Anda di halaman 1dari 11

KAKTERISTIK KEBUDAYAAN PENDUDUK ASLI AUSTRALIA: SUKU

ABORIGIN
Mochamad Doni Akviansah
Pendidikan Sejarah Offering D 2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Australia merupakan salah satu negara persemakmuran Inggris
(Commonwelth). Lokasi negara Persemakmuran ini berada di 3515 LS 14928
BT. Australia juga disebut sebagai negara benua karena Australia merupakan
negara yang mendiami Benua Australia sendirian. Benua Australia bertetanggaan
dengan Indonesia, Timor Leste, dan Papua Nugini, di sebelah utara bertetanggaan
dengan kepulauan Solomon, Vanuatu, di timur laut dengan Kaledonia Baru, dan
di tenggara dengan Selandia Baru. Australia beribu kota Canberra tetapi memiliki
Kota terbesar Sydney. Australia mengunakan Bahasa resmi Inggris. Pemerintahan
negara Australia masih menyatu pada kerajaan Inggris sehigga Ratu merupakan
simbol pemerintahaan dan untuk mewakilinya di Australia pemerintahaan Inggris
diwakili oleh Gubernur Jendral. Bentuk negara australia adalah negara yang
berbentuk monarki konstitusional.
Negara Australia mempunyai sejarah yang menarik, salah satunya mengenai
siapa penemu Benua Australia, siapa Suku Aborigin, Apa kebudayaan asli
Asutralia dan siapa penduduk asli negara Australia. Mengenai hal itu, masih
banyak orang diluar Australia bahkan masyarakat Australia masa kini tidak
mengetahui. Sebenarnya kebudayaan-kebudayaan sangat menarik untuk
dipelajari, namun di Australia sendiri kebudayaan penduduk asli seakan sengaja
dilupakan atau bahkan kurang dihormati. Sedangkan yang banyak kita ketahui
hanyalah penduduk Australia masa kini di dominasi oleh keturunan para
pendatang dari abad 19 dan 20, dan imigran tersebut berasal dari Inggris.
Dalam tulisan ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai sejarah penduduk asli
Australia beserta karakteristik kebudayaan penduduk asli Australia. Selain itu juga
dijelaskan keadaan sosial penduduk asli Australia sebagai informasi tambahan.
Walaupun demikian, saya harap tulisan ini mendorong orang untuk mengetahui
lebih lanjut tentang sejarah penduduk asli Australia beserta karakteristik
kebudayaan penduduk asli Australia, dan menjadi permulaan untuk mempelajari
tentang topik yang menarik ini.

1.2 Rumusan Masalah

(1) Bagaimana sejarah penduduk asli Australia Suku Aborigin?


(2) Bagaimana kakteristik kebudayaan penduduk asli Australia Suku
Aborigin?

1.3 Tujuan

1
2

(1) Untuk mengetahui dan memahami secara lebih tentang sejarah penduduk
asli Australia Suku Aborigin.
(2) Untuk mengetahui dan memahami secara lebih tentang kakteristik
kebudayaan penduduk asli Australia Suku Aborigin.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Penduduk Asli Australia Suku Aborigin


Australia merupakan negara dengan jumlah penduduk sekitar 21 juta jiwa
yang kental dengan nilai-nilai kebudayaan yang tumbuh dan berkembang
dalam kehidupan masyarakat pribuminya yaitu suku aborigin (Perdana, 2009:
130). Australia merupakan hasil perpaduan unik antara tradisi mapan dan
pengaruh baru. Tradisi mapan disini adalah ibarat suku aborigin yang
notabene penduduk asli Australia yang sudah mempunyai tradisi dan
kebudayaan yang beragam dan merupakan pewaris salah satu tradisi
kebudayaan tertua dunia yang masih langgeng tetapi kebudayaan tersebut
seakan tersisihkan oleh pengaruh baru yang lebih kuat yakni ras kulit putih
dari Eropa.
Secara fisik, suku Aborigin memiliki ciri ciri sebagai berikut. (1) kulit
berwarna coklat. (2) rambut ikal bergelombang. (3) muka ditumbuhi bulu-
bulu yang lebat. (4) dahi sempit atau mundur. (5) rongga mata dalam. (6) alis
mata menonjol. (7) rahang menonjol. (8) mulut besar. (9) tulang tengkorak
tebal. (10) tinggi badan rata-rata adalah 5 kaki dan 5/6 inci. Ciri-ciri mereka
tampaknya mirip dengan suku bangsa Toala di Sulawesi, orang Sakai di
Malaysia, orang Veddas di Srilangka, dan suku asli India Selatan. Penduduk
asli Australia (aborigines atau aboriginal) memiliki ciri-ciri fisik yang berbeda
dengan ciri-ciri fisik empat ras utama lainnya, sehingga Elkin
mengelompokkan penduduk asli Australia pada kelompok khusus yang
disebut Australoid.
Aboriginal Australians have the oldest (chromosomal) lineage outside
Africa. Dating techniques push back the occupation of Australia beyond
60.000 years to the early period of modern mans emigration from Africa.
Flood (2006) mapped the distribution of human traced through Y-
chromosome lineage-the second oldest identified marker (M310) has it
greatest concentration (60%) in Aboriginal Australian men wich highlights
direct Aboriginal links to the earliest emogrants from Africa (Hampton,
2013:17).
Orang orang australoid adalah ras bangsa pertama yang mendiami benua
australia dan diperkirakan arah kedatangan ras australoid ini berasal dari arah
utara australia. Diduga mereka memasuki benua Australia pada 40.000 tahun
lalu dari arah utara. Menurut Elkin (1956) penduduk asli Australia memasuki
Australia dari arah utara. Diperkirakan pintu masuknya adalah garis pantai
utara, mulai dari Semannjung York di sebelah Timur sampai pantai daerah
Kimberley di sebelah barat. Sementara itu Shaw (1969) menjelaskan bahwa
kemungkinan mereka bergerak ke arah Australia karena terdesak oleh bangsa
yang lebih kuat. Dari daratan India dan semenanjunag Malaysia mereka
bergerak ke arah selatan dan melalui Indonesia (Laut Timor, Laut Arafuru,
dan Selat Tores).
Suku Aborigin berkembang dengan sangat lambat sehingga mereka masih
hidup dalam zaman batu dengan corak kehidupan food gathering ketika
rombongan kolonis pertama dari Inggris tiba di Australia. Tetapi Perihal
kapan penduduk Asli kapan datang masih menjadi suatu teka teki dan timbul
3
4

banyak perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan puluhan ribu tahun,


ratusan tahun bahkan ada juga yang mengatakan ribuan tahun dengan berbagai
alasan pendukung. Jika direnungkan dari pernyataan tersebut, seharusnya suku
Aborigin layak dikatakan sebagai penemu dan pemilik benua Australia.
Namun pernyataan itu seakan tidak berguna atau hilang dalam sejarah
Australia semenjak kedatangan ras kulit putih yang notabene merupakan
orang-orang buangan atau napi dari Inggris yang disarankan oleh James Cook
(Siboro, 1989:28-29).
Pendatang dari Eropa yang semuanya ras kulit putih menganggap bahwa
suku Aborigin yang mereka temui pertama kali di benua Australia adalah
ciptaan gagal atau fauna atau lebih parah lagi dikatakan belum sempurna jika
dikatakan sebagai manusia seutuhnya. Perlakuannya tidak cukup sampai
disitu, bahkan karena kedatangan ras kulit putih, penduduk asli terdesak ke
pedalaman dan daerah tempat tinggal yang sebelumnya mereka tempati di
tinggali oleh orang-orang pendatang dan sumber daya alam mereka di
eksploitasi (Siboro, 1989:135-136). Dalam kehidupan masyarakat australia,
suku bangsa aborigin kurang dihormati karena memiliki kulit gelap. Kaum
pendatang yang berkulit putih mulus memperlakukan penduduk asli australia
dengan tidak sewajarnya. Karena hal itu semua, akhirnya muncul kebijakan
pembetasan imigran, namun kurang efektif dan masih terjadi diskriminasi.
Selanjutnya pembatasan imigran diberhentikan pada tahun 1973,
digantikan dengan kebijakan multikulturalisme di Australia diharapkan
mampu mengahapuskan segala deskriminasi dan menumbuhkan sikap toleran
serta membina kerukunan antar imigran yang berasal dari negara-negara yang
berbeda. Akan tetapi dalam perkembangannya, kebijakan multikulturalisme
belum bisa diterapkan secara menyeluruh dalam masyarakat. Terdapat
beberapa kejadian atau kasus yang menggambarakan tetap eksisnya
deskriminasi baik warna kulit, ras, ataupun etnis (Poetrie, 2013:14-15).
Saat ini, sebagian besar suku Aborigin telah pindah ke kota. Namun
mereka mengalami kesulitan kesehatan dan ekonomi, dengan indikator sosial
yang buruk seperti pendidikan yang rendah, banyaknya pengangguran, serta
kemiskinan yang tinggi. Proses urbanisasi ini lebih berdasarkan pada tekanan
politik dibandingkan keinginan mereka sendiri. Suku Aborigin sendiri terbagi
atas banyak kelompok menurut wilayah yang mereka tinggali, diantaranya
adalah Aborigin Bama di wilayah Queensland, Aborigin Koori di wilayah
New south Wales dan Victoria, Aborigin Murri di wilayah Queensland
selatan, Aborigin Noongar di wilayah selatan bagian Australia barat, Aborigin
Nunga di wilayah Australia selatan, Aborigin Anangu di wilayah dekat
perbatasan Australia selatan dan barat, serta Aborigin Palawah yang tinggal di
pulau Tasmania. Komunitas Aborigin terbanyak ialah Aborigin Anangu yang
memiliki populasi 32,5% dari seluruh orang Aborigin di Australia, namun jika
dihitung keseluruhan dengan penduduk Australia suku Aborigin hanya
berjumlah 517.000 jiwa dan jika di persentasi hanya 2,3%.

2.2 Kakteristik Kebudayaan Penduduk Asli Australia Suku Aborigin


Suku Aborigin merupakan penduduk asli Benua Australia yang
mempunyai warisan kebudayaan beragam dan bisa dibilang langgeng hingga
kini meskipun sudah banyak pengaruh modern. Kata Aborigin memiliki arti
paling awal dikenal. Mereka memiliki budaya, warisan, dan sejarah yang
berbeda dari kelompok-kelompok lain di seluruh dunia. Kebudayaan Suku
Aborigin sangat khas dan menarik untuk diketahui meskipun cukup rumit.
Suku Aborigin salah satu suku yang memperkaya kebudayaan negara
Australia, terutama dalam bidang kesenian. Bentuk kesenian Aborigin
mengingatkan kembali ke masa lebih dari ribuan tahun yang lalu. Nuansa
sakral sangat dominan terlihat dalam kesenian Aborigin. Hal ini dibuktikan
dengan ragam kesenian visual yang dihasilkan seperti lukisan, cukilan, dan
goresan.
Kebanyakan ekspresi kesenian itu dihubungkan dengan arwah para leluhur
mereka. Cukilan pada batu dan kayu merupakan peninggalan kesenian
dekoratif tertua seperti yang terdapat di kepulauan Melville dan Bathrust yang
digunakan untuk dekorasi-dekorasi makam. Orang-orang Aborigin juga
sangat dikenal dengan lukisan mereka. Yang paling spesifik dari lukisan itu
adalah media lukis yang digunakan yaitu zat pewarna yang alamiah. Pewarna
ini mereka olah sendiri dengan menggunakan bahan-bahan murni dari alam
(terutama tumbuh-tumbuhan). Seni pahat batuan dan lukisan kulit kayu
menampilkan kehidupan Aborigin yang selaras dengan alam. Hubungan
antara masyarakat Aborigin dan lingkungannya paling terlihat dalam
penggunaan warna alami dalam lukisan yang sebagian besar terbuat dari oker
(ochre).
Salah satu budaya yang terkenal dari suku Aborigin adalah senjata berburu
yang sering mereka gunakan, yaitu Boomerang (lihat foto 2.2.1). Selain itu,
kita juga dapat melihat dari seni dan tarian kontemporer Aborigin di kota-kota
Australia. Atau kunjungi daerah pedalaman dan dengarkan mitos
penciptaan. Jalan-jalan di hutan semak, snorkeling, berbagi makanan khas
hutan semak atau belajar membuat tombak dan menangkap ikan dengan cara
tradisional. Orang-orang Aborigin akan membantu Anda memahami tanah
purba ini, beserta spiritualitas dan keajaibannya. Beberapa tempat khusus
yang dapat kita kunjungi di Australia agar kita dapat berhubungan langsung
dengan Suku Aborigin yakni (1) Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta, Teritorial
Utara. (2) Kimberley, Australia Barat. (3) Daintree, Queensland. (4) Coorong,
Australia Selatan. (5) Gippsland, Victoria. (6) Tur budaya Sydney, New
South Wales. (7) Bangarra Dance Company, Nasional. Di tempat-tempat
tersebut kita dapat mengetahui peninggalan-peninggalan, lukisan-lukisan
dalam Goa yang mempunyai makna spiritual, alam bebas tempat suku
Aborigin beserta rumah mereka, makanan khas suku Aborigin, obat-obatan
tradisional suku Aborigin, jejak rute perdagangan suku Aborigin yang telah
berusia sekitar 18.000 tahun, dan nama-nama kaum Aborigin, serta
pertunjukan kesenian suku Aborigin dengan didampingi oleh Pemandu dari
Suku Aborigin yang siap menceritakan kisah kuno tentang Suku Aborigin.
Suku Aborigin yang hidup di Australia ini mengembangkan kebudayaan
sendiri berdasarkan kondisi lingkungan alam di mana mereka hidup. Mereka
hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan (food gathering) dan
ini sudah dipertahankan semenjak beribu-ribu tahun sebelum kedatangan
bangsa kulit putih. Mereka tidak mengenal pertanian, karena, disamping
faktor lingkungan alam yang kurang mendukung untuk diolah menjadi lahan
pertanian, juga disebabkan oleh tidak adanya bibit tanaman untuk pertanian.
Kenyataan ini ternyata dapat mereka pertahankan dalam waktu yang lama,
karena cara ini mereka anggap paling efesien dalam memanfaatkan alam
sebagai sumber kehidupan.

Foto 2.2.1 Boomerang Senjata Berburu Khas Suku Aborigin Sumber:


https://s-media-cache-
ak0.pinimg.com/originals/de/75/8d/de758d8f0f909f344a8d06f0e601e374.jpg

Orang Aborigin menganggap diri mereka adalah bahagian dari alam dan
semua benda-benda alam seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan, menurut
mereka, mempunyai sifat yang sama dengan manusia. Oleh karenanya dalam
tradisi Aborigin sangat dipentingkan menjaga keharmonisan alam. Dalam
mengumpulkan bahan makanan dan berburu mereka selalu menjaga
keseimbangan alam serta mampu memelihara sumber kehidupan. Sehingga
dengan demikian persediaan sumber itu selalu terjamin.
Menurut tradisi orang-orang Aborigin, tanah adalah merupakan bahagian
yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Tanah adalah suatu yang
bersifat sakral, pemilikan atas tanah adalah mutlak untuk menjaga
keharmonisan jagad raya. Sebelum kedatangan orang Eropa, hampir semua
daratan Australia telah dipatok menjadi wilayah-wilayah suci setiap suku
Aborigin. Wilayah dan batas-batasnya (border) mereka ingat dengan baik
melalui balada-balada, karena mereka memang tidak melakukan pencatatan
tertulis untuk itu. Di wilayah-wilayah itulah mereka melakukan segala
kegiatan mulai dari berburu, mengumpul bahan makanan dan melaksanakan
upacara-upacara keagamaan. Setiap border biasanya didiami oleh satu suku
Aborigin yang masing masing memiliki spesifikasi budaya dan bahasa yang
berbeda-beda.
Orang-orang Aborigin memiliki sistem kepercayaan Dream Time.
Mereka percaya kepada arwah nenek moyang dan percaya kepada kekuatan-
kekuatan magic yang dimiliki oleh alam terutama binatang. Disamping itu
mereka juga dikenal sebagai pembuat obat yang diolah dari sumber-sumber
alam. Hidup orang-orang Aborigin dikenal sebagai serba upacara. Hal itu
mereka anggap penting dalam setiap pelaksanaan pekerjaan seperti
perkawinan, kematian, kelahiran dan sebagainya. Peranan orang tua sangat
menentukan dalam sistem kehidupan orang-orang Aborigin. Dewan Orang
Tua (Council of Elders) berperan terutama dalam menentukan perang antar
suku, upacara kelahiran, sunatan (inisiasi), keuntungan, pembagian makanan
dan upacara kematian. Dalam perkembangan saat ini para seniman Aborigin
modern masih meneruskan tradisi, tetapi mereka juga mulai mengadopsi
material modern yang serbaguna. Selain memiliki pelanggan internasional,
kesenian asli Aborigin juga menjadi sumber pendapatan yang besar untuk
beberapa komunitas di Australia. Saat ini, sebagian besar suku Aborigin telah
pindah ke kota. Secara singkat, kebudayaan Suku Aborigin ditulis sebagai
berikut.
a) Bahasa
Bahasa asli suku Aborigin Australia diketahui tidak terkait dengan
salah satu bahasa di bagian lain dunia. Saat ini, hanya ada kurang dari 200
bahasa asli Australia yang digunakan. Ahli bahasa mempelajari bahasa
Australia sebagai Pama Nyungan dan non- Pama Nyungan. Bahasa Pama-
Nyungan mayoritas terdiri dari keluarga bahasa terkait, sedangkan yang
tidak berhubungan dipelajari ahli sebagai bahasa non-Pama Nyungan.
Kelompok bahasa tersebut diyakini sebagai hasil dari kontak yang lama
dan intim. Sebuah fitur umum dari bahasa adalah bahwa mereka
menampilkan cara bicara khusus yang intim digunakan dan hanya
digunakan di hadapan kerabat. Sebenarnya Suku Aborigin tidak mengenal
bahasa tulis. Mereka hanya mengenal bahasa lisan. Bahasa tulis mereka
pelajari setelah kedatangan Inggris, dan mereka mulai menulis sastra tulis
sekitar tahun 1960an (Iswalono, 2013: 3)
b) Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan Suku Aborigin digambarkan dalam karya-karya
tradisional yang sangat arstistik seperti mengukir, weaving, kappa haka
(tarian), whaikorero (seni musik) dan moko (tato) yang semakin
berkembang mengikuti jaman seiring dengan semakin kuatnya
moderenitas dan teknologi.
c) Sistem Kemasyarakatan atau Organisasi Sosial
Dalam kehidupan sehari-hari mereka dipimpin oleh kepala
suku yang biasanya juga merangkap sebagai dukun suku itu. Kepala suku
juga memimpin upacara keagamaan dan perkawinan. Mereka juga tidak
pernah tinggal lama di suatu daerah. Rumahnya amat sederhana, terbuat
dari susunan ranting pohon dan dedaunan (lihat foto 2.2.2).
d) Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
Mereka berburu binatang liar seperti kanguru, dengan tombak, panah,
dan bumerang (senjata khas orang Aborigin). Di daerah yang beriklim
dingin, kulit kanguru ini digunakan sebagai bahan pakaian.Ilmu bercocok
tanam dan beternak belum dikenal, karenanya kelompok anak suku
aborigin tidak pernah berkelana jauh dari sumber-sumber air atau sungai.
e) Sistem Mata Pencaharian Hidup
Berburu dan mencari ikan, Ilmu bercocok tanam dan beternak belum
dikenal, karenanya kelompok anak suku aborigin tidak pernah berkelana
jauh dari sumber- sumber air atau sungai.
f) Sistem Religi
Agama orang aborigin- Australia masih tradisional, mereka percaya
terhadap adanya Roh Agung yang menciptakan alam semesta dan isinya.
Mereka percaya bahwa Roh Agung terkadang memberikan petunjuk dan
bimbingan melalui mimpi.
g) Kesenian
Berbicara cara bermusik suku Aborigin bisa dibilang sangat serius dan
sangat menarik. Mereka membuat musik baru dengan jalan-jalan dan
mendengarkan bunyi-bunyian binatang beserta bunyi geraknya. Selain itu
mereka juga mendengarkan bunyi-bunyi kejadian alam seperti suara
guntur, daun yang tertiup angin, dan aliran air sungai Dia juga akan
mendengarkan suara guntur, daun yang tertiup angin, dan aliran air. Syair-
syair pendek dalam lagu yang mereka ciptakan menceritakan tentang
kejadian atau tempat yang ada hubungan dengan nenek moyangnya dan
ada juga lagu upacara penuh, yaitu lagunya khusus untuk menceritakan
maksud tarian yang sedang dimainkan. Alat musik yang biasa mereka
gunakan seperti bumerang, pentung, batang kayu, genderang, giring-giring
kayu dan didgeridoo. Mereka juga memperkaya musik dalam suatu lagu
dengan bertepuk tangan, hentakan kaki.
Selain bermusik, kesenian yang amat tampak dalam Suku Aborigin yakni
tarian. Tarian Suku Aborigin tidak jauh berbeda seperti tarian pada umumnya.
Umumnya, orang menari dengan banyak gerakan tangan, kaki dan badan
yang tetap, khususnya hentakan kaki (lihat foto 2.2.3). Penari yang paling
pintar menari dihormati dan terkenal jauh dari tempat asalnya. Dalam sebuah
tarian, kata mistik seperti tidak bisa jauh. Dalam upacara, ketika lagu rahasia
dinyanyi, tarian menjadi kuat secara mistik. Penari dan alat-alat yang dipakai
menjadi dipenuhi kekuatan gaib dan mistik. Walaupun unsurnya tidak
berbahaya, jumlah tarian dan nyanyian menjadi kuat dan oleh sebab itu harus
dihormati dan dilaksanakan dengan hati-hati. Upacara yang paling kuat
memperbaiki lingkungan alam, dan kehidupan komunitas Aborigin. Tempat
yang digunakan sebuah upacara dikenal dengan tempat yang sangat suci.
.
Foto 2.2.3 Salah Satu Tarian Suku Aborigin
Sumber: http://www.educationone-indo.com/wp-content/uploads/2016/01/suku-
aborigin.png

Foto 2.2.2 Rumah Orang Suku Aborigin Sumber: http://4.bp.blogspot.com/-


reWR0WO3TZQ/VLCE3aCvo2I/AAAAAAAADPM/4O5pVvmVsNI/s1600/4938ef
8746d6b2e85d25ccb6727ad36a.jpg
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

Australia merupakan hasil perpaduan unik antara tradisi penduduk Asli


atau Suku Aborigin yang merupakan pewaris salah satu tradisi kebudayaan tertua
dunia yang masih langgeng dan pengaruh baru. Suku Aborigin merupakan
penduduk asli Benua Australia yang mempunyai warisan kebudayaan beragam
dan bisa dibilang langgeng hingga kini meskipun sudah banyak pengaruh modern
. Suku Aborigin merupakan ras bangsa pertama yang mendiami benua australia
dan diperkirakan arah kedatangan ras australois ini berasal dari arah utara
australia. Secara fisik, suku Aborigin memiliki ciri ciri sebagai berikut. (1) kulit
berwarna coklat. (2) rambut ikal bergelombang. (3) muka ditumbuhi bulu-bulu
yang lebat. (4) dahi sempit atau mundur. (5) rongga mata dalam. (6) alis mata
menonjol. (7) rahang menonjol. (8) mulut besar. (9) tulang tengkorak tebal. (10)
tinggi badan rata-rata adalah 5 kaki dan 5/6 inci. Diduga mereka memasuki benua
Australia pada 40.000 tahun lalu dari arah utara. Menurut Elkin (1956) penduduk
asli Australia memasuki Australia dari arah utara. Diperkirakan pintu masuknya
adalah garis pantai utara, mulai dari Semannjung York di sebelah Timur sampai
pantai daerah Kimberley di sebelah barat. Tetapi perihal sejak kapan memasuki
Benua Australia dan darimana Suku Aborigin masuk Australia masih timbul
banyak perbedaan pendapat.
Suku Aborigin memiliki budaya, warisan, dan sejarah yang berbeda dari
kelompok-kelompok lain di seluruh dunia. Kebudayaan Suku Aborigin sangat
khas dan menarik untuk diketahui meskipun cukup rumit. Bentuk kesenian
Aborigin mengingatkan kembali ke masa lebih dari ribuan tahun yang lalu.
Nuansa sakral sangat dominan terlihat dalam kesenian Aborigin. Hal ini
dibuktikan dengan ragam kesenian visual yang dihasilkan seperti lukisan, cukilan,
dan goresan. Kebanyakan ekspresi kesenian itu dihubungkan dengan arwah para
leluhur mereka. Salah satu budaya yang terkenal dari suku Aborigin adalah
senjata berburu yang sering mereka gunakan, yaitu Boomerang. Suku Aborigin
yang hidup di Australia ini mengembangkan kebudayaan sendiri berdasarkan
kondisi lingkungan alam di mana mereka hidup. Saat ini, sebagian besar suku
Aborigin telah pindah ke kota. Namun mereka mengalami kesulitan kesehatan dan
ekonomi, dengan indikator sosial yang buruk seperti pendidikan yang rendah,
banyaknya pengangguran, serta kemiskinan yang tinggi.

3.2 Saran
Makalah ini dapat dijadikan sebagai penambah wawasan atau pengetahuan
tentang Kakteristik kebudayaan penduduk asli Australia: Suku Aborigin..
Sehingga kita tahu karakteristik kebudayaan Suku Aborigin yang mempunyai ciri
khas berbeda dari suku-suku lain di seluruh dunia.

10
DAFTAR RUJUKAN

Hampton, R. & Maree Toombs. 2013. Indigenous Australians and Health: The
Wombat In The Room. (online),
(http://lib.oup.com.au/he/health/samples/hampton
_indigenousaushealth_sample.pdf), diakses pada 13 Maret 2017.
Iswalono, S.2013.Impian Aborijin:Sebuah Kajian Etnik Minoritas Yang
Termarjinalkan. (Online), (http://staff.uny.ac.id). Diakses pada 13
Maret 2017.
Perdana, I. 2009. Diskriminasi Dan Rasialisme Dalam Film Australia(Studi
Analisis Semiotik Film Australia), Jurnal Ilmu Komunikasi, (Online),
7(2): 130 142, (http://jurnal.upnyk.ac.id), diakses 13 Maret 2017.
Poetrie. S. T. R. 2013. Diskriminasi Imigran Kulit Putih Berwarna dalam Masa
Kebijakan Multikulturalisme Pasca Penghapusan White Austrlia
Policy. JURNAL LAKON 2 (1), Online
(http://repository.petra.ac.id/16657/1/Publikasi1_01026_1533.pdf)
, diakses pada 13 Maret 2017.

Siboro, J. 1989. Sejarah Australia. Jakarta: Depdikbud.

11