan yang cukup sehingga pembagian dalaman dapat dapat terlihat
dengan baik. Jika tidak terdapat cahaya matahar, gunakan lampu sebagai penerangan
saat menggunakan ruangan.
Pintu masuk ruangan istirahat untuk wanita harus diberi tanda. Laki-laki tidak
diizinkan masuk dan atau menggunakan selama masih terdapat pekerja wanita.
Fasilitas untuk ganti pakaian seperti loker atau rak dengan hanger didalam ruang
istirahat atau di ruang lain yang memadai.jika terdapat 5-100 pekerja wanita, harus

8
terdapat satu bangku, balai-balai, atau twmpat tidur. Jika jumlah pekerja 100-250
harus terdapat 2 unit dan ditambah 1 unit untuk setiap 250 pekerja wanita.

2. Ruang ganti laki-laki

Tempat atau ruang dimana pekerja pria bisa berganti pakaian seharusnya
disediakan. Ruang tempat ganti pakaian sebaiknya berdekatan dengan area kerja,
khususnya pada tempat kerja yang memungkinkan untuk pekerja menjadi kotor, lelah
dan sebagainya. Tersedia lemari atau loker untuk menyimpan pakaian. Minimal
tersedia gantungan baju (hanger) dan tempat gantungan untuk menjaga agar pakaian
pekerja tertata dengan baik dan tidak kotor.

3. Pembuangan
Semua lubang penampungan dibangun dan dipelihara agar selalu dalam
kondisi baik, tidak retak, pecah atau terbuka. Tiap lubang harus dilengkapi
dengan pintu atau lubang khusus. Terdapat ventilasi udara yang ditutup dengan
kasa untuk mencegah masuknya lalat. Kondisi lubang udara pembuangan
harus selalu terjaga sanitasi nya dan pada saat melakukan pengerukan dan
pembuangan lumpur, sebaiknya perhatikan prosedur penanganannya.

4. Fasilita cuci dan mandi


Jumlah fasilitas untuk mencuci tangan yang disediakan dapat dilihat
pada tabel berikut

Jumlah Pekerja Jumlah Tempat Cuci Tangan


1-15 1
16-30 2
31-50 3

Setiap penambahan 25 orang pekerja atau kelipatannya tempat cuci tangan


ditambah 1 unit. Tempat cuci tangan yang terusan berbentuk lingkaran dan terdapat
air mancur dianggap 1 unit jika panjang lingkaran minimal 20 inchi. Tempat cuci
tangan dilengkapi dengan sabun atau bahan lain yang beguna untuk membersihkan
kotoran yang menempel pada tangan. Penerangan diruang atau area tempat dipasang
washing facilities harus memadai. Tersedianya kertas tissu, handuk (individual), kain
lap di area wastafel. Jangan menggunakan handuk secara bersama-sama. Sebaiknya
tersedia pengering (air dryers).

9
Di semua industri kecuali pada industri yang mempunyai kamar mandi yang
luas, jika pekerja terpajan oleh panas, kelembapan, atau debu, harus disediakan
minimal 1 kamar mandi untuk setiap 50 orang pekerja yang dilengkapi dengan keran
air dingin dan air panas. Untuk setiap penambahan 50 orang pekerja, ditambahkan
satu kamar mandi dilengkapi dengan sabun, spon, atau peralatan yang memudahkan
pekerja untuk membersihkan badan.

5. Toilet, WC dan Urinals

Harus tersedia toilet yang bisa digunakan oleh pekerja. Toilet untuk pria dan
wanita harus terpisah. Terdapat tanda yang jelas. Pekerja dilarang keras menggunakan
toilet yang bukan untuk jenis kelamin yang bersangkutan.

Letak toilet tidak boleh lebih dari satu lantai diatas atau dibawah area kerja
regular, kecuali ruang kerja tersedia lift atau elevator yang memudahkan pekerja
untuk menuju toilet. Toilet tidak boleh kontak langsung dengan ruang lain seperti
dapur atau ruang penyimpanan makanan yang tidak dibungkus, kecuali ada pintu
pembatas. Pintu pembatas harus mempunyai system tertutup secara otomatis. Toilet
pria dan wanita harus dipisahkan dengan konstruksi yang permanen (soundproof,
materi tidak transparan). Perlu divantumkan jangan dibuka. Dinding dan plafon
yang digunakan sebaiknya dari bahan yang mudah dibersihkan. Pinu toilet sebaiknya
tertutup rapat dan dilengkapi dengan alat yang membuat pintu bisa tertutup sendiri.
Toilet harus fan dan terdapat ventilasi untuk masuknya cahaya. Didalam toilet
terdapat poster atau himbauan kepada para pengguna agar menjaga kebersihan dan
tidak melakukan tindakan yang dpat merusak fasilitas toilet. Tersedia kertas tissu atau
toilet paper. Dinding, partisi dan bagiandan bagian lain dari toilet harus bersih dan
bebas dari kotoran dan coret-coretan. Sebaiknya toilet pria dibersihkan oleh petugas
pria dan toilet wanita oleh petugas wanita kecuali pada waktu diluar jam kerja.
Ruangkhusus wanita didalam toilet wanita harus tertutup.

Jumlah WC yang tersedia untuk jenis kelamin harus berdasarkan jumlah


maksimal pekerja untuk setiap jenis kelamin. Jika terdapat urinals, maka jumlah WC
harus dikurangi sjumlah urinals yang tersedia, dan jumla WC yang tidak boleh kurang
dari 2/3 dari jumlah yang dioersyaratkan. Harus terdapat keran atau pengatur supply
air dan pipa penyalur Wc sebaiknya dilengkapi dengan saluran,

10
Buangan dan penyaringan pasir atau kotoran dan dilengkapi dengan tangki
penampungan air untuk melakukan penyiiraman untuk setiap unit dilengkapi dengan
keran untuk peyiraman. Ukuran pipa untuk penyiraman diameter yang tidak boleh
kurang dari 1 inc. Pimtu dilengkapi dengan kunci. Tinggi pintu minimal 60 inc dari
kantai dan jika pintu tidak menyentuh tanah maka jarak maksimal adalah pintu dari
lantai 12 inc.

Jika jumlah pekerja kurang dari 30 orang, maka sebaiknya tersedia satu urinal.
Jika jumlah pekerja pria 30-80 harus terdapat dua urinal, dan setiap penambahan 80
orang atau kelipatannya datambah satu unit urinal.

Ukuran urinal minimal 2 feet dan terbuat dari marmer dan mempunyai tinggi
dari lantai tidak kuarang 15 inc diukur dari ujung bawah urinal. Urinal sebaiknya
diletakkan didalam ruang toilet dan untuk setiap urinal dibatasi oleh partisi. Urinal
harus terhubung saluran pembuangannya dengan saluran limbah cair yang lain.
Dilengkapi dengan keran untuk menyiram ukuran diameter pipa atau
flushing/menyiram tidak urang dari inc. Jumlah minimal supay air untuk macam
urinal terdapat pada tabel dibawah ini:

Tabel 2.4. jumlah minimal air untuk urinal

URINALS GALONS
Pedestal 3
Siphon jet 2
Individual stail 2
Flush rim (perfoot of length) 1

6. Air Minum
Tersedia suplay air minum yang memenuhi syarat kesehatan. Jangan
menggunakan gelas untuk minum bersama-sama. Harus tersedia gelas atau cup untuk
setiap pekerja. Sebaiknya menggunakan pekerja lain. Kondisi keran harus dijaga
sanitasinya.jika disediakan kertas tissue dan drinking cups, sebaiknya juga disediakan
kotak atau tempat penampungan sampah bekas tissue atau cup yang sudah dipakai.

11
12
BAB III

HASIL KUNJUNGAN

1. Identitas Perusahaan

Nama perusahaan : PT. Adi Satria Abadi (ASA)

Jenis Perusahaan : Industri Penyamakan Kulit

Alamat Perusahaan : Ds. Banyakan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul

Tanggal Kunjungan : 27 November 2015

2. Proses Produksi

1. Bahan yang diperlukan:

Bahan baku : Kulit domba dan Kulit kambing


Bahan tambahan : bahan kimia berupa zat pewarna, asam formiat, sodium
chloride, amoniak dan soda kue

2. Mesin/Peralatan kerja yang digunakan : drum kayu, mesin shaving, double setter,
mesin stacking, togling, mesin ukur, drum zat kimia dan penyedot debu.

3. Proses produksi : Sortasi pickle, tanning, shaving, dying dan fat liquoring, setter,
hunging, stacking, togling, measuring, sortasi finish dan packing.

4. Barang yang dihasilkan :

Produk utama : Kulit


Produk sampingan : Tidak ada

5. Limbah : logam (chrome) dan non-logam (campuran).

BAB IV

13
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Gizi Kerja
a. Pemberian makanan tambahan
- Pemberian susu murni dua kali dalam seminggu , yaitu hari senin dan rabu
- Pemberian susu kaleng tiga kali dalamseminggu yaitu hari selasa, kamis dan
jumat
- Pemberian teh manis setiap hari pukul 08.30 WIB

b. Pemberian makan siang


- Jam kerja tiap hari adalah pukul 08.00 sampai dengan pukul 16.00 WIB dan
mendapatkan jam istirahat pukul 12.00 samapai 12.30 WIB.
- Pemberian makan siang berupa catering rumahan warga sekitar.

c. Variasi menu
a. Hari senin
Nasi, Ayam, sayur.
b. Hari selasa
Nasi, tempe, sayur.
c. Hari rabu
Nasi, tahu, sayur
d. Hari kamis
Nasi, telur, sayur
e. Hari jumat
Nasi, ikan asin, sayur

d. Penyajian
Makanan disajikan menggunakan kertas pembungkus makanan yang dberikan ke
petugas pengantar makanan untuk diantarkan ke setiap ruangan pekerja. Minuman
berupa susu dan teh disajikan dalam gelas kaca dan diberikan penutup gelas.
Minuman makan siang berupa galon yang disediakan oleh swadana pekerja setiap
ruangan.

e. Kecukupan gizi
- Makan siang/kali makan

Jenis Komposisi Berat (gram) Total Kalori (kkal)


Makanan utama Nasi putih 400 700
Sayur 100 25
Ayam kulit 55 150
Minyak kelapa 5 50
Santan 40 50
Minum Air putih 600 ml 0
Jumlah 975

14
- Makanan/minuman selingan

Jenis Komposisi Berat Total Kalori


(kkal)
Minuman Susu sapi murni 200 ml 125
Teh (2 gelas) 400 ml 140
Jumlah 600 ml 265

f. Kecukupan kalori
Data diambil dari pekerja Tuan A, usia 38 tahun, BB 60 kg, TB 168 cm.
Perhitungan kebutuhan kalori kerja:
1. Kebutuhan BMR: (11,6x60)+879= 1.575 kkal
2. Kebutuhan kalori untuk aktivitas seang: 1,67x 1575=2.630 kkal
3. Kebutuhan kalori selama 24 jam: 2630 + (10%x2630) =2.893 kkal
4. Kebutuhan kalori 8 jam kerja:
- Kebutuhan kalori makan siang (35% x total) = (35% x 2893) = 1.012, 55 kkal.
- Kebutuhan kalori selingan: (10% x total) = (10% x 2893) = 2.89,3 kkal
- Total kebutuhan kalori = 1.012, 55 + 2.89,3 = 1.301, 85 kkal

Asupan Kalori

- Makan siang: 975 kkal


- Minum selingan: 265 kkal
- Jumlah: 975 + 265 = 1.240 kkal
Kesimpulan: Kebutuhan kalori pekerja selama 8 jam masih belum tercukupi.

g. Jenis/beban kerja
Terdapat 2 golongan atau bagian dengan beban kerja sama. Pada bagian pertama
menasuki proses basah diantaranya tanning (ruang pewarnaan) warna putih
dengan formalin, biru dengan chrom, saving (penipisan), re-tanning (pewarnaan
dengan minyak). Pada proses kedua, proses kering dimana bahan akan memasuki
proses hanging (penjemuran bahan), mealing (pelemasan bahan), staking
(pelemasan), polishing (menghilangkan kerutan/menghaluskan), dan toggling
(perluasan bahan), ruang pemoting bahan. Semua beban kerja seluruh ruangan
tergolong sama yaitu beban kerja sedang.

h. Pengelolaan makanan
Perusahaan tidak memiliki pengelola makanan untuk tenaga kerja. Makanan
dipesan diluar perusahaan (dibuatkan oleh warga sekitar perusahaan ). Makanan
dikemas dalam bungkus nasi, namun untuk minuman selingan dibuat langsung
oleh perusahaan.

15
i. Kantin perusahaan
Perusahaan tidak memiliki kantin makanan untuk tenaga kerja, perusahaan hanya
memiliki dapur umum untuk menyediakan minum (teh,susu). Khusus untuk nasi
bungkus diberikan langsung kedalam ruangan tempat kerja masing-masing
sebanyak 250 bungkus per hari.

j. Ruang makan perusahaan


Perusahaan tidak memiliki ruang makan khusus untuk tenaga kerja. Para pekerja
makan dan minum di bagian ruang kerjanya masing-masing. Tidak ada kebijakan
atau aturan yang melarang pekerja untuk makan atau minum diruang kerja.

k. Dapur
Perusahaan hanya memiliki dapur untuk memasak air minum, susu, dan teh bagi
pekerja. Di dapur terdapat dispenser, kompor minyak dan tempat pencucian
minum. Dapur memiliki ukuran sebesar 2,5 x 2 mm 3 terletak dibagian belakang
ruang staking. Air dimasak menggunakan panci aluminium ukuran besar dengan
kompor minyak. Teh dimasak pukul 08:00 WIB, susu dimasak pukul 10:00 WIB.
Kebersihan di dapur tergolong cukup bersih.

l. Air Minum
Air yang dikonsumsi oleh para pekerja yang ada di perusahaan adalah air mineral
galon. Masing-masing tenaga kerja diberi satu buah botol plastik air minum.
Terkadang air untuk dimasak berasal dari sumur bor. Sebelum dimasak air dari
sumur bor dilakukan penyaringan terlebih dahulu baru kemudian dimasak untuk
dikonsumsi bagi pekerja.

2. Sanitasi Perusahaan

a) Kebersihan perusahaan

Secara umum kebersihan lingkungan kerja pabrik terlaksana dengan baik tidak
terlihat adanya sampah-sampah yang berserakan dan mengganggu estetika lingkungan,
walaupun masih juga terdapat beberapa tempat yang kurang bersih. Tersedianya tempat
sampah di beberapa titik namun tidak dipisahkan antara sampah organik dan non
organik, tidak ada penutupnya. Dan ada beberapa sampah bahan baku yang masih
berserakan di lantai walaupun sudah disediakan tempat sampah. Pengangkutan sampah
dilakukan setiap hari dan diserahkan ke penampungan sampah.

16
Para pekerja diberikan alat-alat kebersihan seperti sapu, sapu lidi, ember dan
beberapa alat kebersihan lainnya yang digunakan untuk membersihkan lingkungan
kerjanya setiap 10 menit sebelum jam kerjanya selesai. Perusahaan memperkerjakan 5
orang cleaning service untuk membantu menjaga kebersihan di area perusahaan.
Terdapat debu sisa hasil pengerjaan kuliat di bagian staking.

b) Kerapihan dan Keindahan

Tata ruang dan kerapihan dalam kantor administrasi dan klinik cukup baik, akan
tetapi aspek keindahan masih kurang. Pada bagian dalam pabrik terlihat penempatan dan
penyusunan alat yang sudah rapi dan baik, akan tetapi penataan barang yang diproduksi
masih terlihat kurang rapi. Halaman luar dari ruang produksi terdapat tanaman-tanaman
hijau yang rapi dan terawat.. Tanaman di lingkungan pabrik bermacam-macam jenisnya
sehingga menambah keasrian dan keindahan lingkungan pabrik. Cat tembok di sebagian
besar ruangan tampak kusam dan di area langit-langit terdapat sawang. Jendela dan
ventilasi tampak kotor dan brdebu. Penempatan alat makan dan minum di ruangan
diletakkan di sembarang tempat. Masih terlihat para pekerja yang merokok di ruang
kerja. Pekerja menggunakan pakaian bebas sehingga mengurangi keindahan dan
keseragaman di perusahaan.

c) MCK

Jumlah MCK di perusahaan tersebut sudah memadai dengan jumlah karyawan


sekitar 250 orang (220 pekerja bagian produksi dan 30 orang bagian administratif).
Berdasarkan standar, di perusahaan harus memiliki 1 MCK untuk setiap 15 pekerja, dan
di perusahaan ini terdapat 1 MCK untuk 8 pekerja, jadi sudah sesuai standar, dengan
jumlah MCK pada masing-masing bagian sebanyak 1-2 MCK pada setiap unit. Tidak
terdapat wastafel pada setiap ruangan dan tidak ada pembagian MCK untuk pria dan
wanita. Kebersihan MCK di dalam pabrik tergolong bersih, namun masih ada beberapa
MCK yang kurang terawat dan terdapat lumut. Kualitas air di kamar mandi baik dimana
tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa dan jernih.

d) Site Plan

17
Jumlah taman dan tanaman dibandingkan dengan luas bangunan pabrik tampak
cukup seimbang (memenuhi ketentuan 30% ruang terbuka hijau). Jenis tanaman cukup
bervariasi mulai dari rumput dan tanaman hias.

Konstruksi gedung dan instalasi listrik di perusahaan ini sudah tertata cukup baik.
Ventilasi udara cukup memadai, akan tetapi aliran sirkulasi udaranya masih kurang
sehingga terasa agak panas dan bau. Di ruang Polishing tidak cukup luas sehingga
mobilitas di ruang tersebut sangat terbatas membuat sirkulasi aliran udara kurang.

e) Penerangan

Penerangan untuk beberapa tempat sudah cukup baik, namun sebagian unit
produksi yang lain masih kurang baik, penerangan untuk ruang bahan baku dan ruang
produksi basah berasal dari sinar matahari saat siang hari dan lampu pada malam hari,
dan untuk ruang produksi kering dan gudang selalu menggunakan sumber lampu dan
masih berfungsi dengan baik.

f) Penyediaan Air Bersih

Penyediaan air bersih menggunakan sumber air tanah yang diambil dari
kedalaman 50 meter melalui proses penyulingan. Kualitas air cukup baik, tidak berasa,
tidak berbau, tidak berwarna. Sumber air ini digunakan untuk sumber air minum setelah
melalui proses penyulingan dan pemasakan, air produksi, dan air MCK. Sebelum air
digunakan untuk konsumsi, air di filter reversible osmolarity.

g) Kebersihan Kantin dan Peralatannya

Perusahaan tidak menyediakan kantin dan ruang makan khusus untuk pekerja.
Untuk makanan, perusahaan menggunakan jasa catering luar. Para pekerja makan pada
saat jam istirahat di ruang istirahat yang tersedia di setiap unit produksi. Untuk peralatan
makan dicuci di dapur menggunakan air dari bak penampungan, setelah dicuci disimpan
di dalam lemari tertutup.

h) IPAL ( Instalasi Pengolahan Air Limbah)

Untuk IPAL pabrik ini sudah memiliki instalasi pengolahan air limbah yang
bertempat di pabrik bagian belakang terpisah dengan bagian lain pabrik. Limbah pabrik
ini berupa limbah cair dan limbah padat. Untuk limbah cair perusahaan ini memiliki dua

18
jenis, yang mengandung logam dan yang tidak mengandung logam. Untuk pengolahan
limbah cair non logam sudah sangat baik dan tetata rapi. Dan untuk limbah cair yang
mengandung logam chrom diolah dengan menggunakan alat sehingga bagian logam
dapat diambil kembali dan digunakan untuk produksi (30%) dan setelah bebas logam
limbah tersebut lalu dicampur dengan pengolahan air limbah yang lain berupa campuran
bahan kimia sisa obat (bahan kimia berupa zat pewarna, asam formiat, sodium chloride,
amoniak).

Untuk pengolahan air limbah cair campuran terbagi dalam 3 tahapan, yaitu :

Tahap pertama, limbah yang berasal dari proses produksi dan non produksi (dari
dapur) ditampung dalam bak dan dilakukan proses kimiawi dengan ditambahkan
kapur dan dilakukan proses koagulasi.
Tahap kedua, setelah proses koagulasi maka limbah akan dialirkan dalam bak biologi,
selanjutnya diberi microbiologi agent yang berfungsi untuk menguraikan zat-zat yang
berbahaya dari limbah tersebut.
Tahap ketiga, limbah yang berasal dari bak biologi, selanjutnya dilakukan filter atau
penyaringan. Sehingga hasil akhirnya, limbah cair tidak tercemar oleh zat kimia lagi,
dan akhirnya limbah tersebut dialirkan ke sungai di belakang pabrik.

Limbah cair bagian akhir, mempunyai masa pngecekan berkala dari pihak yang
berwenang sebelum dibuang ke sungai.

Limbah padat dari sisa produksi pabrik diolah oleh perusahaan limbah di
Semarang. Perusahaan penyamakan ini hanya mempunyai izin untuk penampungan
limbah padat sementara.

19
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil kunjungan kami ke PT Adi Satria Abadi menyimpulkan bahwa :

1. Perusahaan belum memiliki kantin sehingga belum memenuhi standar.


2. Asupan kalori para pekerja masih belum tercukupi.
3. Tempat pencucian gelas dan piring kurang memenuhi standar.
4. Sanitasi lingkungan perusahaan cukup baik, dimana sudah tersedia sarana penunjang
seperti MCK, tempat sampah, penyediaan air bersih.
5. Kebersihan dan keindahan perusahaan masih kurang terutama bagian dalam
bangunan
6. IPAL yang cukup memadai.

4.2 SARAN

1. Diharapkan perusahaan menyediakan kantin bagi para pekerja.


2. Diharapkan perusahaaan memberikan makanan dengan kalori yang cukup bagi para
pekerjanya. Misalnya dengan menambahkan lauk dan buah.
3. Kebersihan lingkungan perusahaan perlu dipertahankan.
4. Diperlukan adanya penyediaan tempat sampah organic maupun non organic serta
penutupnya, dan menaruh vektor biologi dalam bak air untuk mencegah jentik
nyamuk.
5. a. Memperbaiki sirkulasi udara di lingkungan kerja, meningkatkan kebersihan MCK
secara berkala.
b. Perusahaan menyediakan pakaian seragam bagi para pekerjanya, menyediakan
tempat khusus untuk meletakkan alat pribadi dan makan, seperti loker,mencat
ulang dinding pabrik secara berkala, menyediakan alat peraga informasi dan
himbauan berupa poster atau pamflet yang berisikan tentang K3

Lampiran

20
21
22
23
24
25
26