Anda di halaman 1dari 5

Proses Kaunseling Keluarga : Teori Komunikasi Satir

Proses yang terlibat dalam sesi kaunseling menggunakan teori Komunikasi Satir adalah:

i) Membina hubungan
Proses ini lebih banyak melibatkan peranan terapis dalam sesi untuk mewujudkan suasana yang
terapeutik dalam sesi. Antara perkara yang boleh dilakukan oleh terapis pada peringkat ini adalah
terapis perlu mengenal pasti potensi yang ada pada setiap ahli. Selain itu, terapis juga boleh
bertanyakan soalan untuk melihat dinamika keluarga tersebut. Terapis juga perlu membina kesedaran
untuk berubah dalam kalangan ahli. Terapis juga perlu membuat plan penilaian awal untuk
mendapatkan keyakinan daripada keluarga.

KAK TIMAH BALIK PAHANG


K Kenal pasti potensi dalam diri ahli
T- tanya soalan utk mendapatkan dinamika dalam keluarga tersebut
B- Bina kesedaran dan aura positif dalam kalangan ahli
P- Plan penilaian awal untuk mendapatkan keyakinan daripada ahli

ii) Menganggu status quo dalam keluarga

Status Quo adalah perkara yang menjadi kebiasaan bagi setiap ahli dalam sesebuah keluarga. Pada
peringkat ini, terapis perlu memupuk kesedaran dalam kalangan ahli dari konteks peranan dan
komunikasi dalam keluarga. Terapis juga perlu membina pemahaman yang baru dalam kalangan ajhli
melalui peningkatan kesedaran. Terapis juga boleh mengganggu status Quo dalam keluarga tersebut.
Contohnya, kebiasaannya hanya ayah yang akan membuat segala keputusan tanpa melibatkan
kepentingan orang lain. Selain itu, terapis juga boleh membuat provokasi terhadap ahli untuk ahli
mngeluarkan sendiri isu yang dihadapi.

Pakcik Badol Goreng Pisang


P- pupuk kesedaran dari konteks peranan dan komunikasi dalam kalangan ahli
B- Bina pemahaman baru dalam kalangan ahli apabila kesedaran sudah berjaya ditingkatkan
G- Gangguan status Quo
P- Provokasi terhadap ahli untuk ahli mengeluarkan isu yang dihadapi.

iii) Integrasi kemahiran baru.

Pada peringkat ini, terapis perlu memastikan bahawa setiap ahli sudah bersedia untuk menerima
perubahan baru dalam struktur keluarga. Terapis akan memberi harapan terhadap ahli untuk mengubah
kebiasaan tersebut dengan cara yang baru dan berbeza. Pada peringkat ini juga, ahli diminta untuk
membuat eksperesi dalam sesi sebagai gambaran dan persediaan kepada ahli untuk berhadapan dengan
isu tersebut pada masa akan datang

Boboi Enggan Golek


B- Bina aura positif dalam keluarga dan memberi harapan kepada dengan perubahan baru dalam
keluarga
E- Eksperesi diri ahli dalam kelompok

G- Guna teknik baru di luar sesi


ETIKA DAN TAHAP TAHAP KONSELING KELUARGA

1. A. ETIKA DAN TAHAP TAHAP KONSELING KELUARGA

1. ETIKA DALAM KONSELING KELUARGA

Banyak pertimbangan-pertimbangan moral yang berkaitan dengan kode etik profesi yang
perlu diperhatikan dan dipahami dengan baik oleh seorang konselor yang akan melaksanakan
konseling keluarga. pertimbangan-pertimbangan moral itu diperlukan karena terjadinya
perubahan focus konseling, dari konseling yang berfokus pada individu menjadi konseling
yang berfokus pada system keluarga. Salah satu yang mesti dipertimbangkan koselor adalah
kepada siapa dan untuk siapa tanggung jawab dan legalitas pokok konseling itu.

Nilai-nilai moral pilihan konselor tentang tanggung jawabnya didalam konseling keluarga
memiliki konsekuensi tertentu. Posisi konselor dalam konseling keluarga memiliki pengaruh
yang luas dan mendalam, tidak hanya berpengaruh pada hubungan awal konseling dan
penelusuran masalah, tetapi juga berpengaruh pada perumusan tujuan dan perencanaan
treatment dalam proses konseling.

1. KONFLIK-KONFLIK ETIKA

Empat jenis konflik etika dalam proses pembuatan keputusan konselor dalm konseling
keluarga.

1. 1. Siapa yang terlebih dahulu dilayani?

Jika konselor telah menetapkan untuk menangani secara individual, maka ia harus
memutuskan dalam hal apa atau haruskah anggota keluarga dilibatkan dalam treatment dan
apbila konselor menangani suatu kelompok keluarga, haruskah individu-individu tertentu atau
kombinasi dari keluarga dilibatkan secara terpisah? Bagaimana penerapan asas kerahasiaan
dalam keadaan yang demikian itu?

1. 2. Bagaimana penanganan kerahasiaan?

Rahasi keluarga pada kasus perbuatan serong antara seorang ayah dan anak gadisnya. Dalam
hal ini konselor memiliki tanggung jawab untuk melaporkan perbuatan serong kepada pihak
polisi atau pihak lain yang menangani perlindungan dan kesejahteraan anak. Konselor harus
melakukan penilaian klinis untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan anggota
keluarga.

1. 3. Apa titik utama perkembangan etika?

Perkembangan etika menitikbertkan pada penguraian kasus secara cermat dan hati-hati,
sehingga menjadi alat diagnostic terhadap individu selama proses pemberian bantuan,
terutama pada hal-hal yang akan berpengaruh pada kasus-kasus yang dipengadilankan.
Misalnya kasus-kasus perselisihan tentang anak pasca-perceraian.

1. 4. Bagaimana keberadaan konselor: kekuasaan atau


mengurangi konflik?

Konseling keluarga menentukan harapan-harapan yang biasanya berkaitan dengan jenis


kelamin (gender) yang harus ditangani dengan tindakan sensitive dengan tujuan untuk
mengubah sikap social anggota keluarga dan untuk memastikan minat atau kepentingan para
anggota keluarga.

1. KODE ETIK PROFESIONAL

Beberapa kode etik professional dalam konseling keluarga antara lain:

1. 1. Kode pengarahan perilaku

1. Konselor memberikan layanan secara profesional kepada semua


orang tanpa memandang suku, agama, jenis kelamin, perbedaan
politik, status social ekonomi atau gaya hidup. Jika konselor tidak
bisa memberikan layanan karena alasan tertentu, maka ia akan
melakukan referral yang sesuai, konselor diharapkan dapat
mencurahkan porsi waktu kerjanya walaupun hanya sedikit atau
tidak ada bayaran.

2. Konselor tidak boleh memanfaatkan hubungan konseling mereka


untuk kepentingan pribadi, agama, politik, dan bisnis.

3. Konselor tidak diperkenankan untuk membayar atau menerima


bayaran dalam referral dan harus secara aktif memantau semua
informasi penting dari sumber referal.

4. Konselor tidak diperbolehkan untuk memberi layanan kepada klien


yang masih berada dalam penanganan dari orang professional lain,
kecuali dengan konsultasi dari kedua belah pihak.

5. Konselor tidak boleh menghina kualifikasi sesame rekan sejawat.


6. Konselor memiliki kewajiban untuk meneruskan pendidikan dan
pengembangan professional.

7. Konselor berusaha menghindari hubungan dengan klien yang


mungkin dapat merusak penilaian professional dan sifat etis dalam
proses konseling.

8. Konselor tidak boleh memberikan diagnosis, memberikan resep,


mengobati atau menasehati masalah-masalah diluar batas
kemampuannya.

9. Kontak dan kerjasama antardisiplin ilmu dan profesi sangat


dianjurkan, seperti klinik-klinik atau agensi yang terlibat dalam
bidang kehidupan keluarga dan perkawinan.

10.2. Hubungan dengan klien

1. Seorang konselor harus berhati-hati memberikan dukungan


yang wajar dan penghargaan dalam tahap prognosis, dan
konselor tidak boleh melebih-lebihkan kemajuan layanannya.

2. Konselor harus mementingkan pemahaman yang jelas


tentang keuangan bersama klien. Pembayaran hendaknya
diatur diawal hubungan terapeutik.

3. Konselor harus membuat catatan-catatan bagi setiap kasus


dan menyimpannya dengan aman dan terjamin
kerahasiaanya sesuai dengan standar legal dan professional.

4. Konselor mengadakan hubungan dalam semua tahap


kehidupan. Dalam keadaan apapun konselor harus dengan
jelas menasehati klien bahwa keputusan akhir ada di tangan
klien

1. TAHAP-TAHAP KONSELING KELUARGA

Tiga tahap konseling keluarga yaitu:

1. Wawancara tahap awal

Pada tahap ini, konselor mengawali kontak dengan salah seorang anggota keluarga. Seringkali
anggota keluarga yang yang mulai mengontak konselor melaliu telepon dengan
menyampaikan problem-problem yang dialaminya dalam bentuk keluhan-keluhan yang
berhubungan dengan biologis, psikologis, dan hubungan anterpribadi. Oleh karena keluhan-
keluhan yang disampaikan oleh anggota keluarga berhubungan dengan kehidupan keluarga,
konsekuensinya kebanyakan konselor memilih untuk mengundang setiap orang yang tinggal
dalam system keluarga itu untuk datang bersama-sama dalam wawancara konseling tahap
awal. Pertemuan ini dimaksudkan untuk mengumpulkan data dari tangan pertama mengenai
pola-pola kerjasama keluarga dan strategi untuk mengatasi stress, yang pada gilirannya akan
digunakan pada situasi wawncara konseling sebenarnya.

1. Wawncara tahap pertengahan

Pada tahap ini konselor berperan sebagai pembimbing dan pengarah, tetapi senantiasa
berupaya menghindari mengambil alih peran orangtua. Konselor harus bersikap netral dan
menahan diri untuk tidak mencampuri urusan pribadi seorang anggota keluarga, memfasilitasi
komunikasi yang terbuka dan menyenangkan, serta mengajak setiap anggota keluarga untuk
berpartisipasi dalam proses konseling. Di lain pihak setiap anggota keluarga harus bersedia
terbuka dan mengurangi sikap-sikap permusuhan atau konflik-konflik. Dengan begitu, setiap
anggota keluarga akan mulai menyadari bahwa hubungan-hubungan yang tidak
menyenangkan yang dapat diubah, dikurangi bahkan dihilangkan. Hasil keseluruhan yang
diharapkan dari fase pertengahan dalam konseling adalah kesiapan terbaik untuk menerima
ide-ide perubahan dan keinginan yang lebih meningkat untuk turut aktif mencapai hasil positif
yang diharapkan dari konseling keluarga.

1. Wawancara tahap akhir

Konseling keluarga membutuhkan waktu bebrapa session mingguan atau bulanan. Konseling
keluarga dapat dihentikan apabila anggota keluarga yang terlibat dalam proses konseling
keluarga bisa bekerja sam dengan baik sebagai suatu kelompok untuk menelesaikan masalah-
masalah mereka dan mengubah perilaku-perilaku yang destruktif. mereka juga telah mampu
mengembangkan suatu internal support system dan tidak bergantung kepada orang lain,
termasuk tidak bergantung kepada konselor. Selain itu, mereka telah mampu berkomunikasi
secara terbuka, eksplisit, dan jelas. Mampu melakukan peranan masing-masing secara
fleksibel, dan setiap anggota keluarga mampu menyeimbangkan antara hak dan kewajibannya
masing-masing dalam keluarga.