Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN TUTORIAL

SISTEM KEDOKTERAN KOMUNIKASI

MODUL PENYAKIT TIDAK MENULAR DALAM KELUARGA

Tutor : dr. Farsida, MPH

KELOMPOK 7

Andi Bagus Prayogo 2014730008


Taufiq Zulyasman 2014730089
M. Izzatul Islam Yunus 2014730052
Muhamad Irsyad 2014730058
Sumiosa Hardini Fitri Hara 2014730087
Faradila Ramadhani 2014730026
Endah Restu Amanda 2014730024
Desti Oki Lestari 2014730017
Amiru Zachra 2014730007

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2017
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI..............................................................................................................................2

Skenario......................................................................................................................................3

Kalimat Kunci............................................................................................................................4

Analisa Masalah.........................................................................................................................5

Jelaskan definisi fungsi dan peran apa saja yang dilakukan dokter keluarga !

Apa saja prinsip pelayanan dokter keluarga ?

Apa saja standar pelayanan dokter keluarga ?

Bagaimana hubungan faktor resiko penyakit pada pasien dengan genogram ?

Bagaimana hubungan antara tahap perkembangan kehidupan setiap anggota keluarga


dengan penyakit stroke dan hipertensi ?

Bagaimana hubungan antara perilaku sehat dengan perjalanan penyakit pada


skenario ?

Bagaimana aspek perumahan terhadap perjalanan penyakit pada skenario ?

Bagaimana dasar diagnosis pada skenario yang sesuai dengan dokter keluarga ?

Bagaimana aspek gizi terhadap perjalanan penyakit ?

Bagaimana hubungan dokter dan pasien dalam penanganan hipertensi dan stroke
berdasarkan pendekatan dokter keluarga ?

Bagaimana cara pencatatan dan laporan penyakit stroke dan hipertensi dalam keluarga
?

Bagaimana sistem rujukan pada stroke dan hipertensi ?

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................34

2
Skenario 2 Stroke dan Hipertensi:

3
Tn. A 57 tahun seorang wiraswasta yang cukup behasil di bidang industri
garment di Tasikmalaya dilarikan ke rumah sakit setempat oleh pegawainya karena
tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri saat meninjau pabrik. Oleh dokter Tn. A
dinyatakan mendapatkan serangan stroke hemoragik yang mengakibatkan lumpuh
separuh badan sebelah kiri. Tn. A mempunyai riwayat hipertensi dalam 6 tahun
belakangan dengan pengobatan dan kontrol yang tidak rutin. Dia senang sekali
mengkonsumsi makanan yang berlemak, minum kopi dan merokok 1-2 bungkus
sehari.

Tn. A memiliki 2 orang istri dan 3 anak dari istri pertama dengan usia anak
pertama laki-laki 28 tahun dan sudah menikah dengan memiliki 1 orang anak usia 5
tahun, anak kedua laki-laki usia 25 tahun sedang menyelesaikan studi S2 di ibu kota,
anak ke 3 perempuan usia 19 tahun baru masuk kuliah semester 2. Sedangkan dari
istri ke 2 memiliki 2 orang anak yang pertama perempuan usia 10 tahun dan laki-laki
usia 4 tahun. Mereka tinggal di rumah yang berbeda, masing-masing istrinya di
belikan rumah tinggal sendiri-sendiri. Istri Tn. A tidak ada yang bekerja, mereka ibu
rumah tangga.

Kedua orang tua Tn. A sudah meninggal, ayahnya meninggal di usia 66 tahun
karena serangan jantung, sedangkan ibunya meninggal di usia 45 tahun karena kanker
payudara. Kedua orang tua istri-istrinya masih hidup. Ayah istri pertama menderita
hipertensi sedangkan ayah dan istri ke 2 memiliki riwayat gangguan saluran
pencernaan yang kronis.

Tn. A saat ini hanya bisa terbaring lemah di rumah sakit (R. VIP) di temani
istri-istrinya secara brgantian. Tn. A tidak memiliki jaminan kesehatan sehingga
seluruh biaya pengobatan ditanggungnya secara pribadi. Dokter merencanakan untuk
melakukan tindakan operasi terhadap Tn. A.

Kata sulit :

4
Tidak ada

Kata kunci :

1. Laki-laki 57 tahun

2. Tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri, serangan stroke hemoragik yang
mengakibatkan lumpuh separuh badan sebelah kiri.

3. Riwayat hipertensi 6 tahun, dengan pengobatan dan kontrol yang tidak rutin.

4. Mengkonsumsi makanan yang berlemak, minum kopi dan merokok 1-2


bungkus sehari.

5. Memiliki 2 orang istri, 3 anak dari istri pertama dan 2 anak dari istri kedua.

6. Tinggal di rumah yang berbeda, istri tidak ada yang bekerja.

7. Ayahnya meninggal di usia 66 tahun karena serangan jantung, sedangkan


ibunya meninggal di usia 45 tahun karena kanker payudara.

8. Ayah istri pertama menderita hipertensi sedangkan ayah dan istri ke 2


memiliki riwayat gangguan saluran pencernaan yang kronis.

9. Tidak memiliki jaminan kesehatan, dokter merencanakan untuk melakukan


tindakan operasi.

ANALISA MASALAH

5
Nama : Muhamad Irsyad

NIM : 2014730058

1. Definisi dan Fungsi Dokter Keluarga

Definisi
Dokter keluarga adalah dokter yang mengabdikan dirinya dalam pelayanan dan
pengembangan kedokteran keluarga yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang
diperoleh melalui pendidikan/pelatihan khusus dibidang kedokteran keluarga serta
mempunyai wewenang menyelenggarakan praktek dokter keluarga.

Fungsi
a. Care Provider (Penyelenggara Pelayanan Kesehatan)
Yang mempertimbangkan pasien secara holistic sebagai seorang individu dan sebagai
bagian integral (tak terpisahkan) dari keluarga, komunitas, lingkungannya, dan
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berkualitastinggi, komprehensif, kontinu,
dan personal dalam jangka waktu panjang dalam wujud hubungan professional dokter-
pasien yang saling menghargai dan mempercayai. Juga sebagai pelayanan komprehensif
yang manusiawi namun tetap dapat di audit dan dipertangungjawabkan.
b. Comunicator (Penghubung atau Penyampai Pesan)
Yang mampu memperkenalkan pola hidup sehat melalui penjelasan yang efektif sehingga
memberdayakan pasien dan keluarganya untuk meningkatkan dan memelihara
kesehatannya sendiri serta memicu perubahan cara berpikir menuju sehat dan mandiri
kepada pasien dan komunitasnya.
c. Decision Maker (Pembuat Keputusan)
Yang melakukan pemeriksaan pasien, pengobatan, dan pemanfaatan teknologi kedokteran
berdasarkan kaidah ilmiah yang mapan dengan mempertimbangkan harapan pasien, nilai
etika, cost effectiveness untuk kepentingan pasien sepenuhnya dan membuat keputusan
klinis yang ilmiah dan empatik.
d. Manager
Yang dapat berkerja secara harmonis dengan individu dan organisasi di dalam maupun di
luar sistem kesehatan agar dapat memenuhi kebutuhan pasien dan komunitasnya
berdasarkan data kesehatan yang ada. Menjadi dokter yang cukup memimpin
klinik, sehat, sejahtera, dan bijaksana.
e. Community Leader (Pemimpin Masyarakat)
Yang memperoleh kepercayaan dari komunitas pasien yang dilayaninya, menyearahkan
kebutuhan kesehatan individu dan komunitasnya, memberikan nasihat kepada kelompok

6
penduduk dan melakukan kegaiatan atas nama masyarakat dan menjadi panutan
masyarakat.

Nama : Taufiq Zulyasman

NIM : 2014730089

2. Prinsip Pelayanan Dokter Keluarga

Tahapan pelayanan kesehatan

Ada 3 tahap pelayanan di Indonesia :

1. Pelayanan Primer :

a) Diselenggarakan oleh Dokter praktek umum

b) Merupakan kontak pertama pasien dengan dokter

c) Bila dokter tidak bisa menangani di rujuk kepada dokter sesuai


keahliannya

d) Pada dokter keluarga dapat ditangani oleh dokter keluarga


sehingga aman untuk di rujuk

2. Pelayanan Sekunder :

a) Dengan surat rujukan dari dokter praktek umum atau dokter


keluarga

b) Ditangani oleh dokter spesialis sesuai rujukan dari layanan primer

c) Diberi penangan dan obat obat2an

d) Dikembalikan ke dokter yg merujuk dengan nasehat terapi dll

3. Pelayanan Tersier :

a) Mendapat pasien dari rujukan pelayanan sekunder

b) Penangan dilakukan dan bila sudah dapat diatasi segera


dikembalikan kepada dokter yg merujuknya

c) Bila penangan tidak dapat diselesaikan maka dirawat di rumah sakit


dengan melibatkan dokter keluarga pelayanan paliatif

7
Pelayanan dokter keluarga adalah Pelayanan kedokteran yang bersifat holistik,
komprehensif, terpadu dan berkesinambungan Dengan sasaran klien sebagai
bagian dari keluarga dan masyarakat dari mana dia berasal

1. HOLISTIK = MENYELURUH
Pelayanan tidak hanya ditujukan terhadap masalah organobiologis, namun
juga terhadap masalah mental-psikologikal dan sosial

2. KOMPREHENSIF = PARIPURNA
Pelayanan meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif
dengan
mengedepankan upaya promotif dan preventif

3. TERPADU
Memberikan pelayanan semua disiplin ilmu kedokteran, tanpa
memandang usia, jenis kelamin dan jenis keluhan / penyakit

4. BERKESINAMBUNGAN
Tidak hanya dalam kondisi sakit, namun juga dalam kondisi sehat , dan pada
saat pasien konsultasi / dirujuk / dirawat selalu berada dalam tanggung jawab
DK proaktif

Nama : Desti Oki Lestari

NIM : 2014730017

3. Standar Pelayanan Dokter Keluarga

1. Standar Pemeliharaan Kesehatan di Klinik


1.1. Standar Pelayanan Paripurna
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga adalah pelayanan medis strata pertama untuk
semua orang yang bersifat paripurna (comprehensive), yaitu termasuk pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan (promotive), pencegahan penyakit dan proteksi khusus (preventive &
spesific protection), pemulihan kesehatan (curative), pencegahan kecacatan (disability
limitation) dan rehabilitasi setelah sakit (rehabilitation) dengan memperhatikan kemampuan
sosial serta sesuai dengan mediko legal etika kedokteran.
1.1.1. Pelayanan medis strata pertama untuk semua orang
Pelayanan dokter keluarga merupakan praktik umum dengan pendekatan kedokteran
keluarga yang memenuhi standar pelayanan dokter keluarga dan diselenggarakan oleh
dokter yang sesuai dengan standar profesi dokter keluarga serta memiliki surat ijin
pelayanan dokter keluarga dan surat persetujuan tempat praktik.

8
1.1.2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memperhatikan pemeliharaan
kesehatan dan peningkatan kesehatan pasien dan keluarganya.
1.1.3. Pencegahan penyakit dan proteksi khusus
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menggunakan segala kesempatan
dalam menerapkan pencegahan masalah kesehatan pada pasien dan keluarganya.
1.1.4. Deteksi dini
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menggunakan segala kesempatan
dalam melaksanakan deteksi dini penyakit dan melakukan penatalaksanaan yang tepat
untuk itu.
1.1.5. Kuratif medik
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk melaksanakan pemulihan kesehatan
dan pencegahan kecacatan pada strata pelayanan tingkat pertama, termasuk
kegawatdaruratan medik, dan bila perlu akan dikonsultasikan dan/atau dirujuk ke
pusat pelayanan kesehatan dengan strata yang lebih tinggi.
1.1.6. Rehabilitasi medik dan sosial
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menerapkan segala kesempatan
rehabilitasi pada pasien dan/atau keluarganya setelah mengalami masalah kesehatan
atau kematian baik dari segi fisik, jiwa maupun sosial.
1.1.7. Kemampuan sosial keluarga
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memperhatikan kondisi sosial
pasien dan keluarganya.
1.1.8. Etik medikolegal
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim yang sesuai dengan mediko legal dan etik
kedokteran.
1.2. Standar Pelayanan Medis
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan medis yang melaksanakan
pelayanan kedokteran secara lege artis.
1.2.1. Anamnesis
Pelayanan dokter keluarga melaksanakan anamnesis dengan pendekatan pasien
(patient-centered approach) dalam rangka memperoleh keluhan utama pasien,
kekhawatiran dan harapan pasien mengenai keluhannya tersebut, serta memperoleh
keterangan untuk dapat menegakkan diagnosis.
1.2.2. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang

9
Dalam rangka memperoleh tanda-tanda kelainan yang menunjang diagnosis atau
menyingkirkan diagnosis banding, dokter keluarga melakukan pemeriksaan fisik
secara holistik; dan bila perlu menganjurkan pemeriksaan penunjang secara rasional,
efektif dan efisien demi kepentingan pasien semata.
1.2.3. Penegakkan diagnosis dan diagnosis banding
Pada setiap pertemuan, dokter keluarga menegakkan diagnosis kerja dan beberapa
diagnosis banding yang mungkin dengan pendekatan diagnosis holistik.
1.2.4. Prognosis
Pada setiap penegakkan diagnosis, dokter keluarga menyimpulkan prognosis pasien
berdasarkan jenis diagnosis, derajat keparahan, serta tanda bukti terkini (evidence
based).
1.2.5. Konseling
Untuk membantu pasien (dan keluarga) menentukan pilihan terbaik penatalaksanaan
untuk dirinya, dokter keluarga melaksanakan konseling dengan kepedulian terhadap
perasaan dan persepsi pasien (dan keluarga) pada keadaan di saat itu.
1.2.6. Konsultasi
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan konsultasi ke dokter lain yang
dianggap lebih piawai dan/atau berpengalaman. Konsultasi dapat dilakukan kepada
dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, atau dinas
kesehatan,demi kepentingan pasien semata.
1.2.7. Rujukan
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan rujukan ke dokter lain yang
dianggap lebih piawai dan/atau berpengalaman. Rujukan dapat dilakukan kepada
dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, rumah sakit atau
dinas kesehatan,demi kepentingan pasien semata.
1.2.8. Tindak lanju
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga menganjurkan untuk dapat dilaksanakan
tindak lanjut pada pasien, baik dilaksanakan di klinik, maupun di tempat pasien.
1.2.9. Tindakan
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga memberikan tindakan medis yang
rasional pada pasien, sesuai dengan kewenangan dokter praktik di strata pertama, dan
demi kepentingan pasien.
1.2.10. Pengobatan rasional

10
Pada setiap anjuran pengobatan, dokter keluarga melaksanakannya dengan rasional,
berdasarkan tanda bukti (evidence based) yang sahih dan terkini, demi kepentingan
pasien.
1.2.11.Pembinaan keluarga
Pada saat-saat dinilai bahwa penatalaksanaan pasien akan berhasil lebih baik, bila
adanya partisipasi keluarga, maka dokter keluarga menawarkan pembinaan keluarga,
termasuk konseling keluarga.
1.3. Standar Pelayanan Menyeluruh
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat menyeluruh, yaitu peduli bahwa pasien
adalah seorang manusia seutuhnya yang terdiri dari fisik, mental, sosial dan spiritual, serta
berkehidupan di tengah lingkungan fisik dan sosialnya.
1.3.1. Pasien adalah manusia seutuhnya
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memandang pasien sebagai manusia
yang seutuhnya
1.3.2. Pasien adalah bagian dari keluarga dan lingkungannya
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memandang pasien sebagai bagian
dari keluarga pasien, dan memperhatikan bahwa keluarga pasien dapat mempengaruhi
dan/atau dipengaruhi oleh situasi dan kondisi kesehatan pasien
1.3.3. Pelayanan menggunakan segala sumber disekitarnya
Pelayanan dokter keluarga mendayagunakan segala sumber di sekitar kehidupan
pasien untuk meningkatkan keadaan kesehatan pasien dan keluarganya
1.4. Standar Pelayanan Terpadu
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat terpadu, selain merupakan kemitraan
antara dokter dengan pasien pada saat proses penatalaksanaan medis, juga merupakan
kemitraan lintas program dengan berbagai institusi yang menunjang pelayanan kedokteran,
baik dari formal maupun informal.
1.4.1. Koordinator penatalaksanaan pasien
Pelayanan dokter keluarga merupakan koordinator dalam penatalaksanaan pasien
yang diselenggarakan bersama, baik bersama antar dokter-pasien-keluarga, maupun
bersama antar dokter-pasien-dokter spesialis/rumah sakit.
1.4.2. Mitra dokter-pasien
Pelayanan dokter keluarga merupakan keterpaduan kemitraan antara dokter dan
pasien pada saat proses penatalaksanaan medis.
1.4.3. Mitra lintas sektoral medik

11
Pelayanan dokter keluarga bekerja sebagai mitra penyedia pelayanan kesehatan
dengan berbagai sektor pelayanan kesehatan formal di sekitarnya.
1.4.4. Mitra lintas sektoral alternatif dan komplimenter medik
Pelayanan dokter keluarga memperdulikan dan memperhatikan kebutuhan dan
perilaku pasien dan keluarganya sebagai masyarakat yang menggunakan berbagai
pelayanan kesehatan non formal disekitarnya.
1.5. Standar Pelayanan Bersinambung
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan bersinambung, yang
melaksanakan pelayanan kedokteran secara efektif efisien, proaktif dan terus menerus demi
kesehatan pasien.
1.5.1. Pelayanan proaktif
Pelayanan dokter keluarga menjaga kesinambungan layanan secara proaktif.
1.5.2. Rekam medik bersinambung
Informasi dalam riwayat kesehatan pasien sebelumnya dan pada saat datang,
digunakan untuk memastikan bahwa penatalaksanaan yang diterapkan telah sesuai
untuk pasien yang bersangkutan.
1.5.3. Pelayanan efektif efisien
Pelayanan dokter keluarga menyelenggarakan pelayanan rawat jalan efektif efisien
bagi pasien, menjaga kualitas, sadar mutu dan sadar biaya.
1.5.4. Pendampingan
Pada saat-saat dilaksanakan konsultasi dan/atau rujukan, pelayanan dokter keluarga
menawarkan kemudian melaksanakan pendampingan pasien, demi kepentingan pasien
2. Standar perilaku dalam praktik
2.1. Standar perilaku terhadap pasien
Pelayanan dokter keluarga menyediakan kesempatan bagi pasien untuk menyampaikan
kekhawatiran dan masalah kesehatannya, serta memberikan kesempatan kepada pasien untuk
memperoleh penjelasan yang dibutuhkan guna dapat memutuskan pemilihan penatalaksanaan
yang akan dilaksanakannya.
2.1.1. Informasi memperoleh pelayanan
Pelayanan dokter keluarga memberikan keterangan yang adekuat mengenai cara untuk
memperoleh pelayanan yang diinginkan.
2.1.2. Masa konsultasi
Waktu untuk konsultasi yang disediakan oleh dokter keluarga kepada pasiennya
adalah cukup bagi pasien untuk menyampaikan keluhan dan keinginannya, cukup

12
untuk dokter menjelaskan apa yang diperolehnya pada anamnesa dan pemeriksaan
fisik, serta cukup untuk menumbuhkan partisipasi pasien dalam melaksanakan
penatalaksanaan yang dipilihnya, sebisanya 10 menit untuk setiap pasien.
2.1.3. Informasi medik menyeluruh
Dokter keluarga memberikan informasi yang jelas kepada pasien mengenai seluruh
tujuan, kepentingan, keuntungan, resiko yang berhubungan dalam hal pemeriksaan,
konsultasi, rujukan, pengobatan, tindakan dan sebagainya sehingga memungkinkan
pasien untuk dapat memutuskan segala yang akan dilakukan terhadapnya secara puas
dan terinformasi.
2.1.4. Komunikasi efektif
Dokter keluarga melaksanakan komunikasi efektif berlandaskan rasa saling percaya
2.1.5. Menghormati hak dan kewajiban pasien dan dokter
Dokter keluarga memperhatikan hak dan kewajiban pasien, hak dan kewajiban dokter
termasuk menjunjung tinggi kerahasiaan pasien
2.2. Standar perilaku dengan mitra kerja di klinik
Pelayanan dokter keluarga mempunyai seorang dokter keluarga sebagai pimpinan manajemen
untuk mengelola klinik secara profesional
2.2.1. Hubungan profesional dalam klinik
Dokter keluarga melaksanakan praktik dengan bantuan satu atau beberapa tenaga
kesehatan dan tenaga lainnya berdasarkan atas hubungan kerja yang profesional
dalam suasana kekeluargaan
2.2.2. Bekerja dalam tim
Pada saat menyelenggarakan penatalaksanaan dalam peningkatan derajat kesehatan
pasien dan keluarga, pelayanan dokter keluarga merupakan sebuah tim.
2.2.3. Pemimpin klinik
Pelayanan dokter keluarga dipimpin oleh seorang dokter keluarga atau bila terdiri dari
beberapa dokter keluarga dapat dibagi untuk memimpin bidang manajemen yang
berbeda di bawah tanggung jawab pimpinan.
2.3. Standar perilaku dengan sejawat
Pelayanan dokter keluarga menghormati dan menghargai pengetahuan, ketrampilan dan
kontribusi kolega lain dalam pelayanan kesehatan dan menjaga hubungan baik secara
profesional
2.3.1. Hubungan profesional antar profesi

13
Pelayananan dokter keluarga melaksanakan praktik dengan mempunyai hubungan
profesional dengan profesi medik lainnya untuk kepentingan pasien.
2.3.2. Hubungan baik sesamadokter
Pelayanan dokter keluarga menghormati keputusan medik yang diambil oleh dokter
lain dan memperbaiki penatalaksanaan pasien atas kepentingan pasien tanpa
merugikan nama dokter lain.
2.3.3. Perkumpulan profesi
Dokter keluarga dalam pelayanan dokter keluarga adalah anggota perkumpulan
profesi yang sekaligus menjadi anggota Ikatan Dokter Indonesia dan berpartisipasi
pada kegiatan-kegiatan yang ada.
2.4. Standar pengembangan ilmu dan ketrampilan praktik
Pelayanan dokter keluarga selalu berusaha mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah guna
memelihara dan menambah ketrampilan praktik serta meluaskan wawasan pengetahuan
kedokteran sepanjang hayatnya.
2.4.1. Mengikuti kegiatan ilmiah
Pelayanan dokter keluarga memungkinkan dokter yang berpraktik untuk secara teratur
dalam lima tahun praktiknya mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah seperti pelatihan,
seminar, lokakarya dan pendidikan kedokteran berkelanjutan lainnya.
2.4.2. Program jaga mutu
Pelayanan dokter keluarga melakukan program jaga mutu secara mandiri dan/atau
bersama-sama dengan dokter keluarga lainnya, secara teratur ditempat praktiknya.
2.4.3. Partisipasi dalam kegiatan pendidikan
Pelayaanan dokter keluarga mempunyai itikad baik dalam pendidikan dokter
keluarga, dan berusaha untuk berpartisipasi pada pelatihan mahasiswa kedokteran
atau pelatihan dokter.
2.4.4. Penelitian dalam praktik
Pelayanan dokter keluarga mempunyai itikad baik dalam penelitian dan berusaha
untuk menyelenggarakan penelitian yang sesuai dengan etika penelitian kedokteran,
demi kepentingan kemajuan pengetahuan kedokteran.
2.4.5. Penulisan ilmiah
Dokter keluarga pada pelayanan dokter keluarga berpartisipasi secara aktif dan/atau
pasif pada jurnal ilmiah kedokteran.
2.5. Standar partisipasi dalam kegiatan masyarakat di bidang kesehatan

14
Pelayanan dokter keluarga selalu berusaha berpartisipasi aktif dalam segala kegiatan
peningkatan kesehatan disekitarnya dan siap memberikan pendapatnya pada setiap kondisi
kesehatan di daerahnya.
2.5.1. Menjadi anggota perkumpulan sosial
Dokter keluarga dan petugas kesehatan lainnya yang bekerja dalam pelayanan dokter
keluarga, menjadi anggota perkumpulan sosial untuk mempeluas wawasan pergaulan.
2.5.2. Partisipasi dalam kegiatan kesehatan masyarakat
Bila ada kegiatan-kegiatan kesehatan masyarakat di sekitar tempat praktiknya,
pelayanan dokter keluarga bersedia berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan
tersebut.
2.5.3. Partisipasi dalam penanggulangan bencana di sekitarnya
Bila ada wabah dan bencana yang mempengaruhi kesehatan di sekitarnya, pelayanan
dokter keluarga berpartisipasi aktif dalam penanggulangan khususnya dalam bidang
kesehatan.

Nama : Endah Restu Amanda H

NIM : 2014730024

4. Genogram

tinggal satu rumah

15
Nama : Sumiosa Hardini Fitri Hara

NIM : 2014730087

5. Tahap Kehidupan Keluarga

Tahap tahap kehidupan/ perkembangan keluarga


Meskipun setiap keluarga melalui tahapan perkembangannya secara unik, namun
secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama (Rodgers cit Friedman, 1999) :
1. Pasangan baru (keluarga baru)
Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki dan perempuan membentuk
keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan (psikologis) keluarga masing-
masing :
a. Membina hubungan intim yang memuaskan
b. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, kelompok sosial
c. Mendiskusikan rencana memiliki anak
2. Keluarga child-bearing (kelahiran anak pertama)
Keluarga yang menantikan kelahiran, dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama
dan berlanjut damapi anak pertama berusia 30 bulan:
a. Persiapan menjadi orang tua
b. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan sexual dan
kegiatan keluarga
c. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
3. Keluarga dengan anak pra-sekolah
Tahap ini dimulai saat kelahiran anak pertama (2,5 bulan) dan berakhir saat anak berusia 5
tahun
a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga, seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi dan
rasa aman
b. Membantu anak untuk bersosialisasi
c. Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain juga
harus terpenuhi
d. Mempertahankan hubungan yang sehat, baik di dalam maupun di luar keluarga
(keluarga lain dan lingkungan sekitar)
e. Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap yang paling repot)
f. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga

16
g. Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak
4. Keluarga dengan anak sekolah
Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia enam tahun dan berakhir pada usia 12
tahun. Umumnya keluarga sudah mencapai jumlah anggota keluarga maksimal, sehingga
keluarga sangat sibuk :
a. Membantu sosialisasi anak : tetangga, sekolah dan lingkungan
b. Mempertahankan keintiman pasangan
c. Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk
kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga.
5. Keluarga dengan anak remaja
Dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir sampai 6-7 tahun
kemudian, yaitu pada saat anak meninggalkan rumah orangtuanya. Tujuan keluarga ini adalah
melepas anak remaja dan memberi tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk
mempersiapkan diri menjadi lebih dewasa :
a. Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab, mengingat remaja sudah
bertambah dewasa dan meningkat otonominya
b. Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga
c. Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orangtua. Hindari perdebatan,
kecurigaan dan permusuhan
d. Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga
6. Keluarga dengan anak dewasa (pelepasan)
Tahap ini dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada saat anak
terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahap ini tergantung dari jumlah anak dalam
keluarga, atau jika ada anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua :
a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar
b. Mempertahankan keintiman pasangan
c. Membantu orangtua suami/istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua
d. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat
e. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga
7. Keluarga usia pertengahan
Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat
pensiun atau salah satu pasangan meninggal
a. Mempertahankan kesehatan
b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-anak

17
c. Meningkatkan keakraban pasangan
8. Keluarga usia lanjut
Tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai pada saat salah satu pasangan pensiun,
berlanjut saat salah satu pasangan meninggal damapi keduanya meninggal :
a. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan
b. Adaptasi dengan peruabahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan
pendapatan
c. Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat
d. Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat
e. Melakukan life review (merenungkan hidupnya).

B. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga

Keluarga Tn. A terdiri dari Tn. A yang berusia 57 tahun dan memiliki dua istri, pada istri
pertama dengan usia anak pertama laki-laki 28 tahun dan sudah menikah dengan memiliki 1
orang anak usia 5 tahun, anak kedua laki-laki usia 25 tahun sedang menyelesaikan studi S2 di
ibu kota, anak ke 3 perempuan usia 19 tahun baru masuk kuliah semester 2. Sedangkan dari
istri ke dua memiliki 2 orang anak yang pertama perempuan usia 10 tahun dan laki-laki usia 4
tahun. Maka keluarga Tn. A berada pada tahap perkembangan keluarga dengan usia
pertengahan. Secara umum tidak ada masalah dalam tahap pekembangan keluarga saat ini.
Namun, Tn. A mendapat serangan stroke hemoragik yang mengakibatkan lumpuh separuh
badan sebelah kiri, mempunyai riwayat penyakit hipertensi dalam 6 tahun belakangan dengan
pengobatan dan kontrol yang tidak rutin, Kedua orang tua Tn. A sudah meninggal, ayahnya
meninggal di usia 66 tahun karena serangan jantung, sedangkan ibunya meninggal di usia 45
tahun karena kanker payudara. Ayah Istri pertama menderita hipertensi sedangkan ayah dari
istri ke 2 memiliki riwayat gangguan saluran pencernaan yang kronis.

Bentuk Keluarga

A Bentuk keluarga tradisional


Keluarga inti
Ayah
Ibu
Anak anak
Keluarga orang tua tunggal
Ayah / Ibu
Anak anak

18
Keluarga Dewasa Bujangan
Beberapa orang dewasa yang belum menikah tinggal bersama membentuk sebuah
keluarga
Keluarga Tiga Generasi
Ayah dan Ibu
Anak anak
Nenek dan Kakek
Keluarga Pasangan Lansia
Nenek dan Kakek
Keluarga Majemuk
Nenek dan Kakek
Ayah, Ibu dan anak-anak
Paman, Bibi dan anak-anak
atau
Ayah, Ibu dan anak-anak
Anaknya yang sudah menikah dan anak-anaknya
Keluarga Karier kedua
Ayah, Ibu dan anak-anak
Anak dari hasil pernikahan ayah sebelumnya
B Bentuk keluarga non tradisional
Keluarga Hidup Bersama
Pasangan dan tinggal bersama
tanpa ikatan perkawinan
Keluarga pasangan tak kawin dengan anak
Pasangan dan yang tinggal bersama tanpa ikatan perkawinan bersama anak-anak
kandung mereka
Keluarga Pasangan Tinggal Bersama
Pasangan dan yang tinggal bersama tanpa ikatan perkawinan bersama anak yang
dibawa oleh / dari hasil perkawinan sebelumnya
Keluarga Homoseksual
Beberapa pasangan dan yang tinggal bersama tanpa ikatan perkawinan

Nama : Nursyafitriani S

NIM : 2014730078

6. Hubungan Antara Aspek Perumahan dan Lingkungan Sosial serta Perilaku Sehat

Aspek perumahan dan lingkungan sosial

Dalam Undang-Undang Nomor 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman,


perumahan diartikan sebagai kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat
tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana.

19
Rumah sehat adalah rumah yang memenuhi standar kebutuhan penghuninya baik dari aspek
kesehatan,keamanan dan kenyamanan.

Kriteria rumah sehat (Winslow)


1. Dapat memenuhi kebutuhan fisiologis
2. Dapat memenuhi kebutuhan psikologis
3. Dapat menghindarkan dari terjadinya kecelakaan
4. Dapat menghindarkan terjadinya penularan penyakit

Kriteria rumah sehat (WHO, 1974)

1. Harus dapat melindungi dari dari hujan, panas, dingin dan berfungsi sebagai tempat
istirahat.
2. Mempunyai tempat-tempat untuk tidur, masak, mandi, mencuci, kakus dan kamar
mandi.
3. Dapat melindungi dari bahaya kebisingan dan bebas dari pencemaran.
4. Bebas dari bahan bangunan yang berbahaya.
5. Terbuat dari bahan bangunan yang kokoh dan dapat melindungi penghuninya dari
gempa, keruntuhan dan penyakit menular.
6. Memberi rasa aman dan lingkungan tetangga yang serasi.

The Committee on the Hygiene of Housing of the American Public Health Association telah
menyarankan persyaratan pokok suatu rumah sehat adalah sebagai berikut :

Harus memenuhi kebutuhan fisiologis; yang meliputi suhu optimal di dalam rumah,
pencahayaan, perlindungan terhadap kebisingan, ventilasi yang baik, serta tersedianya
ruangan untuk latihan dan bermain anak-anak
Harus memenuhi kebutuhan psikologis; yang meliputi jaminan privacy yang cukup,
kesempatan dan kebebasan untuk kehidupan keluarga secara normal, hubungan yang
serasi antara orang tua dan anak, terpenuhinya persyaratan sopan santun pergaulan
dan sebagainya
Dapat memberikan perlindungan terhadap penularan penyakit dan pencemaran; yang
meliputi tersedianya penyediaan air bersih yang memenuhi persyaratan, adanya
fasilitas pembuangan air kotoran, tersedia fasilitas untuk menyimpan makanan,
terhindar dari serangga atau hama-hama lain yang mungkin dapat berperan dalam
penyebaran penyakit dan sebagainya
Dapat memberikan perlindungan / pencegahan terhadap bahaya kecelakaan dalam
rumah; yang meliputi konstruksi yang kuat, dapat menghindarkan bahaya kebakaran,
pencegahan kemungkinan kecelakaan jatuh atau kecelakaan mekanis lainnya.

20
Melihat pertumbuhan kota masa kini, di samping masalah sosial ekonomi, (antara lain
lapangan kerja), terdapat masalah kesehatan lingkungan yang menyangkut pemukiman dan
perumahan yaitu :

Penyediaan sarana dan pengawasan kualitas air bersih


Pembuangan sampah dan air limbah
Penyediaan sarana pembuangan kotoran
Penyediaan fasilitas dan pelayanan umum, serta pencemaran air dan udara
Menurut Undang Undang Republik Indonesia No.4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan
Permukiman dikatakan bahwa :
Prasarana lingkungan adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan yang memungkinkan
lingkungan permukiman dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Sarana lingkungan adalah
fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan
ekonomi, sosial dan budaya

Pola hidup modern telah mengubah sikap dan perilaku manusia, termasuk pola makan,
merokok, konsumsi alkohol serta obat-obatan sebagai gaya hidup sehingga penderita
penyakit degeneratif (penyakit karena penurunan fungsi organ tubuh) semakin meningkat dan
mengancam kehidupan.

Akibat perilaku manusia pula, lingkungan hidup dieksploitasi sedemikian


rupa sampai menjadi tidak ramah terhadap kehidupan manusia sehingga meningkatkan
jumlah penderita penyakit paru kronis yang seringkali berakhir dengan kematian.Demikian
pula berbagai penyakit kanker dapat dipicu oleh bermacam bahan kimia yang 2.Bersifat
karsinogenik, kondisi lingkungan, serta perilaku manusia.

Perilaku sehat dengan perjalanan penyakit

Perjalanan penyakit sangat ditentukan oleh perilaku pasien. Perilaku sehat akan membantu
proses penyembuhan dan perbaikan pada pasien. Perilaku sehat tidak hanya dilakukan oleh
pasien, namun pada keluarga juga harus diterapkan perilaku yang sehat. Karena apabila
keluarga memiliki perilaku yang tidak sehat maka faktor risiko terkena penyakit yang sama
akan semakin besar. Dengan perilaku sehat maka akan mengurangi faktor risiko terkena
penyakit yang sama.

21
Perilaku yang sehat pada keluarga merupakan pencegahan terjadinya penyakit yang sama
pada anggota keluarga.

Pasien juga senang mengonsumsi makanan yang kurang sehat, mengenai hal ini bisa
melibatkan ahli gizi untuk mengedukasi pasien.Adapun untuk kebiasaan merokok, dokter
dapat melakukan edukasi rokok supaya pasien mau berhenti.

Selain mengedukasi pasien, keluarga juga harus diberitahu bahwa mereka memiliki faktor
risiko terkena penyakit yang sama,

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktekkan atas
dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok
atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) dibidang kesehatan dan berperan
aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat.

Keluarga yang melaksanakan PHBS maka setiap rumah tangga akan meningkat kesehatannya
dan tidak mudah sakit. Rumah tannga tangga sehat dapat meningkatkan produktivitas kerja
anggota keluarga. Dengan meningkatnya kesehatan anggota rumah tangga maka biaya yang
tadinya dialokasikan untuk kesehatan dapat dialihkan untuk biaya investasi seperti biaya
pendidikan dan usaha lain yang dapat meningkatkan kesejahteraan anggota rumah tangga.

PHBS di rumah tangga adalah upaya untuk memeberdayakan anggota rumah tangga agar
tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif
dalam gerakan kesehatan di masyarakat.PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai
Rumah Tangga ber PHBS. Rumah tangga yang ber-PHBS adalah rumah tangga yang
melakukan 10 PHBS di rumah tangga yaitu:

1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan,


2. Memberi ASI ekslusif,
3. Menimbang balita setiap bulan,
4. Menggunakan air bersih,
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun,
6. Menggunakan jamban sehat,
7. Memberantas jentik dirumah sekali seminggu,
8. Makan buah dan sayur setiap hari
Melindungi terhadap penyakit : pada sayuran dan buah banyak mengandung
fitokimia. Pada sebuah penelitian ilmiah menunjukkan apabila dengan teratur sering
mengkonsumsi buah dan sayuran, akan mengurangi resiko terhadap serangan penyakit
seperti diabetes, stroke, kanker, hingga hipertensi.

22
9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
Semua anggota keluarga sebaiknya melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap
hari.Aktifitas fisik adalah melakukan pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan
pengeluaran tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik, mental
dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari.
Aktifitas fisik yang dapat dilakukan biasa berupa kegiatan sehari-hari, yaitu: berjalan
kaki, berkebun, mencuci pakaian, mencuci mobil, mengepel lantai, naik turun tangga,
membawa belanjaan, atau berupa olahraga, yaitu: push up, lari ringan, berenang,
bermain bola, senam, bermain tenis, yoga, fitness.
Keuntungan melakukan aktivitas fisik secara teratur
Terhindar dari penyakit jantung, stroke, osteoporosis, kanker, hipertensi,
diabetes dan lain-lain.
Berat badan terkendali
Otot lebih lentur dan menjadi bagus
Lebih percaya diri
Bentuk tubuh lebih bagus
Lebih bertenaga dan bugar
Secara keseluruhan keadan kesehatan menjadi lebih baik

10. Tidak merokok di dalam rumah

Setiap annggota keluarga tidak boleh merokok.Rokok ibarat pabrik bahan kimia.
Dalam satu batang rokok yang dihisap akan di keluarkan sekitar 4.000 bahan kimia
berbahaya, diantarnya adalah nikotin, tar. Nikotin menyebabkan ketagihan dan
merusak jantung dan aliran darah. Tar menyebabkan kerusakan sel paru-paru dan
kanker.

Banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa kebiasaan merokok mengakibatkan


resiko timbulnya berbagai penyakit.Seperti penyakit jantung, paru- paru, kanker
rongga mulut, kanker laring, tekanan darah tinggi, impotensi, gangguan kehamilan
serta cacat pada janin.

Dampak merokok

1. Dampak Rokok terhadap Paru-paru

Merokok dapat menyebabakan perubahan struktur dan fungsi saluran napas dari
jaringan paru-paru.Pada saluran besar, sel mukosa membesar dan kelenjar mucus

23
bertambah banyak.Pada saluran nafas kecil, terjadi radang ringan hingga penyempitan
akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Akibat perubahan anatomi saluran
nafas pada perokok akan timbul perubahan pada fungsi paru-paru dengan segala
macan gejala klinisnya. Hal ini menjadi dasar utama terjadainya penyakit obstruksi
paru menahun.

Hubungan antara merokok dan kanker paru-paru telah diteliti dalam 4- 5 dekade
terakhir ini.Didapatkan hubungan erat antara kebiasaan merokok, terutama sigaret,
dengan timbulnya kanker paru-paru. Bahkan ada yang secara tegas mengatakan

2. Dampak terhadap Jantung

Banyak peneliti mengatakan adanya hubungan merokok dengan penyakit jantung


koroner.Dari 11 juta kematian per tahun di Negara industri maju, WHO melaporkan
lebih dari setengah disebabkan gangguan sirkulasi darah di mana 2,5 juta adalah
stroke.Bukan hanya menyebabkan penyakit jantung koroner, merokok juga berakibat
buruk pembuluh darah otak dan perifer.

Stroke, penyumbatan pembuluh darah otak yang bersifat mendadak Risiko


strok dan risiko kematian lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan
merokok.

Nama : Faradila Ramadhani

NIM : 2014730026

7. Dasar Diagnosis yang Sesuai dengan Dokter Keluarga

Diagnosa Holistik:

Kegiatan untuk mengidentifikasi dan menentukan dasar dan penyebab penyakit (disease),
luka (injury) serta kegawatan yang diperoleh dari alasan kedatangan, keluhan personal,
riwayat penyakit pasien, pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan penunjang, penilaian resiko
internal/individual dan ekternal dalam kehidupan pasien serta keluarganya.

Dasar pemikiran diagnosa holistik

24
1. Aspek personal
Keluhan utama
Pasien datang karena tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri yang didiagnosa
stroke hemoragik
Harapan
Kekhawatiran
Kedua istri pasien tidak bekerja, pasien dirawat di ruang VIP dan pasien akan
dioperasi
2. Aspek Klinis
Anamnesis
Keluhan utama: Tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri
Riwayat penyakit sekarang: pasien datang karena tiba-tiba jatuh dan tidak
sadarkan diri saat meninjau pabrik. Dokter menyatakan pasien stroke hemoragik
yang mengakibatkan lumpuh separuh badan sebelah kiri. Dokter merencanakan
operasi terhadap pasien.
Riwayat penyakit dahulu: hipertensi sejak 6 tahun tidak terkontrol
Riwayat penyakit keluarga: ayah meninggal karena serangan jantung dan ibu
kanker payudara
Rencana terapi: dokter merencanakan untuk melakukan tindakan operasi
3. Aspek Internal
Jenis kelamin: laki-laki
Usia: 57 tahun
Pasien menyukai makanan yang berlemak, minum kopi, dan merokok 1-2
bungkus sehari
4. Aspek Eksternal
Pasien merupakan seorang wiraswasta yang cukup berhasil di bidang industri
garment, kedua istri pasien tidak bekerja
Pasien tidak memiliki jaminan kesehatan
Pasien memiliki dua istri yang memiliki rumah masing-masing
Anggota keluarga memiliki kesibukan masing-masing
5. Skala Fungsional

Skala 1: Tidak ada kesulitan dimana pasien dapat hidup mandiri

Skala 2 : Pasien sedikit mengalami kesulitan

Skala 3 : Ada beberapa kesulitan, perawatan diri masih bisa dilakukan, namun hanya
dapat melakukan pekerjaan ringan

Skala 4 : Banyak kesulitan. Tak melakukan aktifitas kerja tergantung pada keluarga

Skala 5 : Tidak dapat melakukan kegiatan

25
Nama : Andi Bagus Prayogo

NIM : 2014730008

8. Aspek Gizi

Nama : M. Izzatul Islam Yunus

NIM : 2014730052

9. Tugas Dokter Keluarga


Palayanan yang holistik dan komprehensif
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat menyeluruh, terdiri dari
fisik, ental social dan spiritual serta kehidupan di tengah lingkungan fisik dan
sosialnya

Pelayanan yang kontinue


Pelayanan dokter keluarga bersifat berrsinambung, yang melaksanakan
pelayanan secara efektif dan efisien. Informasi dalam riwayat kesehatan pesien
sebelumnya digunakan untuk memastikan penatalaksanaan yang igunakan
sesuai untuk pasien yang bersangkutan.

Pelayanan yang mengutamakan pencegahan

Pelayanan yang koordinatif dan kooperatif


Pelayanan dokter yang menyediakan kesempatan bagi pasien untuk
menyampaikan kekhawatiran dan masalah kesehatannya, serta memberikan
kepada pasien penjelasan dan intruksi yang jelas guna penatalaksanaan

Pelayanan personal bagi setiap pasien sebagai baigan integral dari keluarganya
Pelayanan yang ramah dan memnempakan diri sebagai bagian dari keluarga
pasien

Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja, dan


lingkungan tempat tinggalnya

Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hokum

26
Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat dipertanggungjawabkan

Pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu

Nama : Amiru Zachra

NIM : 2014730007

10. Cara Pencatatan dan Pelaporan Penyakit Tidak Menular dalam Keluarga

Pencatatan dan pelaporan surveilans PTM diselenggarakan untuk faktor risiko dan
kasus PTM dilaksanakan sebagai berikut:

1. Posbindu PTM
a. Petugas melakukan pengumpulan data fakfor risiko dan dicatat dalam
formulir pencatatan faktor risiko PTM. Setelah itu, data pemeriksaan
dimasukkan dalam rekap data Posbindu PTM (formulir rekap faktor risiko
PTM)

b. Petugas dapat menggunakan software Sistem Informasi Manajemen PTM


(untuk Posbindu PTM) dalam pengumpulan data faktor risiko PTM

c. Petugas menyiapkan data rekap faktor risiko PTM untuk dilaporkan


kepada/diambil petugas Puskesmas setiap bulan

2. Puskesmas

a. Petugas melakukan pengumpulan data faktor risiko PTM di Puskesmas.


Selanjutnya membuat rekapitulasi data faktor risiko PTM dari Puskesmas dan
dari Posbindu PTM di wilayahnya menggunakan formulir rekapitulasi faktor
risiko PTM. Rekapitulasi dapat menggunakan software Sistem Informasi
Manajemen PTM untuk data surveilans Posbindu PTM

b. Petugas merekap data kasus PTM di Puskesmas menggunakan formulir


rekapitulasi kasus PTM.

27
c. Untuk pemeriksaan IVA dan CBE, petugas melakukan pengumpulan data
menggunakan formulir rekapitulasi deteksi dini kanker payudara dan
kanker leher rahim Puskesmas

d. Data rekap faktor risiko, rekap hasil pemeriksaan IVA dan CBE, serta rekap
kasus PTM dilaporkan secara rutin setiap bulan ke dinas kesehatan
kabupaten/kota

e. Untuk registrasi PTM, petugas mengisi data individual melalui software


registrasi PTM atau SIKDA Generik menggunakan formulir sistem registrasi
PTM. Data mentah dilaporkan secara rutin setiap 3 bulan ke dinas kesehatan
kabupaten/kota atau unit lain yang deitunjuk mengelola registrasi PTM

3. Unit Pelaksana Teknis (UPT)/Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP)

a. Petugas melakukan pengumpulan data faktor risiko PTM di KKP. Selanjutnya


membuat rekapitulasi data faktor risiko PTM menggunakan formulir
rekapitulasi faktor risiko PTM. Rekapitulasi dapat menggunakan software
Sistem Informasi Manajemen PTM untuk data surveilans Posbindu PTM

b. Petugas merekap data kasus PTM di Puskesmas menggunakan formulir


rekapitulasi kasus PTM.

c. Data rekap faktor risiko PTM dan rekap kasus PTM dilaporkan secara rutin
setiap bulan ke dinas kesehatan kabupaten/kota

4. Rumah Sakit
a. Petugas surveilans rumah sakit melakukan rekapitulasi data kasus PTM
menggunakan formulir rekap kasus PTM di RS

b. Data rekap kasus PTM dilaporkan secara rutin setiap bulan ke dinas kesehatan
kabupaten/kota

c. Untuk pemeriksaan IVA dan CBE, petugas melakukan pengumpulan data


menggunakan formulir rekapitulasi deteksi dini kanker payudara rumah
sakit dan rekapitulasi deteksi dini kanker leher rahim rumah sakit

28
d. Untuk registrasi PTM, petugas surveilans rumah sakit mengisi data individual
melalui software registrasi PTM atau SIM-RS/sistem informasi lainnya
menggunakan formulir sistem registrasi PTM. Data mentah registrasi PTM
dilaporkan secara rutin setiap 3 bulan ke dinas kesehatan kabupaten/kota atau
unit lain yang ditunjuk mengelola registrasi PTM

5. Laboratorium
a. Petugas surveilans laboratorium melakukan rekapitulasi faktor risiko PTM
menggunakan formulir rekap faktor risiko PTM di RS

b. Data rekap faktor risiko PTM dilaporkan secara rutin setiap bulan ke dinas
kesehatan kabupaten/kota

c. Untuk registrasi PTM, petugas surveilans laboratorium mengisi data


individual melalui software registrasi PTM atau SIM-RS/sistem informasi
lainnya menggunakan formulir sistem registrasi PTM. Data mentah
registrasi PTM dilaporkan secara rutin setiap 3 bulan ke dinas kesehatan
kabupaten/kota atau unit lain yang ditunjuk mengelola registrasi PTM

6. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota


a. Dinas kesehatan kabupaten/kota menerima laporan bulanan dari Puskesmas,
rumah sakit, laboratorium, berupa faktor risiko dan kasus PTM. Dinas
merekap dan menvalidasi laporan tersebut mengunakan formulir rekapitulasi
faktor risiko dan formulir rekapitulasi kasus PTM.

b. Untuk pemeriksaan IVA dan CBE, Dinas Kesehatan kabupaten/kota merekap


laporan dari Puskesmas dan rumah sakit menggunakan formulir rekapitulasi
deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim Dinas Kesehatan
kabupaten/kota

c. Untuk registrasi PTM melalui software registrasi PTM dan atau SIKDA
Generik, Dinas kesehatan kabupaten/kota melakukan validasi data mentah
yang dilaporkan untuk menghilangkan duplikasi data.

d. Dinas kesehatan kabupaten/kota melaporkan hasil rekapitulasi faktor risiko


dan kasus PTM setiap 3 bulan kepada Dinas kesehatan provinsi

29
e. Dinas kesehatan kabupaten/kota memberikan umpan balik terhadap laporan 3
bulanan yang diberikan Puskesmas, RS, laboratorium, maupun sumber data
lainnya.

7. Dinas Kesehatan Provinsi


a. Dinas kesehatan provinsi menerima laporan triwulan dari Dinas Kesehatan
kabupaten/kota. Dinas merekap laporan tersebut menggunakan formulir
rekapitulasi faktor risiko PTM dan formulir rekapituasi kasus PTM.

b. Untuk pemeriksaan IVA dan CBE, Dinas Kesehatan Provinsi merekap


lapaoran dari dinas kesehatan kabupaten/kota menggunakan formulir
rekapitulasi deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim Dinas
Kesehatan Provinsi

c. Untuk registrasi PTM melalui software registrasi PTM dan atau SIKDA
Generik, Dinas kesehatan kabupaten/kota melakukan validasi data mentah
yang dilaporkan untuk menghilangkan duplikasi data.

d. Dinas kesehatan provinsi melaporkan hasil rekapitulasi faktor risiko dan kasus
PTM setiap 3 bulan sekali kepada Pusat Data dan Informasi dan Direktorat
Pengendalian PTM Kementerian Kesehatan

e. Dinas kesehatan provinsi memberikan umpan balik terhadap laporan tiga


bulanan yang diberikan dinas kesehatan kabupaten/kota.

8. Kementerian Kesehatan
a. Kementerian Kesehatan (Direktorat Pengendalian PTM) menerima laporan 3
bulanan dari Dinas Kesehatan provinsi. Selanjutnya, data direkap dan
divalidasi

b. Kementerian Kesehatan memberikan umpan balik terhadap laporan enam


bulanan yang diberikan dinas kesehatan provinsi.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada alur pencatatan dan pelaporan sebagai berikut:

30
7. Bagaimana sistem rujukan pada penyakit tidak menular dalam keluarga?

Tata Cara Pelaksanaan Sistem Rujukan


Pasien yang akan dirujuk harus sudah diperiksa dan layak untuk dirujuk.Adapun
Kriteria pasien yang dirujuk adalah apabila memenuhi salah satu dari :
Hasil pemeriksaan fisik sudah dapat dipastikan tidak mampu diatasi.
Hasil pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan penunjang medis ternyatatidak
mampu diatasi.
Memerlukan pemeriksaan penunjang medis yang lebih lengkap,
tetapipemeriksaan harus disertai pasien yang bersangkutan.
Apabila telah diobati dan dirawat ternyata memerlukan pemeriksaan,
pengobatan dan perawatan di sarana kesehatan yang lebih mampu.

Prosedur standar merujuk pasien

a. prosedur klinis
1. Melakukan anamesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjangmedik untuk
menentukan diagnosa utama dan diagnosa banding.
2. Memberikan tindakan pra rujukan sesuai kasus
3. Memutuskan unit pelayanan tujuan rujukan
4. untuk pasien gawat darurat harus didampingi petugas medis / paramedisyang
berkompeten dibidangnya dan mengetahui kondisi pasien

31
5. apabila pasien diantar dengan kendaraan puskesmas keliling atauambulans, agar
petugas dan kendaraan tetap menunggu pasien di IGDtujuan sampai ada kepastian
pasien tersebut mendapat pelayanan dankesimpulan dirawat inap atau rawat jalan.

b. Prosedur Administratif
1. Dilakukan setelah pasien diberikan tindakan pra-rujukan
2. Membuat catatan rekam medis pasien
3. Memberi informed consent (persetujuan / penolakan rujukan)
4. Membuat surat rujukan pasien rangkap 2
lembar pertama dikirim ke tempat rujukan bersama pasien yangbersangkutan.
Lembar kedua disimpan sebagai arsip.Mencatat identitaspasien pada buku regist
rujukan pasien.
5. Menyiapkan sarana transportasi dan sedapat mungkin menjalinkomunikasi dengan
tempat rujukan.
6. Pengiriman pasien sebaiknya dilaksanakan setelah diselesaikanadministrasi yang
bersangkutan

DAFTAR PUSTAKA

Anies. Waspada Ancaman Penyakit Tidak Menular: Solusi Pencegahan Aspek


Perilaku & Lingkungan. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo; 2003.

32
Atikah Proverawati, Eni Rahmawati. 2012. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Yogyakarta: Nuha Medika.

Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia.Jakarta : Depkes RI. 2011

Undang Undang Republik Indonesia No.4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan
Permukiman

http://www.pptm.depkes.go.id/cms/frontend/ebook/Pedoman_SE_PTM-
Maret_2014.pdf
http://eprints.undip.ac.id/44813/3/BAB_II.pdf

33